HENDAKLAH DOSA JANGAN BERKUASA LAGI DI DALAM TUBUHMU YANG FANA

HENDAKLAH DOSA JANGAN BERKUASA LAGI DI DALAM TUBUHMU YANG FANA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Rabu, 23 Oktober 2013)

Peringatan/Pesta Santo Yohanes dr Kapestrano, Imam – Saudara Dina, Pelindung para Pastor/Perawat Rohani Angkatan Bersenjata 

St Paul Icon 4000Sebab itu, hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya. Janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata kebenaran. Sebab dosa tidak akan berkuasa lagi atas kamu, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah anugerah.

Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah anugerah? Sekali-kali tidak! Apakah kamu tidak tahu bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk menaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati, baik dalam dosa yang memimpin kamu kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran? Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah menaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu. Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran. (Rm 6:12-18)

Mazmur Tanggapan: Mzm 124:1-8; Bacaan Injil: Luk 12:39-48 

Sabda Allah dalam Kitab Suci mengajarkan bahwa seluruh umat manusia telah terinfeksi oleh suatu kecenderungan untuk melakukan hal-hal yang buruk dan salah – semacam “hadiah ulang tahun” dari Adam dan Hawa yang kita semua begitu ingin membukanya. Bagaimana? Dengan begitu sering membuat keputusan-keputusan yang bertentangan dengan perintah-perintah Allah. Sebagai akibatnya, kehidupan pribadi, kehidupan keluarga, dan malah seluruh budaya menjadi rusak oleh dosa. Lihat saja dosa korupsi yang begitu membudaya sehingga sungguh merusak masyarakat kita.

Ini adalah gambaran yang cukup gelap. Bagaimana Santo Paulus mungkin berkata bahwa dosa tidak lagi menguasai kita? Bagaimana mungkin dia mengharapkan kita menghidupi suatu kehidupan yang telah dibebaskan dari dosa apabila kita dilahirkan dengan cara begini? Paulus berargumentasi bahwa walaupun kita mewariskan dosa – jadi juga penghukuman – dari Adam dan Hawa, kita pun juga adalah para pewaris kebenaran dan kehidupan kekal dari Yesus.

Bagaimana kita “bergeser” status dari pewaris Adam menjadi pewaris Kristus? Dengan menerima Yesus dan merangkul baptisan kita dalam nama-Nya! Dipenuhi dengan Roh Kudus, kita menjadi seorang ciptaan baru dan menjadi milik Yesus sekarang, bukan lagi milik dosa.

Posisi intim ini dan persekutuan penuh kuat-kuasa dengan Kristus adalah hak kita untuk memohon kepada-Nya. Kemudian, manakala kita menghadapi pertempuran melawan dosa dan godaan, maka kita bertahan dalam iman dan dengan ‘keras-kepala’ tetap mengklaim posisi kita dalam Kristus. Inilah gagasan yang ingin disampaikan oleh Paulus ketika dia menulis, “Hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana …… Janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi sekarang hidup” (Rm 6:12-13).

Pengalaman pribadi Paulus sendiri mengajar dirinya bahwa baik rasa kewajiban moral maupun rasa takut akan penghukuman, dua-duanya tidaklah cukup untuk menjaga agar kita tetap berada di jalan kebenaran. Kita membutuhkan persatuan dengan Kristus. Setiap hari, kita perlu mengingat bahwa kita telah dikubur dengan Yesus dan pada waktu Dia bangkit, maka kita pun bangkit bersama-Nya menuju kepada suatu kehidupan baru yang seluruhnya baru. Setiap hari, kita harus percaya bahwa selagi kita berjalan di atas bumi ini kita sebenarnya dapat hidup bagi Yesus dan melalui Yesus. Sementara kita memperbaharui iman kita dengan cara begini, kita akan melihat cengkeraman dosa atas diri kita mulai terurai-lepas, dan kita akan dipenuhi dengan rasa syukur dan sukacita yang semakin bertumbuh.

DOA: Tuhan Yesus, terpujilah nama-Mu. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk kebebasan dari dosa yang telah Kaumenangkan bagiku. Tolonglah aku sekarang untuk menolak dosa dan secara berkesinambungan mempersembahkan diriku kepada-Mu dalam kebenaran. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:39-48), bacalah tulisan yang berjudul “DIBERI BANYAK, DITUNTUT BANYAK PULA” (bacaan tanggal 23-10-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2013. 

