YESUS, ENGKAU ADALAH SEGALANYA YANG BAIK BAGIKU

YESUS, ENGKAU ADALAH SEGALANYA YANG BAIK BAGIKU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Vincentius a Paulo, Imam – Jumat, 27 September 2013) 

Peter_great_confession_C-999Pada suatu kali ketika Yesus berdoa seorang diri, datanglah  murid-murid-Nya kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka, “Kata orang banyak, siapakah Aku ini? Jawab mereka, “Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia, yang lain lagi mengatakan bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit.” Yesus bertanya kepada mereka, “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Jawab Petrus, “Mesias dari Allah.” Lalu Yesus melarang mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapa pun.

Kemudian Yesus berkata, “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” (Luk 9:18-22)

Bacaan Pertama: Hag 2:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 43:1-4 

“Menurut kamu, siapakah Aku ini?” (Luk 9:20). Dalam hidupku aku pernah berjalan kesana kemari tanpa arah-tujuan, mencari kepuasan dari pekerjaanku, karirku, harta milikku dan relasi-relasiku. Hatiku yang memberontak tidak peduli pada kerinduannya yang terdalam. Aku tidak dapat menangkap arti dari janji seorang Juruselamat – bahkan kebutuhanku akan keselamatan. Akan tetapi, kasih-Mu, ya Tuhan, telah mampu mengatasi keterpisahanku dengan Engkau. Diutus oleh Bapa-Mu yang bertakhta di dalam surga, Engkau membuka jalan bagi kesembuhan, pemulihan dan perlindungan bagi diriku. Engkau yang adalah pemenuhan janji Allah, yang sekarang adalah pemenuhan bagi diriku juga.

Yesus, Engkau adalah Putera Allah yang hidup! Pada waktu aku terjerat dalam kedosaanku, aku menaruh pengharapan pada banyak ilah, namun tidak satupun dari ilah-ilah itu yang dapat menyentuh hatiku atau menghasilkan kekuatan untuk memberdayakan tubuh dan pikiranku. Akan tetapi Engkau, belas kasih Allah sendiri, memancarkan cahaya sebagai gambaran Allah yang tidak kelihatan. Engkau hidup mulia dalam kuasa Roh Kudus dan membangkitkanku untuk duduk bersama-Mu. Engkau adalah air hidup yang memuaskan rasa dahaga jiwaku. Engkau telah memulihkan martabatku sebagai seorang anak Allah. Engkau telah membebaskan diriku dan memberikan hidup kepadaku.

Yesus, Engkau adalah sungguh sang Gembala Baik! Pada saat-saat aku gelisah dan berperilaku seenak aku sendiri, Engkau mencari aku dan membawa aku kembali – si domba yang hilang – kepada kawanan-Mu. Ketika aku mengalami distraksi yang disebabkan oleh hal-hal duniawi, dengan lemah-lembut Engkau memanggil namaku dan membimbing diriku kembali ke jalan yang benar. Manakala aku terpisah dari kawanan-Mu terlalu jauh, Engkau mencari dan menemukan diriku, mengangkatku dan menggendongku sampai aku berkumpul kembali dengan kawanan-Mu. Aku percaya Engkau akan menjadi tenda pelindungku setiap kali terjadi badai.

Yesus, Engkau adalah Raja Damai! Stres dan rasa susah sehari-hari dapat membanjiri hatiku dan menghabiskan energiku. Terkadang aku merasa begitu cemas sehingga aku hampir tak dapat bernapas. Aku mencari obat-pemulih, dari yang satu pindah ke yang lain, tanpa hasil. Kemudian aku menyediakan saat-saat hening dengan-Mu, dan Engkau mentransformasikan hidupku. Aku datang kepada-Mu dan berlindung pada-Mu, karena Engkau adalah sumber ketenanganku dan jaminanku.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau telah menebusku dengan darah-Mu yang mulia, namun demikian Engkau tidak memperbudak diriku. Engkau telah memberikan kemerdekaan kepadaku, namun aku tidak ingin berada jauh dari-Mu. Di luar diri-Mu tidak ada hidup. Dengan-Mu ada kepenuhan hidup. Yesus, Engkau adalah Tuhanku dan Allahku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Hag 2:1-9), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH INGIN MEMBANGUN KEMBALI BAIT-NYA DALAM DIRI KITA” (bacaan tanggal 27-9-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2013. 

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:18-22), bacalah tulisan-tulisan yang berjudul “MENURUT KAMU, SIAPAKAH AKU INI ???” (bacaan untuk tanggal 28-9-12) dan “YESUS ADALAH MESIAS DARI ALLAH” (bacaan tanggal 23-9-11), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 23 September 2013 [Peringatan S. Padre Pio dr Pietrelcina, Imam] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARILAH KITA BERBICARA MENGENAI KEBENARAN ALLAH DALAM KASIH DAN DI BAWAH BIMBINGAN ROH KUDUS

MARILAH KITA BERBICARA MENGENAI KEBENARAN ALLAH DALAM KASIH DAN DI BAWAH BIMBINGAN ROH KUDUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Kamis, 26 September 2013) 

YESUS SEORANG PEMIMPIN YANG TEGASHerodes, raja wilayah, mendengar segala yang terjadi itu dan ia pun merasa cemas, sebab ada orang yang mengatakan bahwa Yohanes telah dibangkitkan dari antara orang mati. Ada lagi yang mengatakan bahwa Elia telah muncul kembali, dan ada pula mengatakan bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit. Tetapi Herodes berkata, “Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa sebenarnya Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?” Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus (Luk 9:7-9).

Bacaan Pertama: Hag 1:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6,9 

Dalam Injil Lukas, bacaan singkat Injil hari ini terletak di antara cerita tentang Yesus mengutus kedua belas  rasul-Nya untuk mewartakan Kerajaan Allah (Luk 9:1-6) dan kembalinya mereka setelah melaksanakan tugas perutusan itu (Luk 9:10-17).  Bacaan ini mengajarkan kepada kita bahwa para murid Kristus akan menghadapi oposisi selagi mereka mewartakan sabda Allah, walaupun barangkali diiringi kebingungan seperti ketika orang-orang itu menilai Yohanes Pembaptis.

Yesus menghadapi oposisi dan demikian pula para pengikut-Nya. Yesus seringkali ditentang oleh para pemimpin Yahudi (Mat 12:14), bahkan oleh para pengikut-Nya sendiri (Mat 16:23). Yohanes Pembaptis menghadapi oposisi dari Herodus Antipas yang menyuruh menangkapnya, menjebloskannya ke dalam penjara dan kemudian memenggal kepalanya. Para murid Yesus juga menghadapi oposisi (lihat Kis 5:17-18), dan Gereja telah menghadapi oposisi dalam berbagai bentuknya sepanjang sejarahnya yang sudah berlangsung selama kurang-lebih 2.000 tahun.

Sabda Allah menyatakan posisi kita di hadapan Allah dan mendatangkan pemisahan ketika mengungkapkan kebutuhan kita untuk mengubah hidup kita dan berbalik kepada Allah. Pesan Salib mengambil tempat sentral dalam pengajaran Yesus dan merupakan alasan mengapa Dia melakukan karya pelayanan-Nya (Luk 9:22). Bahkan Petrus sendiri salah memahami keperluan akan penderitaan sengsara Yesus untuk menebus umat manusia (Mat 16:21-23).

Selagi Injil diwartakan pada masa para rasul, Gereja bertumbuh-kembang secara dramatis (lihat Kis 2:41,47) dan diberkati secara berlimpah. Gereja modern akan diperkuat apabila tetap teguh dalam mewartakan pesan Injil Yesus Kristus secara penuh, pesan yang tidak akan berubah dengan adanya perubahan zaman. Bilamana sabda Allah diwartakan, maka sabda Allah itu akan berbuah dan mencapai tujuan dari pekerjaan itu, seperti ada tertulis dalam Kitab Yesaya; “…… demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku; ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya” (Yes 55:11).

Injil tidak dapat diperlunak karena rasa takut akan adanya reaksi-reaksi yang tidak mengenakkan atau membuatnya menjadi lebih dapat diterima. Bilamana kita  berbicara mengenai kebenaran Allah dalam kasih, dibimbing oleh Roh Kudus, orang-orang akan mengenal Yesus dan menemukan kehidupan di dalam Dia. Injil sebagai sabda Allah yang hidup dan aktif, menyatakan hikmat Allah yang tak terhingga dan kasih yang tak dapat diukur. Injil bukanlah sekadar suatu kode moral atau buku yang memuat panduan-panduan untuk bertindak-tanduk; Injil adalah kuasa dan kasih Allah yang membawa kehidupan baru.

Kita tidak perlu menjadi putus-asa manakala kita menghadapi oposisi terhadap Injil. Ketika Gereja mewartakan keutamaan Kristus, maka Gereja pun akan berkemenangan. Ingatlah, bahwa kita tidak sendiri dalam bekerja, karena Allah telah mengutus Roh Kudus untuk membimbing Gereja (Yoh 16:5-16).

DOA: Tuhan Yesus, melalui Roh Kudus-Mu, buatlah kami semua menjadi orang-orang yang berani dalam mewartakan Injil, agar dengan demikian orang-orang di mana-mana dapat mengenal dan mengalami kasih dan hidup-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Hag 1:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “BANGUNLAH RUMAH ITU!” (bacaan tanggal 26-9-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2013. 

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:7-9), bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “SIAPA SEBENARNYA DIA INI ???” (bacaan tanggal 27-9-12), “PEWARTAAN KABAR BAIK TAK AKAN PERNAH DAPAT DIBENDUNG” (bacaan untuk tanggal 22-9-11), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-9-12 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 21 September 2013 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MENGUTUS KITA JUGA PADA HARI INI

YESUS MENGUTUS KITA JUGA PADA HARI INI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Rabu, 25 September 2013) 

YESUS MENGUTUS - MISI YANG DUABELASYesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang-orang sakit, kata-Nya kepada mereka, “Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau kantong perbekalan, roti atau uang, atau dua helai baju. Apabila kamu masuk ke dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari situ. Kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka.” Lalu pergilah mereka dan mereka mengelilingi desa-desa sambil memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat. (Luk 9:1-6)

Bacaan Pertama: Ezr 9:5-9; Mazmur Tanggapan: Tb 13:2-5,8 

Selagi Yesus mulai bergerak menuju Yerusalem, Ia mengakhiri misi di Galilea dengan mengutus kedua belas murid-Nya untuk mewartakan Injil dan menyembuhkan penyakit-penyakit yang diderita dan juga untuk menguasai roh-roh jahat. Apakah para murid sudah sepenuhnya siap dan memenuhi syarat (qualified) untuk itu?

Menarik bagi kita untuk mencatat bahwa bahkan dalam cerita pengutusan para murid ini, Yesus tetap berada di pusat. Yesus-lah yang memanggil kedua belas murid-Nya (Luk 9:1), seperti Ia pada awalnya telah memanggil masing-masing murid itu untuk datang dan mengikut-Nya. Dengan berjalannya waktu, Yesus telah menyatakan diri-Nya dan mensyeringkan hidup-Nya dengan mereka. Mereka ini bukanlah rasul-rasul yang mengangkat diri mereka sendiri, dan mereka pun bukanlah pribadi-pribadi yang memiliki kharisma dan kemampuan secara alamiah. Satu-satunya hal yang membedakan diri mereka dengan orang-orang lain adalah relasi mereka dengan Yesus.

Sebelum Ia mengutus mereka, Yesus memberikan kepada kedua belas murid-Nya itu kekuasaan dan otoritas atas semua roh jahat dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit (Luk 9:1). Semuanya datang dari dari Yesus. Para murid-Nya tidak pernah pergi ke sekolah teologi dan mereka pun belum mempunyai banyak pengalaman dalam melakukan penyembuhan penyakit dan pengusiran roh-roh jahat. Malah mereka kelihatannya mudah merasa takut dan tidak mempunyai iman yang diperlukan. Namun Yesus memberikan kekuasaan dan otoritas atas realitas-realitas fisik maupun spiritual! Dalam menggambarkan pengutusan Yesus ini, Lukas menggunakan kata Yunani apostello bagi para rasul itu, yang berarti “seorang yang diutus oleh orang lain” (Inggris: apostle). Para rasul tidak menawarkan diri mereka secara sukarela untuk misi yang dipercayakan kepada mereka. Inisiatif ada pada Yesus! Mereka sekadar diutus untuk memberi kesaksian siapa Yesus itu, dan untuk memberikan kesaksian tentang kuasa Allah melalui tindakan-tindakan mereka.

Ternyata tidak ada bedanya pada hari ini. Yesus yang sama, yang memanggil kedua belas murid-Nya sekitar 2.000 tahun lalu, pada hari ini juga memanggil kita masing-masing secara pribadi. Yesus yang sama ini memberikan kepada kita otoritas atas roh-roh jahat dan sakit-penyakit hari ini. Yesus yang sama ini mengutus kita untuk pergi mewartakan Injil Kerajaan Allah secara sederhana, menyembuhkan orang-orang yang sakit, baik fisik maupun spiritual, dan mengasihi tanpa syarat siapa saja yang dijumpai sebagaimana Yesus mengasihi. Kita tidak melangkah maju berdasarkan kemampuan, kesempurnaan kita, atau kuat-kuasa yang kita miliki, melainkan sekadar dalam nama dan kuasa Yesus Kristus. Sang Guru dan Tuhan kita itu telah memilih kita dan memperlengkapi kita agar dapat melakukan kehendak-Nya oleh kuasa Roh Kudus yang hidup di dalam diri kita.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar dapat mengenali panggilan-Mu, menerima kuat-kuasa dan otoritas-Mu, dan setia dalam mewartakan Kerajaan Allah seturut kehendak-Mu. Oleh Roh Kudus-Mu, perkenankanlah kami meneruskan anugerah kesembuhan dari-Mu kepada semua orang yang membutuhkannya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ezr 9:5-9), bacalah tulisan yang berjudul “MENIRU EZRA DALAM BERDOA SYAFAAT” (bacaan tanggal 25-9-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2013. 

Bacalah juga tulisan yang berjudul “YESUS MENGUTUS KEDUA BELAS MURID-NYA” (bacaan 29-9-09) dalam situs/blog SANG SABDA; kategori BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2009. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-9-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 September 2013

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENDENGARKAN SABDA ALLAH DAN MELAKUKANNYA [2]

MENDENGARKAN SABDA ALLAH DAN MELAKUKANNYA [2]

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Selasa, 24 September 2013) 

YESUS SANG RABBI DARI NAZARETIbu dan saudara-saudara Yesus datang kepada-Nya, tetapi mereka tidak dapat mendekati Dia karena orang banyak. Orang memberitahukan kepada-Nya, “Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau.” Tetapi Ia menjawab mereka, “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.” (Luk 8:19-21)

Bacaan Pertama: Ezr 6:7-8,12b,14-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-5

Dalam bagian Injil Lukas ini tercatat pengajaran Yesus tentang kemuridan/pemuridan. Mengikuti Yesus berarti mendengar sabda Allah dan berbuah (Luk 8:4-15). Murid Yesus yang sejati harus memiliki terang yang bercahaya dan tidak boleh tersembunyi (Luk 8:16). Para murid Yesus dapat mempunyai iman kepada Yesus dan tidak perlu takut terhadap angin ribut dalam kehidupan mereka (Luk 8:22-25). Sekali lagi, Yesus mengusir roh jahat dari seorang laki-laki di Gerasa dan atas dasar perintah Yesus sendiri, orang itu pun dengan penuh sukacita pergi ke seluruh kota dan memberitahukan segala sesuatu yang telah diperbuat Yesus atas dirinya (Luk 8:39).

Sekarang, marilah kita membayangkan sejenak apa yang terjadi seturut bacaan Injil hari ini. Banyak orang berkumpul di sekeliling Yesus untuk mendengar apa yang akan/sedang dikatakan oleh rabi dari Nazaret ini, walaupun mereka tidak selalu memahami perumpamaan-perumpamaan-Nya. Kemudian, muncullah Ibu Maria dan saudara-saudara Yesus, dan karena padatnya orang-orang yang berkumpul di situ, mereka tidak dapat mendekati  Yesus. Jadi, tidak mengherankanlah apabila ada orang yang memberitahukan kepada Yesus: “Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau” Luk 8:20). Jawab Yesus: “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya” (Luk 8:21).

Apakah kiranya yang dimaksudkan Yesus dengan jawaban-Nya itu? Apakah ini berarti bahwa Yesus tidak merasa peduli pada ibu dan keluarga-Nya? Tentu saja tidak! Siapa yang lebih baik dalam memahami kata-kata Yesus itu selain Maria, yang memiliki hasrat tetap untuk melakukan kehendak Bapa surgawi (Luk 1:38)? Lukas tidak mencatat apa yang dilakukan oleh Yesus selanjutnya, namun akal sehat kita mengatakan bahwa tentulah Dia menyambut ibu dan saudara-saudara-Nya, kalau pun tidak langsung ketika mengajar orang banyak itu. Bagi Yesus, menempatkan orang-orang lain sebagai lebih penting daripada keluarga-Nya sendiri sebenarnya bertentangan dengan yang kita ketahui sebagai benar tentang Allah dan juga melawan seluruh ajaran tentang keluarga yang terdapat dalam Kitab Suci (bacalah “Sepuluh Perintah Allah”, khususnya Kel 20:12).

Dalam tanggapan-Nya, Yesus menyatakan bahwa “mereka yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya” akan menjadi dekat dengan Yesus seperti para anggota keluarga-Nya sendiri. Ini adalah sebuah janji pengharapan dan sukacita. Kita sendiri dapat mempunyai keintiman yang sama dengan Yesus, kedekatan yang sama, dan relasi kasih yang sama seperti yang dimiliki-Nya dengan ibu dan semua anggota keluarga-Nya. Kita bukan hanya akan menjadi dekat dengan Yesus, melainkan juga – seperti halnya dengan setiap keluarga – kita pun mulai kelihatan seperti Dia. Kita akan mengambil oper karakter-Nya dan mulai berpikir dan bertindak seperti Yesus. Ini adalah janji bagi kita yang berdiam dalam sabda Allah dan senantiasa berupaya untuk mewujudkan sabda-Nya menjadi tindakan nyata.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau menjanjikan kepada kami suatu relasi yang intim dan penuh kasih dengan diri-Mu. Tolonglah kami agar dapat mengalami kasih-Mu selagi kami menjalani hari-hari kehidupan kami untuk melakukan kehendak Allah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 8:19-21), bacalah tulisan yang berjudul “YANG MENDENGARKAN SABDA ALLAH DAN MELAKUKANNYA” (bacaan tanggal 24-9-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2013. 

Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “MENDENGARKAN FIRMAN ALLAH DAN MELAKUKANNYA” (bacaan tanggal 25-9-12), “YESUS DAN SANAK SAUDARA-NYA” (bacaan tanggal 20-9-11), keduanya dalam dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-9-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 September 2013 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SIAPA YANG MEMPUNYAI, KEPADANYA AKAN DIBERI

SIAPA YANG MEMPUNYAI, KEPADANYA AKAN DIBERI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV –  Senin, 23 September 2013)

Peringatan S. Padre Pio dr. Pietrelcina, Imam 

jesus christ super star“Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki pelita, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan. Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, bahkan apa yang dianggapnya ada padanya, akan diambil juga.” (Luk 8:16-18)

Bacaan Pertama: Ezr 1:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 126:1-6 

“Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, bahkan apa yang dianggapnya ada padanya, akan diambil juga” (Luk 8:18).

Kadang-kadang kata-kata yang diucapkan oleh Yesus memang dapat membuat orang bingung. Sekilas lintas kata-kata Yesus di atas ini dapat membuat kita merasa bahwa Dia bersikap kritis terhadap mereka yang serba berkekurangan – walaupun bukan karena kesalahan mereka. Namun apabila kita merenungkannya dengan lebih mendalam, maka kita pun disadarkan bahwa dalam hal ini Yesus berbicara mengenai apa yang telah diberikan-Nya kepada para pendengar-Nya: sabda pewartaan-Nya. Pembedaan yang dibuat Yesus adalah dalam hal bagaimana sabda-Nya itu diterima oleh para pendengar-Nya. Yesus memuji orang-orang yang menerima sabda-Nya dengan penuh syukur dan iman, karena mereka secara sukarela menerapkan dalam kehidupan mereka apa yang mereka terima dari Yesua dan kemudian menghasilkan buah (lihat Luk 8:15).

