Posts from the ‘EKARISTI-IMAM-GEREJA’ Category

EKARISTI MEMPERSATUKAN KITA SEMUA DALAM KRISTUS

EKARISTI MEMPERSATUKAN KITA SEMUA DALAM KRISTUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Senin, 17 September 2012

Keluarga Fransiskan: Pesta Stigmata Bapa Kita Fransiskus

Dalam petunjuk-petunjuk berikut ini, aku tidak dapat memuji kamu, sebab pertemuan-pertemuanmu tidak mendatangkan kebaikan, tetapi mendatangkan keburukan. Sebab pertama-tama aku mendengar bahwa apabila kamu berkumpul sebagai jemaat, ada perpecahan di antara kamu, dan hal itu sedikit banyak aku percaya. Sebab di antara kamu harus ada perpecahan, supaya nyata nanti siapa di antara kamu yang tahan uji. Apabila kamu berkumpul, kamu bukanlah berkumpul untuk makan perjamuan Tuhan. Sebab pada perjamuan itu tiap-tiap orang memakan dahulu makanannya sendiri, sehingga yang seorang lapar dan yang lain mabuk. Apakah kamu tidak mempunyai rumah sendiri untuk makan dan minum? Atau apakah kamu hendak menghina jemaat Allah dan mempermalukan orang-orang yang tidak mempunyai apa-apa? Apakah yang kukatakan kepada kamu? Memuji kamu? Dalam hal ini aku tidak memuji.

Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata, “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan dengan darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!” Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang. Jadi, siapa saja dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. (1Kor 11:17-26)

Mazmur Tanggapan: Mzm 40:7-10,17; Bacaan Injil: Luk 7:1-10 

Paulus telah tinggal bersama umat di Korintus untuk jangka waktu yang cukup lama. Oleh karena itu dia mampu untuk tidak sungkan-sungkan berbicara secara terbuka kepada mereka tentang kesulitan-kesulitan yang mereka sedang alami.

Melalui suratnya ini, Paulus menunjukkan bahwa keprihatinannya yang utama adalah adanya perpecahan dalam Gereja di sana, perpecahan yang termanifestasikan sendiri manakala mereka berkumpul bersama untuk makan dan merayakan Ekaristi.

Pada zaman Paulus, Ekaristi merupakan bagian dari suatu makan bersama secara komunal, yang barangkali saja mengambil tempat di rumah salah seorang anggota jemaat. Pada perjamuan inilah perpecahan antara para anggota jemaat paling nyata terlihat. Ada faksi-faksi (faksionalisme). Orang-orang makan dalam klik-klik yang terpisah-pisah; mereka yang tergolong “the haves” tidak berbagi dengan mereka lapar (teristimewa yang miskin); bahkan ada yang mabuk-mabukan sebelum perayaan Ekaristi! Paulus menantang umat di Korintus untuk melakukan pemeriksaan/pengujian bagaimana relasi mereka satu sama lain sebelum menerima tubuh dan darah Kristus, kalau mereka sungguh-sungguh tidak mau dihukum oleh Allah karena mereka mereka menerima tubuh dan darah Kristus itu secara tidak layak (1Kor 10:27-29).

Dalam Ekaristi kita semua syering dalam satu tubuh Yesus Kristus. Adalah hasrat terdalam Allah bahwa dari Sakramen ini mengalirlah kebersatuan, karena masing-masing pribadi dibersatukan dengan Kristus dalam satu tubuh. Ekaristi tidak hanya membuat kita menjadi satu dalam Kiristus, melainkan juga merupakan suatu sumber kuasa ilahi untuk mengatasi segala perpecahan dan ketidak-akuran antara para warga Gereja Kristus. Kita harus melakukan pemeriksaan atas nurani kita sebelum kita berjalan mendekati altar dan berdoa dengan ketulusan hati untuk persatuan dengan segenap saudari dan saudara dalam Kristus.

Pada waktu mereka merenungkan sifat Gereja dan hubungan eratnya dengan Ekaristi, maka para Bapak Konsili Vatikan II berusaha untuk mengajar  semua umat yang percaya tentang kebersatuan yang harus kita capai sesuai panggilan kita sebagai umat Kristiani: “Setiap kali di altar dirayakan korban salib, tempat ‘Anak Domba Paska kita, yakni Kristus, telah dikorbankan’ (1Kor 5:7), dilaksanakan karya penebusan kita. Dengan sakramen roti ekaristis itu sekaligus dilambangkan dan dilaksanakan kesatuan umat beriman, yang merupakan satu tubuh dalam Kristus (lihat 1Kor 10:17). Semua orang dipanggil ke arah persatuan dengan Kristus itu. Dialah terang dunia. Kita berasal dari pada-Nya, hidup karena-Nya, menuju kepada-Nya (Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium tentang Gereja, 3).

DOA: Bapa surgawi, selagi kami berkumpul bersama untuk merayakan penebusan diri kami dalam Kristus, semoga kami dibersatukan satu sama lain. Tolonglah kami untuk menguji hati kami, untuk bertobat karena perpecahan dan konflik – di atas permukaan maupun tersembunyi rapih di bawah permukaan – yang terjadi dalam jemaat kami, yaitu antara umat awam dengan umat awam, antara klerus dan dan awam, dan antara klerus dan klerus. Tolonglah kami semua untuk sungguh mengasihi semua orang yang turut mengambil bagian dalam makan tubuh dan minum darah Kristus. Oleh Roh Kudus-Mu, buatlah Gereja-Mu sungguh satu melalui korban Kristus, Putera-Mu yang terkasih. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN SEJATI DI KAPERNAUM” (bacaan tanggal 17-9-12) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2012. Bacalah juga tulisan dengan judul “IMAN SEBESAR INI TAK PERNAH AKU JUMPAI” (bacaan tanggal 12-9-11) dalam situs/blog SANG SABDA; kategori: 11-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2011. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-9-10 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 5 September 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ROH-LAH YANG MEMBERI HIDUP

ROH-LAH YANG MEMBERI HIDUP

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXI – 26 Agustus 2012) 

Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata, “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” Yesus yang di dalam hati-Nya tahu bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu, berkata kepada mereka, “Apakah perkataan itu mengguncangkan kamu? Bagaimana jika kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada? Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup. Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya.” Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia. Lalu Ia berkata, “Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.” Mulai saat itu banyak murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.

Lalu kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Jawab Simon Petrus kepada-Nya, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkaulah Yang Kudus dari Allah.” (Yoh 6:60-69)

Bacaan Pertama: Yos 24:1-2,15-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-3,16-23; Bacaan Kedua: Ef 5:21-32 

Kata-kata Yesus tentang makan daging-Nya dan minum darah-Nya terlalu keras bagi sebagian dari murid-murid-Nya. Sebagai akibatnya, banyak dari mereka pergi dan tidak lagi mengikuti-Nya. Hal ini mendorong Yesus untuk bertanya kepada kedua belas murid-Nya apakah mereka juga meninggalkan diri-Nya. Petrus berbicara untuk mayoritas para murid ketika dia menjawab pertanyaan Yesus: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkaulah Yang Kudus dari Allah” (Yoh 6:68-69).

Dasar dari proklamasi iman Petrus itu adalah bahwa Bapa surgawi telah menyatakan kepada dirinya bahwa Yesus adalah Kristus (Mat 16:16-17). Pada saat itu, Petrus barangkali tidak memahami secara lebih mendalam tentang kedalaman apa yang dikatakan Yesus ketimbang para murid lainnya. Akan tetapi, Petrus tahu bahwa kata-kata Yesus membawa kehidupan bagi dirinya dengan cara yang tidak pernah dilakukan oleh apa/siapa pun sebelumnya. Petrus tahu bahwa dia dapat mempercayakan hidupnya kepada Yesus secara penuh-lengkap-total. Petrus tidak mengatakan bahwa dia mengikuti Yesus kasrena sudah tidak ada lagi pilihan/opsi lainnya. Bapa surgawi telah memampukan dirinya untuk melihat bahwa Yesuslah Dia dan satu-satunya sumber kehidupan sejati dan kasih yang sejati.

Bapa surgawi juga ingin menolong kita untuk berkata seperti Petrus: “Tuhan, Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal. Kami telah percaya dan tahu bahwa Engkaulah Yang Kudus dari Allah.” Allah telah mengutus Roh Kudus untuk berdiam dalam diri kita dan mengajar kita kebenaran ini. Roh Kudus ingin meyakinkan kita bahwa Yesus adalah Kristus (Mesias).

Yesus bersabda: “Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna”  (Yoh 6:63). Yang dimaksudkan oleh Yesus di sini adalah, bahwa kita tidak akan mampu memahami Siapa diri Yesus sesungguhnya dan makna dari kata yang disabdakan-Nya kepada kita kalau kita menggunakan pikiran kita semata. Kita membutuhkan pencerahan ilahi dari Roh Kudus. Inilah yang tidak dimiliki oleh para murid yang pergi meninggalkan Yesus, malah dengan mengatakan bahwa kata-kata-Nya “terlalu sulit/keras”.  Ini pula yang dapat menjadi tanggapan kita, jikalau kita tidak memperkenankan Roh Kudus untuk mengajarkan kita kebenaran tentang Yesus dan sabda-Nya.

DOA: Allah yang Mahakuasa, kekal, adil dan berbelaskasihan, Engkau yang dalam tritunggal yang sempurna dan dalam keesaan yang sederhana. Di hadapan hadirat-Mu aku menyatakan bahwa aku belum pernah menemukan kehidupan yang sejati dan tahan lama dari siapa/apa pun juga yang ada di dalam dunia ini. Aku mengakui bahwa kehidupan sejati hanya ada di dalam surga. Aku juga menyadari bahwa Engkau sungguh rindu untuk membuktikan bahwa hanya Engkaulah yang dapat memberikan kehidupan kepadaku. Terima kasih Bapa, terima kasih Yesus Kristus, dan terima kasih Roh Kudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:60-69), bacalah tulisan berjudul “YESUS TIDAK PERNAH MENJANJIKAN JALAN YANG MUDAH” (bacaan tanggal 26-8-12) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2012. 

Cilandak, 20 Agustus 2012 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ROTI KEHIDUPAN YANG TELAH TURUN DARI SURGA

ROTI KEHIDUPAN YANG TELAH TURUN DARI SURGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XX – Minggu, 19 Agustus 2012) 

“Akulah roti kehidupan yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang akan Kuberikan itu ialah daging-Ku yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”

Orang-orang Yahudi pun bertengkar antara sesama mereka dan berkata, “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan?” Karena itu, kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku benar-benar makanan dan darah-Ku benar-benar minuman. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari surga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Siapa saja yang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.” (Yoh 6:51-58)

Bacaan Pertama: Ams 9:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-3,10-15; Bacaan Kedua Ef 5:15-20

“Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku” (Yoh 6:57). Di sini Yesus mengatakan bahwa Bapa surgawi adalah “Bapa yang hidup”, dan diri-Nya sendiri “hidup oleh Bapa”. Allah Bapa adalah sumber segala kehidupan. Itulah sebabnya mengapa Dia dinamakan “Bapa”. Sejak awal mula Allah telah memberikan kehidupan kepada Putera-Nya. Bagi Putera-Nya, untuk menjadi “Putera” berarti Dia memperoleh kehidupan dari Bapa. Kabar Baik di sini adalah bahwa kita dapat ikut ambil bagian dalam hidup kekal yang bersifat ilahi dari Bapa dan Putera secara berwujud. Bagaimana dapat begitu?

Yesus memproklamasikan diri-Nya sebagai “roti kehidupan yang telah turun dari surga” (Yoh 6:51). Perhatikan frase unik “roti kehidupan” ini. Kita berpikir mengenai roti yang memberikan kehidupan bagi kita, namun kita tidak biasa menyebut roti itu hidup. Yesus adalah roti kehidupan berdasarkan dua alasan. Pertama-tama, Yesus memiliki hidup ilahi dari Bapa surgawi. Kedua, Bapa surgawi telah membangkitkan Yesus dan membuat-Nya menjadi Tuhan Kehidupan yang bangkit. Bapa telah memberikan Yesus kehidupan kekal sebagai Allah dan sebagai manusia yang bangkit.

Yesus adalah roti kita yang sejati karena Dia turun dari surga dari Bapa; Dia menjadi manusia. Yesus adalah pemberian kehidupan dari Bapa bagi dunia. Dalam Ekaristi, Bapa melanjutkan memberikan Yesus sebagai roti yang memberikan kehidupan. Dalam Ekaristi, kita makan tubuh dan minum darah Yesus. Putera ilahi, sekarang Tuhan yang bangkit, menjadi makanan kita untuk kehidupan kekal.

Inilah sebabnya mengapa Yesus begitu penuh empati di tengah-tengah keraguan  orang-orang Yahudi. “Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman” (Yoh 6:54). Dengan makan tubuh-Nya dan minum darah-Nya, kita tinggal di dalam Yesus dan Ia dalam kita (lihat Yoh 6:56). Dengan berdiam dalam Yesus kita juga tinggal dalam Bapa, yang merupakan sumber kehidupan.

Ekaristi mempunyai efek yang sangat penuh kuat-kuasa. Ekaristi memberikan kepada kita kehidupan kekal di sini dan sekarang selagi kita ikut ambil bagian dalam keilahian Yesus. Kehidupan kekal bukan saja sesuatu yang kita terima pada saat kematian kita; karena kita telah memilikinya. Lagi pula, tubuh dan darah Yesus membuat diri kita imun terhadap kematian atau maut. Karena kita hidup dalam Yesus sekarang, maka kita akan hidup bersama-Nya untuk kehidupan kekal.

Ekaristi adalah suatu misteri agung karena dengan mengambil bagian di dalamnya kita ditransformasikan ke dalam keserupaan dengan Kristus. Kita menjadi ikut ambil bagian dalam kebangkitan-Nya. Kita menjadi berdiam dalam Putera dan hidup sebagai anak-anak Bapa surgawi, walaupun kita samasekali tidak pantas menerima anugerah yang sedemikian besar dan agung.

DOA: Bapa surgawi, kami percaya bahwa dengan memakan tubuh Kristus dan minum darah-Nya dalam Ekaristi, maka kami akan tinggal di dalam Dia dan Ia dalam kami. Dengan berdiam di dalam Dia, maka kami pun akan tinggal di dalam Engkau, sumber segala kehidupan. Terima kasih Bapa untuk anugerah Ekaristi bagi umat-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:51-58), bacalah tulisan yang berjudul “AKULAH ROTI KEHIDUPAN YANG TELAH TURUN DARI SURGA” (bacaan tanggal 26-6-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM ini; kategori 11-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2011. Untuk pendalaman pribadi atas tema “Roti Kehidupan” ini, saya menganjurkan anda membaca tulisan berjudul “YESUS KRISTUS ADALAH ROTI KEHIDUPAN” tanggal 14 Januari 2010; “CORPUS CHRISTI” tanggal 6 Juni 2010; dan “AKULAH ROTI KEHIDUPAN” tanggal 10 Mei 2011; dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com. Carilah dalam kategori: EKARISTI, IMAM DAN IMAMAT. 

Cilandak, 13 Juni 2012 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENDIDIK ANAK-ANAK KITA TENTANG EKARISTI

MENDIDIK ANAK-ANAK KITA TENTANG EKARISTI 

Dalam tulisan ini ditekankan pentingnya peran orang tua untuk terlibat dalam “pendidikan” anak-anak mereka berkaitan dengan Ekaristi, dalam rangka menyiapkan mereka menerima Komuni pertama dan juga bina lanjut sampai memasuki usia dewasa.

Keterlibatan para orang tua dalam pendidikan rohani anak-anak mereka

Setiap saat anak-anak kita menerima Ekaristi (Komuni Kudus), mereka sebenarnya secara pribadi berpartisipasi dalam peristiwa paling penting yang pernah ada/terjadi dalam sejarah. Perspektif ini harus meyakinkan kita tentang tanggung-jawab kita sebagai orang tua dalam menyiapkan anak-anak kita untuk menerima Komuni Pertama dan dalam pembinaan selanjutnya sampai saatnya mereka memasuki usia dewasa. Sebagai orangtua, kita begitu banyak memakai waktu, pikiran dan tenaga dalam mempersiapkan anak-anak kita untuk hidup mereka sebagai anggota masyarakat. Misalnya, kita menggunakan banyak sekali waktu untuk melatih anak-anak kita membaca, menulis, memecahkan soal-soal matematika karena tanpa keterampilan dalam kegiatan membaca-menulis dan hitung-menghitung, anak-anak kita tidak akan sangat berhasil dalam kehidupannya sebagai seorang pribadi manusia di tengah masyarakat.

Bagaimana halnya dengan pendidikan anak-anak oleh para orang tua mereka dalam bidang “kehidupan rohani”? Pada umumnya terasa kurang, apabila dibandingkan dengan usaha yang pertama disebutkan tadi! Mengapa? Karena kita-manusia menghayati kehidupan sekular dalam sebuah dunia yang adalah sekular pula, hampir tidak menyadari bahwa Yesus Kristus telah membuat dunia ini menjadi sebuah dunia yang sakramental: “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru” (Why 21:5) – sebuah dunia di mana setiap kegiatan dan setiap peristiwa dapat menjadi sarana rahmat ilahi yang membawa manusia kepada keselamatan (Anthony M. Buono, “Active Participation at Mass – What It Is and How to Attain It”, New York: Alba House, 1994, hal.1).

Sebenarnya sebagai orang tua, kita harus menyediakan waktu, pikiran dan tenaga dalam hal pembinaan anak-anak kita di bidang rohani ini karena hidup Kristiani membutuhkan iman, penyembahan, kasih dan banyak realitas lain yang tidak dapat dipelajari oleh anak-anak kita tanpa bantuan kita sebagai orangtua. Dalam hal ini, kita dapat melihat contoh sikap yang diberikan oleh Samuel ketika berbicara kepada bangsa Israel; “Aku akan mengajarkan kepadamu jalan baik dan lurus” (1Sam 12:23). Peran para orang tua Yahudi dalam mendidik anak-anak mereka sehubungan dengan praktek keagamaan sangatlah ditekankan dan dituntut dalam Perjanjian Lama (=Perjanjian Pertama), misalnya tentang “Kasih kepada Allah sebagai perintah yang utama”: “… haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun” (lihat Ul 6:7). Ekaristi adalah puncak hidup iman kita sebagai umat Kristiani. Dengan demikian, tugas kitalah sebagai orang tua untuk melibatkan diri mendidik anak-anak kita tentang pengetahuan dan pengalaman kita pribadi berkaitan dengan Ekaristi tersebut, karena pendidikan formal baik di sekolah maupun di paroki tidak akan mencukupi. Aliran, mazhab, tarekat, komunitas, spiritualitas atau apa pun namanya yang ada dalam Gereja, tidak akan bertahan lama, apabila tidak bertumpu pada pilar yang bernama EKARISTI ini!

Pada tahun 1981, Paus Yohanes Paulus menulis sebuah Anjuran Apostolik dengan judul FAMILIARIS CONSORTIO tentang “Peranan Keluarga Kristiani dalam Dunia Modern” (22 November 1981). Butir 26 dalam Anjuran Apostolik itu berjudul “Hak-Hak Anak-Anak”, di mana a.l. tercatat: “Sikap menerima, cintakasih, penghargaan, kepedulian terhahap anak yang lahir di dunia ini, perhatian dengan pelbagai seginya yang semuanya terpadu: di bidang jasmani, emosional, pendidikan dan rohani, semuanya itu selalu harus menjadi ciri khas yang pokok bagi semua orang Kristiani, khususnya bagi keluarga Kristiani. Begitulah anak-anak akan mampu bertambah ‘hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia’ [Luk 2:52]” (Familiaris Consortio, 26). Petikan ini hanya ingin menggaris-bawahi pentingnya keterlibatan kita dalam pendidikan rohani anak-anak kita.

Pemahaman tentang Ekaristi

Kebanyakan orang tua kurang terlibat dalam pembinaan anak-anak mereka di bidang rohani, teristimewa Ekaristi, bukan hanya disebabkan oleh kesibukan bisnis/pekerjaan sehari-hari, melainkan mungkin sekali juga karena mereka sendiri tidak/kurang memahami hal-ikhwal Ekaristi itu, misalnya Ekaristi sebagai Kurban, Ekaristi sebagai Kenangan, Ekaristi sebagai pemberian-diri Kristus bagi kita, dlsb.

Penghargaan kita terhadap Ekaristi dapat bertumbuh melalui pembacaan dan permenungan Kitab Suci. Misalnya sabda Yesus berikut ini: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku benar-benar makanan dan darah-Ku benar-benar minuman. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian jug siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku” (Yoh 6:53-57). Beberapa teks Kitab Suci lainnya yang menyangkut Ekaristi adalah sebagai berikut: (1) Penampakan Yesus yang sudah bangkit kepada dua orang murid di tengah jalan menuju Emaus (Luk 24:13-35); (2) Teks tentang Ekaristi yang tertua (1Kor 11:23-25); (3) Ekaristi yang pertama dalam Injil (Mat 26:26-29; Mrk 14:22-25; Luk 22:19-20); (4) Diskursus terakhir dari Yesus dengan latar belakang Perjamuan Terakhir (Yoh 13-17); (5) Pengorbanan Yesus (Ibr 9:11-10:25).

Pendekatan terhadap Ekaristi yang saya usulkan adalah membayangkan diri kita seperti Simon Petrus yang berkata kepada Yesus beberapa saat setelah banyak dari murid Yesus pergi meninggalkan-Nya karena tidak sanggup mendengar ajaran-Nya yang keras: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkaulah yang Kudus dari Allah” (Yoh 6:68-69). Yesus adalah segalanya bagi Simon Petrus, tentunya juga bagi kita dan anak-anak kita. Yesus juga bersabda kepada Tomas pada malam sebelum sengsara dan wafat-Nya, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”  (Yoh 14:6). “Hanya Yesus, hanya Yesus, hanya Yesus!” Ini hanyalah sebuah lagu “sekolah Minggu” untuk anak-anak, tapi mengandung kebenaran yang tidak dapat diperdebatkan.

Ekaristi Kudus merupakan fondasi dari kehidupan kita sebagai umat Kristiani. Yesus Kristus menetapkan Sakramen ini pada Perjamuan Terakhir, yang diselenggarakan pada malam sebelum sengsara dan wafat-Nya. Ia mengambil roti dan mengubahnya menjadi tubuh-Nya, Ia mengambil anggur dan mengubahnya menjadi darah-Nya. Ia memerintahkan para rasul-Nya dan kita sekarang untuk makan tubuh-Nya dan minum darah-Nya. Dalam Ekaristi dihadirkan penderitaan dan wafat Kristus di kayu salib, dan juga janji-Nya akan kehidupan kekal. Kristus wafat dan bangkit untuk menyelamatkan kita dari dosa-dosa dan maut, dan memberikan hidup kekal kepada kita, sekarang dan selama-lamanya. Kepada Marta, Yesus bersabda, “Akulah kebangkitan dan hidup; siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati” (Yoh 11:25). Dengan kata lain, yang ingin dicapai oleh Yesus lewat penderitaan, wafat dan kebangkitan-Nya adalah “… supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah”  (Yoh 10:10).

Ekaristi menghadirkan kuasa penyelamatan Yesus dari salib dan kebangkitan-Nya. Itulah sebabnya, mengapa kita menyebutnya sebagai suatu kurban. Ekaristi memberi kemungkinan persekutuan (Latin: communio) kita dengan rahmat itu. Itulah sebabnya, mengapa kita menyebutnya sebagai suatu makanan. Ekaristi adalah suatu makanan kurban. Suatu persembahan kurban tanpa communio akan berarti bahwa kita tidak turut ambil bagian dalam rahmat penyelamatan Kristus. Sebaliknya, suatu communio tanpa kurban berarti kita hanya mendapat makanan tanpa kuasa penyelamatan. Yesus hadir dalam Ekaristi sebagai sang Juruselamat yang tersalib dan bangkit. Yesus hadir dalam Ekaristi sebagai Roti Kehidupan. Dengan Yesus yang utuh ini kita melakukan percakapan dalam doa.

Keteladanan orang tua

Para katekis yang terlibat dalam bina-iman anak-anak yang akan menyambut Komuni Pertama memang banyak berjasa, namun demikian mereka tidak melakukan semuanya yang diperlukan bagi anak-anak itu. Mengapa? Karena diperlukan bina-lanjut bagi anak-anak itu yang hanya dapat diberikan oleh orangtua mereka masing-masing. Kita harus menyadari bahwa banyak faktor eksternal yang mengancam anak-anak kita dalam pertumbuhan mereka sebelum memasuki usia dewasa, a.l. dari berbagai macam media. Para orangtua tetap merupakan pengaruh utama dalam kehidupan anak-anak itu. Keteladanan Kristiani para orang tua merupakan faktor utama yang membentuk iman-Katolik anak-anak kita, lebih dari faktor-faktor lainnya. Tanpa keteladanan orangtua, anak-anak kita kiranya tidak akan menerapkan apa yang mereka pelajari dari pendidik agama yang formal, baik dari sekolah (Katolik) maupun dari paroki.

Sejak masih kecil sekali dan sebelum menerima Komuni Pertama, anak-anak kita mempunyai pengalaman sedikit demi sedikit berkaitan dengan pendekatan kita sendiri – para orang tua – terhadap sakramen; dan pengalaman itu pun semakin menumpuk. Kesiapan anak-anak kita untuk menerima Komuni pertama sebenarnya lebih banyak dipengaruhi oleh hal ini daripada pendidikan oleh para katekis khusus untuk komuni pertama. Apabila kita sebagai para orangtua “santai-santai saja” atau “tanpa komitmen” dalam hal Ekaristi, atau bilamana kita mempunyai ide yang keliru atau tidak matang tentang Ekaristi itu, maka kita pun dapat melihat bahwa anak-anak kita sharing sikap dan kesalahpahaman yang sama. Misalnya, apabila kita memandang Misa Kudus sebagai sekadar tugas-kewajiban kita pada hari Minggu, maka susahlah bagi kita untuk mengharapkan anak-anak kita mempunyai suatu pengalaman yang sangat kaya berkaitan dengan Ekaristi ini. Sebaliknya apabila kita memiliki penghargaan yang matang terhadap Ekaristi dan membangun kehidupan pribadi dan keluarga kita di sekitar kehadiran Tuhan, maka anak-anak kita pun akan cenderung untuk melakukan hal yang sama.

Relasi pribadi dengan Yesus Kristus

Sebelum kita berbicara kepada anak-anak kita tentang Ekaristi, maka kita harus memperhatikan fondasi-fondasi dari kehidupan kita sebagai orang Kristiani yang Katolik. Jikalau kita sendiri tidak mempunyai relasi pribadi dengan Tuhan Yesus, maka Ekaristi senantiasa akan merupakan tetek-bengek ritualistis belaka, bukannya sebagai jalan yang memimpin manusia kepada suatu “petualangan” spiritual yang besar. Agar dapat menjalin relasi pribadi dengan Allah seperti itu, kita melakukan tindakan-tindakan seperti berikut ini: (1) Mengenali kehadiran Tuhan; (2) Mengundang-Nya ke dalam kehidupan kita; (3) Menerima hidup baru yang diberikan oleh-Nya kepada kita; (4) Mengakui otoritas-Nya atas diri kita; (5) Mengorientasikan segala sesuatu di sekitar-Nya; (6) Berbicara secara terbuka dengan-Nya tentang kehidupan kita; (7) Melakukan apa yang diperintahkan-Nya kepada kita; (8) Menyembah Dia dengan segenap hati kita; (9) Menyadari unsur-unsur kurban dalam perayaan Ekaristi.

Tempat untuk memulai atau memperbaharui persahabatan kita dengan Tuhan adalah percakapan yang jujur dengan Dia. Kita harus mengatakan kepada-Nya dengan tulus perihal kebutuhan-kebutuhan kita, bertobat atas dosa-dosa kita, dan mohon kepada-Nya untuk membuka atau memperdalam relasi pribadi dengan kita. Yesus telah berjanji, “Jika seseorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan tinggal bersama-sama dengan dia” (Yoh 14:23).

Kita dapat berdoa kepada Tuhan Yesus seperti berikut: “Tuhan Yesus Kristus, utuslah Roh Kudus-Mu untuk menolong aku berbicara kepada-Mu tentang hidupku. Aku ingin mengenal-Mu lebih dekat lagi. Tolonglah aku agar dapat lebih menghargai Ekaristi serta membangun kehidupanku di sekitar kehadiran-Mu. Tunjukkanlah kepadaku bagaimana caranya memperkenalkan Engkau kepada anak-anak-Ku dan bagaimana caranya membesarkan mereka sebagai orang Kristiani Katolik yang setia. Terima kasih Tuhan. Amin.

Komunikasi antara orang tua dan anak-anak dalam keluarga

Keteladanan yang baik tidak hanya mencakup apa saja yang kita lakukan, melainkan juga kata-kata yang kita ucapkan. Seorang saksi tanpa kata-kata tidaklah cukup! Anak-anak dapat saya mengamati orangtua mereka yang setia menerima Komuni Kudus, namun mereka menafsirkannya dengan salah. Apabila anda sebagai orangtua tidak berbicara kepada anak-anak anda betapa anda mengasihi Tuhan Yesus dan bercerita kepada mereka mengenai pengalaman anda sendiri berkaitan dengan Ekaristi, maka contoh yang terbaik dapat kelihatan di mata mereka sebagai sekadar formalisme kosong. Partisipasi anda dalam peristiwa yang paling penting itu dapat terlihat oleh anak-anak anda sebagai sekadar mengikuti tata-cara karena anda harus melakukannya sedemikian.

Apabila anda belum pernah berbicara kepada anak-anak anda tentang Ekaristi, maka anda harus mulai berbicara mengenai Allah dan cara-cara-Nya. Anda harus melakukannya pada kesempatan yang tersedia ketika diadakan percakapan biasa antara para anggota keluarga. Anak-anak anda harus tahu betapa penting relasi anda dengan Tuhan Yesus, dan bagaimana anda sampai mengenal-Nya dan melayani-Nya. Berbicara mengenai Allah adalah sebuah sarana untuk mengakui kehadiran-Nya di tengah keluarga anda dan menciptakan konteks yang cocok untuk berbicara mengenai Ekaristi di tengah rutinitas harian anda.

Kesempatan-kesempatan untuk berbicara kepada anak-anak anda mengenai Ekaristi berkisar dari percakapan-percakapan biasa-santai sampai pada pengajaran formal. Kesempatan-kesempatan informal mencakup: (1) menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan seorang anak; (2) menjelaskan perilaku kita bilamana terdapat kemungkinan anak kita salah menafsirkan dimensi-dimensi spiritual dari tindakan-tindakan kita; (3) mengambil sebagai objek pelajaran-pelajaran yang menarik kebenaran-kebenaran tentang hidup Kristiani atau Ekaristi dari kejadian sehari-hari.

Yang dapat dilakukan dalam berkomunikasi dengan anak-anak kita – sebuah panduan 

  1. Bicaralah dengan anak-anak anda tentang pengalaman rohani anda sendiri dengan Tuhan Yesus, dan khususnya yang berkaitan dengan Ekaristi. Syering pribadi anda akan mempresentasikan Tuhan Yesus kepada mereka sebagai seseorang yang harus mereka kenal.
  2. Jelaskanlah kepada anak-anak anda tentang Ekaristi dengan menggunakan kata-kata anda sendiri dan sesederhana mungkin. Cobalah untuk tidak berteori dan “ngalor-ngidul”. Sekarang, anak-anak anda lebih membutuhkan kesaksian anda daripada ketepatan teologis – yang walaupun penting – dapat datang belakangan.
  3. Lakukanlah percakapan yang riil dengan anak-anak anda. Minimalisir pemberian kuliah, dan jauhkan ceramah. Buatlah anak-anak berbicara dengan menanyakan kepada mereka apa yang mereka rasakan dan pikirkan tentang satu topik. Jadilah pendengar yang baik!
  4. Dengarkanlah dengan penuh perhatian apa saja yang dikatakan anak-anak anda. Dengan demikian, anda dapat memperkirakan di mana anak-anak itu sekarang secara spiritual dan sampai berapa baik mereka memberi tanggapan terhadap percakapan-percakapan anda tentang Ekaristi.
  5. Dari hari ke hari, perhatikanlah kesempatan-kesempatan yang muncul untuk anda berbicara mengenai Ekaristi kepada mereka. Hal ini membantu mengajar anak-anak anda bahwa Ekaristi bukanlah sekadar urusan Hari Minggu, melainkan sebuah realitas setiap hari.
  6. Bangunlah diskusi-diskusi yang lebih formal tentang Ekaristi dan kebenaran-kebenaran Kristiani lainnya ke dalam kehidupan keluarga anda. Studi Alkitab atau pendalaman Kitab Suci tidak dilarang untuk dilakukan dalam lingkup keluarga. Hal ini menunjukkan kepada anak-anak anda bahwa pengetahuan dan pengalaman mereka akan Ekaristi itu penting bagi anda, orang tua mereka.
  7. Janganlah ragu untuk berbicara dengan anak-anak anda tentang topik-topik yang kelihatan sulit bagi mereka. Bukalah pikiran mereka dengan memberikan gambaran menyeluruh. Beberapa kebenaran yang tidak mereka pahami sekarang, dengan berjalannya waktu akan dimengerti juga. Hal-hal lainnya akan tetap merupakan misteri-misteri bagi mereka, seperti halnya bagi kita.
  8. Percayalah kepada Roh Kudus untuk membimbing anda dan meyakinkan anda bahwa anda akan melakukan suatu pekerjaan baik dalam berbicara dengan anak-anak anda tentang Tuhan dan Ekaristi. Kita menerima rahmat istimewa melalui Sakramen Pernikahan yang memperlengkapi kita untuk membesarkan anak-anak kita dalam iman.
  9. Last but not least, berdoalah senantiasa dalam hati di awal, di tengah dan di akhir proses komunikasi itu. Apabila anda menginginkan doa bersama dengan suara yang terdengar, pilihlah tempat dan saat yang tempat, seturut dorongan Roh Kudus dalam diri anda.

Beberapa pertanyaan untuk refleksi pribadi 

  1. Apakah anda menginginkan agar anak-anak anda menjadi orang Kristiani Katolik seperti anda?
  2. Apakah sikap dan praktek anda sehubungan dengan Ekaristi?
  3. Kapankah tepatnya saat-saat dalam pekan depan di mana anda akan mempunyai kesempatan berbicara dengan anak-anak anda tentang Ekaristi?

Cilandak, 25 Juni 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Catatan: Tulisan ini termuat dalam majalah MediaPASS Th. X/97, Juli 2012.

MENJADI KURBAN YANG HIDUP SEBAGAI PUJIAN BAGI KEMULIAAN ALLAH

MENJADI KURBAN YANG HIDUP SEBAGAI PUJIAN BAGI KEMULIAAN ALLAH 

Oleh karena itu, ya Bapa, sambil merayakan kenangan akan penebusan kami, kami mengenangkan Kristus yang telah wafat dan turun ke tempat penantian. Kami mengakui bahwa Ia telah bangkit dan naik ke surga, duduk di sisi kanan-Mu. Sambil mengharapkan kedatangan-Nya dalam kemuliaan, kami mempersembahkan pada-Mu Tubuh dan Darah-Nya; kurban yang berkenan pada-Mu dan membawa keselamatan bagi seluruh dunia.

Ya Bapa, sudilah memandang kurban ini yang telah Engkau sediakan sendiri bagi Gereja-Mu. Perkenankanlah agar semua yang ikut menyantap roti yang satu dan minum dari piala yang sama ini dihimpun oleh Roh Kudus menjadi satu tubuh. Semoga dalam Kristus, mereka menjadi kurban yang hidup sebagai pujian bagi kemuliaan-Mu. (DOA SYUKUR AGUNG IV) 

Perasaan atau mood kita (dan juga Imam selebran) dalam Perayaan Ekaristi dapat turun-naik, ada saat-saat di mana kita merasa “in”, mengalami semacam “Pengalaman Tabor” (Inggris: Tabor Experience); …… ada pula saat-saat di mana kita mungkin saja berkata, “Saya tidak mendapat apa-apa dari Misa tadi!” Ini sebuah realitas! Akan tetapi, perasaan semata seringkali tidak dapat digunakan untuk mengukur nilai sejati dari hal-hal yang penting dalam kehidupan kita semua.

Perjalanan bersama dengan Kristus

Untuk merayakan Ekaristi, imam selebran dan kita-umat yang hadir, hanya memerlukan iman-kepercayaan yang bebas dari emosi bahwa dalam Ekaristi itu, Kristus melakukan perjalanan bersama dengan kita dalam jalan yang sangat diperlukan bagi kehidupan, jalan pemberian-diri kepada Bapa surgawi dalam Roh Kudus. Memang tidak mudah untuk percaya bahwa mereka yang hadir dalam perayaan Ekaristi sebenarnya ikut ambil bagian dalam sebuah gerakan spiritual yang dahsyat, apabila kita menyaksikan sang imam selebran yang berdiri tenang pada altar dan umat beriman berlutut pada saat-saat hening konsekrasi.

Gerakan spiritual di mana Kristus melibatkan kita digambarkan sebagai berikut: Melalui kematian Kristus, kebangkitan-Nya dan kepemilikan Roh Kudus-Nya. Kematian, kebangkitan, pengutusan Roh Kudus adalah tahapan-tahapan yang harus dilalui dalam perjalanan kita masing-masing kepada Bapa surgawi. Kristus berjalan bersama dengan kita dalam perayaan Ekaristi.

Keikutsertaan dalam karya penyelamatan Kristus. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Santo Paulus menulis, “Tidak tahukah kamu bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian, kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia melalui baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya” (Rm 6:3-5). Semua ini sungguh terjadi, namun dengan cara yang kita tak dapat bayangkan, yaitu dengan suatu cara sakramental, yang tersembunyi di bawah tanda-tanda.

Dalam Ekaristi rahmat baptisan diperbaharui dan diintensifkan dalam diri kita karena dalam Ekaristi itu kita berpartisipasi lagi dalam karya penyelamatan Kristus.  Untuk alasan inilah setiap Misa Kudus merupakan suatu pembaharuan dari keberadaan kita masing-masing sebagai seorang Kristiani. Apa saja yang ke luar dari pokok ini akan mati atau paling sedikit akan menjadi diperlemah. Proses menjadi satu dengan Kristus semakin hari semakin mendalam dan bersifat pemberian-diri; Roh dari Allah-manusia Yesus Kristus semakin menguasai realitas kemanusiaan dari mereka yang sedang dalam perjalanan itu … dan pada suatu titik akan mencapai tujuan, yaitu Bapa surgawi. Perjalanan ini seharusnya menjadi lebih bersifat hakiki  ketimbang perjalanan-perjalanan lainnya yang kita lakukan selama hari bersangkutan.

Namun demikian kita harus ingat bahwa kita melakukan perjalanan bersama Kristus ini bukanlah sekadar untuk menjadi suci-suci sendiri, melainkan juga sebagai wakil dari banyak orang lain. Namun orang-orang lain ini juga harus bertanya kepada diri mereka sendiri apakah mereka ingin selalu hanya diwakili. Barangkali mereka dapat datang secara pribadi dan pada gilirannya mewakilkan orang-orang lain pula.

Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku. “Lima Perintah Gereja” (lihat Puji Syukur No. 7) tidak jarang dicap sebagai “tidak Alkitabiah”. Tiga butir dari kelima perintah itu menyangkut Ekaristi, teristimwa butir (1) yang menyangkut “kewajiban hari Minggu atau hari raya yang disamakan dengan hari Minggu). Apabila direnungkan dengan baik, bukankah perintah itu dapat ditelusuri kembali ke sabda Yesus sendiri: “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” (1Kor 11:24,25; Luk 22:19)?

Ekaristi merupakan sebuah tanda persahabatan sang imam selebran dan semua umat yang hadir dengan diri Yesus. Dengan begitu imam dan umat yang hadir memberi kontribusi pada pemenuhan – untuk umat zaman kita sekarang – apa yang diinginkan oleh Yesus dengan penderitaan, kematian dan kebangkitan-Nya: “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah” (Yoh 10:10).

Konsekrasi. Setiap kali imam selebran mengucapkan kata-kata konsekrasi dalam perayaan Misa, sebenarnya dia mengucapkan kata-kata yang sangat signifikan bagi siapa saja yang hadir. Mungkin saja seseorang yang baru pertama kalinya menghadiri perayaan Ekaristi akan lari tunggang-langgang karena dia tidak mau terlibat dalam upacara kanibalisme seperti yang terjadi dalam suku-suku bangsa primitif zaman dahulu. Mungkin ada juga yang mendatangi altar guna mencegah sang imam meneruskan “upacara gila” seperti itu. Mengapa sampai begitu? Renungkanlah kata-kata yang diucapkan sang imam selebran: “Terimalah dan makanlah: Inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagimu”; “Terimalah dan minumlah: Inilah piala Darah-Ku, Darah Perjanjian Baru dan Kekal, yang ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang demi pengampunan dosa. Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku” 

Orang-orang yang akan merayakan Ekaristi dalam kesempatan-kesempatan tertentu diminta untuk menaruh hosti ke dalam sebuah tempat yang disediakan di dekat pintu masuk. Ini merupakan praktek yang baik. Hal ini dapat dimaknai bahwa umat ingin menjadi persembahan kurban juga, sebuah hosti, dan mereka siap untuk masuk ke dalam kurban Yesus Kristus dan tentunya ke dalam konsekrasi juga. Tentu saja tidak banyak dari umat dengan sadar merefleksikan hal ini.

Roti perayaan Ekaristi ditransformasikan menjadi roti surgawi, artinya menjadi tubuh Kristus. Dengan cara yang serupa, para peserta perayaan Ekaristi ditransformasikan menjadi Tubuh Mistik Kristus; artinya mereka akan menjadi lebih lagi sebagai Gereja Kristus. Ini adalah suatu transformasi yang luarbiasa hebat dan tak terbayangkan; seorang pengada di dunia menjadi seorang pengada yang bukan dari dunia ini, seperti Kristus yang bukan dari dunia ini. Memang, harus kita semua akui, bahwa perubahan seperti ini jarang tercapai secara penuh dalam satu kali Misa Kudus saja.

Menjadi pribadi yang baru. Pribadi baru dari orang yang ditransformasikan diindikasikan dalam kata-kata: “Terimalah dan makanlah.” Selagi kita menerima dan makan tubuh Kristus, orang-orang lain juga dapat “memakan” tubuh kita. Dengan meneladan hidup Kristus, maka hidup kita pun menjadi suatu kehidupan bagi orang-orang lain: suatu kehidupan yang dipenuhi dengan kesibukan pelayanan untuk keselamatan manusia. Walaupun demikian, hal ini tak berarti bahwa kita melayani setiap orang setiap waktu, karena itu bukanlah yang dilakukan Yesus ketika Dia masih hidup di dunia. Namun apabila kita semakin menyerahkan ke-ego-an kita dan berupaya terus untuk mengenal kehendak Allah dalam setiap situasi, maka kehidupan kita akan menjadi “tubuh yang diserahkan bagimu”, seperti diucapkan dalam konsekrasi. Seringkali pemberian-diri kita bagi orang lain mengambil bentuk konkret, misalnya berada bersama mereka yang sakit, memberikan waktu dan energi kita untuk ikut-serta secara aktif dalam suatu pelayanan karitatif bagi masyarakat luas, dlsb.

Akan tetapi, yang lebih penting adalah, bahwa dedikasi bagi orang-orang lain dan pengorbanan-diri untuk keselamatan mereka mengambil bentuk suatu kehidupan yang sesuai dengan rencana Allah. Kehendak Allah selalu suatu kehendak untuk menyelamatkan, dan siapa saja yang melakukan kehendak Allah akan ikut ambil bagian dalam misi penebusan Yesus.

Hal yang hakiki bukanlah di mana kita tinggal dan berkarya, melainkan hanyalah kita berada di tempat di mana Allah menginginkan kita berada dan berkarya. Bahkan seorang Kristiani yang sedang sakit dan berada pada saat-saat menjelang kematian dapat dan harus memperkenankan diri mereka “didistribusikan” dan “dikonsumsi” seperti roti Ekaristi.

Bagi hidup seperti inilah Ekaristi dimaksudkan untuk menguduskan dan membuat kita qualified. Akan tetapi untuk itu kita harus memperkenankan transformasi itu sunguh terjadi dalam diri kita.  Itulah caranya bagaimana kita masuk ke dalam kurban Kristus yang “membawa keselamatan bagi seluruh dunia” (Doa Syukur IV).

Transformasi diri kita lebih penting daripada perubahan apa saja dari berbagai tradisi dan struktur dalam Gereja. Kita harus berubah dan menjadi seperti Yesus. Keselamatan dunia tergantung pada hal itu. Oleh karena itu marilah kita dengan tulus menjadi umat Kristiani yang progresif, pada saat kedatangan perubahan yang merupakan keharusan itu.

Catatan Penutup 

Karena Ekaristi, tidak ada lagi ungkapan seperti  “kehidupan yang tak berguna”. Tidak ada seorang pun dapat berkata: “Apa gunanya hidupku ini?” atau “Apa yang aku lakukan dalam dunia ini?” Kita ada dalam dunia karena satu alasan yang sangat mendalam dan agung, yaitu untuk menjadi suatu kurban yang hidup, untuk menjadi Ekaristi bersama Kristus.

Cilandak, 5 Juli 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERAYAAN-PERAYAAN EKARISTI UMAT KRISTIANI AWAL

PERAYAAN-PERAYAAN EKARISTI UMAT KRISTIANI AWAL 

Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata, “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata, “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan dengan darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!” Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang. (1Kor 11:23-26) 

Petikan dari surat Santo Paulus di atas adalah teks paling tua tentang Ekaristi yang terdapat dalam  Kitab Suci Perjanjian Baru. Dengan kata-kata yang tidak panjang-lebar dalam perjamuan terakhir ini, Yesus mengubah (mentransformasikan) perjamuan Paskah Yahudi menjadi sebuah perayaan perjanjian baru dan relasi baru dengan Bapa surgawi. 

Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku! 

Setelah kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga, para rasul dan orang-orang Kristiani perdana berkumpul untuk makan bersama seperti yang telah diperintahkan Yesus dalam perjamuan terakhir tersebut (Kis 2:41-42). Mereka mengulangi kata-kata Yesus: “Inilah tubuhku, inilah darah-Ku”. Mereka menjadi semakin sadar akan kehadiran-Nya di tengah-tengah mereka. Ternyata Yesus Kristus memang tidak meninggalkan serta menelantarkan mereka. Meskipun sudah duduk di sebelah kanan Allah Bapa di surga, Yesus masih tetap berada dekat dengan mereka! Memang Ia tidak kelihatan secara khasat mata, namun Ia memang ada di tengah-tengah mereka. Ia hadir secara misterius, tetapi tetap secara riil sebagai Tuhan dan Saudara mereka.

Orang-orang Kristiani perdana mengetahui, bahwa anugerah-Nya yang kemudian diberi nama Ekaristi ini bukanlah hanya untuk mereka nikmati sendiri. Anugerah ini harus dibagikan (disyeringkan) kepada orang-orang lain dalam “pemecahan roti”, dalam kesatuan cinta-kasih mereka kepada Allah dan cinta-kasih kepada sesama. Yohanes Penginjil bahkan menggambarkan upacara Perjamuan Terakhir secara lebih dramatis lagi daripada apa yang digambarkan oleh Santo Paulus dan para penginjil sinoptik. Perjamuan Terakhir dalam Injil Yohanes dimulai dengan sebuah pelajaran tentang pelayanan yang dilakukan dengan rendah hati: Yesus membasuh kaki para murid-Nya, kemudian berkata: “Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh 13:15).

Communio dengan Kristus dalam Ekaristi 

Santo Leo Agung (+461), Paus dan pujangga Gereja, menulis: “Keikut-sertaan kita dalam tubuh dan darah Kristus hanya cenderung membuat kita menjadi apa yang kita makan”.  Santo Paulus menulis: “Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan tubuh Kristus?” (1Kor 10:16). Kita terbiasa untuk menafsirkan kata-kata Santo Paulus ini dalam arti ikut mengambil bagian dalam keseluruhan pribadi Kristus melalui segala “unsur” yang membentuknya, yaitu tubuh-Nya, darah-Nya, jiwa-Nya, keilahian-Nya. Dalam bahasa alkitabiah, kata tubuh dan darah menunjukkan seluruh hidup Kristus, atau lebih tepat lagi hidup dan mati-Nya.

Kebenaran seperti ini membawa kita kepada sebuah kesimpulan penting: Tidak ada suatu saat atau pengalaman dalam hidup Kristus yang tidak dapat kita hidupkan kembali dan syeringkan dalam persekutuan (communio). Sesungguhnya keseluruhan hidup Kristus hadir dan diberikan dalam tubuh dan darah-Nya. Tergantung pada disposisi atau kebutuhan sesaat kita, kita dapat berada di samping Yesus yang berdoa, Yesus yang digoda, Yesus yang letih, Yesus yang wafat di kayu salib dan Yesus yang bangkit kembali – karena Yesus yang sama masih eksis dan hidup dalam Roh.

Kebenarannya adalah bahwa persekutuan Ekaristis melampaui perbandingan manusiawi apa saja yang dapat kita buat. Yesus memberi contoh tentang pokok anggur dan ranting-rantingnya. Pokok anggur dan ranting-rantingnya memang mengambil bagian dari hidup yang sama: kesatuan yang sangat erat. Karena tidak berjiwa, maka pokok anggur dan ranting-rantingnya tidak menyadari adanya kesatuan ini. Sepasang suami-istri membentuk satu daging, namun mereka tidak dapat membentuk satu roh. Sebaliknya, “… siapa saja mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia” (1Kor 6:17). Kekuatan dari persekutuan Ekaristis terletak pada kenyataan bahwa kita menjadi satu roh dengan Yesus, dan “satu roh” ini sesungguhnya adalah Roh Kudus! Dalam Ekaristi, kita semua (termasuk imam selebran) menjadi kurban bersama Yesus, sehingga setelah Misa selesai kita dapat berkata bersama Santo Paulus: “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:19-20).

Tradisi-Tradisi yang Paling Awal 

Walaupun perayaan Kristiani sehubungan dengan pemberian-diri Yesus ini kadang-kadang disebut “Perjamuan Tuhan” (1Kor 11:20), sebenarnya secara umum lebih dikenal sebagai “pemecahan roti” (Kis 2:41). Mengapa? Makan bersama di dalam keluarga-keluarga Yahudi selalu dimulai dengan suatu berkat atas roti, berkat yang dilakukan oleh sang kepala rumah tangga. Setelah diberkati, roti itu pun dipecah-pecahkan dengan tangan olehnya dan kemudian dibagi-bagikan sepotong-sepotong kepada setiap orang yang ada pada meja makan. Ini adalah suatu cara bersyukur kepada Allah untuk makanan dan tindakan-Nya mempersatukan para anggota keluarga yang ada pada meja makan. Perjamuan Terakhir dimulai dengan cara yang sama, dan umat Kristiani perdana mengacu pada upacara ini dengan menyebutkannya sebagai “pemecahan roti) karena mengingat ritus awalnya seperti dijelaskan di atas. Baru pada awal-awal abad kedua mulailah upacara makan bersama itu dinamakan “Ekaristi”, yang berasal dari kata Yunani “eukharistia”, yang berarti “berterima kasih”, “bersyukur”.

Tidak jelas sampai berapa sering umat Kristiani perdana merayakan perjamuan istimewa ini, barangkali paling sedikit sekali setiap pekan. Dalam budaya Semitis, hari dimulai pada senja sebelumnya, jadi hari Minggu, atau “Hari Pertama dalam Minggu” (Kis 20:7; 1Kor 16:2), sebenarnya dimulai pada senja hari Sabtu. Lukas, ketika menggambarkan kehidupan umat Kristiani perdana mengatakan, bahwa mereka “bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa” (Kis 2:42). Dengan menyebutkan “pemecahan roti” bersama-sama dengan “pengajaran rasul-rasul” dan “doa”, Lukas menunjukkan bahwa “pemecahan roti” bersifat istimewa. Dengan memasukkan “persekutuan”, Lukas menambah satu dimensi penting dari eksistensi umat Kristiani, yaitu saling mensyeringkan kehidupan mereka satu sama lain.

Secara sekilas kita masih dapat melihat satu gambaran dari perayaan communio awal dalam “Kisah para Rasul”. Lukas menjelaskan bagaimana dia dan Paulus telah satu pekan lamanya tinggal di Troas di Asia Kecil dan ketika itu Paulus sudah siap-siap meninggalkan tempat itu. Lukas menulis sebagai berikut:

“Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara seiman di situ, karena ia bermaksud untuk berangkat keesokan harinya. Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam. Di ruang atas, di mana kami berkumpul, dinyalakan banyak lampu. Seorang pemuda bernama Eutikhus duduk di jendela. Karena Paulus amat lama berbicara, pemuda itu tidak dapat menahan kantuknya. Akhirnya ia tertidur lelap dan jatuh dari tingkat ketiga ke bawah. Ketika ia diangkat orang, ia sudah meninggal. Tetapi Paulus turun ke bawah. Ia merebahkan diri ke atas pemuda itu, mendekapnya, dan berkata, “jangan khawatir, ia masih hidup.” Setelah kembali di ruang atas, Paulus memecah-mecahkan roti lalu makan; sehabis makan ia masih berbicara lama lagi sampai fajar menyingsing. Kemudian ia berangkat. Sementara itu mereka mengantarkan pemuda itu dalam keadaan hidup ke rumahnya, dan mereka semua merasa sangat terhibur (Kis 20:7-12).

Di sini jelas bahwa Paulus-lah yang memimpin upacara “pemecahan roti” yang  dimulai pada malam hari dan mencakup khotbah yang sangat panjang. Lukas menunjukkan  bahwa “pemecahan roti” itu adalah suatu liturgi dan bukan sekadar makan-makan biasa, ketika dia berbicara mengenai “dinyalakannya banyak lampu”. Bahkan cerita mengenai Euthikus mengungkapkan suatu aspek hakiki dari perayaan ini: Kesatuan satu sama lain di sekeliling meja Tuhan perlu memasukkan ke dalamnya kesejahteraan fisik satu sama lain.

Didakhè 

Didakhè adalah sebuah dokumen Gereja awal yang diperkirakan disusun pada akhir abad pertama, kira-kira pada tahun 95. Barangkali berasal dari salah satu jemaat (gereja) di Syria (Suriah) atau di Palestina. Nama pengarangnya tidak diketahui. Dengan demikian kita dapat mengatakan, bahwa Didakhè adalah sebuah dokumen anonim (tidak memakai nama samaran) atau karangan yang yang pseudonim, artinya memakai nama samaran. Judul lengkap dokumen ini dalam bahasa Yunani adalah “Didakhè ton dodeka apostolon”, artinya pengajaran dari kedua-belas rasul, seakan-akan para rasul Tuhan Yesus Kristus-lah yang mengarang/menyusun kitab itu. Maksudnya ialah agar dokumen ini memiliki kewibawaan dalam lingkungan umat Kristiani yang hidup pada waktu itu; karena sebagai sebuah karya para rasul Tuhan Yesus Kristus sendiri, patutlah dijunjung tinggi dan dihormati. (lihat Dr. A. de Kuiper, DIDACHE, Jakarta: Badan Penerbit Kristen, 1967, hal. 5).

Dalam Didakhè pasal/bab IX terdapat instruksi-instruksi yang menyangkut “Ekaristi”:

(1)     Dalam Ekaristi (Eucharistia), ucapkanlah syukur (eucharisteo) sebagai berikut:

(2)     Pertama-tama atas cawan: “Kami mengucapkan syukur kepada-Mu, ya Bapa kami, karena pokok anggur yang kudus dari Daud, hamba-Mu, yang telah Kauberitahukan kepada kami dengan perantaraan Yesus, Hamba-Mu; kepada-Mulah kiranya kemuliaan sampai selama-lamanya.”

(3)     Lalu atas roti yang dipecah-pecahkan: “Kami mengucapkan syukur kepada-Mu, ya Bapa kami, karena kehidupan dan pengetahuan yang telah Kauberikan kepada kami dengan perantaraan Yesus, Hamba-Mu; kepada-Mulah kiranya kemuliaan sampai selama-lamanya.

(4)     Seperti roti ini telah dicerai-beraikan di atas gunung-gunung dan kemudian dikumpulkan menjadi seketul, demikianlah kiranya Gereja-Mu dikumpulkan dari segala ujung bumi masuk ke dalam Kerajaan-Mu; sebab Engkaulah yang empunya kemuliaan dan kekuasaan oleh Yesus Kristus sampai selama-lamanya.”

(5)     Janganlah seorang pun makan atau minum dari Perjamuanmu, terkecuali orang-orang yang telah dibaptis dalam nama Tuhan; karena tentang hal ini difirmankan Tuhan: “Janganlah berikan barang yang kudus kepada anjing.” (Dr. A. De Kuiper, DIDACHE, hal. 18).

Dalam Didakhè pasal/bab X terdapat instruksi-instruksi yang menyangkut “Pengucapan Syukur”:

(1)     Sesudah kamu kenyang, maka ucapkanlah syukur sebagai berikut:

(2)     “Kami mengucapkan syukur kepada-Mu, ya Bapa yang kudus, karena nama-Mu yang kudus, yang telah Kaubuat diam dalam hati-sanubari kami; dan karena pengetahuan dan kepercayaan dan kekekalan yang telah Kauberitahukan kepada kami dengan perantaraan Yesus, Hamba-Mu. Kepada-Mulah kiranya kemuliaan sampai selama-lamanya.

(3)     Engkau, ya Tuhan yang Mahakuasa, telah menciptakan segala-galanya karena nama-Mu; baik makanan maupun minuman telah Kauberikan kepada manusia untuk menikmatinya, supaya mereka bersyukur kepada-Mu. Akan tetapi kepada kami Kaukaruniakan makan dan minuman rohani dan kehidupan yang kekal dengan perantaraan Hamba-Mu.

(4)     Lebih-lebih kami bersyukur kepada-Mu karena Engkau lah yang berkuasa; kepada-Mulah kiranya kemuliaan sampai selama-lamanya.

(5)     Ingatlah, ya Tuhan, akan Gereja-Mu untuk melepaskannya dari segala yang jahat dan menyempurnakannya di dalam kasih-Mu, dan kumpulkanlah dari keempat mata angin Gereja-Mu yang telah dikuduskan, masuk ke dalam Kerajaan-Mu yang telah Kausediakan baginya. Sebab Engkaulah yang empunya kekuasaan dan kemuliaan sampai selama-lamanya.

(6)     Datanglah kiranya Anugerah dan biarlah dunia ini lenyap. Hosana kepada Allah Daud! Bila ada orang yang kudus, hendaklah ia datang! Tetapi yang tidak, biarlah bertobat! Maranatha. Amin.”

(7)     Kepada para nabi haruslah kamu beri kesempatan bersyukur sebanyak sukanya sendiri (Dr. A. de Kuiper, DIDACHE,  hal. 18-19).

Dalam Didakhè pasal/bab XIV terdapat instruksi-instruksi tentang “Hari Tuhan (Hari Minggu) sebagai berikut:

(1)      Apabila kamu berkumpul pada hari Tuhan (=kuriakè), maka kamu harus memecahkan roti dan mengucapkan syukur, setelah mengaku kesalahan-kesalahanmu, supaya kiranya kurbanmu suci (= murni).

(2)      Dan barang siapa yang berselisih dengan sesamanya, janganlah berkumpul dengan kamu sekalian sampai saat mereka itu telah berdamai lagi; supaya jangan kurbanmu dinajiskan.

(3)      Karena itulah yang difirmankan Tuhan: “Di tiap-tiap tempat dan pada tiap-tiap waktu haruslah dipersembahkan kepada-Ku suatu kurban yang suci (=murni); oleh karena Aku inilah Raja yang Mahabesar, demikianlah Firman TUHAN; dan Nama-Ku mendahsyatkan di antara segala bangsa” (Mal 1:11 dan 14) (Dr. A de Kuiper, DIDACHE, hal. 21-22).

Ekaristi di pagi hari 

Pada paruhan pertama abad kedua, perayaan Ekaristi umat Kristiani diselenggarakan pada hari Minggu pagi dan tidak lagi merupakan bagian dari acara makan-makan secara komunal. Penyebabnya barangkali adalah karena umat sudah sedemikian banyak jumlahnya, atau karena penyalahgunaan telah menyusup kembali ke dalam acara makan komunitas. Terkadang umat berdoa sepanjang malam dan menutup vigili mereka dengan perayaan Ekaristi. Pengetahuan kita tentang praktek-praktek ini terbatas, namun ada sebuah teks dari sekitar tahun 150 dari Santo Yustinus Martir [c. 100-165], Apologia Pertama (Apologia = Pembelaan), yang ditulis sekitar tahun 155 dan ditujukan kepada Antoninus Pius, Marcus Aurelius dan Lucius Verus, tulisan mana dimaksudkan sebagai pembelaan terhadap berbagai tuduhan. Dalam Apologia Pertama ini digambarkan suatu perayaan Ekaristi umat Kristiani pada hari Minggu pagi dengan suatu liturgi yang mencontoh kebaktian sinagoga Yahudi. Santo Yustinus Martir menulis sebagai berikut:

“Kami memberi salam satu sama lain dengan sebuah ciuman. Lalu roti dan sebuah cawan berisikan air anggur dicampur dengan air dibawa kepada pribadi yang memimpin para saudara; dia mengambil roti dan piala berisikan air anggur itu dan berdoa untuk memuliakan Bapa untuk segala hal melalui nama Putera dan Roh Kudus. … Ketika doa syukur diakhiri, semua umat yang hadir memberi persetujuan mereka dengan sebuah “Amin!” … Para diakon mendistribusikan roti dan anggur yang sudah bercampur dengan air. … Makanan ini kami sebut “Ekaristi”, … karena kami tidak menerima ini semua sebagai makanan dan minuman biasa. … Karena makanan yang atasnya telah didoakan syukur menjadi tubuh/daging dan darah dari Yesus inkarnasi (Allah), untuk memberi makan dan mentransformasikan tubuh dan darah kami” (bab 65-67) [terjemahkan bebas ke dalam Bahasa Indonesia dari P. Joseph Wimmer OSA, IN MEMORY OF ME – Early Christian Eucharistic Celebrations, Word among us, June 2001, hal. 18].

Yustinus juga memasukkan kata-kata konsekrasi dan catatan-catatan bahwa “kenang-kenangan para rasul atau tulisan-tulisan para nabi” dibacakan dan diproklamasikan oleh pemimpin ibadat, yang memberi petuah dan mendesak kami untuk mencontoh hal-hal indah yang telah kami dengar.” Suatu kolekte persembahan dilakukan bagi mereka yang membutuhkan: para janda, yatim-piatu, orang sakit, orang-orang asing yang datang berkunjung, dll. Bahkan mereka berdoa “Bapa Kami” bersama-sama. Jadi, kelihatan di sini bahwa dalam banyak hal, penggambaran ini mencerminkan struktur Misa seperti yang ada sekarang.

Doa-doa dan desakan-desakan dari para Bapak Gereja 

Teks lengkap paling awal tentang sebuah liturgi Ekaristi yang kita miliki ditulis oleh Santo Hippolytus [c. 170-236] dari Roma sekitar tahun 215. Mengikuti pola doa-doa Yahudi berkaitan dengan perjamuan, liturgi Hippolytus mencakup kata-kata konsekrasi dan sebuah kenangan akan karya penebusan Yesus. Dengan adanya reformasi di bidang liturgi sesuai keputusan Konsili Vatikan II, doa kuno dari Hippolytus itu diklaim kembali dan kita kenal sekarang sebagai “Doa Syukur Agung II”.

Anugerah Ekaristi juga menginspirasikan banyak penulis Kristiani awal untuk mengungkapkan pujian penuh sukacita dan rasa syukur mereka, dan untuk mengingatkan umat beriman berkaitan dengan kebutuhan akan persatuan dan kasih, antara lain Santo Ignatius dari Antiokia [c. 35-107]. 

S. Ignatius, uskup dari Antiokia ditangkap oleh penguasa Roma di sekitar tahun 107 dan dijatuhi hukuman untuk dimakan oleh binatang-binatang buas dalam gelanggang di Roma, karena iman Kristianinya. Orang kudus ini adalah salah seorang martir awal yang penting dalam Gereja. S. Ignatius mungkin seorang Siria dan adalah murid dari Santo-santo Petrus dan Paulus. Ada juga yang mengatakan, bahwa dia adalah murid dari S. Yohanes. Ada juga cerita, bahwa dia adalah anak kecil yang ditempatkan oleh Yesus di tengah-tengah para murid sebagai tanggapan awal sang Guru pada saat mereka bertanya kepada-Nya “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” (lihat Mat 18:1-6). S. Ignatius menamakan dirinya  sendiri Theoporas, sepatah kata dalam bahasa Yunani yang berarti ‘pembawa Allah’.

Nama S. Ignatius bertambah harum justru karena tujuh pucuk surat yang ditulisnya selagi dalam perjalanannya yang panjang menuju Roma. Lima pucuk surat ditulisnya untuk gereja-gereja di Asia Kecil, yaitu gereja-gereja di Efesus, Magnesia, Tralles, Filadelfia dan Smyrna. Tiga surat pertama yang disebutkan ditulisnya di Smyrna, sedangkan dua surat lainnya ditulisnya di Listra, sebelum menyeberang  ke Eropa. Surat kepada jemaat di Roma ditulisnya di Smyrna, dan sepucuk surat perpisahan yang ditujukan kepada Uskup Polykarpus ditulisnya di Listra.

Dalam beberapa suratnya terdapat deskripsi tentang Ekaristi. Dalam salah satu suratnya dapat dibaca tulisannya sebagai berikut: “Satu saja Tubuh Tuhan kita Yesus Kristus, dan satu saja juga Piala Darah-Nya. Keduanya dikurbankan di atas satu altar oleh satu Uskupmu bersama imam-imam dan diakon-diakon” (Surat kepada jemaat di Filadelfia, 4). “Hasratku adalah roti Allah, yang adalah tubuh Yesus Kristus, dan untuk minuman saya menghasrati darah-Nya, yang adalah kasih yang tidak dapat rusak” (Surat kepada jemaat di Efesus, 7,2-3). Dalam surat-suratnya ini Ignatius mengingatkan umat Kristiani akan perintah untuk mengasihi Allah dan sesama. Lalu menambahkan: “Mereka yang menyatakan diri mereka sebagai milik Kristus tidak hanya dikenal oleh apa yang mereka katakan, melainkan oleh praktek kehidupan mereka” (Surat kepada jemaat di Efesus, 14).

Di Roma, di bawah penjagaan prajurit-prajurit yang kejam, S. Ignatius digiring masuk ke dalam gelanggang binatang buas. Di tempat itu tubuhnya yang suci diterkam dan dicabik-cabik singa-singa yang sedang kelaparan. Darahnya yang suci membasahi tanah gelanggang  yang sebelum itu telah menampung darah banyak martir yang juga mati demi kesetiaan kepada Kristus: para saksi Kristus sejati!

Keprihatinan S. Ignatius dari Antiokia yang terbesar adalah persatuan dan tatanan Gereja sebagai Tubuh Kristus. Menurut orang kudus ini, yang paling penting adalah agar supaya umat Kristiani bersatu, merayakan Ekaristi dengan layak, dan patuh kepada pimpinan uskup mereka. Katanya: “Di mana ada uskup, di situlah Gereja!”

Catatan Penutup

Perayaan Ekaristi dalam Gereja zaman sekarang bukanlah “ciptaan” manusia modern, melainkan suatu praktek keagamaan yang berasal-usul dari Yesus Kristus sendiri, Tuhan dan Juruselamat kita! Akan tetapi, umat Kristiani tidak dapat sekadar berkumpul dan bersekutu untuk merayakan Ekaristi dan menjadi suci-suci sendiri – menjadi sekelompok orang-orang kudus seperti orang Eseni – karena  setiap orang Kristiani juga harus menjadi Ekaristi bersama Yesus. Menjadi Ekaristi berarti siap memecah-mecahkan diri kita dan memberikannya kepada setiap orang yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari kita. Kita ada di tengah dunia untuk alasan yang indah, yaitu menjadi kurban yang hidup, menjadi Ekaristi bersama Yesus Kristus. Itulah yang ditunjukkan dalam kehidupan dan kematian banyak sekali saksi Kristus sepanjang masa: mereka bertemu dengan Kristus dalam Ekaristi dan menjadi Ekaristi bersama Kristus! Hal ini dilakukan umat Kristiani sejak awal keberadaan Gereja dalam menanggapi perintah Yesus Kristus: “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!”

Cilandak, 27 Juni 2012  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERTEMU DENGAN YESUS DALAM EKARISTI

BERTEMU DENGAN YESUS DALAM EKARISTI 

Oleh karena itu, hendaklah para anggota Ordo Fransiskan Sekular mencari Diri Kristus, yang hidup dan berkarya di dalam Gereja dan di dalam perayaan-perayaan liturgis. Inspirasi mereka dan pedoman penghayatannya terhadap Ekaristi hendaknya iman kepercayaan Fransiskus yang pernah berkata “Dari Putera Allah yang mahatinggi sendiri tidak kulihat  sesuatu pun secara badaniah di dunia selain Tubuh dan Darah-Nya yang mahakudus”. (Anggaran Dasar OFS, Pasal II Artikel 5) 

Ekaristi adalah satu dari lima pilar penunjang spiritualitas Fransiskan, empat lainnya adalah Inkarnasi, Sengsara Yesus, Kitab Suci dan Maria. Ekaristi adalah karunia/anugerah Allah yang terbesar, dalam arti memperkenankan umat untuk ikut ambil bagian dalam perjamuan untuk makan tubuh-Nya dan minum darah-Nya. Pendekatan terhadap Ekaristi yang saya usulkan adalah membayangkan diri kita seperti Simon Petrus yang berkata kepada Yesus beberapa saat setelah banyak dari murid Yesus pergi meninggalkan-Nya karena tidak sanggup mendengar ajaran-Nya yang keras: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkaulah yang Kudus dari Allah” (Yoh 6:68-69).

MENIMBA DARI KITAB SUCI

Renungkanlah beberapa nas Kitab Suci berikut ini. Percayakah anda, bahwa “baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang., atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm 8:38-39)? Percayakah anda bahwa jalan menuju Allah selalu terbuka? Percayakah anda bahwa Roh Kudus “bergabung” dengan anda pada saat anda berdoa, selalu meyakinkan anda bahwa anda adalah seorang anak Allah yang sangat dikasihi-Nya (Rm 8:16)? Percayakah anda bahwa Roh Kudus ada dalam diri anda, menunjukkan kepada anda bagaimana mengasihi Yesus dan menyenangkan-Nya (Yoh 16:13)? Percayakah anda bahwa Allah ada dalam diri anda, menolong anda berpikir dan memilih dan bertindak secara benar (Flp 2:13)?

Nas-nas Kitab Suci di atas menunjukkan kepada kita betapa Allah mengasihi kita. Nas-nas itu menunjukkan bagaimana Allah secara tetap bekerja untuk kepentingan kita, setiap hari Dia mengirimkan begitu banyak pemikiran-pemikiran yang mendorong, menyemangati, memberi inspirasi kepada kita. Tidak ada satu hari pun berlalu tanpa kerja Allah demi kepentingan kita.

Menjelang akhir hidup pelayanan-Nya, Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada kepada-Ku” (Yoh 12:32). Dalam artian tertentu, janji ini dipenuhi setiap saat kita menerima Komuni Kudus (Ekaristi). Bilamana kita makan Roti Kehidupan, Allah Bapa kita menarik kita kepada Putera-Nya. Bagaimana Yesus menarik kita kepada diri-Nya? Dengan kasih tanpa syarat, belas kasih (kerahiman) tanpa batas, dan hikmat surgawi.

EMAUS 

Perwahyuan (pewahyuan) adalah sepatah kata yang digunakan untuk menggambarkan karya Allah dalam memberi pencerahan pada pikiran kita dan memenuhi hati kita. Allah memiliki hasrat untuk memberi makan kepada kita dengan hikmat-Nya dan rahmat-Nya. Demikian pula hasrat-Nya untuk menyatakan/mewahyukan diri-Nya kepada kita dapat ditarik kembali ke awal-awal penciptaan. Peristiwa makan malam bersama di Emaus adalah sebuah contoh yang baik dalam hal ini.

Kisahnya adalah seperti berikut ini. Dalam perjalanan dari Yerusalem ke Emaus (berjarak 11 kilometer), Yesus berjalan bersama dua orang murid, namun mereka tidak sadar bahwa Dia adalah sang Guru karena mereka tidak mengenali Dia. Hanya setelah Ia melakukan pemecahan roti di sebuah rumah di Emaus, akhirnya Yesus menyatakan diri-Nya kepada mereka (Luk 24:30-31). Pada awalnya, Yesus berada bersama mereka, namun tetap tersembunyi: tak dapat dikenali. Seringkali, inilah kasusnya dengan kita. Kita mencari Yesus, namun kita tidak dapat melihat-Nya. Kita mencari Dia, namun kita tidak dapat menemukan-Nya. Kita mendengarkan sabda-Nya, namun kita tidak dapat mendengar Dia.

Kedua murid itu mempunyai keragu-raguan tentang kebangkitan dan Yesus mulai mengkonfrontir keragu-raguan itu. Yesus menggunakan Kitab Suci – mulai dari Musa – untuk menjelaskan bahwa segala sesuatu yang ditulis tentang Kristus akan menjadi kenyataan. Selagi Dia mengajar mereka, Yesus menarik kedua murid itu kepada-Nya. Kedua murid melihat Yesus, mereka menyentuh-Nya, dan mereka mendengar Dia berbicara/mengajar. Bahkan hati mereka pun berkobar-kobar ketika Yesus berbicara dengan mereka dan menerangkan Kitab Suci kepada mereka (Luk 24:32). Namun demikian, mata dua orang murid itu baru terbuka ketika Yesus memberkati roti dan memecah-mecahkannya (Luk 24:31).

Yesus ingin mengajar kita semua. Ia ingin agar segalanya yang telah diajarkan-Nya kepada para rasul dan para murid-Nya yang awal, juga diajarkan kepada kita, melalui Roh Kudus. Yesus ingin memberikan kepada kita hikmat rahasia Allah, agar kita dapat memperoleh “pikiran Kristus” seperti dikatakan Paulus (1Kor 2:16). Kisah Emaus sungguh menakjubkan, namun tidak kurang menakjubkannya hari ini ketika mata kita dapat terbuka selagi roti biasa diubah menjadi tubuh Kristus dan dipecah-pecah untuk dibagikan kepada kita. Santo Fransiskus dari Assisi telah berjumpa dengan Kristus dalam Ekaristi sehingga dia dapat menulis dalam Wasiat-nya seperti dikutip dalam Anggaran Dasar OFS di atas (disahkan oleh Paus Paulus VI pada tahun 1978 dengan Bulla “Seraphicus Patriarca”): “Di dunia ini aku sekali-kali tidak melihat Putera Allah yang Mahatinggi itu secara jasmaniah, selain tubuh dan darah-Nya yang mahakudus” (Wasiat, 10).

BEKERJA UNTUK ALLAH 

Setelah dikenali oleh kedua murid itu, Yesus menghilang: “Ia lenyap dari tengah-tengah mereka” (Luk 24:31). Kemudian, apa yang terjadi dengan kedua murid itu? Kita tahu bahwa mereka baru saja melakukan perjalanan jauh yang penuh dengan pembicaraan yang penuh dengan tantangan pula. Tentunya mereka letih-lelah. Namun setelah Yesus menyatakan diri-Nya, dua orang murid itu malah tidak pergi tidur untuk beristirahat. Mereka justru langsung pergi kembali ke Yerusalem …… di tengah malam buta dan tanpa jaminan keamanan. Mereka bertemu dengan Simon Petrus dan para rasul/murid yang lain, lalu menceritakan apa yang terjadi di tengah jalan ke Emaus dan bagaimana mereka mengenali Yesus pada waktu Dia memecah-mecahkan roti (Luk 24:33-35).

Perjalanan kembali kedua murid di tengah kegelapan malam itu mengilustrasikan salah satu karya besar dari Ekaristi, yaitu mendesak dan memberdayakan kita untuk melayani Yesus. Setelah pemecahan roti di Emaus, kedua murid itu sedemikian penuh dengan sukacita sehingga mereka merasakan dorongan dan desakan untuk langsung pergi ke Yerusalem dan menceritakan kepada saudari-saudara mereka apa yang telah mereka alami. Yesus ingin meyakinkan kita semua bahwa Dia adalah Tuhan yang bangkit – teristimewa ketika kita menerima Hosti Kudus (Ekaristi). Bilamana mata kita terbuka dan kita melihat Yesus sebagaimana apa adanya Dia, kita pun dapat merasakan adanya desakan untuk melayani Dia.

Bilamana kita menerima dan makan daging-Nya sendiri yang diberikan oleh Yesus (lihat Yoh 6:25-59), maka kita akan merasakan desakan untuk pergi ke luar dari “zona kenyamanan” kita untuk mensyeringkan Yesus itu kepada orang-orang lain seturut bimbingan-Nya sendiri. Yesus ingin agar kita menjumpai berbagai macam orang, tanpa membeda-bedakan – baik miskin maupun kaya, baik berpendidikan maupun buta huruf, baik muda maupun tua usia. Ia ingin agar kita membawa setiap orang kepada-Nya, dengan penuh keyakinan bahwa Dia selalu beserta kita, membimbing kita dan memberdayakan kita, bahkan sampai akhir zaman (Mat 28:19-20).

MENJADI PENDENGAR YANG BAIK 

Marilah kita membayangkan kembali kedua murid yang sedang dalam perjalanan mereka menuju Emaus dan Yesus (yang telah bangkit) bergabung dengan mereka. Andaikan Yesus menjelaskan Kitab Suci, namun mereka tidak tertarik. Mungkin salah seorang dari mereka sangat ingin untuk sampai ke rumah secepatnya dan yang lainnya sedang memikirkan sebuah tugas pekerjaan yang belum terselesaikan. Kalau begitu, apakah yang akan terjadi? Peristiwa ini mungkin tidak akan tercatat dalam Injil Lukas, karena tidak ada sesuatu yang istimewa telah terjadi.

Apabila kita tidak mendengarkan dengan penuh perhatian, maka kita tidak akan melihat Allah. Kita tidak akan mampu mengenali Dia – bahkan setelah kita memakan Roti Kehidupan itu. Jika kita tidak menghindarkan diri dari distraksi-distraksi (pelanturan-pelanturan), maka kita mengisi pikiran kita dengan urusan-urusan duniawi, bahkan dengan berbagai godaan yang datang menyerang. Dengan demikian kita membatasi apa yang ingin Yesus lakukan melalui diri kita, karena kita tidak menaruh perhatian atas bagaimana cara tubuh dan darah-Nya dapat mentransformir kita.

Hal negatif ini tidak terjadi pada dua orang murid yang sedang dalam perjalanan menuju Emaus. Mengapa? Mereka menaruh perhatian dengan benar, mereka mendengarkan dengan serius dan mereka taat. Yesus ingin melakukan hal yang sama pada diri kita semua. Ia ingin menyatakan diri-Nya selagi kita makan Roti Kehidupan, dan Ia ingin melihat kita memberikan segalanya kepada orang-orang lain yang telah diberikan oleh-Nya kepada kita.

SANTO THOMAS MORE SANG PENCINTA YESUS DALAM EKARISTI 

Santo Thomas More [1480-1535] yang kita peringati pada tanggal 22 Juni hari ini bersama Santo [Uskup] John Fisher adalah martir Inggris pada zaman pemerintahan raja Henry VIII, dan ia adalah Lord High Chancellor (semacam Perdana Menteri) dalam pemerintahan Inggris. Devosinya kepada Ekaristi dikenal banyak orang dan karya-karya karitatifnya pun luar biasa. Kecintaannya kepada Yesus dalam Ekaristi memang dapat dimaklumi karena petinggi pemerintahan ini adalah seorang anggota Ordo Ketiga Sekular dari Santo Fransiskus dari Assisi. Thomas More sangat senang apabila dia berkesempatan membantu dalam perayaan Misa Kudus sebagai seorang pelayan Misa, walaupun nota bene dia adalah seorang pejabat tinggi negara.

Kritik-kritik tajam dilontarkan oleh orang-orang yang mengatakan, bahwa sebagai seorang awam tidak mungkinlah bagi dirinya melaksanakan tugas-tugas dunia yang sedemikian banyak dan kompleksnya, dan pada saat yang sama menekuni hidup rohani guna mencapai kesucian. Menanggapi kritik-kritik itu, Thomas More mengatakan bahwa Komuni Kudus-lah yang membuat dirinya tetap fokus dan untuk meringankan beban-beban pekerjaannya, dia akan mendekat kepada sang Juruselamat, meminta nasihat dan pencerahan dari-Nya. Yesus Kristua adalah tempat pelarian sang Perdana Menteri.

Pada suatu hari, ketika Thomas More sedang menghadiri Misa Kudus, seorang petugas istana raja mendekati dirinya dan berbisik kepadanya: “Tuanku, Sri Paduka Raja menginginkan agar Tuanku menghadapnya dengan segera.” Thomas More menjawab: “Aku tidak dapat menghadap sekarang. Katakanlah kepada Sri Baginda, bahwa aku sedang menghadap seorang Raja yang lebih besar dari beliau. Begitu tugas-kewajibanku kepada Raja yang lebih besar ini selesai, aku akan segera menghadap Sri Baginda.” Petugas istana itu pun pergi dan Thomas More, sang Lord High Chancellor, melanjutkan doa-doanya dengan khusyuk sampai Misa Kudus berakhir.

Santo Thomas More tetap setia kepada Kristus dengan cara hidupnya, bukan sekadar lewat kata-katanya. Ia bertindak seperti apa yang dikerjakan dan diajarkan Yesus (lihat Kis 1:1). Keseluruhan pribadinya, sikap dan perilakunya menunjukkan bahwa dia adalah milik Kristus. Dia mengatakan: “Ada banyak orang yang membeli neraka dengan upaya yang begitu banyak, padahal dengan upaya yang separuh banyaknya sudah bagi mereka untuk memperoleh surga.” Seperti dikatakan di atas, Thomas More juga mengasihi Kristus lewat devosinya kepada Sakramen Mahakudus, menghadiri Misa Kudus secara harian dan melayani imam dalam Perayaan Ekaristi, dan tentunya dengan menerima Komuni Kudus secara teratur. Santo Thomas More berjumpa dengan Yesus dalam Ekaristi dan dia setia kepada Yesus Kristus lewat kesetiaannya kepada Gereja (lihat Ef 5:25 dsj.). Thomas More tidak mau mundur sedikit pun dalam kesetiaannya kepada Kristus, sikap dan perilaku ini membawanya ke dalam kegelapan ruang penjara dan akhirnya kematian sebagai martir Kristus. Inilah “biaya kemuridan” (cost of discipleship) dalam arti sesungguh-sungguhnya.

CATATAN PENUTUP 

Kita sudah mencari Yesus Kristus, dan kita sudah bertemu dengan Dia dalam Ekaristi. Sebagai catatan penutup, marilah kita menyinggung sedikit pernyataan bahwa kita semua harus menjadi Ekaristi!

Setiap anggota Gereja adalah imam dan pada saat yang sama juga kurban. Hal ini disebabkan karena Yesus kepada siapa kita mempersatukan diri kita adalah imam dan sekaligus juga kurban. Persembahan diri kita dan Gereja tidak ada artinya tanpa Kristus; tidak kudus dan tidak pula dapat diterima oleh Allah. Akan tetapi persembahan Yesus tanpa persembahan Gereja, Tubuh-Nya, tidak akan mencukupi. Kebenaran pernyataan ini dikukuhkan dengan kata-kata Santo Paulus, “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam tubuhku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat” (Kol 1:24).

Ekaristi membentuk Gereja. Ekaristi bukan hanya merupakan sumber dan penyebab dari kekudusan Gereja, namun juga merupakan model-nya. Umat Kristiani tidak dapat membatasi diri mereka sekadar untuk merayakan Ekaristi dan menjadi suci-suci sendiri, mereka juga harus menjadi Ekaristi bersama Yesus. Menjadi Ekaristi berarti siap memecah-mecahkan diri kita dan memberikannya kepada setiap orang yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari kita. Kita ada di tengah dunia untuk alasan yang indah, yaitu menjadi kurban yang hidup, menjadi Ekaristi bersama Yesus Kristus. Itulah yang ditunjukkan dalam kehidupan dan kematian Santo Thomas More dan banyak lagi saksi Kristus sepanjang masa: masuk gereja/kapel bertemu dengan Kristus dalam Ekaristi, kemudian ke luar gereja menjadi Ekaristi bersama Kristus!

Jakarta, 22 Juni 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 79 other followers