SELAMAT HARI NATAL KEPADA SAUDARI-SAUDARA SEKALIAN

SELAMAT HARI NATAL KEPADA SAUDARI-SAUDARA SEKALIAN

merry-christmas-card

 Cilandak, 25 Desember 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEPUCUK SURAT NATAL

Cilandak, 25 Desember 2013

Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus,

“Sesungguhnya anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel.” (Yang berarti Allah menyertai kita.) (Matius 1:23 TB II-LAI)

“Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.” (Matius 28:20 TB II-LAI)

Dua ayat di atas, yang dikedepankan pada awal dan akhir Injil Matius menekankan kehadiran yang tetap dari Yesus di tengah-tengah kita di dunia ini. Dua ayat penuh makna ini pun menentukan nada dari perayaan Adven dan Natal kita.

Pada Hari Raya Natal tahun ini, kita sekali lagi merayakan sebuah peristiwa sangat istimewa yang terjadi sekitar dua ribu tahun lalu, pada saat mana Yesus menjadi Imanuel – Allah yang menyertai kita. Namun kita akan melakukan lebih daripada sekadar mengenangkan suatu peristiwa historis. Kita akan merayakan kenyataan bahwa sejak saat kelahiran-Nya sampai akhir zaman, Yesus senantiasa menyertai kita semua, mengampuni kita, mengasihi kita dan membimbing kita masing-masing sepanjang perjalanan ziarah kita di tengah dunia ini.

SELAMAT HARI NATAL DAN TAHUN BARU 2014 !!!

Marilah kita memuji-muji nama Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita, sekarang dan selama-lamanya.

Salam persaudaraan,

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARILAH KITA MENYAMBUT SAUDARA KITA

MARILAH KITA MENYAMBUT SAUDARA KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus Siang, Hari Raya Natal – Rabu, 25 Desember 2013) 

BSNBI019

Pada mulanya ada Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia datang sebagai saksi untuk bersaksi tentang terang itu, supaya melalui dia semua orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus bersaksi tentang terang itu. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan melalui Dia, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik-Nya, tetapi orang-orang milik-Nya itu tidak menerima-Nya. Namun semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang dilahirkan bukan dari darah atau dari keinginan jasmani, bukan pula oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan tinggal di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh anugerah dan kebenaran. Yohanes bersaksi tentang Dia dan berseru, “Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian daripada aku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.”  Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima anugerah demi anugerah; sebab hukum Taurat diberikan melalui Musa, tetapi anugerah dan kebenaran datang melalui Yesus Kristus. Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya. (Yoh 1:1-18) 

Bacaan Pertama: Yes 52:7-10; Mazmur Tanggapan: 98:1-6; Bacaan Kedua: Ibr 1:1-6

Ucapan “Selamat Natal!” terdengar di mana-mana pada hari ini, baik diucapkan keras-keras maupun dengan suara yang lemah lembut disertai cipika-cipiki; dapat juga lewat telpon, lewat sms, bbm, e-mail, kartu Natal dlsb. Namun begitu mudahnya kita mengucapkan “Selamat Natal” ini secara rutin, maklum orang-orang kota besar yang selalu sibuk (busy-busy) …… senantiasa on the move! Pada hari yang sangat penting seperti Hari Raya Natal ini, Allah ingin agar kita merenungkan “misteri agung” yang kita rayakan ini – sebuah misteri yang kedalamannya sangat mengherankan dan sekaligus membuat kita merasa takjub. Injil Yohanes mengingatkan serta menghibur hati kita yang berbeban berat, bahwa Allah melakukan segalanya yang mungkin agar kita diselamatkan, berapa pun biayanya.

Dalam diri Yesus, Allah Bapa mengutus  “Yang Sulung” dari umat manusia (Rm 8:29; 1Kor 15:20,23; Kol 1:15,18, Ibr 1:6). “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yoh 1:3). Yesus itu bagaikan tangan Allah guna menyelamatkan manusia dari kedalaman lembah kedosaan kita, sehingga dengan demikian kita dapat masuk ke dalam relasi yang hidup dengan Dia.

205567Sabda dan Terang Allah. Yesus adalah sang Sabda (Firman) yang berkata bahwa Allah rela mengorbankan Putera-Nya yang tunggal daripada tidak dapat mengumpulkan bersama seluruh keluarga-Nya. Yesus adalah sang Sabda yang mengatakan kepada kita, bahwa Bapa di surga tidak ingin kehidupan kekal tanpa keberadaan kita, sebagai anak-anak-Nya. Dia juga berkata, bahwa kita bukanlah sekadar debu dan abu. Kedatangan Yesus ke tengah-tengah kita di dunia mengungkapkan kasih Allah yang tidak menghitung-hitung biaya untuk membawa kita kembali kepada-Nya. Hal itu mengatakan kepada kita, bahwa kita sungguh berarti bagi-Nya, bahwa Allah mengasihi kita dengan sangat mendalam, bahkan kita memberikan sukacita kepada-Nya dengan menjadi anak-anak-Nya yang baik.

Kasih mendalam dari Allah Bapa dinyatakan dalam diri Yesus Kristus – “Sabda yang menjadi daging” atau “Firman yang menjadi manusia” (Yoh 1:14). Oleh karena itu sepantasnyalah apabila kita menyambut Dia dengan penuh hasrat pada hari ini, mengakuti diri-Nya sebagai seorang “Saudara” yang menderita karena ditolak oleh ciptaan-Nya sendiri: “Ia datang kepada milik-Nya, tetapi milik-Nya itu tidak menerima-Nya” (Yoh 1:11). Walaupun Saudara kita ini sejak awal ada bersama-sama Allah dan Dia adalah Allah, dan segala sesuatu dijadikan oleh-Nya (Yoh 1:2-3), Dia datang ke tengah dunia untuk hidup bersama-sama dengan kita-manusia, …… ke dalam sejarah kehidupan manusia yang dibatasi ruang dan waktu.

Marilah kita membayangkan Yesus bersama Bapa pada saat penciptaan: “TUHAN (YHWH) telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya, sebagai perbuatan-Nya yang pertama-tama dahulu kala. Sudah pada zaman purbakala aku dibentuk, pada mula pertama, sebelum bumi ada. Sebelum air samudera raya ada, aku telah lahir, sebelum ada sumber-sumber yang sarat dengan air. Sebelum gunung-gunung tertanam dan lebih dahulu daripada bukit-bukit aku telah lahir; sebelum Ia membuat bumi dengan padang-padangnya atau debu daratan yang pertama. Ketika Ia mempersiapkan langit, aku di sana, ketika Ia menggaris kaki langit pada permukaan air samudera raya, ketika Ia menetapkan awan-awan di atas, dan mata air samudera raya meluap dengan deras, ketika Ia menentukan batas kepada laut, supaya air jangan melanggar titah-Nya, dan ketika Ia menetapkan dasar-dasar bumi, aku ada serta-Nya sebagai anak kesayangan, setiap hari aku menjadi kesenangan-Nya, dan senantiasa bermain-main di hadapan-Nya; aku bermain-main di atas muka bumi-Nya dan anak-anak manusia menjadi kesenanganku.” (Am 8:22-31). Seperti tokoh Hikmat yang baru digambarkan tadi, Yesus bergembira dalam kita sejak awal. Sekarang Ia telah datang untuk menunjukkan kepada kita kesenangan-Nya kepada kita secara pribadi.

Yesus adalah “Terang yang bercahaya di dalam kegelapan” (Yoh 1:5). Ia datang untuk menghancurkan pekerjaan-pekerjaan si Jahat, yang hanya dapat melawan rancangan-rancangan Allah saja. “Allah telah menciptakan manusia untuk kebakaan, dan dijadikan-Nya gambar hakekat-Nya sendiri. Tetapi karena dengki setan maka maut masuk ke dunia, dan yang menjadi milik setan mencari maut itu” (Keb 2:23-24). Sebagai Allah, dan juga sebagai Dia yang ikut ambil bagian dalam kondisi manusiawi kita yang dina, Yesus bertemu dengan musuh-Nya dan mengalahkan dia dengan biaya darah-Nya sendiri.

infant-jesus-born-16Tuhan dan Saudara kita. Apa tolok ukur dari seorang sahabat yang sejati? Seseorang yang berdiri di samping kita, bahkan ketika kita tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya. Sahabat-sahabat sejati duduk dalam ruangan di rumah sakit menemani kita pada saat-saat kita sakit, menolong kita membangun rumah kita, menghibur kita pada saat-saat kita mengalami kegelapan dan kehilangan. Kita mengetahui bahwa para sahabat ini mengasihi diri kita karena yang mereka lakukan mengandung biaya. Bagi Yesus – yang paling sejati dari para sahabat – biaya mengasihi kita adalah nyawa-Nya sendiri – biaya yang dengan gembira dibayar oleh-Nya.

Memang sulitlah bagi kita untuk membayangkan kenyataan bahwa Allah Bapa dan Putera sangat senang dengan kita. Namun demikian, biarlah kebenaran ini mengendap, dan janganlah sampai dibuang. Apa yang dipikirkan Allah tentang kita lebih penting daripada apa yang dipikirkan oleh orang-orang lain. Jadi, bagaimana pun “tak masuk akal”-nya hal itu di mata kita, Allah mengasihi kita sebagai anak-anak-Nya dan melihat Putera-Nya sendiri, “Terang manusia”, berdiam dalam diri kita masing-masing (Yoh 1:4). Allah adalah bagi kita dan telah merencanakan bahwa kita harus mengenal-Nya. Dia ingin membuat suatu kejutan – surprise –  bagi kita dengan pengetahuan bahwa kita adalah milik-Nya, walaupun kita merasa bukan milik siapa pun dalam dunia ini.

Pada hari ini, biarlah Bapa surgawi mengatakan kepada kita betapa dalam Ia mengasihi kita. Kalau dimungkinkan, baiklah kita menyediakan waktu untuk memandang “kandang Natal” dalam keheningan. Pada saat itu, baiklah kita merenungkan keagungan rancangan Allah untuk menjadi satu dengan kita anak-anak-Nya. Marilah kita menyambut kedatangan Yesus ke tengah dunia dan ke dalam hati kita dengan cara baru pada hari ini, dan berterima kasih penuh syukur kepada-Nya karena sudi menjadi seorang Saudara kita ……, seorang Saudara yang sangat mengasihi kita masing-masing, bagaimana pun tidak sempurnanya kita.

DOA: Yesus, Tuhanku dan Saudaraku, perkenankanlah aku memandang Engkau, teristimewa pandangan mata-Mu. Engkau turun dari tempat yang tinggi untuk menemukan diriku. Engkau membayar biaya yang begitu besar untuk membawa aku kembali kepada Bapa surgawi. Aku sungguh mengasihi Engkau, ya Tuhan dan Juruselamatku. Aku sungguh ingin senantiasa bersama-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil untuk Misa Kudus Siang hari ini (Yoh 1:1-18), bacalah tulisan yang berjudul “KARENA KASIH-NYA, ALLAH MRENDAHKAN DIRI-NYA” (bacaan tanggal 25-12-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2013. 

Untuk mendalami Bacaan Injil Misa Kudus Malam (Luk 2:1-14), bacalah tulisan yang berjudul “TIGA NAMA PENTING” (bacaan tanggal 25-12-12), dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Untuk mendalami Bacaan Kedua Misa Kudus Siang (Ibr 1:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “YANG TERBARING DALAM PALUNGAN ADALAH SANG ROTI KEHIDUPAN” (bacaan tanggal 25-12-10) dalam situs/blog SANG SABDA. 

Cilandak, 21 Desember 2013 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

NATAL DAN MIMPI PERDAMAIAN

NATAL DAN MIMPI PERDAMAIAN

Oleh: I. Suharyo 

Mgr_Ign_Suharyo_02“Kita mimpikan suatu dunia yang bebas dari kekerasan. Dunia dengan keadilan dan harapan. Setiap orang hendaknya mengulurkan tangan kepada sesamanya, tanda damai dan persaudaraan.” 

Kalimat ini merupakan bagian dari lirik lagu “The Prayer” yang sejak diperdengarkan untuk pertama kali sampai sekarang tetap sangat popular. Kata-kata kunci yang terdapat di dalam lagu itu, seperti keadilan, harapan, damai, persaudaraan, dan bebas dari kekerasan, merupakan kata-kata yang sangat dekat dengan kerinduan hati terdalam setiap pribadi manusia. Selain karena melodinya indah, lagu itu amat popular karena kata-katanya mampu menyentuh rasa perasaan manusia yang paling dalam.

Dalam Pesan Natal Bersama Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia bersama dengan Konferensi Waligereja Indonesia. Tahun 2013, semua umat Kristiani diajak berdoa mohon damai, khususnya bagi Tanah Air tercinta Indonesia, dan damai untuk seluruh umat manusia.

Dalam sejarah sampai sekarang, umat manusia tidak pernah bebas dari berbagai macam konflik, kekerasan, perang, dan berbagai kejahatan yang merusak wajah Allah Sang Kasih, merendahkan martabat manusia dan merusak lingkungan hidup. Semuanya itu menghalangi terwujudnya damai yang sejati. Damai sejati adalah keadaan ketika relasi manusia dengan Allah, relasi manusia dengan manusia, dan relasi manusia dengan alam serasi, harmonis, tidak tercederai apa pun.

Tiga masalah

Damai adalah realitas kompleks yang menyangkut semua segi dari relasi-relasi itu. Dengan latar blekang inilah, PGI dan KWI menyebut tiga masalah yang dianggap menyebabkan damai masih jauh dari yang dicita-citakan di negeri kita: intoleransi, korupsi, dan perusakan alam. Berita mengenai intoleransi amat seering dikabarkan di sejumlah media massa. Beberpa komunitas pegiat HAM tak kenal lelah mendesak pemerintah menuntaskan pelanggaran terhadap kebebasan beragama dan berkeyakinan.

