APABILA YESUS DATANG KEMBALI KE DUNIA

APABILA YESUS DATANG KEMBALI KE DUNIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Jumat, 15 November 2013) 

The-End-of-The-Spring-Wallpaper-1024x640

Sama seperti yang terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: Mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai pada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka berjual beli, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari Anak Manusia dinyatakan. Siapa saja yang pada hari itu sedang berada di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. Ingatlah akan istri Lot! Siapa saja yang berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya. Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Ada dua orang perempuan bersama-sama menggiling gandum, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.” (Kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.) Kata mereka kepada Yesus, “Di mana, Tuhan?” Kata-Nya kepada mereka, “Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung-burung nasar.” (Luk 17:26-37)

Bacaan Pertama: Keb 13:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5 

Sungguh tidak mudah untuk memahami kasih Allah bagi kita seperti halnya dalam sejumlah sabda Yesus, teristimewa ketika Dia berbicara mengenai kedatangan-Nya untuk kedua kali. Bahkan barangkali kita memandang kedatangan Kerajaan Allah sebagai saat-saat sulit-menakutkan, ketika keselamatan kita berada di luar jangkauan dan “burung-burung nasar” sudah berterbangan di langit. Namun ini bukanlah gambaran yang Yesus inginkan kita ambil dari bacaan ini. Yesus datang untuk memberikan hidup berkelimpahan kepada kita: “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah” (Yoh 10:10). Yesus tidak datang untuk memberi keselamatan kepada kita yang kita sendiri tidak mampu untuk mencapainya.

Sebagai umat Kristiani, kita telah diangkat dari kematian dan dibawa ke dalam kehidupan oleh  belas kasih (kerahiman) Allah dan cintakasih-Nya. Kita sudah diselamatkan. Sebelum kita menerima Yesus ke dalam hati kita, sesungguhnya kita tidak ubahnya seperti domba tanpa gembala – hilang di hutan belantara, mangsa yang empuk bagi musuh-musuh kita. Namun hal tersebut tidak lagi begitu. Kita adalah anak-anak Allah. Masing-masing kita adalah bait Roh Kudus. Dan …… posisi kita dalam Kristus sudah terjamin!

KRISTUS RAJA - 55Jadi, daripada terus-menerus dirundung rasa khawatir dan takut, kita seharusnya dipenuhi dengan sukacita! Kita telah dibawa dekat kepada Allah oleh darah Kristus. Dengan hidup dalam Roh-Nya, kita dapat berjalan dalam terang kasih-Nya dan mengenal serta mengalami kebebasan yang semakin meningkat, …… kebebasan dari dosa dan keterikatan. Kita tidak perlu lagi merasa khawatir dan takut akan hidup kita. Sebaliknya, kita harus merasa khawatir dan takut bagi mereka yang belum percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat – mereka yang hilang di tengah hutan belantara dosa dan ketidakpedulian.

Kita sudah merangkul keselamatan yang diberikan oleh-Nya dan hidup dalam ketaatan dan kasih akan Allah. Oleh karena itu kita dapat bertindak seturut “Amanat Agung” yang diberikan oleh Yesus Kristus sebelum Ia diangkat ke surga (lihat Mat 28:19-20), yaitu menyebarkan Kabar Baik-Nya dalam kata-kata maupun perbuatan/tindakan kita. Kita dapat menjadi seorang pewarta Kabar Baik yang memberi kesaksian atas kasih dan kerahiman Allah. Dalam nama Yesus kita dapat mengundang mereka ke dalam Kerajaan Allah.

Dengan demikian, marilah kita singkirkan segala kekhawatiran dan keraguan kita. Diri kita dapat dipenuhi dengan kuat-kuasa Roh Kudus. Marilah kita menyiapkan diri untuk menyambut kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kalinya pada akhir zaman. Bagaimana? Dengan setiap hari hidup dalam keakraban dengan Yesus. Persenjatailah diri anda dengan doa-doa syafaat bagi orang-orang yang tidak/belum percaya kepada Yesus. Mulailah dengan mereka yang anda sudah kenal: para anggota keluarga yang bukan Kristiani, para teman dan sahabat serta kenalan-kenalan lainnya. Baiklah anda melangkah dalam iman, dengan penuh keyakinan bahwa Allah sesungguhnya ingin menyelamatkan setiap orang di atas bumi ini.

Semoga kesaksian kita atas kuat-kuasa Injil akan menarik banyak orang kepada Allah yang adalah kasih, sehingga dengan demikian tidak ada lagi kesempatan bagi “burung-burung nasar” untuk ramai-ramai berkerumun dan memangsa pada saat Tuhan Yesus datang kembali kelak!

DOA: Tuhan Yesus, kami rindu untuk mengenal Engkau lebih dalam lagi. Penuhilah hati kami dan perkenankanlah kami masing-masing mendengar suara-Mu, agar dapat menjadi berkat bagi orang-orang lain. Perkenankanlah kami, para murid-Mu, melihat Engkau datang dalam kemuliaan pada akhir zaman, saat di mana kegelapan pada akhirnya akan disingkirkan dari tengah-tengah kami. Dimuliakanlah nama-Mu senantiasa. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Keb 13:1-9), bacalah tulisan yang berjudul “MENEMUKAN PENGUASA KESEMUANYA ITU” (bacaan tanggal 15-11-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2013. 

Bacalah juga tulisan yang berjudul “KEDATANGAN ANAK MANUSIA PADA AKHIR ZAMAN” (bacaan tanggal 13-11-09) dalam situs/blog SANG SABDA. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-11-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 November 2013 [Peringatan S. Yosafat, Uskup-Martir] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KERAJAAN ALLAH ADA DI ANTARA KAMU

KERAJAAN ALLAH ADA DI ANTARA KAMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Kamis, 14 November 2013)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Nikolaus Tavelic, Imam dkk.-Martir 

YESUS SEORANG PEMIMPIN YANG TEGASKetika ditanya oleh orang-orang Farisi kapan Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.”

Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya. Orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut. Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya. Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh orang-orang zaman ini. (Luk 17:20-25)

Bacaan Pertama: Keb 7:22-8:1; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:89-90,130,135,175 

Yesus sungguh ingin kita mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan dan bahwa Kerajaan-Nya ada di sini, ada di antara kita; bahwa Kabar Baik-Nya adalah sekarang. Ia mengatakan kepada orang-orang Farisi yang bersikap skeptis dan tidak percaya, “… sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu” (Luk 17:21).

Susahnya dengan orang-orang Farisi, dan dengan kita juga, adalah mengenalinya, mata kita dibutakan oleh terlalu banyak urusan lain. Orang-orang Farisi dibutakan oleh “legalisme” mereka. Kita dibutakan oleh semua jenis pertimbangan duniawi.

Yesus mengatakan bahwa Kerajaan Allah ada di antara kita. Jelas tidak begitu, bukan? Begitu banyak penderitaan, begitu banyak penindasan dan kekerasan yang kita lihat setiap hari, bukan? Di sisi lain, begitu sedikit cinta kasih yang ada di sekeliling kita.  Apakah Kerajaan Allah cocok (Inggris: compatible) dengan semua penderitaan, kebencian, kemarahan, kekerasan, ketiadaan damai yang kita lihat terus saja berlangsung di sekeliling kita? Tentu saja tidak! Namun ada satu jawaban terhadap segala keburukan yang disebutkan tadi. Kerajaan Allah tidak dipaksakan atas diri siapa saja. Yesus sebagai Tuhan bukanlah seorang diktator, bukan seorang tyrant. Ia tidak akan mengganggu kebebasan kita.

Akan tetapi, apabila kita memperkenankan Dia sebagai Tuhan, kalau kita memperkenankan-pemerintahan-Nya, kerajaan-Nya, mengatur hidup kita, maka damai sejahtera-Nya, kasih-Nya, sukacita-Nya dan segala buah Roh Kudus akan datang ke dalam kehidupan kita.

Apabila semua orang dan semua bangsa mau menerima pemerintahan Allah, menerima kenyataan bahwa Yesus adalah Tuhan atas segalanya, maka kejahatan-kejahatan yang begitu tidak cocok dengan Kerajaan Allah – kemiskinan, penindasan, kekerasan, ketiadaan damai antara bangsa-bangsa, kebencian – semua ini akan menghilang. Paling sedikit semua hal itu akan banyak berkurang dan kita pun akan mampu mengenali pemerintahan Allah di tengah-tengah kita.

Jadi, di mana harus kita mulai? Pertama-tama kita harus mengingat bahwa bangsa-bangsa terdiri dari orang-orang, manusia! Dengan demikian kita harus mulai dengan diri kita sendiri. Hari demi hari kita harus mencoba untuk hidup bersama Yesus sebagai Tuhan. Kehendak-Nya harus menjadi faktor paling penting dalam semua keputusan kita. Maka kita akan melakukan bagian kita untuk membuat pemerintahan Allah menjadi kelihatan.

DOA: Tuhan Yesus, kami sungguh menginginkan agar Engkau menjadi Tuhan dalam hidup kami, sehingga dengan demikian kami dapat menjadi tanda-tanda kecil dari Kerajaan-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Keb 7:22-8:1), bacalah tulisan yang berjudul “KEBIJAKSANAAN ADALAH PERNAFASAN KEKUATAN ALLAH” (bacaan tanggal 14-11-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori:13-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2013. 

Bacalah juga tulisan yang berjudul “KEDATANGAN KERAJAAN ALLAH” (bacaan tanggal 10-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori: 11-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2011. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-11-12 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 10 November 2013 [HARI MINGGU BIASA XXXII]

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DI MANAKAH YANG SEMBILAN ORANG ITU?

DI MANAKAH YANG SEMBILAN ORANG ITU?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Rabu, 13 November 2013)

Keluarga OFM: Peringatan S. Didakus dr Alkala, Biarawan 

SEORANG KUSTA ORANG SAMARIA

Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui-Nya. Mereka berdiri agak jauh dan berteriak, “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Lalu Ia memandang mereka dan berkata, “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi sembuh. Salah seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu sujud di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu orang Samaria. Lalu Yesus berkata, “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah sembuh? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?” Lalu Ia berkata kepada orang itu, “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.” (Luk 17:11-19)

Bacaan Pertama: Keb 6:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 82:3-4,6-7 

Bacaan Injil hari ini merupakan sebuah pelajaran tentang pengucapan syukur. Kelihatannya 9 dari 10 orang kusta yang disembuhkan oleh Yesus tidak mempunyai kebiasaan untuk berterima kasih kepada orang lain. Dari cerita Injil ini kita melihat 10 orang kusta itu baru saja menerima satu dari anugerah terbesar yang pernah diterima oleh mereka masing-masing. Barangkali kita dapat “memaafkan” mereka: “Ah, mereka begitu excited atas kesembuhan mereka yang begitu luarbiasa ajaib, sehingga apa yang dapat mereka pikirkan hanyalah melompat-lompat di atas gerobak sapi yang terdekat sambil ikut pulang ke rumah keluarga masing-masing.”

Reaksi Yesus sangatlah berbeda, dan Ia samasekali tidak berpikir seperti diuraikan di atas. Yesus hanya bertanya, “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah sembuh? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?” (Luk 17:17).

Bagaimana dengan diri kita sendiri? Apakah hanya kalau kita sedang susah saja maka kita berpaling kepada Allah untuk memohon pertolongan-Nya? Apakah kata-kata dalam doa kita kepada-Nya hanya terdiri dari kata-kata permohonan? Lupakah kita bahwa kasih-Nya bagi kita dalam hal-hal “kecil” yang kita alami setiap hari, seperti udara segar, cahaya matahari yang menghangatkan, makanan, para teman dan sahabat, kehidupan itu sendiri?

Kita sebaiknya menyadari bahwa apa yang “hebat” tentang kehidupan kita bukanlah apa yang kita lakukan bagi Allah, melainkan apa yang dilakukan Allah bagi kita. Apabila kita tidak menyadari hal ini, maka tidak mengherankanlah apabila kita luput menikmati kepenuhan sukacita dari rasa syukur. Sesungguhnya Yesus secara pribadi tidak membutuhkan ucapan terima kasih dari 9 orang kusta yang disembuhkan itu. Yesus tetap akan survive tanpa ucapan terima kasih dari mereka. Jadi, ketika Yesus mengungkapkan kesedihan-Nya atas sikap tidak tahu berterima kasih dari 9 orang tersebut, hal itu tidak berarti bahwa Dia bersedih karena tidak ada orang yang menghargai diri-Nya. Yesus sebenarnya merasa sedih dan kasihan kepada mereka, karena mereka adalah para pecundang. Sukacita yang paling besar dari penyembuhan kebutaan mereka sebenarnya adalah terbukanya hati mereka, semakin dalamnya kasih mereka kepada Allah yang telah menyembuhkan mereka.

Jadi, mereka luput memperoleh kesembuhan yang lebih besar dan berkat yang lebih mendalam. Mereka luput memperoleh kedamaian batiniah dan sukacita dari suatu rasa syukur yang sejati.

DOA: Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib; aku mau bersukacita dan bersukaria karena Engkau, bermazmur bagi nama-Mu, ya Mahatinggi (Mzm 9:2-3). Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Keb 6:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “PARA PENGUASA HARUS MENGEJAR HIKMAT-KEBIJAKSANAAN” (bacaan tanggal 13-11-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2013. 

Untuk mendalami Bacaan Injil (Luk 17:11-19), bacalah juga tulisan yang berjudul “SEPULUH ORANG KUSTA” (bacaan tanggal 11-11-09) dalam situs/blog SANG SABDA. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-11-12 dalam situs/blog SANG SABDA 

Cilandak, 9 November 2013 [Pesta Pemberkatan Gereja Basilika Lateran] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

“MUSIK” PELAYANAN

“MUSIK” PELAYANAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Yosafat, Uskup-Martir – Selasa, 12 November 2013) 

A GIRL PLAYING PIANO“Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Apakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan. (Luk 17:7-10)

Bacaan Pertama: Keb 2:23-3:9; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-3,16-19 

Seorang ibu bercerita mengenai pengalamannya berkaitan dengan musik. Sebagai seorang gadis yang masih sangat muda usia, perempuan ini harus berjuang dengan pelajaran pianonya. Baginya penting untuk memainkan nada-nada lagu presis sama seperti tertulis dan untuk mengikuti semua nuansa yang diberikan dalam notasi-notasi. Kesalahan-kesalahan dirasakan olehnya sebagai kegagalan pribadi. Menyadari siapa dirinya, perempuan itu hanya bermain piano secara privat, kecuali kalau diminta untuk resital/pertunjukan.

Pengalaman yang “menyakitkan” dengan piano ini datang kembali ketika anak perempuannya mulai belajar piano juga. Namun tidak seperti sang ibu, puterinya itu maju dengan pesat dalam pelajaran pianonya. Perempuan itu mengatakan, bahwa tidak susah baginya untuk melihat mengapa. Cinta anak perempuannya itu pada musik datang dari kedalaman hatinya, dan walaupun setia dengan komposisi sebuah lagu, anak ini mempunyai bakat untuk memperkenankan musiknya mengalir melalui dirinya. “Hasilnya sungguh jauh lebih manis daripada apapun yang pernah kuhasilkan dengan penuh ketaatan pada setiap nada dan instruksi pada setiap lembaran lagu”, ujar sang ibu.

Sebagai para hamba/pelayan Tuhan, kita diundang untuk bermain “musik” juga – “musik pelayanan penuh kasih bagi orang-orang di sekeliling kita”. Apabila kita melaksanakan tugas-tugas kita hanya berdasarkan kewajiban, maka efeknya dapat seperti sesuatu yang dipaksakan dan tanpa roh. Sebaliknya, apabila kita menyerahkan diri kita sepenuhnya ke dalam tangan-tangan penyelenggaraan Allah dan dipenuhi dengan kasih-Nya, maka Dia akan membebaskan kita dari kesibukan  yang membuat musik kehidupan kita begitu melelahkan. Selagi kita  menyediakan waktu untuk bersama dengan Tuhan dalam doa, maka kehangatan kasih-Nya memperlembut hati kita dan mulai mengalir melalui diri kita.

300A-034-026 - MOTHER TERESA HELPING THE POORPanggilan kita untuk melayani Allah dan umat-Nya bukanlah seperti musik yang harus kita terus praktekkan agar menjadi sempurna. Sebaliknya, kita belajar bagaimana melayani tanpa mengingat kepentingan kita sendiri dengan sekadar melakukannya, yaitu dengan melakukan pelayanan tanpa pamrih itu. Melodinya menjadi lebih baik setiap kali kita menolong keluarga kita, secara bijaksana bekerja sebagai pembawa damai dalam lingkungan di mana kita hidup, atau dengan sabar mendengarkan curhat dari seorang sahabat yang membutuhkan bantuan, dlsb. Apabila kita mendekat pada kasih Tuhan yang begitu menyegarkan, maka pelayanan kita pun akan jauh lebih baik daripada apa saja yang kita lakukan karena melihatnya sebagai sekadar tugas.

Kita semua adalah para musisi yang sebenarnya tak pantas untuk memainkan madah kasih dari Allah. Namun apabila kita menjaga keseimbangan antar doa dan pelayanan dalam hidup kita, maka Dia akan mentransformasikan cara kita yang lemah/buruk dalam membawakan lagu-Nya menjadi sebuah lagu yang membawa sukacita-Nya ke tengah dunia.

DOA: Yesus, Engkau adalah hamba yang taat dari Bapa surgawi melalui kasih yang sempurna. Tolonglah kami agar dapat mengenal kasih-Mu dalam doa-doa kami dan dalam tindakan-tindakan kami. Jadikanlah hati kami seperti hati-Mu, sehingga dengan demikian lewat diri kami orang-orang lain dapat mengenal kasih-Mu juga. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Keb 2:23-3:9), bacalah tulisan yang berjudul “HIDUP YANG MERANGKUL SALIB KRISTUS” (bacaan tanggal 12-11-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2013. 

Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 17:7-10), bacalah tulisan yang berjudul “TUAN DAN HAMBA” (bacaan tanggal 13-11-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-11-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 9 November 2013 [Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran]

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEPUCUK SURAT DARI PENGELOLA SITUS/BLOG PAX ET BONUM: KERUSAKAN AKIBAT SUPER TYPHOON HAIYAN DI FILIPINA

SEPUCUK SURAT DARI PENGELOLA SITUS/BLOG PAX ET BONUM: KERUSAKAN AKIBAT SUPER TYPHOON HAIYAN DI FILIPINA 

image(3)

Cilandak, 11 November 2013 

Saudari-Saudara pengunjung situs/blog PAX ET BONUM yang dikasihi Kristus, 

Pada hari peringatan S. Martinus dari Tours ini, saya mengajak anda untuk hening sejenak memikirkan serta merenungkan apa yang telah terjadi di negara tetangga kita, Filipina, dan apa yang dapat kita lakukan sebagai para murid Kristus. 

Negara ini baru saja selesai dilanda oleh super typhoon HAIYAN yang konon adalah typhoon terdahsyat sepanjang masa. Lebih dari 1.000 penduduk meninggal dunia (ini belum angka final), belum lagi kerugian sangat-sangat besar yang diderita. Saya bersama keluarga pernah mengalami typhoon ketika tinggal di negara itu pada waktu bertugas di Citibank N.A. pada tahun 1973-1974; sebuah typhoon yang jauh lebih kecil tentunya dari HAIYAN ini. Namun demikian, beberapa hari kemudian saya dan kawan-kawan pergi makan siang sengaja ke daerah pantai dan melihat betapa typhoon itu mampu “menggiring”/”menyeret”  sebuah kapal yang cukup besar untuk terdampar di pantai kota Manila. Sekarang HAIYAN sudah sampai di Vietnam, dan lima orang korban pertama telah dilaporkan. 

CCN International sampai detik ini masih terus meliput kegiatan super typhoon HAIYAN ini, dan menunjukkan betapa dahsyat bencana alam ini. Filipina dan para korban bencana alam itu membutuhkan berbagai macam bantuan. Bagi kita yang tidak dapat berbuat banyak sebagai individu-individu, maka Allah memberikan kita kesempatan untuk – dalam iman – mendoakan para saudari-saudara kita yang menderita. Pada kesempatan ini saya mengajak anda sekalian untuk mendoakan negeri Filipina dan para korban bencana alam yang diakibatkan oleh super typhoon HAIYAN ini. Kita juga memohon agar Sang Mahakuasa berbelas kasih kepada rakyat Vietnam yang sedang membangun negara mereka dengan rajin dan tulus. 

Terima kasih Saudari-Saudaraku dalam Kristus. Allah yang baik, satu-satunya yang baik, sumber segala kebaikan memberkati anda sekalian. 

Salam persaudaraan, 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HENDAKLAH PIKIRANMU TERTUJU KEPADA TUHAN

HENDAKLAH PIKIRANMU TERTUJU KEPADA TUHAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Martinus dr Tours, Uskup – Senin, 11 November 2013) 

THE BOOK OF WISDOM - 03Kasihilah kebenaran, hai para penguasa dunia, hendaklah pikiranmu tertuju kepada Tuhan dengan tulus ikhlas, dan carilah Dia dengan tulus hati! Ia membiarkan diri-Nya ditemukan oleh yang tidak mencobai-Nya, dan menampakkan diri kepada semua yang tidak menaruh syak wasangka terhadap-Nya. Pikiran bengkang-bengkung menjauhkan daripada Allah, dan kekuasaan-Nya yang diuji mengenyahkan orang bodoh. Sebab kebijaksanaan tidak masuk ke dalam hati keruh, dan tidak pula tinggal dalam tubuh yang dikuasai oleh dosa. Roh pendidik yang suci menghindarkan tipu daya, dan pikiran pandir dijauhinya. Sebab kebijaksanaan adalah roh yang sayang akan manusia, tetapi orang penghujat tidak dibiarkannya terluput dari hukuman karena ucapan bibirnya. Memang Allah menyaksikan hati sanubarinya, benar-benar mengawasi isi hatinya dan mendengarkan ucapan lidahnya.

Sebab roh Tuhan memenuhi dunia semesta, dan Ia yang merangkum segala-galanya mengetahui apapun yang disuarkan. (Keb 1:1-7)

Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-10; Bacaan Injil: Luk 17:1-6 

Apakah kunci dari “kebijaksanaan”? Toko-toko buku dipenuhi dengan buku-buku motivasional yang berisikan berbagai tulisan kebijaksanaan karangan para motivator ternama. Acara televisi prime-time dari Metro TV pada hari Minggu, misalnya, diisi oleh Motivator Mario Teguh dengan Golden Ways-nya. Talk shows televisi juga menampilkan para selebriti yang telah menemukan “jalan kebenaran”, menemukan damai-sejahtera pribadi melalui praktek-praktek yang diajarkan oleh para “guru” tertentu. Para pakar di berbagai bidang ilmu pengetahuan, filsafat dan psikologi juga tidak mau ketinggalan dengan pendapat masing-masing yang tidak tepat sama satu dengan lainnya.

Di tengah-tengah segala “hiruk pikuk” sedemikian, Kitab Suci meyakinkan kita bahwa Allah memberikan hikmat-kebijaksanaan-Nya kepada siapa saja yang mencintai kebenaran dan menaruh kepercayaan kepada-Nya. Dalam Kitab Suci seringkali kita dapat melihat bahwa Allah ingin melakukan lebih daripada sekadar menjelaskan “doktrin-doktrin”-Nya kepada kita. Ia ingin membimbing kita juga dalam kehidupan kita sehari-hari.

Kitab Kebijaksanaan (Salomo) yang ditulis di sekitar abad pertama SM bertujuan untuk mendorong/menyemangati para pembacanya dalam menjalani kehidupan iman mereka. Pengarang Kitab Kebijaksanaan ini adalah seorang penulis motivasional terampil yang tidak diketahui identitasnya, namun tulisan-tulisan Perjanjian Lama sebelumnya yang digunakan olehnya menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang Yahudi yang saleh, berlatar belakang pendidikan baik dan memiliki dedikasi kepada Hukum Musa. Ia menulis dalam bahasa Yunani dan dia menaruh perhatian istimewa pada orang-orang Mesir (Keb 10-12; 16-19).

Segala petunjuk ini telah membawa para ahli untuk percaya bahwa penulis Kitab Kebijaksanaan tinggal di Aleksandria, Mesir yang merupakan tempat kedudukan dari komunitas Yahudi terbesar di luar Palestina. Dalam kota besar kosmopolitan ini, orang-orang Yahudi sering mengalami diskriminasi dan memerlukan dorongan untuk tetap setia pada tradisi-tradisi keyahudian mereka. Memang ada dari mereka yang terpikat oleh filsafat dan budaya Yunani. Kepada para pembacanya, penulis mengatakan: Jangan tertipu! Apabila anda mencari kebenaran dan keadilan, maka “hendaklah pikiranmu tertuju kepada  Tuhan dengan tulus ikhlas dan carilah Dia dengan tulus hati!” (Keb 1:1).

LECTIO DIVINAIni merupakan pesan Kitab Kebijaksanaan bagi kita juga. Sebagai umat beriman, kita mengetahui bahwa “Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah” (1Kor 1:24). Menjadi milik Yesus dan berjalan pada Jalan-Nya berarti memiliki hikmat-kebijaksanaan. Apabila kita tetap bersatu dengan Yesus, maka Dia akan memberikan kepada kita Hati-Nya dan membentuk pikiran kita agar mampu melihat seperti Dia melihat. Dengan demikian kita pun dapat merangkul apa dirangkul oleh Yesus dan membuang apa saja yang dibuang-Nya.

Sekarang, apakah kita (anda dan saya) sungguh ingin menjadi pribadi-pribadi yang memiliki hikmat-kebijaksanaan? Janganlah kita menjadikan diri kita orang-orang tolol yang terlalu sombong untuk menyerahkan diri kepada Allah dan sabda-Nya. Kesombongan termaksud dapat memanifestasikan diri dalam berbagai cara: Melalui ketidaktulusan hati dan ketidakpercayaan, kita mendirikan berbagai penghalang yang merintangi kita terhadap ajaran-ajaran Allah. Dengan melayani dan menerima pemikiran-pemikiran yang mengandung dosa dan berbagai falsafah hidup yang mementingkan diri sendiri, kita memperbudak pikiran kita dan hati kita pun menjadi keras. Oleh karena itu, kita harus menyaring segala distraksi/pelanturan yang menjauhkan diri kita dari Yesus. Kita harus menolak segala janji kosong dunia dan mengisi pikiran kita dengan hal-hal besar yang dapat diberikan Allah kepada kita melalui iman kita yang “sekecil biji sesawi” (Luk 17:6). Kita juga harus menyingkirkan “pikiran bengkang-bengkung” yang menjauhkan kita daripada Allah (Keb 1:3) dan menerima ajaran-Nya tentang mengasihi orang-orang lain dengan keadilan, belas kasihan dan penuh pengampunan.

