Posts tagged ‘EKARISTI’

MENJADI KURBAN YANG HIDUP SEBAGAI PUJIAN BAGI KEMULIAAN ALLAH

MENJADI KURBAN YANG HIDUP SEBAGAI PUJIAN BAGI KEMULIAAN ALLAH 

Oleh karena itu, ya Bapa, sambil merayakan kenangan akan penebusan kami, kami mengenangkan Kristus yang telah wafat dan turun ke tempat penantian. Kami mengakui bahwa Ia telah bangkit dan naik ke surga, duduk di sisi kanan-Mu. Sambil mengharapkan kedatangan-Nya dalam kemuliaan, kami mempersembahkan pada-Mu Tubuh dan Darah-Nya; kurban yang berkenan pada-Mu dan membawa keselamatan bagi seluruh dunia.

Ya Bapa, sudilah memandang kurban ini yang telah Engkau sediakan sendiri bagi Gereja-Mu. Perkenankanlah agar semua yang ikut menyantap roti yang satu dan minum dari piala yang sama ini dihimpun oleh Roh Kudus menjadi satu tubuh. Semoga dalam Kristus, mereka menjadi kurban yang hidup sebagai pujian bagi kemuliaan-Mu. (DOA SYUKUR AGUNG IV) 

Perasaan atau mood kita (dan juga Imam selebran) dalam Perayaan Ekaristi dapat turun-naik, ada saat-saat di mana kita merasa “in”, mengalami semacam “Pengalaman Tabor” (Inggris: Tabor Experience); …… ada pula saat-saat di mana kita mungkin saja berkata, “Saya tidak mendapat apa-apa dari Misa tadi!” Ini sebuah realitas! Akan tetapi, perasaan semata seringkali tidak dapat digunakan untuk mengukur nilai sejati dari hal-hal yang penting dalam kehidupan kita semua.

Perjalanan bersama dengan Kristus

Untuk merayakan Ekaristi, imam selebran dan kita-umat yang hadir, hanya memerlukan iman-kepercayaan yang bebas dari emosi bahwa dalam Ekaristi itu, Kristus melakukan perjalanan bersama dengan kita dalam jalan yang sangat diperlukan bagi kehidupan, jalan pemberian-diri kepada Bapa surgawi dalam Roh Kudus. Memang tidak mudah untuk percaya bahwa mereka yang hadir dalam perayaan Ekaristi sebenarnya ikut ambil bagian dalam sebuah gerakan spiritual yang dahsyat, apabila kita menyaksikan sang imam selebran yang berdiri tenang pada altar dan umat beriman berlutut pada saat-saat hening konsekrasi.

Gerakan spiritual di mana Kristus melibatkan kita digambarkan sebagai berikut: Melalui kematian Kristus, kebangkitan-Nya dan kepemilikan Roh Kudus-Nya. Kematian, kebangkitan, pengutusan Roh Kudus adalah tahapan-tahapan yang harus dilalui dalam perjalanan kita masing-masing kepada Bapa surgawi. Kristus berjalan bersama dengan kita dalam perayaan Ekaristi.

Keikutsertaan dalam karya penyelamatan Kristus. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Santo Paulus menulis, “Tidak tahukah kamu bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian, kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia melalui baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya” (Rm 6:3-5). Semua ini sungguh terjadi, namun dengan cara yang kita tak dapat bayangkan, yaitu dengan suatu cara sakramental, yang tersembunyi di bawah tanda-tanda.

Dalam Ekaristi rahmat baptisan diperbaharui dan diintensifkan dalam diri kita karena dalam Ekaristi itu kita berpartisipasi lagi dalam karya penyelamatan Kristus.  Untuk alasan inilah setiap Misa Kudus merupakan suatu pembaharuan dari keberadaan kita masing-masing sebagai seorang Kristiani. Apa saja yang ke luar dari pokok ini akan mati atau paling sedikit akan menjadi diperlemah. Proses menjadi satu dengan Kristus semakin hari semakin mendalam dan bersifat pemberian-diri; Roh dari Allah-manusia Yesus Kristus semakin menguasai realitas kemanusiaan dari mereka yang sedang dalam perjalanan itu … dan pada suatu titik akan mencapai tujuan, yaitu Bapa surgawi. Perjalanan ini seharusnya menjadi lebih bersifat hakiki  ketimbang perjalanan-perjalanan lainnya yang kita lakukan selama hari bersangkutan.

Namun demikian kita harus ingat bahwa kita melakukan perjalanan bersama Kristus ini bukanlah sekadar untuk menjadi suci-suci sendiri, melainkan juga sebagai wakil dari banyak orang lain. Namun orang-orang lain ini juga harus bertanya kepada diri mereka sendiri apakah mereka ingin selalu hanya diwakili. Barangkali mereka dapat datang secara pribadi dan pada gilirannya mewakilkan orang-orang lain pula.

Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku. “Lima Perintah Gereja” (lihat Puji Syukur No. 7) tidak jarang dicap sebagai “tidak Alkitabiah”. Tiga butir dari kelima perintah itu menyangkut Ekaristi, teristimwa butir (1) yang menyangkut “kewajiban hari Minggu atau hari raya yang disamakan dengan hari Minggu). Apabila direnungkan dengan baik, bukankah perintah itu dapat ditelusuri kembali ke sabda Yesus sendiri: “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” (1Kor 11:24,25; Luk 22:19)?

Ekaristi merupakan sebuah tanda persahabatan sang imam selebran dan semua umat yang hadir dengan diri Yesus. Dengan begitu imam dan umat yang hadir memberi kontribusi pada pemenuhan – untuk umat zaman kita sekarang – apa yang diinginkan oleh Yesus dengan penderitaan, kematian dan kebangkitan-Nya: “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah” (Yoh 10:10).

Konsekrasi. Setiap kali imam selebran mengucapkan kata-kata konsekrasi dalam perayaan Misa, sebenarnya dia mengucapkan kata-kata yang sangat signifikan bagi siapa saja yang hadir. Mungkin saja seseorang yang baru pertama kalinya menghadiri perayaan Ekaristi akan lari tunggang-langgang karena dia tidak mau terlibat dalam upacara kanibalisme seperti yang terjadi dalam suku-suku bangsa primitif zaman dahulu. Mungkin ada juga yang mendatangi altar guna mencegah sang imam meneruskan “upacara gila” seperti itu. Mengapa sampai begitu? Renungkanlah kata-kata yang diucapkan sang imam selebran: “Terimalah dan makanlah: Inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagimu”; “Terimalah dan minumlah: Inilah piala Darah-Ku, Darah Perjanjian Baru dan Kekal, yang ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang demi pengampunan dosa. Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku” 

Orang-orang yang akan merayakan Ekaristi dalam kesempatan-kesempatan tertentu diminta untuk menaruh hosti ke dalam sebuah tempat yang disediakan di dekat pintu masuk. Ini merupakan praktek yang baik. Hal ini dapat dimaknai bahwa umat ingin menjadi persembahan kurban juga, sebuah hosti, dan mereka siap untuk masuk ke dalam kurban Yesus Kristus dan tentunya ke dalam konsekrasi juga. Tentu saja tidak banyak dari umat dengan sadar merefleksikan hal ini.

Roti perayaan Ekaristi ditransformasikan menjadi roti surgawi, artinya menjadi tubuh Kristus. Dengan cara yang serupa, para peserta perayaan Ekaristi ditransformasikan menjadi Tubuh Mistik Kristus; artinya mereka akan menjadi lebih lagi sebagai Gereja Kristus. Ini adalah suatu transformasi yang luarbiasa hebat dan tak terbayangkan; seorang pengada di dunia menjadi seorang pengada yang bukan dari dunia ini, seperti Kristus yang bukan dari dunia ini. Memang, harus kita semua akui, bahwa perubahan seperti ini jarang tercapai secara penuh dalam satu kali Misa Kudus saja.

Menjadi pribadi yang baru. Pribadi baru dari orang yang ditransformasikan diindikasikan dalam kata-kata: “Terimalah dan makanlah.” Selagi kita menerima dan makan tubuh Kristus, orang-orang lain juga dapat “memakan” tubuh kita. Dengan meneladan hidup Kristus, maka hidup kita pun menjadi suatu kehidupan bagi orang-orang lain: suatu kehidupan yang dipenuhi dengan kesibukan pelayanan untuk keselamatan manusia. Walaupun demikian, hal ini tak berarti bahwa kita melayani setiap orang setiap waktu, karena itu bukanlah yang dilakukan Yesus ketika Dia masih hidup di dunia. Namun apabila kita semakin menyerahkan ke-ego-an kita dan berupaya terus untuk mengenal kehendak Allah dalam setiap situasi, maka kehidupan kita akan menjadi “tubuh yang diserahkan bagimu”, seperti diucapkan dalam konsekrasi. Seringkali pemberian-diri kita bagi orang lain mengambil bentuk konkret, misalnya berada bersama mereka yang sakit, memberikan waktu dan energi kita untuk ikut-serta secara aktif dalam suatu pelayanan karitatif bagi masyarakat luas, dlsb.

Akan tetapi, yang lebih penting adalah, bahwa dedikasi bagi orang-orang lain dan pengorbanan-diri untuk keselamatan mereka mengambil bentuk suatu kehidupan yang sesuai dengan rencana Allah. Kehendak Allah selalu suatu kehendak untuk menyelamatkan, dan siapa saja yang melakukan kehendak Allah akan ikut ambil bagian dalam misi penebusan Yesus.

Hal yang hakiki bukanlah di mana kita tinggal dan berkarya, melainkan hanyalah kita berada di tempat di mana Allah menginginkan kita berada dan berkarya. Bahkan seorang Kristiani yang sedang sakit dan berada pada saat-saat menjelang kematian dapat dan harus memperkenankan diri mereka “didistribusikan” dan “dikonsumsi” seperti roti Ekaristi.

Bagi hidup seperti inilah Ekaristi dimaksudkan untuk menguduskan dan membuat kita qualified. Akan tetapi untuk itu kita harus memperkenankan transformasi itu sunguh terjadi dalam diri kita.  Itulah caranya bagaimana kita masuk ke dalam kurban Kristus yang “membawa keselamatan bagi seluruh dunia” (Doa Syukur IV).

Transformasi diri kita lebih penting daripada perubahan apa saja dari berbagai tradisi dan struktur dalam Gereja. Kita harus berubah dan menjadi seperti Yesus. Keselamatan dunia tergantung pada hal itu. Oleh karena itu marilah kita dengan tulus menjadi umat Kristiani yang progresif, pada saat kedatangan perubahan yang merupakan keharusan itu.

Catatan Penutup 

Karena Ekaristi, tidak ada lagi ungkapan seperti  “kehidupan yang tak berguna”. Tidak ada seorang pun dapat berkata: “Apa gunanya hidupku ini?” atau “Apa yang aku lakukan dalam dunia ini?” Kita ada dalam dunia karena satu alasan yang sangat mendalam dan agung, yaitu untuk menjadi suatu kurban yang hidup, untuk menjadi Ekaristi bersama Kristus.

Cilandak, 5 Juli 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERAYAAN-PERAYAAN EKARISTI UMAT KRISTIANI AWAL

PERAYAAN-PERAYAAN EKARISTI UMAT KRISTIANI AWAL 

Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata, “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata, “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan dengan darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!” Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang. (1Kor 11:23-26) 

Petikan dari surat Santo Paulus di atas adalah teks paling tua tentang Ekaristi yang terdapat dalam  Kitab Suci Perjanjian Baru. Dengan kata-kata yang tidak panjang-lebar dalam perjamuan terakhir ini, Yesus mengubah (mentransformasikan) perjamuan Paskah Yahudi menjadi sebuah perayaan perjanjian baru dan relasi baru dengan Bapa surgawi. 

Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku! 

Setelah kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga, para rasul dan orang-orang Kristiani perdana berkumpul untuk makan bersama seperti yang telah diperintahkan Yesus dalam perjamuan terakhir tersebut (Kis 2:41-42). Mereka mengulangi kata-kata Yesus: “Inilah tubuhku, inilah darah-Ku”. Mereka menjadi semakin sadar akan kehadiran-Nya di tengah-tengah mereka. Ternyata Yesus Kristus memang tidak meninggalkan serta menelantarkan mereka. Meskipun sudah duduk di sebelah kanan Allah Bapa di surga, Yesus masih tetap berada dekat dengan mereka! Memang Ia tidak kelihatan secara khasat mata, namun Ia memang ada di tengah-tengah mereka. Ia hadir secara misterius, tetapi tetap secara riil sebagai Tuhan dan Saudara mereka.

Orang-orang Kristiani perdana mengetahui, bahwa anugerah-Nya yang kemudian diberi nama Ekaristi ini bukanlah hanya untuk mereka nikmati sendiri. Anugerah ini harus dibagikan (disyeringkan) kepada orang-orang lain dalam “pemecahan roti”, dalam kesatuan cinta-kasih mereka kepada Allah dan cinta-kasih kepada sesama. Yohanes Penginjil bahkan menggambarkan upacara Perjamuan Terakhir secara lebih dramatis lagi daripada apa yang digambarkan oleh Santo Paulus dan para penginjil sinoptik. Perjamuan Terakhir dalam Injil Yohanes dimulai dengan sebuah pelajaran tentang pelayanan yang dilakukan dengan rendah hati: Yesus membasuh kaki para murid-Nya, kemudian berkata: “Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh 13:15).

Communio dengan Kristus dalam Ekaristi 

Santo Leo Agung (+461), Paus dan pujangga Gereja, menulis: “Keikut-sertaan kita dalam tubuh dan darah Kristus hanya cenderung membuat kita menjadi apa yang kita makan”.  Santo Paulus menulis: “Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan tubuh Kristus?” (1Kor 10:16). Kita terbiasa untuk menafsirkan kata-kata Santo Paulus ini dalam arti ikut mengambil bagian dalam keseluruhan pribadi Kristus melalui segala “unsur” yang membentuknya, yaitu tubuh-Nya, darah-Nya, jiwa-Nya, keilahian-Nya. Dalam bahasa alkitabiah, kata tubuh dan darah menunjukkan seluruh hidup Kristus, atau lebih tepat lagi hidup dan mati-Nya.

Kebenaran seperti ini membawa kita kepada sebuah kesimpulan penting: Tidak ada suatu saat atau pengalaman dalam hidup Kristus yang tidak dapat kita hidupkan kembali dan syeringkan dalam persekutuan (communio). Sesungguhnya keseluruhan hidup Kristus hadir dan diberikan dalam tubuh dan darah-Nya. Tergantung pada disposisi atau kebutuhan sesaat kita, kita dapat berada di samping Yesus yang berdoa, Yesus yang digoda, Yesus yang letih, Yesus yang wafat di kayu salib dan Yesus yang bangkit kembali – karena Yesus yang sama masih eksis dan hidup dalam Roh.

Kebenarannya adalah bahwa persekutuan Ekaristis melampaui perbandingan manusiawi apa saja yang dapat kita buat. Yesus memberi contoh tentang pokok anggur dan ranting-rantingnya. Pokok anggur dan ranting-rantingnya memang mengambil bagian dari hidup yang sama: kesatuan yang sangat erat. Karena tidak berjiwa, maka pokok anggur dan ranting-rantingnya tidak menyadari adanya kesatuan ini. Sepasang suami-istri membentuk satu daging, namun mereka tidak dapat membentuk satu roh. Sebaliknya, “… siapa saja mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia” (1Kor 6:17). Kekuatan dari persekutuan Ekaristis terletak pada kenyataan bahwa kita menjadi satu roh dengan Yesus, dan “satu roh” ini sesungguhnya adalah Roh Kudus! Dalam Ekaristi, kita semua (termasuk imam selebran) menjadi kurban bersama Yesus, sehingga setelah Misa selesai kita dapat berkata bersama Santo Paulus: “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:19-20).

Tradisi-Tradisi yang Paling Awal 

Walaupun perayaan Kristiani sehubungan dengan pemberian-diri Yesus ini kadang-kadang disebut “Perjamuan Tuhan” (1Kor 11:20), sebenarnya secara umum lebih dikenal sebagai “pemecahan roti” (Kis 2:41). Mengapa? Makan bersama di dalam keluarga-keluarga Yahudi selalu dimulai dengan suatu berkat atas roti, berkat yang dilakukan oleh sang kepala rumah tangga. Setelah diberkati, roti itu pun dipecah-pecahkan dengan tangan olehnya dan kemudian dibagi-bagikan sepotong-sepotong kepada setiap orang yang ada pada meja makan. Ini adalah suatu cara bersyukur kepada Allah untuk makanan dan tindakan-Nya mempersatukan para anggota keluarga yang ada pada meja makan. Perjamuan Terakhir dimulai dengan cara yang sama, dan umat Kristiani perdana mengacu pada upacara ini dengan menyebutkannya sebagai “pemecahan roti) karena mengingat ritus awalnya seperti dijelaskan di atas. Baru pada awal-awal abad kedua mulailah upacara makan bersama itu dinamakan “Ekaristi”, yang berasal dari kata Yunani “eukharistia”, yang berarti “berterima kasih”, “bersyukur”.

Tidak jelas sampai berapa sering umat Kristiani perdana merayakan perjamuan istimewa ini, barangkali paling sedikit sekali setiap pekan. Dalam budaya Semitis, hari dimulai pada senja sebelumnya, jadi hari Minggu, atau “Hari Pertama dalam Minggu” (Kis 20:7; 1Kor 16:2), sebenarnya dimulai pada senja hari Sabtu. Lukas, ketika menggambarkan kehidupan umat Kristiani perdana mengatakan, bahwa mereka “bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa” (Kis 2:42). Dengan menyebutkan “pemecahan roti” bersama-sama dengan “pengajaran rasul-rasul” dan “doa”, Lukas menunjukkan bahwa “pemecahan roti” bersifat istimewa. Dengan memasukkan “persekutuan”, Lukas menambah satu dimensi penting dari eksistensi umat Kristiani, yaitu saling mensyeringkan kehidupan mereka satu sama lain.

Secara sekilas kita masih dapat melihat satu gambaran dari perayaan communio awal dalam “Kisah para Rasul”. Lukas menjelaskan bagaimana dia dan Paulus telah satu pekan lamanya tinggal di Troas di Asia Kecil dan ketika itu Paulus sudah siap-siap meninggalkan tempat itu. Lukas menulis sebagai berikut:

“Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara seiman di situ, karena ia bermaksud untuk berangkat keesokan harinya. Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam. Di ruang atas, di mana kami berkumpul, dinyalakan banyak lampu. Seorang pemuda bernama Eutikhus duduk di jendela. Karena Paulus amat lama berbicara, pemuda itu tidak dapat menahan kantuknya. Akhirnya ia tertidur lelap dan jatuh dari tingkat ketiga ke bawah. Ketika ia diangkat orang, ia sudah meninggal. Tetapi Paulus turun ke bawah. Ia merebahkan diri ke atas pemuda itu, mendekapnya, dan berkata, “jangan khawatir, ia masih hidup.” Setelah kembali di ruang atas, Paulus memecah-mecahkan roti lalu makan; sehabis makan ia masih berbicara lama lagi sampai fajar menyingsing. Kemudian ia berangkat. Sementara itu mereka mengantarkan pemuda itu dalam keadaan hidup ke rumahnya, dan mereka semua merasa sangat terhibur (Kis 20:7-12).

Di sini jelas bahwa Paulus-lah yang memimpin upacara “pemecahan roti” yang  dimulai pada malam hari dan mencakup khotbah yang sangat panjang. Lukas menunjukkan  bahwa “pemecahan roti” itu adalah suatu liturgi dan bukan sekadar makan-makan biasa, ketika dia berbicara mengenai “dinyalakannya banyak lampu”. Bahkan cerita mengenai Euthikus mengungkapkan suatu aspek hakiki dari perayaan ini: Kesatuan satu sama lain di sekeliling meja Tuhan perlu memasukkan ke dalamnya kesejahteraan fisik satu sama lain.

Didakhè 

Didakhè adalah sebuah dokumen Gereja awal yang diperkirakan disusun pada akhir abad pertama, kira-kira pada tahun 95. Barangkali berasal dari salah satu jemaat (gereja) di Syria (Suriah) atau di Palestina. Nama pengarangnya tidak diketahui. Dengan demikian kita dapat mengatakan, bahwa Didakhè adalah sebuah dokumen anonim (tidak memakai nama samaran) atau karangan yang yang pseudonim, artinya memakai nama samaran. Judul lengkap dokumen ini dalam bahasa Yunani adalah “Didakhè ton dodeka apostolon”, artinya pengajaran dari kedua-belas rasul, seakan-akan para rasul Tuhan Yesus Kristus-lah yang mengarang/menyusun kitab itu. Maksudnya ialah agar dokumen ini memiliki kewibawaan dalam lingkungan umat Kristiani yang hidup pada waktu itu; karena sebagai sebuah karya para rasul Tuhan Yesus Kristus sendiri, patutlah dijunjung tinggi dan dihormati. (lihat Dr. A. de Kuiper, DIDACHE, Jakarta: Badan Penerbit Kristen, 1967, hal. 5).

Dalam Didakhè pasal/bab IX terdapat instruksi-instruksi yang menyangkut “Ekaristi”:

(1)     Dalam Ekaristi (Eucharistia), ucapkanlah syukur (eucharisteo) sebagai berikut:

(2)     Pertama-tama atas cawan: “Kami mengucapkan syukur kepada-Mu, ya Bapa kami, karena pokok anggur yang kudus dari Daud, hamba-Mu, yang telah Kauberitahukan kepada kami dengan perantaraan Yesus, Hamba-Mu; kepada-Mulah kiranya kemuliaan sampai selama-lamanya.”

(3)     Lalu atas roti yang dipecah-pecahkan: “Kami mengucapkan syukur kepada-Mu, ya Bapa kami, karena kehidupan dan pengetahuan yang telah Kauberikan kepada kami dengan perantaraan Yesus, Hamba-Mu; kepada-Mulah kiranya kemuliaan sampai selama-lamanya.

(4)     Seperti roti ini telah dicerai-beraikan di atas gunung-gunung dan kemudian dikumpulkan menjadi seketul, demikianlah kiranya Gereja-Mu dikumpulkan dari segala ujung bumi masuk ke dalam Kerajaan-Mu; sebab Engkaulah yang empunya kemuliaan dan kekuasaan oleh Yesus Kristus sampai selama-lamanya.”

(5)     Janganlah seorang pun makan atau minum dari Perjamuanmu, terkecuali orang-orang yang telah dibaptis dalam nama Tuhan; karena tentang hal ini difirmankan Tuhan: “Janganlah berikan barang yang kudus kepada anjing.” (Dr. A. De Kuiper, DIDACHE, hal. 18).

Dalam Didakhè pasal/bab X terdapat instruksi-instruksi yang menyangkut “Pengucapan Syukur”:

(1)     Sesudah kamu kenyang, maka ucapkanlah syukur sebagai berikut:

(2)     “Kami mengucapkan syukur kepada-Mu, ya Bapa yang kudus, karena nama-Mu yang kudus, yang telah Kaubuat diam dalam hati-sanubari kami; dan karena pengetahuan dan kepercayaan dan kekekalan yang telah Kauberitahukan kepada kami dengan perantaraan Yesus, Hamba-Mu. Kepada-Mulah kiranya kemuliaan sampai selama-lamanya.

(3)     Engkau, ya Tuhan yang Mahakuasa, telah menciptakan segala-galanya karena nama-Mu; baik makanan maupun minuman telah Kauberikan kepada manusia untuk menikmatinya, supaya mereka bersyukur kepada-Mu. Akan tetapi kepada kami Kaukaruniakan makan dan minuman rohani dan kehidupan yang kekal dengan perantaraan Hamba-Mu.

(4)     Lebih-lebih kami bersyukur kepada-Mu karena Engkau lah yang berkuasa; kepada-Mulah kiranya kemuliaan sampai selama-lamanya.

(5)     Ingatlah, ya Tuhan, akan Gereja-Mu untuk melepaskannya dari segala yang jahat dan menyempurnakannya di dalam kasih-Mu, dan kumpulkanlah dari keempat mata angin Gereja-Mu yang telah dikuduskan, masuk ke dalam Kerajaan-Mu yang telah Kausediakan baginya. Sebab Engkaulah yang empunya kekuasaan dan kemuliaan sampai selama-lamanya.

(6)     Datanglah kiranya Anugerah dan biarlah dunia ini lenyap. Hosana kepada Allah Daud! Bila ada orang yang kudus, hendaklah ia datang! Tetapi yang tidak, biarlah bertobat! Maranatha. Amin.”

(7)     Kepada para nabi haruslah kamu beri kesempatan bersyukur sebanyak sukanya sendiri (Dr. A. de Kuiper, DIDACHE,  hal. 18-19).

Dalam Didakhè pasal/bab XIV terdapat instruksi-instruksi tentang “Hari Tuhan (Hari Minggu) sebagai berikut:

(1)      Apabila kamu berkumpul pada hari Tuhan (=kuriakè), maka kamu harus memecahkan roti dan mengucapkan syukur, setelah mengaku kesalahan-kesalahanmu, supaya kiranya kurbanmu suci (= murni).

(2)      Dan barang siapa yang berselisih dengan sesamanya, janganlah berkumpul dengan kamu sekalian sampai saat mereka itu telah berdamai lagi; supaya jangan kurbanmu dinajiskan.

(3)      Karena itulah yang difirmankan Tuhan: “Di tiap-tiap tempat dan pada tiap-tiap waktu haruslah dipersembahkan kepada-Ku suatu kurban yang suci (=murni); oleh karena Aku inilah Raja yang Mahabesar, demikianlah Firman TUHAN; dan Nama-Ku mendahsyatkan di antara segala bangsa” (Mal 1:11 dan 14) (Dr. A de Kuiper, DIDACHE, hal. 21-22).

Ekaristi di pagi hari 

Pada paruhan pertama abad kedua, perayaan Ekaristi umat Kristiani diselenggarakan pada hari Minggu pagi dan tidak lagi merupakan bagian dari acara makan-makan secara komunal. Penyebabnya barangkali adalah karena umat sudah sedemikian banyak jumlahnya, atau karena penyalahgunaan telah menyusup kembali ke dalam acara makan komunitas. Terkadang umat berdoa sepanjang malam dan menutup vigili mereka dengan perayaan Ekaristi. Pengetahuan kita tentang praktek-praktek ini terbatas, namun ada sebuah teks dari sekitar tahun 150 dari Santo Yustinus Martir [c. 100-165], Apologia Pertama (Apologia = Pembelaan), yang ditulis sekitar tahun 155 dan ditujukan kepada Antoninus Pius, Marcus Aurelius dan Lucius Verus, tulisan mana dimaksudkan sebagai pembelaan terhadap berbagai tuduhan. Dalam Apologia Pertama ini digambarkan suatu perayaan Ekaristi umat Kristiani pada hari Minggu pagi dengan suatu liturgi yang mencontoh kebaktian sinagoga Yahudi. Santo Yustinus Martir menulis sebagai berikut:

“Kami memberi salam satu sama lain dengan sebuah ciuman. Lalu roti dan sebuah cawan berisikan air anggur dicampur dengan air dibawa kepada pribadi yang memimpin para saudara; dia mengambil roti dan piala berisikan air anggur itu dan berdoa untuk memuliakan Bapa untuk segala hal melalui nama Putera dan Roh Kudus. … Ketika doa syukur diakhiri, semua umat yang hadir memberi persetujuan mereka dengan sebuah “Amin!” … Para diakon mendistribusikan roti dan anggur yang sudah bercampur dengan air. … Makanan ini kami sebut “Ekaristi”, … karena kami tidak menerima ini semua sebagai makanan dan minuman biasa. … Karena makanan yang atasnya telah didoakan syukur menjadi tubuh/daging dan darah dari Yesus inkarnasi (Allah), untuk memberi makan dan mentransformasikan tubuh dan darah kami” (bab 65-67) [terjemahkan bebas ke dalam Bahasa Indonesia dari P. Joseph Wimmer OSA, IN MEMORY OF ME – Early Christian Eucharistic Celebrations, Word among us, June 2001, hal. 18].

Yustinus juga memasukkan kata-kata konsekrasi dan catatan-catatan bahwa “kenang-kenangan para rasul atau tulisan-tulisan para nabi” dibacakan dan diproklamasikan oleh pemimpin ibadat, yang memberi petuah dan mendesak kami untuk mencontoh hal-hal indah yang telah kami dengar.” Suatu kolekte persembahan dilakukan bagi mereka yang membutuhkan: para janda, yatim-piatu, orang sakit, orang-orang asing yang datang berkunjung, dll. Bahkan mereka berdoa “Bapa Kami” bersama-sama. Jadi, kelihatan di sini bahwa dalam banyak hal, penggambaran ini mencerminkan struktur Misa seperti yang ada sekarang.

Doa-doa dan desakan-desakan dari para Bapak Gereja 

Teks lengkap paling awal tentang sebuah liturgi Ekaristi yang kita miliki ditulis oleh Santo Hippolytus [c. 170-236] dari Roma sekitar tahun 215. Mengikuti pola doa-doa Yahudi berkaitan dengan perjamuan, liturgi Hippolytus mencakup kata-kata konsekrasi dan sebuah kenangan akan karya penebusan Yesus. Dengan adanya reformasi di bidang liturgi sesuai keputusan Konsili Vatikan II, doa kuno dari Hippolytus itu diklaim kembali dan kita kenal sekarang sebagai “Doa Syukur Agung II”.

Anugerah Ekaristi juga menginspirasikan banyak penulis Kristiani awal untuk mengungkapkan pujian penuh sukacita dan rasa syukur mereka, dan untuk mengingatkan umat beriman berkaitan dengan kebutuhan akan persatuan dan kasih, antara lain Santo Ignatius dari Antiokia [c. 35-107]. 

S. Ignatius, uskup dari Antiokia ditangkap oleh penguasa Roma di sekitar tahun 107 dan dijatuhi hukuman untuk dimakan oleh binatang-binatang buas dalam gelanggang di Roma, karena iman Kristianinya. Orang kudus ini adalah salah seorang martir awal yang penting dalam Gereja. S. Ignatius mungkin seorang Siria dan adalah murid dari Santo-santo Petrus dan Paulus. Ada juga yang mengatakan, bahwa dia adalah murid dari S. Yohanes. Ada juga cerita, bahwa dia adalah anak kecil yang ditempatkan oleh Yesus di tengah-tengah para murid sebagai tanggapan awal sang Guru pada saat mereka bertanya kepada-Nya “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” (lihat Mat 18:1-6). S. Ignatius menamakan dirinya  sendiri Theoporas, sepatah kata dalam bahasa Yunani yang berarti ‘pembawa Allah’.

Nama S. Ignatius bertambah harum justru karena tujuh pucuk surat yang ditulisnya selagi dalam perjalanannya yang panjang menuju Roma. Lima pucuk surat ditulisnya untuk gereja-gereja di Asia Kecil, yaitu gereja-gereja di Efesus, Magnesia, Tralles, Filadelfia dan Smyrna. Tiga surat pertama yang disebutkan ditulisnya di Smyrna, sedangkan dua surat lainnya ditulisnya di Listra, sebelum menyeberang  ke Eropa. Surat kepada jemaat di Roma ditulisnya di Smyrna, dan sepucuk surat perpisahan yang ditujukan kepada Uskup Polykarpus ditulisnya di Listra.

Dalam beberapa suratnya terdapat deskripsi tentang Ekaristi. Dalam salah satu suratnya dapat dibaca tulisannya sebagai berikut: “Satu saja Tubuh Tuhan kita Yesus Kristus, dan satu saja juga Piala Darah-Nya. Keduanya dikurbankan di atas satu altar oleh satu Uskupmu bersama imam-imam dan diakon-diakon” (Surat kepada jemaat di Filadelfia, 4). “Hasratku adalah roti Allah, yang adalah tubuh Yesus Kristus, dan untuk minuman saya menghasrati darah-Nya, yang adalah kasih yang tidak dapat rusak” (Surat kepada jemaat di Efesus, 7,2-3). Dalam surat-suratnya ini Ignatius mengingatkan umat Kristiani akan perintah untuk mengasihi Allah dan sesama. Lalu menambahkan: “Mereka yang menyatakan diri mereka sebagai milik Kristus tidak hanya dikenal oleh apa yang mereka katakan, melainkan oleh praktek kehidupan mereka” (Surat kepada jemaat di Efesus, 14).

Di Roma, di bawah penjagaan prajurit-prajurit yang kejam, S. Ignatius digiring masuk ke dalam gelanggang binatang buas. Di tempat itu tubuhnya yang suci diterkam dan dicabik-cabik singa-singa yang sedang kelaparan. Darahnya yang suci membasahi tanah gelanggang  yang sebelum itu telah menampung darah banyak martir yang juga mati demi kesetiaan kepada Kristus: para saksi Kristus sejati!

Keprihatinan S. Ignatius dari Antiokia yang terbesar adalah persatuan dan tatanan Gereja sebagai Tubuh Kristus. Menurut orang kudus ini, yang paling penting adalah agar supaya umat Kristiani bersatu, merayakan Ekaristi dengan layak, dan patuh kepada pimpinan uskup mereka. Katanya: “Di mana ada uskup, di situlah Gereja!”

Catatan Penutup

Perayaan Ekaristi dalam Gereja zaman sekarang bukanlah “ciptaan” manusia modern, melainkan suatu praktek keagamaan yang berasal-usul dari Yesus Kristus sendiri, Tuhan dan Juruselamat kita! Akan tetapi, umat Kristiani tidak dapat sekadar berkumpul dan bersekutu untuk merayakan Ekaristi dan menjadi suci-suci sendiri – menjadi sekelompok orang-orang kudus seperti orang Eseni – karena  setiap orang Kristiani juga harus menjadi Ekaristi bersama Yesus. Menjadi Ekaristi berarti siap memecah-mecahkan diri kita dan memberikannya kepada setiap orang yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari kita. Kita ada di tengah dunia untuk alasan yang indah, yaitu menjadi kurban yang hidup, menjadi Ekaristi bersama Yesus Kristus. Itulah yang ditunjukkan dalam kehidupan dan kematian banyak sekali saksi Kristus sepanjang masa: mereka bertemu dengan Kristus dalam Ekaristi dan menjadi Ekaristi bersama Kristus! Hal ini dilakukan umat Kristiani sejak awal keberadaan Gereja dalam menanggapi perintah Yesus Kristus: “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!”

Cilandak, 27 Juni 2012  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERTEMU DENGAN YESUS DALAM EKARISTI

BERTEMU DENGAN YESUS DALAM EKARISTI 

Oleh karena itu, hendaklah para anggota Ordo Fransiskan Sekular mencari Diri Kristus, yang hidup dan berkarya di dalam Gereja dan di dalam perayaan-perayaan liturgis. Inspirasi mereka dan pedoman penghayatannya terhadap Ekaristi hendaknya iman kepercayaan Fransiskus yang pernah berkata “Dari Putera Allah yang mahatinggi sendiri tidak kulihat  sesuatu pun secara badaniah di dunia selain Tubuh dan Darah-Nya yang mahakudus”. (Anggaran Dasar OFS, Pasal II Artikel 5) 

Ekaristi adalah satu dari lima pilar penunjang spiritualitas Fransiskan, empat lainnya adalah Inkarnasi, Sengsara Yesus, Kitab Suci dan Maria. Ekaristi adalah karunia/anugerah Allah yang terbesar, dalam arti memperkenankan umat untuk ikut ambil bagian dalam perjamuan untuk makan tubuh-Nya dan minum darah-Nya. Pendekatan terhadap Ekaristi yang saya usulkan adalah membayangkan diri kita seperti Simon Petrus yang berkata kepada Yesus beberapa saat setelah banyak dari murid Yesus pergi meninggalkan-Nya karena tidak sanggup mendengar ajaran-Nya yang keras: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkaulah yang Kudus dari Allah” (Yoh 6:68-69).

MENIMBA DARI KITAB SUCI

Renungkanlah beberapa nas Kitab Suci berikut ini. Percayakah anda, bahwa “baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang., atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm 8:38-39)? Percayakah anda bahwa jalan menuju Allah selalu terbuka? Percayakah anda bahwa Roh Kudus “bergabung” dengan anda pada saat anda berdoa, selalu meyakinkan anda bahwa anda adalah seorang anak Allah yang sangat dikasihi-Nya (Rm 8:16)? Percayakah anda bahwa Roh Kudus ada dalam diri anda, menunjukkan kepada anda bagaimana mengasihi Yesus dan menyenangkan-Nya (Yoh 16:13)? Percayakah anda bahwa Allah ada dalam diri anda, menolong anda berpikir dan memilih dan bertindak secara benar (Flp 2:13)?

Nas-nas Kitab Suci di atas menunjukkan kepada kita betapa Allah mengasihi kita. Nas-nas itu menunjukkan bagaimana Allah secara tetap bekerja untuk kepentingan kita, setiap hari Dia mengirimkan begitu banyak pemikiran-pemikiran yang mendorong, menyemangati, memberi inspirasi kepada kita. Tidak ada satu hari pun berlalu tanpa kerja Allah demi kepentingan kita.

Menjelang akhir hidup pelayanan-Nya, Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada kepada-Ku” (Yoh 12:32). Dalam artian tertentu, janji ini dipenuhi setiap saat kita menerima Komuni Kudus (Ekaristi). Bilamana kita makan Roti Kehidupan, Allah Bapa kita menarik kita kepada Putera-Nya. Bagaimana Yesus menarik kita kepada diri-Nya? Dengan kasih tanpa syarat, belas kasih (kerahiman) tanpa batas, dan hikmat surgawi.

EMAUS 

Perwahyuan (pewahyuan) adalah sepatah kata yang digunakan untuk menggambarkan karya Allah dalam memberi pencerahan pada pikiran kita dan memenuhi hati kita. Allah memiliki hasrat untuk memberi makan kepada kita dengan hikmat-Nya dan rahmat-Nya. Demikian pula hasrat-Nya untuk menyatakan/mewahyukan diri-Nya kepada kita dapat ditarik kembali ke awal-awal penciptaan. Peristiwa makan malam bersama di Emaus adalah sebuah contoh yang baik dalam hal ini.

Kisahnya adalah seperti berikut ini. Dalam perjalanan dari Yerusalem ke Emaus (berjarak 11 kilometer), Yesus berjalan bersama dua orang murid, namun mereka tidak sadar bahwa Dia adalah sang Guru karena mereka tidak mengenali Dia. Hanya setelah Ia melakukan pemecahan roti di sebuah rumah di Emaus, akhirnya Yesus menyatakan diri-Nya kepada mereka (Luk 24:30-31). Pada awalnya, Yesus berada bersama mereka, namun tetap tersembunyi: tak dapat dikenali. Seringkali, inilah kasusnya dengan kita. Kita mencari Yesus, namun kita tidak dapat melihat-Nya. Kita mencari Dia, namun kita tidak dapat menemukan-Nya. Kita mendengarkan sabda-Nya, namun kita tidak dapat mendengar Dia.

Kedua murid itu mempunyai keragu-raguan tentang kebangkitan dan Yesus mulai mengkonfrontir keragu-raguan itu. Yesus menggunakan Kitab Suci – mulai dari Musa – untuk menjelaskan bahwa segala sesuatu yang ditulis tentang Kristus akan menjadi kenyataan. Selagi Dia mengajar mereka, Yesus menarik kedua murid itu kepada-Nya. Kedua murid melihat Yesus, mereka menyentuh-Nya, dan mereka mendengar Dia berbicara/mengajar. Bahkan hati mereka pun berkobar-kobar ketika Yesus berbicara dengan mereka dan menerangkan Kitab Suci kepada mereka (Luk 24:32). Namun demikian, mata dua orang murid itu baru terbuka ketika Yesus memberkati roti dan memecah-mecahkannya (Luk 24:31).

Yesus ingin mengajar kita semua. Ia ingin agar segalanya yang telah diajarkan-Nya kepada para rasul dan para murid-Nya yang awal, juga diajarkan kepada kita, melalui Roh Kudus. Yesus ingin memberikan kepada kita hikmat rahasia Allah, agar kita dapat memperoleh “pikiran Kristus” seperti dikatakan Paulus (1Kor 2:16). Kisah Emaus sungguh menakjubkan, namun tidak kurang menakjubkannya hari ini ketika mata kita dapat terbuka selagi roti biasa diubah menjadi tubuh Kristus dan dipecah-pecah untuk dibagikan kepada kita. Santo Fransiskus dari Assisi telah berjumpa dengan Kristus dalam Ekaristi sehingga dia dapat menulis dalam Wasiat-nya seperti dikutip dalam Anggaran Dasar OFS di atas (disahkan oleh Paus Paulus VI pada tahun 1978 dengan Bulla “Seraphicus Patriarca”): “Di dunia ini aku sekali-kali tidak melihat Putera Allah yang Mahatinggi itu secara jasmaniah, selain tubuh dan darah-Nya yang mahakudus” (Wasiat, 10).

BEKERJA UNTUK ALLAH 

Setelah dikenali oleh kedua murid itu, Yesus menghilang: “Ia lenyap dari tengah-tengah mereka” (Luk 24:31). Kemudian, apa yang terjadi dengan kedua murid itu? Kita tahu bahwa mereka baru saja melakukan perjalanan jauh yang penuh dengan pembicaraan yang penuh dengan tantangan pula. Tentunya mereka letih-lelah. Namun setelah Yesus menyatakan diri-Nya, dua orang murid itu malah tidak pergi tidur untuk beristirahat. Mereka justru langsung pergi kembali ke Yerusalem …… di tengah malam buta dan tanpa jaminan keamanan. Mereka bertemu dengan Simon Petrus dan para rasul/murid yang lain, lalu menceritakan apa yang terjadi di tengah jalan ke Emaus dan bagaimana mereka mengenali Yesus pada waktu Dia memecah-mecahkan roti (Luk 24:33-35).

Perjalanan kembali kedua murid di tengah kegelapan malam itu mengilustrasikan salah satu karya besar dari Ekaristi, yaitu mendesak dan memberdayakan kita untuk melayani Yesus. Setelah pemecahan roti di Emaus, kedua murid itu sedemikian penuh dengan sukacita sehingga mereka merasakan dorongan dan desakan untuk langsung pergi ke Yerusalem dan menceritakan kepada saudari-saudara mereka apa yang telah mereka alami. Yesus ingin meyakinkan kita semua bahwa Dia adalah Tuhan yang bangkit – teristimewa ketika kita menerima Hosti Kudus (Ekaristi). Bilamana mata kita terbuka dan kita melihat Yesus sebagaimana apa adanya Dia, kita pun dapat merasakan adanya desakan untuk melayani Dia.

Bilamana kita menerima dan makan daging-Nya sendiri yang diberikan oleh Yesus (lihat Yoh 6:25-59), maka kita akan merasakan desakan untuk pergi ke luar dari “zona kenyamanan” kita untuk mensyeringkan Yesus itu kepada orang-orang lain seturut bimbingan-Nya sendiri. Yesus ingin agar kita menjumpai berbagai macam orang, tanpa membeda-bedakan – baik miskin maupun kaya, baik berpendidikan maupun buta huruf, baik muda maupun tua usia. Ia ingin agar kita membawa setiap orang kepada-Nya, dengan penuh keyakinan bahwa Dia selalu beserta kita, membimbing kita dan memberdayakan kita, bahkan sampai akhir zaman (Mat 28:19-20).

MENJADI PENDENGAR YANG BAIK 

Marilah kita membayangkan kembali kedua murid yang sedang dalam perjalanan mereka menuju Emaus dan Yesus (yang telah bangkit) bergabung dengan mereka. Andaikan Yesus menjelaskan Kitab Suci, namun mereka tidak tertarik. Mungkin salah seorang dari mereka sangat ingin untuk sampai ke rumah secepatnya dan yang lainnya sedang memikirkan sebuah tugas pekerjaan yang belum terselesaikan. Kalau begitu, apakah yang akan terjadi? Peristiwa ini mungkin tidak akan tercatat dalam Injil Lukas, karena tidak ada sesuatu yang istimewa telah terjadi.

Apabila kita tidak mendengarkan dengan penuh perhatian, maka kita tidak akan melihat Allah. Kita tidak akan mampu mengenali Dia – bahkan setelah kita memakan Roti Kehidupan itu. Jika kita tidak menghindarkan diri dari distraksi-distraksi (pelanturan-pelanturan), maka kita mengisi pikiran kita dengan urusan-urusan duniawi, bahkan dengan berbagai godaan yang datang menyerang. Dengan demikian kita membatasi apa yang ingin Yesus lakukan melalui diri kita, karena kita tidak menaruh perhatian atas bagaimana cara tubuh dan darah-Nya dapat mentransformir kita.

Hal negatif ini tidak terjadi pada dua orang murid yang sedang dalam perjalanan menuju Emaus. Mengapa? Mereka menaruh perhatian dengan benar, mereka mendengarkan dengan serius dan mereka taat. Yesus ingin melakukan hal yang sama pada diri kita semua. Ia ingin menyatakan diri-Nya selagi kita makan Roti Kehidupan, dan Ia ingin melihat kita memberikan segalanya kepada orang-orang lain yang telah diberikan oleh-Nya kepada kita.

SANTO THOMAS MORE SANG PENCINTA YESUS DALAM EKARISTI 

Santo Thomas More [1480-1535] yang kita peringati pada tanggal 22 Juni hari ini bersama Santo [Uskup] John Fisher adalah martir Inggris pada zaman pemerintahan raja Henry VIII, dan ia adalah Lord High Chancellor (semacam Perdana Menteri) dalam pemerintahan Inggris. Devosinya kepada Ekaristi dikenal banyak orang dan karya-karya karitatifnya pun luar biasa. Kecintaannya kepada Yesus dalam Ekaristi memang dapat dimaklumi karena petinggi pemerintahan ini adalah seorang anggota Ordo Ketiga Sekular dari Santo Fransiskus dari Assisi. Thomas More sangat senang apabila dia berkesempatan membantu dalam perayaan Misa Kudus sebagai seorang pelayan Misa, walaupun nota bene dia adalah seorang pejabat tinggi negara.

Kritik-kritik tajam dilontarkan oleh orang-orang yang mengatakan, bahwa sebagai seorang awam tidak mungkinlah bagi dirinya melaksanakan tugas-tugas dunia yang sedemikian banyak dan kompleksnya, dan pada saat yang sama menekuni hidup rohani guna mencapai kesucian. Menanggapi kritik-kritik itu, Thomas More mengatakan bahwa Komuni Kudus-lah yang membuat dirinya tetap fokus dan untuk meringankan beban-beban pekerjaannya, dia akan mendekat kepada sang Juruselamat, meminta nasihat dan pencerahan dari-Nya. Yesus Kristua adalah tempat pelarian sang Perdana Menteri.

Pada suatu hari, ketika Thomas More sedang menghadiri Misa Kudus, seorang petugas istana raja mendekati dirinya dan berbisik kepadanya: “Tuanku, Sri Paduka Raja menginginkan agar Tuanku menghadapnya dengan segera.” Thomas More menjawab: “Aku tidak dapat menghadap sekarang. Katakanlah kepada Sri Baginda, bahwa aku sedang menghadap seorang Raja yang lebih besar dari beliau. Begitu tugas-kewajibanku kepada Raja yang lebih besar ini selesai, aku akan segera menghadap Sri Baginda.” Petugas istana itu pun pergi dan Thomas More, sang Lord High Chancellor, melanjutkan doa-doanya dengan khusyuk sampai Misa Kudus berakhir.

Santo Thomas More tetap setia kepada Kristus dengan cara hidupnya, bukan sekadar lewat kata-katanya. Ia bertindak seperti apa yang dikerjakan dan diajarkan Yesus (lihat Kis 1:1). Keseluruhan pribadinya, sikap dan perilakunya menunjukkan bahwa dia adalah milik Kristus. Dia mengatakan: “Ada banyak orang yang membeli neraka dengan upaya yang begitu banyak, padahal dengan upaya yang separuh banyaknya sudah bagi mereka untuk memperoleh surga.” Seperti dikatakan di atas, Thomas More juga mengasihi Kristus lewat devosinya kepada Sakramen Mahakudus, menghadiri Misa Kudus secara harian dan melayani imam dalam Perayaan Ekaristi, dan tentunya dengan menerima Komuni Kudus secara teratur. Santo Thomas More berjumpa dengan Yesus dalam Ekaristi dan dia setia kepada Yesus Kristus lewat kesetiaannya kepada Gereja (lihat Ef 5:25 dsj.). Thomas More tidak mau mundur sedikit pun dalam kesetiaannya kepada Kristus, sikap dan perilaku ini membawanya ke dalam kegelapan ruang penjara dan akhirnya kematian sebagai martir Kristus. Inilah “biaya kemuridan” (cost of discipleship) dalam arti sesungguh-sungguhnya.

CATATAN PENUTUP 

Kita sudah mencari Yesus Kristus, dan kita sudah bertemu dengan Dia dalam Ekaristi. Sebagai catatan penutup, marilah kita menyinggung sedikit pernyataan bahwa kita semua harus menjadi Ekaristi!

Setiap anggota Gereja adalah imam dan pada saat yang sama juga kurban. Hal ini disebabkan karena Yesus kepada siapa kita mempersatukan diri kita adalah imam dan sekaligus juga kurban. Persembahan diri kita dan Gereja tidak ada artinya tanpa Kristus; tidak kudus dan tidak pula dapat diterima oleh Allah. Akan tetapi persembahan Yesus tanpa persembahan Gereja, Tubuh-Nya, tidak akan mencukupi. Kebenaran pernyataan ini dikukuhkan dengan kata-kata Santo Paulus, “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam tubuhku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat” (Kol 1:24).

Ekaristi membentuk Gereja. Ekaristi bukan hanya merupakan sumber dan penyebab dari kekudusan Gereja, namun juga merupakan model-nya. Umat Kristiani tidak dapat membatasi diri mereka sekadar untuk merayakan Ekaristi dan menjadi suci-suci sendiri, mereka juga harus menjadi Ekaristi bersama Yesus. Menjadi Ekaristi berarti siap memecah-mecahkan diri kita dan memberikannya kepada setiap orang yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari kita. Kita ada di tengah dunia untuk alasan yang indah, yaitu menjadi kurban yang hidup, menjadi Ekaristi bersama Yesus Kristus. Itulah yang ditunjukkan dalam kehidupan dan kematian Santo Thomas More dan banyak lagi saksi Kristus sepanjang masa: masuk gereja/kapel bertemu dengan Kristus dalam Ekaristi, kemudian ke luar gereja menjadi Ekaristi bersama Kristus!

Jakarta, 22 Juni 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SIAPA SAJA YANG MAKAN DAGING-KU DAN MINUM DARAH-KU, IA MEMPUNYAI HIDUP YANG KEKAL

SIAPA SAJA YANG MAKAN DAGING-KU DAN MINUM DARAH-KU, IA MEMPUNYAI HIDUP YANG KEKAL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah, Jumat 27-4-12)

Orang-orang Yahudi pun bertengkar antara sesama mereka dan berkata, “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan?” Karena itu, kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku benar-benar makanan dan darah-Ku benar-benar minuman. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan aku hidup oleh Bapa, demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari surga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Siapa saja yang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.”

Semuanya ini dikatakan Yesus di Kapernaum ketika Ia mengajar di rumah ibadat. (Yoh 6:52-59)

Bacaan Pertama: Kis 9:1-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2 

Semua kehidupan adalah karunia dari Allah, yang menciptakan, menopang dan dengan sangat mendalam mengasihi semua orang. Karena hal ini adalah benar, maka sesungguhnya tidak diperlukanlah kecemasan dalam kehidupan kita. Manakala kita berada dalam kesulitan atau merasa susah, kita dapat menemukan penghiburan dalam iman kita bahwa Allah Bapa sungguh ingin memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita. Dia selalu mengetahui apa saja yang kita butuhkan – baik kebutuhan fisik maupun kebutuhan spiritual – dan Ia tidak pernah akan meninggalkan kita.

Setelah memenuhi kebutuhan lebih dari 5.000 orang pengikut-Nya yang lapar, Yesus mengatakan kepada orang-orang yang sama ini bahwa siapa saja yang memakan daging-Nya akan memperoleh kehidupan kekal karena Dia (lihat Yoh 6:57). Ini memang suatu klaim yang sangat serius – sesuatu yang hanya dapat dibuat oleh sang “Pengarang Kehidupan” itu sendiri. Justru memang inilah yang ingin ditegaskan oleh Yesus. Kehidupan alami adalah suatu karunia dari Allah, suatu mukjizat yang dipenuhi sukacita dan keajaiban. Akan tetapi sekarang Yesus mengatakan, bahwa siapa yang telah dilahirkan ke dalam dunia mempunyai kesempatan untuk menerima juga suatu jenis kehidupan yang lain – suatu kehidupan spiritual dengan Allah Bapa yang berlangsung sampai kekal.

Kita mau tidak mau harus mengakui bahwa hal ini sungguh menakjubkan dan penuh dengan penghiburan, karena kita dapat menjadi para penerima kehidupan ilahi. Hal ini bukanlah karena upaya dan kerja keras kita, melainkan murni rahmat dari Allah Bapa yang memenuhi diri dengan kehidupan  ilahi. Yang perlu kita lakukan hanyalah menerima-Nya dan memakan-Nya. Dengan demikian, setiap kali kita menerima Ekaristi, maka “transfusi” kehidupan suci yang dianugerahkan kepada kita pada waktu baptisan diperbaharui dan diperkuat lagi.

Kehidupan ini adalah suatu “karunia prei” (bebas – free gift, gratis) bagi kita, akan tetapi bagi Yesus ini adalah pengorbanan segala-galanya. Beberapa kali Yesus memberitahukan kepada para murid-Nya, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari (lihat Mrk 8:31; bdk. 9:31;10:33-34 dll.). Kali ini pun Yesus berkata-kata secara langsung kepada orang banyak yang sedang mengikuti-Nya. Dengan mengatakan bahwa Dia akan memberikan daging-Nya dan darah-Nya “untuk hidup dunia” (lihat Yoh 6:51), Yesus sebenarnya mengajar mereka bahwa jalan menuju kehidupan kekal-Nya adalah melalui salib. Yesus berbicara begitu langsung dan gamblang, namun Ia memanifestasikan kasih-Nya yang besar. Marilah kita renungkan: Penderitaan Yesus yang paling besar dan berat itu telah menjadi sumber dari keakraban (intimasi) dan persekutuan kita dengan diri-Nya. Hal ini menunjukkan betapa luarbiasa mendalam komitmen Yesus kepada kita-manusia.

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin tetap berada dalam Engkau. Tolonglah aku untuk mengangkat pikiranku kepada-Mu dan untuk menyimpan kehidupan-Mu dalam diriku. Tuhan, curahkanlah hidup-Mu juga kepada lebih banyak orang lagi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:52-59), bacalah tulisan yang berjudul “AKULAH ROTI KEHIDUPAN YANG TELAH TURUN DARI SURGA” (bacaan tanggal 27-4-12) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-04 BACAAN HARIAN APRIL 2012. Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 9:1-20) bacalah tulisan yang berjudul “SAULUS BERTOBAT DAN MENJADI PAULUS” (bacaan tanggal 13-5-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM ini; kategori 11-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2011. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-5-11)

Cilandak, 13 April 2012   

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ROTI YANG DIBERIKAN OLEH YESUS ADALAH DAGING-NYA

ROTI YANG DIBERIKAN OLEH YESUS ADALAH DAGING-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah, Kamis 26-4-12)

Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman. Ada tertulis dalam kitab nabi-nabi: ‘Mereka semua akan diajar oleh Allah.’ Setiap orang, yang telah mendengar dan belajar dari Bapa, datang kepada-Ku. Hal itu tidak berarti bahwa ada orang yang telah melihat Bapa. Hanya Dia yang datang dari Allah, dialah yang telah melihat Bapa. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, Siapa saja yang percaya, ia mempunyai hidup yang kekal.

Akulah roti kehidupan. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Inilah roti yang turun dari surga: Siapa saja yang memakannya, ia tidak akan mati. Akulah roti kehidupan yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang akan Kuberikan itu ialah daging-Ku yang akan Kuberikan untuk hidup dunia. (Yoh 6:44-51)

Bacaan Pertama: Kis 8:26-40; Mazmur Tanggapan: Mzm 66:8-9.16-17,20 

“Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa (Yoh 6:44).

Apakah yang menarik orang kepada Yesus? Mukjizat-mukjizat yang dibuat-Nyakah? Pengusiran roh-roh jahat yang dramatis itukah? Membangkitkan orang matikah? Barangkali tidak! Orang-orang Yahudi sudah terbiasa dengan konsep mukjizat dan tanda heran lainnya. Pada zaman Musa ada manna yang turun dari surga di tengah-tengah padang gurun. Elia telah menghentikan hujan untuk tidak turun selama tiga tahun dan mendatangkan api dari surga.

Orang-orang berduyun-duyun mendatangi Yesus karena Dia menawarkan kepada mereka sesuatu yang lebih daripada sekadar tanda-tanda ajaib dari surga. Yesus menawarkan kepada mereka “Roti Kehidupan” – makanan spiritual dan relasi pemberian-hidup yang vital dengan Allah. Yesus menunjukkan kepada orang-orang bahwa mereka tidak perlu pergi mencari di atas gunung yang sunyi terpencil atau sebuah kuil untuk menemukan kehadiran Allah. Allah selalu ada beserta mereka, bekerja dalam situasi sehari-hari kehidupan mereka. Yang mereka butuhkan adalah mengenali suara-Nya dalam ucapan kata-kata pengampunan, kata-kata pemberian dukungan, kata-kata penghiburan, kata-kata peneguhan dari orang-orang yang penuh perhatian. Juga merasakan sentuhan-Nya dalam sentuhan  tangan-tangan orang yang memperhatikan dengan penuh kasih, dan mengalami kebaikan-Nya dalam karya pelayanan kasih orang-orang yang berprihatin terhadap situasi mereka.

Santo Martinus dari Tours [316-397] memberi separuh dari jubahnya kepada seorang pengemis yang sedang menggigil kedinginan. Dalam suatu penglihatan, dia disadarkan bahwa pengemis itu adalah Yesus sendiri, yang menjadi miskin demi kita manusia berdosa. Pada waktu Santo Fransiskus dari Assisi [1181-1226] merangkul dan mencium seorang kusta, ternyata dia disadarkan bahwa dia sebenarnya melihat Yesus yang tersalib demi keselamatan kita. Ketika Bunda Teresa dari Kalkuta [1910-1997] membawa seorang tunawisma yang hampir mati di pinggir jalan ke dalam rumah penampungan yang diasuhnya, sebenarnya dia berjumpa dengan Yesus, yang tidak memiliki rumah dan kenyamanan demi meringankan serta menghilangkan penderitaan kita-manusia karena keterpisahan dari Allah.

Apakah kiranya yang menggerakkan hati seorang ibu untuk merawat bayinya sepanjang malam hari dan/atau menghibur seorang anaknya yang sedang sakit? Apakah yang mendesak seorang pekerja tambang yang sudah keletihan untuk menolong sepanjang malam seorang rekan kerjanya yang terjebak karena tanah longsor? Apakah yang membuat orang melawan bahaya yang mengancam dirinya sendiri untuk menyelamatkan seseorang yang terjebak dalam sebuah rumah yang sedang terbakar hebat, atau orang yang hampir tenggelam? Mengapa terdapat begitu banyak sukarelawan-sukarelawati yang bekerja berjam-jam seharinya untuk menolong anak-anak yang mengalami cacat fisik ataupun mental; juga dalam bidang pendidikan, perawatan orang sakit, perumahan yang layak dlsb. Jawaban untuk semua pertanyaan di atas: kasih Allah!

Allah senantiasa ada di  belakang setiap tindakan kebaikan, bahkan ketika tidak seorang pun mengenali kehadiran-Nya. Oleh karena itu dunia ini tidaklah tanpa pengharapan. Kehadiran-Nya yang tidak terlihat diungkapkan dalam setiap senyum penuh persahabatan, setiap pekerjaan baik yang dilakukan, setiap pengampunan atas hutang, setiap relasi-pribadi terluka yang disembuhkan. Allah menggunakan ‘bejana-bejana tanah liat’, bahkan juga ‘orang yang tidak percaya’, untuk menunjukkan kemuliaan dan kebaikan-Nya kepada sebuah dunia yang membutuhkan kasih dan belas kasihan.

DOA: Bapa surgawi, kebaikan-Mu memenuhi seluruh bumi. Semoga kebaikan hati-Mu mencairkan hati kami dengan puji-pujian dan ketakjuban. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:44-51), bacalah tulisan dengan judul “ROTI KEHIDUPAN” (bacaan tanggal 26-4-12) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-04 BACAAN HARIAN APRIL 2012. Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 8:26-40) bacalah tulisan yang berjudul  “SESUNGGUHNYA KITA ADALAH DUTA-DUTA KRISTUS” (bacaan tanggal 12-5-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM ini; kategori 11-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2011. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-5-11)

Cilandak, 13 April 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IMAMAT KRISTUS SEBAGAI SUMBER DAN MODEL IMAMAT SAKRAMENTAL DALAM GEREJA

IMAMAT KRISTUS SEBAGAI SUMBER DAN  MODEL IMAMAT SAKRAMENTAL DALAM GEREJA

Mengenang Romo Thomas Martin Fix, SCJ [1933-2012]

“Indonesia adalah negeri saya sekarang. Di sanalah saya akan pensiun,” kata Romo Thomas Martin Fix SCJ ketika merayakan Pesta Imamatnya di kota kelahirannya, Milwaukee, negara bagian Wisconsin, Amerika Serikat pada bulan September 2008. Sekarang, Romo Thomas Fix sudah tidak ada lagi di tengah kita karena beliau telah meninggal dunia pada hari Ibu Kartini, 21 April 2012, jam 20.26 WIB.

Romo Thomas Fix SCJ pertama kali tiba di bumi Indonesia pada bulan Mei 1962 ketika masih berusia muda (29 tahun) dan baru saja 4 tahun menjadi seorang imam Katolik; dan tempat beliau berkarya yang pertama adalah kota Palembang sebagai seorang pendidik para calon imam SCJ. Saya sendiri mulai mengenal beliau pada waktu beliau pertama kali ditugaskan dalam gereja Santo Stefanus, Cilandak. Kepribadian imam yang satu ini membuat saya dan tentu banyak orang lain merasa mudah untuk berbicara dari hati ke hati (curhat), termasuk mengakui dosa kita di hadapannya dalam Sakramen Rekonsiliasi. Wajahnya memancarkan kasih – bukan wajah yang menuduh – dan nasihat-nasihatnya penuh hikmat ilahi namun membumi.

Sampai hari ini tidak ada komentar umat yang bersifat negatif manakala saya tanyakan pendapat/pandangan mereka tentang Romo Thomas Fix: “Pastor yang rendah hati”; “Imam yang baik”; “Beliau seorang yang ramah”; “Tidak pernah saya mendengar sekali pun beliau berbicara buruk tentang orang lain”; “Wah, pastor yang sangat rendah hati” dst. Istri saya pernah menceritakan kepada saya, bahwa Romo Fix pada suatu malam menemani seorang ibu miskin dari wilayah I yang juga saya kenal,  pergi ke Panti Asuhan Desa Putera di Lenteng Agung dengan menumpang angkot dalam urusan anak ibu itu yang melarikan diri dari panti asuhan tersebut. Bukankah ini potret dari seorang gembala yang baik? Bukankah ini “servanthood” in practice?

Satu-satunya komentar yang agak “miring” (disertai beberapa contoh, misalnya “tidak bisa mengatakan tidak”) justru saya dengar dari seorang konfraternya, pada waktu saya bercerita kepada romo itu betapa tersentuhnya hati saya ketika hadir dalam Misa Hari Paskah sore di kapel S. Carolus, tanggal 8 April 2012. Romo itu tentunya lebih mengenal Romo Fix, namun di mata umat pada umumnya Romo Fix memang dipandang sebagai seorang gembala yang baik, seorang misionaris yang mencintai Indonesia dan orang/bangsa Indonesia, dan beliau juga seorang imam yang suci. Umat Katolik Indonesia sekarang – apalagi yang berdiam di kota besar – tentunya banyak yang sudah mampu menilai para anggota pimpinan mereka.

Sekian tahun lalu, pada tahun 1990-an, pada waktu saya bertugas melayani sebagai Ketua Seksi Katekese merangkap salah seorang katekis di paroki kami, Romo Fix (saya biasanya menyapa beliau sebagai Father atau Pater) pernah menugaskan saya untuk berbicara beberapa jam lamanya pada suatu senja/malam hari di depan sekelompok calon pengantin yang “gado-gado” antara Katolik dan Kristiani yang bukan Katolik (Protestan dll.) cukup banyak pasangan yang hadir. Beliau mempercayakan sepenuhnya kepada saya pokok-pokok apa saja yang akan disoroti dan didiskusikan bersama dalam “kelas malam” tersebut. Romo Fix percaya penuh kepada saya, dengan demikian tentunya saya sebagai pihak yang diberi tugas pun tidak ingin mengecewakan beliau. Menaruh kepercayaan (trust) pada orang lain tidak mungkin ada pada pribadi yang tidak memiliki kasih atau memandang diri sendiri lebih hebat ketimbang orang-orang lain. Pada masa itu saya juga pernah minta tolong Romo Fix untuk memeriksa tulisan saya tentang “Allah Bapa” dalam “Tahun Allah Bapa” menjelang “Tahun Yubileum 2.000”. Beliau memeriksanya dengan serius dan mengembalikan tulisan saya disertai tanda-tangan sebagai tanda persetujuan atas isi tulisan saya tersebut. Terasa ada “seriousness” dalam menghadapi seorang anggota umat di sini. Sampai beberapa bulan lalu, sekali-kali saya masih menerima komentar-komentarnya yang sangat encouraging (memberi dorongan dan menyemangati) atas tulisan-tulisan yang saya buat. Pada suatu hari beliau mengirim e-mail yang memberitahukan bahwa sebuah tulisan saya dipakainya sebagai bahan utama homilinya pada perayaan Ekaristi di Amerika Serikat. Wah, saya sungguh bersyukur kepada Tuhan atas kerendahan-hati, keterbukaan dan kejujuran beliau …… sebelum saya keburu tersanjung dan GR! Nilai kehidupan baik yang juga dihayatinya adalah “respect for others”, siapa pun pribadi manusia yang sedang dihadapinya, kaya-miskin, muda-tua dlsb. Romo Fix adalah seorang imam yang akal budinya, hatinya, sikapnya, perilakunya – seluruh dirinya –  sepenuhnya diabdikan kepada HATI KUDUS YESUS !!! Dua orang imam SCJ tidak pernah meragukan kesucian beliau, dan hal ini dikemukakan dalam retret prodiakon paroki St. Stefanus pada bulan September 2011 lalu dan juga dalam sebuah rangkaian pertemuan di paroki mengenai Ekaristi pada bulan November 2011.

Inilah Romo Thomas Martin Fix SCJ yang sangat dihormati umat paroki St. Stefanus walaupun beliau tidak pernah menjadi Pastor Kepala, terbukti dengan begitu penuh-sesaknya Misa Requiem yang dirayakan pada misa jam 18.45 hari Minggu Paskah III tanggal 22 April 2012 di gereja St. Stefanus, Cilandak yang disusul dengan tuguran secara bergiliran sampai saat pemberangkatan jenazah ke bandara. Seorang menteri terlihat hadir untuk menghormati jenazah beliau. Jenazah beliau diberangkatkan pada dini hari Senin tanggal 23 April dan dimakamkan pada hari yang sama di kota Palembang.

Sampai jumpa di rumah Bapa kelak, Romo Thomas Fix yang baik! Doakanlah kami dari sana!

Tulisan berikut dapat membantu kita memandang dengan lebih jelas siapa Romo Thomas Fix SCJ ini berkaitan dengan keberadaan beliau sebagai seorang imam Kristus.

IMAM

Tentang para imam, salah satu dokumen Konsili Vatikan II, ‘Dekrit Presbyterorum Ordinis [PO] tentang Pelayanan dan Kehidupan para Imam (7 Desember 1965)’ menyatakan: “… para imam, berkat tahbisan dan perutusan yang mereka terima dari para Uskup, diangkat untuk melayani Kristus Guru, Imam dan Raja. Mereka ikut menunaikan pelayanan-Nya, yang bagi Gereja merupakan upaya untuk tiada hentinya dibangun di dunia ini menjadi umat Allah, Tubuh Kristus dan Kenisah Roh Kudus” [PO 1]. Dokumen yang sama juga menyatakan: “Karena Sakramen Tahbisan para imam dijadikan secitra dengan Kristus Sang Imam, sebagai pelayan Sang Kepala, untuk membentuk dan membangun seluruh Tubuh-Nya, yakni Gereja, sebagai rekan-rekan kerja Tingkat para Uskup. Sudah pada pentakdisan Baptis mereka, seperti semua orang beriman, menerima tanda serta karunia panggilan dan rahmat seagung itu, sehingga di tengah kelemahan manusiawi pun, mereka mampu dan harus menuju kesempurnaan, menurut amanat Tuhan: “Hendaknya kalian menjadi sempurna, seperti Bapamu di surga adalah sempurna”  [Mat 5:48; PO 12].

Dari petikan-petikan dokumen Gereja di atas, jelas kelihatan bahwa tugas pelayanan para imam tertahbis dalam Gereja kita sangatlah penting dan mulia. Maka mereka harus dan sepantasnya dihormati oleh segenap umat. Namun demikian, imamat mereka tidak dapat lepas dari Imamat Kristus sendiri, sang Imam Besar Perjanjian Baru. Imamat-Nya adalah sumber dan model bagi para imam tertahbis dalam Gereja kita, tidak lebih dan tidak kurang.

IMAMAT SAKRAMENTAL 

Sakramen imamat sesungguhnya merupakan suatu bentuk kehadiran khusus yang dijanjikan Yesus bagi umat-Nya dan bagi dunia. Dalam misteri inkarnasi Allah menjadi manusia [Yoh 1:14], supaya manusia dapat bertemu dengan Allah dalam diri seorang manusia juga, Yesus. Yesus bersabda kepada Filipus: “Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” [Yoh 14:9]. Nah, Kristus sang “Imam Besar Agung” [Ibr 4:14] mau melanjutkan karya penebusan umat manusia melalui kodrat manusia lagi, yaitu melalui diri manusia. Imamat-Nya akan hadir dan bekerja dalam diri orang yang ditahbiskan menjadi imam. Dalam sakramen imamat ini Yesus mengambil seorang manusia agar Ia dapat bekerja di dalam  dia dan melalui dia untuk memberikan apa yang dibutuhkan umat-Nya dan manusia pada umumnya: melanjutkan karya penyelamatan. Inilah misteri kehadiran sang Imam Besar Agung dalam diri seorang imam tertahbis Gereja kita seperti Romo Thomas Fix SCJ ini.

Pater Josef Boumans SVD dengan tepat sekali mengatakan: “Seorang imam seharusnya adalah sebuah “ikon” dari Yesus, Imam Agung”.  Ikon adalah lukisan seorang kudus, atau Yesus atau Maria. Orang yang melakukan devosi dengan menggunakan ikon, merasakan bahwa di dalamnya ada kuasa, rahmat, kekuatan khusus dari orang yang digambarkan, dan kekuatan itu akan dinikmati kalau gambar itu dihormati [Menjadi Imam Allah, hal.10]. Oleh Sakramen Tahbisan Suci (Imamat), seseorang dipersatukan secara khusus dengan Kristus, sang Imam Besar Agung, dan kebersatuan dengan Kristus ini diharapkan menjadi semakin mendalam sehingga imam itu sungguh menjadi ikon Kristus. Dengan menerima Sakramen Tahbisan Suci ini seseorang yang dijadikan imam dapat mulai berperan dalam nama Kristus, bahkan in persona Christi, khususnya dalam hal Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat/Rekonsiliasi [lihat Yoh 20:22-23]. Santo Yohanes Maria Vianney (1786-1859) adalah seorang ikon dari Yesus yang nyaris sempurna.

IMAMAT KRISTUS  

Imam Besar Agung. Penulis “Surat kepada Orang Ibrani” merupakan satu-satunya penulis Perjanjian Baru yang menyoroti imamat Kristus secara khusus dan menyebut-Nya sebagai seorang Imam secara eksplisit. Ia bahkan memandang imamat Kristus sebagai pokok seluruh uraiannya [Ibr 8:1]. Penulis “Surat kepada Orang Ibrani” ini merumuskan dan mengungkapkan kedudukan serta karya Yesus Kristus dengan menggunakan kategori-kategori kultis yang diambil-alih dari Perjanjian Lama (agama Yahudi). Dapat saja kita membayangkan bahwa sang penulis telah merenungkan secara mendalam Mzm 110, teristimewa janji Bapa surgawi akan kedatangan Mesias: “Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek” [Mzm 110:4]. Kita ketahui bahwa Mzm 110 adalah yang paling sering dipetik dalam Perjanjian Baru, namun hanya penulis “Surat kepada Orang Ibrani” sajalah yang berbicara mengenai nubuatan tentang seorang Imam Besar yang akan tampil menurut aturan Melkisedek [bdk. Doa Syukur Agung I].

Jabatan imam Yahudi dalam Perjanjian Lama dikhususkan bagi bani Lewi. Orang-orang ini dijadikan kelas imam yang bertugas untuk mempersembahkan kurban dan melakukan mediasi secara kultis antara Allah dan umat-Nya. Harun dan para puteranya harus dibedakan dengan orang-orang Lewi lainnya [Kel 28:1-5; 32:25-29; Bil 1:47-54; 3:1-51; Ul 10:6-9; 18:1-8; 33:8-11]. Dengan mata iman penulis “Surat kepada Orang Ibrani” mampu memandang melampaui imamat Yahudi dalam upayanya menangkap rencana-kekal Allah. Pada zaman Yesus, martabat imamat Yahudi sudah jauh merosot ketimbang pada masa kejayaan Harun atau cucunya yang bernama Pinehas [baca Bil 25]. Pinehas, misalnya berani mengambil segala risiko demi kemurnian bangsanya. Sebaliknyalah para imam besar pada zaman Yesus; mereka malah berkolaborasi dengan penjajah Romawi serta mengkompromikan jabatan “suci” di hadapan Allah lewat berbagai manuver dan intrik politik agar tidak kehilangan “jabatan/posisi”. Penulis “Surat kepada Orang Ibrani” memandang imamat sebagai suatu institusi yang ditakdirkan oleh Allah sendiri. Ia menyadari bahwa imamat adalah sebuah simbol dari tradisi-tradisi besar bangsa Yahudi. Ia memahami bahwa imamat Yahudi membutuhkan pembaharuan, namun dia menyadari pula bahwa imamat ini adalah sesuatu yang sakral. Di atas itu semua, dia mengakui bahwa imamat masuk akal dan dapat diterima, hanya apabila dilihat/dipertimbangkan dalam terang pengorbanan-diri Yesus. Inilah latar belakang yang tidak mudah bagi penulis “Surat kepada Orang Ibrani” ketika dia memproklamasikan Yesus Kristus sebagai Imam Besar Agung.

Penulis “Surat kepada Orang Ibrani” mengembangkan suatu analogi dan kontras antara imamat Yesus dan imamat Yahudi, teristimewa yang menyangkut tugas sang imam besar pada Hari Penebusan Dosa (Yom Kippur). Tidak seperti sepupu-Nya, Yohanes Pembaptis, Yesus tidak dilahirkan dalam keluarga imam. Dengan demikian Yesus tidak dapat mengklaim bagi diri-Nya imamat Harun atau imamat kaum Lewi. Kendati tidak dilahirkan dalam keluarga imam, Yesus adalah “Imam Besar Agung” [Ibr 4:14-5:10] menurut aturan Melkisedek [Ibr 5:6,10]. Yesus memenuhi dua kualifikasi hakiki untuk imamat-Nya: (1) otorasi ilahi, artinya dipanggil oleh Allah sendiri [Ibr 5:4] dan (2) solidaritas dengan orang-orang kepada siapa Dia diutus agar dapat mewakili mereka [Ibr 4:15; bdk. 2:17-18; 3:1]. Cerita tentang pertemuan Abraham dengan seorang imam-raja yang misterius [Kej 14:17-20] mendorong penulis “Surat kepada Orang Ibrani” untuk sampai pada pernyataannya, bahwa  Yesus telah menerima imamat-kekal menurut aturan Melkisedek [Ibr 7:1-28; bdk. Mzm 110:4]. Kemanjuran kurban-Nya, mediasi perjanjian baru-Nya, konsistensi sempurna antara hidup manusia dan kegiatan kultis, identitas ilahi-Nya dan kenyataan bahwa Dia diangkat langsung oleh Allah, semua ini membuat imamat Yesus Kristus cukup superior ketimbang imamat Yahudi [Ibr 6:20-10:18].

Ditetapkan oleh Allah. Asal-usul imamat Perjanjian Baru adalah misteri abadi dalam Allah, yang ditetapkan untuk mendamaikan, mempersatukan dan memuliakan seluruh ciptaan dalam diri Putera-Nya. Yesus, hadir dan memasuki sejarah hidup manusia di dunia ini pada waktu dikandung oleh kuasa Roh Kudus dalam rahim Bunda Maria. Sejak saat itu imamat-Nya tidak pernah berhenti. Di surga, Yesus tetap Imam Besar Agung kita yang berdoa bagi kita pada takhta kemurahan Allah; sedangkan di bumi imamat-Nya di-share-kan kepada manusia melalui Sakramen Imamat. Keiikut-sertaan dalam imamat Yesus ini adalah berdasarkan panggilan dan pilihan-Nya juga, dan terbatas pada mereka yang dipanggil atau diundang-Nya. Yesus bersabda: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu” [Yoh 15:16].

Pengantara satu-satunya antara Allah dan manusia. Dalam salah satu Surat Pastoral diakuilah bahwa Kristus adalah pengantara esa antara Allah dan manusia, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia [1Tim 2:5-6]. Penulis “Surat kepada Orang Ibrani” juga menulis: “… Dialah Pengantara dari suatu perjanjian yang baru, supaya mereka yang telah terpanggil dapat menerima warisan kekal yang dijanjikan, sebab sudah ada yang mati untuk menebus pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan selama perjanjian yang pertama” [Ibr 9:15; bdk 12:24]. Kemuliaan imamat terletak dalam kenyataan bahwa imamat merupakan suatu pengantaraan antara Allah dan manusia. Imamat adalah suatu karunia Allah bagi manusia. Doa Yesus untuk para murid-Nya [Yoh 17:1-26], misalnya, sejak tahun 1600 sudah diberi judul “Doa Imam Besar/Agung”. Memang sejak Sabda Allah menjadi manusia [Yoh 1:14], Yesus adalah sang Pengantara. Dalam misteri inkarnasi, ke-Allah-an dan kemanusiaan saling bertemu dan bersatu, yaitu dalam diri Yesus Kristus. Dengan jalan ini, kodrat manusia telah dihubungkan dengan ke-Allah-an. Sekarang Kristus dapat menyucikan seluruh umat manusia di dalam kemanusiaan-nya. Yesus menjadi Imam Besar Agung, ketika kemanusiaan-Nya diurapi oleh Allah (lihat Ibr 1:9).

Imam Besar Agung tanpa noda-dosa. Imam Besar Agung ini adalah tanpa noda atau cacat-dosa [lihat Ibr 4:15; 7:26-27] dan seluruh hidup-Nya di muka bumi diwujudkan dalam perang-tak-berkesudahan melawan kejahatan, melawan si Jahat (Iblis): “penguasa dunia” [Yoh 12:31; 16:11], “si ular tua” [Why 12:9], “pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran” [Yoh 8:44], dan lain-lainnya. Selama hidup-Nya di dunia Yesus melawan segala bentuk ketidakadilan dan penindasan. Ia juga mengampuni dosa-dosa [bdk 1Ptr 2:21-24]. Dasar kuat-kokoh dari tulisan Santo Petrus ini  adalah sabda Yesus pada Perjamuan Akhir: “Ambilah, makanlah, inilah tubuh-Ku…. Minumlah, kamu semua, dari cawan, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa-dosa” [Mat 26:26-28]. Karena Imam Besar Agung tanpa dosa, maka setiap imam, di mana saja dan kapan saja, hendaknya senantiasa memohon rahmat Allah agar semakin menjadi pribadi yang bebas dari dosa dan dipenuhi kekudusan Allah. Sementara itu setiap imam juga hendaknya selalu dengan rendah-hati mengakui bahwa dia masih berada jauh dari sempurna dalam usahanya menjadi ikon Kristus.

YESUS KRISTUS ADALAH IMAM DAN SEKALIGUS KURBAN

“Yesus … telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan kurban yang harum bagi Allah” [Ef 5:2]. Yesus merayakan Paskah bersama para murid-Nya, Ia menetapkan perjamuan Tuhan [1Kor 11:20] dan kemudian Ia disalibkan. Ketiga hal ini dengan cepat membuat umat Kristiani perdana menerapkan “bahasa kurban” bagi kematian Yesus. Tulisan Santo Paulus tentang Kristus sebagai “anak domba Paskah kita” yang “juga telah disembelih” [1Kor 5:7] dan yang dengan darah-Nya  menghapus dosa-dosa dunia [Rm 3:25; bdk 1Yoh 2:2], jelas menunjukkan bahwa dia mengambil alih sejak awal rumusan-rumusan tradisional yang ada. Kristus dilihat sebagai kurban persembahan, namun pada saat yang sama Dia juga bertindak sebagai imam pada waktu merayakan perjamuan Tuhan, pada hari Jumat Agung dan Minggu Paskah. Meski Yesus menguduskan orang-orang melalui darah-Nya sendiri, Dia “menderita di luar pintu gerbang” [Ibr 13:12], artinya sebuah setting yang bersifat profan dan bukannya dalam bait Allah atau tempat kultis lainnya seperti kasus Zakharia anak Berekhya yang dibunuh di antara tempat kudus dan mezbah [Mat 23:35; bdk. Luk 11:51; 2Taw 24:15-22].

Sepanjang hidup-Nya Yesus menyadari sepenuhnya tentang perlunya kurban silih bagi dosa-dosa manusia, demi cinta kasih-Nya yang tak terbatas kepada Bapa-Nya dan umat manusia. Hal ini dilukiskan dalam “Surat kepada Orang Ibrani” (Ibr 9:27-28). Yesus sebagai Imam yang mempersembahkan kurban sekaligus menjadi Kurban itu sendiri. Inilah misteri ilahi Yesus. Yesus berkata: “Inilah Tubuh-Ku yang dikurbankan bagimu”, “inilah piala Darah-Ku yang ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang demi pengampunan dosa”. Sebelum penyaliban di bukit Kalvari, Yesus memberikan diri-Nya kepada para murid-Nya sebagai kurban. Kalvari merupakan konfirmasi dan perwujudan misteri-misteri Ekaristi, misteri-misteri malam Perjamuan Akhir. “Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku”. Di sinilah para imam tertahbis seperti Romo Thomas Fix muncul dalam pelaksanaan rencana keselamatan. Oleh tahbisannya, seorang imam ditempatkan dalam kenyataan dan kemauan Yesus Kristus sebagai satu-satunya Imam yang mempersembahkan kurban.

Seorang imam – seperti Romo Thomas Fix – ditetapkan Allah agar supaya dia menghadirkan kurban keselamatan dari Yesus di tengah umat-Nya sampai Dia datang kembali. Seorang imam adalah imam yang mempersembahkan kurban, sejauh dia menempatkan Kurban Ilahi itu di tengah umat, agar umat dapat mempersembahkan Kurban Ilahi itu kepada Allah, sambil mempersatukan diri mereka dengan Kurban itu. Imam itu sendirilah yang pertama-tama dipanggil untuk mempersatukan diri dengan kurban Yesus, untuk bersama Yesus menjadi kurban keselamatan bagi umat manusia. Dalam Misa Kudus kita mendengar imam-selebran berucap: “Sambil mengharapkan kedatangan-Nya dalam kemuliaan, kami mempersembahkan pada-Mu Tubuh dan Darah-Nya: kurban yang berkenan pada-Mu dan membawa keselamatan bagi seluruh dunia. Ya Bapa, sudilah memandang kurban ini yang telah Engkau sediakan sendiri bagi Gereja-Mu. Perkenankanlah agar semua yang ikut menyantap roti yang satu dan minum dari piala yang sama ini dihimpun oleh Roh Kudus menjadi satu tubuh. Semoga dalam Kristus, mereka menjadi kurban yang hidup sebagai pujian bagi kemuliaan-Mu [Doa Syukur Agung IV]. Dalam perayaan Ekaristi, seorang imam berada di jantung Imamat Yesus dan imamat mereka sendiri. Seorang imam ditahbiskan terutama untuk mempersembahkan Kurban Misa. Apa yang dirayakannya hendaklah dilaksanakannya: “mengurbankan diri, mengurbankan diri bersama”. Kurban Ilahi demi keselamatan manusia. Seorang imam tertahbis telah menjadi imam yang mempersembahkan kurban dan sekaligus menjadi kurban itu sendiri.

CATATAN PENUTUP

Menjadi imam merupakan sebuah jawaban atas panggilan atau undangan Allah.  Romo Thomas Martin Fix SCJ menanggapi panggilan-Nya dengan baik. Benih panggilan tersebut sudah tertanam dalam dirinya sejak masih duduk di sekolah dasar. Sejak kelas 3 beliau sudah “bermimpi” untuk menjadi seorang misionaris kelak.

Yang terjadi dengan Yesus dalam panggilan menjadi imam ini digambarkan dalam “Surat kepada Orang Ibrani” (Ibr 10:5-7). Sabda Yesus dalam ayat 7 berbunyi: “Sungguh, Aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku” [bdk Mzm 40:7-9]. Tanggapan Yesus terhadap imamat-Nya yang ditetapkan oleh Bapa surgawi, ketaatan-Nya kepada kehendak Allah, mewarnai seluruh hidup-Nya, baik di bumi ini maupun sekarang di surga. Yesus berkata: “Sungguh, Aku datang”. Ketika seorang calon imam dipanggil uskup untuk ditahbiskan, maka dia berkata: “Aku sungguh datang”. Ecce venio! Penyerahan diri kepada kehendak Bapa-Nya bersifat total dan dipenuhi kerelaan hati yang terlihat nyata dalam kehidupan-Nya.

Dengan taat pada panggilan Bapa surgawi, seluruh hidup-Nya menjadi pujian dan kemuliaan bagi Bapa. “Melakukan kehendak Bapa” merupakan pusat keberadaan Yesus. Ia bersabda, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya“ [Yoh 4:34]; “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga” [Mat 7:21]. Dalam penderitaan-Nya di taman Getsemani Yesus berdoa: “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau berkenan, ambillah cawan ini dari hadapan-Ku; tetapi jangan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi” [Luk 22:42]. Hal yang sama juga diharapkan menjadi kenyataan dalam hidup sehari-hari seorang imam-Nya, karena Kristus sendirilah sesungguhnya paradigma atau model para imam tertahbis. Romo Thomas Martin Fix SCJ telah memenuhi harapan termaksud.

Catatan: Tulisan ini adalah revisi dari tulisan tanggal 8 Juli 2009, salah satu tulisan saya dalam rangka menyambut Tahun Imam 2009-2010. Tulisan kali ini adalah dalam rangka mengenang wafat seorang imam Kristus, Romo Thomas Martin Fix SCJ (21 April 2012). 

Jakarta, 25 April 2012 [Pesta Santo Markus – Penulis Injil] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AKULAH ROTI KEHIDUPAN

AKULAH ROTI KEHIDUPAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah, Selasa 24-4-12)

Keluarga Augustinian [OAD,OSA]: Pesta Pertobatan Santo Augustinus dari Hippo

Keluarga Fransiskan: Peringatan Wajib Santo Fidelis dari Sigmaringen, Imam-Martir

Sebab itu, kata mereka kepada-Nya, “Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya kami dapat melihatnya dan percaya kepada-Mu? Apakah yang Engkau kerjakan? Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari surga.”

Lalu kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, bukan Musa yang memberikan kamu roti dari surga, melainkan Bapa-Ku yang  memberikan kamu roti yang  benar dari surga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup kepada dunia.” Maka kata mereka kepada-Nya, “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” Kata Yesus kepada mereka, “Akulah roti kehidupan; siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan pernah lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan pernah haus lagi. (Yoh 6:30-35)

Bacaan Pertama: Kis 7:51-8:1a; Mazmur Tanggapan: Mzm 31:3-4,6-8,17,21

Sejak awal Allah telah memiliki kerinduan untuk memberi makan umat-Nya dengan kehadiran-Nya dan memberikan kepada mereka suatu bagian dalam kehidupan ilahi-Nya. Berbicara secara profetis dalam nama Tuhan, sang pemazmur menulis: “Akulah TUHAN (YHWH), Allahmu, yang menuntun engkau keluar dari tanah Mesir: bukalah mulutmu lebar-lebar, maka Aku akan membuatnya penuh. …… umat-Ku akan Kuberi makan gandum yang terbaik dan dengan madu dari gunung batu Aku akan mengenyangkannya” (Mzm 81:11,17). Misalnya, dalam Keluaran (Kel 16:4-5), Allah menurunkan hujan makanan (manna) dari surga ke atas anak-anak-Nya di padang gurun.

Yohanes bercerita di sini tentang sekelompok orang yang berkumpul di sekeliling Yesus untuk meminta bukti nyata siapa diri-Nya sebenarnya. Mereka mengemukakan fakta bahwa pada zaman Musa, Allah mencurahkan manna dari surga kepada nenek moyang mereka sebagai bukti bahwa Dia ada bersama umat-Nya. Itulah sebabnya mengapa mereka juga menginginkan sebuah “tanda” yang dapat memupus ketidakpercayaan mereka. Dalam menanggapi tuntutan tersebut, Yesus menjelaskan bahwa Dia sendiri adalah “tanda” yang dimaksud: “Akulah roti kehidupan; siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan pernah lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan pernah haus lagi” (Yoh 6:35). Di sini Yesus minta kepada orang-orang itu untuk mempraktekkan iman mereka.

Yesus mengatakan bahwa Bapa-Nyalah – bukan Musa – yang memberikan roti manna dari surga kepada orang-orang Israel pada waktu berkelana di padang gurun menuju tanah terjanji, untuk menopang kehidupan mereka dan menolong menghilangkan ketidak-percayaan mereka kepada-Nya. Sekarang Ia telah datang sebagai “roti dari surga” yang sesungguhnya, diutus oleh Bapa-Nya untuk memenuhi umat dengan kehidupan ilahi. Yesus mencoba untuk menjelaskan kepada orang banyak yang mendengarkan pengajaran-Nya agar menimba manfaat dari “roti kehidupan” ini, namun pada instansi pertama mereka membutuhkan iman. Tanpa iman, mereka tidak akan mampu untuk menerima semua yang ingin diberikan-Nya kepada mereka.

Percayakah kita bahwa Yesus adalah “roti dari surga” yang sejati? Percayakah kita bahwa Dia adalah Allah yang menjadi manusia, wafat, bangkit dan kemudian mengirimkan Roh Kudus untuk memberi makan kepada kita? Percayakah kita bahwa Yesus dapat membawa kita kepada kehidupan yang dimaksudkan Allah bagi kita sejak dahulu kala? Apabila kita mendekati altar Tuhan dengan iman seperti ini, maka kehidupan kita pun ditransformasikan. Marilah kita secara sadar mengambil keputusan untuk percaya kepada sang Putera Allah. Jika kita melakukannya, maka damai sejahtera dan penjaminan kembali akan memenuhi diri kita. Setiap orang yang percaya – walau pun sedikit saja – akan menerima bukti secara berlimpah.

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa Engkau datang untuk menyelamatkanku dari dosa dan maut. Walaupun imanku lemah, Engkau datang kepadaku dan memberi makan imanku yang kecil ini sampai menjadi sebuah dasar kepercayaan yang pasti akan segala janji-janji-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:30-35), bacalah tulisan yang berjudul “ROTI KEHIDUPAN YANG TURUN DARI SURGA” (bacaan tanggal 24-4-12) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 12-04 BACAAN HARIAN APRIL 2012. Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 7:51-8:1a), bacalah tulisan yang berjudul  “SANTO STEFANUS, MARTIR PERTAMA” (bacaan 10-5-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM ini; kategori: 11-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2011.

Cilandak, 12 April 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MEMBERI MAKAN LIMA RIBU ORANG

YESUS MEMBERI MAKAN LIMA RIBU ORANG

 (Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan II Paskah, Jumat 20-4-12) 

Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang Danau Galilea, yaitu Danau Tiberias. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mukjizat-mukjizat yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit. Lalu Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya. Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus, “Di mana kita dapat membeli roti, supaya mereka dapat makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Salah seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya, Di sini ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apa artinya itu untuk orang sebanyak ini?” Kata Yesus, “Suruhlah orang-orang itu duduk.” Adapun di tempat itu banyak rumput. Lalu duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Sesudah itu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dilakukan-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.” Mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Ketika orang-orang itu melihat tanda mukjizat yang telah diperbuat-Nya, mereka berkata, “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.”

Karena Yesus tahu bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir lagi ke gunung, seorang diri. (Yoh 6:1-15).

Bacaan Pertama: Kis 5:34-42; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14 

Ada yang mengatakan, bahwa makan sambil berdiri atau berjalan kian kemari dapat menyebabkan gangguan dalam pencernaan. Oleh karena itu tidak mengherankanlah apabila Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk menyuruh orang banyak duduk. Memang demikianlah halnya: tubuh kita harus dalam keadaan duduk dan rileks agar makanan yang masuk dapat dicerna dengan baik. Hal yang sama berlaku untuk pencernaan secara rohaniah (spiritual). Kita harus rileks dan tidak sibuk kesana kemari agar supaya Yesus dapat memberi makanan kepada roh kita. Kita dapat menderita sakit pencernaan spiritual apabila kita hanya berdoa sementara disibukkan dengan pekerjaan kita. Boleh saja kita mengatakan “karyaku adalah doaku”, tetapi doa dalam keheningan di tengah quality time kita harus tetap dilakukan. Mengapa? Karena pengalaman banyak orang mengatakan bahwa betapa sulit jadinya untuk mendengar suara Allah dan beristirahat dalam kasih-Nya apabila setiap saat dari hari-hari kehidupan kita hanya dipenuhi dengan kesibukan.

Orang banyak yang diberi makanan oleh Yesus mengikuti Dia ke atas gunung karena mereka lapar akan jawaban-jawaban Yesus – akan pengharapan, tujuan, dan perjumpaan pribadi dengan kasih Allah. Mereka mempunyai banyak kebutuhan: Ada yang sakit, ada juga yang sedang tertindas. Bagi orang-orang lain, untuk survive dari hari ke hari saja sudah sulit. Akan tetapi, Yesus melihat dan merasakan kebutuhan-kebutuhan mereka semua dan menjawabnya satu persatu pada setiap tingkat. Ia minta agar para murid-Nya menyuruh orang banyak untuk duduk dan beristirahat, sehingga dengan demikian Ia dapat memberi mereka makan. Ia memberi orang banyak itu makan untuk memperkuat mereka dalam perjalanan pulang mereka ke rumah masing-masing. Ia mewartakan kabar baik dari Kerajaan Allah kepada orang banyak itu. Ia bahkan menyembuhkan mereka di bidang fisik, spiritual dan emosional.

Lebih dari dua ribu tahun kemudian, di abad ke-21 ini, kehidupan kita masih banyak menuntut. Penderitaan masih hadir di sekeliling kita dalam berbagai bentuknya. Setiap orang menghadapi berbagai kebutuhan dan tekanan yang harus diatasi. Memang tidak sulit untuk merasakan  bagaimana pikiran kita bergerak dengan cepat, bahkan ketika kita mencoba untuk diam dan berdoa secara hening. Yesus tetap meminta kita untuk duduk, membuat tenang pikiran kita dan menerima dari Dia.

Satu cara yang dapat menolong kita dalam berdoa adalah dengan menggunakan imajinasi. Kita dapat membayangkan berada bersama Yesus, para rasul dan orang banyak di atas gunung itu. Kita dapat membayangkan sedang memperhatikan Yesus yang memandang ke surga selagi Dia memohon kepada Bapa-Nya di surga untuk memberkati lima roti jelai dan dua ekor ikan yang tersedia. Kemudian kita membayangkan didatangi oleh salah seorang rasul yang menawarkan roti dan ikan sesuai dengan keinginan kita. Sekarang, marilah kita mohon agar Yesus memenuhi diri kita dengan damai sejahtera dan sukacita sementara Dia berjanji untuk menolong kita agar setiap kebutuhan kita dipenuhi.

DOA: Tuhan Yesus, aku memberikan kepada-Mu segala keprihatinan yang ada dalam pikiranku sekarang. Tolonglah aku agar dapat membuat tenang hatiku sehingga aku pun dapat duduk di dekat kaki-Mu dan ikut ambil bagian dalam perjamuan-Mu sepanjang hidupku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:1-15), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENGAMBIL ROTI ITU, MENGUCAP SYUKUR DAN MEMBAGI-BAGIKANNYA KEPADA MEREKA” (bacaan tanggal 20-4-12) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 12-04 BACAAN HARIAN APRIL 2012. Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 5:34-42), bacalah tulisan yang berjudul “JANGANLAH BERTINDAK APA-APA TERHADAP ORANG-ORANG INI” (bacaan tanggal 6-5-11) dalam situs/blog SANG SABDA; kategori: 11-05 BACAAN HARIAN MEI 2012. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-5-11)

Cilandak, 9 April 2012  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

EKARISTI ADALAH EMAUS KITA

EKARISTI ADALAH EMAUS KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RABU DALAM OKTAF PASKAH, 11-4-12) 

Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah desa bernama Emaus, yang terletak kira-kira sebelas kilometer dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. Yesus berkata kepada mereka, “Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?”  Lalu berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya, “Apakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dialah adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan dan perkataan di hadapan Allah dan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan bahwa Dialah yang akan membebaskan bangsa Israel. Sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat yang mengatakan bahwa Ia hidup. Beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati persis seperti yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat.”  Lalu Ia berkata kepada mereka, “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu untuk mempercayai segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya”  Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. Mereka mendekati desa yang mereka tuju, lalu Ia  berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-nya. Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya, “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.”  Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap syukur, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. Kata mereka seorang kepada yang lain, “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?”  Lalu bangkitlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu dan orang-orang yang ada bersama mereka, sedang berkumpul. Kata mereka itu, “Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon.”  Lalu kedua orang itu pun menceritakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenali Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti. (Luk 24:13-35)

Bacaan Pertama: Kis 2:14,22-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,5,7-11; Bacaan Kedua: 1Ptr 1:17-21 

Pernahkah anda mempunyai suatu pengalaman pada Misa Kudus, ketika anda merasa sangat dekat dengan Yesus, serasa Dia sedang duduk di samping anda? Pikiran anda terfokus, tubuh anda rileks dan hati anda berkobar-kobar dengan cintakasih kepada Yesus. Pada saat-saat seperti ini setiap hal diletakkan pada perspektif yang layak dan anda pun yakin bahwa Allah memegang kendali atas setiap situasi. Seperti inilah yang dialami oleh Kleopas dan temannya ketika berjalan menuju Emaus. Cerita perjalanan menuju Emaus ini pun telah menjadi ilustrasi mengenai apa yang kita semua dapat terima apabila kita merayakan Ekaristi. Seperti hati kedua murid yang berkobar-kobar pada waktu Yesus menjelaskan Kitab Suci kepada mereka, hati kita juga berkobar-kobar manakala sabda Allah diwartakan. Kemudian kita siap untuk Yesus menyatakan diri-Nya kepada kita dalam pemecahan roti dalam upacara Komuni Kudus.

Oleh karena itu bagaimana kita dapat melihat Yesus dalam Ekaristi? Barangkali satu dari cara-cara terbaik adalah dengan membaca Kitab Suci. Dalam gereja perdana, perayaan Ekaristi berlangsung berjam-jam lamanya. Arti positifnya di sini adalah bahwa ada cukup waktu untuk Kitab Suci, untuk persekutuan dan untuk doa sembah bakti setelah Komuni. Pada zaman sekarang, Misa Kudus hari Minggu di kota-kota besar berlangsung satu jam lebih sedikit lamanya, karena Misa yang satu akan disusul oleh Misa lainnya. Memang banyak umat yang senang kalau Misa Kudus yang dihadirinya itu “singkat-padat”, khotbah imam yang tak bertele-tele dan sebagainya, namun kita harus sadari bahwa banyak juga orang yang merindukan untuk waktu yang lebih panjang, misalnya untuk adorasi Sakramen Mahakudus setelah Misa.

Bagaimana kita dapat mengatasi keterbatasan-keterbatasan waktu ini? Dengan menyiapkan diri kita sebaik-baiknya sebelum menghadiri Misa Kudus. Satu cara yang sangat efektif adalah pada hari Sabtu malam kita membaca dan merenungkan bacaan-bacaan Kitab Suci untuk Misa Kudus keesokan harinya. Mulailah dengan mohon kepada Roh Kudus untuk membuka hati kita bagi perwahyuan-Nya. Bacalah nas-nas Kitab Suci itu secara perlahan-lahan dan dalam suasana doa. Anda malah dapat membaca kitab tafsir atau panduan studi untuk membantumu memahami bacaan-bacaan yang ada. Setelah selesai membaca dan meditasi, dengan rendah hati mohonlah kepada Yesus untuk mencurahkan cintakasih-Nya atas diri anda, supaya anda siap untuk bertemu dengan-Nya dan mengasihi-Nya lebih penuh lagi dalam Misa Kudus pada keesokan harinya. Ingatlah bahwa Yesus selalu berkeinginan untuk berbicara kepada hati anda. Dia hanya menanti anda untuk datang kepada-Nya!

DOA  Yesus, datanglah dan ajarlah aku. Biarlah sabda-Mu berkobar-kobar dalam hatiku. Bukalah mata hatiku sehingga aku dapat melihat-Mu dalam Ekaristi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 24:13-35), bacalah tulisan yang berjudul “MEREKA MENGENAL DIA DALAM PEMECAHAN ROTI” (bacaan tanggal 11-4-12) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-04 BACAAN HARIAN APRIL 2012. Untuk mendalami Bacaan Pertama (Kis 3:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “NAMA YESUS YANG PENUH KUAT-KUASA” (bacaan tanggal 27-4-11) di situs/blog SANG SABDA; kategori: 11-04 BACAAN HARIAN APRIL 2011. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-5-11) 

Cilandak, 31 Maret 2012  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KOMUNI KUDUS: BERSATU DENGAN YESUS KRISTUS SERTA SAUDARI DAN SAUDARA KITA

KOMUNI KUDUS: BERSATU DENGAN YESUS KRISTUS SERTA SAUDARI DAN SAUDARA KITA 

Misa adalah serentak, dan tidak terpisahkan, kenangan kurban di mana kurban salib hidup terus untuk selama-lamanya perjamuan komuni kudus dengan tubuh dan darah Tuhan. Upacara kurban Ekaristi diarahkan seluruhnya kepada persatuan erat dengan Kristus melalui komuni. Menerima komuni berarti menerima Kristus sendiri, yang telah menyerahkan diri untuk kita (KATEKISMUS GEREJA KATOLIK [KGK], 1382).

Dalam Perayaan Ekaristi, pada saat komuni, kita menyambut hosti yang sudah dikonsekrasikan – yang kita imani sebagai Tubuh Kristus. Paus Santo Leo Agung [+ 461] yang juga seorang pujangga Gereja, pernah menulis: “Keiikutsertaan kita dalam tubuh dan darah Kristus hanya cenderung untuk membuat kita menjadi apa yang kita makan” (Sermon 12 tentang Sengsara Kristus). Sebagaimana kita akan lihat dalam uraian di bawah, pandangan Paus Santo Leo Agung ini meneguhkan pendapat dari Santo Augustinus [354-430].

Dalam komuni, kita menjadi satu roh dengan Yesus. Sebuah kebenaran seperti ini membawa kita kepada suatu kesimpulan penting: Tidak ada suatu saat atau pengalaman pun dalam kehidupan Kristus yang tidak dapat kita hidupkan kembali dan syeringkan dalam komuni kudus; pada kenyataannya, keseluruhan hidup-Nya hadir dan diberikan dalam tubuh dan darah-Nya. Tergantung pada disposisi kita atau kebutuhan sementara kita, maka kita dapat berdiri di samping Yesus yang sedang berdoa, Yesus yang sedang digoda Iblis, Yesus yang sedang letih-lelah, Yesus yang mati di kayu salib, dan Yesus yang bangkit dari antara orang mati – bukan sebagai dalih mental, melainkan karena Yesus yang sama tetap eksis dan hidup dalam Roh.

Kebenarannya adalah, bahwa persekutuan (Latin: Communio) Ekaristis melampaui segala kemampuan pemikiran manusia untuk membuat perbandingan. Berikut ini tentunya adalah kesatuan yang sangat erat; pokok anggur dan ranting-rantingnya berbagi/syering kehidupan yang sama. Namun, karena bersifat tak bernyawa, baik pokok anggur maupun ranting-rantingnya tidak menyadari adanya kesatuan ini! Kadang-kadang digunakan contoh pasangan suami-istri yang membentuk “satu daging.” Akan tetapi hal ini adalah pada suatu tataran yang berbeda – yaitu dalam tingkat daging dan bukan tingkat roh. Sepasang suami-istri dapat membentuk satu daging (Kej 2:24), namun tidak dapat membentuk satu roh. Santo Paulus menulis, “Siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia” (1Kor 6:17). Kekuatan dari persekutuan Ekaristis tepatnya adalah bahwa kita menjadi satu roh dengan Yesus, dan “satu roh” ini pada akhirnya berarti Roh Kudus!

Dalam komentarnya atas satu ayat dari Kitab Kidung Agung, Santo Ambrosius [c.334-397] menulis, “Pada kenyataannya, setiap kali anda minum [darah Kristus], …… anda menjadi dimabukkan secara spiritual. Santo Paulus mengingatkan kita, ‘Janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh’ (Ef 5:18); siapa saja yang menjadi mabuk anggur akan berjalan terhuyung-huyung (sempoyongan) dan menjadi tidak mantap, akan tetapi siapa saja yang dipenuhi dengan Roh berakar pada Kristus. ‘Kuduslah pemabukan ini yang membawa ketenangan hati’” (Tentang Sakramen-sakramen V,17).

Dalam hal mabuk yang disebabkan oleh anggur atau obat-obatan, seorang manusia dibuat menjadi hidup “di bawah” tingkat rasional, hampir sama dengan binatang saja. Sebaliknya mabuk secara spiritual membuat dia menjadi hidup melampaui akal budi, pada horison Allah. Setiap komuni harus berakhir pada suatu ekstase. Bukan ekstase dalam rupa fenomena luarbiasa yang kadang-kadang dialami oleh para mistikus, melainkan secara sederhana “keluar” dari diri kita, kenyataan – seperti ditulis oleh Santo Paulus – bahwa “aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:20).

Perendahan diri Tuhan Yesus. Komuni membuka beberapa pintu secara berturut-turut bagi kita. Pertama-tama kita semua masuk ke dalam hati Kristus, lalu melalui Dia, ke dalam hati Trinitas sendiri (Allah Tritunggal Mahakudus). Namun begitu kita merefleksikan kebaikan Allah kepada kita semua, kita dapat dilanda dengan rasa sedih yang mendalam. Apa yang telah kita lakukan terhadap tubuh Kristus? Bukankah aku pun turut ambil bagian dalam melakukan kekerasan terhadap Allah? Kita melakukan kekerasan terhadap-Nya dengan melecehkan janji yang telah mengikat dia untuk datang ke atas altar dan ke dalam hati kita. Setiap hari kita “mewajibkan” Dia untuk melakukan tindakan cintakasih agung ini, namun kita tidak memiliki kasih. Betapa baik hati kita harus memperlakukan seorang anak kecil yang tidak dapat membela dirinya sendiri; namun kita memperlakukan Yesus dengan tidak hormat, Dia yang dalam  misteri-Nya tidak dapat membela diri-Nya dari ulah kita.

Santo Fransiskus dari Assisi dalam “Petuah-petuah”-nya menulis: “Lihatlah, setiap hari Ia merendahkan diri, seperti tatkala Ia turun dari takhta kerajaan ke dalam rahim Perawan. Setiap hari Ia datang kepada kita, kelihatan rendah; setiap hari Ia turun dari pangkuan Bapa ke atas altar di dalam tangan imam. Seperti dahulu Ia tampak pada para rasul dalam daging yang sejati, demikian juga kini Ia tampak pada kita dalam roti kudus” (Pth I:16-19). Dalam “Surat kepada Seluruh Ordo”, orang kudus ini juga menulis: “Kalau Santa Perawan begitu dihormati – dan hal itu memang pantas – karena ia telah mengandung Yesus di dalam rahimnya yang tersuci; kalau Santo Yohanes Pembaptis gemetar dan tidak berani menjamah ubun-ubun kudus Allah; kalau makam, tempat Ia dibaringkan selama beberapa waktu begitu dihormati: betapa harus suci, benar dan pantaslah orang yang dengan tangannya menjamah-Nya, dengan hati dan mulut menyambut-Nya, serta memberikan-Nya kepada orang lain untuk disambut” (SurOr 21-22). Hal ini mengingatkan kita pada apa yang ditulis dalam Didakhe pada awal sejarah Gereja berkaitan dengan saat menyambut komuni: “Bila ada orang yang kudus, hendaklah ia datang! Tetapi yang tidak, biarlah bertobat! Maranatha. Amin” (Didache X:6).

Menolak Saudari dan Saudaraku berarti menolak Kristus sendiri. Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, Santo Paulus menulis: “Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus? Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu” (1Kor 10:16-17). Kita sudah terbiasa untuk menafsirkan kata-kata Paulus tadi sebagai partisipasi dalam keseluruhan diri Kristus melalui bagian-bagian yang membentuk diri Kristus termaksud: tubuh-Nya, darah-Nya, jiwa-Nya dan keilahian-Nya. Ide seperti ini berdasarkan pada filsafat Yunani yang biasa membagi manusia ke dalam tubuh, jiwa, dan roh. Akan tetapi, dalam bahasa alkitabiah kata “tubuh” dan “darah” mengindikasikan hidup Kristus secara keseluruhan, atau lebih baik lagi … kehidupan dan kematian-Nya.

Dalam petikan bacaan di atas, kata “tubuh” juga muncul dua kali; yang pertama menunjuk kepada tubuh sesungguhnya dari Kristus, dan yang kedua kalinya menunjuk kepada “tubuh mistik-Nya”, yaitu Gereja. Santo Augustinus menulis, “Setelah menanggung sengsara-Nya, Tuhan memberikan kepada kita tubuh-Nya dan darah-Nya dalam sakramen, sehingga dengan demikian kita dapat menjadi hal-hal ini. Pada kenyataannya kita adalah tubuh-Nya dan melalui belas kasih-Nya kita adalah apa yang kita terima” (Sermon Denis 6). Kita menjadi apa yang kita terima, Yesus Kristus, sang Anak Domba Allah!

Para bapak Konsili Vatikan II menyatakan: “Dengan ikut serta dalam kurban Ekaristi, sumber dan puncak seluruh hidup Kristiani, mereka mempersembahkan Anak Domba ilahi dan diri sendiri bersama dengan-Nya kepada Allah; demikianlah semua menjalankan peranannya sendiri dalam perayaan liturgis, baik dalam persembahan maupun dalam komuni suci, bukan dengan campur baur, melainkan masing-masing dengan caranya sendiri. Kemudian, sesudah memperoleh kekuatan dari tubuh Kristus dalam perjamuan suci, mereka secara konkret menampilkan kesatuan Umat Allah, yang oleh sakramen mahaluhur itu dilambangkan dengan tepat dan diwujudkan secara mengagumkan” (Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium tentang Gereja, 11). Dengan perkataan lain, apa yang dilambangkan secara kelihatan oleh roti dan anggur – melalui persatuan banyak bulir gandum dan buah anggur – adalah kenyataan bahwa sakramen Ekaristi mencapai tingkat interior dan spiritual. Tercapainya itu tidaklah secara otomatis, melainkan bersama serta seiring dengan komitmen kita. Artinya: “Apabila aku menerima Ekaristi, maka aku tidak boleh lagi bersikap tidak peduli dengan para saudari-saudaraku; aku tidak dapat menolak mereka tanpa aku menolak Yesus sendiri.”

Orang yang berpura-pura penuh gairah akan Kristus pada waktu menerima Komuni Kudus, padahal dia baru saja menyakiti hati seorang saudari atau saudaranya tanpa memohon maaf, atau berniat untuk memohon maaf, adalah seperti seseorang yang bertemu dengan seorang teman yang sudah lama tidak berjumpa; merangkulnya erat-erat, menicumnya dengan penuh afeksi tetapi tidak menyadari dia menginjak kaki temannya itu keras-keras dengan sepatu yang alasnya berpaku-paku! Kaki-kaki Kristus adalah anggota tubuh-Nya juga, teristimewa orang-orang yang paling miskin, paling dina, “wong cilik”. Kristus sangat mengasihi “kaki-kaki” itu dan pantas berteriak, “Engkau menghormati-Ku dengan sia-sia!”

Kristus yang kuterima dalam komuni adalah Kristus yang tak terbagi-bagi. Dan Kristus yang diterima saudari atau saudara yang berbaris di depan atau di belakangku adalah juga Kristus yang tak terbagi-bagi. Kristus yang kuterima adalah Kristus yang sama dengan yang diterima oleh saudari atau saudaraku. Dengan demikian Kristus mempersatukan kita satu sama lain sementara Dia mempersatukan semua umat dengan diri-Nya. Para anggota Gereja perdana merasa satu dalam Kristus: “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa” (Kis 2:42).

Santo Augustinus mengingatkan kita bahwa tidak ada roti apabila bulir-bulir gandum tidak digiling terlebih dahulu sehingga menjadi tepung gandum. Bagi kita kiranya tidak ada yang lebih baik daripada “kasih persaudaraan” sebagai “penggiling” kita, teristimewa apabila kita adalah anggota-anggota suatu komunitas tertentu – saling membantu, saling mendukung, saling menegur dalam kasih, dll. dalam semangat persaudaraan sejati, walaupun masing-masing berbeda dalam watak pribadi, asal-usul daerah, latar belakang pendidikan dlsb. Dengan berjalannya waktu, alat penggiling itu akan menghaluskan kekerasan yang ada dalam hati kita masing-masing.

Persiapan untuk menyambut Komuni Suci. Konsekrasi adalah saat penting dalam Perayaan Ekaristi, karena pada saat itu karya keselamatan Kristus dihadirkan secara sakramental. Komuni juga merupakan saat penting, karena saat itu kita menerima misteri keselamatan Kristus. Sejak doa “Bapa Kami” persiapan komuni menjadi semakin intensif. Teks-teks liturgis semakin jelas mengungkapkan apa itu komuni. Yang terpenting adalah bahwa kita memahami maksud Kristus, maksud diadakannya Sakramen Mahakudus, dan tujuan perintah-Nya: “Ambillah dan makanlah”. Kita tahu bahwa menyambut komuni saja belumlah cukup, belum menjawab harapan Kristus.

Apakah yang diharapkan oleh Yesus Kristus? Jawaban atas pertanyaan ini terkandung dalam sebuah doa sebelum komuni, tetapi sayang, dalam aturan dikatakan bahwa doa itu diucapkan “dalam batin” imam saja, padahal dalam doa itu maksud terdalam komuni dirumuskan dengan jelas: “Ya Tuhan Yesus Kristus, Putera Allah yang hidup, karena kehendak Bapa dan kerjasama Roh Kudus, dunia telah Kauhidupkan dengan kematian-Mu; bebaskanlah kami dari segala kejahatan dan dosa dengan Tubuh dan Darah-Mu yang mahakudus ini; buatlah kami selalu setia kepada perintah-perintah-Mu dan janganlah kami Kauizinkan terpisah dari-Mu” (A. Lukasik SCJ, hal. 114). Doa ini dihaturkan langsung kepada Tuhan Yesus Kristus. Imam memohon agar Kristus yang karena kehendak Allah dan kerjasama Roh Kudus, melalui penderitaan sengsara dan maut, memberi hidup baru kepada dunia, sudi memberi kepada kita juga umat yang berkumpul di sekeliling altar, hidup yang baru itu. Dalam doa itu imam juga memohon agar matilah manusia lama dalam diri kita dan tidak akan pernah terjadi perpisahan dengan diri-Nya, supaya hidup baru itu bertahan, dan kita semua dikuatkan oleh Tubuh dan Darah Kristus serta dilindungi oleh perintah-perintah-Nya.

Dengan demikian, yang menjadi arti dan tujuan terdalam komuni adalah agar kita meniru hidup Kristus, mengikuti jalan salib-Nya dan karena jasa-jasa kematian-Nya kita dapat turut ambil bagian dalam kebangkitan-Nya. Itulah sebabnya mengapa sehabis doa ini imam berlutut dengan hormat di hadapan Sakramen Mahakudus, dan dengan mengangkat hosti dia berkata: “Inilah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia, berbahagialah kita yang diundang ke perjamuan-Nya.” Dalam kalimat itu imam mengucapkan doa, memperlihatkan kepada umat bahwa dalam hosti yang sebentar lagi akan disambut, Yesus Kristus sungguh hadir. Bagian pertama kalimat itu diambil dari ucapan Santo Yohanes Pembaptis, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29). Bagian kedua kalimat itu diambil dari Kitab Wahyu tentang perjamuan kawin Anak Domba: “Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba” (Why 19:9). Kalimat keseluruhan yang diucapkan imam mengungkapkan bahwa kekuatan kurban Putera Allah mampu menghapus dosa dunia, dan mampu memasukkan orang ke dalam Kerajaan Allah sekarang ini, di dunia ini, dalam Perayaan Ekaristi.

Berkata “Amin” pada waktu kita menerima Tubuh Kristus. Pada waktu memberikan komuni suci, seorang imam, diakon, biarawan-biarawati atau prodiakon berkata: “Tubuh Kristus!” Umat yang menerima komuni akan menjawab: “Amin!” Pada saat itu Allah datang kepada manusia. Di sisi lain, manusia – karena percaya akan hal itu – mengakui dan meneguhkan bahwa sungguh demikianlah halnya. Kata “amin” berasal dari bahasa Ibrani dan berarti kurang lebih “demikianlah hendaknya”. Kata ini dalam ibadat Yahudi sudah dipakai untuk “mengamini”, menyetujui, kemudian diambil alih oleh umat Kristiani. Ketika mengatakan “amin” pada waktu menerima hosti dari pemberi komuni, berarti seseorang menyatakan: “saya percaya, saya setuju, ini memang tubuh Kristus bagi saya” (lihat Tom Jacobs, hal. 102). Jadi, kata “amin” adalah sebuah penegasan! Saya percaya, saya menyambut Engkau, ya Tuhan Yesus!

Kita berkata “amin” kepada tubuh tersuci Yesus yang dilahirkan dari Santa Perawan Maria, yang wafat dan bangkit kembali bagi kita. Di sisi lain kita juga berkata “amin” kepada tubuh mistik Kristus, Gereja, teristimewa mereka yang berada dekat dengan kita pada meja Ekaristi. Kita tidak dapat memisahkan dua tubuh itu, apalagi dengan menerima yang satu tanpa mau menerima yang lain (Raniero Cantalamessa, hal. 37). Tanpa harus bertentangan dengan apa yang ditulis oleh Pater Cantalamessa ini, Pater Erasto J. Fernandez merinci arti “tubuh Kristus” menjadi tiga, bukan dua: (1) Tubuh Kristus yang berdimensi sakramental dalam rupa roti/hosti; (2) imam dan setiap umat yang hadir dalam perayaan Ekaristi itu; (3) Keseluruhan komunitas yang dinamakan Gereja sebagai Tubuh Mistik Kristus. Romo ini mengatakan bahwa dua pernyataan ini: “Tubuh Kristus” dan “Amin” sungguh mengandung arti mendalam, karena makna yang dimaksudkan dengan “Tubuh Kristus” justru tidak terbatas pada arti yang pertama (lihat Erasto J. Fernandez, hal 143).

Kepada kebanyakan dari saudari dan saudara kita, tidak susahlah bagi kita untuk mengatakan “Amin”: saya menyambut engkau! Akan tetapi selalu saja ada di antara mereka satu-dua orang yang telah menyebabkan hidup kita menderita dan susah, melawan kita dengan cara-cara yang curang, mengkritisi kita secara negatif, berbicara buruk tentang diri kita dlsb. Dalam kasus seperti ini memang lebih sulitlah untuk mengatakan “Amin”, namun ada rahmat tersembunyi di sini. Apabila kita menginginkan suatu persekutuan (communio) yang lebih intim dengan Yesus, maka inilah cara untuk memperolehnya: Menyambut Yesus dalam komuni bersama dengan saudari atau saudara tersebut. Kita misalnya dapat mengatakan: “Tuhan Yesus, aku menerima Engkau pada hari ini bersama dengan saudariku (atau saudaraku) ini ke dalam hatiku; aku akan menjadi berbahagia apabila engkau membawa dia bersama dengan-Mu” (Raniero Cantalamessa, hal. 37-38). Tindakan kecil ini sangat menyenangkan Yesus karena Dia tahu bahwa tindakan tersebut menyebabkan kita mati terhadap diri kita sendiri, walaupun sedikit saja.

Catatan akhir. Perjamuan bersama – teristimewa apabila makanan yang dihidangkan itu sama bagi semua peserta perjamuan – mempunyai fungsi sosial, yaitu rasa persatuan antara para peserta diperlihatkan dan dipererat. Dalam perayaan Ekaristi umat makan bersama dan makanannya itu sama bagi semua yang hadir: tubuh dan darah Yesus sendiri. Jadi, persatuan antara umat yang hadir dirayakan dan diperdalam, demikian pula persatuan umat dengan/dalam Yesus.

Persatuan itu, yaitu dengan Kristus dan sesama, barulah sempurna pada akhir zaman. Namun Perayaan Ekaristi sudah menampakkannya dan merayakannya, serta ikut mengerjakan pelaksanaannya yang penuh pada akhir zaman itu (lihat Kursus Kader Katolik, hal. 56).

Cilandak, 15 Maret 2012

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Sumber-sumber selain Kitab Suci:

  1. Raniero Cantalamessa, OFMCap., THE EUCHARIST – OUR SANCTIFICATION, Collegeville, Minnesota: The Liturgical Press, 1993.
  2. Erasto J. Fernandez, SSS, THE EUCHARIST STEP BY STEP, Bandra, Bombay: 1994.
  3. Tom Jacobs SJ, “MISTERI PERAYAAN EKARISTI – UMAT BERTANYA TOM JACOBS MENJAWAB”, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1996.
  4. DR. A. De Kuiper (penerjemah dan pemberi pengantar), DIDACHE – Terjemahan dan Pembimbing ke dalam kitab Didachè, Djakarta: Badan Penerbit Kristen, 1967.
  5. Kursus Kader Katolik, “FUNGSI  MISA DALAM KEHIDUPAN”, Djakarta: Sekretariat Nasional K.M./C.L.C., 1969.
  6. A. Lukasik, SCJ, “MEMAHAMI PERAYAAN EKARISTI – PENJELASAN TENTANG UNSUR-UNSUR PERAYAAN EKARISTI”, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1991.
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 72 other followers