TUHAN, BUATLAH HATIKU MENJADI SEPERTI TANAH YANG BAIK

TUHAN, BUATLAH HATIKU MENJADI SEPERTI TANAH YANG BAIK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI –  Jumat, 27 Juli 2012)

Keluarga Fransiskan: Peringatan Beata Maria Magdalena Martinengo, Perawan

Karena itu, dengarlah arti perumpamaan penabur itu. Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Surga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan. Benih yang ditaburkan di  tanah yang berbatu-batu ialah orang yang  mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang ini pun segera murtad. Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.” (Mat 13:18-23)

Bacaan Pertama: Yer 3:14-17; Mazmur Tanggapan: Yer 31:10-13

Perbandingan antara tindakan menaburkan benih di kondisi yang berbeda-beda dan firman Allah yang bertumbuh di dalam hati kita adalah satu dari metode-metode pengajaran paling penting yang pernah digunakan oleh Yesus. Jenis-jenis “tanah”  yang berbeda-beda dengan  hati kita dapat dibandingkan, akhirnya mengerucut pada titik apakah kita terbuka terhadap kebenaran-kebenaran Kerajaan Surga dan apakah kita rindu untuk mengetahui kehidupan Kristus. Hati yang terbuka, seperti juga tanah yang baik, siap untuk ditanami dengan firman/sabda Allah. Hati yang terbuka memperkenankan Roh Kudus “melahirkan” buah yang besar untuk Kerajaan Surga.

Benih – sabda Allah – itu dipenuhi dengan potensi luarbiasa. Perbedaan satu-satunya adalah tanah, yaitu hati kita masing-masing. Namun demikian, kalau pun hati kita tidak sempurna, kita tidak pernah boleh berputus-asa. Roh Kudus selalu siap untuk memberi perwahyuan, untuk menghibur, untuk mengajar dan untuk memberdayakan kita. Dia rindu untuk mengangkat bagi kita gembala-gembala yang sesuai dengan hati-Nya; yang akan menggembalakan kita  “dengan pengetahuan dan pengertian” (lihat Yer 3:15). Yang diminta oleh Allah adalah agar kita datang kepada-Nya dengan hati terbuka, mencari sabda-Nya. YHWH Allah berseru memanggil kita: “Aku akan mengambil kamu, …… dan akan membawa kamu ke Sion” (Yer 3:14). Sejarah membuktikan bahwa Tuhan itu adalah seorang Pribadi yang setia!

Seperti tanah macam apa hati kita itu? Apakah kita secara “mati-matian” mencari kebenaran-kebenaran dari Kerajaan Surga? Apakah kita sungguh merindukan hidup Kristus sendiri bergerak dan aktif dalam diri kita? Dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan seperti ini kepada diri kita sendiri, maka kita dapat menguji “tanah” macam apa sebenarnya hati kita ini? Apakah kita sangat berkeinginan untuk mendengar tentang kebenaran-kebenaran mengenai kebenaran-kebenaran Kerajaan Allah? Apakah kehidupan kita dapat menjadi seperti “taman yang diairi dengan baik-baik, sehingga tidak akan kembali merana?” (lihat Yer 31:12).

Kebanyakan dari kita masih memiliki hati seperti tanah yang berbatu-batu dan/atau semak berduri. Selagi kita mencari Tuhan dalam doa-doa kita, dalam Ekaristi, dan dalam pembacaan serta permenungan sabda-Nya yang terdapat dalam Kitab Suci, maka Roh Kudus dapat menyiapkan hati kita agar mampu menerima benih sabda-Nya secara lebih penuh. Dengan membuka diri kita bagi-Nya, kita memperkenankan Roh Kudus untuk memperbaiki kondisi hati kita, sehingga Yesus dapat bekerja dalam hati kita dan menolong kita untuk menghasilkan buah tiga puluh kali lipat, enam puluh kali lipat, bahkan seratus kali lipat untuk kerajaan-Nya (Mat 13:23). Marilah kita pergi menghadap Yesus dalam doa. Hanya Dialah yang dapat membuat kita siap menghasilkan panen yang berlimpah.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar dapat memusatkan perhatian pada kehendak-Mu. Hembuskanlah nafas kehidupan-Mu ke dalam nas-nas Kitab Suci yang kubaca agar aku dapat memahami sabda-Mu dan disembuhkan. Aku mempercayakan seluruh hatiku kepada-Mu. Oleh Roh Kudus-Mu, buatlah hatiku itu agar dapat menghasilkan buah-buah berlimpah demi kemuliaan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yer 3:14-17), bacalah tulisan yang berjudul “UMAT YANG AKAN DATANG DI SION” (bacaan tanggal 27-7-12) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 12-07 BACAAN HARIAN JULI 2012. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-7-10) 

Cilandak, 18 Juli 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AYAH DAN IBU DARI BUNDA MARIA

AYAH DAN IBU DARI BUNDA MARIA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Yoakim dan S. Anna, Orangtua SP Maria – Kamis,  26 Juli 2012) 

Dan sekarang kami hendak memuji orang-orang termasyhur, para nenek moyang kita menurut urut-urutannya.

Tetapi yang berikut ini adalah orang kesayangan yang kebajikannya tidak sampai terlupa; semuanya tetap tinggal pada keturunannya sebagai warisan baik yang berasal dari mereka. Keturunannya tetap setia kepada perjanjian-perjanjian, dan anak-anak merekapun demikian pula keadaannya. Keturunan mereka akan tetap tinggal untuk selama-lamanya, dan kemuliaannya tidak akan dihapus. Dengan tenteram jenazah mereka ditanamkan, dan nama mereka hidup terus turun-temurun. Bangsa-bangsa bercerita tentang kebijaksanaannya, dan pujian mereka diwartakan jemaah. (Sir 44:1,10-15)

Mazmur Tanggapan: Mzm 132:11,13-14,17-18; Bacaan Injil: Mat 13:16-17 

Pada hari ini Gereja memperingati Santo Yoakim dan Santa Anna, orangtua dari SP Maria, artinya kakek-nenek Yesus dari Nazaret dari pihak ibu. Nama mereka tidak ada dalam daftar nenek-moyang Yesus Kristus, baik dalam Injil Matius maupun Injil Lukas. Dalam kedua silsilah tersebut hanya para leluhur/karuhun dari pihak Yusuf saja yang disebut. Namun dalam tulisan-tulisan yang tidak termasuk kanon, yang kebetulan ada dalam perpustakaan pribadi saya, nama-nama mereka muncul: (1) Dalam “Injil Kelahiran Maria” (Inggris: The Gospel of the Birth of Mary); dan (2)  dalam THE PROTOEVANGELION BY JAMES THE LESSER, COUSIN AND BROTHER OF THE LORD JESUS;  keduanya terdapat dalam THE LOST BOOKS OF THE BIBLE, New York: New American Library, 1974 (asli:1926). Tulisan kedua di atas juga terdapat dalam Ron Cameron (Editor), THE OTHER GOSPELS dengan judul THE PROTEVANGELIUM OF JAMES, Philadelphia: The Westminster Press, 1982.

Dalam Proto-Injil Yakobus (PIY) ini diceritakan kelahiran Maria yang ajaib. Keprihatinan utama dari “legenda”/”tradisi” seperti ini adalah sejalan dengan data Perjanjian Baru, yaitu untuk menunjukkan bahwa Maria mempunyai sebuah tempat istimewa dalam sejarah Allah dengan manusia. “Legenda”/”tradisi” ini menggambarkan Yoakim dan Anna yang saling terikat oleh cinta sejati. Mereka adalah orang-orang yang takut akan Allah dan kaya. Untuk jangka waktu lama mereka tidak dianugerahi anak (seperti kasus Samuel dan Yohanes Pembaptis). Tidak mengherankanlah apabila para tetangga mencurigai bahwa ada yang tidak benar dalam kesalehan hidup mereka. Seperti kita ketahui, dalam Perjanjian Lama, tidak dikaruniai anak dinilai sebagai suatu penghukuman atas dosa-dosa pribadi.

Yoakim dan Anna sangat sedih karena semua itu. Mereka mengaduh di hadapan Allah tentang ketiadaan anak yang mereka alami. Yoakim melakukan “retret” selama 40 hari dan 40 malam di padang gurun, melakukan pertobatan di hadapan Allah melalui puasa dan doa. Yoakim berkata: “Aku tidak akan makan atau minum sampai Tuhan Allahku mengunjungi aku; doa akan menjadi makanan dan minumanku” (PIY 1:4). Di sisi lain Anna meratapi situasi ketiadaan anaknya di hadapan YHWH-Allah seperti yang dilakukan oleh Hana ibu Samuel. Akhirnya, Allah melakukan intervensi.

Lewat malaikat Tuhan, Yoakim dan Anna menerima janji Allah bahwa mereka akan memperoleh seorang anak. Berita tersebut membuat ke dua orang tersebut penuh sukacita dan saling bertemu lagi. “Reuni” pasutri ini digambarkan dengan indah dan mengharukan dalam Proto-Injil Yakobus. Saya mencatat sebagian kecil saja: Anna sudah menunggu di pintu gerbang ketika Yoakim datang dengan kawanan hewan peliharaannya. Anna berlari mendapatkan suaminya itu, merangkulnya dan berkata: “Sekarang aku tahu bahwa Tuhan Allah sangat memberkatiku; karena lihatlah si janda tidak lagi seorang janda, dan aku yang dikatakan seorang mandul, telah mengandung [akan mengandung]” (PIY 4:4). Keesokan harinya Yoakim mempersembahkan kurban kepada Allah di Bait Suci (PIY 5:1). Sembilan bulan setelah Yoakim menghampiri Anna, lahirlah Maria. Maria dilahirkan secara ajaib dari seorang perempuan yang telah dinyatakan mandul, demikian pula dia kelak akan melahirkan secara ajaib ke dalam dunia Putera Allah Yang Mahatinggi, Juruselamat semua bangsa.

Sekali lagi saya kemukakan di sini bahwa keprihatinan utama dari “legenda”/”tradisi” ini adalah jelas untuk menyatakan bahwa Maria dipilih oleh Allah secara istimewa, dan ia mempunyai suatu tugas yang khusus dalam sejarah keselamatan. Yoakim dan Anna hanya sekadar tokoh-tokoh di belakang layar. Namun demikian, pasutri ini tidak begitu saja menghilang karena mereka digambarkan sebagai orang-orang kudus dalam pengertian Perjanjian Lama, seperti digambarkan dalam bacaan pertama hari ini yang diambil dari Kitab Yesus bin Sirakh.

Iman pasutri ini akan Allah juga dinyatakan dalam tindakan mereka menyerahkan Maria ketika berumur tiga tahun ke Bait Suci (PIY 7:2) untuk memenuhi janji yang dibuat Anna sebelum kelahiran Maria (PIY 4:1) dan memperkenankan anak itu tinggal dalam Bait Suci. Pasutri Yoakim dan Anna dengan penuh kemurahan hati mempersembahkan kepada Allah apa yang telah dianugerahkan-Nya kepada mereka. Yoakim dan Anna setia pada Allah bahkan ketika mengalami ujian atas iman-kepercayaan mereka. Mereka mengambil tempat yang layak dalam sejarah keselamatan – sebagai orangtua Maria!

DOA: Bapa surgawi, pada hari peringatan Santo Yoakim dan Santa Anna ini, berkatilah secara khusus para pasutri dalam keluarga-keluarga Kristiani, teristimewa mereka yang tidak/belum dianugerahi anak-anak. Tumbuh-kembangkanlah keutamaan-keutamaan iman, pengharapan dan kasih dalam keluarga-keluarga tersebut. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan hari ini (Sir 44:1,10-15), bacalah tulisan berjudul “PASUTRI YOAKIM DAN ANNA ORANG TUA SP MARIA” (bacaan tanggal 26-7-11) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 11-07 BACAAN HARIAN JULI 2011. 

Cilandak, 18 Juli 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YAKOBUS MEMINUM CAWAN YANG DIMINUM YESUS

YAKOBUS MEMINUM CAWAN YANG DIMINUM YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Santo Yakobus, Rasul – Rabu, 25 Juli 2012) 

Kemudian datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Kata Yesus, “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya, “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya, “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum? Kata mereka kepada-Nya, “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka, “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang yang baginya Bapa-Ku telah menyediakannya.” Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata, “Kamu tahu bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa bertindak sebagai tuan atas rakyatnya, dan para pembesarnya bertindak sewenang-wenang atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan siapa saja yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat 20:20-28).

Bacaan Pertama: 2Kor 4:7-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 126:1-6 

“Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum? (Mat 20:22). Yesus mengajukan pertanyaan ini kepada Yakobus dan Yohanes sesaat setelah ibunda mereka mohon kepada Yesus agar mereka berdua memperoleh posisi-posisi terbaik dalam Kerajaan-Nya. Bukannya menjamin tersedianya tempat-tempat terhormat ini bagi mereka, Yesus malah menantang mereka untuk meneladan-Nya dalam melakukan karya pelayanan – bahkan sampai mati, jikalau diperlukan. Yesus bersabda: “Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan siapa saja yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat 20:28).

Yakobus menerima ajaran Yesus ini dengan sepenuh hati, karena beberapa tahun kemudian ia benar-benar meminum cawan seperti yang dilakukan oleh Yesus, Tuhan dan Gurunya. Di sekitar tahun 44, Raja Herodes Agripa, cucu laki-laki dari Raja Herodes Agung, mulai melakukan pengejaran dan penganiayaan terhadap komunitas Kristiani di Yerusalem. Sebuah catatan singkat dari ‘Kisah para Rasul’: “Ia menyuruh membunuh Yakobus, dengan pedang” (Kis 12:2). Menurut sebuah tradisi awal Gereja yang disampaikan oleh Klemens dari Aleksandria, penuduh yang membawa Yakobus ke hadapan Herodus Agripa begitu tersentuh hatinya ketika mendengar kesaksian sang rasul sehingga dia sendiri pun menjadi seorang Kristiani di tempat itu juga; …… dan kepalanya kemudian dipenggal …… bersama dengan Yakobus.

Yakobus kehilangan nyawanya karena dia memegang teguh komitmennya untuk melayani Gereja yang masih muda usia. Sebenarnya Yakobus bisa saja melarikan diri ke Siprus atau Antiokhia dan bersembunyi sementara dari angkara murka raja Herodes. Namun dia memilih untuk diam di Yerusalem, tempat di mana Allah telah memanggilnya dan menyerahkan dirinya di sana. Sebagai akibatnya, Gereja di Yerusalem mampu bersatu dengan kokoh dan malah bertumbuh selama masa  yang sangat berbahaya.

Dalam dunia kuno, menawarkan seseorang untuk minum dari cawan sendiri merupakan sebuah tanda besar persahabatan. Yakobus tidak menciut samasekali walaupun ia mengambil bagian dalam cawan Yesus, hal mana berarti memberikan dirinya sendiri untuk melayani orang-orang lain, bahkan ikut ambil bagian dalam penderitaan sengsara Gurunya. Yesus menyebut kita sahabat (Yoh 15:14-15), dan menawarkan cawan-Nya juga kepada kita. Dengan demikian dalam setiap relasi di mana kita terlibat – dengan anggota-anggota keluarga kita, dengan para teman/sahabat kita, dengan para kerabat kerja kita, dengan para tetangga kita – dan dalam setiap situasi di mana kita berada, pertanyaan utama kita adalah, “Apa yang diminta oleh Yesus padaku untuk melayani di sini?” Selagi kita menanggapi permintaan Yesus dengan penuh kemurahan hati, kita akan melihat rahmat Allah mengalir melalui diri kita seperti yang terjadi dengan Yakobus, dan kita pun akan menghasilkan buah berlimpah dalam Kerajaan Allah.

DOA: Tuhan Yesus, buatlah hatiku seperti hati-Mu. Anugerahilah aku cintakasih dan keberanian untuk mampu melihat melampaui diriku sendiri dan untuk melayani orang-orang lain dengan penuh kemurahan hati, seperti Engkau sendiri telah lakukan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 20:20-28), bacalah tulisan yang berjudul “YAKOBUS JUGA MEMINUM CAWAN YANG TELAH DIMINUM OLEH YESUS” (bacaan tanggal 25-7-11) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 11-07 BACAAN HARIAN JULI 2011. 

Cilandak, 14 Juli 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENJADI IBU DAN SAUDARI-SAUDARA YESUS

MENJADI IBU DAN SAUDARI-SAUDARA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Selasa, 24 Juli 2012) 

Ketika Yesus masih berbicara dengan orang banyak itu, ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia. Lalu seorang berkata kepada-Nya, “Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau.” Tetapi jawab Jesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya, “Siapa ibu-Ku? Siapa saudara-saudara-Ku?” Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya, “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapa saja yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku.” (Mat 12:46-50)

Bacaan Pertama: Mi 7:14-15,18-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 84:2-8 

“Siapa ibu-Ku? Siapa saudara-saudara-Ku?” (Mat 12:48). Dalam merenungkan kata-kata Yesus ini, kita dipimpin untuk memeriksa keluarga spiritual di mana kita adalah anggotanya – kedekatan dan ikatan yang ada antara kita semua, tanpa batasan karena umur, kebangsaan, kesukuan, etnisitas, jenis kelamin dlsb. Allah adalah Bapa kita! Dalam anugerah salib dan anugerah Roh, Ia telah memberikan kepada kita segalanya yang kita butuhkan untuk menghayati realitas hidup sebagai sebuah keluarga – untuk melakukan kehendak-Nya, melayani-Nya, mengasihi-Nya dan saling mengasihi antara kita anak-anak-Nya, untuk menjadi saksi akan kasih-Nya, dan membawa lagi jiwa-jiwa kepada-Nya.

Ketika kita dibaptis, kita menjadi anak-anak Allah. Bangkit dari air baptis, setiap orang Kristiani mendengar suara yang pernah terdengar di sungai Yordan: “Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan” (Luk 3:22). Dengan cara ini, rencana kekal dari Bapa surgawi bagi setiap pribadi direalisir dalam sejarah, seperti ditulis oleh Paulus: “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara” (Rm 8:29).

Kita dapat memahami bagaimana  kita menjadi saudari-saudara Yesus, namun apakah yang sesungguhnya dimaksudkan oleh Yesus bahwa kita adalah ibu-Nya juga? Ia berkata kepada orang banyak, “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya” (Luk 8:21). Santo Paulus menjelaskan peranannya sebagai seorang ibu ketika dia menulis kepada jemaat di Galatia: “Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu” (Gal 4:19). Sebelumnya, dengan cara serupa, Paulus mengingatkan umat Kristiani di Tesalonika: “Kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawat anaknya” (1Tes 2:7).

Mengikuti Paulus, Santo Fransiskus dari Assisi [1181-1226] mengatakan, bahwa “kita menjadi ibu bila kita mengandung Dia di dalam hati dan tubuh kita karena kasih ilahi dan karena suara hati yang murni dan jernih. Kita melahirkan Dia melalui karya yang suci, yang harus bercahaya bagi orang lain sebagai contoh” (Surat Pertama kepada Kaum Beriman, Pasal I:10). Bersikap dan berperilaku sebagai seorang ibu yang baik adalah sungguh sebuah panggilan bagi semua umat Kristiani! Pada zaman yang mana pun kita hidup, sebagai seorang Kristiani kita dapat membawa Kristus ke tengah dunia. Seperti Maria, kita semua dapat berdoa, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38).

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena privilese luarbiasa yang Kauberikan kepadaku untuk menjadi anggota keluarga Allah. Aku berdoa agar keluarga-Mu ini bertumbuh-kembang dalam kuasa Roh Kudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 12:46-50), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPAKAH IBU-KU? SIAPAKAH SAUDARA-SAUDARA-KU?” (bacaan tanggal 19-7-11) dalam situs /blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 11-07 BACAAN HARIAN JULI 2011. 

Cilandak, 14 Juli 2011 [Peringatan S. Fransiskus Solanus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SESUNGGUHNYA YANG ADA DI SINI LEBIH DARIPADA YUNUS

SESUNGGUHNYA YANG ADA DI SINI LEBIH DARIPADA YUNUS!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Senin, 23 Juli 2012) 

Pada waktu itu berkatalah bebeberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus, “Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari Engkau.” Tetapi jawab-Nya kepada mereka, “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan besar tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam. Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama orang-orang zaman Ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus! Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan akan bangkit bersama-sama orang-orang zaman ini dan ia akan menghukumnya juga. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo!” (Mat 12:38-42)

Bacaan Pertama: Mi 6:1-4,6-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:5-6,8-9,16-17,21,23 

“Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus” (Mat 12:39).

Yesus mengucapkan kata-kata ini pada waktu menanggapi permintaan beberapa orang ahli Taurat dan orang Farisi agar Ia membuat mukjizat atau tanda-tanda heran lainnya. Di bagian lain dari Injil Matius ini kita dapat membaca banyak mukjizat di buat oleh Yesus, mukjizat-mukjizat mana dimaksudkan untuk menyatakan bahwa Dia adalah sungguh Mesias dari Allah (Mat 8:1-9:38). Semua karya ini mendorong orang untuk melihat mukjizat-mukjizat Yesus sebagai tanda-tanda otoritas-surgawi yang dimiliki-Nya. Mengapa sekarang Yesus menolak permintaan para ahli Taurat dan orang Farisi untuk mempertunjukkan “kemahiran”-Nya sebagai seorang pembuat mukjizat?

Suatu pengamatan yang lebih mendalam mengungkapkan bahwa Yesus, walau pun Ia bertindak dengan berbagai cara, tetap saja tidak berubah dalam sikap-Nya terhadap orang-orang. Dengan konsisten Yesus berupaya untuk memimpin orang-orang kepada Kerajaan Bapa-Nya. Yesus mengetahui isi hati semua orang yang mendekati diri-Nya. Dengan hikmat spiritual Ia mengucapkan kata-kata yang dapat menggerakkan hati masing-masing orang untuk melihat dan percaya akan Kerajaan Allah. Apakah Ia berbicara secara keras atau dengan lemah lembut, motif Yesus adalah cintakasih.

Karena cintakasihlah permintaan dari beberapa orang ahli Taurat dan orang Farisi untuk melihat tanda-tanda ajaib Yesus ditolak-Nya. Dengan cara ini Yesus membongkar persoalan mereka yang sesungguhnya: Ketiadaan iman bukanlah disebabkan oleh bukti yang belum konklusif, namun dikarenakan hati mereka yang keras-membatu yang menolak mentah-mentah Yesus sebagai Dia yang diutus oleh Allah sendiri. Mukjizat-mukjizat Tuhan Yesus dimaksudkan untuk mengangkat pandangan mata orang-orang kepada Allah yang tanpa batas, namun para pemuka agama Yahudi ini menolak untuk memindahkan fokus mereka. Hanya ada satu saja tanda lagi yang akan diberikan-Nya – tanda nabi Yunus.

“Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan besar tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam” (Mat 12:40). Di sini Yesus membuat alusi kepada penderitaan sengsara, kematian, pemakaman dan kebangkitan-Nya. Yesus sendirilah tanda yang akan diberikan! Pada saat orang-orang melihat dan memahami bahwa Dia “yang ada di sini lebih daripada Yunus” (Mat 12:41) – Putera Allah sendiri – maka hati mereka akan belajar merangkul Yesus dan karya Allah; mereka akan mampu untuk “membuang” hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Allah.

Marilah kita memuji Allah dengan penuh sukacita untuk mereka yang telah percaya kepada Yesus Kristus dan telah menerima Kerajaan Allah ke dalam hati mereka masing-masing. Walaupun demikian, Allah terus menantang kita untuk memahami kebenaran Yesus secara lebih mendalam.

DOA: Bapa kami, Engkaulah Allah yang Mahapengasih dan Mahapenyayang. Curahkanlah rahmat-Mu kepada kami agar kami dapat melihat kemuliaan Kristus dan hidup oleh iman kepada-Nya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 12:38-42), bacalah tulisan berjudul “SALIB YESUS ADALAH SATU-SATUNYA TANDA YANG KITA PERLUKAN” (bacaan tanggal 18-7-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 11-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2011. 

Cilandak, 14 Juli 2012 [Peringatan S. Fransiskus Solanus, Imam, Ordo I Fransiskan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA PERLU MEMPELAJARI HIKMAT-KEBIJAKSANAAN ALLAH

KITA PERLU MEMPELAJARI HIKMAT-KEBIJAKSANAAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XVI – 22 Juli 2012) 

Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Mari kita menyendiri ke tempat yang terpencil, dan beristirahat sejenak!” Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat. Lalu berangkatlah mereka dengan perahu menyendiri ke tempat yang terpencil. Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat bergegas-gegaslah orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka. Ketika mendarat, Yesus melihat orang banyak berkerumun, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka (Mrk 6:30-34).

Bacaan Pertama: Yer23:1-6; Mazmur Antar Bacaan: Mzm 23:1-6; Bacaan Kedua: Ef 2:13-18 

Berbagai jenis burung dalam kelompok-kelompok besar bermigrasi ke tempat-tempat tertentu secara rutin musiman, tetapi semua didasarkan naluri saja. Di lain pihak, manusia yang mempunyai hati-nurani berani bertanya, “Mengapa aku hidup dan mengapa aku mati?” Kita – manusia – mempunyai rasa lapar dan haus akan kebenaran yang akan membebaskan diri kita, dan dalam menemukan Yesus, kita  menemukan kebebasan itu. Kebenaran-Nya memuaskan rasa dahaga kita dan membuat kenyang rasa lapar kita, dan kita pun dibebaskan sehingga dapat seperti sebatang anak panah  yang terbang lurus-langsung ke surga.

Yesus datang ke tengah-tengah umat manusia untuk membebaskan kita dari sikap masa bodoh dan dosa-dosa kita. Sepanjang pelayanan-Nya di depan publik, Yesus senantiasa dikelilingi oleh orang banyak, dan dengan bela-rasa dan empati yang besar, Ia mengambil waktu untuk “mengajarkan banyak hal kepada mereka” (Mrk 6:34). Hanya setelah Ia mengenyangkan hati  dan pikiran orang banyak itu dengan pesan Injil, maka Yesus memperhatikan pula kebutuhan-kebutuhan fisik mereka dan memberikan roti dan ikan untuk mengenyangkan mereka, lewat sebuah mukjizat pergandaan roti dan ikan (lihat Mrk 6:30-44). Acara makan roti dan ikan ini  terjadi pada sebuah sesi pengajaran, seakan kedua hal itu tak terpisahkan. Roti dalam peristiwa ini adalah suatu “foretaste” – katakanlah “icip-icip pendahuluan” – dari perjamuan Ekaristi.

Bahkan sekarang pun, dalam perayaan Misa Kudus, “Liturgi Sabda” senantiasa mendahului “Liturgi Ekaristi”. Kita tidak mendekati meja Tuhan sebelum hati dan pikiran kita dipenuhi dengan kebenaran-Nya. Konsili Vatikan II menyatakan: “Misa suci dapat dikatakan terdiri dari dua  bagian, yakni Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Keduanya begitu erat berhubungan, sehingga merupakan satu tindakan ibadat” (Konstitusi Sacrosanctum Concilium tentang Liturgi Suci, 56). Dengan demikian, sesungguhnya adalah vital bagi kita untuk menaruh perhatian yang serius pada Sabda Allah dan merefleksikan apa yang dibacakan dari Kitab Suci dalam Misa. Mengalami kasih Allah bersifat vital, namun itu hanya sebagian saja dari “persamaan matematika” yang ada. Kita manusia dikaruniai Allah dengan intelek, emosi dan kehendak. Kalau pikiran kita tidak diberi asupan positif, maka kita tidak akan mengetahui bagaimana cara yang baik untuk melawan kecenderungan kita untuk berdosa. Kita tidak akan mengetahui caranya bagaimana untuk melakukan discernment atas cara-cara Allah bekerja dalam hati kita dan di dalam dunia. Tidak cukuplah bagi kita mengalami sentuhan Allah. Kita juga perlu belajar jalan-jalan-Nya (cara-cara-Nya) dan bagaimana untuk mencocokkan kehidupan kita dengan ajaran-ajaran-Nya.

Apakah anda ingin mengenal dan mengalami damai-sejahtera Kristus? Apakah anda ingin dibebas-merdekakan dari dosa yang membelenggu diri anda selama ini? Upayakanlah diri anda untuk semakin akrab dengan sabda Allah dalam Kitab Suci. Pelajarilah hikmat-kebijaksanaan Allah. Mohonlah kepada  Roh Kudus untuk membuka pikiran anda setiap saat anda menghadiri Misa Kudus. Tempatkanlah Alkitab anda di tempat yang mudah terlihat dan terjangkau (maksudnya jangan ditaruh di rak paling tinggi/atas). Kreatif-lah dalam mencari waktu yang cocok untuk membaca dan merenungkan Kitab Suci dalam keheningan. Dari banyak metode pendalaman Kitab Suci, gunakanlah cara yang paling cocok dengan anda sendiri, misalnya dengan melakukan Lectio Divina. Satu hal yang harus kita sadari: Setiap hari, Yesus sang Guru, berdiri menanti-nanti di depan pintu hati anda!

DOA: Bapa surgawi, aku mohon agar Engkau berkenan untuk mengaruniakan kepadaku lebih dan lebih lagi dari hikmat-Mu. Pada waktu aku mempelajari dan merenungkan sabda-Mu yang ada dalam Kitab Suci, jagalah aku dari segala gangguan dan godaan. Semoga Roh Kudus-Mu senantiasa membimbingku. Aku berdoa demikian, dalam nama Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persekutuan Roh Kudus, Allah sepanjang masa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil  hari ini (Mrk 6:30-34), bacalah tulisan dengan judul “MENGUNDURKAN DIRI KE TEMPAT YANG TERPENCIL” (bacaan untuk tanggal 22-7-12), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-07 BACAAN HARIAN JULI 2012. Bacalah juga tulisan yang berjudul “HATI-NYA TERGERAK OLEH BELAS KASIHAN” (bacaan tanggal 6-2-10) dalam situs/blog SANG SABDA; kategori: 10-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2010. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-2-12) 

Cilandak,  13 Juli 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

GARA-GARA KASIH-NYA

GARA-GARA KASIH-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Sabtu, 21 Juli 2012) 

Lalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan membuat rencana untuk membunuh Dia. Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana.

Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia, supaya digenapi firman yang disampaikan oleh Nabi Yesaya, “Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya dan Ia akan menyatakan keadilan kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap.” (Mat 12:14-21)

Bacaan Pertama: Mi 2:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 10:1-4,7-8,14 

Mengapa Yesus mendatangkan begitu banyak tentangan dan penolakan dari sejumlah Farisi (tidak semua Farisi, karena Nikodemus dan Yusuf dari Arimatea juga orang Farisi)? Pada hari Sabat Yesus menyembuhkan seseorang di dekat sinagoga yang tangannya mati sebelah, dan untuk tindakan kebaikan itu dan akhirnya membuat rencana untuk membunuh Dia (bacalah keseluruhan Mat 12:9-13).

Kemudian Injil Matius menceritakan kepada kita, bahwa Yesus mengetahui niat jahat orang-orang Farisi itu, lalu Dia menyingkir dari sana  tanpa mampu disentuh sedikitpun oleh orang-orang jahat itu. Jadi, Yesus hanyalah berpindah ke suatu tempat yang lain, lalu melanjutkan segala perbuatan baik-Nya: menyembuhkan orang dari sakit-penyakit dengan segala mukjizat dan tanda heran yang mengiringinya. Semua itu dilakukan Yesus karena Dia sangat mengasihi umat-Nya. Yesus samasekali tidak memperkenankan ancaman-ancaman terhadap diri-Nya sampai melumpuhkan diri-Nya dengan rasa takut dan juga melumpuhkan karya pelayanan-Nya guna menyembuhkan, mengampuni, dan mengubah jiwa-jiwa yang terluka.

Yesus melakukan semua tindakan kebaikan itu bukanlah untuk pencitraan diri-Nya sebagai Mesias yang akan datang, tebar pesona dan sejenisnya. Khotbah-khotbah-Nya mengenai Kerajaan Allah bukanlah sekadar “pepesan kosong”. Dia hanya ingin setiap orang menjadi percaya kepada-Nya, dan melalui diri-Nya percaya kepada kasih Bapa surgawi kepada mereka. Sebaliknya, para lawan Yesus tidak sedikitpun berhasil memperoleh petunjuk tentang motif sejati di belakang segala mukjizat dan tanda heran lainnya yang diperbuat oleh Yesus. Nah, sekarang apakah sebenarnya motif Yesus itu? Sederhana saja: KASIH !!! Sebuah pesan yang sangat sederhana, namun sampai menggiring diri-Nya kepada sengsara dan wafat-Nya di atas kayu salib.

Agar supaya “Ia menjadikan hukum (keadilan) itu menang” (Mat 12:20), Yesus menunjukkan dengan jelas betapa dapat dipercaya Allah itu. Melalui teladan kehidupan-Nya sendiri, Yesus menunjukkan bagaimana seharusnya kita menyerahkan diri kita kepada Bapa setiap hari. Ancaman apapun yang dihadapi-Nya, dan kelelahan badani bagaimana pun yang dialami-Nya – Yesus sepenuhnya menggantungkan diri-Nya kepada Bapa untuk menggendong-Nya.  Kita juga dapat mempunyai pengharapan dan kepercayaan kepada Allah kita, ‘seorang’ Allah yang sangat mengasihi kita.

Setelah selesai menghadiri kapitel nasional OFS di Muntilan, sepanjang perjalanan pulang dan ketika menemaninya di bandara Soekarno-Hatta pada hari Minggu tanggal 3 Juli 2011 lalu, saya merasakan mendapat berkat khusus karena diberi kesempatan untuk mendengarkan cerita-cerita (kata kerennya adalah ‘kesaksian’) seorang imam OFM asal Croatia; cerita-cerita yang sungguh menguatkan iman saya. Tidak sekali saja imam itu mengatakan, bahwa kita harus “membuka diri”, menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada Bapa yang baik, sumber segala kebaikan itu. Dengan demikian, kita pun akan melihat “keajaiban-keajaiban” apa yang terjadi atas diri kita.

Yesus hanya mempunyai satu sasaran, yaitu mengajar kita untuk menaruh kepercayaan mendalam pada Allah, sehingga kita dapat hidup seturut sabda-Nya. Betapa pun mengagumkannya segala mukjizat Yesus, semua itu tidak ada artinya apabila dibandingkan dengan perubahan diri yang kita alami sementara kita menyerahkan hati kita kepada-Nya.

Oleh karena itu marilah kita tidak memperkenankan sesuatu pun yang menghalangi kita dari tindakan penyerahan hidup kita kepada Yesus dan memperkenankan penebusan-Nya mengalahkan dosa-dosa dalam diri kita. Percayalah, Ia mampu mentransformasikan diri kita menjadi menurut gambar dan rupa-Nya (bdk. Kej 1:26,27)! Ini adalah alasan pokok mengapa Dia mati di kayu salib sekitar 2.000 tahun lalu. Sekarang, marilah kita memperkenankan pesan sederhana tentang kasih Allah ini untuk membimbing kita pada hari ini dan hari-hari selanjutnya, dalam berbagai situasi, termasuk situasi  yang paling sulit sekali pun.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk kasih-Mu bagi kami masing-masing, pribadi lepas pribadi. Pandanglah dan perhatikanlah segala kebutuhan yang ada pada bangsa dan negara kami, dan tunjukkanlah kehadiran-Mu yang penuh keajaiban dan kuat-kuasa itu secara berkesinambungan. Buatlah keajaiban dan kesembuhan atas diri kami semua, ya Tuhan, agar banyak orang bangsa kami akan datang kepada kasih-Mu dan percaya kepada-Mu. Terima kasih, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacan Injil hari ini (Mat 12:14-21), bacalah tulisan yang berjudul “SEORANG PRIBADI SABDA-SABDA BAHAGIA” (bacaan tanggal 21-7-12) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-07 BACAAN HARIAN JULI 2012. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-7-11) 

Cilandak, 11 Juli 2012 [Peringatan S. Benediktus, (480-547), Abas] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 53 other followers