Posts from the ‘EKARISTI-IMAM-GEREJA’ Category

MENDIDIK ANAK-ANAK KITA TENTANG EKARISTI

MENDIDIK ANAK-ANAK KITA TENTANG EKARISTI 

Dalam tulisan ini ditekankan pentingnya peran orang tua untuk terlibat dalam “pendidikan” anak-anak mereka berkaitan dengan Ekaristi, dalam rangka menyiapkan mereka menerima Komuni pertama dan juga bina lanjut sampai memasuki usia dewasa.

Keterlibatan para orang tua dalam pendidikan rohani anak-anak mereka

Setiap saat anak-anak kita menerima Ekaristi (Komuni Kudus), mereka sebenarnya secara pribadi berpartisipasi dalam peristiwa paling penting yang pernah ada/terjadi dalam sejarah. Perspektif ini harus meyakinkan kita tentang tanggung-jawab kita sebagai orang tua dalam menyiapkan anak-anak kita untuk menerima Komuni Pertama dan dalam pembinaan selanjutnya sampai saatnya mereka memasuki usia dewasa. Sebagai orangtua, kita begitu banyak memakai waktu, pikiran dan tenaga dalam mempersiapkan anak-anak kita untuk hidup mereka sebagai anggota masyarakat. Misalnya, kita menggunakan banyak sekali waktu untuk melatih anak-anak kita membaca, menulis, memecahkan soal-soal matematika karena tanpa keterampilan dalam kegiatan membaca-menulis dan hitung-menghitung, anak-anak kita tidak akan sangat berhasil dalam kehidupannya sebagai seorang pribadi manusia di tengah masyarakat.

Bagaimana halnya dengan pendidikan anak-anak oleh para orang tua mereka dalam bidang “kehidupan rohani”? Pada umumnya terasa kurang, apabila dibandingkan dengan usaha yang pertama disebutkan tadi! Mengapa? Karena kita-manusia menghayati kehidupan sekular dalam sebuah dunia yang adalah sekular pula, hampir tidak menyadari bahwa Yesus Kristus telah membuat dunia ini menjadi sebuah dunia yang sakramental: “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru” (Why 21:5) – sebuah dunia di mana setiap kegiatan dan setiap peristiwa dapat menjadi sarana rahmat ilahi yang membawa manusia kepada keselamatan (Anthony M. Buono, “Active Participation at Mass – What It Is and How to Attain It”, New York: Alba House, 1994, hal.1).

Sebenarnya sebagai orang tua, kita harus menyediakan waktu, pikiran dan tenaga dalam hal pembinaan anak-anak kita di bidang rohani ini karena hidup Kristiani membutuhkan iman, penyembahan, kasih dan banyak realitas lain yang tidak dapat dipelajari oleh anak-anak kita tanpa bantuan kita sebagai orangtua. Dalam hal ini, kita dapat melihat contoh sikap yang diberikan oleh Samuel ketika berbicara kepada bangsa Israel; “Aku akan mengajarkan kepadamu jalan baik dan lurus” (1Sam 12:23). Peran para orang tua Yahudi dalam mendidik anak-anak mereka sehubungan dengan praktek keagamaan sangatlah ditekankan dan dituntut dalam Perjanjian Lama (=Perjanjian Pertama), misalnya tentang “Kasih kepada Allah sebagai perintah yang utama”: “… haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun” (lihat Ul 6:7). Ekaristi adalah puncak hidup iman kita sebagai umat Kristiani. Dengan demikian, tugas kitalah sebagai orang tua untuk melibatkan diri mendidik anak-anak kita tentang pengetahuan dan pengalaman kita pribadi berkaitan dengan Ekaristi tersebut, karena pendidikan formal baik di sekolah maupun di paroki tidak akan mencukupi. Aliran, mazhab, tarekat, komunitas, spiritualitas atau apa pun namanya yang ada dalam Gereja, tidak akan bertahan lama, apabila tidak bertumpu pada pilar yang bernama EKARISTI ini!

Pada tahun 1981, Paus Yohanes Paulus menulis sebuah Anjuran Apostolik dengan judul FAMILIARIS CONSORTIO tentang “Peranan Keluarga Kristiani dalam Dunia Modern” (22 November 1981). Butir 26 dalam Anjuran Apostolik itu berjudul “Hak-Hak Anak-Anak”, di mana a.l. tercatat: “Sikap menerima, cintakasih, penghargaan, kepedulian terhahap anak yang lahir di dunia ini, perhatian dengan pelbagai seginya yang semuanya terpadu: di bidang jasmani, emosional, pendidikan dan rohani, semuanya itu selalu harus menjadi ciri khas yang pokok bagi semua orang Kristiani, khususnya bagi keluarga Kristiani. Begitulah anak-anak akan mampu bertambah ‘hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia’ [Luk 2:52]” (Familiaris Consortio, 26). Petikan ini hanya ingin menggaris-bawahi pentingnya keterlibatan kita dalam pendidikan rohani anak-anak kita.

Pemahaman tentang Ekaristi

Kebanyakan orang tua kurang terlibat dalam pembinaan anak-anak mereka di bidang rohani, teristimewa Ekaristi, bukan hanya disebabkan oleh kesibukan bisnis/pekerjaan sehari-hari, melainkan mungkin sekali juga karena mereka sendiri tidak/kurang memahami hal-ikhwal Ekaristi itu, misalnya Ekaristi sebagai Kurban, Ekaristi sebagai Kenangan, Ekaristi sebagai pemberian-diri Kristus bagi kita, dlsb.

Penghargaan kita terhadap Ekaristi dapat bertumbuh melalui pembacaan dan permenungan Kitab Suci. Misalnya sabda Yesus berikut ini: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku benar-benar makanan dan darah-Ku benar-benar minuman. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian jug siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku” (Yoh 6:53-57). Beberapa teks Kitab Suci lainnya yang menyangkut Ekaristi adalah sebagai berikut: (1) Penampakan Yesus yang sudah bangkit kepada dua orang murid di tengah jalan menuju Emaus (Luk 24:13-35); (2) Teks tentang Ekaristi yang tertua (1Kor 11:23-25); (3) Ekaristi yang pertama dalam Injil (Mat 26:26-29; Mrk 14:22-25; Luk 22:19-20); (4) Diskursus terakhir dari Yesus dengan latar belakang Perjamuan Terakhir (Yoh 13-17); (5) Pengorbanan Yesus (Ibr 9:11-10:25).

Pendekatan terhadap Ekaristi yang saya usulkan adalah membayangkan diri kita seperti Simon Petrus yang berkata kepada Yesus beberapa saat setelah banyak dari murid Yesus pergi meninggalkan-Nya karena tidak sanggup mendengar ajaran-Nya yang keras: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkaulah yang Kudus dari Allah” (Yoh 6:68-69). Yesus adalah segalanya bagi Simon Petrus, tentunya juga bagi kita dan anak-anak kita. Yesus juga bersabda kepada Tomas pada malam sebelum sengsara dan wafat-Nya, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”  (Yoh 14:6). “Hanya Yesus, hanya Yesus, hanya Yesus!” Ini hanyalah sebuah lagu “sekolah Minggu” untuk anak-anak, tapi mengandung kebenaran yang tidak dapat diperdebatkan.

Ekaristi Kudus merupakan fondasi dari kehidupan kita sebagai umat Kristiani. Yesus Kristus menetapkan Sakramen ini pada Perjamuan Terakhir, yang diselenggarakan pada malam sebelum sengsara dan wafat-Nya. Ia mengambil roti dan mengubahnya menjadi tubuh-Nya, Ia mengambil anggur dan mengubahnya menjadi darah-Nya. Ia memerintahkan para rasul-Nya dan kita sekarang untuk makan tubuh-Nya dan minum darah-Nya. Dalam Ekaristi dihadirkan penderitaan dan wafat Kristus di kayu salib, dan juga janji-Nya akan kehidupan kekal. Kristus wafat dan bangkit untuk menyelamatkan kita dari dosa-dosa dan maut, dan memberikan hidup kekal kepada kita, sekarang dan selama-lamanya. Kepada Marta, Yesus bersabda, “Akulah kebangkitan dan hidup; siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati” (Yoh 11:25). Dengan kata lain, yang ingin dicapai oleh Yesus lewat penderitaan, wafat dan kebangkitan-Nya adalah “… supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah”  (Yoh 10:10).

Ekaristi menghadirkan kuasa penyelamatan Yesus dari salib dan kebangkitan-Nya. Itulah sebabnya, mengapa kita menyebutnya sebagai suatu kurban. Ekaristi memberi kemungkinan persekutuan (Latin: communio) kita dengan rahmat itu. Itulah sebabnya, mengapa kita menyebutnya sebagai suatu makanan. Ekaristi adalah suatu makanan kurban. Suatu persembahan kurban tanpa communio akan berarti bahwa kita tidak turut ambil bagian dalam rahmat penyelamatan Kristus. Sebaliknya, suatu communio tanpa kurban berarti kita hanya mendapat makanan tanpa kuasa penyelamatan. Yesus hadir dalam Ekaristi sebagai sang Juruselamat yang tersalib dan bangkit. Yesus hadir dalam Ekaristi sebagai Roti Kehidupan. Dengan Yesus yang utuh ini kita melakukan percakapan dalam doa.

Keteladanan orang tua

Para katekis yang terlibat dalam bina-iman anak-anak yang akan menyambut Komuni Pertama memang banyak berjasa, namun demikian mereka tidak melakukan semuanya yang diperlukan bagi anak-anak itu. Mengapa? Karena diperlukan bina-lanjut bagi anak-anak itu yang hanya dapat diberikan oleh orangtua mereka masing-masing. Kita harus menyadari bahwa banyak faktor eksternal yang mengancam anak-anak kita dalam pertumbuhan mereka sebelum memasuki usia dewasa, a.l. dari berbagai macam media. Para orangtua tetap merupakan pengaruh utama dalam kehidupan anak-anak itu. Keteladanan Kristiani para orang tua merupakan faktor utama yang membentuk iman-Katolik anak-anak kita, lebih dari faktor-faktor lainnya. Tanpa keteladanan orangtua, anak-anak kita kiranya tidak akan menerapkan apa yang mereka pelajari dari pendidik agama yang formal, baik dari sekolah (Katolik) maupun dari paroki.

Sejak masih kecil sekali dan sebelum menerima Komuni Pertama, anak-anak kita mempunyai pengalaman sedikit demi sedikit berkaitan dengan pendekatan kita sendiri – para orang tua – terhadap sakramen; dan pengalaman itu pun semakin menumpuk. Kesiapan anak-anak kita untuk menerima Komuni pertama sebenarnya lebih banyak dipengaruhi oleh hal ini daripada pendidikan oleh para katekis khusus untuk komuni pertama. Apabila kita sebagai para orangtua “santai-santai saja” atau “tanpa komitmen” dalam hal Ekaristi, atau bilamana kita mempunyai ide yang keliru atau tidak matang tentang Ekaristi itu, maka kita pun dapat melihat bahwa anak-anak kita sharing sikap dan kesalahpahaman yang sama. Misalnya, apabila kita memandang Misa Kudus sebagai sekadar tugas-kewajiban kita pada hari Minggu, maka susahlah bagi kita untuk mengharapkan anak-anak kita mempunyai suatu pengalaman yang sangat kaya berkaitan dengan Ekaristi ini. Sebaliknya apabila kita memiliki penghargaan yang matang terhadap Ekaristi dan membangun kehidupan pribadi dan keluarga kita di sekitar kehadiran Tuhan, maka anak-anak kita pun akan cenderung untuk melakukan hal yang sama.

Relasi pribadi dengan Yesus Kristus

Sebelum kita berbicara kepada anak-anak kita tentang Ekaristi, maka kita harus memperhatikan fondasi-fondasi dari kehidupan kita sebagai orang Kristiani yang Katolik. Jikalau kita sendiri tidak mempunyai relasi pribadi dengan Tuhan Yesus, maka Ekaristi senantiasa akan merupakan tetek-bengek ritualistis belaka, bukannya sebagai jalan yang memimpin manusia kepada suatu “petualangan” spiritual yang besar. Agar dapat menjalin relasi pribadi dengan Allah seperti itu, kita melakukan tindakan-tindakan seperti berikut ini: (1) Mengenali kehadiran Tuhan; (2) Mengundang-Nya ke dalam kehidupan kita; (3) Menerima hidup baru yang diberikan oleh-Nya kepada kita; (4) Mengakui otoritas-Nya atas diri kita; (5) Mengorientasikan segala sesuatu di sekitar-Nya; (6) Berbicara secara terbuka dengan-Nya tentang kehidupan kita; (7) Melakukan apa yang diperintahkan-Nya kepada kita; (8) Menyembah Dia dengan segenap hati kita; (9) Menyadari unsur-unsur kurban dalam perayaan Ekaristi.

Tempat untuk memulai atau memperbaharui persahabatan kita dengan Tuhan adalah percakapan yang jujur dengan Dia. Kita harus mengatakan kepada-Nya dengan tulus perihal kebutuhan-kebutuhan kita, bertobat atas dosa-dosa kita, dan mohon kepada-Nya untuk membuka atau memperdalam relasi pribadi dengan kita. Yesus telah berjanji, “Jika seseorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan tinggal bersama-sama dengan dia” (Yoh 14:23).

Kita dapat berdoa kepada Tuhan Yesus seperti berikut: “Tuhan Yesus Kristus, utuslah Roh Kudus-Mu untuk menolong aku berbicara kepada-Mu tentang hidupku. Aku ingin mengenal-Mu lebih dekat lagi. Tolonglah aku agar dapat lebih menghargai Ekaristi serta membangun kehidupanku di sekitar kehadiran-Mu. Tunjukkanlah kepadaku bagaimana caranya memperkenalkan Engkau kepada anak-anak-Ku dan bagaimana caranya membesarkan mereka sebagai orang Kristiani Katolik yang setia. Terima kasih Tuhan. Amin.

Komunikasi antara orang tua dan anak-anak dalam keluarga

Keteladanan yang baik tidak hanya mencakup apa saja yang kita lakukan, melainkan juga kata-kata yang kita ucapkan. Seorang saksi tanpa kata-kata tidaklah cukup! Anak-anak dapat saya mengamati orangtua mereka yang setia menerima Komuni Kudus, namun mereka menafsirkannya dengan salah. Apabila anda sebagai orangtua tidak berbicara kepada anak-anak anda betapa anda mengasihi Tuhan Yesus dan bercerita kepada mereka mengenai pengalaman anda sendiri berkaitan dengan Ekaristi, maka contoh yang terbaik dapat kelihatan di mata mereka sebagai sekadar formalisme kosong. Partisipasi anda dalam peristiwa yang paling penting itu dapat terlihat oleh anak-anak anda sebagai sekadar mengikuti tata-cara karena anda harus melakukannya sedemikian.

Apabila anda belum pernah berbicara kepada anak-anak anda tentang Ekaristi, maka anda harus mulai berbicara mengenai Allah dan cara-cara-Nya. Anda harus melakukannya pada kesempatan yang tersedia ketika diadakan percakapan biasa antara para anggota keluarga. Anak-anak anda harus tahu betapa penting relasi anda dengan Tuhan Yesus, dan bagaimana anda sampai mengenal-Nya dan melayani-Nya. Berbicara mengenai Allah adalah sebuah sarana untuk mengakui kehadiran-Nya di tengah keluarga anda dan menciptakan konteks yang cocok untuk berbicara mengenai Ekaristi di tengah rutinitas harian anda.

Kesempatan-kesempatan untuk berbicara kepada anak-anak anda mengenai Ekaristi berkisar dari percakapan-percakapan biasa-santai sampai pada pengajaran formal. Kesempatan-kesempatan informal mencakup: (1) menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan seorang anak; (2) menjelaskan perilaku kita bilamana terdapat kemungkinan anak kita salah menafsirkan dimensi-dimensi spiritual dari tindakan-tindakan kita; (3) mengambil sebagai objek pelajaran-pelajaran yang menarik kebenaran-kebenaran tentang hidup Kristiani atau Ekaristi dari kejadian sehari-hari.

Yang dapat dilakukan dalam berkomunikasi dengan anak-anak kita – sebuah panduan 

  1. Bicaralah dengan anak-anak anda tentang pengalaman rohani anda sendiri dengan Tuhan Yesus, dan khususnya yang berkaitan dengan Ekaristi. Syering pribadi anda akan mempresentasikan Tuhan Yesus kepada mereka sebagai seseorang yang harus mereka kenal.
  2. Jelaskanlah kepada anak-anak anda tentang Ekaristi dengan menggunakan kata-kata anda sendiri dan sesederhana mungkin. Cobalah untuk tidak berteori dan “ngalor-ngidul”. Sekarang, anak-anak anda lebih membutuhkan kesaksian anda daripada ketepatan teologis – yang walaupun penting – dapat datang belakangan.
  3. Lakukanlah percakapan yang riil dengan anak-anak anda. Minimalisir pemberian kuliah, dan jauhkan ceramah. Buatlah anak-anak berbicara dengan menanyakan kepada mereka apa yang mereka rasakan dan pikirkan tentang satu topik. Jadilah pendengar yang baik!
  4. Dengarkanlah dengan penuh perhatian apa saja yang dikatakan anak-anak anda. Dengan demikian, anda dapat memperkirakan di mana anak-anak itu sekarang secara spiritual dan sampai berapa baik mereka memberi tanggapan terhadap percakapan-percakapan anda tentang Ekaristi.
  5. Dari hari ke hari, perhatikanlah kesempatan-kesempatan yang muncul untuk anda berbicara mengenai Ekaristi kepada mereka. Hal ini membantu mengajar anak-anak anda bahwa Ekaristi bukanlah sekadar urusan Hari Minggu, melainkan sebuah realitas setiap hari.
  6. Bangunlah diskusi-diskusi yang lebih formal tentang Ekaristi dan kebenaran-kebenaran Kristiani lainnya ke dalam kehidupan keluarga anda. Studi Alkitab atau pendalaman Kitab Suci tidak dilarang untuk dilakukan dalam lingkup keluarga. Hal ini menunjukkan kepada anak-anak anda bahwa pengetahuan dan pengalaman mereka akan Ekaristi itu penting bagi anda, orang tua mereka.
  7. Janganlah ragu untuk berbicara dengan anak-anak anda tentang topik-topik yang kelihatan sulit bagi mereka. Bukalah pikiran mereka dengan memberikan gambaran menyeluruh. Beberapa kebenaran yang tidak mereka pahami sekarang, dengan berjalannya waktu akan dimengerti juga. Hal-hal lainnya akan tetap merupakan misteri-misteri bagi mereka, seperti halnya bagi kita.
  8. Percayalah kepada Roh Kudus untuk membimbing anda dan meyakinkan anda bahwa anda akan melakukan suatu pekerjaan baik dalam berbicara dengan anak-anak anda tentang Tuhan dan Ekaristi. Kita menerima rahmat istimewa melalui Sakramen Pernikahan yang memperlengkapi kita untuk membesarkan anak-anak kita dalam iman.
  9. Last but not least, berdoalah senantiasa dalam hati di awal, di tengah dan di akhir proses komunikasi itu. Apabila anda menginginkan doa bersama dengan suara yang terdengar, pilihlah tempat dan saat yang tempat, seturut dorongan Roh Kudus dalam diri anda.

Beberapa pertanyaan untuk refleksi pribadi 

  1. Apakah anda menginginkan agar anak-anak anda menjadi orang Kristiani Katolik seperti anda?
  2. Apakah sikap dan praktek anda sehubungan dengan Ekaristi?
  3. Kapankah tepatnya saat-saat dalam pekan depan di mana anda akan mempunyai kesempatan berbicara dengan anak-anak anda tentang Ekaristi?

Cilandak, 25 Juni 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Catatan: Tulisan ini termuat dalam majalah MediaPASS Th. X/97, Juli 2012.

MENJADI KURBAN YANG HIDUP SEBAGAI PUJIAN BAGI KEMULIAAN ALLAH

MENJADI KURBAN YANG HIDUP SEBAGAI PUJIAN BAGI KEMULIAAN ALLAH 

Oleh karena itu, ya Bapa, sambil merayakan kenangan akan penebusan kami, kami mengenangkan Kristus yang telah wafat dan turun ke tempat penantian. Kami mengakui bahwa Ia telah bangkit dan naik ke surga, duduk di sisi kanan-Mu. Sambil mengharapkan kedatangan-Nya dalam kemuliaan, kami mempersembahkan pada-Mu Tubuh dan Darah-Nya; kurban yang berkenan pada-Mu dan membawa keselamatan bagi seluruh dunia.

Ya Bapa, sudilah memandang kurban ini yang telah Engkau sediakan sendiri bagi Gereja-Mu. Perkenankanlah agar semua yang ikut menyantap roti yang satu dan minum dari piala yang sama ini dihimpun oleh Roh Kudus menjadi satu tubuh. Semoga dalam Kristus, mereka menjadi kurban yang hidup sebagai pujian bagi kemuliaan-Mu. (DOA SYUKUR AGUNG IV) 

Perasaan atau mood kita (dan juga Imam selebran) dalam Perayaan Ekaristi dapat turun-naik, ada saat-saat di mana kita merasa “in”, mengalami semacam “Pengalaman Tabor” (Inggris: Tabor Experience); …… ada pula saat-saat di mana kita mungkin saja berkata, “Saya tidak mendapat apa-apa dari Misa tadi!” Ini sebuah realitas! Akan tetapi, perasaan semata seringkali tidak dapat digunakan untuk mengukur nilai sejati dari hal-hal yang penting dalam kehidupan kita semua.

Perjalanan bersama dengan Kristus

Untuk merayakan Ekaristi, imam selebran dan kita-umat yang hadir, hanya memerlukan iman-kepercayaan yang bebas dari emosi bahwa dalam Ekaristi itu, Kristus melakukan perjalanan bersama dengan kita dalam jalan yang sangat diperlukan bagi kehidupan, jalan pemberian-diri kepada Bapa surgawi dalam Roh Kudus. Memang tidak mudah untuk percaya bahwa mereka yang hadir dalam perayaan Ekaristi sebenarnya ikut ambil bagian dalam sebuah gerakan spiritual yang dahsyat, apabila kita menyaksikan sang imam selebran yang berdiri tenang pada altar dan umat beriman berlutut pada saat-saat hening konsekrasi.

Gerakan spiritual di mana Kristus melibatkan kita digambarkan sebagai berikut: Melalui kematian Kristus, kebangkitan-Nya dan kepemilikan Roh Kudus-Nya. Kematian, kebangkitan, pengutusan Roh Kudus adalah tahapan-tahapan yang harus dilalui dalam perjalanan kita masing-masing kepada Bapa surgawi. Kristus berjalan bersama dengan kita dalam perayaan Ekaristi.

Keikutsertaan dalam karya penyelamatan Kristus. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Santo Paulus menulis, “Tidak tahukah kamu bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian, kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia melalui baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya” (Rm 6:3-5). Semua ini sungguh terjadi, namun dengan cara yang kita tak dapat bayangkan, yaitu dengan suatu cara sakramental, yang tersembunyi di bawah tanda-tanda.

Dalam Ekaristi rahmat baptisan diperbaharui dan diintensifkan dalam diri kita karena dalam Ekaristi itu kita berpartisipasi lagi dalam karya penyelamatan Kristus.  Untuk alasan inilah setiap Misa Kudus merupakan suatu pembaharuan dari keberadaan kita masing-masing sebagai seorang Kristiani. Apa saja yang ke luar dari pokok ini akan mati atau paling sedikit akan menjadi diperlemah. Proses menjadi satu dengan Kristus semakin hari semakin mendalam dan bersifat pemberian-diri; Roh dari Allah-manusia Yesus Kristus semakin menguasai realitas kemanusiaan dari mereka yang sedang dalam perjalanan itu … dan pada suatu titik akan mencapai tujuan, yaitu Bapa surgawi. Perjalanan ini seharusnya menjadi lebih bersifat hakiki  ketimbang perjalanan-perjalanan lainnya yang kita lakukan selama hari bersangkutan.

Namun demikian kita harus ingat bahwa kita melakukan perjalanan bersama Kristus ini bukanlah sekadar untuk menjadi suci-suci sendiri, melainkan juga sebagai wakil dari banyak orang lain. Namun orang-orang lain ini juga harus bertanya kepada diri mereka sendiri apakah mereka ingin selalu hanya diwakili. Barangkali mereka dapat datang secara pribadi dan pada gilirannya mewakilkan orang-orang lain pula.

Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku. “Lima Perintah Gereja” (lihat Puji Syukur No. 7) tidak jarang dicap sebagai “tidak Alkitabiah”. Tiga butir dari kelima perintah itu menyangkut Ekaristi, teristimwa butir (1) yang menyangkut “kewajiban hari Minggu atau hari raya yang disamakan dengan hari Minggu). Apabila direnungkan dengan baik, bukankah perintah itu dapat ditelusuri kembali ke sabda Yesus sendiri: “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” (1Kor 11:24,25; Luk 22:19)?

Ekaristi merupakan sebuah tanda persahabatan sang imam selebran dan semua umat yang hadir dengan diri Yesus. Dengan begitu imam dan umat yang hadir memberi kontribusi pada pemenuhan – untuk umat zaman kita sekarang – apa yang diinginkan oleh Yesus dengan penderitaan, kematian dan kebangkitan-Nya: “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah” (Yoh 10:10).

Konsekrasi. Setiap kali imam selebran mengucapkan kata-kata konsekrasi dalam perayaan Misa, sebenarnya dia mengucapkan kata-kata yang sangat signifikan bagi siapa saja yang hadir. Mungkin saja seseorang yang baru pertama kalinya menghadiri perayaan Ekaristi akan lari tunggang-langgang karena dia tidak mau terlibat dalam upacara kanibalisme seperti yang terjadi dalam suku-suku bangsa primitif zaman dahulu. Mungkin ada juga yang mendatangi altar guna mencegah sang imam meneruskan “upacara gila” seperti itu. Mengapa sampai begitu? Renungkanlah kata-kata yang diucapkan sang imam selebran: “Terimalah dan makanlah: Inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagimu”; “Terimalah dan minumlah: Inilah piala Darah-Ku, Darah Perjanjian Baru dan Kekal, yang ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang demi pengampunan dosa. Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku” 

Orang-orang yang akan merayakan Ekaristi dalam kesempatan-kesempatan tertentu diminta untuk menaruh hosti ke dalam sebuah tempat yang disediakan di dekat pintu masuk. Ini merupakan praktek yang baik. Hal ini dapat dimaknai bahwa umat ingin menjadi persembahan kurban juga, sebuah hosti, dan mereka siap untuk masuk ke dalam kurban Yesus Kristus dan tentunya ke dalam konsekrasi juga. Tentu saja tidak banyak dari umat dengan sadar merefleksikan hal ini.

Roti perayaan Ekaristi ditransformasikan menjadi roti surgawi, artinya menjadi tubuh Kristus. Dengan cara yang serupa, para peserta perayaan Ekaristi ditransformasikan menjadi Tubuh Mistik Kristus; artinya mereka akan menjadi lebih lagi sebagai Gereja Kristus. Ini adalah suatu transformasi yang luarbiasa hebat dan tak terbayangkan; seorang pengada di dunia menjadi seorang pengada yang bukan dari dunia ini, seperti Kristus yang bukan dari dunia ini. Memang, harus kita semua akui, bahwa perubahan seperti ini jarang tercapai secara penuh dalam satu kali Misa Kudus saja.

Menjadi pribadi yang baru. Pribadi baru dari orang yang ditransformasikan diindikasikan dalam kata-kata: “Terimalah dan makanlah.” Selagi kita menerima dan makan tubuh Kristus, orang-orang lain juga dapat “memakan” tubuh kita. Dengan meneladan hidup Kristus, maka hidup kita pun menjadi suatu kehidupan bagi orang-orang lain: suatu kehidupan yang dipenuhi dengan kesibukan pelayanan untuk keselamatan manusia. Walaupun demikian, hal ini tak berarti bahwa kita melayani setiap orang setiap waktu, karena itu bukanlah yang dilakukan Yesus ketika Dia masih hidup di dunia. Namun apabila kita semakin menyerahkan ke-ego-an kita dan berupaya terus untuk mengenal kehendak Allah dalam setiap situasi, maka kehidupan kita akan menjadi “tubuh yang diserahkan bagimu”, seperti diucapkan dalam konsekrasi. Seringkali pemberian-diri kita bagi orang lain mengambil bentuk konkret, misalnya berada bersama mereka yang sakit, memberikan waktu dan energi kita untuk ikut-serta secara aktif dalam suatu pelayanan karitatif bagi masyarakat luas, dlsb.

Akan tetapi, yang lebih penting adalah, bahwa dedikasi bagi orang-orang lain dan pengorbanan-diri untuk keselamatan mereka mengambil bentuk suatu kehidupan yang sesuai dengan rencana Allah. Kehendak Allah selalu suatu kehendak untuk menyelamatkan, dan siapa saja yang melakukan kehendak Allah akan ikut ambil bagian dalam misi penebusan Yesus.

Hal yang hakiki bukanlah di mana kita tinggal dan berkarya, melainkan hanyalah kita berada di tempat di mana Allah menginginkan kita berada dan berkarya. Bahkan seorang Kristiani yang sedang sakit dan berada pada saat-saat menjelang kematian dapat dan harus memperkenankan diri mereka “didistribusikan” dan “dikonsumsi” seperti roti Ekaristi.

Bagi hidup seperti inilah Ekaristi dimaksudkan untuk menguduskan dan membuat kita qualified. Akan tetapi untuk itu kita harus memperkenankan transformasi itu sunguh terjadi dalam diri kita.  Itulah caranya bagaimana kita masuk ke dalam kurban Kristus yang “membawa keselamatan bagi seluruh dunia” (Doa Syukur IV).

Transformasi diri kita lebih penting daripada perubahan apa saja dari berbagai tradisi dan struktur dalam Gereja. Kita harus berubah dan menjadi seperti Yesus. Keselamatan dunia tergantung pada hal itu. Oleh karena itu marilah kita dengan tulus menjadi umat Kristiani yang progresif, pada saat kedatangan perubahan yang merupakan keharusan itu.

Catatan Penutup 

Karena Ekaristi, tidak ada lagi ungkapan seperti  “kehidupan yang tak berguna”. Tidak ada seorang pun dapat berkata: “Apa gunanya hidupku ini?” atau “Apa yang aku lakukan dalam dunia ini?” Kita ada dalam dunia karena satu alasan yang sangat mendalam dan agung, yaitu untuk menjadi suatu kurban yang hidup, untuk menjadi Ekaristi bersama Kristus.

Cilandak, 5 Juli 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERAYAAN-PERAYAAN EKARISTI UMAT KRISTIANI AWAL

PERAYAAN-PERAYAAN EKARISTI UMAT KRISTIANI AWAL 

Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata, “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata, “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan dengan darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!” Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang. (1Kor 11:23-26) 

Petikan dari surat Santo Paulus di atas adalah teks paling tua tentang Ekaristi yang terdapat dalam  Kitab Suci Perjanjian Baru. Dengan kata-kata yang tidak panjang-lebar dalam perjamuan terakhir ini, Yesus mengubah (mentransformasikan) perjamuan Paskah Yahudi menjadi sebuah perayaan perjanjian baru dan relasi baru dengan Bapa surgawi. 

Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku! 

Setelah kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga, para rasul dan orang-orang Kristiani perdana berkumpul untuk makan bersama seperti yang telah diperintahkan Yesus dalam perjamuan terakhir tersebut (Kis 2:41-42). Mereka mengulangi kata-kata Yesus: “Inilah tubuhku, inilah darah-Ku”. Mereka menjadi semakin sadar akan kehadiran-Nya di tengah-tengah mereka. Ternyata Yesus Kristus memang tidak meninggalkan serta menelantarkan mereka. Meskipun sudah duduk di sebelah kanan Allah Bapa di surga, Yesus masih tetap berada dekat dengan mereka! Memang Ia tidak kelihatan secara khasat mata, namun Ia memang ada di tengah-tengah mereka. Ia hadir secara misterius, tetapi tetap secara riil sebagai Tuhan dan Saudara mereka.

Orang-orang Kristiani perdana mengetahui, bahwa anugerah-Nya yang kemudian diberi nama Ekaristi ini bukanlah hanya untuk mereka nikmati sendiri. Anugerah ini harus dibagikan (disyeringkan) kepada orang-orang lain dalam “pemecahan roti”, dalam kesatuan cinta-kasih mereka kepada Allah dan cinta-kasih kepada sesama. Yohanes Penginjil bahkan menggambarkan upacara Perjamuan Terakhir secara lebih dramatis lagi daripada apa yang digambarkan oleh Santo Paulus dan para penginjil sinoptik. Perjamuan Terakhir dalam Injil Yohanes dimulai dengan sebuah pelajaran tentang pelayanan yang dilakukan dengan rendah hati: Yesus membasuh kaki para murid-Nya, kemudian berkata: “Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh 13:15).

Communio dengan Kristus dalam Ekaristi 

Santo Leo Agung (+461), Paus dan pujangga Gereja, menulis: “Keikut-sertaan kita dalam tubuh dan darah Kristus hanya cenderung membuat kita menjadi apa yang kita makan”.  Santo Paulus menulis: “Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan tubuh Kristus?” (1Kor 10:16). Kita terbiasa untuk menafsirkan kata-kata Santo Paulus ini dalam arti ikut mengambil bagian dalam keseluruhan pribadi Kristus melalui segala “unsur” yang membentuknya, yaitu tubuh-Nya, darah-Nya, jiwa-Nya, keilahian-Nya. Dalam bahasa alkitabiah, kata tubuh dan darah menunjukkan seluruh hidup Kristus, atau lebih tepat lagi hidup dan mati-Nya.

Kebenaran seperti ini membawa kita kepada sebuah kesimpulan penting: Tidak ada suatu saat atau pengalaman dalam hidup Kristus yang tidak dapat kita hidupkan kembali dan syeringkan dalam persekutuan (communio). Sesungguhnya keseluruhan hidup Kristus hadir dan diberikan dalam tubuh dan darah-Nya. Tergantung pada disposisi atau kebutuhan sesaat kita, kita dapat berada di samping Yesus yang berdoa, Yesus yang digoda, Yesus yang letih, Yesus yang wafat di kayu salib dan Yesus yang bangkit kembali – karena Yesus yang sama masih eksis dan hidup dalam Roh.

Kebenarannya adalah bahwa persekutuan Ekaristis melampaui perbandingan manusiawi apa saja yang dapat kita buat. Yesus memberi contoh tentang pokok anggur dan ranting-rantingnya. Pokok anggur dan ranting-rantingnya memang mengambil bagian dari hidup yang sama: kesatuan yang sangat erat. Karena tidak berjiwa, maka pokok anggur dan ranting-rantingnya tidak menyadari adanya kesatuan ini. Sepasang suami-istri membentuk satu daging, namun mereka tidak dapat membentuk satu roh. Sebaliknya, “… siapa saja mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia” (1Kor 6:17). Kekuatan dari persekutuan Ekaristis terletak pada kenyataan bahwa kita menjadi satu roh dengan Yesus, dan “satu roh” ini sesungguhnya adalah Roh Kudus! Dalam Ekaristi, kita semua (termasuk imam selebran) menjadi kurban bersama Yesus, sehingga setelah Misa selesai kita dapat berkata bersama Santo Paulus: “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:19-20).

Tradisi-Tradisi yang Paling Awal 

Walaupun perayaan Kristiani sehubungan dengan pemberian-diri Yesus ini kadang-kadang disebut “Perjamuan Tuhan” (1Kor 11:20), sebenarnya secara umum lebih dikenal sebagai “pemecahan roti” (Kis 2:41). Mengapa? Makan bersama di dalam keluarga-keluarga Yahudi selalu dimulai dengan suatu berkat atas roti, berkat yang dilakukan oleh sang kepala rumah tangga. Setelah diberkati, roti itu pun dipecah-pecahkan dengan tangan olehnya dan kemudian dibagi-bagikan sepotong-sepotong kepada setiap orang yang ada pada meja makan. Ini adalah suatu cara bersyukur kepada Allah untuk makanan dan tindakan-Nya mempersatukan para anggota keluarga yang ada pada meja makan. Perjamuan Terakhir dimulai dengan cara yang sama, dan umat Kristiani perdana mengacu pada upacara ini dengan menyebutkannya sebagai “pemecahan roti) karena mengingat ritus awalnya seperti dijelaskan di atas. Baru pada awal-awal abad kedua mulailah upacara makan bersama itu dinamakan “Ekaristi”, yang berasal dari kata Yunani “eukharistia”, yang berarti “berterima kasih”, “bersyukur”.

Tidak jelas sampai berapa sering umat Kristiani perdana merayakan perjamuan istimewa ini, barangkali paling sedikit sekali setiap pekan. Dalam budaya Semitis, hari dimulai pada senja sebelumnya, jadi hari Minggu, atau “Hari Pertama dalam Minggu” (Kis 20:7; 1Kor 16:2), sebenarnya dimulai pada senja hari Sabtu. Lukas, ketika menggambarkan kehidupan umat Kristiani perdana mengatakan, bahwa mereka “bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa” (Kis 2:42). Dengan menyebutkan “pemecahan roti” bersama-sama dengan “pengajaran rasul-rasul” dan “doa”, Lukas menunjukkan bahwa “pemecahan roti” bersifat istimewa. Dengan memasukkan “persekutuan”, Lukas menambah satu dimensi penting dari eksistensi umat Kristiani, yaitu saling mensyeringkan kehidupan mereka satu sama lain.

Secara sekilas kita masih dapat melihat satu gambaran dari perayaan communio awal dalam “Kisah para Rasul”. Lukas menjelaskan bagaimana dia dan Paulus telah satu pekan lamanya tinggal di Troas di Asia Kecil dan ketika itu Paulus sudah siap-siap meninggalkan tempat itu. Lukas menulis sebagai berikut:

“Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara seiman di situ, karena ia bermaksud untuk berangkat keesokan harinya. Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam. Di ruang atas, di mana kami berkumpul, dinyalakan banyak lampu. Seorang pemuda bernama Eutikhus duduk di jendela. Karena Paulus amat lama berbicara, pemuda itu tidak dapat menahan kantuknya. Akhirnya ia tertidur lelap dan jatuh dari tingkat ketiga ke bawah. Ketika ia diangkat orang, ia sudah meninggal. Tetapi Paulus turun ke bawah. Ia merebahkan diri ke atas pemuda itu, mendekapnya, dan berkata, “jangan khawatir, ia masih hidup.” Setelah kembali di ruang atas, Paulus memecah-mecahkan roti lalu makan; sehabis makan ia masih berbicara lama lagi sampai fajar menyingsing. Kemudian ia berangkat. Sementara itu mereka mengantarkan pemuda itu dalam keadaan hidup ke rumahnya, dan mereka semua merasa sangat terhibur (Kis 20:7-12).

Di sini jelas bahwa Paulus-lah yang memimpin upacara “pemecahan roti” yang  dimulai pada malam hari dan mencakup khotbah yang sangat panjang. Lukas menunjukkan  bahwa “pemecahan roti” itu adalah suatu liturgi dan bukan sekadar makan-makan biasa, ketika dia berbicara mengenai “dinyalakannya banyak lampu”. Bahkan cerita mengenai Euthikus mengungkapkan suatu aspek hakiki dari perayaan ini: Kesatuan satu sama lain di sekeliling meja Tuhan perlu memasukkan ke dalamnya kesejahteraan fisik satu sama lain.

Didakhè 

Didakhè adalah sebuah dokumen Gereja awal yang diperkirakan disusun pada akhir abad pertama, kira-kira pada tahun 95. Barangkali berasal dari salah satu jemaat (gereja) di Syria (Suriah) atau di Palestina. Nama pengarangnya tidak diketahui. Dengan demikian kita dapat mengatakan, bahwa Didakhè adalah sebuah dokumen anonim (tidak memakai nama samaran) atau karangan yang yang pseudonim, artinya memakai nama samaran. Judul lengkap dokumen ini dalam bahasa Yunani adalah “Didakhè ton dodeka apostolon”, artinya pengajaran dari kedua-belas rasul, seakan-akan para rasul Tuhan Yesus Kristus-lah yang mengarang/menyusun kitab itu. Maksudnya ialah agar dokumen ini memiliki kewibawaan dalam lingkungan umat Kristiani yang hidup pada waktu itu; karena sebagai sebuah karya para rasul Tuhan Yesus Kristus sendiri, patutlah dijunjung tinggi dan dihormati. (lihat Dr. A. de Kuiper, DIDACHE, Jakarta: Badan Penerbit Kristen, 1967, hal. 5).

Dalam Didakhè pasal/bab IX terdapat instruksi-instruksi yang menyangkut “Ekaristi”:

(1)     Dalam Ekaristi (Eucharistia), ucapkanlah syukur (eucharisteo) sebagai berikut:

(2)     Pertama-tama atas cawan: “Kami mengucapkan syukur kepada-Mu, ya Bapa kami, karena pokok anggur yang kudus dari Daud, hamba-Mu, yang telah Kauberitahukan kepada kami dengan perantaraan Yesus, Hamba-Mu; kepada-Mulah kiranya kemuliaan sampai selama-lamanya.”

(3)     Lalu atas roti yang dipecah-pecahkan: “Kami mengucapkan syukur kepada-Mu, ya Bapa kami, karena kehidupan dan pengetahuan yang telah Kauberikan kepada kami dengan perantaraan Yesus, Hamba-Mu; kepada-Mulah kiranya kemuliaan sampai selama-lamanya.

(4)     Seperti roti ini telah dicerai-beraikan di atas gunung-gunung dan kemudian dikumpulkan menjadi seketul, demikianlah kiranya Gereja-Mu dikumpulkan dari segala ujung bumi masuk ke dalam Kerajaan-Mu; sebab Engkaulah yang empunya kemuliaan dan kekuasaan oleh Yesus Kristus sampai selama-lamanya.”

(5)     Janganlah seorang pun makan atau minum dari Perjamuanmu, terkecuali orang-orang yang telah dibaptis dalam nama Tuhan; karena tentang hal ini difirmankan Tuhan: “Janganlah berikan barang yang kudus kepada anjing.” (Dr. A. De Kuiper, DIDACHE, hal. 18).

Dalam Didakhè pasal/bab X terdapat instruksi-instruksi yang menyangkut “Pengucapan Syukur”:

(1)     Sesudah kamu kenyang, maka ucapkanlah syukur sebagai berikut:

(2)     “Kami mengucapkan syukur kepada-Mu, ya Bapa yang kudus, karena nama-Mu yang kudus, yang telah Kaubuat diam dalam hati-sanubari kami; dan karena pengetahuan dan kepercayaan dan kekekalan yang telah Kauberitahukan kepada kami dengan perantaraan Yesus, Hamba-Mu. Kepada-Mulah kiranya kemuliaan sampai selama-lamanya.

(3)     Engkau, ya Tuhan yang Mahakuasa, telah menciptakan segala-galanya karena nama-Mu; baik makanan maupun minuman telah Kauberikan kepada manusia untuk menikmatinya, supaya mereka bersyukur kepada-Mu. Akan tetapi kepada kami Kaukaruniakan makan dan minuman rohani dan kehidupan yang kekal dengan perantaraan Hamba-Mu.

(4)     Lebih-lebih kami bersyukur kepada-Mu karena Engkau lah yang berkuasa; kepada-Mulah kiranya kemuliaan sampai selama-lamanya.

(5)     Ingatlah, ya Tuhan, akan Gereja-Mu untuk melepaskannya dari segala yang jahat dan menyempurnakannya di dalam kasih-Mu, dan kumpulkanlah dari keempat mata angin Gereja-Mu yang telah dikuduskan, masuk ke dalam Kerajaan-Mu yang telah Kausediakan baginya. Sebab Engkaulah yang empunya kekuasaan dan kemuliaan sampai selama-lamanya.

(6)     Datanglah kiranya Anugerah dan biarlah dunia ini lenyap. Hosana kepada Allah Daud! Bila ada orang yang kudus, hendaklah ia datang! Tetapi yang tidak, biarlah bertobat! Maranatha. Amin.”

(7)     Kepada para nabi haruslah kamu beri kesempatan bersyukur sebanyak sukanya sendiri (Dr. A. de Kuiper, DIDACHE,  hal. 18-19).

Dalam Didakhè pasal/bab XIV terdapat instruksi-instruksi tentang “Hari Tuhan (Hari Minggu) sebagai berikut:

(1)      Apabila kamu berkumpul pada hari Tuhan (=kuriakè), maka kamu harus memecahkan roti dan mengucapkan syukur, setelah mengaku kesalahan-kesalahanmu, supaya kiranya kurbanmu suci (= murni).

(2)      Dan barang siapa yang berselisih dengan sesamanya, janganlah berkumpul dengan kamu sekalian sampai saat mereka itu telah berdamai lagi; supaya jangan kurbanmu dinajiskan.

(3)      Karena itulah yang difirmankan Tuhan: “Di tiap-tiap tempat dan pada tiap-tiap waktu haruslah dipersembahkan kepada-Ku suatu kurban yang suci (=murni); oleh karena Aku inilah Raja yang Mahabesar, demikianlah Firman TUHAN; dan Nama-Ku mendahsyatkan di antara segala bangsa” (Mal 1:11 dan 14) (Dr. A de Kuiper, DIDACHE, hal. 21-22).

Ekaristi di pagi hari 

Pada paruhan pertama abad kedua, perayaan Ekaristi umat Kristiani diselenggarakan pada hari Minggu pagi dan tidak lagi merupakan bagian dari acara makan-makan secara komunal. Penyebabnya barangkali adalah karena umat sudah sedemikian banyak jumlahnya, atau karena penyalahgunaan telah menyusup kembali ke dalam acara makan komunitas. Terkadang umat berdoa sepanjang malam dan menutup vigili mereka dengan perayaan Ekaristi. Pengetahuan kita tentang praktek-praktek ini terbatas, namun ada sebuah teks dari sekitar tahun 150 dari Santo Yustinus Martir [c. 100-165], Apologia Pertama (Apologia = Pembelaan), yang ditulis sekitar tahun 155 dan ditujukan kepada Antoninus Pius, Marcus Aurelius dan Lucius Verus, tulisan mana dimaksudkan sebagai pembelaan terhadap berbagai tuduhan. Dalam Apologia Pertama ini digambarkan suatu perayaan Ekaristi umat Kristiani pada hari Minggu pagi dengan suatu liturgi yang mencontoh kebaktian sinagoga Yahudi. Santo Yustinus Martir menulis sebagai berikut:

“Kami memberi salam satu sama lain dengan sebuah ciuman. Lalu roti dan sebuah cawan berisikan air anggur dicampur dengan air dibawa kepada pribadi yang memimpin para saudara; dia mengambil roti dan piala berisikan air anggur itu dan berdoa untuk memuliakan Bapa untuk segala hal melalui nama Putera dan Roh Kudus. … Ketika doa syukur diakhiri, semua umat yang hadir memberi persetujuan mereka dengan sebuah “Amin!” … Para diakon mendistribusikan roti dan anggur yang sudah bercampur dengan air. … Makanan ini kami sebut “Ekaristi”, … karena kami tidak menerima ini semua sebagai makanan dan minuman biasa. … Karena makanan yang atasnya telah didoakan syukur menjadi tubuh/daging dan darah dari Yesus inkarnasi (Allah), untuk memberi makan dan mentransformasikan tubuh dan darah kami” (bab 65-67) [terjemahkan bebas ke dalam Bahasa Indonesia dari P. Joseph Wimmer OSA, IN MEMORY OF ME – Early Christian Eucharistic Celebrations, Word among us, June 2001, hal. 18].

Yustinus juga memasukkan kata-kata konsekrasi dan catatan-catatan bahwa “kenang-kenangan para rasul atau tulisan-tulisan para nabi” dibacakan dan diproklamasikan oleh pemimpin ibadat, yang memberi petuah dan mendesak kami untuk mencontoh hal-hal indah yang telah kami dengar.” Suatu kolekte persembahan dilakukan bagi mereka yang membutuhkan: para janda, yatim-piatu, orang sakit, orang-orang asing yang datang berkunjung, dll. Bahkan mereka berdoa “Bapa Kami” bersama-sama. Jadi, kelihatan di sini bahwa dalam banyak hal, penggambaran ini mencerminkan struktur Misa seperti yang ada sekarang.

Doa-doa dan desakan-desakan dari para Bapak Gereja 

Teks lengkap paling awal tentang sebuah liturgi Ekaristi yang kita miliki ditulis oleh Santo Hippolytus [c. 170-236] dari Roma sekitar tahun 215. Mengikuti pola doa-doa Yahudi berkaitan dengan perjamuan, liturgi Hippolytus mencakup kata-kata konsekrasi dan sebuah kenangan akan karya penebusan Yesus. Dengan adanya reformasi di bidang liturgi sesuai keputusan Konsili Vatikan II, doa kuno dari Hippolytus itu diklaim kembali dan kita kenal sekarang sebagai “Doa Syukur Agung II”.

Anugerah Ekaristi juga menginspirasikan banyak penulis Kristiani awal untuk mengungkapkan pujian penuh sukacita dan rasa syukur mereka, dan untuk mengingatkan umat beriman berkaitan dengan kebutuhan akan persatuan dan kasih, antara lain Santo Ignatius dari Antiokia [c. 35-107]. 

S. Ignatius, uskup dari Antiokia ditangkap oleh penguasa Roma di sekitar tahun 107 dan dijatuhi hukuman untuk dimakan oleh binatang-binatang buas dalam gelanggang di Roma, karena iman Kristianinya. Orang kudus ini adalah salah seorang martir awal yang penting dalam Gereja. S. Ignatius mungkin seorang Siria dan adalah murid dari Santo-santo Petrus dan Paulus. Ada juga yang mengatakan, bahwa dia adalah murid dari S. Yohanes. Ada juga cerita, bahwa dia adalah anak kecil yang ditempatkan oleh Yesus di tengah-tengah para murid sebagai tanggapan awal sang Guru pada saat mereka bertanya kepada-Nya “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” (lihat Mat 18:1-6). S. Ignatius menamakan dirinya  sendiri Theoporas, sepatah kata dalam bahasa Yunani yang berarti ‘pembawa Allah’.

Nama S. Ignatius bertambah harum justru karena tujuh pucuk surat yang ditulisnya selagi dalam perjalanannya yang panjang menuju Roma. Lima pucuk surat ditulisnya untuk gereja-gereja di Asia Kecil, yaitu gereja-gereja di Efesus, Magnesia, Tralles, Filadelfia dan Smyrna. Tiga surat pertama yang disebutkan ditulisnya di Smyrna, sedangkan dua surat lainnya ditulisnya di Listra, sebelum menyeberang  ke Eropa. Surat kepada jemaat di Roma ditulisnya di Smyrna, dan sepucuk surat perpisahan yang ditujukan kepada Uskup Polykarpus ditulisnya di Listra.

Dalam beberapa suratnya terdapat deskripsi tentang Ekaristi. Dalam salah satu suratnya dapat dibaca tulisannya sebagai berikut: “Satu saja Tubuh Tuhan kita Yesus Kristus, dan satu saja juga Piala Darah-Nya. Keduanya dikurbankan di atas satu altar oleh satu Uskupmu bersama imam-imam dan diakon-diakon” (Surat kepada jemaat di Filadelfia, 4). “Hasratku adalah roti Allah, yang adalah tubuh Yesus Kristus, dan untuk minuman saya menghasrati darah-Nya, yang adalah kasih yang tidak dapat rusak” (Surat kepada jemaat di Efesus, 7,2-3). Dalam surat-suratnya ini Ignatius mengingatkan umat Kristiani akan perintah untuk mengasihi Allah dan sesama. Lalu menambahkan: “Mereka yang menyatakan diri mereka sebagai milik Kristus tidak hanya dikenal oleh apa yang mereka katakan, melainkan oleh praktek kehidupan mereka” (Surat kepada jemaat di Efesus, 14).

Di Roma, di bawah penjagaan prajurit-prajurit yang kejam, S. Ignatius digiring masuk ke dalam gelanggang binatang buas. Di tempat itu tubuhnya yang suci diterkam dan dicabik-cabik singa-singa yang sedang kelaparan. Darahnya yang suci membasahi tanah gelanggang  yang sebelum itu telah menampung darah banyak martir yang juga mati demi kesetiaan kepada Kristus: para saksi Kristus sejati!

Keprihatinan S. Ignatius dari Antiokia yang terbesar adalah persatuan dan tatanan Gereja sebagai Tubuh Kristus. Menurut orang kudus ini, yang paling penting adalah agar supaya umat Kristiani bersatu, merayakan Ekaristi dengan layak, dan patuh kepada pimpinan uskup mereka. Katanya: “Di mana ada uskup, di situlah Gereja!”

Catatan Penutup

Perayaan Ekaristi dalam Gereja zaman sekarang bukanlah “ciptaan” manusia modern, melainkan suatu praktek keagamaan yang berasal-usul dari Yesus Kristus sendiri, Tuhan dan Juruselamat kita! Akan tetapi, umat Kristiani tidak dapat sekadar berkumpul dan bersekutu untuk merayakan Ekaristi dan menjadi suci-suci sendiri – menjadi sekelompok orang-orang kudus seperti orang Eseni – karena  setiap orang Kristiani juga harus menjadi Ekaristi bersama Yesus. Menjadi Ekaristi berarti siap memecah-mecahkan diri kita dan memberikannya kepada setiap orang yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari kita. Kita ada di tengah dunia untuk alasan yang indah, yaitu menjadi kurban yang hidup, menjadi Ekaristi bersama Yesus Kristus. Itulah yang ditunjukkan dalam kehidupan dan kematian banyak sekali saksi Kristus sepanjang masa: mereka bertemu dengan Kristus dalam Ekaristi dan menjadi Ekaristi bersama Kristus! Hal ini dilakukan umat Kristiani sejak awal keberadaan Gereja dalam menanggapi perintah Yesus Kristus: “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!”

Cilandak, 27 Juni 2012  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERTEMU DENGAN YESUS DALAM EKARISTI

BERTEMU DENGAN YESUS DALAM EKARISTI 

Oleh karena itu, hendaklah para anggota Ordo Fransiskan Sekular mencari Diri Kristus, yang hidup dan berkarya di dalam Gereja dan di dalam perayaan-perayaan liturgis. Inspirasi mereka dan pedoman penghayatannya terhadap Ekaristi hendaknya iman kepercayaan Fransiskus yang pernah berkata “Dari Putera Allah yang mahatinggi sendiri tidak kulihat  sesuatu pun secara badaniah di dunia selain Tubuh dan Darah-Nya yang mahakudus”. (Anggaran Dasar OFS, Pasal II Artikel 5) 

Ekaristi adalah satu dari lima pilar penunjang spiritualitas Fransiskan, empat lainnya adalah Inkarnasi, Sengsara Yesus, Kitab Suci dan Maria. Ekaristi adalah karunia/anugerah Allah yang terbesar, dalam arti memperkenankan umat untuk ikut ambil bagian dalam perjamuan untuk makan tubuh-Nya dan minum darah-Nya. Pendekatan terhadap Ekaristi yang saya usulkan adalah membayangkan diri kita seperti Simon Petrus yang berkata kepada Yesus beberapa saat setelah banyak dari murid Yesus pergi meninggalkan-Nya karena tidak sanggup mendengar ajaran-Nya yang keras: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkaulah yang Kudus dari Allah” (Yoh 6:68-69).

MENIMBA DARI KITAB SUCI

Renungkanlah beberapa nas Kitab Suci berikut ini. Percayakah anda, bahwa “baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang., atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm 8:38-39)? Percayakah anda bahwa jalan menuju Allah selalu terbuka? Percayakah anda bahwa Roh Kudus “bergabung” dengan anda pada saat anda berdoa, selalu meyakinkan anda bahwa anda adalah seorang anak Allah yang sangat dikasihi-Nya (Rm 8:16)? Percayakah anda bahwa Roh Kudus ada dalam diri anda, menunjukkan kepada anda bagaimana mengasihi Yesus dan menyenangkan-Nya (Yoh 16:13)? Percayakah anda bahwa Allah ada dalam diri anda, menolong anda berpikir dan memilih dan bertindak secara benar (Flp 2:13)?

Nas-nas Kitab Suci di atas menunjukkan kepada kita betapa Allah mengasihi kita. Nas-nas itu menunjukkan bagaimana Allah secara tetap bekerja untuk kepentingan kita, setiap hari Dia mengirimkan begitu banyak pemikiran-pemikiran yang mendorong, menyemangati, memberi inspirasi kepada kita. Tidak ada satu hari pun berlalu tanpa kerja Allah demi kepentingan kita.

Menjelang akhir hidup pelayanan-Nya, Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada kepada-Ku” (Yoh 12:32). Dalam artian tertentu, janji ini dipenuhi setiap saat kita menerima Komuni Kudus (Ekaristi). Bilamana kita makan Roti Kehidupan, Allah Bapa kita menarik kita kepada Putera-Nya. Bagaimana Yesus menarik kita kepada diri-Nya? Dengan kasih tanpa syarat, belas kasih (kerahiman) tanpa batas, dan hikmat surgawi.

EMAUS 

Perwahyuan (pewahyuan) adalah sepatah kata yang digunakan untuk menggambarkan karya Allah dalam memberi pencerahan pada pikiran kita dan memenuhi hati kita. Allah memiliki hasrat untuk memberi makan kepada kita dengan hikmat-Nya dan rahmat-Nya. Demikian pula hasrat-Nya untuk menyatakan/mewahyukan diri-Nya kepada kita dapat ditarik kembali ke awal-awal penciptaan. Peristiwa makan malam bersama di Emaus adalah sebuah contoh yang baik dalam hal ini.

Kisahnya adalah seperti berikut ini. Dalam perjalanan dari Yerusalem ke Emaus (berjarak 11 kilometer), Yesus berjalan bersama dua orang murid, namun mereka tidak sadar bahwa Dia adalah sang Guru karena mereka tidak mengenali Dia. Hanya setelah Ia melakukan pemecahan roti di sebuah rumah di Emaus, akhirnya Yesus menyatakan diri-Nya kepada mereka (Luk 24:30-31). Pada awalnya, Yesus berada bersama mereka, namun tetap tersembunyi: tak dapat dikenali. Seringkali, inilah kasusnya dengan kita. Kita mencari Yesus, namun kita tidak dapat melihat-Nya. Kita mencari Dia, namun kita tidak dapat menemukan-Nya. Kita mendengarkan sabda-Nya, namun kita tidak dapat mendengar Dia.

Kedua murid itu mempunyai keragu-raguan tentang kebangkitan dan Yesus mulai mengkonfrontir keragu-raguan itu. Yesus menggunakan Kitab Suci – mulai dari Musa – untuk menjelaskan bahwa segala sesuatu yang ditulis tentang Kristus akan menjadi kenyataan. Selagi Dia mengajar mereka, Yesus menarik kedua murid itu kepada-Nya. Kedua murid melihat Yesus, mereka menyentuh-Nya, dan mereka mendengar Dia berbicara/mengajar. Bahkan hati mereka pun berkobar-kobar ketika Yesus berbicara dengan mereka dan menerangkan Kitab Suci kepada mereka (Luk 24:32). Namun demikian, mata dua orang murid itu baru terbuka ketika Yesus memberkati roti dan memecah-mecahkannya (Luk 24:31).

Yesus ingin mengajar kita semua. Ia ingin agar segalanya yang telah diajarkan-Nya kepada para rasul dan para murid-Nya yang awal, juga diajarkan kepada kita, melalui Roh Kudus. Yesus ingin memberikan kepada kita hikmat rahasia Allah, agar kita dapat memperoleh “pikiran Kristus” seperti dikatakan Paulus (1Kor 2:16). Kisah Emaus sungguh menakjubkan, namun tidak kurang menakjubkannya hari ini ketika mata kita dapat terbuka selagi roti biasa diubah menjadi tubuh Kristus dan dipecah-pecah untuk dibagikan kepada kita. Santo Fransiskus dari Assisi telah berjumpa dengan Kristus dalam Ekaristi sehingga dia dapat menulis dalam Wasiat-nya seperti dikutip dalam Anggaran Dasar OFS di atas (disahkan oleh Paus Paulus VI pada tahun 1978 dengan Bulla “Seraphicus Patriarca”): “Di dunia ini aku sekali-kali tidak melihat Putera Allah yang Mahatinggi itu secara jasmaniah, selain tubuh dan darah-Nya yang mahakudus” (Wasiat, 10).

BEKERJA UNTUK ALLAH 

Setelah dikenali oleh kedua murid itu, Yesus menghilang: “Ia lenyap dari tengah-tengah mereka” (Luk 24:31). Kemudian, apa yang terjadi dengan kedua murid itu? Kita tahu bahwa mereka baru saja melakukan perjalanan jauh yang penuh dengan pembicaraan yang penuh dengan tantangan pula. Tentunya mereka letih-lelah. Namun setelah Yesus menyatakan diri-Nya, dua orang murid itu malah tidak pergi tidur untuk beristirahat. Mereka justru langsung pergi kembali ke Yerusalem …… di tengah malam buta dan tanpa jaminan keamanan. Mereka bertemu dengan Simon Petrus dan para rasul/murid yang lain, lalu menceritakan apa yang terjadi di tengah jalan ke Emaus dan bagaimana mereka mengenali Yesus pada waktu Dia memecah-mecahkan roti (Luk 24:33-35).

Perjalanan kembali kedua murid di tengah kegelapan malam itu mengilustrasikan salah satu karya besar dari Ekaristi, yaitu mendesak dan memberdayakan kita untuk melayani Yesus. Setelah pemecahan roti di Emaus, kedua murid itu sedemikian penuh dengan sukacita sehingga mereka merasakan dorongan dan desakan untuk langsung pergi ke Yerusalem dan menceritakan kepada saudari-saudara mereka apa yang telah mereka alami. Yesus ingin meyakinkan kita semua bahwa Dia adalah Tuhan yang bangkit – teristimewa ketika kita menerima Hosti Kudus (Ekaristi). Bilamana mata kita terbuka dan kita melihat Yesus sebagaimana apa adanya Dia, kita pun dapat merasakan adanya desakan untuk melayani Dia.

Bilamana kita menerima dan makan daging-Nya sendiri yang diberikan oleh Yesus (lihat Yoh 6:25-59), maka kita akan merasakan desakan untuk pergi ke luar dari “zona kenyamanan” kita untuk mensyeringkan Yesus itu kepada orang-orang lain seturut bimbingan-Nya sendiri. Yesus ingin agar kita menjumpai berbagai macam orang, tanpa membeda-bedakan – baik miskin maupun kaya, baik berpendidikan maupun buta huruf, baik muda maupun tua usia. Ia ingin agar kita membawa setiap orang kepada-Nya, dengan penuh keyakinan bahwa Dia selalu beserta kita, membimbing kita dan memberdayakan kita, bahkan sampai akhir zaman (Mat 28:19-20).

MENJADI PENDENGAR YANG BAIK 

Marilah kita membayangkan kembali kedua murid yang sedang dalam perjalanan mereka menuju Emaus dan Yesus (yang telah bangkit) bergabung dengan mereka. Andaikan Yesus menjelaskan Kitab Suci, namun mereka tidak tertarik. Mungkin salah seorang dari mereka sangat ingin untuk sampai ke rumah secepatnya dan yang lainnya sedang memikirkan sebuah tugas pekerjaan yang belum terselesaikan. Kalau begitu, apakah yang akan terjadi? Peristiwa ini mungkin tidak akan tercatat dalam Injil Lukas, karena tidak ada sesuatu yang istimewa telah terjadi.

Apabila kita tidak mendengarkan dengan penuh perhatian, maka kita tidak akan melihat Allah. Kita tidak akan mampu mengenali Dia – bahkan setelah kita memakan Roti Kehidupan itu. Jika kita tidak menghindarkan diri dari distraksi-distraksi (pelanturan-pelanturan), maka kita mengisi pikiran kita dengan urusan-urusan duniawi, bahkan dengan berbagai godaan yang datang menyerang. Dengan demikian kita membatasi apa yang ingin Yesus lakukan melalui diri kita, karena kita tidak menaruh perhatian atas bagaimana cara tubuh dan darah-Nya dapat mentransformir kita.

Hal negatif ini tidak terjadi pada dua orang murid yang sedang dalam perjalanan menuju Emaus. Mengapa? Mereka menaruh perhatian dengan benar, mereka mendengarkan dengan serius dan mereka taat. Yesus ingin melakukan hal yang sama pada diri kita semua. Ia ingin menyatakan diri-Nya selagi kita makan Roti Kehidupan, dan Ia ingin melihat kita memberikan segalanya kepada orang-orang lain yang telah diberikan oleh-Nya kepada kita.

SANTO THOMAS MORE SANG PENCINTA YESUS DALAM EKARISTI 

Santo Thomas More [1480-1535] yang kita peringati pada tanggal 22 Juni hari ini bersama Santo [Uskup] John Fisher adalah martir Inggris pada zaman pemerintahan raja Henry VIII, dan ia adalah Lord High Chancellor (semacam Perdana Menteri) dalam pemerintahan Inggris. Devosinya kepada Ekaristi dikenal banyak orang dan karya-karya karitatifnya pun luar biasa. Kecintaannya kepada Yesus dalam Ekaristi memang dapat dimaklumi karena petinggi pemerintahan ini adalah seorang anggota Ordo Ketiga Sekular dari Santo Fransiskus dari Assisi. Thomas More sangat senang apabila dia berkesempatan membantu dalam perayaan Misa Kudus sebagai seorang pelayan Misa, walaupun nota bene dia adalah seorang pejabat tinggi negara.

Kritik-kritik tajam dilontarkan oleh orang-orang yang mengatakan, bahwa sebagai seorang awam tidak mungkinlah bagi dirinya melaksanakan tugas-tugas dunia yang sedemikian banyak dan kompleksnya, dan pada saat yang sama menekuni hidup rohani guna mencapai kesucian. Menanggapi kritik-kritik itu, Thomas More mengatakan bahwa Komuni Kudus-lah yang membuat dirinya tetap fokus dan untuk meringankan beban-beban pekerjaannya, dia akan mendekat kepada sang Juruselamat, meminta nasihat dan pencerahan dari-Nya. Yesus Kristua adalah tempat pelarian sang Perdana Menteri.

Pada suatu hari, ketika Thomas More sedang menghadiri Misa Kudus, seorang petugas istana raja mendekati dirinya dan berbisik kepadanya: “Tuanku, Sri Paduka Raja menginginkan agar Tuanku menghadapnya dengan segera.” Thomas More menjawab: “Aku tidak dapat menghadap sekarang. Katakanlah kepada Sri Baginda, bahwa aku sedang menghadap seorang Raja yang lebih besar dari beliau. Begitu tugas-kewajibanku kepada Raja yang lebih besar ini selesai, aku akan segera menghadap Sri Baginda.” Petugas istana itu pun pergi dan Thomas More, sang Lord High Chancellor, melanjutkan doa-doanya dengan khusyuk sampai Misa Kudus berakhir.

Santo Thomas More tetap setia kepada Kristus dengan cara hidupnya, bukan sekadar lewat kata-katanya. Ia bertindak seperti apa yang dikerjakan dan diajarkan Yesus (lihat Kis 1:1). Keseluruhan pribadinya, sikap dan perilakunya menunjukkan bahwa dia adalah milik Kristus. Dia mengatakan: “Ada banyak orang yang membeli neraka dengan upaya yang begitu banyak, padahal dengan upaya yang separuh banyaknya sudah bagi mereka untuk memperoleh surga.” Seperti dikatakan di atas, Thomas More juga mengasihi Kristus lewat devosinya kepada Sakramen Mahakudus, menghadiri Misa Kudus secara harian dan melayani imam dalam Perayaan Ekaristi, dan tentunya dengan menerima Komuni Kudus secara teratur. Santo Thomas More berjumpa dengan Yesus dalam Ekaristi dan dia setia kepada Yesus Kristus lewat kesetiaannya kepada Gereja (lihat Ef 5:25 dsj.). Thomas More tidak mau mundur sedikit pun dalam kesetiaannya kepada Kristus, sikap dan perilaku ini membawanya ke dalam kegelapan ruang penjara dan akhirnya kematian sebagai martir Kristus. Inilah “biaya kemuridan” (cost of discipleship) dalam arti sesungguh-sungguhnya.

CATATAN PENUTUP 

Kita sudah mencari Yesus Kristus, dan kita sudah bertemu dengan Dia dalam Ekaristi. Sebagai catatan penutup, marilah kita menyinggung sedikit pernyataan bahwa kita semua harus menjadi Ekaristi!

Setiap anggota Gereja adalah imam dan pada saat yang sama juga kurban. Hal ini disebabkan karena Yesus kepada siapa kita mempersatukan diri kita adalah imam dan sekaligus juga kurban. Persembahan diri kita dan Gereja tidak ada artinya tanpa Kristus; tidak kudus dan tidak pula dapat diterima oleh Allah. Akan tetapi persembahan Yesus tanpa persembahan Gereja, Tubuh-Nya, tidak akan mencukupi. Kebenaran pernyataan ini dikukuhkan dengan kata-kata Santo Paulus, “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam tubuhku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat” (Kol 1:24).

Ekaristi membentuk Gereja. Ekaristi bukan hanya merupakan sumber dan penyebab dari kekudusan Gereja, namun juga merupakan model-nya. Umat Kristiani tidak dapat membatasi diri mereka sekadar untuk merayakan Ekaristi dan menjadi suci-suci sendiri, mereka juga harus menjadi Ekaristi bersama Yesus. Menjadi Ekaristi berarti siap memecah-mecahkan diri kita dan memberikannya kepada setiap orang yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari kita. Kita ada di tengah dunia untuk alasan yang indah, yaitu menjadi kurban yang hidup, menjadi Ekaristi bersama Yesus Kristus. Itulah yang ditunjukkan dalam kehidupan dan kematian Santo Thomas More dan banyak lagi saksi Kristus sepanjang masa: masuk gereja/kapel bertemu dengan Kristus dalam Ekaristi, kemudian ke luar gereja menjadi Ekaristi bersama Kristus!

Jakarta, 22 Juni 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MISA KUDUS TELAH DATANG KEPADA ANDA

MISA KUDUS TELAH DATANG KEPADA ANDA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS – Minggu, 10 Juni 2012) 

Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi, pada waktu orang menyembelih domba Paskah, murid-murid Yesus berkata kepada-Nya, “Ke mana Engkau kehendaki kami pergi untuk mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?” Lalu Ia menyuruh dua orang murid-Nya dengan pesan, “Pergilah ke kota; di sana seorang yang membawa kendi berisi air akan menemui kamu. Ikutilah dia dan katakanlah kepada pemilik rumah yang dimasukinya: Pesan Guru: Di manakah ruangan tempat Aku akan makan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku? Lalu orang itu akan menunjukkan kamu sebuah ruangan atas yang besar, yang sudah lengkap dan tersedia. Di situlah kamu harus mempersiapkan perjamuan Paskah untuk kita!” Kedua murid itu pun berangkat dan setibanya di kota, mereka dapati semua seperti yang dikatakan Yesus kepada mereka. Lalu mereka mempersiapkan Paskah.

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada mereka dan berkata, “Ambillah, inilah tubuh-Ku.” Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka, “Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, dalam Kerajaan Allah.” (Mrk 14:12-16,22-26)

Bacaan Pertama:: Kel 24:3-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-13,15-18; Bacaan Kedua: Ibr 9:11-15 

Andaikan sekarang kita sedang melakukan peziarahan di Tanah Suci untuk sepuluh hari lamanya. Kita mengunjungi hampir semua tempat bersejarah yang dibuat suci dan terkenal oleh Yesus: tempat kelahiran-Nya di Betlehem, rumah-Nya di Nazaret, kubur-Nya di Yerusalem, tempat Maria mengunjungi Elisabet di Ain Karem, Mount of Beatitudes, yaitu lokasi di mana Yesus mengucapkan “Sabda-sabda Bahagia-Nya dan Khotbah di Bukit” (Mat 5-7), dan Kana di Galilea di mana Yesus membuat mukjizat air menjadi anggur dalam sebuah pesta perkawinan. Di setiap tempat yang kita kunjungi, kita pun duduk untuk merenungkan peristiwa aktual yang terjadi di tempat itu sekitar 2.000 tahun lalu sementara salah seorang anggota rombongan kita membacakan teks Kitab Suci yang berkaitan dengan peristiwa itu. Pada akhir perjalanan ziarah, kita semua setuju bahwa Kitab Suci menjadi hidup bagi kita, dengan demikian kita akan membaca Kitab Suci dengan pemahaman yang lebih mendalam dan dengan demikian kita pun  lebih menghargai Kitab Suci lagi.

Selagi kita membaca Injil hari ini, pemandangan/gambaran/bayangan dan suara-suara yang pernah kualami di Tanah Suci datang ke dalam pikiranku. Santo Markus mengatakan bahwa Yesus mengirim dua orang murid-Nya untuk menyiapkan segala sesuatu untuk Perjamuan Terakhir. Ia tidak memberikan kepada mereka alamat yang dituju, tetapi dengan sederhana mengatakan kepada mereka untuk mengikuti seorang laki-laki yang membawa kendi. Biasanya kendi-air dibawa oleh para perempuan, bukan laki-laki. Jadi ini adalah pemandangan yang tidak biasa dan mudah terlihat dan dikenali oleh orang-orang. Yesus mungkin saja dalam hal ini sengaja untuk membuat tidak jelas lokasi perjamuan terakhir, agar Yudas Iskariot tidak mengetahuinya dan membawa orang-orang untuk menangkap-Nya. Yesus menginginkan agar perjamuan ini diselenggarakan dengan aman dan dalam suasana damai, karena perjamuan terakhir ini akan mempunyai signifikansi yang mendunia dan sepanjang masa.

Dalam imajinasi kita, marilah kita menelusuri jalan-jalan yang sama di Yerusalem menuju tempat Perjamuan Terakhir, senakel atau ruang makan suci. Senakel suci adalah sebuah ruang atas yang luas yang terletak di Bukit Sion, bagian dari kota lama, sekarang sudah dibuat terbuka tanpa peralatan. Berulang kali dibangun kembali dari abad ke abad, tempat ini masih mempertahankan keserupaannya dengan ruangan aslinya di mana Tuhan Yesus mempersembahkan Misa yang pertama dengan para rasul-Nya.

Barangkali anda tidak pernah melakukan perjalanan ziarah ke Yerusalem untuk mengunjungi tempat Misa pertama yang dipersembahkan oleh Yesus, akan tetapi tentunya hal inipun tidak perlu. Misa Kudus telah datang kepada anda. Dalam gereja lokal paroki pada hari ini, anda dapat hadir dalam perjamuan kudus itu. Hakikat dari liturgi bukanlah di mana terjadinya, melainkan apa yang sesungguhnya terjadi.

Tubuh dan darah Yesus diberikan kepada kita pada malam hari sebelum hari Jumat Agung. Sebelum hari Jumat itu berakhir, Yesus akan wafat di kayu salib. Pada hari ketiga Dia akan bangkit dan kemudian naik ke surga. Namun demikian Ia akan tetap bersama kita! Yesus menjanjikan kehadiran-Nya dalam rupa roti dan anggur pada Misa pertama di ruang atas di Yerusalem dan juga pada setiap Misa yang menyusul dari zaman ke zaman, sampai kedatangan-Nya kembali kelak.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau memberi makan dan memperkuat diriku dengan tubuh dan darah-Mu. Terima kasih Tuhan, Engkau telah membuat kenyang rasa laparku. Terangilah jalanku selagi aku berupaya untuk membawa kasih dan hidup-Mu kepada orang-orang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 14:12-16,22-26), bacalah tulisan yang berjudul “BERBAHAGIALAH KITA YANG DIUNDANG KE PERJAMUAN-NYA” (bacaan tanggal 10-6-12) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-06 BACAAN HARIAN JUNI 2012.

Cilandak, 25 Mei 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IMAMAT KRISTUS SEBAGAI SUMBER DAN MODEL IMAMAT SAKRAMENTAL DALAM GEREJA

IMAMAT KRISTUS SEBAGAI SUMBER DAN  MODEL IMAMAT SAKRAMENTAL DALAM GEREJA

Mengenang Romo Thomas Martin Fix, SCJ [1933-2012]

“Indonesia adalah negeri saya sekarang. Di sanalah saya akan pensiun,” kata Romo Thomas Martin Fix SCJ ketika merayakan Pesta Imamatnya di kota kelahirannya, Milwaukee, negara bagian Wisconsin, Amerika Serikat pada bulan September 2008. Sekarang, Romo Thomas Fix sudah tidak ada lagi di tengah kita karena beliau telah meninggal dunia pada hari Ibu Kartini, 21 April 2012, jam 20.26 WIB.

Romo Thomas Fix SCJ pertama kali tiba di bumi Indonesia pada bulan Mei 1962 ketika masih berusia muda (29 tahun) dan baru saja 4 tahun menjadi seorang imam Katolik; dan tempat beliau berkarya yang pertama adalah kota Palembang sebagai seorang pendidik para calon imam SCJ. Saya sendiri mulai mengenal beliau pada waktu beliau pertama kali ditugaskan dalam gereja Santo Stefanus, Cilandak. Kepribadian imam yang satu ini membuat saya dan tentu banyak orang lain merasa mudah untuk berbicara dari hati ke hati (curhat), termasuk mengakui dosa kita di hadapannya dalam Sakramen Rekonsiliasi. Wajahnya memancarkan kasih – bukan wajah yang menuduh – dan nasihat-nasihatnya penuh hikmat ilahi namun membumi.

Sampai hari ini tidak ada komentar umat yang bersifat negatif manakala saya tanyakan pendapat/pandangan mereka tentang Romo Thomas Fix: “Pastor yang rendah hati”; “Imam yang baik”; “Beliau seorang yang ramah”; “Tidak pernah saya mendengar sekali pun beliau berbicara buruk tentang orang lain”; “Wah, pastor yang sangat rendah hati” dst. Istri saya pernah menceritakan kepada saya, bahwa Romo Fix pada suatu malam menemani seorang ibu miskin dari wilayah I yang juga saya kenal,  pergi ke Panti Asuhan Desa Putera di Lenteng Agung dengan menumpang angkot dalam urusan anak ibu itu yang melarikan diri dari panti asuhan tersebut. Bukankah ini potret dari seorang gembala yang baik? Bukankah ini “servanthood” in practice?

Satu-satunya komentar yang agak “miring” (disertai beberapa contoh, misalnya “tidak bisa mengatakan tidak”) justru saya dengar dari seorang konfraternya, pada waktu saya bercerita kepada romo itu betapa tersentuhnya hati saya ketika hadir dalam Misa Hari Paskah sore di kapel S. Carolus, tanggal 8 April 2012. Romo itu tentunya lebih mengenal Romo Fix, namun di mata umat pada umumnya Romo Fix memang dipandang sebagai seorang gembala yang baik, seorang misionaris yang mencintai Indonesia dan orang/bangsa Indonesia, dan beliau juga seorang imam yang suci. Umat Katolik Indonesia sekarang – apalagi yang berdiam di kota besar – tentunya banyak yang sudah mampu menilai para anggota pimpinan mereka.

Sekian tahun lalu, pada tahun 1990-an, pada waktu saya bertugas melayani sebagai Ketua Seksi Katekese merangkap salah seorang katekis di paroki kami, Romo Fix (saya biasanya menyapa beliau sebagai Father atau Pater) pernah menugaskan saya untuk berbicara beberapa jam lamanya pada suatu senja/malam hari di depan sekelompok calon pengantin yang “gado-gado” antara Katolik dan Kristiani yang bukan Katolik (Protestan dll.) cukup banyak pasangan yang hadir. Beliau mempercayakan sepenuhnya kepada saya pokok-pokok apa saja yang akan disoroti dan didiskusikan bersama dalam “kelas malam” tersebut. Romo Fix percaya penuh kepada saya, dengan demikian tentunya saya sebagai pihak yang diberi tugas pun tidak ingin mengecewakan beliau. Menaruh kepercayaan (trust) pada orang lain tidak mungkin ada pada pribadi yang tidak memiliki kasih atau memandang diri sendiri lebih hebat ketimbang orang-orang lain. Pada masa itu saya juga pernah minta tolong Romo Fix untuk memeriksa tulisan saya tentang “Allah Bapa” dalam “Tahun Allah Bapa” menjelang “Tahun Yubileum 2.000”. Beliau memeriksanya dengan serius dan mengembalikan tulisan saya disertai tanda-tangan sebagai tanda persetujuan atas isi tulisan saya tersebut. Terasa ada “seriousness” dalam menghadapi seorang anggota umat di sini. Sampai beberapa bulan lalu, sekali-kali saya masih menerima komentar-komentarnya yang sangat encouraging (memberi dorongan dan menyemangati) atas tulisan-tulisan yang saya buat. Pada suatu hari beliau mengirim e-mail yang memberitahukan bahwa sebuah tulisan saya dipakainya sebagai bahan utama homilinya pada perayaan Ekaristi di Amerika Serikat. Wah, saya sungguh bersyukur kepada Tuhan atas kerendahan-hati, keterbukaan dan kejujuran beliau …… sebelum saya keburu tersanjung dan GR! Nilai kehidupan baik yang juga dihayatinya adalah “respect for others”, siapa pun pribadi manusia yang sedang dihadapinya, kaya-miskin, muda-tua dlsb. Romo Fix adalah seorang imam yang akal budinya, hatinya, sikapnya, perilakunya – seluruh dirinya –  sepenuhnya diabdikan kepada HATI KUDUS YESUS !!! Dua orang imam SCJ tidak pernah meragukan kesucian beliau, dan hal ini dikemukakan dalam retret prodiakon paroki St. Stefanus pada bulan September 2011 lalu dan juga dalam sebuah rangkaian pertemuan di paroki mengenai Ekaristi pada bulan November 2011.

Inilah Romo Thomas Martin Fix SCJ yang sangat dihormati umat paroki St. Stefanus walaupun beliau tidak pernah menjadi Pastor Kepala, terbukti dengan begitu penuh-sesaknya Misa Requiem yang dirayakan pada misa jam 18.45 hari Minggu Paskah III tanggal 22 April 2012 di gereja St. Stefanus, Cilandak yang disusul dengan tuguran secara bergiliran sampai saat pemberangkatan jenazah ke bandara. Seorang menteri terlihat hadir untuk menghormati jenazah beliau. Jenazah beliau diberangkatkan pada dini hari Senin tanggal 23 April dan dimakamkan pada hari yang sama di kota Palembang.

Sampai jumpa di rumah Bapa kelak, Romo Thomas Fix yang baik! Doakanlah kami dari sana!

Tulisan berikut dapat membantu kita memandang dengan lebih jelas siapa Romo Thomas Fix SCJ ini berkaitan dengan keberadaan beliau sebagai seorang imam Kristus.

IMAM

Tentang para imam, salah satu dokumen Konsili Vatikan II, ‘Dekrit Presbyterorum Ordinis [PO] tentang Pelayanan dan Kehidupan para Imam (7 Desember 1965)’ menyatakan: “… para imam, berkat tahbisan dan perutusan yang mereka terima dari para Uskup, diangkat untuk melayani Kristus Guru, Imam dan Raja. Mereka ikut menunaikan pelayanan-Nya, yang bagi Gereja merupakan upaya untuk tiada hentinya dibangun di dunia ini menjadi umat Allah, Tubuh Kristus dan Kenisah Roh Kudus” [PO 1]. Dokumen yang sama juga menyatakan: “Karena Sakramen Tahbisan para imam dijadikan secitra dengan Kristus Sang Imam, sebagai pelayan Sang Kepala, untuk membentuk dan membangun seluruh Tubuh-Nya, yakni Gereja, sebagai rekan-rekan kerja Tingkat para Uskup. Sudah pada pentakdisan Baptis mereka, seperti semua orang beriman, menerima tanda serta karunia panggilan dan rahmat seagung itu, sehingga di tengah kelemahan manusiawi pun, mereka mampu dan harus menuju kesempurnaan, menurut amanat Tuhan: “Hendaknya kalian menjadi sempurna, seperti Bapamu di surga adalah sempurna”  [Mat 5:48; PO 12].

Dari petikan-petikan dokumen Gereja di atas, jelas kelihatan bahwa tugas pelayanan para imam tertahbis dalam Gereja kita sangatlah penting dan mulia. Maka mereka harus dan sepantasnya dihormati oleh segenap umat. Namun demikian, imamat mereka tidak dapat lepas dari Imamat Kristus sendiri, sang Imam Besar Perjanjian Baru. Imamat-Nya adalah sumber dan model bagi para imam tertahbis dalam Gereja kita, tidak lebih dan tidak kurang.

IMAMAT SAKRAMENTAL 

Sakramen imamat sesungguhnya merupakan suatu bentuk kehadiran khusus yang dijanjikan Yesus bagi umat-Nya dan bagi dunia. Dalam misteri inkarnasi Allah menjadi manusia [Yoh 1:14], supaya manusia dapat bertemu dengan Allah dalam diri seorang manusia juga, Yesus. Yesus bersabda kepada Filipus: “Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” [Yoh 14:9]. Nah, Kristus sang “Imam Besar Agung” [Ibr 4:14] mau melanjutkan karya penebusan umat manusia melalui kodrat manusia lagi, yaitu melalui diri manusia. Imamat-Nya akan hadir dan bekerja dalam diri orang yang ditahbiskan menjadi imam. Dalam sakramen imamat ini Yesus mengambil seorang manusia agar Ia dapat bekerja di dalam  dia dan melalui dia untuk memberikan apa yang dibutuhkan umat-Nya dan manusia pada umumnya: melanjutkan karya penyelamatan. Inilah misteri kehadiran sang Imam Besar Agung dalam diri seorang imam tertahbis Gereja kita seperti Romo Thomas Fix SCJ ini.

Pater Josef Boumans SVD dengan tepat sekali mengatakan: “Seorang imam seharusnya adalah sebuah “ikon” dari Yesus, Imam Agung”.  Ikon adalah lukisan seorang kudus, atau Yesus atau Maria. Orang yang melakukan devosi dengan menggunakan ikon, merasakan bahwa di dalamnya ada kuasa, rahmat, kekuatan khusus dari orang yang digambarkan, dan kekuatan itu akan dinikmati kalau gambar itu dihormati [Menjadi Imam Allah, hal.10]. Oleh Sakramen Tahbisan Suci (Imamat), seseorang dipersatukan secara khusus dengan Kristus, sang Imam Besar Agung, dan kebersatuan dengan Kristus ini diharapkan menjadi semakin mendalam sehingga imam itu sungguh menjadi ikon Kristus. Dengan menerima Sakramen Tahbisan Suci ini seseorang yang dijadikan imam dapat mulai berperan dalam nama Kristus, bahkan in persona Christi, khususnya dalam hal Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat/Rekonsiliasi [lihat Yoh 20:22-23]. Santo Yohanes Maria Vianney (1786-1859) adalah seorang ikon dari Yesus yang nyaris sempurna.

IMAMAT KRISTUS  

Imam Besar Agung. Penulis “Surat kepada Orang Ibrani” merupakan satu-satunya penulis Perjanjian Baru yang menyoroti imamat Kristus secara khusus dan menyebut-Nya sebagai seorang Imam secara eksplisit. Ia bahkan memandang imamat Kristus sebagai pokok seluruh uraiannya [Ibr 8:1]. Penulis “Surat kepada Orang Ibrani” ini merumuskan dan mengungkapkan kedudukan serta karya Yesus Kristus dengan menggunakan kategori-kategori kultis yang diambil-alih dari Perjanjian Lama (agama Yahudi). Dapat saja kita membayangkan bahwa sang penulis telah merenungkan secara mendalam Mzm 110, teristimewa janji Bapa surgawi akan kedatangan Mesias: “Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek” [Mzm 110:4]. Kita ketahui bahwa Mzm 110 adalah yang paling sering dipetik dalam Perjanjian Baru, namun hanya penulis “Surat kepada Orang Ibrani” sajalah yang berbicara mengenai nubuatan tentang seorang Imam Besar yang akan tampil menurut aturan Melkisedek [bdk. Doa Syukur Agung I].

Jabatan imam Yahudi dalam Perjanjian Lama dikhususkan bagi bani Lewi. Orang-orang ini dijadikan kelas imam yang bertugas untuk mempersembahkan kurban dan melakukan mediasi secara kultis antara Allah dan umat-Nya. Harun dan para puteranya harus dibedakan dengan orang-orang Lewi lainnya [Kel 28:1-5; 32:25-29; Bil 1:47-54; 3:1-51; Ul 10:6-9; 18:1-8; 33:8-11]. Dengan mata iman penulis “Surat kepada Orang Ibrani” mampu memandang melampaui imamat Yahudi dalam upayanya menangkap rencana-kekal Allah. Pada zaman Yesus, martabat imamat Yahudi sudah jauh merosot ketimbang pada masa kejayaan Harun atau cucunya yang bernama Pinehas [baca Bil 25]. Pinehas, misalnya berani mengambil segala risiko demi kemurnian bangsanya. Sebaliknyalah para imam besar pada zaman Yesus; mereka malah berkolaborasi dengan penjajah Romawi serta mengkompromikan jabatan “suci” di hadapan Allah lewat berbagai manuver dan intrik politik agar tidak kehilangan “jabatan/posisi”. Penulis “Surat kepada Orang Ibrani” memandang imamat sebagai suatu institusi yang ditakdirkan oleh Allah sendiri. Ia menyadari bahwa imamat adalah sebuah simbol dari tradisi-tradisi besar bangsa Yahudi. Ia memahami bahwa imamat Yahudi membutuhkan pembaharuan, namun dia menyadari pula bahwa imamat ini adalah sesuatu yang sakral. Di atas itu semua, dia mengakui bahwa imamat masuk akal dan dapat diterima, hanya apabila dilihat/dipertimbangkan dalam terang pengorbanan-diri Yesus. Inilah latar belakang yang tidak mudah bagi penulis “Surat kepada Orang Ibrani” ketika dia memproklamasikan Yesus Kristus sebagai Imam Besar Agung.

Penulis “Surat kepada Orang Ibrani” mengembangkan suatu analogi dan kontras antara imamat Yesus dan imamat Yahudi, teristimewa yang menyangkut tugas sang imam besar pada Hari Penebusan Dosa (Yom Kippur). Tidak seperti sepupu-Nya, Yohanes Pembaptis, Yesus tidak dilahirkan dalam keluarga imam. Dengan demikian Yesus tidak dapat mengklaim bagi diri-Nya imamat Harun atau imamat kaum Lewi. Kendati tidak dilahirkan dalam keluarga imam, Yesus adalah “Imam Besar Agung” [Ibr 4:14-5:10] menurut aturan Melkisedek [Ibr 5:6,10]. Yesus memenuhi dua kualifikasi hakiki untuk imamat-Nya: (1) otorasi ilahi, artinya dipanggil oleh Allah sendiri [Ibr 5:4] dan (2) solidaritas dengan orang-orang kepada siapa Dia diutus agar dapat mewakili mereka [Ibr 4:15; bdk. 2:17-18; 3:1]. Cerita tentang pertemuan Abraham dengan seorang imam-raja yang misterius [Kej 14:17-20] mendorong penulis “Surat kepada Orang Ibrani” untuk sampai pada pernyataannya, bahwa  Yesus telah menerima imamat-kekal menurut aturan Melkisedek [Ibr 7:1-28; bdk. Mzm 110:4]. Kemanjuran kurban-Nya, mediasi perjanjian baru-Nya, konsistensi sempurna antara hidup manusia dan kegiatan kultis, identitas ilahi-Nya dan kenyataan bahwa Dia diangkat langsung oleh Allah, semua ini membuat imamat Yesus Kristus cukup superior ketimbang imamat Yahudi [Ibr 6:20-10:18].

Ditetapkan oleh Allah. Asal-usul imamat Perjanjian Baru adalah misteri abadi dalam Allah, yang ditetapkan untuk mendamaikan, mempersatukan dan memuliakan seluruh ciptaan dalam diri Putera-Nya. Yesus, hadir dan memasuki sejarah hidup manusia di dunia ini pada waktu dikandung oleh kuasa Roh Kudus dalam rahim Bunda Maria. Sejak saat itu imamat-Nya tidak pernah berhenti. Di surga, Yesus tetap Imam Besar Agung kita yang berdoa bagi kita pada takhta kemurahan Allah; sedangkan di bumi imamat-Nya di-share-kan kepada manusia melalui Sakramen Imamat. Keiikut-sertaan dalam imamat Yesus ini adalah berdasarkan panggilan dan pilihan-Nya juga, dan terbatas pada mereka yang dipanggil atau diundang-Nya. Yesus bersabda: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu” [Yoh 15:16].

Pengantara satu-satunya antara Allah dan manusia. Dalam salah satu Surat Pastoral diakuilah bahwa Kristus adalah pengantara esa antara Allah dan manusia, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia [1Tim 2:5-6]. Penulis “Surat kepada Orang Ibrani” juga menulis: “… Dialah Pengantara dari suatu perjanjian yang baru, supaya mereka yang telah terpanggil dapat menerima warisan kekal yang dijanjikan, sebab sudah ada yang mati untuk menebus pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan selama perjanjian yang pertama” [Ibr 9:15; bdk 12:24]. Kemuliaan imamat terletak dalam kenyataan bahwa imamat merupakan suatu pengantaraan antara Allah dan manusia. Imamat adalah suatu karunia Allah bagi manusia. Doa Yesus untuk para murid-Nya [Yoh 17:1-26], misalnya, sejak tahun 1600 sudah diberi judul “Doa Imam Besar/Agung”. Memang sejak Sabda Allah menjadi manusia [Yoh 1:14], Yesus adalah sang Pengantara. Dalam misteri inkarnasi, ke-Allah-an dan kemanusiaan saling bertemu dan bersatu, yaitu dalam diri Yesus Kristus. Dengan jalan ini, kodrat manusia telah dihubungkan dengan ke-Allah-an. Sekarang Kristus dapat menyucikan seluruh umat manusia di dalam kemanusiaan-nya. Yesus menjadi Imam Besar Agung, ketika kemanusiaan-Nya diurapi oleh Allah (lihat Ibr 1:9).

Imam Besar Agung tanpa noda-dosa. Imam Besar Agung ini adalah tanpa noda atau cacat-dosa [lihat Ibr 4:15; 7:26-27] dan seluruh hidup-Nya di muka bumi diwujudkan dalam perang-tak-berkesudahan melawan kejahatan, melawan si Jahat (Iblis): “penguasa dunia” [Yoh 12:31; 16:11], “si ular tua” [Why 12:9], “pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran” [Yoh 8:44], dan lain-lainnya. Selama hidup-Nya di dunia Yesus melawan segala bentuk ketidakadilan dan penindasan. Ia juga mengampuni dosa-dosa [bdk 1Ptr 2:21-24]. Dasar kuat-kokoh dari tulisan Santo Petrus ini  adalah sabda Yesus pada Perjamuan Akhir: “Ambilah, makanlah, inilah tubuh-Ku…. Minumlah, kamu semua, dari cawan, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa-dosa” [Mat 26:26-28]. Karena Imam Besar Agung tanpa dosa, maka setiap imam, di mana saja dan kapan saja, hendaknya senantiasa memohon rahmat Allah agar semakin menjadi pribadi yang bebas dari dosa dan dipenuhi kekudusan Allah. Sementara itu setiap imam juga hendaknya selalu dengan rendah-hati mengakui bahwa dia masih berada jauh dari sempurna dalam usahanya menjadi ikon Kristus.

YESUS KRISTUS ADALAH IMAM DAN SEKALIGUS KURBAN

“Yesus … telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan kurban yang harum bagi Allah” [Ef 5:2]. Yesus merayakan Paskah bersama para murid-Nya, Ia menetapkan perjamuan Tuhan [1Kor 11:20] dan kemudian Ia disalibkan. Ketiga hal ini dengan cepat membuat umat Kristiani perdana menerapkan “bahasa kurban” bagi kematian Yesus. Tulisan Santo Paulus tentang Kristus sebagai “anak domba Paskah kita” yang “juga telah disembelih” [1Kor 5:7] dan yang dengan darah-Nya  menghapus dosa-dosa dunia [Rm 3:25; bdk 1Yoh 2:2], jelas menunjukkan bahwa dia mengambil alih sejak awal rumusan-rumusan tradisional yang ada. Kristus dilihat sebagai kurban persembahan, namun pada saat yang sama Dia juga bertindak sebagai imam pada waktu merayakan perjamuan Tuhan, pada hari Jumat Agung dan Minggu Paskah. Meski Yesus menguduskan orang-orang melalui darah-Nya sendiri, Dia “menderita di luar pintu gerbang” [Ibr 13:12], artinya sebuah setting yang bersifat profan dan bukannya dalam bait Allah atau tempat kultis lainnya seperti kasus Zakharia anak Berekhya yang dibunuh di antara tempat kudus dan mezbah [Mat 23:35; bdk. Luk 11:51; 2Taw 24:15-22].

Sepanjang hidup-Nya Yesus menyadari sepenuhnya tentang perlunya kurban silih bagi dosa-dosa manusia, demi cinta kasih-Nya yang tak terbatas kepada Bapa-Nya dan umat manusia. Hal ini dilukiskan dalam “Surat kepada Orang Ibrani” (Ibr 9:27-28). Yesus sebagai Imam yang mempersembahkan kurban sekaligus menjadi Kurban itu sendiri. Inilah misteri ilahi Yesus. Yesus berkata: “Inilah Tubuh-Ku yang dikurbankan bagimu”, “inilah piala Darah-Ku yang ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang demi pengampunan dosa”. Sebelum penyaliban di bukit Kalvari, Yesus memberikan diri-Nya kepada para murid-Nya sebagai kurban. Kalvari merupakan konfirmasi dan perwujudan misteri-misteri Ekaristi, misteri-misteri malam Perjamuan Akhir. “Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku”. Di sinilah para imam tertahbis seperti Romo Thomas Fix muncul dalam pelaksanaan rencana keselamatan. Oleh tahbisannya, seorang imam ditempatkan dalam kenyataan dan kemauan Yesus Kristus sebagai satu-satunya Imam yang mempersembahkan kurban.

Seorang imam – seperti Romo Thomas Fix – ditetapkan Allah agar supaya dia menghadirkan kurban keselamatan dari Yesus di tengah umat-Nya sampai Dia datang kembali. Seorang imam adalah imam yang mempersembahkan kurban, sejauh dia menempatkan Kurban Ilahi itu di tengah umat, agar umat dapat mempersembahkan Kurban Ilahi itu kepada Allah, sambil mempersatukan diri mereka dengan Kurban itu. Imam itu sendirilah yang pertama-tama dipanggil untuk mempersatukan diri dengan kurban Yesus, untuk bersama Yesus menjadi kurban keselamatan bagi umat manusia. Dalam Misa Kudus kita mendengar imam-selebran berucap: “Sambil mengharapkan kedatangan-Nya dalam kemuliaan, kami mempersembahkan pada-Mu Tubuh dan Darah-Nya: kurban yang berkenan pada-Mu dan membawa keselamatan bagi seluruh dunia. Ya Bapa, sudilah memandang kurban ini yang telah Engkau sediakan sendiri bagi Gereja-Mu. Perkenankanlah agar semua yang ikut menyantap roti yang satu dan minum dari piala yang sama ini dihimpun oleh Roh Kudus menjadi satu tubuh. Semoga dalam Kristus, mereka menjadi kurban yang hidup sebagai pujian bagi kemuliaan-Mu [Doa Syukur Agung IV]. Dalam perayaan Ekaristi, seorang imam berada di jantung Imamat Yesus dan imamat mereka sendiri. Seorang imam ditahbiskan terutama untuk mempersembahkan Kurban Misa. Apa yang dirayakannya hendaklah dilaksanakannya: “mengurbankan diri, mengurbankan diri bersama”. Kurban Ilahi demi keselamatan manusia. Seorang imam tertahbis telah menjadi imam yang mempersembahkan kurban dan sekaligus menjadi kurban itu sendiri.

CATATAN PENUTUP

Menjadi imam merupakan sebuah jawaban atas panggilan atau undangan Allah.  Romo Thomas Martin Fix SCJ menanggapi panggilan-Nya dengan baik. Benih panggilan tersebut sudah tertanam dalam dirinya sejak masih duduk di sekolah dasar. Sejak kelas 3 beliau sudah “bermimpi” untuk menjadi seorang misionaris kelak.

Yang terjadi dengan Yesus dalam panggilan menjadi imam ini digambarkan dalam “Surat kepada Orang Ibrani” (Ibr 10:5-7). Sabda Yesus dalam ayat 7 berbunyi: “Sungguh, Aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku” [bdk Mzm 40:7-9]. Tanggapan Yesus terhadap imamat-Nya yang ditetapkan oleh Bapa surgawi, ketaatan-Nya kepada kehendak Allah, mewarnai seluruh hidup-Nya, baik di bumi ini maupun sekarang di surga. Yesus berkata: “Sungguh, Aku datang”. Ketika seorang calon imam dipanggil uskup untuk ditahbiskan, maka dia berkata: “Aku sungguh datang”. Ecce venio! Penyerahan diri kepada kehendak Bapa-Nya bersifat total dan dipenuhi kerelaan hati yang terlihat nyata dalam kehidupan-Nya.

Dengan taat pada panggilan Bapa surgawi, seluruh hidup-Nya menjadi pujian dan kemuliaan bagi Bapa. “Melakukan kehendak Bapa” merupakan pusat keberadaan Yesus. Ia bersabda, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya“ [Yoh 4:34]; “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga” [Mat 7:21]. Dalam penderitaan-Nya di taman Getsemani Yesus berdoa: “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau berkenan, ambillah cawan ini dari hadapan-Ku; tetapi jangan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi” [Luk 22:42]. Hal yang sama juga diharapkan menjadi kenyataan dalam hidup sehari-hari seorang imam-Nya, karena Kristus sendirilah sesungguhnya paradigma atau model para imam tertahbis. Romo Thomas Martin Fix SCJ telah memenuhi harapan termaksud.

Catatan: Tulisan ini adalah revisi dari tulisan tanggal 8 Juli 2009, salah satu tulisan saya dalam rangka menyambut Tahun Imam 2009-2010. Tulisan kali ini adalah dalam rangka mengenang wafat seorang imam Kristus, Romo Thomas Martin Fix SCJ (21 April 2012). 

Jakarta, 25 April 2012 [Pesta Santo Markus – Penulis Injil] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

EKARISTI ADALAH EMAUS KITA

EKARISTI ADALAH EMAUS KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RABU DALAM OKTAF PASKAH, 11-4-12) 

Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah desa bernama Emaus, yang terletak kira-kira sebelas kilometer dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. Yesus berkata kepada mereka, “Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?”  Lalu berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya, “Apakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dialah adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan dan perkataan di hadapan Allah dan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan bahwa Dialah yang akan membebaskan bangsa Israel. Sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat yang mengatakan bahwa Ia hidup. Beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati persis seperti yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat.”  Lalu Ia berkata kepada mereka, “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu untuk mempercayai segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya”  Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. Mereka mendekati desa yang mereka tuju, lalu Ia  berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-nya. Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya, “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.”  Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap syukur, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. Kata mereka seorang kepada yang lain, “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?”  Lalu bangkitlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu dan orang-orang yang ada bersama mereka, sedang berkumpul. Kata mereka itu, “Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon.”  Lalu kedua orang itu pun menceritakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenali Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti. (Luk 24:13-35)

Bacaan Pertama: Kis 2:14,22-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,5,7-11; Bacaan Kedua: 1Ptr 1:17-21 

Pernahkah anda mempunyai suatu pengalaman pada Misa Kudus, ketika anda merasa sangat dekat dengan Yesus, serasa Dia sedang duduk di samping anda? Pikiran anda terfokus, tubuh anda rileks dan hati anda berkobar-kobar dengan cintakasih kepada Yesus. Pada saat-saat seperti ini setiap hal diletakkan pada perspektif yang layak dan anda pun yakin bahwa Allah memegang kendali atas setiap situasi. Seperti inilah yang dialami oleh Kleopas dan temannya ketika berjalan menuju Emaus. Cerita perjalanan menuju Emaus ini pun telah menjadi ilustrasi mengenai apa yang kita semua dapat terima apabila kita merayakan Ekaristi. Seperti hati kedua murid yang berkobar-kobar pada waktu Yesus menjelaskan Kitab Suci kepada mereka, hati kita juga berkobar-kobar manakala sabda Allah diwartakan. Kemudian kita siap untuk Yesus menyatakan diri-Nya kepada kita dalam pemecahan roti dalam upacara Komuni Kudus.

Oleh karena itu bagaimana kita dapat melihat Yesus dalam Ekaristi? Barangkali satu dari cara-cara terbaik adalah dengan membaca Kitab Suci. Dalam gereja perdana, perayaan Ekaristi berlangsung berjam-jam lamanya. Arti positifnya di sini adalah bahwa ada cukup waktu untuk Kitab Suci, untuk persekutuan dan untuk doa sembah bakti setelah Komuni. Pada zaman sekarang, Misa Kudus hari Minggu di kota-kota besar berlangsung satu jam lebih sedikit lamanya, karena Misa yang satu akan disusul oleh Misa lainnya. Memang banyak umat yang senang kalau Misa Kudus yang dihadirinya itu “singkat-padat”, khotbah imam yang tak bertele-tele dan sebagainya, namun kita harus sadari bahwa banyak juga orang yang merindukan untuk waktu yang lebih panjang, misalnya untuk adorasi Sakramen Mahakudus setelah Misa.

Bagaimana kita dapat mengatasi keterbatasan-keterbatasan waktu ini? Dengan menyiapkan diri kita sebaik-baiknya sebelum menghadiri Misa Kudus. Satu cara yang sangat efektif adalah pada hari Sabtu malam kita membaca dan merenungkan bacaan-bacaan Kitab Suci untuk Misa Kudus keesokan harinya. Mulailah dengan mohon kepada Roh Kudus untuk membuka hati kita bagi perwahyuan-Nya. Bacalah nas-nas Kitab Suci itu secara perlahan-lahan dan dalam suasana doa. Anda malah dapat membaca kitab tafsir atau panduan studi untuk membantumu memahami bacaan-bacaan yang ada. Setelah selesai membaca dan meditasi, dengan rendah hati mohonlah kepada Yesus untuk mencurahkan cintakasih-Nya atas diri anda, supaya anda siap untuk bertemu dengan-Nya dan mengasihi-Nya lebih penuh lagi dalam Misa Kudus pada keesokan harinya. Ingatlah bahwa Yesus selalu berkeinginan untuk berbicara kepada hati anda. Dia hanya menanti anda untuk datang kepada-Nya!

DOA  Yesus, datanglah dan ajarlah aku. Biarlah sabda-Mu berkobar-kobar dalam hatiku. Bukalah mata hatiku sehingga aku dapat melihat-Mu dalam Ekaristi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 24:13-35), bacalah tulisan yang berjudul “MEREKA MENGENAL DIA DALAM PEMECAHAN ROTI” (bacaan tanggal 11-4-12) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-04 BACAAN HARIAN APRIL 2012. Untuk mendalami Bacaan Pertama (Kis 3:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “NAMA YESUS YANG PENUH KUAT-KUASA” (bacaan tanggal 27-4-11) di situs/blog SANG SABDA; kategori: 11-04 BACAAN HARIAN APRIL 2011. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-5-11) 

Cilandak, 31 Maret 2012  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KOMUNI KUDUS: BERSATU DENGAN YESUS KRISTUS SERTA SAUDARI DAN SAUDARA KITA

KOMUNI KUDUS: BERSATU DENGAN YESUS KRISTUS SERTA SAUDARI DAN SAUDARA KITA 

Misa adalah serentak, dan tidak terpisahkan, kenangan kurban di mana kurban salib hidup terus untuk selama-lamanya perjamuan komuni kudus dengan tubuh dan darah Tuhan. Upacara kurban Ekaristi diarahkan seluruhnya kepada persatuan erat dengan Kristus melalui komuni. Menerima komuni berarti menerima Kristus sendiri, yang telah menyerahkan diri untuk kita (KATEKISMUS GEREJA KATOLIK [KGK], 1382).

Dalam Perayaan Ekaristi, pada saat komuni, kita menyambut hosti yang sudah dikonsekrasikan – yang kita imani sebagai Tubuh Kristus. Paus Santo Leo Agung [+ 461] yang juga seorang pujangga Gereja, pernah menulis: “Keiikutsertaan kita dalam tubuh dan darah Kristus hanya cenderung untuk membuat kita menjadi apa yang kita makan” (Sermon 12 tentang Sengsara Kristus). Sebagaimana kita akan lihat dalam uraian di bawah, pandangan Paus Santo Leo Agung ini meneguhkan pendapat dari Santo Augustinus [354-430].

Dalam komuni, kita menjadi satu roh dengan Yesus. Sebuah kebenaran seperti ini membawa kita kepada suatu kesimpulan penting: Tidak ada suatu saat atau pengalaman pun dalam kehidupan Kristus yang tidak dapat kita hidupkan kembali dan syeringkan dalam komuni kudus; pada kenyataannya, keseluruhan hidup-Nya hadir dan diberikan dalam tubuh dan darah-Nya. Tergantung pada disposisi kita atau kebutuhan sementara kita, maka kita dapat berdiri di samping Yesus yang sedang berdoa, Yesus yang sedang digoda Iblis, Yesus yang sedang letih-lelah, Yesus yang mati di kayu salib, dan Yesus yang bangkit dari antara orang mati – bukan sebagai dalih mental, melainkan karena Yesus yang sama tetap eksis dan hidup dalam Roh.

Kebenarannya adalah, bahwa persekutuan (Latin: Communio) Ekaristis melampaui segala kemampuan pemikiran manusia untuk membuat perbandingan. Berikut ini tentunya adalah kesatuan yang sangat erat; pokok anggur dan ranting-rantingnya berbagi/syering kehidupan yang sama. Namun, karena bersifat tak bernyawa, baik pokok anggur maupun ranting-rantingnya tidak menyadari adanya kesatuan ini! Kadang-kadang digunakan contoh pasangan suami-istri yang membentuk “satu daging.” Akan tetapi hal ini adalah pada suatu tataran yang berbeda – yaitu dalam tingkat daging dan bukan tingkat roh. Sepasang suami-istri dapat membentuk satu daging (Kej 2:24), namun tidak dapat membentuk satu roh. Santo Paulus menulis, “Siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia” (1Kor 6:17). Kekuatan dari persekutuan Ekaristis tepatnya adalah bahwa kita menjadi satu roh dengan Yesus, dan “satu roh” ini pada akhirnya berarti Roh Kudus!

Dalam komentarnya atas satu ayat dari Kitab Kidung Agung, Santo Ambrosius [c.334-397] menulis, “Pada kenyataannya, setiap kali anda minum [darah Kristus], …… anda menjadi dimabukkan secara spiritual. Santo Paulus mengingatkan kita, ‘Janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh’ (Ef 5:18); siapa saja yang menjadi mabuk anggur akan berjalan terhuyung-huyung (sempoyongan) dan menjadi tidak mantap, akan tetapi siapa saja yang dipenuhi dengan Roh berakar pada Kristus. ‘Kuduslah pemabukan ini yang membawa ketenangan hati’” (Tentang Sakramen-sakramen V,17).

Dalam hal mabuk yang disebabkan oleh anggur atau obat-obatan, seorang manusia dibuat menjadi hidup “di bawah” tingkat rasional, hampir sama dengan binatang saja. Sebaliknya mabuk secara spiritual membuat dia menjadi hidup melampaui akal budi, pada horison Allah. Setiap komuni harus berakhir pada suatu ekstase. Bukan ekstase dalam rupa fenomena luarbiasa yang kadang-kadang dialami oleh para mistikus, melainkan secara sederhana “keluar” dari diri kita, kenyataan – seperti ditulis oleh Santo Paulus – bahwa “aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:20).

Perendahan diri Tuhan Yesus. Komuni membuka beberapa pintu secara berturut-turut bagi kita. Pertama-tama kita semua masuk ke dalam hati Kristus, lalu melalui Dia, ke dalam hati Trinitas sendiri (Allah Tritunggal Mahakudus). Namun begitu kita merefleksikan kebaikan Allah kepada kita semua, kita dapat dilanda dengan rasa sedih yang mendalam. Apa yang telah kita lakukan terhadap tubuh Kristus? Bukankah aku pun turut ambil bagian dalam melakukan kekerasan terhadap Allah? Kita melakukan kekerasan terhadap-Nya dengan melecehkan janji yang telah mengikat dia untuk datang ke atas altar dan ke dalam hati kita. Setiap hari kita “mewajibkan” Dia untuk melakukan tindakan cintakasih agung ini, namun kita tidak memiliki kasih. Betapa baik hati kita harus memperlakukan seorang anak kecil yang tidak dapat membela dirinya sendiri; namun kita memperlakukan Yesus dengan tidak hormat, Dia yang dalam  misteri-Nya tidak dapat membela diri-Nya dari ulah kita.

Santo Fransiskus dari Assisi dalam “Petuah-petuah”-nya menulis: “Lihatlah, setiap hari Ia merendahkan diri, seperti tatkala Ia turun dari takhta kerajaan ke dalam rahim Perawan. Setiap hari Ia datang kepada kita, kelihatan rendah; setiap hari Ia turun dari pangkuan Bapa ke atas altar di dalam tangan imam. Seperti dahulu Ia tampak pada para rasul dalam daging yang sejati, demikian juga kini Ia tampak pada kita dalam roti kudus” (Pth I:16-19). Dalam “Surat kepada Seluruh Ordo”, orang kudus ini juga menulis: “Kalau Santa Perawan begitu dihormati – dan hal itu memang pantas – karena ia telah mengandung Yesus di dalam rahimnya yang tersuci; kalau Santo Yohanes Pembaptis gemetar dan tidak berani menjamah ubun-ubun kudus Allah; kalau makam, tempat Ia dibaringkan selama beberapa waktu begitu dihormati: betapa harus suci, benar dan pantaslah orang yang dengan tangannya menjamah-Nya, dengan hati dan mulut menyambut-Nya, serta memberikan-Nya kepada orang lain untuk disambut” (SurOr 21-22). Hal ini mengingatkan kita pada apa yang ditulis dalam Didakhe pada awal sejarah Gereja berkaitan dengan saat menyambut komuni: “Bila ada orang yang kudus, hendaklah ia datang! Tetapi yang tidak, biarlah bertobat! Maranatha. Amin” (Didache X:6).

Menolak Saudari dan Saudaraku berarti menolak Kristus sendiri. Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, Santo Paulus menulis: “Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus? Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu” (1Kor 10:16-17). Kita sudah terbiasa untuk menafsirkan kata-kata Paulus tadi sebagai partisipasi dalam keseluruhan diri Kristus melalui bagian-bagian yang membentuk diri Kristus termaksud: tubuh-Nya, darah-Nya, jiwa-Nya dan keilahian-Nya. Ide seperti ini berdasarkan pada filsafat Yunani yang biasa membagi manusia ke dalam tubuh, jiwa, dan roh. Akan tetapi, dalam bahasa alkitabiah kata “tubuh” dan “darah” mengindikasikan hidup Kristus secara keseluruhan, atau lebih baik lagi … kehidupan dan kematian-Nya.

Dalam petikan bacaan di atas, kata “tubuh” juga muncul dua kali; yang pertama menunjuk kepada tubuh sesungguhnya dari Kristus, dan yang kedua kalinya menunjuk kepada “tubuh mistik-Nya”, yaitu Gereja. Santo Augustinus menulis, “Setelah menanggung sengsara-Nya, Tuhan memberikan kepada kita tubuh-Nya dan darah-Nya dalam sakramen, sehingga dengan demikian kita dapat menjadi hal-hal ini. Pada kenyataannya kita adalah tubuh-Nya dan melalui belas kasih-Nya kita adalah apa yang kita terima” (Sermon Denis 6). Kita menjadi apa yang kita terima, Yesus Kristus, sang Anak Domba Allah!

Para bapak Konsili Vatikan II menyatakan: “Dengan ikut serta dalam kurban Ekaristi, sumber dan puncak seluruh hidup Kristiani, mereka mempersembahkan Anak Domba ilahi dan diri sendiri bersama dengan-Nya kepada Allah; demikianlah semua menjalankan peranannya sendiri dalam perayaan liturgis, baik dalam persembahan maupun dalam komuni suci, bukan dengan campur baur, melainkan masing-masing dengan caranya sendiri. Kemudian, sesudah memperoleh kekuatan dari tubuh Kristus dalam perjamuan suci, mereka secara konkret menampilkan kesatuan Umat Allah, yang oleh sakramen mahaluhur itu dilambangkan dengan tepat dan diwujudkan secara mengagumkan” (Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium tentang Gereja, 11). Dengan perkataan lain, apa yang dilambangkan secara kelihatan oleh roti dan anggur – melalui persatuan banyak bulir gandum dan buah anggur – adalah kenyataan bahwa sakramen Ekaristi mencapai tingkat interior dan spiritual. Tercapainya itu tidaklah secara otomatis, melainkan bersama serta seiring dengan komitmen kita. Artinya: “Apabila aku menerima Ekaristi, maka aku tidak boleh lagi bersikap tidak peduli dengan para saudari-saudaraku; aku tidak dapat menolak mereka tanpa aku menolak Yesus sendiri.”

Orang yang berpura-pura penuh gairah akan Kristus pada waktu menerima Komuni Kudus, padahal dia baru saja menyakiti hati seorang saudari atau saudaranya tanpa memohon maaf, atau berniat untuk memohon maaf, adalah seperti seseorang yang bertemu dengan seorang teman yang sudah lama tidak berjumpa; merangkulnya erat-erat, menicumnya dengan penuh afeksi tetapi tidak menyadari dia menginjak kaki temannya itu keras-keras dengan sepatu yang alasnya berpaku-paku! Kaki-kaki Kristus adalah anggota tubuh-Nya juga, teristimewa orang-orang yang paling miskin, paling dina, “wong cilik”. Kristus sangat mengasihi “kaki-kaki” itu dan pantas berteriak, “Engkau menghormati-Ku dengan sia-sia!”

Kristus yang kuterima dalam komuni adalah Kristus yang tak terbagi-bagi. Dan Kristus yang diterima saudari atau saudara yang berbaris di depan atau di belakangku adalah juga Kristus yang tak terbagi-bagi. Kristus yang kuterima adalah Kristus yang sama dengan yang diterima oleh saudari atau saudaraku. Dengan demikian Kristus mempersatukan kita satu sama lain sementara Dia mempersatukan semua umat dengan diri-Nya. Para anggota Gereja perdana merasa satu dalam Kristus: “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa” (Kis 2:42).

Santo Augustinus mengingatkan kita bahwa tidak ada roti apabila bulir-bulir gandum tidak digiling terlebih dahulu sehingga menjadi tepung gandum. Bagi kita kiranya tidak ada yang lebih baik daripada “kasih persaudaraan” sebagai “penggiling” kita, teristimewa apabila kita adalah anggota-anggota suatu komunitas tertentu – saling membantu, saling mendukung, saling menegur dalam kasih, dll. dalam semangat persaudaraan sejati, walaupun masing-masing berbeda dalam watak pribadi, asal-usul daerah, latar belakang pendidikan dlsb. Dengan berjalannya waktu, alat penggiling itu akan menghaluskan kekerasan yang ada dalam hati kita masing-masing.

Persiapan untuk menyambut Komuni Suci. Konsekrasi adalah saat penting dalam Perayaan Ekaristi, karena pada saat itu karya keselamatan Kristus dihadirkan secara sakramental. Komuni juga merupakan saat penting, karena saat itu kita menerima misteri keselamatan Kristus. Sejak doa “Bapa Kami” persiapan komuni menjadi semakin intensif. Teks-teks liturgis semakin jelas mengungkapkan apa itu komuni. Yang terpenting adalah bahwa kita memahami maksud Kristus, maksud diadakannya Sakramen Mahakudus, dan tujuan perintah-Nya: “Ambillah dan makanlah”. Kita tahu bahwa menyambut komuni saja belumlah cukup, belum menjawab harapan Kristus.

Apakah yang diharapkan oleh Yesus Kristus? Jawaban atas pertanyaan ini terkandung dalam sebuah doa sebelum komuni, tetapi sayang, dalam aturan dikatakan bahwa doa itu diucapkan “dalam batin” imam saja, padahal dalam doa itu maksud terdalam komuni dirumuskan dengan jelas: “Ya Tuhan Yesus Kristus, Putera Allah yang hidup, karena kehendak Bapa dan kerjasama Roh Kudus, dunia telah Kauhidupkan dengan kematian-Mu; bebaskanlah kami dari segala kejahatan dan dosa dengan Tubuh dan Darah-Mu yang mahakudus ini; buatlah kami selalu setia kepada perintah-perintah-Mu dan janganlah kami Kauizinkan terpisah dari-Mu” (A. Lukasik SCJ, hal. 114). Doa ini dihaturkan langsung kepada Tuhan Yesus Kristus. Imam memohon agar Kristus yang karena kehendak Allah dan kerjasama Roh Kudus, melalui penderitaan sengsara dan maut, memberi hidup baru kepada dunia, sudi memberi kepada kita juga umat yang berkumpul di sekeliling altar, hidup yang baru itu. Dalam doa itu imam juga memohon agar matilah manusia lama dalam diri kita dan tidak akan pernah terjadi perpisahan dengan diri-Nya, supaya hidup baru itu bertahan, dan kita semua dikuatkan oleh Tubuh dan Darah Kristus serta dilindungi oleh perintah-perintah-Nya.

Dengan demikian, yang menjadi arti dan tujuan terdalam komuni adalah agar kita meniru hidup Kristus, mengikuti jalan salib-Nya dan karena jasa-jasa kematian-Nya kita dapat turut ambil bagian dalam kebangkitan-Nya. Itulah sebabnya mengapa sehabis doa ini imam berlutut dengan hormat di hadapan Sakramen Mahakudus, dan dengan mengangkat hosti dia berkata: “Inilah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia, berbahagialah kita yang diundang ke perjamuan-Nya.” Dalam kalimat itu imam mengucapkan doa, memperlihatkan kepada umat bahwa dalam hosti yang sebentar lagi akan disambut, Yesus Kristus sungguh hadir. Bagian pertama kalimat itu diambil dari ucapan Santo Yohanes Pembaptis, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29). Bagian kedua kalimat itu diambil dari Kitab Wahyu tentang perjamuan kawin Anak Domba: “Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba” (Why 19:9). Kalimat keseluruhan yang diucapkan imam mengungkapkan bahwa kekuatan kurban Putera Allah mampu menghapus dosa dunia, dan mampu memasukkan orang ke dalam Kerajaan Allah sekarang ini, di dunia ini, dalam Perayaan Ekaristi.

Berkata “Amin” pada waktu kita menerima Tubuh Kristus. Pada waktu memberikan komuni suci, seorang imam, diakon, biarawan-biarawati atau prodiakon berkata: “Tubuh Kristus!” Umat yang menerima komuni akan menjawab: “Amin!” Pada saat itu Allah datang kepada manusia. Di sisi lain, manusia – karena percaya akan hal itu – mengakui dan meneguhkan bahwa sungguh demikianlah halnya. Kata “amin” berasal dari bahasa Ibrani dan berarti kurang lebih “demikianlah hendaknya”. Kata ini dalam ibadat Yahudi sudah dipakai untuk “mengamini”, menyetujui, kemudian diambil alih oleh umat Kristiani. Ketika mengatakan “amin” pada waktu menerima hosti dari pemberi komuni, berarti seseorang menyatakan: “saya percaya, saya setuju, ini memang tubuh Kristus bagi saya” (lihat Tom Jacobs, hal. 102). Jadi, kata “amin” adalah sebuah penegasan! Saya percaya, saya menyambut Engkau, ya Tuhan Yesus!

Kita berkata “amin” kepada tubuh tersuci Yesus yang dilahirkan dari Santa Perawan Maria, yang wafat dan bangkit kembali bagi kita. Di sisi lain kita juga berkata “amin” kepada tubuh mistik Kristus, Gereja, teristimewa mereka yang berada dekat dengan kita pada meja Ekaristi. Kita tidak dapat memisahkan dua tubuh itu, apalagi dengan menerima yang satu tanpa mau menerima yang lain (Raniero Cantalamessa, hal. 37). Tanpa harus bertentangan dengan apa yang ditulis oleh Pater Cantalamessa ini, Pater Erasto J. Fernandez merinci arti “tubuh Kristus” menjadi tiga, bukan dua: (1) Tubuh Kristus yang berdimensi sakramental dalam rupa roti/hosti; (2) imam dan setiap umat yang hadir dalam perayaan Ekaristi itu; (3) Keseluruhan komunitas yang dinamakan Gereja sebagai Tubuh Mistik Kristus. Romo ini mengatakan bahwa dua pernyataan ini: “Tubuh Kristus” dan “Amin” sungguh mengandung arti mendalam, karena makna yang dimaksudkan dengan “Tubuh Kristus” justru tidak terbatas pada arti yang pertama (lihat Erasto J. Fernandez, hal 143).

Kepada kebanyakan dari saudari dan saudara kita, tidak susahlah bagi kita untuk mengatakan “Amin”: saya menyambut engkau! Akan tetapi selalu saja ada di antara mereka satu-dua orang yang telah menyebabkan hidup kita menderita dan susah, melawan kita dengan cara-cara yang curang, mengkritisi kita secara negatif, berbicara buruk tentang diri kita dlsb. Dalam kasus seperti ini memang lebih sulitlah untuk mengatakan “Amin”, namun ada rahmat tersembunyi di sini. Apabila kita menginginkan suatu persekutuan (communio) yang lebih intim dengan Yesus, maka inilah cara untuk memperolehnya: Menyambut Yesus dalam komuni bersama dengan saudari atau saudara tersebut. Kita misalnya dapat mengatakan: “Tuhan Yesus, aku menerima Engkau pada hari ini bersama dengan saudariku (atau saudaraku) ini ke dalam hatiku; aku akan menjadi berbahagia apabila engkau membawa dia bersama dengan-Mu” (Raniero Cantalamessa, hal. 37-38). Tindakan kecil ini sangat menyenangkan Yesus karena Dia tahu bahwa tindakan tersebut menyebabkan kita mati terhadap diri kita sendiri, walaupun sedikit saja.

Catatan akhir. Perjamuan bersama – teristimewa apabila makanan yang dihidangkan itu sama bagi semua peserta perjamuan – mempunyai fungsi sosial, yaitu rasa persatuan antara para peserta diperlihatkan dan dipererat. Dalam perayaan Ekaristi umat makan bersama dan makanannya itu sama bagi semua yang hadir: tubuh dan darah Yesus sendiri. Jadi, persatuan antara umat yang hadir dirayakan dan diperdalam, demikian pula persatuan umat dengan/dalam Yesus.

Persatuan itu, yaitu dengan Kristus dan sesama, barulah sempurna pada akhir zaman. Namun Perayaan Ekaristi sudah menampakkannya dan merayakannya, serta ikut mengerjakan pelaksanaannya yang penuh pada akhir zaman itu (lihat Kursus Kader Katolik, hal. 56).

Cilandak, 15 Maret 2012

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Sumber-sumber selain Kitab Suci:

  1. Raniero Cantalamessa, OFMCap., THE EUCHARIST – OUR SANCTIFICATION, Collegeville, Minnesota: The Liturgical Press, 1993.
  2. Erasto J. Fernandez, SSS, THE EUCHARIST STEP BY STEP, Bandra, Bombay: 1994.
  3. Tom Jacobs SJ, “MISTERI PERAYAAN EKARISTI – UMAT BERTANYA TOM JACOBS MENJAWAB”, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1996.
  4. DR. A. De Kuiper (penerjemah dan pemberi pengantar), DIDACHE – Terjemahan dan Pembimbing ke dalam kitab Didachè, Djakarta: Badan Penerbit Kristen, 1967.
  5. Kursus Kader Katolik, “FUNGSI  MISA DALAM KEHIDUPAN”, Djakarta: Sekretariat Nasional K.M./C.L.C., 1969.
  6. A. Lukasik, SCJ, “MEMAHAMI PERAYAAN EKARISTI – PENJELASAN TENTANG UNSUR-UNSUR PERAYAAN EKARISTI”, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1991.

CINTA DAN EKARISTI

CINTA DAN EKARISTI 

Gereja hidup dari Ekaristi. Kebenaran ini mengungkapkan bukan hanya pengalaman iman sehari-hari tetapi juga menegaskan hakikat misteri Gereja. Dengan pelbagai cara Gereja mengalami selalu dalam sukacita pemenuhan janji Tuhan: “Lihatlah, aku akan beserta kamu sampai akhir zaman” (Mat 28:20). Justru dalam Ekaristi Kudus, lewat pengubahan roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Tuhan, Gereja bersukacita atas kehadiran-Nya yang mahapekat. Sejak Pentekosta, tatkala Gereja, sebagai Umat Perjanjian Baru, memulai peziarahannya menuju tanah air surgawi, Sakramen Ilahi ini telah menandai penyeberangannya, sambil meneguhkan mereka dengan kepasrahan pengharapan yang tangguh.

Tepatlah penegasan Konsili Vatikan II bahwa kurban Ekaristi “adalah sumber dan puncak setiap hidup Kristiani “ (Lumen Gentium, 11). “Sebab dalam Ekaristi Kudus ini terkandunglah seluruh kekayaan rohani Gereja, yakni Kristus sendiri, Roti Paskah kita yang hidup. Lewat tubuh-Nya sendiri, yang kini dijadikan hidup dan pemberi hidup oleh Roh Kudus, Ia menawarkan hidup-Nya kepada manusia” (Presbyterorum Ordinis, 5). Demikianlah Gereja selalu mengarahkan pandangannya kepada Tuhannya, yang hadir dalam Sakramen Altar. Di sanalah Gereja menemukan kepenuhan pernyataan kasih-Nya yang tak terbatas (Ecclesia de Eucharistia, 1).

Ekaristi adalah Kasih itu sendiri, identik dengan Yesus. Dengan demikian Ekaristi adalah sakramen Cinta Kasih, Sakramen yang berlimpah-ruah dengan cintakasih. Ekaristi sungguh menghadirkan Yesus yang benar dan hidup – Allah yang adalah “Kasih” (1Yoh 4:8,16), Dia yang “mengasihi orang-orang milik-Nya yang di dunia ini, dan Ia mengasihi mereka sampai kesudahannya” (Yoh 13:1). Paus Yohanes Paulus II, dalam Surat Ensikliknya Ecclesia de Eucharistia (Ekaristi dan Hubungannya dengan Gereja) menggaris-bawahi kembali apa yang baru saja diuraikan, “Saya ingin sekali lagi menegaskan kebenaran ini, dan menggabungkan diri dengan Anda, saudara-saudariku, dalam sembah sujud depan Misteri ini: Misteri agung, Misteri belaskasih. Mana gerangan yang belum dilakukan oleh Kristus bagi kita? Sungguh dalam Ekaristi, Ia menunjukkan kasih-Nya bagi kita, yang ‘bertahan sampai akhir’ (lihat Yoh 13:1), kasih yang tak mengenal batas” (Ecclesia de Eucharistia, 11).

Sesungguhnya segala ungkapan cintakasih, bahkan dalam bentuknya yang tertinggi dan terdalam dapat diverifikasikan dalam EKARISTI. Jadi, Ekaristi adalah Kasih yang disalibkan, Kasih yang mempersatukan, Kasih yang menyembah, Kasih yang berkontemplasi, Kasih yang berdoa, Kasih yang memberi kepuasan kepada jiwa-jiwa yang haus dan lapar akan kehadiran Allah dalam diri mereka.

Yesus Ekaristis adalah Kasih yang disalibkan dalam Kurban Misa Kudus, di dalam mana Dia mengorbankan kembali diri-Nya bagi kita. Baik dalam persekutuan (communio) yang sakramental maupun yang spiritual, Yesus adalah Kasih yang mempersatukan, membuat diri-Nya satu dengan umat Kristiani yang menerima-Nya. Yesus adalah Kasih yang menyembah dalam tabernakel, di mana Dia hadir sebagai kurban persembahan bagi Bapa surgawi. Yesus adalah Kasih yang berkontemplasi dalam pernjumpaan-Nya dengan jiwa-jiwa yang sangat senang duduk dekat kaki-Nya, seperti Maria dari Betania (lihat Luk 10:39). Yesus adalah Kasih yang berdoa; Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang melalui Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka” (Ibr 7:25). Yesus adalah Kasih yang memberi kepuasan kepada jiwa-jiwa yang mendambakan-Nya; Dia menarik kepada diri-Nya pribadi-pribadi dalam suatu kasih eksklusif, seperti halnya dengan Santo Yohanes Penginjil – “murid yang dikasihi-Nya”.

Santo Petrus Julian Eymard [1811-1868] adalah pendiri dari “Kongregasi Imam-iman dari Sakramen Mahakudus” yang dikanonisasikan pada tahun 1962 di tengah berlangsungnya Konsili Vatikan II. Eymard mengatakan, “Dimiliki Yesus dan memiliki Yesus, inilah pemerintahan Kasih yang sempurna”. Ekaristi mencapai “pemerintahan Kasih yang sempurna” ini dalam semua orang, yang memiliki hati murni, yang mendekati Tabernakel dan mempersatukan diri mereka dengan Yesus dalam Hosti Kudus, dengan kedinaan dan kasih. Dalam Ekaristi, Yesus mengorbankan diri-Nya bagi kita, Dia tetap berada di tengah-tengah kita dengan kerendahan-hati/kedinaan dan kasih yang tanpa batas.

Ekaristi adalah pemberian-diri secara total dari Allah Putera dan hal ini merupakan perendahan diri-Nya yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Dalam “Surat kepada Seluruh Ordo” Santo Fransiskus dari Assisi [1181-1226] a.l. menulis: “Hendaklah seluruh diri manusia gemetar, seluruh dunia bergetar dan langit bersorak-sorai, apabila Kristus, Putera Allah yang hidup hadir di atas altar dalam tangan imam! O keagungan yang mengagumkan dan kesudian yang menakjubkan! O perendahan diri yang luhur! O keluhuran yang merendah! Tuhan semesta alam, Allah dan Putera Allah, begitu merendahkan diri-Nya, sampai Ia menyembunyikan diri di dalam rupa roti yang kecil, untuk keselamatan kita! Saudara-saudara, pandanglah perendahan diri Allah itu dan curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya. Rendahkanlah dirimu, agar kamu ditinggikan oleh-Nya. Karena itu janganlah menahan sesuatu pun yang ada padamu bagi dirimu sendiri, agar kamu seutuh-utuhnya diterima oleh Dia, yang memberikan diri-Nya seutuhnya bagi kamu” (SurOr 26-29). “Ekaristi” adalah salah satu dari lima pilar penopang spiritualitas Fransiskan (empat lainnya adalah: Inkarnasi Tuhan, Sengsara Yesus, Kitab Suci dan Bunda Maria).

Santo Alfonsus Liguori [1696-1787] menulis doanya, “Yesusku! Betapa penuh cintakasih Sakramen Kudus ini – bahwa Engkau akan menyembunyikan diri di dalam rupa roti untuk membuat diri-Mu dikasihi dan untuk menjadi tersedia bagi siapa saja yang mengunjungi karena menghasrati Engkau!”

Yesus Ekaristis adalah Imanuel atau “Allah beserta kita” (Mat 1:23; 28:20).  Pada waktu Santo Yohanes Maria Vianney [1786-1859] sampai di dusun kecil Ars tempat tugas-pelayanannya sebagai seorang imam praja muda, seseorang berkata kepadanya dengan nada yang pahit, “Tidak ada yang dapat dilakukan di sini.” “Oleh karena itu, ada segalanya yang harus dilakukan”, jawab sang imam.

Romo Yohanes Maria Vianney memang langsung bertindak. Apa saja yang dilakukannya? Dia bangun tidur pada jam 2 di pagi hari, lalu berdoa di dekat altar dalam gereja yang masih gelap gulita itu. Dia mendoakan Ofisi Ilahi (Ibadat Harian), melakukan meditasi dan mempersiapkan diri untuk Misa Kudus. Setelah Misa, dia menghaturkan doa syukurnya dan berdoa sampai tengah hari. Dia selalu berlutut di lantai gereja tanpa ditopang oleh bangku dlsb., dengan Rosario tetap di tangannya dan pandangan matanya yang tertuju pada Tabernakel. Gambaran seperti ini berlanjut untuk suatu waktu yang tidak lama.

Kemudian Romo Yohanes Maria Vianney (seorang anggota Ordo Ketiga Sekular S. Fransiskus) harus mengubah jadual kegiatannya sehari-hari, malah suatu perubahan yang cukup radikal. Yesus Ekaristis dan Santa Perawan Maria, sedikit demi sedikit menarik jiwa-jiwa kepada paroki miskin itu, sampai gedung gereja tidak cukup luas untuk dapat menampung orang banyak yang datang. Ruang pengakuan dosa juga dibanjiri dengan para pentobat. Sang imam harus bekerja di ruang pengakuan dosa untuk sepuluh, lima belas dan delapan belas jam lamanya. Nah, bagaimana suatu transformasi sehebat itu sampai terjadi? Dulunya yang ada hanyalah sebuah gereja yang miskin, altar yang sudah lama tidak dipakai, tabernakel yang kosong, ruang pengakuan yang sudah tua dan seorang imam yang memiliki sedikit talenta dan tidak memiliki sumber daya untuk melakukan apa-apa. Bagaimana hal-hal yang serba “negatif” ini dapat mencapai perubahan luarbiasa dalam dusun Ars yang kecil ini?

Masih ingatkah anda tentang kisah Santo Padre Pio dari Pietrelcina [1887-1968]? Ceritanya sekarang adalah San Giovanni Rotundo, sebuah kota kecil di Gargano, Italia. Tadinya sebuah kota kecil tak dikenal, namun kemudian telah menjadi pusat kehidupan spiritual dan kultural dengan reputasi bertaraf internasional. Ada seorang imam Kapusin yang tidak brilian, sakit-sakitan, sebuah biara kecil yang sudah tua dan rusak di sana-sini, sebuah gedung gereja yang terlantar, dengan altar dan tabernakel sebagai warisan bagi imam miskin itu, imam yang tidak henti-hentinya berdoa rosario. Bagaimana terjadinya perubahan di sana? Apakah yang menyebabkan transformasi indah yang terjadi di Ars dan Sang Giovanni Rotundo, sehingga ratusan, ribuan, bahkan jutaan orang datang ke tempat-tempat itu dari segenap penjuru dunia?

Hanya Allah yang dapat melakukan transformasi-transformasi itu seturut Jalan-Nya, seperti ditulis oleh Santo Paulus, “Apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan  apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti” (1Kor 1:27-28). Ini semua karena Yesus, karena kuasa ilahi dan tak terbatas dari Ekaristi, karena kekuatan dahsyat daya tarik yang terpancar dari tabernakel-tabernakel di Ars dan San Giovanni Rotundo, sampai mencapai jiwa-jiwa yang banyak melalui karya pelayanan dua orang imam pengikut Kristus seturut teladan Santo Fransiskus dari Assisi,  para pelayan Tabernakel sejati, “yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah” (1Kor 4:1).

Sekali lagi ditekankan di sini, bahwa “Ekaristi adalah Imanuel atau ‘Allah beserta kita’”. Ekaristi adalah Tuhan Yesus yang hadir dalam tabernakel-tabernakel gereja-gereja kita dengan Tubuh-Nya, Darah-Nya, Jiwa-Nya dan Keilahian-Nya. Ekaristi adalah Yesus yang mengambil rupa roti, namun secara nyata dan fisik hadir dalam Hosti yang sudah dikonsekrasikan, sehingga demikian Ia berdiam  di tengah-tengah kita, bekerja dalam diri kita dan bagi kita, dan tersedia bagi kita. Yesus Ekaristis adalah sungguh Imanuel yang sejati, “Allah beserta kita” (Mat 1:23; Mat 28:20). Yesus Ekaristis ini hadir bagi kita sebagai seorang saudara, seorang sahabat, mempelai dari jiwa-jiwa kita. Dia ingin memasuki diri kita sebagai makanan kita bagi kehidupan kekal, menjadi kekasih dan pendukung setia bagi kita. Yesus Ekaristis ingin membuat kita menjadi bagian Tubuh Mistik-Nya di dalam mana Dia akan menebus kita dan menyelamatkan kita, kemudian membawa kita ke dalam Kerajaan Surga yang di dalamnya hanya ada aroma kasih.

Dengan Ekaristi, Allah sungguh telah memberikan kepada kita segalanya. Santo Augustinus pernah mengatakan: “Walaupun Allah itu mahakuasa, Dia tidak mampu untuk memberi lebih; meskipun Dia memiliki hikmat yang tertinggi, Dia tidak tahu bagaimana memberi lebih lagi; dan walaupun sangat kaya, Dia tidak mempunyai apa-apa lagi untuk diberikan (kepada kita)”. Kehidupan para kudus menunjukkan bahwa Ekaristi adalah pusat kehidupan mereka, Ekaristi yang harus diterima dengan hati yang murni dan penuh gairah.

Santo Bernardus dari Clairvaux [1090-1153] mengatakan: “Apabila kita mengetahui saja bahwa karunia Allah – yang adalah Kasih – dan Siapa yang memberikan diri-Nya sendiri sebagai suatu Karunia yang penuh Kasih! Ekaristi ……kasih yang melampaui semua kasih dalam Surga dan bumi.”  Di lain pihak Santo Thomas Aquinas [1225-1274] menulis: “Ekaristi adalah Sakramen Kasih: (Ekaristi) menandakan Kasih, (Ekaristi) menghasilkan Kasih.” 

Kasih dan Ekaristi. Pada suatu hari seorang pangeran Arab yang bernama Abb-ed-Kader, selagi berjalan menelurusi jalan-jalan di Marseille dengan seorang pejabat pemerintah Perancis, bertemu dengan seorang imam yang sedang membawa Viaticum Suci kepada seseorang yang sedang berada dalam sakratulmaut. Pejabat Perancis itu berhenti berjalan, melepaskan topinya dan  ia pun berlutut penuh hormat. Pangeran Arab itu bertanya kepada pejabat itu apa yang telah terjadi, sampai-sampai dia bertindak seperti itu? Sang pejabat Perancis menjawab: “Aku menyembah Allahku, yang dibawa oleh imam tadi untuk diberikan kepada seorang sakit.” Sang pangeran Arab merespons lagi, “Bagaimana mungkin anda percaya kepada Allah yang begitu agung, namun membuat diri-Nya begitu kecil dan membiarkan diri-Nya bahkan memasuki rumah-rumah orang-orang miskin? Kami umat Islam mempunyai ide yang jauh lebih besar tentang Allah.” Sang pejabat balas-menjawab: “Hal itu disebabkan karena anda hanya mempunyai satu ide saja tentang kebesaran Allah; dan anda tidak mengenal kasih-Nya.”

Santo Petrus Julian Eymard mengkonfirmasi pernyataan sang pejabat Perancis tadi dengan menyatakan yang berikut ini: “Ekaristi adalah bukti tertinggi kasih Yesus. Setelah ini, tidak ada lagi lainnya kecuali Surga sendiri.” Walaupun begitu, berapa banyak dari kita umat Kristiani yang tidak mengetahui betapa besar kasih Allah yang terkandung dalam Ekaristi? Untuk mengeksplorasi kekayaan Ekaristi, kita harus memakai hati kita. Santo Paulus menulis: “Siapa yang tidak mengasihi Tuhan, terkutuklah ia” (2Kor 16:22). Jadi, kita harus mengasihi Tuhan Yesus; artinya mengasihi-Nya juga dalam Ekaristi. Nah, cinta pada Ekaristi harus keluar dari hati dan senantiasa hidup dalam diri kita semua. Cintakasih juga memerlukan semacam latihan. Hai kita perlu dilatih untuk mengasihi Allah yang benar, untuk mengasihi sang “Sumber Kehidupan bagi Semua Orang” (Kis 3:15 BIS). Komuni Kudus adalah titik tertinggi dari kasih yang diwujudkan dalam praktek, yang mempersatukan hati manusia dengan Yesus.

Pada waktu sedang menderita sakit cukup serius – Santa Teresa dari Kanak-kanak Yesus atau Teresa dari Lisieux [1873-1897] dengan bersusah-payah memaksakan diri pergi ke gereja untuk menerima Yesus dalam Komuni Kudus. Pada suatu pagi, setelah menerima Komuni Kudus, dia kembali ke selnya dalam keadaan yang lemah karena kelelahan. Salah seorang suster berkata kepadanya agar suster Teresa tidak memaksa diri. Teresa menjawab: “O, apa artinya penderitaan-penderitaan ini bagiku kalau dibandingkan dengan satu Komuni Kudus?” Keluhan Teresa yang terasa “manis” adalah bahwa dia tidak boleh menerima Komuni Kudus setiap hari (Pada zamannya memang hal itu tidak diperbolehkan). Dengan penuh gairah dia memohon kepada Yesus: “Tetaplah tinggal dalam diriku, sebagaimana Engkau lakukan dalam Tabernakel. Jangan pernah menarik kehadiran-Mu dari Hosti-Mu yang kecil.”

Begitu banyak kisah atau cerita tentang cinta para kudus (yang jelas-jelas dengan resmi dinyatakan kudus oleh Gereja) pada Ekaristi. Dari para kudus yang telah mendahului kita itulah seyogianya kita belajar tentang makna Ekaristi bagi diri kita masing-masing. Untuk menemukan kekayaan Ekaristi seseorang harus membawa pelajaran-pelajaran ilahi tentang Ekaristi ke dalam hidupnya sendiri, artinya mempraktekkannya. Apa artinya menemukan nilai tak terhingga dari Ekaristi pada saat kita merenungkannya dan berupaya untuk mencintainya pada saat menerima Komuni Kudus, apabila kita tidak menindaklanjutinya dengan menghayatinya dalam kehidupan kita, artinya mewujudkan kasih-Nya dalam tindakan-tindakan kita?

Ekaristi mengajarkan kepada kita suatu cintakasih yang tak akan cukup dijelaskan dengan kata-kata. Ekaristi mengajar kita pengorbanan-total, dan pelajaran tak terbandingkan dalam hal kerendahan-hati atau kedinaan dan penghapusan-diri sendiri. Ekaristi mengajarkan kepada kita kesabaran dan dedikasi tanpa batas. Akan tetapi, apakah yang kita dapat tarik dari semua ini? Kita harus mencapai sesuatu! Dengan demikian, dapatkah atau pantaskah kita terus-menerus bersikap masa bodoh dan tidak melakukan apa-apa sementara Yesus telah mengasihi kita dan tetap mengasihi kita dengan penuh kemurahan hati, bahkan “sampai pada kesudahannya” (lihat Yoh 13:1).

Bilamana kita merasa lemah dan ciut-hati, marilah kita menghadap Yesus, berbicara kepada-Nya dan jangan ragu-ragu untuk mohon pertolongan dan dukungan-Nya, karena Dia sendiri yang mengatakan: “Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 15:5); juga: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat 11:28). Oleh karena itu marilah kita sering mengunjungi-Nya, menghadiri Misa Harian sedapat mungkin, mengambil waktu untuk sejenak berlutut di depan Tabernakel, dan menaruh hati dan tubuh kita dekat hati dan tubuh-Nya. Para kudus sangat bergairah untuk mengunjungi Yesus dalam Sakramen Mahakudus, untuk melakukan sembah-bakti pada “jam-suci”, dlsb. Betapa banyak kekayaan rohani yang mereka peroleh dari praktek-praktek devosional ini dan betapa banyak pula yang diwariskan mereka kepada kita.

Catatan Penutup. Sebagai penutup, saya mengajak para pembaca untuk senantiasa mengenang pekerjaan-pekerjaan baik yang telah dicapai oleh jiwa-jiwa yang dipenuhi dengan cintakasih Yesus lewat Ekaristi, karena lewat/dalam Ekaristi Yesus mengkomunikasikan kepada mereka rasa cintakasih-Nya sendiri kepada semua saudara-Nya, teristimewa mereka yang paling membutuhkan. Memang samasekali tidak salahlah kalau dikatakan, bahwa “Gereja (anda dan saya) hidup dari Ekaristi!

Marilah kita belajar dari para kudus tersebut dan mulai melanjutkan pekerjaan-pekerjaan baik mereka.

Cilandak, 1 Februari 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Catatan: Tulisan ini juga dimuat dalam majalah MediaPASS (majalah Gereja Santo Stefanus, Cilandak, edisi Februari 2012)

EKARISTI: BEBERAPA CATATAN

EKARISTI: BEBERAPA CATATAN 

Katekese mengenai Misteri Ekaristi harus diarahkan pada penyadaran para beriman, bahwa perayaan Ekaristi benar-benar merupakan pusat seluruh kehidupan Kristiani, baik pada tingkat Gereja semesta (universal) maupun pada tingkat jemaat-jemaat lokal. Karena “semua sakramen lain, seperti juga segala pelayanan Gereja dan karya kerasulannya, erat berhubungan dengan Ekaristi Kudus dan diarahkan kepadanya. Sebab di dalam Ekaristi Mahakudus terangkumlah seluruh harta rohani Gereja, yaitu Kristus sendiri, kurban Paskah dan Roti kehidupan kita yang memberikan hidup kepada sekalian orang melalui daging-Nya, yang berkat Roh Kudus menjadi hidup dan menghidupkan. Dengan demikian manusia diundang dan dibimbing untuk mempersembahkan diri mereka sendiri, segala jerih payah mereka dan seluruh alam ciptaan bersama dengan Kristus.” (Instruksi Eucharisticum Mysterium tentang Misteri Ekaristi [25-5-1967], 6; bdk. Dekrit Presbyterorum Ordinis tentang Pelayanan dan Kehidupan Para Imam [7-12-1965], 5).

Banyak sekali umat Katolik yang selagi menjalani kehidupan di dunia tidak pernah sungguh mengetahui atau memanfaatkan berbagai sarana indah guna mencapai keselamatan yang telah ditempatkan Kristus bagi kita semua melalui Gereja-Nya. Kita menghayati kehidupan sekular dalam sebuah dunia yang adalah sekular pula, hampir tidak menyadari bahwa Yesus Kristus telah membuat dunia ini menjadi sebuah dunia yang sakramental: “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru” (Why 21:5) – sebuah dunia di mana setiap kegiatan dan setiap peristiwa dapat menjadi sarana rahmat ilahi yang membawa manusia kepada keselamatan.

Allah mengkomunikasikan diri-Nya kepada kita melalui berbagai gestures, kata-kata dan hal-hal yang bersifat sakramental. Semua itu adalah tindakan-tindakan Allah melalui Roh Kudus-Nya. Gesture utama Allah adalah tindakan menjadi manusia – inkarnasi-Nya. Jadi, Yesus adalah Sakramen yang pertama dan benar, karena Dia adalah tanda yang mujarab dari peng-ilahi-an (Inggris: divinization) umat manusia. Melalui kehidupan, kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus membuat kita mampu berjumpa dengan Allah Tritunggal dan membagi kehidupan ilahi-Nya dengan kita.

Sesungguhnya, segala tindakan Yesus selama kehidupan-Nya di dunia pada akhirnya dimaksudkan untuk memberikan suatu kehidupan – kehidupan kekal. Inilah pesan dari kebangkitan Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup; siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati” (Yoh 11:25); sebuah ayat Kitab Suci yang begitu akrab terdengar di telinga manakala kita menghadiri Misa atau Ibadat Sabda berkaitan dengan peringatan kematian seorang saudari/saudara kita.

Gereja adalah Sakramen Kristus. Gereja adalah Sakramen Perjumpaan Kristus dengan kita, umat-Nya. Untuk kepentingan orang-orang yang hidup setelah zaman-Nya, Yesus mendirikan Gereja sebagai Sakramen di mana umat berjumpa dengan diri-Nya. Melalui Gereja, Yesus terus aktif di tengah dunia dan berkomunikasi dengan segenap umat manusia.

Gereja adalah Tubuh Mistik Kristus, Yesus sebagai Kepalanya dan kita adalah para anggotanya. Dengan demikian, Gereja adalah sebuah tanda, sebuah Sakramen, …… Sakramen Kristus. Gereja memproklamasikan Kristus, dan dalam Gereja-lah Kristus dijumpai.[1] Kebersatuan dengan Kristus dan kebersatuan dengan Allah melalui Kristus ini membentuk Kerajaan Allah. Gereja mengakui bahwa Kerajaan Allah sudah hadir di tengah dunia. Gereja merangkul Kerajaan itu dengan penuh sukacita dan syukur. Gereja berupaya keras untuk meluaskan ini kepada semua orang dan melakukannya lewat Sakramen-sakramen.

Sakramen-sakramen yang dirayakan dengan benar membawa pengharapan Gereja kepada dunia. Sakramen-sakramen adalah “tanda-tanda di muka” tentang sukses dan pemenuhan dunia dalam Kristus Yesus. Seperti Kristus-inkarnasi (Firman yang menjadi manusia; Yoh 1:14) adalah “wajah” Bapa surgawi, maka Gereja adalah “wajah” Kristus yang bangkit dan naik ke surga bagi semua orang di dunia. Gereja adalah tanda yang “mujarab”, Sakramen yang menghadirkan Yesus  bagi dunia.

Maka, Gereja membuat kita mampu untuk berjumpa dengan Kristus dalam Sakramen-sakramen-Nya. Hal ini menyentuh pokok-pokok utama kehidupan kita dan menguduskannya. Semua itu berkisar di sekeliling Misa, yang juga dinamakan Ekaristi.

Ekaristi. Untuk memperoleh suatu ide yang benar tentang peranan Ekaristi dalam kehidupan kita, maka kita harus memandang dunia dengan menggunakan kacamata Alkitab. Dari situ kita akan menyadari bahwa umat manusia adalah instrumen yang dipilih untuk Penebusan kita. Kristus datang ke tengah-tengah dunia untuk menanggung sakit, untuk menderita dan mati dalam daging-Nya; dan Ia bangkit dalam daging-Nya. Jadi daging (badan) dan hal-hal tak bernyawa diasosiasikan dengan misi sang Juruselamat dan kemenangan-Nya atas kematian.

Kita dapat menggunakan segala sumber daya alam semesta dalam mengerjakan keselamatan kita. Dengan kata-kata Doa Syukur Agung I Misa: “Dalam Dia Engkau menciptakan, memberkati dan menganugerahkan segala sesuatu yang baik kepada kami”.[2]

Kita harus menjadi terilhami – seperti ditunjukkan oleh Kitab Suci – dengan kesadaran bahwa manusia menguasai kosmos dan lewat kerja mereka sehari-hari menyempurnakan gambaran ilahi dalam diri mereka. Melalui pekerjaan dan interaksi sosial, mereka mencapai sebuah komunitas relasi antar-pribadi yang berdasarkan kasih. “Allah adalah kasih, dan siapa yang tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia” (1Yoh 4:16). Kita menjadi satu dengan Allah melalui kasih!

Semua ini pada dasarnya terjadi melalui apa yang kita sebut “Liturgi”. Liturgi adalah sebuah perayaan di mana dirayakan kasih Allah itu. Dengan atau melalui Liturgi inilah Allah disembah dan dimuliakan dan umat (anda dan saya) dibuat menjadi peserta dalam kehidupan Allah dan Kerajaan-Nya. “Jadi dari Liturgi, terutama dari Ekaristi, bagaikan dari sumber, mengalirlah rahmat kepada kita, dan dengan hasil guna yang amat besar diperoleh pengudusan manusia dan pemuliaan Allah dalam Kristus, tujuan semua karya Gereja lainnya” (Konstitusi Sacrosanctum Concilium tentang Liturgi Suci, 10).

(1) Dalam Misa, Yesus yang ilahi-insani sekaligus itu – melalui tindakan Roh-Nya memampukan kita untuk berpartisipasi dalam kehidupan ilahi-Nya. (2) Kita berpartisipasi dalam tindakan suci itu dengan kuat-kuasa yang indah dari akal-budi, perasaan dan pancaindera kita – mendengar, bernyanyi, berbicara, mencicipi dlsb. (3) Ciptaan yang tak bernyawa pun mempunyai peranan: roti, anggur, terang lilin, dupa, pakaian upacara imam, piala, lonceng/bel, organ dll.

Dalam analisis akhir, melalui Liturgi Ekaristi, Kristus menjadi satu dengan anggota-anggota Tubuh Mistik-Nya. Pengudusan dunia jatuh di bawah pengaruh-Nya melalui kerja sama bebas kita yang didorong oleh rahmat.  Dalam artian tertentu, diri kita sendiri adalah substansi yang dipersembahkan dan ditransformasikan dalam Misa, dan melalui kita dunia dipersembahkan dan ditransformasikan dalam perkembangannya setiap hari.

Roti (Tubuh Kristus) dan Anggur (Darah Kristus). Petikan yang indah dari salah satu surat Santo Paulus berikut ini pantas kita renungkan dengan serius dan acap kali: “Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus? Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu” (1Kor 10:16-17). 

Roti.[3] Roti adalah benda yang tidak boleh tidak ada dalam rumah, merupakan makanan dasariah (Am 4:6; Mrk 3:20; Luk 11:5; 15:17), sehingga sering searti dengan makanan/perjamuan pada umumnya (Luk 14:15; Kis 2:42). Roti tidak pernah dibelah dengan pisau melainkan selalu dengan tangan sebagai lambang membagi milik: “memecah-mecahkan roti” searti dengan memberikan roti (Yes 58:7; Yer 16:7), bersatu dengan orang lain, agar tercipta persatuan antara orang-orang yang sedang makan (Mzm 41:10; Mat 14:19; [bdk. Mrk 6:41; Luk 9:16; Yoh 6:11]; Mat 26:26 [bdk. Mrk 14:22; Luk 22:19; 1Kor 11:29]; Yoh 13:18; 1Kor 10:16). Roti secara metaforis melambangkan firman Allah, kehidupan sejati manusia (Ul 8:3; Am 8:11; Mat 4:4; bdk. Luk 4:4), yang sebelumnya sudah dilambangkan oleh “manna” yang turun dari surga. Yesus sendiri adalah “roti kehidupan” atau “roti hidup”, satu-satunya roti yang menghidupkan (Yoh 6:35-47), roti yang diberikan-Nya kepada para murid-Nya menjelang pengorbanan-Nya (Mat 26:25 [bdk. Mrk 14:22; Luk 22:19; 1Kor 11:23]). Dengan membagi-bagikankan roti kepada orang banyak, Yesus mengajarkan para murid-Nya bagaimana mereka, dengan berlimpah-limpah, seharusnya membagi-bagikan Firman dan Ekaristi (Mat 14:13-21 [bdk. Mrk 6:32-44; Luk 9:10-17]; Mat 15:32-38 [bdk. Mrk 8:1-9]; Yoh 6:1-15). Dalam Liturgi Ekaristi, roti diubah menjadi Tubuh Kristus sendiri.

Tubuh Ekaristis Kristus. Yesus berbicara tentang “tubuh” ketika Dia berbicara tentang kehadiran-Nya secara baru, yaitu secara ekaristis (Mat 26:26; bdk. Mrk 14:22; Luk 22:19; 1Kor 11:24). Dalam tubuh yang demikian, semua pengikut Yesus ikut serta sambil membentuk satu tubuh.

Anggur. Dalam Perjanjian Baru, anggur tidak pernah muncul dalam konteks ibadat, kecuali dalam rangka perjamuan (terakhir) Yesus, di mana anggur di sebut “hasil pokok anggur” (Mat 26:29; bdk. Mrk 14:25; Luk 22:18) dan dalam kisah yang menceritakan perdebatan mengenai makanan (Rm 14:21). Secara kiasan, anggur berarti amarah Allah pada akhir zaman (Yes 51:17,22; Yeh 23:31; Why 14:8,10;16:19; 17:2; 18:3; 19:15).  Dalam Liturgi Ekaristi, anggur diubah menjadi darah Kristus sendiri.

Darah. Darah ialah kehidupan (Im 17:11-14) dan kehidupan adalah milik Allah. Darah/nyawa tidak boleh dimakan bersama dengan daging persembahan (Ul 12:23-24; Kis 15:20,29). Darah dipercikkan di atas mezbah, kadang-kadang darah menjadi persembahan (Ibr 9:7; 13:11) bernilai pendamaian. Namun hanya darah Yesus saja yang berdaya-guna (Ibr 10:4,19), sebab Kristus adalah pendamaian sejati (Rm 3:25), darah-Nya adalah “darah Perjanjian demi pengampunan dosa-dosa” (Kel 24:6-8; Mat 26:28; bdk. Mrk 14:24), dan darah itulah yang diminum dalam perjamuan Ekaristi (Yoh 6:53-54; 1Kor 10:16). Yesus menumpahkan darah-Nya dengan sukarela, sambil membaharui Perjanjian (Yes 53:12; Luk 22:20). Inilah darah yang paling bernilai, yaitu yang mengalir dari lambung Yesus (Yoh 19:31-37; 1Ptr 1:19; 1Yoh 5:6-8).

Anthony M. Buono[4] mengatakan, bahwa transubstansiasi roti dan anggur ke dalam tubuh, darah dan keilahian Kristus diperluas ke dalam dunia dan merangkul totalitas dari sukacita dan rasa sakit sebagai akibat dari proses perkembangan yang ditakdirkan secara ilahi. Kristus mengumpulkan semua sukacita dan penderitaan, dan mempersembahkan semua itu kepada Bapa. Dia membuat semua itu menjadi menyelamatkan bagi semua orang yang mengalami. Sebagai akibatnya, kita dapat mengatakan bahwa Misa mencakup suatu konsekrasi (pengudusan) umat manusia. Dunia secara keseluruhan dipersembahkan dan ditransformasikan oleh rahmat yang menyelamatkan dari Kristus melalui mediasi Gereja dalam Misa. Dengan perkataan lain, hal-hal baik yang menyelamatkan yang telah dimenangkan oleh Kristus melalui sengsara, kematian dan kebangkitan-Nya, diterapkan pada dunia dan segala sesuatu yang ada di dalam dunia itu, di sini dan sekarang. Konsekrasi ini terjadi secara sakramental – yang oleh karenanya tidak sempurna dan harus dilengkapi. Kristus telah melakukan tindakan pemberian persembahan secara definitif. Namun bagi komunitas Kristiani dan untuk dunia, kurban persembahan tidak akan sepenuhnya tercapai sampai pada akhir zaman (AMB, hal. 5).

Liturgi. Semua ini dicapai melalui Liturgi, teristimewa Misa. “Liturgi suci adalah penyembahan yang bersifat publik bahwa Penebus kita, Kepala Gereja, mempersembahkan kepada Bapa surgawi, dan bahwa komunitas orang-orang yang percaya kepada Kristus membayarnya kepada Pemimpinnya (Yesus), dan melalui Dia kepada Bapa yang kekal; singkatnya (liturgi) adalah seluruh penyembahan secara publik oleh Tubuh Mistik Yesus Kristus, Kepala dan para anggotanya” (Paus Pius XII, Ensiklik tentang Liturgi Suci, no. 20; diambil dari AMB, hal. 5-6).

Ini adalah definisi klasik dari “Liturgi”, yang diulangi dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK) yang diundangkan oleh Paus Yohanes Paulus II: “Gereja memenuhi tugas menguduskan secara istimewa dengan liturgi suci, yang merupakan pelaksanaan tugas imamat Yesus Kristus, di mana pengudusan manusia digambarkan dengan tanda-tanda yang tampak serta dihasilkan dengan cara masing-masing yang khas. Dengan liturgi itu dipersembahkan juga ibadat publik yang utuh kepada Allah oleh Tubuh mistik Yesus Kristus, yakni Kepala serta anggota-anggota-Nya” (KHK, Kanon 834 § 1). “Ibadat semacam ini terjadi apabila dilaksanakan atas nama Gereja oleh orang-orang yang ditugaskan secara legitim serta dengan perbuatan-perbuatan yang telah disetujui oleh otoritas Gereja” (KHK, Kanon 834 § 2). Walaupun demikian, bagi kebanyakan kita, Liturgi adalah sepatah kata yang “berat”, sepatah kata yang jarang sekali kita gunakan dalam pembicaraan sehari-hari.

Aslinya, kata itu menunjukkan pekerjaan sukarela bagi umat. Terjemahan dalam bahasa Yunani atas Kitab Suci Yahudi yang diselesaikan pada abad ke-3 SM dan dikenal sebagai Septuaginta (LXX) membuat arti kata ini menjadi lebih khusus, yaitu penyembahan  oleh seorang imam di Bait Allah. Gereja perdana menggunakan kata ini untuk suatu kebaktian penyembahan di dalam mana masing-masing anggota komunitas mempersembahkan kepada Allah atas nama semua anggota seturut peranannya masing-masing. Pada abad pertengahan kata ini menunjukkan kebaktian penyembahan resmi Gereja.

Jadi, Liturgi adalah suatu kerja ilahi yang dipercayakan kepada umat Allah. Liturgi adalah melanjutkan pekerjaan Kristus oleh Gereja-Nya dalam kebersatuan dengan diri-Nya. Dengan demikian, orang-orang yang tidak berjumpa dengan Kristus dalam kehidupan-Nya di dunia sekarang dapat berjumpa dengan Dia dalam kemuliaan melalui Liturgi dan dapat bersatu dengan Dia dalam kurban persembahan-Nya kepada Bapa yang dibuat sekali dan untuk selama-lamanya (Ibr 10:14).

Jika kita memandang Liturgi dengan cara ini, maka sebagian dari sifatnya yang terasa “berat” tadi pun akan terlepaskan/terbebaskan. Sekarang dapat terlihat apa itu Liturgi: suatu kunci kehidupan, suatu permohonan yang dipenuhi dengan pengharapan, suatu perluasan dari Misteri Paskah (yaitu sengsara, kematian dan kebangkitan Yesus) yang diperuntukkan bagi segala zaman dan semua orang, dan sesungguhnya untuk segenap alam semesta.

Melalui baptisan yang menjadikan kita imam dalam artiannya yang umum, adalah privilese kita sebagai orang Kristiani untuk turut ambil bagian dalam doa Gereja. Adalah privilese kita untuk turut ambil bagian dalam doa ini (a) melalui suatu tatanan hirarkis yang hakiki untuk hal itu. Namun itu pun privilese kita untuk turut ambil bagian dalam doa ini (b) secara berjemaah (komunal) sebagai anggota-anggota komunitas Gereja. Adalah privilese kita untuk dikuduskan oleh doa ini (c) melalui masuknya kita ke dalam Misteri Paskah Kristus. Akhirnya, adalah privilese kita untuk diajar oleh doa ini (d) sebagai bagian dari mereka, kepada siapa Allah berbicara melalui Kristus dan Roh.

Tanda-tanda dan Ekaristi. Misa – seperti semua ritus-ritus sakramental lainnya – dapat dikatakan merupakan suatu dialog antara Allah dan umat-Nya. Terlebih lagi, Misa adalah suatu rituale di mana Allah bertindak dan umat-Nya menjadi terlibat. Dalam komunikasi ini, Misa menggunakan tanda-tanda inderawi dan juga kata-kata. Misa menyangkut sikap tubuh, melibatkan gestures, menggunakan benda-benda, dilaksanakan dalam tempat-tempat yang nyata, dan dalam Misa itu objek-objek tertentu diberkati dan dikuduskan.

Beberapa dari tanda-tanda natural ini, lewat penggunaan berbagai imaji (gambaran) dan simbol/lambang yang sudah ada dalam ciptaan yang mempunyai suatu gaung tertentu dalam hati manusia. Hampir semua tanda-tanda dalam Misa itu adalah tanda-tanda alkitabiah. Tanda-tanda tersebut adalah tanda-tanda tertentu yang Yesus sendiri gunakan pada waktu Dia menetapkan Ekaristi, juga tanda-tanda yang digunakan oleh para pendahulu kita (dalam Iman Kristiani) seperti digambarkan oleh bagian-bagian Kitab Suci lainnya.

Lewat tanda-tanda itu iman umat diungkapkan, dipupuk, dan diperkuat. Oleh karena itu sungguh pentinglah untuk memanfaatkan semua unsur dan bentuk perayaan yang disediakan oleh Gereja. Hal itu memungkinkan umat untuk ikut ambil bagian secara lebih aktif dan memetik manfaat lebih besar bagi kepentingan rohaninya (lihat ‘Pedoman Umum Misale Romanum Baru’ [PUMRB], 20)

Kitab Suci dan Perayaan Ekaristi. Pada kenyataannya, Misa suka dijuluki “Alkitab dalam Aksi” (Inggris: Bible in Action), karena sabda Alllah dalam Kitab Suci meresap dalam setiap bagian ritus-ritus yang ada di dalamnya. Misa Kudus atau Perayaan Ekaristi mencakup pembacaan sabda Allah dari Kitab Suci termasuk Mazmur Tanggapan; Nyanyian pendek dari Kitab Suci (berbagai antifon dan madah), Rumus-rumus dari Kitab Suci (sapaan, aklamasi narasi institusi dalam Doa Syukur Agung), alusi-alusi pada Kitab Suci (doa-doa), Instruksi alkitabiah (homili), dan doa-doa umat yang terinspirasikan oleh Kitab Suci.

Tentang hal ini, ‘Konstitusi Sacrosanctum Concilium tentang Liturgi Suci’ menyatakan sebagai berikut: “Dalam perayaan Liturgi Kitab Suci sangat penting. Sebab dari Kitab Sucilah dikutip bacaan-bacaan, yang dibacakan dan dijelaskan dalam homili, serta mazmur-mazmur yang dinyanyikan. Dan karena ilham serta jiwa Kitab Sucilah dilambungkan permohonan, doa-doa dan madah-madah Liturgi; dari padanya pula upacara serta lambang-lambang memperoleh maknanya. Maka untuk membaharui, mengembangkan dan menyesuaikan Liturgi suci perlu dipupuk cinta yang hangat dan hidup terhadap Kitab Suci, seperti ditunjukkan oleh tradisi luhur ritus Timur maupun ritus Barat” (Sacrosanctum Concilium, 24).

Perayaan Ekaristi terdiri dari empat bagian: (1) Bagian pembuka; (2) Ibadat/Liturgi Sabda; (3) Liturgi Ekaristi; dan (4) Perutusan yang merupakan bagian terakhir dari Perayaan Ekaristi (lihat Surat Gembala Prapaskah 2012 Keuskupan Agung Jakarta, 5). Jadi, dapat kita katakan bahwa dua bagian pokok dari perayaan Ekaristi adalah Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi (yang bermuara pada komuni kudus). Oleh karena itu tidak mengherankanlah apabila dikatakan ada dua meja dalam perayaan Ekaristi: (1) Meja Sabda Allah (Inggris: The Table of the Word of God); dan (2) Meja Roti Tuhan (Inggris: The Table of the Bread of the Lord), yang satu tidak dapat ada tanpa meja yang lain. Uraian tentang kedua meja itu dapat dibaca dalam ‘Surat Paus Yohanes Paulus II tanggal 24 Februari 1980 Dominicae Cenae (Judul dokumen dalam bahasa Inggris: The Holy Eucharist) tentang Misteri dan Kebaktian Penyembahan Ekaristi Kudus (Bagian III).

Kritik negatif yang mengatakan bahwa Perayaan Ekaristi tidak alkitabiah sangat tidak mengenai sasaran. Ada sebuah buku karangan Romo Peter M.J. Stravinskas[5] yang dengan jelas mengemukakan betapa alkitabiahnya Misa atau Perayaan Ekaristi Kudus itu.

Kristus dan Perayaan Ekaristi. Katekismus Gereja Katolik (KGK) menyatakan: “Kristus sendiri, Imam Agung abadi Perjanjian Baru, mempersembahkan kurban Ekaristi melalui pelayanan imam. Demikian juga Kristus sendirilah menjadi bahan persembahan dalam kurban Ekaristi. Ia sendiri sungguh hadir dalam rupa roti dan anggur” (KGK, 1410). Memang, selebran utama dalam Misa adalah Kristus sendiri. Selebran sekunder adalah imam tertahbis yang berdiri di altar in persona Christi. Katekismus Gereja Katolik menyatakan: “Hanya para imam yang ditahbiskan secara sah, dapat memimpin upacara Ekaristi dan menkonsekrir roti dan anggur supaya menjadi tubuh dan darah Kristus” (KGK, 1411).

Sesungguhnya perayaan Ekaristi adalah tindakan Kristus sendiri bersama umat Allah yang tersusun secara hirarkis. Baik Gereja universal dan Gereja partikular, maupun bagi setiap orang beriman, Ekaristi merupakan pusat seluruh kehidupan Kristiani. Sebab dalam perayaan Ekaristi terletak puncak karya Allah menguduskan dunia, dan puncak karya manusia memuliakan Bapa surgawi lewat Kristus, Putera Allah, dalam Roh Kudus. Kecuali itu, perayaan Ekaristi merupakan pengenangan misteri penebusan sepanjang tahun. Dengan demikian, boleh dikatakan misteri penebusan tersebut dihadirkan untuk umat. Segala perayaan ibadat lainnya, juga pekerjaan sehari-hari dalam kehidupan Kristiani, berkaitan erat dengan perayaan Ekaristi: bersumber dari padanya dan tertuju kepadanya (lihat PUMRB, 16).

Oleh karena itu, sungguh penting untuk mengatur perayaan Ekaristi atau Perjamuan Tuhan tersebut sedemikian rupa sehingga para pelayan dan umat beriman lainnya, dapat turut ambil bagian dalam perayaan itu menurut tugas dan peran masing-masing, serta dapat memetik buah-hasil Ekaristi sepenuh-penuhnya. Itulah yang dikehendaki Kristus ketika menetapkan kurban ekaristis Tubuh dan Darah-Nya. Dengan maksud itu pula Ia mempercayakan misteri ini kepada Gereja, mempelainya yang terkasih, sebagai kenangan akan wafat dan kebangkitan-Nya (PUMRB, 17). Jadi, dalam Misa setiap orang mempunyai tugas untuk dilaksanakan sebagai akibat imamat-umum yang diterimanya pada waktu baptisan (tentang imamat-umum bacalah Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium tentang Gereja, 34).

Berbagai macam cara Kristus hadir dalam perayaan Ekaristi. Hal ini sudah disinggung oleh para Bapak Konsili Vatikan II sebagai berikut: “Untuk melaksanakan karya yang begitu besar, Kristus selalu mendampingi Gereja-Nya, terutama dalam kegiatan-kegiatan liturgis. Ia hadir dalam Kurban Misa, baik dalam pribadi pelayan, ‘karena samalah Dia yang kini mempersembahkan diri lewat pelayanan iman dengan Dia yang dulu mengurbankan diri di kayu salib’ (Konsili Trente, Sidang XXII, 17 September 1562), maupun terutama dalam rupa Ekaristi. Dengan kekuatan-Nya Ia hadir dalam sakramen-sakramen, sehingga bila seseorang melakukan pembaptisan, Kristus sendirilah yang membaptis. Ia hadir  dalam sabda-Nya, karena Ia sendirilah yang berbicara bilamana di dalam Gereja Kitab Suci dibacakan. Akhirnya Ia hadir bila Gereja memohon dan bermazmur, sebab Ia telah berjanji, ‘Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di sana Aku  berada di tengah-tengah mereka’ (Mat 18:20)” (Sacrosanctum Concilium, 7).

Berbagai macam cara Kristus hadir ini ditekankan kembali oleh Paus Paulus VI dalam Ensikliknya, Mysterium Fidei, tanggal 3 September 1965 (butir 35 s/d 38). “Kehadiran nyata” par excellence Kristus dalam Sakramen Ekaristi disoroti secara istimewa dalam butir 38, namun dengan tetap menyatakan bahwa beberapa kehadiran-Nya yang lain juga sebenarnya “nyata” (riil). Instruksi Eucharisticum Mysterium (Misteri Ekaristi) tanggal 25 Mei 1967 yang diterbitkan oleh Kongregasi Suci Ritus menyatakan seperti berikut: “Supaya para beriman memperoleh pengertian yang lebih mendalam tentang misteri Ekaristi, mereka hendaknya diajar tentang cara-cara pokok bagaimana Kristus hadir dalam Gereja-Nya lewat perayaan-perayaan liturgi” (Eucharisticum Mysterium, 9). Selanjutnya, dalam Surat Apostolik Vicesimus Quintus Annus (Love your Mass) dari Paus Yohanes Paulus tanggal 4 Desember 1988 dalam rangka memperingati 25 tahun penerbitan Konstitusi Sacrosanctum Concilium, disoroti lagi cara-cara Kristus yang selalu hadir dalam Gereja-Nya, teristimewa dalam perayaan-perayaan liturgis (Vicesimus Quintus Annus, 7).

Partisipasi dalam Perayaan Ekaristi. Di atas sudah disinggung pentingnya untuk memanfaatkan semua unsur dan bentuk perayaan yang disediakan oleh Gereja. Hal tersebut memungkinkan umat berpartisipasi secara lebih aktif dan memetik manfaat lebih besar bagi kepentingan rohaninya. Semua itu dilaksanakan dengan memperhatikan kekhususan umat dan tempat (lihat PUMRB, 20).

Perayaan Ekaristi memang mensyaratkan partisipasi umat secara aktif. Tanpa partisipasi, kiranya kita tidak dapat memperoleh apa-apa dari perayaan Ekaristi atau Misa itu. Para Bapak Konsili Vatikan II sejak awal menekankan: “Jangan sampai umat beriman menghadiri misteri iman itu (Ekaristi Suci) sebagai orang luar atau penonton yang bisu, melainkan supaya melalui upacara dan doa-doa memahami misteri itu dengan baik, dan ikut-serta penuh khidmat dan secara aktif. Hendaknya mereka rela diajar oleh sabda Allah, disegarkan oleh santapan Tubuh Tuhan, bersyukur kepada Allah. Hendaknya sambil mempersembahkan Hosti yang tak bernoda buka saja melalui tangan imam melainkan juga bersama dengannya, mereka belajar mempersembahkan diri, dan dari hari ke hari – berkat perantaraan Kristus – makin penuh dipersatukan dengan Allah dan antara mereka sendiri, sehingga akhirnya Allah menjadi segalanya dalam semua” (Sancrosanctum Concilium, 48).

Sumber-sumber selain Kitab Suci: (1) Konstitusi Sacrosanctum Concilium tentang Liturgi Suci [4-12-1963]; (2) Dekrit Presbyterorum Ordinis tentang Pelayanan dan Kehidupan Para Imam [7-12-1965]; (3) Instruksi Eucharisticum Mysterium tentang Misteri Ekaristi [25-5-1967]; (4) Surat Paus Yohanes Paulus II Dominicae Cenae [24-2-1980]; (5) Surat Apostolik Vicesimus Quintus Annus untuk memperingati 25 tahun penerbitan Konstitusi Sacrosanctum Concilium tentang Liturgi Suci [4-12-1988]; (6) Katekismus Gereja Katolik; (7) Anthony M. Buono, Active Participation at Mass; (8) Xavier Léon-Dufour, Ensiklopedi Perjanjian Baru; (9) PEDOMAN UMUM MISALE ROMAWI – BARU; (10) Rev. Peter M.J. Stravinskas, The Bible and the Mass – Understanding the Scriptural Basis of the Liturgy; (11) KITAB HUKUM KANONIK (CODEX IURIS CANONICI); (12) Lain-lain.

Cilandak, 24 Februari 2012

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS


[1] Untuk “refreshing”, saya menganjurkan anda untuk membaca (lagi), ‘Konstitusi Dogmatis LUMEN GENTIUM tentang Gereja’, 5-8).

[2] Terjemahan Inggris terasa lebih tajam: “Through Christ our Lord You give us all these gifts. You fill them with life and goodness, You bless them and make them holy”; THE WEEKDAY MISSAL – A NEW EDITIONS – Collins, hal. 1311.

[3] Uraian mengenai “roti”, “Tubuh Ekaristis Kristus”, “Anggur” dan “Darah” berikut ini bersumber pada penjelasan-penjelasan yang ada dalam Xavier Léon-Dufour, ENSIKLOPEDI PERJANJIAN BARU, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1990.

[4] Anthony M. Buono, Active Participation at Mass, New York: Alba House [AMB], hal. 5.

[5] THE BIBLE AND THE MASS – UNDERSTANDING THE SCRIPTURAL BASIS OF THE LITURGY, Ann Arbor,Michigan: Servant Publications,  1989.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 76 other followers