KECONGKAKAN MENDAHULUI KEHANCURAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Yohanes Maria Vianney, Imam – Sabtu, 4 Agustus 2012)

Pada masa itu sampailah berita-berita tentang Yesus kepada Herodes, raja wilayah. Lalu ia berkata kepada pegawai-pegawainya, “Inilah Yohanes Pembaptis; ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam-Nya.” Memang Herodes  telah menyuruh menangkap Yohanes, membelenggunya dan memenjarakannya, berhubung dengan peristiwa Herodias, istri Filipus saudaranya. Karena Yohanes berkali-kali menegurnya, katanya, “Tidak boleh engkau mengambil Herodias!” Walaupun Herodes ingin membunuhnya, ia takut akan orang banyak yang memandang Yohanes sebagai nabi. Tetapi pada hari ulang tahun Herodes, menarilah anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan menyenangkan hati Herodes, sehingga Herodes bersumpah akan memberikan kepadanya apa saja yang dimintanya. Setelah dihasut oleh ibunya, anak perempuan itu berkata, “Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di atas sebuah piring.” Lalu sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya diperintahkannya juga untuk memberikannya. Disuruhnya memenggal kepala Yohanes di penjara dan kepala itu pun dibawa orang di sebuah piring besar, lalu diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya. Kemudian datanglah murid-murid Yohanes Pembaptis mengambil mayatnya dan menguburkannya. Lalu pergilah mereka memberitahukannya kepada Yesus. (Mat 14:1-12)

Bacaan Pertama: Yer 26:11-16,24; Mazmur Tanggapan: Mzm 69:15-16,30-31,33-34

Kitab Suci mengingatkan kita, bahwa “Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan” (Ams 16:18). Dalam bacaan Injil hari kita melihat sebuah contoh yang jelas sekali apabila kita membaca tentang Herodes, yang nuraninya sudah sekian lama dihantui oleh rasa bersalah, sehingga Yesus pun dipikir dan dilihat olehnya sebagai Yohanes Pembaptis yang bangkit dari antara orang mati.

Herodes takut kepada Yohanes Pembaptis, namun pada saat bersamaan dia juga menghormati Yohanes sebagai seorang nabi besar. Oleh karena itu, apakah sebenarnya yang menyebabkan dia sampai menjebloskan Yohanes ke dalam penjara? Barangkali Herodes takut Yohanes akan “memaksa” dirinya untuk menghentikan perselingkuhannya dengan istri  saudaranya sendiri, Herodias? Mungkin juga dia iri hati melihat popularitas Yohanes dan pengaruhnya di tengah-tengah umat Israel. Herodes bukanlah tipe orang yang dapat menerima adanya pesaing-pesaing berlalu-lalang di depan matanya. Mungkin sekali kombinasi dari keangkuhan dan iri-hati yang membuatnya memenjarakan Yohanes dan akhirnya memerintahkan para pegawainya untuk membunuhnya.

Kalau begitu, bagaimana keangkuhan mempercepat kejatuhan Herodes? Dia marah besar ketika mengetahui bahwa Agrippa, seorang anggota keluarga dekat dan penguasa wilayah Trachonitis diberikan gelar ‘raja’ oleh Kaisar Roma. Herodias mendesak Herodes untuk pergi menghadap kaisar di Roma dengan mengambil risiko keberuntungan dan wilayah kekuasaannya demi memperoleh gelar yang sama: RAJA. Kaisar di Roma malah mencoret nama Herodes dan kerajaannya dan membuangnya ke pengasingan.

Pelajaran apa yang dapat kita tarik dari cerita tragis ini? Kesombongan/keangkuhan mulai sebagai sebuah biji/benih dan bertumbuh seperti kanker apabila diberi asupan makanan berupa kecemburuan, luka-luka pahit, ambisi-ambisi penuh ketamakan. Hal seperti ini dapat membuat cintakasih kita menjadi dingin dan kecemburuan kita malah bertambah panas. Hal ini membuat kita membenci siapa saja yang memiliki lebih daripada kita, dan juga menyebabkan kita mengambil langkah-langkah yang drastis – namun seringkali tolol – demi “membesarkan” diri kita.

Ingatlah, bahwa hanya Allah-lah yang dapat membebaskan kita dari keangkuhan atau kebanggaan yang palsu. Hanya rahmat-Nya saja yang dapat memampukan kita untuk mengenali kelemahan-kelemahan kita sendiri dan kebutuhan kita akan pertolongan Allah guna mengatasi hasrat-hasrat penuh kedosaan kita. Hanya Allah sajalah yang dapat mengenakan baju “kerendahan hati” seperti Kristus sendiri, sehingga dengan demikian kita dapat melihat diri kita sendiri seperti Dia melihat kita: sebagai anak-anak angkat yang telah ditebus oleh darah Kristus. Kerendahan hati yang sejati membebas-merdekakan kita dari keserakahan/ketamakan dan memampukan kita untuk memberikan hidup kita dalam pelayanan penuh kemurahan-hati bagi Allah dan sesama. Kerendahan hati yang sejati memenuhi diri kita dengan rasa terima kasih penuh syukur akan belas kasihan dan rahmat Allah serta menunjukkan kepada kita betapa berharga kita ini di mata Allah. Dan, dalam kerendahan hati yang sejati kita menjadi semakin serupa dengan Yesus.

DOA: Tuhan Yesus, Pembebas kami. Oleh Roh Kudus-Mu buanglah segala kecongkakan, keangkuhan, kesombongan, kecemburuan dan iri hati serta semuanya dalam diri kami yang tidak berkenan kepada-Mu, agar dengan demikian kami dapat melayani Engkau dan sesama kami dalam kerendahan hati dan sukacita sejati. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 14:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “BILA ALLAH MEMANG BAGI KITA, MAKA BAGAIMANA MUNGKIN KITA MERASA TANPA HARAPAN?” (bacaan tanggal 4-8-12) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2012. Bacalah juga tulisan yang berjudul “YOHANES PEMBAPTIS DIPENGGAL KEPALANYA” (bacaan tanggal 30-7-11) dalam situs/blog SANG SABDA; kategori 11-07 BACAAN HARIAN JULI 2011. Untuk lebih mengenal siapa S. Yohanes Maria Vianney, carilah dalam situs/blog PAX ET BONUM ini; kategori: “ORANG-ORANG KUDUS FRANSISKAN”. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 31-7-10). 

Cilandak, 22 Juli 2012 [HARI MINGGU BIASA XVI] 

Sdr. F.X. Indrapradja