DOA ADOREMUS TE DARI SANTO FRANSISKUS *)  

Tuhan memberi aku anugerah dalam gereja-gereja, kepercayaan yang sedemikian besar, sehingga aku biasa berdoa secara sederhana dengan kata-kata ini, Kami menyembah Engkau, Tuhan Yesus Kristus, di semua gereja-Mu yang ada di seluruh dunia, dan kami memuji Engkau, sebab Engkau telah menebus dunia dengan salib-Mu yang suci. [Was 4-5]

Pada tulisan saya yang berjudul “DOA-DOA PRIBADI DALAM KEHIDUPAN SEORANG FRANSISKAN SEKULAR” (No. UMUM/OFS/ S. THOMAS MORE 2009/02) yang digunakan dalam pertemuan OFS Persaudaraan Santo Thomas More pada hari Minggu tanggal 15 Februari 2009, saya mengemukakan bahwa kalau kita mau membahas spiritualitas, memenuhi panggilan Allah kepada kekudusan atau hidup saleh, maka kita – tidak dapat tidak – haruslah membahas dan mendalami hal-ikhwal doa, teristimewa yang menyangkut doa-doa pribadi. Dan, kalau kita berbicara tentang doa dikaitkan dengan spiritualitas Fransiskus dan/atau Fransiskan, maka kita harus melihat kehidupan doa orang kudus itu.

PERAN YESUS TERSALIB DALAM KEHIDUPAN DOA FRANSISKUS

Setiap orang kudus yang dikanonisasikan oleh Gereja sebagai santo dan santa, pastilah seorang pendoa. Dapat kita katakan, bahwa tingkat kekudusan/kesucian seseorang mempunyai hubungan langsung dengan tingkat kehidupan doanya. Yang jelas Santo Fransiskus adalah seorang manusia pendoa par excellence, sampai-sampai Beato Thomas dari Celano mengatakan, bahwa Fransiskus bukan sekedar berdoa, tetapi sudah menjadi doa itu sendiri” (2Cel 95).[1]

Fransiskus adalah manusia salib (a man of the cross). Demikianlah ditulis Pater Antonio-Maria Rosales OFM dari Filipina (AMR, hal. 11). Banyak lukisan dan ikon menggambarkan dia dengan sebuah salib. Kita juga mengetahui dari berbagai riwayat hidupnya yang pertama-tama, bahwa awal pertobatan Fransiskus sangat erat berhubungan dengan salib San Damiano. Dan … hanya dua tahun sebelum kematiannya  dia menerima stigmata di La Verna, mengubahnya menjadi sebuah cerminan hidup Sang Tersalib.[2] Salib TAU  bagi Fransiskus bukanlah sebagai wujud ikut-ikutan “mode” pada masa itu, melainkan sebagai pengungkapan ketaatannya kepada Paus Innocentius III dan kesetiaan penuh pada pokok-pokok reformasi yang diusulkan dan dimulai oleh Konsili Lateran IV. Bagi Fransiskus dan para saudara di awal-awal gerakan Fransiskan, Salib Kristus mengandung makna yang jauh lebih agung daripada sekedar lambang yang bersifat sentimental. Mereka memiliki kehausan yang sangat (dan gila-gilaan) akan kemiskinan, penderitaan, dan bahkan kemartiran sebagai penghayatan salib yang konkrit. Dengan demikian, pada akhirnya salib menjadi satu lagi kunci guna memahami spiritualitas Fransiskus  (lihat AMR, hal. 11).

Di sinilah kita melihat kaitan antara doa Fransiskus di depan Salib San Damiano dan doa ADORAMUS TE  yang dibahas dalam tulisan ini.

Perjumpaan Fransiskus dengan Sang Tersalib di gereja San Damiano. Sebagai latar belakang uraian atas doa ADORAMUS TE ini, perlulah kiranya bagi kita untuk memahami peranan “Salib” atau “Yesus yang tersalib” dalam doa-doanya. Dalam tulisan saya nomor UMUM/OFS/S. THOMAS MORE/2009/05 dengan judul DOA FRANSISKUS DI DEPAN SALIB, kita melihat bagaimana dalam doanya itu Fransiskus berserah-diri sepenuhnya kepada Allah. Pada kesempatan itu dia menghaturkan permohonan agar Allah menerangi kegelapan hatinya, memberinya tiga keutamaan teologal (iman yang benar, pengharapan yang teguh dan kasih yang sempurna) serta perasaan yang peka dan budi yang cerah agar dia dapat mengenali perintah atau kehendak Allah dan melaksanakannya.

Di gereja yang sudah rusak berat itu Fransiskus mendengar suara yang diucapkan lewat bibir Yesus yang tersalib: “Hai Fransiskus, tidakkah kaulihat betapa reyot rumah-Ku? Jadi, pergilah memperbaikinya bagi-Ku!” (K3S 13). Tentu saat itu bukan untuk pertama-kalinya Fransiskus memandangi Salib Kristus. Namun tentu pengalamannya tidak banyak berbeda dengan pengalaman kita semua. Kita sudah begitu terbiasa melihat Salib Kristus: kita melihat salib itu  dalam gambar-gambar yang indah; kita memakainya dengan kalung; menggantung-kannya di dinding-dinding rumah kediaman kita dan lain sebagainya, namun tanpa pernah mengalami sentuhan rohani sama sekali.

Akan tetapi pada hari yang istimewa di gereja San Damiano itu, Fransiskus diterangi/dicerahkan oleh Roh Kudus sehingga mampu memandang wajah sejati dari Kristus tersalib; wajah hidup yang sederhana namun memancarkan keindahan yang penuh keagungan. Kenyataan itu mempesona Fransiskus, ternyata Allah mempunyai wajah, dan Ia memandang dunia manusia dengan menggunakan mata manusia, dan Ia berbicara kepada kita dengan memakai kata-kata manusia. Lagi pula sikap diam Sang Tersalib di San Damiano itu, bagi Fransiskus menjadi Sabda yang menusuk hatinya dan menghancurkan segala paradigma lama yang dianutnya sampai saat itu.

“Allah mengatakan segalanya pada waktu Dia berhenti berbicara dan mati.” Bagi Fransiskus peristiwa San Damiano merupakan pengalaman rohaninya yang menentukan, ketika secara tiba-tiba dia disadarkan, bahwa Allah adalah Kasih yang disalibkan. Sejak saat itu, luka-luka Kristus – luka-luka cinta-kasih – tidak akan pernah lagi tersembuhkan dalam hati Fransiskus (lihat MH, hal. 18).

Penduduk Assisi tentunya merasa kaget ketika mereka melihat, bahwa anak muda “tukang pesta” dan suka “berfoya-foya” itu sekarang dapat menjadi begitu bersedih hati penuh haru dan menangis tersedu-sedu sambil berkata kepada dirinya sendiri, “Kasih tidak dikasihi!  Tidak ada orang yang memahami Kasih!”  Bagi Fransiskus, Kristus tidak akan pernah lagi menjadi sekadar topik sebuah khotbah, melainkan suatu WAJAH yang amat dikasihinya yang selalu ada dalam hati dan pikirannya. Di masa depan agamanya bukan lagi sekadar suatu ritual atau sebuah sistem kepercayaan, melainkan suatu WAJAH yang dihormati dan dikasihinya. Sejak saat itu doa Fransiskus pada hakekatnya menjadi kontemplasi-visual hariannya akan Kristus.

Awal dan akhir kehidupan Kristus di muka bumi, kelahiran-Nya dan kematian-Nya, akan sering kali muncul dalam doa-doanya. Berjam-jam lamanya Fransiskus akan mengkon-templasikan – dalam roh –  kedinaan sang Bayi (yang adalah Allah sendiri) di Betlehem; juga Allah-Manusia yang dituduh, diolok-olok, didera dan disalibkan. Baginya, Allah bukan lagi sekadar sebagai sebuah topik untuk berwacana, melainkan seorang Pengada yang terdiri dari daging dan darah. Seringkali Fransiskus berkata: “Kasih dari Dia yang sangat mengasihi kita harus dikasihi dengan sangat pula” (LegMaj IX:1).[3] “Begitu hangat perasaan cintanya yang dikandungnya terhadap Kristus; sedangkan sang Kekasih membalasnya dengan cintakasih yang begitu mesra, sehingga kelihatannya bagi hamba Allah (Fransiskus), seakan-akan kehadiran Penyelamatnya terus-menerus di depan matanya” (LegMaj IX:2; bdk 1Cel 71).

Perjumpaan pertama Fransiskus dengan Tuhan di gereja San Damiano diikuti dengan suatu penugasan. Fransiskus yang pada waktu itu hidup sebagai seorang pertapa, mulai memperbaiki sejumlah gereja kecil di sekitar Assisi. Seakan-akan suara hatinya mengatakan: “Betapa teganya kamu membiarkan Tuhan yang tersalib diam di tempat yang sangat menyedihkan seperti itu?!

Fransiskus memperbaiki gereja-gereja kecil itu dengan tangan-tangannya sendiri. Inilah kontribusinya yang pertama dalam hal perbaikan rumah Allah. Itulah bagaimana Tuhan memberikan kepadanya suatu iman-kepercayaan yang besar akan gereja-gereja: tidak dengan menunjukkan kepadanya kemegahan basilika yang kaya-raya dan mewah, melainkan dengan menugaskannya untuk memperbaiki gereja-gereja kecil dengan tangan-tangannya sendiri. G.P. Freeman/ H. Sevenhoven menulis, barangkali di sanalah letak benih kesetiaan tak-tergoncangkan dari Fransiskus kepada Gereja. Tidak setiap hal dalam Gereja itu beres. Dalam Gereja juga ditunjukkan betapa rapuh, rentan dan berantakan kondisi manusia itu. Itulah sebabnya mengapa Fransiskus suka mengunjungi gereja-gereja (GPF, hal. 81).

Dalam suratnya yang kedua kepada kaum beriman, Fransiskus menulis: “Dari kandungannya, Firman itu telah menerima daging sejati kemanusiaan dan kerapuhan kita. Dia, sekalipun kaya melampaui segala-galanya, mau memilih kemiskinan di dunia ini, bersama bunda-Nya, perawan yang amat berbahagia” (2SurBerim 4-5). Kalau begitu kenyataannya, apakah Fransiskus lebih hebat atau lebih baik daripada Tuhan sendiri, sehingga dia hanya menyukai hal-hal yang sempurna, tak bernoda dan murni saja?

Hakekat doa Kristiani. Untuk menghindari kesalah-pahaman, harus dicamkan sejak awal, bahwa doa Kristiani bukanlah suatu kultus/pemujaan terhadap rasa-sakit dan kepedihan. Bagi Fransiskus, salib bukanlah suatu obsesi yang tidak waras, dan penderitaan bukanlah suci pada dirinya, karena penderitaan pada dirinya adalah suatu kejahatan dan skandal. Yang membuat Fransiskus terpesona bukanlah penderitaan itu sendiri, melainkan hanya cintakasih Kristus yang diungkapkan dan dinyatakan dalam sengsara dan wafat-Nya. Baginya salib Kristus di Kalvari itu seperti api yang menerangi semua dimensi lainnya dari Kabar Baik. Salib adalah rekapitulasi dari segala yang dikatakan dan dilakukan Kristus.

Bagi Fransiskus kebenaran-kebenaran iman tidak lepas dari Salib Kristus. Manakala melakukan meditasi atas kebenaran-kebenaran iman, Fransiskus tidak melihat kebenaran-kebenaran iman tersebut sebagai bagian yang terpisahkan dari pusat pemberi terang, yaitu Salib Kristus. Pada Salib Kristus itulah maut mengalami kematian, dan kehidupan menang-berjaya. Pada Salib Kristus, Fransiskus melihat cintakasih Allah kepada umat manusia yang begitu luarbiasa besar dan agungnya. Pada Salib Kristus itu pula dia melihat betapa dalamnya kita-manusia dapat jatuh karena dosa; kita menolak untuk melihat terang, bahkan dengan membuang jauh-jauh hidup Ilahi dari dalam jiwa kita. Namun demikian, Fransiskus juga melihat betapa berharga kita di mata Allah karena Dia menebus kita dengan “biaya” yang begitu besar. Dalam Salib Kristus Fransiskus melihat, baik salib maupun kemuliaan, kematian maupun kehidupan; Kristus yang disalibkan kemarin namun hidup hari ini. Sejak saat itu, orang kudus ini menjalani kehidupannya di bawah terang Kristus, Penyelamatnya dan Tuhannya.

Jadi pengalaman Fransiskus yang hidup dan gamblang di gereja kecil San Damiano memberikan kepadanya suatu kesan mendalam, sehingga sangat mempengaruhi hidupnya sampai saat kematiannya. Gara-gara begitu terinspirasikan oleh salib San Damiano, maka sejak saat peristiwa penting itu Fransiskus mempraktekkan devosi yang istimewa kepada Salib Kristus.[4]

DOA ADORAMUS TE 

Doa ADORAMUS TE yang kita bahas dalam tulisan ini merupakan doa kedua yang disusun oleh Fransiskus (LL II, hal. 101). Doa ini juga menyangkut Salib Kristus. Doa itu kelihatannya didokumentasikan dengan baik karena dapat ditemukan dalam semua riwayat hidup Fransiskus. Orang kudus ini malah memuat doa ini dalam Wasiat-nya. Seperti kita ketahui Wasiat Fransiskus disusun tidak lama sebelum dia meninggal dunia:

Kami menyembah Engkau, Tuhan Yesus Kristus, di semua gereja-Mu yang ada di seluruh dunia, dan kami memuji Engkau, sebab Engkau telah menebus dunia dengan salib-Mu yang suci (Was 5).

Seperti halnya dengan “Doa di depan Salib”, maka doa Adoramus te ini juga memiliki konteks yang sama, yaitu gereja. Doa Adoramus te ini merupakan yang terpendek di antara doa-doa yang disusun oleh Fransiskus, tentunya di luar  doa-doa pendek-satu-kalimat seperti DEUS MEUS ET OMNIA, “Siapa Dikau, Allahku, dan siapa aku?”, atau “Tuhan , apakah yang Dikau ingin aku lakukan?  Dengan demikian doa Adoramus te ini mudah untuk dihafalkan dan didoakan. Pater Antonio-Maria Rosales OFM menulis, bahwa semakin dia merenungkan doa ini semakin dia yakin bahwa doa ini sungguh-sungguh merupakan salah satu doa pertama yang disusun oleh Fransiskus, justru karena singkatnya dan kesederhanaannya (AMR, hal 9).

Cukup lama Fransiskus menggunakan waktunya di gereja-gereja yang sudah rusak dan kapel-kapel yang sudah ditinggalkan orang. Doa Adoramus te  ini kiranya merupakan konsekuensi dari rangkaian kegiatan Fransiskus tersebut, atau lebih tepat lagi, Tuhanlah yang memberi inspirasi kepadanya untuk menyusun doa itu. Bukankah di kemudian hari dia sendiri memberi petuah kepada para saudara: “Berbahagialah hamba, yang menyerahkan kembali semua yang baik kepada Tuhan Allah” (Pth XVIII:2). Tuhan Allah inilah yang telah memberikan kepadanya “anugerah dalam gereja” (Was 4). Selama waktu-waktu doanya yang panjang di malam hari atau dalam kunjungan-kunjungan yang seringkali dilakukannya ke gereja-gereja di siang hari, tentunya ada sesuatu yang telah menyentuh hatinya yang terdalam. Fransiskus telah dipenuhi dengan iman dan pengharapan yang baru, untuk mana dia menanggapinya dengan doa sederhana (namun sangat bermakna) yang akan kita renungkan bersama dalam tulisan ini.

Sebuah rumusan liturgis. Pada masa mudanya sebelum menjadi seorang laki-laki yang dewasa, Fransikus telah mempelajari banyak doa di sekolah maupun selagi turut ambil bagian dalam penyembahan ilahi. Fransiskus sudah familiar dengan doa “Kami menyembah Engkau …” ini, yang secara substansial merupakan sebuah rumusan liturgis tradisional: ada dalam brevier (Latin: breviriarum; buku Ibadat Harian/Ofisi Ilahi) zaman itu untuk pesta “Pemuliaan Salib Suci” dan pesta “Penemuan Salib Suci” serta liturgi hari Jumat Agung. Jadi dapat diandaikan bahwa Fransiskus mengenal baik dan hafal doa untuk menghormati Salib, yang malah masih digunakan dalam devosi “Jalan Salib”: “Kami menyembah Dikau, ya Kristus dan memuji-Mu, sebab dengan salib-Mu Engkau telah menebus dunia”.[5]

Jelas terlihat, bahwa rumusan liturgis itu lebih singkat daripada doa Fransiskus. Hal ini menunjukkan, bahwa orang kudus ini telah “memperkaya” atau “memperkuat” rumusan berlaku yang telah dipelajarinya sampai saat itu.

Tambahan-tambahan pribadi Fransiskus. Orang kudus ini mengambil bentuk dan susunan kata-kata dalam doa yang berlaku, kemudian menyempurnakannya. Dia hidup oleh liturgi: tradisi dan harta-kekayaan Gereja yang kaya. Dia menyesuaikannya dan menjadikannya sesuatu yang baru: “buatan Fransiskus!” … “made by Francis!”  Hal seperti ini sudah tidak mengagetkan, kalau kita berbicara tentang Fransiskus serta apa yang diperbuatnya. Dia adalah seorang insan yang sangat kreatif. Dalam hal doa Adoramus te ini, Fransiskus menambahkan beberapa patah kata dan frase secara pribadi di atas rumusan liturgis yang sudah ada. Kita akan melihat semua ini satu-persatu.

Di depan kata Kristus, ditambahkanlah oleh Fransiskus ungkapan “Tuhan Yesus”. Kata “Tuhan” ini khas Fransiskus. Hal ini menunjukkan bahwa teks ini adalah memang “produk asli Fransiskus”. Demikian pula halnya dengan ungkapan “Kami menyembah Engkau” yang begitu banyak tulisannya yang lain. Menurut Pater Leonard Lehman OFMCap., di sini Fransiskus mengkontemplasikan Yesus yang manusiawi serta juga Kristus dalam kemuliaan (LL I, hal. 103).

Kata lain yang ditambahkan oleh Fransiskus adalah “di sini”. Pater Antonio-Maria Rosales OFM mengatakan, bahwa dia memiliki kecenderungan kuat untuk percaya bahwa kata “di sini” tidak hanya merujuk pada gereja atau kapel di mana kita berdoa. Menurutnya “di sini” merujuk pada tempat di mana saja kita berada pada waktu itu, misalnya gereja, ruang makan, ruang pribadi, taman/kebun, ruang kerja, dapur, shopping mall, pesawat terbang, mobil, bajaj, mobil angkot atau bis yang kita tumpangi dan lain sebagainya. Dengan membatasi kata “di sini” pada gereja atau kapel, maka kita pun membatasi sifat ekspansif yang dipraktekkan oleh Fransiskus dalam relasinya dengan Tuhan. Fransiskus berjumpa dengan Allah serta sadar akan kehadiran-Nya di mana saja dan dalam segala hal. Dengan demikian sangat wajarlah dan spontanlah baginya kalau memutuskan untuk menyembah Tuhan di mana saja dan tidak hanya di dalam (bangunan) gereja atau kapel. Ia bukan hanya seorang pendoa, tetapi dirinya sudah menjadi doa itu sendiri (bdk 2Cel 95) [AMR, hal 11].

Tambahan yang paling penting adalah kata-kata: “di semua gereja-Mu yang ada di seluruh dunia”. Fransiskus tidak membatasi dirinya dengan “memperkaya” sebuah doa yang sudah standar. Ia hanya merasa harus pergi lebih jauh dari perbatasan-perbatasan daerah asalnya, Umbria. Dia memperluas adorasinya ke semua gereja di seluruh dunia. Ini adalah sebuah konsep baru, ciri dari originalitas Fransiskus dan keterbukaan pikirannya. Juga kemurahan hatinya dan lingkup yang luas dari doanya. Begitu besar imannya, sehingga setiap kali, dia melihat ada gereja atau sebuah salib dari kejauhan, atau pada saat dia memasuki sebuah gereja, dirinya diingatkan akan semua gereja di seluruh dunia dan betapa inginnya dia menyembah Tuhan di masing-masing dan setiap gereja tersebut. Fransiskus yakin sepenuhnya akan kehadiran Allah (Inggris: omnipresence) di setiap tanda keselamatan – salib dan altar – yang ada di atas muka bumi ini.

Thomas dari Celano menguatkan sifat universal dari adorasi Fransiskus ini. Dia juga begitu takjub terhadap cara orang kudus ini dan para pengikutnya yang pertama dalam mempraktekkan doa singkat Adoramus te di mana-mana:

……… di mana saja gereja berdiri, mereka membungkuk sampai ke tanah, pun kalau mereka tidak berada di sana tetapi bagaimana pun juga melihatnya dari jauh dan dengan menundukkan badan dan jiwa ke arahnya, mereka menyembah Allah yang Mahakuasa sambil berkata: “Kami menyembah Engkau, Kristus, (di sini) dan di semua gereja di seluruh dunia,” sebagaimana telah diajarkan bapak suci kepada mereka. Dan yang tidak kurang menakjubkan ialah bahwasanya mereka melakukan itu pula di mana saja mereka melihat salib atau tanda salib, entah di tanah entah di dinding, entah di pohon entah di pagar-pagar jalan (1Cel 45).

Indikasi paling kecil saja akan keberadaan sebuah salib menginspirasikan Fransiskus dan para pengikutnya untuk menyembah Tuhan mereka, sehingga dengan demikian “liturgi” mereka tidak terbatas pada sebuah tempat penyembahan. Dengan cara ini Fransiskus tidak hanya memperlebar ruang lingkup bentuk liturgis kata-kata, namun juga memperluas tempat riil dari penyembahan liturgis. Bagi para saudara, seluruh dunia menjadi sebuah tempat penyembahan. Doa Adoramus te yang digunakan para saudara dalam gereja-gereja dan di lapangan terbuka, memberi pertanda atau merupakan tanda awal tentang liturgi kosmik yang akan dikembangkan di kemudian hari oleh Fransiskus dalam “Nyanyian Saudara Matahari”  (lihat LL I, hal. 103).

Tambahan ketiga yang dilakukan oleh Fransiskus adalah kata keterangan “suci”:  “sebab Engkau telah menebus dunia dengan salib-Mu yang suci”. Ini adalah satu kata kunci lagi untuk dapat memahami doa ini. Fransiskus memandang salib sebagai suci, seperti dia memandang nama Tuhan dan sabda-Nya yang tertulis (lihat Was 12). Oleh karena itu dia selalu menghormati salib di mana saja dia melihatnya, bahkan dari kejauhan sekali pun. Bagi orang kudus ini salib adalah suci (kudus), dengan demikian perintah Tuhan yang diterimanya dari salib San Damiano juga kudus (suci).

Pada tahun-tahun pertama gerakan Fransiskan ini, doa para saudara dina secara eksklusif berpusat pada salib. Namun demikian, reformasi yang diperkenalkan dalam Konsili Lateran ke-IV pada tahun 1215 mencakup promosi penyembahan Ekaristi. Kemudian, pada tahun 1224 Paus Honorius III memberi izin kepada para saudara dina untuk mengelola gereja mereka sendiri dan untuk menggunakan altar ukuran portable (Bulla Honorius III: Quia populares tumultus). Karena faktor-faktor ini, ditambah dengan “gerakan Ekaristi” Fransiskus dan Honorius III, maka rumusan penghormatan salib mulai dipandang dan digunakan sebagai bagian dari adorasi Ekaristi dan diterapkan pada misteri keselamatan, baik di kayu salib maupun di atas altar (lihat LL I, hal. 104).

Penyebaran doa Adoramus te.  Fransiskus menemukan kekayaan spiritual yang besar dan agung dalam doa ini. Lewat keteladannya, orang kudus ini mengajar para saudaranya untuk mencintai doa ini dan untuk mendoakannya seringkali. Thomas dari Celano dan Kisah Tiga Sahabat  mengatakan, bahwa pada awal sejarah Ordo Saudara Dina, ketika para saudara belum/tidak memiliki buku untuk Ofisi Ilahi dan juga belum/tidak tahu bagaimana menggunakan buku, meskipun mereka sudah memilikinya.

Pada waktu itu saudara-saudaranya meminta kepadanya, untuk mengajar mereka berdoa; sebab betul mereka hidup dalam kesederhanaan hati,  namun mereka belum juga mengenal sembahyang berkala gerejani. Maka sahutnya kepada mereka: “Apabila kamu berdoa, katakanlah: ‘Bapa kami’, dan ‘Kami menyembah Engkau, Kristus, (di sini) dan di semua gereja-Mu, yang ada di seluruh dunia, dan kami memuji Engkau, sebab Engkau menebus dunia dengan salib-Mu yang suci’.”  Ini diusahakan oleh saudara-saudara, murid-murid bapak yang saleh, untuk ditepati dengan sesaksama-sesaksamanya (1Cel 45a; bdk K3S 37).

Dengan demikian, doa ini merupakan sebuah bagian penting dari khasanah doa-doa yang digunakan oleh para saudara dina yang awal. Doa ini membantu pembentukan spiritualitas para anggota Persaudaraan yang muda-muda yang ikut bersama para saudara tersebut dalam perjalanan-perjalanan mereka. Sementara para saudara dina itu bergerak dari gereja yang satu ke gereja yang lain, mereka menemukan kedinaan “Putera Allah yang menjadi daging”, yang digambarkan di mana-mana pada benda apa saja menyerupai tanda salib.

VERSI-VERSI DOA YANG SALING BERBEDA

Kata-kata doa Adoramus te ini ada dalam Was 5, 1Cel 45, K3S 37, LegMaj 4:3 dan Anonymous of Perugia 19. Dengan demikian doa ini boleh dikatakan terdokumentasikan dengan baik. Doa ini sungguh merupakan sebutir mutiara dalam perbendaharaan tradisi Ordo, dan sampai saat ini masih merupakan bagian dari hidup sehari-hari Ordo (LL I, 105).

Pater Leonard Lehman OFMCap. mengatakan, bahwa adanya begitu banyak versi doa Adoramus te yang digunakan, merupakan suatu kenyataan yang menyayangkan. Hal ini tidak hanya terjadi di negara yang berbeda-beda, tetapi juga dalam provinsi-provinsi dalam satu negara yang sama atau area liguistik/bahasa yang sama. Misalnya dia telah melihat lebih dari selusin terjemahan yang berbeda dalam bahasa Latin dasar yang digunakan di negeri-negeri yang berbahasa Jerman. Bahkan teks-teks dalam bahasa Latin pun tidak seragam (lihat LL I, hal. 105).

Berikut ini adalah dua terjemahan dalam bahasa Latin dan tiga terjemahan dalam bahasa Inggris:

LATIN I LATIN II INGGRIS I INGGRIS II INGGRIS III
 Adoremus teDomine Jesu Christe,

et ad omnes ecclesias tuas

quae sunt in toto mundo,

et benedicimus tibi

quia per sanctam crucem tuam

redemisti mundum

 

LL I, hal. 106

 

 Adoramus te,Sanctissime Domini Jesu Christe, hic et ad omnes ecclesias tuas quae sunt in toto mundo, et benedicimus tibi quia per sanctam crucem tuam redimisti mundum.

 

AMR, hal.10

 We adore you, Lord Jesus Christ, in all your churches throughout the world, and we bless you, for through your holy cross you have redeemed the world. 

 

LL I, hal. 106

 We adore thee, Christ, here and in all thy churches which are in the whole world, and we bless thee, because by the holy cross thou  hast redeemed the world. 

1Cel 45

OMNIBUS, hal.266

 We adore you, O Christ, in all your churches throughout the whole world, and we bless you, for by your holy cross you have redeemed the world. 

1Cel 45

RA I, hal. 222

INGGRIS IV INGGRIS V INGGRIS VI INGGRIS VII INGGRIS VIII
 We adore you, Lord Jesus Christ, here and in all your churches in the whole world, and we bless you, because by your holy cross you have redeemed the world. 

Test (Was) 5

OMNIBUS, hal. 67

 We adore You, Lord Jesus Christ, in all Your churches throughout the whole world and we bless You because by Your holy cross You have redeemed the world. 

Test (Was) 5

RA I, hal. 124-125

 We adore you, O Lord Christ, and bless you in all the churches in the world because by your holy cross you have redeemed the world. 

 

 

3S (K3S) 37

OMNIBUS, hal.926

 We adore you, Christ, and we bless you in all your churches throughout the whole world, because, by your holy cross, you have redeemed the world. 

 

3S (K3S) 37

RA II, hal. 90

 We adore you, O Christ, and we bless you, and in all your churches throughout the whole world, because by your holy cross you have redeemed the world. 

The Anonymous of Perugia, 19

RA II, hal. 42

 

Semua ini sekadar untuk contoh saja, tidak untuk membuat pembaca menjadi bingung dan/atau untuk diuraikan lebih lanjut.

PERMENUNGAN ATAS DOA “ADORAMUS TE” 

Kami

Pada waktu menyusun “Doa di depan Salib” di gereja kecil San Damiano, Fransiskus menggunakan kata ganti orang pertama tunggal untuk mengungkapkan penyerahan dirinya yang penuh rasa percaya kepada sang Tersalib, meskipun dia sedang mengalami kegelapan hati dan penuh keragu-raguan. Namun dalam doa Adoremus te ini dan doa-doanya yang lain, Fransiskus hampir selalu menggunakan kata ganti orang pertama jamak – “kami menyembah”, “kami memuji”, “kami bersyukur” …… Ini bukan sekadar “bahasa liturgis”, tetapi cara Fransiskus menunjuk dan mengakui kehadiran Persaudaraan awal, teman-temannya (saudara-saudaranya) yang telah dibimbingnya dan dengan siapa dia biasa berdoa bersama, Adoremus te dan doa-doa lainnya. Lagipula Fransiskus sadar benar bahwa dirinya berhubungan dengan semua gereja di atas muka bumi. Dengan menggunakan kata “kami”, sebenarnya dia memasukkan seluruh dunia Kekristenan. Ia sadar benar, bahwa ketika sedang berdoa, dia melakukannya dalam persekutuan dengan seluruh Gereja.

Pater Antonio-Maria Rosales OFM menguraikan pokok ini lebih jauh. Dengan mengacu pada Wasiat Fransiskus seperti dikutip di awal tulisan ini, dia mengatakan bahwa sebelum menulis “kami menyembah”, Fransiskus menggunakan kata ganti orang pertama tunggal: “Tuhan memberi aku ………”  (Was 4). Jadi, dalam hal ini Fransiskus menyampaikan tidak hanya hasrat pribadinya untuk menyembah Tuhan, tetapi juga niatnya untuk mengikut-sertakan orang-orang lain dalam penyembahan itu: para saudaranya dan bahkan seluruh dunia, artinya segenap ciptaan. Pendapat ini tidak mengada-ada, karena gemanya jelas terlihat dalam bagian kedua doa Adoramus te ini: “sebab Engkau telah menebus dunia dengan salib-Mu yang suci” (Was 5). Doa itu tidak berbunyi: “sebab Engkau telah menebus kami dengan salib-Mu yang suci”. Menjelang kematiannya Fransiskus minta dibacakan kisah sengsara dari Injil Yohanes. Tentu ada dalam pikirannya apa yang tertulis dalam Injil itu: “… Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal,  …ke dalam dunia …… supaya dunia diselamatkan” (Yoh 3:16-17) [lihat AMR,  hal. 9-10].

Ada baiknya bagi kita masing-masing sekarang hening sejenak. Periksalah berapa seringnya kita menggunakan kata “aku” dan berapa sering kata “kami” pada waktu kita berdoa. Manakala kita sedang mendoakan Ibadat Harian, merayakan atau membantu dalam Misa, sadarkah  kita bahwa kita sedang berdoa dalam persekutuan dengan seluruh Gereja, bahwa kita bertindak dalam nama Gereja?

Ketika kita menyebut kata “kami”, sesungguhnya kita memasukkan juga mereka yang berdoa dengan kita di sini dan sekarang, demikian pula keseluruhan komunitas – mereka yang absen karena sakit atau alasan lain, keseluruhan provinsi, keseluruhan Ordo. Kata “kami” juga merupakan suatu pencerminan kebersatuan kita dengan segenap warga paroki, dekenat, keuskupan, seluruh Gereja. Di sini dan sekarang, di tempat yang tertentu ini, secara publik maupun privat, kita disatukan dengan Gereja yang diam (Church of silence); kita prihatin atas keadaan mereka, berdoa untuk mereka dan dengan mereka, yaitu umat beriman yang dianiaya, dipenjara atau disiksa karena iman-kepercayaan mereka. Kita berdoa atas nama mereka semua.

Kata “kami” begitu berarti bagi Fransiskus. Ia tidak dapat menyembah Allah sendirian dan hanya di dalam satu gereja, melainkan harus bersama semua orang yang sudah ditebus di semua gereja yang ada di seluruh dunia. Bagi orang kudus ini penebusan Kristus bersifat universal seperti ditunjukkan di mana-mana di dunia dengan kehadiran gereja-gereja dan salib-salibnya. 

Kami menyembah Engkau, Tuhan Yesus Kristus 

Adorasi atau penyembahan adalah bentuk doa yang paling kudus dan paling luhur, pengungkapan devosi yang tertinggi. Penyembahan hanyalah untuk Allah saja, dan setiap penyembahan yang tidak berpusat pada Allah adalah penyembahan berhala.

Kita harus menyembah Allah dengan tubuh dan jiwa kita, membungkuk sampai ke tanah – bersembah sujud di hadapan-Nya (lihat 1Cel 45). Dalam adorasi, suatu gerak-isyarat tubuh kita, bahkan keheningan, dapat lebih ekspresif daripada seribu kata.

Kata-kata dan gerak-isyarat tubuh digunakan dalam adorasi dengan maksud untuk melaksanakan tindakan yang mengungkapkan keseluruhan pribadi orang yang melakukan adorasi tersebut. Dalam tindakan adorasi, sebenarnya kita mengakui dan menunjukkan status kita sebagai makhluk ciptaan. Kita yang penuh dengan keterbatasan berhadapan dengan Dia yang tanpa batas. Sebagai makhluk kita bersembah sujud di hadapan sang Pencipta: kita mengakui Allah sebagai sang Sumber. Kita berasal dari Dia, dan dalam kebersatuan dengan segenap umat manusia dan setiap makhluk hidup lainnya, kita berterima kasih kepada-Nya untuk kehidupan yang telah kita terima dari Dia. Itulah tepatnya alasan mengapa Fransiskus membuat beberapa tambahan pribadi atas rumusan penghormatan salib: di semua gereja-Mu yang ada di seluruh dunia.

Bagi Fransiskus, kata ganti orang pertama jamak “kami” merupakan semacam “harga mati” dan sungguh berarti bagi dirinya. Ia tidak dapat menyembah Allah sendirian saja dan hanya di dalam satu gereja saja, melainkan harus menyembah Allah dengan semua orang yang telah ditebus dan di dalam semua gereja yang ada di seluruh dunia. Inilah tanggapan Fransiskus terhadap universalitas dari penebusan Kristus yang ditunjukkan di mana-mana dalam dunia oleh kehadiran gereja-gereja dan salib-salib, sebagai kesaksian bahwa karena penebusan Kristuslah dunia menjadi tempat yang baik kembali. Ini adalah kurang lebih pandangan   E. Jungclaussen yang dikutip oleh Pater Leonard Lehman OFMCap. (LL I, hal. 108).

Di mana-mana di dunia ada gereja-gereja dan salib-salib Kristus dalam berbagai bentuk, tanda-tanda kelihatan yang mengungkapkan bahwa dunia telah ditebus oleh-Nya dan diberkati-Nya. Dengan penuh rasa syukur kita seyogianya menyatukan diri kita masing-masing dengan semua orang yang telah ditebus oleh-Nya dalam sikap dan tindakan penyembahan kepada-Nya. Dengan demikian, tanda salib yang kita buat akan sungguh- sungguh bermakna. 

… dan kami memuji Engkau … 

Sebagian besar doa-doa orang kudus ini merupakan doa penyembahan, pujian dan ucapan syukur.[6] Doa-doa permohonan merupakan bagian kecil saja dari doa-doanya. Dia menyembah Allah, memuji-muji-Nya dengan menyebutkan atribut-atribut Allah, mengungkapkan segala keajaiban karya-karya-Nya, seperti yang dilakukan oleh sang pemazmur. Fransiskus berterima kasih penuh-syukur akan segala ciptaan Allah dan segala kebaikan-Nya. Bagi Fransiskus – dan tentunya bagi kita semua – penebusan-Nya merupakan tanda bahwa Dia tidak pernah mengabaikan, membuang, apalagi meninggalkan ciptaan-Nya, dan Dia tidak berkeinginan untuk melihat siapa saja mengalami kebinasaan. Dengan demikian Fransiskus terus-menerus menekankan titik sentral sejarah, yaitu peristiwa mahapenting yang mengubah dunia, yaitu penebusan-Nya.

Frase dalam bahasa Latin “dan kami memuji Engkau” berbunyi “et benedicimus tibi”, yang terjemahan bahasa Inggrisnya berbunyi: “and we bless You (Thee)”.  Arti populer dari kata kerja Inggris to bless adalah “memberkati”, “menguduskan (to sanctify)”, memohon dengan sangat pertolongan [ilahi] atau perlindungan atas seseorang atau sesuatu (to implore [divine] assistance or protection on someone or something). Oleh karena itu ada sejumlah orang yang bertanya, bukankah sebaliknya yang seharusnya terjadi? Yesuslah yang memberkati kita, menguduskan kita dan seterusnya; bukan kita yang memberkati atau menguduskan Yesus dan seterusnya. Itulah kesulitan dalam bahasa Inggris dan juga bagi siapa saja dari kita yang membatasi arti kata Inggris to bless sebagai “memberkati”. Pater Antonio-Maria Rosales OFM mengatakan, bahwa kata dalam bahasa Latin benedicere (bene + dicere)  kurang mengandung unsur konflik. Maka et benedicimus tibi atau and we bless You secara sederhana dapat diartikan “berbicara baik tentang” (to speak well of), dengan demikian dapat  juga diartikan “memuji” (to praise), “memuliakan” (to glorify) dan tentunya “bersyukur/berterima kasih” (to thank). Dengan demikian to bless Christ berarti berterima kasih kepada Kristus (bukan memberkati Kristus). Patut dicatat, bahwa terjemahan-terjemahan dalam bahasa Inggris selalu menggunakan kata to bless dan bukan to praise. Maka Pater Antonio-Maria Rosales OFM memberikan kepada kita doa Adoramus te dalam bahasa Inggris menurut versinya:”We adore You, Lord Jesus Christ, here and in all your churches  throughout the world, and we thank You, because by your holy cross you have redeemed the world” (AMR, hal. 12).

… sebab Engkau telah menebus dunia dengan salib-Mu yang suci … 

Ini adalah motif terdalam untuk penyembahan, alasan sesungguhnya bagi Fransiskus mengapa dia menggunakan kata ganti orang pertama jamak “kami” dengan mana dia memperluas adorasi sehingga  mencakup semua gereja juga. Allah telah menebus seluruh dunia: dan Kristus telah menjadi pusat ciptaan sejak penyaliban di Kalvari, kebangkitan-Nya dan turunnya Roh Kudus. Ia adalah segalanya untuk setiap orang (baca Ef 1).  Tanggapan Fransiskus terhadap Penebusan dunia adalah untuk berdoa dengan menggunakan kata ganti orang pertama jamak dan untuk menyembah Allah di seluruh dunia. Acuan khusus kepada sebuah gereja dan salib, dikombinasikan dengan maksudnya yang universal, membuat doa Fransiskus menjadi istimewa-mencolok. Sementara  konsep kehadiran Allah di mana-mana (Inggris: omnipresence) tidak perlu berkaitan dengan sebuah tempat tertentu atau dunia itu sendiri, tetapi yang pasti ditunjukkan oleh salib sebagai tanda-keselamatan, ditinggikan oleh kerahiman-Nya.

Karena salib Kristus telah menyembuhkan keterpisahan yang tidak menyenangkan antara sang Pencipta dan makhluk-makhluk-Nya, maka Fransiskus mampu menyusun Nyanyian Saudara Matahari, kidungnya yang memasukkan semua ciptaan. E. Jungelaussen mengatakan, “Memuji berarti bersukacita karena sang Pencipta dan Penebus telah memulihkan kesatuan ciptaan, suatu kesatuan yang selalu jelas bagi Fransiskus” (LL I, hal 110).

Kita dapat melihat bahwa rumusan penyembahan, “Kami menyembah Engkau …”, merupakan unsur dasar dalam hidup spiritual Fransiskus. Hampir sejak awal pertobatannya, Fransiskus menyembah Tuhannya dengan kata-kata dan gerakan isyarat tubuh (Inggris: body gesture), suatu bentuk penyembahan yang sering digunakannya dan untuk jangka waktu lama, sehingga menjadi aspek fundamental hidup doanya.

CATATAN PENUTUP 

Dua buah doa pertama Fransiskus adalah doa-doa di depan Salib, namun karakternya masing-masing berbeda. “Doa di depan Salib” adalah sebuah doa pribadi dengan menggunakan kata ganti orang pertama tunggal “aku”. Doa ini berasal dari masa-masa ketika Fransiskus sedang mencari-cari serta menanti-nantikan petunjuk ilahi, dan berdoa untuk mengetahui jalan hidupnya yang baru, dan kemudian menerima dari Kristus yang tersalib perintah untuk pergi dan memperbaiki rumah-Nya. Pater Bertulf van Leeuwen OFM menyatakan bahwa, sebagai sebuah doa pribadi tidak mudahlah doa ini digunakan dalam hidup komunal. Menurut dia, doa ini juga tidak begitu mudah untuk digunakan untuk keperluan pribadi (BL, hal. 104).

Sebaliknyalah dengan doa Adoramus te. Dengan menggunakan kata ganti orang pertama jamak “kami”, doa ini dapat dikatakan bersifat komunal. Doa ini digunakan oleh para saudara dalam perjalanan-perjalanan mereka: ketika mereka melihat sebuah gereja atau salib, mereka akan bersembah-sujud kepada Kristus yang tersalib dan memuji Dia di tempat itu, sebuah tempat Tuhan dan di mana saja di dunia. Dengan membaca dan memeditasikan doa ini dalam bentuknya yang original dan dalam konteks historis pengalaman Fransiskus dan para saudaranya yang awal, maka kita akan lebih dalam lagi dipersatukan dengan mereka yang ada pada awal gerakan Fransiskan. Oleh karena itu sangat disayangkanlah apabila doa ini dibiarkan hilang lenyap atau menjadi latar belakang saja dalam kehidupan dalam kehidupan spiritual kita, para Fransiskan (bdk BL, hal.104).

Doa Adoramus te merupakan sebuah tanda kesinambungan-historis dari Ordo yang didirikan oleh Santo Fransiskus dari Assisi; sebuah doa yang melampaui batas-batas negara/bangsa (lihat LLI, hal. 105). Di samping itu, patut diingat bahwa doa Adoramus te bukanlah sebuah doa “biasa-biasa” saja seperti halnya kalau dilihat secara sepintas lalu. Doa ini mewujudkan kekayaan pemikiran dan spiritualitas Fransiskus, karena bersifat KRISTOSENTRIS secara mendalam, bahkan ketika kita mengagumi kesederhanaannya yang luar biasa (lihat AMR, hal. 12). Doa ini adalah murni sebuah doa penyembahan, pujian dan ucapan syukur … tanpa embel-embel permohonan sedikit pun. Baik doa Adoramus te maupun doa “di depan Salib” San Damiano berasal-usul dari suatu suasana dan pengalaman Fransiskus yang istimewa, yaitu Gereja (bdk LL II, hal. 53-54). 

LATIHAN PRAKTIS 

Berikut ini adalah beberapa pokok untuk latihan praktis yang disadur dari LL I, hal. 110-112 dan LL II, hal. 64-67.

1.    Doa Adoramus te ini menunjukkan kepada kita bagaimana Fransiskus menggunakan doa-doa tradisional, tidak mengulang-ulanginya secara mekanistis, namun menguasai sepenuhnya makna doa-doa itu lewat meditasi-meditasinya yang mengambil waktu tidak singkat. Dengan cara ini, Fransiskus dibuat mampu untuk menggunakan doa-doa itu secara kreatif dengan tambahan-tambahan dan penyesuaian-penyesuaian.

Kita juga dapat melihat, bahwa dengan sedikit perubahan dalam kata-kata sebuah yang sudah familiar akan   membantu kita berdoa dengan lebih baik. Kita dapat memanfaatkan berbagai alternatif yang disediakan oleh Liturgi untuk kita. Sekali-kali kita dapat memperoleh manfaat dengan mempersingkat doa Ofisi; misalnya dengan mendaraskan satu mazmur saja dalam Ibadat Sore, namun mendoakannya secara meditatif dan secara tidak terburu-buru, dan seterusnya. Teristimewa dalam doa pribadi, kita harus belajar bagaimana menggunakan berbagai teks liturgis secara lebih kreatif, dengan memasukkan ke dalamnya “semangat dan hidup” yang baru.

2.    Kita dapat mengucapkan doa Adoramus te ini ketika memasuki gereja  dan dengan perlahan-lahan berlutut. Kita juga dapat bersembah sujud di depan salib di gereja atau kapel dalam keheningan (pada waktu tidak ada Misa Kudus). Gerak isyarat tubuh dapat membantu kita mengidentifikasikan diri lebih dekat lagi dengan doa ini. Sikap tubuh seperti bertekuk lutut, sembah sujud dan lain-lain dapat meningkatkan kesadaran kita akan kehadiran Tuhan.

3.    Karena kelemahan manusiawi kita, maka kita membutuhkan bentuk-bentuk dan rumusan-rumusan tertentu. Kita akan melihat bahwa sungguh membantulah apabila kita mempunyai suatu waktu yang telah ditentukan untuk doa penyembahan (adorasi) dalam keheningan; atau kita dapat “menghafal” sebuah doa singkat yang kita dapat ucapkan dan meditasikan dengan seringkali, di mana saja. Nah, doa Adoramus te merupakan salah satu doa yang cocok untuk maksud itu.

4.    Orang-orang Kristiani perdana biasa berdoa dengan tangan-tangan terentang. Dengan menggambarkan Fransiskus berdoa dengan cara seperti ini, banyak seniman  telah menunjukkan dengan gamblang devosi-salib orang kudus ini. Gambar Fransiskus yang telah dikaruniai dengan stigmata, berdoa dengan tangan-tangan terentang dengan jelas mengingatkan kita pada Dia yang merangkul seluruh dunia ketika merentangkan tangan-tangannya pada kayu salib di Kalvari. Banyak rumah (biara) komunitas religius tetap mempertahankan kebiasaan berdoa Adoramus te sambil merentangkan kedua tangan. Praktek ini jangan sampai hilang, seakan-akan hanya merupakan suatu tindakan atau kebiasaan kuno. Sebaliknya, hal ini harus dipandang dan didorong sebagai suatu praktek yang otentik, efektif dan bentuk doa yang sangat pribadi. Apabila kita mempunyai kebiasaan berlutut dalam doa dengan tangan-tangan terentang, kita memperdalam cinta-kasih kita dalam penyerahan diri kepada Allah dan dalam merangkul setiap orang tanpa kecuali. Dengan berjalannya waktu, kita akan menjadi lebih dan lebih serupa lagi dengan Dia yang sedang kita teladani dengan postur ini pada waktu berdoa. Fransiskus adalah bukti hidup dan meyakinkan bahwa hal ini benar.

KEPUSTAKAAN: 

  1. Regis Amstrong OFMCap., J.A. Wayne Hellmann OFMConv. & William Short OFM (Editors), FRANCIS OF ASSISI: EARLY DOCUMENTS – THE   Volume I), New York, NY: New City Press, 1999. [RA I]
  2. Regis Amstrong OFMCap., J.A. Wayne Hellmann OFMConv. & William Short OFM (Editors), FRANCIS OF ASSISI: EARLY DOCUMENTS – THE FOUNDER Volume II), New York, NY: New City Press, 2000. [RA II]
  3. Santo Bonaventura, “RIWAYAT HIDUP ST. FRANSISKUS”, (Terjemahan P. Y. Wahyosudibyo OFM), Jakarta: SEKAFI, 1990.
  4. Thomas dari Celano, ST. FRANSISKUS DARI ASISI (Riwayat Hidup yang Pertama & Riwayat Hidup yang Kedua (sebagian) –terjemahan P.J. Wahjasudibja OFM), Jakarta: Sekafi, 1981.
  5. FIORETTI DAN LIMA RENUNGAN TENTANG STIGMATA SUCI, Jakarta: Sekafi, 1997 (Cetakan pertama).
  6. Hilarin Felder OFMCap., THE IDEALS OF ST. FRANCIS OF ASSISI (translated by Berchmans Bittle OFMCap.), 800th Anniversary Edition, Chicago, Illinois: Franciscan Herald Press, 1982. [HF]
  7. G.P. Freeman/ H. Sevenhoven, THE LEGACY OF A POOR MAN – COMMENTARY ON THE TESTAMENT OF FRANCIS OF ASSISI II, dalam Franciscan Digest – A Service for Franciscan Spirituality, December 1993, Vol. III, No.2. [GPF]
  8. C. Groenen OFM (Penerjemah, pemberi pengantar dan catatan), KISAH KETIGA SAHABAT – RIWAYAT HIDUP SANTO FRANSISKUS DARI ASISI, Jakarta: Sekafi, 2000 (Cetakan Pertama). [K3S]
  9. Marion Habig OFM (Editor), ST. FRANCIS OF ASSISI – OMNIBUS OF SOURCES, Fourth Revised Edition, Quincy, Illinois: Franciscan Press –Quincy College, 1991. [OMNIBUS]
  10. Michael Hubaut OFM, CHRIST, OUR JOY – LEARNING TO PRAY WITH ST. FRANCIS AND ST. CLARE (terjemahan ke dalam bahasa Inggris oleh Paul Barret OFMCap.), Greyfriars Review, Supplement to Vol. 9 – 1995. [MH]
  11. Mgr. Leo Laba Ladjar OFM (Penerjemah, pemberi pengantar dan catatan), “KARYA-KARYA FRANSISKUS DARI ASISI”, Jakarta: SEKAFI, 2001. [LLL]
  12. Bertulf van Leeuwen OFM, TWO PRAYERS OF ST. FRANCIS BEFORE THE CROSS, dalam TAU – Review on Franciscanism, Vol. VI, No. 3, October 1981. Terjemahan dari TWEE GEBEDEN VAN FRANCISKUS VOOR HET HEILEGE KRUIS  dalam Franciskaans Leven, 64 (1981). [BL]
  13. Leonard Lehman OFMCap., WE ADORE YOU, LORD JESUS CHRIST, dalam Greyfriars Review, Vol. 11, Number 2, 1997. [LL I]
  14. Leonhard Lehman OFMCap., FRANCIS MASTER OF PRAYER, New Delhi, India: Media House, 1999. [LL II]
  15. Antonio-Maria Rosales OFM, THE “ADORAMUS TE”: REFLECTIONS ON A PRAYER OF ST. FRANCIS, dalam Contact, Franciscan Institute of Asia, April 1996. [AMR]
  16. AD OFS 1978 dan Kitab Suci. 

DEUS MEUS ET OMNIA 


*)Disusun oleh Sdr. F.X. Indrapradja OFS untuk digunakan dalam pertemuan OFS Persaudaraan Santo Thomas More pada Hari Minggu Biasa XIII, tanggal   28 Juni 2009. Cilandak, Pesta Santo Antonius dari Padua, Sabtu tanggal 13 Juni 2009.

[1] “Totus non tam orans, quam oratio factus”  (dipetik dari HF, hal. 386).

[2] Mengenai hubungan Fransiskus dan Salib Kristus, bacalah tulisan  Sdr. Frans X. Indrapradja OFS, KRISTUS YANG TERSALIB DAN SANTO FRANSISKUS, dalam Perantau – Majalah Intern Fransiskan Indonesia, Th. XXIV, No. 2, Maret-April 2001, hal. 63-73.

[3] Teks bahasa Inggris: “the love of him who loved us greatly is greatlty to be loved!” (RA II, hal. 596); “Greatly to be loved is His love, who loved us so greatly” (Omnibus, hal. 698). Teks terjemahan Pater Y. Wahyosudibyo OFM berbunyi: “kita harus menaruh cinta kepada cintakasih Tuhan yang amat mencintai kita” (hal. 57).

[4] Pada masa itu Yesus yang tersalib mempunyai suatu tempat sentral dalam gereja-gereja. Tabernakel untuk menyimpan Hosti Kudus belum dikenal. Siapa saja yang pergi ke sebuah gereja dan melakukan meditasi di dalam gereja itu, akan memandangi Yesus yang tersalib (lihat GPF, hal. 81).

[5] “We adore you, O Christ, and we bless you, because by your cross you have redeemed the world.” Lihat catatan kaki a. dalam RA I, hal. 125 bdk LL I, hal. 102.

[6] Lihat tulisan saya yang berjudul DOA-DOA PRIBADI DALAM KEHIDUPAN SEORANG FRANSISKAN SEKULAR (Dokumen No. UMUM/OFS/S. THOMAS MORE/2009/02), hal. 7-8.

About these ads