Lembaga Bantuan Hukum Bandung mencatat, sejak Januari sampai 10 Desember 2013, di Jawa Barat saja terjadi 72 kasus pelanggaran HAM terkait kebebasan beragama dan berkeyakinan. Yang tampil ke permukaan sebagai masalah agama, bisa saja menyembunyikan masalah lain, seperti ketidakadilan sosial atau politik kekuasaan. Namun, akhirnya yang amat menentukan adalah keyakinan mengenai agama itu sendiri. Ada bahaya bahwa agama tidak dilihat dan diyakini sebagai kumpulan ajaran, kepercayaan, norma, dan nilai, tetapi sekadar sebagai pengelompokan sosial.

Kalau demikian, agama hanya menjadi kelompok yang terbentuk oleh keanggotaan, tidak sampai menjadi komunitas yang disatukan nilai yang diyakini dan dianut bersama. Dengan paham seperti itu, dengan mudah, dengan mudah, orang tidak menyembah Tuhan, tetapi menyembah agama. Agama dibela, bahkan dengan kekerasan, kalau perlu dengan mengorbankan manusia yang dianggap berbeda kelompoknya.

Dalam keadaan seperti ini, kebebasan beragama dan berkayakinan berada dalam bahaya dan damai sejahtera yang kita rindukan akan sulit dirasakan. Dalam konteks ini, kebebasan beragama dan berkayakinan harus diyakini sebagai jalan menuju damai yang sejati (Benediktus XVI, Hari Perdamaoian Sedunia, 1 Januari 2011).

Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan 9 Desember sebagai Hari Antikorupsi Sedunia. Dalam rangka menyambut peringatan itu, Ketua KPK Abraham Samad menuliskan di Papan Harapan Menuju Indonesia Tanpa Korupsi, “Jauhkan hidup dari keserakahan dan ketamakan karena keserakahan adalah cikal bakal dari perilaku korupsi” (Kompas, 11/12/2013, hlm 3). Keserakahan memang cikal bakal korupsi, tetapi lebih daripada itu adalah berhala (Ef 5:5) yang semakin banyak penyembahnya.

Warga masyarakat biasa sering bertanya, bagaimana mungkin ketika KPK begitu gencar mengejar koruptor, tetap saja korupsi terjadi di mana-mana dan terkesan meluas? Amat sedih membaca catatan Kementerian Dalam Negeri yang mengatakan bahwa sejak tahun 2005 sampai 2013, terdapat 277 gubernur, wali kota, atau bupati yang terlibat kasus korupsi.

Adapun anggota DPRD yang terjerat hukum sudah mencapai 3.000 orang (Suara Pembaharuan, 9/12/2013, hlm 1). Menurut Indeks Persepsi Korupsi, Indonesia ada di urutan ke 114 dari 177 negara dengan angka 32.

Munculnya istilah peyoratif trias koruptika atau regenerasi korupsi mencerminkan betapa seriusnya masalah korupsi di negeri kita ini. Kejahatan korupsi adalah realitas yang amat kompleks yang asal-usulnya dari berbagai macam elemen, dari agama, pendidikan, sistem, pribadi, dan hukum.

Dengan demikian, kejahatan korupsi harus dikeroyok dari berbagai macam jurusan dan oleh berbagai macam lapisan. Memperingati Hari Antikorupsi dapat menjadi gerakan bersama yang akan berbuah pada waktunya.

Kehancuran lingkungan

Luasnya masalah kerusakan dan perusakan lingkungan hidup dapat dirasakan kalau disadari bahwa lingkungan hidup adalah segala sesuatu yang ada di sekitar makhluk hidup, termasuk manusia, berupa benda, daya, dan keadaan yang mempengaruhi kelangsungan makhluk hidup, baik langsung maupun tidak langsung (UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup).

Kerusakan lingkungan hidup yang saat ini terjadi antara lain disebabkan aktivitas pengambilan sumber daya alam yang tidak terkendali di sejumlah bidang, seperti pertambangan, perkebunan, dan kehutanan. Pencemaran tanah, pencemaran udara, serta pencemaran air dan sampah membuat lingkungan hidup semakin tidak bersahabat, bahkan mengancam hidup manusia (Nota Pastoral Konferensi Waligereja Indonesia 2013, hlm 8-22).

Sekadar contoh, kadar timbal di udara Jakarta mencapai 29 mg/m3, sedangkan standar WHO 0,5 mg/m3. Kerusakan lingkungan hidup ini juga dengan mudah menjadi penghambat besar bagi damai sejati. Kalau kita ingin mengalami damai, kita dituntut  menjaga`kelestarian alam ciptaan dan bertumbuh dalam solidaritas antargenerasi (Benediktus XVI, Hari Perdamaian Sedunia, 1 Januari 2010).

Munculnya komunitas-komunitas kreatif dapat sangat membantu menyebarluaskan dan memperdalam keadaran akan tanggung jawab melestarikan keutuhan ciptaan (Kompas, 17/12/2013). Dengan demikian, merayakan Natal berarti ikut mengambil tanggung jawab untuk mendatangkan damai, dengan menyingkirkan hambatan-hambatannya. Damai yang seperti itu adalah tugas yang tidak akan pernah selesai dikerjakan. Selamat Natal 2013 dan selamat menyongsong Tahun Baru 2014.

I. Suharyo

Konferensi Waligereja Indonesia

Sumber: KOMPAS, SELASA, 24 DESEMBER 2013

MEMPERKENANKAN JANJI ALLAH MEMENUHI DIRI KITA

MEMPERKENANKAN JANJI ALLAH MEMENUHI DIRI KITA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Selasa, 24 Desember 2013)

David_w_Nathan_1352-17bKetika raja telah menetap di rumahnya dan TUHAN (YHWH) telah mengaruniakan keamanan kepadanya terhadap semua musuhnya di sekeliling, berkatalah raja kepada nabi Natan: “Lihatlah, aku ini diam dalam rumah dari kayu aras, padahal tabut Allah diam di bawah tenda.” Lalu berkatalah Natan kepada raja: “Baik, lakukanlah segala sesuatu yang dikandung hatimu, sebab YHWH menyertai engkau.”

Tetapi pada malam itu juga datanglah firman YHWH kepada Natan, demikian: “Pergilah, katakanlah kepada hamba-Ku Daud: Beginilah firman YHWH: Masakan engkau yang mendirikan rumah bagi-Ku untuk Kudiami?

Oleh sebab itu, beginilah kaukatakan kepada hamba-Ku Daud: Beginilah firman YHWH semesta alam: Akulah yang mengambil engkau dari padang, ketika menggiring kambing domba, untuk menjadi raja atas umat-Ku Israel. Aku telah menyertai engkau di segala tempat yang kaujalani dan telah melenyapkan segala musuhmu dari depanmu. Aku membuat besar namamu seperti nama orang-orang besar yang ada di bumi. Aku menentukan tempat bagi umat-Ku Israel dan menanamkannya, sehingga ia dapat diam di tempatnya sendiri dengan tidak lagi dikejutkan dan tidak pula ditindas oleh orang-orang lalim seperti dahulu, sejak Aku mengangkat hakim-hakim atas umat-Ku Israel. Aku mengaruniakan keamanan kepadamu dari pada semua musuhmu. Juga diberitahukan YHWH kepadamu: YHWH akan memberikan keturunan kepadamu. Apabila umurmu sudah genap dan engkau telah mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya.” (2Sam 7:1-5,8-12,16)

Mazmur Tanggapan: Mzm 89:2-5,27,29; Bacaan Injil: Luk 1:67-79 

Allah menjanjikan sesuatu yang indah kepada Daud, yaitu  bahwa Dia akan membangun bagi Daud sebuah “keturunan” (2Sam 7:11).  Sejarah menceritakan kepada kita bahwa Salomo, salah seorang putera Daud, membangun Bait Suci yang pada awalnya ingin dibangun oleh Daud. Akan tetapi kita dapat melihat bahwa “keturunan” yang dibangun Allah untuk Daud – dinastinya, warisannya, tempatnya dalam sejarah penyelamatan – adalah jauh lebih besar. Di sini Allah berbicara mengenai garis keturunan Daud, yang akan mencapai klimaks dalam diri Yesus Kristus, Anak Daud yang sejati.

Sebagai umat Kristiani, kita sekarang percaya bahwa melalui Yesus, garis keturunan Daud secara spiritual berlanjut di dalam Gereja – Tubuh Kristus – yang mengumpulkan orang-orang yang ditebus. Marilah kita merenung sejenak: Secara kolektif dan individual, masing-masing kita adalah bait Roh Kudus (1Kor 3:16; 6:19), sebuah tempat suci di mana Allah berdiam di atas bumi ini.

A WOMAN PRAYINGMenjadi “rumah” Allah tidak terjadi secara ajaib begitu saja dengan diri kita pada waktu kita dibaptis. Kita tidak menjadi bait-bait yang sempurna dalam sekejab, memancarkan cahaya Kristus secara lengkap ke dunia di sekeliling kita. Dari hari ke hari Allah ingin melanjutkan proyek pembangunan-Nya dalam diri kita. Dia ingin membuang fondasi-fondasi apa saja yang salah dalam hidup kita, sehingga dengan demikian kita dapat bertumpu pada kebenaran-Nya dan kasih-Nya saja. Allah ingin menghadirkan diri-Nya pada kedalaman hati kita masing-masing, sehingga apabila kita berkumpul dalam nama-Nya – apakah untuk melakukan penyembahan kepada-Nya atau pergi ke tengah-tengah dunia – maka Dia dapat bergerak dengan lebih penuh kuat-kuasa di tengah kita dan melalui kita masing-masing.

Oleh karena itu, marilah kita memperkenankan janji Allah memenuhi diri kita. Bayangkanlah apa kiranya yang ada dalam pikiran Daud ketika dia mendengar janji Allah kepadanya, bagaimana hatinya begitu tergetar membayangkan betapa agung janji tersebut. Lalu, bayangkanlah Allah mengatakan hal yang sama kepada diri kita, bahwa Dia sangat mengasihi kita dan ingin berdiam dalam diri kita selamanya. Pada Malam Natal ini, marilah kita bersembah sujud di hadapan Yesus, batu penjuru (Kis 4:11; 1Ptr 2:7; bdk. Mzm 118:22; lihat juga Mat 21:42; Mrk 12:10; Luk 20:17) dan pembangun “rumah” kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku bersembah sujud di hadapan-Mu. Aku menyambut Engkau ke dalam hatiku, dan merasa takjub bahwa Engkau akan memperhitungkan diriku sebagai salah seorang yang dapat menjadi tempat kediaman-Mu. Datanglah, ya Tuhan Yesus, dan berdiamlah dalam diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:67-79), bacalah tulisan yang berjudul “UNTUK MEMPERSIAPKAN JALAN BAGI-NYA” (bacaan untuk tanggal 24-12-13] dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 11-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2013. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (2Sam 7:1-5,8b-12,16), bacalah tulisan yang berjudul “ISRAEL SELALU ADA DALAM HATI ALLAH” (bacaan tanggal 24-12-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-12-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 Desember 2013 

  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENYAMBUT KEDATANGAN YESUS KE DALAM HATI KITA

MENYAMBUT KEDATANGAN YESUS KE DALAM HATI KITA

 (Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Senin, 23 Desember 2013) 

BETLEHEMLihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman TUHAN (YHWH) semesta alam. Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu. Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia nentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada YHWH. Maka persembahan Yehuda dan Yerusalem akan menyenangkan hati YHWH seperti pada hari-hari dahulu kala dan seperti tahun-tahun yang sudah-sudah.

Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari YHWH yang besar dan dahsyat itu. Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah (Mal 3:1-4; 4:5-6).

Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-5,8-10,14; Bacaan Injil: Luk 1:57-66 

“Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya” (Mal 3:1).

Sepanjang masa Adven, khususnya mulai tanggal 17 Desember, kita telah menyiapkan diri guna menyambut kelahiran Yesus dan awal dari penebusan kita. Selama masa ini kita telah bergabung para malaikat menyanyikan lagu-lagu pujian yang penuh sukacita. Kita telah mengirim dan menerima kartu-kartu Natal ke/dari para sahabat kita dengan pesan damai di atas bumi. Kita telah membeli hadiah-hadiah Natal untuk anggota keluarga sebagai suatu tanda kasih kita kepada mereka – kasih yang dimungkinkan dengan kedatangan Yesus Kristus ke tengah dunia.

NATALSetiap Natal, kita mempermaklumkan bahwa Yesus, hasrat hati kita yang terdalam, telah datang ke tengah dunia. Akan tetapi kita juga diingatkan bahwa Penebus kita ingin datang dan masuk ke dalam hati kita dan memerintah sebagai Tuhan (Kyrios) atas diri kita. Dia ingin memurnikan kita dan membersihkan diri kita dari dosa. Dia ingin membawa terang ke dalam bagian-bagian dalam diri kita yang membutuhkan kesembuhan dan perubahan. Dan, agar hal ini dapat terjadi, maka kita yang mengelu-elukan Dia sebagai Raja dan Tuhan, haruslah menyambut-Nya ke dalam hati kita agar memerintah diri kita.

Sekarang adalah waktu yang sempurna – tinggal beberapa hari saja sebelum Natal – untuk membuat komitmen hidup kita lagi kepada Yesus dan mohon kepada-Nya mendirikan pemerintahan-Nya dalam diri kita secara lebih mendalam lagi. Hari ini, marilah kita mengambil waktu yang cukup untuk melakukan pemeriksaan atas hidup kita selama ini. Apakah Yesus sungguh bertakhta sebagai Tuhan dalam hati kita (anda dan saya)? Apakah tanda-tanda dari ke-Tuhan-an-Nya – kasih-Nya, sukacita-Nya, damai-sejahtera-Nya, dan kebaikan hati-Nya – terbukti dalam kehidupan kita?

Selagi kita melakukan pemeriksaan atas kehidupan kita, marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk menunjukkan kepada kita pola-pola dosa yang menghalangi pemerintahan Yesus atas diri kita. Apakah ada situasi-situasi khusus yang mengakibatkan kemarahan, ketiadaan harapan, atau rasa takut? Jika ada, janganlah risau. Allah menunjukkan hal-hal ini karena justru Dia mengasihi kita, karena Dia ingin membuat kita bebas dari segala hal tersebut. Ia menjadi salah seorang dari kita-manusia dan memberikan hidup-Nya sendiri bagi kita sehingga dengan demikian kita dapat dibebaskan dari segala beban ini.

Apabila kita belum melakukannya, maka marilah kita menyediakan diri untuk Sakramen Rekonsiliasi sebelum Perayaan Natal. Marilah kita memperkenankan Yesus memnurnikan hati kita sehingga kita dapat menjadi tempat kediaman-Nya yang lebih jernih, Raja dan Tuhan segala ciptaan (bdk. Flp 2:11).

DOA: Tuhan Yesus, datanglah dan masuklah ke dalam hatiku pada hari ini. Bawalah api-Mu yang memurnikan guna membersihkan dosa-dosaku. Pancarkanlah terang-Mu pada diriku guna menyatakan apa saja yang Engkau ingin bereskan dalam kehidupanku. Buatlah agar aku semakin serupa dengan diri-Mu hari ini, ya Yesus. Aku sungguh ingin menjadi terang bagi-Mu di tengah dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 1:57-66),  bacalah tulisan berjudul  “DIA HARUS DINAMAI YOHANES [2]” (bacaan tanggal 23-12-13), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 13-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2013. 

Cilandak, 19 Desember 2013 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARI KITA TELADANI SANTO YOSEF, SANG HAMBA TUHAN

MARI KITA TELADANI SANTO YOSEF, SANG HAMBA TUHAN !!!

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN IV [Tahun A] – 22 Desember 2013) 

YUSUF BERMIMPI BERTEMU DENGAN MALAIKAT TUHANKelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus sebelum mereka hidup sebagai suami istri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di depan umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan tampak kepadanya dalam mimpi dan berkata, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka.” Hal itu terjadi supaya digenapi yang difirmankan Tuhan melalui nabi, “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel.” (Yang berarti: Allah menyertai kita.) Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai istrinya (Mat 1:18-24).

Bacaan Pertama:  Yes 7:10-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6; Bacaan Kedua: Rm:1:1-7

Pada Hari Minggu Adven IV ini kita berjumpa dengan seorang pribadi yang menarik, seorang laki-laki yang memiliki INTEGRITAS, yaitu Yusuf atau Yosef, seorang tukang kayu dari Nazaret. Dia orang kebanyakan, rakyat biasa, bukan tokoh partai politik, apalagi Ketua Dewan Pembina atau Ketua Umum Partai Politik besar. Oleh karena itu, dalam membaca narasi-narasi Kitab Suci sangatlah mudah bagi kita untuk luput melihat Santo Yosef ini. Tidak ada sedikit pun kata-kata yang diucapkan olehnya yang tercatat dalam Kitab Suci. Meskipun sama-sama suka mendapat wahyu ilahi lewat mimpi, dalam hal ini Yosef si tukang kayu dari Nazaret kalah dengan Yusuf atau Yosef dalam Perjanjian Lama (lihat Kej 37:1-36; 39:1- 50:26). Yusuf juga tidak tampil sebagai seorang tokoh Masa Adven yang mengemuka, apabila dibandingkan dengan Yesaya, Yohanes Pembaptis, Maria, bahkan orang-orang majus dan para gembala di padang Efrata yang semuanya cukup dikenal oleh umat. Jadi, bagaimana seharusnya kita melihat pribadi Santo Yosef ini? Apa yang kiranya dapat kita pelajari dari dia? Ah, jangan kuatir, karena sungguh banyak yang dapat kita pelajari dan tiru dari orang kudus yang nota bene adalah suami Maria dan “ayah dunia” dari Yesus ini.

Yosef bukanlah seorang tukang omong, bukan banyak omong, apalagi omong-besar. Dia seorang laki-laki yang kuat-sehat tentunya, tetapi penampilan dirinya kiranya jauh dari gagah-perkasa seorang panglima tentara atau pemimpin negara hebat. Namun yang jelas dia bukanlah seorang yang suka NATO (no actions, talk only!), Yosef adalah seorang man of action, dia adalah seorang pelaku. Dia membiarkan tindakan-tindakannya berbicara mengenai dirinya. Dia dikenal secara tidak langsung untuk hal-hal yang dilakukannya atau tidak dilakukannya, dan memperkenankan orang-orang lain untuk mencapai sesuatu meskipun sebenarnya dia mempunyai andil dalam hal itu. Kepribadian Yosef begitu kuat dan mengagumkan, karena dalam hidupnya dia tidak memerlukan pujian dari orang-orang lain. Dia merasa puas kalau dapat mengerjakan apa yang harus dikerjakan olehnya, yaitu melakukan kehendak Allah. Dan … apakah kehendak Allah bagi Yosef?

BAPAK IBU DAN ANAKYosef dan Maria sudah bertunangan secara mengikat (Inggris: bethrodal) dan mereka sebenarnya sudah siap untuk memasuki hidup perkawinan (Inggris: marriage proper). Sekarang dia mengetahui bahwa Maria telah mengandung. Bagaimana hal ini dapat terjadi karena dia belum pernah bersetubuh dengan seorang laki-laki, apalagi Yosef. Oleh karena itu tidak sulitlah bagi kita –  orang zaman sekarang ini – dalam kasus serupa, untuk membayangkan rencana apa yang ada dalam pikiran seorang laki-laki “normal”: Hak-haknya telah digerogoti, merasa telah dihianati, ego laki-lakinya tersinggung, maka hanya perceraianlah satu-satunya solusi. Biarlah perempuan tak tahu diri ini merasa malu. Biarlah seluruh dunia tahu perempuan macam apa dia itu! Membuat perempuan itu terhina di mata masyarakat akan sedikit menyembuhkan kebanggaan si laki-laki yang sempat terluka itu.

Namun demikian, cara-cara Yosef dan Allah adalah cara-cara yang tidak diharap-harapkan dan tidak dapat diprediksi oleh manusia mana pun. Matius menulisnya dengan indah: “Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di depan umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan (catatan: mungkin saja ini malaikat Gabriel) tampak kepadanya dalam mimpi (Mat 1:19-10). Dalam mimpinya, Yosef mendengar malaikat itu mengatakan kepadanya bahwa dari/oleh Roh Kudus Maria mengandung anak “yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka” (Mat 1:21). Kehendak Allah bagi Yosef adalah mengambil Maria ke rumahnya sebagai istrinya. Seperti Maria, Yosef juga adalah seorang “hamba Tuhan”. Oleh karena itu dia juga mengatakan “ya” dalam iman sebagai tanggapannya terhadap pemberitahuan malaikat Tuhan mengenai kehendak Allah. SANG SABDA telah mendaging dalam diri Maria dan dua-duanya kemudian diterima dalam rumah dan hati Yosef. Injil Matius mencatat dengan singkat namun mengandung makna sangat mendalam: “Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai istrinya” (Mat 1:24). Dia adalah sungguh seorang hamba Tuhan, penuh ketaatan serta kepatuhan kepada kehendak Allah.

Sikap dan perilaku sehari-hari Yosef begitu berbeda dengan kebanyakan orang pada zaman modern ini. Kebanyakan kita memiliki hasrat untuk dikenal dan diakui. Sebaliknya, Yosef bukanlah seorang yang dapat dihinggapi penyakit yang disebabkan oleh “virus-selebriti”. Dia bekerja diam-diam dan dengan cara-cara biasa saja. Dia muncul sesaat dalam Kitab Suci untuk kemudian “menghilang” lagi ke latar belakang. Kita tentu masih ingat bahwa Yosef dan Maria terlibat dalam suatu episode lost & found dengan Yesus-remaja di Bait Suci.  Itulah untuk terakhir kalinya Yusuf muncul bersama Maria dan Yesus dalam Injil. Narasi tentang Yesus ketika berumur 12 tahun yang berdiskusi “teologi” bersama para guru agama di Bait Allah ini diakhiri dengan dua ayat yang jelas menunjukkan Yosef sebagai orangtua dan pendidik Yesus: “Lalu Ia (Yesus) pulang bersama-sama mereka (Maria dan Yosef) ke Nazaret; dan tetap hidup dalam asuhan mereka. Ibu-Nya pun menyimpan semua hal itu di dalam hatinya. Yesus makin dewasa dan bertambah hikmat-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia (Luk 2:51-52).

Yosef juga tentunya seorang ayah yang baik. Sesuai tradisi Yahudi, dia mendidik Yesus dengan baik.  Yosef dan Maria juga belajar dari awal akan pentingnya “melakukan kehendak Allah dengan kasih. Yesus datang untuk melakukan kehendak Allah yang disapa-Nya sebagai “Bapa” dan dengan berani mengajar kita melakukan yang sama. Yesus “disekolahkan”/ dididik dalam keterbukaan oleh contoh hidup Maria dan Yosef. Yosef adalah memang seorang pribadi yang memiliki integritas. Banyak orang – yang menamakan diri mereka “pemimpin” – malah tidak memiliki integritas pribadi. Oleh karena itu, marilah kita belajar dari dan meneladani Yosef, sang hamba Tuhan.

DOA: Tuhan Yesus,  teristimewa dalam Masa Adven dan Natal ini, ingatlah diriku selalu akan peranan istimewa dari Santo Yosef dalam membesarkan Dikau dari masa kanak-kanak sampai menjadi seorang dewasa yang penuh hikmat, dikasihi Bapa surgawi dan sesama. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Mat 1:18-24), bacalah tulisan yang berjudul “IMANUEL, YANG BERARTI ALLAH MENYERTAI KITA” (bacaan tanggal 22-12-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 13-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2013. 

(Tulisan ini adalaha revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-12-10 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Desember 2013 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 79 other followers