PEMBERONTAKAN MIRYAM DAN HARUN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVIII, Selasa 2-8-11)

Keluarga Fransiskan: Pesta S. Maria Ratu para Malaikat dr Portiunkula 

Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kusy yang diambilnya, sebab memang ia telah mengambil seorang perempuan Kusy. Kata mereka: “Sungguhkah TUHAN (YHWH) berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?” Dan kedengaranlah hal itu kepada YHWH. Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi. Lalu berfirmanlah YHWH dengan tiba-tiba kepada Musa, Harun dan Miryam: “Keluarlah kamu bertiga ke Kemah Pertemuan.” Maka keluarlah mereka bertiga. Lalu turunlah YHWH dalam tiang awan, dan berdiri di pintu kemah itu, lalu memanggil Harun dan Miryam; maka tampillah mereka keduanya. Lalu berfirmanlah Ia: “Dengarlah firman-Ku ini. Jika di antara kamu ada seorang nabi, maka Aku, YHWH menyatakan diri-Ku kepadanya dalam penglihatan, Aku berbicara dengan dia dalam mimpi. Bukan demikian hamba-Ku Musa, seorang yang setia dalam segenap rumah-Ku. Berhadap-hadapan Aku berbicara dengan dia, terus terang, bukan dengan teka-teki, dan ia memandang rupa YHWH. Mengapakah kamu tidak takut mengatai hamba-Ku Musa? Sebab itu bangkitlah murka YHWH terhadap mereka, lalu pergilah Ia. Dan ketika awan telah naik dari atas kemah, maka tampaklah Miryam kena kusta, putih seperti salju; ketika Harun berpaling kepada Miryam, maka dilihatnya, bahwa dia kena kusta!

Lalu kata Harun kepada Musa: “Ah tuanku, janganlah kiranya timpakan kepada kami dosa ini, yang kami perbuat dalam kebodohan kami. Janganlah kiranya dibiarkan dia sebagai anak gugur, yang pada waktu keluar dari kandungan ibunya sudah setengah busuk dagingnya. Lalu berserulah Musa kepada  YHWH: “Ya Allah, sembuhkanlah kiranya dia.” Kemudian berfirmanlah YHWH kepada Musa: “Sekiranya ayahnya meludahi mukanya, tidakkah ia mendapat malu selama tujuh hari? Biarlah dia selama tujuh hari dikucilkan ke luar tempat perkemahan, kemudian bolehlah ia diterima kembali.” Jadi dikucilkanlah Miryam ke luar tempat perkemahan tujuh hari lamanya, dan bangsa itu tidak berangkat sebelum Miryam diterima kembali. Kemudian berangkatlah mereka dari Hazerot dan berkemah di padang gurun Paran. (Bil 12:1-13)

Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-7,12-13; Bacaan Injil: Mat 15:1-2,10-14 

Begitu mudahnya kita dapat terkesan akan kehebatan dan bakat-bakat yang dimiliki oleh orang-orang lain. Akan tetapi, bagi Yesus segalanya tergantung dari apa yang ada dalam hati orang (lihat bacaan Injil hari, khususnya Mat 15:10-11). Peristiwa yang diceritakan dalam bacaan pertama di atas menggambarkan kebenaran ini (Bil 12:1-13). Harun dan Myriam adalah dua sosok pemimpin berbakat yang dihormati oleh bangsa Israel. Pada waktu mereka melihat bahwa Musa “salah jalan”, maka mereka berpikir dibenarkanlah apabila mereka berbicara menentang Musa. Akan tetapi Allah melakukan intervensi. Dia membongkar kecemburuan dan iri hati kedua orang itu dan pemberontakan mereka. 

Kita semua suka menunjukkan penampilan yang baik kepada orang-orang lain, dan sampai titik tertentu memang kita harus begitu. Akan tetapi, kita tidak pernah boleh membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain atau memandang rendah orang yang kelihatannya “begitu-begitu saja”. Penolakan atau rasa cemburu/iri hati dapat berdiam di dalam hati kita dan tetap di sana untuk waktu yang cukup lama, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun lamanya, dan tetap tak terlihat oleh kebanyakan orang. Keluar, dapat saja kita bertindak sebagai orang-orang Kristiani yang baik, namun di dalam kita tetap masih dikuasai oleh nafsu dan dosa. 

Kita harus jujur tentang kekuatan-kekuatan yang bekerja di dalam diri kita apabila kita ingin mengalami relasi pribadi yang mendalam dengan Allah. Bapa surgawi tahu benar apa yang ada di dalam hati kita dan Ia sungguh rindu untuk membebaskan kita dari segalanya yang membuat kita terikat dalam kedosaan. Inilah sebabnya mengapa Dia kadang meng-ekspose kegelapan hati kita pada saat-saat yang paling kita tidak harap-harapkan. Secara sekilas lintas kita mungkin bertindak dengan cara yang kita tahu melawan kehendak Allah – dan kita pun tahu bahwa Dia mengetahuinya. Ini adalah saat-saat rahmat, karena Roh Kudus sedang mengungkapkan dosa kita kepada kita, seperti Allah menunjukkan apa yang dalam hati Miryam dan Harun, sehingga mereka dapat dibawa ke dalam pertobatan. Pada saat-saat seperti itu, kita dapat mencoba mencari-cari alasan untuk membenarkan kesalahan kita atau menutupi rasa malu kita – atau kita dapat menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada kerahiman Allah dan menerima sentuhan penyembuhan-Nya. 

Manakala kita melihat dosa kita, baiklah kita ingat bahwa Yesus telah menebus kita, kita memperoleh pengampunan yang lengkap dan pendamaian melalui kematian-Nya di atas kayu salib. Dengan Yesus, kita sekarang memiliki kuasa untuk mengalahkan dosa dan membebaskan kita dari segala kejahatan. Oleh karena itu, baiklah kita selalu dekat pada-Nya. 

DOA: Tuhan Yesus, terangilah kegelapan hati kami dan bebaskanlah kami dari segalanya yang memisahkan kami dari diri-Mu. Amin. 

Cilandak, 23 Juli 2011 [Peringatan S. Birgitta dari Swedia] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS