Posts from the ‘LINGKUNGAN HIDUP’ Category

BELAJAR DARI FRANSISKUS TENTANG ALAM CIPTAAN: BEBERAPA CATATAN

Nature

BELAJAR DARI FRANSISKUS TENTANG ALAM CIPTAAN:

BEBERAPA CATATAN 

“Yang Mahaluhur, Mahakuasa, Tuhan yang baik, milik-Mulah pujaan, kemuliaan dan hormat dan segala pujian.

Kepada-Mu saja, Yang Mahaluhur, semuanya itu patut disampaikan, namun tiada insan satu pun layak menyebut nama-Mu.

Terpujilah Engkau, Tuhanku, bersama semua makhluk-Mu, terutama Tuan Saudaraq Matahari; dia terang siang hari, melalui dia kami Kauberi terang.

Dia indah dan bercahaya dengan sinar cahaya yang cemerlang; tentang Engkau, Yang Mahaluhur, dia menjadi lambang.

Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudari Bulan dan bintang-bintang, di cakrawala Kaupasang mereka, gemerlapan, megah dan indah”

(Sebagian dari “Nyanyian Saudara Matahari” atau “Puji-pujian Makhluk-makhluk” atau “Gita Sang Surya”; NyaMat 1-5 dalam buku “Karya-karya Fransiskus dari Asisi, suntingan Sdr. Leo Laba Ladjar OFM).

Orang kudus pelindung ekologi. Sejak abad yang lalu, Fransiskus barangkali lebih dikenal dalam hal cintanya kepada alam ciptaan daripada unsur tunggal lainnya dalam kehidupannya. Pada tanggal 29 November 1979, Paus Yohanes Paulus II mengangkatnya sebagai orang kudus pelindung ekologi. Banyak sekali patung dan jendela-kaca gereja-gereja yang menunjukkan orang kudus ini bersama burung-burung (1Cel 58) atau serigala dari Gubbio (Fioretti, 21). 

st_francis_assisi_prayer_cardAda banyak cerita tentang Fransiskus dan perjumpaan-perjumpaannya dengan macam-macam makhluk ciptaan: dengan binatang/hewan seperti burung-burung, ikan, bahkan serangga. Ia melangkah di atas batu-batu dengan penuh hormat; dia merasa gembira bila mendengar suara air yang mengalir atau angin yang bertiup. Fransiskus memang memiliki suatu kecintaan yang istimewa kepada makhluk-makhluk hidup, yang kehadirannya dirasakan olehnya sebagai sesuatu yang indah. Di atas segalanya, ketika Fransiskus berpaling kepada Allah tanpa mengenakan topeng dan dirinya diliputi ketakjuban akan misteri inkarnasi, maka alam ciptaan menjadi kudus baginya. Segala hal yang diciptakan oleh Allah juga telah disentuh oleh kehadiran “Sabda yang menjadi daging” (Yoh 1:14). Dengan demikian, Fransiskus tidak hanya seorang pencinta alam dan seorang penyair yang menyaksikan keindahan dari semua hal yang ada di sekeliling dirinya. Secara lebih mendalam, dia sebenarnya terpesona dengan kehadiran Allah dalam tatanan ciptaan-Nya. Orang kudus ini memang mengawali suatu cara baru bagi umat Kristiani untuk memahami dunia ciptaan.[1]

Rasa takjub orang kudus ini terhadap alam ciptaan dapat kita baca dalam riwayat hidupnya, misalnya dalam 1Cel, 53-54 dan 1Cel, 72-73. Namun sekarang saya mengajak para pembaca untuk membaca dan merenungkan apa yang ditulis dalam riwayat hidupnya yang disusun oleh Santo Bonaventura: “Ia bersorak-sorai atas segala perbuatan tangan Tuhan; dan lewat pemandangan-pemandangan yang menyenangkan itu hatinya bangkit kepada Dasar dan Sebab yang menghidupkan itu. Dalam hal-hal yang indah dilihatnya Yang Mahaindah. Ia mengikuti sang Kekasih di mana-mana lewat jejak-jejak yang ditinggalkan-Nya pada benda-benda; dari semuanya dibuatnya bagi dirinya tangga yang dapat dinaikinya untuk sampai kepada Dia, yang sepenuhnya amat menarik itu. Dengan perasaan bakti yang hingga itu belum terkenal ia mengenyam Sumber segala kebaikan dalam tiap-tiap makhluk bagaikan dalam aliran-aliran. Dan seakan-akan ia mengenali lagu surgawi dalam perpaduan daya-daya serta tingkah-tingkah laku yang dicurahkan Tuhan kepada mereka, maka seperti nabi Daud ia menganjurkan kepada makhluk-makhluk itu dengan ramah-tamah untuk memuji Tuhan (Legenda Maior IX, 1; terjemahan P. Y. Wahyosudibyo OFM).

Bapa kami yang ada di surga. Ketika Fransiskus mendeklarasikan bahwa bapaknya adalah “Bapa kami yang ada di surga”, selagi dia melepaskan pakaiannya di hadapan uskup Assisi (1Cel 15), tentunya dia tidak menyadari segala implikasi dari deklarasinya itu. Apabila Allah adalah Bapa dari semua umat manusia dan tentunya juga dari semua hal yang ada, maka semua makhluk ciptaan Allah juga mempunyai hubungan satu sama lain sebagai saudara karena mempunyai satu Bapa yang sama. Jadi, Fransiskus sampai kepada pemahaman bahwa keluarga Allah termasuk juga burung, semut, batu, dlsb. seperti juga semua manusia, apakah kaya, miskin, perempuan, laki-laki, berwarna kulit putih, kuning, sawo matang, hitam dlsb.[2] Bagaimana tepatnya Fransiskus sampai kepada wawasan seperti ini tidak secara terinci dijelaskan dalam dokumen-dokumen yang ada. Benih-benih dari pandangan tentang alam semesta memang dapat kita temukan dalam bab-bab awal Kitab Kejadian, dan Fransiskus sangat akrab dengan Kitab Suci dan dapat dikatakan merupakan salah seorang penafsir Kitab Suci yang cemerlang. Jadi, kiranya ada peranan Kitab Suci juga dalam hal ini. Ketika Fransiskus berjalan melalui hutan atau mendengarkan siulan seekor burung, hal tersebut bukanlah sekadar suatu perjumpamaan antara dirinya dengan makhluk yang lain; melainkan  ini adalah suatu perjumpaan yang senantiasa dimediasikan oleh apa yang Fransiskus pahami tentang Allah dan alam ciptaan seperti dibaca dan direnungkannya dari Kitab Suci.

Fransiskus bukanlah secara khusus meminati burung-burung dlsb., melainkan karena semua itu merepresentasikan kualitas-kualitas moral dan ajaran-ajaran moral, dan semua itu juga menolong membawa Fransiskus kepada suatu pemahaman yang lebih besar akan Bapa surgawi dan pengalaman akan Dia yang disyeringkan olehnya dengan mereka. Fransiskus tidak secara khusus meminati perilaku hewan atau benda-benda tak bernyawa demi hewan atau benda-benda itu. Sebaliknya, dia menemukan dalam alam ciptaan berbagai jawaban atau petunjuk berkaitan dengan kodrat Sang Pencipta dan suatu pemahaman tentang hukum-hukum-Nya.

destruction of naturedestruction of nature - 02Luka-luka lingkungan hidup yang disebabkan ulah manusia. Fransiskus memiliki pemahaman mendalam tentang kehadiran Ilahi dalam alam ciptaan. Sebaliknya, kebanyakan dari umat manusia zaman modern telah kehilangan kepekaan akan kehadiran Ilahi tersebut, dan kecenderungan mereka adalah merusak lingkungan hidup. Industrialisasi memang merupakan suatu keharusan untuk pembangunan ekonomi sebuah negara, namun proses ini harus disertai dengan sikap dan perilaku yang tidak merugikan alam ciptaan. Laba tidaklah boleh menjadi motif satu-satunya untuk berbisnis, karena perusahaan dan para pemiliknya tidaklah hidup sendiri di atas bumi ini. Umat manusia di mana saja harus berjuang melawan bencana alam dalam berbagai bentuknya, juga wabah penyakit dll., namun perjuangan tersebut tidak boleh membuat manusia menjadi penindas alam. Dengan bantuan teknologi yang cocok dan memadai, manusia dapat memanfaatkan alam/lingkungan hidup tanpa harus merusak atau menghancurkannya. Manusia harus sadar bahwa mereka tidak tinggal sendiri di atas muka bumi. Lihatlah apa yang terjadi dengan orang-utan dan gajah Sumatera sekarang ini, misalnya. Dramanya masih berlangsung dan sedang ditayangkan oleh beberapa stasiun televisi internasional.

Luka-luka atas alam ciptaan yang disebabkan oleh tangan-tangan manusia telah menggiring dunia kepada krisis ekologi yang semakin mendalam dan semakin meluas. Krisis ekologi yang tidak main-main ini, teristimewa sejak paruhan kedua abad ke-20 telah membuat komunitas-komunitas iman (gereja-gereja) menjadi bersikap kritis terhadap tradisi dan praktek teologi selama ini. Kita harus bertanya kepada diri kita sendiri bagaimana pandangan dunia dari Gereja berkontribusi terhadap krisis yang semakin mendalam berkaitan dengan ecosystem. Dalam artian tertentu, krisis ekologi yang dihadapi dunia berarti juga krisis di bidang teologi bagi kita. Patut kita ketahui bahwa dokumen Konsili Vatikan II yang berjudul “Konstitusi Pastoral “Gaudium et Spes” tentang Gereja di Dunia Dewasa ini” (7-12-65) juga luput membahas dan memberi pengarahan pastoral tentang masalah lingkungan hidup.[3] Sebagai Gereja, kita harus bergumul dengan realitas menyakitkan bahwa teologi, kita, penyembahan kita, dan pelayanan kita tidak hanya gagal untuk mempertahankan alam ciptaan, namun telah berkontribusi terhadap eksploitasi dan penghancuran.[4]

Sekarang, petunjuk-petunjuk apa saja kita miliki dari kehidupan Santo Fransiskus dari Assisi berkaitan dengan relasi yang benar antara manusia dan selebihnya dari ciptaan Allah? Jawaban Fransiskus adalah “persaudaraan dengan segenap alam ciptaan”. Cukuplah bagi kita untuk membaca “Gita Sang Surya” yang disusunnya dan dihayati juga olehnya secara penuh dan total sepanjang hidupnya. Dalam kidungnya itu, Fransiskus bahkan menyebut kematian sebagai saudarinya.

Gita Sang Surya. Dalam “Gita Sang Surya”, Fransiskus menyebut semua ciptaan sebagai saudari dan saudara, hal mana mengungkapkan inti pandangan Fransiskus (dan kemudian para anggota keluarga Fransiskan) tentang dunia dan alam semesta, yaitu bahwa Allah adalah sumber segala hal yang ada. Sang Pencipta, Allah, adalah Orangtua, baik Ibu maupun Bapa, dari segala makhluk ciptaan yang dengan demikian menjadi saudari-saudara satu sama lain. Karena semua ciptaan adalah sebagian dari keluarga ilahi ini, maka segala yang diciptakan – bernyawa atau tidak bernyawa – pantas memperoleh kasih persaudaraan dan respek. Gambaran ilahi (imago Dei) yang ada dalam diri manusia,  terdapat juga dalam segala makhluk ciptaan.

Fransiskus merasa takjub terhadap kemuliaan Allah dalam alam ciptaan. Ia merasakan kehadiran Allah dalam segala hal. Ia menyapa seluruh dunia dengan sapaan hangat: Saudari! Saudara! Sifat dari perjumpaan ini dapat digambarkan dalam bahasa teolog Yahudi Martin Buber sebagai suatu perjumpaan “Aku-Engkau”. Buber melihat bahwa realitas pada dasarnya terdiri dari dua macam relasi. Relasi yang bersifat impersonal, yaitu antara subjek dan objek, “Aku-itu” meluas kepada apa yang dinamakan objek-objek, malah kepada sebagian besar manusia; dan relasi “Aku-Engkau” dialami pada saat-saat yang menghormati kesucian identitas manusia dan relasi pribadi. Fransiskus memperluas relasi “Aku-Engkau” ini ke ruang lingkup yang jauh lebih luas, yaitu segalanya yang ada. Orang kudus ini mengundang kita untuk bersamanya melihat bahwa sifat sesungguhnya dari realitas diungkapkan dalam relasi “Aku-Engkau” antara Allah sang Pencipta dan semua ciptaan. Allah adalah Allah langit, tanah, air dan semua kehidupan. Segalanya mempunyai suatu relasi dengan Allah. Melihat hal ini, kita diundang untuk menyapa dengan rasa syukur semua hal karena semua hal itu dilihatnya sebagai memancarkan kebaikan Allah.

“Gita Sang Surya” sesungguhnya bukanlah sekadar sebuah syair atau sebuah kidung-nyanyian yang indah. Karya Fransiskus ini adalah suatu perayaan mendalam penuh-makna mengenai alam ciptaan sebagai apa adanya dan seperti dimaksudkan oleh sang Pencipta. “Gita Sang Surya” menamakan realitas yang dibentuk dalam hubungannya dengan semua hal sebagai saudari dan saudara. Kidung ini mengundang kita untuk memahami tujuan kita dalam dunia tercipta sebagai sesuatu yang sederhana, yaitu berjalan dalam firdaus. Sdr. Murray Bodo OFM, dalam kata pengantarnya dalam buku karangan Susan Saint Sing, “St. Francis, Poet of Creation – The story of The Canticle of Brother Sun”, menulis sebagai berikut: “St. Francis’ Canticle of Brother Sun is a profound articulation of his journey to God. He enters into creatures, becomes one with them, and praises God through them” (Kidung Saudara Matahari dari St. Fransiskus adalah sebuah artikulasi yang mendalam tentang perjalanannya menuju Allah. Dia masuk ke dalam (dunia) makhluk-makhluk ciptaan, menjadi satu dengan mereka, dan memuji-muji Allah melalui mereka).[5]

ST. FRANSISKUS -01Visi Fransiskus tentang alam ciptaan. Fransiskus mempunyai visi yang hakiki tentang firdaus, visi tentang desain orijinal dari Allah untuk ciptaan dan apa yang akan terjadi apabila Sang Pencipta dan ciptaan-Nya direkonsiliasikan, ketika Allah menjadi “Segala dalam segalanya”. Sebagai Ciptaan Baru yang sedang menjadi, kita harus sebisa-bisanya hadir ketika hal itu berkembang; kita harus mencari tanda-tanda heran yang ditunjukkannya  dan mendengar keluhannya (Rm 8:23). Fransiskus melakukan hal ini; yang berada di atas segala hal yang lain, inilah yang membedakan dirinya dari orang-orang lain: di dalam dunia seperti ini dia “menembus dengan ketajaman hatinya sampai ke dalam rahasia sekalian makhluk” (1Cel 81); dia mampu melihat keindahan menakjubkan dari dunia kelak. Inilah yang dimaksudkan oleh Thomas Celano ketika dia mengatakan bahwa Fransiskus “sudah meningkat masuk sampai ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah” (1Cel 81). Jadi Fransiskus mengalami secara antisipatif masa depan untuk mana kita dipanggil. Fransiskus hadir pada Ciptaan Baru karena transformasi pada dirinya sendiri. Semangat atau roh dari “Gita Sang Surya” adalah untuk menyalakan dalam diri kita suatu kerinduan baru akan firdaus sebagai persekutuan harmonis segala makhluk ciptaan. Kita bergabung dengan Fransiskus dipenuhi pengharapan bahwa persekutuan dan keterhubungan segala pihak dalam firdaus yang primordial akan eksis kembali bila perjuangan sejarah dipecahkan pada saat eskatologis di mana segala sesuatu dibuat menjadi baru.

Teman seperjalanan dan seorang pemandu. Dalam diri Santo Fransiskus dari Assisi kita mempunyai seorang teman seperjalanan dan pemandu yang mengajar kita untuk berjalan di atas muka bumi ini dengan kerendahan hati (kedinaan) dan hati yang terbuka dan penuh syukur, sadar sepenuhnya akan keberadaan kebaikan ilahi dalam segala ciptaan. Untuk melakukan hal ini, pertama-tama kita harus membuang pemahaman diri kita sendiri yang berlebihan. Untuk mengetahui dan mengenal tempat kita di atas muka bumi ini berarti kita harus menaruh respek terhadap kenyataan adanya batasan-batasan yang telah ditetapkan untuk kita. Apabila kita berpikir bahwa diri kita melebihi ciptaan, jika kita berpikir bahwa dunia ini terdiri dari koleksi “itu, itu dan itu” yang disediakan bagi kita untuk diekploitasi secara “semau gue”, maka hal ini berarti kita berpartisipasi dalam pandangan banyak orang yang memperkenankan, merasionalisasikan, bahkan mendorong eksploitasi alam ciptaan. Untuk memulihkan kerusakan ekologis, kita harus meneguhkan nilai kita sebagai individu-individu dan sebagai spesies, dan pada saat yang sama, kita mengakui insignikansi (ketidakberartian) kita di hadapan kosmos. Kerendahan hati baru ini secara historis analog dengan saat di mana Copernicus mengatakan kepada Gereja dan masyarakat Eropa bahwa bumi bukanlah pusat alam semesta.

fa -10Hanya dengan sikap rendah hati dan kedinaan. Sekali lagi, kita dipanggil untuk menerima sebuah tempat bagi kita sendiri dalam alam ciptaan – yang walaupun istimewa – namun tidaklah sentral. Sebagai makhluk ciptaan, kita harus lengser dari takhta kita sebagai penguasa alam semesta. Hanya dengan kerendahan hati inilah kita dapat mengenali kerumitan dari jaringan-kehidupan yang kepadanya kita dan makhluk-makhluk lainnya bergantung. Kesaksian hidup Fransiskus dari Assisi mendesak kita untuk melakukan pertobatan teristimewa dari kesombongan manusiawi kita yang mendorong kita untuk mendominasi dan mengalienasi makhluk-makhluk ciptaan lainnya dan tentunya alam ciptaan itu sendiri. Dengan kedinaan Fransiskan sejati, kita dapat melakukan pertobatan yang bergerak “dari kesombongan kepada rasa syukur” dan “dari eksploitasi kepada rasa percaya (trust)”. Dengan berjalannya waktu hidup pertobatan kita, maka kita dapat memulihkan rasa kesakralan hidup, tempat dan benda. Selagi kita mengucapkan terima kasih kita dengan penuh syukur untuk segala hal yang datang dari tangan Allah, kita dapat mengenali bahwa berkat-berkat alam ciptaan itu dimaksudkan untuk semua makhluk, manusia dan makhluk-makhluk bukan manusia.

Contoh rasa hormat yang ditunjukkan oleh Fransiskus dari Assisi terhadap alam ciptaan berbicara kepada kita manusia abad ke-21 dengan cara-cara yang senantiasa baru. Alasannya adalah bahwa Santo Fransiskus dari Assisi adalah orang kudus pelindung ekologi, pelindung dari mereka yang memiliki keterampilan dan panggilan untuk membuat kebanyakan orang sadar akan keindahan yang menakjubkan dari bumi dan pada saat sama juga kerapuhannya.

Panggilan untuk bertanggung-jawab. Karunia ciptaan juga merupakan sebuah panggilan bagi kita umat manusia untuk bertanggung-jawab. Kita mengetahui bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (lihat Kej 1:26.27). Oleh karena itu panggilan umat manusia adalah untuk secara penuh berpartisipasi dengan Allah dalam proses penciptaan sebuah dunia di mana damai-sejahtera dan keadilan itulah yang memerintah, dan untuk mengklaim “gambaran Ilahi”  dalam diri kita agar dengan demikian kita dapat menemukan relasi kita yang benar dan tepat vis-á-vis alam ciptaan.

Debat panjang masih akan terus berlangsung di kalangan para ahli teologi dan ekologi berkaitan dengan peranan umat manusia sehubungan dengan alam ciptaan. Ada ahli-ahli ekologi yang memandang konsep alkitabiah “kepengurusan” (stewardship) bumi sebenarnya sekadar sebuah kompromi karena memandang diri manusia unik sebagai makhluk ciptaan, yang memperoleh kebebasan-kebebasan istimewa dan tanggungjawab-tanggungjawab istimewa untuk mengendalikan dan memanipulasi alam ciptaan. Bagi para pendukungnya, ide stewardship menyampaikan pengertian bahwa kepada kita-manusia telah dipercayakan untuk menjadi “tukang kebun” di dalam taman bumi – bahwa kita dipanggil tidak untuk memanipulasi, melainkan untuk menyuburkan dan melindungi alam ciptaan. Dalam setiap posisi lingkungan hidup terdapat pemahaman dasar bahwa manusia memiliki kapasitas untuk berefleksi dengan kesadaran diri dan kesadaran moral; kita mampu untuk mengetahui dampak dari berbagai pilihan kita dan mengubahnya. Kita harus menggunakan karunia kesadaran itu dengan baik. Kita harus melanjutkan pengujian secara kritis atas bayangan pemahaman teologis yang kita gunakan untuk memahami relasi kita dengan tatanan tercipta. Ini adalah suatu dialog penting dan belum selesai yang menduduki tempat sentral dalam misi kita untuk merawat dan melestarikan bumi dan untuk melakukan ecojustice (keadilan dalam bidang ekologi). Bagaimana kita memahami gambaran ilahi dalam diri kita masing-masing sangat mempengaruhi bagaimana kita melakukan pekerjaan kita.

JP II - 8Catatan Penutup: Pada hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun 1982, Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa cinta dan perhatian Santo Fransiskus dari Assisi kepada alam ciptaan merupakan sebuah tantangan bagi umat Katolik zaman modern ini dan suatu peringatan agar mereka jangan berperilaku seperti predator dalam berurusan dengan alam, akan tetapi bertanggung jawab terhadap alam itu dan mengurusnya sehingga semuanya tetap sehat dan utuh, agar menyediakan lingkungan hidup yang menyambut baik dan bersahabat bahkan bagi mereka yang menyusul kita (generasi mendatang).

Beliau juga menulis berkaitan dengan peringatan Hari Perdamaian Sedunia tanggal 1 Januari 1990 sebagai berikut: “Santo Fransiskus dari Assisi memberikan kepada umat Kristiani sebuah contoh bagaimana menaruh respek yang tulkus dan mendalam terhadao integritas ciptaan.” ……”Sebagai seorang sahabat dari kaum miskin yang dicintai oleh makhluk-makhluk Allah, Santo Fransiskus mengundang segenap ciptaan apakah hewan/binatang, tetumbuhan, kekuatan-kekuatan alam, bahkan Saudara Matahari dan Saudari Bulan – untuk memberi penghormatan dan puji-pujian kepada Tuhan. Orang miskin dari Assisi ini memberikan kepada kita kesaksian yang mencolok bahwa apabila kita berada dalam keadaan berdamai dengan Allah, maka kita akan lebih mampu untuk mengabdikan diri kita dalam membangun perdamaian dengan segenap ciptaan yang tidak dapat dipisahkan dari damai-sejahtera di tengah semua orang” (Sumber: Wikipedia)

Masalah ekologi – teristimewa di negeri kita – merupakan masalah serius. Kita harus ikut serta memecahkannya sesuai kemampuan kita …… sesuai dengan berbagai karunia dan talenta yang telah diberikan kepada kita masing-masing. Cara pandang Santo Fransiskus dalam hal ini merupakan sebuah pilihan yang patut dipertimbangkan.

Cilandak, 23 Oktober 2013 [Pesta S. Yohanes dari Capistrano]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS


[1] William R. Cook, FRANCIS OF ASSISI, Collegeville, Minnesota: A Michael Glazier Press, The Liturgical Press,  1989, hal. 52.

[2] Dalam hal ini, bdk. apa yang ditulis oleh Hilarin Felder, O.M. Cap., THE IDEALS OF ST. FRANCIS OF ASSISI, (translated  by Berchmans Bittle OMCap.),  Chicago, Ill.: Franciscan Herald Press, 1982, hal. 414.

[3] Bacalah tulisan saya yang berjudul “BEBERAPA CATATAN TAMBAHAN MENGENAI SIKAP TERHADAP ALAM SEMESTA SESUDAH ‘GAUDIUM ET SPES’” (dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; posting tanggal 5 Juni 2010).

[4] Marie Dennis, Joseph Nangle OFM, Cynthia Moe-Lobeda, Stuart Taylor, ST, FRANCIS AND THE FOOLISHENSS OF GOD, Maryknoll, New York: Orbis Books, 1993, hal. 107.

[5] Susan Saint Sing, St. Francis, Poet of Creation – The story of The Canticle of Brother Sun, Chicago, Ill.: Franciscan Herald Press, 1985, hal. 1.

KALPATARU 2012, PATER SAMUEL DAN ‘RUMAH PELANGI’

KALPATARU 2012, PATER SAMUEL DAN ‘RUMAH PELANGI’  

Lahan seluas 90 hektare, yang terletak di Dusun Gunung Benuah, Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sei Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, itu awalnya lahan terlantar bekas kebakaran. Kini lahan berupa bukit dan rawa itu menghijau berkat kerja keras Pastor Samuel dan komunitasnya. “Ini merupakan bagian dari spiritualitas Fransiskan Kapusin, menyayangi alam sebagai tanda hormat dan bakti kita kepada Sang Pencipta,” kata Samuel. (“Kalpataru bagi Rumah Pelangi”, Koran TEMPO, Rabu, 6 Juni 2012, hal. A12) 

KAPALTARU 2012 

Penghargaan Kalpataru, Adipura, dan Adiwiyata setiap tahunnya diberikan bertepatan dengan HARI LINGKUNGAN HIDUP SEDUNIA pada tanggal 5 Juni. Tema Hari Lingkungan Hidup tahun 2012 ini adalah GREEN ECONOMY: DOES IT INCLUDE YOU? Dalam konteks Indonesia artinya “Ekonomi Hijau: Ubah Perilaku, Tingkatkan Kualitas Lingkungan”.

Makna mendasar dari tema ini adalah urgensi seluruh umat manusia mengubah pola konsumsi dan produksi atau gaya hidup menuju perubahan perilaku yang berkelanjutan. Tema ini juga mengangkat United Nations Conference on Sustainable Development atau dikenal Rio+20 yang akan diselenggarakan pada pertengahan Juni mendatang di Brasil.

Kapaltaru diberikan untuk kategori Pembina Lingkungan, Perintis Lingkungan, Pengabdi Lingkungan, dan Penyelamat Lingkungan. Salah seorang penerima Kapaltaru 2012 untuk kategori Pembina Lingkungan adalah Pater Samuel Oton Sidin OFMCap. seorang imam Fransiskan Kapusin. Panitia Penghargaan menulis tentang imam ini: “Dia melakukan penanaman pada lahan kritis, melestarikan binatang asli Kalimantan dan berbagai jenis tumbuhan, serta penyuluhan lingkungan” (“Kalpataru bagi Rumah Pelangi”, Koran TEMPO, Rabu, 6 Juni 2012, hal. A12).

PATER SAMUEL OTON SIDIN, OFMCAP.

Pater Samuel Oton Sidin, OFM. Cap. lahir di Peranuk, Bengkayang, 12 Desember 1954. Pada tahun 1984, ia ditahbiskan menjadi imam dari Ordo Fransiskan-Kapusin. Setahun kemudian, ia berangkat ke Roma, Italia, untuk menempuh pendidikan doktorat di bidang spiritualitas Fransiskan. Pada tahun 1990, pendidikan untuk memperoleh gelar doktor dari Universitas Antonianum, Roma, diselesaikannya dengan disertasi berjudul: The Role of Creatures in Saint Francis’ Praising of God. Pakar “Fransiskanologi” ini terlibat lama dalam bidang pendidikan calon imam Kapusin di Parapat dan Pematangsiantar, Sumatera Utara. Kiprahnya dalam pelestarian alam merupakan salah satu wujud penghayatan teladan hidup Fransiskus dari Assisi (pendiri ordo fransiskan) yang terkenal sebagai pelindung ekologi.

Saya sendiri belum lama kenal dengan “pejuang lingkungan” ini. Pertama kali saya berkenalan secara pribadi dengan Pater Samuel adalah di dalam ruang Sakristi gereja Santo Stefanus, Cilandak, Jakarta Selatan ketika bersiap-siap untuk tugas pelayanan sebagai salah seorang prodiakon pada Misa Kudus pada sore/senja hari Sabtu tanggal 19 Mei 2012. Imam yang memberi kesan sebagai seorang pribadi sederhana itu bertugas melayani sebagai Imam Selebran pada kesempatan itu, secara bergiliran di Dekenat Selatan dalam rangka Novena Roh Kudus.

Ketika mengetahui bahwa beliau adalah seorang Kapusin, saya langsung memberi salam “Pace e Bene” (bahasa Italia yang kurang lebih berarti!” “Damai sejahtera dan segalanya Baik bagimu!”) dan mengatakan bahwa saya adalah seorang anggota OFS (ada seorang prodiakon lain yang anggota OFS untuk tugas hari itu). Beliau pun dengan ramah berkata: “Pace e Bene!” Saya cukup terharu menyaksikan beliau mengatakan kepada seorang prodiakon yang sedang berkenalan sambil menoleh kepada saya dan mengatakan: “Ini adalah saudara saya, seorang Fransiskan Sekular”. Baru setelah Misa Kudus usai, ketika saya minta e-mail address Pater Samuel, membaca nama ‘Oton Sidin’ yang ditulisnya sendiri, dan beliau mengatakan suka menulis di surat kabar, baru teringatlah saya bahwa saya sudah pernah membaca tulisan-tulisan beliau juga.

Dengan penuh syukur saya membaca berita di Harian TEMPO tentang penganugerahan Kalpataru oleh Presiden R.I. kepada beliau, yang adalah saudara saya. Saya lihat di harian KOMPAS hari/tanggal sama, berita tentang peristiwa itu sangatlah singkat apabila dibandingkan dengan berita tentang Romo Carolus sebelumnya.

LATAR BELAKANG PENDIRIAN “RUMAH PELANGI”

Pembalakan liar dan ekspansi perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Barat telah merambah kawasan tangkapan air. Bencana kekeringan dan kekurangan air bersih saat kemarau serta banjir saat musim hujan menjadi ancaman serius setiap tahun. Ordo Fransiskan Kapusin yang berkarya di daerah tersebut, yang khawatir akan ketersediaan air bersih bagi masyarakat, mulai menggagas gerakan sosial untuk menyelamatkan sebuah kawasan yang langsung terkait dengan masyarakat. Pada tahun 1998, kegiatan pembalakan liar dan ekspansi perkebunan kelapa sawit mulai marak. Pada waktu itu Ordo Fransiskan Kapusin Provinsi Pontianak dipimpin Pater Samuel Oton Sidin, OFM Cap. [1997-2003]. Catatan: Pater Samuel terpilih kembali menjadi Minister Provinsial  untuk periode 2009-2012.

Para Fransiskan Kapusin ini menilai bahwa sebuah bukit di Teluk Bakung, yang kemudian dikenal dengan nama Bukit Tunggal masih mungkin diselamatkan. Dengan demikian para Fransiskan Kapusin itu berencana untuk menghutankan kembali Bukit Tunggal secara swadaya. Dengan biaya dari ordo, Pater Samuel mulai membeli lahan di Bukit Tunggal sedikit demi sedikit dari warga setempat. Tempat ini sekarang dikenal sebagai ‘Rumah Pelangi’, sebuah kawasan konservasi hutan dan lahan seluas 90 hektar di Dusun Gunung Benuah, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Kawasan ini berjarak sekitar 60 kilometer dari Kota Pontianak ke arah Tayan.

Ketika Pater Samuel membeli kawasan di hamparan seluas 70 hektar pada tahun 2000, sebagian besar lahan di perbukitan dan rawa-rawa itu merupakan lahan yang rusak. Sisi utara dan selatan area tersebut banyak yang terbakar, sementara di sebelah barat nyaris tanpa pohon karena sudah ditebang. Keanekaragaman hayati sebagai kekayaan alam yang tersimpan di bumi khatulistiwa, turut lenyap dengan musnahnya hutan. Sedikit demi sedikit, kawasan yang rusak itu direhabilitasi. Secara bertahap, area lahan lain seluas 20 hektar juga dibeli sehingga kawasan konservasi bertambah luas.

Pada tahun 2003, lahan yang dibeli  para Fransiskan Kapusin itu telah mencapai beberapa puluh hektar. Mulailah Pater Samuel dan beberapa anggota Kapusin menanami lahan itu sambil terus membeli lahan di sekitarnya. Sebuah rumah yang diberi nama ‘Rumah Pelangi’ didirikan di sana sebagai tempat tinggal beberapa anggota komunitas. ‘Rumah Pelangi’ juga menjadi tempat singgah masyarakat yang ingin mengunjungi Bukit Tunggal.

Walaupun sedang melayani sebagai Minister Provinsial OFM Kapusin Pontianak dengan wilayah kerja Pulau Kalimantan, KAJ dan sebagian Sulawesi hingga 2011 lalu, Pater Samuel tetap turun langsung dalam upaya penghijauan Bukit Tunggal. Sejak dari pembenihan bibit hingga penanaman, Pater Samuel terlibat langsung, tentu di sela-sela tugasnya sebagai pimpinan. 

RUMAH PELANGI 

Soal Nama. Nama ‘Rumah Pelangi’ terinspirasi dari kisah Nabi Nuh dalam Kitab Suci (Kej 6:9-9:28). Setelah 40 hari 40 malam banjir raya menimpa manusia, muncul pelangi di cakrawala. Menurut Pater Samuel, pelangi adalah tanda perdamaian dengan semua; damai dengan alam, manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Ia berharap, kehadiran konservasi Rumah Pelangi bisa menjadi seruan bagi kita semua untuk mewujudkan perdamaian dengan alam seperti tersirat dalam simbol pelangi.

Rumah Pelangi dirintis oleh Pater Samuel pada tahun 2003.  Kendati luas konservasi sangat kecil dibandingkan dengan luas lahan kritis yang ada, apa yang dilakukan ‘Rumah Pelangi’ merupakan seruan etis kepada khalayak ramai untuk memulai suatu habitus (paradigma) baru yang lebih bersahabat dan ramah terhadap alam. Selama ini wacana pelestarian lingkungan hanya tinggal wacana lip service tanpa tindakan nyata. Berbagai seminar tentang “Global Warming” terselenggara tanpa tindak lanjut yang jelas. Dengan prinsip “mulai dari diri sendiri”, Pater Samuel merealisasi kecintaan dan hormatnya terhadap alam melalui proyek ‘Rumah Pelangi’ ini.   Action ‘Rumah Pelangi’ yang “kecil” lebih bernilai daripada berbagai gagasan dan statement ekologis yang hanya tinggal jargon semata. “Magnum in parvo”: bernilai besar dalam hal-hal kecil. Itulah yang dilakukan ‘Rumah Pelangi’.

Kawasan konservasi sekaligus tempat pembelajaran masyarakat. Selain menjadi kawasan konservasi, ‘Rumah Pelangi’ juga mendidik masyarakat bagaimana mengolah lahan yang baik, mengembangkan bibit tanaman, dan mengembangkan usaha produktif dari bercocok tanam. Salah satu metode yang dikembangkan adalah membuat percontohan saluran irigasi dan sawah serta pelestarian mata air. Pater Samuel membuat sebuah bendungan kecil untuk mengaliri sawah sekitar satu hektare. Selain menjadi sumber air bagi ‘Rumah Pelangi’, bendungan itu juga turut dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat sekitar.

Dalam upaya penyadaran dan pembelajaran terhadap masyarakat sekitar, Pater Samuel memakai prinsip inside-out. Kesadaran harus ditumbuhkan dari dalam. Ia mengkampanyekan pelestarian alam bukan dengan menyalahkan atau melarang masyarakat sekitar yang kebanyakan menebang pohon demi asap dapur. Ia menggugah kesadaran dan rasa hormat terhadap alam melalui contoh teladan dan pendekatan persuasif.

Upaya konservasi ‘Rumah Pelangi’ dilakukan dengan menanam kembali tanaman asli Kalimantan. Ratusan jenis tanaman buah dan pepohonan asli Kalimantan dikembangkan di kawasan itu. Dapat disebut antara lain pohon asam (18 jenis), bambu (15 jenis), pohon keras (14 jenis, misalnya belian, tapang, sengaon, gaharu), dan berbagai jenis buah-buahan seperti rambutan, mangga, langsat, jambu, nangka, dan durian. Sejumlah bunga juga ditemukan seperti pelbagai jenis anggrek dan kantung semar. Rumah Pelangi juga menangkar hewan landak yang makin langka.

Hal yang menarik untuk diketahui adalah Pater Samuel memberi perhatian khusus untuk tanaman alam (hutan) yang tidak memberikan nilai ekonomis. Menurutnya, masyarakat cenderung memusnahkannya dan menggantikannya dengan tanaman yang laku di pasar. Pertimbangan masyarakat tentu bisa dimaklumi. Pater Samuel justru melestarikannya agar generasi-generasi mendatang tidak hanya sekedar mendengar cerita, melainkan masih dapat melihatnya. Berbagai tanaman langka itu antara lain mangga hutan, asam bawang, bacang, rambutan hutan, kandis, dan gandaria.

Seorang anak rohani Bapak Fransiskus. Sdr. Lianto dari “Duta” sempat melakukan wawancara dengan Pater Samuel, sang “Pendekar dari Gunung Benuah” itu pada tahun 2010 atau 2009, dan bertanya kepada Pater Samuel tentang gagasan apa yang ada di balik ‘Rumah Pelangi’. Pater Samuel menjawab: “Keberadaan ‘Rumah Pelangi’ tidak terlepas dari upaya untuk ikut secara nyata melestarikan lingkungan hidup. Ada banyak dasar untuk melakukan hal tersebut. Pertama, sebagai bagian dari kemanusiaan atau masyarakat manusia, bumi adalah satu-satunya tempat tinggal manusia. Siapa pun dia, punya tanggung jawab untuk memelihara ‘rumah’ tempat tinggalnya ini. Kedua, sebagai orang beriman, kita menerima warta Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dalam Kejadian 21:8; Allah memberi ‘kuasa’ kepada manusia atas segala makhluk. Dalam perintah itu terkandung suatu tanggung-jawab pemanfaatan, pengelolaan, dan pelestarian alam seturut kehendak Allah. Selanjutnya, dalam kaitan dengan penebusan [Perjanjian Baru], manusia beserta seluruh alam ditebus: menjadi manusia dan alam baru. Seharusnya dengan itu, manusia dengan ‘rumah’-nya kembali pada posisi dan kondisi firdaus di mana mereka hidup dalam harmoni. Ketiga, sebagai Fansiskan, beliau dan komunitasnya mengikuti spiritualitas Santo Fransiskus dari Assisi. Semua Fransiskan dipanggil mencintai dan menyayangi alam. Bumi dengan segala isinya adalah buah karya Allah. Hormat dan cinta akan Allah tercermin dalam hormat dan cinta akan hasil karya-Nya. Keempat, Pater Samuel dan komunitasnya mencoba menyimak kehidupan aktual kita. Kita berada pada saat bumi mengalami pemanasan global akibat berbagai ulah manusia. Pada kenyataannya, bumi, rumah kita telah rusak. Sekecil apa pun upaya perbaikan dan pemeliharaan yang kita lakukan, sudah punya arti. Karya riil memang lebih bernilai daripada hanya wacana. Nah, dengan ‘Rumah Pelangi’, diharapkan Kapusin bisa tinggal menyatu dengan alam dalam upaya mewujudnyatakan hal-hal yang saya sebutkan tadi.

Konkretisasi gagasan. Ketika ditanyakan bagaimana gagasan itu direalisasikan secara konkret, Pater Samuel menjawab: “Pertama, kita tinggal dalam hutan. Kedua, kita melindungi hutan yang masih ada. Ketiga, kita menanam pohon-pohon, terutama pohon buah-buahan dan pohon-pohon khas Kalimantan agar berbagai jenisnya dapat dilestarikan. Keempat, kita mendirikan pusat pendidikan ekologis. Di ‘Rumah Pelangi’ kita punya gedung pertemuan sederhana. Ada camping ground, tempat orang dengan leluasa menyatu dengan alam. Kita juga buat program pendidikan informal melalui rekoleksi, konferensi singkat, atau retret ekologis. Kelima, kelak kita akan menjandikan “Rumah Pelangi” sebagai tempat wisata rohani dan ekologis”.

