“SIAPAKAH IBU-KU? SIAPAKAH SAUDARA-SAUDARA-KU?”

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI, Selasa 19-7-11) 

Ketika Yesus masih berbicara dengan orang banyak itu, ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia. Lalu seorang berkata kepada-Nya, “Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau.” Tetapi jawab Jesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya, “Siapa ibu-Ku? Siapa saudara-saudara-Ku?” Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya, “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapa saja yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku.” (Mat 12:46-50).

Bacaan Pertama: Kel 14:21-15:1; Mazmur Tanggapan: Kel 15:8-10,12,17 

Ketika membuka Injil Matius dan mulai mengetik potongan bacaan Injil di atas, saya teringat akan Surat Pertama Santo Fransiskus dari Assisi kepada Kaum Beriman (1SurBerim) yang berisikan kata-kata Yesus di atas. 1SurBerim dianggap oleh sejumlah ahli Fransiskanisme sebagai anggaran dasar pertama yang diberikan oleh Fransiskus sendiri kepada para pengikutnya (Ordo III) yang hidup di dunia (sekular), artinya yang tidak hidup membiara. Oleh karena itu, tidak mengherankanlah apabila 1SurBerim ini menjadi “Mukadimah”/ ”Pembukaan” dari Anggaran Dasar Ordo Fransiskan Sekular tahun 1978 yang disahkan oleh Paus Paulus VI [dokumen resmi terakhir yang ditandatangani oleh beliau], menggantikan anggaran dasar sebelumnya yang disahkan oleh Paus Leo XIII pada tahun 1883. Saya kutip sedikit saja, paling sedikit untuk refreshment bagi kita para Fransiskan sekular: “Kita menjadi mempelai bila jiwa yang setia disatukan dengan Tuhan kita Yesus Kristus oleh Roh Kudus. Kita menjadi saudara bagi-Nya bila kita melaksanakan kehendak Bapa yang ada di surga (Mat 12:50; bdk. 1Kor 6:20).” “Kita menjadi ibu bila kita mengandung Dia di dalam hati dan tubuh kita karena kasih ilahi dan karena suara hati yang murni dan jernih. Kita melahirkan Dia melalui karya yang suci, yang harus bercahaya bagi orang lain sebagai contoh” (bdk. Mat 5:16).” (1SurBerim 8-10). 

Apakah kiranya yang sampai menyebabkan sanak keluarga Yesus datang untuk bertemu dengan Dia? Injil Markus memberi petunjuk, yaitu ketika dalam perikop “Yesus dituduh kerasukan Beelzebul” (Mrk 3:20-30), keluarga-Nya datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka  “Ia tidak waras lagi” (Mrk 3:21). Padanannya dalam Injil Matius (Mat 12:22-37) tidak menyebut-nyebut tentang kedatangan keluarga-Nya. Sekarang, agar supaya kita dapat memahami dengan lebih jernih apa yang kiranya ada dalam pikiran sanak saudara-Nya, marilah kita membayangkan diri kita sendiri sebagai salah seorang saudara sepupu Yesus. Kita telah melihat terjadinya suatu perubahan signifikan dalam hidup Yesus, ketika pada waktu berusia 30 tahun, Ia menerima pembaptisan tobat dari Yohanes di Sungai Yordan dan setelah itu menjalani puasa selama 40 hari berturut-turut di padang gurun, dan di sana Dia digoda oleh Iblis sendiri. 

Kemudian, ketika kembali dari padang gurun, Yesus mulai mempermaklumkan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat dan Ia menyerukan kepada orang-orang untuk bertobat dan percaya kepada Injil. Ia mulai mengumpulkan sekelompok murid-murid di sekeliling-Nya, selagi Dia berkeliling mengusir roh-roh jahat, mengajar dengan penuh wibawa dan kuasa, menyembuhkan orang-orang sakit dan mengatakan kepada orang-orang bahwa dosa-dosa mereka telah diampuni. Ia banyak “membuang” waktu dengan para pendosa dan pemungut cukai. Banyak orang mulai mengikuti Dia. Orang-orang sakit berdesak-desakan untuk mendekati Dia. Dan, orang-orang yang dirasuki roh jahat berteriak dan sujud menyembah Dia. Kerap terjadi, saking sibuknya Dia sampai tak mempunyai waktu untuk makan. 

Dari sini kita dapat sedikit memahami mengapa sanak keluarga Yesus menjadi prihatin perihal kesejahteraan jiwa-Nya dan dengan demikian berusaha untuk mengambil Dia dan membawa-Nya pulang. Bagaimana pun juga, mereka tidak tahu secara penuh siapa Yesus ini dan misi apa yang diemban-Nya. Bahkan Maria sendiri, betapa pun kudus dirinya, harus mengalami proses pertumbuhan dalam pemahamannya akan kata-kata malaikat kepada Yusuf, bahwa anaknya “akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka”  (Mat 1:21). 

Pada waktu sanak keluarga-Nya datang untuk menemui Yesus, Ia berkata di depan orang banyak dengan menunjuk kepada murid-murid-Nya, “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapa saja yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku”  (Mat 12:49-50). Apa yang terdengar sebagai omelan, sesungguhnya adalah sebuah undangan kepada siapa saja untuk menjadi bagian dari keluarga Yesus – untuk menjadi sedekat mungkin dengan-Nya, seperti ibu-Nya dekat dengan-Nya. Betapa membahagiakan hati  untuk mengetahui bahwa kita semua dapat bertumbuh semakin mendalam dalam pemahaman kita akan Yesus dan dalam kemampuan kita untuk mentaati sabda-Nya. Ini adalah alasan utama mengapa Yesus telah memberikan kepada kita Roh-Nya – yakni untuk mengajar kita dan memberdayakan kita. 

DOA: Bapa surgawi, terima kasih Engkau telah memberikan kepada kami iman yang hidup dalam Putera-Mu Yesus Kristus. Oleh Roh-Mu, buatlah iman-kepercayaan kami menjadi lebih mendalam lagi. Ajarlah kami agar lebih banyak lagi mengenal Yesus sehingga kami dapat mengasihi-Nya dengan lebih mendalam lagi. Amin. 

Catatan: Bagi anda yang berniat untuk mendalami bacaan Pertama pada hari ini (Kel 14:21-15:1), silahkan membaca tulisan yang berjudul “BAIKLAH AKU MENYANYI BAGI ALLAH” tanggal 19 Juli 2011, dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 11-07 BACAAN HARIAN JULI 2011. 

Cilandak, 14 Juli 2011 [Peringatan S. Fransiskus Solanus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS