Archive for July, 2011

ORANG LAPAR HARUS DIBERI MAKAN !!!

ORANG LAPAR HARUS DIBERI MAKAN !!!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Alfonsus de Liguori [1696-1787] , Senin 1-8-11)

Kongregasi Fransiskanes Santa Elisabet [FSE]: Pesta Hari Jadi Tarekat

Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak menyendiri dengan perahu ke tempat yang terpencil. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.

Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata, “Tempat ini terpencil dan hari mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.” Tetapi Yesus berkata kepada mereka, “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” Jawab mereka, “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.” Yesus berkata, “Bawalah kemari kepada-Ku.” Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di rumput. Setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap syukur. Ia memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak dua belas bakul penuh. Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak. (Mat 14:13-21)

Bacaan Pertama:  Bil 11:4b-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 81:12-17 

Dalam Perjanjian Lama diceritakan bagaimana dengan penuh keajaiban Allah (YHWH) memberikan makanan kepada orang-orang Israel dengan roti dari surga yang dinamakan manna (Kel 16). Ia menyediakan roti secukupnya bagi setiap orang setiap hari. Mukjizat pergandaan roti dan ikan dalam bacaan Injil hari ini tentunya mengingatkan orang banyak yang hadir dalam peristiwa itu (dan kita juga) akan manna dan burung puyuh yang disediakan Allah pada waktu nenek moyang mereka mengembara di tengah padang gurun (lihat bacaan pertama; ditambah dengan Bil 14:31 dsj.). Peristiwa penggandaan roti dan ikan ini juga mengingatkan akan penggandaan roti yang dilakukan oleh nabi Elisa (2Raj 4:42-44).

Selagi kita merenungkan bacaan mengenai mukjizat penggandaan roti oleh Yesus ini, kita tidak bisa tidak akan melihat bagaimana Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan YHWH, Bapa-Nya, sumber segala kebaikan bagi umat-Nya. Pada saat yang sama, Yesus menyatakan bahwa kasih Allah dan kebaikan-Nya dihadirkan melalui diri-Nya.

Peristiwa penggandaan roti dan ikan ini dalam Injil Matius diceritakan langsung setelah cerita mengenai kematian Yohanes Pembaptis (Mat 14:1-12). Apakah kita dapat mengatakan bahwa kematian ini merupakan semacam gambaran awal dari kematian Yesus sendiri? Sebagai tanggapan terhadap berita menyedihkan itu, Yesus menyingkir dan menyendiri dengan perahu ke tempat yang terpencil untuk bersekutu dengan Bapa-Nya secara lebih mendalam, barangkali untuk memeditasikan sengsara dan kematian-Nya kelak.

Orang banyak mengantisipasi gerak-gerik Yesus dengan cukup baik. Mereka berhasil mengikuti Yesus dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus sampai di darat sudah ditunggu oleh orang banyak yang besar jumlahnya. Yesus tidak menjadi marah terhadap orang banyak itu, sebaliknya Injil Matius mencatat: “maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan menyembuhkan mereka yang sakit” (Mat 14:14).

Dalam terang sengsara yang akan diderita-Nya, Yesus ingin memberikan suatu wawasan yang yang lebih mendalam menyangkut kemurahanhati yang sangat mendalam dari Allah melalui apa yang Dia sendiri siap lakukan bagi mereka. Pada waktu para murid menyarankan agar orang banyak itu disuruh pergi agar mereka dapat membeli makanan di desa-desa untuk mereka sendiri, Yesus menjawab dengan tegas: “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan” ( Mat 14:16).

Setelah mengucap syukur, Yesus menggandakan ke lima roti dan dua ikan itu untuk memberi makan orang banyak yang dapat saja berjumlah 20 ribu sampai 30 ribu orang, laki-laki, perempuan dan anak-anak. Orang-orang sebanyak ini, kalau digabung dengan peristiwa penggandaan yang kedua (Mat 15:32-38) dapat mencapai sekitar 10% dari total penduduk Palestina pada waktu itu.

Yesus melakukan intervensi pada suatu situasi yang menurut pandangan para murid-Nya tidak memungkinkan, dan Ia malah memberikan makanan lebih daripada yang dibutuhkan: “Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak dua belas bakul penuh” (Mat 14:20).

Dengan tindakan-Nya mengucap syukur dan memecah-mecah roti, kemudian memberi makan beribu-ribu orang pada hari itu, Yesus sebenarnya menunjuk kepada hal yang tidak lama lagi akan dilakukan-Nya – memberikan tubuh dan darah-Nya sendiri melalui Ekaristi sebagai makanan yang memberi kehidupan kepada dunia. Pada gilirannya, Ekaristi mengantisipasi perjamuan mesianis (Messianic banquet), suatu imaji dari damai-sejahtera, sukacita, dan persekutuan yang sering digunakan untuk menggambarkan kehidupan dalam Kerajaan Allah.

Pikiran orang-orang modern cenderung untuk merasionalisir atau mengabaikan signifikansi dari penggandaan roti dan ikan, tentunya berdasarkan alasan bahwa hal tersebut tidaklah mungkin. Dengan bersikap dan berperilaku seperti itu, kita gagal mengakui kemurahan hati yang teramat besar dari Allah, di masa lampau, kini dan yang akan datang – yang dinyatakan lewat mukjizat ini. Bagi mereka yang tidak percaya akan mukjizat seperti ini, saya hanya ingin mengatakan bahwa mukjizat itu ada, karena “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8).  Mukjizat di El Paso, Texas merupakan salah satu bukti nyata dari mukjizat penggandaan yang terjadi di dunia modern.

Namun demikian, keajaiban dari peristiwa penggandaan roti dan ikan itu janganlah sampai menghalangi kita untuk menangkap pesan hakiki peristiwa itu, yaitu bahwa orang yang lapar harus diberi makan. Ini adalah misi Yesus dan tanggung jawab para murid-Nya. Sebagai murid-murid Yesus, kita harus senantiasa memiliki kemauan untuk berbagi dengan orang-orang lain yang membutuhkan.

DOA: Tuhan Yesus, buatlah aku menjadi seorang pribadi yang mempunyai kepekaan terhadap kebutuhan-kebutuhan orang lain dan berikanlah kepadaku keberanian untuk menanggapi secara positif kebutuhan-kebutuhan mereka itu. Ajarlah aku jalan-jalan-Mu, ya Tuhan. Amin.  

Cilandak, 21 Juli 2011  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUSLAH YANG MENGUNDANG KITA KE PERJAMUAN-NYA

YESUSLAH YANG MENGUNDANG KITA KE PERJAMUAN-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI  MINGGU BIASA XVIII, 31-7-11)

Yesuit: S. Ignatius dari Loyola, Imam Pendiri SJ

Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak menyendiri dengan perahu ke tempat yang terpencil. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.

Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata, “Tempat ini terpencil dan hari mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.” Tetapi Yesus berkata kepada mereka, “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” Jawab mereka, “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.” Yesus berkata, “Bawalah kemari kepada-Ku.” Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di rumput. Setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap syukur. Ia memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak dua belas bakul penuh. Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak. (Mat 14:13-21)

Bacaan Pertama:  Yes 55:1-3; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:8-9,15-18; Bacaan Kedua: Rm 8:35,37-39 

Pada awal pelayanan-Nya di depan publik, Yesus mengatakan kepada Simon Petrus dan Andreas, “Mari, ikutlah Aku” (Mat 4:19). Ketika Dia berjumpa dengan Yakobus, Yohanes dan Lewi (Matius), Yesus mengundang dengan kata-kata yang sama, dan mereka semua mengikuti-Nya juga. Pada hari ini, pada saat kita mendengar Misa Kudus, Yesus juga mengundang kita untuk datang dan mengikut Dia.

Panggilan untuk mengikut Yesus seringkali membangkitkan gambaran bahwa kita harus menyerahkan kehidupan kita dan sampai titik tertentu hal ini memang benar. Namun apabila kita hanya berpikir mengenai apa-apa yang dilepaskan, maka kita akan salah sasaran, artinya kita luput gambaran yang lebih besar. Manakala Yesus berkata, “Mari, ikutlah Aku”, maka Dia fokus-Nya adalah terlebih-lebih apa yang akan kita terima, bukannya apa yang akan menjadi biaya kita. Di mana kita membaca adanya suatu tantangan, bahkan suatu ancaman, maka Yesus sesungguhnya mengundang kita dengan undangan-Nya yang penuh keramahan.

Seandainya kita memenuhi panggilan Yesus itu, apakah yang akan kita terima? Apa saja privilese atau “hak-hak istimewa” yang akan diberikan kepada kita? Dalam bacaan pertama dari nabi Yesaya kita akan melihat beberapa: “Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran! Mengapa kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat. Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepadaku; dengarkanlah, maka kamu akan hidup! Aku hendak mengikat perjanjian abadi dengan kamu, menurut kasih setia yang teguh yang Kujanjikan kepada Daud” (Yes 55:1-3). Dengan menggunakan imaji “air”, “gandum tanpa uang pembeli”, “anggur dan susu tanpa bayaran”, sang nabi menggambarkan suatu situasi di mana ada kepuasan dan kepenuhan. Apa lagi yang dapat lebih memuaskan dan memberikan kepenuhan daripada relasi intim dengan Yesus? Setelah membersihkan dosa-dosa kita, Dia sekarang memberikan kepada kita roti kehidupan-Nya untuk kita makan – sepotong roti yang dapat membuat kenyang setiap rasa lapar yang pernah kita kenal dan alami.

Ketika Yesus memberkati roti-roti dan ikan-ikan dan memberikannya kepada para murid-Nya yang kemudian membagi-bagikannya kepada setiap orang, maka Dia lah yang sebenarnya mengambil inisiatif dan menyebarkan-luaskan undangan. Hal ini pulalah yang kemudian terjadi di Emaus, di mana Yesuslah – yang pada awalnya diundang untuk menginap – pada akhirnya berperan sebagai pihak yang mengundang  (lihat Luk 24:30-31). Orang-orang yang makan dapat merasakan apa artinya menerima undangan Yesus karena mereka merasa dipuaskan sampai benar-benar kenyang – bahkan roti dan ikan yang tersisa pun ada sebanyak dua belas bakul penuh.

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, kepuasan yang dirasakan oleh orang banyak pada peristiwa dalam Injil hari ini hanyalah merupakan semacam pra-gambaran dari kepuasan yang tersedia bagi kita dalam Misa Kudus (Perayaan Ekaristi) hari ini. Orang-orang Yahudi dalam Injil hari ini diundang untuk makan roti duniawi, akan tetapi kita diundang untuk makan roti kehidupan kekal.

Oleh karena itu, pada hari ini, dalam perayaan Ekaristi Kudus, terimalah undangan Yesus Kristus. Datanglah mendekati-Nya sebagai apa adanya kita. Datanglah dengan bebas-merdeka. Datanglah dengan rasa lapar yang sungguh lapar. Datanglah dengan harapan. Datanglah, saksikanlah dan alamilah Yesus yang memuaskian kebutuhan-kebutuhan kita yang terdalam. Datanglah dan nikmatilah. Semua ini adalah anugerah, karunia, pemberian dari Allah kepada kita yang serba gratis. Kapan lagi?

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah Roti Kehidupan. Engkau adalah makanan sejati untuk rohku. Tolonglah aku mengosongkan diriku sehingga aku dapat dipenuhi dengan diri-Mu. Tuhan Yesus, aku sungguh ingin menjadi murid-Mu yang setia. Amin.

Cilandak, 20 Juli 2011 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YOHANES PEMBAPTIS DIPENGGAL KEPALANYA

YOHANES PEMBAPTIS DIPENGGAL KEPALANYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII, Sabtu 30-7-11) 

Pada masa itu sampailah berita-berita tentang Yesus kepada Herodes, raja wilayah. Lalu ia berkata kepada pegawai-pegawainya, “Inilah Yohanes Pembaptis; ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam-Nya.” Memang Herodes telah menyuruh menangkap Yohanes, membelenggunya dan memenjarakannya, berhubungan dengan peristiwa Herodias, istri Filipus saudaranya. Karena Yohanes berkali-kali menegurnya, katanya, “Tidak boleh engkau mengambil Herodias!” Walaupun Herodes ingin membunuhnya, ia takut akan orang banyak yang memandang Yohanes sebagai nabi. Tetapi pada hari ulang tahun Herodes, menarilah anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan menyenangkan hati Herodes, sehingga Herodes bersumpah akan memberikan kepadanya apa saja yang dimintanya. Setelah dihasut oleh ibunya, anak perempuan itu berkata, “Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di atas sebuah piring.” Lalu sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya diperintahkannya juga untuk memberikannya. Disuruhnya memenggal kepala Yohanes di penjara dan kepala itu pun dibawa orang di sebuah piring besar, lalu diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya. Kemudian datanglah murid-murid Yohanes Pembaptis mengambil mayatnya dan menguburkannya. Lalu pergilah mereka memberitahukannya kepada Yesus. (Mat 14:1-12)

Bacaan Pertama: Im 25:1,8-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 67:2-3,5,7-8 

Herodes mengagumi Yohanes Pembaptis. Raja ini merasa tertarik pada kesucian Yohanes dan dia senang juga mendengarkan dia. Namun demikian, Herodes tidak pernah menanggapi seruan Yohanes Pembaptis agar dia bertobat. Kelekatan kuat Herodes pada harta-kekayaan, kekuasaan dan status mematahkan setiap hasrat yang muncul dalam dirinya untuk meluruskan hubungannya dengan Allah. Akhirnya, pada pesta perjamuan ulang tahunnya dia terjebak oleh nafsunya sendiri yang menggelora karena tarian eksotis puteri tirinya. Gengsinya mencegahnya untuk melanggar sumpahnya di depan puteri tirinya seusai menari, sebuah ucapan sumpah yang memang terasa bodoh itu. Sungguh sok ja-im raja ini! Injil Markus mengungkapkannya secara lebih tajam: “Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!” (Mrk 6:23). Dengan demikian Herodes pun dengan terpaksa memerintahkan algojo untuk memenggal kepala Yohanes Pembaptis, sesuai permintaan puteri tirinya, yang dalam tradisi dikenal dengan nama Salome itu.

Dalam banyak hal, tanggapan Herodes terhadap seruan Yohanes Pembaptis mencirikan reaksi sejumlah orang terhadap seruan Yesus. Mereka tertarik pada Yesus dan menemukan bagian-bagian dari ajaran-Nya atau berbagai mukjizat dan tanda-heran yang diperbuat-Nya sebagai hal-hal yang menarik sekali. Namun seruan Yesus agar mereka meninggalkan kehidupan penuh dosa, dan menyerahkan hidup mereka kepada Allah masih terasa sangat berat untuk diikuti. Jadi, mereka tidak pernah menerima ‘undangan Yesus kepada pemuridan’. Bahkan kita yang telah memutuskan untuk mengikuti-Nya pun masih mengalami pergolakan dan konflik batin. Kita ingin menjadi murid-murid-Nya, namun kadang-kadang terasa seakan Dia menuntut terlalu banyak dari kita. Seperti Herodes, kita pun menjadi objek dari dua kekuatan yang saling tarik-menarik. Kita pun seringkali tidak dapat lepas dari pergumulan pribadi yang melibatkan pertempuran spiritual.

Apa yang dapat kita lakukan bila kita mengalami konflik dalam hati kita? Langkah pertama adalah membuat telinga rohani kita jernih dalam mendengarkan suara-suara dalam batin kita. Suara si Jahat itu licin terselubung, namun dapat dikenali. Dia memunculkan dengan jelas perintah-perintah Allah ketika perintah-perintah tersebut terasa tidak menyenangkan kita; dia memberikan pembenaran-pembenaran yang diperlukan bagi kita untuk membuat suatu kekecualian terhadap kehendak Allah dalam kasus kita (Misalnya: “Kamu sesungguhnya tidak perlu mengampuni saudaramu yang telah membuatmu susah itu”). Akan tetapi suara Roh Kudus selalu mendorong kita untuk memilih jalan yang menuju perdamaian (rekonsiliasi) dan penyembuhan dan mendorong terciptanya kesejahteraan orang-orang lain, meskipun pada awalnya menyakitkan kita.

Kita dapat memproklamasikan kebenaran-kebenaran iman untuk melawan kebohongan-kebohongan Iblis (Misalnya: “Aku tahu bahwa kalau aku mengampuni, maka dosa-dosaku pun akan diampuni. Aku mungkin tidak mempunyai kuasa untuk mengampuni, tetapi Kristus dalam diriku cukup berkuasa untuk mengampuniku sekarang juga!”). Kebenaran-kebenaran iman itu juga dapat kita ungkapkan seturut teladan Yesus pada waktu dicoba oleh Iblis di padang gurun, khususnya seperti yang terdapat dalam Injil Lukas (Luk 4:1-13). Setiap cobaan dari si Jahat kita patahkan dengan dengan ayat-ayat Kitab Suci: “Ada tertulis: Jika jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu” (Mat 6:14-15).

Herodes adalah seorang pengagum-jarak-jauh Yohanes Pembaptis yang akhirnya bertanggung jawab atas kematian orang yang dikaguminya. Kita tidak perlu seperti Herodes: kita mengagumi Yesus dari kejauhan juga, karena tidak sanggup mengambil sikap positif terhadap panggilan Yesus kepada kita untuk menjadi murid-murid-Nya. Kita hanya perlu mendengarkan Roh Kudus selagi Dia berbicara melalui batin kita, agar kita dapat mengetahui jalan mana yang harus kita tempuh. Oleh karena marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk membimbing kita dan memberdayakan kita untuk merangkul sepenuhnya kehendak Allah.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar memilih Engkau dalam segala keputusanku hari ini dan selamanya. Aku ingin Engkau menjadi pusat kehidupanku. Selamatkanlah aku dari berbagai godaan kenikmatan duniawi yang menghalangi aku untuk memilih-Mu. Bimbinglah aku dalam kebenaran-Mu dan pimpinlah aku di jalan-Mu selamanya. Amin.

Cilandak, 19 Juli 2011  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TANPA MENGETAHUI APA YANG AKAN DILAKUKAN YESUS, MARTA TOKH PERCAYA

TANPA MENGETAHUI APA YANG AKAN DILAKUKAN YESUS, MARTA TOKH PERCAYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Marta, Maria dan Lazarus, Sahabat Tuhan, Jumat 29-7-11) 

Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya. Ketika Marta mendengar bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah. Lalu kata Marta kepada Yesus, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. Tetapi sekarang pun aku tahu bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya.” Kata Yesus kepada Marta, “Saudaramu akan bangkit.”  Kata Marta kepada-Nya, “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.” Jawab Yesus kepada, “Akulah kebangkitan dan hidup; siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akah hal ini?” Jawab Marta, “Ya Tuhan, aku percaya bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, yang akan datang ke dalam dunia” (Yoh 11:19-27).

Bacaan Pertama: 1Yoh 4:7-16; Mazmur Tanggapan: 34:2-11; Bacaan Injil Alternatif: Luk 10:38-42 

Tentu kita masih ingat bacaan Injil Misa Kudus alternatif (Luk 10:38-42) yang menggambarkan betapa sibuk Marta dengan pekerjaan dapur, melayani dst., ketika Yesus dan beberapa murid-Nya mengunjungi rumah-Nya, sampai-sampai dia seakan ‘lepas kendali’ dengan ‘menegur’ Yesus: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli bahwa saudaraku (Maria) membiarkan aku melayani seorang diri?” (Luk 10:40). Lepas dari masalah tersebut, kita tidak dapat pungkiri bahwa Marta memang seorang nyonya rumah yang baik. 

Namun kalau kita hanya mengingat-ingat Marta seperti ini, maka pandangan kita belumlah lengkap tentang sosok perempuan ini. Lebih dari apa pun yang lain, kita harus mengenang Marta untuk pengakuan imannya yang berani: “Ya Tuhan, aku percaya bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, yang akan datang ke dalam dunia” (Yoh 11:27) yang terdengar sangat memiliki kemiripan dengan pengakuan Simon Petrus di daerah Kaisarea Filipi: “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16:16). Bayangkanlah betapa beraninya Marta membuat proklamasi sedemikian. Ingatlah bahwa dia melakukannya bukan di tempat sunyi atau semacam ‘kamar pengakuan’. Tentu ada orang lain juga yang mendengarnya. Lazarus telah mati empat hari lamanya, dan jenazahnya tentu sudah mulai rusak. Namun tanpa memahami apa yang akan diperbuat oleh Yesus, Marta tokh percaya. Meski secara alami kondisi dari jenazah Lazarus mengatakan lain, Marta mengalami peningkatan iman. Ternyata pemahamannya tidak berhenti pada tingkat natural/alamiah, melainkan meningkat kepada suatu tataran supernatural. Jadi, walaupun sekali-kali dia menunjukkan ‘kelemahan’ sebagai seorang pribadi (ingat episode ‘kunjungan Yesus dalam Injil Lukas yang disebutkan tadi), Marta adalah seorang pribadi yang memiliki iman-kepercayaan sejati

Kasus Marta kali ini membuktikan bahwa, bahkan orang-orang yang kurang memiliki saat-saat gemilang sekali pun, mampu untuk memiliki iman yang besar. Kasus Marta ini mengajar kita untuk tidak memandang remeh iman dan rahmat yang diberikan kepada kita pada waktu baptisan. Semoga kita tidak pernah memasang batas atas diri kita sendiri, dan berpikir, “Ah, aku mungkin tidak memiliki iman seperti Simon Petrus atau Maria. Kiranya bagianku hanyalah membersihkan kursi, bangku dan apa saja di dalam gedung gereja yang perlu dibersihkan.” Memang ada banyak sekali ‘batas’ yang dapat kita pasang atas diri kita sendiri. 

Kita masing-masing dapat dan mampu untuk mengungkapkan iman-kepercayaan kita dengan berani. Kadang-kadang iman ini mencuat keluar dari suatu krisis, seperti kematian seseorang yang kita cintai, yang menjadikan fokus apa yang sesungguhnya kita percayai. Akan tetapi, bisa juga bertumbuh pada berbagai saat dan kesempatan yang biasa-biasa saja. Meskipun dalam tugas sehari-hari yang rutin kita dapat mencoba menemukan cara-cara kecil untuk melangkah dalam iman dan ketaatan. Yang paling kecil pun dari langkah-langkah iman dan ketaatan kita sangat berharga di mata Tuhan

Sebenarnya tidak ada batas kemungkinan bagi mereka yang berniat mengekspresikan imannya dengan berani. Yang perlu kita lakukan adalah membuka diri kita untuk ‘bereksperimen’ dengan rahmat Allah. Berilah kesempatan kepada-Nya untuk menyatakan kebaikan-Nya. Jangan merendahkan harapan kita sendiri sehubungan dengan apa yang dapat dilakukan oleh Allah atas/dalam diri kita. Perkenankanlah Dia untuk membuat diri kita masing-masing menjadi sebuah pilar iman, a pillar of faith. Ayo, Saudari dan Saudaraku Kristiani, bangkitlah dari tidurmu! 

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya Engkau dan janji-janji-Mu. Hari ini aku akan hidup untuk-Mu saja. Anugerahkanlah rahmat-Mu kepadaku agar mampu berjalan dalam terang-Mu dan mengalami banyak saat iman yang terang-benderang pada hari ini. Amin. 

Catatan: Silahkan membaca juga tulisan dengan judul “MARTA DAN KEDUA SAUDARANYA” (Luk 10:38-42) tanggal 29 Juli 2011, dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 11-07 BACAAN HARIAN JULI 2011. 

Cilandak, 19 Juli 2011 (Revisi atas tulisan tanggal 29 Juli 2010) 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ANGGARAN DASAR OFS [1]: ANGGARAN DASAR OFS DAN LATAR BELAKANG SEJARAHNYA

ANGGARAN DASAR OFS DAN LATAR BELAKANG SEJARAHNYA 

PENDAHULUAN 

Pengajaran hari ini merupakan bagian tak terpisahkan dari pengajaran yang lalu perihal “Sejarah Ordo Fransiskan Sekular”.  Perkembangan “Peraturan Hidup OFS sampai kepada AD OFS 1978” dibahas dalam pengajaran tentang “Sejarah Ordo Fransiskan Sekular (2) dan “Sejarah Ordo Fransiskan Sekular (3). 

Kita sudah tahu, bahwa dalam sejarahnya yang panjang itu (sekitar 800 tahun), AD OFS hanya mengalami beberapa kali saja perubahan. Untuk menjaga kesinambungan dengan pengajaran tentang “Sejarah Ordo Fransiskan”, maka dalam sesi pertama ini kita akan menyoroti secara singkat perkembangan AD OFS dan sejarahnya, mulai pada akhir abad ke-19 sampai selesai disusunnya AD OFS 1978 yang berlaku sekarang. Tumpang tindih berbagai informasi memang dengan mudah dapat dirasakan, namun saya tidak dapat mencegahnya, mengingat bahwa tidak semua yang mengikuti pengajaran kali ini sudah mengikuti pengajaran sebelumnya tentang “Sejarah Ordo Fransiskan Sekular”. 

PERKEMBANGAN ORDO III S. FRANSISKUS PADA ABAD KE-19 

Paruhan pertama abad ke-19 masih menunjukkan adanya pengejaran di Eropa. Di Perancis, misalnya pada periode Napoleon (1804-1814), ordo-ordo termasuk Ordo III masih mengalami kesulitan. Namun perubahan ke arah yang baik terjadi pada akhir abad ke-19. 

Ada sebuah fakta yang menggembirakan: Begitu selamat dan kembali dari pengejaran, para saudara dina (termasuk TOR tentunya) yang ditugaskan untuk ‘menangani’ persaudaraan Ordo III melakukan banyak kegiatan untuk menggiatkan/menghidupkan kembali persaudaraan Ordo III yang sempat ditinggalkan mereka karena pengejaran. Jelas kelihatan di sini bahwa para saudara dina menemukan kembali minat atas Ordo III. Ada dua faktor menentukan di belakang semua ini: (1) Ada hasrat di pihak kaum religius ini untuk membuat kontribusi pada rekonstruksi masyarakat Kristiani yang sudah berantakan (dan ini pada hakekatnya adalah tugas para Fransiskan sekular), dan (2) adanya dorongan kuat dari Paus Pius IX (1846-1878) yang adalah seorang anggota Ordo III Sekular Santo Fransiskus (BL, hal. 19). 

Paus Pius IX menyerukan kepada para saudara dina: “Promosikan, promosikanlah Ordo III. Anda tidak dapat membayangkan jumlah kebaikan yang ditakdirkan untuk dihasilkan oleh mereka”. Paus Pius IX adalah yang pertama dari tujuh orang Paus berturut-turut yang adalah anggota Ordo III (Sekular) S. Fransiskus. Inilah mereka: Paus Leo XIII (1878-1903), Paus Pius X (1903-1914), Paus Benediktus XV (1914-1922), Paus Pius XI (1922-1939), Paus Pius XII (1939-1958), dan Paus Yohanes XXIII (1958-1963) (Lihat BL, hal. 19 dan MB, hal. 938). 

Sejak saat itu, Takhta Suci memegang sebuah peranan yang hakiki dan profetis (kenabian) dalam penemuan kembali atas sifat, misi dan kharisma Ordo Fransiskan Sekular. Diketemukannya kuburan Santo Fransiskus pada tahun 1818 merupakan simbol, menurut Sdr. Benedetto Lino OFS, dari kedatangan kembali Santo Fransiskus (BL, hal. 19). Restorasi dan reorganisasi dalam berbagai keluarga Ordo I dan II setelah periode revolusi dan era Napoleon harus dilihat dengan latar belakang ini. Juga kebangkitan minat dalam aspek-aspek sosial dan budaya dari Fransiskanisme dengan sumbangan-sumbangan hakiki dari sejumlah ahli, antara lain Frederick Ozanam (pendiri Serikat Vincentius) dan Paul Sabatier (seorang Kristen Protestan). 

Kebangkitan sesungguhnya adalah dengan diakuinya novitas dan kualitas-kualitas dari pengalaman Injili Fransiskus, dan signifikansi orang ini untuk zaman modern, serta terungkapkannya kebutuhan untuk memperbaharui, satu dan lainnya, semangat minoritas, persaudaraan, membuat perdamaian. Doa yang dirumuskan oleh Paus Pius IX pada tanggal 8 Maret 1857 di depan makam Santo Fransiskus mengungkapkan kebangunan/kebangkitan ini dengan baik. Dia mohon kepada sang Santo: “untuk melakukan syafaat/ pengantaraan bagi dunia zaman ini yang begitu pelupa akan hal-hal yang bersifat supernatural dan sudah tersesat dalam hal-hal materiil” ……… “Teladanmu telah berhasil memberikan inspirasi kepada orang-orang di waktu lampau, dan dengan menyarankan pemikiran-pemikiran yang mulia dan agung dalam diri mereka, telah menghasilkan suatu pembalikan, suatu pembaharuan dan suatu reformasi sejati” (BL, hal. 19). 

Catatan singkat mengenai masa pontifikat Paus Leo XIII (1878-1903). [Catatan: Uraian dalam bagian ini diambil dari tulisan Sdr. Benedetto Lino OFS yang mengambil sepenuhnya dari G. Andreozzi TOR, BL, hal. 20]. Kardinal Gioacchino Pecci, Uskup Agung Perugia  adalah seorang pendukung  yang penuh keyakinan, penuh entusiasme dan kuat dari ide perlunya peranan Ordo III bagi masyarakat zamannya. Surat Pastoral Natal 1871 Uskup Agung ini merupakan himbauan penuh semangat kepada para pastornya untuk membentuk persaudaraan-persaudaraan Ordo Ketiga di mana-mana. Bapak Uskup Agung sendiri memberi contoh dengan masuk menjadi anggota persaudaraan Ordo III Sekular S. Fransiskus di Monteripido, Perugia. Pada tahun 1875 dalam ceramahnya di depan para peziarah di Assisi, dan pada tahun 1877, dalam sepucuk Surat Pastoral lainnya, Kardinal Pecci mengungkapkan keyakinannya bahwa hanya Ordo Ketigalah yang dapat menyelamatkan masyarakat yang menderita karena begitu banyak masalah pribadi dan sosial, dengan catatan apabila dihayati dengan semangat sejati. 

Begitu menjadi Paus Leo XIII, dia tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk memuji dan mempromosikan Ordo III Fransiskan. Bilamana berbicara dengan para Uskup, Sri Paus mengulang-ulangi agar para uskup bergabung dan mempunyai sebanyak mungkin umat untuk bergabung ke dalam Ordo III Fransiskan. Kesempatan terbaik di mana Sri Paus meninggikan Santo Fransiskus dan mengundang semua orang untuk mengikutinya adalah pada peringatan tujuh abad kelahiran Santo Fransiskus. Pada tanggal 17 September 1882 Paus Leo XIII menerbitkan Ensikliknya yang terkenal, Auspicato concessum. Tugas yang mau dipercayakan Sri Paus kepada Ordo III tidak ringan, yaitu menjadi batu fondasi dari perbaikan sosial Kristiani yang besar. Untuk mencapai hal ini, Ordo III harus lebih fleksibel (luwes), lebih aktif dan lebih berdisiplin, lebih tanggap terhadap kebutuhan-kebutuhan terkini. Atas dasar alasan inilah Sri Paus menerbitkan Anggaran Dasar baru dengan bulla Misericors Dei Filius pada tanggal 30 Mei 1883. Anggaran Dasar Nikolaus IV tidak dibatalkan dengan peraturan yang baru ini, hanya disederhanakan dan dipersingkat dengan memodifikasikan beberapa bab agar supaya lebih cocok dengan keadaan: to better adapt the old laws to the modern way of life. 

AD Paus Nikolaus IV [1289] tidak dibatalkan oleh AD Paus Leo XIII [1883]. Misalnya rumusan profesi berbunyi sebagai berikut: “Saya berjanji untuk menepati Anggaran Dasar Ordo Ketiga, yang didirikan oleh Bapa Fransiskus sendiri, seturut bentuk yang ditentukan oleh Paus Nikolaus IV dan Paus Leo XIII”. Dua puluh tiga bab dalam AD Paus Nikolaus IV disederhanakan dalam AD Paus Leo XIII menjadi tiga bab saja, namun substansi dan semangat dari AD Paus Nikolaus IV tetap dipertahankan. Beberapa contoh saja: 

  • Usia minimal untuk bergabung dengan Ordo Ketiga diturunkan menjadi 14 tahun.
  • Tidak dijelaskan secara lengkap mengenai ‘jubah’ yang harus dipakai; hanya skapulir dan tali ikat pinggang.
  • Dalam keadaan-keadaan tertentu perempuan yang telah menikah dapat diterima tanpa izin dari suami-suami mereka, apabila bapa pengakuan mereka membenarkannya.
  • Kesederhanaan dalam berpakaian tetap dipertahankan.
  • Pantang makan daging, yang menurut AD Paus Nikolaus IV berlaku untuk empat hari dalam satu minggu dikurangi menjadi pantang pada Jumat saja seperti umat Kristiani lainnya, dan direkomendasikan untuk hari Rabu.
  • Kewajiban untuk mengaku dosa dan menyambut komuni ditingkatkan dari tiga kali setahun menjadi sebulan sekali.
  • AD yang baru tidak lagi menyebut-nyebut larangan membawa senjata bagi para anggota, karena tidak mungkin diikuti oleh mereka yang tinggal di bawah pemerintahan militer pada waktu itu.
  • Dan lain-lain.

Dukungan Paus Leo XIII kepada Ordo Ketiga tidak pernah surut. Dukungan Paus Leo XIII kepada Ordo III memang tidak henti-hentinya. Itulah sebabnya dalam kesempatan ini saya mencoba menyoroti beliau dan berbagai sepak terjangnya dengan sedikit berpanjang-lebar. 

Kepada para saudara Kapusin dalam audiensi tanggal 18 Desember  1884, Sri Paus mengatakan, bahwa beliau merasa yakin bahwa “kuasa untuk membuat regenerasi masyarakat Kristiani terletak di dalam tubuh Ordo Ketiga. Seseorang menjadi seorang anggota Ordo Ketiga, artinya dia menjadi seorang Kristiani sejati. Hal ini berarti satu jiwa diselamatkan (BL, hal. 21-22). 

Pada tanggal 22 Desember 1885 Paus Leo XIII menerbitkan ensiklik Quod Auctoritate berkenan dengan Tahun Yubileum Luarbiasa tahun 1886. Dalam ensiklik ini Sri Paus memperbaharui undangannya kepada para uskup “untuk mempromosikan dan memperluas jangkauan Ordo Ketiga dari para saudara Fransiskan yang dikenal sebagai para sekular.” 

Dalam audiensi tanggal 12 Maret 1886 Sri Paus mengulangi kepada para Provinsial Kapusin Lyon dan Toulouse seperti berikut: “Saya merasa yakin bahwa melalui Ordo Ketiga lah dan melalui penyebaran semangat Fransiskan lah kita akan menyelamatkan dunia”.  

Sri Paus juga mengatakan kepada Mgr. Touzery, seorang Kanon dari Rodez, “Para Fransiskan Ordo Ketiga ini adalah anak-anakku tercinta … Saya ingin menyelamatkan Perancis dengan menggunakan Ordo Ketiga ini sebagai sarana.” Kemudian beliau mengatakan kepada para anggota Ordo Ketiga dari Tyrol, bahwa “Ordo Ketiga, seperti pada zaman Santo Fransiskus, sekarang harus melakukan regenerasi secara spiritual atas kemanusiaan”. 

Pada tanggal 12 April 1893, tujuh tahun setelah promulgasi AD Ordo III, Sri Paus mengatakan kepada para anggota Ordo III yang sedang berziarah ke Roma, bahwa beliau telah berniat untuk “menghidupkan kembali” Ordo III. Beliau merasa bahagia bahwa “Allah sepenuhnya memberkati rencana-rencana-rencananya”, dan beliau juga mengutarakan harapannya bahwa Ordo III yang dikenal sebagai Ordo Pertobatan akan diperbaharui dalam laku tobat, dalam doa dan dalam (karya) kasih. 

Leon Harmel dan peranannya. Di Perancis ada seorang anggota OFS yang luarbiasa, yang bernama Leon Harmel. Ia adalah seorang industrialis di Val-des-Bois yang termasuk Keuskupan Rhymes. Pada bulan Juli 1893, sebuah kongres studi atas kegiatan sosial Ordo Ketiga di selenggarakan di pabrik miliknya. Sri Paus mengirimkan sebuah pesan good will  dan ucapan selamat memuji kemurahan hati Leon Harmel, pengabdiannya dan kelekatan/ketaatannya pada Takhta Suci. Pada tanggal 24 Maret 1894, Sri Paus menerimanya dalam suatu audiensi. Pada pertemuan itu Sri Paus menyatakan: “Ordo Ketiga Santo Fransiskus, yang direstruktur untuk kegiatan sosial, mampu menghasilkan buah indah di mana-mana dan teristimewa menyelamatkan Perancis”. Buah pertama dari kongres di Val-des-Bois adalah pembentukan para Komisar Provinsial untuk Ordo III, yang dipimpin oleh sebuah Komisar Nasional yang dipilih oleh Minister Jendral para Saudara Dina. 

Leon Harmel ini memainkan suatu peran yang menentukan dalam penyelenggaran serangkaian kongres OFS yang berjasa dalam rangka penemuan kembali dan pendefinisian kembali sifat dan identitas OFS dan untuk persatuan Ordo III. Sri Paus memandang Leon Harmel sebagai seorang kolaborator sejati dalam rangka melaksanakan rencananya untuk kelahiran kembali OFS dan misi OFS sebagai konsekuensinya.  Sri Paus mengungkapkan dirinya kepada Leon Harmel dengan kata-kata ini: “Kami sedang mengharapkan banyak dari Ordo Ketiga untuk reformasi masyarakat”. 

Pada tanggal 22 Januari 1897, Pater Giulio de S. Cuore, Komisar Jendral Saudara Dina di Perancis dan Leon Harmel bertemu dengan Paus Leo XIII dalam suatu audiensi istimewa. Pada tahun yang sama, Sri Paus menerbitkan Ensiklik Felicitate quadam  yang ditujukan kepada Ordo Fransiskan, di mana beliau tidak lupa mengulangi keinginannya yang teguh, bahwa “Ordo Ketiga akan bertumbuh-kembang dengan janji akan buah berharga, tidak hanya di tempat-tempat tertentu, melainkan juga di seluruh dunia”. 

Pada tanggal 22 Februari 1899 Leon Harmel di terima oleh Sri Paus dalam suatu audiensi pribadi. Pada kesempatan  itu Leon Harmel memberitahu Bapa Suci perihal sejumlah kongregasi Ordo III telah mempromosikan organisasi-organisasi yang bertujuan mempromosikan pendidikan dan kesejahteraan para pekerja. Dalam audiensi tanggal 22 September 1899 Leon Harmel bertemu lagi dengan Sri Paus. Kali ini dia datang sebagai direktur suatu perjalanan ziarah para pekerja Perancis ke Roma dan juga sebagai Ketua (Presiden) dari komite tetap untuk kongres-kongres dan ziarah-ziarah Fransiskan. Pada kesempatan itu Sri Paus mengungkapkan niatnya agar para anggota Ordo III Perancis dapat menjadi sebuah contoh bagi mereka yang diam di Italia. 

Dengan dukungan positif Sri Paus Ordo III berkembang dengan baik. Dalam beberapa kongres yang diselenggarakan selama masa pontifikatnya, beliau secara konsisten memberi tanggapan dan dorongan positif bagi perkembangan Ordo III Santo Fransiskus. Dalam kongres-kongres itu juga dibahas spiritualitas Ordo III, disiplinnya dan organisasinya. Yang paling penting dari kongres-kongres itu adalah Kongres Internasional di Roma (22-26 Oktober 1900), Tahun Yubileum khusus menyambut abad yang baru. Kongres internasional itu dipromosikan oleh para Minister Jenderal empat keluarga Fransiskan (OFM, OFMConv., OFMCap. dan TOR). Pada peristiwa itu, 17.000 anggota Ordo III tercatat hadir. Sebelum kongres itu, Sri Paus yang pada waktu itu sudah berumur 90 tahun, memberi pengarahan dalam suatu pertemuan singkat tanggal 21 September. Pada kesempatan itu beliau mengutarakan lagi harapan-harapannya untuk reformasi Ordo III dan menyatakan bahwa Kongres tersebut “merupakan bukti bahwa harapan-harapan dan keprihatinan-keprihatinannya tidaklah sia-sia”. Sri Paus mengirimkan sepucuk surat singkat tertanggal 4 November kepada para anggota Ordo III yang menghadiri kongres, dalam surat mana beliau mengungkapkan kesenangan hatinya melihat “kebersatuan jiwa-jiwa” para anggota Ordo III dan beliau mengingatkan kembali bahwa kesatuan hukum memberikan kesatuan kepada tubuh dan oleh kepatuhannya datanglah kekuatan tubuh dan keefektifan tindakan”. 

Pada tanggal 7 September 1901 Sri Paus, atas permintaan para Minister Jenderal Ordo Fransiskan, menulis sepucuk surat final kepada Ordo III di dalam surat mana beliau mengulangi harapannya bahwa Ordo III “akan berkembang mekar sekali lagi, baik dalam jumlah anggotanya maupun juga dalam devosi para anggotanya”. Sri Paus juga membuat garis besar berkaitan dengan apa yang diharapkannya: “Ordo III mengundang para anggotanya untuk bersikap dan berperilaku adil, penuh pengabdian dan penuh ketulusan dan mengajar kejujuran dan kesucian hidup dalam lingkaran keluarga”. Setelah 25 tahun lamanya sebagai pimpinan tertinggi Gereja Katolik, Paus Leo XIII yang agung meninggal. Ia adalah Paus reformasi sosial, yang bertindak-tanduk berdasarkan bimbingan Roh Kudus, ajaran dan cita-cita Santo Fransiskus dari Assisi. 

Pada zaman Paus Leo XIII ini ada seorang anggota Ordo III terkenal bernama Giulio Salvadori (1862-1928). Ia adalah contoh dari seorang Fransiskan sekular. Pada Kongres di Novara dia menunjukkan validitas dan pentingnya pernyataan berikut ini: “Ordo Ketiga Fransiskan dapat dan harus membantu menyelesaikan kekusutan masalah sosial, seperti yang dilakukannya di masa-masa lampau; namun di samping keberadaannya sebagai institut yang memusatkan diri pada doa seperti sampai sekarang Ordo Ketiga itu dipandang oleh orang-orang, Ordo Ketiga harus dikenal sebagai sebuah institut aktif dan bersifat sosial”. Beliau lalu menambahkan, bahwa tujuan dari AD yang baru (Paus Leo XIII) adalah bukannya membentuk seorang fanatik atau teolog, melainkan orang-orang tulus-jujur yang dijiwai oleh roh kebenaran dan kasih”. 

Abad ke-19 bukan hanya merupakan abad pembaharuan dan dorongan sosial untuk Ordo III sekular Santo Fransiskus, melainkan juga pembaharuan spiritual, hal mana dibuktikan dengan banyak testimoni kekudusan para anggotanya. Pada masa itu hiduplah beberapa  imam praja suci anggota Ordo III Sekular Santo Fransiskus: Santo Yosef Benediktus Cottolengo (1786-1842); Santo Yosef Cafasso (1811-1860) dan Santo Yohanes Bosco (1815-1888). Pada tahun 1854 Santo Yohanes Bosco mendirikan Ordo Salesian (SDB). Ada juga seorang  perempuan, yaitu Santa Maria Magdalena Postel (1756-1846), seorang pendiri kongregasi suster Fransiskanes, tetapi kemudian berganti nama menjadi Kongregasi Para Suster Misericordia. Daftar para kudus Ordo III dari abad ke-19 juga ikut dihiasi juga oleh sebelas martir perang Boxer di Tiongkok, John Tchang dkk. (+1900). Di Italia ada Beato Contardo Ferrini (1859-1902) yang patut menjadi teladan hidup suci bagi kita semua. 

PERKEMBANGAN OFS DI ABAD KE-20 

Paus Pius X [1903-1914]. Kardinal Giuseppe Sarto [1835-1914) dipilih untuk menggantikan Paus Leo XIII yang baru meninggal dunia. Dia memakai nama Pius X. Karena keutamaan-keutamaan menonjol dalam hal devosi, kemiskinan, kesederhanaan hidup dan tindak-tanduknya sehari-hari sekali pun sudah menjadi seorang pimpinan tertinggi Gereja, maka dia dikanonisasikan sebagai orang kudus oleh Paus Pius XII pada tahun 1954. Seperti dicatat pada awal tulisan ini, Paus Pius X adalah seorang Fransiskan sekular. 

Pada masa pontifikat Paus Pius X ini sejarah OFS ditandai oleh dua peristiwa penting yang membawa dampak atas kehidupan para Fransiskan sekular, bahkan hari ini juga. Yang pertama adalah rencana untuk membentuk sebuah federasi dari berbagai persaudaraan. Hal ini akan dijelaskan dalam kelas. 

Yang kedua adalah surat Paus Pius X tanggal 8 September 1912, yang ditujukan kepada para Minister Jenderal Ordo Pertama dengan judul Tertium Franciscalium Ordinem. Surat ini membawa efek mendalam atas kehidupan Ordo III Santo Fransiskus dan mengkondisikan keberadaannya sampai pertengahan abad ke-20. Surat ini pertama-tama berisikan ungkapan rasa senang akan penyebaran dan pemekaran dari Ordo III yang terjadi, “yang tidak hanya karena jumlah keanggotaannya melainkan juga karena karya-karya mereka”. Surat itu mengingatkan akan apa yang dikatakan oleh Paus Leo XIII berkaitan dengan pembentukan dan tujuannya. Surat ini meneguhkan kembali bahwa ada dua hal spesifik yang menyangkut para Fransiskan sekular, yaitu keharmonisan persaudaraan dan kecintaan akan pertobatan. Surat itu menekankan validitas dari prinsip persatuan para anggota Ordo III Fransiskan. Dalam surat itu diindikasikan beberapa penerapan yang sudah diperbaharui (updated applications) dari pokok-pokok fundamental AD 1289 dan AD 1883. Yang kedua, surat ini dengan jelas menyatakan bahwa untuk beberapa waktu lamanya Sri Paus merasakan kekhawatiran tertentu perihal kemungkinan munculnya ide-ide yang kurang bijaksana dalam tubuh Ordo III dalam rangka bekerja sama memperbaiki masyarakat. Sri Paus mengindikasikan dua metode guna mencegah kesulitan-kesulitan yang akan terjadi, yaitu (1) “peneguhan kembali bahwa pengaturan (dalam arti governance) Ordo III secara spesifik diberikan kepada para religius Ordo I, yang adalah ‘para guru dan pemimpin’ para Fransiskan sekular” dan (2) karena tujuan yang hendak mereka capai adalah melaksanakan kesempurnaan Injili, maka dilaranglah tanpa kekecualian bagi para anggota Ordo III untuk terlibat dalam masalah-masalah sipil atau pun yang murni ekonomi. Akan tetapi, para anggota Ordo III diperbolehkan untuk menjadi anggota-anggota berbagai asosiasi Katolik yang berkomitmen pada tindakan sosial dan juga berkontribusi untuk pencapaian tujuan-tujuan berbagai asosiasi tersebut. Surat itu diakhiri dengan regulasi secara spesifik untuk perkembangan kongres-kongres Ordo III selanjutnya sambil menambahkan bahwa mereka menjauhi segala pertanyaan yang menyangkut bidang ekonomi dan sosial. 

Surat Sri Paus ini janganlah dinilai secara cetek, dengan mengatakan bahwa di situ dikemukakan dua konsep berbeda tentang persaudaraan-persaudaraan sekular, yaitu (1) Persaudaraan yang menekankan aspek formatif dan spiritual; dan (2) Persaudaraan yang mencoba untuk memasukkan dalam panggilan Fransiskan sekular suatu komitmen di bidang duniawi. Kemudian disimpulkan bahwa Sri Paus lewat suratnya ini membenarkan  konsep yang pertama dan memandang konsep yang kedua membahayakan, kalau tidak dikatakan salah/keliru. 

Kita harus memandang “intervensi serius” dari Sri Paus ini dengan menempatkannya dalam suatu konteks yang lebih luas. Pertumbuhan luarbiasa dari Ordo III secara kuantitatif sesuai dengan undangan/himbauan dari Paus Leo XIII, tidak selalu diiringi dengan formasi yang memadai dan ide Paus Leo XIII tentang reformasi tidak dipahami secara benar dan lengkap. Surat Paus Pius X ini juga harus dipahami dalam terang perlawanannya terhadap perkembangan modernisme[1] pada masa pontifikatnya. Perkembangan modernisme ini menyebabkan timbulnya suasana penuh kecurigaan (yang terasa berlebihan), bahkan tanpa kecuali menjadikan seorang Kardinal Ferrari, Uskup Agung Milano sebagai korban. Belakangan Kardinal Ferrari ini diangkat menjadi beato. 

Surat Tertium Franciscalium Ordinem adalah bagian dari konteks yang lebih luas ini dan di situlah kita memperoleh validasinya. Dikatakanlah, bahwa dalam tahun-tahun itu “mimpi” untuk membuat Ordo III suatu gerakan besar spiritual dan pembaharuan sosial telah gagal, dan dilain pihak Ordo III sendiri memang belum/tidak siap dalam memberikan tanggapan terhadap rencana-rencana Paus Leo XIII atas Ordo III. Pada kenyataannya, kapasitas persaudaraan-persaudaraan Fransiskan sekular untuk menampilkan diri sebagai pengungkapan Fransiskan yang sekular, yang terlibat dalam kehidupan sosial dengan kontribusi-kontribusi yang tidak hanya bersifat karitatif, secara drastis dibatasi oleh intervensi Paus Pius X ini (BL, hal. 27). 

Tidak ada lagi kenyataan hampir berlimpahnya jumlah persaudaraan yang akan melibatkan diri secara aktif dalam diskusi-diskusi masalah-masalah sosial, namun tidak mengalami suatu formasi Fransiskan yang bertingkat tinggi. Aturan-aturan yang dibuat oleh Sri Paus dilaksanakan dengan ketat, namun hal ini membuat para Fransiskan semakin menjadi semacam proyeksi-proyeksi dari para religius di dalam dunia dengan risiko semakin menjadi sekadar pendoa dan pelaku devosi. 

Paus Benediktus XV [1914-1922]. Perayaan 7 (tujuh) abad Ordo III Santo Fransiskus dilaksanakan pada masa pontifikat Paus Benediktus XV yang juga adalah adalah seorang Fransiskan sekular. Perayaan ini mencapai puncaknya dalam:

  1. Penerbitan Ensiklik Sacra propediem (6 Januari 1921), satu-satunya ensiklik yang seluruhnya didedikasikan kepada Ordo III Santo Fransiskus (sekular) oleh seorang Paus dalam sejarah modern.
  2. Perayaan Kongres Internasional ke-2 yang diselenggarakan di Roma tanggal 15-18 September 1921. 

Ensiklik ini memuat sebuah ikhtisar yang diperbaharui dari segala pengajaran berkenan Ordo III, aspek-aspek historis (dengan acuan khusus kepada AD Paus Nikolaus IV dan AD Paus Leo XIII), dan prospek-prospeknya. Sehubungan dengan ini semua, ensiklik ini mengungkapkan pengharapan bahwa Ordo III Santo Fransiskus akan menyebar ke setiap kota, luar kota dan kampung/desa, bahwa keanggotaan orang-orang muda, perempuan dan para pekerja akan meningkat, walaupun mereka sudah menjadi anggota berbagai asosiasi Katolik, karena “Ordo ini mengusulkan … untuk membimbing para anggotanya kepada kesempurnaan Kristiani, apa pun keterlibatan mereka dalam dunia, karena tidak ada satu pun status kehidupan yang dapat dibandingkan dengan kesucian”. 

Yang mengemuka dalam konteks Ensiklik ini adalah definisi Ordo III Santo Fransiskus sebagai sebuah Ordo yang benar (Ordo veri nominis) dan pernyataan ini seringkali dipetik dalam literatur selanjutnya menyangkut Ordo III sekular ini. 

Berikut ini adalah topik-topik yang dibahas dalam Kongres Internasional tahun 1921:

  • Pengudusan para Fransiskan sekular
  • Bagaimana menjalankan persaudaraan
  • Reformasi masyarakat secara Fransiskan
  • Promosi dan kerasulan 

Para pembicara awam dipilih dan agenda disediakan untuk diskusi dan voting dalam kelompok-kelompok menurut bahasa. Pater Gemelli menutup kongres dan sebuah pesan dikirimkan kepada dunia dari Basilica Aracoeli di Roma. Pesan itu ditujukan kepada semua orang, “saudara-saudara, dekat dan jauh, yang berbicara dalam segala bahasa, dari setiap partai politik yang jujur, pekerja kantoran atau buruh pabrik, yang dalam martabat pekerjaan mereka sehari-hari menguduskan roti harian mereka”, menyerukan kepada mereka untuk memperbaharui “sapaan manis dari Santo Fransiskus: pax et bonum”. 

Larangan mutlak untuk terlibat dalam masalah-masalah politik (ingat peraturan Paus Pius X), federasi antar-ketaatan, dan hal-hal lain yang tidak secara langsung menyangkut dengan tujuan Ordo III, dan larangan untuk mengemukakan pendapat dalam sidang pleno, namun kongres irtu dinamis dalam isi laporan-laporannya, dan di atas segalanya dalam intervensi-intervensi yang mencoba menguji kesabaran ketua rapat yang berupaya untuk mencegah kongres menyeleweng keluar rel yang telah ditetapkan. 

Dari pengalaman terlibat dengan orang muda di Milano, Pater Gemelli berkata: “Hanya apabila para Fransiskan sekular memperlebar ruang untuk perkembangan mereka, maka kita dapat berharap untuk tidak mengulang apa yang begitu sering dikatakan tentang mereka, atau paling sedikit dipikirkan tentang mereka: yaitu, bahwa ordo III hanyalah  sekumpulan orang-orang yang berkumpul dengan tujuan satu-satunya agar memperoleh sejumlah indulgensi”. 

Paus Pius XI [1922-1939]. Perayaan tujuh abad kematian Santo Fransiskus diselenggarakan pada masa pontifikat Paus Pius XI [1857-1939]. Sri Paus suka menamakan dirinya “seorang anggota Ordo III yang tua”. Memang dia masuk menjadi anggota Ordo III ketika masih muda usia, yaitu pada bulan September tahun 1874. 

Pada tanggal 30 April 1926, Sri Paus menerbitkan Ensiklik Rite expiatis untuk mengingatkan dunia Katolik akan meninggal dunianya Santo Fransiskus. Dalam ensiklik itu Sri Paus mendedikasikan banyak ruang untuk Ordo III. 

Kembali di sini Benedetto Lino OFS mengingatkan bahwa apa yang ditulis oleh Paus Pius XI dalam ensikliknya haruslah dipahami dalam konteks yang lebih luas, termasuk juga inisiatif Sri Paus dalam mendukung Aksi Katolik.[2] Sri Paus merumuskan apa yang sekarang dikenal sebagai definisi klasi dari Aksi Katolik sebagai “partisipasi umat awam dalam kegiatan kerasulan hierarkhi Gereja”. Beliau membela gerakan ini pada masa-masa sulit dan meneguhkan keputusan Paus Benediktus XV yang menunjuk Santo Fransiskus sebagai pelindung gerakan ini. Memberikan kaum awam status gerejawi yang sejalan dengan martabat baptisan semua orang percaya dan kebutuhan  akan kehadiran yang aktif dan efektif, kehidupan masyarakat seringkali merupakan sebuah perjalanan yang sulit dan kompleks. Dalam hal inilah Paus Pius X memainkan peran yang sangat penting. Dari sinilah diambil langkah-langkah pertama dalam Teologi Awam dan lahirlah suatu pendekatan yang baru dan lebih terjamin terhadap kegiatan dan struktur berbagai asosiasi awam. 

Paus Pius XI, dalam beberapa kesempatan audiensi yang diberikan kepada berbagai kelompok Ordo III Fransiskan sekular menyebutkan apa  yang menjadikan “profesi kehidupan seorang anggota Ordo III Fransiskan yang baik”: “bukannya kekerasan janji-janji, atau hidup bersama, atau kehidupan religius sesuai dengan peraturan tertulis, maleinkan sesuai dengan roh. Itu adalah roh kehidupan dan kesempurnaan yang dihayati dalam keluarga, dalam kehidupan sehari-hari, dalam kehidupan biasa dalam dunia.” Kemudian beliau mengemukakan perlunya membuat kualifikasi panggilan para Fransiskan sekular, dan mengatakan: “Kalau mereka harus menjadi umat Kristiani yang setia seperti orang-orang lain, maka tidak perlulah bagi mereka untuk menjadi anggota Ordo III … seorang anggota Ordo III Fransiskan  memerlukan sebuah julukan/nama yang istimewa … yang tidak dapat dirampas – dan hal itu akan dirampas kalau tidak menunjukkan sesuatu yang istimewa.” 

Paus Pius XII [1939-1958]. Setelah kematian Paus Pius XI pada tahun 1939, dipilihlah Eugenio Maria Giuseppe Giovanni Pacelli yang memilih nama Pius XII. Beliau adalah anggota Ordo III Fransiskan sejak masa awal hidupnya sebagai seorang imam praja. Pada akhir Tahun  Suci 1950 (17-20 Desember) di kota Roma diselenggarakanlah Kongres Internasional bagi para pemimpin Ordo III Fransiskan. Kongregasi itu dihadiri oleh 2.000 peserta yang terdiri dari para religius dari 15 negara dan 7 area bahasa. Kongres itu menampilkan diri sebagai sebuah peristiwa antar-ketaatan (interobediential event). 

Sejak 5 September 1946 Dewan Antar-ketaatan Internasional telah berfungsi, meskipun hanya secara eksperimental. Dewan tersebut dibentuk oleh para Minister Jendral dari Ordo I dan TOR dan terdiri dari empat orang religius yang bertindak sebagai Komisaris Jendral bagi Ordo III Fransiskan yang sekular

Ini adalah embryo antar-ketaatan yang lahir dari atas, yang pada kenyataannya menggiring kepada kebersatuan. Topik yang dipilih untuk kongres itu adalah kegiatan kerasulan yang dinilai paling tepat-pantas kalau dilihat dari sudut kebutuhan pada waktu itu. Laporan-laporan hasil kongres itu memberikan suatu gambaran tentang sifat dan kegiatan-kegiatan persaudaraan-persaudaraan sekular dalam abad yang baru. 

Para pembicara dalam kongres itu terdiri dari pembicara-pembicara yang berkualitas: Giuseppe Dosseti, Giorgia La Pira, sejarawan Chiminelli, Yosef Folliet, Yakobus Schwanzerbach. Mereka menjaga agar diskusi-diskusi menjadi tetap bermutu juga. Kongres itu melakukan refleksi bagaimana, tanpa mengubah sifat lembaga, harus dicarilah cara-cara praktis untuk menghayati kharisma Fransiskan sekular, memelihara hubungan dengan asosiasi-asosiasi awam lainnua, mengkoordinasikan upaya-upaya dan kerja Ordo III sejalan dengan orientasi-orientasi yang akan mencirikan OFS di paruhan kedua abad ke-20. 

Berikut ini adalah catatan yang diberikan oleh Sdr. Folliet dari Perancis tentang seorang anggota Ordo III modern, catatan mana diambil dari notulen kongres tersebut: “Apakah sebagai seorang anggota parlemen atau anggota serikat buruh, atau seorang pribadi yang mendedikasikan dirinya kepada kerja riset ilmiah, kerja spekulasi dalam filsafat, pelayanan sosial, suatu kehidupan keluarga, pada puncak atau bagian bawah dalam skala sosial, yang berbicara di depan publik atau hanya pengamat yang tidak banyak berbicara, yang memilih kerja kerasulan atau kegiatan politik, dia akan memanifestasikan dirinya dengan visi orijinal yang sedemikian, dengan gaya sederhana, miskin namun  penuh sukacita, dengan lepas secara penuh dari harta kekayaan, termasuk kehendaknya sendiri dan cinta-diri ……” (BL, hal. 30). 

Resolusi penutup dari kongres sangat menonjol. Bunyinya:  “Di samping Dewan-dewan lokal, maka dewan-dewan regional, provinsial, nasional dan internasional harus dibentuk secepat mungkin”. Sebelum kongres diedarkanlah ‘questionnaire’, satu tanggapan terhadap kuesioner itu adalah permintaan untuk menyusun Konstitusi-konstitusi sebagai komentar/tafsir dan penerapan AD Leo XIII. Banyak alasan yang diberikan guna mendukung permintaan ini: “begitu singkatnya AD Leo XIII, kebutuhan untuk memutakhirkannya sejalan dengan Kitab Hukum Kanon, kaitannya dengan Aksi Katolik, evolusi Ordo III itu sendiri, kesatuan dalam arahan dari seluruh Ordo Fransiskan bagi Ordo III. 

Konstitusi Umum 1957. “Konstitusi Umum” dikerjakan antara tahun 1952 dan 1957. Sementara itu pada tanggal 1 Juli 1956, Paus Pius XII memberikan sebuah pidato pengarahan kepada para anggota Ordo III Italia. Isi pidato pengarahan tersebut memang berkaitan dengan ajaran-ajaran sebelumnya, namun mengatasi semua itu dalam hal identifikasi alasan-alasan yang telah membawa Ordo III sampai ke “tahapan stagnasi organik” atau “suam-suam kuku spiritual”; juga dalam hal indikasi yang jelas akan suatu program pembaharuan yang akan dirancang, dalam term-term teologi yang jelas, lompatan kualitas yang harus dibuat oleh persaudaraan sekular agar menjadi “sebuah sekolah kesempurnaan Kristiani, dengan semangat yang sungguh Fransiskan, tindakan bersemangat dan cepat dalam membangun Tubuh Kristus. Baik pidato pengarahan Paus Pius XII maupun bahan-bahan yang dikumpulkan dalam kongres internasional digunakan untuk menyusun Konstitusi-konstitusi yang disetujui secara resmi pada tanggal 25 Agustus 1957. 

Konstitusi Umum tahun 1957 ini adalah salah satu dokumen yang berisikan teks-teks yang paling ekstensif dan lengkap perihal legislasi Ordo III Fransiskan. Konstitusi ini mengumpulkan, mensistematisir dan menjelaskan apa saja yang sebelumnya telah dikerjakan sehubungan dengan Ordo III,

  • dari definisi sifat dan tujuannya sampai kepada governance-nya, yang terbagi antara “eksternal” (milik Ordo I dan TOR) dan “internal” (milik Ordo III sendiri);
  • dari sebuah rencana kehidupan (a plan of life) yang dalam secara spiritual, lengkap dan spesifik, sampai norma-norma pendisiplinan. 

Artikel 121 memberikan kemungkinan membentuk Dewan-dewan pada tingkat yang lebih tinggi daripada Dewan-dewan lokal dan kelayakan untuk memperluasnya sampai kepada tingkat antar-ketaatan, juga mempertimbangkan kemungkinan mempunyai jabatan-jabatan seperti ketua-ketua nasional (national presidents) dan seorang “ketua umum” (a general president). Berdasarkan artikel 121 ini dimungkinkanlah untuk mengawali proses untuk menyatukan dan menstruktur Ordo III Fransiskan pada tingkat internasional, bahkan sebelum diterbitkannya AD OFS 1978. Lagipula banyak revisi dan pengkonsepan baru dari statuta-statuta berkenan dengan pendampingan rohani dan struktur organisasi masing-masing negara, diturunkan dari Konstitusi Umum 1957 ini. 

Paus Yohanes XXIII [1958-1963], Paus Paulus VI [1963-1978] dan Konsili Vatikan II [1962-1965]. Konstitusi Umum 1957 Paus Pius XII ini mempersiapkan Ordo III Fransiskan terhadap perubahan-perubahan yang berkaitan dengan Konsili Vatikan II yang diprakarsai oleh Paus Yohanes XXIII. 

Konsili Vatikan II merupakan sebuah kejutan yang bermanfaat sehubungan dengan cara Gereja memandang dirinya sendiri. Suatu eklesiologi baru digambarkan kembali, yang pada hakekatnya sama dengan eklesiologi Fransiskus, yaitu eklesiologi persekutuan (communio) komprehensif berdasarkan keberadaan rahmat Baptisan. Dibutuhkan 700 tahun untuk benar-benar kembali kepada Santo Fransiskus, yang sebenarnya tidak melakukan apa-apa selain kembali kepada Injil dan kepada Kristus dan para rasul-Nya dan kepada Gereja Apostolik, seperti yang dilakukan oleh Konsili Vatikan II. 

Konsili Vatikan II meluncurkan sebuah teologi baru tentang kaum awam[3] dan akhirnya apa yang digumuli oleh para Fransiskan sekular selama 60-70 tahun mulai berbuah, semua karena pencerahan dan visi profetis (kenabian) dari beberapa Paus (yang adalah para Fransiskan sekular): Paus Pius IX, Leo XIII, Pius X, Benediktus XV, Pius XI, Pius XII dan Yohanes XXIII. Demikian pula para Minister Jendral dari Ordo I dan TOR dan sejumlah Komisaris Jendral, yang sangat menghargai sejarah dan memiliki kasih bagi Keluarga Fransiskan. 

Paus Paulus VI dan AD OFS 1978 Seraphicus Patriarcha. Akhirnya Paus Paulus VI, yang bukan seorang anggota Ordo III Santo Fransiskus, mengesahkan AD OFS yang sekarang kita pakai. Ajaran-ajaran Paus Paulus VI ini tidak kalah bermanfaatnya apabila dibandingkan dengan ajaran-ajaran para pendahulunya. OFS berhutang banyak kepada beliau. Beliaulah yang menutup Konsili Vatikan II dan memimpin Gereja dalam masa-masa awal pasca Konsili Vatikan II yang betul-betul sulit. Beliaulah Paus pertama yang berbicara secara eksplisit tentang persatuan Ordo III Fransiskan yang sekular. 

Proses updating AD Paus Leo XIII tahun 1883 di mulai secara resmi pada bulan November 1965. Jalannya proses ini sampai AD OFS 1978 menjadi kenyataan sudah dibahas dengan cukup rinci dalam pelajaran SEJARAH ORDO FRANSISKAN SEKULAR, sesi 3. 

Demikianlah latar belakang sejarah yang perlu untuk diketahui sehubungan dengan diberlakukannya AD OFS baru yang disahkan oleh Paus Paulus VI pada tanggal 24 Juni 1978. 

Disusun oleh: Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEPUSTAKAAN 

  1. Lazaro Aspurz OFMCap. (Translated  from the Spanish by Patricia Ross), FRANCISCAN HISTORY: THE THREE ORDERS OF ST. FRANCIS OF ASSISI (asli: HISTORIA FRANCISCANA), Chicago, Illinois: Franciscan Herald Press, 1983. [LIA]
  2. Santo Bonaventura (terjemahan Pater Y. Wahyosudibyo OFM), Jakarta: Sekafi, Januari 1990. [LegMaj]
  3. Matthew Bunson, OUR SUNDAY VISITOR’S ENCYCLOPEDIA OF CATHOLIC HISTORY, Huntington, Indiana: Our Sunday Visitor, Inc., 1995. [MB]
  4. Thomas dari Celano (terjemahan Pater J. Wahjasudibja OFM), ST. FRANSISKUS DARI ASISI, Jakarta: Sekafi, Oktober 1981. [1Cel dan 2Cel]
  5. FIORETTI DAN LIMA RENUNGAN TENTANG STIGMATA SUCI [Saduran bebas dari buku THE LITTLE FLOWERS OF SAINT FRANCIS WITH FIVE CONSIDERATIONS ON THE SACRED STIGMATA by Leo Sherley-Price] Jakarta: Sekafi, 1997 (Cetakan Pertama). [Fioretti]
  6. Vincenzo Frezza OFMCap. (Translated from the Italian L’Evangelica Forma di Vita by Diego Sequeira OFMCap.), THE GOSPEL WAY OF LIFE, Manila, Philippines: Secular Franciscan Order of the Philippines, 1991. [VF]
  7. Marion A. Habig OFM (Editor), ST. FRANCIS OF ASSISI – WRITINGS AND EARLY BIOGRAPHIES – English Omnibus of the Sources for the Life of St. Francis, Quincy, Illinois: Franciscan Press – Quincy College, 1991 (4th Revised Edition). [OMNIBUS]
  8. Vicente Kunrath OFM, SEJARAH OFS, disusun dalam rangka pembinaan para anggota OFS Persaudaraan Santo Ludovikus IX, Jakarta, Yogyakarta: 13 September 1997. [7 halaman]. [VK]
  9. Leo Laba Ladjar OFM (Penerjemah, pemberi Pengantar dan Catatan), KARYA-KARYA FRANSISKUS, Jakarta: Sekafi, 2001 (Cetakan pertama setelah pembaruan tahun 2001).
  10. Benedetto Lino OFS, THE HISTORY OF THE SECULAR FRANCISCAN ORDER AND OF ITS RULE dalam FORMATION MANUAL FOR FORMATORS FOR INITIAL FORMATION, CIOFS PRESIDENCY, 2008. [BL]
  11. Raffaele Pazzelli TOR (Translated from the Italian by the author), ST. FRANCIS AND THE THIRD ORDER – THE FRANCISCAN AND PRE-FRANCISCAN PENITENTIAL MOVEMENT (asli: SAN FRANCESCO E IL TERZ’ORDINE: IL MOVIMENTO PENITENZIALE),  Chicago, Illinois: Franciscan Herald Press, 1989. [RP]
  12. Robert M. Stewart OFM, “DE ILLIS QUI FACIUNT PENITENTIAM” – THE RULE OF THE SECULAR FRANCISCAN ORDER: ORIGINS, DEVELOPMENT, INTERPRETATION, Roma, Italia: INTITUTO STORICO DEI CAPPUCCINI, 1991. [RS] 

DEUS MEUS ET OMNIA


[1] Modernisme adalah gerakan yang berkembang di dalam Gereja pada akhir abad ke-19. Gerakan ini berupaya untuk merekonsiliasikan ajaran-ajaran Gereja dengan kemajuan-kemajuan modern dalam sains, riset historis dan biblis, serta trend filsafat dengan mengubah doktrin Katolik melalui inovasi dan penafsiran kembali. Karena banyak kesalahan yang dibuat oleh banyak para penganutnya, maka gerakan ini oleh Paus Pius X disebut sebagai “sintese dari segala bid’ah”. Modernisme sebenarnya lahir dalam suasana kebangkitan kembali pembelajaran yang didukung oleh Paus Leo XIII, di mana beliau mendorong studi dalam bidang sains, proses-proses sosio-politik dan filsafat. Untuk keterangan selanjutnya dapat dibaca dalam  Our Sunday Visitor’s ENCYCLOPEDIA ON CATHOLIC HISTORY  [MB, hal.563-564].

[2] “Aksi Katolik” adalah (gerakan) kerasulan awam yang diorganisir di bawah kepemimpinan dan mandatg hierarkhi Gereja dan yang berpartisipasi dalam  berbagai kegiatan keagamaan di bawah bimbingan Gereja. Paus Pius XI mendefinisikan Aksi Katolik sebagai “partisipasi umat awam dalam kegiatan kerasulan hierarkhi”, yang berarti kerja sama atau tindakan umat awam dalam arti sosial, di bawah kontrol seorang uskup pada tingkat lokal atau Takhta Suci pada tingkat internasional, untuk mempromosikan atau mencapai suatu hasil spiritual atau kultural, khususnya penyelamatan jiwa-jiwa pengudusan masyarakat luas. Paus Pius XI memberikan organisasi dan pengarahan yang dibutuhkan kepada Aksi Katolik. Pada tanggal 23 Desember 1922 Sri  Paus menerbitkan Ensiklik Ubi Arcano, yang memberikan dorongan kepada pembentukan berbagai organisasi kaum awam yang dapat berfungsi dalam kerjasama yang erat di bawah otoritas para klerus. Untuk keterangan selanjutnya dapat dilihat pada  Matthew Bunson, Our Sunday Visitor’s ENSYCLOPEDIA OF CATHOLIC HISTORY [MB, hal.179-180].

[3] Bacalah misalnya ‘Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium tentang Gereja’, teristimewa Bab II tentang Umat Allah, Bab IV tentang para awam dan Bab V tentang Panggilan Umum untuk Kesucian dalam Gereja. Pelajarilah  juga dan kuasailah keseluruhan isi  ‘Dekrit Apostolicam Actuositatem tentang Kerasulan Awam.

PERUMPAMAAN TENTANG JALA BESAR

PERUMPAMAAN TENTANG JALA BESAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII. Kamis 28-7-11)

“Demikianlah pula hal Kerajaan Surga itu seumpama jala yang ditebarkan di laut lalu mengumpulkan berbagai jenis ikan. Setelah penuh, jala itu diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam tempayan dan ikan yang tidak baik mereka buang. Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.

Mengertikan kamu semuanya itu?” Mereka menjawab, “Ya, kami mengerti.” Lalu berkatalah Yesus kepada mereka, “Karena itu, setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran tentang Kerajaan Surga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.”

Setelah Yesus selesai menceritakan perumpamaan-perumpamaan itu, Ia pun pergi dari situ. (Mat 13:47-53).

Bacaan Pertama: Kel 40:16-21,34-38; Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3-6,8,11 

Apakah kematian tidak dapat dihindari? Ya! Apakah ada surga dan neraka? Ya! Apakah ada pengadilan terakhir, pemisahan antara ikan yang baik dan ikan yang tidak baik (Mat 13:48), atau pemisahan antara domba dan kambing (Mat 25:32 dsj.), atau pemisahan lalang dari gandum (Mat 13:30)? Ya, ya, dan sekali lagi, ya! Hal-hal “akhir zaman” yang baru disebutkan ini sungguh-sungguh riil. Akan tetapi kita harus senantiasa berhati-hati, agar tidak membiarkan pemikiran tentang akhir zaman memenuhi diri kita dengan rasa takut yang tidak perlu. Sebagai umat Kristiani, kita tahu bahwa Allah kita adalah ‘seorang’ Bapa yang sangat mengasihi, yang menyediakan segalanya yang kita butuhkan untuk tetap tegak penuh kepercayaan, walaupun pada hari penghakiman kelak. 

Sabda Allah dalam Kitab Suci terus-menerus mengingatkan kita bahwa mereka yang ada dalam Kristus adalah “ciptaan baru”. Santo Paulus menulis: “Jadi, siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2Kor 5:17), dan mereka yang percaya kepada Yesus telah melalui kematian dan masuk ke dalam kehidupan dan tidak dijatuhi hukuman. Dalam hal ini Yesus bersabda: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup” (Yoh 5:24). 

Kebenaran Injil yang membebaskan adalah, bahwa apabila kita tetap ada dalam Kristus, kita menjadi “ikan yang baik”. Dalam Dia kita menjadi “domba”, bukan “kambing”. Dalam Yesus, kita menjadi “gandum” dan bukannya “lalang”. 

Dari uraian di atas kita sudah memaklumi bahwa penghakiman terakhir – mau tidak mau – akan terjadi juga pada suatu hari kelak. Apakah hal ini membuat anda merasa takut? Atau anda selalu berupaya untuk menghindarkan diri dari isu penghakiman terakhir tersebut, dan menyibukkan diri dengan segala rutinitas sehari-hari dan berbagai “masalah” besar lainnya yang menyangkut kesejahteraan ekonomi-sosial keluarga anda? Untuk menjawab kedua pertanyaan di atas kita memerlukan pernyataan dari Yesus sendiri. Dia akan menunjukkan kepada kita bahwa kita tidak perlu takut akan penghakiman terakhir. Ia akan menolong kita dalam menentukan skala prioritas kehidupan kita, sehingga kita dapat memusatkan perhatian kita kepada hari H kelak, pada saat mana kita akan berjumpa dengan Dia – muka ketemu muka. 

Selagi kita datang kepada-Nya dalam doa dan pembacaan serta permenungan sabda Allah di dalam Kitab Suci, Yesus akan menunjukkan bahwa keberadaan-Nya dalam diri kita masing-masing merupakan suatu harta kekayaan yang ternilai harganya, dan Ia akan menunjukkan kepada kita bagaimana hidup dalam jalan yang menyenangkan hati-Nya. 

Allah ingin sekali kita mengetahui, bahwa pembaptisan hanyalah sebuah awal dari relasi kita dengan diri-Nya. Dia ingin menopang kita setiap hari dengan Roh Kudus-Nya, tidak hanya agar diri kita dipenuhi dengan Roh Kudus-Nya itu, melainkan juga agar hati, pikiran dan tindak-tanduk kita juga senantiasa dipimpin oleh Roh Kudus-Nya. Allah ingin mengajar kita bagaimana hidup dalam Kristus setiap hari, sehingga dalam situasi apa pun yang kita hadapi dalam hidup ini, kita dapat tetap berpegang teguh pada janji-janji penyelamatan-Nya dan tetap percaya bahwa dalam Dia kita telah ditebus. Setiap hari Yesus ingin memberikan diri-Nya kepada kita sehingga kita dapat memberikan diri kita sepenuhnya kepada Dia. 

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin dipersatukan dengan Dikau. Buanglah jauh-jauh segala rasa khawatirku tentang kematian dan pengadilan terakhir. Tolonglah aku agar mau dan mampu mengarahkan hatiku pada sasaran yang benar, yaitu memandang wajah-Mu dan ikut ambil bagian dalam perjamuan besar dalam kerajaan surga kelak. Amin. 

Cilandak, 19 Juli 2011

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BEATA MARIA MAGDALENA MARTINENGO [1687-1737]

BEATA MARIA MAGDALENA MARTINENGO [1687-1737]

Peringatan: 27 Juli 

Beata Maria Magdalena Martinengo berasal dari sebuah keluarga terkemuka di Brescia. Pada masa kecilnya pun Maria Magdalena sudah mengalami ketertarikan secara istimewa kepada kehidupan membiara. 

Walaupun banyak kesulitan yang menghadangnya, perempuan muda ini tetap mewujudkan tekadnya untuk bergabung dengan para Puteri Miskin S. Klara (Kapusin).  Ketika itu dia masih berumur 17 tahun. Dalam biara, suster muda usia ini dengan cepat menunjukkan keutamaan-keutamaan pribadi seperti kerendahan hati, kesabaran, dan ketaatan yang penuh gembira. Saat-saat yang paling menyenangkan hati sang suster kontemplatif ini adalah jam-jam yang ditentukan untuk doa dan meditasi, dan juga saat-saat kunjungan kepada Tuhan dalam tabernakel. 

Simpatinya yang begitu mendalam kepada Juruselamat kita yang menderita sehingga dia sering didapati sedang berlutut namun seperti orang yang sudah mati saja. Belakangan Sr. Maria Magdalena ditunjuk sebagai magistra novis, kemudian sebagai abes. Dalam melaksanakan tugas-tugas pelayanan itu, dia membimbing para saudarinya dalam jalan menuju kekudusan lewat pemberian teladan dan kelemah-lembutannya yang penuh kasih. 

Sr. Maria Magdalena kemudian menjadi tersohor sebagai sosok biarawati yang suci, sehingga banyak orang awam mengunjunginya untuk penghiburan dan nasihat. Pada kesempatan-kesempatan pertemuan sedemikian, Sr. Maria Magdalena memanifestasikan karunia-karunia istimewa yang telah diberikan Allah kepadanya. Allah telah menganugerahkan kepadanya karunia untuk menyemangati jiwa-jiwa yang sudah berputus-asa, untuk mendamaikan pribadi-pribadi yang sedang berkonflik dan membawa para pendosa kembali ke jalan Tuhan. Ia juga dianugerahkan karunia sabda pengetahuan dan karunia untuk bernubuat: Tidak jarang dia mampu membaca pikiran-pikiran terdalam dari orang-orang dan bernubuat tentang peristiwa-peristiwa di masa depan. 

Sr. Maria Magdalena Martinengo meninggal dunia pada tanggal 27 Juli 1737,  pada tahun ke-50 kehidupan sucinya. Dia dibeatifikasikan oleh Paus Leo XIII [1878-1903]. 

Catatan  tambahan: Dalam tulisan yang berjudul “The Virgin Mary in the writings of Maria Valtorta” karangan Gabriel M. Roschini OSM [seorang mariolog terkenal dan profesor di Pontificate Lateran University of Rome], Beata Maria Magdalena termasuk dalam 18 orang mistikus perempuan terbesar sejak dari zaman dahulu sampai sekarang (lihat: The Doctors and St. Mary, http://www.udayton.edu/mary dari University of Dayton, Ohio). Di sisi lain, sayangnya, dalam sebuah buku tentang 200 orang santa dan beata Gereja Katolik, namanya tidak tercantum (Ronda De Sola Chervin, Treasury of Women Saints) – kalau mata saya tidak salah lihat. 

Sumber utama: P. Marion A. Habig OFM, THE FRANCISCAN BOOK OF SAINTS.  Riwayat hidup singkatnya juga dapat dibaca di situs web para Fransiskan Kapusin: www.capuchinfriars.org.au/saints/mary.shtml.

Cilandak, 26 Juli 2011  

Penyusun: Sdr. F.X. Indrapradja, OFS