MELONJAK KEGIRANGAN

MELONJAK KEGIRANGAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Sabtu,  21 Desember 2013)

visitationdetailembracemaryandst-annebackgroundelisabethim-1440x900-18279

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana” (Luk 1:39-45).

Bacaan pertama: Kid 2:8-14 atau Zef 3:14-18a; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:2-3,11-12,20-21

Tidak sedikit orang yang pada saat menerima hadiah Natal (atau hadiah Ulang Tahun) dari anggota keluarga mereka melakukan – mungkin secara tidak sadar – tindakan-tindakan seperti berikut ini: mula-mula menggoyang-goyangkannya sedikit, merasakan bentuk barang yang di dalamnya, mungkin dengan mencium aroma/baunya, tentunya semuanya untuk memperoleh petunjuk tentang apa kiranya barang yang di dalam bungkusan hadiah itu, hal mana juga meningkatkan antisipasi orang yang melakukannya.

Pada saat Elisabet melihat Maria, karunia-karunia anak-anak dalam rahim mereka masing-masing saling menanggapi kehadiran satu sama lain. Bayi dalam rahim Elisabet melonjak kegirangan, dan Elisabet sendiri juga dipenuhi dengan Roh Kudus. Ini adalah sebuah kasus di mana tidak perlu kita menebak-nebak karunia yang dibawa oleh Maria. Dalam hatinya, Elisabet mengenali bahwa Maria sedang membawa dalam rahimnya sang Mesias sendiri.

ROH KUDUS MELAYANG-LAYANG - 2Inilah cara bekerja Roh Kudus. Ia berjumpa dengan kita di mana kita berada dan – bilamana kita memperkenan-Nya – menarik kita ke dalam hidup ilahi untuk mana kita dilahirkan. Hati kita dapat melonjak dengan penuh sukacita pada saat kita bergerak dari titik mengetahui kebenaran-kebenaran Injil secara intelektual ke mengalaminya sendiri dalam roh kita. Orang-orang yang biasa melayani dengan penuh kasih para lansia atau anak-anak tuna netra dlsb. menyadari berkat-berkat yang mengalir ke dalam diri mereka dari tanggung jawab pelayanan yang mereka rangkul ini. Bilamana mereka berbicara tentang bagaimana kerja mereka mengajar dan memberkati mereka, kita mengetahui bahwa mereka berbicara dari pengalaman, bukan sekadar teori. Hal yang sama dapat terjadi dengan dengan kita apabila kita berupaya terus untuk mengenal Tuhan.

Dalam Perayaan Ekaristi kita dapat mengetahui dalam “kepala/pikiran” kita bahwa roti dan anggur setelah dikonsekrir oleh imam selebran menjadi tubuh dan darah Yesus Kristus. Bukankah itu yang telah diajarkan kepada kita dalam pelajaran agama Katolik, sejak SR/SD sampai dengan SMA/SMU? Namun Allah ingin memberikan kepada kita lebih daripada sekadar suatu pengamatan eksternal dari mukjizat-Nya. Selagi kita memperkenankan Roh Kudus bergerak di dalam diri kita, maka kita dapat mengalami Yesus secara pribadi dalam Komuni Kudus. Kita dapat diliputi dengan kasih berlimpah-limpah dari Allah, yang mengaruniakan Anak-Nya sendiri ke tengah dunia untuk mati dan bangkit demi keselamatan kita. Suatu pengalaman seperti ini akan menggerakkan kita untuk sujud menyembah Allah dengan segala kerendahan hati. Hal yang sama juga akan menggerakkan kita untuk mengasihi Kristus dalam diri orang-orang lain dengan memperlakukan mereka dengan penuh kasih sama yang telah ditujukkan oleh-Nya kepada kita.

Roh Kudus tidak menginginkan kita sekadar menggoyang-goyangkan “hadiah” (karunia) yang kita terima dari Allah. Ia ingin kita mengalami  semua yang disediakan Allah bagi kita. Belajar mengenali gerakan-gerakan-Nya akan memenuhi diri kita dengan sukacita, seperti yang dialami oleh Elisabet. Marilah kita menaruh kepercayaan kepada janji-janji Allah, maka kita pun akan melihat tanda-tanda Roh Kudus di sekeliling kita.

DOA: Bapa surgawi, aku ingin mengenal Engkau lebih dalam lagi. Tolonglah aku untuk mengalami sukacita yang ingin dinyatakan oleh Roh Kudus dalam kehadiran-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:39-45), bacalah tulisan yang berjudul “MARIA: PERAWAN DAN IBU” (bacaan tanggal 21-12-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2013 . 

Cilandak, 16 Desember 2013 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JADILAH PADAKU MENURUT PERKATAANMU ITU

JADILAH PADAKU MENURUT PERKATAANMU ITU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Jumat , 20 Desember 2013) 

ANNUNCIATION - 001Dalam bulan yang keenam malaikat Gabriel disuruh Allah pergi ke sebuah kota yang bernama Nazaret,kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu datang kepada Maria, ia berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-nya tidak akan berkesudahan.”  Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”  Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia (Luk 1:26-38).

Bacaan Pertama: Yes 7:10-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6 

Tatkala malaikat agung Gabriel menampakkan diri kepada perawan Maria dan mengungkapkan rencana Allah bagi dirinya, Maria sungguh merasa terkejut. Santo Lukas menceritakan kepada kita bahwa Maria “terkejut”, lalu bertanya di dalam hatinya apakah arti salam itu. Kemudian, setelah memperoleh penjelasan dari Gabriel, ia bertanya:  “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Luk 1:29,34).

Maria tidak dapat sekaligus melihat gambaran sepenuhnya. Akan tetapi, dengan berjalannya waktu, dia mulai memahami hal-hal indah yang sedang dikerjakan Allah atas dirinya. Dia melihat bahwa Yesus “ditakdirkan” untuk memberikan hidup-Nya untuk kita manusia, bahkan ia sendiri akan menanggung penderitaan karena “suatu pedang akan menembus jiwanya sendiri” (lihat Luk 2:35). Maria tentunya telah belajar juga tentang hasrat Allah yang terdalam, bahwa melalui Yesus kita akan dipenuhi dengan hidup ilahi-Nya: Allah ingin “mengilahikan” kita. Bagi Maria, apa yang diawali dengan suatu kunjungan yang “membingungkan” dari ‘seorang’ malaikat berkembang menjadi suatu kehidupan yang dipenuhi dengan rasa takjub atas keluasan rencana Allah bagi umat-Nya.

Banyak Pujangga Gereja juga telah memberi komentar mereka atas rencana Allah untuk memenuhi diri kita dengan hidup ilahi. Santo Thomas Aquinas [1225-1274] menulis: “Sang Anak Tunggal Allah, karena ingin membuat kita ikut ambil bagian dalam keilahian-Nya, mengambil kodrat kita, sehingga Dia yang menjadi manusia, dapat membuat orang-orang semakin menjadi seperti Allah (Tentang Pesta Corpus Christi, 1). Demikian pula, Santo Atanasius [296-373] menulis, bahwa Yesus “sungguh mengambil kemanusiaan sehingga kita dapat menjadi peserta di dalam [hidup] Allah” (Tentang Inkarnasi). Biarpun kedengaran hampir tidak mungkin atau mustahil, inilah yang terjadi dengan kita masing-masing pada saat kita dibaptis dan akan disempurnakan pada saat Yesus datang lagi dalam kemuliaan-Nya kelak.

Pada saat malaikat agung Gabriel minta kepada Maria untuk menerima usulan/undangan Allah, Maria tidak ragu sedikit pun walaupun ia belum memahami segalanya secara langsung. Maria ingin melakukan kehendak Allah, dan pada saat yang sangat penting dalam sejarah manusia, hal itu berarti sepenuhnya menaruh kepercayaan kepada-Nya.

Akan tetapi, rahasia hikmat dan pemahaman Maria jauh melampaui keputusannya untuk menaruh kepercayaan kepada Allah. Maria juga berpaling ke dalam dirinya sendiri untuk merenungkan jabang bayi yang mulai mengambil bentuk dalam rahimnya. Dalam keheningan dan kejernihan akal budinya, Maria memohon kepada Roh Kudus untuk mengungkapkan misteri-misteri rencana Allah bagi dirinya, dan selagi dia melakukannya, dia pun semakin dipenuhi dengan rahmat Allah.

Marilah kita meneladan Maria, tidak hanya dalam menaruh kepercayaan kepada rencana Allah, melainkan juga dengan menyediakan waktu yang sungguh cukup untuk doa dan permenungan misteri-misteri Allah dalam kehidupan kita.

DOA: Tuhan Yesus, tunjukkanlah kepadaku bagaimana merenungkan dan menghargai segala hal yang Engkau sedang lakukan pada zaman ini. Ajarlah aku bagaimana menaruh kepercayaan pada-Mu sepenuhnya seperti yang telah dilakukan oleh Maria sekitar 2.000 tahun lalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 1:26-38), bacalah tulisan yang berjudul “MARIA MEMANG DIPILIH OLEH ALLAH SENDIRI” (bacaan  tanggal 20-12-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2013. 

Cilandak, 16  Desember 2013 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA SEMUA DIPANGGIL OLEH ALLAH

KITA SEMUA DIPANGGIL OLEH ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Kamis, 19 Desember 2013)

256-Angel-appears-unto-Zacharias-q75-1440x900 (1)

Pada zaman Herodes, raja Yudea, ada seorang imam yang bernama Zakharia dari rombongan Abia. Istrinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet. Keduanya hidup benar di hadapan Allah dan menuruti segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat. Tetapi mereka tidak mempunyai anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya.

Pada suatu kali, waktu tiba giliran kelompoknya, Zakharia melakukan tugas keimaman di hadapan Tuhan. Sebab ketika diundi, sebagaimana lazimnya, untuk menentukan imam yang bertugas, dialah yang ditunjuk untuk masuk  ke dalam Bait Suci dan membakar dupa di situ. Pada waktu pembakaran dupa, seluruh umat berkumpul di luar dan sembahyang. Lalu tampaklah kepada Zakharia seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran dupa. Melihat hal itu ia terkejut dan menjadi takut. Tetapi malaikat itu berkata kepadanya, “Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan. Elisabet, istrimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes. Engkau akan bersukacita dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu. Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan dia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus sejak dari rahim ibunya dan ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka. Ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati para bapak berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar. Dengan demikian ia menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya.” Lalu kata Zakharia kepada malaikat itu, “Bagaimanakah aku tahu bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan istriku sudah lanjut umurnya.” Jawab malaikat itu kepadanya, “Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara kepadamu untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu. Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai hari ketika semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya kepada perkataanku yang akan dipenuhi pada waktunya.” Sementara itu orang banyak menanti-nantikan Zakharia. Mereka menjadi heran bahwa ia begitu lama berada dalam Bait Suci. Ketika ia keluar, ia tidak dapat berkata-kata kepada mereka dan mengertilah mereka bahwa ia telah melihat suatu penglihatan di dalam Bait Suci. Lalu ia memberi isyarat kepada mereka, dan ia tetap bisu. Ketika selesai masa pelayanannya, ia pulang ke rumah.

Beberapa lama kemudian Elisabet, istrinya, mengandung dan selama lima bulan ia tidak menampakkan diri, katanya, “Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang.” (Luk 1:5-25)

Bacaan pertama: Hak 13:2-7.24-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 71:5-6,16-17

Zakharia dipanggil untuk menjadi seorang imam, suami dari Elisabet dan ayah dari seorang anak-anak laki yang “ditakdirkan” akan besar di hadapan Tuhan (Luk 1:15). Yohanes Pembaptis dipanggil untuk menuntun umat Allah kepada pertobatan guna mempersiapkan kedatangan Yesus (Luk 1:17). Maria dipanggil untuk menjadi ibunda Yesus, Juruselamat dunia.

TRITUNGGAL MAHAKUDUS - 1Karena pribadi-pribadi ini memainkan peranan yang begitu penting dalam rencana penyelamatan Allah, maka kita sepenuhnya dapat menerima bahwa Dia telah membuat peta atas panggilan mereka masing-masing jauh hari sebelum mereka lahir. Namun demikian dapatkah kita percaya bahwa masing-masing kita telah menerima panggilan Allah – bahkan sebelum kita dilahirkan – yang vital untuk membangun Kerajaan-Nya?

Sebagian dari kita telah dipanggil untuk menjalani hidup perkawinan – panggilan mulia di mana kepada kita diberikan tanggung jawab sebagai seorang pasangan hidup yang setia dan mengasihi, bersedia untuk berkorban demi pasangan hidup kita, sampai saat kematian kita. Panggilan sebagai orangtua adalah sebuah panggilan di mana kita diberikan tanggung jawab untuk membesarkan anak, mengasihi dan memelihara mereka serta memimpin mereka dalam jalan kebenaran. Para imam dipanggil untuk memelihara umat Allah dalam suatu kehidupan penuh komitmen dan dedikasi. Pribadi-pribadi yang hidup membujang – termasuk para biarawati dan biarawan – untuk mengabdikan karunia-karunia dan kepribadian mereka masing-masing dalam pelayanan gerejawi.

Kadang-kadang panggilan kita tidak terasa “hebat”, akan tetapi Allah mengetahui bahwa panggilan-Nya kepada kita masing-masing adalah “hebat”. Dia juga tahu bahwa kita sesungguhnya tidak berdaya untuk menjalani panggilan kita dengan mengandalkan diri pada kekuatan kita semata. Hanya apabila kita bertumbuh dalam relasi dengan Yesus dan menerima kuat-kuasa-Nya dan rahmat-Nya, maka kita pun dapat memainkan peranan dalam dunia dengan penuh sukacita.

Apa pun panggilan kita – kelihatan “hebat” atau biasa-biasa saja – Allah memberikan kepada kita masing-masing bagian untuk berperan-serta dalam “rencana penyelamatan”-Nya dan mengundang kita untuk menguduskan dunia. Berkat yang lebih besar manakah yang mungkin daripada panggilan untuk membawa orang-orang lain ke dalam iman Kristiani dengan menjadi saksi kehadiran Yesus dalam kehidupan kita?

DOA: Bapa surgawi, Engkau begitu mengasihi dunia sehingga memberikan Putera-Mu yang tunggal. Lanjutkanlah memberikan Yesus kepada dunia melalui diri kami, orang-orang yang telah ditebus oleh-Nya. Tolonglah kami agar menjadi saksi-saksi setia dari kasih-Mu – dalam gereja-gereja kami, keluarga-keluarga kami, tempat-tempat kami bekerja, sekolah-sekolah, dan di seluruh dunia. Semoga dalam segala hal yang kami lakukan, kami senantiasa memuliakan Engkau dan turut membangun Kerajaan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:5-25), bacalah tulisan yang berjudul “MENARUH KEPERCAYAAN SEPENUHNYA KEPADA ALLAH” (bacaan tanggal 19-12-13) dalam blog/situs SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 13-12  BACAAN HARIAN DESEMBER 2013. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-12-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 Desember 2013 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DIKANDUNG DARI ROH KUDUS

DIKANDUNG DARI ROH KUDUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Rabu, 18 Desember 2013) 

YUSUF BERMIMPI BERTEMU DENGAN MALAIKAT TUHANKelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus sebelum mereka hidup sebagai suami istri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di depan umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan tampak kepadanya dalam mimpi dan berkata, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka.” Hal itu terjadi supaya digenapi yang difirmankan Tuhan melalui nabi, “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel.” (Yang berarti: Allah menyertai kita.) Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai istrinya. (Mat 1:18-24)

Bacaan pertama: Yer 23:5-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:2,12-13,18-19 

Setelah mendengar bahwa Maria hamil secara misterius, Yusuf memilih alternatif tindakan yang penuh belarasa sekaligus adil (lihat Mat 1:19). Namun ketika dia merenungkan dan mendoakan pilihan-Nya, malaikat Tuhan tampak kepadanya dalam mimpi dan menunjukkan suatu jalan lain. Kita dapat mengatakan bahwa Roh Kuduslah yang berbicara kepada Yusuf. Roh Kudus menjelaskan kepada Yusuf bahwa dia harus menikahi Maria, dan bahwa Anak yang dikandungnya adalah untuk menyelamatkan manusia dari dosa (Mat 1:22-23). Ini adalah suatu pernyataan yang bersifat vital untuk umat manusia, dan juga tidak kurang pentingnya bahwa kita memohon kepada Roh Kudus untuk memeteraikan kebenaran yang sama dalam hati kita masing-masing.

Yesus, yang dikandung dari Roh Kudus, datang untuk mengangkat kita ke alam surgawi. Tanpa pernyataan Roh Kudus, kecenderungan alami kita adalah untuk mereduksi kehidupan Kristiani kita menjadi sekadar sebuah daftar kewajiban-kewajiban yang harus kita lakukan atau tidak lakukan. Kita mulai melihat iman kita hanya sebagai sebuah polis asuransi terhadap risiko neraka, yang preminya kita bayar dengan kehadiran kita pada Misa setiap hari Minggu. Keprihatinan kita pada orang-orang miskin dipersempit menjadi isu-isu penyediaan makanan dan tempat bernaung mereka sehari-hari. Kalau kita tidak membiasakan diri dengan Roh Kudus, kita akan luput melihat jantung dari Injil.

ROH KUDUS MELAYANG-LAYANG - 2Tanpa pertolongan Roh Kudus, kita juga akan mengalami kesulitan untuk memahami tujuan hidup kita. Namun selagi kita menenangkan hati kita dan memperkenankan Roh Kudus untuk menyatakan kepada kita kebenaran-kebenaran sabda Allah dalam Kitab Suci, maka kita mulai memahami Injil secara lebih penuh lagi – termasuk panggilan Allah secara pribadi kepada kita masing-masing. Pesan keselamatan akan menjadi hidup sebagai suatu pernyataan kasih Allah Bapa. Kita akan melihat Yesus sebagai Dia yang tetap secara kekal berkomitmen untuk menyelamatkan kita dari dosa dan membawa kita ke hadapan hadirat-Nya untuk selama-lamanya.

Apakah kita percaya bahwa Roh Kudus ingin berbicara kepada kita tentang siapa Yesus itu sebenarnya dan tentang hidup yang dapat kita alami apabila bersatu dengan diri-Nya? Pada hari-hari menjelang Natal ini, marilah kita “bereksperimen” dalam “mendengarkan” suara yang dibisikkan Roh Kudus kepada kita masing-masing. Marilah kita duduk sendiri dengan hanya ditemani oleh Alkitab sambil terus memperhatikan gerakan-gerakan Roh Kudus dalam hati kita. Percayalah bahwa Ia akan mengangkat kita ke alam surgawi. Dia yang mahasetia akan melakukan hal tersebut.

DOA: Roh Kudus Allah, aku percaya Engkau begitu berhasrat untuk berbicara kepadaku. Tingkatkanlah kesadaranku akan kehadiran-Mu. Tolonglah aku untuk sungguh mendengarkan suara-Mu ketika aku membaca Kitab Suci. Ajarlah aku jalan-jalan-Mu. Bimbinglah aku dalam menjalani kehidupan yang diberikan Yesus kepadaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama Injil hari ini (Mat 1:18-24), bacalah tulisan yang berjudul “JANGANLAH ENGKAU TAKUT MENGAMBIL MARIA SEBAGAI ISTRIMU” (bacaan tanggal 18-12-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2012.

Berkaitan dengan Bacaan Pertama (Yer 23:5-8), bacalah tulisan yang berjudul “JANJI TENTANG TUNAS DAUD YANG ADIL” (bacaan tanggal 18-12-10) dalam situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 14 Desember 2013 [Peringatan S. Yohanes dari Salib]  

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SILSILAH YESUS KRISTUS (2)

SILSILAH YESUS KRISTUS (2)

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Selasa, 17 Desember 2013) 

800px-Genealogy_of_Jesus_mosaic_at_Chora_(1)

Inilah daftar nenek moyang Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham. Abraham. Abraham mempunyai anak, Ishak; Ishak memunyai anak, Yakub; Yakub mempunyai anak, Yehuda dan saudara-saudaranya, Yehuda mempunyai anak, Peres dan Zerah dari Tamar, Peres mempunyai anak, Hezron; Hezron mempunyai anak, Ram; Ram mempunyai anak, Aminadab; Aminadab mempunyai anak, Nahason; Nahason mempunyai anak, Salmon; Salmon mempunyai anak, Boas dari Rahab, Boas mempunyai anak, Obed dari Rut, Obed mempunyai anak, Isai; Isai mempunyai anak, Raja Daud. Daud mempunyai anak, Salomo dari istri Uria, Salomo mempunyai anak Rehabeam; Rehabeam mempunyai anak, Abia; Abia mempunyai anak, Asa; Asa mempunyai anak, Yosafat; Yosafat mempunyai anak, Yoram; Yoram mempunyai anak, Uzia; Uzia mempunyai anak, Yotam; Yotam mempunyai anak, Ahas; Ahas mempunyai anak, Hizkia; Hiskia mempunyai anak, Manasye; Manasye mempunyai anak, Amon; Amon mempunyai anak, Yosia; Yosia mempunyai anak, Yekhonya dan saudara-saudaranya pada waktu pembungan ke Babel. Sesudah pembuangan ke Babel, Yekhonya mempunyai anak, Sealtiel; Sealtiel mempunyai anak Zerubabel; Zerubabel mempunyai anak, Abihud; Abihud mempunyai anak, Elyakim; Elyakim mempunyai anak, Azor; Azor mempunyai anak, Zadok; Zadok mempunyai anak, Akhim; Akhim mempunyai anak, Eliud; Eliud mempunyai anak, Eleazar; Eleazar mempunyai anak, Matan; Matan mempunyai anak, Yakub; Yakub mempunyai anak, Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.

Jadi, seluruhnya ada empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud, empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel, dan empat belas keturunan dari pembuangan ke Babel sampai Kristus. (Mat 1:1-17)

Bacaan Pertama: Kej 49:2,8-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:3-4,7-8,17 

Mulai tanggal 17 Desember pada masa Adven bacaan-bacaan liturgis dipusatkan pada kedatangan Putera Allah sebagai anak manusia di tengah dunia, …… Natal. Hari ini kita merenungkan silsilah Yesus Kristus.

Karena bacaan Injil hari ini adalah sebuah silsilah, maka kemungkinan besar dilewatkan begitu saja atau dibaca secara sepintas lalu karena dipandang tidak relevan. Namun kita haruslah menyadari, bahwa di sini Matius bukanlah sekadar mencatat lagi garis keturunan Yesus di dunia. Matius di sini menantang berbagai asumsi kita.

Dengan menelusuri garis keturunan Yesus sampai kepada Abraham, Matius memberi akar asal-mula Yesus dalam warisan sejarah orang Yahudi dan menyoroti kelangsungan garis keturunan-Nya yang berhubungan dengan dengan semua tokoh besar Israel. Namun demikian, Matius juga tidak selalu mengikuti tradisi garis-ayah saja dan menyebutkan dalam silsilah itu empat nama perempuan Perjanjian Lama dalam pohon keluarga Yesus: Tamar, Rahab, Rut dan Batsyeba (istri Uria). Dua dari mereka adalah pelacur, tiga dari mereka adalah orang asing, dan satu dari mereka adalah seorang korban nafsu laki-laki atau consenting partner (mitra yang sama-sama mau) dalam suatu perselingkuhan dan konspirasi. Kemudian disebut perempuan yang kelima: “Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus” (Mat 1:16).

Walaupun adalah “tipikal” untuk menyajikan suatu silsilah dari tokoh-tokoh besar Yahudi, munculnya nama-nama perempuan seperti diuraikan di atas dalam silsilah Yesus sungguh di luar ekspektasi kita. Hal ini memberi sinyal suatu “penyimpangan” yang radikal. Yesus memang tidak datang untuk menjaga status quo, namun untuk membawa perubahan radikal.

Dalam masa persiapan Adven, biarlah silsilah Yesus ini mengundang kita masing-masing untuk merenungkan cara-cara Allah yang “menyimpang” dari ekspektasi-ekspektasi kita berkaitan dnegan kehidupan Kristiani. Apakah Yesus telah menggoncang diri kita? Apakah ada orang-orang atau situasi-situasi yang sungguh menantang kita? Dalam hal ini kita tidak perlu terlalu terkejut atau merasa surprise. Marilah kita memperkenankan Allah mengubah diri kita. Percayalah kita dapat dimampukan untuk mengasihi orang-orang yang selama ini kita nilai sebagai pribadi-pribadi yang “sulit”. Marilah kita lihat, bahwa lewat doa-doa kita Allah dapat membuat mukjizat-mukjizat penyembuhan, baik fisik maupun spiritual. Kita masing-masing dapat menjadi instrumen damai-sejahtera Allah di mana ada perselisihan, perseteruan, kekacauan, dlsb.

Dengan demikian, marilah kita mempersiapkan Natal dengan memikirkan situasi-situasi yang paling sulit, dan membawa semua itu ke hadapan hadirat Allah dalam masa Adven ini. Perkenankanlah Dia untuk memberikan kepada kita pemikiran-pemikiran dan sikap-sikap baru. Kita sepantasnya mempunyai ekspektasi bahwa Allah akan memanifestasikan diri-Nya tidak hanya pada saat kita berdoa dan menghadiri Misa Kudus, tetapi sepanjang kehidupan sehari-hari kita. Percayalah, bahwa dengan begitu Dia akan membuat kita sungguh mengalami surprise. 

DOA: Aku menyembah Engkau, Tuhan Yesus Kristus, dan memuji-muji-Mu. Aku mengasihi-Mu, ya Yesus, karena Engkau adalah andalanku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 1:1-17), bacalah tulisan yang berjudul “SILSILAH YESUS KRISTUS (3)” (bacaan tanggal 17-12-123 dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2013. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 17-12-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 Desember 2013 [Peringatan S. Yohanes dari Salib] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARILAH KITA BELAJAR DARI YESUS SENDIRI

MARILAH KITA BELAJAR DARI YESUS SENDIRI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Adven, Senin, 16 Desember 2013) 

KONFLIK DGN ORANG FARISI DLL. - DENGAN KUASA MANA ENGKAU ...Lalu Yesus masuk ke Bait Allah, dan ketika Ia mengajar di situ, datanglah imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi kepada-Nya, dan bertanya, “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu?” Jawab Yesus kepada mereka, “Aku juga akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu dan jikalau kamu memberi jawabnya kepada-Ku, Aku akan mengatakan juga kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. Dari manakah baptisan Yohanes? Dari surga atau dari manusia?” Mereka memperbincangkannya di antara mereka, dan berkata, “Jikalau kita katakan: Dari surga, Ia akan berkata kepada kita: Kalau begitu, mengapa kamu tidak percaya kepadanya? Tetapi jikalau kita katakan: Dari manusia, kita takut kepada orang banyak, sebab semua orang menganggap Yohanes ini nabi.” Lalu mereka menjawab Yesus, “Kami tidak tahu.” Yesus pun berkata kepada mereka, “Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.” (Mat 21:23-27)

Bacaan pertama: Bil 24:2-7,15-17a; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-9 

Yesus dari Nazaret menghayati  suatu kehidupan yang dipenuhi dengan kedamaian dan sukacita yang berasal dari Allah sendiri, namun kita juga mengetahui bahwa kehidupan sedemikian bukanlah kehidupan yang mudah bagi-Nya. Di samping penderitaan sengsara yang ditanggung-Nya untuk dosa-dosa kita, Dia terus saja menghadapi oposisi dari para pemuka/pemimpin agama Yahudi yang menentang diri-Nya, malah senantiasa mencoba menjebak-Nya agar terperangkap oleh ucapan-ucapan-Nya ketika mengajar khalayak ramai.

Yesus bukannya tidak mengetahui atau menyadari kebutaan, kedegilan dan kekerasan-kepala  para lawan-Nya. Setiap kali mereka mencoba menjebak-Nya atau menuduh diri-Nya, Yesus selalu menanggapi semua itu dengan hikmat-kebijaksanaan, yang tidak hanya mampu membungkam para lawan-Nya, melainkan juga menawarkan kepada mereka kesempatan-kesempatan untuk bertobat dan menerima “pesan keselamatan”-Nya. Marilah sekarang kita mengingat kembali beberapa tanggapan Yesus itu: (a) “Siapa saja di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (Yoh 8:7); (b) “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah” (Mat 19:17); (c) “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” (Mrk 12:17).

Yesus seringkali mau menjawab secara langsung pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada-Nya. Sebaliknya, jawaban-jawaban diberikan oleh-Nya dengan cara-cara yang menyingkap topeng ketidakpercayaan para penanya-Nya dan membungkam juga orang-orang itu. Patut kita catat, bahwa orang-orang yang suka mengajukan pertanyaan jebakan kepada Yesus pada masa itu dikenal sebagai orang-orang berhikmat. Yesus memberi tanggapan terhadap pertanyaan-pertanyaan menjebak dari para lawan-Nya, tidak dengan kemarahan atau kepahitan, melainkan dengan penuh hikmat dan kasih yang berasal dari relasi-Nya yang intim dengan Bapa-Nya di surga seperti dikatakan-Nya sendiri ketika bersaksi tentang diri-Nya: “Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri, bahkan Ia akan menunjukkan kepada-Nya pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi daripada pekerjaan-pekerjaan itu, sehingga menjadi heran” (Yoh 5:20). Kehidupan doa Yesua dan perhatian-Nya yang mendalam tentang pimpinan Roh Kudus merupakan sumber kasih-Nya, hikmat-Nya, dan kekuatan-Nya.

Tidak ada seorang pun dari kita yang kebal terhadap penolakan, tuduhan, atau pengejaran serta penganiayaan selagi kita mengikuti jejak Yesus. Akan tetapi, melalui kematian dan kebangkitan-Nya, kita dijadikan-Nya “ciptaan baru” dan dibawa semakin dekat lagi dengan hati Bapa surgawi. Dengan mencari keintiman yang lebih mendalam dengan Tuhan melalui doa-doa, liturgi – teristimewa Ekaristi, dan juga pembacaan serta permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci, maka kita pun belajar untuk menanggapi berbagai dari para lawan kita – dengan kasih dan hikmat Allah sendiri. Sekarang, selagi kita memohon kepada Allah untuk diberikan hikmat-Nya dan hati yang dipenuhi kasih, kita membuka diri kita bagi kuasa Roh Kudus yang dapat mentransformasikan itu, sehingga kita pun dapat menjadi semakin serupa dengan Yesus, yang selalu berbicara tentang kebenaran dengan penuh kasih.

DOA: Tuhan Yesus, tanpa Engkau kami tidak dapat berbuat apa-apa. Oleh Roh Kudus-Mu, transformasikanlah hati kami dan tariklah kami agar dapat semakin dekat dengan Bapa surgawi. Biarlah Roh Kudus-Mu membimbing kami, memimpin kami, memberdayakan kami agar dapat hidup sehari-hari dengan cara yang menyenangkan hati-Mu. Amin.

Catatan: Bagi anda yang ingin mendalami lagi Bacaan Pertama hari ini (Bil 24:2-7, 15-17a), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH DAPAT MENGGUNAKAN INSTRUMEN-INSTRUMEN YANG KELIHATAN PALING TIDAK MUNGKIN UNTUK MENYAMPAIKAN PESAN-NYA”” (bacaan tanggal 16-12-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2013.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-12-11 dalam situs/blog SANG SABDA

Cilandak, 13 Desember 2013 [Peringatan S. Lucia, Perawan-Martir] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TURUTILAH TELADAN PENDERITAAN DAN KESABARAN PARA NABI YANG TELAH BERBICARA DEMI NAMA TUHAN !!!

TURUTILAH TELADAN PENDERITAAN DAN KESABARAN PARA NABI YANG TELAH BERBICARA DEMI NAMA TUHAN !!!

(Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN III [Tahun A], 15 Desember 2013) 

KEDATANGANNYA UNTUK KEDUA KALINYA - 4Saudara-saudara, bersabarlah sampai kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi. Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat! Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu. Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan (Yak 5:7-10).

Bacaan Pertama: Yes 35:1-6,10; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:6-10; Bacaan Injil: Mat 11:2-11 

Kita kini hidup dalam masyarakat cepat-saji dan serba instan. Nilai keutamaan “kesabaran” sedikit saja mendapat perhatian, karena kita selalu bergegas ke sana ke mari, dengan cepat berpindah dari  peristiwa yang satu ke peristiwa lainnya. Kita menuntut jawaban langsung terhadap pertanyaan-pertanyaan dan kebutuhan-kebutuhan kita. Kelihatannya Yakobus sedang menghadapi situasi yang serupa pada abad pertama. Umat beriman yang sedang menanti-nanti hari kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kalinya dalam hidup mereka, mulai menjadi tidak sabar dan dengan berjalannya waktu merasakan bahwa semakin beratlah menghayati hidup Injili. Anggota-anggota Gereja mulai menggerutu dan saling mempersalahkan satu sama lain, yang kaya mulai mengabaikan yang miskin, dan gosip-gosip pun semakin menjadi-jadi dan meraja-lela. Ah, kiranya Yesus cepat datang kembali, dan membawa mereka ke surga!

Akan tetapi Yakobus tahu benar bahwa itu bukanlah jawaban yang sesungguhnya. Maka, dia memanggil warga gerejanya untuk meneguhkan hati mereka (Yak 5:8) supaya mereka menanti-nanti dengan sabar kedatangan kembali Tuhan Yesus Kristus. Hal ini tidak selalu mudah, karena kita dituntut menggunakan kebenaran-kebenaran Injil untuk menjawab berbagai kecemasan dan tantangan yang bermunculan dalam pikiran kita. Hal sedemikian menuntut kita untuk mengesampingkan solusi-solusi langsung, katakanlah yang bersifat instan. Sebaliknya, kita harus menaruh kepercayaan pada hikmat-kebijaksanaan Allah dalam menentukan waktu atau saat-Nya.

ROH KUDUS MELAYANG-LAYANG - 2Allah ingin mengajar kita bagaimana mendisiplinkan pemikiran kita sehingga kita tidak menjadi objek belas kasihan percikan-percikan emosi atau keadaan-keadaan yang menyakitkan. Ia ingin mengajar kita bagaimana mengevaluasi pemikiran-pemikiran kita berdasarkan tolok ukur berupa kebenaran-kebenaran kasih-Nya yang tanpa syarat bagi kita, hasrat-Nya yang tetap untuk melakukan kebaikan bagi kita, dan kebebasan dari dosa yang telah dimenangkan oleh salib Yesus bagi kita. Allah menginginkan kita menjadikan suatu kebiasaan teratur untuk menghentikan sejenak kegiatan rutin kita selama beberapa kali dalam satu hari, dan setiap kali berhenti itu lalu bertanya kepada diri kita sendiri apakah kebingungan, rasa takut, bahkan dusta menguasai pemikiran-pemikiran kita?

Selagi kita mengembangkan kebiasaan membawa kebenaran-kebenaran Yesus masuk ke dalam pikiran kita, kita pun akan mengalami Roh Kudus memperbaharui akal budi kita. Pola-pola pemikiran yang lama (yang buruk) akan dirontokkan-Nya. Frustrasi akan digantikan oleh damai-sejahtera dan kecemasan akan digantikan oleh pengharapan. Kita pun akhirnya akan disadarkan benar bahwa kita adalah sungguh anak-anak Allah yang sangat dikasihi oleh-Nya. Dan …… tidak ada siapa dan/atau apa pun yang dapat menggoyahkan kita dari kebenaran-kebenaran mendasar/fundamental salib (kematian) dan kebangkitan Yesus Kristus.

DOA: Datanglah, ya Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Kuasailah pemikiran-pemikiran kami hari ini. Ajarlah kami untuk menaruh iman-kepercayaan kami dalam kebenaran-kebenaran yang telah Kaunyatakan. Hiburlah kami, ya Tuhan, dengan kehadiran-Mu selagi kami berupaya mempersiapkan diri kami untuk hidup di dalam Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 11:2-11), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS DAN YOHANES PEMBAPTIS” (bacaan tanggal 15-12-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2013. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-12-10 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 Desember 2013 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 79 other followers