APAKAH AKU LEBIH BAIK DARI ORANG-ORANG FARISI?

APAKAH AKU LEBIH BAIK DARI ORANG-ORANG FARISI?

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXV [TahunC] – 22 September 2013) 

YESUS KRISTUS - 13 I AM THE WAY THE TRUTH AND LIFE “Siapa saja yang setia dalam hal-hal kecil, ia setia juga dalam hal-hal besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam hal-hal kecil, ia tidak benar juga dalam hal-hal besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Jikalau kamu tidak setia mengenai harta orang lain, siapakah yang akan memberikan hartamu sendiri kepadamu?

Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Luk 16:10-13)

Bacaan Pertama: Am 8:4-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 113:1-2,4-8; Bacaan Kedua: 1Tim 2:1-8;  Bacaan Injil (versi panjang): Luk 16:1-13

Yesus mempunyai cara-Nya sendiri untuk mengkaitkan prinsip-prinsip teoritis dengan hidup-praktis, hal mana terkadang membuat orang merasa tidak nyaman. Pada zaman kita sekarang, misalnya, banyak orang merasa tidak nyaman kalau masalah keuangan dimunculkan berbareng dengan hal-ikhwal hidup rohani. Hidup Kristiani menuntut bagaimana kita harus berurusan dengan uang dan selalu memeriksa batin kita apakah ada keserakahan dalam keputusan yang kita ambil dalam bidang keuangan.

Ada hal-hal yang kita tidak ingin periksa karena bersifat terlalu pribadi; hal-hal tersebut menyentuh kita dengan begitu mendalam. Sebagian besar dari kita sebenarnya memiliki sifat self-focuced, self-centered, berpusat pada diri sendiri; berpikir, bersikap dan bertindak-tanduk demi kepentingan pribadi. Hal seperti ini jelas akan membatasi kemampuan kita untuk melihat diri kita sebagai anggota-anggota dari sebuah komunitas yang lebih besar, sebuah komunitas yang mencakup baik orang-orang miskin maupun kaya. Kata-kata Yesus di atas sungguh relevan untuk para murid-Nya yang dapat digolongkan sebagai kaum miskin, demikian pula untuk mereka yang kaya. Kata-kata-Nya tetap berlaku pada zaman kita ini, berlaku bagi setiap orang.

Yesus memberi peringatan, bahwa harta-kekayaan berkemungkinan besar menjadi TUAN kita. Kebanyakan orang mau berpikir bahwa mereka memiliki sikap rasional terhadap peranan harta-kekayaan. Namun pada kenyataannya kuasa uang lebih kuat, sehingga menjadi tuan. Kita tidak dapat menyangkal bahwa uang memiliki kuasa yang begitu kuat, sehingga secara relatif mudah dapat memperbudak orang-orang. Ingatlah rekaman pembicaraan telepon-tersadap yang masih menjadi isu hangat pada hari-hari ini. Lihat bagaimana para pejabat negara yang biasanya tampak angker-menakutkan di depan rakyat kebanyakan, terasa tidak lebih dari budak-budak di hadapan seorang pengusaha-gelap yang mempunyai uang.

Tanyakanlah kepada siapa saja yang anda temui, siapa yang merasa sudah cukup mempunyai uang? Yesus mengatakan bahwa orang-orang Farisi itu adalah hamba-hamba uang (Luk 16:14), meskipun mereka menyangkal kenyataan itu. Nah, pertanyaan yang pantas kita tanyakan kepada diri kita masing-masing sekarang: “Apakah aku lebih baik dari orang-orang Farisi?” Sampai hari ini peringatan dari Yesus tentang kenyataan bahwa uang itu berkompetisi dengan Allah untuk menjadi tuan kita, tetap menggelisahkan banyak orang. Tidak sedikit orang merasa terganggu karena pernyataan Yesus ini, oleh karena itu diam-diam berpindah ke agama/kepercayaan yang lebih dapat mengakomodir keyakinannya tentang fungsi harta-kekayaan dalam kehidupan seseorang.

Sebagai seorang Kristiani kita harus menghadapi isu ini dengan berdiri-tegak. Apakah harta-kekayaan yang sesungguhnya menjadi tuan kita, dan bukannya Allah? Apakah tidak adanya uang menjadi suatu halangan bagi kita dalam menghayati hidup Kristiani? Tidak ada jawaban yang sama untuk setiap situasi. Dari waktu ke waktu kita dapat memiliki sikap yang mendua. Oleh karena itu perlulah untuk kita melakukan pemeriksaan batin di hadapan Allah setiap hari, teristimewa dalam Ibadat Penutup, mohon ampun atas dosa-dosa kita dan berketetapan hati untuk kembali kepada-Nya.

DOA: Roh Kudus Allah, terangilah kegelapan hatiku, ubahlah hatiku dan berikanlah kepadaku hati dan pikiran Kristus. Amin. 

Cilandak, 18 September 2013 [Peringatan S. Yosef dr. Copertino] 

Sdr. F.X. Indrapradja OFS

YESUS BERKATA KEPADA MATIUS: “IKUTLAH AKU!”

YESUS BERKATA KEPADA MATIUS: “IKUTLAH AKU!”

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Matius, Rasul & Penulis Injil – Sabtu, 21 September 2013) 

KEMURIDAN - YESUS MEMANGGIL MATIUS - 1Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.”  Matius pun bangkit dan mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi, pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mat 9:9-13)

Bacaan Pertama: Ef 4:1-7,11-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5 

Sejak pertama kali bertemu dengan Yesus selagi dia sedang bekerja di tempat pemungutan cukai, Matius memberi tanggapan penuh sukacita terhadap undangan Yesus kepadanya untuk berbalik dari cara hidupnya yang lama dan kemudian menggunakan seluruh sisa hidupnya sebagai seorang murid Kristus, misionaris dan penginjil. Ada tradisi yang mengatakan bahwa Matius mewartakan Injil di tengah-tengah orang-orang Yahudi untuk selama 15 tahun setelah kebangkitan Kristus, lalu melanjutkan pelayanan evangelisasinya di Persia, Makedonia dan Syria.

Cerita tentang panggilan Matius seharusnya memberikan kepada kita dorongan yang kuat. Yesus tidak datang untuk mencari orang-orang yang telah sempurna. Dia datang mencari yang hilang …… orang berdosa! Ingatlah bagaimana orang-orang Farisi menggerutu ketika Yesus duduk pada meja makan bersama Matius dkk. Orang-orang Farisi itu mengatakan, bahwa tidak pantaslah bagi seorang rabi berhubungan dengan para pemungut cukai dan pendosa. Namun Yesus menandaskan bahwa justru orang-orang berdosalah yang mau diundangnya ke dalam kerajaan-Nya. Dalam hal ini Yesus mengutip sebuah ayat Perjanjian Lama (Mat 9:13; bdk. Hos 6:6; Mat 12:7).

Maka, jangan pikir bahwa kita harus suci-suci dulu sebelum menyerahkan hidup kita kepada Yesus. Matius adalah contohnya. Kita dapat menyerahkan hidup kita kepada Kristus sekarang juga. Tidak ada masalah bagi Yesus Kristus untuk menerima kita (anda dan saya) sebagai milik-Nya. Juga janganlah kita merasa risau kalau merasakan diri kita tidak memiliki karunia atau talenta yang khusus. Yesus akan memberikan kepda kita segala rahmat yang kita butuhkan untuk hidup pelayanan kita bagi Dia.

Yesus mungkin saja tidak memanggil kita untuk menjadi seorang penginjil purnawaktu seperti yang dibuat-Nya atas diri Matius – atau mungkin juga memanggil kita untuk menjadi seorang full-timer sebagai seorang penginjil. Apa pun panggilan-Nya kepada kita, panggilan itu tentunya menyangkut peranan kita masing-masing sebagai seorang saksi-Nya dalam keluarga, para sahabat kita, para kerabat kerja kita, untuk menolong mereka menerima Yesus dalam hidup mereka. Marilah kita mengingat, bahwa justru dalam tindakan sehari-hari kita yang penuh ketaatan – menghadiri Misa Harian, membaca dan merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci untuk beberapa menit lamanya setiap hari, melakukan pemeriksaan batin dan mohon pengampunan Tuhan atas dosa-dosa kita – maka kita sebenarnya mengatakan “ya” terhadap panggilan Yesus. Oleh karena itu, marilah kita mulai dengan langkah-langkah kecil ini, dan kita pun akan menemukan kuat-kuasa Allah bekerja melalui diri kita dengan cara-cara yang tidak pernah kita harapkan atau bayangkan sebelumnya.

Selagi anda menanggapi panggilan Yesus untuk menjalani suatu kehidupan yang baru, ingatlah bahwa Yesus ada di samping anda di setiap langkah yang anda buat. Oleh karena itu, janganlah menunda-nunda untuk mengatakan “ya” kepada-Nya. Jika anda mengatakan “ya” kepada-Nya, maka “ya” anda itu akan membuat diri anda seorang pencinta yang penuh gairah kepada Tuhan dan terang yang sungguh memancarkan cahaya di tengah dunia ini.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena engkau memanggilku keluar dari kegelapan untuk masuk ke dalam terang-Mu. Aku ingin hidup bagi-Mu. Tolonglah aku menemukan seorang pribadi pada hari ini, kepada siapa aku dapat syering kasih-Mu. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 9:9-13), bacalah tulisan yang berjudul “BUKAN ORANG SEHAT YANG MEMERLUKAN TABIB” (bacaan tanggal 21-9-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2013.

Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “AKU DATANG BUKAN UNTUK MEMANGGIL ORANG BENAR, MELAINKAN ORANG BERDOSA” (bacaan tanggal 21-9-12), “CERITA TENTANG MATIUS, SI PEMUNGUT CUKAI” (bacaan tanggal 21-9-10) dan “MATIUS TAHU BAHWA YESUS DAPAT MENYEMBUHKANNYA” (bacaan tanggal 21-9-11), ketiganya dalaM situs/blog SANG SABDA atau PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-9-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 17 September 2013 [Pesta Stigmata Bapa Kita Fransiskus] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TIDAK ADA SEORANG PUN YANG BERADA DI LUAR JANGKAUAN KASIH ALLAH

TIDAK ADA SEORANG PUN YANG BERADA DI LUAR JANGKAUAN KASIH ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Andreas Kim Taegŏn, Imam & Paulus Chŏng  Hasang dkk., martir-martir Korea – Jumat, 20 September 2013) 

PEREMPUAN-PEREMPUAN PENGIKUT YESUSTidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat dan berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana istri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan harta milik mereka. (Luk 8:1-3)

Bacaan Pertama:  1Tim 6:2c-12; Mazmur Tanggapan: 49:6-10,17-20

Pikiran dan rancangan Allah memang tidak pernah dapat ditebak oleh akal-budi manusia yang sungguh terbatas. Dengan Allah, hal-hal yang diharapkan tidak terjadi dan hal-hal yang tidak diharapkan dan tidak dibayangkan justru dialami: “Sebab, rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN [YHWH]” (Yes 55:8).

Pada waktu Yesus menjadi seorang manusia dan tinggal di tengah-tengah kita, Dia memperlebar batasan-batasan dari apa yang diharapkan orang dari seorang Mesias. Ia berjalan ke banyak tempat “memberitakan Injil Kerajaan Allah” (Luk 8:1). Injil atau Kabar Baik yang diberitakan-Nya sungguh mengejutkan sekaligus menggembirakan: Allah menginginkan keselamatan bagi setiap orang – tidak hanya yang “pantas”, yang saleh dalam praktek keagamaan, melainkan setiap orang yang ada.

Hal seperti ini sungguh sukar dicerna oleh orang-orang Yahudi, umat pilihan Allah. Gagasan bahwa Allah harus menebus bangsa-bangsa – bahkan yang tak bermoral, kafir – sungguh tidak terpikirkan oleh mereka. Akan tetapi, kenyataannya hal ini memang benar, sampai hari ini. Tidak ada seorang pun yang dikecualikan dari kasih Allah atau hasrat-Nya untuk syering hidup-Nya secara pribadi dan akrab. Tidak ada seorang pun yang hidup dalam dunia ini berada diluar jangkauan kasih Allah atau begitu “terbenarm” dalam kedosaan yang tidak mampu ditebut oleh kuasa-Nya.

Kedua belas rasul dan beberapa orang perempuan yang ikut dalam misi Yesus (Luk 8:2) bukanlah yang diharap-harapkan orang dari sebuah rombongan seorang Raja-Mesias. Beberapa orang ex-nelayan, seorang ex-pemungut cukai, seorang ex-Zeloti, beberapa perempuan dst. – miskin, tersisihkan secara sosial, bukan “orang-orang sekolah dalam hal agama” – semua ini sungguh bertolak-belakang dengan adat-istiadat dan nilai-nilai yang dianut bangsa Yahudi, namun pada saat yang sama merupakan suatu testimoni tentang hikmat-kebijaksanaan dan jalan Allah yang tak terbayangkan. Hikmat kebijaksanaan  Allah memporak-porandakan batasan-batasan akal-budi kita, dan dalam Yesus, Ia mendamaikan orang-orang, baik Yahudi maupun non-Yahudi (kafir), yang kaya dan miskin, yang sehat maupun yang kurang/tidak sehat, yang  benar dan berdosa, seringkali dengan cara-cara yang tak terbayangkan.

Dalam Yesus, kerajaan Allah terbuka untuk siapa saja: wong cilik dan yang termarginalisasi, yang ternama dan berpengaruh. Ada suatu sukacita yang datang dari pelebaran batasan-batasan manusiawi kita: Kegembiraan yang meluap-luap dalam kasih Allah selagi hal itu memancarkan cahaya lewat kegelapan harapan-harapan kita yang terbatas.

Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita akan mengajar kita kebenaran tentang Yesus. Kebenaran ini – realitas-realitas dan pemikiran-pemikiran Allah Yang Mahakuasa – bukanlah sesuatu yang dapat ketahui dan pahami berdasarkan kekuatan kita sendiri. Hal tersebut secara lengkap-total berada di luar jangkauan akal-budi kita, dengan demikian kita sungguh membutuhkan Roh Kudus untuk membimbing kita ke dalam seluruh kebenaran (Yoh 16:13). Oleh karena itu, baiklah kita setiap hari berpaling kepada-Nya agar dapat memperoleh hikmat-kebijaksanaan dan pengetahuan yang datang dari Allah saja.

DOA: Tuhan Yesus, hancurkanlah segala pemikiran yang penuh dengan praduga dan bias-bias yang ada dalam diriku, sehingga dengan demikian aku dapat berpikir seperti Engkau berpikir, mengasihi seperti Engkau mengasihi, dan memilih cara-cara dan rencana-rencana yang Engkau telah tentukan sejak kekal. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 81-3), bacalah tulisan yang berjudul “PEREMPUAN-PEREMPUAN PENGIKUT YESUS YANG SETIA” (bacaan tanggal 20-9-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2013. 

Bacalah juga tulisan yang berjudul “PEREMPUAN-PEREMPUAN YANG MELAYANI YESUS ” (bacalah tanggal 16-9-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak,  17 September [Pesta Stigmata Bapa Kita Fransiskus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IMANMU TELAH MENYELAMATKAN ENGKAU, PERGILAH DENGAN DAMAI!

IMANMU TELAH MENYELAMATKAN ENGKAU, PERGILAH DENGAN DAMAI!

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Kamis, 19 September 2013)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Fransiskus Maria dr Camporosso, Biarawan 

KAKI YESUS DIBERSIHKAN DI RUMAH FARISI SIMON

Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan dengannya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah botol pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan airmatanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya, “Jika Ia ini nabi, tentu ia tahu bahwa perempuan itu seorang berdosa.” Lalu Yesus berkata kepadanya, “Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu.” Sahut Simon, “Katakanlah, Guru.”

“Ada dua orang yang berhutang kepada seorang yang membungakan uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan lebih mengasihi dia?” Jawab Simon, “Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.” Kata Yesus kepadanya, “Betul pendapatmu itu.” Sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon, “Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasuhi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tidak henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. Karena itu, Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak mengasihi. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia mengasihi.” Lalu Ia berkata kepada perempuan itu, “Dosamu telah diampuni.” Orang-orang yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka, “Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa-dosa?” Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu, “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan damai!” (Luk 7:36-50)

Bacaan Pertama: 1Tim 4:12-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:7-10 

Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya, “Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu bahwa perempuan itu seorang berdosa” (Luk 7:39). Pertanyaan saya sehubungan dengan pikiran Simon orang Farisi seperti diungkapkan dalam ayat di atas adalah, “Koq Simon tahu ya, bahwa perempuan itu seorang pendosa, seorang WTS?” Namun marilah kita tinggalkan pertanyaan saya itu.

Kita memang tidak dapat menyangkal bahwa cerita tentang seorang perempuan berdosa ini adalah salah satu cerita yang paling populer dari cerita-cerita yang terdapat dalam keempat kitab Injil. Bayangkan sebuah botol pualam yang tidak murah dan dari dalamnya mengalirlah minyak narwastu yang sangat mahal yang digunakan untuk meminyaki kaki Yesus. Sebelum itu kaki Yesus dibasahi dengan airmata seorang perempuan yang mestinya cantik-menawan dan diseka dengan rambutnya sendiri. Sebuah pemandangan yang sungguh luar biasa, sebuah adegan yang menyentuh hati siapa saja yang telah melakukan pertobatan dan mengalami pengampunan-Nya, namun merupakan sebuah adegan yang menjijikan bagi mereka yang masih hidup dalam kemunafikan. Ide tentang seorang WTS yang berderai air mata pertobatan, sukacita, dan kasih karena telah mengalami perjumpaan dengan Yesus terasa begitu “abadi” karena masih memiliki kuat-kuasa untuk menggerakkan hati kita, bahkan pada hari ini, dua ribu tahun setelah untuk pertama kalinya cerita ini dicatat.

KAKI YESUS DIURAPI DI RUMAH ORANG FARISITindakan-tindakan perempuan ini begitu memaksa kita untuk merenungkan pengungkapan cintakasih yang luarbiasa, berani, bahkan kelihatan tolol, sehingga kita pun mulai berpikir apakah kita dapat menemukan satu contoh lain yang serupa. Pada titik inilah kita merasa seakan tidak ada apapun yang dapat dibandingkan, ketika kita memperoleh kasih Yesus sendiri bagi kita masing-masing. Apa yang dilakukan oleh perempuan ini begitu dramatis, namun tidak dapat dibandingkan dengan kasih Yesus bagi kita yang begitu berlimpah. Yesus begitu mengasihi kita sehingga Dia bersedia secara sukarela memberikan nyawa-Nya sendiri, keseluruhan diri-Nya, tidak hanya bagi orang-orang yang banyak mengasihi – seperti perempuan berdosa dalam cerita Injil hari ini – melainkan juga bagi mereka yang memiliki hati dan pikiran sempit seperti Pak Simon orang Farisi itu.

Bagaimana kita dapat mencirikan cinta kasih sebagaimana yang diperagakan oleh perempuan berdosa tersebut? Bagaimana kita dapat menemukan kata-kata yang “pas” untuk mengungkapkan hasrat menggairahkan dari Yesus bagi kita masing-masing? Santo Alfonsus Liguori pernah menulis seperti berikut: “Allah mengasihi kita sejak kita belum eksis. Ia mengasihi kita lebih dahulu. Allah tidak menyelamatkan Putera-Nya yang tunggal justru agar dengan demikian Ia dapat menyelamatkan kita. Bagaimana Dia dapat gagal memberikan kepada kita dan Putera-Nya semua hal yang baik?”

Bukankah kita semua ingin mendengar Yesus berkata kepada kita bahwa dosa-dosa kita telah diampuni? Bukankah kita semua ingin Ia mengatakan kepada kita, “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan damai”? Sekarang, marilah kita membayangkan Yesus sedang memandangi kita.  Bayangkan kasih dan bela-rasa yang di wajah-Nya. Siapakah Yesus ini? Dialah Pribadi satu-satunya yang mengetahui dan mengenal kita luar-dalam. Dialah satu-satunya Pribadi yang mengetahui secara menyeluruh segala perjuangan kita, dosa-dosa dan kelemahan-kelemahan kita. Dia turut ambil bagian dalam pengharapan dan sukacita kita, kerinduan kita dan mimpi kita. Dia mengampuni semua dosa kita. Kasih-Nya – personal dan intim – secara berkesinambungan mengalir ke luar dari hati-Nya ke dalam hati kita masing-masing. Seandainya kita tega meninggalkan ‘seorang’ Allah seperti ini, …… apa kata dunia?

DOA: Tuhan Yesus, Engkau mengasihi jiwaku dan memberikan “hidup baru” kepadaku. Aku sungguh mengasihi Engkau, ya Tuhan! Oleh Roh Kudus-Mu, aku menjadi bebas untuk hidup dalam damai-sejahtera dan kasih yang dipenuhi dengan sukacita. Terima kasih, Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:36-50), bacalah tulisan yang berjudul “DOSAMU TELAH DIAMPUNI” (bacaan tanggal 19-9-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2013.

Bacalah juga tulisan yang berjudul “YESUS DIURAPI OLEH SEORANG PEREMPUAN BERDOSA” (bacaan tanggal 17-9-09) dalam situs/blog SANG SABDA, 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-9-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 September 2013 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HIKMAT ALLAH DIBENARKAN OLEH SEMUA ORANG YANG MENERIMANYA

HIKMAT ALLAH DIBENARKAN OLEH SEMUA ORANG YANG MENERIMANYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Rabu, 18 September 2013)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Yosef dr Copertino, Imam Fransiskan Conventual 

JesandSadducees_1179-48Kata Yesus, “Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang zaman ini dan dengan apakah mereka dapat disamakan? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis. Karena Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.” (Luk 7:31-35)

Bacaan Pertama: 1Tim 3:14-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-6 

Banyak orang pada zaman Yesus menolak ajaran-Nya maupun ajaran Yohanes Pembaptis. Nampaknya tidak ada yang cocok dengan “selera” mereka. Ini adalah orang-orang yang diibaratkan Yesus sebagai anak-anak yang susah dibuat senang, tidak berbahagia dengan apa pun juga. Ketika Yohanes Pembaptis hidup dalam kesederhanaan dan mewartakan sebuah pesan pertobatan, mereka memandang dia sebagai orang yang terlalu keras dan terlalu menuntut. Namun, ketika Yesus makan bersama orang-orang berdosa dan menunjukkan belas kasihan-Nya kepada mereka, mereka menilai diri-Nya terlalu mudah/gampangan dalam bergaul dengan orang-orang. O, betapa seringkali “ngaco” hati mereka itu. Apa pun yang tidak sesuai dengan “selera” mereka berarti salah!

Orang-orang yang tergolong generasi Yesus mempunyai preconceived ideas mereka sendiri perihal ide-ide pribadi macam apa Mesias itu, dan Yesus tidak cocok …, tidak pas dengan pengharapan mereka. Orang-orang itu terbelenggu oleh pandangan mereka sendiri tentang segala sesuatu. Sebagai orang-orang yang sebenarnya mempunyai kesempatan untuk mengenal Yesus, mereka malah tidak ingin mengakui Yesus atau menyambut tindakan Allah melalui diri Yesus. Mereka tetap terikat pada penilaian mereka sendiri dan pandangan mereka sendiri, seperti anak-anak yang keras kepala dalam bacaan Injil hari ini. Sebagai akibatnya, mereka luput menerima sentuhan kasih-Nya.

Sekarang, baiklah kita bertanya kepada diri kita sendiri, berapa sering kita bertindak seperti anak-anak tersebut. Barangkali kita sudah mengambil keputusan sampai berapa banyak Allah dapat meminta sesuatu dari diri kita; dengan demikian kita pun telah menutup pintu kita terhadap apa saja lagi yang diminta-Nya. Barangkali kita telah memperkenankan sebuah relasi yang baik dirusak karena kita tidak mau mengalah atas perkara yang sebenarnya tidak penting. Barangkali kita tidak memberikan kesempatan kepada pasangan hidup kita untuk membuktikan bahwa dia telah berubah karena kita tidak mau menerima permintaan maafnya. Barangkali kita telah menghakimi pastor paroki kita dengan keras karena pernyataan yang dibuatnya dalam sebuah homili Misa hari Minggu. Berapa banyak dan sering kita kehilangan kesempatan untuk mempunyai seorang teman baru karena kita tidak menyukai caranya berpakaian? Dlsb., dsj.

Bilamana kita menutup diri kita terhadap orang-orang lain berdasarkan prakonsepsi- prakonsepsi kita, penilaian-penilaian yang keliru, dan prasangka-prasangka, maka kita tidak saja membuat mereka menderita, kita pun menderita karenanya. Walaupun Yesus mengakui kekerasan hati dari mereka yang menentang diri-Nya, Dia tahu bahwa hikmat Allah pada akhirnya akan membuktikan keabsahan dalam kehidupan orang-orang yang menerima-Nya (Luk 7:35). Oleh karena itu, marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk melembutkan hati kita masing-masing dan membebaskan kita dari prasangka-prasangka buruk dan miskonsepsi-miskonsepsi yang selama ini membelenggu diri kita. Marilah kita mencari Tuhan setiap hari untuk mendapatkan hikmat-Nya dan mengenal serta mengalami hidup-Nya  dalam diri kita.

DOA: Yesus, bukalah mata (-hati)ku agar dengan demikian aku dapat melihat siapa sesungguhnya Dikau sebagai Tuhan dan Mesias (Kristus). Singkirkanlah setiap rintangan dalam hatiku supaya aku dapat menerima hidup-Mu dalam diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama (1Tim 3:14-16), bacalah tulisan yang berjudul “JEMAAT ALLAH, DASAR DAN PENOPANG KEBENARAN” (bacaan tanggal 18-9-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2013. 

Bacalah juga tulisan yang berjudul “KAMI MENIUP SERULING BAGIMU” (bacaan tanggal 16-9-09) dalam situs/blog SANG SABDA. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-9-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 September 2013 [Pesta Salib Suci] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PESTA STIGMATA BAPA KITA FRANSISKUS – 17 SEPTEMBER

PESTA STIGMATA BAPA KITA FRANSISKUS – 17 SEPTEMBER

st-francis-receiving-the-stigmata.jpg!HD

SYARAT-SYARAT BAGI PARA PEMIMPIN JEMAAT DAN DIAKON

SYARAT-SYARAT BAGI PARA PEMIMPIN JEMAAT DAN DIAKON

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Selasa, 17 September 2013)

Keluarga Fransiskan: Pesta Stigmata Bapa kita Fransiskus 

506px-Holy_Orders_Picture

Benarlah perkataan ini, “Orang yang menghendaki jabatan pengawas jemaat menginginkan pekerjaan yang mulia.” Karena itu, pengawas jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu istri, dapast menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, pandai mengajar orang, bukan peminum, bukan pemarah melainkan peramah, pendamai, bukan hamba uang, seorang kepada keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. Jikalau seseorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimana ia dapat mengurus jemaat Allah? Janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar jangan  ia menjadi sombong dan kena hukuman seperti yang terjadi pada Iblis. Hendaklah ia juga mempunyai nama baik di luar jemaat, agar jangan ia digugat orang dan jatuh ke dalam jerat Iblis. 

Demikian juga diaken-diaken haruslah orang terhormat, jangan bercabang lidah, jangan penggemar anggur, jangan serakah, melainkan orang yang memelihara rahasia iman dalam hati nurani yang suci. Mereka juga harus diuji dahulu, baru ditetapkan dalam pelayanan itu setelah ternyata mereka tak bercacat. Demikian pula istri-istri hendaklah orang terhormat, jangan pemfitnah, hendaklah dapast menahan diri dan dapat dipercayai dalam segala hal. Diaken haruslah suami dari satu istri dan mengurus ank-anaknya dan keluarganya dengan baik. Karena mereka yang melayani dengan baik beroleh keudukan yang baik sehingga dalam iman kepada Kristus Yesus mereka dapat bersaksi dengan leluasa. (1Tim 3:1-13)

Mazmur Tanggapan: Mzm 101:1-3.5-6; Bacaan Injil: Luk 7:11-17

Bacaan hari ini terdengar seperti iklan mencari orang-orang untuk menjadi para pemuka gereja, ……… para pemimpin gereja. Di bagian pertama Paulus berbicara mengenai para penatua/pengawas gereja, yaitu para presbiter atau pastor. Di bagian kedua sang rasul berbicara mengenai para diakon …… para pelayan seperti Filipus, Stefanus dll. (lihat Kis 6:1-6), atau S. Laurensius [+ 258] pada abad ke-3 di Roma, atau S. Fransiskus dari Assisi [1181-1226] (Catatan: tidak seperti sahabatnya, S. Dominikus, S. Fransiskus bukanlah seorang imam!). Dalam menyebutkan berbagai kualitas yang dibutuhkan oleh para pemuka gereja itu, Paulus tidak menyebut “kekayaan”, “kekuasaan” atau “prestise/status sosial”. Seorang calon pemimpin Gereja haruslah “above reproach” ……, seorang pribadi yang nyaris sempurna …… (lihat 1Tim 3:2,4,7,12). Jadi, penekanannya adalah pada keutamaan/kebajikan, bukannya curriculum vitae (CV) atau resume yang impresif penuh dihiasi dengan berbagai gelar akademis dan capaian di berbagai bidang bisnis dan/atau akademis. Berbagai kualitas ini tentunya juga berlaku bagi para pemuka gereja pada umumnya, misalnya para anggota dewan paroki, prodiakon dlsb.

ST. PAUL THE APOSTLE -ORTHODOX CHURCHPada waktu Surat pertama kepada Timotius ini ditulis – menjelang akhir abad pertama – terdapatlah kebutuhan yang crucial akan pemimpin-pemimpin gerejawi yang kuat-berwibawa. Pada waktu itu Gereja sedang berada dalam periode konsolidasi. Para pengganti rasul-rasul Kristus yang pertama baru saja mulai melakukan pengorganisasian atas tugas-tugas pelayanan mereka dan mengembangkan tata-ibadat gerejawi, kredo (fasal-fasal iman-kepercayaan atau syahadat), dan ajaran-ajaran Gereja. Mereka membutuhkan orang-orang yang memiliki kepribadian yang kuat guna menjamin kelangsungan apa yang telah dimulai oleh Roh Kudus di tengah mereka. Kebutuhan tersebut menjadi sangat mendesak karena kehadiran berbagai pengajar/nabi palsu di tengah-tengah umat Kristiani. Ada sejumlah warga Gereja justru mempromosikan kekeliruan-kekeliruan yang serius – misalnya menyangkal keilahian Kristus, atau mengklaim bahwa pengorbanan-Nya di atas kayu salib tidak memberi efek apa-apa. Nah, kekeliruan-kekeliruan itu membutuhkan koreksi. Lagipula waktu itu bukanlah saat untuk berselisih dalam hal doktrin kepercayaan.

Para pemimpin yang baik juga sangatlah hakiki untuk membantu Gereja dalam berhubungan dengan dunia luar. Karena umat Kristiani seringkali menghadapi kekerasan dan penganiayaan, maka conduct para pemimpin mereka haruslah tanpa cela. Hal ini perlu bukan sekadar agar jemaat-jemaat (gereja-gereja) dapat diorganisasikan dengan baik dan terus bertumbuh. Penting jugalah jemaat-jemaat itu untuk berfungsi sebagai saksi bagi orang-orang lain dalam masyarakat mereka masing-masing, yang sebagian telah merasa khawatir atas pengaruh Gereja yang semakin bertumbuh menjadi besar.

Selagi kita memikirkan para pemimpin Gereja awal dan tantangan-tantangan besar yang mereka hadapi, marilah kita mengingat para pemimpin Gereja pada zaman modern kita ini. Para pemimpin itu membutuhkan dukungan kita-umat, tidak kurang dari uskup-uskup, presbiter-presbiter dan diakon-diakon pertama pada masa-masa Gereja awal. Kita harus mendoakan para imam dan uskup kita, paling sedikit sama seringnya dengan doa-doa kita untuk para sahabat dan keluarga kita – tidak hanya karena mereka bekerja dan berdoa sebagai para pemimpin Gereja, melainkan juga karena kita adalah satu tubuh dengan mereka dalam Kristus. Misa senakel adalah contoh yang baik untuk dipraktekkan oleh umat dengan tekun dan berkesinambungan.

DOA: Tuhan Yesus, utuslah Roh Kudus-Mu kepada semua pemimpin Gereja. Bimbinglah mereka dengan hikmat-Mu agar mereka dapat melayani umat dengan efektif. Berikanlah kepada mereka damai-sejahtera-Mu agar mereka tidak pernah akan putus harapan dalam masa yang penuh kesulitan ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:11-17), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMBANGKITKAN ANAK MUDA DI NAIN” (bacaan tanggal 17-9-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2013. 

Bacalah tulisan-tulisan yang berjudul “REALITAS KASIH ALLAH DI DEKAT PINTU GERBANG KOTA NAIN” (bacaan tanggal 18-9-12) dan “MUKJIZAT ITU MEMANG ADA !!!” (bacaan tanggal 13-9-11) dalam situs/blog SANG SABDA. 

Cilandak,  14 September 2013 [Pesta Salib Suci] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 76 other followers