KASIH KRISTIANI ADALAH KASIH PERSAUDARAAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan Santa Monika [331-387], Sabtu 27-8-11 

Tentang kasih persaudaraan tidak perlu dituliskan kepadamu, karena kamu sendiri telah belajar kasih mengasihi dari Allah. Hal itu kamu lakukan juga terhadap semua saudara seiman di seluruh wilayah Makedonia. Tetapi kami menasihati kamu, Saudara-saudara, supaya kamu lebih bersungguh-sungguh lagi melakukannya. Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan, seperti yang telah kami pesankan kepadamu, sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada mereka. (1Tes 4:9-12)

Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1,7-9; Bacaan Injil: Luk 7:1-17   

Allah tidak berniat melihat kita hidup sendiri, tetapi hidup dengan orang-orang lain, dan Ia memberikan  begitu banyak kesempatan/peluang bagi kita untuk mengembangkan relasi-relasi – dengan anggota-anggota keluarga, para sahabat, tetangga dan mitra kerja kita. Pertanyaan yang harus kita ajukan adalah, apakah relasi-relasi kita tersebut menolong atau malah menjadi penghalang terhadap kehidupan Kristiani kita? Allah menciptakan kita dalam kasih untuk kasih. Kodrat Allah adalah kasih, dan kita semua dipanggil ke dalam persekutuan dengan diri-Nya dan dengan anak-anak-Nya. 

Dalam baptisan, kita digabungkan ke dalam keluarga Allah. Yesus telah bersabda,  bahwa tanda yang membedakan para murid-Nya adalah kasih mereka satu sama lain. Berkaitan dengan perjamuan terakhir, Yesus mengajar: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yoh 13:34-35). 

Santo Paulus menyapa semua orang Kristiani sebagai “saudara-saudara”, yang berarti “saudari dan saudara dari satu keluarga yang sama.” Itulah sebabnya mengapa Santo Paulus menasihati kita untuk semakin saling mengasihi satu sama lain. Sejatinya kita adalah anggota-anggota dari keluarga yang sama, dan cintakasih kita satu dengan lainnya bukanlah sekadar suatu hal yang menyenangkan; melainkan sesungguhnya membangun kerajaan Allah! 

Para kudus memberikan kepada kita banyak contoh dari kasih Kristiani. Misalnya, Santo Thomas More adalah seorang negarawan terkemuka Inggris pada abad ke-16, namun dia mengasihi orang-orang miskin dan Raja dengan kadar yang sama. Para musuhnya tidak dapat menemukan kesalahan dalam dirinya karena Thomas More memperlakukan semua orang dengan penuh kebaikan hati. Bunda Teresa dari Kalkuta adalah  contoh yang lain lagi. Setiap orang menemukan cintakasih, penerimaan dan persahabatan dengan hamba Allah yang rendah hati ini. Cintakasihnya yang tanpa pamrih dan bela rasanya terhadap orang-orang miskin dan tersingkirkan dalam masyarakat terus menantang kita untuk memeriksa serta menguji bagaimana diri kita sendiri mengasihi orang-orang lain. 

Sangat besarlah “manfaatnya” bagi kita mempunyai relasi dengan satu atau lebih “saudari atau saudara dalam Tuhan” dengan siapa kita dapat berdoa bersama dan saling berbagi tentang karya Allah dalam kehidupan kita. Kita bahkan dapat saling mengingatkan tentang hal-hal yang ditaruh Allah pada hati kita untuk kita lakukan bagi-Nya. 

Marilah kita mencari sahabat-sahabat yang ingin bertumbuh dalam iman, pengharapan dan kasih serta dikuatkan pada saat-saat yang sulit. Marilah kita mohon agar Tuhan sudi menunjukkan kepada kita bagaimana mengasihi setiap orang, dan memberikan kepada kita sahabat-sahabat pribadi dan dekat, yang dapat memperkuat iman kita. 

Santa Monika yang kita peringati pada hari ini adalah ibunda dari Santo Augustinus dari Hippo [354-430], salah seorang Pujangga Gereja dan juga salah seorang Bapak Gereja Latin. Ia lahir di Thagaste (Afrika) dan meninggal di Ostia (Italia). Ia dihormati sebagai pelindung para ibu rumah tangga. Dengan hati yang pedih karena dicemooh dan ditertawakan oleh suaminya sendiri – Patrisius – yang kafir, Monika dengan tekun berdoa untuk suaminya itu agar bertobat. Dia juga mendoakan dengan intens puteranya yang bernama Augustinus agar menjadi pemuda Kristiani yang baik. Augustinus mengikuti kaum bid’ah. Augustinus juga berkawan dengan orang-orang yang tidak bermoral dan hidup berfoya-foya. Segala nasihat ibunya tidak digubris. Monika tidak pernah berputus asa. Dia menggunakan segala peluang yang ada untuk berdoa agar Allah yang Mahabaik melindungi dan membimbing suami dan puteranya, Augustinus ke jalan yang benar. Setelah bertahun-tahun lamanya hal ini berlangsung, doa-doanya pun memperoleh jawaban. Beberapa saat sebelum meninggal dunia, Patrisius bertobat dan mohon dibaptis. Beberapa tahun kemudian, Augustinus dibaptis oleh Uskup Milano pada waktu itu, Santo Ambrosius [c.334-397], salah seorang Bapak Gereja di Gereja Barat (Latin) dan juga salah seorang Pujangga Gereja. Dari tulisan Augustinus sendiri kita mengetahui, bahwa bagi Monika saat itulah yang merupakan puncak dari segala kebahagiaan hidupnya.  Monika memang seorang ibu dan seorang istri yang luarbiasa. Seorang pendoa yang tekun dan tentunya pribadi yang suci. Dia sadar bahwa dia tidak hidup sendiri di dalam dunia ini, dan kesuciannya bukanlah untuk dirinya sendiri. Kasih persaudaraan yang berasal dari Allah sendiri ada dalam dirinya dan dilakukannya dengan sungguh-sungguh seperti dinasihatkan Santo Paulus dalam bacaan hari ini, sehingga dengan demikian menyebar ke luar dirinya dengan sangat efektif. 

DOA: Bapa surgawi, Engkau menciptakan kami dalam kasih untuk kasih. Robohkanlah tembok-tembok permusuhan dan perpecahan yang memisahkan kita. Persatukanlah kami dalam Yesus agar kami dapat menjadi sebuah tanda persatuan yang Kauinginkan bagi kami semua. Amin. 

Cilandak, 12 Agustus 2011  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements