PELAYANAN PAULUS DI KORINTUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Karolus Lwanga dkk. Martir – Jumat 3-6-11)

Pada suatu malam berfirmanlah Tuhan kepada Paulus di dalam suatu penglihatan, “Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorang pun yang akan menyentuh dan menganiaya engkau, sebab banyak umat-Ku di kota ini.” Lalu tinggallah Paulus di situ selama satu tahun enam bulan dan ia mengajarkan firman Allah di antara mereka. Akan tetapi, setelah Galio menjadi gubernur di Akhaya, bangkitlah orang-orang Yahudi bersama-sama melawan Paulus, lalu membawa dia ke depan pengadilan. Kata mereka, “Ia ini berusaha meyakinkan orang untuk beribadah kepada Allah dengan jalan yang bertentangan dengan hukum Taurat.” Ketika Paulus hendak mulai berbicara, berkatalah Galio kepada orang-orang Yahudi itu. “Hai orang-orang Yahudi, sekiranya dakwaanmu mengenai suatu pelanggaran atau kejahatan, sudah sepatutnya aku menerima perkaramu, tetapi kalau hal itu adalah perselisihan tentang perkataan atau nama atau hukum yang berlaku di antara kamu, maka hendaklah kamu sendiri menyelesaikannya; aku tidak sudi menjadi hakim atas perkara yang demikian.”  Kemudian ia mengusir mereka dari ruang pengadilan. Lalu mereka semua menyerbu Sostenes, kepala rumah ibadat, lalu memukulinya di depan pengadilan itu; tertapi Galio sama sekali tidak menghiraukan hal itu.

Paulus tinggal beberapa hari lagi di Korintus. Lalu ia minta diri kepada saudara-saudara seiman di situ, dan berlayar ke Siria, sesudah ia mencukur rambutnya di Kengkrea, karena ia telah bernazar. Priskila dan Akwila menyertai dia. (Kis 18:9-18)

Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-7; Bacaan Injil: Yoh 16:20-23a

“Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! Sebab Aku menyertai engkau” (Kis 18:9-10). 

Di Atena sebagian besar orang yang mendengar khotbah Paulus tidak menerima pewartaan Paulus tentang kebangkitan orang mati, namun beberapa orang menggabungkan diri dengan dia dan menjadi percaya (lihat Kis 17:32-34). Kemudian Paulus meninggalkan Atena, lalu pergi ke Korintus. Korintus adalah kota terbesar di Yunani dan merupakan pusat transportasi dan perdagangan, sehingga merupakan sebuah tempat yang baik sekali untuk pewartaan Kabar Baik dan penyebaran selanjutnya.

Di Korintus Paulus tinggal dalam rumah kediaman sepasang suami-istri Yahudi – Akwila dan Priskila –  yang baru datang dari Roma karena pengejaran kaisar Klaudius, dan mereka satu profesi dengan Paulus – sama-sama tukang kemah dan mereka pun bekerja bersama-sama (Kis 18:1-3). Strategi Paulus tidak berubah: Setiap hari Sabat dia berkhotbah dalam rumah ibadat dan dalam kesempatan lain dia juga melayani Tuhan di tengah-tengah orang Yunani (Kis 18:4), secara lebih intensif setelah kedatangan dua orang rekan-kerjanya dalam pelayanan Sabda, yaitu Silas dan Timotius. Paulus ditolak oleh orang-orang Yahudi ketika dia memberitakan firman dan bersaksi kepada mereka bahwa Yesuslah Mesias (Kis 18:5).

Ketika ditolak dan dilawan oleh orang-orang Yahudi, Paulus mengebaskan debu dari pakaiannya dan berkata kepada mereka, “Biarlah darahmu tertumpah ke atas kepalamu sendiri; aku bersih, tidak bersalah. Mulai sekarang aku akan pergi kepada bangsa-bangsa lain” (Kis 18:6). Gesture khas penolakan yang dilakukan Paulus ini sebenarnya sejajar dengan apa yang tertulis dalam Kitab Nehemia: “Kukebas lipatan bajuku sambil berkata ‘Demikianlah setiap orang yang tidak menepati janji ini akan dikebas Allah dari rumahnya dan hasil jerih payahnya. Demikianlah ia dikebas dan menjadi hampa!’ ” (Neh 5:13). Yesus juga mengajarkan hal serupa kepada para murid yang diutus-Nya (lihat Mrk 6:11; bdk. Mat 10:14; Luk 9:5).

Galio (Kis 18:21) adalah gubernur di Akhaya pada tahun 51-52, dengan demikian kita dapat mengetahui dengan tepat kapan Paulus berada di Korintus. Di Korintus inilah Paulus menulis suratnya yang pertama kepada umat di Tesalonika – karya tulis pertama dalam Perjanjian Baru. Di Korintus ini, Paulus dalam suatu penglihatan menerima firman Tuhan yang menyemangatinya (Kis 18:9-10) dan tinggal di sana untuk 18 bulan lamanya (Kis 18:11). Allah setia kepada janji-Nya dalam penglihatan itu (lihat Kis 18:12-17).

Dalam menyoroti karya pelayanan Paulus dkk. di Korintus, terasa Lukas kurang memberikan perhatian kepada tokoh-tokoh kunci Akwila yang berasal dari Pontus dan istrinya Priskila (Kis 18:1-3). Informasi  dalam “Kisah para Rasul” tentang mereka berdua sangatlah minim sehubungan dengan karya evangelisasi Paulus, namun ‘kekurangan dalam hal info’ ini diimbangi dengan baik oleh catatan tentang mereka yang ada dalam beberapa surat Paulus. Dari surat-surat itu ternyata pasutri ini memainkan peranan dalam karya misioner Paulus. Lihatlah suratnya kepada jemaat di Roma: “Sampaikan salam kepada Priskila dan Akwila, teman-teman sekerjaku dalam Kristus Yesus. Mereka telah mempertaruhkan nyawanya untuk hidupku. Kepada mereka bukan aku saja yang berterima kasih, tetapi juga semua jemaat bukan Yahudi. Salam juga kepada jemaat di rumah mereka” (Rm 16:3-5). Ternyata rumah tinggal pasutri ini juga menjadi tempat kebaktian juga; tempat bersekutu murid-murid Kristus (lihat juga 1Kor 16:19).

Priskila dan Akwila juga menyertai Paulus ke Efesus. Kemudian Paulus meninggalkan mereka di situ pada waktu dia pergi ke Antiokhia (Kis 18:19). Nanti kita juga akan melihat bahwa di Efesus ini, pasutri Akwila dan Priskila memberikan penjelasan kepada seorang ahli Kitab Suci Yahudi dari Aleksandria yang bernama Apolos tentang iman Kristiani. Fakta bahwa nama Priskila disebut lebih dahulu dari Akwila sebagai pengajar Apolos tentang “Jalan Allah” memberi petunjuk bahwa Priskila memegang peranan yang utama dan merupakan seorang perempuan terpelajar (lihat Kis 18:24-26). Singkatnya, ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari peranan Priskila dan Akwila dalam mewartakan Injil Yesus Kristus. Untuk yang hidup menikah, sebagai suami-istri kita dapat meneladan pasutri Priskila dan Akwila dalam melakukan evangelisasi.

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa Engkau selalu menyertaiku dalam pekerjaanku mewartakan Kabar Baik. Terima kasih Tuhan Yesus. Dimuliakanlah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Yoh16:20-23a), bacalah tulisan yang berjudul “KAMU AKAN MENANGIS DAN MERATAP” di blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 11-06 BACAAN HARIAN JUNI 2011. 

Cilandak, 1 Juni 2011 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS