EVANGELISASI DAN FRANSISKAN AWAM [1] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Catatan: Tulisan ini diambil dari majalah PeranTau XII, No.5-6, September-Desember 1999. Untuk kenyamanan para pembaca blog PAX ET BONUM ini, tulisan aslinya dibagi-bagi menjadi beberapa bagian bacaan bersambung. 

Beberapa tahun lalu istilah “evangelisasi baru” menjadi topik yang cukup hangat. Akan tetapi, rasanya sekarang sudah mereda kembali atau hampir tidak terdengar lagi gaungnya. Gejala ‘hangat-hangat tahi ayam’? Tentunya hanya Allah yang tahu jawabannya. Ataukah evangelisasi memang sudah tidak relevan lagi? Padahal hampir seperempat abad berselang, pada akhir tahun 1975 Paus Paulus VI pernah mengemukakan pendapatnya yang sampai saat ini sesungguhnya masih relevan, bahwa bukanlah suatu yang berlebih-lebihan untuk mengatakan bahwa dalam dunia muncul suatu daya tarik yang kuat dan tragis untuk diberi evangelisasi? (Imbauan Apostolik Evangelii Nuntiandi [EN] tentang Karya Pewartaan Injil dalam Jaman Modern, 55).

Sebenarnya apakah yang dimaksud dengan kata ‘evangelisasi’ ini? Sesungguhnya kata evangelisasi ini sangat kuat berakar, baik pada Kitab Suci maupun tradisi Gereja. Namun demikian, kita harus mengakui bahwa bagi telinga sebagian besar umat Katolik kata evangelisasi ini terasa asing. Secara agak harafiah, evangelisasi berartti ‘komunikasi Injil’, penyebaran kabar baik Yesus Kristus. Kata ini berasal dari kata Yunani euaggelion yang berarti ‘kabar baik’.

Evangelisasi Bukan Sekedar Program Gereja  

Dalam arti yang lebih luas, evangelisasi berarti pergi ke tengah orang-orang yang belum mengenal dan mengasihi Yesus Kristus, atau belum menyadari betapa Dia mengenal dan mengasihi mereka. Dalam artiannya yang seperti ini, dalam usaha, gerakan atau proses evangelisasi terkandunglah kegairahan dan semangat kerasulan untuk mewartakan Injil, suatu hasrat berapi-api guna menolong orang-orang lain agar jatuh cinta kepada Yesus dan kemudian mengabdikan diri mereka kepada-Nya untuk selama-lamanya.

Evangelisasi bukanlah sekedar program Gereja atau umat beriman, baik secara berkelompok atau pun sendiri-sendiri. Evangelisasi adalah sebuah sikap. Suatu mentalitas untuk mensyeringkan, mengundang, menyambut orang-orang lain ke dalam sukacita persekutuan dengan Yesus Kristus. Evangelisasi dimulai oleh Yesus sendiri. Dalam Imbauan Apostoliknya, Paus Paulus VI menulis, “Yesus sendiri, Kabar Baik Allah, merupakan penginjil pertama dan terbesar. Kristus mewartakan penebusan, kurnia besar yang berasal dari Allah yang adalah pembebasan dari setiap hal yang menindas manusia, tapi lebih-lebih pembebasan dari dosa dan kejahatan” (EN, 7-8). Menurut Paus Paulus VI, tidak ada evangelisasi yang sejati, bila nama, ajaran, hidup dan janji-janji Kerajaan Allah dan misteri Yesus dari Nazaret, Putera Allah tidak diwartakan(EN, 22). Dalam Evangelii Nuntiandi Paus Paulus VI juga mengutip Deklarasi Para Bapa Sinode 1974 yang mengikrarkan bahwa “tugas untuk mewartakan Injil kepada segala bangsa merupakan perutusan hakiki dari Gereja.” Dilanjutkan olehnya bahwa “Mewartakan Injil sesungguhnya merupakan rahmat dan panggilan yang khas bagi Gereja, merupakan identitasnya yang terdalam; Gereja ada untuk mewartakan Injil, yakni untuk berkhotbah dan mengajar, menjadi saluran kurnia rahmat, untuk mendamaikan para pendosa dengan Allah dan untuk mengabadikan kurban Kristus di dalam mis, yang merupakan kenangan akan kematian dan kebangkitan-Nya yang mulia” (EN, 14).

Tradisi gereja memerikan kegiatan evangelisasi Yesus ke dalam tiga perutusan-Nya, yaitu sebagai imam, nabi, dan raja. Lebih dari satu dekade kemudian, dikaitkan dengan karya kerasulan para awam, Paus Yohanes Paulus II menulis, “Suatu aspek baru pada rahmat serta martabat yang berasal dari Permandian diperkenalkan di sini: kaum awam beriman berpartisipasi, demi bagian mereka, di dalam perutusan rangkap tiga Kristus selaku imam, nabi dan raja(Imbauan Apostolik Christifideles Laici  [CFL] tentang Para Anggota Awam Umat Beriman Kristus, Maret 1989, 14).

Yesus Kristus Sang Imam

Perutusan Kristus Sang Imam adalah membawa persekutuan penuh cintakasih antara Allah dan umat manusia lewat sengsara-Nya, kematian-Nya, kebangkitan-Nya, kenaikan-Nya ke surga, dan pemberian Roh Kudus-Nya kepada kita. Seperti dikatakan dalam Surat kepada orang Ibrani, “….. setiap imam besar yang dipilih dari antara manusia, ditetapkan bagi manusia dalam hubungan mereka dengan Allah, supaya ia mempersembahkan persembahan dan korban karena dosa” (Ibr 5:1). Yesus Sang Imam “mengorbankan diri-Nya sendiri di salib dan terus dikorbankan di dalam perayaan Ekaristi demi kemuliaan Allah serta keselamatan umat manusia” (CFL, 14).

Dalam diri-Nya yang terdalam, Yesus adalah imam – karena inkarnasi-Nya –, Pengantara satu-satunya, pembangun jembatan antara Allah dan umat manusia. Jadi, Dia membawa surga ke bumi dan bumi ke surga sebagai “Imam Besar Agung” (Ibr 4:14). Satu dari kegiatan-kegiatan keimaman terbesar dari Tuhan Yesus adalah hidup doa-Nya, persekutuan rohani-Nya dengan Allah. Persekutuan keimaman dan keakraban penuh kasih dengan Allah ini dikomunikasikan kepada para murid-Nya pada waktu Dia menghembuskan Roh Kudus-Nya kepada mereka (Yoh 20:22; Rm 5:5). Kita perbaharui persekutuan itu hari ini melalui partisipasi kita dalam sakramen- sakramen dan hidup doa kita, kehidupan Roh sendiri yang menyampaikan permohonan kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan (Rm 8:26).

Yesus Kristus Sang Nabi 

Perutusan Yesus Kristus Sang Nabi adalah mengkomunikasikan pengenalan-Nya yang mendalam akan Allah. Pengenalan Yesus akan Allah begitu unik dalam kedalamannya, suatu keakraban yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata: “Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Ank itu berkenan menyatakannya” (Mat 11:27). Kristus Sang Nabi sungguh ingin mengungkapkan pengenalan intim-Nya akan Bapa karena Dia menghendaki agar para murid-Nya memiliki hidup kekal: “Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yoh 17:3).

Cara Yesus mengkomunikasikan hidup kekal adalah melalui pengajaran dan pewartaan sabda-Nya. Kita bertugas untuk melanjutkan perutusan kenabian-Nya itu.

Yesus Kristus Sang Raja 

Perutusan Yesus Kristus Sang Raja adalah membentuk sebuah komunitas saudara dan saudari dengan melayani kebutuhan-kebutuhan manusiawi yang mendasar. Namun kerajaan Yesus bukanlah dari dunia ini (Yoh 18:36). Kerajaan Allah adalah milik mereka yang menderita, mereka yang lemah lembut, mereka yang miskin dalam roh dan mereka yang dianiaya karena membela keadilan.  Untuk masuk kerajaan Allah, artinya “untuk dapat diselamatkan”, seseorang harus menghayati kemiskinan dalam roh sedemikian dan bekerja untuk keadilan (Mat 5:3-10). Lagipula, untuk melanjutkan perutusan-Nya sebagai Raja, kita harus memperlakukan semua orang seperti kita akan memperlakukan Yesus sendiri, karena Yesus mengidentifikasikan diri-Nya sebagai Saudara bagi setiap orang (Mat 25:31-46).

Komunitas Para Imam, Nabi dan Raja 

Para murid Yesus dipanggil untuk menghayati hidup evangelisasi ini. Hidup penyembahan, pengajaran, dan pelayanan yang merupakan inti dari Injil. “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (Yoh 20:21), demikian sabda Yesus kepada para rasul-Nya di tempat mereka berkumpul. Seperti Yesus diutus oleh Bapa untuk mewartakan Kabar Baik, kita juga diutus oleh Yesus untuk mewartakan Kabar Baik-Nya. Kita memang dipanggil untuk mengikuti jejak Kristus!

Penting diingat adalah kenyataan bahwa Yesus memberikan tugas kepada semua murid sebagai sebuah komunitas, tidak sendiri-sendiri. Dia mengirimkan Roh Kudus kepada mereka pada waktu mereka berkumpul dalam sebuah ruangan tertutup (dalam keadaan ketakutan). Dengan cara seperti ini, sebenarnya Dia membentuk mereka menjadi satu tubuh, yaitu Gereja. Sejak awal pendiriannya, Gereja sudah ditugaskan untuk melakukan evangelisasi. Seperti telah dikemukakan di atas, “Gereja ada untuk mewartakan Injil” (EN, 14).

Kita semua diutus untuk mewartakan Injil sebagai Gereja dan tidak hanya sebagai individu-individu karena evangelisasi adalah sebuah “visi total” (total vision). Di akhir Injil Matius, jelas kelihatan bahwa Yesus memberdayakan Gereja, sebagai komunitas para murid, untuk membawa pengaruh Injil kepada setiap bangsa sepanjang masa (Mat 28:18-20). Paus Paulus VI mengungkapkan visi total ini ketika beliau menulis, “Bagi Gereja, penginjilan (evangelisasi) berarti membawa Kabar Baik kepada segala tingkat kemanusiaan, dan melalui pengaruh Injil mengubah umat manusia dari dalam dan membuatnya menjadi baru” (EN, 18).

Inilah alasannya mengapa kekristenan – dalam arti yang total atau sepenuhnya – harus mencakup Gereja. Bagi Yesus untuk mencapai “segala tingkat/strata kemanusiaan”, untuk diwartakan kepada semua bangsa dan sepanjang masa, Dia membutuhkan Tubuh-Nya, yaitu Gereja. Seandainya seseorang berkata, “Aku telah menerima Yesus dalam hatiku, tetapi belum (mau) menerima tubuh-Nya, yaitu Gereja”, maka hal ini berarti bahwa orang itu hanya menerima Yesus secara sepotong-sepotong saja.

Sebagai Gereja, kita diutus oleh Yesus untuk menjadi Tubuh-Nya di dalam dunia – tubuh dan darah-Nya, tangan-tangan-Nya, kaki-kaki-Nya, hati-Nya, mata-Nya dan mulut-Nya. Meskipun Yesus tentunya selalu hadir dalam Ekaristi, Yesus tidak memiliki tubuh lagi di dunia ini kecuali kita. Untuk memenuhi tugas perutusan kita, kita harus bekerja sama untuk pergi menemui dan menyentuh orang-orang lain di tempat mereka berkarya, di sekolah, pada tempat-tempat pertemuan umum, di lingkungan tempat tinggal, di kebun, di pasar dan secara khusus dalam persahabatan  dengan orang-orang di mana saja. Kita tidak cukup hanya menerima Injil. Kita harus menghayati Injil dalam setiap keadaan kehidupan kita (Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium [LG] tentang Gereja, 41; bdk. Anggaran Dasar OFS Pasal 2 Artikel 10).

Mengapa harus Evangelisasi?  

Mengapa kita harus mewartakan Injil? Kita sebenarnya melakukan evangelisasi karena alasan yang sama seperti Yesus melakukan evangelisasi, yaitu “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah” (Yoh 10:10). Kita percaya bahwa Yesus sendiri adalah kepenuhan hidup; dan Gereja (Tubuh-Nya) adalah kepenuhan Yesus (Ef 1:22-23).

Melalui Gerejalah Yesus melayani sebagai “Roti Kehidupan” (Yoh 6:25-59) karena Dia tahu bahwa dunia lapar dan haus akan kepenuhan hidup. Kita haus akan cintakasih persekutuan yang akrab, karena hati kita yang gelisah telah menemukan kenyataan bahwa tidak ada seorang manusia pun dapat menghadirkan dirinya secara total bagi manusia lainnya, bahwa kesepian dan isolasi dapat tetap ada, meski dalam relasi yang penuh cintakasih sekali pun. Rasa lapar kita akan pengetahuan mendesak kita untuk mencari kebenaran yang lebih bersifat kekal daripada ‘kebenaran-kebenaran’ yang bersifat sesaat seperti apa saja yang trendy atau populer. Kita juga merasa lapar akan suatu kesempatan untuk melayani orang-orang lain karena – sadar maupun tak sadar – kita telah menjadi letih setelah sekian lama diperbudak oleh konsumerisme, materialisme, hedonisme, serta pelbagai konsep sekularisme yang sudah sekian lama – sadar tidak sadar – berhasil menyusup ke dalam pikiran dan perilaku kita.

Spiritualitas Gereja (Katolik) yang bersifat inkarnasional memuaskan rasa lapar dan haus kita akan keakraban penuh cintakasih. Ajaran-ajaran Gereja komprehensif yang didasarkan atas sabda kebenaran abadi Kristus dan diwartakan dalam Gereja yang sudah berumur 20 abad memuaskan rasa lapar kita akan pengetahuan universal. Sifat universal Gereja Katolik, baik dilihat dari sudut geografis maupun kultural memberikan kepada kita kesempatan untuk melayani orang-orang dengan daya jangkau yang jauh lebih luas, daripada yang sekedar dibatasi oleh kelas sosial-ekonomis kita atau batas-batas nasional kita sendiri.

(Bersambung)