Reaksi masyarakat. Menjawab pertanyaan mengenai reaksi atau respons masyarakat sekitar apa yang dilakukannya di ‘Rumah Pelangi’, Pater Samuel menjawab: “Masyarakat setempat masih sederhana. Pemahaman akan ekologi juga terbatas. Sebagian mendukung dan ambil bagian aktif melestarikan alam, sebagian lagi acuh tak acuh”.  Dengan dianugerahinya Kalpataru kepada Pater Samuel dengan ‘Rumah Pelangi’-nya, kita semua mengharapkan tentunya sikap acuh tak acuh yang disebutkan tadi akan berangsur-angsur hilang.

Kesulitan dan Tantangan. Dari wawancara yang sama, kita dapat melihat bahwa dalam melakukan konservasinya, Pater Samuel menghadapi tidak sedikit kesulitan dan tantangan. Pertama, berhadapan dengan para penebang pohon: pohon-pohon di lahan kita pernah ditebang oleh orang luar. Pater Samuel coba mendatangi yang bersangkutan dan memberikan pemahaman agar tidak meneruskan kegiatannya di lahan ‘Rumah Pelangi’. Di luar lahan ‘Rumah Pelangi’, penebangan jalan terus, termasuk pengambilan cerucuk. Kedua, kesulitan keuangan. ‘Rumah Pelangi’ tidak mendapat bantuan finansial dari mana pun., namun mencoba jalan terus semampunya. Ketiga, sikap acuh tak acuh masyarakat. Sebagian besar masyarakat belum menangkap makna pelestarian lingkungan hidup. Hal itu terbukti dari penebangan yang tiada hentinya, termasuk penjualan tanah, eksploitasi tambang yang merusak alam, pembukaan lahan hutan tanaman industri, dan perkebunan sawit yang merambah hutan resapan air. Keempat, sikap yang kurang proaktif dari pemerintah, baik propinsi maupun kabupaten, sehingga Pater Samuel dan para saudaranya merasa seperti berjalan sendiri saja. Semoga banyak perbaikan telah terjadi sejak wawancaras beberapa tahun lalu itu.

CATATAN PENUTUP 

Ada tiga hal yang membanggakan dan menyemangati hati saya sebagai seorang Kristiani Indonesia, khususnya dalam dua pekan terakhir ini: Pertama, penganugerahan Maarif Award 2012 dari Maarif Institute kepada Romo Carolus (Pater Charles Patrick Edward Burrows OMI) pada hari Sabtu tanggal 26 Mei 2012. Kedua, yang saya kedepankan dalam tulisan ini, yaitu penganugerahan Kalpataru 2012 kepada Pater Samuel Oton Sidin OFMCap. pada hari Selasa tanggal 5 Juni 2012. Ketiga, tentunya film SOEGIJA yang saya tonton bersama begitu banyak umat di Studio 21 Pondok Indah Mall, Jakarta Selatan, kemarin 7 Juni 2012.

Walaupun kekudusan pribadi adalah tujuan seorang Kristiani, dia tidak boleh hanya suci-suci sendiri secara terisolasi, melainkan harus hidup juga dengan saudari-saudara lainnya sebagai seorang anggota Tubuh Kristus dengan kepedulian yang serius. Dengan penuh kepedulian pula dia harus melangkah keluar dari komunitas Kristianinya untuk berinteraksi dengan saudari-saudara lainnya dalam masyarakat, sebagai garam bumi dan terang dunia, membawa kasih Kristus ke tengah dunia dan memperbaiki dunia itu, sebuah dunia yang adalah “rumah” kita semua. “Tuhan telah memberikan alam kepada umat manusia. Alam itu rumah kita. Kalau tidak bisa memeliharanya, maka rumah itu akan rusak,” kata Pater Samuel Oton Sidin, OFMCap.

Teguh Imam Wibowo mencatat pada tanggal 20 Mei 2007, bahwa luas lahan kritis di Kalimantan Barat pada saat itu mencapai lima juta hektar atau lebih dari sepertiga total wilayah  Kalimantan Barat. Seandainya seluruh lahan kritis itu dikonversi menjadi lapangan sepakbola, akan ada lebih dari 6 juta lapangan sepakbola baru ukuran standar internasional. “Mungkin akan dihasilkan ribuan pesepakbola handal di Tanah Air, kata Pater Samuel.

Bagi Pater Samuel, lahan kritis yang tersebar di bekas pembalakan liar dan penambangan emas tanpa izin itu, bukan hal yang dapat diabaikan. Upaya konservasi menjadi mutlah demi kehidupan anak-cucu yang lebih baik. Secara pribadi imam Fransiskan Kapusin ini merasa sangat tersiksa melihat kerusakan lahan dan hutan yang terjadi di Kalimantan Barat. Oleh karena itu, dengan sekuat tenaga beliau melakukan konservasi, walaupun bagaikan setitik dalam luasan lahan yang rusak.

Sumber Tulisan:

  1. Untung Widyanto, “Kalpataru bagi Rumah Pelangi” , Koran TEMPO, Rabu, 6 Juni 2012.
  2. Lianto Limbong dari ‘Dian’, “Pastor Doktor Samuel Oton Sidin – Bentara Ekologi Rumah Pelangi”, blog Clara et Distincta, posting tanggal 19 Januari 2010.
  3. Lianto Limbong dari ‘Dian’, “Berdamai dengan Alam”, blog Clara et Distincta, posting tanggal 19 Januari 2010.
  4. Teguh Imam Wibowo, “Konservasi dari Rumah Pelangi”, antaranews.com 20 Mei 2007.
  5. Agustinus Handoko, “Menghindarkan Masyarakat dari Bencana”, Kompasiana, 11 Mei 2012.

Jakarta, 8 Juni 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 77 other followers