KISAH YUSUF BIN YAKUB

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah, Jumat 9-3-12)

Keluarga Fransiskan Sekular: Peringatan Santa Fransiska Romana

Israel lebih mengasihi Yusuf dari semua anaknya yang lain, sebab Yusuf itulah anaknya yang lahir pada masa tuanya; dan ia menyuruh membuat jubah yang maha indah bagi dia. Setelah dilihat oleh saudara-saudaranya, bahwa ayahnya lebih mengasihi Yusuf dari semua saudaranya, maka bencilah mereka itu kepadanya dan tidak mau menyapanya dengan ramah.

Pada suatu kali pergilah saudara-saudaranya menggembalakan kambing domba ayahnya dekat Sikhem. Lalu Israel berkata kepada Yusuf: “Bukankah saudara-saudaramu menggembalakan kambing domba dekat Sikhem? Marilah engkau kusuruh kepada mereka.” Maka Yusuf menyusul saudara-saudaranya itu dan didapatinyalah mereka di Dotan.

Dari jauh ia telah kelihatan kepada mereka. Tetapi sebelum ia dekat pada mereka, mereka telah bermufakat mencari daya upaya untuk membunuhnya. Kata mereka seorang kepada yang lain: “Lihat, tukang mimpi kita itu datang! Sekarang, marilah kita bunuh dia dan kita lemparkan ke dalam salah satu sumur ini, lalu kita katakan: seekor binatang telah menerkamnya. Dan kita akan lihat nanti, bagaimana jadinya mimpinya itu!” Ketika Ruben mendengar hal ini, ia ingin melepaskan Yusuf dari tangan mereka, sebab itu katanya: “Janganlah kita bunuh dia!” Lagi kata Ruben kepada mereka: “Janganlah tumpahkan darah, lemparkanlah dia ke dalam sumur yang ada di padang gurun ini, tetapi janganlah apa-apakan dia” – maksudnya hendak melepaskan Yusuf dari tangan mereka dan membawanya kembali kepada ayahnya.

Baru saja Yusuf sampai kepada saudara-saudaranya, merekapun menanggalkan jubah Yusuf, jubah maha indah yang dipakainya itu. Dan mereka membawa dia dan melemparkan dia ke dalam sumur. Sumur itu kosong, tidak berair. Kemudian duduklah mereka untuk makan. Ketika mereka mengangkat muka, kelihatanlah kepada mereka suatu kafilah orang Ismael datang dari Gilead dengan untanya yang membawa damar,  balsam dan damar ladan,  dalam perjalanannya mengangkut barang-barang itu ke Mesir. Lalu kata Yehuda kepada saudara-saudaranya itu: “Apakah untungnya kalau kita membunuh adik kita itu dan menyembunyikan darahnya? Marilah kita jual dia kepada orang Ismael ini, tetapi janganlah kita apa-apakan dia, karena ia saudara kita, darah daging kita.” Dan saudara-saudaranya mendengarkan perkataannya itu. Ketika ada saudagar-saudagar Midian lewat, Yusuf diangkat ke atas dari dalam sumur itu, kemudian dijual kepada orang Ismael itu dengan harga dua puluh syikal perak. Lalu Yusuf dibawa mereka ke Mesir (Kej 37:3-4. 12-13a.17b-28).

Bacaan Injil: Mat 21:33-43.45-46.

Kalau kita melihat keseluruhan kisah Yusuf, kita dapat menyimpulkan bahwa dia memang sangat istimewa sehingga begitu diberkati oleh Allah: Ia mampu menafsirkan mimpi-mimpi; begitu dihormati oleh Potifar dan  seisi keluarganya; diangkat menjadi “tangan kanan” Firaun; dalam jabatan tinggi itu dia memasok bahan makanan dan pembebasan bagi Israel selama masa kelaparan. Namun ketika dia mulai memperoleh penglihatan secara sekilas lintas dalam mimpinya, Yusuf masih jauh dari sempurna. Yusuf adalah seorang “pelapor” yang menyampaikan kepada ayahnya kabar tentang kejahatan para saudaranya (lihat Kej 37:2). Dia juga “ngomong gede” kepada para saudaranya, dan juga kemudian kepada ayahnya tentang mimpi-mimpinya, sehingga hanya menambah kebencian dan rasa iri saudara-saudaranya terhadap dirinya (lihat Kej 37: 5-11). Sebagai puncak kebencian para saudaranya, Yusuf pun disekap dalam sebuah sumur kering dan dijual sebagai seorang budak-belian kepada kafilah orang Ismael.

Bagi Yusuf peristiwa ini mungkin dilihat sebagai akhir dari segala-galanya – tidak seperti yang dilihatnya sebagai rencana Allah terhadap dirinya sesuai dengan mimpi-mimpinya. Namun ternyata bahwa pada awal perjalanannya bersama Allah, semua “nasib sial” ini justru diperlukan! Berbagai “nasib sial” membuat diri Yusuf rendah hati dan memperlunak segi-segi kasar dan angkuh dalam kepribadiannya, agar dengan demikian dia sungguh-sungguh dapat menjadi sebuah bejana Allah. Pandangan ke masa depan dari Yusuf pada saat dia menengadah dari dalam sumur dan memandang para saudaranya yang mendzalimi dirinya mungkin saja berbeda, namun pada akhirnya dia dapat memaklumi bahwa Allah memperkenankan semua muzibah atas dirinya itu terjadi demi kebaikannya sendiri.

Hal yang sama dapat benar dalam kehidupan kita. Barangkali kata-kata keras serta kasar, keangkuhan dan ketiadaan-rasa percaya kepada Allah telah menempatkan diri kita dalam suatu situasi sulit, yang kelihatan jauh dari rencana Allah bagi kita. Perkawinan yang dipenuhi kegaduhan dan percekcokan, perseteruan antara kakak-adik, atau situasi suami-istri yang sudah berada 10 meter sebelum titik-cerai dapat begitu menekan jiwa, apabila kita melihatnya sekadar dari perspektif kita sebagai manusia. Akan tetapi, apabila kita bertekun dalam doa dan rasa percaya, kita akan belajar untuk melepaskan situasi-situasi yang kita hadapi kepada tangan-tangan Allah. Tahap demi tahap, iman kita akan bertumbuh, dan panggilan Allah kepada kita pun akan semakin terkuak.

Satu hal yang selalu kita dapat andalkan, yaitu bahwa Allah mengetahui situasi-situasi yang kita hadapi, malah Dia lebih mengetahui daripada kita sendiri. Allah juga dapat bekerja dalam situasi-situasi di mana semuanya sudah tidak memungkinkan, apabila digunakan standar-standar manusiawi. Kisah Yusuf menunjukkan kepada kita bahwa tidak ada sesuatu apapun yang tidak termasuk ruang lingkup Allah atau kuasa-Nya. Apabila kita melihat situasi yang sedang kita hadapi sungguh tidak memberi harapan, baiklah untuk mengingat kisah Yusuf ini dan ingat bahwa Allah dapat membentuk hati yang dipenuhi kasih dan kerendahan hati dalam diri semua anak-anak-Nya. Allah dapat membebaskan setiap orang – dalam setiap situasi.

DOA: Bapa surgawi, lepaskanlah orang-orang yang menderita dari penderitaan mereka. Kami berdoa agar kehendak-Mu bagi kehidupan orang-orang itu diwujudkan. Segarkanlah dan kasihilah mereka yang tersingkir dan hidup tanpa pengharapan. Kami menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 21:33-43,45-46), bacalah tulisan yang berjudul “SEBUAH PERUMPAMAAN PENTING BAGI SETIAP WARGA GEREJA” (bacaan tanggal 9-3-12), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-03 BACAAN HARIAN MARET 2012. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-3-10) 

Cilandak, 13 Februari 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements