SANTO LUDOVIKUS IX (1214-1270; Pesta 25 Agustus) 

You should permit yourself  to be tormented by every kind of martyrdom before you allow yourself to commit a mortal sin. (Saint Louis IX , King of France) 

Sumber: Ronda de Sola Chervin, QUOTABLE SAINTS, hal. 196 

Pada tanggal 25 Agustus kita merayakan Pesta Santo Ludovikus IX. Ia (Louis IX, Lodewijk IX) adalah raja Perancis dan orang kudus pelindung para Fransiskan sekular. Selamat pesta kepada Saudara-saudari sekalian anggota keluarga besar Fransiskan, khususnya para Fransiskan sekular, dan teristimewa saudara-saudari anggota persaudaraan OFS Santo Ludovikus IX, Jakarta Pusat. 

Ada banyak cerita tentang Louis IX ini. Namun dalam tulisan berikut ini hanya akan diambil beberapa penggalan riwayat hidupnya saja, sekadar untuk mengenang kembali kehidupan orang kudus ini. Maksud dan tujuannya adalah agar paling sedikit membuat kita tidak melupakan ‘manusia macam apa santo pelindung OFS ini’, dan apa saja yang dapat kita teladani dari hidupnya sebagai seorang insan yang bertekad untuk mengikuti jejak Kristus seturut teladan Bapak Serafik. Semoga cerita tentang Louis IX ini mampu sedikit menggugah keberadaan kita sebagai Fransiskan pada umumnya dan Fransiskan sekular khususnya. 

Louis berusia 8 tahun pada waktu kakeknya Philip II Augustus meninggal dunia, peristiwa mana membuat ayahnya diangkat menjadi Raja Louis VIII. Louis dilahirkan di Poissy pada tanggal 25 April 1214. Ibundanya bernama Blanche, puteri dari pernikahan Alfonso dari Castile dengan Eleanor dari Inggris. Pendidikan yang baik dari Louis IX adalah berkat jasa sang ibu, kendati banyak sekali keutamaan/kebajikan yang dimiliki oleh Louis IX dapat dikatakan hanya berasal dari Allah dan berkat rahmat-Nya semata. 

Raja yang belum dewasa dalam usia (1226-1234). Raja Louis VIII wafat pada tanggal 7 November 1226 dan Ratu Blance dideklarasikan sebagai wali bagi puteranya, Raja Louis IX, yang pada waktu itu baru berumur 12 tahun. Masa pemerintahan Louis IX yang masih kecil banyak diramaikan dan diganggu oleh berbagai intrik istana para pangeran yang berambisi dan ingin mengambil keuntungan dari sang raja yang masih muda usia itu, namun Ratu Blanche – lewat aliansi-aliansinya dengan berbagai kekuatan – berhasil mengatasi intrik-intrik tersebut dengan baik. Semua ini dilakukan oleh sang ratu dengan keberanian dan upaya yang giat tanpa kenal lelah. Ratu Blance memang mampu memerintah dengan bijaksana. Louis IX sangat mengagumi serta menghormati ibundanya, dan dia sungguh bersikap sangat sabar menghadapi ibundanya yang juga mempunyai sifat dan sikap pribadi yang dapat dikatakan negatif, seperti sifat keras-kepala, suka mendominir dan posesif, yang antara lain diungkapkan dalam sikap dan perlakuannya kelak terhadap Margaret, menantunya. 

Sementara ibundanya sibuk dengan urusan pemerintahan, kepada Louis IX diberikanlah segala macam pendidikan yang diperlukannya sebagai seorang raja ‘beneran’ kalau beranjak dewasa kelak. Di antara para instrukturnya terdapat beberapa orang saudara-dina (Fransiskan). Belakangan raja yang masih muda ini pun bergabung ke dalam Ordo Ketiga Santo Fransiskus (sekular) 

Louis IX sendiri dikenal sebagai seorang pemurah, bahkan terhadap para pemberontak. Ia siap menerima usulan-usulan untuk berdamai, hal mana menunjukkan bahwa dia tidak memiliki sifat serta sikap balas-dendam atau ingin menaklukkan orang lain agar bertekuk-lutut di bawah kakinya. 

Raja yang  sudah dewasa (1234 dan selanjutnya). Ketika berusia 20 tahun Louis IX menikahi Margaret (27 Mei 1234), puteri sulung dari Raymund Berenger, Pangeran dari Provence. Puteri kedua sang pangeran, Eleanor, menikah dengan Raja Henry III dari Inggris; sedangkan puterinya yang ketiga, Sanchia, menikah dengan saudara Raja Henry III yang bernama Richard dari Cornwall; dan puterinya yang bungsu, Beatrice, menikah dengan Charles, saudara laki-laki dari Louis IX. Wah hebatnya Pangeran Raymund Berenger ini: semua puterinya menikah dengan mereka yang berdarah biru. Pernikahan antara Louis IX dan Margaret sendiri diberkahi dengan 11 orang anak: 5 putera dan 6 puteri. 

Raja yang suci dan sederhana. Louis IX tidak memiliki toleransi terhadap percakapan kotor, tidak sabar dan sumpah serapah di antara para  petugas istana. Segala yang mewah dan gemerlapan dijauhkan dari istana. Sehari-harinya Louis mengenakan jubah raja yang sederhana dan dia selalu mengenakan insignia tanda keanggotaannya sebagai seorang anggota Ordo Ketiga Santo Fransiskus. Ia juga melakukan devosi khusus kepada sengsara Yesus. Kehidupan mati-raganya juga patut dicatat. Ia juga berdoa bersama keluarganya secara rutin. 

Raja yang murah hati. Salah satu ciri pribadi baik dari Louis IX adalah kemurahan-hatinya yang luarbiasa terhadap orang-orang miskin. Sudah menjadi pengetahuan umum, baik sebelum maupun sesudah masa Louis IX, bahwa para raja terus menumpuk kekayaan mereka dengan segala cara. Namun tidak demikianlah halnya dengan Raja Louis IX, yang kelihatannya semakin menciut kekayaannya. Raja Louis IX bukanlah seorang yang kaya. Sumber utama pendapatannya adalah penghasilan dari tanah-tanah miliknya yang tidak banyak. Namun dia banyak memberi dari apa yang dimilikinya. Joinville, penulis riwayat hidupnya yang menemani raja selama 22 tahun, menulis: “Dari sejak masa kanak-kanaknya, Louis memiliki belarasa terhadap orang-orang miskin dan menderita, dan adalah kebiasaan bahwa ke mana saja dia pergi, enam orang miskin harus dilayani dalam rumahnya dengan roti, anggur dan daging atau ikan setiap harinya.” (The Secular Saints, hal. 413). Raja biasanya menunggu orang-orang miskin sampai duduk pada meja makannya. Dia akan memotong daging bagi orang-orang miskin yang tidak dapat melakukan hal itu, dan dia akan memberikan mereka uang logam pada saat mereka mau meninggalkan tempat makan. Raja juga memelihara catatan tentang orang-orang  yang membutuhkan pertolongan di setiap provinsi yang berada di bawah kekuasaannya, dan secara teratur dia menolong mereka. Joinville menulis: “Hospitalitas istananya begitu santun, murahhati dan berkelimpahan, hal seperti itu sudah lama tidak dikenal di istana para pendahulunya.” (The Secular Saints, hal. 414). 

Raja yang dermawan. Kedermawanan Louis mencakup banyak bidang: Dia menolong tarekat-tarekat religius dalam hal pendirian biara dan lain sebagainya; dia membantu perempuan-perempuan yang hendak menikah dengan menyediakan ‘mas kawin’ yang diperlukan; dia mendirikan rumah bagi perempuan-perempuan tunawisma di dekat Paris; dia mendirikan rumah bagi para perempuan mantan pekerja seks yang telah bertobat; dia juga membangun beberapa rumah sakit. 

Seorang Servant-Leader. Louis suka mengunjungi rumah-rumah sakit ini. Di rumah sakit Louis akan melibatkan dirinya dalam pelayanan bagi para pasien, dalam tugas-tugas pelayanan ‘kecil’ yang kelihatan tak berarti. Karena pada dasarnya dia hendak merahasiakan tindakan-tindakan karitatifnya, maka dia sangat senang menolong orang-orang buta, sehingga mereka tak dapat menolong sang ‘dewa penolong’. 

Seperti Bapak rohaninya, Santo Fransiskus dari Assisi, Louis juga terlibat dalam karya perawatan orang kusta, yang pada abad pertengahan dipandang seorang warga masyarakat yang paling hina. Salah satu favoritnya adalah seorang rahib kusta dari Biara Royaumont. Pada  waktu Louis menyadari bahwa wajah rahib itu semakin rusak karena penyakit kustanya, maka dia seringkali mengunjunginya, memberinya makan (menyuapinya) dan melayaninya dalam hal-hal lain. 

Pada suatu hari Louis bertanya kepada Joinville, apakah dia lebih suka menjadi seorang penderita kusta atau seseorang yang telah berbuat dosa berat. Dengan cepat Joinville menjawab bahwa dia lebih suka melakukan 30 dosa berat daripada menjadi seorang kusta. Mendengar jawaban itu Louis kelihatan tidak senang, lalu berkata: “Tidak ada kusta yang begitu buruk seperti dosa berat, karena jiwa yang berada dalam keadaan dosa berat adalah seturut gambaran Iblis. Sesungguhnya ketika seseorang itu meninggal dunia, dia disembuhkan dari kustanya, namun apabila seseorang yang telah melakukan dosa berat itu mati (tanpa  bertobat), maka…………” (The Secular Saints, hal. 414). 

Seorang wounded healer. Meskipun raja-dermawan ini sering melayani orang sakit, dirinya sendiri bukanlah sehat-sempurna. Dia adalah seorang wounded healer, kalau kita boleh menggunakan istilah Pater Henri Nouwen di sini. Namun demikian, Louis tidak pernah membuat kerentanan kesehatannya menjadi rintangan bagi dirinya untuk melakukan tugas kewajibannya. Pada tahun 1242 Louis terkena infeksi malaria, dan setelah itu dia tidak pernah sepenuhnya pulih dari penyakitnya itu. Terkadang dia juga menderita dari serangan erysipelas, penyakit demam bersifat akut yang sering menyerang wajah dan menyebabkan inflamasi pada kulit tisu-tisu di bawah kulit. 

Raja yang adil. Beberapa ketentuan hukum yang ditetapkan oleh Raja Louis IX menunjukkan betapa dia mengagungkan dan menjunjung nilai-nilai keadilan, juga dalam pelaksanaan sehari-harinya.  Pada tahun 1230 dia melarang segala macam praktek lintah darat. Sekali peristiwa ada seorang pangeran yang menghukum gantung tiga orang anak kecil yang kedapatan berburu kelinci dalam hutannya. Atas perintah Louis IX pangeran itu dijebloskan ke dalam penjara untuk kemudian diadili oleh hakim-hakim biasa, tidak oleh para bangsawan seperti diminta oleh pangeran itu. Pangeran itu dijatuhi hukuman mati, namun Raja Louis IX menggantikan hukuman mati itu dengan denda yang sedemikian besar jumlahnya sehingga sebagian besar harta miliknya hilang. Raja memerintahkan agar uang denda ini digunakan untuk membantu karya-karya keagamaan dan karitatif lainnya. 

Memimpin Perang Salib VII. Raja Louis IX adalah seorang pencinta damai, namun dia juga adalah seorang prajurit sejati di medan pertempuran. Hal ini dibuktikannya ketika dia terlibat dalam Perang Salib ke VII (1248-1254). Ia berpartisipasi dalam Perang Salib setelah mengalami kesembuhan ajaib dari semacam penyakit demam (1244). Benteng Damietta yang terletak di delta Nil dapat direbut dengan mudah. Ketika memasuki Damietta, Louis IX samasekali tidak menunjukkan sikap sombong seorang penakluk, melainkan kerendahan hati sejati seorang pangeran Kristiani. Tanpa bersepatu dia berjalan bersama permaisurinya, para pemimpin lainnya, dan yang paling depan adalah delegatus (utusan) kepausan. 

Menjadi tawanan perang. Kemudian, dalam pertempuran selanjutnya pasukan Louis IX dikalahkan tidak hanya oleh musuh, tetapi juga oleh berbagai macam wabah penyakit. Akhirnya,  pada tanggal 6 April 1250 Louis IX sendiri ditangkap di El Mansura. 

Selama berada dalam tahanan sebagai seorang tawanan perang, setiap hari Louis IX dengan setia mendoakan Ofisi Ilahi (Ibadat Harian) bersama dua orang imam-tentara, seperti halnya kalau dia sedang berada di istana sebagai seorang manusia bebas dan sehat walafiat. Berbagai cemooh dan cercaan diterimanya dengan sikap anggun dan penuh wibawa, hal mana membuat kagum para penjaga (sipir) penjara. 

Ada cerita bahwa kepada sang raja disodorkan perjanjian untuk pembebasannya dari tahanan. Dalam perjanjian itu ada klausule embel-embel bahwa kalau seandainya dia tidak dapat memenuhi persyaratan tertentu, dia harus menyangkal Kristus dan agama Kristianinya. Raja suci ini menjawab: “Kata-kata hujat seperti itu tidak pernah akan diucapkan bibirku.” Lalu Louis IX diancam dengan hukuman mati. Louis IX menjawab: “Baiklah kalau begitu. Anda dapat membunuh tubuhku, namun anda tidak akan pernah membunuh jiwaku.” Jawaban itu malah membuat para penguasa Muslim dan penjaga penjara menjadi terkagum-kagum. 

Kemudian sultan dijatuhkan oleh para pemberontak mameluk (yang beragama Islam juga). Dengan pembayaran uang tebusan akhirnya Louis IX dan para tawanan lainnya dibebaskan. Louis IX beserta sisa pasukannya kemudian berlayar menuju Tanah Suci di Palestina dan mereka berada di sana sampai tahun 1254. Ia mengunjungi semua tempat suci yang dapat dikunjungi, menyemangati umat Kristiani dan memperkuat pertahanan Kerajaan Latin di sana. Selama terlibat dalam Perang Salib, Louis IX menunjuk ibundanya sebagai wali. Setelah mendengar berita mengenai kematian ibundanya pada tahun 1254, Louis IX pun pulang ke Perancis. 

Perang Salib VIII (1270) dan akhir hayat sang Raja. Raja Louis IX dan pasukannya berangkat dari Aigues-Mortes pada tanggal 1 Juli 1270. Pada waktu armada pasukan sedang menuju Cagliari di Sardinia diputuskanlah untuk menuju Tunisia. Tidak lama setelah mendarat di Tunisia, raja dan putera tertuanya Philip terkena penyakit tiphus.  Philip sembuh, tetapi ternyata raja sedang meregang nyawa. Ia memberikan instruksi-instruksinya yang terakhir kepada  putera-puteranya dan kepada puterinya, ratu Navarre. Pada hari Minggu tanggal 24 Agustus dia menerima sakramen-sakramen terakhir. Ia memanggil para duta dan utusan gereja Yunani, dan kepada mereka dia minta dengan sangat untuk bergabung kembali dengan Gereja Roma. Dia tidak dapat berbicara pada keesokan harinya (jam 9-12). Begitu suaranya pulih, dia mengulangi lagi dengan suara keras kata-kata sang pemazmur, “Aku akan masuk ke dalam rumah-Mu (65:13); Aku hendak sujud ke arah bait-Mu yang kudus dan memuji nama-Mu (138:2).” Dia  berbicara lagi pada jam 3 siang: “Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku” (Mzm 31:6; bdk. Luk 23:46), setelah itu dia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Raja Louis IX wafat pada tanggal 25 Agustus 1270. Tulang-tulangnya dan jantungnya dibawa kembali ke Perancis oleh puteranya, Philip, dan diletakkan di tempat khusus di Gereja S. Denis, namun pada masa revolusi Perancis, relikwinya di  buat berantakan ke mana-mana. Pada hari kematian Louis IX, Philip diangkat menjadi penggantinya untuk duduk di takhta kerajaan Perancis. 

Dua perang salib yang diikuti oleh Louis IX barangkali merupakan kesalahan utama yang pernah dibuatnya. Selebihnya dia dikenal sebagai seorang raja yang berhasil menjaga perdamaian di daerah-daerah kekuasaannya. Rakyat sangat menghormatinya, mengaguminya dan sang raja juga sangat mencintai rakyatnya. Karena kesucian hidupnya, semasa hidupnya pun Louis IX sudah dipandang oleh orang banyak sebagai seorang kudus. Hal yang sama dialami oleh Bapak rohaninya, Santo Fransiskus dari Assisi. Louis dikanonisasikan oleh Paus Bonafacius VIII pada tahun 1297, 27 tahun setelah wafatnya. Bersama Santa Elisabet dari Hungaria, Santo Louis IX merupakan orang-orang kudus pelindung Ordo Franciscanus Saecularis (Ordo Fransiskan Sekular). 

SANTO LUDOVIKUS IX, DOAKANLAH KAMI !!!

 Cilandak, 24 Agustus 2009

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Sumber: (1) Ronda de Sola Chervin, QUOTABLE SAINTS; (2) Joan Carroll Cruz, SECULAR SAINTS; (3) Marion Habig OFM, THE FRANCISCAN BOOK OF SAINTS; (4) Michael Walsh (Editor), BUTLER’S LIVES OF THE SAINTS – NEW CONCISE EDITION.

LAMPIRAN

WASIAT ROHANI SANTO LUDOVIKUS IX BAGI PUTERANYA  *) 

Puteraku yang kukasihi ……… Pertama-tama aku mengajarkan kepadamu agar engkau mengasihi Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan segenap kekuatanmu; kalau engkau tidak melakukannya demikian, maka engkau tidak akan diselamatkan. Engkau harus menjaga dirimu sendiri dari segala sesuatu yang engkau tahu tidak menyenangkan Allah, yaitu dosa berat. Engkau harus siap mengalami setiap bentuk kemartiran ketimbang berdosa berat. 

Apabila Allah mengirimkan kesengsaraan kepadamu, engkau harus memikulnya, mengucapkan syukur, sadar bahwa hal itu adalah demi kebaikanmu dan barangkali itu pantas untukmu. Akan tetapi apabila Tuhan menganugerahkan hal-hal yang menguntungkan bagi dirimu, maka engkau harus dengan rendah hati berterima kasih kepada-Nya. Jagalah dirimu agar jangan sampai salah menerima pemberian-Nya, entah melalui kebanggaan yang sia-sia atau dengan cara lainnya. Engkau tidak boleh menyakitkan hati Allah justru lewat pelbagai karunia/anugerah yang telah diberikan-Nya kepadamu. 

Bantulah Ofisi Ilahi Gereja dengan devosi yang penuh sukacita. Selagi engkau berada di dalam gereja janganlah membiarkan tatapan matamu menyimpang ke mana-mana, janganlah berbicara mengenai hal-hal yang sepele, tetapi berdoalah kepada Allah dengan penuh perhatian, entah dengan bibirmu atau lewat meditasi dalam hatimu. 

Berbelarasalah terhadap orang-orang miskin, papa dan melarat serta mereka yang menderita kesusahan; sepanjang masih terletak dalam kuasamu, bantulah dan hiburlah mereka. Bersyukurlah kepada Allah untuk segala karunia yang dianugerahkan-Nya kepadamu, sehingga engkau tetap pantas untuk karunia-karunia yang lebih besar. Terhadap orang-orang yang kaupimpin, bertindaklah dengan keadilan sedemikian rupa sehingga engkau dapat memimpin lewat jalan tengah, tidak melenceng ke kiri dan tidak juga ke kanan, namun lebih berpihaklah kepada orang miskin ketimbang orang kaya sampai saat engkau pasti mengenai kebenarannya. Upayakanlah dengan sekuat-kuatnya perdamaian dan keadilan bagi orang-orang yang kaupimpin, tetapi terutama bagi para klerus dan religius. 

Taatilah dengan penuh devosi bunda kita, yaitu Gereja Roma dan hormatilah Sri Paus sebagai bapak rohanimu. Upayakanlah untuk membuang semua dosa, terutama penghinaan/ penghujatan (terhadap Tuhan) dan bidaah dari kerajaanmu. 

Akhirnya, puteraku yang kukasihi, Aku memberikan kepadamu setiap berkat yang dapat diberikan oleh seorang ayah kepada puteranya; semoga Bapa, Putera dan Roh Kudus, dan semua orang kudus, menjaga engkau dari segala kejahatan. Semoga Tuhan menganugerahkan kepadamu rahmat untuk melaksanakan kehendak-Nya, agar Dia dapat dilayani dan dihormati olehmu, sehingga setelah kehidupan di dunia ini kita bersama-sama dapat datang melihat Dia, mengasihi-Nya dan memuji-muji Dia untuk selama-lamanya. Amin.


*) Diterjemahkan oleh Sdr. F.X. Indrapradja, OFS dari bacaan kedua The Office of Reading (Ibadat Bacaan) tanggal 25 Agustus yang terdapat dalam The Divine Office III (Ibadat Harian/Ofisi Ilahi dalam bahasa Inggris). Karena Santo Ludovikus IX adalah orang kudus pelindung Ordo Fransiskan Sekular, maka ‘Wasiat Rohani’ yang aslinya diperuntukkan bagi puteranya dapat dilihat sebagai wasiat rohani bagi kita semua para Fransiskan sekular . Jakarta, 25 Agustus 1998. Teks utama dan catatan kaki diperbaiki pada tanggal 24 Agustus 2009.

Advertisements