SPIRITUALITAS FRANSISKAN *) 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Dan sesudah Tuhan memberi aku sejumlah saudara, tidak seorangpun menunjukkan kepadaku apa yang harus kuperbuat; tetapi Yang Mahatinggi sendiri mewahyukan kepadaku, bahwa aku harus hidup menurut pola Injil suci. Aku pun menyuruh tulis hal itu dengan singkat dan sederhana dan Sri Paus mengukuhkannya untukku  (Wasiat Santo Fransiskus, 14-15). 

Pax et Bonum! 

Pada kesempatan kali ini marilah kita mencoba membahas sedikit dan dengan cara sederhana perihal spiritualitas Fransiskan. Kata  ‘spiritualitas’ telah cukup sering kita dengar dalam pertemuan-pertemuan OFS, lalu kata-kata ‘spiritualitas Fransiskan’, kemudian kata-kata ‘spiritualitas Fransiskan Awam’. Baiklah sekarang kita membahas secara singkat mengenai ‘spiritualitas Fransiskan’ itu. 

Butir-butir Credo para Fransiskan awam yang  dibuat di Assisi pada tahun 1969  sesungguhnya merupakan pengungkapan spiritualitas para anggota OFS. Demikian pula Fasal 2 artikel 4 s/d 19 dari Anggaran Dasar OFS yang sebenarnya merupakan butir-butir spiritualitas OFS. Semua ini dapat dilihat dalam Lampiran I dan II tulisan ini. 

APA YANG DIMAKSUDKAN DENGAN “SPIRITUALITAS” ?

Dalam lingkup agama Kristen-Katolik, maka boleh dikatakan spiritualitas adalah cara tertentu dan khusus untuk melaksanakan kesempurnaan Injili atau jalan tertentu dan khusus menuju kesempurnaan tersebut. Spiritualitas itu mencakup (a) ajaran perihal jalan itu dan (b) kehidupan menurut jalan itu [CG, hal. 4]. Secara lebih sederhana lagi dapat dikatakan bahwa suatu spiritualitas adalah suatu cara khusus atau penekanan khusus dalam mengikuti jejak Kristus [LFJW, hal 7]. 

Di dalam Gereja Katolik misalnya orang berbicara mengenai spiritualitas Benediktin, spiritualitas Dominikan, spiritualitas Karmelit, spiritualitas Fransiskan dan banyak lagi yang satu dengan lainnya menunjukkan perbedaan-perbedaan. Juga ada suatu spiritualitas yang hanya cocok bagi kaum awam apabila dikontraskan dengan para imam atau kaum biarawan-biarawati. Kalaupun orang menerima adanya pelbagai spiritualitas didalam tubuh Gereja Katolik, hal itu tidak berarti ada beberapa kesucian Injili. Kesempurnaan Kristiani cuma satu saja untuk semua orang dan terdiri atas cinta kasih ilahi yang murni sempurna kepada Allah dan sesama manusia. Setiap spiritualitas mencari kesempurnaan yang sama dan menunjuk kepada tujuan yang sama. Dengan demikian spiritualitas-spiritualitas tidak pernah dapat berlainan dalam maksud-tujuannya. Perbedaannya hanyalah dalam hal penekanan khusus, dalam jalan menuju yang sama, dalam alat-alat yang digunakan untuk mewujudkan maksud-tujuan yang sama. Kesempurnaan Kristiani yang menjadi maksud-tujuan semua spiritualitas ialah kesempurnaan tertinggi, cintakasih murni dan bersih serta persamaan dan penyerupaan dengan Kristus [CG, hal. 4].

Perbedaan-perbedaan dalam hal jalan dan penggunaan alat-alat untuk mewujudkan maksud-tujuan antara spiritualitas yang satu dengan spiritualitas yang lain juga tidak boleh dibesar-besarkan karena perbedaan-perbedaan itupun tidak pernah bersifat hakiki [CG, hal. 4]. 

CARA FRANSISKUS 

Spiritualitas-spiritualitas yang saling berbeda-beda tadi sebagian besar tergantung pada kepribadian para pendiri dan zaman pada waktu komunitas-komunitas religius itu berkembang. Paus Pius XII menggambarkan hal itu sebagai berikut: 

“Spiritualitas orang kudus yang mana saja adalah caranya yang khusus dalam menggambarkan Allah bagi dirinya, caranya yang khusus dalam berbicara mengenai Allah, dalam mendekatiNya. Setiap orang kudus melihat sifat-sifat Allah dalam terang dari apa yang paling banyak direnungkannya, dari apa yang merasuki dirinya secara paling dalam, atau dari apa yang menarik perhatiannya dan menaklukkan dirinya. Bagi setiap orang kudus, suatu kebajikan/keutamaan khusus Kristus merupakan ideal yang harus dicapai. Namun semua orang kudus -sesungguhnya seluruh Gereja- berusaha keras untuk meniru keseluruhan Kristus” (LFJW, hal. 8). 

Seperti dikatakan tadi, suatu spiritualitas berasal dari seorang tokoh tertentu yang untuk pertama kalinya melahirkan dan melaksanakan spiritualitas itu di dalam dan dari dalam Gereja Katolik. Oleh karena itu, kalau mau mengenal spiritualitas tertentu orang harus mengenal sang tokoh pendiri sedalam-dalamnya. Dalam hal spiritualitas Fransiskan, kita harus mengenal Santo Fransiskus dari Assisi sedalam mungkin dari pelbagai sumber, antara lain dari tulisan-tulisan, terutama tulisan-tulisannya sendiri. Kita harus mengenal hidup kebatinannya, hidup keagamaan dan kerohaniannya, yang mengilhamkan serta menjiwai peristiwa-peristiwa lahiriah dari kehidupannya. 

SANTO FRANSISKUS, APAKAH DIA ISTIMEWA ?

Seorang Fransiskan pernah menulis yang berikut ini: SANTO FRANSISKUS DARI ASSISI“Kalaupun ada hal spesifik yang dapat diamati mengenai Santo Fransiskus, maka hal itu adalah keprihatinan besar Sang Santo untuk menginginkan tidak adanya sesuatupun yang spesifik”. Secara sederhana spiritualitas Fransiskus adalah ‘menepati Injil’. Namun karena Fransiskus adalah seorang pribadi yang unik dan menarik, maka kepada Gereja dianugerahkanlah suatu kharisma unik yang dinamakan orang ‘Spiritualitas Fransiskan’. Misalnya Paus Pius XII pernah berkata: 

“Lalu ada suatu doktrin Fransiskan yang mengatakan bahwa Allah itu kudus, Allah itu agung dan diatas segalanya  Allah itu baik, sesungguhnya Mahaluhur. Karena, dalam doktrin ini Allah adalah kasih. Dia hidup dengan cintakasih, menciptakan demi cintakasih, menjadi daging dan menebus, yaitu menyelamatkan dan membuat kudus, demi cintakasih. Ada pula suatu cara Fransiskan mengkontemplasikan Yesus …… dalam cinta kasih manusiawi-Nya” (LFJW, hal. 8). 

Jadi  penekanan besar dalam spiritualitas Fransiskan adalah pada kenyataan bahwa Allah adalah kasih (lihat 1 Yoh 4:8.16). Tentunya setiap orang Kristiani percaya hal ini. Namun para Fransiskan memilih untuk memberi penekanan atas kenyataan ini seperti yang dilakukan Santo Fransiskus. 

APAKAH SPIRITUALITAS FRANSISKAN LEBIH HEBAT ? 

Jawabannya adalah tidak! Seandainya wajah Santo Fransiskus di surga masih dapat menjadi merah, maka setiap kali mendengar bahwa ordonya di dunia, cara hidup atau spiritualitasnya membuat dia dan anak-anaknya (anggota keluarga Fransiskan) berada di atas orang-orang lain atau lebih hebat dari orang-orang lain, maka hal itu sungguh akan menempatkan dia dalam posisi yang tidak mengenakkan. Sesungguhnya salah satu unsur spiritualitas Santo Fransiskus adalah menjadi ‘lebih kecil’ dan para pengikutnya pun dinamakan ‘Saudara-saudari Dina’ [LFJW, hal. 8]. 

Yang patut kita camkan adalah bahwa satu spiritualitas tidak ‘superior’ atau lebih hebat dari spiritualitas yang lain. Di atas dikatakan bahwa perbedaan hakiki antara spiritualitas yang satu dengan spiritualitas yang lain  tidaklah mungkin, karena tak mungkin terdapat perbedaan dalam tujuan dan asas-asasnya. Yang dapat sangat berbeda adalah dalam hal-hal yang sambilan/aksidental saja. Spiritualitas tertentu tidak memustahilkan atau menafikkan spiritualitas yang lain. Spiritualitas yang satu tak pernah boleh dianggap sebagai satu-satunya yang baik atau sebagai yang lebih baik daripada spiritualitas lain. Dengan demikian masalahnya bukanlah baik dan buruk, lebih baik atau kurang baik, melainkan hanya perbedaan saja. Dalam semua spiritualitas semua unsur sama saja, tetapi dalam masing-masing spiritualitas tersusun secara lain. Dalam spiritualitas yang satu unsur-unsur tertentu lebih ditekankan tanpa menolak unsur-unsur lain. Dalam spiritualitas yang lain unsur-unsur lainlah yang ditekankan tanpa menyangkal unsur-unsur yang tidak ditekankan. Akibat penekanan yang berbeda-beda itu maka keseluruhan spiritualitas tertentu berbeda dengan keseluruhan spiritualitas yang lain. 

UNSUR-UNSUR SPIRITUALITAS FRANSISKAN

Pada tahapan sekarang, secara singkat sederhana dapat dikatakan bahwa spiritualitas Fransiskan adalah menepati Injil sesuai dengan semangat dan teladan Santo Fransiskus: 

  • dalam persekutuan dengan Kristus yang miskin dan tersalib;
  • dalam cintakasih Bapa surgawi;
  • dalam persaudaraan dengan semua manusia dan semua ciptaan;
  • berperan serta dalam kehidupan dan perutusan/misi Gereja;
  • dalam pertobatan yang terus menerus (conversio);
  • dalam suatu kehidupan doa-liturgis, pribadi dan komunal;
  • sebagai alat-alat damai (lihat LFJW, hal. 8-9). 

Lampiran I memuat Credo Fransiskan Awam yang dideklarasikan di Assisi pada tahun 1969. Dari Credo ini kita dapat melihat ringkasan dari spiritualitas yang dihayati oleh para Fransiskan sekular sampai saat itu. Namun pada tahun 1978 Paus Paulus VI mengesahkan dan meneguhkan Anggaran Dasar Ordo Fransiskan Sekular [AD OFS] (Seraphius Patriarcha)  untuk menggantikan Anggaran Dasar terdahulu dari Paus Leo XIII (1883). 

Lampiran II memuat 16 butir spiritualitas  Fransiskan sekular yang secara resmi termuat dalam 16 artikel AD OFS yang berlaku sejak tahun 1978. 

PERTANYAAN-PERTANYAAN UNTUK MEMBANTU PERMENUNGAN ANDA: 
  1. Adakah perbedaan antara pelbagai spiritualitas? Apa yang berbeda?
  2. Apakah yang berbeda dalam spiritualitas Fransiskan?
  3. Apakah spiritualitas Fransiskan lebih hebat?
  4. Kalau Saudara-saudari sungguh mengimani bahwa ‘Allah adalah Kasih’, maka apa artinya itu pada saat-saat Saudara-saudari merasa kuatir, dalam doamu, dalam pekerjaanmu, dalam kehidupan keluargamu dan dalam hubunganmu dengan orang-orang lain?
  5. Apakah fakta bahwa Saudara-saudari tertarik kepada cara Fransiskan menunjukkan sesuatu yang istimewa dalam kepribadianmu? 
PRAKTEK/BACAAN KITAB SUCI 
  1. Selama minggu ini saya akan mengingat sesering mungkin fakta bahwa ‘Allah adalah Kasih’ (1Yoh 4:8.16).                
  2. Baca “Khotbah di Bukit” (Mat 5-7). 

Seusai perayaan Misa di La Verna pada tanggal 17 September 1993, Paus Yohanes Paulus II pergi ke kapel stigmata yang didirikan di atas tempat Santo Fransiskus menerima luka-luka Kristus. Di sana Sri Paus berdoa kepada Santo Fransiskus, meminta kepadanya untuk menolong orang-orang zaman ini mengikuti jejak Kristus. Doa Sri Paus ini tentunya dapat juga menjadi doa kita semua. Berikut ini adalah doa Sri Paus: 

Oh Santo Fransiskus, yang memperoleh stigmata di La Verna,

dunia merindukanmu,

dikau ikon dari Yesus tersalib.

Dunia memerlukan hatimu,

hati yang terbuka bagi Allah dan sesama;

dunia memerlukan kaki-kakimu yang telanjang dan terluka,

memerlukan tangan-tanganmu yang tertembus,

terangkat memanjatkan permohonan.

Dunia merindukan suaramu yang begitu lemah,

namun yang kuat dipenuhi kuat-kuasa Injil.

Fransiskus, tolonglah orang-orang zaman ini

untuk mengenali kejahatan dosa

dan untuk mencari pemurnian dari dosa, di dalam pertobatan.

Tolonglah mereka agar menjadi bebas

dari struktur-struktur terdalam dosa yang menindas masyarakat sekarang.

Nyalakanlah kembali di dalam kesadaran mereka yang bertugas di pemerintahan,

suatu kebutuhan mendesak akan perdamaian

antara bangsa-bangsa dan orang-orang.

Tanamkanlah dalam diri muda-mudi kesegaran hidup darimu,

yang mampu bertahan terhadap jerat

dari banyak budaya-kematian.

Bagi mereka yang terluka oleh setiap jenis kejahatan, ajarlah ya Fransiskus,

kegembiraan karena menjadi mampu untuk mengampuni.

Bagi mereka yang disalibkan oleh penderitaan, kelaparan dan peperangan,

bukalah kembali pintu-pintu pengharapan.

Amin. 

Sumber: “O Francis, Reopen the Doors of Hope!”

L’Osservatore Romano, N.38 (1308), 22 September 1993. 

LAMPIRAN I

CREDO PARA FRANSISKAN AWAM – 1969 [1] 

Ordo Fransiskan Sekular (Ordo Franciscanus Saecularis = OFS) atau Ordo Fransiskan Awam sudah berumur hampir sekitar 800 tahun. Dengan demikian sudah beberapa abad lamanya Tuhan mengumpulkan kaum awam bersama-sama dalam suatu bentuk penghayatan iman kristiani yang dinamakan ‘Cara Fransiskus’. Sesungguhnya visi Fransiskus dan para pengikutnya yang kemudian dibagikan/disyeringkan, merupakan faktor yang berhasil menopang dan memelihara berjuta-juta orang dalam usaha mereka mengikuti ‘Cara Fransiskus’ itu. 

Pada kongres Ordo Fransiskan Awam yang diselenggarakan di Asisi pada tahun 1969, para peserta kongres merumuskan visi mereka sebagai Fransiskan Awam dalam bentuk semacam Credo  atau Pernyataan Iman sebagai berikut: 

  • Diinspirasikan oleh visi Santo Fransiskus, kami mengikat diri kami sendiri kepada Injil sebagai cara hidup kami.
  • Pandangan dunia kami berpusat dalam Kristus; kami melihat Yesus Kristus sebagai Awal, Cara dan Tujuan dari segala ciptaan.
  • Visi dunia ini mengungkapkan kepada kami Allah yang adalah Bapa dan kehidupan yang adalah cinta kasih. Hal ini menuntut dari kami suatu kehidupan sebagai saudara bagi semua orang dan ciptaan.
  • Kami sedang dalam perjalanan ziarah, mencoba untuk mencapai Bapa kami, mencoba untuk menghayati suatu kehidupan cinta kasih. Kami belum sampai; kami adalah para pendosa, tetapi kami dipanggil untuk menjadi orang-orang kudus.
  • Sebagai para pendosa, manusia yang lemah, kami harus menjalani pertobatan (conversio) yang terus-menerus, sebagai anak-anak hilang selalu kembali kepada Bapa.
  • Kristus miskin dan Kristus disalibkan; kami berusaha untuk berpartisipasi/syering dalam kemiskinan-Nya dan dalam penderitaan-Nya. Kami lebih lanjut mengikat diri kami kepada pelayanan bagi orang-orang miskin.
  • Dalam membuka jalan kami lewat kehidupan, kami terlebih-lebih dibimbing oleh kesederhanaan, kerendahan hati dan kekecilan ketimbang oleh kuasa, prestise dan status.
  • Seperti Kristus, seperti Fransiskus, kami berusaha menjadi alat-alat damai, para pembuat perdamaian.
  • Mengakui kehadiran Roh Kudus yang membimbing, kami menyatakan kesetiaan kami kepada Gereja dalam suatu semangat dialog dan kerjasama dengan para pelayan dan gembalanya.
  • Kami sadar akan kewajiban kami untuk berpartisipasi/ syering dalam kehidupan dan misi/perutusan Gereja. Kami adalah rasul-rasul awam yang dipanggil oleh Kristus guna melanjutkan karya-Nya di atas bumi.
  • Akan tetapi hidup dan spiritualitas kami adalah sekular dalam ciri-cirinya, di dalam dunia dan bagi dunia.
  • Kegembiraan menopang kehidupan kami; mengisi kehidupan kami; kami mengusahakan hal yang sama bagi orang-orang lain.
  • Untuk mencapai semua ini memang susah; oleh karena itu kami menyatakan kebutuhan kami akan Ekaristi Kristus, kebutuhan kami akan doa, baik personal maupun komunal.

Credo di atas dapat membantu seseorang yang bukan anggota OFS untuk lebih mengenal apa sebenarnya OFS

Di sisi lain, bagi kita yang sudah menjadi anggota OFS pun butir-butir Credo ini dapat berfungsi sebagai semacam cermin untuk refleksi pribadi, yaitu refleksi mengenai keberadaan kita masing-masing sebagai anggota Ordo Fransiskan Sekular selama ini. AD OFS dapat digunakan dan tulisan yang berjudul “Enambelas Pokok untuk Diingat-ingat”  juga dapat membantu dalam melakukan refleksi termaksud (lihat Lampiran I). 

Banyak pertanyaan yang dapat kita lontarkan kepada diri kita masing-masing sehubungan dengan setiap butir Credo itu. Akan tetapi untuk “tanya jawab diri sendiri” ini dibutuhkan keseriusan dan waktu yang cukup banyak serta juga keheningan suasana untuk berpikir dan berdoa. Pertanyaan hakiki yang harus dijawab adalah: “Sampai seberapa jauh saya sudah menghayati bentuk kehidupan seperti diungkapkan dalam butir-butir Credo itu?”  Tentu jawaban kita masing-masing mengandung banyak hal yang positif, mungkin juga yang negatif. Kita patut bersyukur untuk hal-hal yang sudah berhasil dicapai dan mohon berkat rahmat Tuhan agar semua itu dapat dipertahankan dan ditingkatkan. Sebaliknya untuk hal-hal yang belum berhasil dicapai, dengan pertolongan rahmat Tuhan, kita mau dengan mantap menatap masa depan dan dengan penuh tekad memperbaiki segala kekurangan tersebut. 

LAMPIRAN II 

ENAMBELAS POKOK UNTUK DIINGAT-INGAT [2] 

Seorang Fransiskan di Amerika Serikat, yaitu Pater Marion Habig,OFM mencoba membuat ringkasan atau semacam ikhtisar dari AD OFS, khususnya yang berkaitan dengan pokok-pokok yang termuat dalam Fasal 2 ‘Cara Hidup’. Terjemahan di sini dilakukan sedapat mungkin dengan menggunakan kata-kata Indonesia yang sudah dipakai dalam AD OFS. Di belakang setiap butir ditambahkan nomor artikel AD OFS  yang bersangkutan. 

Ikhtisar itu terdiri dari 16 (enam belas) butir sebagai berikut : 

  1. Ikutilah contoh yang diberikan oleh Santo Fransiskus dari Assisi, yang membuat Kristus sebagai penjiwa dan poros kehidupannya dihadapan Allah serta sesama (artikel 4). 
  2. Carilah pribadi Kristus yang hidup dan aktif di dalam diri Saudara-saudarimu, di dalam Kitab Suci, di dalam Gereja dan di dalam perayaan-perayaan liturgis (artikel 5). 
  3. Pergilah sebagai saksi-saksi dan alat-alat perutusan Gereja di tengah-tengah manusia, sambil mewartakan Kristus dengan cara kehidupanmu dan kata-katamu (artikel 6). 
  4. Sesuaikanlah pikiran-pikiranmu dan perbuatan-perbuatanmu dengan pikiran-pikiran dan perbuatan-perbuatan Kristus dengan cara pertobatan batiniah secara radikal yang disebut dalam Injil sebagai ‘conversio’ (artikel 7). 
  5. Bergabunglah dalam doa-doa liturgis dalam salah satu bentuknya yang dianjurkan Gereja, supaya dengan demikian menghidupkan kembali misteri-misteri kehidupan Kristus (artikel 8).
  6. Ungkapkanlah cintakasihmu yang berkobar-kobar kepada Santa Perawan Maria dengan meniru penyerahan dirinya yang utuh dan dengan berdoa secara sungguh-sungguh dan penuh kepercayaan (artikel 9). 
  7. Dengan setia penuhilah tugas kewajiban yang layak bagi keadaan kehidupan yang kauhadapi, meski dalam kesulitan-kesulitan dan pengejaran-pengejaran sekalipun (artikel 10). 
  8. Carilah suatu semangat yang cocok guna melepaskan diri dari barang-barang duniawi dengan menyederhanakan kebutuhan serta keperluan-keperluan materiilmu dan murnikanlah hatimu dari setiap kecenderungan serta kerinduan akan  kepemilikan dan kekuasaan (artikel 11). 
  9. Perolehlah kemurnian hati karena panggilan yang telah kau rangkul dan jadikanlah dirimu bebas untuk mengasihi Allah dan Saudara-saudarimu (artikel 12). 
  10. Terimalah semua orang sebagai suatu pemberian Tuhan, dan berjuanglah untuk menciptakan bagi orang-orang kecil pelbagai kondisi  kehidupan yang pantas bagi orang yang telah ditebus oleh Kristus (artikel 13). 
  11. Bersama dengan semua orang yang berkehendak baik, bangunlah dunia yang lebih bersifat persaudaraan dan Injili sehingga Kerajaan Allah dapat diwujudkan dengan lebih efektif (artikel 14). 
  12. Tampillah di barisan depan dalam memajukan keadilan lewat kesaksian kehidupan manusiawimu dan inisiatif-inisiatifmu yang berani (artikel 15). 
  13. Hargailah pekerjaan sebagai suatu karunia dan sebagai partisipasi dalam penciptaan, penebusan dan pelayanan terhadap umat manusia (artikel 16). 
  14. Dalam keluargamu, tanamlah semangat kedamaian Fransiskan, kesetiaan dan rasa hormat terhadap kehidupan sambil berusaha untuk membuatnya sebagai suatu tanda dari sebuah dunia yang sudah diperbaharui dalam Kristus (artikel 17). 
  15. Taruhlah rasa hormat terhadap semua mahluk ciptaan yang bernyawa maupun tidak bernyawa, dan berusahalah untuk menghindar dari godaan untuk mengeksploitasi ciptaan, menuju kepada konsep Fransiskan perihal persaudaraan universal (artikel 18). 
  16. Carilah jalan untuk tercapainya persatuan dan kerukunan persaudaraan melalui dialog-dialog dan berusahalah untuk membawa kegembiraan dan harapan bagi orang-orang lain (artikel 19). 

Sebagai catatan penting, ke-16 butir diatas baik untuk dipelajari dan diingat, tetapi bukan berarti menggantikan AD OFS  itu sendiri. 

DEUS MEUS ET OMNIA


*) Dipetik dengan beberapa perbaikan dari memorandum Sdr. Frans X. Indrapradja, OFS (pada waktu itu Minister Persaudaraan Santo Ludovikus IX, Jakarta) nomor Min/01/97 tanggal 27 Januari 1997 yang berjudul “Spiritualitas Fransiskan”. Sumber utama: Leonard Foley, OFM & Jovian Weigel, OFM, “The Third Order Vocation” [LFJW] dan Dr. Cletus Groenen, OFM, “Spritualitas Santo Fransiskus.” [CG]. Perbaikan terakhir: tanggal 14 Agustus 2009, Peringatan Santo Maria Maximilian Kolbe, OFMConv.

[1] Dipetik dengan beberapa perbaikan dari memorandum Sdr. Frans X. Indrapradja, OFS (pada waktu itu Minister Persaudaraan Santo Ludovikus IX, Jakarta) nomor Min/15/96 tanggal 25 Desember 1996 yang berjudul “Refleksi Pribadi Para Anggota OFS Jakarta di Akhir Tahun 1996”.  Sumber: Leonard Foley, OFM & Jovian Weigel, OFM, “The Third Order Vocation.”  Perbaikan terakhir: tanggal 14 Agustus 2009, peringatan Santo Maria Maximilian Kolbe, OFMConv.

[2] Dipetik dengan beberapa perbaikan dari memorandum Sdr. Frans X. Indrapradja, OFS (pada waktu itu Minister Persaudaraan Santo Ludovikus IX, Jakarta) nomor Min/05/96 tanggal 4 Oktober 1996 yang berjudul “Enam belas pokok untuk diingat-ingat.”  Perbaikan terakhir: tanggal 14 Agustus 2009, peringatan Santo Maria Maximilian Kolbe, OFMConv.