Archive for September, 2011

BAGAIKAN ANAK-ANAK KECIL

BAGAIKAN ANAK-ANAK KECIL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Teresia dr Kanak-kanak Yesus, Perawan & Pujangga Gereja, Sabtu 1-10-11)

Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Lalu Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka dan berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.”  (Mat 18:1-5)

Bacaan Pertama: Yes 66:10-14b; Mazmur Tanggapan: Mzm 131:1-3 

“Yesus, tentu Engkau senang mempunyai mainan. Biarlah aku menjadi mainan-Mu! Anggap saja aku ini bola-Mu. Bila akan Kauangkat, betapa senang hatiku. Jika hendak Kausepak kian kemari, silahkan! Dan kalau hendak Kautinggalkan di sudut kamar karena bosan, boleh saja. Aku akan menunggu dengan sabar dan setia. Tetapi kalau bola-Mu ini hendak Kautusuk. … O Yesus, tentu itu sakit sekali, namun terjadilah kehendak-Mu!” Inilah doa Teresia Martin kepada Kanak-kanak Yesus yang sangat dirindukannya, namun belum boleh disambutnya, karena waktu itu anak perempuan itu baru berusia 7 (tujuh) tahun. Sebuah doa anak kecil yang sejati!

Seorang anak kecil menaruh kepercayaan penuh pada  perlindungan orangtuanya, dia tidak takut kepada siapa pun atau apa pun manakala berada di bawah perlindungan orangtuanya. Gambaran seperti ini menjadi indah sekali kalau diterapkan pada kita – semua anak-anak Allah – yang dengan penuh sukacita dan penuh kepercayaan menempatkan diri ke dalam perlindungan dan penyelenggaraan Ilahi, penyelenggaran oleh-Nya, Allah yang baik, satu-satunya yang baik.


Pada hari ini kita merayakan pesta Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus atau Teresa dari Lisieux (1873-1897)
, perawan dan Pujangga Gereja. Dialah anak kecil yang berdoa sebagaimana digambarkan di atas. Ketika baru berumur 15 tahun, dengan izin khusus Sri Paus, Teresia masuk sebuah biara Karmel di Lisieux, Perancis. Hanya delapan tahun kemudian, suster muda usia ini meninggal dunia karena penyakit TBC yang dideritanya. Kalau hanya sampai di situ ceritanya, maka tidak ada yang istimewa dari kehidupan suster ini yang memang hidup di dalam tembok biara yang ketat. Namun apa yang diwariskannya meninggalkan rekam jejak yang sangat berpengaruh atas kehidupan Gereja, bahkan sampai hari ini. Teresia adalah contoh baik untuk ditiru kalau kita ingin mengikuti perintah Yesus di atas. Tidak percuma nama panggilannya adalah “Teresia Kecil” atau si “Kuntum Bunga yang kecil”. Sampai akhir hayatnya, Santa Teresia dari Lisieux membuktikan bahwa sikap hidupnya yang senantiasa childlike di hadapan Allah memang sebuah sikap yang dikehendaki Allah dari kita semua.

Ketika Yesus meminta kita untuk menjadi seperti anak kecil, Dia sebenarnya mengungkapkan hasrat-Nya bagi kita untuk memperoleh kembali innocense masa kanak-kanak kita. Ketika kita masih kecil, kita sangat mudah percaya akan seorang Allah yang baik, yang mengawasi dan mengutus para malaikat untuk membimbing kita di dunia ini. Namun hal ini mengalami erosi sejalan dengan meningkatnya usia kita menuju kedewasaan. Berbagai pengalaman hidup kita dalam dunia ini dapat membuat kita lusuh dan letih-lelah, malah dapat membuat kita bersikap sinis atau sarkastis kalau berbicara mengenai kedekatan Allah dengan diri kita, apalagi bila menyangkut keberadaan para malaikat pelindung. Di bawah berbagai macam tekanan hidup, ketika kita sedang susah atau di bawah pengaruh negatif dari berbagai kenikmatan hidup manakala kita sedang berada dalam keadaan oke-oke, kita malah dapat saja mulai percaya bahwa diri kita sendirilah penentu ‘nasib’ kita: tidak ada seorang pun dapat menolong kita kecuali diri kita sendiri!

Yesus ingin memerdekakan kita dari isolasi ciptaan kita sendiri atau kemandirian yang malah memenjarakan kita sebagai tawanan. Yesus mau membangkitkan dalam diri kita sukacita dan innocense sejati dan orijinal yang pernah kita alami ketika kita untuk pertama kalinya mengetahui cintakasih pribadi-Nya yang mau tinggal dalam diri kita masing-masing. Kedewasaan Kristiani yang sejati bukanlah berarti peningkatan dalam kebebasan kita dari Allah, melainkan suatu ketergantungan lebih mendalam kepada-Nya.

Meskipun sudah dewasa dalam usia, kita tidak mampu bertahan satu hari saja kalau terpisah dari kerahiman dan rahmat Allah. Inilah pengalaman rohani yang telah terbukti benar dalam kehidupan Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus. Adalah Allah yang secara tetap menjaga kesehatan kita, relasi kita, keuangan kita, kehidupan kita dan seterusnya. Marilah kita mohon Roh Kudus untuk melakukan karya istimewa dalam diri kita, yaitu menolong kita agar mampu memandang peristiwa-peristiwa kehidupan dewasa ini dengan mata seorang anak kecil yang mengetahui dan mengalami cintakasih yang intim dari Bapa. Kalau pun hal ini susah, kita dapat memohon kesembuhan agar hal yang kita mohonkan tadi dapat terwujud. Bapa surgawi menginginkan kita datang kepada-Nya dengan segala urusan kita – betapa pun kecilnya urusan kita itu sehingga terlihat tidak penting – dan percaya bahwa para malaikat-Nya, teristimewa malaikat pelindung kita masing-masing, juga mengawasi, membimbing dan melindungi kita.  

DOA: Bapa surgawi, Engkau menjanjikan kerajaan-Mu kepada orang-orang yang menjadi seperti anak kecil di hadapan-Mu, yang memiliki kerendahan hati yang sejati dan sepenuhnya percaya kepada penyelenggaraan ilahi dan pemeliharaan-Mu yang penuh kasih. Curahkanlah rahmat-Mu kepada kami agar mampu bergerak maju di jalan-Mu seperti yang telah dicontohkan oleh Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus yang kami rayakan pestanya pada hari ini. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini, bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI SEPERTI ANAK KECIL???” (bacaan untuk tanggal 9-8-11) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 11-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2011. 

Cilandak, 5 September 2011 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

SANTO HIERONIMUS [c.342-420]: SEBUAH PERKENALAN

SANTO HIERONIMUS [c.342-420]: SEBUAH PERKENALAN 

Pada hari ini, tanggal 30 September –  hari terakhir dalam Bulan Kitab Suci – Gereja memperingati seorang kudus besar dalam Gereja pada umumnya dan di bidang perkitabsucian khususnya, yaitu Santo Hieronimus, Imam dan Pujangga Gereja. Dalam rangka peringatan 15 abad kematiannya, Paus Benediktus XV mengeluarkan surat Ensiklik SPIRITUS PARACLITUS (15 September 1920) di mana dikemukakan berbagai keutamaan Hieronimus, sumbangsihnya kepada Gereja dan lain sebagainya. 

Cintakasihnya kepada Allah dan Putera-Nya, Yesus Kristus, luarbiasa intens. Siapa saja yang mengajarkan kesesatan bagi Hieronimus adalah musuh Allah dan kebenaran. Dalam situasi seperti itu, Hieronomus akan ‘menghantam’ para pengajar sesat dengan tulisan-tulisannya yang penuh kuasa dan kadang-kadang sarkastis itu. Hieronimus pertama-tama dan terutama adalah seorang pakar Kitab Suci. Ucapannya yang terkenal adalah: “IGNORATIO SCRIPTURARUM IGNORATIO CHRISTI EST … “Tidak kenal Kitab Suci, tidak kenal Kristus!” ‘Dalil’ ini dikemukakan olehnya dalam prolog komentar-komentarnya atas Kitab Yesaya (DIVINE OFFICE III, hal. 301*) 

Eusebius Hieronimus Sophronius dilahirkan di Stridon yang terletak dekat Aquileia, Italia. Ayahnya, Eusibius, adalah seorang Kristiani yang hidup saleh dan dikenal sebagai seorang tuan tanah yang kaya raya. Ia mendidik Hieronimus sesuai dengan kebiasaan-kebiasaan hidup Kristiani dan kebiasaan kerja keras. Ketika Hieronimus berumur 12 tahun, Eusebius mengirim anaknya untuk studi ilmu hukum dan filsafat di Roma. Studinya berjalan lancar, hanya cara hidupnya sajalah yang tidak tertib karena  pengaruh buruk kehidupan moral orang Roma yang tidak baik pada masa itu. Namun berkat rahmat Allah Hieronimus cepat disadarkan dan bertobat dari cara hidupnya yang tidak baik itu. Pada saat itulah ia minta dibaptis oleh Paus Liberius [masa pontifikat 352-366] ketika berusia sekitar 18 tahun. Rahmat baptisan yang diterimanya terus dihayatinya dengan banyak berdoa dan berziarah ke makam para martir dan para Rasul bersama sejumlah kawannya. Kehidupan rohaninya terus meningkat, demikian pula cintakasihnya kepada Allah dan sesama. 

Pada tahun 370 Hieronimus melakukan perjalanan ke Gaul dan kemudian kembali ke Aquileia di mana dia mengabdikan dirinya dalam suatu kehidupan asketis. Di Aquileia untuk beberapa tahun lamanya Hieronimus memperoleh bimbingan rohani dari Valerianus, seorang uskup yang saleh. Sekitar tahun 374, Hieronimus melakukan perjalanan ke Timur.  Di Antiokhia dia bermimpi bahwa Kristus berbicara kepadanya dan berkata: “Ciceronianus es, non Christianus” (“Engkau adalah seorang Ciceronian, bukan seorang Kristiani”), sungguh suatu tuduhan berat atas dirinya karena Hieronimus memang lebih menyukai literatur Romawi daripada literatur Kristiani. Setelah peristiwa mimpi itu (cerita yang agak lengkap akan diungkapkan pada kesempatan lain) Hieronimus memilih untuk hidup di padang gurun Chacis, di luar kota Antiokhia, Siria, guna melakukan pertobatan sebagai seorang pertapa (hermit) selama 4-5 tahun sambil menajamkan penguasaannya atas bahasa Ibrani dan Yunani, di bawah bimbingan seorang rabi. 

Berkat kemajuan rohaninya yang pesat, pada tahun 379 di Antiokhia, Hieronimus ditahbiskan menjadi imam. Kemudian dari sana Hieronimus pergi ke Konstantinopel, karena tertarik pada penafsiran Kitab Suci dan cara hidup dari S. Gregorius dari Nazianz. Ia memperoleh banyak pengalaman dari orang kudus Gereja Timur dan Pujangga Gereja itu bagi peningkatan hidup rohaninya. 

Pada tahun 382 Hieronimus kembali ke Roma, kemudian diangkat menjadi sekretaris Paus Damasus I [masa pontifikat 366-384]. Sebagai sekretaris Paus, Hieronimus merupakan tokoh populer di kalangan ningrat Roma; dia menjalin persahabatan dengan perempuan-perempuan ningrat seperti Marcella, Paula dan kedua puterinya, yaitu Eustochium dan Blaesilla yang kemudian dikanonisasikan menjadi orang-orang kudus. Pada waktu kematian Paus Damasus I pada tahun 384, Hieronimus “pulang” lagi ke Timur. Ia mengunjungi Antiokhia, Palestina dan Mesir bersama  Paula dan Eustochium, dan sejak tahun 386 menetap di Betlehem. 

Di Betlehem ini Hieronimus mendirikan sebuah rumah penginapan bagi para peziarah dan sekolah bagi anak-anak lokal. Hieronimus sendiri mengajar bahasa Latin dan Yunani. Sejak di Roma, para perempuan ningrat tertarik untuk hidup bermatiraga karena menyaksikan sendiri perikehidupan Hieronimus. Hidup bertarak orang kudus ini memang luarbiasa: dia hidup hanya dari roti dan air dan  tempat tidurnya pun tanpa alas. Di Betlehem perempuan-perempuan asal Roma itu membangun beberapa biara, namun biara-biara itu kemudian dibakar oleh para penganut aliran bid’ah Pelagianisme. 

Hieronimus dipandang sebagai salah seorang cendekiawan terbesar dalam Gereja awal. Karya utamanya adalah terjemahan Perjanjian Lama dari bahasa Ibrani ke bahasa Latin dan revisi Perjanjian Baru berbahasa Latin. Pekerjaan ini memakan waktu sekitar 15 tahun (c.390-405), dan diakui oleh Gereja sebagai hakiki dalam menghasilkan Kitab Suci Vulgata (bahasa Latin) yang digunakan lebih dari seribu tahun lamanya di Gereja Barat (Latin). Hal ini berarti bahwa hampir seluruh Kitab Suci Vulgata adalah hasil karyanya. 

Hieronimus juga menulis banyak tafsir Kitab Suci dan berbagai tulisan lainnya yang sungguh merupakan sumber inspirasi bagi generasi-generasi kemudian. Tafsir Kitab Suci tersebut menunjukkan penguasaannya atas bahasa Ibrani. Agar mampu melakukan tugas tulis-menulis ini, Hieronimus telah mempersiapkan diri dengan baik. Dia menguasai bahasa Latin, Yunani, Ibrani, Aram dan Khaldea. Patut dicatat bahwa kemahiran Hieronimus dalam bahasa Ibrani dan Aram dipelajarinya antara lain dari seorang pertapa Yahudi. 

Tulisan-tulisan Hieronimus lainnya adalah sebuah kelanjutan dari Historia Ecclesiastica (Sejarah Gereja) tulisan Eusebius dari Kaisarea (sampai tahun 378). Dia menulis De viris illustribus (392) yang mengedepankan para penulis Gereja dari tahun-tahun sebelumnya. Dia juga menulis banyak sekali surat yang dikirimkannya kepada para pemimpin terkemuka pada zamannya. Hieronimus juga menerjemahkan tulisan-tulisan dari Origenes serta menulis berbagai risalat yang bersifat kontroversial. 

Hieronimus adalah seorang pribadi yang penuh semangat walaupun terkadang pemarah juga. Ia melibatkan diri dalam kontroversi-kontroversi sekitar berbagai tantangan dan konflik yang pada masa itu dihadapi Gereja – misalnya yang datang dari mereka yang termasuk golongan Arianisme, Origenisme dan Pelagianisme  Tulisan-tulisannya yang dengan keras dan tanpa kompromi melawan pemikiran-pemikiran Origenes menyebabkan terjadinya “cekcok” antara Hieronimus dengan seorang sahabat lamanya, yaitu Rufinus dari Aquileia. Hieronimus merasa terpukul dengan diporak-porandakannya Roma pada tahun 410 oleh orang-orang Visigoth, dan memandang peristiwa itu sebagai kematian dunia Romawi. 

Selain terkenal luas karena karyanya di bidang perkitabsucian, Hieronimus juga dikenal sebagai seorang pembela iman Kristiani yang Katolik dalam menghadapi kaum bid’ah seperti dijelaskan di atas. Ia juga seorang pembimbing rohani yang baik. Dari segala penjuru datanglah banyak orang untuk mendapatkan bimbingannya dalam berbagai masalah rohani dan Kitab Suci. Hieronimus terus menulis dan mengajar hingga wafatnya pada tahun 420. Orang kudus ini wafat di Betlehem dalam keadaan buta dan ditinggalkan. 

Sejak abad ke-8 Hieronimus diakui sebagai seorang Pujangga Gereja dan juga Bapak Gereja Latin. Ia dinamakan Bapak dari Ilmu Alkitabiah. Lambangnya adalah topi merah, diambil dari tradisi bahwa Paus Damasus I mengangkatnya menjadi seorang kardinal. Sebuah lambang lain adalah seekor singa yang berbaring di kaki orang kudus ini. 

‘Kantor resmi’ atau ‘posko’ Hieronimus yang terakhir adalah sebuah gua di Betlehem yang letaknya berdampingan dengan gua yang dipercayai orang sebagai gua tempat Yesus dilahirkan. Jalan Hieronimus menuju Betlehem yang mengikuti pola zigzag adalah bagus sebagai pelajaran bagi setiap orang Kristiani yang mau menemukan cara terbaik untuk menanggapi dengan sepenuh hati panggilan Allah dalam dunia yang terus berubah. Teristimewa bagi kita kaum awam yang harus berjuang dengan pertanyaan tentang bagaimana seharusnya kita menanggapi panggilan kepada kehidupan doa di tengah-tengah kesibukan berbagai urusan keluarga, pekerjaan sosial dan lain-lainnya. 

Antara lain melalui upaya-upayanya dan kegagalan-kegagalannya, Allah terus-menerus membimbing Hieronimus selagi dia berjalan menuju suatu kehidupan yang dengan seimbang memasukkan ke dalamnya (1) panggilan untuk suatu hidup doa yang membutuhkan keheningan, maupun (2) panggilan untuk berinteraksi dengan dunia. Dengan demikian, kita juga dapat menaruh kepercayaan bahwa Roh Kudus akan membimbing kita melalui kompleksitas panggilan kita masing-masing.  

Akhirnya, baiklah kita senantiasa mengingat pesan Santo Hieronimus yang terkenal: “Sekarang kita harus menerjemahkan nas-nas Kitab Suci ke dalam perbuatan; daripada berbicara muluk-muluk tentang hal-hal yang kudus, lebih baik kita wujudkan dalam kehidupan kita sehari-hari!” 

DOA: Bapa surgawi, Allah sumber pengetahuan dan kebenaran, dalam hati Santo Hieronimus telah Kautanamkan cinta mesra terhadap Kitab Suci. Semoga Roh Kudus-Mu senantiasa mendorong kami, umat-Mu, untuk semakin menimba kekuatan dari firman-Mu dalam Kitab Suci dan memperoleh sumber kehidupan di dalamnya. Bukalah mata hati kami terhadap kemuliaan rumah surgawi yang disediakan bagi kami. Semoga visi ini mendorong kami untuk tetap melangkah maju dalam perjalanan ziarah kami di dunia ini. Amin.  

Sumber penulisan: (1) Matthew Bunson, OUR SUNDAY VISITOR’S ENCYCLOPEDIA OF CATHOLIC HISTORY; (2) A. Heuken SJ dkk., ENSIKLOPEDI ORANG KUDUS; (3) Clemens Jöckle, ENCYCLOPEDIA OF SAINTS; (4) Mgr. Nicolaas Martinus Schneiders, CICM, ORANG KUDUS SEPANJANG TAHUN; (5) Michael Walsh (Editor), BUTLER’S LIVES OF THE SAINTS – NEW CONCISE EDITION; (6) Lain-lain. 

Catatan kecil: Santo Hieronimus adalah orang kudus pelindung situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com., kakak dari situs/blog PAX ET BONUM ini. 

Cilandak, 30 September 2011 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KITA HARUS MENJADI SAKSI-SAKSI KABAR BAIK YESUS KRISTUS

KITA HARUS MENJADI SAKSI-SAKSI KABAR BAIK YESUS KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Hieronimus, Imam & Pujangga Gereja, Jumat 30-9-11)


“Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Akan tetapi pada waktu penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan daripada tanggunganmu. Dan engkau Kepernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati!

Siapa saja yang mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan siapa saja yang menolak kamu, ia menolak Aku; dan siapa saja yang menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.” (Luk 10:13-16)

Bacaan Pertama alternatif: Bar 1:15-22;  Mazmur Tanggapan: Mzm 79:1-5,8-9 

Dalam kuasa Roh Yesus memulai pelayanan-Nya di depan publik di Galilea. Ia mengajar di rumah-rumah ibadat di situ dan semua orang memuji Dia (Luk 4:14-15). Sekarang, untuk terakhir kalinya mengunjungi kota-kota yang terletak di sepanjang pantai Danau Galilea, Yesus mengutus 70 orang murid-Nya untuk mempersiapkan orang-orang bagi kedatangan-Nya. Ia mengingatkan para murid-Nya tentang kemungkinan penolakan dari orang-orang terhadap mereka. Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya apa yang harus dilakukan oleh mereka seandainya ditolak oleh para penduduk kota tertentu: “Jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu dan serukanlah: Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di depanmu; tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat. Aku berkata kepadamu: Pada hari itu Sodom akan lebih ringan tanggungannya daripada kota itu” (Luk 10:10-12).

Khorazin terletak sekitar 3 km sebelah utara Kapernaum, termasuk kota yang diuntungkan oleh kedekatannya dengan beberapa kota yang lebih makmur. Betsaida menopang industri perikanan yang relatif besar, sementara Kapernaum – titik sentral pelayanan Yesus di Galilea – telah menjadi saksi dari begitu banyak mukjizat dan pendengar dari pengajaran-pengajaran Yesus tentang kerajaan Allah.

Jadi, penduduk Galilea memiliki setiap alasan untuk menerima ajaran-ajaran Yesus dan mengakui Dia sebagai Mesias karena mereka merupakan bagian dari umat pilihan Allah. Akan tetapi, walaupun mereka pada awalnya mempunyai entuasiasme dan kemauan untuk mengikuti Yesus berkeliling di daerah itu, hati mereka tetaplah tertutup. Pada akhirnya, Yesus menegur mereka untuk ketidakpercayaan mereka (Luk 10:13,15). Ia membandingkan mereka dengan orang-orang kafir yang hidup di kota perdagangan ramai seperti Tirus dan Sidon. Orang-orang di dua kota ini kurang kadar dosanya apabila dibandingkan dengan orang-orang Galilea, karena orang-orang kafir memang tidak pernah mendengar pesan keselamatan yang disampaikan oleh Yesus.

Bagaimana dengan kita sendiri, yaitu anda dan saya?  Kita adalah umat pilihan Allah juga! Kita kenal Yesus dan mempunyai begitu banyak kesempatan untuk mendengar dan membaca sabda Allah dan untuk menyaksikan karya penyelamatan Allah di tengah-tengah kita. Akan tetapi, kita seringkali mengabaikan untuk menanggapi sabda Allah dengan serius, termasuk panggilan-Nya kepada kita untuk bertobat dan undangan-Nya yang penuh kasih agar kita mengubah kehidupan kita.

Tidak seorangpun yang telah berjumpa dengan Yesus dikecualikan dari tugas untuk menjadi saksi Kabar Baik kerajaan Allah. Tidak semua kita diutus ke berbagai tempat (Luk 10:1 dsj.), seperti 12 (dua belas) rasul dan 70 (tujuh puluh) murid lainnya, akan tetapi kita dipanggil untuk memberikan testimoni di antara kita-kita sendiri – apakah di rumah, di tempat kerja, di sekolah, atau di paroki (wilayah, lingkungan). Kita harus menerima dan mengakui Yesus dan memperkenankan perubahan-perubahan bekerja di dalam kehidupan kita untuk menunjukkan kepada orang-orang lain tentang kebenaran Yesus dan cara-Nya untuk memanggil kita untuk menghayati kehidupan kita.

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepadaku sebuah hati yang terbuka untuk mendengar sabda-Mu yang menyelamatkan. Buatlah diriku menjadi seorang pribadi yang mau dan mampu untuk berterima kasih penuh syukur untuk sabda-Mu dan taat kepada sabda-Mu itu. Berikanlah juga kepadaku keberanian untuk memberitakan pesan keselamatan-Mu kepada orang-orang yang kujumpai. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 10:13-15), bacalah juga tulisan sehubungan dengan perikop padanannya dalam Injil Matius (Mat 11:20-24) yang berjudul “YESUS MENGECAM BEBERAPA KOTA” (bacaan untuk tanggal 12-7-11) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 11-07 BACAAN HARIAN JULI 2011. 

Cilandak, 5 September 2011 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PESTA TIGA MALAIKAT AGUNG

PESTA TIGA MALAIKAT AGUNG

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta S. Mikael, Gabriel, dan Rafael, Malaikat Agung, Kamis 29-9-11) 

Kemudian timbullah peperangan di surga. Mikael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu dibantu oleh malaikat-malaikatnya, tetapi tidak dapat bertahan; mereka tidak mendapat tempat lagi di surga.  Naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya.

Lalu aku mendengar suara yang nyaring di surga berkata, “Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara seiman kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita. Mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai harus menghadapi maut. Karena itu, bersukacitalah, hai surga dan hai kamu sekalian yang diam di dalamnya, celakalah kamu, hai bumi dan laut! karena Iblis telah turun kepadamu, dalam geramnya yang dahsyat, karena ia tahu bahwa waktunya sudah singkat.” (Why 12:7-12)

Bacaan Pertama alternatif: Dan 7:9-10,13-14;  Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-5; Bacaan Injil: Yoh 1:47-51 

Yohanes (penulis Why) melaporkan sebuah peperangan di surga, antara Mikhael yang dibantu oleh para malaikat lainnya di satu pihak dengan Iblis yang dibantu oleh para malaikat pemberontak. Iblis dan para malaikat jahat akhirnya dikalahkan oleh darah Anak Domba (Why 12:7-11). 

Hari ini kita merayakan ‘Pesta S. Mikael, Gabriel, dan Rafael, Malaikat Agung’. Gereja selalu menegaskan keberadaan para malaikat. Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengatakan bahwa malaikat adalah makhluk rohani tanpa badan yang mempunyai akal budi dan kehendak. Malaikat adalah pelayan dan pesuruh Allah. Mereka adalah wujud pribadi dan tidak dapat mati. Mereka melampaui segala makhluk yang kelihatan dalam kesempurnaan (KGK 328-330). Pada hari yang khusus ini baiklah kita masing-masing merenungkan pertanyaan-pertanyaan berikut: Peranan apakah yang dimainkan para malaikat dalam rencana Allah bagi umat-Nya? Mengapa mereka penting? Apakah mereka mempunyai arti bagi kita dewasa ini? Bagaimana seharusnya kita memandang para malaikat itu dalam terang Yesus? Kristus adalah pusat dunia malaikat: “Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya” (Mat 25:31; lihat KGK 331). 

Injil Matius mencatat tiga peristiwa di mana Yesus berbicara mengenai para malaikat dan apa yang dilakukan mereka (Mat 4:11; 18:10; 26:53). Saya petik salah satu saja sabda Yesus: “Ingatlah, jangan menganggap rendah salah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga” (Mat 18:10). Kata-kata Yesus ini menjadi latar-belakang dari kepercayaan banyak orang Kristiani bahwa sebagai ‘agen kasih Allah’, para malaikat memperhatikan setiap manusia di muka bumi ini. Semoga anda tidak melupakan ayat-ayat dalam mazmur yang kita selalu baca pada Ibadat Penutup setiap Minggu malam: “Sebab TUHAN (Yahwe) ialah tempat perlindunganmu, Yang Mahatinggi telah kaubuat tempat perteduhanmu, malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu; sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu. Mereka akan menatang engkau di atas tangannya, supaya kakimu jangan terantuk kepada batu” (Mzm 91:9-12).[1] 

Fungsi-fungsi ketiga malaikat agung ini sejalan dengan pelayanan Yesus, yaitu mewartakan kabar baik, menyembuhkan orang sakit dan membebaskan orang-orang yang tertindas. Gabriel (= Allah berkuasa) adalah pesuruh utama Allah untuk membawa kabar baik kepada umat-Nya. Dia membawa kabar kepada Maria bahwa dirinya akan melahirkan sang Juruselamat. Rafael (= Allah menyembuhkan) diasosiasikan dengan pelayanan kesembuhan yang dilakukan Yesus (lihat Kitab Tobit). Mikael (= yang menyerupai Allah) membebaskan umat Allah dari penindasan dengan melakukan pertempuran melawan Iblis (Why 12:7). Iblis dan malaikat-malaikat jahat di surga memberontak terhadap Allah (Why 12:3-9) karena kedengkian si Iblis terhadap manusia (lihat KebSal 2:23-24) yang seturut kehendak-Nya menjadi “anak sulung di antara semua ciptaan-Nya” (Yak 1:18). Jadi, kalau kita mau melindungi diri kita sendiri, kita perlu mengingat bahwa ‘perang roh’ (spiritual warfare atau spiritual battle) yang kita hadapi itu adalah sungguh riil. Yesus memang telah mengalahkan Iblis dan para malaikat pemberontak, tetapi mereka masih bebas untuk menggoda dan mencobai kita sampai Yesus datang dalam kemuliaan-Nya kelak. 

Pada saat kita melibatkan diri dalam ‘perang roh’ dari hari ke hari, ingatlah akan peperangan yang dilakukan antara kekuatan baik dan kekuatan jahat. Dengan memahami keseriusan peperangan atau pertempuran rohani dan bagaimana hal itu dapat membawa dampak pada kehidupan kita, maka kita dapat mempersenjatai diri kita dengan keyakinan, bahwa melalui Yesus kita ‘dimasukkan’ ke dalam komunitas Tritunggal. Dalam Kristus, tidak ada sesuatu pun yang dapat mengalahkan kita; kita bahkan dapat mengatasi setiap serangan. Para malaikat Allah selalu ada untuk membantu kita.  Kitab Suci mengatakan: “Bukankah mereka semua adalah roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani mereka yang akan mewarisi keselamatan?” (Ibr 1:14). 

Selagi kita merayakan Pesta ketiga malaikat agung hari ini, marilah kita menghadap Yesus dengan segala kerendahan hati. Marilah kita bersyukur dan berterima kasih kepada Yesus karena kasih-Nya yang  begitu besar kepada kita dan segala berkat yang dilimpah-limpahkan-Nya kepada kita. Kita mohon kepada Yesus agar Dia mengutus para malaikat-Nya untuk menolong kita dalam ‘perang roh’ hari demi hari. 

DOA: Bapa surgawi, aku bersyukur kepada-Mu untuk kemuliaan dan keagungan para malaikat-Mu, meskipun hanya ada tiga malaikat agung saja yang kuketahui namanya dari Kitab Suci. Perkenankanlah mereka menolong aku dalam ziarahku di dunia ini, yaitu dalam perjalanan pulangku kepada-Mu. Semoga selalu ada malaikat-Mu yang mendampingiku dalam ‘perang roh’ yang harus aku jalani setiap hari. Dengan penuh rasa syukur dan hati yang terbuka-lebar aku menyambut kedatangan para malaikat-Mu ke dalam tugas pelayananku, keluargaku serta Gereja, dan kehadiran mereka dalam masyarakat luas guna menolong siapa saja yang berkehendak baik. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan hari ini {Why 7:7-12), bacalah juga tulisan yang berjudul “PESTA TIGA MALAIKAT AGUNG [3]” (bacaan untuk tanggal 29-9-11) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 11-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2011. Bacalah juga tulisan dengan judul “PESTA TIGA MALAIKAT AGUNG [2]” (bacaan untuk tanggal 29-9-10) dalam situs/blog yang sama; kategori 10-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2010. 

(Tulisan ini merupakan revisi dari tulisan untuk bacaan tanggal 29 September 2009) 

Cilandak, 5 September 2011 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS


[1] Teks diambil dari ALKITAB (TB) terbitan Lembaga Alkitab Indonesia yang mempunyai nuansa/ perbedaan-halus dengan teks  yang digunakan dalam buku Ibadat Harian.

HAL MENGIKUT YESUS

HAL MENGIKUT YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVI, Rabu 28-9-11) 

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seseorang di tengah jalan kepada Yesus, “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya, “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Lalu Ia berkata kepada seorang yang lain, “Ikutlah Aku!”  Tetapi orang itu berkata, “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapakku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.” Lalu seorang yang lain lagi berkata, “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” (Luk 9:57-62)

Bacaan Pertama: Neh 2:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 137:1-6 

Yesus “mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem”  (Luk 9:51)! Yesus tahu jalan ke sana akan menyakiti, namun Dia juga tahu bahwa Dia akan pulang dan akan membuka rumah-Nya bagi kita semua, para murid-Nya. Ketika Yesus mengarahkan pandangan-Nya ke Yerusalem, Ia tidak hanya melihat kematian dan kebangkitan. Ia juga melihat kenaikan-Nya ke surga dan kita yang akan bergabung dengan-Nya di sana.

Itulah sebabnya mengapa Yesus menyerukan kepada para murid-Nya untuk meninggalkan segala sesuatu di belakang dan mengikut Dia. Dia ingin membakar hati kita dengan hasrat akan “hadiah panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” (Flp 3:14). Kita bukanlah sekadar warga dunia ini. “… kewargaan kita terdapat di dalam surga dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia”  (Flp 3:20-21). Dengan surga dalam hati kita, kita pun dapat mengarahkan pandangan kita kepada Allah dengan penuh pengharapan. Yesus tahu bahwa sebagai para murid-Nya yang mengemban misi-Nya, kita menghadapi berbagai macam halangan dalam hidup kita, oleh karena itu Dia ingin membuka mata hati kita terhadap pancaran warisan kekal yang disediakan bagi kita dan membuatnya menjadi kekuatan pendorong di belakang ketetapan hati kita. Allah selalu siap untuk menunjukkan kepada kita bahwa kita sangat berharga di mata-Nya, yang sudah ditentukan (‘ditakdirkan’) untuk mengambil bagian dalam kemuliaan kerajaan-Nya.

Memang perjalanan Yesus ke Yerusalem akan ‘berakhir’ dengan kematian-Nya. Dia selalu mengajarkan kepada para murid, bahwa mengikut Dia melibatkan suatu ‘biaya’ yang sangat besar. Dia menggunakan tiga macam ‘ibarat’ untuk membantu para pendengar-Nya melihat kerajaan Allah dari sudut-pandang yang baru. Pertama-tama Yesus mengatakan: “Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Luk 9:58). Pernyataan Yesus ini janganlah diartikan secara harfiah karena Yesus cukup sering diundang orang-orang berada dan menikmati hospitalitas mereka. Pernyataan Yesus di sini ditujukan kepada sesuatu yang lebih mendalam, yaitu masyarakat manusia (pemerintah dan orang-orang seiman dengan-Nya) yang akan menolak-Nya dan pada akhirnya membunuh Dia. Penggunaan ‘ibarat’ yang kedua adalah ketika Yesus mengatakan: “Biarlah orang mati menguburkan orang mati” (Luk 9:60). Penguburan orang mati merupakan suatu kewajiban sakral dalam agama Yahudi, namun yang dimaksudkan Yesus adalah supaya orang-orang mempertimbangkan hal-hal dari sudut pandang yang berbeda. Yesus tidak bermaksud untuk membebaskan seseorang dari kewajiban menguburkan orang-orang yang dikasihinya. Yang mau ditekankan Yesus adalah, bahwa hal mengikut Dia itu lebih fundamental daripada kewajiban keagamaan lainnya. ‘Ibarat’ yang ketiga memberi kesan seakan-akan para pengikut-Nya tidak diperbolehkan untuk say goodbye secara formal kepada anggota keluarga mereka (Luk 9:61). Dalam hal ini, semoga kita tidak lupa bahwa nabi Elisa saja diperkenankan untuk say goodbye kepada ayah-ibunya sebelum mengikuti nabi Elia (1Raj 19:19-21).

Ketiga macam ‘ibarat’ ini sebenarnya mengajak kita semua untuk memusatkan perhatian kita pada kenyataan betapa agungnya panggilan Kristus dan bagaimana kita harus menanggapi panggilan tersebut tanpa syarat apa pun. Dalam kondisi kita sebagai turunan Adam, kita memang suka tergoda untuk menghitung-hitung berbagai kemungkinan untung-rugi pengambilan keputusan kita ……, dalam hal ini kita sering memandang ‘biaya pemuridan’  (cost of discipleship) yang ada di depan mata dan dibuat ‘jeri’ olehnya. Sebagai murid Yesus, begitu banyak rintangan – besar dan kecil – yang harus kita hadapi. Sesungguhnya Yesus menawarkan kepada setiap orang suatu hidup baru yang penuh sukacita dan lengkap, tetapi terwujud dalam suatu ‘pemisahan total’ dari keberadaan orang itu sebelumnya. Jadi para murid meninggalkan segalanya untuk mengikut Yesus atas dasar satu alasan, yaitu bahwa yang ditawarkan-Nya jauh lebih baik daripada yang mereka miliki (lihat Yoh 6:68).

DOA: Tuhan Yesus, Engkau memanggilku menjadi murid-Mu. Tolonglah diriku agar tidak menginginkan apa pun kecuali Engkau saja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini {Luk 9:57-62), bacalah juga tulisan yang berjudul “YESUS ITU SERIUS DAN TIDAK PERNAH BERSIKAP LEBAI” (bacaan untuk tanggal 28-9-11) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 11-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2011. 

(Tulisan ini merupakan revisi dari tulisan untuk bacaan tanggal 30 September 2009) 

Cilandak, 4 September 2011 [HARI MINGGU XXIII] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SELALU ADA JALAN LAIN DI LUAR JALAN KEKERASAN

SELALU ADA JALAN LAIN DI LUAR JALAN KEKERASAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Vinsensius de Paul, Selasa 27 September 2011) 

Ketika hampir tiba waktunya Yesus diangkat ke surga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem, dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata, “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” Akan tetapi, Ia berpaling dan menegur mereka. Lalu mereka pergi ke desa yang lain (Luk 9:51-56).

Bacaan Pertama: Za 8:20-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 87:1-7 

Pelangi dari zamrud, tua-tua yang mengenakan mahkota emas, para kudus yang mengenakan pakaian putih, sebuah kota yang terbuat dari emas murni, sungai yang memberikan air kehidupan begitu jernih seperti kristal (bdk. Why 4). Dengan bayangan akan rumah surgawi-Nya yang sedemikian, tidak mengherankanlah apabila Yesus “mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem” (Luk 9:51)! Dia tahu jalan ke sana akan menyakiti, namun Dia juga tahu bahwa Dia akan pulang dan akan membuka rumah-Nya bagi kita semua. 

Kalau kita coba membaca keteguhan hati Yesus, kita dapat membayangkan bahwa Dia cuma menggertakkan gigi-Nya dan kemudian mengundurkan diri ke tujuan-Nya. Namun ketika Yesus mengarahkan pandangan-Nya ke Yerusalem, Ia tidak hanya melihat kematian dan kebangkitan. Ia juga melihat kenaikan-Nya ke surga dan kita yang bergabung dengan-Nya di sana. 

Dalam jalan-Nya, Yesus tidak menunjukkan toleransi samasekali terhadap sikap dan perilaku yang menyangkut kekerasan. Kakak beradik putera-putera Zebedeus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges atau “anak-anak guruh” (lihat Mrk 3:17) menanggapi penolakan orang-orang Samaria, lalu minta izin kepada Yesus untuk membinasakan desa Samaria itu dengan menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka. Yesus dengan tegas menolak “usulan” kedua murid-Nya itu dan malah menegur mereka. Selalu ada alternatif lain dari jalan kekerasan! ……… dalam kasus ini: pergi ke desa yang lain (lihat Luk 9:53-56). 

Yakobus dan Yohanes bersama Petrus adalah tiga orang murid Yesus yang tergolong “lingkaran dalam”. Jika yang termasuk “lingkaran dalam” saja masih belum juga memahami serta menghayati segala pengajaran-Nya, bagaimana dengan para murid yang lain? Yerusalem sudah di depan mata! Itulah sebabnya mengapa pada waktu melanjutkan perjalanan mereka, Yesus melanjutkan pengajaran-Nya kepada mereka tentang pemuridan/kemuridan dalam hal mengikut Dia (lihat Luk 9:57-62). Yesus menyerukan kepada para murid-Nya itu untuk meninggalkan segala sesuatu di belakang dan mengikut Dia. Dia ingin membakar hati kita dengan hasrat akan “hadiah panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” (Flp 3:14). Kita bukanlah sekedar warga dunia ini. “… kewargaan kita terdapat di dalam surga dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia”  (Flp 3:20-21). Dengan surga dalam hati kita, kita pun dapat mengarahkan pandangan kita kepada Allah dengan penuh pengharapan. 

Dalam perjalanan keliling-Nya untuk melayani orang-orang (bukan untuk tebar pesona), Yesus menghadapi begitu banyak tentangan, perlawanan, sengsara dan bahkan kematian di kayu salib seakan penjahat kelas berat, namun Dia tidak pernah mundur. Ia tahu bahwa sebagai murid-murid-Nya kita pun menghadapi banyak tentangan dan halangan dalam kehidupan kita. Oleh karena itu Dia ingin membuka mata hati kita terhadap pancaran warisan kekal kita dan membuatnya menjadi kekuatan pendorong di belakang ketetapan hati kita. Allah selalu siap untuk menunjukkan kepada kita bahwa kita sangat berharga di mata-Nya, sudah ditentukan (“ditakdirkan”) untuk mengambil bagian dalam kemuliaan kerajaan-Nya. Melalui doa-doa harian, perhatian serius atas sabda Allah dalam Kitab Suci, rahmat sakramen-sakramen, kita semua dapat diperkuat dalam perjalanan kita. Marilah kita menghadap Yesus hari ini dan membuka hati kita bagi-Nya. 

DOA: Bapa surgawi, bukalah hati kami terhadap kemuliaan rumah surgawi kami. Semoga visi ini mendorong kami melangkah ke depan selagi kami mencari Yesus, Putera-Mu terkasih, mutiara yang begitu berharga. Yesus, kami ingin bersama-Mu selama-selamanya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 9:51-56), bacalah tulisan berjudul “JANGAN PERNAH MEMAKSA ORANG YANG TIDAK MAU MENERIMA KABAR BAIK YESUS KRISTUS” (bacaan untuk tanggal 27-9-11) dalam situs SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 11-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2011. 

(Tulisan ini merupakan revisi dari tulisan untuk bacaan tanggal 28 September 2010) 

Cilandak, 4 September 2011 [HARI MINGGU BIASA XXIII] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YANG TERKECIL DI ANTARA KAMU SEKALIAN, DIALAH YANG TERBESAR

YANG TERKECIL DI ANTARA KAMU SEKALIAN, DIALAH YANG TERBESAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVI, Senin 26-9-11) 

Kemudian timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya , dan berkata kepada mereka, “Siapa saja yang menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.”

Yohanes berkata, “Guru, kami lihat seseorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.” Yesus berkata kepadanya, “Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.” (Luk 9:46-50)

Bacaan Pertama: Za 8:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 102:16-23,29 

Para murid Yesus telah melihat Ia berkhotbah tentang Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan, menyembuhkan orang-orang sakit, mengusir roh-roh jahat yang merasuki orang-orang, membuat berbagai mukjizat dan tanda heran lainnya. Setelah memberikan kepada mereka otoritas di atas roh-roh jahat dan kuasa untuk menyembuhkan berbagai penyakit, Yesus juga telah mengutus para murid untuk memberitakan Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang-orang sakit (Luk 9:1-2). Kecenderungan manusia adalah memperkenankan kuasa masuk ke dalam kepala kita. Dengan demikian, herankah anda kalau membaca bahwa belum apa-apa para murid Yesus sudah saling bertengkar tentang siapa yang paling besar di antara mereka? 

Kenyataan bahwa para murid yang sudah begitu dekat dengan Sang Guru, sekarang jatuh ke dalam situasi ‘persaingan tidak sehat’ satu dengan lainnya dapat menyebabkan kita bertanya-tanya apakah mungkin bagi kita bersikap dan berperilaku rendah hati seorang anak dan sepenuhnya tergantung kepada Allah sebagaimana diajarkan oleh Yesus? “Yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar” (Luk 9:48). Namun pengalaman para murid Yesus pertama itu sebenarnya dapat mengajarkan kepada kita pelajaran sebaliknya. Mereka belajar dari kegagalan-kegagalan mereka. Oleh kuasa Roh Kudus, mereka bertumbuh dalam kerendahan hati yang mereka butuhkan untuk peranan pelayanan bagi Kerajaan Allah. 

Sejak terkandung-Nya dalam rahim Perawan Maria, Yesus menjalani suatu kehidupan yang rendah hati secara lengkap. Santo Paulus menulis, bahwa Kristus Yesus, “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa  seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Flp 2:6-7). Dengan rendah hati Yesus memperkenankan Bapa menjadi segalanya dalam apa yang dilakukan-nya (lihat Yoh 5:19). Dalam kerendahan hati penuh ketaatan sebagai manusia, Yesus sampai mati di kayu salib (lihat Flp 2:8). 

Rahasia untuk menjadi rendah hati terletak pada Yesus sendiri. Kepada siapa di antara kita yang merasa dibebani dengan kesombongan dan sikap serta perilaku mementingkan diri sendiri, Yesus bersabda, “Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku” (Mat 11:29). Dengan demikian, kita berada di jalan menuju kerendahan hati sementara kita memeditasikan Yesus dan semakin dekat dengan kasih-Nya kepada kita. Kunci terhadap kerendahan hati terletak pada kehadiran Yesus yang rendah hati untuk diam dalam hati kita Baiklah kita seringkali berpaling kepada-Nya, terutama pada hari ini dan berkata, “Buatlah diriku menjadi seperti Engkau, ya Yesus.” 

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami berdiam  dalam persekutuan dengan Allah, hal mana telah hilang melalui dosa kami namun diperbaharui bagi kami melalui kematian-Mu yang penuh kedinaan dan juga kebangkitan-Mu. Melalui persekutuan ini, semoga kami memperoleh kerendahan hati yang Engkau hasrati untuk kami miliki. Amin. 

Catatan: Bacalah juga tulisan berjudul “SIAPA YANG TERBESAR ???” (bacaan untuk tanggal 26-9-11) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 11-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2011. 

(Tulisan ini merupakan revisi dari tulisan untuk bacaan tanggal 27 September 2010) 

Cilandak, 4 September 2011 [HARI MINGGU BIASA XXIII] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS