Posts tagged ‘EKARISTI’

ROTI KEHIDUPAN YANG TELAH TURUN DARI SURGA

ROTI KEHIDUPAN YANG TELAH TURUN DARI SURGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XX – Minggu, 19 Agustus 2012) 

“Akulah roti kehidupan yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang akan Kuberikan itu ialah daging-Ku yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”

Orang-orang Yahudi pun bertengkar antara sesama mereka dan berkata, “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan?” Karena itu, kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku benar-benar makanan dan darah-Ku benar-benar minuman. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari surga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Siapa saja yang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.” (Yoh 6:51-58)

Bacaan Pertama: Ams 9:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-3,10-15; Bacaan Kedua Ef 5:15-20

“Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku” (Yoh 6:57). Di sini Yesus mengatakan bahwa Bapa surgawi adalah “Bapa yang hidup”, dan diri-Nya sendiri “hidup oleh Bapa”. Allah Bapa adalah sumber segala kehidupan. Itulah sebabnya mengapa Dia dinamakan “Bapa”. Sejak awal mula Allah telah memberikan kehidupan kepada Putera-Nya. Bagi Putera-Nya, untuk menjadi “Putera” berarti Dia memperoleh kehidupan dari Bapa. Kabar Baik di sini adalah bahwa kita dapat ikut ambil bagian dalam hidup kekal yang bersifat ilahi dari Bapa dan Putera secara berwujud. Bagaimana dapat begitu?

Yesus memproklamasikan diri-Nya sebagai “roti kehidupan yang telah turun dari surga” (Yoh 6:51). Perhatikan frase unik “roti kehidupan” ini. Kita berpikir mengenai roti yang memberikan kehidupan bagi kita, namun kita tidak biasa menyebut roti itu hidup. Yesus adalah roti kehidupan berdasarkan dua alasan. Pertama-tama, Yesus memiliki hidup ilahi dari Bapa surgawi. Kedua, Bapa surgawi telah membangkitkan Yesus dan membuat-Nya menjadi Tuhan Kehidupan yang bangkit. Bapa telah memberikan Yesus kehidupan kekal sebagai Allah dan sebagai manusia yang bangkit.

Yesus adalah roti kita yang sejati karena Dia turun dari surga dari Bapa; Dia menjadi manusia. Yesus adalah pemberian kehidupan dari Bapa bagi dunia. Dalam Ekaristi, Bapa melanjutkan memberikan Yesus sebagai roti yang memberikan kehidupan. Dalam Ekaristi, kita makan tubuh dan minum darah Yesus. Putera ilahi, sekarang Tuhan yang bangkit, menjadi makanan kita untuk kehidupan kekal.

Inilah sebabnya mengapa Yesus begitu penuh empati di tengah-tengah keraguan  orang-orang Yahudi. “Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman” (Yoh 6:54). Dengan makan tubuh-Nya dan minum darah-Nya, kita tinggal di dalam Yesus dan Ia dalam kita (lihat Yoh 6:56). Dengan berdiam dalam Yesus kita juga tinggal dalam Bapa, yang merupakan sumber kehidupan.

Ekaristi mempunyai efek yang sangat penuh kuat-kuasa. Ekaristi memberikan kepada kita kehidupan kekal di sini dan sekarang selagi kita ikut ambil bagian dalam keilahian Yesus. Kehidupan kekal bukan saja sesuatu yang kita terima pada saat kematian kita; karena kita telah memilikinya. Lagi pula, tubuh dan darah Yesus membuat diri kita imun terhadap kematian atau maut. Karena kita hidup dalam Yesus sekarang, maka kita akan hidup bersama-Nya untuk kehidupan kekal.

Ekaristi adalah suatu misteri agung karena dengan mengambil bagian di dalamnya kita ditransformasikan ke dalam keserupaan dengan Kristus. Kita menjadi ikut ambil bagian dalam kebangkitan-Nya. Kita menjadi berdiam dalam Putera dan hidup sebagai anak-anak Bapa surgawi, walaupun kita samasekali tidak pantas menerima anugerah yang sedemikian besar dan agung.

DOA: Bapa surgawi, kami percaya bahwa dengan memakan tubuh Kristus dan minum darah-Nya dalam Ekaristi, maka kami akan tinggal di dalam Dia dan Ia dalam kami. Dengan berdiam di dalam Dia, maka kami pun akan tinggal di dalam Engkau, sumber segala kehidupan. Terima kasih Bapa untuk anugerah Ekaristi bagi umat-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:51-58), bacalah tulisan yang berjudul “AKULAH ROTI KEHIDUPAN YANG TELAH TURUN DARI SURGA” (bacaan tanggal 26-6-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM ini; kategori 11-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2011. Untuk pendalaman pribadi atas tema “Roti Kehidupan” ini, saya menganjurkan anda membaca tulisan berjudul “YESUS KRISTUS ADALAH ROTI KEHIDUPAN” tanggal 14 Januari 2010; “CORPUS CHRISTI” tanggal 6 Juni 2010; dan “AKULAH ROTI KEHIDUPAN” tanggal 10 Mei 2011; dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com. Carilah dalam kategori: EKARISTI, IMAM DAN IMAMAT. 

Cilandak, 13 Juni 2012 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ROTI DARI ALLAH IALAH ROTI YANG TURUN DARI SURGA

ROTI DARI ALLAH IALAH ROTI YANG TURUN DARI SURGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XVIII – 5 Agustus 2012) 

Ketika orang banyak melihat bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus.

Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya, “Rabi, kapan Engkau tiba di sini?” Yesus menjawab mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang telah dimeteraikan Allah Bapa.” Lalu kata mereka kepada-Nya, “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka, “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.”

Sebab itu, kata mereka kepada-Nya, “Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya kami dapat melihatnya dan percaya kepada-Mu? Apakah yang Engkau kerjakan? Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari surga.”

Lalu kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, bukan Musa yang memberikan kamu roti dari surga, melainkan Bapa-Ku yang  memberikan kamu roti yang  benar dari surga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup kepada dunia.” Maka kata mereka kepada-Nya, “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” Kata Yesus kepada mereka, “Akulah roti kehidupan; siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan pernah lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan pernah haus lagi. (Yoh 6:24-35)

Bacaan Pertama: Kel 16:2-4,12-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 78:3-4,23-25,54; Bacaan Kedua: Ef 4:17,20-24

Kiranya paling sedikit ada sisi positif dari orang banyak yang mengikuti Yesus seperti diceritakan dalam  bacaan di atas: Orang banyak itu memiliki ketekunan! Banyak dari mereka telah menyaksikan penyembuhan orang buta, orang lumpuh, orang yang menderita berbagai macam sakit-penyakit lainnya, dan mereka sendiri telah diberi makan sampai kenyang secara ajaib sehari sebelumnya. Dan sekarang, ketika Yesus “menghilang” dari pandangan mata mereka, mereka terus saja mencari Dia sampai ketemu di daratan/pantai bagian lain dari danau itu, di Kapernaum.

Ketika orang banyak itu menemukan Yesus, mungkin saja mereka bertanya-tanya dalam hati bagaimana Yesus bisa sampai ke Kapernaum. Naik apa ya, karena semua perahu sudah dihitung!? Mereka bertanya, “Rabi, kapan Engkau tiba di sini?” (Yoh 6:25). Yesus tidak menjawab pertanyaan tersebut secara langsung, karena memang pertanyaan itu tidak penting. Sebaliknya, Dia ingin memperdalam pemahaman mereka tentang siapa diri-Nya sesungguhnya. Sampai saat itu, orang banyak tertarik kepada Yesus karena berbagai mukjizat dan tanda heran lain yang dibuat oleh-Nya.

Sekarang, tibalah waktunya bagi orang banyak itu untuk mulai memandang Yesus melampaui tanda-tanda, yaitu kepada kebenaran-kebenaran yang dimaksudkan oleh tanda-tanda tersebut. Yesus ingin memimpin mereka kepada iman akan diri-Nya sebagai Putra Allah dan Roti Kehidupan. Mukjizat pergandaan roti dan ikan hanyalah suatu “pendahuluan” untuk sampai kepada mukjizat yang lebih mendalam, yaitu pemberian tubuh dan darah-Nya sendiri yang dapat memberikan kehidupan kekal kepada semua orang yang percaya. Yesus bersabda: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (Yoh 6:29). Ini adalah kata-kata keras bagi telinga banyak orang. Tanggapan orang-orang itu terhadap pernyataan Yesus tadi: “Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya kami dapat melihatnya dan percaya kepada-Mu? Apakah yang Engkau kerjakan? (Yoh 6:30).

Orang-orang itu masih tetap menginginkan tanda-tanda dari dunia sehingga mereka tidak perlu menghadapi tantangan iman. Memang tidak susah untuk bersimpati kepada orang banyak itu! Iman-kepercayaan tidak selalu merupakan suatu perjalanan yang mudah. Apabila hidup itu berjalan baik dan kita memperoleh banyak tanda dari kasih Allah kepada kita yang kelihatan di dunia ini, memang tidak sulitlah untuk beriman-kepercayaan. Namun justru dalam badai kehidupanlah iman kita itu dapat bertumbuh. Dalam hal inilah ketekunan mendapat upahnya. Apakah dalam masa-masa baik atau masa-masa yang buruk, “dalam untung dan malang”, kita harus terus berjuang dalam iman! Marilah kita selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan menggunakan karunia akal-budi yang diberikan Allah untuk melihat kebenaran dari setiap situasi di mana kita berada, sehingga iman kita dapat bertumbuh dan menjadi matang melalui rahmat Allah.

Sesungguhnya Allah sendiri sejak awal telah memiliki kerinduan untuk memberi makan umat-Nya dengan kehadiran-Nya dan memberikan kepada mereka suatu bagian dalam kehidupan ilahi-Nya. Berbicara secara profetis dalam nama Tuhan, sang pemazmur menulis: “Akulah TUHAN (YHWH), Allahmu, yang menuntun engkau keluar dari tanah Mesir: bukalah mulutmu lebar-lebar, maka Aku akan membuatnya penuh. …… umat-Ku akan Kuberi makan gandum yang terbaik dan dengan madu dari gunung batu Aku akan mengenyangkannya” (Mzm 81:11,17). Misalnya, dalam Keluaran (Kel 16:4-5), Allah menurunkan hujan makanan (manna) dari surga ke atas anak-anak-Nya di padang gurun.

Orang-orang itu mengemukakan fakta bahwa pada zaman Musa, Allah mencurahkan manna dari surga kepada nenek moyang mereka sebagai bukti bahwa Dia ada bersama umat-Nya (Yoh 6:31). Itulah sebabnya mengapa mereka juga menginginkan sebuah “tanda” yang dapat memupus ketidakpercayaan mereka. Dalam menanggapi tuntutan tersebut, Yesus mengatakan bahwa Bapa-Nyalah – bukan Musa – yang memberikan roti manna dari surga kepada orang-orang Israel pada waktu berkelana di padang gurun menuju tanah terjanji, untuk menopang kehidupan mereka dan menolong ketiadaan kepercayaan mereka kepada-Nya (Yoh 6:32-33). Kemudian Yesus menjelaskan bahwa Dia sendirilah tanda yang dimaksud: “Akulah roti kehidupan; siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan pernah lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan pernah haus lagi” (Yoh 6:35). Di sini Yesus minta kepada orang-orang itu untuk mempraktekkan iman mereka. Sekarang Ia telah datang sebagai roti dari surga yang sesungguhnya, diutus oleh Bapa-Nya untuk memenuhi umat dengan kehidupan ilahi. Yesus mencoba untuk menjelaskan bahwa agar menimba manfaat dari roti kehidupan ini, pada instansi pertama mereka membutuhkan iman. Tanpa iman, mereka tidak akan mampu untuk menerima semua yang ingin diberikan-Nya kepada mereka.

Percayakah kita bahwa Yesus adalah roti dari surga yang sejati? Percayakah kita bahwa Dia adalah Allah yang menjadi manusia, wafat, bangkit dan kemudian mengirimkan Roh Kudus untuk memberi makan kepada kita? Percayakah kita bahwa Yesus dapat membawa kita kepada kehidupan yang dimaksudkan Allah bagi kita sejak dahulu kala? Apabila kita mendekati altar Tuhan dengan iman seperti ini, maka kehidupan kita pun ditransformasikan. Marilah kita secara sadar mengambil keputusan untuk percaya kepada sang Putera Allah. Jika kita melakukannya, maka damai sejahtera dan penjaminan kembali akan memenuhi diri kita. Setiap orang yang percaya – walau pun sedikit saja – akan menerima bukti secara berlimpah.

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa Engkau Roti Kehidupan yang turun dari surga. Engkau datang untuk menyelamatkanku dari dosa dan maut. Walaupun imanku lemah, Engkau datang kepadaku dan memberi makan imanku yang kecil ini sampai menjadi sebuah dasar kepercayaan yang pasti akan segala janji-janji-Mu. Amin.

Cilandak, 22 Juli 2012 [HARI MINGGU BIASA XVI]

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MEMBERI MAKAN LIMA RIBU ORANG

YESUS MEMBERI MAKAN LIMA RIBU ORANG

 (Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XVII – 29 Juli 2012) 

Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang Danau Galilea, yaitu Danau Tiberias. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mukjizat-mukjizat yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit. Lalu Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya. Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat bahwa orang banhyak ber bondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus, “Di mana kita dapat membeli roti, supaya mereka dapat makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Salah seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya, Di sini ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apa artinya itu untuk orang sebanyak ini?” Kata Yesus, “Suruhlah orang-orang itu duduk.” Adapun di tempat itu banyak rumput. Lalu duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Sesudah itu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dilakukan-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.” Mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Ketika orang-orang itu melihat tanda mukjizat yang telah diperbuat-Nya, mereka berkata, “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.”

Karena Yesus tahu bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir lagi ke gunung, seorang diri. (Yoh 6:1-15)

Bacaan Pertama: 2Raj 4:42-44; Mazmur Tanggapan: Mzm  145:10-11,15-18; Bacaan Kedua: Ef 4:1-6 

Ada yang mengatakan, bahwa makan sambil berdiri atau berjalan kian kemari dapat menyebabkan gangguan dalam pencernaan. Oleh karena itu tidak mengherankanlah apabila Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk menyuruh orang banyak duduk. Memang demikianlah halnya: tubuh kita harus dalam keadaan duduk dan rileks agar makanan yang masuk dapat dicerna dengan baik. Hal yang sama berlaku untuk pencernaan secara rohaniah (spiritual). Kita harus rileks dan tidak sibuk kesana kemari agar supaya Yesus dapat memberi makanan kepada roh kita. Kita dapat menderita sakit pencernaan spiritual apabila kita hanya berdoa sementara disibukkan dengan pekerjaan kita. Boleh saja kita mengatakan “karyaku adalah doaku”, tetapi doa dalam keheningan di tengah quality time kita harus tetap dilakukan. Mengapa? Karena pengalaman banyak orang mengatakan bahwa betapa sulit jadinya untuk mendengar suara Allah dan beristirahat dalam kasih-Nya apabila setiap saat dari hari-hari kehidupan kita hanya dipenuhi dengan kesibukan.

Orang banyak yang diberi makanan oleh Yesus mengikuti Dia ke atas gunung karena mereka lapar akan jawaban-jawaban Yesus – akan pengharapan, tujuan, dan perjumpaan pribadi dengan kasih Allah. Mereka mempunyai banyak kebutuhan: Ada yang sakit, ada juga yang sedang tertindas. Bagi orang-orang lain, untuk survive dari hari ke hari saja sudah sulit. Akan tetapi, Yesus melihat dan merasakan kebutuhan-kebutuhan mereka semua dan menjawabnya satu persatu pada setiap tingkat. Ia minta agar para murid-Nya menyuruh orang banyak untuk duduk dan beristirahat, sehingga dengan demikian Ia dapat memberi mereka makan. Ia memberi orang banyak itu makan untuk memperkuat mereka dalam perjalanan pulang mereka ke rumah masing-masing. Ia mewartakan kabar baik dari Kerajaan Allah kepada orang banyak itu. Ia bahkan menyembuhkan mereka di bidang fisik, spiritual dan emosional.

Lebih dari dua ribu tahun kemudian, di abad ke-21 ini, kehidupan kita masih banyak menuntut. Penderitaan masih hadir di sekeliling kita dalam berbagai bentuknya. Setiap orang menghadapi berbagai kebutuhan dan tekanan yang harus diatasi. Memang tidak sulit untuk merasakan  bagaimana pikiran kita bergerak dengan cepat, bahkan ketika kita mencoba untuk diam dan berdoa secara hening. Yesus tetap meminta kita untuk duduk, membuat tenang pikiran kita dan menerima dari Dia.

Satu cara yang dapat menolong kita dalam berdoa adalah dengan menggunakan imajinasi. Kita dapat membayangkan berada bersama Yesus, para rasul dan orang banyak di atas gunung itu. Kita dapat membayangkan sedang memperhatikan Yesus yang memandang ke surga selagi Dia memohon kepada Bapa-Nya di surga untuk memberkati lima roti jelai dan dua ekor ikan yang tersedia. Kemudian kita membayangkan didatangi oleh salah seorang rasul yang menawarkan roti dan ikan sesuai dengan keinginan kita. Sekarang, marilah kita mohon agar Yesus memenuhi diri kita dengan damai sejahtera dan sukacita sementara Dia berjanji untuk menolong kita agar setiap kebutuhan kita dipenuhi.

DOA: Tuhan Yesus, aku memberikan kepada-Mu segala keprihatinan yang ada dalam pikiranku sekarang. Tolonglah aku agar dapat membuat tenang hatiku sehingga aku pun dapat duduk di dekat kaki-Mu dan ikut ambil bagian dalam perjamuan-Mu sepanjang hidupku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:1-15), bacalah tulisan yang berjudul “LIMA ROTI JELAI DAN DUA EKOR IKAN” (bacaan tanggal 29-7-12) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-07 BACAAN HARIAN JULI 2012. 

(Tulisan adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-5-11) 

Cilandak, 20 Juli 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA PERLU MEMPELAJARI HIKMAT-KEBIJAKSANAAN ALLAH

KITA PERLU MEMPELAJARI HIKMAT-KEBIJAKSANAAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XVI – 22 Juli 2012) 

Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Mari kita menyendiri ke tempat yang terpencil, dan beristirahat sejenak!” Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat. Lalu berangkatlah mereka dengan perahu menyendiri ke tempat yang terpencil. Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat bergegas-gegaslah orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka. Ketika mendarat, Yesus melihat orang banyak berkerumun, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka (Mrk 6:30-34).

Bacaan Pertama: Yer23:1-6; Mazmur Antar Bacaan: Mzm 23:1-6; Bacaan Kedua: Ef 2:13-18 

Berbagai jenis burung dalam kelompok-kelompok besar bermigrasi ke tempat-tempat tertentu secara rutin musiman, tetapi semua didasarkan naluri saja. Di lain pihak, manusia yang mempunyai hati-nurani berani bertanya, “Mengapa aku hidup dan mengapa aku mati?” Kita – manusia – mempunyai rasa lapar dan haus akan kebenaran yang akan membebaskan diri kita, dan dalam menemukan Yesus, kita  menemukan kebebasan itu. Kebenaran-Nya memuaskan rasa dahaga kita dan membuat kenyang rasa lapar kita, dan kita pun dibebaskan sehingga dapat seperti sebatang anak panah  yang terbang lurus-langsung ke surga.

Yesus datang ke tengah-tengah umat manusia untuk membebaskan kita dari sikap masa bodoh dan dosa-dosa kita. Sepanjang pelayanan-Nya di depan publik, Yesus senantiasa dikelilingi oleh orang banyak, dan dengan bela-rasa dan empati yang besar, Ia mengambil waktu untuk “mengajarkan banyak hal kepada mereka” (Mrk 6:34). Hanya setelah Ia mengenyangkan hati  dan pikiran orang banyak itu dengan pesan Injil, maka Yesus memperhatikan pula kebutuhan-kebutuhan fisik mereka dan memberikan roti dan ikan untuk mengenyangkan mereka, lewat sebuah mukjizat pergandaan roti dan ikan (lihat Mrk 6:30-44). Acara makan roti dan ikan ini  terjadi pada sebuah sesi pengajaran, seakan kedua hal itu tak terpisahkan. Roti dalam peristiwa ini adalah suatu “foretaste” – katakanlah “icip-icip pendahuluan” – dari perjamuan Ekaristi.

Bahkan sekarang pun, dalam perayaan Misa Kudus, “Liturgi Sabda” senantiasa mendahului “Liturgi Ekaristi”. Kita tidak mendekati meja Tuhan sebelum hati dan pikiran kita dipenuhi dengan kebenaran-Nya. Konsili Vatikan II menyatakan: “Misa suci dapat dikatakan terdiri dari dua  bagian, yakni Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Keduanya begitu erat berhubungan, sehingga merupakan satu tindakan ibadat” (Konstitusi Sacrosanctum Concilium tentang Liturgi Suci, 56). Dengan demikian, sesungguhnya adalah vital bagi kita untuk menaruh perhatian yang serius pada Sabda Allah dan merefleksikan apa yang dibacakan dari Kitab Suci dalam Misa. Mengalami kasih Allah bersifat vital, namun itu hanya sebagian saja dari “persamaan matematika” yang ada. Kita manusia dikaruniai Allah dengan intelek, emosi dan kehendak. Kalau pikiran kita tidak diberi asupan positif, maka kita tidak akan mengetahui bagaimana cara yang baik untuk melawan kecenderungan kita untuk berdosa. Kita tidak akan mengetahui caranya bagaimana untuk melakukan discernment atas cara-cara Allah bekerja dalam hati kita dan di dalam dunia. Tidak cukuplah bagi kita mengalami sentuhan Allah. Kita juga perlu belajar jalan-jalan-Nya (cara-cara-Nya) dan bagaimana untuk mencocokkan kehidupan kita dengan ajaran-ajaran-Nya.

Apakah anda ingin mengenal dan mengalami damai-sejahtera Kristus? Apakah anda ingin dibebas-merdekakan dari dosa yang membelenggu diri anda selama ini? Upayakanlah diri anda untuk semakin akrab dengan sabda Allah dalam Kitab Suci. Pelajarilah hikmat-kebijaksanaan Allah. Mohonlah kepada  Roh Kudus untuk membuka pikiran anda setiap saat anda menghadiri Misa Kudus. Tempatkanlah Alkitab anda di tempat yang mudah terlihat dan terjangkau (maksudnya jangan ditaruh di rak paling tinggi/atas). Kreatif-lah dalam mencari waktu yang cocok untuk membaca dan merenungkan Kitab Suci dalam keheningan. Dari banyak metode pendalaman Kitab Suci, gunakanlah cara yang paling cocok dengan anda sendiri, misalnya dengan melakukan Lectio Divina. Satu hal yang harus kita sadari: Setiap hari, Yesus sang Guru, berdiri menanti-nanti di depan pintu hati anda!

DOA: Bapa surgawi, aku mohon agar Engkau berkenan untuk mengaruniakan kepadaku lebih dan lebih lagi dari hikmat-Mu. Pada waktu aku mempelajari dan merenungkan sabda-Mu yang ada dalam Kitab Suci, jagalah aku dari segala gangguan dan godaan. Semoga Roh Kudus-Mu senantiasa membimbingku. Aku berdoa demikian, dalam nama Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persekutuan Roh Kudus, Allah sepanjang masa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil  hari ini (Mrk 6:30-34), bacalah tulisan dengan judul “MENGUNDURKAN DIRI KE TEMPAT YANG TERPENCIL” (bacaan untuk tanggal 22-7-12), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-07 BACAAN HARIAN JULI 2012. Bacalah juga tulisan yang berjudul “HATI-NYA TERGERAK OLEH BELAS KASIHAN” (bacaan tanggal 6-2-10) dalam situs/blog SANG SABDA; kategori: 10-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2010. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-2-12) 

Cilandak,  13 Juli 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

HARI SABAT UMAT KRISTIANI

HARI SABAT UMAT KRISTIANI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Jumat, 20 Juli 2012 

Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya. Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya, “Lihatlah, murid-murid-Mu melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.” Tetapi jawab-Nya kepada mereka, “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan orang-orang yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam? Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah? Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah. Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentang kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” (Mat 12:1-8)

Bacaan Pertama: Yes 38:1-6,21-22,7-8; Mazmur Tanggapan: Yes 38:10-12,16 

Yesus dikritik oleh orang-orang Farisi karena kelihatannya Dia membiarkan para murid-Nya melanggar peraturan hari Sabat (Mat 12:1-2). Menanggapi kritikan kaum Farisi tersebut, Yesus mengemukakan bahwa kebutuhan-kebutuhan manusiawi mengambil preseden di atas peraturan-peraturan Sabat (Mat 12:3-4,7). Dalam bacaan tentang peristiwa ini, Injil Markus menceritakan kepada kita bahwa Yesus melangkah lebih jauh lagi dengan menyatakan: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat. Karena itu Anak Manusia adalah Tuhan, bahkan atas hari Sabat” (Mrk 2:27-28).

Allah kita mahakasih dan maharahim, Ia bukanlah seorang mandor tanpa perasaan yang membebani kita dengan begitu banyak hukum dan peraturan. Ia memberikan kepada kita “Hari Tuhan” sehingga kita dapat datang menghadap hadirat-Nya dan beristirahat dalam ketenangan (lihat Mat 11:28-30). Bagi kita hari Tuhan itu adalah hari Minggu, hari untuk kita bersimpuh di hadapan hadirat-Nya, agar dapat menerima sentuhan-Nya yang menyembuhkan luka dan sakit-penyakit kita, untuk menerima ajaran-Nya lewat sabda-Nya dalam Kitab Suci, dan secara lebih mendalam lagi menyadari bahwa Kristus – pengharapan kita akan kemuliaan – sungguh berdiam dalam diri kita. Itulah sebabnya mengapa Allah telah memberikan kepada kita Ekaristi Kudus, sehingga Dia dapat menyegarkan diri kita kembali dengan sabda-Nya dan tubuh dan darah Kristus, kemudian mengutus kita agar menghayati suatu kehidupan yang saleh, penuh takwa kepada Allah dalam Yesus Kristus dan dengan setia mewartakan Kabar Baik-Nya kepada dunia di sekeliling kita.

Pada awal perayaan Ekaristi, kita semua – sebagai pribadi-pribadi – mengaku kepada “Allah yang mahakuasa” dan kepada “saudari dan saudara” kita, betapa kita membutuhkan belas-kasihan Allah. Pengakuan sedemikian memperlunak hati kita sehingga sabda Allah – baik yang kita dengar lewat pembacaan Kitab Suci maupun homili – akan masuk ke dalam diri kita. Setelah kita mengucapkan “Pengakuan Iman” (Credo), kita berdoa untuk kebutuhan-kebutuhan dunia dan mengangkat hati kita dalam pujian dan syukur dalam ‘Doa Syukur Agung’. Melalui kata-kata institusi dan tindakan Roh Kudus, roti dan anggur diubah menjadi tubuh dan darah Yesus Kristus, dan kita menerima-Nya dalam Komuni Kudus. Kita memakan daging Yesus (lihat Yoh 6:53-56) dan dalam kesempatan-kesempatan tertentu minum darah-Nya. Ketika kita makan daging Yesus, pada saat yang sama Yesus juga meng-‘konsumsi’ kita, merangkul serta menyelubungi diri kita dengan rahmat-Nya dan memberdayakan kita agar mampu mengikuti-Nya dengan setia.

Ini adalah puncak dari ketenangan hari Sabat kita: bergabung dengan saudari dan saudara kita dalam sembah-bakti kita kepada Tuhan dan menerima-Nya dalam sabda dan sakramen. Ini adalah “istirahat” atau ketenangan yang memberikan kehidupan kepada kita, ketenangan yang memenuhi diri kita dengan Roh Kudus. Kita samasekali tidak diciptakan agar kita dapat mendengar Misa Kudus. Allah menciptakan Misa Kudus agar supaya Dia dapat datang kepada kita, bukankah begitu halnya? 

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar dapat menghargai perayaan Ekaristi, melalui Ekaristi ini Engkau menghadirkan karya penebusan-Mu secara penuh. Tunjukkanlah kepadaku bagaimana caranya menghormati hari Sabat umat-Mu sebagai suatu hari pada saat mana Engkau secara istimewa ingin memberikan kepada semua pengikut-Mu ketenangan yang sejati. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 12:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “DI SINI ADA YANG MELEBIHI BAIT ALLAH” (bacaan tanggal 20-7-12) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-07 BACAAN HARIAN JULI 2012.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-7-11) 

Cilandak, 10 Juli 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENJADI KURBAN YANG HIDUP SEBAGAI PUJIAN BAGI KEMULIAAN ALLAH

MENJADI KURBAN YANG HIDUP SEBAGAI PUJIAN BAGI KEMULIAAN ALLAH 

Oleh karena itu, ya Bapa, sambil merayakan kenangan akan penebusan kami, kami mengenangkan Kristus yang telah wafat dan turun ke tempat penantian. Kami mengakui bahwa Ia telah bangkit dan naik ke surga, duduk di sisi kanan-Mu. Sambil mengharapkan kedatangan-Nya dalam kemuliaan, kami mempersembahkan pada-Mu Tubuh dan Darah-Nya; kurban yang berkenan pada-Mu dan membawa keselamatan bagi seluruh dunia.

Ya Bapa, sudilah memandang kurban ini yang telah Engkau sediakan sendiri bagi Gereja-Mu. Perkenankanlah agar semua yang ikut menyantap roti yang satu dan minum dari piala yang sama ini dihimpun oleh Roh Kudus menjadi satu tubuh. Semoga dalam Kristus, mereka menjadi kurban yang hidup sebagai pujian bagi kemuliaan-Mu. (DOA SYUKUR AGUNG IV) 

Perasaan atau mood kita (dan juga Imam selebran) dalam Perayaan Ekaristi dapat turun-naik, ada saat-saat di mana kita merasa “in”, mengalami semacam “Pengalaman Tabor” (Inggris: Tabor Experience); …… ada pula saat-saat di mana kita mungkin saja berkata, “Saya tidak mendapat apa-apa dari Misa tadi!” Ini sebuah realitas! Akan tetapi, perasaan semata seringkali tidak dapat digunakan untuk mengukur nilai sejati dari hal-hal yang penting dalam kehidupan kita semua.

Perjalanan bersama dengan Kristus

Untuk merayakan Ekaristi, imam selebran dan kita-umat yang hadir, hanya memerlukan iman-kepercayaan yang bebas dari emosi bahwa dalam Ekaristi itu, Kristus melakukan perjalanan bersama dengan kita dalam jalan yang sangat diperlukan bagi kehidupan, jalan pemberian-diri kepada Bapa surgawi dalam Roh Kudus. Memang tidak mudah untuk percaya bahwa mereka yang hadir dalam perayaan Ekaristi sebenarnya ikut ambil bagian dalam sebuah gerakan spiritual yang dahsyat, apabila kita menyaksikan sang imam selebran yang berdiri tenang pada altar dan umat beriman berlutut pada saat-saat hening konsekrasi.

Gerakan spiritual di mana Kristus melibatkan kita digambarkan sebagai berikut: Melalui kematian Kristus, kebangkitan-Nya dan kepemilikan Roh Kudus-Nya. Kematian, kebangkitan, pengutusan Roh Kudus adalah tahapan-tahapan yang harus dilalui dalam perjalanan kita masing-masing kepada Bapa surgawi. Kristus berjalan bersama dengan kita dalam perayaan Ekaristi.

Keikutsertaan dalam karya penyelamatan Kristus. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Santo Paulus menulis, “Tidak tahukah kamu bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian, kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia melalui baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya” (Rm 6:3-5). Semua ini sungguh terjadi, namun dengan cara yang kita tak dapat bayangkan, yaitu dengan suatu cara sakramental, yang tersembunyi di bawah tanda-tanda.

Dalam Ekaristi rahmat baptisan diperbaharui dan diintensifkan dalam diri kita karena dalam Ekaristi itu kita berpartisipasi lagi dalam karya penyelamatan Kristus.  Untuk alasan inilah setiap Misa Kudus merupakan suatu pembaharuan dari keberadaan kita masing-masing sebagai seorang Kristiani. Apa saja yang ke luar dari pokok ini akan mati atau paling sedikit akan menjadi diperlemah. Proses menjadi satu dengan Kristus semakin hari semakin mendalam dan bersifat pemberian-diri; Roh dari Allah-manusia Yesus Kristus semakin menguasai realitas kemanusiaan dari mereka yang sedang dalam perjalanan itu … dan pada suatu titik akan mencapai tujuan, yaitu Bapa surgawi. Perjalanan ini seharusnya menjadi lebih bersifat hakiki  ketimbang perjalanan-perjalanan lainnya yang kita lakukan selama hari bersangkutan.

Namun demikian kita harus ingat bahwa kita melakukan perjalanan bersama Kristus ini bukanlah sekadar untuk menjadi suci-suci sendiri, melainkan juga sebagai wakil dari banyak orang lain. Namun orang-orang lain ini juga harus bertanya kepada diri mereka sendiri apakah mereka ingin selalu hanya diwakili. Barangkali mereka dapat datang secara pribadi dan pada gilirannya mewakilkan orang-orang lain pula.

Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku. “Lima Perintah Gereja” (lihat Puji Syukur No. 7) tidak jarang dicap sebagai “tidak Alkitabiah”. Tiga butir dari kelima perintah itu menyangkut Ekaristi, teristimwa butir (1) yang menyangkut “kewajiban hari Minggu atau hari raya yang disamakan dengan hari Minggu). Apabila direnungkan dengan baik, bukankah perintah itu dapat ditelusuri kembali ke sabda Yesus sendiri: “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” (1Kor 11:24,25; Luk 22:19)?

Ekaristi merupakan sebuah tanda persahabatan sang imam selebran dan semua umat yang hadir dengan diri Yesus. Dengan begitu imam dan umat yang hadir memberi kontribusi pada pemenuhan – untuk umat zaman kita sekarang – apa yang diinginkan oleh Yesus dengan penderitaan, kematian dan kebangkitan-Nya: “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah” (Yoh 10:10).

Konsekrasi. Setiap kali imam selebran mengucapkan kata-kata konsekrasi dalam perayaan Misa, sebenarnya dia mengucapkan kata-kata yang sangat signifikan bagi siapa saja yang hadir. Mungkin saja seseorang yang baru pertama kalinya menghadiri perayaan Ekaristi akan lari tunggang-langgang karena dia tidak mau terlibat dalam upacara kanibalisme seperti yang terjadi dalam suku-suku bangsa primitif zaman dahulu. Mungkin ada juga yang mendatangi altar guna mencegah sang imam meneruskan “upacara gila” seperti itu. Mengapa sampai begitu? Renungkanlah kata-kata yang diucapkan sang imam selebran: “Terimalah dan makanlah: Inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagimu”; “Terimalah dan minumlah: Inilah piala Darah-Ku, Darah Perjanjian Baru dan Kekal, yang ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang demi pengampunan dosa. Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku” 

Orang-orang yang akan merayakan Ekaristi dalam kesempatan-kesempatan tertentu diminta untuk menaruh hosti ke dalam sebuah tempat yang disediakan di dekat pintu masuk. Ini merupakan praktek yang baik. Hal ini dapat dimaknai bahwa umat ingin menjadi persembahan kurban juga, sebuah hosti, dan mereka siap untuk masuk ke dalam kurban Yesus Kristus dan tentunya ke dalam konsekrasi juga. Tentu saja tidak banyak dari umat dengan sadar merefleksikan hal ini.

Roti perayaan Ekaristi ditransformasikan menjadi roti surgawi, artinya menjadi tubuh Kristus. Dengan cara yang serupa, para peserta perayaan Ekaristi ditransformasikan menjadi Tubuh Mistik Kristus; artinya mereka akan menjadi lebih lagi sebagai Gereja Kristus. Ini adalah suatu transformasi yang luarbiasa hebat dan tak terbayangkan; seorang pengada di dunia menjadi seorang pengada yang bukan dari dunia ini, seperti Kristus yang bukan dari dunia ini. Memang, harus kita semua akui, bahwa perubahan seperti ini jarang tercapai secara penuh dalam satu kali Misa Kudus saja.

Menjadi pribadi yang baru. Pribadi baru dari orang yang ditransformasikan diindikasikan dalam kata-kata: “Terimalah dan makanlah.” Selagi kita menerima dan makan tubuh Kristus, orang-orang lain juga dapat “memakan” tubuh kita. Dengan meneladan hidup Kristus, maka hidup kita pun menjadi suatu kehidupan bagi orang-orang lain: suatu kehidupan yang dipenuhi dengan kesibukan pelayanan untuk keselamatan manusia. Walaupun demikian, hal ini tak berarti bahwa kita melayani setiap orang setiap waktu, karena itu bukanlah yang dilakukan Yesus ketika Dia masih hidup di dunia. Namun apabila kita semakin menyerahkan ke-ego-an kita dan berupaya terus untuk mengenal kehendak Allah dalam setiap situasi, maka kehidupan kita akan menjadi “tubuh yang diserahkan bagimu”, seperti diucapkan dalam konsekrasi. Seringkali pemberian-diri kita bagi orang lain mengambil bentuk konkret, misalnya berada bersama mereka yang sakit, memberikan waktu dan energi kita untuk ikut-serta secara aktif dalam suatu pelayanan karitatif bagi masyarakat luas, dlsb.

Akan tetapi, yang lebih penting adalah, bahwa dedikasi bagi orang-orang lain dan pengorbanan-diri untuk keselamatan mereka mengambil bentuk suatu kehidupan yang sesuai dengan rencana Allah. Kehendak Allah selalu suatu kehendak untuk menyelamatkan, dan siapa saja yang melakukan kehendak Allah akan ikut ambil bagian dalam misi penebusan Yesus.

Hal yang hakiki bukanlah di mana kita tinggal dan berkarya, melainkan hanyalah kita berada di tempat di mana Allah menginginkan kita berada dan berkarya. Bahkan seorang Kristiani yang sedang sakit dan berada pada saat-saat menjelang kematian dapat dan harus memperkenankan diri mereka “didistribusikan” dan “dikonsumsi” seperti roti Ekaristi.

Bagi hidup seperti inilah Ekaristi dimaksudkan untuk menguduskan dan membuat kita qualified. Akan tetapi untuk itu kita harus memperkenankan transformasi itu sunguh terjadi dalam diri kita.  Itulah caranya bagaimana kita masuk ke dalam kurban Kristus yang “membawa keselamatan bagi seluruh dunia” (Doa Syukur IV).

Transformasi diri kita lebih penting daripada perubahan apa saja dari berbagai tradisi dan struktur dalam Gereja. Kita harus berubah dan menjadi seperti Yesus. Keselamatan dunia tergantung pada hal itu. Oleh karena itu marilah kita dengan tulus menjadi umat Kristiani yang progresif, pada saat kedatangan perubahan yang merupakan keharusan itu.

Catatan Penutup 

Karena Ekaristi, tidak ada lagi ungkapan seperti  “kehidupan yang tak berguna”. Tidak ada seorang pun dapat berkata: “Apa gunanya hidupku ini?” atau “Apa yang aku lakukan dalam dunia ini?” Kita ada dalam dunia karena satu alasan yang sangat mendalam dan agung, yaitu untuk menjadi suatu kurban yang hidup, untuk menjadi Ekaristi bersama Kristus.

Cilandak, 5 Juli 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERAYAAN-PERAYAAN EKARISTI UMAT KRISTIANI AWAL

PERAYAAN-PERAYAAN EKARISTI UMAT KRISTIANI AWAL 

Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata, “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata, “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan dengan darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!” Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang. (1Kor 11:23-26) 

Petikan dari surat Santo Paulus di atas adalah teks paling tua tentang Ekaristi yang terdapat dalam  Kitab Suci Perjanjian Baru. Dengan kata-kata yang tidak panjang-lebar dalam perjamuan terakhir ini, Yesus mengubah (mentransformasikan) perjamuan Paskah Yahudi menjadi sebuah perayaan perjanjian baru dan relasi baru dengan Bapa surgawi. 

Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku! 

Setelah kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga, para rasul dan orang-orang Kristiani perdana berkumpul untuk makan bersama seperti yang telah diperintahkan Yesus dalam perjamuan terakhir tersebut (Kis 2:41-42). Mereka mengulangi kata-kata Yesus: “Inilah tubuhku, inilah darah-Ku”. Mereka menjadi semakin sadar akan kehadiran-Nya di tengah-tengah mereka. Ternyata Yesus Kristus memang tidak meninggalkan serta menelantarkan mereka. Meskipun sudah duduk di sebelah kanan Allah Bapa di surga, Yesus masih tetap berada dekat dengan mereka! Memang Ia tidak kelihatan secara khasat mata, namun Ia memang ada di tengah-tengah mereka. Ia hadir secara misterius, tetapi tetap secara riil sebagai Tuhan dan Saudara mereka.

Orang-orang Kristiani perdana mengetahui, bahwa anugerah-Nya yang kemudian diberi nama Ekaristi ini bukanlah hanya untuk mereka nikmati sendiri. Anugerah ini harus dibagikan (disyeringkan) kepada orang-orang lain dalam “pemecahan roti”, dalam kesatuan cinta-kasih mereka kepada Allah dan cinta-kasih kepada sesama. Yohanes Penginjil bahkan menggambarkan upacara Perjamuan Terakhir secara lebih dramatis lagi daripada apa yang digambarkan oleh Santo Paulus dan para penginjil sinoptik. Perjamuan Terakhir dalam Injil Yohanes dimulai dengan sebuah pelajaran tentang pelayanan yang dilakukan dengan rendah hati: Yesus membasuh kaki para murid-Nya, kemudian berkata: “Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh 13:15).

Communio dengan Kristus dalam Ekaristi 

Santo Leo Agung (+461), Paus dan pujangga Gereja, menulis: “Keikut-sertaan kita dalam tubuh dan darah Kristus hanya cenderung membuat kita menjadi apa yang kita makan”.  Santo Paulus menulis: “Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan tubuh Kristus?” (1Kor 10:16). Kita terbiasa untuk menafsirkan kata-kata Santo Paulus ini dalam arti ikut mengambil bagian dalam keseluruhan pribadi Kristus melalui segala “unsur” yang membentuknya, yaitu tubuh-Nya, darah-Nya, jiwa-Nya, keilahian-Nya. Dalam bahasa alkitabiah, kata tubuh dan darah menunjukkan seluruh hidup Kristus, atau lebih tepat lagi hidup dan mati-Nya.

Kebenaran seperti ini membawa kita kepada sebuah kesimpulan penting: Tidak ada suatu saat atau pengalaman dalam hidup Kristus yang tidak dapat kita hidupkan kembali dan syeringkan dalam persekutuan (communio). Sesungguhnya keseluruhan hidup Kristus hadir dan diberikan dalam tubuh dan darah-Nya. Tergantung pada disposisi atau kebutuhan sesaat kita, kita dapat berada di samping Yesus yang berdoa, Yesus yang digoda, Yesus yang letih, Yesus yang wafat di kayu salib dan Yesus yang bangkit kembali – karena Yesus yang sama masih eksis dan hidup dalam Roh.

Kebenarannya adalah bahwa persekutuan Ekaristis melampaui perbandingan manusiawi apa saja yang dapat kita buat. Yesus memberi contoh tentang pokok anggur dan ranting-rantingnya. Pokok anggur dan ranting-rantingnya memang mengambil bagian dari hidup yang sama: kesatuan yang sangat erat. Karena tidak berjiwa, maka pokok anggur dan ranting-rantingnya tidak menyadari adanya kesatuan ini. Sepasang suami-istri membentuk satu daging, namun mereka tidak dapat membentuk satu roh. Sebaliknya, “… siapa saja mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia” (1Kor 6:17). Kekuatan dari persekutuan Ekaristis terletak pada kenyataan bahwa kita menjadi satu roh dengan Yesus, dan “satu roh” ini sesungguhnya adalah Roh Kudus! Dalam Ekaristi, kita semua (termasuk imam selebran) menjadi kurban bersama Yesus, sehingga setelah Misa selesai kita dapat berkata bersama Santo Paulus: “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:19-20).

Tradisi-Tradisi yang Paling Awal 

Walaupun perayaan Kristiani sehubungan dengan pemberian-diri Yesus ini kadang-kadang disebut “Perjamuan Tuhan” (1Kor 11:20), sebenarnya secara umum lebih dikenal sebagai “pemecahan roti” (Kis 2:41). Mengapa? Makan bersama di dalam keluarga-keluarga Yahudi selalu dimulai dengan suatu berkat atas roti, berkat yang dilakukan oleh sang kepala rumah tangga. Setelah diberkati, roti itu pun dipecah-pecahkan dengan tangan olehnya dan kemudian dibagi-bagikan sepotong-sepotong kepada setiap orang yang ada pada meja makan. Ini adalah suatu cara bersyukur kepada Allah untuk makanan dan tindakan-Nya mempersatukan para anggota keluarga yang ada pada meja makan. Perjamuan Terakhir dimulai dengan cara yang sama, dan umat Kristiani perdana mengacu pada upacara ini dengan menyebutkannya sebagai “pemecahan roti) karena mengingat ritus awalnya seperti dijelaskan di atas. Baru pada awal-awal abad kedua mulailah upacara makan bersama itu dinamakan “Ekaristi”, yang berasal dari kata Yunani “eukharistia”, yang berarti “berterima kasih”, “bersyukur”.

Tidak jelas sampai berapa sering umat Kristiani perdana merayakan perjamuan istimewa ini, barangkali paling sedikit sekali setiap pekan. Dalam budaya Semitis, hari dimulai pada senja sebelumnya, jadi hari Minggu, atau “Hari Pertama dalam Minggu” (Kis 20:7; 1Kor 16:2), sebenarnya dimulai pada senja hari Sabtu. Lukas, ketika menggambarkan kehidupan umat Kristiani perdana mengatakan, bahwa mereka “bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa” (Kis 2:42). Dengan menyebutkan “pemecahan roti” bersama-sama dengan “pengajaran rasul-rasul” dan “doa”, Lukas menunjukkan bahwa “pemecahan roti” bersifat istimewa. Dengan memasukkan “persekutuan”, Lukas menambah satu dimensi penting dari eksistensi umat Kristiani, yaitu saling mensyeringkan kehidupan mereka satu sama lain.

Secara sekilas kita masih dapat melihat satu gambaran dari perayaan communio awal dalam “Kisah para Rasul”. Lukas menjelaskan bagaimana dia dan Paulus telah satu pekan lamanya tinggal di Troas di Asia Kecil dan ketika itu Paulus sudah siap-siap meninggalkan tempat itu. Lukas menulis sebagai berikut:

“Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara seiman di situ, karena ia bermaksud untuk berangkat keesokan harinya. Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam. Di ruang atas, di mana kami berkumpul, dinyalakan banyak lampu. Seorang pemuda bernama Eutikhus duduk di jendela. Karena Paulus amat lama berbicara, pemuda itu tidak dapat menahan kantuknya. Akhirnya ia tertidur lelap dan jatuh dari tingkat ketiga ke bawah. Ketika ia diangkat orang, ia sudah meninggal. Tetapi Paulus turun ke bawah. Ia merebahkan diri ke atas pemuda itu, mendekapnya, dan berkata, “jangan khawatir, ia masih hidup.” Setelah kembali di ruang atas, Paulus memecah-mecahkan roti lalu makan; sehabis makan ia masih berbicara lama lagi sampai fajar menyingsing. Kemudian ia berangkat. Sementara itu mereka mengantarkan pemuda itu dalam keadaan hidup ke rumahnya, dan mereka semua merasa sangat terhibur (Kis 20:7-12).

Di sini jelas bahwa Paulus-lah yang memimpin upacara “pemecahan roti” yang  dimulai pada malam hari dan mencakup khotbah yang sangat panjang. Lukas menunjukkan  bahwa “pemecahan roti” itu adalah suatu liturgi dan bukan sekadar makan-makan biasa, ketika dia berbicara mengenai “dinyalakannya banyak lampu”. Bahkan cerita mengenai Euthikus mengungkapkan suatu aspek hakiki dari perayaan ini: Kesatuan satu sama lain di sekeliling meja Tuhan perlu memasukkan ke dalamnya kesejahteraan fisik satu sama lain.

Didakhè 

Didakhè adalah sebuah dokumen Gereja awal yang diperkirakan disusun pada akhir abad pertama, kira-kira pada tahun 95. Barangkali berasal dari salah satu jemaat (gereja) di Syria (Suriah) atau di Palestina. Nama pengarangnya tidak diketahui. Dengan demikian kita dapat mengatakan, bahwa Didakhè adalah sebuah dokumen anonim (tidak memakai nama samaran) atau karangan yang yang pseudonim, artinya memakai nama samaran. Judul lengkap dokumen ini dalam bahasa Yunani adalah “Didakhè ton dodeka apostolon”, artinya pengajaran dari kedua-belas rasul, seakan-akan para rasul Tuhan Yesus Kristus-lah yang mengarang/menyusun kitab itu. Maksudnya ialah agar dokumen ini memiliki kewibawaan dalam lingkungan umat Kristiani yang hidup pada waktu itu; karena sebagai sebuah karya para rasul Tuhan Yesus Kristus sendiri, patutlah dijunjung tinggi dan dihormati. (lihat Dr. A. de Kuiper, DIDACHE, Jakarta: Badan Penerbit Kristen, 1967, hal. 5).

Dalam Didakhè pasal/bab IX terdapat instruksi-instruksi yang menyangkut “Ekaristi”:

(1)     Dalam Ekaristi (Eucharistia), ucapkanlah syukur (eucharisteo) sebagai berikut:

(2)     Pertama-tama atas cawan: “Kami mengucapkan syukur kepada-Mu, ya Bapa kami, karena pokok anggur yang kudus dari Daud, hamba-Mu, yang telah Kauberitahukan kepada kami dengan perantaraan Yesus, Hamba-Mu; kepada-Mulah kiranya kemuliaan sampai selama-lamanya.”

(3)     Lalu atas roti yang dipecah-pecahkan: “Kami mengucapkan syukur kepada-Mu, ya Bapa kami, karena kehidupan dan pengetahuan yang telah Kauberikan kepada kami dengan perantaraan Yesus, Hamba-Mu; kepada-Mulah kiranya kemuliaan sampai selama-lamanya.

(4)     Seperti roti ini telah dicerai-beraikan di atas gunung-gunung dan kemudian dikumpulkan menjadi seketul, demikianlah kiranya Gereja-Mu dikumpulkan dari segala ujung bumi masuk ke dalam Kerajaan-Mu; sebab Engkaulah yang empunya kemuliaan dan kekuasaan oleh Yesus Kristus sampai selama-lamanya.”

(5)     Janganlah seorang pun makan atau minum dari Perjamuanmu, terkecuali orang-orang yang telah dibaptis dalam nama Tuhan; karena tentang hal ini difirmankan Tuhan: “Janganlah berikan barang yang kudus kepada anjing.” (Dr. A. De Kuiper, DIDACHE, hal. 18).

Dalam Didakhè pasal/bab X terdapat instruksi-instruksi yang menyangkut “Pengucapan Syukur”:

(1)     Sesudah kamu kenyang, maka ucapkanlah syukur sebagai berikut:

(2)     “Kami mengucapkan syukur kepada-Mu, ya Bapa yang kudus, karena nama-Mu yang kudus, yang telah Kaubuat diam dalam hati-sanubari kami; dan karena pengetahuan dan kepercayaan dan kekekalan yang telah Kauberitahukan kepada kami dengan perantaraan Yesus, Hamba-Mu. Kepada-Mulah kiranya kemuliaan sampai selama-lamanya.

(3)     Engkau, ya Tuhan yang Mahakuasa, telah menciptakan segala-galanya karena nama-Mu; baik makanan maupun minuman telah Kauberikan kepada manusia untuk menikmatinya, supaya mereka bersyukur kepada-Mu. Akan tetapi kepada kami Kaukaruniakan makan dan minuman rohani dan kehidupan yang kekal dengan perantaraan Hamba-Mu.

(4)     Lebih-lebih kami bersyukur kepada-Mu karena Engkau lah yang berkuasa; kepada-Mulah kiranya kemuliaan sampai selama-lamanya.

(5)     Ingatlah, ya Tuhan, akan Gereja-Mu untuk melepaskannya dari segala yang jahat dan menyempurnakannya di dalam kasih-Mu, dan kumpulkanlah dari keempat mata angin Gereja-Mu yang telah dikuduskan, masuk ke dalam Kerajaan-Mu yang telah Kausediakan baginya. Sebab Engkaulah yang empunya kekuasaan dan kemuliaan sampai selama-lamanya.

(6)     Datanglah kiranya Anugerah dan biarlah dunia ini lenyap. Hosana kepada Allah Daud! Bila ada orang yang kudus, hendaklah ia datang! Tetapi yang tidak, biarlah bertobat! Maranatha. Amin.”

(7)     Kepada para nabi haruslah kamu beri kesempatan bersyukur sebanyak sukanya sendiri (Dr. A. de Kuiper, DIDACHE,  hal. 18-19).

Dalam Didakhè pasal/bab XIV terdapat instruksi-instruksi tentang “Hari Tuhan (Hari Minggu) sebagai berikut:

(1)      Apabila kamu berkumpul pada hari Tuhan (=kuriakè), maka kamu harus memecahkan roti dan mengucapkan syukur, setelah mengaku kesalahan-kesalahanmu, supaya kiranya kurbanmu suci (= murni).

(2)      Dan barang siapa yang berselisih dengan sesamanya, janganlah berkumpul dengan kamu sekalian sampai saat mereka itu telah berdamai lagi; supaya jangan kurbanmu dinajiskan.

(3)      Karena itulah yang difirmankan Tuhan: “Di tiap-tiap tempat dan pada tiap-tiap waktu haruslah dipersembahkan kepada-Ku suatu kurban yang suci (=murni); oleh karena Aku inilah Raja yang Mahabesar, demikianlah Firman TUHAN; dan Nama-Ku mendahsyatkan di antara segala bangsa” (Mal 1:11 dan 14) (Dr. A de Kuiper, DIDACHE, hal. 21-22).

Ekaristi di pagi hari 

Pada paruhan pertama abad kedua, perayaan Ekaristi umat Kristiani diselenggarakan pada hari Minggu pagi dan tidak lagi merupakan bagian dari acara makan-makan secara komunal. Penyebabnya barangkali adalah karena umat sudah sedemikian banyak jumlahnya, atau karena penyalahgunaan telah menyusup kembali ke dalam acara makan komunitas. Terkadang umat berdoa sepanjang malam dan menutup vigili mereka dengan perayaan Ekaristi. Pengetahuan kita tentang praktek-praktek ini terbatas, namun ada sebuah teks dari sekitar tahun 150 dari Santo Yustinus Martir [c. 100-165], Apologia Pertama (Apologia = Pembelaan), yang ditulis sekitar tahun 155 dan ditujukan kepada Antoninus Pius, Marcus Aurelius dan Lucius Verus, tulisan mana dimaksudkan sebagai pembelaan terhadap berbagai tuduhan. Dalam Apologia Pertama ini digambarkan suatu perayaan Ekaristi umat Kristiani pada hari Minggu pagi dengan suatu liturgi yang mencontoh kebaktian sinagoga Yahudi. Santo Yustinus Martir menulis sebagai berikut:

“Kami memberi salam satu sama lain dengan sebuah ciuman. Lalu roti dan sebuah cawan berisikan air anggur dicampur dengan air dibawa kepada pribadi yang memimpin para saudara; dia mengambil roti dan piala berisikan air anggur itu dan berdoa untuk memuliakan Bapa untuk segala hal melalui nama Putera dan Roh Kudus. … Ketika doa syukur diakhiri, semua umat yang hadir memberi persetujuan mereka dengan sebuah “Amin!” … Para diakon mendistribusikan roti dan anggur yang sudah bercampur dengan air. … Makanan ini kami sebut “Ekaristi”, … karena kami tidak menerima ini semua sebagai makanan dan minuman biasa. … Karena makanan yang atasnya telah didoakan syukur menjadi tubuh/daging dan darah dari Yesus inkarnasi (Allah), untuk memberi makan dan mentransformasikan tubuh dan darah kami” (bab 65-67) [terjemahkan bebas ke dalam Bahasa Indonesia dari P. Joseph Wimmer OSA, IN MEMORY OF ME – Early Christian Eucharistic Celebrations, Word among us, June 2001, hal. 18].

Yustinus juga memasukkan kata-kata konsekrasi dan catatan-catatan bahwa “kenang-kenangan para rasul atau tulisan-tulisan para nabi” dibacakan dan diproklamasikan oleh pemimpin ibadat, yang memberi petuah dan mendesak kami untuk mencontoh hal-hal indah yang telah kami dengar.” Suatu kolekte persembahan dilakukan bagi mereka yang membutuhkan: para janda, yatim-piatu, orang sakit, orang-orang asing yang datang berkunjung, dll. Bahkan mereka berdoa “Bapa Kami” bersama-sama. Jadi, kelihatan di sini bahwa dalam banyak hal, penggambaran ini mencerminkan struktur Misa seperti yang ada sekarang.

Doa-doa dan desakan-desakan dari para Bapak Gereja 

Teks lengkap paling awal tentang sebuah liturgi Ekaristi yang kita miliki ditulis oleh Santo Hippolytus [c. 170-236] dari Roma sekitar tahun 215. Mengikuti pola doa-doa Yahudi berkaitan dengan perjamuan, liturgi Hippolytus mencakup kata-kata konsekrasi dan sebuah kenangan akan karya penebusan Yesus. Dengan adanya reformasi di bidang liturgi sesuai keputusan Konsili Vatikan II, doa kuno dari Hippolytus itu diklaim kembali dan kita kenal sekarang sebagai “Doa Syukur Agung II”.

Anugerah Ekaristi juga menginspirasikan banyak penulis Kristiani awal untuk mengungkapkan pujian penuh sukacita dan rasa syukur mereka, dan untuk mengingatkan umat beriman berkaitan dengan kebutuhan akan persatuan dan kasih, antara lain Santo Ignatius dari Antiokia [c. 35-107]. 

S. Ignatius, uskup dari Antiokia ditangkap oleh penguasa Roma di sekitar tahun 107 dan dijatuhi hukuman untuk dimakan oleh binatang-binatang buas dalam gelanggang di Roma, karena iman Kristianinya. Orang kudus ini adalah salah seorang martir awal yang penting dalam Gereja. S. Ignatius mungkin seorang Siria dan adalah murid dari Santo-santo Petrus dan Paulus. Ada juga yang mengatakan, bahwa dia adalah murid dari S. Yohanes. Ada juga cerita, bahwa dia adalah anak kecil yang ditempatkan oleh Yesus di tengah-tengah para murid sebagai tanggapan awal sang Guru pada saat mereka bertanya kepada-Nya “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” (lihat Mat 18:1-6). S. Ignatius menamakan dirinya  sendiri Theoporas, sepatah kata dalam bahasa Yunani yang berarti ‘pembawa Allah’.

Nama S. Ignatius bertambah harum justru karena tujuh pucuk surat yang ditulisnya selagi dalam perjalanannya yang panjang menuju Roma. Lima pucuk surat ditulisnya untuk gereja-gereja di Asia Kecil, yaitu gereja-gereja di Efesus, Magnesia, Tralles, Filadelfia dan Smyrna. Tiga surat pertama yang disebutkan ditulisnya di Smyrna, sedangkan dua surat lainnya ditulisnya di Listra, sebelum menyeberang  ke Eropa. Surat kepada jemaat di Roma ditulisnya di Smyrna, dan sepucuk surat perpisahan yang ditujukan kepada Uskup Polykarpus ditulisnya di Listra.

Dalam beberapa suratnya terdapat deskripsi tentang Ekaristi. Dalam salah satu suratnya dapat dibaca tulisannya sebagai berikut: “Satu saja Tubuh Tuhan kita Yesus Kristus, dan satu saja juga Piala Darah-Nya. Keduanya dikurbankan di atas satu altar oleh satu Uskupmu bersama imam-imam dan diakon-diakon” (Surat kepada jemaat di Filadelfia, 4). “Hasratku adalah roti Allah, yang adalah tubuh Yesus Kristus, dan untuk minuman saya menghasrati darah-Nya, yang adalah kasih yang tidak dapat rusak” (Surat kepada jemaat di Efesus, 7,2-3). Dalam surat-suratnya ini Ignatius mengingatkan umat Kristiani akan perintah untuk mengasihi Allah dan sesama. Lalu menambahkan: “Mereka yang menyatakan diri mereka sebagai milik Kristus tidak hanya dikenal oleh apa yang mereka katakan, melainkan oleh praktek kehidupan mereka” (Surat kepada jemaat di Efesus, 14).

Di Roma, di bawah penjagaan prajurit-prajurit yang kejam, S. Ignatius digiring masuk ke dalam gelanggang binatang buas. Di tempat itu tubuhnya yang suci diterkam dan dicabik-cabik singa-singa yang sedang kelaparan. Darahnya yang suci membasahi tanah gelanggang  yang sebelum itu telah menampung darah banyak martir yang juga mati demi kesetiaan kepada Kristus: para saksi Kristus sejati!

Keprihatinan S. Ignatius dari Antiokia yang terbesar adalah persatuan dan tatanan Gereja sebagai Tubuh Kristus. Menurut orang kudus ini, yang paling penting adalah agar supaya umat Kristiani bersatu, merayakan Ekaristi dengan layak, dan patuh kepada pimpinan uskup mereka. Katanya: “Di mana ada uskup, di situlah Gereja!”

Catatan Penutup

Perayaan Ekaristi dalam Gereja zaman sekarang bukanlah “ciptaan” manusia modern, melainkan suatu praktek keagamaan yang berasal-usul dari Yesus Kristus sendiri, Tuhan dan Juruselamat kita! Akan tetapi, umat Kristiani tidak dapat sekadar berkumpul dan bersekutu untuk merayakan Ekaristi dan menjadi suci-suci sendiri – menjadi sekelompok orang-orang kudus seperti orang Eseni – karena  setiap orang Kristiani juga harus menjadi Ekaristi bersama Yesus. Menjadi Ekaristi berarti siap memecah-mecahkan diri kita dan memberikannya kepada setiap orang yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari kita. Kita ada di tengah dunia untuk alasan yang indah, yaitu menjadi kurban yang hidup, menjadi Ekaristi bersama Yesus Kristus. Itulah yang ditunjukkan dalam kehidupan dan kematian banyak sekali saksi Kristus sepanjang masa: mereka bertemu dengan Kristus dalam Ekaristi dan menjadi Ekaristi bersama Kristus! Hal ini dilakukan umat Kristiani sejak awal keberadaan Gereja dalam menanggapi perintah Yesus Kristus: “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!”

Cilandak, 27 Juni 2012  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 79 other followers