SANTA ANGELA MERICI (1474-1540)

(Pendiri Ordo Santa Ursula; Pesta 27 Januari 2010) 

Setiap tanggal 27 Januari Gereja merayakan pesta Santa Angela Merici. Angela adalah pendiri ordo suster-suster Ursulin (OSU). Ia dilahirkan di Desenzano, sebuah kampung di dekat Lago Garda yang indah di Italia Utara. Melalui karya ordonya ini banyak anak mengenal Kristus dan mengikuti jejak-Nya. Hidupnya di masa kecil yang berbahagia di tengah sebuah keluarga petani diganggu oleh kematian tragis-mendadak ayah dan ibunya. Pada saat itulah jiwa Angela yang sedang gelisah dipenuhi oleh kasih ilahi, sehingga dia sadar tidak akan sendirian karena memiliki Allah sebagai Bapa. Angela dan seorang saudarinya dengan siapa dia syering aspirasi-aspirasi suci dan praktek kesalehan, kemudian pindah ke rumah seorang paman yang kaya. Secara tak disangka-sangka saudarinya juga meninggal dunia. Sekali lagi dipenuhi kesedihan dan kegalauan, Angela mohon kepada Allah untuk diberikan suatu tanda. Pada suatu hari, di lapangan terbuka dia melihat langit terbuka dan di situ kelihatanlah saudarinya bersama Santa Perawan Maria. Mereka terlihat gilang-gemilang penuh kemuliaan. 

Setelah kematian pamannya, Angela kembali ke rumahnya yang dulu, tapi kali ini sebagai seorang anggota Ordo Ketiga Santo Fransiskus (Sekarang: OFS = Ordo Franciscanus Saecularis). Banyak perempuan muda ikut terlibat dalam karya kerasulan bersama Angela, yaitu menolong orang sakit dan mengajar katekismus kepada anak-anak yang dikuatirkan akan kehilangan iman mereka disebabkan oleh gelombang humanisme yang semakin hebat. Perempuan-perempuan muda dan anak-anak itu, semuanya mencintai Angela yang bagi mereka adalah seorang yang lemah lembut, manis dan penuh sukacita. Tidak lama kemudian semakin banyak anak-anak datang ke rumah itu untuk belajar dan bermain. Mereka pun  kemudian membawa serta orangtua mereka untuk semakin dekat pada sakramen-sakramen. Pada masa itu iman umat sudah begitu lemah, sehingga seseorang dinilai memiliki iman kuat jika sudah menerima komuni kudus setahun sekali. Angela berpuasa dan berdoa untuk siapa saja dalam kota yang kelihatan sudah kecanduan dengan hal-hal yang jahat. Banyak dari mereka yang kemudian bertobat dan kembali ke pangkuan Gereja. 

Dalam melakukan discernment untuk mengetahui apakah kehendak Allah atas dirinya, Angela memperoleh suatu penglihatan bahwa dia akan mendirikan sebuah ordo suster-suster di Brescia. Angela memang mengenal sebuah keluarga kaya dari Brescia yang setiap musim panas pergi berlibur ke Lago Garda. Pada waktu keluarga ini sedang berkabung karena kematian seorang anggotanya, mereka mendesak agar Angela mampir ke Brescia untuk menghibur mereka. Selagi di Brescia, Angela tidak menyia-nyiakan waktunya untuk mengurusi orang-orang sakit. Namun hasratnya yang berkobar-kobar adalah untuk melawan gelombang ajaran sesat. Ia bertanya kepada dirinya sendiri: “Apakah yang dapat dilakukan oleh seorang gadis yang tidak berpendidikan?”  Roh Kudus, yang tahu bagaimana menggunakan orang-orang sederhana untuk mengacau-balaukan mereka yang bijak-berhikmat, kemudian mencerahkan pikiran Angela sehingga dia dapat membaca Ofisi Ilahi (Ibadat Harian) yang ditulis dalam bahasa Latin. Setelah mukjizat ini, banyak sekali orang-orang dari kota Brescia dan sekitarnya datang bertemu dengan Angela – termasuk para teolog – untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan dan keraguan mereka. 

Angela didesak oleh para pengikutnya untuk mendirikan sebuah ordo suster-suster yang bergerak di bidang pendidikan, namun dia masih merasa belum pantas untuk tugas seperti itu. Lalu Angela pergi berziarah ke Tanah Suci untuk melakukan discernment. Namun celaka, pada awal perjalanan ziarah secara tiba-tiba matanya menjadi buta. Musibah ini tidak hanya membuatnya tidak mampu melihat tempat-tempat bersejarah di mana Yesus berjalan bersama para murid, mengajar dan wafat, melainkan juga menghilangkan segala kemungkinan baginya untuk mendirikan sebuah ordo biarawati di bidang pendidikan. Akan tetapi, Allah yang disembahnya memang mahakuasa dan penuh belaskasih. Angela dipulihkan dari kebutaannya di tengah perjalanan pulang, yaitu di sebuah tempat berdoa di pulau Kreta. Sepulangnya di Italia, Angela mendirikan ordo biarawati seperti dimimpikannya. Sebagai pelindung ordo dia memilih Santa Ursula. Santa Ursula  dari Köln dan beberapa kawannya (sebelum abad ke-4) menjadi martir demi iman-kepercayaan mereka akan Kristus dan demi mempertahankan keperawanan mereka. Para suster ordo ini kemudian dikenal sebagai para SUSTER URSULIN, didirikan pada tanggal 25 November 1535. 

Ketika mencapai umur 70 tahun, kepada Angela diwahyukan hari dan jam kematiannya. Dia menerima sakramen-sakramen terakhir dengan penuh semangat. Sebelum wafatnya, Angela dalam ekstase penuh sukacita berkata: “Ke dalam tangan-Mu kuserahkan rohku”. Ketika wafat Angela tidak mengenakan pakaian seperti para pengikutnya (pada waktu itu memang mereka belum mengenakan pakaian biara), melainkan mengenakan pakaian berwarna coklat yang disayanginya, tanda bahwa dia adalah seorang anggota Ordo Ketiga Santo Fransiskus. Tangannya memegang tongkat peziarah yang digunakannya di Tanah Suci. Jenazahnya dimakamkan di kapel gereja Santa Afra di Brescia. 

Paus Clement XIII membeatifikasikannya dan pada tanggal 24 Maret 1807 Paus Pius VII mengkanonisasikannya sebagai orang kudus Gereja di gereja Santo Petrus, Roma. 

Dari tahun ke tahun, dekade demi dekade, abad demi abad, Ordo Ursulin berhasil merambah ke segala penjuru dunia, termasuk Indonesia. Siapa yang tidak kenal motto “SERVIAM”, sebuah motto para suster Ursulin dan anak-anak didik mereka?  Cita-cita Angela adalah sama dan sebangun dengan cita-cita para anggota keluarga besar Fransiskan lainnya: “Hidup di tengah-tengah dunia, tetapi bukan dari dunia”, sesuai dengan apa yang diajarkan dan dicontohkan oleh Santo Fransiskus dari Assisi. Melayani, melayani, sekali lagi melayani! Sampai hari ini para pengikut Santa Angela yang bukan biarawati masih ada, mereka disebut Angelin.  

Akhirnya, marilah sekarang kita renungkan apa yang ditulis oleh orang kudus ini: “Saudari-saudariku yang terkasih, kita adalah anak-anak para kudus. Kita mencari tanah ke mana mereka telah pergi dan cintakasih kita adalah untuk Tuhan kita yang memerintah di tanah itu. Akan tetapi jalan menuju tanah itu adalah jalan penyangkalan-diri dan penderitaan. Demikianlah Dia, Kekasih kita, menempuh jalan itu dan menarik para kekasih-Nya untuk mengikuti-Nya. Kita termasuk di antara mereka yang mengikuti-Nya. Kita sekarang sedang menabur benih, namun akan menuai panen apabila Allah menentukan sudah tiba saatnya, asal saja kita tidak menyerah di tengah jalan.” “Lakukanlah sekarang, lakukanlah sekarang, apa yang anda ingin agar anda telah lakukan pada saat kematianmu.” 

Sumber: Marion A. Habig OFM, The Franciscan Book of Saints, Michael Walsh (Editor), Butler’s Lives of the Saints, dan beberapa lagi.  

Cilandak, 23 Januari 2010 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS