HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS (4)

HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS (4)

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS – Jumat, 1 November 2013) 

landaue1

Lalu aku melihat seorang malaikat lain muncul dari tempat matahari terbit. Ia membawa meterai Allah yang hidup; dan ia berseru dengan suara nyaring kepada keempat malaikat yang ditugaskan untuk merusakkan bumi dan laut, “Janganlah merusak bumi atau laut atau pohon-pohon sebelum kami memeteraikan hamba-hamba Allah kami pada dahi mereka!”

Aku mendengar jumlah mereka yang dimeteraikan itu: Seratus empat puluh empat ribu yang telah dimeteraikan dari semua suku keturunan Israel.

Setelah itu aku melihat: Sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat dihitung jumlahnya, dari segala bangsa dan suku dan umat dan bahasa, berdiri di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. Dengan suara nyaring mereka berseru, “Keselamatan ada pada Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!” Semua malaikat berdiri mengelilingi takhta dan tua-tua dan keempat makhluk itu; mereka sujud di hadapan takhta itu dan menyembah Allah, sambil berkata, “Amin! Puji-pujian dan kemuliaan, dan hikmat dan syukur, dan hormat dan kekuasaan dan kekuatan bagi Allah kita sampai selama-lamanya! Amin!” Lalu salah seorang dari antara tua-tua itu berkata kepadaku, “Siapakah mereka yang memakai jubah putih itu dan dari manakah mereka datang?” Aku berkata kepadanya, “Tuanku, Tuhan mengetahuinya.” Lalu ia berkata kepadaku, “Mereka ini orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba. (Why 7:2-4,9-14)

Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6; Bacaan Kedua: 1Yoh 3:1-3; Bacaan Injil: Mat 5:1-12a 

Sejak awal eksistensinya, Gereja telah melakukan penghormatan bagi para martir dan pahlawannya. Apa yang dimulai pada tingkat populer-lokal perlahan-lahan terangkai ke dalam liturgi, diawali sekitar abad ke-4 dalam Doa Ekaristi. Pada abad ke-5, sebuah pesta untuk menghormati semua orang kudus dideklarasikan dalam beberapa gereja Timur, dan dari sana perayaan tersebut kemudian dilaksanakan di Roma. Pada tahun 835, Paus Gregorius IV [827-844] mendeklarasikan sebuah “Hari Semua Orang Kudus” sebagai hari pesta untuk seluruh Gereja.

Satu hari untuk memperingati para kudus sebenarnya merupakan satu hari untuk bergembira dalam kebesaran Tuhan dan pengharapan akan kasih-Nya. Kemenangan yang kita lihat dalam diri para kudus memberikan kesaksian tentang Tuhan sendiri. Bukan hanya upaya mereka sendiri yang menghasilkan kekudusan pribadi sedemikian, melainkan pekerjaan Tuhan sendiri yang ingin mencurahkan kepenuhan hidup Yesus ke dalam hati kita. Inilah yang telah menjadi pengharapan dan sukacita semua orang kudus, selalu dan di mana saja, dan merupakan pengharapan dan sukacita kita juga.

LAMB OF GOD - 6Kitab Wahyu berisikan sebuah visi tentang mereka yang telah ditebus Tuhan dan berkumpul di sekitar takhta Allah. “Mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba” (Why 7:14). Kemenangan mereka yang ditebus datang melalui darah Yesus, yang membasuh-bersih mereka, memurnikan mereka, dan memeteraikan mereka dengan janji akan kehidupan kekal.

Sesungguhnya, oleh iman, kuat-kuasa dari darah Kristus tersedia bagi kita setiap hari. Kita dapat berpaling kepada Yesus setiap saat dan memohon agar darah-Nya menutup dosa-dosa kita dan membersihkan kita. Kita dapat memohon kepada-Nya setiap saat untuk mencurahkan kuasa kematian dan kebangkitan-Nya guna memperkuat kita dan memampukan kita untuk hidup sebagai anak-anak Allah. “Betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah” (1Yoh 3:1). Kita adalah anak-anak Allah; Dia telah mengadopsi kita sebagai milik-Nya sendiri! Setiap hari, tangan Bapa diulurkan kepada kita dan kita mempunyai privilese besar untuk berada dekat-Nya.

Marilah kita memusatkan pandangan kita pada Anak Domba di tengah-tengah takhta yang telah berjanji untuk menjadi Gembala kita dan akan menuntun mereka ke “mata air kehidupan” (Why 7:17). Tuhan yang telah bekerja dalam kehidupan para kudus, sekarang siap untuk bekerja dalam diri kita apabila kita mau berpaling kepada-Nya. Allah kita – yang telah memilih kita untuk menjadi milik-Nya sendiri – adalah Allah yang mahasetia!

DOA: Roh Kudus Allah, murnikanlah hatiku. Bentuklah aku agar dapat menjadi sebuah bejana yang layak bagi kehadiran-Mu. Penuhilah diriku dengan keyakinan akan kasih Yesus dan kuat-kuasa-Nya di dalam diriku. Aku akan pergi ke mana saja Engkau menuntunku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (1Yoh 3:1-3), bacalah tulisan yang berjudul “HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS [5]” (bacaan tanggal 1-11-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2013. 

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:1-12a), bacalah tulisan berjudul “HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS [2]” (bacaan tanggal 1-11-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-11-12 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 22 Oktober 2013 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SIAPAKAH YANG AKAN MEMISAHKAN KITA DARI KASIH KRISTUS?

SIAPAKAH YANG AKAN MEMISAHKAN KITA DARI KASIH KRISTUS?

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXX – Kamis, 31 Oktober 2013) 

PAULUS - 2Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimana mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: Yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita? Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesengsaraan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: “Oleh karena engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap domba-domba sembelihan.” Tetapi dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang, melalui Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, atau sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. (Rm 8:31-39)

Mazmur Tanggapan: Mzm 109:21-22,26-27,30-31; Bacaan Injil: Luk 13:31-35 

Para pakar Kitab Suci memandang ‘Surat Santo Paulus kepada Jemaat di Roma’ sebagai masterpiece-nya, yang meliput banyak dari pemikiran teologisnya. Bab 8 – yang merupakan klimaks dari suratnya ini – memusatkan perhatiannya pada panggilan akan pertobatan yang berkesinambungan (ongoing conversion) selagi kita menghayati kehidupan “dalam Roh”.

Dalam seluruh bab 8 ini, Santo Paulus mengatakan kepada jemaat di Roma bahwa semua orang Kristiani mempunyai Roh Kudus yang hidup dalam hati mereka. Hal itu berarti bahwa kita semua dapat diberdayakan oleh Roh Kudus untuk hidup seturut perintah-perintah Allah dan untuk mengasihi seperti Yesus sendiri mengasihi. Paulus juga menjelaskan bahwa Roh Kudus dapat menolong kita untuk berdoa dan menolong kita mengatasi kelemahan-kelemahan kita selagi Dia membentuk kita masing menjadi anak-anak Allah yang sejati. Pada akhirnya, Paulus menyemangati jemaat di Roma dengan mengatakan bahwa setiap orang yang hidup dalam Roh “ditakdirkan” untuk suastu masa depan yang mulia – kehidupan kekal dengan Allah. 

Ayat-ayat terakhir dalam bab 8 ini sungguh menguatkan jemaat Roma atau setiap orang Kristiani yang membaca ayat-ayat itu. Paulus menyimpulkan, bahwa kita yang hidup dalam Roh tidak dapat gagal karena begitu banyak yang dianugerahkan-Nya kepada kita.Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” (Rm 8:31), teristimewa apabila kita mempunyai janji bahwa Allah tidak akan meninggalkan kita. …… “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus?” (Rm 8:35). Bagi anda yang mendoakan Ibadat Harian, tentunya ingat bahwa Rm 8:35,37 merupakan “bacaan singkat” pada Ibadat Pagi pada Hari Rabu II.

Hidup ini penuh dengan banyak godaan, bahaya dan dosa. Kuasa dosa itu ada di sekeliling kita, dan tidak ada seorang pun orang yang hidup di dunia hari ini yang tidak pernah menyerah pada kuasa dosa. Namun yang penting untuk kita ketahui dan camkan adalah, bahwa Yesus akan selalu menarik kita kembali kepada-Nya. Kasih-Nya  seperti magnet yang sangat kuat, yang terus menarik dan menarik orang-orang kepada diri-Nya. Tidak ada sesuatu pun – masa lalu kita, godaan yang paling kuat, atau roh jahat yang paling kuat – yang dapat memisahkan kita dari kasih Yesus bagi kita. Dengan demikian kita menjadi lebih dari sekadar pemenang biasa. Inilah yang ingin Yesus katakan kepada kita setiap hari.

DOA: Tuhan Yesus, kami merasa takjub dan terpesona ketika sadar bahwa kasih-Mu sungguh tak terbatas. Perkenankanlah sekarang kami menyembah-Mu dan berterima kasih penuh syukur karena Engkau sangat mengasihi kami semua. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 13:31-35), bacalah tulisan yang berjudul “YERUSALEM, YERUSALEM” (bacaan tanggal 31-10-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2013. 

Bacalah juga tulisan yang berjudul “YESUS HARUS MATI DI YERUSALEM” (bacaan untuk tanggal 27-10-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-10-11 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  18 Oktober 2013 [Pesta S. Lukas, Penulis Injil] 

 

Sdr.F.X. Indrapradja, OFS

SEBAB KITA TIDAK TAHU, BAGAIMANA SEBENARNYA HARUS BERDOA

SEBAB KITA TIDAK TAHU, BAGAIMANA SEBENARNYA HARUS BERDOA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXX – Rabu, 30 Oktober 2013) 

Keluarga Kapusin: Peringatan B. Angelus dr Acri, imam Biarawan

461px-StPaul_ElGrecoDemikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri menyampaikan permohonan kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, memohon untuk orang-orang kudus. Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya , supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya. (Rm 8:26-30)

Mazmur Tanggapan: Mzm 13:4-6; Bacaan Injil: Luk 13:22-30 

Mengapa Santo Paulus membahas pokok tentang doa di tengah-tengah pengajarannya tentang kuasa salib? Agak keluar rel-kah? Namun demikian, bagian ini dari suratnya merupakan salah satu sumber yang terbaik untuk membahas tentang doa. Mengapa? Karena salib Kristus sangat berurusan dengan hidup doa kita. Kita diminta untuk mati bersama Yesus terhadap cara-cara berpikir kita yang lama. Demikian pula Roh Kudus mengundang kita untuk mati terhadap cara-cara berdoa kita yang lama. Sungguh menakjubkan, Roh Kudus – Allah sendiri – ingin menjadi pembimbing rohani kita, bukankah begitu?

Seringkali doa-doa kita dapat begitu berpusat pada diri kita sendiri (self-centered), berkisar di sekitar apa saja yang telah kita lakukan secara salah atau apa saja yang orang-orang lain lakukan secara salah atas diri kita. Namun Roh Kudus ingin agar kita mengangkat akal-budi kita kepada Bapa surgawi sehingga dengan demikian kita dapat memandang-Nya dan merasa sangat senang dalam Dia, sama seperti Dia sangat senang dalam kita. Allah menginginkan agar doa kita dapat mengubah kehidupan, baik diri kita sendiri maupun diri orang-orang lain. Ia ingin mengutus kita ke tengah orang-orang yang membutuhkan kesembuhan, pertobatan,dan pengharapan sehingga mereka semua dapat menerima segala hal baik yang disediakan Allah bagi mereka.

ROH KUDUSSaudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus. Tahukah anda bahwa sang Guru Doa berdiam dalam diri anda masing-masing? Ia adalah sumber setiap niat baik yang bergejolak dalam hatimu.Cobalah untuk lebih memperhatikan keberadaan /kehadiran Roh Kudus ini. Carilah tahu tentang cara-cara-Nya Dia mendorong anda untuk berdoa, untuk menyembah, untuk berdoa syafaat bagi orang-orang lain, tentunya melampaui apa yang biasanya anda lakukan.

Oleh karena itu, manakala kita berdoa, marilah kita mencoba untuk mengheningkan pikiran kita dan membiarkannya “beristirahat” pada sepotong bacaan dalam Kitab Suci. Kita memohon kepada Roh Kudus untuk menyalakan api-cinta kepada Allah dalam diri kita masing-masing atau suatu pengenalan serta pengalaman akan kasih-Nya yang melampaui apa yang selama ini kita telah ketahui. Selagi kita melakukannya, sangat mungkinlah bahwa kita akan berdoa dengan cara-cara yang tidak pernah kita alami atau bayangkan sebelumnya. Misalnya, tidak seperti biasanya secara otomatis memohon kepada Allah untuk membuang situasi sulit yang sedang dihadapi, kita malah dapat diberikan wawasan perihal bagaimana Allah menggunakan situasi untuk tujuan-Nya yang baik. Paulus menulis, “Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Rm 8:28).

Saudari dan Saudariku yang dikasihi Kristus, kemana pun Ia memimpin kita, yakinilah bahwa Roh Kudus mempunyai rencana yang jauh lebih besar dan mulia bagi doa-doa kita daripada apa yang dapat kita bayangkan!

DOA: Roh Kudus Allah, ajarlah aku bagaimana berdoa. Angkatlah pikiran dan hatiku agar dapat melihat pemikiran-pemikiran dan keprihatinan-keprihatinan-Mu. Berikanlah kasih-Mu lebih lagi kepadaku agar apapun yang terjadi atas diriku pada hari ini, hatiku tetap berpusat pada-Mu, ya Allahku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 13:22-30), bacalah tulisan yang berjudul “MELALUI PINTU YANG SEMPIT” (bacaan tanggal 30-10-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2013. 

Bacalah juga tulisan yang berjudul “BERRJUANGLAH UNTUK MASUK MELALUI PINTU YANG SEMPIT” (bacaan untuk tanggal 26-10-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM, “PINTU YANG SEMPIT” (bacaan tanggal 31-10-12) dalam situs/blog SANG SABDA. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-10-11 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 25 September 2013 [Pesta S. Lukas, Penulis Injil] 

 

Sdr.F.X. Indrapradja, OFS

PENGHARAPAN ANAK-ANAK ALLAH

PENGHARAPAN ANAK-ANAK ALLAH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXX – Selasa, 29 Oktober 2013)

Sebab aku yakin bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.

St Paul Icon 4000Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah akan dinyatakan. Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan dan kemuliaan anak-anak Allah. Sebab kita tahu bahwa sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. Bukan hanya mereka  saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yuaitu pembebasan tubuh kita. Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi, jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun. (Rm 8:18-25)

Mazmur Tanggapan: Mzm 126:1-6; Bacaan Injil: Luk 13:18-21 

Dalam percakapan sehari-hari betapa sering kita mendengar orang mengatakan, “Saya harap ……” , namun dalam artian yang justru bertentangan dengan makna sebelumnya. Ada aroma fatalisme dan sikap menyerah yang terkandung dalam kata-kata itu ketika diucapkan!  Seakan-akan pesan yang ingin disampaikan dengan kata-kata itu adalah seperti berikut ini: “Dalam hatiku, aku tahu bahwa hal ini sangat tidak mungkin sampai terjadi, namun aku terus berharap – siapa tahu, kan?”

Pentinglah bagi kita untuk tidak membiarkan sikap ini mengurangi (bahkan menghancurkan) pemahaman kita yang benar akan pengharapan Kristiani. Bagi mereka yang percaya dan telah dibaptis ke dalam Kristus, maka pengharapan adalah suatu keutamaan/kebajikan dan suatu karunia ilahi dari Roh Kudus. Pengharapan Kristiani berarti menantikan apa yang telah dijanjikan Allah dengan penuh keyakinan bahwa Dia akan memenuhi janji tersebut. Hal itu berarti percaya kepada Allah walaupun segala faktor pertimbangan yang ada mengatakan “tidak”. Seperti yang ditulis oleh Paulus: “Kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat” (Rm 8:25). Ditopang oleh pengharapan, kita dapat menaruh kepercayaan bahwa Allah akan memenuhi janji-janji-Nya pada saat yang tepat, meskipun tidak selalu harus sama dengan waktu dan cara seperti yang kita harap-harapkan.

ROHHULKUDUSKita telah menerima Roh Kudus dalam hati kita. Kita adalah anak-anak Allah dan para warga kerajaan-Nya. Kita adalah “ciptaan baru” dalam Kristus. Namun semua ini adalah seperti suatu benih yang ditanam dalam diri kita, yang harus bertumbuh dan matang. Oleh karena itu, inilah dasarnya dari pengharapan kita: bahwa benih kehidupan baru tidak akan mati, tidak akan menjadi busuk. Waktu-waktu kesusahan, kesulitan dan pencobaan tentu akan datang. Akan tetapi melalui semua itu, kita dapat berharap pada  Allah, yang berkomitmen penuh pada diri kita masing-masing dan telah berjanji untuk tidak meninggalkan kita. Karena kita percaya kepada-Nya, maka Allah akan bekerja dalam diri kita untuk membentuk diri kita dan memenuhi janji-janji-Nya.

Apakah anda sedang berada di tengah kesulitan? Apakah anda sedang mengalami godaan yang semakin intens? Apakah ada seseorang dalam hidup anda yang sungguh menyusahkan dan menyebalkan? Janganlah menyerah, Saudari dan Saudaraku! Ingatlah akan benih-iman! Dari titik awal yang kelihatan kecil dan tidak berarti – bahkan dari tindakan-tindakan iman kecil-sederhana – hal-hal besar akan terjadi. Allah akan memiliki kerajaan-Nya, dan Ia akan berkemenangan dalam hati semua orang yang menaruh diri mereka ditangan-tangan-Nya yang penuh kasih. Oleh karena itu, Saudari dan Saudaraku, janganlah pernah kita kehilangan pengharapan!

DOA: Bapa surgawi. Kuduslah Engkau, ya Allah yang Mahabaik. Aku percaya, tolonglah aku yang kurang percaya ini. Aku menaruh kepercayaanku pada tangan-tangan kasih-Mu. Aku percaya sepenuhnya akan janji-janji-Mu. Tolonglah aku agar dapat menunggu dengan sabar pemenuhan dari segala hal baik dari-Mu yang aku belum melihatnya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 13:18-21), bacalah tulisan yang berjudul “BIJI SESAWI DAN RAGI” (bacaan tanggal 29-10-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2013. 

Bacalah juga tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG BIJI SESAWI DAN RAGI” (bacaan tanggal 25-10-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM, dan/atau “BIJI SESAWI YANG BENAR (bacaan tanggal 30-10-12) dalam situs/blog SANG SABDA. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-10-11 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Oktober 2013 (Pesta S. Lukas, Penulis Injil] 

 

Sdr.F.X. Indrapradja, OFS

SANTO SIMON DAN SANTO YUDAS, RASUL-RASUL KRISTUS

SANTO SIMON DAN SANTO YUDAS, RASUL-RASUL KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Santo Simon dan Yudas, Rasul – Senin,  28 Oktober 2013) 

simonPada hari-hari itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul: Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, dan Andreas saudaranya, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus, Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot, Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat.

Lalu Ia turun dengan mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar: Di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon. Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; juga mereka yang dirasuk oleh roh-roh jahat disembuhkan. Semua orang banyak itu berusaha menyentuh Dia, karena ada kuasa yang keluar dari Dia dan menyembuhkan semua orang itu.  (Luk 6: 12-19) 

Bacaan Pertama: Ef 2:19-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5 

Hari ini kita merayakan Pesta dua orang  rasul yang kurang dikenal, yaitu Santo Simon orang Zelot dan Santo Yudas. Kita tidak dapat belajar banyak tentang mereka dalam keempat Injil. Kita tahu bahwa Simon dilahirkan di Kana dan dipanggil sebagai “orang Zelot” (lihat Mat 10:4; Luk 6:15). Kemungkinan besar dia mempunyai pandangan-pandangan politik sebuah kelompok radikal yang percaya bahwa semua cara (termasuk kekerasan) dapat dibenarkan guna mencapai kemerdekaan bangsa Yahudi. “Orang Zelot” pada umumnya berarti seorang anggota gerakan melawan pendudukan Roma di tanah Palestina yang dimulai pada tahun 63 SM.

Yudas adalah rasul yang pada waktu perjamuan terakhir bertanya kepada Tuhan Yesus, “Tuhan, apa sebabnya Engkau hendak menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?” (Yoh 14:22). Dalam “Surat Yudas”, Yudas menyandang predikat “hamba Yesus Kristus dan saudara Yakobus” (Yud 1:1) dan diidentifikasikan sebagai penulis “Surat Yudas” itu sendiri.  Namun banyak ahli mempunyai pandangan bahwa penulis surat tersebut menggunakan “nama samaran”. Para ahli ini bersepakat bahwa Yudas penulis surat (epistola) ini bukanlah anak Yakobus (Yudas bin Yakobus), seperti diidentifikasikan dalam Luk 6:16 dan Kis 1:13 sebagai salah seorang rasul. Dalam Mat 10:2-4 dan Mrk 3:16-19, yang muncul adalah nama “Tadeus”. Secara tradisional, Yudas diidentifikasikan dengan Yudas, salah seorang “saudara Tuhan” (Mat 13:55; Mrk 6:3; bdk. Kis 1:14; 1Kor 9:5). Identifikasinya dengan rasul Yudas dalam Yoh 14:22 masih dapat dipertanyakan.

Kendati Santo Simon dan Santo Yudas praktis telah “hilang” dalam sejarah yang serba tidak jelas, kita tahu dan yakin sekali bahwa Allah telah melakukan karya-rahmat dalam diri kedua orang rasul ini. Tentunya mereka – seperti para rasul lainnya – mempunyai banyak kesempatan untuk bersama sang Guru – melakukan tanya-jawab dengan-Nya serta menyadari dalam hati mereka masing-masing bahwa Guru dan Tuhan mereka sangat mengasihi mereka seperti juga halnya dengan para rasul/murid lainnya. Setelah menerima “Amanat Agung” dari Yesus sebelum kenaikan-Nya ke surga (Mat 28:19-20) dan mengalami pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta (Kis 2:1 dsj.), maka dapat dipastikan bahwa mereka pun dengan aktif mewartakan kabar baik keselamatan kepada dunia.

ST JUDEBaik Santo Simon maupun Santo Yudas menanggapi dengan benar rahmat yang telah dicurahkan Allah kepada mereka masing-masing. Oleh rahmat itu, mereka diberdayakan untuk percaya kepada Yesus dan melaksanakan misi-pelayanan yang telah disiapkan Allah bagi mereka masing-masing. Yesus juga mengharapkan tanggapan yang sama dari kita semua. Iblis tentunya selalu ingin meyakinkan kita bahwa rahmat Allah berada di luar jangkauan kita. Dalam hal ini kita harus yakin akan sebuah kebenaran yang tidak dapat ditawar-tawar lagi, yaitu bahwa rahmat dan segala kebaikan Allah kepada kita bukanlah disebabkan oleh kerja keras kita sendiri. Rahmat Allah dianugerahkan kepada kita secara bebas, secara gratis setiap saat dan setiap hari (Latin: gratia; gratis). Peran kita hanyalah untuk membuka hati dan menerima rahmat yang diberikan Allah itu.

Orang-orang yang dibaptis dalam nama Allah Tritunggal dan menghayati iman-kepercayaan kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka memperoleh privilese untuk mengalami rahmat Allah dalam hidup mereka. Namun sayangnya, kita kadang-kadang memperkenankan adanya berbagai rintangan yang menghalangi kita untuk memperoleh rahmat itu. Bisa saja hati kita sudah terpaku pada rencana-rencana lain yang mungkin bertentangan dengan rencana-rencana Yesus bagi kita. Barangkali juga kita terlalu memperkenankan (bahkan menikmati) pelanturan-pelanturan yang terjadi pada waktu kita berdoa dan kurang peka terhadap kehadiran Tuhan. Sementara kita membuang rencana-rencana kita dan menerima sepenuhnya apa yang dikehendaki Allah dari kehidupan kita, maka kita pun akan menjadi pelaksana yang lebih efektif dari rahmat-Nya. 

DOA: Bapa surgawi, Engkau telah memilih diriku untuk menjadi milik-Mu sendiri. Ampunilah dosa-dosaku karena tidak jarang aku membiarkan rahmat-Mu terhalang untuk masuk ke dalam hatiku. Aku terlalu sibuk berupaya lewat berbagai cara – namun dengan mengandalkan kekuatanku sendiri – untuk membuat diriku pantas menerima rahmat-Mu. Di lain pihak, aku juga sering terpengaruh oleh berbagai bentuk pelanturan pada waktu aku berdoa, aku bahkan menikmati pelanturan-pelanturan tersebut. Bapa yang baik, seperti halnya para rasul Kristus – Santo Simon dan Santo Yudas, perkenankanlah Roh Kudus-Mu membuat aku memiliki sikap reseptif terhadap rancangan-rancangan-Mu dan berani membuang rancangan-rancanganku sendiri. Hari ini, ya Bapa, datanglah kerajaan-Mu, baik dalam kehidupanku sendiri maupun dalam kehidupan orang-orang yang kutemui. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ef 2:19-22), bacalah tulisan yang berjudul “DUA ORANG RASUL KRISTUS YANG KURANG DIKENAL” (bacaan tanggal 28-10-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2013. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-10-11 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak,  16 Oktober 2013 [Peringatan S. Margareta Maria Alacoque, Perawan]

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ORANG YANG DIBENARKAN ALLAH

ORANG YANG DIBENARKAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXX [Tahun C] – 27 Oktober 2013) 

harold_copping_the_pharisee_and_the_publican_3001Kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus menyampaikan perumpamaan ini, “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezina  dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul dirinya dan berkata: Ya Allah kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah sedangkan orang lain tidak. Sebab siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Luk 18:9-14).

Bacaan Pertama: Sir 35:12-14, Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-3,17-19,23; Bacaan Kedua: 2Tim4:6-8,16-18 

Injil Lukas memiliki keprihatinan istimewa terhadap hal-ikhwal doa. Sebelumnya, Yesus mengajar kita bagaimana berdoa dengan memberikan kepada kita “Doa Bapa Kami”. Dua minggu yang lalu (Hari Minggu Biasa XXVIII tahun C), melalui cerita mengenai 10 orang kusta (Luk 17:11-19), Yesus mengingatkan kita akan kebutuhan untuk memuji dan bersyukur kepada Allah dalam doa-doa kita. Minggu lalu, dalam ‘perumpamaan tentang janda dan hakim yang tidak adil’ (Luk 18:1-8), Yesus mengindikasikan perlunya bagi kita untuk selalu berdoa tanpa jemu-jemu. Hari ini Yesus memberikan fondasi dari semua doa, titik awalnya, yaitu kerendahan hati.

Jika kita perhatikan dengan baik-baik, maka terasalah bahwa kata-kata orang Farisi itu  (meskipun dalam hati) bukanlah doa samasekali. Semua kata-katanya adalah semacam proklamasi tanpa rasa malu tentang berbagai hal yang dikiranya adalah keutamaan-keutamaan. Orang Farisi ini menggunakan Allah sebagai sebuah sounding board belaka untuk puji-pujiannya sendiri selagi dia mengambil semua kemuliaan dan kredit bagi dirinya sendiri. Karena dari kedalaman hatinya si Farisi sesungguhnya merasakan tidak memerlukan Allah, maka dia tidak meminta apa pun dari Allah. Sebagai akibatnya, dia tidak menerima apa-apa dari Allah, kecuali hukuman. Sebaliknya si pemungut cukai hanya dapat mengakui di hadapan Allah yang Mahakudus bahwa dirinya adalah seorang pendosa. Doa yang keluar dari hatinya yang terdalam adalah sebuah permohonan sederhana akan belaskasihan Allah. “Doa orang miskin menembusi awan, dan ia tidak akan terhibur sampai mencapai tujuannya” (Sir 35:17). Si Farisi hanya melihat dirinya, dan matanya buta terhadap sikap keliru/salahnya yang membenarkan dirinya sendiri. Si pemungut cukai memandang Allah dan matanya tertuju pada kebaikan Allah semata, untuk mana setiap orang memang tak pantas, termasuk kita sendiri.

Kita harus bersikap rendah hati di hadapan Allah. Tentu kita harus merasa rileks dan nyaman dengan Allah pada waktu kita berdoa. Tidak ada alasanlah untuk berpikir bahwa Allah adalah ‘seorang pribadi’ yang penuh murka. Bukankah Allah adalah Bapa kita sendiri dan kita adalah anak-anak-Nya? Karena Gereja adalah rumah Allah, maka Gereja adalah adalah rumah kita semua. Namun kita tidak pernah boleh melupakan fakta bahwa Allah adalah Allah. Kita tidak pernah dapat menjadi setara dengan Allah. Kita diundang masuk ke dalam rumah-Nya untuk ikut makan perjamuan Tuhan, akan tetapi hal ini tidak sama artinya dengan makan hamburger atau Bakmi Gajah Mada. Gereja adalah tempat yang suci di mana kita mendengarkan sabda Allah yang suci, dan ikut ambil bagian dalam kurban Putera-Nya yang ilahi. Tidak ada manusia mana pun dapat merasa dirinya pantas untuk privilese ini.

Pharisee and tax collectorMusa adalah salah seorang tokoh yang paling besar dalam Perjanjian Lama. Allah (YHWH) menampakkan diri kepada Musa di dalam nyala yang keluar dari semak duri. Semak itu menyala tetapi tidak dimakan api. Ketika Musa mendekati untuk menyelidiki mengapa semak duri itu tidak terbakar, YHWH berfirman: “Janganlah datang dekat-dekat; tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus” (Kel 3:5). Musa patuh pada perintah YHWH dan sebagai tanda hormatnya lebih lanjut kepada YHWH, Nusa kemudian menutup mukanya (Kel 3:6). Tidak ada seorang pribadi  mana pun yang lebih besar daripada Maria, namun ketika berhadapan dengan malaikat Gabriel yang membawa pesan Allah kepadanya, sang perawan dari Nazaret ini berkata dengan rendah hati: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan …” (Luk 1:38).

Ingatlah bahwa si Farisi dalam perumpamaan ini tidak merasakan dirinya memerlukan Allah, dan dia  tidak minta apa pun daripada-Nya. Sebaliknya, si pemungut cukai tahu sekali bahwa dirinya sangat membutuhkan Allah. Dengarlah apa yang diucapkannya: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” Bukankah ini kedengarannya seperti doa tobat di awal Misa Kudus? Pada kenyataannya suatu permohonan yang rendah hati begitu vital sehingga pada waktu roti/hosti dipecahkan kita bernyanyi/berkata: “Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia, kasihanilah kami!” Juga sebelum menyambut komuni, kita berkata: “Ya Tuhan, saya tidak pantas Engkau datang pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh.”

Yesus mengatakan, bahwa si pemungut cukai pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah, sedangkan si Farisi tidak: “Sebab siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Luk 18:14).

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih Engkau mengajar kami untuk selalu bersikap rendah hati di hadapan hadirat Allah, sehingga dengan demikian kami dibenarkan oleh-Nya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 18:9-14), bacalah tulisan yang berjudul “KITA SEMUA MEMBUTUHKAN RAHMAT DAN KERAHIMAN ALLAH” (bacaan tanggal 27-10-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2013. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-10-10 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 Oktober 2013 [Peringatan S. Teresia dr Avila, Perawan & Pujangga Gereja]

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HIDUP OLEH ROH

HIDUP OLEH ROH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Sabtu, 26 Oktober 2013) 

ST. PAUL - 126Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Sebab Roh yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut. Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tidak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan mengutus Anak-Nya sendiri sebagai manusia yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa dan untuk menghapuskan dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging. Supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam hati kita yang tidak hidup menurut daang, tetapi menurut Roh. Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh. Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena keinginan itu tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.

Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah tinggal di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena pembenaran. Jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, tinggal di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya yang tinggal di dalam kamu. (Rm 8:1-11)

Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6; Bacaan Injil: Luk 13:1-9 

Dari bacaan Kitab Suci kita menjadi mengerti bahwa “kita telah mati terhadap dosa, tetapi kita hidup lagi bagi Allah dalam Kristus Yesus” (lihat Rm 6:11). Kepada kita juga diberikan “Amanat Agung” oleh Yesus untuk menjadikan segala bangsa menjadi murid Yesus (Mat 28:19). Kita adalah “garam bumi” dan “terang dunia” (Mat 5:13,14; bdk. Flp 2:15),  untuk menjadi “sempurna” (Mat 5:48),  dan “hidup berdamai seorang dengan yang lain” (Mrk 9:50). Kita harus mengasihi Allah dengan segenap hati kita, segenap jiwa kita, segenap kekuatan kita, dan segenap akal-budi kita; untuk mengasihi sesama kita – bahkan musuh-musuh kita – seperti diri kita sendiri (lihat Luk 6:27; 10:27).

Adakah panggilan yang mungkin lebih menakutkan atau mengecilkan hati kita? Terpujilah Allah karena masih ada pengharapan, karena sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus” (Rm 8:1). – tidak ada penghakiman atas diri kita, tidak ada penghukuman, tidak ada kutukan menantikan kita. Karena mereka yang dalam dirinya berdiam Roh Kudus, semuanya yang pantas kita terima di bawah hukum Taurat disingkirkan oleh kematian dan kebangkitan Yesus (lihat Rm 8:3-4).

Melalui Roh Kudus yang diam dalam hati dan akal-budi kita, kita dapat melakukan lebih banyak lagi daripada sekadar belajar bagaimana menyenangkan Allah. Kita juga dapat menerima kuasa ilahi untuk memenuhi panggilan kita! Inilah yang dimaksudkan oleh Santo Paulus ketika dia mengatakan bahwa Roh Kudus akan membawa kehidupan, baik untuk roh kita maupun tubuh kita (lihat Rm 8:10-11). Paulus mengetahui  bahwa selagi kita memakai akal-budi kita untuk hal-hal yang menyangkut Tuhan (yang ilahi) – melalui doa, pembacaan sabda Allah dalam Kitab Suci, dan senantiasa waspada terhadap suara Roh – maka kita akan mulai mengalami Allah yang menggerakkan diri kita dengan cara-cara yang berbeda, dan kita pun akan menemukan diri kita hidup dengan suatu pengharapan yang lebih besar, demikian pula halnya dengan entusiasme kita dan ekspektasi-ekspektasi kita.

Apabila kita “hidup dalam Roh” secara ini, maka kita berada dalam suatu posisi yang indah! Kita mengalami kebenaran agung seperti ditulis Paulus: “… aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:20). Ya, kita akan berjuang. Bahkan kadang-kadang kita akan gagal juga. Akan tetapi kita juga akan mengetahui bahwa kita tidak akan dikalahkan oleh maut. Kita semua dapat mempunyai pengharapan, karena kuasa Roh yang bekerja dalam diri kita itu tanpa batas kapasitas. Bersama para kudus kita dapat mengetahui lebar, panjang, tinggi dan kedalaman kasih Kristus. Dengan demikian diri kita pun dapat dipenuhi oleh Roh-Nya.

DOA: Roh Kudus Allah, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau sudi hidup dalam diriku. Terima kasih, karena aku tidak perlu lagi mengandalkan kekuatanku sendiri. Sekarang aku dapat mengetahui pikiran dan hati Bapa, dan melalui kuasa-Mu dan bimbingan-Mu, menghayati suatu kehidupan yang menyenangkan-Nya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:54-59), bacalah tulisan yang berjudul “ASALKAN KITA MAU BERTOBAT” (bacaan tanggal 26-10-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2013. 

Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “DOSA MANUSIA, KASIH ALLAH DAN PERTOBATAN” (bacaan tanggal 22-10-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM dan “PERTOBATAN MANUSIA DAN KESABARAN ALLAH” (bacaan tanggal 27-10-12) dalam situs/blog SANG SABDA. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-10-11 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 Oktober 2013 [Peringatan S. Teresia dr Avila, Perawan & Pujangga Gereja] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 78 other followers