PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI  MINGGU BIASA XVI, 17-7-11)

Suster-suster Misericordia (SrMisc): Hari Raya S. Maria Magdalena Postel, Pendiri 

Yesus menyampaikan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. Lalu datanglah hamba-hamba pemilik ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Jadi, dari manakah lalang itu? Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi, maukah Tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” (Mat 13:24-30; versi panjang: 13:24-43)

Bacaan Pertama:  Keb: 12:13,16-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 86:5-6,9-10,15-16; Bacaan Kedua: Rm 8:26-27 

Bacaan Injil untuk hari ini cukup panjang. Saya mengambil versi yang pendek berdasarkan pertimbangan praktis. Penjelasan atas “Perumpamaan tentang lalang di antara gandum” (Mat 13:24-30) sudah dijelaskan oleh Yesus sendiri dan termuat di dalam Injil (Mat 13:36-43). Ada dua lagi perumpamaan yang termasuk dalam bacaan Injil hari ini, yaitu “Perumpamaan tentang biji sesawi” (Mat 13:31-32), dan “Perumpamaan tentang ragi” (Mat 13:33). Yang disebutkan terakhir ini disinggung sedikit saja dalam kaitan dengan bacaan di atas. 

Kita semua tentunya ingin menjadi “gandum” seperti diceritakan dalam perumpamaan ini. Kita semua ingin diketemukan dalam keadaan pantas bagi Kerajaan Allah pada akhir zaman. Syukurlah, karena inilah juga yang dikehendaki Yesus bagi kita semua, dan Ia mengetahui  bahwa hal seperti itu hanya akan terjadi apabila kita percaya kepada-Nya dan menerima Roh-Nya ke dalam kehidupan kita

Tentang Roh Kudus ini, Santo Paulus menulis: “Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri menyampaikan permohonan kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan” (Rm 8:26). Doa bagi kita itu sama perlunya dengan air dan cahaya matahari, tidak banyak bedanya dengan kenyataan bahwa bahan-bahan bergizi diperlukan bagi pertumbuhan gandum. Namun, apabila kita mencoba semuanya itu atas dasar kekuatan sendiri, maka doa dengan mudah dapat menjadi kering dan tak berbuah. Hanya Roh Allah-lah yang mengetahui pikiran Allah, sebagaimana ditulis oleh Santo Paulus: “Siapa di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah (1Kor 2:11). Jadi, hanya Roh Kudus-lah yang dapat menghembuskan kehidupan ilahi ke dalam doa kita. 

Roh Kudus adalah “ragi” (lihat Mat 13:33) yang mengangkat kita ke dalam kehidupan rahmat dan memberikan kepada kita hati yang berbelas kasihan dan memiliki kasih. Memang tidak selalu mudah bagi kita masing-masing untuk hidup sebagai seorang Kristiani di dalam dunia. Adalah suatu kenyataan hidup bahwa tidak mudahlah bagi kita masing-masing untuk mengatasi godaan si jahat dan kelemahan karena kodrat kita yang cenderung untuk berdosa. Akan tetapi, oleh kuasa Roh Kudus, sementara kita terus menyerahkan hidup kita kepada-Nya, maka kita dapat menemukan diri kita berbuah secara berlimpah. Sebagaimana Musa belajar untuk menaruh kepercayaan kepada TUHAN (YHWH) selama 40 tahun hidup di tanah Midian (lihat Kel 7:7; Kis 7:23,30), demikian pula kita dapat belajar tentang hal yang sama. Yang diminta Allah hanyalah adanya upaya serius dari pihak kita. Selebihnya? Dia akan menunjukkan jalan-Nya kepada kita! 

Sepanjang hari ini, marilah kita coba untuk melakukan sedikit “eksperimen”. Apabila memori-memori yang berkaitan dengan situasi menyakitkan dari masa lalu muncul ke permukaan, maka kita mohon kepada Roh Kudus untuk menolong kita mengampuni. Apabila kita disadarkan bahwa kita menolak melakukan sesuatu yang kita tahu diminta oleh Allah sendiri dari diri kita, maka baiklah kita mendoakan sebuah doa singkat kepada Roh Kudus agar kita diberikan kekuatan. Dengan berjalannya waktu, kita pun kiranya akan “bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa” (lihat Mat 13:43). 

Santa Maria Magdalena Postel [1756-1846]. Orang kudus yang secara istimewa dirayakan oleh para suster Misericordia pada hari ini hidup pada zaman yang sukar dan tercatat sebagai lembaran gelap/hitam sejarah Kekristenan. Ia dilahirkan di Barfleur di Normandia pada tanggal 28 November 1756 dengan nama Julie Fransiska Katarina Postel. Setelah pendidikan dasarnya, dia menerima pelatihan lanjutan dari para suster Benediktin di Volognes. Di situlah dia mengambil keputusan untuk mengabdikan diri sepenuhnya untuk melayani Allah dan sesama. Secara pribadi dan diam-diam dia berjanji kepada Allah untuk menghayati hidup kemurnian. Lima tahun setelah dia membuka sebuah sekolah untuk anak-anak perempuan di La Bretonne, pecahlah Revolusi Perancis. Seperti kita ketahui, dalam era itu Gereja mengalami pengejaran dan penganiayaan. Selama masa penganiayaan itu Julie Postel memainkan peranan penting dan heroik, khususnya menolong para imam yang bersembunyi atau yang dijebloskan ke dalam penjara, juga menguatkan iman orang-orang Katolik Barfleur yang setia. Kepadanya diberikan izin untuk menyimpan Sakramen Mahakudus dalam rumahnya. Kemudian ketika keadaan semakin buruk, dia diberi izin untuk membawa Sakramen Mahakudus secara pribadi, bahkan untuk memberikan Viaticum Suci kepada orang-orang menjelang kematian mereka. Seringkali orang-orang Yakobin (salah satu aliran Protestan pada masa itu) mencurigainya, namun dirinya selalu mendapat perlindungan ilahi sehingga tidak mengalami hal-hal yang tidak diharapkan. Dalam dekrit beatifikasinya, Paus Pius X (santo) tidak ragu-ragu menyebutnya sebagai seorang “imam perempuan”. 

Setelah badai berlalu, Julie membantu memulihkan iman-kepercayaan umat lewat katekese kepada orang muda dan tua, dan mulai mengajar sekalah lagi di Cherbourg. Dengan persetujuan Vikaris Louis Cabart, Julie dan dua orang perempuan lain mendirikan sebuah komunitas religius di
Cherbourg pada tahun 1805; dan dua tahun kemudian mereka bertiga dan seorang lagi mengucapkan kaul religius mereka. Mereka menamakan diri mereka “Puteri-puteri Miskin Misericordia” dan menepati Anggaran Dasar Ordo Ketiga Santo Fransiskus yang berlaku pada waktu itu. Julie menjadi pemimpin dan namanya sejak saat itu adalah Muder Maria Magdalena. Pertumbuhan komunitas ini tidak mulus, namun dengan penuh keberanian para suster di bawah pimpinannya maju terus. Biara mereka dipindahkan dari Cherbourg ke sebuah biara yang dahulunya biara Benediktin St. Sauveur le Vicomte di Courtance. Pada tahun 1837 Vikaris Jenderal Delamare mengganti Anggaran Dasar Ordo Ketiga St. Fransiskus dengan anggaran dasar dari St. Yohanes Pembaptis de las Salle, pendiri para bruder Kristiani (Inggris: Christian Brothers). Dengan demikian komunitas para suster ini bukan lagi Fransiskan, dan berganti nama menjadi Suster-suster Misericordia dari sekolah-sekolah Kristiani. Dalam tahun-tahun terakhir hidupnya, Muder Maria Magdalena menyaksikan pertumbuhan cukup pesat dari kongregasinya dan keberhasilannya dalam pencapaian hal-hal besar. Berdasarkan dorongannya, Vikaris Jenderal Delamare pada tahun 1843 mendirikan komunitas para bruder misericordia di Montebourg. 

Muder Maria Magdalena Postel meninggal dunia pada tanggal 16 Juli 1846 dan kongregasinya terus bertumbuh-kembang serta menyebar ke berbagai negara, teristimewa Inggris dan Italia.  Di Indonesia mereka berkarya di keuskupan Malang.  Sumber utama: P. Marion A. Habig  OFM, THE FRANCISCAN BOOK OF SAINTS.

DOA: Roh Kudus Allah, aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena kehadiran-Mu dalam kehidupanku. Tolonglah aku agar diubah menjadi semakin serupa dengan Yesus Kristus. Biarlah kuat-kuasa-Mu mengalir di dalam dan melalui diriku. Amin. 

Cilandak, 12 Juli 2011  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS