YAKOBUS JUGA MEMINUM CAWAN YANG TELAH DIMINUM OLEH YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Santo Yakobus, Rasul – Senin 25-7-11) 

Kemudian datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Kata Yesus, “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya, “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya, “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum? Kata mereka kepada-Nya, “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka, “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang yang baginya Bapa-Ku telah menyediakannya.” Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata, “Kamu tahu bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa bertindak sebagai tuan atas rakyatnya, dan para pembesarnya bertindak sewenang-wenang atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan siapa saja yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat 20:20-28).

Bacaan Pertama: 2Kor 4:7-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 126:1-6 

Dalam perjuangan kita masing-masing untuk hidup sebagai seorang Kristiani yang bukan sekadar di KTP, sering kali kita harus berurusan dengan sikap dan perilaku mementingkan diri sendiri. Semoga cerita mengenai dua bersaudara anak-anak Zebedeus, Yakobus dan Yohanes, dapat memberikan pelajaran dan pengharapan bagi kita semua. Kedua orang ini adalah contoh sempurna dari orang-orang yang mengalami pertempuran berkesinambungan antara kodrat manusia yang cenderung buruk dan kodrat baru yang tersedia bagi setiap orang dalam Yesus.

Di samping Simon Petrus, Yakobus dan Yohanes adalah murid-murid terdekat Yesus. Mereka telah banyak berkorban untuk mengikuti Yesus, karena ayah mereka Zebedeus kelihatannya adalah nelayan cukup berada. Tetapi untuk pengorbanan-pengorbanan mereka itu Allah memberi ganjaran yang sepadan. Mereka tidak hanya diberi privilese untuk menjadi saksi dari mukjizat-mukjizat Yesus, melainkan juga  kemuliaan-Nya di atas gunung (lihat Mat 17:1-8). Sudah cukup lama dua kakak-beradik ini bergaul akrab dengan Yesus, namun tokh mereka masih datang dengan permintaan yang ‘nggak-nggak’, aneh dan terdengar agak kurang-ajar tentunya, apalagi dengan memanfaatkan juga bantuan (pengaruh?) Nyonya Zebedeus, mungkin agar hati Yesus menjadi lunak. Menghadapi sikap dan perilaku murid-murid seperti ini, kebanyakan guru tentunya akan merasa frustrasi atau marah besar. Tidak demikian halnya dengan sang Guru! Yesus tidak marah, malah Ia menggunakan kesempatan ini untuk mengajar para murid tentang jalan menuju keagungan yang sejati (lihat Mat 20:25-28). 

Yakobus dan Yohanes telah terjebak dalam pemikiran dan sikap yang berpusat pada kepentingan diri sendiri, namun puji Tuhan, hal ini hanya berlangsung tidak untuk waktu yang lama (Bagaimana dengan kita?). Kita tahu bahwa dua kakak beradik ini terus berfungsi sebagai pilar-pilar Gereja sampai akhir hayat mereka. Kita semua harus belajar dari mereka! Walaupun kita telah ‘keluar rel’, Allah bekerja dalam diri kita masing-masing untuk memisahkan daging dari roh – dosa dari kebenaran – di dalam diri kita. Dia tahu benar tentang segala dosa kita, namun tetap mengasihi kita dan terus mengajar kita, presis seperti Dia tetap setia bersama Yakobus dan Yohanes. Kiranya kalimat terakhir yang diucapkan Yesus dalam perikop ini sungguh berkesan sangat mendalam dalam diri kedua bersaudara tersebut yang dikenal sebagai Boanerges, yang berarti anak-anak guruh (lihat Mrk 3:17): “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat 20:28). 

Memang kenyataan sejarah membuktikan, bahwa beberapa tahun kemudian Yakobus benar-benar meminum cawan yang telah diminum oleh Tuhan dan Gurunya. Sekitar perayaan Paskah di tahun 44, raja Herodes Agrippa, cucu dari Herodes Agung, mulai melakukan pengejaran dan penganiayaan terhadap komunitas Kristiani di Yerusalem. Dalam ‘Kisah Para Rasul’ tercatat yang berikut ini: “Kira-kira pada waktu itu Raja Herodes mulai bertindak keras terhadap beberapa orang dari jemaat. Ia menyuruh membunuh Yakobus, saudara Yohanes, dengan pedang” (Kis 12:1-2). Menurut sebuah tradisi Gereja Perdana yang kemudian disampaikan oleh Klemens dari Aleksandria, si penuduh yang menyeret Yakobus ke hadapan Herodes menjadi begitu tergerak hatinya melihat ketegaran Yakobus, sehingga dia menjadi seorang Kristiani di tempat itu juga, artinya on the spot. Oleh karena itu dia – bersama-sama dengan Yakobus – dipenggal juga kepalanya. 

Santo Yakobus – orang kudus yang pestanya kita rayakan pada hari ini – kehilangan nyawanya karena dia setia pada komitmennya melayani Gereja yang masih muda. Sebenarnya Yakobus bisa saja melarikan diri ke Siprus atau Antiokhia dan bersembunyi sementara dari angkara murka raja Herodes. Namun dia memilih untuk diam di Yerusalem, tempat di mana Allah telah memanggilnya dan menyerahkan dirinya di sana. Sebagai akibatnya, Gereja di Yerusalem mampu bersatu dengan kokoh dan malah bertumbuh selama masa  yang sangat berbahaya. 

Allah ingin menunjukkan kepada kita segala dosa kita sehingga kita akan semakin teguh berpegang pada-Nya. Allah dapat membebaskan kita dari segala sesuatu yang menghalang-halangi kita untuk dekat dengan Dia. Yang diminta-Nya dari diri kita masing-masing adalah agar meninggalkan kedosaan kita dan berbalik datang kepada-Nya dalam kepercayaan dan ketaatan. Dari pengalaman kita masing-masing, tentunya kita dapat mengatakan bahwa permintaan-Nya ini sungguh tidak mudah untuk dilaksanakan. 

Di dalam dunia kuno, apabila seseorang menawarkan cawannya sendiri untuk diminum oleh orang lain, maka tindakan ini merupakan sebuah tanda persahabatan yang bernilai penting dan sangat bermakna. Yakobus tidak menjadi kecut dan takut untuk ikut ambil bagian dalam cawan Yesus, walaupun hal itu berarti bahwa dia harus ikut ambil bagian dalam penderitaan sengsara sang Guru. Yesus telah menyebut kita sebagai sahabat-sahabat-Nya (Yoh 15:14-15), dan Ia pun menawarkan cawan-Nya kepada kita, cawan yang sama dengan yang telah ditawarkan-Nya kepada Yakobus dan Yohanes (Mat 20:22). Ini adalah sebuah ‘cawan penderitaan’, namun pada saat yang sama merupakan ‘cawan berkat’. 

Selagi kita minum dari cawan ini, kita akan mengetahui manfaat-manfaat penuh yang kita nikmati sebagai anak-anak Allah. Kita akan mengenal Bapa surgawi secara akrab seperti Yesus mengenal secara akrab Bapa-Nya, walaupun selagi kita melihat dengan lebih jelas dosa-dosa kita dan segala pemberontakan kita terhadap Dia. Oleh karena itu, marilah kita membuka hati kita masing-masing dan memperkenankan Yesus untuk mengungkapkan dosa-dosa kita sehingga kita dapat dipenuhi dengan rahmat dan kasih-Nya. 

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar dapat mengalami kasih-Mu setiap hari. Aku membawa semua dosaku ke hadapan hadirat-Mu agar Engkau dapat memurnikan aku dan mengajar aku untuk mengikuti jejak-Mu. Amin. 

Cilandak, 18 Juli 2011  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS