KITA DIBENARKAN BERDASARKAN IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

KITA DIBENARKAN BERDASARKAN IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

 (Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XII – 23 Juni 2013) 

461px-StPaul_ElGrecoSebab kamu semua adalah anak-anak Allah melalui iman di dalam Yesus Kristus. Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. Lagi pula, jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan ahli waris menurut janji Allah. (Gal 3:26-29)

Bacaan Pertama: Za 12:10-11;13:1; Mazmur Tanggapan: Mzm 63:2-6,8-9; Bacaan Injil: Luk 9:18-24

Seandainya seseorang bertanya kepada anda: “Apakah hakekat Kekristenan/Kristianitas?”, bagaimana anda akan menjawab pertanyaannya itu? Bagaimana kalau anda menjawabnya begini: “Melalui iman kepada Yesus Kristus dan baptisan ke dalam Dia, kita diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah” (bdk. Yoh 1:12).

Inilah sebenarnya janji agung dari Injil. Oleh iman kepada Kristus dan kematian serta kebangkitan-Nya, kita telah dibebas-merdekakan dari kutukan dosa dan maut. Kita disambut ke dalam keluarga Allah dan dibuat menjadi anggota tubuh-Nya, yaitu Gereja. Ini semua adalah suatu pemberian gratis (=hadiah) yang diberikan oleh-Nya pada waktu kita dibaptis dan secara konstan (tetap) dibuat hidup dalam diri kita selagi Yesus menyatakan diri-Nya kepada kita.

Melalui Yesus kita tidak lagi menjadi hamba-hamba dari suatu hukum eksternal yang mewajibkan kita untuk taat. Sebaliknya, kita dapat mengalami suatu transformasi batiniah yang mendorong kita untuk mentaati Tuhan karena kasih-Nya yang telah kita terima, bukannya karena takut akan penghukuman dari Dia. Tidak peduli bagaimana pun taatnya kita pada suatu hukum eksternal, hal tersebut tidak akan membuat kita benar di hadapan Allah. Demikian juga, berapa pun banyaknya perbuatan baik yang kita lakukan, semua itu tidak akan dapat menyingkir atau melarikan diri dari penghukuman yang pantas atas dosa-dosa kita. Hanya iman kepada Yesus Kristus dan baptisan ke dalam diri-Nya yang dapat membebas-merdekakan kita.

Sekali kita menjadi anak-anak-Nya melalui pembaptisan, Allah menanam dalam hati kita suatu hasrat untuk mengasihi Dia dan umat-Nya. Hasrat itu pada awalnya dapat terlihat masih lemah, namun akan bertumbuh dan semakin dalam berakar setiap kali kita berjumpa dengan Tuhan dalam doa. Sepanjang jalan kita mempunyai hukum Allah yang diwujudkan dalam “Sepuluh Perintah Allah”, “Khotbah di Bukit” dlsb. serta ajaran-ajaran Gereja, untuk membimbing dan melindungi kita. Janji Injil yang indah adalah bahwa hukum-hukum ini dapat ditulis pada hati kita dan menjadi cara yang alami bagi kita untuk berpikir dan bertindak – tanda-tanda dari transformasi batiniah kepada Kristusl

Baiklah kita perkenankan kebenaran-kebenaran ini membawa dampak atas bagaimana caranya kita hidup. Selagi kita menyerahkan hidup kita kepada Yesus Kristus setiap hari, maka Dia akan mengisi diri kita dengan Roh Kudus-Nya, Dia akan memperdalam iman kita dan memberikan kepada kita suatu pengalaman yang lebih mendalam akan kasih-Nya.

DOA: Bapa surgawi, aku berterima kasih kepada-Mu karena melalui salib Kristus Engkau telah menyelamatkanku dari kuasa dosa dan maut, dan membuat diriku menjadi anak-Mu. Perdalamlah kebenaran ini dalam hatiku dengan kuasa Roh Kudus-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:18-24), bacalah tulisan yang berjudul “MEMIKUL SALIB KITA SETIAP HARI” (bacaan tanggal 23-6-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-06 BACAAN HARIAN JUNI 2013. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-10-10 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 Juni 2013 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

CARILAH DAHULU KERAJAAN ALLAH DAN KEHENDAK-NYA

CARILAH DAHULU KERAJAAN ALLAH DAN KEHENDAK-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari biasa Pekan Biasa XI – Sabtu,  22 Juni 2013) 

KHOTBAH DI BUKIT - 500“Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.

Karena itu, Aku berkata kepadamu: Janganlah khawatir tentang hidupmu, mengenai apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah khawatir pula tentang tubuhmu, mengenai apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu di surga. Bukankah kamu jauh lebih berharga daripada burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekhawatirannya dapat menambah sehasta saja pada jalan hidupnya? Mengapa kamu khawatir mengenai pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi, jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih dahulu mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Karena itu, janganlah kamu khawatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di surga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Karena itu, janganlah kamu khawatir tentang hari esok, karena hari esok mempunyai kekhawatirannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Mat 6:24-34)

Bacaan Pertama: 2Kor 12:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:8-13

“Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya” (Mat 6:33). Ini adalah sebuah perintah Yesus yang mencakup area yang sangat luas. Namun bagaimana kita dapat mengatakan bahwa prioritas-prioritas kita tersusun sedemikian sehingga menyenangkan hati Allah? Kita dapat memulainya dengan melakukan pemeriksaan apa-apa saja yang mengambil waktu kita, pemikiran kita dan upaya-upaya kita.

Ada banyak hal yang sebenanya saling bersaing untuk mendapat perhatian kita: keluarga, sahabat-sahabat, pekerjaan, paroki, orang-orang yang mempunyai kebutuhan, tujuan-tujuan kita, kerinduan-kerinduan kita. Selagi kita melakukan survei atas kehidupan kita, kita dapat merasa kewalahan karena begitu banyaknya tuntutan dan hasrat yang menyibukkan diri kita. Kita dapat melihat banyak yang baik, namun tidak sedikit juga yang tidak baik. Hal-hal kecil yang kurang/tidak penting dapat mengambil tempat yang terlalu besar dalam kehidupan kita, dan kita pun bertanya-tanya bagaimana kita akan dapat memenuhi harapan Yesus bahwa kita harus mencari dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya … di atas segala urusan lain.

“Janganlah kamu khawatir” (Mat 6:31). Melalui Yesus, Allah telah mencurahkan Roh Kudus ke dalam hati kita masing-masing. Ia berdiam dalam diri kita dan tidak akan meninggalkan kita. Apabila kita berbalik kepada Roh Kudus untuk memperoleh pertolongan, Ia tentu akan memberdayakan kita. Ingatlah bahwa “justru dalam kelemahanlah kuasa Allah menjadi sempurna” (2Kor 12:9). Jika kita mengandalkan diri pada Roh Kudus, maka Dia akan membimbing kita setiap hari untuk memilih langkah-langkah kecil yang akan memimpin kita semakin dekat kepada Allah. Selagi kita bekerja sama dengan Roh Kudus, kita akan melihat Kerajaan Allah secara lebih nyata lagi dalam kehidupan kita. Berikut ini adalah beberapa langkah kecil yang dapat kita ambil:

  • Mulailah setiap hari dengan doa pribadi selama 10 sampai 15 menit. Mintalah Roh Kudus untuk menggerakkan anda, mengajar anda, dan membentuk anda.
  • Sediakanlah waktu setiap hari untuk membaca sabda Allah dalam Kitab Suci, teristimewa keempat kitab Injil, di mana Yesus dinyatakan sebagai Penebus kita dan juga sebagai model kehidupan yang tersedia bagi kita oleh Roh.
  • Jalani kehidupan anda sepanjang hari dengan kepercayaan penuh bahwa Allah mengetahui setiap hal yang anda alami, dan bahkan berbagai kesulitan dan godaan memainkan peranan dalam rencana-Nya bagi keselamatan anda.
  • Setiap malam, lakukan peninjauan kembali atas hari bersangkutan. Berterima kasihlah kepada Allah untuk berkat-berkat-Nya dan bertobatlah atas segala hal yang tidak berkenan di mata Allah. Dengan demikian, kita dapat memulai hari esok dengan suatu hati-nurani yang jernih.

DOA: Tuhan Yesus, aku mengabdikan hidupku sepenuhnya bagi-Mu dan bagi kedatangan Kerajaan-Mu di tengah dunia. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu, cabutlah sampai ke akar-akarnya segala hal yang merampas serta merebut tempat-Mu dalam kehidupanku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:24-34), bacalah tulisan yang berjudul “PERKENANKANLAH ALLAH MEMELIHARA KITA” (bacaan tanggal 22-6-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-06 BACAAN HARIAN JUNI 2013. Bacalah juga tulisan yang berjudul “BAPA SURGAWI YANG SANGAT MENGASIHI KITA SEMUA” (bacaan tanggal 23-6-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-6-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 Juni 2013 [HARI MINGGU BIASA XI] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JALAN YESUS, JALAN PAULUS, SEHARUSNYA MENJADI JALAN KITA

JALAN YESUS, JALAN PAULUS, SEHARUSNYA MENJADI JALAN KITA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Aloisius Gonzaga, Biarawan Yesuit – Jumat, 21 Juni 2013) 

Karena banyak orang yang bermegah  secara duniawi, aku mau bermegah juga.

ST. PAUL - 129

Tetapi jika orang-orang lain berani membanggakan sesuatu, maka aku pun – aku berkata dalam kebodohan – berani juga! Apakah mereka orang Ibrani? Aku juga orang Ibrani! Apakah mereka orang Israel? Aku juga orang Israel. Apakah mereka keturunan Abraham? Aku juga keturunan Abraham! Apakah mereka pelayan Kristus? – aku berkata seperti orang gila – aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; menanggung pukulan di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali menanggung pukulan oleh orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku menderita pukulan, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian, dan tanpa menyebut banyak hal lain lagi, bebanku sehari-hari, yaitu keprihatinanku terhadap semua jemaat. Jika ada orang merasa lemah, tidakkah aku turut merasa lemah? Jika ada orang tersandung, tidakkah hatiku hancur oleh dukacita?

Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku. (2Kor 11:18,21b-30)

Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-7; Bacaan Injil: Mat 6:19-23

Santo Paulus mungkin adalah seorang misionaris paling ambisius yang pernah hidup di dunia. Dia melakukan perjalanan misionernya melalui banyak tempat seperti yang dapat kita baca dalam ‘Kisah para Rasul’, dia memberitakan Kabar Baik Yesus Kristus ke mana saja dia dan rombongannya berkunjung. Akan tetapi, semua keberhasilan besar ini terwujud tidak tanpa “biaya” dalam berbagai bentuk pengejaran dan penderitaan yang harus ditanggungnya.

Apabila kita membaca kembali apa saja yang telah dialami oleh Paulus (yang ditulisnya belum semuanya; lihat 2Kor 11:28), kita dapat bertanya penuh ketakjuban, “Bagaimana Paulus dapat bertahan?” Paulus membayar “biaya” ini dengan penuh sukacita karena dia memandang dirinya memperoleh privilese untuk boleh mengikuti jejak sang Guru. Seperti Yesus, yang tetap setia pada misinya sampai akhir, Paulus melihat jauh melampaui segala pencobaan yang dialaminya; dia fokus pada tujuan akhir: memajukan Kerajaan Allah!

Para misionaris Kristiani di sepanjang sejarah telah mengikuti jalan yang serupa. Untuk menyebarkan Injil dan mendirikan gereja-gereja (jemaat-jemaat) baru, mereka telah mengalami segala macam kesulitan dan penganiayaan di segenap penjuru dunia. Namun ini bukanlah sekadar kisah-kisah dari masa lalu kita. Pada zaman sekarang pun, banyak sekali misionaris dengan berani bekerja untuk memajukan Kerajaan Allah, meskipun senantiasa terancam oleh pihak penguasa yang tidak sejalan.

Misalnya, tidak sedikit imam katolik Filipina yang bekerja di tengah-tengah para pekerja Filipina di negeri-negeri yang bukan Kristiani. Pada abad ke-20 saja, tercatat 400 orang biarawan OFM yang mati di seluruh dunia sebagai martir Kristus. Pernahkah kita mendengar tentang heroisme umat Kristiani  “gereja bawah tanah” di Tiongkok? Kalau ada kesempatan, wawancarailah para suster FMM di Hongkong.  Lebih dari satu abad mereka telah berkarya di Tiongkok, dan banyak dari para biarawati Fransiskanes itu sampai hari ini masih meringkuk di penjara-penjara di sana …… martir-martir hidup. Dan, mereka itu perempuan-perempuan! Ingatkah anda, bahwa pada tahun 1996 ada tujuh orang rahib Trapis di Aljazair yang mati dibunuh oleh sekelompok ektremis Islam.  Sekian tahun lalu ada dua orang misionaris muda dari Amerika, Heather Mercer dan Dayna Curry, yang ditangkap di Afghanistan oleh anggota Taliban dan ditahan untuk tiga bulan lamanya. Di banyak tempat di dunia ini (termasuk Indonesia), hari ini pun para pengikut Kristus masih mengalami kesulitan (dari kecil sampai besar) selagi mereka melaksanakan “Amanat Agung” yang diberikan oleh Yesus Kristus sendiri (lihat Mat 28:19-20) dan/atau sementara mereka menghayati kehidupan Kristiani yang sejati. Mereka juga mengikuti jalan yang telah dijalani oleh Yesus dan Santo Paulus, …… dan Kerajaan Allah pun maju terus. Kenyataan ini tidak dapat disangkal oleh siapa pun!

Pada hari ini, marilah kita mengenang para misionaris yang sudah meninggal dunia dan mengingat mereka yang masih berkiprah di mana saja. Kita juga berdoa memohon rahmat ilahi dan kemauan serta kemampuan untuk menanggung derita yang dapat mendatangi kita selagi kita mensyeringkan Yesus Kristus – Tuhan dan Juruselamat kita – kepada orang-orang lain.

DOA: Tuhan Yesus, semoga Kerajaan-Mu senantiasa maju terus. Kuatkanlah para misionaris-Mu, ya Tuhan, dan tolonglah mereka agar dapat mengatasi segala kesulitan dengan kuasa kasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:19-23), bacalah tulisan yang berjudul “MATA ADALAH PELITA TUBUH” (bacaan tanggal 21-6-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpressw.com; kategori: 13-06 BACAAN HARIAN JUNI 2013. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 17-6-11 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 11 Juni 2013 [Peringatan S. Barnabas, Rasul] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH MENGINGINKAN RELASI PRIBADI DENGAN KITA

ALLAH MENGINGINKAN RELASI PRIBADI DENGAN KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIKamis, 20 Juni 2013) 

YESUS MENGAJAR PARA MURID BAGAIMANA BERDOALagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa dengan banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi, janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu, berdoalah demikian: Bapa kami yang di surga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskankanlah kami daripada yang jahat. [Karena Engkaulah yang punya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.] Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Mat 6:7-15)

Bacaan Pertama: 2Kor 11:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-4,7-8

Apabila anda sungguh ingin menyentuh hati Allah dalam doa anda, dengarlah petunjuk yang diberikan oleh Yesus: Yakinlah bahwa Bapamu sudah mengetahui apa yang ada dalam hatimu. Anda mengetahui bahwa bahkan seekor burung gereja tak akan jatuh ke tanah tanpa perkenanan Allah, maka anda pun dapat merasa pasti bahwa Bapa surgawi mengetahui apa yang anda butuhkan, bahkan sebelum anda memintanya.

Allah senang apabila kita datang menghadap hadirat-Nya dengan penuh keyakinan. Ingatlah kekaguman Yesus atas iman seorang perwira Romawi yang datang kepada-Nya memohon kesembuhan bagi hambanya: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel” (Mat 8:10; Luk 7:9). Yesus sangat terkesan dengan perwira itu yang begitu mempercayai-Nya sehingga mengatakan bahwa Yesus tidak perlu datang ke rumahnya untuk membuat mukjizat kesembuhan. Jadi, karena Allah senang sekali memenuhi kebutuhan kita dan Ia telah merencanakan hal-hal yang baik bagi kita; Allah sungguh senang – amat senang, apabila kita datang kepada-Nya dengan penuh kepercayaan bahwa Dia pasti menolong kita.

GOD THE FATHER - 01Allah sebenarnya ingin melakukan lebih daripada sekadar memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita. Dia ingin mempunyai suatu relasi dengan kita masing-masing secara pribadi. Itulah sebabnya mengapa Dia menciptakan kita pada instansi pertama untuk mengenal-Nya. Allah bukanlah seperti sebuah ATM, dari mana kita dapat menarik uang yang kita butuhkan. Karena kasih-Nya yang tak terhingga, Ia mengutus Putera-Nya yang tunggal ke tengah dunia untuk menyelamatkan umat manusia menebus manusia dan membawanya ke dalam relasi yang hidup dan dinamis dengan diri-Nya. Dia  juga memberikan Roh-Nya agar dapat mengangkat kita ke hadapan takhta-Nya setiap kali kita berdoa.

Kita, orang zaman sekarang, menggunakan segala peralatan elektronik canggih – paling sedikit ponsel – untuk berhubungan dengan anggota-anggota keluarga kita sepanjang hari. Akan tetapi, Allah memberikan Putera-Nya sendiri dan mengutus Roh Kudus sehingga kita dapat berbicara kepada-Nya dengan lebih mudah daripada memakai sebuah ponsel. Apabila kita mengenal Allah secara pribadi, sebagai Bapa dan Sahabat, maka kita mulai merindukan kedatangan Kerajaan-Nya dan kehendak-Nya terjadi dalam hidup kita. Oleh karena itu, marilah kita mencoba cara-cara berdoa baru yang membuka pintu  bagi suatu relasi dengan Dia. Marilah kita dengan segala kejujuran dan penuh kepercayaan menghadap Allah sebagai anak-anak-Nya dan sahabat-sahabat-Nya, dan mohon kepada-Nya agar dapat mengenal-Nya secara lebih mendalam.

DOA: Bapa surgawi, aku sungguh mengasihi Engkau. Aku ingin mengenal Engkau secara pribadi. Aku tahu Engkau mengawasi aku dan memperhatikan diriku. Tunjukkanlah kepadaku pikiran-pikiran dan hasrat-hasrat-Mu. Aku merindukan suatu kedekatan dengan-Mu, ya Bapa, Tuhan Allahku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:7-15), bacalah tulisan yang berjudul “JADILAH KEHENDAK-MU DI BUMI SEPERTI DI SURGA” (bacaan tanggal 20-6-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-06 BACAAN HARIAN JUNI 2013. Bacalah juga tulisan yang berjudul “BELAJAR MENGAMPUNI DALAM NAMA YESUS” (bacaan tanggal 21-6-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-6-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 11 Juni 2013 [Peringatan S. Barnabas, Rasul] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BUKAN TINDAKAN-TINDAKAN PENUH KEMUNAFIKAN

BUKAN TINDAKAN-TINDAKAN PENUH KEMUNAFIKAN

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XI – Rabu, 19 Juni 2013) 

KHOTBAH DI BUKIT - 501“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga. Jadi, apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau menggembar-gemborkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

“Apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti seorang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan  berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Dengan demikian, Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

“Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Mat 6:1-6.16-18)

Bacaan Pertama: 2Kor 9:6-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-4,9 

Selagi Yesus berbicara mengenai kebenaran sejati yang diperlukan agar seseorang dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah, Ia juga mengemukakan bahwa apabila kita mengembangkan suatu relasi pribadi dengan Allah, maka hal itu dapat mentransformasikan diri kita.  Kebenaran lahiriah seperti ditunjukkan oleh banyak pemimpin agama pada zaman Yesus seringkali berakar pada kesombongan dan pemuliaan-diri sendiri. Sebaliknya, kebenaran sejati (Inggris: true righteousness) merupakan akibat dari relasi batiniah dengan Bapa surgawi (Mat 5:20). Pada waktu kita bertemu dengan kasih dan kebenaran Allah dalam doa, maka kita pun akan menjadi semakin serupa dengan Dia dan terhitung di antara orang-orang yang sungguh benar. Yesus berjanji bahwa Bapa akan memberi ganjaran berlimpah kepada orang yang hidupnya ditransformasikan dengan cara ini.

A  BEGGAR - 005Yesus menekankan bahwa doa, puasa dan pemberian sedekah dimaksudkan sebagai tanda-tanda kehidupan kita dengan Allah, bukan tindakan-tindakan penuh kemunafikan yang dilakukan demi dilihat/diakui oleh orang-orang lain. Tindakan-tindakan benar, yang diinspirasikan oleh kasih kepada Allah, barangkali tidak pernah akan terlihat oleh dunia, dan pribadi-pribadi yang sungguh benar tidak memegang sebuah daftar perbuatan-perbuatan baik mereka lalu mengumumkan perbuatan-perbuatan baik itu kepada setiap orang yang ditemui. Sebaliknya, mereka memberi tanpa hitung-hitung dan tanpa mencari-cari pengakuan sehingga “tangan kiri” tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh “tangan kanan” (Mat 6:3).

Allah akan membuat diri kita benar apabila kita datang menghadap hadirat-Nya dalam doa dan mencari kehendak-Nya setiap hari. Itulah sebabnya mengapa Yesus mengatakan kepada para murid-Nya untuk berdoa di tempat-tempat tersembunyi di hati mereka – sehingga mereka dapat mengenal kehadiran Bapa surgawi dan memperkenankan sentuhan-Nya mengubah hati mereka. Seperti dijanjikan oleh Yesus, kita akan diberi ganjaran yang melampaui imajinasi kita selagi kita mencari Allah dengan cara ini. Allah tidak pernah akan menolak dan mengusir kita pergi. Sebaliknya, Dia akan melembutkan hati kita sehingga kita dapat sungguh berdoa, berpuasa dan memberi sedekah dengan hati yang mencerminkan hati-Nya sendiri.

Dalam saat-saat kita bersama Allah, marilah kita mempertimbangkan kefanaan dunia dan berupaya untuk ikut membangun Kerajaan-Nya yang kekal. Umat Kristiani yang berdoa, berpuasa, dan memberi sedekah seturut cintakasih mereka kepada Allah akan menerima berkat berlimpah – baik sekarang maupun dalam kekekalan. Selagi kita menghadap hadirat Bapa dan memohon kepada-Nya untuk memenuhi diri kita dengan hidup-Nya dan kasih-Nya sendiri, maka Yesus dan Roh Kudus akan datang dan tinggal di dalam diri kita, memberdayakan kita untuk melakukan kehendak Bapa.

DOA: Tuhan Yesus, kami ingin memasuki tempat doa yang tersembunyi agar kami dapat sungguh-sungguh mengenal Engkau. Transformasikanlah diri kami oleh kasih-Mu agar kebenaran-Mu dapat mengalir melalui segala sesuatu yang kami lakukan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:1-6.16-18), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH TIDAKLAH KIKIR” (bacaan tanggal 19-6-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-06 BACAAN HARIAN JUNI 2013. Bacalah juga tulisan yang berjudul “DENGAN KEJUJURAN MARILAH KITA MELAWAN KEMUNAFIKAN” (bacaan tanggal 20-6-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Cilandak, 11 Juni 2013 [Peringatan S. Barnabas, Rasul] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SAMA SEPERTI BAPAMU YANG DI SURGA SEMPURNA

SAMA SEPERTI BAPAMU YANG DI SURGA SEMPURNA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XI – Selasa, 18 Juni 2013) 

YESUS SEORANG PEMIMPIN YANG TEGASKamu telah mendengar yang difirmankan, Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu: Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari  bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna.” (Mat 5:43-48)

Bacaan Pertama: 2Kor 8:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:2.5-9 

Dapatkah anda membayangkan bahwa pada suatu hari kelak anda masuk juga ke dalam surga, dan orang pertama yang anda temui di sana adalah orang yang paling anda tidak sukai ketika hidup di dunia? Bayangkanlah dengan serius! Ternyata Allah mengasihi orang itu dan memanggil dia kepada kesempurnaan juga. Atau, bagaimanakah dengan tokoh-tokoh jahat yang anda telah jumpai dalam Kitab Suci – seperti Firaun, Izebel, atau Raja Herodes? Mereka pun tidak berada di luar ruang lingkup niat-niat penuh kasih dari Allah! Apa yang diinginkan Allah bagi anda adalah juga yang diinginkan-Nya bagi orang yang menyusahkan anda, demikian pula dengan tiran-tiran yang paling buruk dalam sejarah – agar mereka “sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna” (Mat 5:48).

Ada satu lagi kejutan: Musuh anda dapat membantu anda bergerak maju untuk mencapai tujuan kesempurnaan yang terasa tidak mungkin. Begini ceritanya. Perintah bagi kita untuk menjadi sempurna mengemuka langsung setelah penjelasan Yesus tentang bagaimana seharusnya kita memperlakukan orang yang membenci kita: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga” (Mat 5:44-45). Dengan perkataan lain, apabila anda ingin menjadi sempurna, mulailah dengan mengasihi musuh-musuh anda.

Mungkin kita berpikir dan kemudian berkata seperti si penyanyi dangdut pria itu: “Terlalu!” Dilihat dari kacamata manusia memang “terlalu”, karena “mengasihi musuh-musuh kita” sungguh melampaui kekuatan manusiawi kita. Tidak mungkin menjadi kenyataan apabila Yesus tidak menderita dan wafat bagi kita! Dengan rahmat yang diperoleh-Nya lewat kematian dan kebangkitan-Nya, kita dapat mengikuti teladan cintakasih sempurna dan pengampunan yang diberikan Yesus dan mulai melaksanakan perintah-perintah-Nya.

Marilah kita bekerja sama dengan rahmat itu pada hari ini. Daripada kita memikirkan orang-orang yang bersalah kepada kita dan mulai mengumpat mereka dan berencana membalas dendam, jauh lebih benarlah apabila kita berdoa bagi mereka yang mendzolomi kita. Kita harus mengambil waktu untuk memikirkan apakah ada orang-orang lain juga yang harus kita kasihi secara lebih lagi. Mereka mungkin saja bukan “musuh” secara harfiah, melainkan orang-orang yang kita “tidak anggap”, “pandang rendah”, “pandang sebelah mata”, “lihat sebagai tidak pantas”.

Kita (anda dan saya)  harus memulainya dengan orang-orang yang terdekat, yaitu yang tinggal dalam rumah dan teman-teman di tempat kerja kita. Kita harus memperhatikan apa saja yang muncul dalam pikiran kita segala kita membaca surat kabar,  menonton televisi atau melihat sendiri seorang tuna wisma di tengah jalan yang ramai. Kita harus mohon pengampunan Allah bilamana kita menemukan kegagalan-kegagalan pribadi kita. Marilah kita membuka hati kita agar dapat menerima rahmat untuk suatu sikap yang lebih bermurah-hati. Apabila kita memanfaatkan setiap kesempatan untuk mengasihi, maka kesempurnaan Tritunggal Mahakudus akan memancar dari dalam diri kita.

DOA: Bapa surgawi, aku berterima kasih penuh syukur karena Engkau menciptakanku karena kasih dan demi kasih. Pada hari ini aku menerima rahmat-Mu yang mentransformasikan hidup dan mengambil satu langkah lagi menuju kesempurnaan seturut rencana-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:43-48), bacalah tulisan yang berjudul “HARUSLAH KAMU SEMPURNA” (bacaan tanggal 18-6-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-06  BACAAN HARIAN JUNI 2013. Bacalah juga tulisan yang berjudul “KASIHILAH MUSUHMU DAN BERDOALAH BAGI YANG MENGANIAYA KAMU” (bacaan tanggal 19-6-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-6-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 10 Juni 2013 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANGANLAH KAMU MELAWAN ORANG YANG BERBUAT JAHAT KEPADAMU

JANGANLAH KAMU MELAWAN ORANG YANG BERBUAT JAHAT KEPADAMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XI – Senin, 17 Juni 2013) 

KHOTBAH DI BUKIT - 100Kamu telah mendengar yang difirmankan, Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari kamu. (Mat 5:38-42)

Bacaan Pertama: 2Kor 6:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4 

“Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu” (Mat 5:39).

Seriuskah Yesus ketika mengatakan ini? Bagaimana dengan sahabatku yang telah mengkhianatiku? Walaupun Yesus telah berbicara tentang menghindari tindakan balas dendam, apa yang dikatakan-Nya itu sulit untuk diterima. Apakah Yesus sungguh serius ketika Dia mengatakan bahwa kita harus memberikan pipi kiri kita masing-masing apabila pipi kanan kita ditampar?

Ini sungguh merupakan ajaran keras! Akan tetapi, hal ini tidak berarti bahwa perintah Yesus ini harus kita abaikan. Apalagi, Yesus sendiri tidak menghindar dari hal seperti ini. Yesus telah menunjukkan bahwa pengampunan yang bersifat radikal tetap mungkin untuk dilakukan. Yesus menunjukkan contoh bagaimana mencapainya, yaitu dengan kasih. Kasihlah yang senantiasa mendorong serta menguatkan Yesus untuk tanpa lelah mewartakan Kerajaan Allah. Kasih juga yang memungkinkan diri-Nya untuk mengampuni, bahkan ketika Dia tergantung pada kayu salib. Dan apabila kita memutuskan untuk menerima ajaran keras-Nya, kasih Kristus yang bekerja dalam diri kita akan menolong kita untuk mempraktekkannya juga.

Memang, memahami motivasi Yesus bukanlah hal yang mudah. Namun ada langkah-langkah kecil yang dapat kita ambil selagi kita berusaha untuk memberi respons. Kita dapat tetap berdoa agar dapat dipenuhi dengan perspektif kasih-Nya. Memandang orang lain dengan mata yang berbelas kasih adalah sejalan dengan memangkas kecenderungan kita untuk membalas dendam. Barangkali dalam pekan ini kita dapat membuat kasih menjadi suatu tindakan dengan paling sedikit mencoba satu tindakan kebaikan terhadap seseorang yang telah menyakiti hati kita atau katakanlah telah mendzolomi kita. Barangkali kita dapat menjadi lebih serius dalam mengikuti desakan Roh Kudus – teristimewa yang menyentuh relasi-relasi yang sulit bagi kita. Berdoa syafaat untuk orang-orang yang berniat jahat terhadap kita juga dapat membantu menumbuhkan suatu sikap mengampuni seperti kita sendiri telah diampuni.

Langkah-langkah kecil ini pun membutuhkan upaya yang serius, demikian pula rahmat-Nya! Namun Allah telah mencurahkan Roh Kudus untuk membuat mungkin segala yang tidak mungkin. Yang perlu kita lakukan adalah tetap mencoba, dengan kesadaran bahwa Dia yang telah mulai suatu pekerjaan baik dalam diri kita akan menyelesaikannya.

DOA: Tuhan Yesus, walaupun aku melihat bahwa sebagian dari ajaran-Mu itu sangat sulit untuk diikuti, aku ingin dengan setia mengikuti Engkau sepanjang jalan-Mu. Aku menempatkan rasa percayaku dalam diri-Mu dan dalam kuasa-Mu yang menyelamatkan. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Mat 5:38-42), bacalah tulisan yang berjudul “BUKTI CINTAKASIH YANG PALING AGUNG” (bacaan tanggal 17-6-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-06 BACAAN HARIAN JUNI 2013. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-6-12 dalam situs/blog SANG SABDA] 

Cilandak, 9 Juni 2013 [HARI MINGGU BIASA X] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 72 other followers