Bacalah juga tulisan yang berjudul “PENGURUS RUMAH YANG SETIA DAN BIJAKSANA” (bacaan untuk tanggal 19-10-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-10-11 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 Oktober 2013

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

WASPADA DAN SIAP SEDIA

WASPADA DAN SIAP SEDIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Selasa, 22 Oktober 2013) 

jesus christ super star“Hendaklah pinggangmu tetap terikat dan pelitamu tetap menyala. Hendaklah kamu sama seperti orang-orang yang menanti-nantikan tuannya yang pulang dari perkawinan, supaya jika ia datang dan mengetuk pintu, segera dibuka pintu baginya. Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka. Apabila ia datang pada tengah malam atau pada dini hari dan mendapati mereka berbuat demikian, maka berbahagialah mereka.” (Luk 12:35-38)

Bacaan Pertama: Rm 5:12,15,17-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:7-10,17 

Apakah anda siap? Apakah anda mempunyai cukup banyak minyak agar pelitamu tetap dapat bernyala? Orang-orang pada zaman Yesus mengetahui, barangkali jauh lebih tahu dari kita semua, akan kebutuhan untuk senantiasa bersikap waspada. Pada zaman itu banyak perampok atau penyamun beroperasi di malam hari. Oleh karena itu para penjaga rumah dan/atau penjaga malam harus sungguh waspada setiap saat, siap untuk menghadapi bahaya apa pun yang mungkin mengancam.

Memang kebanyakan kita – teristimewa orang kota besar – tidak merasa adanya keperluan untuk menghadapi ancaman para pencuri di malam hari, namun kita dipanggil untuk menjaga harta warisan kita dalam Kristus. Musuh-musuh kita – Iblis, hal-ikhwal duniawi, kodrat kita sendiri yang cenderung berdosa – terus saja mengancam kita semua. Kalau tidak waspada, maka kita pun dapat hancur berkeping-keping! Iblis dan hal-hal yang disebutkan tadi senantiasa mencari kesempatan untuk menggeser posisi kita yang penuh kepercayaan pada Kristus, a.l. dengan menimbulkan keraguan terhadap martabat kita sebagai anak-anak Allah; juga dengan mengaburkan ingatan kita akan karya Allah dalam kehidupan kita dan yang meyakinan kita  bahwa Kristus sungguh ada dalam diri kita masing-masing, dan bahwa Dia samasekali bukanlah harapan kemuliaan bagi kita. Setiap Selasa malam dalam Ibadat Penutup, Santo Petrus senantiasa mengingatkan kita: “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (1Ptr 5:8).

Menghadapi ancaman-ancaman tersebut di atas, Yesus memanggil kita untuk senantiasa waspada. Dia ingin kita untuk siap-siaga tidak hanya dalam menantikan kedatangan-Nya untuk kedua kalinya, melainkan juga siap untuk segala waktu akan kedatangan-Nya kepada kita dalam kehidupan kita sehari-hari untuk memberikan rahmat dan hikmat-Nya kepada kita. Dengan tetap waspada, kita dapat menjaga posisi istimewa yang kita miliki dalam Kristus, martabat kita sebagai “kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarta Allah” (Ef 2:19). Kesiap-siagaan akan menjaga kita untuk terbuka menyambut Yesus kapan saja Dia datang.

Janji Injil hari ini adalah bahwa apabila kita tetap waspada menantikan Tuhan Yesus, maka musuh-musuh kita akan kehilangan kontrolnya atas diri kita. Bahkan badai kehidupan sekali pun akan menjadi kesempatan-kesempatan sangat berharga untuk melihat bagaimana Yesus bertempur untuk kita.  Tuhan Yesus ingin sekali melayani kita dengan penuh kemurahan hati. Sayup-sayup atau jelas kita mendengar suara-Nya: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat 11:28). Oleh karena itu, marilah kita menyerahkan segala beban dan kesusahan kita, dan Ia pun akan menggantinya menjadi sukacita dan tawa-ceria.

Waspadalah dan selalu ingatlah bahwa kita (anda dan saya) mempunyai ‘seorang’ Allah yang telah mengasihi kita sejak sediakala dan menginginkan kita mengalami kemenangan-Nya dan mencicipi sukacita yang akan datang bersama-Nya pada saat Ia kembali kelak.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah segalanya yang kubutuhkan. Engkau adalah mutiaraku yang sangat berharga. Tolonglah aku agar mampu mengambil keputusan-keputusan hari ini yang akan menjaga harta kehidupan yang telah Engkau taruh dalam hatiku. Aku akan menjaga agar pelitaku tetap bernyala selagi Engkau mengisi diriku dengan minyak Roh-Mu, karena bersama sang pemazmur aku percaya bahwa “Engkau, Tuhan, akan memberikan kebaikan” (Mzm 85:12) kepadaku . Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:35-38), bacalah tulisan yang berjudul “PERLUNYA MELAKUKAN CEK-IMAN SECARA REGULAR” (bacaan tanggal 22-10-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2013. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-10-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 Oktober 2013 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

…… JIKALAU IA TIDAK KAYA DI HADAPAN ALLAH

…… JIKALAU IA TIDAK KAYA DI HADAPAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Senin, 21 Oktober 2013)

Ordo Santa Ursula (OSU): HARI RAYA SANTA URSULA

Sermon on the MountCopenhagen Church Alter Painting

Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus, “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?” Kata-Nya lagi kepada mereka, “Berjaga-jagalah dan waspadalah  terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu.” Kemudian Ia menyampaikan kepada mereka suatu perumpamaan, “Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan akan menyimpan di dalamnya semua gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, engkau memiliki banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau yang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil daripadamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.” (Luk 12:13-21)

Bacaan Pertama: Rm 4:20-25; Mazmur Tanggapan: Luk 1:1:69-75 

Dengan menceritakan perumpamaan tentang “Orang kaya yang bodoh”, Yesus mendesak para pendengar-Nya (termasuk kita pada zaman modern ini) untuk menjadi kaya di hadapan Allah, bukannya kaya bagi diri kita sendiri. Yesus tidak ingin kita menghinakan benda-benda materiil. Apalagi, Allah itu murah hati terhadap kita dan Ia senang memberikan kita kemakmuran dan kelimpahan. Apa yang ditekankan oleh Yesus adalah agar kita mempertimbangkan apakah kita mendasarkan ekspektasi kita akan kebahagiaan berdasarkan benda-benda materiil – atau apakah kita memandang Allah sebagai sumber sukacita kita yang paling tinggi? Apakah kita fokus perhatian kita hanya pada kebahagiaan kita sendiri, ataukah kita menggunakan sumber daya materiil kita untuk melayani berbagai kebutuhan orang-orang lain?

PERUMPAMAAN TTG ORANG KAYA YANG BODOHYesus itu murah hati kepada kita, dan Ia minta kita untuk bermurah hati juga kepada orang-orang lain. Hal ini termasuk memberi kepada Gereja dan berbagai pelayanan lainnya yang mendukung kegiatan penyebaran Injil. Hal ini termasuk juga mensyeringkan sumber daya yang kita miliki dengan orang-orang miskin, yang membutuhkan, orang-orang yang tersisihkan dari masyarakat …… “wong cilik”. Pada  bagian lain Perjanjian Baru, Yesus mengatakan bahwa “segala sesuatu yang kita lakukan untuk salah seorang dari saudara-Nya yang paling hina, kita telah melakukannya untuk Dia” (lihat Mat 25:40). Jadi, apabila kita sungguh ingin menjadi kaya di hadapan Allah, maka cara mana lagi yang lebih baik daripada menjadi kaya terhadap mereka yang “paling hina” di dalam dunia? Semakin banyak kita menyerahkan harta benda yang kita miliki dalam kehidupan kita – uang kita, waktu kita, energi kita, apa pun sumber daya yang kita hargai – dan memberikan semua itu kepada orang-orang yang membutuhkan, semakin banyak pula kita akan dipenuhi dengan kasih dan berkat-berkat Tuhan lainnya.

Tentu saja kita harus bertanggung jawab, namun janganlah kita biarkan rasa takut menahan kita dari tindakan memberi. Allah tidak akan meninggalkan para pelayan-Nya (para hamba-Nya). Ia mengasihi orang-orang miskin, dan ia mempunyai cinta kasih yang istimewa bagi mereka yang mengasihi orang-orang miskin itu. Dorothy Day adalah salah satu pendiri Catholic Worker Movement dan seorang pecinta orang miskin. Perempuan hebat ini pernah menulis yang berikut ini: “Semakin dekat kita kepada orang-orang miskin, semakin dekat pula kita kepada kasih Kristus.” Sungguh merupakan sebuah paradoks: kita dapat menjadi kaya dalam Kristus denggan mengasihi orang-orang miskin!

Selagi kita menanggapi dorongan Yesus untuk menjadi kaya di hadapan Allah, kita akan menemukan kekayaan kasih-Nya dan kekayaan yang tak dapat diukur dari hal-hal yang sungguh berarti.

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepadaku sebuah hati bagi orang-orang miskin, teristimewa bagi orang-orang yang tidak mempunyai siapa-siapa yang dapat memperhatikan dan merawat mereka. Kirimkanlah seseorang kepada mereka, ya Tuhan! Tunjukkanlah kepadaku apa yang dapat kulakukan. Tolonglah mereka yang membutuhkan pengalaman akan bela-rasa-Mu yang penuh cintakasih dan juga pemeliharaanmu yang lembah lembut. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:13-21), bacalah tulisan yang berjudul “HAI ENGKAU YANG BODOH!” (bacaan tanggal 21-10-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2013.

Bacalah juga tulisan yang berjudul “ORANG KAYA YANG BODOH” (bacaan tanggal 17-10-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-10-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Catatan tambahan: Bagi anda yang cermat dalam membaca teks Kitab Suci, maka ungkapan ‘kaya di hadapan Allah’ (Luk 12:21) yang dinilai baik ini akan sedikit membingungkan, karena dalam ‘Sabda Bahagia’ terdapat ayat: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah” (Mat 5:3). Terasa ada kontradiksi di sini. Saya menganjurkan untuk membaca ayat Mat 5:3 ini begini: “Berbahagialah orang yang miskin dalam roh” (Inggris: poor in spirit atau spiritually poor) agar tidak bingung berkepanjangan. Dengan demikian, juga tidak akan ada masalah dengan ungkapan ‘kaya di hadapan Allah’ di atas. 

Cilandak, 13 Oktober 2013 [HARI MINGGU BIASA XXVIII] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DOA ADALAH AWAL DARI KEHIDUPAN SURGAWI

DOA ADALAH AWAL DARI KEHIDUPAN SURGAWI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXIX – 20 Oktober 2013)

HARI MINGGU EVANGELISASI 

HAKIM YANG JAHAT DAN SANG JANDAYesus menyampaikan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan bahjwa mereka harus selalu berdoa tanpa jemu-jemu. Kata-Nya, “Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu manolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, namun karena ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” Kata Tuhan, “Perhatikanlah apa yang dikatakan hakim yang tidak adil itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Apakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, apakah Ia akan mendapati iman di bumi.” (Luk 18:1-8)

Bacaan Pertama: Kel 17:8-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 121:1-8; Bacaan Kedua: 2Tim 3:14-4:2 

Seandainya doa tidak diperlukan, maka Yesus juga tentunya tidak akan menggunakan demikian banyak waktu-Nya untuk berdoa. Contoh yang diberikan-Nya ini membuat para murid-Nya memohon kepada-Nya: “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya” (Luk 11:1). Mereka (para murid) menyaksikan sendiri kuat-kuasa yang diberikan kepada hidup Yesus berkat doa-doa-Nya. Injil Lukas juga menunjukkan bahwa Yesus selalu berdoa secara teratur (lihat Luk 3:21; 6:12; 9:28; 9:29; 22:32; 22:41). Injil Lukas ini pun memberikan banyak ajaran Tuhan Yesus tentang doa, termasuk bacaan Injil hari ini (lihat Luk 6:28; 11:2 dsj.; 22:40).

Dalam pengajaran-Nya tentang doa, Yesus menekankan dua hal: (1) Kita harus berdoa dari hati yang tulus, doa harus jujur. Ia memperlawankan doa yang sesungguhnya dan ‘doa’ gaya orang Farisi yang sekadar lip-service secara cetek; (2) Doa harus dilakukan dengan tekun dan kita menjadikan berdoa itu sebagai kebiasaan yang tetap. Yesus  menyampaikan  sebuah perumpamaan tentang “hakim yang tidak adil’” dalam bacaan Injil hari ini untuk menekankan pentingnya selalu berdoa dan melakukannya tanpa jemu-jemu (lihat Luk 18:1).

Ada yang mengatakan, “Prayer is the beginning of heaven”, doa itu adalah awal dari surga, katakanlah ‘awal dari kehidupan surgawi’. Seorang Kristiani yang baik mengajarkan saudari-saudaranya seiman untuk berdoa; itulah pemberian yang terbesar yang dapat diberikannya kepada mereka. Para orangtua yang baik mengajar anak-anak mereka untuk berdoa; mereka mengajar anak-anak mereka sejak usia dini untuk pergi ke gereja, untuk berbicara dengan Allah, bukan berbicara satu sama lain selama berjalannya Misa. Para orangtua juga mengajar anak-anak mereka untuk memberikan kepada Allah waktu mereka yang terbaik setiap hari, karena hal tersebut memang pantas bagi Allah.

Seorang suster Benediktin, Sr. Laura Hesch OSB, selalu membaca buku catatan harian yang ditulis oleh kakeknya, Anton Otremba. Sang kakek, pada masa mudanya pernah melakukan perjalanan ziarah dari Jerman ke Roma dengan berjalan kaki. Dalam buku catatan hariannya, Anton menulis, “Setiap menit saya berada dekat dengan Allah. Hari-hari adalah hari-hari paling membahagiakan dalam hidupku.” Sr. Laura suka mengatakan bahwa buku catatan harian sang kakek sungguh-sungguh merupakan sebuah buku doa. Kita dapat mempercayai ucapan sang suster, karena kakeknya menulis, “Setiap menit saya  berada dekat dengan Allah.” Hal ini terjadi apabila kita mengikuti nasihat/perintah Tuhan Yesus dan membiasakan diri berdoa setiap hari. Dengan demikian kita menjadi semakin dekat dengan Allah dan mengalami kebahagiaan yang paling dalam.

DOA: Tuhan Yesus, bukalah hatiku agar aku dapat menanggapi ajaran-Mu. Buatlah hatiku tulus dan jujur waktu berdoa, terbuka bagi sabda-Mu dan bertekun dalam mengasihi-Mu pada waktu berdoa itu. Terima kasih Tuhan Yesus. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan:  Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 18:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “BERDOA TANPA JEMU-JEMU” (bacaan tanggal 20-10-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2013. 

Bacalah juga tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG HAKIM YANG TIDAK ADIL” (bacaan tanggal 14-11-09) dalam situs/blog SANG SABDA. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 17-10-10 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 13 Oktober 2013 [HARI MINGGU BIASA XXVIII] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IMAN YANG DIBERDAYAKAN OLEH ROH KUDUS

IMAN YANG DIBERDAYAKAN OLEH ROH KUDUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Sabtu 19 Oktober 2013)

Keluarga besar Fransiskan: Peringatan/Pesta S. Petrus dr Alkantara, Imam

Paolo_barbone-freeSebab janji kepada Abraham dan keturunannya bahwa ia akan memiliki dunia, tidak berdasarkan hukum Taurat tetapi berdasarkan pembenaran melalui iman.

Karena itu, janji tersebut berdasarkan iman supaya sesuai dengan anugerah, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham. Sebab Abraham adalah bapak kita semua, – seperti ada tertulis: “Engkau telah Kutetapkan menjadi bapak banyak bangsa” – di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada. Sebab sekali pun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya bahwa ia akan menjadi bapak banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan, “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” (Rm 4:13,16-18) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 105:6-9, 42-43; Bacaan Injil: Luk 12:8-12 

Pada pusat ajaran Santo Paulus dalam bagian surat ini adalah perbedaan antara janji-janji Allah dan hukum-hukum-Nya. Allah menjanjikan kepada Abraham bahwa apabila dia percaya, maka turunannya akan menjadi sebuah bangsa besar, yang pada akhirnya menjadi berkat bagi seluruh dunia (Kej 12:2-3). Kepada Musa, Allah memberikan hukum-Nya – jalan di dalam mana Dia memanggil umat-Nya untuk bertindak-tanduk dan membawa diri mereka dalam kehidupan ini. Di sini Paulus mengemukakan perbedaan hakiki antara iman dan hukum-hukum Allah, atau antara apa yang kita percayai dan apa yang kita lakukan.

Orang-orang Yahudi bergumul dengan pertanyaan bagaimana mereka dapat masuk ke dalam suatu hubungan yang benar dengan Allah dan mewariskan janji-janji-Nya. Bagi sebagian orang Yahudi, jawaban atas pertanyaan tersebut adalah kepatuhan yang ketat pada hukum Musa, teristimewa hukum-hukum rituale yang menyangkut penyunatan, batasan-batasan soal makanan, dan persembahan-persembahan kurban. Masalahnya adalah, apabila keselamatan tergantung pada upaya orang untuk menepati semua hukum dan ritus yang diwajibkan, maka semua ini adalah merupakan hal yang tidak mungkin dapat dicapai. Paulus mengemukakan, bahwa sementara kita semua diperintahkan untuk mentaati hukum Allah, tidak seorang pun dapat memenuhi semua perintah itu dengan cukup baik untuk memperoleh keselamatan.

PAULUSBagaimana kita mewariskan janji Allah? Paulus menanggapi pertanyaan ini seperti berikut: “Janji tersebut berdasarkan iman supaya sesuai dengan anugerah, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham” (Rm 4:16). Karena Allah adalah ‘seorang’ Bapa yang sangat mengasihi, Dia memberikan kepada kita pengharapan akan kebahagiaan tanpa akhir dan persatuan dengan-Nya, suatu pengharapan yang kita peroleh karena iman. Allah ingin memberikan kepada kita suatu iman yang hidup, suatu iman yang diberdayakan oleh Roh Kudus yang dapat mengangkat kita sampai ke tataran yang melampaui urusan-urusan duniawi, dan mempersatukan kita dengan Yesus.

Kalau begitu, bagaimana seharusnya iman kita terlihat oleh orang-orang lain? Sebagaimana ditunjukkan oleh kehidupan Abraham, iman kita harus melampaui intelek agar mampu mencakup setiap bagian kehidupan kita – pilihan-pilihan yang kita buat, afeksi-afeksi hati kita, hal-hal yang kita harap-harapkan. Kita semua yang telah dibaptis dalam nama Yesus, sesungguhnya telah dibaptis ke dalam iman Abraham – iman satu-satunya yang dapat membuat kita benar di hadapan Allah. Oleh karena itu baiklah kita dengan teguh berpegang pada iman itu dan memperkenankan kasih Allah Bapa yang memiliki daya-transformasi  agar supaya meningkat dalam hati kita masing-masing.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah menyatakan kasih-Mu melalui Yesus Kristus. Aku percaya bahwa Roh Kudus-Mu akan terus membimbing hidupku. Tingkatkanlah imanku sehingga aku dapat menikmati kegembiraan dan sukacita kehidupan kekal di hadapan hadirat-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:8-12), bacalah tulisan yang berjudul “MURID-MURID KRISTUS DI TENGAH DUNIA” (bacaan tanggal 19-10-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2013.

Bacalah juga tulisan yang berjudul “ROH KUDUS AKAN MENGAJAR KAMU” (bacaan tanggal 15-10-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-10-11 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 Oktober 2013 [Peringatan S. Serafinus dr Montegranaro, Biarawan]

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HANYA LUKAS YANG TINGGAL DENGAN AKU

HANYA LUKAS YANG TINGGAL DENGAN AKU

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta Santo Lukas, Pengarang Injil – Jumat, 18 Oktober 2013)

St-Luke

…Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku. Ia telah berangkat ke Tesalonika. Kreskes telah pergi ke Galatia dan Titus ke Dalmatia. Hanya Lukas yang tinggal dengan aku. Jemputlah Markus dan bawalah ia kemari, karena pelayanannya berguna bagiku. Tikhikus telah kukirim ke Efesus. Jika engkau kemari bawa juga jubah yang kutinggalkan di Troas di rumah Karpus dan juga kitab-kitabku, terutama yang  terbuat dari kulit.

Aleksander, tukang tembaga itu, telah banyak berbuat jahat terhadap aku. Tuhan akan membalasnya menurut perbuatannya. Hendaklah engkau juga waspada terhadap dia, karena dia sangat menentang ajaran kita. Pada waktu pembelaanku yang pertama tidak seorang pun yang membantu aku, semuanya meninggalkan aku – kiranya hal itu jangan ditanggungkan atas mereka – tetapi Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya dan semua orang bukan Yahudi mendengarkannya. Dengan demikian aku lepas dari mulut singa. (2Tim 4:10-17)

Mazmur Tanggapan: Mzm 145:10-13,17-18; Bacaan Injil: Luk 10:1-9

“Hanya Lukas yang tinggal dengan aku” (2Tim 4:11).

Dari sepucuk surat yang ditulis Santo Paulus, orang kudus yang pestanya kita rayakan pada hari ini dikenal sebagai “tabib Lukas yang terkasih” (Kol 4:14). Santo Lukas adalah penulis Injil ketiga yang indah itu, di mana kita dapat membaca kisah kelahiran Yohanes Pembaptis dan Yesus Kristus; Kidung Maria (magnificat) ketika mengunjungi Elisabet; perumpamaan tentang “Orang Samaria yang murah hati”, perumpamaan tentang “Anak yang Hilang”, dll. yang hanya terdapat dalam Injil ketiga ini. Lukas adalah juga penyusun “Kisah Para Rasul”, sebuah “bacaan wajib” bagi kita semua yang baru mulai mendalami Kitab Suci dan sebuah bacaan indah yang memuat sejarah awal Gereja dan kisah-kisah tentang karya Roh Kudus yang menakjubkan di tengah-tengah umat yang giat melakukan evangelisasi.

Ada yang kurang kita ketahui tentang “dokter” Lukas ini: dia memiliki karunia sebagai sahabat setia. Lukas tetap menemani Paulus, baik pada saat-saat baik yang menyenangkan maupun pada saat-saat buruk penuh penderitaan; baik pada masa-masa serba berkekurangan maupun pada masa-masa berkelebihan; pada waktu menderita sakit maupun ketika sehat walafiat – seakan-akan ia telah mengucapkan janji perkawinan! Pada waktu Paulus berada dalam tahanan rumah di Roma, hanya seorang Lukas lah yang menemaninya (2Tim 4:11). Bahkan ketika maut memisahkan kedua orang sahabat ini, perpisahan itu hanyalah sementara saja. Sekarang mereka kembali bersama di hadapan takhta Allah Bapa.

Sebagai seorang rekan-kerja Paulus, Lukas berbagi kerja dengan Paulus dan menghadapi segala kesulitan yang dihadapi dan dialami Paulus: dimasukkan ke dalam penjara, dianiaya secara fisik, kecelakaan kapal laut, malam hari tanpa tidur, kelaparan, kehausan, kedinginan, bahaya-bahaya dari para pengkhianat dan penjahat (2Kor 11:23-27). Paulus menanggung semua itu, dan Lukas berada di sisinya – ringan sama dijinjing dan berat sama dipikul. “…….persaudaraan sejati”, yang seharusnya menjadi ciri-pribadi yang kelihatan dari para murid Kristus! Bersama-sama mereka sangat mengasihi Yesus Kristus, dan bersama-sama pula mereka menghayati “jantung” dari Injil: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13).

kids-walking-to-schoolPersahabatan ideal yang ditunjukkan oleh Santo Lukas seharusnya membuka mata (-hati) kita terhadap keinginan Allah untuk menganugerahkan kita hal yang sama – kita satu sama lain sebagai anak-anak-Nya. Bapa surgawi senantiasa siap untuk mencurahkan berkat-berkat istimewa-Nya apabila kita mengesampingkan kecenderungan-kecenderungan kita untuk menjadi bersahabat hanya pada saat-saat kita sedang membutuhkan sesuatu, atau hanya dengan orang-orang yang menyenangkan, atau hanya pada waktu semuanya serba-nyaman. Allah sangat senang bilamana kita tetap berdiri di samping sahabat kita, pada waktu baik atau pun buruk, demi Injil-Nya.

Walaupun melibatkan banyak kesulitan, janganlah kita luput melihat bahwa persahabatan Kristiani yang sejati mempunyai penghiburan-penghiburan yang indah. Janganlah anda pernah merasa ragu-ragu sedikit pun bahwa Paulus dan Lukas pernah mengalami waktu-waktu penuh sukacita bersama. Selagi mereka melakukan perjalanan misi ke mana-mana, tanpa diragukan lagi ada saat-saat di mana mereka disambut dengan hospitalitas yang hangat, hal mana mereka rayakan dalam kasih akan Allah. Mereka mempunyai kesempatan-kesempatan untuk bergembira-ria pada saat terjadi penyembuhan atas orang-orang sakit, mukjizat dan tanda-tanda heran lainnya,  dan pada waktu terpesona atau diliputi perasaan takjub menyaksikan bagaimana Allah menyelamatkan mereka dari mara-bahaya yang mengancam kehidupan mereka. Mereka mengalami cintakasih penuh syukur yang ditunjukkan oleh ribuan umat yang dipertobatkan lewat evangelisasi mereka – bahkan oleh banyak sekali orang di segala zaman – termasuk anda dan saya – yang masih terus saja diuntungkan oleh karya penginjilan mereka dan tetap mengasihi mereka, bahkan pada hari ini juga!

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk contoh persahabatan yang telah diberikan oleh Santo Lukas. Terima kasih untuk para sahabat yang Kauberikan kepada kami, baik Kristiani maupun yang beriman lain. Tolonglah kami masing-masing agar mau dan mampu menjadi sahabat yang baik, bahkan sampai memberikan nyawa kami bagi para sahabat itu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10:1-9), bacalah tulisan yang berjudul “KITA JUGA DIPANGGIL UNTUK MELAKUKAN EVANGELISASI” (bacaan tanggal 18-10-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2013. 

Sedapat-dapatnya bacalah juga tulisan yang berjudul  “SANTO LUKAS, PENULIS INJIL DAN KISAH PARA RASUL” (bacaan tanggal 18-10-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-10-12 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 12 Oktober 2013 [Peringatan S. Serafinus dr Montegranaro, Biarawan]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MANUSIA DIBENARKAN MELALUI IMAN

MANUSIA DIBENARKAN MELALUI IMAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Ignasius dr Antiokhia, Uskup & Martir – Kamis, 17 Oktober 2013 

PAULUS - 2Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat pembenaran oleh Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi, yaitu pembenaran oleh Allah melalui iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan. Karena semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh anugerah telah dibenarkan dengan  cuma-cuma melalui penebusan dalam Kristus Yesus. Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi pendamaian melalui iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya. Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus.

Jika demikian, apa dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan hukum apa? Berdasarkan perbuatankah? Tidak, melainkan berdasarkan iman! Karena kami yakin bahwa manusia dibenarkan karena iman, bukan karena melakukan hukum Taurat. Atau apakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia juga Allah bangsa-bangsa lain! Jika allah memang satu, Dia akan membenarkan baik orang-orang bersunat melalui iman, maupun orang-orang tak bersunat melalui iman. (Rm 3:21-29) 

Bacaan Pertama Alternatif:  Flp 3:17-4:1; Mazmur Tanggapan: Mzm 130:1-6; Bacaan Injil: Luk 11:47-54 atau Yoh 12:24-26 

Siapa sih yang tidak mau dibenarkan di hadapan Allah? Siapa sih yang tidak menginginkan keselamatan kekal? Catatan dalam Kitab Suci sudah jelas ketika mengatakan bahwa kita telah berdosa dan tidak sampai memenuhi standar kehidupan yang dimaksudkan Allah bagi kita-manusia. Merasa bahwa inilah kasusnya, maka kita seringkali mencoba untuk membenarkan diri kita-manusia melalui niat-niat dan perbuatan-perbuatan baik – suatu kecenderungan yang berurat-akar secara mendalam dalam diri manusia. Santo Paulus juga melihat hal ini dalam dirinya sendiri, namun dia hanya ingin “memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaran (ku) sendiri karena menaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan” (Flp 3:9).

Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Paulus mengajar tentang kebenaran yang datang dari Allah. Sang Rasul menulis bahwa kita hanya dapat dibenarkan dan dibenarkan di hadapan Allah melalui pencurahan darah Kristus di kayu salib, satu kurban-penebus untuk dosa-dosa kita. Semua dosa segenap umat manusia segala zaman telah diampuni melalui kematian Yesus Kristus. Melalui pengorbanan diri-Nya, kita ditebus. Akan tetapi, hal tersebut hanya diberikan melalui suatu relasi pribadi yang hidup dengan Yesus, suatu relasi yang berdasarkan iman dan rasa percaya.

Adalah sangat vital bagi kita untuk memahami bahwa keselamatan kita adalah suatu karunia yang dianugerahkan secara bebas oleh “seorang” Allah yang mengasihi kita dengan sangat mendalam. Karunia itu bukanlah hasil dari usaha kita sendiri; oleh karena itu kita menerima karunia agung ini dengan penuh kerendahan hati. Apa lagi yang lebih baik daripada karunia ini? Kita tidak perlu bekerja keras untuk membuktikan kebaikan kita di depan Allah. Yang dibutuhkan hanyalah, bahwa kita harus mengakui dosa-dosa kita dan menerima keselamatan yang telah memenangkan kita.

Banyak dari kita menerima karunia ini selagi kita masih kanak-kanak pada hari pembaptisan kita, ketika para orangtua kita memprofesikan iman mereka akan Yesus bagi diri kita. Pada peristiwa pembaptisan itu terjadilah transformasi yang riil: Kita dibebaskan dari dosa-asal, dan Allah menanamkan benih kehidupan-Nya sendiri ke dalam diri kita. Akan tetapi, pengakuan iman orangtua kita itu harus menjadi pengakuan iman kita sendiri sementara kita bertumbuh semakin dewasa dan menempatkan kepercayaan kita kepada Yesus setiap hari. Sementara kita menerima karunia keselamatan ini, kehidupan baru kita dalam Kristus mampu berakar di dalam hati kita. Kasih-Nya menjadi semakin riil bagi kita, dan kita memperoleh kedamaian-hati yang lebih besar karena mengetahui bahwa keselamatan kita telah tercapai. Terjamin dalam Kristus, kita sebenarnya menemukan diri kita sendiri melakukan lebih banyak pekerjaan-pekerjaan baik, bukan untuk mencapai keselamatan kita, melainkan karena kita berterima kasih penuh syukur untuk kasih-Nya.

DOA: Terpujilah Engkau, Allah Bapa di surga, untuk kebaikan hati-Mu, kerahiman-Mu! Engkau telah membuat kami benar di hadapan-Mu melalui Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:47-54), bacalah tulisan yang berjudul “KEJUJURAN VS KEMUNAFIKAN” (bacaan tanggal 17-10-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2013. 

Bacalah juga tulisan yang berjudul “KAMU MEMBANGUN MAKAM NABI-NABI, PADAHAL ……” (bacaan tanggal 13-10-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-10-11 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 11 Oktober 2013 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 77 other followers