BUKAN TINDAKAN-TINDAKAN PENUH KEMUNAFIKAN

BUKAN TINDAKAN-TINDAKAN PENUH KEMUNAFIKAN

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XI – Rabu, 19 Juni 2013) 

KHOTBAH DI BUKIT - 501“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga. Jadi, apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau menggembar-gemborkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

“Apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti seorang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan  berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Dengan demikian, Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

“Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Mat 6:1-6.16-18)

Bacaan Pertama: 2Kor 9:6-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-4,9 

Selagi Yesus berbicara mengenai kebenaran sejati yang diperlukan agar seseorang dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah, Ia juga mengemukakan bahwa apabila kita mengembangkan suatu relasi pribadi dengan Allah, maka hal itu dapat mentransformasikan diri kita.  Kebenaran lahiriah seperti ditunjukkan oleh banyak pemimpin agama pada zaman Yesus seringkali berakar pada kesombongan dan pemuliaan-diri sendiri. Sebaliknya, kebenaran sejati (Inggris: true righteousness) merupakan akibat dari relasi batiniah dengan Bapa surgawi (Mat 5:20). Pada waktu kita bertemu dengan kasih dan kebenaran Allah dalam doa, maka kita pun akan menjadi semakin serupa dengan Dia dan terhitung di antara orang-orang yang sungguh benar. Yesus berjanji bahwa Bapa akan memberi ganjaran berlimpah kepada orang yang hidupnya ditransformasikan dengan cara ini.

A  BEGGAR - 005Yesus menekankan bahwa doa, puasa dan pemberian sedekah dimaksudkan sebagai tanda-tanda kehidupan kita dengan Allah, bukan tindakan-tindakan penuh kemunafikan yang dilakukan demi dilihat/diakui oleh orang-orang lain. Tindakan-tindakan benar, yang diinspirasikan oleh kasih kepada Allah, barangkali tidak pernah akan terlihat oleh dunia, dan pribadi-pribadi yang sungguh benar tidak memegang sebuah daftar perbuatan-perbuatan baik mereka lalu mengumumkan perbuatan-perbuatan baik itu kepada setiap orang yang ditemui. Sebaliknya, mereka memberi tanpa hitung-hitung dan tanpa mencari-cari pengakuan sehingga “tangan kiri” tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh “tangan kanan” (Mat 6:3).

Allah akan membuat diri kita benar apabila kita datang menghadap hadirat-Nya dalam doa dan mencari kehendak-Nya setiap hari. Itulah sebabnya mengapa Yesus mengatakan kepada para murid-Nya untuk berdoa di tempat-tempat tersembunyi di hati mereka – sehingga mereka dapat mengenal kehadiran Bapa surgawi dan memperkenankan sentuhan-Nya mengubah hati mereka. Seperti dijanjikan oleh Yesus, kita akan diberi ganjaran yang melampaui imajinasi kita selagi kita mencari Allah dengan cara ini. Allah tidak pernah akan menolak dan mengusir kita pergi. Sebaliknya, Dia akan melembutkan hati kita sehingga kita dapat sungguh berdoa, berpuasa dan memberi sedekah dengan hati yang mencerminkan hati-Nya sendiri.

Dalam saat-saat kita bersama Allah, marilah kita mempertimbangkan kefanaan dunia dan berupaya untuk ikut membangun Kerajaan-Nya yang kekal. Umat Kristiani yang berdoa, berpuasa, dan memberi sedekah seturut cintakasih mereka kepada Allah akan menerima berkat berlimpah – baik sekarang maupun dalam kekekalan. Selagi kita menghadap hadirat Bapa dan memohon kepada-Nya untuk memenuhi diri kita dengan hidup-Nya dan kasih-Nya sendiri, maka Yesus dan Roh Kudus akan datang dan tinggal di dalam diri kita, memberdayakan kita untuk melakukan kehendak Bapa.

DOA: Tuhan Yesus, kami ingin memasuki tempat doa yang tersembunyi agar kami dapat sungguh-sungguh mengenal Engkau. Transformasikanlah diri kami oleh kasih-Mu agar kebenaran-Mu dapat mengalir melalui segala sesuatu yang kami lakukan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:1-6.16-18), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH TIDAKLAH KIKIR” (bacaan tanggal 19-6-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-06 BACAAN HARIAN JUNI 2013. Bacalah juga tulisan yang berjudul “DENGAN KEJUJURAN MARILAH KITA MELAWAN KEMUNAFIKAN” (bacaan tanggal 20-6-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Cilandak, 11 Juni 2013 [Peringatan S. Barnabas, Rasul] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SAMA SEPERTI BAPAMU YANG DI SURGA SEMPURNA

SAMA SEPERTI BAPAMU YANG DI SURGA SEMPURNA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XI – Selasa, 18 Juni 2013) 

YESUS SEORANG PEMIMPIN YANG TEGASKamu telah mendengar yang difirmankan, Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu: Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari  bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna.” (Mat 5:43-48)

Bacaan Pertama: 2Kor 8:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:2.5-9 

Dapatkah anda membayangkan bahwa pada suatu hari kelak anda masuk juga ke dalam surga, dan orang pertama yang anda temui di sana adalah orang yang paling anda tidak sukai ketika hidup di dunia? Bayangkanlah dengan serius! Ternyata Allah mengasihi orang itu dan memanggil dia kepada kesempurnaan juga. Atau, bagaimanakah dengan tokoh-tokoh jahat yang anda telah jumpai dalam Kitab Suci – seperti Firaun, Izebel, atau Raja Herodes? Mereka pun tidak berada di luar ruang lingkup niat-niat penuh kasih dari Allah! Apa yang diinginkan Allah bagi anda adalah juga yang diinginkan-Nya bagi orang yang menyusahkan anda, demikian pula dengan tiran-tiran yang paling buruk dalam sejarah – agar mereka “sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna” (Mat 5:48).

Ada satu lagi kejutan: Musuh anda dapat membantu anda bergerak maju untuk mencapai tujuan kesempurnaan yang terasa tidak mungkin. Begini ceritanya. Perintah bagi kita untuk menjadi sempurna mengemuka langsung setelah penjelasan Yesus tentang bagaimana seharusnya kita memperlakukan orang yang membenci kita: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga” (Mat 5:44-45). Dengan perkataan lain, apabila anda ingin menjadi sempurna, mulailah dengan mengasihi musuh-musuh anda.

Mungkin kita berpikir dan kemudian berkata seperti si penyanyi dangdut pria itu: “Terlalu!” Dilihat dari kacamata manusia memang “terlalu”, karena “mengasihi musuh-musuh kita” sungguh melampaui kekuatan manusiawi kita. Tidak mungkin menjadi kenyataan apabila Yesus tidak menderita dan wafat bagi kita! Dengan rahmat yang diperoleh-Nya lewat kematian dan kebangkitan-Nya, kita dapat mengikuti teladan cintakasih sempurna dan pengampunan yang diberikan Yesus dan mulai melaksanakan perintah-perintah-Nya.

Marilah kita bekerja sama dengan rahmat itu pada hari ini. Daripada kita memikirkan orang-orang yang bersalah kepada kita dan mulai mengumpat mereka dan berencana membalas dendam, jauh lebih benarlah apabila kita berdoa bagi mereka yang mendzolomi kita. Kita harus mengambil waktu untuk memikirkan apakah ada orang-orang lain juga yang harus kita kasihi secara lebih lagi. Mereka mungkin saja bukan “musuh” secara harfiah, melainkan orang-orang yang kita “tidak anggap”, “pandang rendah”, “pandang sebelah mata”, “lihat sebagai tidak pantas”.

Kita (anda dan saya)  harus memulainya dengan orang-orang yang terdekat, yaitu yang tinggal dalam rumah dan teman-teman di tempat kerja kita. Kita harus memperhatikan apa saja yang muncul dalam pikiran kita segala kita membaca surat kabar,  menonton televisi atau melihat sendiri seorang tuna wisma di tengah jalan yang ramai. Kita harus mohon pengampunan Allah bilamana kita menemukan kegagalan-kegagalan pribadi kita. Marilah kita membuka hati kita agar dapat menerima rahmat untuk suatu sikap yang lebih bermurah-hati. Apabila kita memanfaatkan setiap kesempatan untuk mengasihi, maka kesempurnaan Tritunggal Mahakudus akan memancar dari dalam diri kita.

DOA: Bapa surgawi, aku berterima kasih penuh syukur karena Engkau menciptakanku karena kasih dan demi kasih. Pada hari ini aku menerima rahmat-Mu yang mentransformasikan hidup dan mengambil satu langkah lagi menuju kesempurnaan seturut rencana-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:43-48), bacalah tulisan yang berjudul “HARUSLAH KAMU SEMPURNA” (bacaan tanggal 18-6-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-06  BACAAN HARIAN JUNI 2013. Bacalah juga tulisan yang berjudul “KASIHILAH MUSUHMU DAN BERDOALAH BAGI YANG MENGANIAYA KAMU” (bacaan tanggal 19-6-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-6-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 10 Juni 2013 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANGANLAH KAMU MELAWAN ORANG YANG BERBUAT JAHAT KEPADAMU

JANGANLAH KAMU MELAWAN ORANG YANG BERBUAT JAHAT KEPADAMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XI – Senin, 17 Juni 2013) 

KHOTBAH DI BUKIT - 100Kamu telah mendengar yang difirmankan, Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari kamu. (Mat 5:38-42)

Bacaan Pertama: 2Kor 6:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4 

“Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu” (Mat 5:39).

Seriuskah Yesus ketika mengatakan ini? Bagaimana dengan sahabatku yang telah mengkhianatiku? Walaupun Yesus telah berbicara tentang menghindari tindakan balas dendam, apa yang dikatakan-Nya itu sulit untuk diterima. Apakah Yesus sungguh serius ketika Dia mengatakan bahwa kita harus memberikan pipi kiri kita masing-masing apabila pipi kanan kita ditampar?

Ini sungguh merupakan ajaran keras! Akan tetapi, hal ini tidak berarti bahwa perintah Yesus ini harus kita abaikan. Apalagi, Yesus sendiri tidak menghindar dari hal seperti ini. Yesus telah menunjukkan bahwa pengampunan yang bersifat radikal tetap mungkin untuk dilakukan. Yesus menunjukkan contoh bagaimana mencapainya, yaitu dengan kasih. Kasihlah yang senantiasa mendorong serta menguatkan Yesus untuk tanpa lelah mewartakan Kerajaan Allah. Kasih juga yang memungkinkan diri-Nya untuk mengampuni, bahkan ketika Dia tergantung pada kayu salib. Dan apabila kita memutuskan untuk menerima ajaran keras-Nya, kasih Kristus yang bekerja dalam diri kita akan menolong kita untuk mempraktekkannya juga.

Memang, memahami motivasi Yesus bukanlah hal yang mudah. Namun ada langkah-langkah kecil yang dapat kita ambil selagi kita berusaha untuk memberi respons. Kita dapat tetap berdoa agar dapat dipenuhi dengan perspektif kasih-Nya. Memandang orang lain dengan mata yang berbelas kasih adalah sejalan dengan memangkas kecenderungan kita untuk membalas dendam. Barangkali dalam pekan ini kita dapat membuat kasih menjadi suatu tindakan dengan paling sedikit mencoba satu tindakan kebaikan terhadap seseorang yang telah menyakiti hati kita atau katakanlah telah mendzolomi kita. Barangkali kita dapat menjadi lebih serius dalam mengikuti desakan Roh Kudus – teristimewa yang menyentuh relasi-relasi yang sulit bagi kita. Berdoa syafaat untuk orang-orang yang berniat jahat terhadap kita juga dapat membantu menumbuhkan suatu sikap mengampuni seperti kita sendiri telah diampuni.

Langkah-langkah kecil ini pun membutuhkan upaya yang serius, demikian pula rahmat-Nya! Namun Allah telah mencurahkan Roh Kudus untuk membuat mungkin segala yang tidak mungkin. Yang perlu kita lakukan adalah tetap mencoba, dengan kesadaran bahwa Dia yang telah mulai suatu pekerjaan baik dalam diri kita akan menyelesaikannya.

DOA: Tuhan Yesus, walaupun aku melihat bahwa sebagian dari ajaran-Mu itu sangat sulit untuk diikuti, aku ingin dengan setia mengikuti Engkau sepanjang jalan-Mu. Aku menempatkan rasa percayaku dalam diri-Mu dan dalam kuasa-Mu yang menyelamatkan. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Mat 5:38-42), bacalah tulisan yang berjudul “BUKTI CINTAKASIH YANG PALING AGUNG” (bacaan tanggal 17-6-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-06 BACAAN HARIAN JUNI 2013. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-6-12 dalam situs/blog SANG SABDA] 

Cilandak, 9 Juni 2013 [HARI MINGGU BIASA X] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IMANMU TELAH MENYELAMATKAN ENGKAU

IMANMU TELAH MENYELAMATKAN ENGKAU

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XI [Tahun C] – 16 Juni 2013)

KAKI YESUS DIBERSIHKAN DI RUMAH FARISI SIMON

Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan dengannya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah botol pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus di dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya. “Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menyentuh-Nya ini; tentu Ia tahu bahwa perempuan itu seorang berdosa. Lalu Yesus berkata kepadanya, “Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu.” Sahut Simon, “Katakanlah, Guru.”

“Ada dua orang yang berhutang kepada seorang yang membungakan uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan lebih mengasihi dia?” Jawab Simon, “Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.” Kata Yesus kepadanya. “Betul pendapatmu itu.” Sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon, “Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasuhi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tidak henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. Karena itu, Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak mengasihi. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia mengasihi.” Lalu Ia berkata kepada perempuan itu, “Dosamu telah diampuni.” Orang-orang yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka, “Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa-dosa?” Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu, “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan damai!”

Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat dan berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana istri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan harta milik mereka. (Luk 7:36-8:3)

Bacaan Pertama: 2Sam 12:7-10,13; Mazmur Tanggapan: Mzm 32:1-2,5,7,11; Bacaan Kedua: Gal 2:16,19-21

Cerita tentang seorang perempuan berdosa ini merupakan salah satu cerita Injil yang paling populer. Cerita tentang seorang pelacur yang berlinangan air mata dalam pertobatannya, yang penuh sukacita dan cintakasih karena telah bertemu dengan Yesus merupakan sebuah gambaran yang sampai sekarang masih mempunyai kuasa untuk menggerakkan hati manusia, termasuk kita, dua ribu tahun sejak pertama kali cerita itu ditulis.

Injil Lukas memang dipenuhi dengan cerita-cerita yang mengkontraskan orang kaya dan orang miskin, orang sombong dengan orang yang rendah hati. Dalam cerita hari ini, kontrasnya adalah antara seorang perempuan berdosa (tanpa nama) dan seorang Farisi yang bernama Simon. Untuk fair-nya, saya harus mengatakan bahwa Simon si orang Farisi memiliki beberapa nilai positif juga: Ia mengundang Yesus datang kerumahnya untuk makan bersama (Luk 7:36); dia menyapa Yesus dengan kata “Guru” (Luk 7:40); dan tindakan-tindakannya juga menunjukkan respeknya terhadap Yesus: dia tidak mengusir perempuan yang sedang berada di dekat Yesus itu meskipun dia tahu bahwa perempuan itu orang berdosa. Dia hanya berkata-kata dalam hatinya (Luk 7:39). Bagaimana dengan si perempuan berdosa itu sendiri? Ia menunjukkan  apa yang dapat terjadi ketika kita mengalami Yesus, tidak hanya sebagai seorang Guru, melainkan sebagai seorang Juruselamat yang hati-Nya dipenuhi cintakasih dan kerahiman.

KAKI YESUS DIURAPI - 2Pembasuhan kaki dengan air, ciuman dan pemberian minyak di kepala bukanlah suatu tindakan yang diberikan kepada setiap tamu yang datang. Hal-hal seperti itu hanya diperuntukkan bagi tamu-tamu yang sangat dihormati dan terpandang. Yang menakjubkan dalam cerita ini adalah, bahwa perempuan itu telah melakukan sesuatu yang melebihi tindakan yang perlu diberikan kepada seorang tamu terhormat. Perempuan itu membasahi kaki Yesus dengan air matanya, bukan air biasa. Dia menyekanya dengan rambutnya, bukan dengan kain lap yang biasa. Dia mencium Yesus, bukan di bagian kepala/wajah-Nya, melainkan kaki-Nya, dan meminyakinya dengan minyak narwastu yang harum mewangi dan mahal harganya (lihat Luk 7:38). Biasanya untuk penyambutan tamu terhormat yang dipakai adalah minyak zaitun. Tindakan-tindakan yang penuh rasa hormat dari perempuan itu menunjukkan betapa mendalam cintakasihnya kepada  Yesus.

Yesus bersabda: “Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak mengasihi. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia mengasihi” (Luk 7:47). Dalam membaca ayat ini kita harus berhati-hati karena memang sedikit membingungkan. Kita dapat berpikir bahwa cintakasih yang ditunjukkan oleh perempuan ini membuat senang Yesus sehingga Dia menanggapi semua itu dengan memberi pengampunan. Namun teks asli dalam bahasa Yunani menunjukkan bahwa cintakasih perempuan itu adalah akibat dia menerima kerahiman dan cintakasih Allah terlebih dahulu, jadi bukan sebaliknya. Kata “sebab” dalam ayat ini (Yunani: hoti) paling baik diartikan: “atas dasar alasan ini” (for this reason). Dengan demikian kita mendengar sabda Yesus dalam ayat 47 di atas berbunyi: “Dosanya yang banyak itu telah diampuni, ‘atas dasar alasan ini’ dia telah banyak mengasihi…”

Satu hal lagi yang menakjubkan dari cerita perempuan ini. Dia belum sampai melihat manifestasi-penuh dari cintakasih dan kerahiman Yesus – SALIB – namun dia telah memberi tanggapan yang begitu bebas. Tanpa bukti-bukti fisik, dia mengalami belaskasihan Yesus dan hidupnya pun diubah. Setiap noda dosa, rasa bersalah dan malu, rasa takut, rasa tidak berharga samasekali, semua ini dibuang oleh Yesus jauh-jauh dari dirinya dan perempuan ini pun dipenuhi dengan cintakasih dan rasa syukur yang sejati.

Tindakan-tindakan cintakasih perempuan ini begitu mengesankan dan menyentuh hati, sehingga mendorong kita bertanya di dalam hati, apakah dalam kehidupan ini kita masih dapat menemukan pengungkapan cintakasih seperti itu lagi? Apa yang dilakukannya memang terlihat begitu dramatis, namun masih jauh jika dibandingkan dengan cintakasih Yesus kepada kita. Yesus begitu mengasihi kita sehingga mau menyerahkan nyawa-Nya, keseluruhan diri-Nya, tidak hanya kepada mereka yang banyak mengasihi, melainkan juga kepada orang yang mempunyai pikiran dan hati yang masih tertutup, seperti Simon orang Farisi dalam cerita hari ini.

Bagaimana kita harus mencirikan cintakasih Yesus? Bagaimana kita dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan betapa besar cintakasih-Nya kepada masing-masing kita? Baiklah kita merenungkan 1Yoh 4:7-21. Bacaan-bacaan rohani, teristimewa yang ditulis oleh para Bapak Gereja zaman dahulu kiranya akan dapat membantu kita juga.

Tidakkah kita ingin mendengar Yesus berkata kepada kita: “Imanmu  telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan damai!” (7:50; bdk. Mrk 10:52), atau “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!”  (Mrk 2:5), atau “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan mulai sekarang, jangan berbuat dosa lagi” (Yoh 8:11)? Sekarang baiklah kita memejamkan mata dan membayangkan Yesus sedang memandang diri kita masing-masing. Kita bayangkan cintakasih dan belarasa yang terpancar dari wajah-Nya. Ia adalah satu-satunya pribadi yang sungguh-sungguh mengetahui perjuangan hidup, dosa-dosa dan kelemahan-kelemahan kita masing-masing. Ia juga mengambil bagian dalam harapan-harapan, kerinduan-kerinduan dan mimpi-mimpi kita masing-masing. Cintakasih-Nya terus mengalir keluar dari hati-Nya ke dalam hati kita masing-masing. Upayakanlah agar diri kita selalu berada di dekat-Nya.

Bacaan di atas mencakup juga Luk 8:1-3 di mana diceritakan secara singkat-padat tentang para perempuan yang telah diselamatkan Yesus, yang terus mengikuti rombongan Yesus dan para murid-Nya dan “melayani rombongan itu dengan harta milik mereka” (Mat 8:3). Luar biasa !!!  Memang setiap perjumpaan dengan Yesus selalu mengubah seseorang secara luarbiasa.

DOA: Tuhan Yesus, hari ini kami ingin mengungkapkan rasa syukur kami secara istimewa kepada-Mu. Semoga oleh kuasa Roh Kudus-Mu setiap hari kami dimampukan untuk mewartakan Kabar Baik kepada para anggota keluarga kami, teman-teman kami dan serta sesama kami lainnya. Dan, semoga  tindakan-tindakan kami juga dapat menunjukkan cintakasih-Mu yang membawa kebaikan dan damai sejahtera di tengah-tengah masyarakat. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:36-8:3), bacalah tulisan yang berjudul “HANYA DIALAH YANG PANTAS MENGHAKIMI” (bacaan tanggal 16-6-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-06 BACAAN HARIAN JUNI 2013. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-6-10 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 9 Juni 2013 [HARI MINGGU BIASA X] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENJADI UTUSAN-UTUSAN-NYA

MENJADI UTUSAN-UTUSAN-NYA

 (Bacaan Pertama Misa Kudus,  Hari Biasa Minggu Biasa X – Sabtu, 15 Juni 2013) 

ST. PAUL - 123Sebab kasih Kristus menguasai kami, karena kami telah mengerti bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.

Sebab itu, kami tidak lagi menilai seorang pun juga menurut ukuran manusia. Jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian. Jadi, siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. Sebab di dalam Kristus, Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya tanpa memperhitungkan pelanggaran mereka dan Dia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.

Jadi, kami ini utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: Berilah dirimu didamaikan dengan Allah. Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah. (2Kor 5:14-21)

Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,8-9,11-12; Bacaan Injil: Mat 5:33-37 

Dalam perjalanannya menuju Damsyik Paulus (Saulus) berjumpa dengan Yesus (lihat Kis 9:1-30). Perjumpaan itu mengubah Paulus secara radikal. Begitu dibaptis, Paulus mulai memproklamasikan Yesus secara publik, dengan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah (Kis 9:20). Setelah itu keseluruhan hidup Paulus diarahkan pada karya evangelisasi agar Yesus dikenal di mana-mana. Paulus menulis, “Jadi, kami ini utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami” (2Kor 5:20).

Namun bagaimana Paulus mampu mempertahankan excitement dan determinasi yang dialaminya langsung setelah pertobatannya? Kita mengetahui kecenderungan manusiawi untuk seseorang jatuh kembali ke dalam cara-cara lama. Oleh karena itu kita dapat mengandaikan bahwa Paulus tentunya secara tetap berupaya memperdalam relasinya dengan Kristus melalui doa dan studi Kitab Suci. Biar bagaimana pun juga Paulus adalah seorang terpelajar (murid Gamaliel), dan surat-suratnya menunjukkan bahwa dia kembali kepada teks-teks Kitab Suci yang pernah ditekuninya namun sekarang membacanya secara baru, yaitu dalam terang kebangkitan Yesus Kristus. Yang membuatnya senantiasa memiliki semangat yang berapi-api dalam mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus kiranya adalah ketika dia melihat bagaimana janji-janji dalam Kitab Suci akan kedatangan sang Mesias telah digenapi dalam diri Dia yang berjumpa dengannya secara istimewa di jalan menuju Damsyik seperti dicatat di atas.

Kita dapat melihat ada ritme khusus dalam kehidupan Paulus sebagai seorang pelayan sabda, suatu pergerakan ke dalam disusul dengan suatu pergerakan ke luar.  Gerakan ke dalam dari Paulus kepada Yesus dalam doa dan studi secara konsisten memperbaharui pengalamannya akan kasih Allah dan kuat-kuasa-Nya. Pengalaman-pengalaman Paulus ini menyegarkan dirinya untuk melakukan kegiatan kerasulannya ke luar: bertemu dengan orang-orang lain untuk syering kasih Yesus dengan mereka yang dijumpainya.

Situasi macam apa pun yang kita hadapi dalam kehidupan dan pengalaman kita akan Yesus, kita juga diundang untuk masuk ke dalam ritme evangelisasi seperti dijelaskan tadi. Apakah kita mempunyai pengalaman pertobatan yang dramatis seperti yang dialami Paulus atau tidak, Yesus mengundang kita untuk terus bertumbuh dalam pengenalan kita akan diri-Nya. Melalui doa dan studi Kitab Suci, kita dapat memperkenankan Allah untuk mengingatkan kita akan janji-janji-Nya dan untuk meyakinkan kita akan kasih-Nya. Yesus telah berjanji, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” (Mat 7:7). Apabila kita mencari Yesus dalam doa, maka Dia akan menyatakan diri-Nya kepada kita secara lebih mendalam lagi. Kasih-Nya akan “memaksa” kita untuk mensyeringkan cerita penyelamatan-Nya kepada orang-orang lain. Kita juga dapat menjadi utusan-utusan atau duta-duta-Nya, membawa penghiburan-Nya, pengharapan-Nya, dan damai-sejahtera-Nya kepada orang-orang di sekeliling kita!

DOA: Tuhan Yesus, penuhilah aku dengan pengenalan akan kasih-Mu. Berikanlah kepadaku keyakinan dan hikmat-kebijaksanaan untuk mensyeringkan janji keselamatan-Mu dengan orang-orang di sekelilingku. Tolonglah aku untuk senantiasa waspada dan siap apabila kesempatan-kesempatan untuk memproklamasikan pesan-Mu datang ke hadapanku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:33-37), bacalah tulisan yang berjudul “INTEGRITAS KITA AKAN BERBICARA SENDIRI!” (bacaan tanggal 15-6-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-06 BACAAN HARIAN JUNI 2013. 

Cilandak, 8 Juni 2013 [Peringatan Hati Tersuci SP Maria] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMBAWA KEMATIAN YESUS DALAM TUBUH KITA

MEMBAWA KEMATIAN YESUS DALAM TUBUH KITA

(Bacaan Pertama Misa Kudus,  Hari Biasa Minggu Biasa X – Jumat, 14 Juni 2013) 

PAULUS - 2Tetapi harta ini kami miliki dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak hancur terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini. Dengan demikian, maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu.

Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: “Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata”, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata. Karena kami tahu bahwa Ia, yang telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus. Ia juga akan menghadapkan kami bersama-sama dengan kamu kepada diri-Nya. Sebab semuanya itu terjadi karena kamu, supaya anugerah yang semakin besar berhubung dengan semakin banyaknya orang yang menjadi percaya, menyebabkan semakin melimpahnya ucapan syukur bagi kemuliaan Allah.  (2Kor 4:7-15)

Mazmur Tanggapan: Mzm 116:10-11,15-18; Bacaan Injil: Mat 5:27-32 

Apakah yang dimaksudkan oleh Paulus ketika dia menulis tentang “membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami” (2Kor 4:10)? Apakah ini sekadar retorika filsafat? Apakah ini bukannya diskusi hangat namun tidak jelas arahnya tentang makna dari penderitaan demi Injil?

Sama sekali bukan begitu halnya, karena ini adalah justru hakekat dari Injil itu sendiri. Yesus wafat dan bangkit untuk kita masing-masing dan salib-Nya sekarang berdiri sebagai pintu masuk ke dalam segala berkat Allah. Apabila kita merangkul dan bersatu dengan salib Kristus dan kebangkitan-Nya, maka kita menerima kehidupan yang Allah senantiasa ingin berikan kepada kita, yaitu suatu relasi yang intim dengan diri-Nya. Kita menerima kasih-Nya dalam diri kita, dan kasih itu akan mengalir ke luar dari diri kita dan menyentuh orang-orang lain. Kita hanya perlu merenungkan upaya-upaya kita untuk mengubah hati kita agar dapat mengetahui bahwa kita memerlukan “kekuatan Allah yang melimpah-limpah” (2Kor 4:7) apabila kita sungguh ingin menjadi seperti Yesus. Kita tentunya sudah mengetahui benar dorongan-dorongan buruk yang ada dalam diri kita: untuk menjadi marah, bersikap mementingkan diri sendiri, nafsu, iri-hati dan penolakan. O betapa kita rindu untuk bebas-merdeka dari semua yang buruk itu! O betapa penuh damai-sejahtera hidup kita jadinya tanpa beban-beban sedemikian! Di sinilah berlaku prinsip “kematian menjadi kehidupan” dari Santo Paulus.

“Membawa kematian Yesus di dalam tubuh kita” berarti terus menempatkan Salib Kristus di posisi paling depan dalam pikiran kita, mengingatnya selalu dalam doa-doa kita dan sepanjang kesibukan kita sehari-hari. Inilah harta kekayaan yang paling berharga yang kita bawa dalam bejana hati kita masing-masing, hidup Yesus yang penuh kuat-kuasa yang bekerja dalam diri kita sehari-hari, mengubah kita dan memenuhi diri kita dengan karakter-Nya sendiri. Oleh karena itu marilah kita senantiasa mengingat kematian Yesus dan apa yang telah dicapai-Nya pada kayu salib di Kalvari sekitar 2.000 tahun lalu. Marilah kita selalu berterima kasih penuh syukur kepada-Nya untuk wafat dan kebangkitan-Nya dan mengakuinya sebagai kuat-kuasa untuk mengubah hati kita. Bilamana kita sedang mengalami godaan, maka marilah kita mendeklarasikan dalam iman bahwa kita telah disalibkan bersama Yesus dan bahwa Dia hidup dalam diri kita (Gal 2:20). Kita harus percaya bahwa seperti juga kematian-Nya bekerja dalam diri kita, maka demikian pula kehidupan-Nya – yang kemudian akan mengalir ke luar dari hati kita dan menyentuh orang-orang lain dengan kasih Allah sendiri.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah wafat bagiku sehingga aku dapat ditebus dan diriku dipenuhi dengan hidup-Mu sendiri. Kematian dan kebangkitan-Mu adalah kuat-kuasa dengan mana aku dapat dibebaskan dari dosa dan menunjukkan serta menyalurkan kehidupan-Mu – kasih-Mu, sukacita-Mu dan kebaikan-Mu – kepada orang-orang lain. Oleh Roh Kudus-Mu, buatlah agar kebenaran-kebensaran ini menjadi sebuah realitas dalam hidupku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:27-32), bacalah tulisan yang berjudul “SALAH SATU DARI KATA-KATA KERAS YESUS” (bacaan tanggal 14-6-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-06 BACAAN HARIAN JUNI 2013. 

Cilandak, 8 Juni 2013 [Peringatan Hati Tersuci SP Maria] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGASIHI, MENGASIHI, MENGASIHI !!!

MENGASIHI, MENGASIHI, MENGASIHI !!!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Antonius dr Padua, Imam-Pujangga Gereja – Kamis, 13 Juni 2013)

Keluarga Fransiskan: Pesta S. Antonius dr Padua, Imam Pujangga Gereja 

KHOTBAH DI BUKIT - 2Aku berkata kepadamu: Jika kamu tidak melakukan kehendak Allah melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci maki saudaranya harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan siapa yang berkata: Jahil! Harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu ini jangan menyerahkan engkau kepada pengawal dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai habis. (Mat 5:20-26)

Bacaan Pertama: 2Kor 3:15-4:1,3-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9-14

Bacaan Injil hari ini diambil dari “Khotbah di Bukit”. Di sini Yesus mengingatkan kita akan tugas kita untuk mengasihi sesama kita.

Ada kebutuhan besar akan kasih yang lebih lagi dalam dunia. Dalam zaman materialisme ada kecenderungan bagi kita masing-masing untuk memperoleh sebanyak-banyaknya dari kehidupan ini: uang, kenikmatan, kehormatan. Kita sudah begitu individualistis dalam berpikir, bersikap dan berperilaku. Kita sudah terlampau serakah dan tamak. Ini adalah halangan terbesar untuk terciptanya persatuan dan kesatuan umat Kristiani. Kita, orang Kristiani yang Katolik, mungkin saja percaya bahwa saudari-saudara kita Kristiani yang terpisah itu salah dalam iman-kepercayaan mereka, namun hal ini tidak boleh menjadi alasan bagi kita untuk tidak mengasihi mereka dengan kasih Kristiani. Kita harus mengasihi semua orang. Kristus wafat di kayu salib untuk semua orang, dan kita harus memiliki kemauan untuk pergi ke tengah-tengah dunia teristimewa dengan kebaikan, bukannya prasangka dan praduga negatif.

Kasih mempunyai banyak efek yang indah. Kasih meningkatkan energi kita untuk melakukan kebaikan. Kasih memberikan kekuatan kepada kita untuk mengatasi halangan-halangan yang merintangi kita, bahkan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang heroik. Kasih membuat kita penuh dengan sukacita, penuh kegembiraan sejati. Tidak ada apa dan/atau siapa pun yang dapat mengganggu atau membuat kita letih-lesu. Segalanya yang kita lakukan karena/demi kasih terasa ringan, karena kasih adalah kekuatan kita, sukacita kita dan damai-sejahtera kita.

Pada hari ini Yesus Kristus menekankan bahwa kita senantiasa harus berada dalam hubungan baik dengan sesama kita, dengan setiap orang. Apabila tidak, maka kita pun tidak dapat berada dalam hubungan baik dengan Allah, dan akibatnya adalah bahwa banyak kebaikan yang kita lakukan dapat menjadi sia-sia.

Marilah kita mengikuti Kristus seturut apa yang dikatakan-Nya kepada kita: “…… jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu” (Mat 5:23-24). 

Kesimpulannya di sini adalah bahwa kasih di mata Allah lebih penting daripada doa. Tanpa kasih tidak ada doa yang sejati. Santo Yohanes Penginjil menulis, “Jikalau seseorang berkata, ‘Aku mengasihi Allah,’ tetapi ia membenci saudara seimannya, maka ia adalah pendusta, karena siapa yang tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya. Inilah perintah yang kita terima dari Dia: Siapa yang mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudara seimannya” (1Yoh 4:20-21). 

ANTONIUS DARI PADUA - 1Santo Antonius dari Padua [1195-1231]. Pada hari ini tanggal 13 Juni, Gereja memperingati dan keluarga besar Fransiskan merayakan pesta orang kudus ini yang lahir di Portugal dan meninggal dunia di dekat Padua, Italia. Antonius (nama aslinya adalah Fernandez) adalah seorang anak laki-laki tunggal dari sebuah keluarga bangsawan kaya yang kemudian masuk biara Agustinian di Lisboa dan belajar di Universitas di Coimbra. Sebagai seorang imam Agustinian dia sempat berkenalan dengan beberapa orang Saudara Dina (Fransiskan) yang kemudian menjadi proto-martir Ordo Fransiskan. Mereka mati dibunuh di tangan orang-orang Muslim di Afrika. Menyaksikan semua itu, romo muda itu kemudian bergabung dengan Ordo Saudara Dina yang belum lama didirikan oleh Fransiskus dari Assisi. Niatnya untuk menjadi martir Kristus di Afrika tidak kesampaian karena ternyata kehendak Allah memang lain. Perbedaan antara dirinya dengan sang pendiri ordo, adalah bahwa romo muda ini terdidik dan memang pandai. Bahkan, Fransiskus menyapanya sebagai “Uskup-ku”. Kesamaan yang jelas-nyata antara kedua pribadi orang kudus ini adalah ketaatan mereka pada kehendak Allah dan kasih mereka yang mendalam kepada Allah dan sesama. Mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal “kebosanan” dalam mengikuti jejak Kristus. Banyak sekali mukjizat dibuat Santo Antonius dari Padua selama masa hidupnya, demikian pula setelah kematiannya. Tidak jarang orang banyak lebih mengenal Santo Antonius dari Padua daripada Bapak Rohaninya sendiri, Santo Fransiskus dari Assisi. Seperti Yesus, Antonius meninggal dunia dalam usia muda. Dia dinyatakan kudus oleh Gereja hanya satu tahun setelah wafat-Nya. 

DOA: Tuhan Yesus, kami mengakui desakan-Mu agar kami menerima “kasih” sebagai perintah-Mu yang besar dan agung. Kami mohon rahmat-Mu agar kami dapat sungguh menghayatinya dalam kehidupan kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:20-26),  bacalah tulisan yang berjudul “PERGILAH BERDAMAI DAHULU DENGAN SAUDARAMU” (bacaan tanggal 13-6-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-06 BACAAN HARIAN JUNI 2013. Bacalah juga tulisan yang berjudul  “KITA ADALAH SAUDARI DAN SAUDARA SATU SAMA LAIN” (bacaan tanggal 14-6-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM. Bacalah juga tulisan yang berjudul “BERDAMAILAH DENGAN SAUDARAMU” (bacaan tanggal 26-2-10) dalam situs/blog SANG SABDA. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-6-12 dalam situs SANG SABDA) 

Cilandak,  3 Juni 2013 [Peringatan S. Karolus Lwanga dkk., Martir] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 72 other followers