SUPAYA MEREKA PUN DIKUDUSKAN DALAM KEBENARAN

SUPAYA MEREKA PUN DIKUDUSKAN DALAM KEBENARAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH VII, 20 Mei 2012)

HARI KOMUNIKASI SEDUNIA

Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita. Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorang pun dari mereka yang binasa selain dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci. Tetapi sekarang, Aku datang kepada-Mu dan Aku mengatakan semuanya ini sementara Aku masih ada di dalam dunia, supaya penuhlah sukacita-Ku di dalam diri mereka. Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari yang jahat. Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu itulah kebenaran. Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran. (Yoh 17:11b-19)

Bacaan Pertama: Kis 1:15-17,20a,20c-26; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-2,11-12,19-20; Bacaan Kedua: 1Yoh 4:11-16

Selagi Dia masih bersama para murid-Nya di dunia, Yesus telah menjaga para murid agar selalu berada dalam persatuan dan kesatuan. Sekarang, ketika Dia bersiap-siap untuk meninggalkan mereka, Yesus berdoa agar mereka tetap mempertahankan persatuan dan kesatuan itu. Dia tahu bahwa ikatan persatuan dan kesatuan mereka haruslah didasarkan pada sesuatu yang bukan sekadar karena kesamaan kepentingan manusiawi. Persatuan dan kesatuan mereka haruslah datang dari kenyataan bahwa mereka ikut ambil bagian dalam suatu kehidupan yang dibuat mungkin oleh-Nya bagi mereka.

Yesus mengetahui bahwa selagi para murid-Nya pergi keluar melaksanakan misi mereka, mereka akan mengalami banyak masalah dan kesulitan. Yesus tidak meminta agar supaya Bapa surgawi mengambil para murid dari dunia (Yoh 17:15). Mengapa demikian? Karena para murid dipanggil untuk menjadi saksi-saksi hidup tentang kuasa Injil-Nya di tengah-tengah dunia. Yesus hanya memohon agar para murid-Nya dilindungi oleh Bapa dari yang jahat [si Jahat] ketika mereka memberitakan Kabar Baik (Yoh 17:15).

Seperti yang didoakan-Nya bagi para murid yang awal, Yesus sampai hari ini juga masih melakukan doa syafaat yang sama bagi kita semua, para murid-Nya di abad ke-21 ini: Dia minta kepada Bapa surgawi agar menjaga dan melindungi kita di dalam dunia ini. Yesus telah menguduskan kita, memisahkan kita dalam “kebenaran” Bapa (Yoh 17:17). Apakah yang dimaksudkan dengan kebenaran ini? Kabar Baik tentang kasih Allah dalam Kristus Yesus. Selagi kita memperkenankan Roh Kudus menyingkapkan kebenaran Injil ini dalam hati kita, kita dapat melawan segala kekuatan Iblis dan roh-roh jahatnya yang terus aktif di sekeliling kita. “Kebenaran” ini adalah satu-satunya hal yang dapat mengalahkan segala kejahatan dalam dunia serta membuat Iblis dan antek-anteknya menjadi tak berdaya.

Akan tetapi, kita harus ingat bahwa Iblis tidak begitu saja mau menerima kekalahannya dan menyerah. Dia tetap berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya (lihat 1Ptr 5:8). Iblis selalu memiliki niat jahat untuk melakukan distorsi-distorsi atas kebenaran mengenai kasih Allah. Ia terus memerangi umat Allah (lihat Why 13:7).

Allah ingin agar kita mengetahui  bahwa kita dapat dengan tegar berdiri tegak melawan kejahatan. Melalui doa-doa harian kita, kita dapat mentahtakan Yesus di dalam hati kita masing-masing. Dengan mengampuni orang-orang yang telah bersalah kepada kita, kita dapat menggiling habis satu dari benteng pertahanan Iblis yang paling kuat – penolakan. Dengan melayani penuh kasih dan menginjili orang-orang lain, kita dapat membangun suatu atmosfir penuh rahmat dan kebenaran di seluruh dunia. Karena kita sudah dikuduskan dalam kebenaran Injil, marilah kita tanpa ragu sedikit pun mengangkat senjata-senjata rohani kita sambil terus memajukan Kerajaan Allah.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahakuasa, khalik langit dan bumi. Aku berterima kasih kepada-Mu penuh syukur dan memuji-muji-Mu karena lewat Yesus Kristus, Putera-Mu terkasih, Engkau telah memanggilku menjadi pelayan sabda-Mu. Hidup oleh kebenaran-Mu adalah sebuah kegembiraan penuh sukacita, ya Allahku. Lindungilah aku dari si Jahat dan malaikat-malaikat jahatnya dan gunakanlah diriku seturut kehendak-Mu. Amin.  

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:11b-19), bacalah tulisan yang berjudul “DALAM NAMA-NYA PARA MURID DIUTUS” (bacaan tanggal 20-5-12) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-05 BACAAN HARIAN MEI 2012.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-6-11)

Cilandak, 3 Mei 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERDOA DALAM NAMA YESUS

BERDOA DALAM NAMA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI, Sabtu 19-5-12)

Keluarga Fransiskan dan Klaris Kapusin: Peringatan S. Krispinus dari Viterbo, Biarawan

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.

Semuanya ini Kukatakan kepadamu dengan kiasan. Akan tiba saatnya Aku tidak lagi berkata-kata kepadamu dengan kiasan, tetapi terus terang memberitakan Bapa kepadamu. Pada hari itu kamu akan berdoa dalam nama-Ku. Tidak Aku katakan kepadamu bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa, sebab Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya bahwa Aku datang dari Allah. Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa.” (Yoh 16:23b-28)

Bacaan Pertama: Kis 18:9-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-3,8-10 

“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku” (Yoh 16:23b). 

Ini adalah sebuah janji besar dari Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita! Janji ini seharusnya membuat kita semua berlutut dan memanjatkan permohonan kepada Bapa surgawi untuk semua ujud yang ada dalam pikiran kita. Akan tetapi, marilah kita sejenak melakukan permenungan apakah memang kita memahami apakah yang dimaksudkan dengan berdoa “dalam nama Yesus” itu.

Berdoa dalam nama Yesus bukanlah sebuah rumusan ajaib (magic formula). Berdoa dalam nama Yesus bukanlah seperti seseorang  yang mendekati pintu rumah terkunci rapat-rapat, lalu dia berseru dengan suara keras: “Sim salabim, terbukalah hai pintu!” Berdoa dalam nama Yesus adalah berdoa dengan cara yang sama seperti Yesus sendiri melakukannya:  berdoa dengan iman yang sama, kasih yang sama kepada Bapa surgawi, dan semangat yang sama dengan semangat Yesus sendiri (lihat Luk 6:12). Berdoa dalam nama Yesus berarti kita terbenam dalam kehidupan Yesus sendiri. Doa sedemikian mencerminkan hasrat kita untuk ambil bagian dalam persatuan antara Yesus dan Bapa-Nya di surga, dengan demikian kita memiliki rasa percaya yang mutlak bahwa Bapa surgawi mendengar dan akan menjawab doa-doa kita – bahkan apabila kita tidak melihat hasilnya secara langsung.

Berdoa dalam nama Yesus menyangkut sebuah komitmen untuk mencontoh kehidupan Yesus, yang menghasrati ketaatan kepada Bapa surgawi dalam segala hal, seperti halnya Yesus. Hal itu berarti menghaturkan permohonon kepada Roh Kudus untuk menolong kita “menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Flp 2:5), sehingga dengan demikian ujud-ujud doa kita kepada Bapa surgawi menyerupai intensi-intensi yang dipersembahkan Yesus ketika Dia masih hidup di dunia ini, dan sekarang tetap dilakukannya di dalam surga (lihat Ibr 8:6 dll.).

Kita akan melihat bahwa doa-doa kita diperlebar untuk mencakup permohonan-permohonan bahwa semua orang  akan sampai ke iman kepada Yesus, bahwa kuasa-kuasa kegelapan akan dijauhkan, bahwa Gereja akan dipersatukan sebagai sebuah terang bagi mereka yang berjalan dalam kegelapan. Doa-doa kita akan menjadi lebih daripada sekadar permohonan-permohonan untuk mendapatkan pertolongan, misalnya agar supaya dapat lulus ujian, atau berhasil dalam karir, agar cepat mendapat cucu dlsb. Tentu Tuhan memperhatikan detil-detil kehidupan kita yang paling intim sekalipun; Ia sungguh mendengar dan menjawab doa-doa yang berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan kita. Namun demikian, dalam kesempatan ini kita harus memperhatikan tulisan Santo Yakobus yang mengingatkan kita untuk memanjatkan doa permohonan tanpa hasrat hati untuk mementingkan diri sendiri: “Kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu” (Yak 4:3).

DOA: Bapa surgawi, Allah, khalik langit dan bumi. Dikuduskanlah nama-Mu. Kami mohon, ya Bapa, agar Kaupenuhi hasrat-hasrat hati kami. Semoga hati kami masing-masing bertumbuh dalam persatuan dan kesatuan dengan Yesus Kristus agar hasrat-hasrat kami mencerminkan juga hasrat-hasrat Yesus Kristus sendiri. Kami percaya Engkau akan mengabulkan doa kami ini karena kami memanjatkannya dalam nama Yesus, Putera-Mu terkasih, yang hidup dan meraja bersama Dikau dalam persekutuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami perikop Injil hari ini (Yoh 16:23b-28), bacalah tulisan yang berjudul  “SEGALA SESUATU YANG KAMU MINTA KEPADA BAPA AKAN DIBERIKAN-NYA KEPADAMU DALAM NAMA-KU” (bacaan tanggal 19-5-12) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 10-05 BACAAN HARIAN MEI 2012. Bacalah juga tulisan yang berjudul “BAPA SENDIRI MENGASIHI KAMU” (bacaan tanggal 4-6-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM ini, kategori 11-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2011. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-6-11) 

Cilandak, 2 Mei 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KAMU AKAN MENANGIS DAN MERATAP

KAMU AKAN MENANGIS DAN MERATAP

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah, Jumat 18-5-12)

Keluarga Fransiskan: Peringatan/Pesta S. Feliks dari Cantalice, Biarawan Kapusin

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita. Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia. Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari kamu. Pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. (Yoh 16:20-23a)

Bacaan Pertama: Kis 18:9-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-7

Sekarang kita berada dalam masa istimewa antara HARI RAYA KENAIKAN TUHAN dan HARI RAYA PENTAKOSTA; dan tidak sedikit pula umat Katolik yang mulai mengikuti Novena Pentakosta. Selama kita berada dalam periode singkat namun khusus ini, marilah kita memusatkan perhatian kepada penyambutan Roh Kudus ke dalam hati kita masing-masing dan ke dalam Gereja dengan penuh kuat-kuasa, karena Dia adalah pengharapan kita. Selama kita masih hidup di atas bumi ini, maka kita seringkali “menangis dan meratap” (Yoh 16:20); kita bergumul dengan dosa dan berbagai macam godaan, dengan rasa sakit, dan penyakit yang diderita serta kematian atau maut itu sendiri. Namun demikian pengharapan kita terletak dalam diri Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita!  Roh Kudus yang datang untuk tinggal dalam hati umat beriman pada hari Pentakosta merupakan bukti bahwa Yesus telah memulihkan relasi kita dengan Bapa surgawi dan mengalahkan Iblis oleh kematian dan kebangkitan-Nya.

Pada waktu Yesus “mohon pamit” kepada para murid-Nya, Ia mengatakan kepada mereka bahwa mereka akan mengalami kesedihan dan rasa sakit dalam dunia ini, namun para murid tidak boleh sampai kehilangan pengharapan. Yesus membandingkan rasa sakit dan dukacita dalam dunia ini dengan rasa sakit dan dukacita seorang perempuan pada saat-saat sebelum melahirkan bayinya, pada saat-saat mana sukacita karena kelahiran seorang anak manusia jauh lebih besar daripada rasa sakit dan dukacita yang dialami selama proses kelahiran itu sendiri. Dalam artian yang sama, penderitaan yang kita alami dalam kehidupan ini bersifat sementara, sementara sukacita surgawi menantikan orang-orang yang percaya kepada Allah (dan menaruh kepercayaan kepada-Nya).

Hidup kita terjamin dalam tangan-tangan Bapa surgawi. Sebagaimana para murid Yesus yang awal, kita juga dapat meratapi dosa kita dan juga kegelapan dalam dunia. Namun pada saat yang sama kita dapat bergembira dalam kuasa dan kasih Allah kita. Kita dapat bergembira karena kita mengenal Dia yang menjadi tumpuan kepercayaan kita. Dengan penuh keyakinan kita percaya bahwa Dia mampu menjaga apa yang telah kita percayakan kepada-Nya sampai pada akhir zaman. Santo Paulus menulis: “Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan guru. Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memelihara apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan” (2Tim 1:11-12). Sebagaimana seorang ibu yang mengantisipasi kelahiran anaknya sejak saat perkandungannya, kita juga dapat memandang ke depan …… kepada sukacita abadi pada saat kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kalinya, walaupun kita banyak menanggung derita karena iman-kepercayaan kita sekarang.

Yesus Kristus mengalahkan dosa, kematian (maut) dan dunia. Kita dapat menghadapi tantangan-tantangan kita setiap hari dengan penuh pengharapan karena hidup kita telah dibeli dan dibayar lunas oleh darah Juruselamat kita. Karena kita menjadi milik Yesus Kristus, maka tidak ada siapa pun atau apa pun yang dapat merampas kita dari pengharapan kita. Walaupun kegelapan dunia membuat kita sedih, pengharapan kita tetap berada di tangan kuasa dan kasih Allah. Kita mempunyai keyakinan kuat, bahwa apabila Yesus datang kembali kelak, setiap kebutuhan kita akan dipenuhi dan segala penderitaan kita akan berakhir.

DOA: Roh Kudus Allah, kami menyambut Dikau. Penuhilah diri kami, umat-Mu, dengan pengharapan bahwa kami dapat menanggung penderitaan kami pada masa ini, dan menghadap ke depan, yaitu kepada sukacita abadi dalam hadirat Allah pada akhir zaman. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 16:20-23a), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS BERJANJI KEPADA PARA MURID-NYA BAHWA DIA AKAN BERTEMU KEMBALI DENGAN MEREKA” (bacaan tanggal 18-5-12) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-05 BACAAN HARIAN MEI 2012. Untuk mendalami bacaan pertama hari ini (Kis 18:9-18), bacalah tulisan yang berjudul “PELAYANAN PAULUS DI KORINTUS” (bacaan tanggal 3-6-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori: 11-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2011. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-6-11) 

Cilandak, 2 Mei 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERGILAH KE SELURUH DUNIA !!!

PERGILAH KE SELURUH DUNIA !!!

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KENAIKAN TUHAN, Kamis 17-5-12) 

Lalu Ia berkata kepada mereka, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: Mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam  bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun yang mematikan, mereka tidak akan mendapat celaka; merek akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”

Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke surga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. Mereka pun pergi memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya. (Mrk 16:15-20) 

Di antara berbagai misteri agung dalam kehidupan Yesus Kristus, ‘Hari Raya Kenaikan Tuhan’ cenderung diabaikan. Kita merayakan kelahiran Yesus secara besar-besaran dalam semangat sukacita Natal. Lihatlah pula betapa gedung-gedung gereja penuh sesak pada upacara hari Jumat Agung, tatkala umat memperingati kematian Yesus di kayu salib. Kita juga merayakan kebangkitan-Nya dalam kemuliaan Paskah. Bagaimana dengan Kenaikan-Nya ke surga? Hari besar ini ‘dirayakan’ di tengah-tengah hari kesibukan kerja, yaitu pada hari Kamis. Walaupun dalam kalender-kalender Indonesia hari ini adalah hari berwarna merah, artinya hari libur, tokh tidak semua umat dapat menyempatkan diri untuk mengikuti Misa Kudus pada hari penting itu. Bacaan hari ini adalah tentang kenaikan Tuhan Yesus. Kita hanya dapat memahami peristiwa kenaikan Tuhan ini, apabila kita melihatnya dalam kaitan dengan peristiwa-peristiwa sentral lainnya dalam kehidupan Yesus Kristus.

Karena kasih Bapa surgawi, Yesus Kristus diutus ke dalam dunia untuk menyelamatkan kita dari dosa dan kematian kekal. Ia lahir sebagai salah seorang dari kita, umat manusia, di tengah-tengah kemiskinan. Lewat kematian-Nya di kayu salib, Yesus menang-berjaya atas dosa dan kematian kekal, dan kemenangan-Nya itu dimanisfestasikan dalam kebangkitan-Nya yang penuh kemuliaan. Yesus mengalami kegelapan dunia kematian, dan pada hari ketiga Dia bangkit dengan jaya. Namun Yesus tidak bangkit hanya untuk mengambil kembali keberadaan-Nya di atas muka bumi yang telah dimulai-Nya pada saat kelahiran-Nya di Betlehem. Kenaikan Tuhan Yesus menunjukkan, bahwa dia bangkit dari kematian dan masuk ke dalam suatu kehidupan surgawi yang baru. Kenaikan Tuhan Yesus ke surga berarti kembali-Nya kepada Bapa, pemuliaan-Nya di surga di sebelah kanan Bapa, peninggian-Nya sebagai Tuhan Kehidupan. Jadi kenaikan Tuhan Yesus adalah suatu bagian integral dari kebangkitan-Nya, sebagai buah yang adalah bagian dari sebatang pohon. Kenaikan Tuhan Yesus menunjukkan kebaharuan dan kepenuhan dari hidup kebangkitan-Nya. Kita memang tidak dapat membayangkan macam apa hidup kebangkitan itu. Bahkan kita tidak mempunyai kata yang pas untuk menggambarkannya. Namun ada sepatah kata yang kita dengar dan akan dengar lagi dari waktu ke waktu dalam Misa dan doa-doa: KEMULIAAN! Memang kata ini bukanlah kata yang memadai, tetapi inilah kata satu-satunya yang terdapat dalam perbendaharaan kata kita. Yesus naik ke suatu kehidupan yang penuh kemuliaan.

Kenaikan Tuhan Yesus penting bagi kita karena kehidupan ini begitu berharga. Kita berpegang pada kehidupan di dunia ini, meskipun banyak mengalami kesusahan, frustrasi dan bermacam-macam penderitaan lainnya. Kita berpegang pada kehidupan dunia ini karena inilah satu-satunya yang kita ketahui. Di sisi lain kita pun tidak menginginkan kehidupan seperti ini untuk selama-lamanya. Sebenarnya dalam hati setiap insan terdapat kerinduan akan suatu kehidupan sempurna yang tidak mengenal akhir, kehidupan yang penuh kemuliaan.  Di zaman kuno, orang-orang mencari sumber air yang mampu membuat awet muda dan tidak akan mati. Kedengaran agak sedikit naive bagi telinga orang-orang pada zaman modern kita ini. Namun para ilmuwan zaman modern ini pun hampir sama naive-nya ketika mereka mencoba menyelidiki proses penuaan, dengan harapan dapat menemukan suatu cara untuk memperpanjang hidup manusia dan akhirnya dapat mencegah kematian itu sendiri. Kita harus percaya, bahwa kehidupan yang merupakan tujuan dari penciptaan kita tidaklah terdapat dalam dunia ini, tetapi di dalam surga. Kita memang harus menemukan kehidupan surgawi itu. Seperti Kristus, kita juga harus jalan melalui dunia kematian sehingga kita dapat ikut ambil bagian dalam kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga. Kita telah dipanggil kepada suatu pengharapan besar dalam Kristus. Dalam dia kodrat manusia yang lemah telah dibangkitkan kepada kemuliaan. Pada suatu hari warisan-Nya yang mulia akan menjadi milik kita juga. Kita tidak perlu takut akan proses penuaan secara fisik yang pada satu titik kelak akan membawa kita berjumpa dengan Saudari Maut (badani). Yang perlu kita ketahui dan waspadai adalah kuasa dosa yang sangat merusak dan dapat menghancurkan kita sehabis-habisnya.

Sebelum kenaikan-Nya ke surga, Yesus memberikan Amanat kepada para murid-Nya untuk mewartakan Injil kepada semua makhluk dan menjanjikan segala kuasa serta tanda heran yang akan menyertai mereka. Para misionaris Kristiani adalah contoh konkret dari para murid yang taat dan patuh kepada amanat Yesus itu. Mereka mewartakan Kabar Baik Tuhan kita Yesus Kristus ke segenap penjuru dunia, termasuk Indonesia kita yang tercinta. Pewartaan para misionaris itu biasanya disertai dengan berbagai kuasa Roh berupa mukjizat dan tanda heran lainnya.

DOA: Allah, penyelamat umat manusia, berbagai bangsa Kaujadikan milik-Mu berkat pewartaan. Semoga semangat kerasulan para misionaris berkobar-kobar dalam hati semua orang beriman, sehingga di mana-mana umat-Mu dapat berkembang subur. Amin. 

Cilandak, 1 Mei 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARILAH KITA BELAJAR DARI SANTO PAULUS

MARILAH KITA BELAJAR DARI SANTO PAULUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah, Rabu 16-5-12)

Orang-orang yang mengiringi Paulus mengantarnya sampai di Atena, lalu kembali dengan pesan kepada Silas dan Timotius, supaya mereka selekas mungkin datang kepadanya.

Paulus berdiri di hadapan sidang Aeropagus dan berkata, “Hai orang-orang Atena, aku lihat bahwa dalam segala hal kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa. Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu. Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak tinggal dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan napas dan segala sesuatu kepada semua orang. Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka, supaya mereka mencari Allah dan mudah-mudahan mencari-cari dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing. Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini keturunan-Nya juga. Karena kita berasal dari keturunan Allah, kita tidak boleh berpikir dalam keadaan ilahi serupa dengan emas atau perak atau batu, ciptaan kesenian dan keahlian manusia. Tanpa memandang lagi zaman kebodohan, sekarang Allah memerintahkan semua orang di mana saja untuk bertobat. Karena Ia telah menetapkan suatu hari ketika Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu jaminan tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati.” Ketika mereka mendengar tentang kebangkitan orang mati, maka ada yang mengejek, dan yang lain berkata, “Lain kali saja kami mendengar engkau berbicara tentang hal itu.” Lalu Paulus meninggalkan mereka. Tetapi beberapa orang menggabungkan diri dengan dia dan menjadi percaya, di antaranya juga Dionidius, anggota majelis Areopagus, dan seorang perempuan bernama Damaris, dan juga orang-orang lain bersama-sama dengan mereka.

Kemudian Paulus meninggalkan Atena, lalu pergi ke Korintus. (Kis 17:15,22-18:1)

Mazmur Tanggapan: Mzm 148:1-2,11-14; Bacaan Injil: Yoh 16:12-15

Dalam perjalanan misionernya yang kedua, Paulus pertama-tama sampai di Atena, setelah menghadapi berbagai tantangan dan mengalami berbagai kesulitan, termasuk penganiayaan, pemukulan dan bahkan sampai dipenjarakan. Walaupun begitu, pekerjaan evangelisasi Paulus menghasilkan buah yang banyak.

Sebagaimana biasanya, Paulus bekerja di dua front: di rumah-rumah ibadat (sinagoga) dengan orang-orang Yahudi, dan di tengah-tengah tempat ramai dengan siapa saja yang lewat dan mau mendengarkan – “evangelisasi jalanan”. Di Atena, Paulus juga melakukan evangelisasi kepada orang-orang Yunani di tempat pertemuan akademis terbuka yang dinamakan Aeropagus.

Di Aeropagus, Paulus memuji orang-orang Atena untuk kesalehan mereka dalam melaksanakan praktek keagamaan, hal mana kelihatan dalam begitu banyak patung dewa-dewi yang ada. Secara khusus Paulus memperhatikan sebuah mezbah dengan catatan: “Kepada Allah yang tidak dikenal”. Ia menjelaskan kepada mereka, bahwa “Allah yang tidak dikenal” inilah yang diwartakan olehnya. Karena orang-orang non-Yahudi (baca: kafir) itu tidak familiar dengan Kitab Suci Ibrani, maka pendekatan Paulus adalah dengan menggunakan “teologi alamiah”, dengan menggunakan bukti-bukti dari alam ciptaan bahwa Allah itu ada. Paulus menyatakan bahwa pujangga-pujangga mereka sendiri mengatakan bahwa ada ‘seorang’  di atas dewa-dewi lain, di dalam Dia “kita hidup, kita bergerak, kita ada” (Kis 17:28).

Kata-kata Paulus kepada para filsuf Atena masih relevan sampai hari ini. Alam dan hati nurani kita menggerakkan kita untuk mencari Allah. Dalam kasih-Nya, Allah mengutus seorang Manusia untuk menghakimi dunia dalam kebenaran, dan sekarang Ia memanggil setiap orang untuk melakukan pertobatan. Dengan membangkitkan Yesus dari dunia orang mati, Allah telah memberikan kepada kita jaminan penebusan yang tidak usah diragukan lagi. Mendengar soal “kebangkitan orang mati” dari bibir Paulus sendiri, para filsuf Yunani menginterupsi, ada yang mengejeknya, namun ada juga yang mau mendengar lebih banyak lagi dan menjadi percaya.

Ini adalah tantangan kita pada hari ini. Cara kita menghayati kehidupan kita sungguh akan mempunyai konsekuensi-konsekuensi yang bersifat kekal-abadi. Kita dapat bertanya kepada diri-sendiri: “Apakah pemikiran tentang pengadilan terakhir menakutkan anda? Apakah anda merasa worry bahwa anda akan kedapatan ‘masih kurang’ pada saat kedatangan Yesus untuk kedua kalinya?” Ada dua alasan yang mungkin untuk hal ini: Bisa saja kita masih mempunyai dosa yang belum kita sesali dan mohon pengampunan-Nya atau bisa juga karena visi kita tentang Allah terlalu sempit. Oleh karena itu marilah kita menghadap Allah dan mengakui dosa-dosa kita. Marilah kita mohon pengampunan-Nya, percaya kepada janji-Nya untuk memulihkan kita. Allah tidak pernah berbohong dan Ia tidak akan menolak siapa saja yang datang kepada-Nya dengan hati yang remuk redam mohon pengampunan-Nya.

DOA: Tuhan, aku percaya bahwa Engkau ingin agar aku mengetahui betapa mendalam Engkau mengasihiku. Engkau menghendaki yang terbaik dari diriku. Aku menyerahkan diriku kepada kuat-kuasa-Mu agar aku dapat tetap melakukan hal-hal yang benar di mata-Mu. Penuhilah diriku dengan jaminan akan kasih-Mu dan gerakkanlah aku agar dapat dengan efektif membagikan kasih-Mu kepada orang-orang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Injil hari ini (Yoh16:12-15), bacalah tulisan yang berjudul “TUGAS ROH KUDUS ADALAH UNTUK MENYATAKAN KEBENARAN !!!” (bacaan tanggal 16-5-12) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-05 BACAAN HARIAN MEI 2012. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-6-11)

Cilandak, 30 April  2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DUNIA YANG SALAH

DUNIA YANG SALAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah, Selasa 15-5-12) 

Tetapi sekarang Aku pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku, dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang bertanya kepada-Ku: Ke mana Engkau pergi? Tetapi karena Aku mengatakan hal itu kepadamu, maka hatimu berdukacita. Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penolong itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, aku akan mengutus Dia kepadamu. Kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum. (Yoh 16:5-11)

Bacaan Pertama: Kis 16:22-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-3,7-8 

Selagi Yesus terus berbicara dengan para murid (rasul)-Nya tentang diri-Nya yang akan  meninggalkan mereka untuk pergi kepada Bapa surgawi yang mengutus-Nya, Dia melihat bahwa mereka dikuasai oleh kesedihan. Mereka kelihatannya tidak mengerti mengapa Yesus harus pergi. Yesus juga tanpa tedeng aling-aling berbicara kepada mereka tentang kebenaran. Apabila Dia tidak pergi, maka Paracletos, Roh Kudus, tidak akan datang kepada para murid. Jadi, Dia akan pergi dan mengutus Roh Kudus kepada mereka.

Apakah yang akan dilakukan oleh Roh Kudus apabila Dia datang? Ia akan menjadi penasihat mereka, penghibur mereka. Dia akan membimbing mereka dalam relasi mereka, dalam perjumpaan mereka dengan dunia.

Roh Kudus akan membuktikan bahwa dunia salah tentang dosa, tentang keadilan, tentang penghukuman. Ia (Roh Kudus) akan menunjukkan lewat kehidupan Gereja yang ilahi, adil dan kudus yang akan dibimbingnya, Kristus yang tanpa dosa, bahwa Dia adil, bahwa Dia tidak pantas dihukum. Orang-orang yang menolak untuk percaya kepada-Nya, untuk mentaati perintah-perintah-Nya, adalah mereka yang salah. Merekalah yang tidak adil dan patut dihukum.

Sekarang, kita berada di pihak yang mana? Apakah kita orang-orang yang ikut ambil bagian dalam kehidupan ilahi oleh iman, ketaatan dan kasih kita? Apakah kita termasuk orang-orang adil dan benar dari Kristus? Apakah kehidupan kita memberi kesaksian tentang kekudusan Kristus, tubuh-Nya, di mana kita semua adalah para anggotanya?

Kita telah menerima Roh Kudus seperti yang telah dialami oleh para rasul. Ia adalah penasihat kita juga. Dia adalah pembimbing dan penghibur kita. Dia memberikan kepada kita berbagai instruksi, bimbingan dan kekuatan, keberanian untuk hidup dengan/bersama Kristus, dengan/dalam Gereja-Nya. Kita tidak perlu menderita penghukuman. Dunialah yang dihukum setiap kali kita bersaksi tentang Kristus sebagai Tuhan kehidupan kita oleh kuasa Roh Kudus.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau mengutus Roh Kudus-Mu kepada kami. Semoga Dia menolong kami untuk hidup kudus dan dan benar dalam kehadiran-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 16:5-11), bacalah tulisan yang berjudul “AKU PERGI KEPADA DIA YANG MENGUTUS AKU” dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-05 BACAAN HARIAN MEI 2012. 

Cilandak, 21 April 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA PUN DIPILIH DAN DIPANGGIL SEPERTI MATIAS

KITA PUN DIPILIH DAN DIPANGGIL SEPERTI MATIAS

(Bacaan Injil Misa Kudus, PESTA SANTO MATIAS, RASUL, Senin 14-5-12)

“Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.

Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacitamu menjadi penuh. Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu melakukan apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengaar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang terhadap yang lain.” (Yoh 15:9-17)

Bacaan Pertama: Kis 1:15-17,20-26; Mazmur Tanggapan: Mzm 113:1-8 

Penangkapan atas diri Yesus, penderitaan sengsara-Nya dan kematian-Nya di kayu salib tinggal beberapa jam lagi akan menjadi kenyataan sejarah. Dengan latar belakang perjamuan terakhir, Yesus mengatakan kepada para murid-Nya yang hadir: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu” (Yoh 15:16). Yesus mengetahui bahwa jikalau para murid-Nya harus menjadi cukup kuat untuk mampu menghadapi tantangan-tantangan dalam rangka pendirian Gereja-Nya di atas bumi ini, maka mereka perlu mengetahui bahwa mereka masing-masing telah dipilih secara pribadi – dipanggil oleh Allah sendiri.

Sungguh penting bagi mereka untuk menyadari bahwa mereka telah dipilih! Yesus memahami hal ini karena Dia sendiri telah mengalaminya:

(1)    ketika masih berumur 12 tahun di Bait Allah: “Tidakkah kamu tahu bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” (Luk 2:49);

(2)    pada waktu dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes Pembaptis: “Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan” (Luk 3:22; bdk Mat 3:17; Mrk 1:11);

(3)    pada saat tranfigurasi di atas gunung: “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia” (Luk 9:35; bdk. Mat 17:5; Mrk 9:7).

Yesus mengetahui bahwa Bapa telah memilih diri-Nya dan akan menyediakan segalanya yang dibutuhkan guna menanggapi panggilan-Nya. Dengan cara yang serupa, Yesus juga ingin agar kita mengetahui bahwa kita pun telah dipilih oleh-Nya.

Kitab Suci menceritakan sedikit saja tentang Santo Matias, kecuali adanya catatan bahwa para rasul melibatkan diri dalam “proses timbang-menimbang diiringi dengan doa” (discernment) dalam rangka mengambil keputusan siapa kiranya yang dapat menggantikan Yudas Iskariot (lihat Kis 2:15-26). Jelas Matias dipilih oleh Allah untuk bersama Yesus dan sebelas orang rasul lainnya. Memang Matias telah mengikuti Yesus ketika Dia melakukan pelayanan publik-Nya, namun baru kemudian Matias menerima panggilan yang lebih mendalam untuk melaksanakan misi para rasul. Pada akhir karya kerasulannya, Matias menjadi martir Kristus demi cintakasihnya kepada Dia yang telah memanggil dirinya (bdk. Yoh 15:13).

Matias dipilih oleh Allah, demikian pula dengan kita masing-masing yang secara khusus telah dipilih dan dipanggil. Apabila kita ditanya mengapa kita berdoa, membaca Kitab Suci atau pergi ke Gereja, maka kita dapat menanggapi pertanyaan-pertanyaan seperti itu dari dalam hati kita, “Karena Allah telah memilih aku dan memanggilku. Aku adalah milik-Nya yang istimewa.”  Kita dapat saja merasa tergoda untuk berpikir bahwa kita menjadi pengikut Kristus karena kebetulan saja. Bukan begitu: Allah itu begitu besar dan sangat mengasihi kita sehingga tidak mungkinlah bagi-Nya untuk meninggalkan kita sebagai sekadar ‘korban keadaan’. Tidak ada yang kebetulan! Dalam hikmat-Nya yang tanpa batas itu, segalanya akan bekerja untuk kebaikan bagi mereka yang mengasihi dan mengikuti-Nya. Marilah sekarang kita mohon kepada-Nya untuk membimbing kita, menunjukkan kepada kita bagaimana Dia ingin kita menjalani kehidupan kita sehari-hari.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah memanggilku sebagai salah seorang anak-anak-Mu. Aku mohon, ya Tuhan Allahku, sudilah kiranya memenuhi diriku dengan Roh Kudus-Mu sehingga aku dapat menghayati  panggilan-Mu secara lebih mendalam lagi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 1:15-17,20-26) bacalah tulisan yang berjudul  “SETELAH PENTAKOSTA CERITANYA MENJADI LAIN” (bacaan tanggal 14-5-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2012. Untuk mendalami Bacaan Injil (Yoh 15:9-17), bacalah tulisan yang berjudul “KITA PUN DIPILIH DAN DIPANGGIL SEPERTI MATIAS” (bacaan tanggal 14-5-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori: 11-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2011. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-5-11)

Cilandak, 20 April 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KASIH ALLAH YANG BERLIMPAH

KASIH ALLAH YANG BERLIMPAH

(Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH VI, 13-5-12)

Peringatan SP Maria dari Fatima

Saudara-saudaraku yang terkasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Siapa yang tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. (1Yoh 4:7-10)

Bacaan Pertama: Kis 10:25-26,34-35,44-48; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4; Bacaan Injil: Yoh 15:9-17

Dari kasih-Nya yang berlimpah Allah menciptakan kita dan berjanji bahwa Dia tidak akan berhenti mengasihi kita. Setiap hari Dia memanggil kita untuk mencerminkan karakter-Nya sendiri dengan saling mengasihi antara kita. Namun dalam upaya kita untuk mentaati panggilan-Nya, kita menjadi berhadap-hadapan dengan ketidakmampuan kita sendiri untuk mengasihi. Harapan kita satu-satunya adalah untuk memperkenankan kasih Yesus bagi kita bekerja lewat diri kita selagi kita keluar untuk bertemu dengan orang-orang lain. Kasih Allah dapat memenuhi diri kita dengan kuasa untuk mengasihi, jauh melampaui keterbatasan manusiawi kita. Sungguh merupakan sukacita luarbiasa bila kita dapat melihat apa yang dapat dicapai oleh kasih-Nya melalui diri kita.

Pada masa Perang Dunia II, di negeri Belanda hidup seorang perempuan yang bernama Corrie ten Boom. Corrie merasa terdorong oleh kasih Allah untuk menyembunyikan orang-orang Yahudi yang dikejar-kejar Jerman Nazi. Dia menyembunyikan mereka dalam rumahnya sampai mereka dengan aman dapat diangkut ke luar negeri. Setelah menolong ratusan orang Yahudi, Corrie didekati oleh seorang laki-laki yang minta bantuan uang guna menolong istrinya melarikan diri. Corrie, keluarganya dan teman-temannya berbuat semampu mereka untuk membantu, namun sayang sekali laki-laki itu malah mengkhianatinya. Pasukan Jerman Nazi menangkap mereka semua dan semuanya menemui ajal karena penderitaan yang berat di kamp konsentrasi, kecuali Corrie.

Setelah dibebaskan, Corrie menjadi seorang pengkhotbah yang populer. Setelah berbicara pada sebuah pertemuan besar, Corrie dikonfrontir oleh orang yang telah mengkhianati dia dan rekan-rekannya. Mula-mula hatinya dipenuhi dengan kebencian, namun setelah dia berpaling kepada Yesus, dirinya dipenuhi dengan kasih kepada orang itu, kasih yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Corrie tidak hanya mengalami damai-sejahtera, dia juga dimampukan untuk mengampuni orang yang telah menyebabkan kematian orang-orang yang sungguh dikasihinya.

Pada akhirnya, Corrie menulis surat kepada laki-laki itu dan mengatakan kepadanya bahwa dia telah mengampuninya karena kasih Yesus sendiri. Orang itu menulis surat juga sebagai jawaban terhadap surat Corrie. Dia menulis, bahwa apabila Yesus dapat memampukan para pengikut-Nya untuk mengasihi sampai titik pengampunan sedemikian, maka tentunya ada pengharapan juga untuk dirinya. Pada hari itu orang tersebut memberikan hidupnya kepada Yesus. Belakangan, dengan rasa takjub Corrie menulis, “Allah memilih aku yang telah membenci orang ini, untuk membawanya kepada Yesus!”

Para kudus dari abad ke abad dan pribadi-pribadi seperti Corrie ten Boom adalah saksi-saksi keindahan kasih Allah, seperti rangkaian bunga yang menghiasi sejarah Kekristenan sepanjang masa. Masih ingatkah anda pada peristiwa almarhum Paus Yohanes Paulus II mengampuni Mehmet Ali Agca, orang yang mencoba membunuhnya?  Kita sendiri pasti sudah, sedang, atau akan mengalami peristiwa serupa, misalnya “dikhianati” oleh orang yang kita tolong dan lain sebagainya. Kita pasti akan mengalami moments of truth untuk dapat bertindak sebagai saksi Kristus yang sejati.

DOA: Tuhan Yesus, cintakasih kami lemah dan hati kami kecil. Namun sebelum kami mengasihi-Mu, Engkau telah mengasihi kami dan memberikan hidup-Mu bagi kami. Bukalah hati kami lebar-lebar dan biarlah kasih-Mu memenuhi diri kami secara berlimpah. Kami ingin menunjukkan kepada dunia apa yang dapat dilakukan oleh kasih-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:9-17), bacalah tulisan yang berjudul “” (bacaan tanggal 13-5-12) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-05 BACAAN HARIAN MEI 2012. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan yang berjudul “ALLAH ADALAH KASIH [1]” untuk bacaan tanggal 5-1-10) 

Cilandak, 20 April 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DUNIA TELAH LEBIH DAHULU MEMBENCI AKU DARIPADA KAMU

DUNIA TELAH LEBIH DAHULU MEMBENCI AKU DARIPADA KAMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah, Sabtu 12-5-12)

Keluarga Fransiskan: Santo Leopoldus Mandic, Imam Kapusin 

“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku daripada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu. Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia yang telah mengutus Aku.” (Yoh 15:18-21)

Bacaan Pertama: Kis 16:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:1-3,5 

Cukup sering Yesus menyebut kata ‘dunia’: “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku daripada kau”  (Yoh 15:18). Di sini Yesus tidak memaksudkan ‘dunia’ dalam artiannya yang konkret sebagai tempat tinggal manusia, melainkan sebagai kemanusiaan yang telah jatuh ke dalam dosa. Dalam tulisan-tulisan Yohanes, ‘dunia’ mewakilkan suatu sistem dari yang jahat, yang dikendalikan oleh kuasa-kuasa kegelapan. Setiap hal yang ada di dalam sistem itu bertentangan/berlawanan dengan pemerintahan Allah. Dengan tegas Yesus mengatakan kepada para murid-Nya: “Karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu” (Yoh 15:19).

Yesus mengalami sendiri apa artinya kebencian itu. Oleh karena itu Dia wanti-wanti mengingatkan para murid-Nya: “Seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu” (Yoh 15:20). Nubuatan Yesus ini telah terbukti benar pada segala zaman melalui kisah hidup para kudus.

Yohanes (Don) Bosco [1815-1888] adalah seorang imam praja anggota Ordo III sekular St. Fransiskus yang kemudian mendirikan Serikat Salesian (SDB). Ia dikenal di seluruh Italia untuk karya pelayanannya bagi anak-anak miskin dan yatim-piatu. Namun kebaikan dan kemurahan hatinya samasekali tidak membebaskan dirinya dari penganiayaan. Situasi politik Italia pada zaman Don Bosco sangatlah anti Katolik, dan imam ini seringkali difitnah oleh media surat kabar. Don Bosco juta selamat dari beberapa kali serangan fisik yang dilakukan oleh preman bayaran. Pada suatu hari dia ditembak oleh seorang pembunuh bayaran, namun selamat. Peluru yang ditembakkan nyaris mengenai dirinya, hanya membuat bolong jubah luar yang sedang dikenakannya. Ada catatan tentang orang kudus ini sebagai berikut: Don Bosco tidak pernah memperkenankan kemalangan merusak sukacitanya dalam melayani Kristus.

Maximilian Kolbe [1894-1941] adalah seorang imam Fransiskan Konventual Polandia. Imam ini barangkali menghadapi salah satu bentuk kejahatan yang paling sistematik di abad ke-20: Naziisme dari Hitler. Dengan berani dia menolak paham Naziisme pada tahun-tahun menjelang pecahnya Perang Dunia II. Pada waktu pasukan Nazi Jerman berhasil menduduki Polandia, mereka pun menjebloskan Pater Kolbe ke kamp konsentrasi Auschwitz. Para saksi mata memberi kesaksian bahwa para penjaga kamp konsentrasi seringkali memperlakukan imam yang lemah fisik ini secara di luar perikemanusiaan, namun mereka tidak pernah dapat menghancurkan damai-sejahtera yang ada dalam batin Pater Kolbe, atau mencegah dia menolong para tahanan lainnya yang membutuhkan pertolongan. Kasihnya kepada Kristus begitu besar sehingga secara sukarela imam ini menggantikan seorang tahanan lain yang akan dihukum mati karena dia mempunyai keluarga. Para pejabat dan petugas Nazi kemudian menghukum mati orang Kristiani ‘kepala batu’ yang bernama Maximilian Kolbe ini, pada tanggal 14 Agustus 1941.

Putera Allah datang ke dalam dunia tepatnya karena dunia merupakan sebuah tempat yang dipenuhi kegelapan. Ia datang untuk membebaskan semua orang yang berada dalam cengkeraman si Jahat dan tidak tahu sedikit pun tentang kasih Allah: “Mereka tidak mengenal Dia yang telah mengutus Aku” (Yoh 15:21). Ia memilih para pengikut-Nya dari dunia ini untuk menjadi terang dalam kegelapan. Dengan melakukan hal itu, Yesus mengatakan bahwa mereka akan mengalami penganiayaan; namun Ia juga menjamin bahwa mereka akan menyaksikan ‘kasih mengalahkan kebencian’, ‘kehidupan akan menang atas kematian’.

DOA: Tuhan Yesus, dengan mencontoh pengorbanan diri-Mu, kami para murid-Mu, menjadikan diri kami suatu sakramen hidup dari ‘Tuhan Kehidupan’ yang sungguh bangkit dan telah mengalahkan kegelapan dunia. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 16:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “SETIAP HARI KITA HARUS MEMOHON BIMBINGAN ROH KUDUS” (bacaan tanggal 12-5-12) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-05 BACAAN HARIAN MEI 2012. Bacalah juga tulisan yang berjudul “PEWARTA KABAR BAIK YANG SEJATI SELALU DIPIMPIN ROH KUDUS” (bacaan tanggal 28-5-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM ini; kategori: 11-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2011. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-5-12) 

Cilandak, 19 April 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

RESOLUSI KONFLIK DALAM GEREJA AWAL – LANJUTAN

RESOLUSI KONFLIK DALAM GEREJA AWAL – LANJUTAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah, Jumat 11-5-12)

Keluarga Fransiskan: Peringatan Santo Ignatius dari Laconi, Biarawan Kapusin 

Kemudian rasul-rasul dan penatua-penatua beserta seluruh jemaat itu mengambil keputusan untuk memilih dari antara mereka beberapa orang yang akan diutus ke Antiokhia bersama-sama dengan Paulus dan Barnabas, yaitu Yudas yang disebut Barsabas dan Silas. Keduanya adalah orang terpandang di antara saudara-saudara seiman itu. Kepada mereka diserahkan surat yang bunyinya: “Salam dari rasul-rasul dan penatua-penatua, dari saudara-saudaramu kepada saudara-saudara di Antiokhia, Siria dan Kilikia yang berasal dari bangsa-bangsa lain. Kami telah mendengar bahwa ada beberapa orang di antara kami, yang tanpa mendapat pesan dari kami, telah menggelisahkan dan menggoyahkan hatimu dengan ajaran mereka. Sebab itu dengan bulat hati kami telah memutuskan untuk memilih dan mengutus beberapa orang kepada kamu bersama-sama dengan Barnabas dan Paulus yang kami kasihi, yaitu orang yang telah mempertaruhkan nyawanya karena nama Tuhan kita Yesus Kristus. Jadi, kami telah mengutus Yudas dan Silas yang secara lisan akan menyampaikan sendiri hal-hal ini kepada kamu. Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban daripada yang perlu ini: Kamu harus menjauhkan diri makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan. Jikalau kamu menjaga diri terhadap hal-hal ini, kamu berbuat baik. Sekianlah, selamat.”

Setelah berpamitan, Yudas dan Silas berangkat ke Antiokhia. Di situ mereka memanggil seluruh jemaat berkumpul, lalu menyerahkan surat itu kepada mereka. Setelah membaca surat itu, jemaat bersukacita karena isinya yang memberi penghiburan. (Kis 15:22-31)

Mazmur Tanggapan: Mzm 57:8-12; Bacaan Injil: Yoh 15:12-17 

Jikalau kita perhatikan baik-baik, “Kisah Para Rasul” memiliki segala unsur yang dimiliki sebuah novel modern: intrik, skandal, excitement, dll. “Kisah Para Rasul” bukanlah hanya sebuah catatan historis, melainkan juga kisah atau cerita mengenai orang-orang seperti kita sendiri yang memperkenankan Allah untuk bekerja dengan penuh kuat-kuasa melalui diri mereka. Dalam “Kisah Para Rasul” kita melihat kasih Allah bagi Gereja-Nya – suatu kasih yang sampai hari ini terus membawa anak-anak Allah secara aman ke dalam kebebasan Injili.

Dalam perjalanan misioner mereka, Paulus dan Barnabas mulai mendapatkan orang-orang yang menerima menjadi murid Kristus. Ke mana saja mereka pergi, di tempat-tempat itu mereka mendirikan gereja. Kedua rasul ini menyemangati dan memperkuat murid-murid Kristus yang baru itu agar tetap setia kepada Yesus, walau di tengah-tengah kesulitan hidup sekali pun. Dengan penuh kegairahan, dari tempat yang satu ke tempat yang lain, mereka mewartakan KABAR BAIK Yesus Kristus, juga tentang segala mukjizat dan tanda heran yang dilakukan Allah di tengah-tengah orang-orang non-Yahudi (baca: kafir). Kasih mereka yang besar terlihat jelas di mata banyak orang. Namun demikian, pada masa itu mereka pun menghadapi berbagai kesulitan, baik di bidang legalitas (hukum), kekuasaan dan posisi.

Penulis “Kisah Para Rasul” (Lukas) menceritakan tentang suatu kontroversi yang timbul ketika beberapa orang tertentu mulai mengajarkan bahwa sebelum seorang non-Yahudi dapat menjadi seorang Kristiani sejati, maka dia harus disunat terlebih dahulu dan juga mentaati Hukum Musa. Paulus dan Barnabas dengan lantang menyuarakan ketidaksetujuan mereka terhadap ajaran keliru ini. Mereka pergi ke Yerusalem di mana mereka berkumpul dalam sebuah pertemuan (konsili) para rasul dan penatua Gereja. Di situ para pemuka Gereja di Yerusalem itu menulis sepucuk surat yang menjelaskan kebenaran Injil dan kebebasan umat (yang berasal dari orang-orang non-Yahudi) dari legalisme Yahudi. Setelah membaca surat itu umat Kristiani non-Yahudi di Antiokhia bersukacita karena isi surat yang memberikan semangat.

Seperti biasanya, pada hari ini Allah ingin membawa kita ke dalam kebebasan melalui Yesus. Ia tidak mengutus Sabda-Nya (Yesus) kepada kita untuk mengikat kita dengan segala macam peraturan dan hukum. Pada kesempatan ini marilah kita berdoa bagi semua pemimpin dan individu-individu dalam Gereja – yang tertahbis maupun awam kebanyakan – yang melakukan pelayanan pewartaan Injil kepada orang-orang lain. Kita mohon kepada Allah agar melindungi mereka terhadap berbagai godaan akan legalisme, dominansi dan cinta akan kekuasaan. Kita mohon juga agar Bapa surga menyegarkan orang-orang yang kita doakan itu dan memenuhi diri mereka dengan Roh Kudus-Nya, sehingga dengan demikian mereka dapat berjalan dengan sukacita sejati yang datang dari Tuhan sendiri dan mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus dengan penuh semangat dan keberanian.

DOA: Bapa surgawi, kami mempersembahkan kepada-Mu semua anak-Mu yang bekerja tanpa mengenal lelah mewartakan Injil Tuhan Yesus Kristus kepada orang-orang lain. Kami mohon, ya Bapa, agar Engkau melindungi mereka dari segala godaan. Berilah mereka penyegaran dalam kasih akan kehadiran-Mu, sehingga setiap orang yang mendengar pewartaan mereka akan memuliakan nama-Mu dengan penuh sukacita. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:7-21), bacalah tulisan yang berjudul “SAHABAT-SAHABAT YESUS” (bacaan tanggal 11-5-12) dalam situs/ blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-05 BACAAN HARIAN MEI 2012. Bacalah juga tulisan berjudul “PERINTAH DARI SEORANG SAHABAT: SUPAYA KAMU SALING MENGASIHI, SEPERTI AKU TELAH MENGASIHIMU” (bacaan tanggal 27-5-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori: 11-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2012. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-5-11)

Cilandak, 19 April 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.