Archive for August 19th, 2011

JANGAN MUNAFIK !!!

JANGAN MUNAFIK !!!

(Bacaan Injil Misa,  Peringatan S. Bernardus, Abas/Pujangga Gereja, Sabtu 20-8-11) 

Lalu berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksudkan untuk dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terbaik di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil orang ‘Rabi.’  Tetapi kamu, janganlah kamu disebut ‘Rabi’; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Janganlah kamu menyebut siapa pun ‘bapak’ di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di surga. Janganlah kamu disebut pemimpin, karena hanya satu pemimpinmu, yaitu Mesias. Siapa saja yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (Mat 23:1-12)

Bacaan Pertama: Rut 2:1-3,8-11;4:13-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 128:1-5 

Kalau kita merenungkan sejenak bacaan Injil hari ini, terasa ada rasa jengkel, mendongkol dan marah yang terkandung dalam kata-kata yang diucapkan Yesus tentang para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Orang-orang itu memegang posisi terpandang dalam masyarakat Yahudi. Mereka dihormati, namun mereka tidak lebih daripada segerombolan orang-orang munafik. 

Lain halnya dengan Yesus, kemunafikan tidak  ada dalam kamus-Nya!  Ia memperlakukan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi ini secara berbeda, apabila dibandingkan dengan orang banyak. Yesus melihat tindakan-tindakan dan opini-opini mereka, bukan sekadar posisi mereka dalam masyarakat. Kita – manusia kebanyakan – sering tergoda untuk menilai bagian luar saja dari diri seseorang, tetapi Yesus melihat bagian dalamnya. Yesus tidak mempunyai masalah dengan fungsi para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Dia bahkan mengajar orang banyak dan murid-murid-Nya untuk mentaati apa yang diajarkan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu. Ucapan Yesus tidak mengagetkan orang banyak yang mendengarkan pengajaran-Nya karena para ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu memang sangat dihormati dalam masyarakat Yahudi. Mereka dikenal untuk pengetahuan mereka dan dalam hal menepati Hukum Musa (Taurat). Yesus sendiri tidak datang ke dunia untuk meniadakan hukum Taurat. Dalam ‘Khotbah di Bukit’, Ia mengatakan,  “Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Mat 5:17). Santo Paulus bahkan menulis: “Kristus adalah tujuan akhir hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya” (Rm 10:4). 

Yang diserang oleh Yesus bukanlah posisi terhormat para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, bukan juga pengaruh mereka. Ia tidak menyerang para ahli Taurat untuk pengetahuan mereka tentang tradisi, melainkan cara mereka memelintir semua itu untuk keuntungan mereka sendiri dan membangun kesan betapa pentingnya mereka. Yesus juga tidak menyalahkan orang-orang Farisi untuk semangat mereka sehubungan dengan hal-ikwal Allah, melainkan karena fokus mereka terlalu banyak pada hal-hal kecil yang harus ditaati, sehingga tidak cukup banyak perhatian pada Allah dan perintah-Nya untuk mengasihi. Baik para ahli Taurat maupun orang-orang Farisi berada dalam posisi di mana mereka dapat memberikan pelayanan bagi bangsa Yahudi. Mereka sesungguhnya dapat mengabdikan diri mereka untuk mendorong atau menyemangati bangsa Yahudi dalam hal doa, saling mengasihi dan merangkul belas kasihan Allah. Sayangnya semua ini menjadi kabur sebagai akibat dari kesombongan, egoisme dan cinta kehormatan (gila hormat) mereka sendiri. 

Seperti para rasul, kita juga harus menaruh perhatian pada panggilan Yesus agar menjadi rendah hati dan melayani sesama kita. Kadang-kadang garis pemisah antara kekudusan dan sikap serta perilaku yang mementingkan diri sendiri dapat menjadi sedemikian tipis. Oleh karena itu, baiklah kita menyadari bahwa semakin dekat kita dengan Yesus, semakin banyak pula kita mendengar suara-Nya, yang mendorong dan menyemangati kita, ajaran-ajaran-Nya, dan bahkan mengoreksi diri kita apabila diperlukan. 

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku menjaga hatiku agar terbuka bagi cara-cara Engkau bekerja di dalam dunia sekarang. Semoga aku tidak terlalu terpaku pada tradisi-tradisi, sehingga luput melihat Engkau dan hati-Mu yang penuh kasih. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini bacalah juga tulisan yang berjudul “YESUS MENGINGINKAN KITA MEMILIKI KERENDAHAN HATI” (bacaan untuk tanggal 21-8-10), sedangkan untuk mendalami Bacaan Pertama untuk hari ini (Rut 2:1-3,8-11;4:13-17), silahkan baca tulisan yang berjudul “RUT: CONTOH YANG INDAH DARI KESETIAAN DAN KOMITMEN” (bacaan untuk tanggal 20-8-11), keduanya terdapat dalam blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 10-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2010 dan 11-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2011. 

Cilandak, 3 AGUSTUS 2011   

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ANGGARAN DASAR OFS [4]: MENEPATI INJIL TUHAN KITA YESUS KRISTUS

 MENEPATI INJIL TUHAN KITA YESUS KRISTUS 

AD OFS FASAL II, ARTIKEL 4 

Regula et vita Franciscanorum saecularium haec est: Evangelium D.N. Iesu Christi observare, S. Francisci Assisiensis exempla sequendo, qui Christum suae vitae inspiratorem centrumque fecit erga Deum hominesque.

Christus, donum Dilectionis Patris, via est ad Eum, veritas est, in quam nos Spiritus Sanctus introducit, vita est, ad quam Ille abundanter dandam venit.

Franciscani saeculares insuper in frequentem Evangelii lectionem incumbant, ex Evangelio ad vitam ac ex vita ad Evangelium transeuntes (LATIN).

The rule and life of the Secular Franciscans is this: to observe the gospel  of our Lord Jesus Christ by following the example of Saint Francis of Assisi, who made Christ the inspiration and the center of his life with God and people.

Christ, the gift of the Father’s love, is the way to him, the truth into which the Holy Spirit leads us, and the life which he has come to give abundantly.

Secular Franciscans should devote themselves especially to careful reading of the gospel, going from gospel to life and life to the gospel (INGGRIS). 

Anggaran Dasar dan cara hidup para Fransiskan Sekular ialah: menepati Injil Tuhan Tuhan kita Yesus Kristus dengan mengikuti teladan Santo Fransiskus Asisi, yang menjadikan Kristus penjiwa dan poros kehidupannya di hadapan Tuhan  dan sesama.[1]

Kristus anugerah Kasih Bapa, adalah Jalan kepada-Nya; Ia adalah Kebenaran, yang kepada-Nya Roh Kudus menghantar kita; Ia adalah kehidupan, dan Ia datang untuk memberikannya secara melimpah.[2]

Selanjutnya hendaklah kaum Fransiskan Sekular tekun membaca Injil, sambil beralih dari Injil kepada hidup yang nyata dan dari hidup yang nyata kepada Injil (INDONESIA).[3]  

Dalam sesi 2 saya telah mengatakan, bahwa dalam Artikel 4 ini diringkaskan jantung AD OFS: inti terdalam dari kehidupan Injili adalah persatuan intim dengan Kristus, atau dalam kata-kata Santo Paulus, “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:20). Dengan demikian, seorang Fransiskan sekular yang hidup dengan semangat Fransiskus dapat mengetahui dan mengalami Tuhan Yesus secara intens, mengikat pribadinya sendiri dengan pribadi Kristus. 

ANGGARAN DASAR DAN CARA HIDUP PARA FRANSISKAN SEKULAR IALAH: MENEPATI INJIL TUHAN KITA YESUS KRISTUS 

Apa maksudnya? Maksudnya ialah, bahwa Injil suci Tuhan Yesus Kristus merupakan fondasi dan dasar kehidupan para Fransiskan sekular. Injil adalah sumber dari mana mengalirlah spiritualitas Fransiskan. Injil suci adalah “Kabar Baik” dari semua pewahyuan ilahi yang melalui sejarah keselamatan terus memanifestasiksn diri dan mencapai puncaknya dalam kedatangan Kristus. 

Kita menemukan pewahyuan ilahi atau Kabar Baik dalam Kitab Suci, baik Perjanjian Lama (lebih tepat: Perjanjian Pertama) maupun Perjanjian Baru. Dapat dikatakan bahwa yang dimaksudkan dengan Injil suci di sini adalah keseluruhan Kitab Suci atau Alkitab. Injil ini harus dipahami dalam arti yang selalu baru dan mendalam dan seperti ditafsirkan Gereja yang diinspirasikan oleh Roh Kudus. Sifat Injili (evangelical) dari OFS memberikan kepada para anggotanya suatu jaminan mutlak, dan juga menjelaskan sifat permanen dan keberadaannya pada saat ini. Sifat Injili dari OFS juga merupakan titik awal untuk studi mendalam dan pemahaman yang benar dari spiritualitasnya. 

ANGGARAN DASAR, CARA HIDUP, INJIL DAN KRISTUS 

Definisi yang diberikan oleh AD OFS Fasal II, Artikel 4 didasarkan atas sepasang “persamaan”. Pertama-tama “Anggaran Dasar” disamakan dengan “cara hidup”; kemudian “Anggaran Dasar dan cara hidup” disamakan dengan “menepati Injil Tuhan kita Yesus Kristus”. Dari persamaan-persamaan ini dapat terlihat adanya empat pokok yang penting, yaitu “Anggaran Dasar”, “cara hidup”, “Injil” dan “Kristus”. Keempat pokok ini diharapkan dapat mengungkapkan secara penuh isi dari teks Artikel 4 yang sedang kita pelajari ini. 

Dalam Artikel 2, “Anggaran Dasar” disebut sebagai sarana penolong bagi para Fransiskan sekular untuk menghayati Injil Kristus. Namun dalam Artikel 4, “Anggaran Dasar” ditempatkan setaraf dengan “cara hidup”: “Anggaran Dasar” dan “cara hidup” didefinisikan sebagai “praktek menepati Injil Tuhan kita Yesus Kristus”. Dalam menggambarkan “Anggaran Dasar” dan “cara hidup” sebagai cara menepati Injil, teks itu menunjuk kepada Fransiskus sebagai model/panutan: Santo Fransiskus Assisi, “yang menjadikan Kristus penjiwa dan poros kehidupannya di hadapan Allah dan sesama.” Dengan demikian “menepati Injil Kristus” di sini diidentifikasikan sebagai “menjadikan Kristus penjiwa dan poros kehidupan”. Dengan perkataan lain, “Anggaran Dasar dan cara hidup para anggota OFS adalah menepati Injil Kristus dengan menjadikan Kristus penjiwa (inspirator) dan poros (pusat) kehidupan dengan Allah dan sesama”. 

Yang ditekankan dalam Artikel 1 dan 2 adalah hal mengikuti Kristus/menghayati Injil seturut jejak langkah/teladan Santo Fransiskus dari Assisi. Di lain pihak, dalam Artikel 4 dimensi lainlah yang diketengahkan, yaitu “menepati Injil Kristus dengan menjadikan Kristus penjiwa dan poros kehidupan dengan Allah dan sesama, seturut teladan Santo Fransiskus dari Assisi”. 

Dua pernyataan ini dapat dipersingkat menjadi persamaan sederhana sebagai berikut: “dipanggil untuk mengikuti Kristus” = “menjadikan Kristus penjiwa dan poros kehidupan dengan Allah dan sesama”. Persamaan ini memfokuskan secara penuh sentralitas Kristus dalam kehidupan seorang Fransiskan. Pada saat yang sama, persamaan itu dengan jelas menunjukkan identifikasi Injil dengan Kristus sendiri (maksudnya: Injil adalah Kristus sendiri). 

MENEPATI INJIL 

Berkenaan dengan hal ini, dalam wasiatnya Fransiskus menulis: 

Sesudah Tuhan memberi aku sejumlah saudara, tidak seorang pun menunjukkan kepadaku apa yang harus kuperbuat; tetapi Yang Mahatinggi sendiri mewahyukan kepadaku, bahwa aku harus hidup menurut pola Injil suci. Aku pun menyuruh tulis hal itu dengan singkat dan sederhana, dan Sri Paus mengukuhkannya untukku (Was 14-15). 

Peraturan hidup Ordo Pertama, Ordo Kedua dan Ordo Ketiga Regular juga dimulai dengan kata-kata yang sama seperti halnya AD OFS: 

Inilah cara hidup menurut Injil Yesus Kristus, yang diminta Saudara Fransiskus, agar oleh Sri Paus diperkenankan dan diteguhkan untuk dirinya” (AngTBul Muk: 2). 

“Anggaran Dasar dan cara hidup Saudara-saudara Dina ialah menepati Injil Suci Tuhan kita Yesus Kristus sambil hidup dalam ketaatan, tanpa milik dan dalam kemurnian” (AngBul I:1). 

“Adapun pola dasar ordo saudari-saudari miskin, sebagaimana yang ditetapkan oleh Santo Fransiskus, adalah sebagai berikut: Melaksanakan Injil Suci Tuhan kita Yesus Kristus dengan hidup dalam ketaatan, tanpa milik dan dalam kemurnian” (Anggaran Dasar Santa Klara, I:1-2). 

“Pola hidup Saudara-saudari Ordo Ketiga Regular Santo Fransiskus ialah: menepati Injil Suci Tuhan kita Yesus Kristus, dengan hidup dalam ketaatan, dalam kemiskinan dan kemurnian” (Anggaran Dasar dan Cara Hidup Saudara-saudari Ordo Ketiga Regular Santo Fransiskus, I:1). 

Kata-kata di atas jelas menunjukkan citra yang mau diberikan Santo Fransiskus kepada keluarganya. “…… Yang Mahatinggi sendiri mewahyukan kepadaku, bahwa aku harus hidup menurut pola Injil Suci”, seperti ditulisnya dalam wasiatnya (Was 14). Injil haruslah menjadi norma dengan mana pikiran-pikiran, tindak-tanduk dan tingkah laku setiap Fransiskan sekular dibimbing. Injil juga harus menjadi hidupnya, yaitu pengalaman hidupnya. Setiap orang yang masuk ke dalam Keluarga Fransiskan harus membuat pikiran-pikiran, perasaan-perasaan dan perilaku Yesus sedapat mungkin menjadi pikiran-pikiran, perasaan-perasaan dan perilakunya sendiri (bdk Flp 2:5)

AD OFS Fasal II, Artikel 4 di sini secara singkat menunjukkan hakekat dari spiritualitas Fransiskan, yaitu meniru (mengikuti jejak) Kristus, secara lahiriah maupun batiniah

MENEPATI INJIL …………………… DENGAN MENGIKUTI TELADAN SANTO FRANSISKUS ASSISI 

Santo Fransiskus menerima lebih banyak terang dari pembacaan Injil daripada kata-kata yang didengarnya dari Salib San Damiano. Kata-kata dari Salib San Damiano tidak begitu dipahami, akan tetapi Sabda Tuhan di dalam Injil yang didengarnya di Kapel Portiuncula (tahun 1208) mencerahkan pikirannya. Di situ dia memahami sepenuhnya apa yang sejak itu harus menjadi pola kehidupannya sendiri: suatu kehidupan yang berakar dan didasarkan pada Injil, yang harus selalu ditepati sesuai huruf yang ada (bukan berarti menjadi fundamentalis), diakui dalam kemurnian serta kesederhanaan hati dan direkomendasikan lebih daripada Konstitusi atau Peraturan hidup yang lain manapun. 

Dalam riwayat hidupnya (1Cel 22) ada tertulis bahwa pada suatu hari Fransiskus berseru dengan gembira dalam Roh Allah: “Inilah yang kukehendaki, inilah yang kucari, inilah yang ingin kulakukan dengan segenap hatiku.” Ini terjadi setelah selesai Misa; ketika atas permintaan Fransiskus imam menerangkan Injil yang dibacakan dalam Misa, yaitu nas-nas yang berkaitan dengan misi para rasul (Mat 10:7-10; Mrk 6:8-9 dan Luk 9:1-6). Bagi Fransiskus Injil adalah Yesus Kristus sendiri, Sabda Allah yang hidup, yang menjadi daging (yang hidup) dan hidup di tengah-tengah kita hari ini. Ketika sedang menderita sakit, dia berkata kepada seorang saudaraa: “Hai anakku; saya kenal Kristus, yang miskin dan tersalib”  (2Cel 105). Oleh karena itu, Kristus dan Injil-Nya merupakan pusat kehidupan Fransiskus. Dengan demikian Kristus dan Injil-Nya itu harus menjadi pusat kehidupan para Fransiskan sekular juga. Kita harus menepati Injil, artinya hidup sesuai dengan Kabar Baik Tuhan Yesus Kristus. 

“Menepati Injil …… dengan mengikuti teladan Santo Fransiskus Assisi” dapat diartikan:

  1. Membaca Injil dengan tekun, melakukan meditasi atas Injil itu, berkonsultasi dengan Injil, membuat Injil itu subyek refleksi dan diskusi, secara setia mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Mengasimilasikan dan menyerap Injil dengan kesederhanaan hati, dan bukan menurut pemikiran berdasarkan kecerdikan orang-orang yang bijak sesuai ukuran dunia.
  3. Melihat Injil sebagai tempat pertemuan dengan Tuhan Yesus.
  4. Secara serius mengambil Injil sebagai suatu norma untuk kehidupan sehari-hari. 

Secara singkat, “menepati Injil …… dengan mengikuti teladan Santo Fransiskus Assisi” berarti menjadikan Yesus sebagai inspirator dan pusat kehidupan kita masing-masing, karena Dia saja yang adalah “Jalan, Kebenaran dan Hidup” (Yoh 14:6). 

KRISTUS ADALAH PENJIWA (INSPIRATOR) DAN POROS (PUSAT) KEHIDUPAN DI HADAPAN ALLAH DAN SESAMA 

Terjemahan dalam bahasa Inggris “inspirasi” (inspiration) dinilai kurang tepat. Yang lebih tepat adalah inspirator. Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia, penjiwa, saya rasa tidak bertentangan dengan kata inspirator itu, mungkin malah lebih tajam. Kata poros dan pusat boleh dikatakan memang sinonim. Sekarang kita akan bersama-sama menelaah secara singkat dua patah kata penting tersebut; 

1.       PENJIWA (INSPIRATOR) 

Kata penjiwa mengacu kepada pribadi Kristus. Kristus adalah penjiwa; Dia adalah inspirator, tetapi bukan inspirasi. Sebagai inspirator, Kristus tentu dapat memberikan inspirasi-inspirasi. Ajaran-ajaran-Nya atau nasihat-nasihat-Nya dapat menjadi inspirasi-inspirasi kepada banyak orang, namun diri-Nya bukanlah inspirasi. Dia adalah sang Inspirator. 

2.       POROS (PUSAT) 

Kata poros atau pusat mengungkapkan dua aspek: 

  • Kristus adalah poros. Kristus adalah kulminasi dan titik pusat, menuju titik mana semua hal diarahkan atau dipimpin. Ia adalah sumber kekal-abadi, dari sumber mana semua hal berasal. 
  • Kristus adalah poros kehidupan. Penegasan ini menggarisbawahi hubungan dinamik yang mengkonkretkan diri dalam tiga arahan: 
  1. Kristus adalah Pribadi kepada Siapa orang-orang dipanggil. Hal ini memberi arti pada aspek panggilan; para anggota OFS dipanggil untuk mengikuti Dia.
  2. Kristus adalah sumber kehidupan, dari sumber mana para anggota OFS menimba kehidupan mereka.
  3. Kristus adalah tujuan akhir, kepada Dia-lah para anggota OFS akan kembali. 

Kata-kata penjiwa dan poros menunjukkan kesentralan utama (prime centeredness) pribadi Kristus dalam kehidupan para Fransiskan sekular. Mengapa? Karena untuk menghayati Injil seseorang perlu untuk berorientasi secara radikal kepada Kristus sendiri, sang penjiwa dan poros kehidupan. Menepati Injil merupakan konsekuensi langsung dari kesentralan pribadi Kristus, yang adalah sang penjiwa dan poros kehidupan seorang Fransiskan sekular

KRISTUS ANUGERAH KASIH BAPA, ADALAH JALAN KEPADA-NYA; IA ADALAH KEBENARAN, YANG KEPADANYA ROH KUDUS MENGHANTAR KITA; IA ADALAH KEHIDUPAN, DAN DIA DATANG UNTUK MEMBERIKANNYA SECARA BERLIMPAH 

Apa arti dari kalimat panjang itu? Artinya adalah, bahwa empat kitab Injil dan keseluruhan Kitab Suci dengan segala ajaran yang terdapat di dalamnya berfungsi seperti kaca melalui kaca mana kita dapat melihat; dan bagaikan pintu untuk kita  dapat lewat keluar-masuk. Yang menjadi pusat Injil (Kitab Suci) adalah Yesus Kristus sendiri, ajaran-Nya dan kehidupan-Nya, kepribadian-Nya secara menyeluruh. 

Kehidupan riil seorang Fransiskan sekular terdiri dari suatu pertemuan personal dan vital dengan Yesus Kristus, Tuhan yang memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dan aspirasi-aspirasi terdalam dari manusia. Hal itu juga berarti, bahwa undangan kepada kesucian yang diterima oleh seorang Fransiskan sekular adalah ikut serta dalam Inti Kehidupan Allah Tritunggal Mahakudus

Kristus adalah anugerah Kasih Bapa; Kristus adalah Jalan, Kebenaran dan Kehidupan.  Hal ini merupakan deskripsi alkitabiah mengenai kesentralan Kristus

  1. Dalam hubungan-Nya dengan Allah Bapa (“kasih” dan “jalan”);
  2. Dalam hubungan-Nya dengan Roh Kudus (“kebenaran”);
  3. Dalam hubungan-Nya dengan umat manusia (“kehidupan”). 

Hal ini sepenuhnya cocok dengan sabda Yesus sendiri: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6). Kata “Aku” yang diucapkan Yesus dengan tegas menunjuk kepada kesentralan Pribadi-Nya sehingga “aku”-nya para pendengar tidak lagi menjadi pusat. 

Kesentralan pribadi Kristus dalam hubungan-Nya dengan Allah Bapa diungkapkan secara tegas dalam kata-kata kasih dan jalan. Kristus anugerah Kasih Bapa berarti, bahwa Allah Bapa mengutus Putera-Nya untuk menyelesaikan rancangan cinta kasih Bapa (lihat Yoh 3:16). Dalam artian ini Kristus adalah Jalan bagi Bapa kepada anak-anak-Nya, begitu pula bagi anak-anak-Nya Kristus adalah Jalan kepada Bapa seperti dengan jelas ditunjukkan oleh teks Injil Yohanes tadi (Yoh 14:6). Kesentralan Kristus menghasilkan hubungan timbal balik antara umat manusia dan Allah Bapa. Titik fokus pertemuan antara Bapa surgawi dan umat manusia adalah Sabda yang menjadi daging (Firman yang menjadi manusia; bdk Yoh 1:14), yaitu Kristus sendiri. Kristus-lah yang telah membuat mungkin terjadinya pertemuan antara Allah dan umat manusia. 

Kesentralan pribadi Kristus dalam hubungan-Nya dengan Roh Kudus diungkapkan dalam kata Kebenaran. Cara kerja Roh Kudus diarahkan kepada terbentuknya persekutuan (communio) dengan Kristus. Roh Kudus-lah yang membawa dan membimbing umat beriman kepada persekutuan dengan Kristus. 

Kesentralan pribadi Kristus dalam hubungan-Nya dengan umat manusia diungkapkan dalam kata Kehidupan. Yesus bersabda: “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah” (Yoh 10:10). Ungkapan “Ia datang untuk memberikannya (kehidupan) secara berlimpah” dalam kalimat kedua Artikel 4 mengacu kepada Inkarnasi. Sang Sabda menjadi daging untuk mengumpulkan dan menyelamatkan semua manusia. Dalam artian ini, Dia adalah kehidupan  yang diberikan-Nya secara berlimpah. Secara berlimpah di sini kelihatannya menunjukkan “kualitas” kedatangan Kristus, bukan “kuantitas”. Inkarnasi adalah kepenuhan kedatangan Kristus di dunia. 

Kata kehidupan-lah yang paling ditekankan di sini. Anggaran Dasar dan cara hidup para Fransiskan sekular ialah menepati Injil, yang tidak lain tidak bukan adalah menjadikan Kristus penjiwa dan poros kehidupan (lihat Artikel 4 kalimat pertama). Pada saat yang sama Kristus sendiri adalah Kehidupan. Untuk memberikan kehidupan ini secara berlimpah, Dia menjadi salah satu anggota umat manusia (bdk Artikel 4 kalimat kedua). Para Fransiskan sekular harus menjadikan Kristus sebagai penjiwa dan poros kehidupan mereka, karena Kristus sendiri adalah Kehidupan itu. 

Karena “Kristus adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup” (Yoh 14:6) maka para Fransiskan sekular harus memiliki keyakinan mendalam, bahwa oleh baptisan dan profesinya, mereka harus menjadi seperti Kristus yang tersalib dan mengikuti Injil-Nya sebagai peraturan hidup mereka. 

……… TEKUN MEMBACA INJIL 

Di dalam kehidupan seorang Fransiskan pada umumnya, tidak ada hari yang dilalui tanpa pembacaan dan permenungan nas-nas Injil. Mungkin saja nas yang sama dibaca dan direnungkan pada hari yang berbeda-beda, tetapi seseorang akan menemukan arti yang baru bagi dari nas yang sama tadi setiap harinya.       

Injil harus merupakan subjek refleksi oleh komunitas, dalam semua pertemuan persaudaraan. Seseorang dapat mengambil satu frase atau sepatah kata dari Injil yang dibacakan, lalu diterapkan pada suatu situasi konkrit atau pada suatu kegiatan yang sedang berjalan. Atau seseorang dapat memilih sebuah fakta, atau suatu kejadian dari kehidupan sehari-hari dan merefleksikannya dalam terang Injil. 

INJIL  

Injil merupakan sebuah “kata kunci” dalam Artikel 4 ini. Kata dalam bahasa Yunani, euaggelion,  berarti kabar baik. Kata ini sangat kaya makna. Apa arti kata Injil bagi kita? Marilah kita menelaahnya bersama: 

1. Injil berarti Tuhan Yesus sendiri (lihat Luk 2:10; Gal 1:16). Fransiskus telah bertemu secara pribadi dengan Tuhan Yesus: suatu kontak pribadi (person to person contact) dan tidak melalui meditasi atau pun melalui sebuah buku. Seperti halnya Santo Paulus, Fransiskus mendengar suara dan berbicara kepadanya. Oleh iman, ini adalah upaya kita yang pertama, yakni dengan rendah hati mencari dengan sungguh-sungguh kesempatan untuk bertemu dengan pribadi Kristus yang hidup dan aktif. Ia sekarang hidup dan bertindak untuk kita dan di dalam diri kita; hal ini adalah kabar baik yang sangat besar artinya. 

Allah Bapa memberikan Putera-Nya yang tunggal kepada kita untuk menjadi “Jalan, Kebenaran dan Hidup” bagi kita. Sebagai Jalan, Kristus datang dari Bapa dan memimpin kita kepada Bapa. Sebagai Kebenaran, Kristus berarti kebenaran yang lengkap dan definitif, tak tersaingi oleh pengetahuan atau ilmu pengetahuan apa pun sewaktu menerangi budi kita dalam arti sesungguhnya. Sebagai Kehidupan, Kristus memberikan hidup yang berkelimpahan (Yoh 10:10) termasuk hidup fisik kita. Sebagai Kehidupan, Kristus adalah cinta kasih (Yunani: Agape). Cinta kasih ini di dalam Gereja-Nya akan mengubah/mentransformasikan kita dan dunia sekeliling kita. Karena oleh suatu misteri mendalam secara perlahan-lahan masing-masing kita dijadikan Kristus, seperti dijelaskan oleh Santo Paulus dan seperti Fransiskus sendiri telah membuktikannya dalam kasus stigmata yang dialaminya. 

2.  Injil berarti doktrin atau pengajaran kabar baik  (Mat 24:14). Mengapa disebut “kabar”? Berkaitan dengan Hukum sebelumnya, kita mendengar  misalnya Yesus bersabda: “Kamu telah mendengar yang difirmankan: Jangan berzina. Tetapi aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya” (Mat 5:27-28). Kita dapat melihat dalam Injil pengulang-ulangan penyajian sabda Yesus dengan pola yang sama/senada: “Kamu telah mendengar ……, tetapi Aku berkata kepadamu: ……” yang kemudian disusul dengan pengajaran-Nya sehubungan dengan “topik” yang sedang disoroti. Pengajaran-pengajaran Yesus  seperti ini sungguh baru dan sangat berbeda dengan pengajaran-pengajaran para rabi lainnya, baik bagi orang Yahudi maupun orang kafir, dan tentunya menjadi “berita” atau “kabar”. Mengapa “baik”? Karena menyampaikan berita kebahagiaan, mengubah/mentransformasikan manusia, menekankan nilai-nilai utama perihal kehidupan hari ini dan kelak, mengajar sikap-sikap batin yang mengalir terutama dari “sabda-sabda bahagia”  (Mat 5:3-12) yang disampaikan Yesus  dalam “Khotbah di Bukit”. 

“Injil sebagai Kabar Baik” merupakan salah satu gagasan atau ide kunci dalam kehidupan Santo Fransiskus. Orang kudus ini begitu tergetar hatinya ketika menemukan keindahan dan kesederhanaan gagasan berikut ini: Kabar Baik bahwa Allah adalah Bapa kita! Bapa itu mengasihi kita! Kristus adalah Saudara kita. Kita adalah anak-anak Allah, yang sungguh-sungguh memiliki hidup-Nya. Kita adalah saudara-saudari dari Kristus dan juga bersaudara satu sama lain. Roh kasih Allah hidup di dalam diri kita. Kehidupan kita adalah kudus dan terjamin aman dalam Kristus. Dari sebab itu, Kristus dan Injil-Nya merupakan pusat kehidupan orang kudus ini. 

3. Injil berarti kitab-kitab Injil tertulis (Rm 16:25). Dalam kalimat ketiga Artikel 4 AD OFS  dikatakan: “Hendaklah kaum Fransiskan sekular tekun membaca Injil, ……” Penyampaian atau tradisi doktrin Yesus pada hakekatnya bersifat lisan, dari telinga ke mulut: “Pergilah, wartakanlah!” Inilah satu-satunya sarana yang digunakan oleh Kristus: satu-satunya yang digunakan oleh Gereja perdana untuk paling sedikit untuk jangka waktu tiga puluh tahun lamanya. Satu-satunya cara yang tersedia untuk sebagian besar umat karena mereka tidak dapat membaca: buta aksara. Oleh karena itu cara “dari mulut ke telinga” tetap merupakan sarana yang lebih mudah, paling universal, paling menyentuh, paling tidak mendua arti. 

Namun demikian, sabda tertulis, Kitab Suci, merupakan suatu harta kekayaan,  yang membuat kita mampu mendengarkan sabda-sabda sang Guru seperti diucapkan bibir-Nya dan mengalir dari hati-Nya. Konsili Vatikan II menyatakan: “Tradisi Suci dan Kitab Suci berhubungan erat sekali dan berpadu. Sebab keduanya mengalir dari sumber ilahi yang sama, dan dengan cara tertentu bergabung menjadi satu dan menjurus ke arah tujuan yang sama” (Konstitusi Dogmatis Dei Verbum tentang Wahyu Ilahi, 9). Masalah akan timbul kalau orang mencoba untuk mempertentangkan Kitab Suci dan Tradisi Suci. 

4. Injil berarti sebuah program kehidupan. “Beralih dari Injil kepada hidup yang nyata dan dari hidup yang nyata kepada Injil” adalah arti Injil yang terakhir untuk dibahas di sini. Ini merupakan salah satu metode yang dapat digunakan dalam pertemuan-pertemuan persaudaraan, yaitu untuk saling berbagi mengenai apa saja yang diinspirasikan oleh Injil terhadap tindak-tanduk kita dalam praktek kehidupan kita sehari-hari. Ini adalah metode Fransiskus; apa yang dibacanya, dia praktekkan dalam tindakan nyata! Salah satu kata-kata arif dari Fransiskus: “Seseorang mengetahui sebanyak apa yang dilakukannya.” Oleh karena itu kita, dalam  meneladan Santo Fransiskus, berupaya untuk mewujudkan apa yang ditulis oleh Beato Thomas dari Celano, “Ujudnya yang tertinggi, keinginan yang terutama dan niatnya yang terbesar ialah menepati Injil suci dalam segala-galanya dan selama-lamnya” (1Cel 84). 

BERALIH DARI INJIL KEPADA HIDUP YANG NYATA DAN DARI HIDUP YANG NYATA KEPADA INJIL 

Injil bukanlah sekedar sebuah kitab untuk dibaca, tetapi harus dihayati dan dialami sesuai dengan yang ditulis dalam Surat Yohanes yang pertama: “Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup – itulah yang kami tuliskan kepada kamu” (1Yoh 1:1). Jelas pernyataan ini benar juga dalam hal Kitab Suci secara keseluruhan yang berisikan sabda Allah yang diinspirasikan. 

Dalam diri Santo Fransiskus kita mempunyai sebuah contoh yang sangat indah, seseorang yang begitu menghargai dan menghormati Sabda (Firman) Allah ini. Santo Fransiskus memiliki pemahaman tertinggi tentang Kitab Suci dan dengan demikian memberi kesaksian, bahwa “dengan membaca Kitab Suci seseorang dapat dengan mudah meningkat dari memiliki sekedar pengetahuan insani menjadi berpengetahuan ilahi, seseorang menilai lebih-lebih dengan kerendahan hati daripada dengan kesombongan.” 

Dari uraian di atas jelaslah, bahwa Injil mempunyai dampak langsung atas kehidupan seorang manusia. Di atas kita telah melihat bahwa Injil dapat diidentifikasikan dengan Kristus sendiri. Dengan demikian, “beralih dari Injil kepada hidup yang nyata dan dari hidup yang nyata kepada Injil” berarti “beralih dari Kristus kepada kehidupan dan dari kehidupan kepada Kristus.”  Tetapi Kristus adalah Kehidupan. Dengan demikian kalimat tadi dapat ditafsirkan dalam arti “beralih dari Kehidupan kepada kehidupan dan dari kehidupan kepada Kehidupan.” Kata-kata penjiwa dan poros sangat kaya makna. Kristus adalah sumber kehidupan. Kristus adalah Kehidupan. Kristus adalah tujuan kehidupan. Kesentralan Kristus dalam kehidupan berarti pula kesentralan Injil. Pribadi Kristus ditemui di dalam Injil! 

Hubungan antara Kristus dengan Injil menjadi jelas apabila seseorang mengakui kenyataan bahwa hanya dalam Kristus Injil menjadi inspirasi dan pusat kehidupan. Membaca Injil tanpa mengakui kehadiran pribadi Kristus di dalamnya merupakan suatu tindakan steril: artinya tidak berbeda dengan suatu riset ilmiah atau suatu pengejaran intelektual belaka. Cara yang sedemikian tidak akan membawa seseorang kepada suatu relasi pribadi dengan pribadi Kristus. Pribadi Kristus-lah yang hadir dalam Injil. Injil menjadi inspirasi dan pusat kehidupan hanya apabila kehadiran pribadi Kristus itu diakui di dalamnya dan sang individu berada dalam persekutuan dengan Kristus. Injil di luar persekutuan dengan pribadi Kristus paling-paling hanya menjadi sumber dan inspirasi bagi ideologi-ideologi dan teori-teori. 

CATATAN AKHIR 

Konsili Vatikan II menganjurkan kepada kaum awam bahwa dalam kelompok-kelompok kecil mereka harus sering mempertimbangkan cara-cara dan buah hasil usaha-usaha kerasulan mereka, dan membandingkan cara hidup mereka sehari-hari dengan Injil (lihat Dekrit Apostolicam Actuositatem tentang Kerasulan Awam, 30). Dengan cara ini Injil tidak hanya membuat mereka mampu membentuk mentalitas Kristiani mereka, tetapi juga mempermudah pertobatan (conversio) mereka setiap hari. 

Menjadi seorang Fransiskan sekular pertama-tama berarti berupaya menjadi Kristiani, menjadi seorang murid Kristus. Suatu cara hidup adalah seperangkat nilai-nilai, suatu semangat yang mempengaruhi keseluruhan hidup kita, suatu sikap yang merasuki apa saja yang kita pikirkan, rasakan, katakan dan lakukan. Kristianitas adalah cara hidup yang diberikan oleh Allah sendiri kepada kita. Namun sebagai seorang Fransiskan sekular ada “cap istimewa” yang melekat pada dirinya, yaitu “inspirasi dan tradisi khusus” yang diambil dari Santo Fransiskus, yaitu “menepati hidup Injili” sebagai tujuan hidupnya yang bersifat fundamental.

Sebagai para Fransiskan sekular kita menepati Injil Tuhan kita Yesus Kristus dengan mengikuti teladan Santo Fransiskus dari Assisi. Dengan demikian kita harus membaca Kitab Suci tidak hanya dengan mata dan pikiran fisik mereka, atau karena sekadar untuk memenuhi minat belajar dan rasa ingin tahu. Para Fransiskan sekular harus mendekati Kitab Suci dengan iman-kepercayaan, kerendahan hati dan kepatuhan hati, serta mendengarkan suara Allah yang dengan penuh misteri tersembunyi dalam lembar-lembar Kitab Suci itu. Setelah dengan penuh perhatian mendengarkan dan memahami, mereka mengambil tindakan dengan penuh kemurahan hati. 

Dengan cara yang sama para Fransiskan sekular mencari untuk menemukan arti dalam kehidupan sehari-hari mereka, persoalan-persoalan dan kesulitan-kesulitan mereka, keberhasilan-keberhasilan dan kegagalan-kegagalan mereka, peristiwa-peristiwa dalam dunia dan sejarah, dalam terang Sabda Allah. Inilah maksudnya apabila dikatakan: “…… sambil beralih dari Injil kepada hidup yang nyata dan dari hidup yang nyata kepada Injil.” 

Pokok-pokok yang dikemukakan dalam tulisan ini terkesan berat, namun janganlah kita  cepat berputus-asa. Mengapa? Karena menjadi Fransiskan sekular merupakan sebuah panggilan. Kalau Allah telah memanggil kita untuk menjadi seorang Fransiskan sekular, maka Dia juga akan menganugerahkan kepada kita rahmat-Nya. Hanya ada satu hal penting yang kita butuhkan, yaitu suatu semangat kepercayaan dan kemurahan hati (a spirit of trust and generosity). Dari berbagai riwayat hidup Santo Fransiskus dari Assisi, kita dapat melihat bahwa orang kudus ini memiliki semangat kepercayaan seorang anak akan Bapa surgawi, dan dalam kuat-kuasa dan hikmat-kebijaksanaan serta cinta-kasih Bapa-nya. Dengan Sang Mahatinggi yang beserta kita selalu, tidak ada satu pun yang perlu kita takuti. Tidak ada sesuatu apa pun yang dapat mencelakakan kita. Dengan hikmat-kebijaksanaan dan rahmat-Nya, tidak ada persoalan yang tidak dapat kita pecahkan. 

KEPUSTAKAAN:  

  1. KITAB SUCI.
  2. Anggaran Dasar Ordo Fransiskan Sekular”.
  3. “Anggaran Dasar dan Cara Hidup Saudara-saudari Ordo Ketiga Regular Santo Fransiskus”.
  4. “Anggaran Dasar Santa Klara”, dalam C. Groenen OFM, SANTA CLARA ASISI DAN HAL-IHWAL WARISAN ROHANINYA.
  5. Thomas dari Celano (terjemahan P. J. Wahjasudibja OFM), ST. FRANSISKUS DARI ASISI – RIWAYAT HIDUP YANG PERTAMA & RIWAYAT HIDUP YANG KEDUA (SEBAGIAN), Jakarta: SEKAFI, 1981.
  6. Vincenzo Frezza OFMCap., THE GOSPEL WAY OF LIFE  (Judul asli: L’Evangelica Forma di Vita, terjemahan ke dalam bahasa Inggris oleh P. Vincent Lobo OFMCap.), Manila, Philippines: National Spiritual Assistants – Secular Franciscan Order, 1980.
  7. Leonard Foley OFM & Jovian Weigel OFM, THE THIRD ORDER VOCATION, Cincinnati, Ohio: Lay Franciscan Province of St. John Baptist, 1976.
  8. Benet A. Fonck OFM, CALLED TO FOLLOW CHRIST – COMMENTARY ON THE SECULAR FRANCISCAN RULE BY THE NATIONAL ASSISTANTS’ COMMENTARY COMMISSION, Quincy, Illinois: Franciscan Press, 1997.
  9. DOKUMEN KONSILI VATIKAN II (terjemahan R. Hardawiryana SJ), Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI/Obor, 1993.
  10. Sdr. Frans Indrapradja OFS, Memorandum No. Min/14/96 tanggal 15 Desember 1996 perihal: OFS BERUSAHA MENGHAYATI HIDUP INJILI.
  11. Sdr. Frans Indrapradja OFS, Memorandum No. Min/06/97 tanggal 23 Maret 1997 perihal: OFS BERUSAHA MENGHAYATI HIDUP INJILI (2).
  12. Sdr. Frans Indrapradja OFS, Memorandum No. Min/07/97 tanggal 3 April 1997 perihal: OFS BERUSAHA MENGHAYATI HIDUP INJILI (3).
  13. Leo Laba Ladjar OFM (Penerjemah, Pemberi Pengantar dan Catatan), KARYA-KARYA FRANSISKUS DARI ASISI, Jakarta: SEKAFI, 2001 (Cetakan Pertama setelah pembaruan tahun 2001).
  14. Manangar Christoforus Marpaung OFMCap., THE PERSON OF CHRIST IN THE NEW RULE (1978) AND CONSTITUTIONS (1990) OF THE SECULAR FRANCISCAN ORDER, Roma: Pontificum Athenaeum Antonianum, 1994.
  15. Cornelio Mota Ramos OFM & Zachary Grant OFMCap., THE RULE OF THE SECULAR FRANCISCAN ORDER WITH A CATECHISM AND INSTRUCTIONS, Chicago, Illinois: Franciscan Herald Press, 1981.


[1] Lihat 1Cel 18 dan 115.

[2] Lihat Yoh3:16 dan 14:6 (sesuai dengan catatan kaki dalam AD OFS), namun saya menganjurkan pembaca untuk mengacu kepada Yoh 10:10 juga.

[3] Dekrit Apostolicam Actuositatem tentang Kerasulan Awam, 30.