Allah memang ingin mentransformasikan diri kita masing-masing dengan memperbaharui  pikiran-pikiran kita (lihat Rm 12:2), dan hal ini hanya akan menjadi kenyataan apabila kita memperkenankan Roh Kudus membebaskan diri kita dari cengkeraman dosa dan ketololan seperti diuraikan di atas. Allah tidak akan memaksa kita menjadi seorang pribadi yang bijaksana, namun Ia juga tidak pernah menarik kembali undangan-Nya bagi kita. Kerendahan hati (kedinaan) dan pertobatan batin adalah langkah-langkah awal dalam perjalanan kita menuju transformasi termaksud. Pertobatan sejati dimulai dalam hati ketika kita mengakui bahwa kita telah berdosa dalam pikiran, kata-kata yang kita ucapkan, perbuatan yang kita lakukan, dan kelalaian kita mematuhi perintah-perintah Allah. Pertobatan itu memanifestasikan diri selagi kita berseru kepada Allah, memohon belas kasihan-Nya dan membuat sebuah resolusi yang mantap untuk mengubah diri. Keterbukaan terhadap perubahan inilah yang merupakan akar dari hikmat-kebijaksanaan, karena melalui pertobatan kita sebenarnya mengundang Allah untuk membentuk diri kita seturut kebenaran-Nya.

YAKOBUS SAUDARA TUHANSurat Yakobus mengatakan kepada kita, bahwa hikmat-kebijaksanaan Allah “adalah pertama-tama murni, selanjutnya suka damai, lembut, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang  baik, tidak memihak dan tidak munafik” (Yak 3:17). Ini bukanlah seperti kilat yang datang dari surga, yang akan langsung membuat diri kita menjadi pribadi-pribadi yang bijaksana. Sebaliknya, kita belajar menjadi bijaksana dari hari ke hari sementara kita berdoa, membaca serta merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci, dan mengabdikan diri kita kepada sesama dalam berbagai bentuknya, teristimewa mereka yang tergolong “wong cilik” yang “ditaruh” Allah pada jalan kehidupan kita di dunia ini. Allah menginginkan kita mengikuti jejak Kristus – artinya menggantungkan diri sepenuhnya kepada Bapa surgawi dan bertujuan hidup untuk menyenangkan-Nya saja, hidup sederhana dan “miskin” dalam Roh. Ini merupakah gaya hidup yang sungguh memberi stimulasi, membebasksn dan bijaksana.

Jadi, ada sisi sangat praktis untuk memperoleh hikmat-kebijaksanaan Ilahi, dan Bapa surgawi sangat rindu untuk mengajar kepada kita tentang hal itu setiap hari. Yang diperlukan dari diri kita ada membuka diri kita, agar Roh Kudus-Nya dapat bekerja dalam diri kita!

DOA: Tuhan Yesus Kristus, Engkau adalah Hikmat Bapa surgawi. Karena kasih, Engkau datang ke dunia untuk menyelamatkan dan membebas-merdekakan kami. Oleh Roh Kudus-Mu, bentuklah hati kami agar dapat menjadi bijaksana seperti hati-Mu sendiri dan yang memusatkan perhatian pada kesederhanaan hidup. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:1-6), bacalah tulisan berjudul “TAMBAHKANLAH IMAN KAMI!” (bacaan tanggal 11-11-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2013. 

Bacalah juga tulisan yang berjudul “SEKALI LAGI: MENGAMPUNI !!!” (bacaan untuk tanggal 7-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-11-11 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 8 November 2013 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

APAKAH SUNGGUH ADA KEBANGKITAN ???

APAKAH SUNGGUH ADA KEBANGKITAN ???

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXXII [Tahun C] – 10 November 2013) 

JesandSadducees_1179-48Kemudian datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya, “Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seseorang yang mempunyai saudara laki-laki, mati, sedangkan istrinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan istrinya itu dan memberi keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak. Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua, dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, mereka semuanya mati tanpa meninggalkan anak. Akhirnya perempuan itu pun mati. Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristrikan dia.” Jawab Yesus kepada mereka, “Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Mereka tidak dapat mati lagi, sebab mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan. Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam cerita tentang semak duri, di mana ia menyebut Tuhan sebagai Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.” (Luk 20:27-38).

Bacaan Pertama; 2Mak &:1-2,9-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 17:1,5-6,8,15; 2Tes 2:16-3:5 

Kita sudah hampir selesai menjalani tahun liturgi C ini. Setelah hari Minggu ini, masih ada dua hari Minggu lagi. Sejak hari Minggu Pertama Masa Adven, kelihatan adanya penekanan atas persoalan kematian dan solusinya dalam kebangkitan Yesus. Kebangkitan Yesus dari alam maut merupakan suatu tanda dan jaminan berkaitan dengan kebangkitan kita sendiri dari kematian.

Memang pantaslah, bahwa selagi kita mendekati akhir tahun liturgi ini, keseluruhan topik “kematian & kebangkitan” dihadirkan kembali. Orang-orang Saduki – yang melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada Yesus dalam Injil hari ini – memang tidak percaya akan kebangkitan orang mati. Ketika mereka bertanya kepada Yesus istri siapakah perempuan yang telah dikawinkan dengan tujuh orang bersaudara karena kematian (hukum Levirat), maka sebenarnya mereka tidaklah mencari jawaban dari Yesus samasekali. Mereka mencoba untuk mereduksi ide kebangkitan menjadi suatu absurditas, untuk menunjukkan bahwa kebangkitan itu adalah sesuatu yang edan dan mentertawakan.

Pada zaman modern ini masih ada orang-orang seperti orang-orang Saduki itu. Mereka mempertanyakan bagaimana Allah dapat menyatukan kembali sesosok tubuh yang semua bagiannya telah terdisintegrasikan dalam kubur, atau hancur setelah dikremasikan, atau hancur-lebur sebagai akibat ledakan bom nuklir, dlsb.? Orang-orang sedemikian tidak menyadari bahwa tubuh-tubuh (badan-badan) kita yang telah dibangkitkan, meski riil secara fisik, akan eksis secara lebih baru dan lebih baik, jauh melampaui kuasa kita untuk membayangkan. Seperti dikatakan Yesus dalam Injil hari ini: “Mereka tidak dapat mati lagi, sebab mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allahm karena mereka telah dibangkitkan” (Luk 20:36).

Tubuh kita yang dibangkitkan akan berbeda dengan tubuh kita sekarang seperti sebatang pohon juga berbeda dengan benihnya. Tubuh kita yang dibangkitkan akan berada dalam kondisi sempurna oleh kuasa Allah, suatu kuasa yang jauh melampaui apa yang dapat dibayangkan dan dipahami kita. Iman akan kebangkitan kita sendiri dari maut adalah suatu kepercayaan bahwa Allah itu sungguh mahakuasa, dan pada saat yang sama iman ini berarti kepercayaan/keyakinan bahwa dalam kebaikan-Nya Allah akan menggunakan kuasa itu untuk membangkitkan kita dari kematian untuk masuk ke dalam suatu kehidupan baru.

Iman-kepercayaan kita akan kebangkitan seharusnya mempengaruhi hidup kita, dalam arti adanya kemauan untuk menderita sampai mati daripada meninggalkan Allah dalam ketidakpercayaan. Pengharapan penuh sukacita akan kebangkitan dari alam maut berarti pengharapan akan suatu kehidupan baru dengan Allah untuk selama-lamanya. Iman akan kebangkitan seharusnya mewarnai dan mengisi kehidupan kita (yang sering terasa membosankan) dengan sorak-sorai penuh sukacita.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih karena Engkau mengingkatkan kami, bahwa iman kami akan kebangkitan kami dari antara orang mati adalah suatu kepercayaan bahwa Engkau adalah mahakuasa, dan pada saat yang sama, dalam kebaikan-Mu Engkau akan menggunakan kemahakuasaan-Mu itu untuk membangkitkan kami dari kematian, agar kemudian dapat  memasuki suatu kehidupan baru yang kekal bersama Dikau. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 20:27-38), bacalah tulisan yang berjudul “AKU MENANTIKAN KEBANGKITAN ORANG MATI DAN HIDUP DI AKHIRAT” (bacaan tanggal 10-11-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2013. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-11-10 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 7 November 2013 [Peringatan B. Assunta Pallota]

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 78 other followers