BANGKITLAH DAN ANGKATLAH KEPALAMU

BANGKITLAH DAN ANGKATLAH KEPALAMU

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Kamis, 28 November 2013) 

Keluarga OFM & OFM Conventual: Peringatan S. Yakobus dr Marka, Imam

Francesco_Hayez_017

“Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah bahwa keruntuhannya sudah dekat. Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota, sebab itulah masa pembalasan ketika semua yang telah tertulis akan digenapi. Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau menyusukan bayi pada masa itu! Sebab akan datang kesusahan yang dahsyat atas seluruh negeri dan murka atas bangsa ini, dan mereka akan tewas oleh mata pedang dan dibawa sebagai tawanan ke segala bangsa, dan Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu.”

“Akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan guncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah kepalamu, sebab pembebasanmu sudah dekat.”  (Luk 21:20-28)

Bacaan Pertama: Dan 6:12-28; Mazmur Tanggapan: Dan 3:68-74 

Bacaan Injil pada hari ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama menceritakan kepada kita tentang pengepungan dan kejatuhan kota Yerusalem pada tahun 70. Bagian kedua “meramalkan” kedatangan Anak Manusia pada akhir zaman.

Santo Lukas menulis Injilnya sekitar tahun 75. Penghancuran Yerusalem telah terjadi dan Lukas menceritakannya seperti apa yang telah terjadi sesungguhnya. Akan tetapi, kedatangan Tuhan Yesus untuk kedua kalinya (Parousia) belum terjadi. Lukas menggambarkan hal ini dengan menggunakan bahasa profetis/kenabian yang mendalam. Dari bacaan ini juga jelas bahwa kedatangan Yesus untuk kedua kalinya tidak akan terjadi dalam waktu yang dekat. Umat Kristiani diingatkan bahwa mereka harus menanti, dan sementara mereka menanti mereka pun akan menderita karena penganiayaan-penganiayaan dari pihak-pihak yang anti-Kristiani. Bagaimana pun Yesus sendiri harus melalui Jalan Salib untuk mencapai kemuliaan-Nya. Tentu saja para murid-Nya tidak boleh mengharapkan sesuatu yang lebih ringan.

KEDATANGANNYA UNTUK KEDUA KALINYA - 4Iman akan kedatangan Yesus untuk kedua kalinya, iman akan kemenangan final pada akhir zaman, memberikan dukungan kuat kepada umat Kristiani awal, walaupun kedatangan kemenangan ini masih lama. Iman yang sama harus mendukung kita juga. Pengharapan akan kemenangan final ini adalah alasan dasariah untuk menjalani kehidupan Kristiani, untuk setia terhadap panggilan Yesus.

Yesus bersabda, “… bangkitlah dan angkatlah kepalamu, sebab pembebasanmu sudah dekat” (Luk 21:28). Kata Yunani yang digunakan di sini adalah apolytrosis, artinya suatu “pembelian kembali”. Dalam kasih-Nya, Allah telah membeli kita kembali, umat-Nya.

Nubuatan ini juga diperuntukkan bagi kita semua. Janji Yesus untuk datang kembali berlaku bagi kita juga. Kita telah dibebaskan, ditebus, dibeli kembali. Pengampunan, penyembuhan, keutuhan dan hidup baru dapat menjadi milik kita dalam sakramen-sakramen kasih Allah yang menebus. Bukti dan tanda penebusan yang final adalah kedatangan kembali Yesus dalam kemuliaan.

Dengan demikian, marilah kita bangkit dan mengangkat kepala kita. Kita adalah anak-anak Allah yang telah ditebus. Allah telah mengangkat kita menjadi anak-anak-Nya. Yang dituntut dari diri kita masing-masing sederhana saja: kita harus tetap setia kepada-Nya!

DOA: Tuhan Yesus, selagi kami menantikan kedatangan-Mu untuk kedua kalinya, kami memuji-muji Engkau untuk pembebasan yang telah Engkau bawa kepada kami dalam Sakramen-sakramen Gereja-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:20-28), bacalah tulisan yang berjudul “” (bacaan tanggal 28-11-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2013. 

Bacalah juga tulisan-tulisan berjudul “TENTANG RUNTUHNYA YERUSALEM DAN KEDATANGAN KRISTUS” (bacaan tanggal 24-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM, dan “ANAK MANUSIA DATANG DALAM AWAN DENGAN SEGALA KEKUASAAN DAN KEMULIAAN-NYA” (bacaan tanggal 24-11-11) dalam situds/blog SANG SABDA. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 29 November dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 November 2013 [Peringatan S. Leonardus dr Porto Mauritio, Imam] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANGAN LUPA SAUDARI DAN SAUDARA KITA DI FILIPINA, MEREKA MASIH MEMBUTUHKAN BANTUAN

philippines-typhoon(12)

Cilandak, Jakarta Selatan, 27 November 2013

Saudari-Saudara yang dikasihi Kristus,

Hal: Jangan lupa Saudari dan Saudara kita di Filipina, mereka masih membutuhkan bantuan.

Melanjutkan permohonan bantuan doa bagi Saudari-saudara kita di Filipina yang terkena musibah akibat Super Typhoon Haiyan (Yolanda), bersama ini saya mohon bantuan saudari-saudara dalam bentuk donasi keuangan.

Jumlah sumbangan saudari-saudara bukanlah yang terpenting, namun solidaritas kita sebagai pengejawantahan persaudaraan sejati akan sangat mewarnai ungkapan kasih dan belarasa kita kepada saudari-saudara kita di sana, yang walaupun jauh dalam jarak namun tetap dekat di hati.

Santo Paulus menulis: “Hendaklah masing-masing memberi menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita (2Kor 9:7).

Saudari dan Saudara masing-masing dapat secara sendiri-sendiri maupun secara berkelompok mengirimkan donasi anda kepada rekening Ordo Franciscanus Saecularis (OFS) di Filipina di bank mereka, seperti yang dilaporkan oleh ketuanya, Sdri. Yvonne Lanuza OFS:

Secular Franciscan Order, Bank Account # 005581000687, Bank of the Philippine Islands (BPI) – Family Bank, Bustillos Branch, Sampaloc, Metro Manila, Philippines.

Terima kasih untuk kebaikan hati Saudara-Saudari berupa doa-doa maupun donasi dalam bentuk uang. Tuhan memberkati Saudari-Saudara sekalian!

Salam persaudaraan,

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KESABARAN

KESABARAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Rabu, 27 November 2013]

Keluarga Fransiskan Conventual: Pesta S. Fransiskus-Antonius Pasana, Imam 

YESUS SEORANG PEMIMPIN YANG TEGAS“Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu. Kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh kehidupan.” (Luk 21:12-19)

Bacaan Pertama: Dan 5:1-6,13-14,16-17,23-28; Mazmur Tanggapan: Dan 3:62-67 

“Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh kehidupan” (Luk 21:19).

Petikan bacaan Injil di atas adalah sebuah nasihat Yesus yang amat baik bagi kita semua. Kita semua kiranya telah mengalami situasi di mana kesabaran kita sungguh diuji. Misalnya, ketika menyetir mobil di pagi hari menuju tempat kerja, kita dipotong/disalib oleh seorang pengendara sepeda motor sehingga nyaris terjadi tabrakan. Contoh lainnya adalah ketika tingkah laku salah seorang anggota keluarga kita menyebabkan seluruh anggota keluarga terlambat menghadiri Misa Kudus pada suatu Minggu pagi. Tanpa mereka sadari, begitu sering anak-anak sungguh menguji kesabaran para orangtua mereka.

Satu area lagi yang membuat kesabaran kita diuji adalah kelemahan-kelemahan dan kegagalan-kegagalan kita sendiri. Kita kelihatan tidak pernah dapat mengatakan hal yang benar pada saat yang tepat, dlsb. Lagi dan lagi kita membuat resolusi untuk bersikap lebih baik dan santun terhadap seseorang, namun lagi dan lagi kita harus mengakui kegagalan kita. Dosa-dosa yang sama, lagi dan lagi.

Satu tes yang cukup berat atas kesabaran kita – tes yang tidak dapat kita kontrol – adalah penyakit. Bagaimana kita menerima suatu pencobaan sedemikian dari Allah atau tragedi-tragedi lainnya, kematian, berbagai kekecewaan? Kita telah bekerja keras tanpa menghasilkan buah apa pun dari kerja kita. Kita menanam benih-benih, namun curah hujan tidak memadai, bahkan dapat terlalu banyak. Kita bekerja keras di perusahaan dan berharap akan memperoleh promosi jabatan, namun karena sikon yang dihadapi perusahaan, kita harus mengalami PHK. Semua ini adalah tes sesungguhnya atas kesabaran kita. Hal itu tidak merupakan dosa, namun dapat menyeret kita kepada kesalahan-kesalahan seperti kemarahan, kepahitan, menggerutu terhadap Allah, dslb.

Kita juga harus mengingat bahwa menjadi sabar berarti lebih daripada sekadar menanggung sesuatu beban dan bersikap pasif tentang hal itu. Kesabaran adalah kasih (bdk. 1Kor 13:4), dan kasih menuntut tindakan. Hal ini berarti menyapa orang-orang lain dengan “Selamat Pagi” atau “Aku sungguh senang berjumpa lagi dengan kamu” yang keluar dari hati yang tulus, walaupun kita sedang merasa kecewa terhadap orang yang kita sapa karena sesuatu hal.

Marilah kita bayangkan betapa banyaknya konflik dalam sebuah keluarga dapat diselesaikan apabila terdapat kesabaran penuh kasih. Betapa orang-orang di tempat kerja dapat lebih merasa bahagia apabila mereka dapat bekerja bersama dengan sikap sabar satu terhadap lainnya. Betapa lebih bersatu lagi keluarga-keluarga, paroki-paroki dan komunitas-komunitas apabila terdapat keutamaan yang dinamakan kesabaran itu. Tes selanjutnya atas kesabaran kita sudah di ambang pintu. Sudah siapkah kita untuk menghadapinya?

DOA: Tuhan Yesus, Engkau mengingatkan kami bahwa kami harus senantiasa sabar dan penuh ketekunan dalam menghadapi berbagai pencobaan, di mana kesabaran kami diuji. Kami tidak merasa khawatir, ya Tuhan, karena kami percaya bahwa hidup kami berada sepenuhnya di tangan-tangan kasih-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:12-19), bacalah tulisan yang berjudul “BERTEKUNLAH !!!” (bacaan tanggal 27-11-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2013. 

Bacalah tulisan-tulisan yang berjudul “PERMULAAN PENDERITAAN” (bacaan untuk tanggal 23-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM, dan “KALAU KAMU TETAP BERTAHAN, KAMU AKAN MEMPEROLEH KEHIDUPAN” (bacaan tanggal 23-11-11) dalam situs/blog SANG SABDA. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-11-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 25 November 2013 [Peringatan B. Elisabet dr Reute, Biarawati] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENGHARAPAN KRISTIANI

 

BEAUTIFUL GODS CREATION - 01

PENGHARAPAN KRISTIANI

“Sesungguhnya, mata TUHAN (YHWH) tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya” (Mzm 33:18).

“Sebab Engkaulah harapanku, ya Tuhan, kepercayaanku sejak masa muda, ya ALLAH” (Mzm 71:5).

Apakah saudari-saudara pernah memikirkan peranan pengharapan dalam kehidupan anda? Apakah saudari-saudara pernah memikirkan tentang atau barangkali bahkan mengalami sendiri kehidupan tanpa pengharapan? Kita semua mengharapkan hal-hal yang baik dalam hidup kita, dan kita telah mengetahui, sampai derajat tertentu, tantangan-tantangan terhadap pengharapan kita. Agak anehlah memang apabila ada seseorang yang tidak memiliki hasrat untuk mempunyai masa depan yang lebih baik! Namun demikian, dari tiga keutamaan (kebajikan) mendasar kehidupan Kristiani (iman, pengharapan dan kasih) – maka pengharapan dapat menjadi yang paling kurang diperhatikan dan paling sedikit dimengerti oleh umat.

Kita akan melihat apa arti dari ungkapan “bersukacita dalam pengharapan”.Dalam tulisan ini diuraikan secara umum karakteristik-karakteristik umum dari pengharapan Kristiani.

Catatan Awal. Barangkali “pengharapan” merupakan hal yang paling banyak menimbulkan tanda-tanya di kalangan umat Kristiani. Santo Paulus menasihati para pembaca suratnya kepada jemaat di Roma untuk “bersukacita dalam pengharapan” (Rm 12:12). Dalam suratnya yang sama, sang rasul mengingatkan kita bahwa “pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi” (Rm 8:24). Pengharapan ini – yang diisi dengan ekspektasi penuh sukacita sementara kita belum memiliki objek dari pengharapan kita – menandakan hidup kita sebagai umat Kristiani yang sedang menantikan kedatangan Kristus untuk kedua kalinya.

Pengharapan ini dimaksudkan untuk memainkan peranan sentral dalam kehidupan sehari-hari umat Kristiani. Allah telah banyak berjanji kepada kita, baik sebagai individu-individu maupun sebagai Gereja-Nya; dan setiap janji-Nya dapat menjadi suatu sumber pengharapan bagi kita. Dan pengharapan ini tidak terbatas pada kehidupan kita di atas muka bumi ini. Karena Yesus telah bangkit, kita pun dapat berharap untuk bangkit bersama Dia – artinya kita “ditakdirkan” untuk mengalami suatu kemuliaan kekal! Sementara kita melakukan pekerjaan rutin kita sehari-hari, masih mungkinlah bagi satu mata kita memusatkan pandangan pada janji Yesus untuk datang kembali, dan pada kehidupan surgawi yang menantikan kita. Pengharapan ini, baik akan apa yang telah dijanjikan Allah dalam hidup kita maupun akan kedatangan Kristus kelak, dapat memberi semangat kepada kita, memberi inspirasi dan sukacita  kepada kita setiap hari.

Diawali oleh agama Yahudi. Baiklah kita ketahui bahwa di dalam dunia kuno, “agama” bukanlah suatu sumber pengharapan. Santo Paulus mengingatkan kepada jemaat di Efesus, “Pada  waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia” (Ef 2:12). Pada kenyataannya, memang agama Yahudi-lah yang mengajarkan umatnya untuk berharap kepada “seorang” Allah yang mengasihi, Allah yang seluruhnya baik. Kitab Suci Perjanjian Lama berulang kali memberikan contoh-contoh umat Allah yang didorong untuk berpengharapan dalam Dia dan testimoni-testimoni bagaimana pengharapan-pengharapan tersebut dipenuhi (lihat Mzm 33:18, 71:5; Yes 8:17), sehingga Perjanjian Baru menyebut ayat-ayat tersebut sebagai dasar pengharapan Kristiani: “Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci” (Rm 15:4).

Dengan kebangkitan Yesus Kristus dari alam maut, perkembangan penuh dari pengharapan Kristiani muncul. Kristus menderita kematian dan bangkit penuh kemenangan dari kubur-Nya. Dalam Yesus kita telah mati dan bangkit – melalui iman kepada-Nya kita akan ikut ambil bagian dalam kebangkitan-Nya. Umat Kristiani mengetahui dalam hati mereka bahwa walaupun harus mengalami penderitaan dan halangan untuk berpengharapan di dunia ini, janji hidup baru yang diberikan kepada kita melalui kebangkitan Kristus berada dalam inti pengharapan kita.

Dasar pengharapan Kristiani.  Katekismus Gereja Katolik (KGK) mendefinisikan pengharapan sebagai berikut: “Harapan adalah kebajikan ilahi yang olehnya kita rindukan Kerajaan surga dan kehidupan abadi sebagai kebahagiaan kita, dengan berharap kepada janji-janji Kristus dan tidak mengandalkan kekuatan kita, tetapi bantuan rahmat Roh Kudus: (KGK, 1817).

Definisi ini menolong kita memusatkan perhatian kita pada dua sikap yang merupakan fondasi dari pengharapan kita: Pertama, pengharapan didasarkan pada janji-janji ilahi Kristus; ini adalah realitas-realitas kekal-abadi, bukan duniawi. Kedua, pengharapan kita diperkuat oleh rahmat Roh Kudus.

Kita sudah terbiasa untuk mencari hal-hal di sekeliling diri kita untuk memperoleh sukacita – suatu relasi khusus, pakaian baru, acara televisi favorit kita, bahkan kesempatan untuk main sepak bola di sore hari, dan banyak lagi. Semua ini adalah bagian “fun” dari hidup kita dan menjadi sukacita sungguhan apabila seimbang dalam kehidupan kita. Akan tetapi, umat Kristiani menjadi semakin menyadari akan adanya sebuah sumber sukacita yang tidak akan hilang: relasi mereka dengan Kristus dan janji hidup kekal-abadi dengan Dia. Selagi kita membuka diri kita bagi rahmat-Nya, maka realitas dan kesukaan surgawi dapat “menyerbu” kehidupan kita, bahkan selagi kita masih berada di atas bumi.

Di tengah sebuah dunia yang seringkali mendorong kita untuk menempatkan pengharapan kita dalam hal-hal yang tidak abadi, maka sangatlah baik untuk memandang para kudus yang kita kenal. Para kudus Allah memandang segala hal dalam kehidupan dalam terang rencana kekal-abadi Allah bagi kita, dan hasrat-Nya untuk membawa kita kepada kekekalan. Perspektif ini mempengaruhi segala hal. Bahkan penderitaan-penderitaan dipandang sebagai sebuah sarana untuk mencapai pemurnian yang lebih besar dan persatuan dengan Kristus. Ingatlah nasihat Paulus dan Barnabas: “…… untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara” (Kis 14:22). Kemudian Kristus sendiri menjadi sumber sukacita dan pengharapan bagi seseorang, sementara peranan hal-hal dunia ini menjadi semakin berkurang dalam hidupnya.

Banyak orang kudus, khususnya ketika mendekati saat kematian, menunjukkan suatu kepastian dalam hal pengharapan akan kehidupan kekal. Santa Teresia dari Lisieux, misalnya, yang walaupun berada dalam kegelapan total pada bulan-bulan terakhir menjelang kematiannya, tetap mempertahankan cintakasihnya kepada Yesus dan suatu rasa haus untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Bahkan ketika dia menderita dengan intens, baik secara spiritual maupun dari penyakit TBC yang akhirnya membunuh dirinya, dia terus berfungsi sebagai sumber penghiburan dan penyemangat untuk suster-suster yang lain.

Pengharapan kita diperkuat dengan rahmat Roh Kudus. Pengharapan memang banyak berurusan dengan masa depan, namun pengharapan banyak juga bertumpu pada apa yang telah kita terima. Santo Paulus berbicara mengenai Roh Kudus, yang kita terima pada waktu dibaptis dan dalam iman, sebagai garansi terhadap apa yang akan datang (2Kor 5:5). “… pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Rm 5:5). Karya Roh Kudus dalam kehidupan kita sekarang menciptakan suatu ekspektasi yang hidup akan apa yang Allah akan terus lakukan bagi kita di masa depan. Misalnya, iman kita mengatakan bahwa sukacita yang kita cicipi dalam kehadiran Allah sekarang akan berlipat ganda manakala kita bertemu dengan Dia kelak, muka ketemu muka.

Roh Kudus tidak hanya merupakan jaminan dari pengharapan kita; Roh Kudus juga menolong kita mencapai apa yang kita harapkan. Tidak sulit untuk memahami bagaimana tidak memadainya sumber daya kita sendiri untuk membawa kita kepada kehidupan kekal! Namun Roh Kudus setiap hari siap menolong ketika kita berupaya untuk bertumbuh dalam kekudusan. Ia akan memberikan inspirasi kepada kita dan menggerakkan kita untuk mengasihi Yesus secara lebih mendalam, untuk mematuhi perintah-perintah Allah dan memegang teguh janji-janji besar-Nya bagi kita, dan menaruh kepercayaan pada kasih Allah bagi kita pada saat kita digoda untuk “mundur” atau “menyimpang” dari jalan-Nya.

Suatu pengharapan yang tidak mengecewakan.  Kita semua telah mengalami melihat ke depan untuk memperoleh sesuatu dengan penuh antisipasi, hanya kemudian merasa kecewa ketika sesuatu itu sampai ke tangan kita. Karena satu dan lain hal, pengharapan kita seringkali berakhir pada kekecewaan, barangkali karena objek pengharapan kita itu tidak dapat dipercaya, atau telah dinilai berlebihan dalam kemampuannya untuk memuaskan diri kita. Pengalaman ini begitu biasa, sehingga ada ungkapan: “Janganlah terlalu cepat percaya!”

Sebagai umat Kristiani, kita didorong untuk percaya. Yesus bersabda: “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yoh 20:29). Penulis Surat kepada Orang Ibrani juga mengatakan, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang diharapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak dilihat”  (Ibr 11:1). Karena pengharapan kita didasarkan pada rencana kekal-abadi dari Allah sendiri bagi kita, bahkan dapat dikatakan didasarkan pada Allah sendiri, maka tidak ada kemungkinan untuk terjadinya kekecewaan. Rencana Allah yang kita syering dalam kehidupan ilahi-Nya dibangun bahkan sebelum Ia menciptakan dunia; itulah tujuan Ia menciptakan kita manusia. Rencana kekal-abadi dari “seorang” Allah yang sangat mengasihi serta dijamin secara berulang-ulang oleh janji-janji-Nya dan kuat-kuasa-Nya; sungguh memberikan kepada kita suatu dasar pengharapan yang dapat diandalkan.

Sementara penghargaan kita kepada rencana Allah bertumbuh, maka kita semakin menyadari bahwa hal-hal kecil, berbagai kesulitan dan halangan yang kita hadapi tidaklah ada artinya bilamana dibandingkan dengan niat Allah yang teguh bahwa kita ikut ambil bagian  dalam kehidupan surgawi-Nya.  Selagi iman kita akan rencana Allah bertumbuh, maka kita dimampukan untuk melihat segala sesuatu dalam terang rencana itu. Yang dulunya mungkin menciutkan hati kita dan menyebabkan kita meragukan kasih Allah, sekarang menjadi suatu kesempatan untuk menaruh pengharapan kita akan Allah ke dalam praktek.

Apakah yang dapat menjadi tumpuan pengharapan kita selain Allah sendiri? Jaminan apakah yang lebih pasti daripada janji-janji-Nya yang telah diberikan kepada kita? Apa lagi yang dapat lebih menghibur hati kita daripada pengetahuan bahwa Allah sendiri adalah jaminan dari segala pengharapan kita? “Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Rm 5:5).

Catatan penutup. Baiklah kita sekarang  berdoa, memohon agar kita dapat memahami kebenaran apa yang ditulis oleh Santo Paulus: “Semoga Allah, sumber segala pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan” (Rm 15:13).

Sebuah pertanyaan untuk permenungan pribadi dan/atau diskusi kelompok kecil:

Kehidupan Paulus sebagai seorang rasul dan pelayan Kristus bertumpu pada keyakinannya pada janji-janji Allah, termasuk pengharapan akan kehidupan kekal. Apakah kiranya sumber keyakinan sang rasul? Jelaskan! Untuk membantu, bacalah Gal 1:11-17; Flp 3:7-14; dan 2Tim 4:6-8.

Cilandak, 26 November 2013 [Peringatan S. Leonardus dr Porto Mauritio, Imam]

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KAPAN ITU AKAN TERJADI?

KAPAN ITU AKAN TERJADI?

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Selasa, 26 November 2013)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Leonardus de Porto Mauritio, Biarawan

YESUS MENGAJAR DI BAIT ALLAH - MRK 12 AKetika beberapa orang berbicara tentang Bait Allah, betapa bangunan itu dihiasi dengan batu yang indah-indah dan dengan berbagai-bagai barang persembahan, berkatalah Yesus, “Apa yang kamu lihat di situ – akan datang harinya ketika tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.”

Lalu mereka bertanya kepada Yesus, “Guru, kapan itu akan terjadi? Apa tandanya, kalau itu akan terjadi?” Jawab-Nya, “Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: ‘Akulah Dia,’ dan: ‘Saatnya sudah dekat.’ Janganlah kamu mengikuti mereka. Apabila kamu mendengar tentang peperangan dan pemberontakan, janganlah kamu takut. Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera.”

Ia berkata kepada mereka, “Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan, dan akan terjadi gempa bumi yang dahsyat dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan, dan akan terjadi juga hal-hal yang menakutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit. (Luk 21:5-11)

Bacaan Pertama: Dan 2:31-45; Mazmur Tanggapan: Dan 3:57-61 

Pada zaman Yesus Bait Suci di Yerusalem merupakan bangunan yang indah dan sangat mengesankan bagi siapa saja yang memandangnya. Herodus Agung baru saja membangunnya kembali, dari tahun 19 sampai tahun 9 SM. Bangunan Bait Suci ini dua kali lebih luas daripada bangunan sebelumnya dan lebih indah pula karena dipenuhi banyak hiasan.

Jadi, tidak mengherankanlah, apabila ada banyak orang yang datang ke Bait Suci pada waktu Yesus berkhotbah di tempat itu. Mereka mengagumi struktur dan berbicara mengenai keindahan serta betapa besar dan kokoh  bangunan itu. Sebagai suatu umat, mereka sangat bangga akan Bait Suci mereka.

Jadi, tentunya mereka sangat terkejut pada saat mendengar Yesus “meramalkan” kehancuran Bait Suci yang baru itu, suatu kehancuran yang begitu besar sehingga “tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan” (Luk 21:6). Langsung saja mereka ingin memperoleh informasi terinci. Mereka bertanya kepada Yesus: “Guru, kapan itu akan terjadi? Apa tandanya, kalau itu akan terjadi?” (Luk 21:7).

Sesungguhnya kita dapat membandingkan diri kita seperti orang-orang pada zaman Yesus itu. Mereka sangat bangga dengan Bait Suci di Yerusalem dan kemuliaan yang dipancarkannya. Demikian pula halnya dengan kita: kita begitu bangga akan capaian-capaian kita, bangunan-bangunan yang ada dalam kota kita, teknologi kita dlsb.

Dalam hal ini kita dapat mendengar bisikan Yesus: “Hati-hatilah, jangan sampai kamu terkecoh! Semua hal ini akan berlalu. Ya, memang aku ingin agar kamu memperbaiki kondisi bumi, menggunakan segala sumberdaya yang telah Kuberikan kepadamu. Akan tetapi, kamu harus menggunakan segala hal itu untuk kebaikan, untuk orang-orang miskinku, membawa kehidupan lebih baik bagi “wong cilik” yang sangat Kukasihi.”

Apakah yang telah kita lakukan dengan segala sumber daya alam kita, kekayaan alam kita? Apakah yang dinikmati oleh saudari-saudara kita di Papua, Kalimantan dan beberapa tempat lain, padahal selama ini kekayaan alam mereka telah diguras habis-habisan demi kepentingan sejumlah kecil orang serakah, malah untuk keuntungan negeri-negeri besar dan berkuasa? Di negara-negara maju, apakah berbagai sumber daya alam mereka diolah untuk menjadi produk-produk yang dapat membantu kesejahteraan rakyat mereka dan penduduk dunia lainnya? Ataukah hanya sebagai sarana untuk menghasilkan berbagai produk untuk penghancuran sesama manusia? Umat manusia – teristimewa dari negara-negara maju – sampai hari ini belum mampu untuk menemukan jalan/cara damai untuk menolong negara-negara atau bangsa-bangsa yang masih terkebelakang … para penduduk dunia yang masih kekurangan gizi dlsb.

Sebagai pribadi-pribadi, kiranya apakah yang dapat kita lakukan? Apakah upaya kita sebagai individu-individu dapat membuat efek terhadap masalah kelaparan, penindasan yang berskala dunia? Tentu saja kita dapat! Mungkin kita tidak akan melihat hasilnya secara khasat mata, namun jika kita menggunakan harta-kekayaan kita dengan bijaksana, hidup secara sederhana dan memberikan berbagai “surplus” kita untuk berbagai karya karitatif, maka kita akan membantu masalah kemiskinan dan penderitaan di dalam dunia. Janganlah kita sampai terkecoh oleh nilai-nilai berkaitan dengan kepemilikan harta-kekayaan yang berasal dari dunia, dari si Jahat!

DOA: Tuhan Yesus, ajarlah dan ingatkanlah aku senantiasa bahwa dunia ini dan segala kemuliaannya akan berlalu. Tanamkanlah dalam diriku rasa haus dan lapar akan kemuliaan yang akan datang bersama kedatangan-Mu kelak pada akhir zaman. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:5-11), bacalah tulisan yang berjudul “JANGANLAH KITA SAMPAI DIKUASAI OLEH RASA TAKUT” (bacaan tanggal 26-11-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2013. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-11-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 22 November 2013 [Peringatan S. Cecilia, Perawan-Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEMISKINAN

KEMISKINAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Senin, 25 November 2013) 

PERSEMBAHAN JANDA MISKIN - AAKetika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua uang tembaga, ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan seluruh nafkah yang dimilikinya.” (Luk 21:1-4)

Bacaan Pertama: Dan 1:1-6,8-20; Mazmur Tanggapan: Dan 3:52-56 

Dalam bacaan Injil hari ini, lagi-lagi kita melihat berkat dari kemiskinan dan kutuk atas kekayaan. Janda yang miskin itu sungguh mengasihi Allah karena dia memberikan kepada Allah segala yang dimilikinya. Akan tetapi, orang-orang kaya yang memberi persembahan dari kelimpahan mereka tidak memahami apa artinya cinta-kasih.

Siapa saja yang berurusan dengan pemberian “sedekah” untuk tujuan karitatif dapat menceritakan kepada anda tentang adanya paradoks yang “aneh” dalam hal pemberian berdasarkan kehendak bebas manusia. Berbagai angka statistik gerejawi di dunia Barat menunjukkan bahwa yang memberi paling banyak sumbangan bagi Gereja dan/atau untuk kegiatan-kegiatan karitatif lainnya bukanlah orang-orang kaya, melainkan mereka yang dikategorikan sebagai orang-orang kecil-miskin. Ternyata justru mereka yang miskinlah yang mempunyai share yang jauh lebih besar. Tentu saja ada kekecualian, namun siapa saja yang berpengalaman dalam hal ini akan mengatakan bahwa orang-orang miskin dan berkekurangan-lah yang memberikan dengan kemurahan-hati. Hal ini ternyata belum pernah berubah sejak Yesus mengamati kemurahan-hati sang janda miskin di Bait Suci. Bukankah hal ini merupakan alasan yang jelas mengapa terjadi kesenjangan yang besar antara orang kaya dan miskin di seluruh dunia? Seandainya orang-orang kaya memiliki kasih yang proporsional dengan kemurahan-hati begitu banyak saudari-saudara mereka yang miskin, maka kita dapat membayangkan betapa banyaknya penderitaan manusia dapat teratasi.

Dengan demikian, tidak mengherankanlah kalau kita membaca dalam Injil, bahwasanya Yesus begitu sering berbicara dengan kata-kata yang keras tentang bahayanya kekayaan. Dan juga tidak mengherankanlah jika Yesus selalu menunjukkan preferensinya pada orang-orang miskin. Ini pun bukan merupakan sesuatu hal yang baru. Dalam Perjanjian Lama, Allah menunjukkan kasih-Nya yang istimewa bagi orang-orang miskin, mereka yang terbuang, yang menderita, yang membutuhkan. Cerita besar tentang “pembebasan orang-orang Israel dari perbudakan di Mesir” (Keluaran/Exodus) adalah cerita mengenai belas kasih Allah dan kebaikan hati-Nya bagi orang yang ditindas dan diperbudak. Kitab Mazmur merupakan testimoni tentang kasih Allah bagi orang-orang miskin, mereka yang dilupakan, orang yang tidak dipedulikan oleh siapa pun. Jadi, “preferential option for the poor” sebenarnya bukanlah barang baru yang diciptakan oleh Gereja abad ke-20 karena sudah merupakan warisan bagi kita dari Allah sendiri.

Yesus sendiri memilih hidup dalam kemiskinan. Allah memilih Maria yang miskin dan rendah hati sebagai Ibu bagi Yesus. Santo Fransiskus dari Assisi mengajarkan kepada para pengikut rohaninya, bahwa setiap kali mereka melihat orang miskin, mereka sebenarnya melihat Yesus dan Maria yang hidup miskin. Yesus memilih para rasul-Nya dan murid-Nya dari tengah-tengah orang miskin. Mayoritas dari para sahabat-Nya dan pengikut-Nya adalah orang-orang miskin, dan banyak dari para murid-Nya yang kaya membuat diri mereka miskin, agar dapat meniru perikehidupan sang Guru.

DOA: Roh Kudus Allah, selidikilah hatiku dan bentuklah aku agar menjadi seorang pribadi yang mau dan mampu menghayati hidup kemiskinan sejati seperti dicontohkan oleh Yesus Kristus, Guru, Tuhan dan Juruselamatku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:1-4), bacalah tulisan yang berjudul “PERSEMBAHAN YANG MENYENANGKAN HATI ALLAH” (bacaan tanggal 25-11-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2013. 

(Tulisan adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-11-12) 

Cilandak, 21 November 2013 [Peringatan SP Maria Dipersembahkan kepada Allah] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS KRISTUS ADALAH RAJA SEMESTA ALAM

YESUS KRISTUS ADALAH RAJA SEMESTA ALAM

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESSTA ALAM – Minggu, 24 November 2013) 

KRISTUS RAJA - 55Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Tetapi pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya, “Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekrang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah.” Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka menawarkan anggur asam kepada-Nya dan berkata, “Jika Engkau raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!” Ada juga tulisan di atas kepala-Nya, “Inilah raja orang Yahudi”.

Salah seorang penjahat yang digantung itu menghujat Dia, katanya, “Bukankah Engkau Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!” Tetapi yang lain menegur dia, “Tidakkah engkau takut kepada Allah, sebab engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.” Lalu ia berkata, “Yesus, ingatlah aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Kata Yesus kepadanya, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk 23:35-43).

Bacaan Pertama: 2Sam 5:1-3; Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-5; Bacaan Kedua:  Kol 1:12-20 

Dalam banyak kebudayaan kuno, seorang raja diharapkan untuk bertindak sebagai seorang pengantara (mediator) antara para dewa-dewi dan rakyatnya. Mediasinya membawa berkat-berkat damai bagi kerajaannya, dan di sisi lain mendatangkan kekuasaan dan kekayaan bagi diri-Nya. Martabat raja Yesus bukanlah seperti itu! Yesus dilahirkan dari seorang ibu sederhana yang adalah istri seorang tukang kayu, hidup dalam kemiskinan, dan Dia dihukum mati di kayu salib sebagai seorang penjahat besar, berdasarkan dakwaan-dakwaan yang sangat tidak adil.

Yesus melakukan mediasi/pengantara antara “seorang” Allah yang benar dan segenap umat-Nya, namun Ia melaksanakan fungsi-Nya sebagai raja dalam kerendahan hati dan kedinaan. Ia tidak pernah meninggikan diri-Nya sendiri; Dia tidak pernah menggunakan kuasa-Nya untuk memperoleh keuntungan pribadi-Nya sendiri. Yesus juga tidak pernah melakukan perjalanan misi-Nya sambil duduk di sebuah kereta emas. Dia malah memasuki kota Yerusalem – yang dikenal sebagai kota raja – dengan “lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda” (Za 9:9). Hampir semua raja di dunia ditunggui oleh para pelayan yang berpakaian rapi dan bersih. Tidak demikian halnya dengan Yesus. Pada perjamuan terakhir, Dia malah membasuh kaki para murid-Nya (lihat Yoh 13:17).

SANG TERSALIBTidak ada bukti lain yang lebih kuat tentang martabat Yesus sebagai seorang raja, daripada ketika Dia tergantung pada kayu salib, diolok-olok, dicemoohkan oleh orang-orang yang sebenarnya mau diselamatkan lewat kedatangan-Nya ke dunia. Di sana, di bukit Kalvari, walaupun di tengah-tengah penderitaan yang sungguh luarbiasa menyakitkan, Yesus mengungkapkan bahwa diri-Nya adalah sang “Juru Kunci”, satu-satunya pemegang kunci ke dalam Kerajaan Surga. Sebagai pemegang kunci, Yesus berbicara kepada penjahat yang bertobat dengan kata-kata yang memang hanya dapat diucapkan oleh seorang anggota keluarga Kerajaan Surga: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk 23:43).

Hari ini adalah hari Minggu terakhir dalam tahun liturgi C ini – sebuah tahun yang sebenarnya didedikasikan kepada Roh Kudus. Minggu depan kita akan mulai Masa Adven dan mengalihkan padangan kita kepada Bapa surgawi. Pada hari ini, marilah kita memohon kepada Roh Kudus agar kita diperkenankan mendapat suatu pernyatan Yesus yang lebih mendalam. Yesus Kristus sebagai sang Raja! Marilah kita  bersembah sujud di hadapan takhta Yesus – salib-Nya – dalam adorasi dan dengan penuh rasa syukur. Ia telah menyelamatkan kita dari dosa dan Dia telah membuka pintu firdaus bagi kita. Kita adalah para warga kerajaan Allah. Tidak ada satu pun atau siapa pun yang dapat merampas kita dari martabat agung kita sebagai anak-anak Allah.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau datang ke dunia dalam kelemah-lembutan dan kerendahan hati serta kedinaan sebagai seorang pelayan. Walaupun Engkau seorang Raja yang agung –   “Raja segala raja” – Engkau mengenal kami masing-masing secara sempurna dan Engkau mengasihi kami masing-masing secara penuh dan lengkap. Kami meninggikan Engkau dan menyembah Engkau senantiasa, ya Tuhan dan Juruselamat kami. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (Kol 1:12-20), bacalah tulisan yang berjudul “KRISTUS SANG RAJA” (bacaan tanggal 24-11-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 13-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2013. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-11-10 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 20 November 2013 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 78 other followers