TUHAN YESUS, TOLONGLAH AKU!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Dominikus, Imam – Pendiri Ordo Pengkhotbah)

Keluarga Dominikan dan Fransiskan: Hari Raya/Pesta Bapa Dominikus 

Kemudian Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. Lalu datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru, “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya, “Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita sambil berteriak-teriak.” Jawab Yesus, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata, “Tuhan tolonglah aku.” Tetapi Yesus menjawab, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Kata perempuan itu, “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Lalu Yesus berkata kepadanya, “Hai ibu, karena imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Seketika itu juga anaknya sembuh.  (Mat 15:21-28)

Bacaan Pertama: Yer 31:1-7; Mazmur Tanggapan: Yer 31:10-13 

Apa yang dilakukan oleh Yesus? Pada awalnya, Dia kelihatan tidak berminat untuk menolong perempuan Kanaan yang telah berseru kepada-Nya itu. Yesus di sini kelihatan tidak menentang atau mendobrak keberadaan rintangan-budaya antara diri-Nya dengan perempuan non-Yahudi (baca: Kafir), dan hal ini bukanlah perilaku yang biasa ditunjukkan oleh-Nya. Perempuan Kanaan itu harus melanjutkan meminta-minta belas kasihan dari Yesus, sebelum akhirnya dia memperoleh perhatian Yesus. Mengapa Yesus memperlakukan perempuan itu tidak seperti biasanya Dia lakukan terhadap orang-orang lain?

Yesus senantiasa mendengar seruan hati kita! Ia tidak pernah membiarkan kita menderita melampaui tujuan Allah untuk menarik kita lebih dekat dengan diri-Nya. Sebenarnya “penundaan” tanggapan Yesus memberikan tantangan kepada perempuan Kanaan itu untuk memperdalam imannya melalui ketekunan. Ada satu pelajaran mendalam yang dapat ditarik dari peristiwa ini: Siapa pun diri kita dan di mana pun posisi kita dalam masyarakat, iman kita kepada Yesus dapat mengatasi segala rintangan dan membawa kita kepada hati-Nya.

Iman perempuan Kanaan itu bukanlah sekadar persetujuan secara intelektual terhadap konsep-konsep yang tidak jelas tentang Allah, lebih daripada itu! Walau pun perempuan itu belum sepenuhnya memahami siapa Yesus sebenarnya, biar bagaimana pun juga dia menaruh kepercayaan kepada-Nya dengan sepenuh hati. Dia mengetahui kebutuhan-kebutuhannya dan dia pun menyadari bahwa Yesuslah satu-satunya harapan bagi dirinya. Dia tidak malu untuk berseru minta tolong kepada Yesus, sampai  Yesus menolongnya. Seperti Santo Paulus, ia tidak merasa ragu sedikit pun untuk mempermaklumkan imannya kepada Yesus di depan publik atau untuk mengakui kebutuhannya (lihat Rm 1:16; 2Tim 1:12). Itulah sebabnya mengapa Yesus begitu senang. Digerakkan oleh iman perempuan itu, Yesus memberikan persetujuannya: “Hai ibu, karena imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki” (Mat 15:28). 

Yesus tidak malu memanggil kita sebagai saudari dan saudara-Nya – siapa pun kita ini, apakah kita orang miskin yang bermukim di bantaran sungai Ciliwung atau orang kaya yang tinggal di Pondok Indah, orang Jawa atau keturunan Cina, lulusan SMA Kanisius  di Menteng Raya atau sebuah SD Negeri di Bekasi, dlsb. Yesus telah datang untuk menolong kita dalam kelemahan kita dan Ia menantikan kita untuk menaruh rasa percaya dan pengharapan kita kepada-Nya. Sekarang, rintangan-rintangan atau keragu-raguan apa saja yang kita perkenankan tetap menghadang kita untuk berseru minta tolong kepada-Nya? Seperti perempuan Kanaan itu, marilah kita sekarang juga,tanpa malu-malu atau “ja-im”, berseru minta tolong kepada-Nya dan terus berseru kepada-Nya. Marilah kita (anda dan saya) mengundang Dia ke dalam kehidupan kita masing-masing guna menyembuhkan kita, membawa Injil ke dalam keluarga kita, dan mengubah seluruh dunia. Yesus itu mahasetia. Dia akan menjawab umat-Nya sesuai iman mereka masing-masing. 

Santo Dominikus [1170-1221] yang kita peringati pada hari ini adalah seorang putera keluarga bangsawan. Nama aslinya adalah Domingo de Guzman yang dilahirkan di Calaruega, Castile lama, di Spanyol. Ia belajar teologi dll. dan menjadi seorang imam. Dominikus adalah seorang pribadi yang sangat memahami pentingnya menyebarkan Kabar Baik Yesus Kristus. Putera Spanyol ini sepanjang hari menelusuri jalan-jalan sehingga sampai ke pusat kubu pertahanan kaum bid’ah Albigens. Dengan berapi-api Dominikus berkhotbah menyampaikan Kabar Baik yang sejati. Dia mengadakan diskusi baik di balai kota, bangsal istana maupun di gedung gereja. Walaupun nyawanya dibayangi oleh para pembunuh bayaran, dia tetap saja menyerang ajaran sesat tanpa kenal lelah. Bersama 6 orang rekannya, Dominikus mendirikan Ordo Praedicatorum atau “Ordo para Pengkhotbah” yang tujuan pokoknya adalah menyebar-luaskan ajaran Gereja dan membersihkannya dari segala noda kesesatan. Pada tahun 1216, ordo yang kemudian lebih dikenal dengan nama “Ordo Dominikan” ini disahkan oleh Paus Honorius III [1216-1227]. Ordo ini berkembang pesat dan dalam spiritualitasnya menekankan kemiskinan, studi dan karya apostolik. Santo Dominikus adalah sahabat dari seorang pendiri Ordo besar lainnya dalam Gereja, Santo Fransiskus dari Assisi. Dalam litani para kudus, dua orang kudus ini disebutkan secara bersama. Kedua ordo ini tergolong sebagai ordo pengemis (mendicant). Perbedaan antara keduanya adalah, bahwa Dominikus belajar teologi secara formal dan menjadi seorang imam, sedangkan Fransiskus tidak sekolah tinggi dan juga bukan seorang imam, melainkan seorang diakon saja. Banyak anggota Ordo Dominikan yang menjadi tokoh Gereja. Salah seorang anggota ordo ini yang pemikiran-pemikirannya sangat berpengaruh dalam Gereja untuk berabad-abad lamanya adalah Santo Thomas dari Aquinas [1225-1274]. 

DOA: Tuhan Yesus, kami datang menghadap-Mu dalam kelemahan kami. Namun kami juga tahu bahwa kelemahan kami memberikan kepada-Mu kesempatan untuk berkarya dalam kehidupan kami. Tuhan, tolonglah kami agar kami dapat menjadi seperti perempuan Kanaan itu dan menunjukkan karya agung-Mu dalam kehidupan kami dan di tengah dunia. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yer 31:1-7), bacalah tulisan yang berjudul “KOREKSI YANG BERASAL DARI ALLAH” (bacaan tanggal 8-8-12) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2012. Bacalah juga tulisan berjudul “PEREMPUAN KANAAN YANG MEMILIKI IMAN BESAR” (bacaan tanggal 3-8-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM ini; kategori: 11-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2011. 

Cilandak, 28 Juli 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS