Archive for August 25th, 2011

PERUMPAMAAN TENTANG SEPULUH GADIS

PERUMPAMAAN TENTANG SEPULUH GADIS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI, Jumat 26-8-11 

“Pada waktu itu hal Kerajaan Surga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyambut mempela laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedang gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam botol mereka. Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Sambutlah dia! Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ. Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, Tuan, bukakanlah pintu bagi kami! Tetapi ia menjawab: Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, aku tidak mengenal kamu. Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu hari maupun saatnya. (Mat 25:1-13)

Bacaan Pertama: 1Tes 4:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 97:1-2,5-6,10-12   

Perumpamaan tentang sepuluh gadis ini hanya terdapat dalam Injil Matius. Perumpamaan ini menekankan lagi pentingnya sikap berjaga-jaga atau kesiap-siagaan dalam masa yang penuh dengan ketidakpastian sebelum kedatangan akhir zaman (bdk. Mat 24:37-44). Dalam merenungkan perumpamaan ini sangatlah baik  bagi kita untuk tidak terjebak dalam mencoba mengartikan arti simbolis yang mendetil dari hal-hal yang ada dalam perumpamaan ini, misalnya “apa arti dari 10 gadis”, mengapa tidak “20 gadis”? Apa signifikansi dari minyak dalam perumpamaan ini? Dst. Yang penting adalah menangkap pesan keseluruhan dari perumpamaan itu. 

Kesepuluh gadis itu adalah para pendamping pengantin yang sedang menanti-nantikan kedatangan mempelai laki-laki di rumah keluarga bapak mertuanya. Sangat realistis dan sungguh membumi, karena praktek ini masih dapat diketemukan pada zaman modern ini. Di rumah itulah akan diselenggarakan pesta perjamuan kawin. Para gadis itu akan menjadi bagian dari rombongan mempelai laki dan ikut serta dalam pesta. Lima orang dari mereka tidak membawa minyak dalam jumlah yang cukup untuk pelita atau “obor” yang digunakan dalam prosesi. Tidak adanya persiapan pada akhirnya menyebabkan mereka  tidak dapat mengikuti acara pesta. Inilah “nasib” mereka yang tidak siap! Tragis! 

Seperti juga perumpamaan-perumpamaan Yesus lainnya, perumpamaan tentang sepuluh gadis ini mempunyai makna langsung dan bersifat lokal, di sisi lain juga memiliki arti yang lebih luas dan universal. Signifikansinya yang langsung terarah pada orang-orang Yahudi. Mereka adalah umat terpilih; keseluruhan sejarah mereka seyogianya merupakan suatu persiapan bagi kedatangan Putera Allah; mereka harus dalam kesiapsiagaan guna menyambut diri-Nya apabila Dia datang. Kenyataannya adalah bahwa orang-orang Israel tidak siap menyambut-Nya. Inilah kiranya tragedi yang dialami orang-orang Yahudi karena ketidaksiapan mereka. 

Sudah lama dalam Perjanjian Lama hubungan antara TUHAN (YHWH) dan Israel digambarkan sebagai hubungan suami-istri. Kasih YHWH terhadap Israel sebagai mempelai perempuan-Nya dan kasih Israel terhadap YHWH dapat kita jumpai dalam “Kidung Agung”. Yehezkiel menyatakan yang sama, ketika dia menyebut kemurtadan Yerusalem sebagai zinah (baca Yeh 16:1-63). Ketika pemazmur dalam Mzm 45 melambungkan lagu bagi Raja dan Ratu, maka orang-orang memahami bahwa yang dimaksudkan di situ adalah YHWH dan umat-Nya. 

Namun demikian, semua itu hanyalah persiapan belaka. Pada kedatangan Yesus Kristus, Israel baru saja memasuki suatu hubungan perkawinan Perjanjian Baru. Kristus adalah sang Mempelai laki-laki dan Gereja sebagai mempelai perempuan. Yohanes Pembaptis menyebut dirinya sebagai sahabat Mempelai laki-laki (Yoh 3:29). Namun sekarang ini masih merupakan pertunangan. Apabila Kristus datang kembali pada akhir zaman (parousia), Ia akan menjemput mempelai perempuan-Nya dan akan mulailah pesta perkawinan yang sesungguhnya. Itulah kiranya mengapa Yesus memakai perumpamaan tentang perjamuan nikah surgawi. Itulah pula sebabnya, mengapa Kitab Wahyu juga menyebut peristiwa yang menyusul akhir zaman sebagai “Perjamuan kawin Anak Domba (baca: Why 19:6-10). Gereja yang telah dibersihkan dan dikuduskan akan berhias untuk menyambut kedatangan sang Mempelai laki-laki. Beberapa kali Santo Paulus menulis mengenai gagasan tersebut. Baginya pertunangan serta perkawinan insani hanyalah gambaran samar-samar saja dari pertunangan serta perkawinan antara Kristus dan Gereja-Nya. Gagasan itu dapat kita jumpai misalnya dalam Surat kepada jemaat di Efesus (lihat Ef 5:22-33). 

Kesiapsiagaan adalah yang pertama dan utama. Orang-orang di rumah keluarga mempelai perempuan, termasuk ke sepuluh gadis itu tahu bahwa sang mempelai laki-laki akan datang, namun tidak seorangpun tahu jam berapa tepatnya sang mempelai laki akan tiba. Demikian pula manusia tidak tahu kapan tepatnya Tuhan akan datang menjemputnya pada saat kematian. Manusia juga tidak tahu kapan Tuhan Yesus akan datang dalam kemuliaan-Nya untuk menjemput Gereja dan menjadikannya Gereja yang Berjajya. Namun, karena seluruh pikiran dan perbuatan ditujukan pada saat yang didamba-dambakan kedatangannya itu, maka masuk akallah  apabila dibutuhkan kesiapsiagaan dalam artiannya yang paling serius. Pelita (atau obor) saja tidak cukup, persediaan minyak juga harus selalu mencukupi. Jadi, secara lahiriah seseorang masuk menjadi anggota Gereja belumlah cukup, karena harus pula ada padanya iman yang hidup, rahmat pengudusan dan cintakasih sejati sebagai isinya. Tempat dan perhiasan yang indah-indah tidak ada gunanya, apabila isinya tidak ada. Maka, hanya manusia rohani, yang memiliki kekayaan ilahilah yang benar-benar dapat dinilai siap siaga. Percumalah tubuh yang sehat, kuat dan indah, akal budi yang tajam dan dipenuhi ilmu pengetahuan, kehendak yang kuat dan giat, serta hati yang bernyala-nyala, apabila semua itu tidak diisi oleh rahmat Allah. Lampu yang terbuat dari emas dan diperlengkapi dengan ukiran-ukiran yang indah-indah tak ada gunanya di dalam tempat gelap, jikalau tidak sekaligus diisi dengan minyak yang memberi terang. “Aku tidak mengenal kamu”, demikianlah bunyi jawaban yang akan diberikan Tuhan kepada mereka yang percaya kepada kekuatan, kecantikan, ketajaman budinya, kegiatan, perasaan hati, dan wataknya sendiri, tetapi tidak mempedulikan Allah, sabda-Nya, cintakasih serta rahmat-Nya. Memang orang-orang seperti ini mempunyai pelita (atau obor), tetapi mereka tidak mempunyai persediaan minyak yang diperlukan. 

Perumpamaan ini mengingatkan kita bahwa ada hal-hal tertentu yang tidak dapat diperoleh pada menit-menit terakhir. Terlambatlah bagi seorang mahasiswa untuk mulai belajar pada hari terakhir menjelang ujian akhir. Juga tidak mungkinlah bagi seseorang untuk memperoleh suatu keterampilan tertentu secara mendadak ketika tugas yang membutuhkan keterampilan tersebut sudah ada di hadapannya. Demikian pula dalam hal mempersiapkan diri kita untuk bertemu dengan Allah. Dari perumpamaan di atas kita juga melihat bahwa ada hal-hal tertentu yang tidak dapat dipinjam dari orang lain. Gadis-gadis yang bodoh dalam perumpamaan mengalami bahwa tidaklah mungkin untuk meminjam minyak pada waktu mereka membutuhkannya. Demikian pula, seseorang tidak dapat meminjam suatu relasi dengan Allah; dia harus memiliki relasi dengan Allah bagi dirinya sendiri. Jadi ada hal-hal yang harus kita peroleh bagi diri kita sendiri, karena kita tidak dapat meminjamnya dari orang lain. 

Kesiapsiagaan harus diperagakan dengan penuh ketekunan. Sebagai Gereja (Tubuh Mistik Kristus), kita berada dalam masa pertunangan dan perkawinan. Sebagai Gereja, kita adalah mempelai perempuan sendiri yang sedang menantikan kedatangan sang Mempelai laki-laki. Maka setiap orang anggota Gereja dan Gereja seluruhnya harus siap sedia menanti-nanti dengan gembira. Memang menurut koderatnya manusia itu takut terhadap kematian dan karenanya berupaya menghindarinya sedapat mungkin. Akan tetapi berdasarkan iman, seseorang mempunyai pandangan lain samasekali terhadap kematian itu. Dalam iman, kematian bukanlah akhir dari segala sesuatu, melainkan justru merupakah awal sukacita yang besar. Itulah iman Kristiani! Misalnya, bagi Santo Fransiskus dari Assisi dan para anggota ketiga ordonya, kematian adalah seorang Saudari, Saudari Maut (Badani). 

Bagi seorang Kristiani sejati, sabda Tuhan Yesus, “Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu hari maupun saatnya”, tidak lagi merupakan kesiapsiagaan yang dipenuhi rasa khawatir dan takut seperti dengan Nuh yang melihat air bah mendatang, atau seperti tuan rumah yang menantikan kedatangan pencuri. Bagi seorang Kristiani sejati, kesiapsiagaannya merupakan penantian yang penuh kegembiraan. Penantian itu akan merupakan Kabar Baik, Rahasia Cintakasih, sukacita karena pelukan mesra, persatuan antara Allah dan manusia, dan karenanya merupakan pemenuhan segala kerinduan umat yang terpendam selama ini. Mempelai perempuan mengungkapkan kerinduan terdalam itu dengan seruan: “Datanglah, Tuhan Yesus!” Sang Mempelai laki-laki berkata: “Ya, Aku datang segera!” (Why 22:20). 

Cilandak, 10 Agustus 2011 [Peringatan Santo Laurensius, Diakon/Martir]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

MUTIARA-MUTIARA FRANSISKAN (7)

MUTIARA-MUTIARA FRANSISKAN (7) 

BEBERAPA CATATAN TENTANG  ST. LUDOVIKUS IX – ORANG KUDUS PELINDUNG OFS [Pesta: 25 Agustus] 

Dosa dan kusta. Raja Ludovikus IX (Louis IX) tidak pernah melupakan pendidikan masa mudanya. Sahabat dan penulis riwayat hidupnya, Sieur de Joinville yang menemaninya pada waktu perang salib yang ketujuh ke Tanah Suci, menulis bahwa pada suatu kesempatan Raja bertanya kepadanya “Apa itu Allah?” Joinville menjawab, “Sri Paduka Raja, (Allah) itu adalah sesuatu yang begitu baik sehingga tidak ada sesuatu pun yang lebih baik.” “Baik,” kata Raja, “sekarang katakanlah kepadaku, apakah anda lebih suka menjadi seorang penderita kusta atau melakukan satu dosa berat?” Pemandangan orang-orang kusta yang suka berkeliaran sepanjang jalan-jalan di Eropa pada abad pertengahan dapat mendorong suatu nurani yang sensitif untuk mengajukan pertanyaan seperti itu. “Saya lebih suka membuat 30 dosa besar, daripada menjadi seorang kusta” jawab Joinville dengan terus-terang. Ludovikus kemudian bertukar pikiran dengan Joinville secara serius karena Joinville menjawab begitu. Ludovikus berkata: “Apabila seseorang mati, dia disembuhkan dari kusta yang diderita pada tubuhnya, akan tetapi apabila seseorang yang telah berbuat suatu dosa berat mati, dia tidak dapat mengetahui dengan pasti bahwa pada waktu hidupnya dia telah menyesali dan bertobat atas dosanya itu dan bahwa Allah telah mengampuninya, dengan demikian dia harus merasa jauh lebih takut karena kusta dosa itu kekal-abadi seperti Allah dalam Firdaus adalah kekal-abadi.” 

Raja yang suci. Raja Ludovikus IX mencintai khotbah-khotbah, dia mendengar Misa dua kali sehari, dan ketika melakukan perjalanan dia dikelilingi oleh imam-imam yang mendaras ibadat harian. Walaupun dia merasa berbahagia ditemani imam-imam dan orang-orang bijak dan berpengalaman lainnya, dia tidak ragu-ragu untuk melawan rohaniwan/pimpinan Gereja bilamana yang bersangkutan menunjukkan ketidakpantasan. Pesta dan acara yang biasa dilakukan pada saat pengangkatan ksatria-ksatria baru dirayakan dengan penuh kemegahan, namun Ludovikus melarang dilakukannya hal-hal yang berbahaya dari segi moral di dalam istananya. Ia tidak memperkenankan kecabulan atau kata-kata tidak senonoh. Joinville menulis, “Saya sudah menemani Raja selama 22 tahun dan saya tidak pernah sekali pun mendengar dia mengucapkan sumpah, baik demi Allah, atau demi Bunda-Nya, atau demi para kudus-Nya. Saya bahkan tidak mendengar dia menyebut nama Iblis, kecuali kalau dia menemukan nama itu pada saat membaca dengan suara keras, atau ketika mendiskusikan apa yang baru saja dibacanya.” Seorang Dominikan yang mengenal Ludovikus dengan  baik menyatakan, bahwa dia belum pernah mendengar sang Raja berbicara buruk mengenai siapa saja.  Pada waktu didesak untuk menghukum mati anak laki-laki dari Hugh de la Marche yang memberontak, raja tidak mau melakukannya, dia berkata, “Seorang putera tidak dapat menolak perintah-perintah ayahnya.” 

Lebih baik mati daripada … Raja Ludovikus IX memilih untuk tetap menjadi tawanan orang-orang Sarasin (Muslim), yang berarti juga kehilangan kerajaannya dan bahkan nyawanya, daripada murtad. Baginya tidak ada kehilangan/kerugian materi apa pun yang dapat dibandingkan dengan kehilangan Allah. Setiap penderitaan di dunia dapat ditanggung apabila kita berada dalam rahmat Allah, malah menjadi terasa manis bilamana kita menanggungnya karena kita tidak ingin melukai hati Allah. Sebaliknya, apabila kita memilih untuk melukai hati Allah agar dapat menghindar dari penderitaan materi berarti diri kita ke dalam penderitaan paling berat. “Kejahatanmu akan menghajar engkau, dan kemurtadanmu akan menyiksa engkau!” (Yer 2:19). 

Sahabat Wong  Cilik. Setiap hari Raja Ludovikus IX menerima 13 orang tamu istimewa dari antara orang-orang miskin untuk makan bersamanya, dan banyak orang miskin lainnya dilayani makan di dekat istananya. Selama masa Adven dan Prapaskah, semua orang yang datang akan diberikan makanan dan sering Raja Ludovikus IX sendiri yang melayani mereka secara pribadi. Raja menyimpan daftar-daftar orang-orang yang membutuhkan bantuan, yang secara teratur ditolongnya, di setiap provinsi kerajaannya. 

Cilandak, 24 Agustus 2011  

Diterjemahkan dari beberapa sumber dalam bahasa Inggris oleh Sdr. F.X. Indrapradja, OFS