SIAPA YANG BERTELINGA, HENDAKLAH IA MENDENGAR !!!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ignasius dari Loyola – Selasa, 31 Juli 2012)

Sesudah itu Yesus meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya, “Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu.” Ia menjawab, “Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan sedangkan lalang anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman  dan para penuai itu malaikat. Jadi, seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyebabkan orang berdosa dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (Mat 13:36-43)

Bacaan Pertama: Yer 14:17-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-9

Dalam ‘perumpamaan tentang lalang di antara gandum’ (Mat 13:24-30), Yesus mempresentasikan Kerajaan Surga dengan menggunakan suatu imaji (gambaran) yang cukup familiar bagi telinga para pendengar-Nya pada waktu itu, yaitu gambaran dari dunia agro. Seorang petani telah menaburkan benih-benih yang baik ke atas tanah ladangnya. Para pekerja/hamba yang bertanggung jawab untuk mengawasi hal-ikhwal yang terjadi di ladang sayangnya jatuh tertidur. Selagi mereka tertidur, datanglah musuh sang petani yang menaburkan benih lalang di tengah-tengah benih gandum yang tadi telah ditaburkan oleh sang petani. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu (lihat Mat 12:26).

Para hamba itu kemudian melapor kepada sang petani bahwa lahan ladang itu telah ditaburi oleh benih-benih lalang juga. Sang petani langsung memahami situasi yang dihadapinya. Ternyata seorang musuh telah menaburkan benih lalang pada waktu para hambanya jatuh tertidur. Sang petani dengan bijaksana mengambil keputusan untuk membiarkan keduanya bertumbuh bersama sampai saat panenan nanti. Sang petani tahu sekali, bahwa apabile dia mencoba mencabut lalang-lalang itu selagi tumbuhan gandumnya belum kuat-dewasa, maka kemungkinan besar dua-duanya akan tercabut: suatu kerugian besar. Sebaliknya kalau dia menunggu sampai dua-duanya matang, maka lebih mudahlah kelihatan perbedaan antara kedua tumbuhan itu oleh orang-orang yang bertugas menuai panenan.

Seperti juga semua perumpamaan-perumpamaan Yesus lainnya, maka cerita ini menuntut doa dan permenungan kita agar dengan demikian kita dapat menerima pernyataan diri Yesus, atau katakanlah suatu perwahyuan pribadi. Dalam dunia ini memang selalu ada yang baik dan ada yang jahat – mereka yang sudah mengambil keputusan untuk mengikuti Tuhan dengan segenap hati mereka, dan mereka yang bersikap dan berperilaku masa bodoh, bahkan menentang secara terang-terangan jalan-Nya. Kadang-kadang kita mungkin saja berpikir bahwa lebih mudahlah bagi kita untuk tetap berada dalam jalan-jalan Allah apabila kejahatan dan para pelaku kejahatan dikumpulkan dan disingkirkan dari hadapan kita. Kita barangkali berkata begini: “Kalau saja tidak begitu banyak godaan di sekitarku, maka tentulah aku sudah menjadi seorang Kristiani yang lebih baik!” Kalau saja! Saudari dan Saudaraku, realitas kehidupan tidak demikian mudahnya!

Kalau kitalah yang menghakimi siapa yang akan tetap dipelihara dan siapa yang akan dimusnahkan, maka Kerajaan-Nya pun bisa-bisa menjadi begitu kecil. Strategi yang (jauh) lebih baik adalah menunggu, tetap setia pada Tuhan, dan berdoa agar kegelapan dalam dunia dan dalam hati kita masing-masing akan diterangi oleh Terang-Nya. Bukankah jauh lebih indah apabila kita melihat setiap orang yang kita kenal bercahaya seperti matahari pada akhir zaman? (lihat Mat 13:43). “Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan supaya dunia diselamatkan melalui Dia” (Yoh 3:17). Allah juga mengundang kita semua untuk menjadi instrumen-instrumen keselamatan-Nya, bukan instrumen-instrumen penghukuman-Nya. Jadi, kita sungguh tidak memerlukan pentungan atau senjata apa saja untuk membela Allah, karena Dia adalah Allah yang Mahakuasa dan tidak perlu dibela-bela.

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah Allah yang panjang sabar. Tolonglah kami untuk menjadi sabar terhadap orang-orang lain selagi kami menantikan tuaian panenan-Mu. Ampunilah dosa-dosa kami dan berdayakanlah kami agar dapat menjadi terang bagi mereka yang membutuhkan pertolongan serta bantuan kami dalam memahami jalan-jalan-Mu, sehingga dengan demikian semakin banyak lagi orang yang dapat masuk ke dalam kerajaan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yer 14:17-22), bacalah tulisan yang berjudul “BELAS KASIH DAN BELA RASA NABI YEREMIA” (bacaan tanggal 31-7-12) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-07 BACAAN HARIAN JULI 2012. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-7-10) 

Cilandak, 20 Juli 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS