Posts tagged ‘AHLI TAURAT’

KASIH YANG SEJATI

KASIH YANG SEJATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Jumat, 28 Maret 2014) 

jesus christ super starLalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya, “Perintah manakah yang paling utama?”  Jawab Yesus, “Perintah yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhanlah Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Perintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah ini.”  Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus, “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya.” Yesus melihat bagaimana orang itu menjawab dengan bijaksana, dan Ia berkata kepadanya, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!”  Sesudah itu, seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus. (Mrk 12:28-34)

Bacaan Pertama: Hos 14:2-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 81:6-11,14,17 

Kelihatannya ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus dalam bacaan Injil kali ini tidak tergolong mayoritas para pemuka agama Yahudi yang ingin mempermalukan, mencelakakan, malah menghabiskan Yesus. Ia melontarkan pertanyaan yang sama (baca Luk 10:25 dsj.), namun terkesan tulus: “Perintah manakah yang paling utama?” (12:28). Kebanyakan ahli Taurat memandang Yesus sebagai sebagai seorang rabbi yang merupakan saingan, … sebagai ancaman! Lain halnya dengan ahli Taurat yang satu ini: dia memandang Yesus sebagai suatu kesempatan untuk belajar. Oleh karena itu secara sopan dia mengajukan sebuah pertanyaan sederhana yang mencerminkan suatu keprihatinan yang tertanam dalam-dalam di setiap hati anak manusia.

YESUS MAU DIJEBAK OLEH ORANG FARISIPertanyaan ahli Taurat ini mencerminkan sebuah hati yang mencari – kalau mungkin, untuk memahaminya – suatu prinsip tunggal sederhana yang mendasari kompleksitas hukum yang berlaku. Jawaban Yesus mengacu pada apa yang tertulis dalam Ul 6:4-5 dan Im 19:18. Dan, ahli Taurat itu menanggapi jawaban Yesus itu dengan positif: “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya” (Luk 12:32-33). Yesus memuji ahli Taurat untuk pemahamannya bahwa kasih adalah perintah Allah yang paling penting. Mengasihi Allah dan mengasihi sesama – ini adalah perintah paling utama, kata Yesus kepadanya. Dan orang itu pun setuju sepenuh hatinya dengan jawaban Yesus itu.

Namun mengasihi Allah dan sesama tidaklah semudah kedengarannya. Kasih yang sejati adalah sebuah tantangan bagi orang-orang pada umumnya, teristimewa mereka yang tergolong menengah ke atas dan tinggal di kota-kota besar. Mereka memiliki banyak kenikmatan materiil, dan hal ini cenderung membuat orang menjadi semakin serakah, semakin tamak. Mereka pun tidak secara otomatis merasakan adanya kebutuhan besar akan satu sama lain. Pengaruh iklan-iklan di media massa, misalnya televisi, juga ada (kalau saya tidak katakan banyak) yang bersifat negatif. Ujung-ujungnya membuat orang-orang menjadi ingin mendapat/memperoleh saja daripada memberi. Dengan demikian cinta atau kasih hanya menjadi daya tarik pada tingkat permukaan saja yang tidak ada hubungannya dengan kasih yang sejati.

Sungguh merupakan suatu tragedi, apabila seseorang memiliki sebuah rumah indah yang dilengkapi dengan dengan segala aksesorinya seperti mebel-mebel mahal, televisi dengan layar lebar di ruang keluarga, beberapa buah mobil dlsb., namun rumah itu bukanlah rumah yang membahagiakan para penghuninya …… karena kasih-sejati tidak ada dalam rumah itu. Tidak ada kasih-sejati yang tidak terbuka, penuh kemurahan-hati, penuh pengorbanan dan berdisiplin. Allah adalah kasih (1Yoh 4:8,16), dan hanya mereka yang hidup dalam kasih sejati dapat hidup dalam Allah. Kasih yang sejati mengalir ke luar dari diri seorang pribadi kepada orang-orang lain. Apabila kasih yang sejati tidak bertumbuh secara aktif dan hidup subur dalam keluarga, bagaimana kasih sejati itu dapat mengalir ke luar kepada orang-orang lain? Ini adalah tanggung-jawab pertama dari para orangtua: untuk mengajar kasih sejati kepada anak-anak mereka, dan mereka sendiri harus memiliki kasih sejati tersebut. Para orangtua itu harus belajar mengasihi agar dapat belajar tentang Allah, karena Allah adalah kasih.

DOA: Bapa surgawi, gerakkanlah aku dengan kasih-Mu untuk mengasihi-Mu dan sesamaku dengan kasih-Mu yang sejati. Teristimewa pada masa Prapaskah ini, tolonglah aku agar dapat melihat hidup imanku sebagai suatu relasi, bukan sekadar suatu tugas. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Hos 14:2-10), bacalah tulisan yang berjudul “DIA ADALAH ALLAH YANG MAHASETIA” (bacaan tanggal 28-3-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-03 BACAAN HARIAN MARET 2014.

Bacalah juga tulisan yang berjudul “DIA ADALAH ALLAH YANG MAHAKASIH DAN MAHAPENGAMPUN” (bacaan untuk tanggal 8-3-13)  dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:28-34), bacalah tulisan yang berjudul “ENGKAU TIDAK JAUH DARI KERAJAAN ALLAH”  (bacaan tanggal 16-3-12), dalam situs/blog PAX ET BONUM. Juga tulisan yang berjudul “PERINTAH MANAKAH YANG PALING UTAMA?” (bacaan tanggal 16-3-12) dalam situs/blog SANG SABDA. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-3-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 25 Maret 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS DAN BEELZEBUL

YESUS DAN BEELZEBUL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Angela Merici – Senin, 27 Januari 2014)

Ordo Santa Ursula: Hari Raya S. Angela Merici, Pendiri (seorang anggota OFS)

KONFLIK DGN ORANG FARISI DLL. - DENGAN KUASA MANA ENGKAU ...Ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem berkata, “Ia kerasukan Beelzebul,”  dan, “Dengan pemimpin setan Ia mengusir setan.”  Yesus memanggil mereka, lalu berkata kepada mereka dalam perumpamaan, “Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis? Kalau suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan, dan jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan. Demikianlah juga kalau Iblis berontak melawan dirinya sendiri dan kalau ia terbagi-bagi, ia tidak dapat bertahan, melainkan sudahlah tiba kesudahannya. Tetapi tidak seorang pun dapat memasuki rumah seorang yang kuat untuk merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu. Sesudah itu barulah dapat ia merampok rumah itu. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Semua dosa dan hujat apa pun yang diucapkan anak-anak manusia akan diampuni. Tetapi siapa saja yang menghujat Roh Kudus tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa yang kekal.” Ia berkata demikian karena mereka mengatakan bahwa Ia kerasukan roh jahat.  (Mrk 3:22-30)

Bacaan Pertama: 2Sam 5:1-7,10; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:20-22,25-26 

Injil Markus secara progresif mengungkapkan siapa Yesus itu sebenarnya – dari peristiwa yang satu ke peristiwa selanjutnya. Dalam salah satu peristiwa itu (bacaan Injil hari ini), Yesus menghadapi tuduhan yang serius dari para ahli Taurat yang mengatakan bahwa diri-Nya kerasukan Beelzebul (gelar untuk roh jahat yang berarti “tuan dari lalat-lalat”). Mereka menuduh Yesus mengusir roh-roh jahat dengan menggunakan kuasa dari “penguasa roh-roh jahat” itu, dan mereka juga menuduh Yesus, bahwa Dia “kerasukan roh jahat” (Mrk 3:22,30).

Yesus menyingkapkan tidak masuk akalnya tuduhan para ahli Taurat itu dengan sebuah pertanyaan akal-sehat: “Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis?”  (Mrk 3:23).  Karena kecemburuan atau sikap benar-sendiri, para ahli Taurat itu menjadi buta terhadap hal-hal yang sudah jelas dan gamblang: Melalui pengusiran roh-roh jahat dan penyembuhan orang-orang sakit Yesus sebenarnya sedang melakukan perusakan/ penghancuran Kerajaan Iblis, bukan membangunnya. Secara implisit Yesus sebenarnya mengatakan bahwa Dia telah datang untuk membangun Kerajaan Allah dengan pertama-tama menjarah rumah dari si “orang kuat” (Mrk 3:27).

Kepada para lawan yang menuduhnya, Yesus mengingatkan: “Siapa saja yang menghujat Roh Kudus tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa yang kekal” (Mrk 3:29). Konteksnya di sini bersifat signifikan. Yesus sedang memperingatkan para pemimpin/pemuka agama Yahudi yang menyatakan karya penyelamatan Allah sebagai pekerjaan si Iblis. Mereka memutar-balikkan kebenaran, menolak karunia keselamatan Allah dan menempatkan orang-orang dalam posisi berisiko juga.

Sebelumnya, bagian pertama dari pernyataan Yesus berbunyi sebagai berikut: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Semua dosa dan hujat apa pun yang diucapkan anak-anak manusia akan diampuni” (Mrk 3:28). Hal ini menandai sebuah langkah lagi dalam pernyataan progresif dari Anak Manusia: Dialah yang mempunyai kuasa untuk mengampuni.

Markus mengkombinasikan cerita penolakan ini dengan serangkaian tanggapan-tanggapan yang bersifat skeptis. Urut-urutannya menyediakan suatu efek kumulatif. Identitas Yesus muncul secara lebih jelas karena Dia membuktikan bahwa tuduhan negatif para lawan-Nya itu salah. Pada saat yang bersamaan, Markus menunjukkan kontradiksi yang mencolok: Para ahli Taurat dan otoritas keagamaan Yahudi menolak Dia (padahal ekspektasi kita adalah sebaliknya, yaitu mereka akan menyambut baik diri-Nya). Bahkan keluarga-Nya pun mempertanyakan tindak-tanduk Yesus (Mrk 3:21). Para murid dan orang banyak terdiri dari orang-orang sederhana dan miskin – barangkali karena kebutuhan riil mereka, namun pasti karena keterbukaan mereka – memandang Yesus sebagai sang Mesias yang dengan penuh kuasa meresmikan kedatangan Kerajaan Allah.

DOA: Tuhan Yesus, seperti orang-orang yang telah bertemu dengan Engkau, aku sering disusahkan dengan rasa ragu, rasa takut dan prasangka-prasangka. Namun ketika Roh-Mu menyentuh diriku, aku tahu bahwa Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Tolonglah aku, ya Tuhan Yesus, supaya aku dapat mengenal Engkau secara lebih mendalam lagi, sehingga aku dapat menyerahkan diriku sepenuhnya kepada-Mu. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:22-30), bacalah tulisan yang berjudul “TANDA KONTRADIKSI DAN PENGHARAPAN” (bacaan tanggal 27-1-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 14-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-1-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  23 Januari 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MEMANG ADALAH TUHAN ATAS HARI SABAT

YESUS MEMANG ADALAH TUHAN ATAS HARI SABAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Senin, 9 September 2013) 

YESUS MENYEMBUHKAN ORANG YANG MATI TANGAN KANANNYAPada suatu hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka mendapat alasan untuk mempersalahkan Dia. Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati tangannya itu, “Bangunlah dan berdirilah di tengah!” Orang itu pun bangun dan berdiri. Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu, “Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya. Kemarahan mereka meluap, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus. (Luk 6:6-11)

Bacaan Pertama: Kol 1:24-2:3; Mazmur Tanggapan: Mzm 62:6-7,9 

Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat terus mengamati gerak-gerik Yesus supaya dapat memperoleh tanda-tanda bahwa Dia melanggar hukum, khususnya yang berkaitan dengan hari Sabat. Banyaknya peraturan sehubungan dengan Sabat membuat para pemuka agama Yahudi tersebut memegang kendali sepenuhnya atas hal-ikhwal (pernak-pernik?) hari Sabat. Mentalitas seperti ini membatasi penyembahan kepada Allah yang menyentuh hati. Yesus, “Tuhan atas hari Sabat” (Luk 6:5), akan menunjukkan apa itu sesungguhnya kebaktian/persembahan hari Sabat.

Yesus tidak dapat diintimidasi oleh orang-orang Farisi dan para ahli Taurat. Pendekatan Yesus terhadap upaya memelihara kesucian hari Sabat didasarkan secara kuat pada keyakinan bahwa kasih kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari kasih kepada sesama manusia (Luk 10:25-37). Pandangan Yesus ini mencerminkan keyakinan-Nya bahwa ketiadaan hormat kita kepada sesama manusia tidak dapat menghormati Allah.  Juga adalah suatu kejahatan apabila kita membiarkan penderitaan/kesengsaraan berlangsung terus, padahal hal tersebut dapat dihentikan (bahkan pada hari Sabat) dengan suatu perbuatan baik.

Orang-orang Farisi memasukkan Yesus dalam kategori “penyembuh”, dan mereka mengamat-amati Yesus secara ketat, kalau-kalau Dia menyembuhkan pada hari Sabat (Luk 6:7). Tafsir mereka atas hukum memperkenankan intervensi medis pada hari Sabat, hanya untuk kelahiran, penyunatan, dan penyakit mematikan. Melakukan penyembuhan pada hari Sabat untuk alasan apa pun kecuali atas penyakit yang mematikan seperti yang dilakukan oleh Yesus jelas merupakan pelanggaran terang-terangan atas istirahat hari Sabat.

Yesus bukanlah Yesus jika Dia tidak mengetahui isi hati dari orang-orang Farisi dan para ahli Taurat itu. Yesus memerintahkan orang yang mati tangannya itu untuk maju ke depan, jadi sesungguhnya mengkonfrontir para pemuka agama Yahudi itu ketika Dia bertanya kepada mereka: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” (Luk 6:8-9). Dalam pikiran Yesus, apa saja yang membiarkan seseorang tetap menderita tidaklah menghormati Allah, dan Allah seharusnya dihormati, teristimewa pada hari Sabat. Jadi, Yesus memerintahkan orang itu untuk mengulurkan tangannya yang lumpuh. Ia melakukannya sesuai perintah Yesus itu, dan ia pun disembuhkan. Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat menjadi marah besar karena sekali lagi Yesus menunjukkan bahwa “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat” (Luk 6:5).

Sekarang marilah kita (anda dan saya) bertanya kepada diri kita masing-masing, apakah hati dan pikiran kita juga terbelenggu oleh sikap-sikap restriktif menyangkut pokok-pokok berikut ini: Allah, penyembahan kepada-Nya, keluarga, pekerjaan, relasi di dalam komunitas kita? Apakah kita menghayati atau menjalani kehidupan kita dengan cara-cara yang menghormati Allah dan sesama? Ataukah kehidupan spiritual kita sudah menjadi layu seperti tangan orang itu? Yesus, dengan kasih dan bela-rasa, minta kepada kita untuk hidup seperti Dia hidup, … dalam kasih dan bela-rasa.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar dapat melihat kebutuhan kami akan penyembuhan-Mu dalam kehidupan kami. Semoga terang-Mu menyinari diri kami sehingga kami dapat mengasihi Allah dan sesama. Semoga kami Kaujadikan hidup dan bergembira dalam Engkau, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kol 1:24-2:3), bacalah tulisan yang berjudul “DI DALAM KRISTUS TERSEMBUNYI SEGALA HARTA HIKMAT DAN PENGETAHUAN” (bacaan tanggal 9-9-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2013. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-9-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 5 September 2013  

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HUKUM YANG TERUTAMA

HUKUM YANG TERUTAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XX – Jumat,  23 Agustus 2013)

Fransiskan Kapusin: Peringatan B. Berardus dr Offida, Biarawan

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIAKetika orang-orang Farisi mendengar bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia, “Guru, perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah perintah yang terutama dan yang pertama. Perintah yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua perintah inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat 22:34-40).

Bacaan Pertama: Rut 1:1,3-6,14b-16,22; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:5-10

“Guru, perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” (Mat 22:36). Kelihatannya ahli Taurat yang melontarkan pertanyaan ini ingin mengetahui pendapat Yesus mengenai kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan. Dari 613 perintah yang ada dalam Perjanjian Lama, yang manakah yang pantas untuk ditaati secara paling ketat? Perintah mana, kalau dilanggar, akan membuat sulit orang bersangkutan? Mungkin saja si penanya mencari lubang dari mana dia dapat menjebak Yesus. Mungkin sah-sah saja untuk mengajukan pertanyaan seperti ini dengan pengharapan akan memperoleh jawaban terinci, langkah demi langkah dst. Namun Yesus mempunyai cara yang lebih baik!

Kesederhanaan tanggapan Yesus menunjukkan betapa vitalnya untuk memperkenankan Roh Kudus menggerakkan “tulang-tulang kering” kita seperti diungkapkan dalam bacaan tentang “kebangkitan Israel” dalam Kitab Yehezkiel (Yeh 37:1-14), sehingga dengan demikian hukum-hukum Allah dapat menjadi sumber kehidupan bagi kita, bukan suatu sumber frustrasi. Nabi Yehezkiel memberi gambaran yang hidup tentang kondisi yang akan kita alami apabila kita mencoba untuk hidup tanpa kuasa surgawi. Namun sekali kita memperkenankan Roh Kudus untuk menghembuskan nafas hidup ke dalam diri kita, supaya kita hidup kembali. Dia akan memberi urat-urat syaraf, menumbuhkan daging dan menutupi diri kita dengan kulit, sehingga kita tidak lagi berupa tulang-tulang kering belaka (lihat Yeh 37:4-6). Roh Kudus tidak hadir untuk menekankan keterbatasan-keterbatasan kita, melainkan untuk membuat kita bebas untuk mengasihi Allah dan sesama secara total-lengkap. Melalui Dia kuasa dosa dipatahkan, dan kita dapat menjadi bagian dari “tentara yang sangat besar” (Yeh 37:10).

ROHHULKUDUSDengan membuka diri bagi kehadiran Roh Kudus, kita dapat menerima urat-urat syaraf dari kekuatan ilahi, yang memampukan kita untuk bergerak dalam/dengan kuasa-Nya. Jiwa kita akan dipenuhi dengan kasih-Nya – suatu kasih yang mendaging (mewujudkan diri) dalam tindakan-tindakan kita sehari-hari. Bahkan pikiran-pikiran kita akan dilindungi oleh “baju zirah rohani” sebagaimana kulit melindungi organ-organ kita.

Tanpa Roh Kudus, kita hanya mempunyai hukum. Namun dengan Roh Kudus, hukum yang sama dapat membawa kita ke dalam kehidupan yang kekal. Daripada menanggapi pertanyaan-pertanyaan si ahli Taurat dengan memberikan sebuah daftar yang berisikan hal-hal yang bersifat mengikat, harus ini dan itu, Yesus justru mengingatkan kita akan keharusan untuk mengantisipasi tindakan cintakasih kepada Allah dan sesama yang bersifat tanpa batas. Dengan Roh Kudus dalam kehidupan kita, tidak perlulah untuk menanyakan berapa banyak yang harus kita lakukan. Roh Kudus ada bersama kita justru untuk menunjukkan kepada kita segalanya yang harus dan dapat kita lakukan. Bersama sang pemazmur kita pun dapat mengatakan: “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya” (Mzm 107:1).

DOA: Roh Kudus Allah, hembuskanlah nafas hidup-Mu ke dalam diriku. Ambillah tulang-tulangku yang kering dan letih lesu dan penuhilah dengan hidup-Mu sendiri. Berdayakanlah aku untuk mengasihi-Mu dan sesamaku dengan segenap hatiku, pikiranku dan jiwaku. Datanglah, ya Roh Kudus dan curahkanlah kasih-Mu yang tanpa batas itu ke dalam hatiku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini, bacalah tulisan yang  berjudul “MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA” (bacaan tanggal 23-8-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2013. 

Bacalah juga tulisan yang berjudul “PADA KEDUA PERINTAH INILAH TERGANTUNG SELURUH HUKUM TAURAT DAN KITAB PARA NABI” (bacaan tanggal 19-8-11)  dalam situs/blog SANG SABDA. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-8-10 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 19 Agustus 2013 [Peringatan S. Ludovikus, Uskup] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANDA INI MEMBERI DARI KEKURANGANNYA

JANDA INI MEMBERI DARI KEKURANGANNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Hati Tersuci SP Maria – Sabtu, 8 Juni 2013)

Fransiskan Kapusin: Peringatan Fakultatif B. Nikolaus Gesturi, Imam 

PERSEMBAHAN SANG JANDA MISKIN - 501Dalam pengajaran-Nya Yesus berkata, “Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, yang suka duduk di tempat yang terbaik di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan, yang menelan rumah janda-janda dan mereka mengelabui mata orang dengan mengucapkan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.”

Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua uang tembaga, yaitu uang receh terkecil. Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya semua yang dimilikinya, yaitu seluruh nafkahnya.” (Mrk 12:38-44)

Bacaan Pertama: Tb 12:1,5-15,20; Mazmur Tanggapan: Tb 13:2,6-8 

Pada suatu kali Yesus dan para murid-Nya duduk-duduk di Bait Allah di dekat kotak kolekte sambil memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam kotak kolekte tersebut. Datanglah banyak orang kaya memberi persembahan dalam jumlah besar. Mungkin ada dari orang-orang kaya itu mengangkat tangannya tinggi –tinggi sebelum memasukkan uang peraknya ke dalam kotak kolekte tersebut, tentunya agar orang-orang lain dapat melihatnya dan mendengar gemerincing uang logam persembahannya.

Kemudian, tanpa banyak ribut-ribut, datanglah seorang janda miskin. Dia mencoba memberikan uang persembahannya secara sembunyi-sembunyi karena dia hampir tidak mempunyai apa-apa lagi untuk diberikan. Ia memasukkan dua keping uang tembaga dengan perlahan-lahan. Semua tindakan janda miskin itu tidak luput dari perhatian Yesus, dan Ia ingin agar para murid-Nya memperhatikan apa yang dilakukan oleh janda miskin itu. Yesus memanggil para murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya semua yang dimilikinya, yaitu seluruh nafkahnya” (Mrk 12:43-44). Janda itu memberikan kekurangannya … dari kemiskinannya, segalanya yang dibutuhkan olehnya untuk hidup! Sebaliknya orang-orang kaya itu memberi dari kelimpahannya, sedangkan si janda memberikan uang-uang logam terakhir yang dimilikinya. Inilah cintakasih: hakikat atau jiwa dari tindakan memberi.

“Memberi sampai terasa sakit” (Inggris: “Giving till it hurts” seperti dikatakan oleh Ibu Teresa dari Kalkuta) dilakukan oleh orang-orang miskin, bukan orang-orang kaya. Memang hal ini adalah kenyataan hidup yang menyedihkan yang ada pada segala zaman dalam sejarah manusia. Seandainya saja orang-orang yang kaya memiliki kemurahan-hati seperti orang-orang miskin, maka tidak akan ada seorang pun yang berkekurangan. Dengan demikian, tidak mengherankanlah apabila Yesus seringkali berbicara dengan kata-kata keras tentang bahayanya kekayaan (lihat misalnya Mrk 10:23-27). Yesus memiliki preferensi terhadap orang-orang miskin dan Ia sendiri pun memilih menjadi orang miskin. Ini adalah sebuah tanda kemurahan-hati-Nya yang tanpa batas.

Yesus tidak menentang atau mengutuk orang-orang yang memiliki harta-kekayaan lebih daripada orang kebanyakan. Namun Ia memperingatkan mereka dengan serius tentang keserakahan, ketamakan, sikap dan perilaku mementingkan diri sendiri. Kita tentunya familiar dengan perumpamaan-perumpamaan Yesus tentang “Orang kaya dan Lazarus”, juga tentang orang kaya-bodoh yang membangun tempat menyimpan gandumnya, lalu mati (Luk 12:16-21). Di mata Yesus, kepemilikan harta-kekayaan tanpa diiringi dengan kemauan untuk berbagi dengan orang lain adalah suatu kejahatan.

Ingatlah, bahwa mayoritas dari para pengikut Kristus adalah orang-orang miskin, karena mereka lebih mau untuk mendengarkan Dia. Orang-orang kaya merasa takut bahwa mereka akan kehilangan kuasa dan pengaruh apabila mereka mengikuti contoh yang diberikan Yesus. Hal ini berarti bahwa mereka tidak mau menaruh kepercayaan kepada Allah. Mereka lebih suka menaruh kepercayaan pada kekuasaan dan kekayaan yang mereka miliki.

Mengasihi senantiasa berarti memberi diri kita, bukan memberikan sesuatu yang tidak berarti bagi diri kita sendiri. Mengasihi berarti memberikan sesuatu dari diri kita sendiri: perhatian dan keprihatinan kita, waktu kita, talenta kita, keterampilan kita, minat dalam kebutuhan-kebutuhan orang-orang lain.

DOA: Tuhan Yesus,  kami semua miskin di hadapan-Mu. Mengapa kami harus takut untuk berbagi dengan orang-orang lain, segala hal yang telah kami terima?  Apakah kami tidak menaruh kepercayaan kepada-Mu. Tidakkah kami yakin bahwa balasan dari-Mu selalu lebih besar daripada pemberian kami yang kecil? Tuhan, tolonglah kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:38-40), bacalah tulisan yang berjudul “KEMURAHAN HATI SANG JANDA MISKIN” (bacaan tanggal 8-6-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-05 BACAAN HARIAN JUNI 2013. Bacalah juga tulisan yang berjudul “PERSEMBAHAN SEORANG JANDA MISKIN” (bacaan tanggal 9-6-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-6-13 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 25 Mei 2013

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERINTAH MANAKAH YANG TERUTAMA DALAM HUKUM TAURAT?

PERINTAH MANAKAH YANG TERUTAMA DALAM HUKUM TAURAT?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IX – Kamis, 6 Juni 2013)

hundred_guilder_print_by_rembrandt_700x500 

Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya, “Perintah manakah yang paling utama?”  Jawab Yesus, “Perintah yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhanlah Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Perintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah ini.”  Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus, “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya.”  Yesus melihat bagaimana orang itu menjawab dengan bijaksana, dan Ia berkata kepadanya, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!”  Sesudah itu, seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus. (Mrk 12:28-34)

Bacaan Pertama: Tb 6:10-11’7:1,9-17;8:4-9a; Mazmur Tanggapan: Mzm 128:1-5 

“Perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” (Mrk 12:28). Kelihatannya ahli Taurat yang melontarkan pertanyaan ini ingin mengetahui pendapat Yesus mengenai kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan. Dari 613 perintah yang ada dalam Perjanjian Lama, yang manakah yang pantas untuk ditaati secara paling ketat? Perintah mana, kalau dilanggar, akan membuat sulit orang bersangkutan? Mungkin saja si penanya mencari lubang dari mana dia dapat menjebak Yesus. Mungkin sah-sah saja untuk mengajukan pertanyaan seperti ini dengan pengharapan akan memperoleh jawaban terinci, langkah demi langkah dst. Namun Yesus mempunyai cara yang lebih baik! Ia menjawab pertanyaan ahli Taurat dengan singkat-jelas: “Perintah yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhanlah Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Perintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah ini” (Mrk 12:29-31).

Ahli Taurat itu lalu berkata kepada Yesus: “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya” (Mrk 12:32-33). Yesus memuji ahli Taurat itu untuk pemahamannya atas apa yang dikatakan-Nya, bahwa “mengasihi” adalah perintah Allah yang paling penting. Mengasihi Allah dan mengasihi sesama kita – ini adalah perintah-perintah besar dan agung; dan ahli Taurat itu setuju dengan sepenuh hatinya.

Mengasihi tidaklah semudah diucapkan bibir atau semudah kedengarannya. Kasih yang sejati adalah suatu tantangan besar bagi orang-orang yang sudah tergolong mapan, teristimewa mereka yang hidup di kota-kota besar. Mereka telah mempunyai begitu banyak kenikmatan materiil, dan hal itu cenderung membuat mereka menjadi serakah dan tamak. Sebaliknyalah dengan orang-orang kecil yang di kota-kota kecil atau pedesaan. Anak-anak harus bekerja membantu di sawah atau ladang untuk menunjang kebutuhan keluarga; keluarga-keluarga juga harus memberi dengan penuh kemurahan-hati tidak sedikit waktu, tenaga dan sumber daya lainnya guna membangun gereja-gereja dan pusat-pusat komunitas. Memang tidak selalu berjalan lancar dan cukup “memakan waktu”, namun hal seperti ini adalah pemberian-diri yang asli, suatu tanggapan manusia, kerja-sama demi pemenuhan kebutuhan bersama. Hal seperti itu juga mengembangkan suatu rasa tanggung-jawab.

Sekarang kita tidak otomatis merasakan adanya kebutuhan satu sama lain. Namun sesungguhnya begitu banyak orang yang mengalami kesendirian dan sangat merindukan kasih sejati. Serbuan bertubi-tubi dalam rupa berbagai tulisan (termasuk lewat internet) yang menyesatkan memberikan sebuah gambaran yang salah tentang apa cintakasih manusiawi itu. Misalnya, apabila anda tidak memiliki gigi yang putih berkilau-kilauan dan rambut yang lembut dan parfum  tertentu, maka tidak ada seorang pun yang akan mencintai anda. Kita memang suka tertawa dalam menanggapi iklan-iklan itu, namun tak terasa semua itu memasuki dan malah merasuki pikiran kita. Iklan-iklan seperti itu membuat kita ingin “memperoleh” sesuatu, bukan “memberi”. Jika demikian halnya, maka cintakasih hanyalah suatu daya tarik di permukaan saja yang tidak ada urusannya samasekali dengan kasih yang sejati.

Adalah suatu tragedi apabila sebuah rumah yang indah dengan segala macam perlengkapannya, misalnya dua buah mobil mewah, sebuah kolam renang, taman yang luas-indah, beberapa televisi besar, kamar-kamar mandi yang mewah dlsb., namun bukan merupakan rumah yang membahagiakan bagi para penghuninya, karena kasih yang sejati tidak ada. Tidak ada cintakasih sejati yang tidak terbuka, tidak dipenuhi kemurahan-hati, tidak memiliki unsur pengorbanan dan disiplin yang baik. Allah adalah kasih (1Yoh 4:8,16), dan hanya mereka yang hidup dalam kasih sejati dapat hidup dalam Allah. Cintakasih yang sejati mengalir ke luar dari diri sendiri kepada orang-orang lain. Apabila cintakasih yang asli tidak secara aktif bertumbuh dengan subur dalam keluarga, maka bagaimana hal itu dapat mengalir ke luar kepada orang-orang lain? Di sinilah letak tanggung jawab pertama dari para orangtua: untuk mengajar cintakasih yang sejati kepada anak-anak mereka, agar mereka masing-masing memilikinya sendiri juga. Mereka harus belajar mengasihi agar dapat belajar tentang Allah, karena Allah adalah kasih.

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah kasih. Ajarlah kami untuk mengasihi-Mu dan sesama kami manusia dengan benar, seturut kehendak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:28-34), bacalah tulisan yang berjudul “KITA AKAN DIHAKIMI KELAK ATAS DASAR KASIH KITA” (bacaan tanggal 6-6-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-06 BACAAN HARIAN JUNI 2013, Bacalah juga tulisan yang berjudul “ENGKAU TIDAK JAUH DARI KERAJAAN ALLAH” (bacaan tanggal 7-6-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-6-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 Mei 2013 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERKENANKANLAH DIA MERANGKUL ANDA ERAT-ERAT DENGAN BELAS KASIH-NYA

PERKENANKANLAH DIA MERANGKUL ANDA ERAT-ERAT DENGAN BELAS KASIH-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Sabtu, 2 Maret 2013)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Agnes dari Praha, Ordo II/Klaris 

PERUMPAMAAN - ANAK YANG HILANG - 5 OLEH CARAVAGGIOPara pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Lalu bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka. Lalu Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Ada seseorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh  bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang warga negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikan sesuatu kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Lalu bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Ambillah anak lembu yang gemuk itu, sembelihlah dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Lalu mulailah mereka bersukaria. Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar suara musik dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu yang gemuk, karena ia mendapatnya kembali dalam keadaan sehat. Anak sulung itu marah ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan membujuknya. Tetapi ia menjawab ayahnya, Lihatlah, telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu yang gemuk itu untuk dia. Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala milikku adalah milikmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali” (Luk 15:1-3,11-32).

Bacaan Pertama: Mi 7:14-15,18-20; Mazmur Antar-bacaan: Mzm 103:1-4.9-12

Bacalah dengan seksama “Perumpamaan tentang  Anak yang Hilang” di atas sekali lagi walaupun anda sudah sangat familiar dengan perumpamaan tersebut, lalu bayangkanlah dirimu sebagai salah seorang “karakter” dalam kisah itu – barangkali sebagai seorang hamba/pelayan yang bekerja dalam rumah tangga sang ayah. Anda berada di dekat TKP pada saat si anak bungsu menuntut bagian warisan dari sang ayah, sehingga dia dapat meninggalkan rumah. Anda memang kaget melihat bagaimana si anak bungsu itu tega-teganya meminta hal seperti itu kepada ayahnya. Terasa ada rasa kurang hormat di pihak si anak bungsu itu. Gambaran saat perpisahan mereka tetap ada dalam hati anda untuk jangka waktu yang lama.

Beberapa bulan setelah itu, anda sedang berada bersama sang tuan rumah ketika dia melihat anak bungsunya dari kejauhan, lalu berlari mendapatkan anak bungsunya itu dan merangkul serta menciumnya. Walaupun baju anak itu compang-camping tak keruan dan memancarkan aroma yang tidak sedap, sang ayah menangis haru dan penuh sukacita selagi dia merangkul si anak bungsu. Anda mendengar si anak bungsu mengaku kepada sang ayah, bahwa dirinya telah berdosa dan tidak layak disebut anak oleh sang ayah. Apakah anda berpikir, bahwa anak bungsu ini bahkan tidak pantas menjadi orang upahan seperti diri anda? Atau anda merasa lega, bahwa si anak bungsu sudah kembali baik-baik ke rumah?

PERUMPAMAAN - ANAK YANG HILANG - 2Cobalah menggambarkan sukacita dan rasa lega sebagaimana kelihatan pada wajah sang ayah. Ia begitu berbahagia, sehingga langsung saja dia mengajak orang-orangnya untuk menyiapkan perjamuan besar-besaran dengan menyembelih lembu, dan kemudian merayakannya bersama seluruh isi rumah. Selagi sang ayah membawa anaknya yang sudah bertobat itu ke dalam rumah, dan dia memerintahkan anda menyiapkan air untuk mandi si anak bungsu dan mencari pakaian yang terbaik baginya; apakah anda pikir anda akan tersenyum kepada si anak bungsu (tanpa terpaksa) seperti yang telah ditunjukkan oleh ayahnya? Kemudian ketika anda pergi ke luar untuk membuang air kotor bekas mandi si anak bungsu, anda berpapasan dengan anak yang sulung. Si anak sulung itu menjadi marah ketika dia mendengar tentang kembalinya adik laki-lakinya dan diselenggarakannya pesta makan-minum untuk kehormatan si adik. Anda tentu memahami kemarahan si anak sulung, namun anda pun mulai mengerti pengampunan sang ayah. Anda masuk ke ruang pesta perjamuan dan membisikkan informasi penting kepada sang ayah, yaitu bahwa anak sulungnya marah besar terhadap segala sesuatu yang telah terjadi dan tengah berlangsung pada saat itu.

Sang ayah langsung pergi ke luar dan merangkul anak sulungnya. Dapatkah anda melihat kasih yang terpancar keluar dari wajah sang ayah? Bagaimana kiranya adegan terakhir ini menyentuh anda? Sampai meluluhkan hati andakah?

Kita semua merobek-robek atau mencabik-cabik hati Bapa kita di surga pada saat kita pergi meninggalkan Dia seperti yang dilakukan si anak bungsu. Pertanyaan yang harus diajukan adalah apakah kita mengatakan kepada Bapa surgawi bahwa tidak mungkinlah kita diampuni karena sudah sedemikian “gilanya” terjerumus ke dalam kedosaan. Ataukah kita memperkenankan Dia merangkul kita erat-erat dengan belas kasih-Nya? Hidup ini adalah sebuah pilihan – LIFE IS A CHOICE !!!

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk kasih-Mu kepadaku yang tanpa syarat dan juga pengampunan-Mu atas segala dosa-dosaku, baik melalui pikiran, perbuatan, perbuatan maupun kelalaian – teristimewa kelalaian untuk mengasihi sesamaku tanpa memandang perbedaan-perbedaan yang ada: status sosial-ekonomi, ras/bangsa, suku, bahasa, agama. Apabila aku berada dalam keadaan yang tidak benar di mata-Mu, tolonglah aku agar mau dan mampu berlari mendapati-Mu dan jatuh ke dalam pelukan-Mu yang penuh kasih dan pengampunan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 15:1-3,11-32), bacalah tulisan yang berjudul “KASIH BAPA SURGAWI YANG BEGITU BESAR” (bacaan tanggal 2-3-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-03 BACAAN HARIAN MARET 2013. Bacalah juga tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN ANAK YANG HILANG” (bacaan tanggal 10-3-12), dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-3-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 25 Februari 2013 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEBUAH PERINGATAN KERAS

SEBUAH PERINGATAN KERAS

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Selasa, 26 Februari 2013) 

YESUS SEORANG PEMIMPIN YANG TEGASLalu berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksudkan untuk dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terbaik di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil orang ‘Rabi.’  Tetapi kamu, janganlah kamu disebut ‘Rabi’; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Janganlah kamu menyebut siapa pun ‘bapak’ di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di surga. Janganlah kamu disebut pemimpin, karena hanya satu pemimpinmu, yaitu Mesias. Siapa saja yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (Mat 23:1-12)

Bacaan Pertama: Yes 1:10,16-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:8-9,16-17,21,23 

Klimaks dari kontroversi-kontroversi yang dimulai di Mat 21 tercapai di Mat 23 ini. Bahasa keras dari bab 23 Injil Matius ini dapat ditelurusi tidak hanya kepada oposisi Yesus terhadap beberapa ekses ajaran kaum Farisi, melainkan dapat juga mencerminkan konflik yang semakin bertumbuh antara Gereja Kristiani yang masih muda dan sinagoga-sinagoga Yahudi pada paruhan kedua  abad pertama Masehi (Donald Senior CP, READ AND PRAY, Chicago, Ill.: Franciscan Herald Press, hal. 76). Di awal pengajarannya, Yesus dengan berhati-hati memberi penghargaan terhadap otoritas mengajar yang legitim dari para ahli Taurat dan orang-orang Farisi (lihat Mat 23:2-3), namun Ia memperingatkan orang banyak dan murid-murid-Nya akan contoh buruk yang dipertontonkan para pemimpin agama Yahudi tersebut.

Para pemimpin agama Yahudi itu menjadi eksponen-eksponen negatif dari tema-tema yang dipaparkan Yesus sepanjang Injil-Nya: “ketiadaan tindakan vs. perbuatan-perbuatan baik” (Mat 23:4); “kesombongan dan kepura-puraan vs. ketulusan dan sikap tanpa pamrih” (Mat 23:5); “ambisi vs. pelayanan” (Mat 23: 6 dsj.); “ketiadaan bela-rasa vs. keprihatinan persaudaraan terhadap beban-beban yang dipikul oleh orang-orang lain” (Mat 23:4); dst. Pada dasarnya bacaan Mat 23:1-28 merupakan sebuah versi negatif dari “Khotbah di Bukit” (Mat 5-7).

Jadi, kritik mendasar Yesus terhadap para ahli Taurat dan kaum Farisi pada umumnya adalah, bahwa sebagai para pemimpin mereka telah gagal menjadi contoh/model dari praktek nilai-nilai sejati hukum Allah. Kata-kata keras Yesus dimasukkan ke dalam Injil bukanlah untuk mencambuk kepemimpinan agama dari generasi yang sudah lewat, melainkan untuk menggoyang pundak orang-orang Kristiani yang harus menyampaikan Injil kepada orang-orang lain seturut “amanat agung” yang diberikan Yesus Kristus sendiri (lihat Mat 28:19-20).

Ada pertentangan mencolok antara kata-kata dan perbuatan-perbuatan nyata para ahli Taurat dan kaum Farisi itu. Mereka berbicara lantang tentang beban Allah, tentang tuntutan hukum, tentang pentingnya disiplin religius, tentang ketaatan terhadap sabda Allah dlsb., malah mengulang-ulanginya, namun semua itu hanya dimaksudkan/ berlaku untuk orang lain, bukan diri mereka sendiri. Mereka sendiri akan mencari jalan yang mudah dan malah menyingkir/menghindar dari tuntutan Allah. Dengan demikian, ibadat mereka hanyalah teori saja, kekuatan semu, kesungguhan yang dipenuhi kepura-puraan dan askese palsu pula. Lebih celaka lagi, karena mereka menduduki tempat-tempat terkemuka: mereka menduduki kursi Musa. Mereka mengaku mewartakan sabda Allah dan ajaran-ajaran-Nya, dan karenanya menuntut agar ditaati, namun sekaligus mereka menyalahgunakan kekuasaan mengajar serta kedudukan mereka sebagai pemimpin-pemimpin keagamaan. Mereka adalah garam yang tawar, terang yang menyesatkan dalam kegelapan malam (lihat Mat 5:13-16). Semua ini harus dihindari oleh setiap murid Kristus yang sejati. Dan di segala zaman tetap ada banyak orang “munafik” semacam itu, yang berkeliaran di tengah masyarakat di mana saja di dunia ini!

CELAKALAH ENGKAU KATA YESUSPara ahli Taurat dan kaum Farisi pada umumnya memiliki semangat mencari diri sendiri. Egoisme adalah semangat mereka, sedangkan semangat Kristiani ialah kesediaan untuk mengabdi. Salah satu ciri pribadi lainnya dari para pemimpin/pemuka agama Yahudi adalah kesombongan, sebaliknya salah satu ciri pribadi para murid Kristus adalah kerendahan-hati. Yesus Kristus bagi mereka adalah Allah yang merendahkan diri-Nya (lihat Flp 2:5-11), dan mereka bertekad untuk mengikuti jejak-Nya. Dalam diri para ahli Taurat dan kaum Farisi ada perlawanan antara “rupa dan isi”  (Inggris: form and substance;  antara “forma dan substansi”. Apakah artinya sebuah botol anggur merah dengan merek terkenal (misalnya Dolcetto & Syrah dari Victoria, Australia) jika hanya diisi dengan air putih biasa?  Apa artinya jubah putih seorang ulama atau rohaniwan apabila hanya untuk menutupi kemunafikannya? Bila rupa yang suci berisikan kemunafikan, maka orang itu menyalahgunakan yang ilahi untuk menyelubungi yang terlalu manusiawi dengan kesemarakan palsu. Semangat Kristiani yang sejati menghancurkan khayalan kesombongan itu dengan cintanya akan kerendahan-hati. Bagi seorang Kristiani sejati, memerintah berarti mengabdi, memimpin berarti melayani. Dalam padangan Allah, kecillah seseorang yang menganggap dirinya besar dan besarlah dia yang menyadari kekecilan dirinya sendiri. Pengetahuan akan kekecilan diri sendiri adalah awal dari pengangkatan oleh rahmat ilahi. Sebab mati adalah jalan kepada kehidupan, sedangkan mati terhadap kenikmatan /kepentingan diri sendiri adalah supaya dapat hidup kembali.

Dengan demikian peringatan Yesus terhadap “jalan sesat” para ahli Taurat dan kaum Farisi berlaku sebagai pelajaran penting bagi murid Yesus segala zaman. Yang menentukan adalah arah pandangan. Bagi para ahli Taurat dan kaum Farisi pandangan itu diarahkan pada diri sendiri dan karenanya dipalingkan dari Allah. Sebaliknya, bagi seorang Kristiani sejati pandangannya senantiasa terarah pada Allah. Hanya ada satu bapak, yaitu “Bapa di surga”, hanya ada satu rabi, yaitu “Sabda yang menjadi daging” atau “Firman yang menjadi manusia” (lihat Yoh 1:14); hanya ada satu pemimpin, yaitu Mesias. Apabila pandangan diarahkan kepada-Nya saja, maka segalanya akan beres. Mengapa? Karena semua gelar dan pangkat, semua kata dan karya diabdikan hanya kepada-Nya. Sebaliknya apabila pandangan itu berputar-putar pada diri sendiri saja, maka tata-susunan yang benar diputar-balikkan. Apa yang seharusnya mengabdi Allah, digunakan untuk mengabdi manusia. Agama disalahgunakan untuk mengabdi manusia; mengabdi politik praktis demi kekuasaan. Hal-ikhwal mencari Allah menjadi hal-ikhwal mencari diri sendiri, dan semuanya itu di bawah kedok keagamaan. Maka di sinilah peringatan keras kepada semua orang Kristiani pada segala zaman, terlebih-lebih mereka yang memegang jabatan religius. Mereka harus sungguh-sungguh meneliti suara hati masing-masing.

DOA: Ya Tuhanku dan Allahku, semoga apa yang kukatakan dan kulakukan sungguh memproklamasikan Injil-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 23:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS SANG MESIAS ADALAH GURU KITA YANG SEJATI” (bacaan tanggal 26-2-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2013. 

Pertama untuk hari ini (Yes 1:10,16-20), bacalah tulisan yang berjudul “BASUHLAH, BERSIHKANLAH DIRIMU” (bacaan tanggal 6-3-12), dalam situs/blog PAX ET BONUM ini. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul yang sama dalam situs/blog SANG SABDA untuk bacaan tanggal 6-3-12) 

Cilandak, 25 Februari 2013 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMPERKENANKAN YESUS BERKUASA ATAS DIRI KITA

MEMPERKENANKAN YESUS BERKUASA ATAS DIRI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Thomas Aquino, Imam & Pujangga Gereja – Senin, 28 Januari 2013)

KONFLIK DGN ORANG FARISI DLL. - DENGAN KUASA MANA ENGKAU ...Ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem berkata, “Ia kerasukan Beelzebul,”  dan, “Dengan pemimpin setan Ia mengusir setan.”  Yesus memanggil mereka, lalu berkata kepada mereka dalam perumpamaan, “Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis? Kalau suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan, dan jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan. Demikianlah juga kalau Iblis berontak melawan dirinya sendiri dan kalau ia terbagi-bagi, ia tidak dapat bertahan, melainkan sudahlah tiba kesudahannya. Tetapi tidak seorang pun dapat memasuki rumah seorang yang kuat untuk merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu. Sesudah itu barulah dapat ia merampok rumah itu. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Semua dosa dan hujat apa pun yang diucapkan anak-anak manusia akan diampuni. Tetapi siapa saja yang menghujat Roh Kudus tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa yang kekal.” Ia berkata demikian karena mereka mengatakan bahwa Ia kerasukan roh jahat.  (Mrk 3:22-30)

Bacaan Pertama: Ibr 9:15,24-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-6 

Pada waktu kita (anda dan saya) dibaptis, sebenarnya diri kita direbut dari cengkeraman Iblis dan kita dibuat menjadi suatu “ciptaan baru” melalui darah Yesus. Iblis dapat saja merupakan “orang yang kuat” (Mrk 3:27), namun Yesus jauh lebih kuat lagi! Sekarang masalahnya adalah, apakah Saudari/Saudara sungguh percaya bahwa Yesus telah mengikat musuh kita yang bernama Iblis itu? Yang diminta oleh Yesus dari diri kita masing-masing adalah agar kita tetap hidup berkemenangan dengan memperkenankan Dia berkuasa atas diri kita. Karena Iblis senantiasa mencari peluang untuk masuk kembali ke dalam kehidupan kita maka kita mengambil langkah-langkah praktis untuk melindungi pikiran dan hati kita. Kita harus senantiasa mengingat apa yang ditulis oleh Santo Petrus: “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-ngaum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, …… (lihat 1Ptr 5:8-9).

Apabila kita bangun tidur di pagi hari, baiklah kita menyediakan beberapa menit untuk mengkomit hati dan keadaan kita kepada Yesus. Kemudian, di siang hari kita juga menyediakan waktu untuk dapat bersama dengan Yesus. Berbicara dengan-Nya dan mendengarkan Dia. Walaupun waktu kita terasa sangat langka, kita dapat memohon Roh Kudus untuk menolong kita menemukan peluang sebanyak sepuluh menit saja hening di hadapan hadirat Allah. Semoga dengan demikian kita dapat disegarkan kembali dan dikuatkan. Barangkali selama hari itu kita dapat menemukan waktu untuk membaca Kitab Suci dan merenungkan sabda Allah di dalamnya, dan memperkenankan sabda-Nya meresapi hati kita.

Selagi kita memperkenankan Yesus memenuhi hati kita, maka Iblis pun tidak akan dapat menemukan jalan masuk atau kelemahan kita yang dapat dimanfaatkannya. Paling-paling Iblis menjadi berhadapan dengan Yesus – orang yang lebih kuat – yang terus-menerus berdiri menjaga diri kita.

Pada saat Yesus wafat di kayu salib, Ia mengalahkan Iblis secara lengkap. Jadi sebenarnya Iblis sekarang seperti seekor anjing yang dapat menyalak keras akan tetapi tidak dapat menggigit! Iblis tidak dapat “menggigit” kita, apabila kita bertumpu pada kemenangan Yesus Kristus dan melengkapi diri kita dengan segala peralatan/senjata yang telah diberikan-Nya kepada kita. Kita harus mengingat, bahwa Allah – dalam Kristus – telah mengaruniakan kepada kita “segala berkat rohani di dalam surga”, dan telah membuat kita “kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya” (Ef 1:3,4).

Marilah kita menempatkan iman kita pada kuasa dan rahmat Allah! Berdirilah tegak selagi kita membangun pertahanan kita yang kuat! Perkenankanlah Yesus memerintah dan menguasai hati kita dengan lebih penuh lagi, dengan demikian Iblis pun akan pergi meninggalkan kita!

DOA: Tuhan Yesus, aku mengundang Engkau untuk mendirikan takhta-Mu di dalam hatiku. Tolonglah aku dalam membangun pertahanan yang kuat untuk melawan Iblis dan roh-roh jahatnya, dengan demikian aku dapat mengasihi dan menghormati Engkau, dan berkata “YA” sekali lagi pada janji-janji baptisku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:22-30), bacalah tulisan dengan judul “YESUS DAN BEELZEBUL” (bacaan tanggal 28-1-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 13-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2013. Bacalah juga tulisan yang berjudul “BAGAIMANA IBLIS DAPAT MENGUSIR IBLIS?” (bacaan tanggal 23-1-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-1-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 Januari 2013 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 72 other followers