Yesus mendorong para pengikut-Nya untuk menaruh perhatian pada sabda-Nya dan Ia berjanji: “Tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan” (Luk 8:17). Setiap rahasia Kerajaan Allah pada akhirnya akan dinyatakan. Setiap misteri yang penuh teka-teki bagi kita – misalnya mengapa Yesus harus mati pada kayu salib, mengapa Allah memperkenankan adanya penderitaan, mengapa beberapa anggota keluarga kita lebih terbuka terhadap Allah daripada para anggota keluarga yang lain dlsb. – akan terungkap, dan kita akan melihat hal-hal tersebut dengan kejelasan yang melampaui batasan-batasan intelek manusia.

6106140_f260Bagaimana kita dapat menemukan jawaban-jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini? Melalui meditasi yang dilakukan dalam suasana doa dan studi atas sabda Allah. Semakin banyak kita melibatkan diri dalam mempelajari hikmat Allah, semakin terbentuk pula pikiran kita seturut pikiran Allah. Kita akan mulai berpikir seperti Allah berpikir, dan kita akan mengenal serta mengalami damai-sejahtera yang datang dari permenungan kita atas “dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah” (Rm 11:33). Dengan demikian, bersama Santo Paulus kita akan mampu memproklamasikan: “Kami memiliki pikiran Kristus” (1Kor 2:16).

Yesus berjanji bahwa apabila kita berpegang teguh pada apa yang telah kita terima, maka hal itu akan bertumbuh dan berbuah dalam diri kita. Selagi kita diberi makan oleh sabda Allah, terang dari hikmat-Nya akan memancar keluar dari diri kita, menembus kegelapan dunia. Kesaksian hidup kita akan menarik orang-orang lain kepada kita, dan kita akan mampu mensyeringkan hikmat yang telah kita terima dari Allah dengan mereka. Marilah kita memperkenankan sabda Allah dalam Kitab Suci untuk membentuk diri kita sehingga kita dapat menjadi duta-duta Yesus  untuk dunia.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah menaruh terang-Mu di dalam diri kami melalui sabda-Mu. Semoga terang-Mu dalam diri kami memancar keluar kepada semua orang yang kami temui. Datanglah, ya Tuhan, dan taklukkanlah kegelapan dengan terang kebenaran-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 8:16-18), bacalah tulisan yang berjudul “” (bacaan tanggal 23-9-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2013.

Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “PERHATIKANLAH CARA KAMU MENDENGAR” (bacaan tanggal 24-9-12), “PERUMPAMAAN TENTANG PELITA” (bacaan tanggal 19-9-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori: 11-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2011. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-9-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 September 2013 [Peringatan S. Yosef dari Copertino] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

APAKAH AKU LEBIH BAIK DARI ORANG-ORANG FARISI?

APAKAH AKU LEBIH BAIK DARI ORANG-ORANG FARISI?

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXV [TahunC] – 22 September 2013) 

YESUS KRISTUS - 13 I AM THE WAY THE TRUTH AND LIFE “Siapa saja yang setia dalam hal-hal kecil, ia setia juga dalam hal-hal besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam hal-hal kecil, ia tidak benar juga dalam hal-hal besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Jikalau kamu tidak setia mengenai harta orang lain, siapakah yang akan memberikan hartamu sendiri kepadamu?

Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Luk 16:10-13)

Bacaan Pertama: Am 8:4-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 113:1-2,4-8; Bacaan Kedua: 1Tim 2:1-8;  Bacaan Injil (versi panjang): Luk 16:1-13

Yesus mempunyai cara-Nya sendiri untuk mengkaitkan prinsip-prinsip teoritis dengan hidup-praktis, hal mana terkadang membuat orang merasa tidak nyaman. Pada zaman kita sekarang, misalnya, banyak orang merasa tidak nyaman kalau masalah keuangan dimunculkan berbareng dengan hal-ikhwal hidup rohani. Hidup Kristiani menuntut bagaimana kita harus berurusan dengan uang dan selalu memeriksa batin kita apakah ada keserakahan dalam keputusan yang kita ambil dalam bidang keuangan.

Ada hal-hal yang kita tidak ingin periksa karena bersifat terlalu pribadi; hal-hal tersebut menyentuh kita dengan begitu mendalam. Sebagian besar dari kita sebenarnya memiliki sifat self-focuced, self-centered, berpusat pada diri sendiri; berpikir, bersikap dan bertindak-tanduk demi kepentingan pribadi. Hal seperti ini jelas akan membatasi kemampuan kita untuk melihat diri kita sebagai anggota-anggota dari sebuah komunitas yang lebih besar, sebuah komunitas yang mencakup baik orang-orang miskin maupun kaya. Kata-kata Yesus di atas sungguh relevan untuk para murid-Nya yang dapat digolongkan sebagai kaum miskin, demikian pula untuk mereka yang kaya. Kata-kata-Nya tetap berlaku pada zaman kita ini, berlaku bagi setiap orang.

Yesus memberi peringatan, bahwa harta-kekayaan berkemungkinan besar menjadi TUAN kita. Kebanyakan orang mau berpikir bahwa mereka memiliki sikap rasional terhadap peranan harta-kekayaan. Namun pada kenyataannya kuasa uang lebih kuat, sehingga menjadi tuan. Kita tidak dapat menyangkal bahwa uang memiliki kuasa yang begitu kuat, sehingga secara relatif mudah dapat memperbudak orang-orang. Ingatlah rekaman pembicaraan telepon-tersadap yang masih menjadi isu hangat pada hari-hari ini. Lihat bagaimana para pejabat negara yang biasanya tampak angker-menakutkan di depan rakyat kebanyakan, terasa tidak lebih dari budak-budak di hadapan seorang pengusaha-gelap yang mempunyai uang.

Tanyakanlah kepada siapa saja yang anda temui, siapa yang merasa sudah cukup mempunyai uang? Yesus mengatakan bahwa orang-orang Farisi itu adalah hamba-hamba uang (Luk 16:14), meskipun mereka menyangkal kenyataan itu. Nah, pertanyaan yang pantas kita tanyakan kepada diri kita masing-masing sekarang: “Apakah aku lebih baik dari orang-orang Farisi?” Sampai hari ini peringatan dari Yesus tentang kenyataan bahwa uang itu berkompetisi dengan Allah untuk menjadi tuan kita, tetap menggelisahkan banyak orang. Tidak sedikit orang merasa terganggu karena pernyataan Yesus ini, oleh karena itu diam-diam berpindah ke agama/kepercayaan yang lebih dapat mengakomodir keyakinannya tentang fungsi harta-kekayaan dalam kehidupan seseorang.

Sebagai seorang Kristiani kita harus menghadapi isu ini dengan berdiri-tegak. Apakah harta-kekayaan yang sesungguhnya menjadi tuan kita, dan bukannya Allah? Apakah tidak adanya uang menjadi suatu halangan bagi kita dalam menghayati hidup Kristiani? Tidak ada jawaban yang sama untuk setiap situasi. Dari waktu ke waktu kita dapat memiliki sikap yang mendua. Oleh karena itu perlulah untuk kita melakukan pemeriksaan batin di hadapan Allah setiap hari, teristimewa dalam Ibadat Penutup, mohon ampun atas dosa-dosa kita dan berketetapan hati untuk kembali kepada-Nya.

DOA: Roh Kudus Allah, terangilah kegelapan hatiku, ubahlah hatiku dan berikanlah kepadaku hati dan pikiran Kristus. Amin. 

Cilandak, 18 September 2013 [Peringatan S. Yosef dr. Copertino] 

Sdr. F.X. Indrapradja OFS

YESUS BERKATA KEPADA MATIUS: “IKUTLAH AKU!”

YESUS BERKATA KEPADA MATIUS: “IKUTLAH AKU!”

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Matius, Rasul & Penulis Injil – Sabtu, 21 September 2013) 

KEMURIDAN - YESUS MEMANGGIL MATIUS - 1Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.”  Matius pun bangkit dan mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi, pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mat 9:9-13)

Bacaan Pertama: Ef 4:1-7,11-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5 

Sejak pertama kali bertemu dengan Yesus selagi dia sedang bekerja di tempat pemungutan cukai, Matius memberi tanggapan penuh sukacita terhadap undangan Yesus kepadanya untuk berbalik dari cara hidupnya yang lama dan kemudian menggunakan seluruh sisa hidupnya sebagai seorang murid Kristus, misionaris dan penginjil. Ada tradisi yang mengatakan bahwa Matius mewartakan Injil di tengah-tengah orang-orang Yahudi untuk selama 15 tahun setelah kebangkitan Kristus, lalu melanjutkan pelayanan evangelisasinya di Persia, Makedonia dan Syria.

Cerita tentang panggilan Matius seharusnya memberikan kepada kita dorongan yang kuat. Yesus tidak datang untuk mencari orang-orang yang telah sempurna. Dia datang mencari yang hilang …… orang berdosa! Ingatlah bagaimana orang-orang Farisi menggerutu ketika Yesus duduk pada meja makan bersama Matius dkk. Orang-orang Farisi itu mengatakan, bahwa tidak pantaslah bagi seorang rabi berhubungan dengan para pemungut cukai dan pendosa. Namun Yesus menandaskan bahwa justru orang-orang berdosalah yang mau diundangnya ke dalam kerajaan-Nya. Dalam hal ini Yesus mengutip sebuah ayat Perjanjian Lama (Mat 9:13; bdk. Hos 6:6; Mat 12:7).

Maka, jangan pikir bahwa kita harus suci-suci dulu sebelum menyerahkan hidup kita kepada Yesus. Matius adalah contohnya. Kita dapat menyerahkan hidup kita kepada Kristus sekarang juga. Tidak ada masalah bagi Yesus Kristus untuk menerima kita (anda dan saya) sebagai milik-Nya. Juga janganlah kita merasa risau kalau merasakan diri kita tidak memiliki karunia atau talenta yang khusus. Yesus akan memberikan kepda kita segala rahmat yang kita butuhkan untuk hidup pelayanan kita bagi Dia.

Yesus mungkin saja tidak memanggil kita untuk menjadi seorang penginjil purnawaktu seperti yang dibuat-Nya atas diri Matius – atau mungkin juga memanggil kita untuk menjadi seorang full-timer sebagai seorang penginjil. Apa pun panggilan-Nya kepada kita, panggilan itu tentunya menyangkut peranan kita masing-masing sebagai seorang saksi-Nya dalam keluarga, para sahabat kita, para kerabat kerja kita, untuk menolong mereka menerima Yesus dalam hidup mereka. Marilah kita mengingat, bahwa justru dalam tindakan sehari-hari kita yang penuh ketaatan – menghadiri Misa Harian, membaca dan merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci untuk beberapa menit lamanya setiap hari, melakukan pemeriksaan batin dan mohon pengampunan Tuhan atas dosa-dosa kita – maka kita sebenarnya mengatakan “ya” terhadap panggilan Yesus. Oleh karena itu, marilah kita mulai dengan langkah-langkah kecil ini, dan kita pun akan menemukan kuat-kuasa Allah bekerja melalui diri kita dengan cara-cara yang tidak pernah kita harapkan atau bayangkan sebelumnya.

Selagi anda menanggapi panggilan Yesus untuk menjalani suatu kehidupan yang baru, ingatlah bahwa Yesus ada di samping anda di setiap langkah yang anda buat. Oleh karena itu, janganlah menunda-nunda untuk mengatakan “ya” kepada-Nya. Jika anda mengatakan “ya” kepada-Nya, maka “ya” anda itu akan membuat diri anda seorang pencinta yang penuh gairah kepada Tuhan dan terang yang sungguh memancarkan cahaya di tengah dunia ini.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena engkau memanggilku keluar dari kegelapan untuk masuk ke dalam terang-Mu. Aku ingin hidup bagi-Mu. Tolonglah aku menemukan seorang pribadi pada hari ini, kepada siapa aku dapat syering kasih-Mu. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 9:9-13), bacalah tulisan yang berjudul “BUKAN ORANG SEHAT YANG MEMERLUKAN TABIB” (bacaan tanggal 21-9-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2013.

Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “AKU DATANG BUKAN UNTUK MEMANGGIL ORANG BENAR, MELAINKAN ORANG BERDOSA” (bacaan tanggal 21-9-12), “CERITA TENTANG MATIUS, SI PEMUNGUT CUKAI” (bacaan tanggal 21-9-10) dan “MATIUS TAHU BAHWA YESUS DAPAT MENYEMBUHKANNYA” (bacaan tanggal 21-9-11), ketiganya dalaM situs/blog SANG SABDA atau PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-9-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 September 2013 [Pesta Stigmata Bapa Kita Fransiskus] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 76 other followers