SANTA MARGARETA DARI CORTONA [1247-1297] 

Pada hari ini, tanggal 16 Mei, keluarga Fransiskan memperingati Santa Margareta dari Cortona, seorang pentobat sejati anggota Ordo III Sekular. Pater Marion A. Habig OFM menjuluki orang kudus perempuan ini sebagai “Maria Magdalena dari Ordo Fransiskan”. Kiranya kita semua memaklumi apa yang dimaksudkan dengan julukan itu.

Santa Margareta dari Cortona adalah kudus pelindung para korban tuduhan palsu, gelandangan/gembel, tuna-wisma, orang gila/cacat mental, bidan, pentobat, ibu tanpa suami, anak yang tidak diperhatikan orang tua, dan pelacur yang bertobat.

Masa kelam dalam hidupnya. Margareta dilahirkan pada tahun 1247 di Laviano dekat Cortona di provinsi Tuscany, Italia. Pada waktu berumur 7 tahun, Margareta kehilangan ibunya yang saleh (soleha) karena meninggal dunia. Anak perempuan ini ditelantarkan oleh ayahnya yang menikah lagi dengan seorang perempuan, tidak lama setelah kematian sang istri. Ibu tirinya memperlakukan Margareta dengan keras. Pada waktu berumur 17 atau 18 tahun Margareta bertemu dengan seorang laki-laki muda. Dia meninggalkan rumahnya untuk hidup bersama dengan laki-laki itu dan mencari nafkah di tengah-tengah orang-orang yang tidak dikenalnya. Menurut sumber-sumber tertentu nama laki-laki itu adalah Arsenio, putera dari Guglielmo di Pecora, bangsawan penguasa Valiano. Mereka berdua lalu hidup “kumpul-kebo” di rumah laki-laki itu di dekat Montepulciano. Hubungannya dengan laki-laki membuahkan seorang anak laki-laki. Namun Arsenio tidak menepati janjinya semula kepada Margareta untuk menikahinya.

Memang Margareta adalah seorang perempuan yang sangat cantik, namun kecantikannya itu menjadi sengat terhadap dirinya. Untuk 9 atau 10 tahun lamanya Margareta menyerahkan dirinya kepada suatu kehidupan dosa dan skandal.

Pada suatu hari lama sekali dia menanti-nanti Arsenio yang tidak datang-datang juga. Anjingnya datang menghampirinya dan menarik-narik pakaiannya. Dia mengikuti anjingnya itu sampai ke sebuah hutan, dan di sana mendapati mayat teman kencannya yang penuh berlumuran darah. Rupanya para musuh laki-laki itu telah membunuhnya.

Melihat pemandangan yang mengerikan itu, Margareta menjadi terkejut seperti baru saya hampir tersambar petir. Dipenuhi rasa ketakutan yang luarbiasa dia bertanya kepada dirinya sendiri: “Dimana jiwanya (laki-laki itu) sekarang?”.  Lalu di tempat itu juga dia membuat resolusi teguh, bahwa di masa depan laku tobatnya akan lebih besar daripada kehidupan dosanya di masa lampau. Seperti si anak hilang dalam perumpamaan Yesus (Luk 15:11-32), Margareta pulang ke kota asalnya, Laviano.

Menjadi seorang pentobat. Dengan mengenakan jubah pentobat, rambut yang dipotong pendek, seutas tali mengelilingi lehernya, Margareta berlutut di depan pintu gereja dan secara publik mohon jemaat yang hadir untuk mengampuni skandal yang telah dilakukannya. Banyak orang  merasa tersentuh atas peristiwa  di depan umum ini, akan tetapi ibu mertuanya tetap melarang Margaret untuk kembali ke rumah keluarga. Hal ini menggodanya untuk kembali ke jalan sesat, namun rahmat Allah menopang dirinya.

Dipimpin oleh rahmat ilahi, Margareta pergi ke Cortona. Di sana, dengan hati yang remuk redam dia membuat pengakuan-dosa umum kepada seorang imam Fransiskan, dan dia menyerahkan dirinya ke bawah bimbingan spiritual dari bapak pengakuan tersebut. Dia berdiam dalam sebuah gubuk miskin dan sederhana, dan menjalani hidup pengasingan-diri, dalam pertobatan, airmata dan doa, sekadarnya makan-minum lewat kerja manual yang keras.

Margareta terus menerus mohon diberikan jubah Ordo Ketiga, sehingga orang-orang dapat mengenalnya sebagai seorang pentobat. Baru setelah tiga berlalu dan dirinya telah dicobai secara keras, maka keinginannya dikabulkan. Jubah Ordo Ketiga diterimanya pada tahun 1277. Sekarang dia semakin bersemangat, dan hidup pertobatan yang dipraktekkannya sejak saat itu membuat orang hampir tidak percaya. Siang malam dia menangisi dosa-dosanya sehingga membuatnya tidak dapat berbicara. Iblis menggodanya dengan apa saja untuk menjatuhkan pentobat perempuan ini, namun doa-doa, mortifikasi dan perendahan dirinya berhasil mengusir Iblis itu.

Dianugerahi karunia-karunia oleh Allah. Setelah perjuangan yang tanpa henti, Margareta berhasil menang atas segala kecondongan akan segala hal yang duniawi, Allah meyakinkan dirinya bahwa dosa-dosanya telah diampuni seluruhnya. Kepadanya Allah menganugerahkan karunia kontemplasi dan karunia sabda pengetahuan. Margareta dapat mengetahui isi hati terdalam manusia. Dalam banyak kesempatan, bahkan kepada orang-orang yang datang dari tempat-tempat jauh, Margareta membuat orang-orang itu mengingat kembali dosa-dosa berat mereka. Pemberian nasihat dan wejangan yang disertai doa-doa yang dilakukan oleh Margareta membawa mereka kepada pertobatan yang sesungguhnya. Banyak jiwa-jiwa di api pencucian dibebaskan melalui doa-doanya. Banyak pula mukjizat yang dihubungan dengan dirinya terjadi, bahkan ketika perempuan suci ini masih hidup di dunia: orang-orang sakit disembuhkan, seorang anak yang telah mati dibangkitkan, dan dicatat bahwa dengan kedatangan Margareta kepada seseorang, maka roh-roh jahat yang merasuki orang itu itu akan bergetar dan meninggalkan orang yang dirasuki oleh mereka.

Pada tahun 1277, selagi berdoa, Margareta mendengar suara, “Apakah yang kauinginkan, poverella?” [poverella = kecil miskin untuk perempuan]. Margareta menjawab: “Aku tidak mencari atau menginginkan apa-apa kecuali Engkau, Tuhanku Yesus Kristus”. Setelah saat itulah Margareta melakukan komunikasi secara teratur dengan Allah.

Beberapa karya karitatif. Ada sejumlah kegiatan pelayanan yang dilakukan oleh Margareta, termasuk mendirikan sebuah rumah sakit di Cortona yang mencakup juga rumah bagi para tuna-wisma dan orang miskin. Untuk mencari para perawat bagi kegiatan tersebut, Margareta mendirikan kongregasi suster-suster ordo ketiga yang dikenal sebagai “le poverelle”. Dia juga mendirikan sebuah komunitas, “Bunda Belas Kasihan kita” di mana para anggotanya mengikat diri untuk mendukung berlangsungnya kegiatan rumah sakit yang telah didirikan, juga untuk menolong orang-orang yang membutuhkan bantuan.

Kematian dan kanonisasi. Setelah mengikuti perintah ilahi sebanyak dua kali, Margareta menantang Mgr. Guglielmo Ubertini Pazzi, Uskup Arezzo yang membawahi Cortona, karena uskup itu hidup sebagai seorang pangeran. Margareta kemudian pindah ke reruntuhan gereja Santo Basilius, dan dia hidup di sana sampai akhir hayatnya. Akhirnya, setelah 23 tahun menjalani hidup pertobatan yang keras, pada usianya yang ke-50, Allah memanggil pentobat besar ini. Margareta berjumpa dengan Saudari Maut (badani) pada tanggal 22 Februari 1297. Jenazahnya dikuburkan di tempat itu. Gereja itu dibangun kembali untuk menghormati perempuan ini. Jenazahnya dipelihara di sebuah tempat penghormatan khusus di dalam gereja Fransiskan ini.

Jenazah itu tidak rusak sampai pada hari ini dan seringkali mengeluarkan bau harum. Beberapa paus telah mengkormasikan penghormatan publik bagi orang kudus ini. Paus Benediktus XIII [1724-1730] mengkanonisakan Margareta dari Cortona pada tahun 1728.

Sumber: Marion A. Habig OFM, THE FRANCISCAN BOOK OF SAINTS dan WIKIPEDIA.

Cilandak, 16 Mei 2011

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS