Posts from the ‘ALLAH TRITUNGGAL’ Category

KESAKSIAN TENTANG ANAK ALLAH

KESAKSIAN TENTANG ANAK ALLAH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Masa Natal, Jumat 6-1-12)

Keluarga Fransiskan Kapusin: Peringatan B. Didakus Yosef dari Sadis, Imam

Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dia yang percaya bahwa Yesuslah Anak Allah? Inilah Dia yang telah datang dengan air dan darah, yaitu Yesus Kristus, bukan saja dengan air, tetapi dengan air dan dengan darah. Dan Roh-lah yang bersaksi karena Roh adalah kebenaran. Sebab ada tiga yang memberi kesaksian (di dalam surga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu. Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi): Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu. Kita menerima kesaksian manusia, tetapi kesaksian Allah lebih kuat. Sebab inilah kesaksian Allah, yaitu bahwa Ia bersaksi tentang Anak-Nya. Siapa yang percaya kepada Anak Allah, ia mempunyai kesaksian itu di dalam dirinya; siapa yang tidak percaya kepada Allah, ia membuat Dia menjadi pendusta, karena ia tidak percaya kepada kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya. Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang  kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya. Siapa yang memiliki Anak, ia memiliki hidup; siapa yang tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup. Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu bahwa kamu memiliki hidup yang kekal. (1Yoh 5:5-13)

Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-15,19-20; Bacaan Injil: Mrk 1:7-11

Iman memang dapat membingungkan pikiran kita. Dalam upaya kita untuk memahami iman secara murni intelektual, kita sebenarnya menghadapi risiko kehilangan iman itu samasekali. Namun apabila Roh Kudus memberikan iman kepada kita – atau meningkatkan iman kita – sebagai suatu karunia atau anugerah, maka hidup kita dapat mengalami perubahan secara radikal. Kuncinya adalah menerima rahmat dan berkat-berkat Allah oleh iman dan memperkenankan rahmat itu untuk mengubah hidup kita. Studi dan pemahaman intelektual memang penting, dan kita-kita yang tergolong umat awam dengan latar belakang pendidikan yang cukup memadai patut untuk melakukannya, seandainya tersedia waktu yang cukup untuk itu. Namun semua studi dan upaya belajar teologi dan lain sebagainya tidak pernah dapat menggantikan karya Roh Kudus dalam diri kita masing-masing.

Yohanes (penulis surat) menulis suratnya kepada komunitasnya yang telah mengalami suatu perpecahan yang menyakitkan (lihat 1Yoh 2:18-19). Siapa saja yang  telah menyaksikan atau mengalami sakitnya suatu perceraian dapat memahami betapa merusaknya akibat yang dapat disebabkan oleh perpecahan suatu hubungan yang tadinya akrab. Tidak ada lagi yang lebih menyakitkan daripada kepercayaan yang dikhianati. Dalam menanggapi perpecahan yang terjadi dalam komunitasnya, penulis surat ini mendesak para anggota jemaatnya untuk tetap menatap Tuhan Yesus yang akan menolong mereka menjalani suatu masa yang sulit.

Dalam suratnya itu sang penulis mencoba untuk membawa para pembacanya kembali kepada kebenaran-kebenaran yang paling mendasar, yaitu percaya bahwa Yesus adalah Putera Allah (lihat 1Yoh 5:5). Penulis mendorong anggota komunitasnya agar tidak hanya menerima kebenaran ini secara intelektual, melainkan juga mempercayainya berdasarkan testimoni-testimoni yang telah mereka dengar dan yang telah membangun iman dalam diri mereka. Sang penulis mengingatkan mereka bahwa iman adalah suatu hubungan dengan Allah yang bertumbuh dengan berjalannya waktu selagi kita mengalami kasih-Nya dan menaruh kepercayaan kita pada-Nya.

Tanpa iman yang hidup, kita tidak akan pernah mampu untuk mengatasi dosa atau mengalami kedalaman kasih Allah. Testimoni-testimoni yang ada – air baptis; darah Yesus dalam Ekaristi; dan Roh Kudus yang membimbing kita kepada Kristus – semua bekerja sama untuk membawa agar iman hidup dalam diri kita. Marilah kita membuka hati kita bagi Allah, percaya bahwa Dia akan semakin memenuhi diri kita. Janganlah kita menganggap diri kita sudah cukup dipenuhi oleh-Nya, seperti dikatakan orang di negeri seberang sana: “We can never get enough of the Holy Spirit.”

DOA: Roh Kudus Allah, kami percaya. Tolonglah ketidakpercayaan kami. Tolonglah kami untuk menaruh kepercayaan kepada-Mu secara penuh. Pimpinlah kami hari ini. Berbicaralah kepada kami. Hiburlah kami. Di atas segalanya, tolonglah kami agar mampu mengasihi Yesus setulus-tulusnya dan percaya kepada-Nya sepenuhnya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil Misa hari ini (Mrk 1:7-11), bacalah tulisan dengan judul “ENGKAULAH ANAK-KU YANG TERKASIH” (bacaan untuk tanggal 6-1-12), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 12-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2012.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-1-10)

Cilandak, 27 Desember 2011 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS

Cilandak, 18 Juni 2011

Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus,

Perihal : HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS

 “Seganilah dan hormatilah, pujilah dan muliakanlah, ucap syukurlah dan sembahlah Tuhan Allah Yang Mahakuasa, Tritunggal dan Esa, Bapa dan Putera dan Roh Kudus, Pencipta segala sesuatu.” [AngTBul XXI:2].

Pada hari Minggu tanggal 19 Juni ini, seminggu setelah Hari Raya Pentakosta, Gereja merayakan HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS. Sedikit di antara kita yang akan pernah berpikir bahwa kita telah “memecahkan” misteri Trinitas atau Tritunggal Mahakudus ini: Bagaimana Allah yang satu benar-benar adalah  tiga Pribadi yang berbeda-beda, namun tetap satu Allah? Kita akan sangat berkemungkinan merasa kewalahan dengan pemikiran seperti itu dan menyimpulkan bahwa  Allah begitu agung-mulia dan abstrak, sehingga tak pernah akan dapat dipahami. Masih ingatkah kita cerita tentang Santo Augustinus dari Hippo [354-430] yang sedang memikirkan pemecahan misteri Trinitas sambil berjalan di pantai. Uskup terkenal itu kemudian melihat seorang anak kecil yang sedang sibuk mengambil air laut dengan ‘gayung’-nya yang kecil dan kemudian mencurahkan air dari gayung itu ke dalam sebuah lubang yang telah dibuatnya di pantai itu. Hal itu dilakukannya terus-menerus, sampai Augustinus bertanya kepada anak itu apa kiranya yang sedang dilakukannya. Anak itu menjawab bahwa dia sedang berupaya memindahkan air laut itu ke dalam lubang yang dibuatnya. Singkat cerita, dari peristiwa tersebut Augustinus disadarkan bahwa memecahkan misteri seperti Trinitas adalah mustahil, seperti juga upaya anak itu (seorang malaikat sebenarnya) yang ingin memindahkan air laut ke dalam lubang yang dibuatnya.

Tujuan dari Hari Raya Tritunggal Mahakudus ini bukanlah untuk mencoba datang dengan sebuah teka-teki matematika. Sebaliknya, hari Minggu ini adalah untuk merayakan bahwa Allah yang kita sembah ini – yang adalah misteri – telah menyatakan diri-Nya kepada ciptaan-Nya. Dan betapa indah perwahyuan atau pernyataan Allah ini. Kita lihat Bapa surgawi mencurahkan hidup dan kasih ke dalam diri Putera-Nya yang kekal. Kita lihat Putera  mengembalikan kasih ini melalui ketaatan. Dan kita juga melihat bahwa kasih antara Bapa dan Putera begitu agung dan besar sehingga kasih itupun adalah seorang Pribadi ilahi, yakni Roh Kudus.

Keajaibannya adalah bahwa kebenaran-kebenaran yang mengagumkan ini dinyatakan, bukan seperti dispekulasikan oleh para filsuf, akan tetapi selagi Allah mendatangi orang-orang berdosa melalui Putera-Nya, Yesus Kristus. Pada waktu Dia berjalan di tengah-tengah kita manusia, Yesus menunjukkan kepada kita kasih Allah dalam praktek. Selagi Yesus tergantung pada kayu salib, Ia membebaskan kita dari dosa dan membuka pintu-pintu surga bagi kita. Sekarang Yesus yang telah bangkit dalam kemuliaan mengutus Roh Kudus-Nya kepada kita untuk menghangatkan hati kita dengan pengetahuan tentang kebenaran. Ini adalah jenis pewahyuan atau pernyataan yang sangat menyenangkan Allah ketika Dia memberikan-Nya kepada kita, karena  memiliki kuasa untuk menyembuhkan luka-luka kita, memenuhi kita dengan pengharapan dan membawa kita bersama  dalam Dia.

Dalam Allah Tritunggal Mahakudus kita mempunyai Bapa, Putera dan Roh Kudus – tiga pribadi – yang melalui proses saling mengasihi dan saling membagi (sharing) yang kekal-abadi – kita nyatakan dalam “pengakuan iman” kita sebagai satu Allah, atau satu “komunitas”. Allah memang adalah suatu komunitas, yang telah begitu sejak kekal.

Di Afrika, kalau berbicara mengenai Trinitas, umat di sana mengatakan bahwa ada tiga penari, namun hanya ada satu tarian saja. Memang ini adalah suatu cara yang menarik untuk menjelaskan ikatan yang ada antara tiga PRIBADI itu, apakah kita menyadarinya atau tidak, tetapi hal ini bukanlah tanpa suatu fondasi historis. Orang-orang Yunani pada zaman Gereja Awal menggunakan kata choreuein (menari) dalam upaya mereka menggambarkan bagaimana ketiga pribadi dalam Trinitas berelasi satu sama lain. Dari kata Yunani choreuein ini diperoleh kata Inggris  choreography (Indonesia: koreografi), yaitu merancang tarian balet atau tarian di atas panggung. Jadi, boleh saja kita memvisualisasikan Trinitas sebagai suatu dynamic trio yang bergerak dengan anggunnya dari kekal sampai kekal, mengajak kita semua, para rekan penari untuk mengikuti-Nya.

Allah adalah satu, dan Allah adalah suatu komunitas. Komunitas ini terbuka dan samasekali tidak menyimpan sendiri kasih tak terbatas di dalam diri-Nya. Kasih agung dari komunitas ini mengejah-wantah dalam ciptaan-Nya. Allah sebagai Komunitas menciptakan alam semesta, termasuk dunia dan segala isinya. Karena diciptakan oleh Allah, semua ciptaan-Nya baik adanya, penuh keharmonisan dan sungguh dirahmati (lihat Kej 1 dan 2). Akhirnya, dari semua makhluk hidup yang diciptakan oleh-Nya hanya manusialah yang diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya (Kej 1:26-27). Pernyataan dalam Kitab Suci secara eksplisit bahwa kita diciptakan sebagai laki-laki dan perempuan (Kej 1:27) memiliki makna yang sangat signifikan. Ini merupakan sebuah petunjuk adanya kejamakan atau komunitas. Dua hal ini, yaitu “kejamakan” dan “diciptakan menurut citra Allah” menyarankan bahwa kita secara khusus seperti Allah apabila kita mempraktekkan suatu kehidupan penuh kasih dan berbagi satu sama lain sebagaimana dilakukan oleh Bapa, Putera dan Roh Kudus.

Oleh karena itu jelaslah bahwa manusia diciptakan sebagai sebuah komunitas saudari dan saudara tanpa mengenal pembeda-bedaan berdasarkan suku, bangsa, ras, kebudayaan, kepemilikan harta-kekayaan, dll. (status sosekbud dll.). Bukankah ini gambaran indah dari Kerajaan Allah? Allah tidak akan menciptakan perpecahan yang bersifat negatif. Dari awal penciptaan sampai akhir dunia, niat Allah bagi kita menjadi sebuah komunitas saudari dan saudara tanpa pembeda-bedaan status, dan niat-Nya itu tidak pernah berubah dan pasti tidak akan diubah-Nya. Hal ini digarisbawahi kemudian oleh Santo Paulus: “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus” (Gal 3:28). Kesimpulannya adalah: Tidak pernah boleh ada penghalang apa pun antara anggota komunitas manusia berdasarkan ras, jenis kelamin, dll. Allah menciptakan kita dengan kehendak bebas, namun kita menyalah-gunakan kehendak bebas yang diberikan-Nya itu.

Setiap kebersamaan sebuah komunitas Kristiani hanya dapat datang dari Tritunggal Mahakudus saja, karena Trinitas ini adalah “model” dan “sumber” semua kebersamaan, seperti ditulis oleh Santo Paulus: “Anugerah Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian” (2Kor 13:13). Agar efektif, semua kebersamaan manusia (tidak terbatas pada komunitas Kristiani) harus mengambil model persekutuan (Yunani: koinonia) dari Tritunggal Mahakudus. Sebagaimana jemaat Korintus, apabila kita membuka diri bagi dorongan-dorongan Roh Kudus dalam batin kita, maka ada pengharapan terjadinya damai-sejahtera dan keharmonisan di tengah-tengah komunitas.

Sebuah komunitas/persaudaraan Fransiskan adalah pertama-tama sebuah komunitas Kristiani, jadi harus mengambil Trinitas sebagai “model” dan “sumber” dari hidup persaudaraan kita. Hal ini tidak dapat ditawar-tawar. Iman kepercayaan Santo Fransiskus dari Assisi kepada Allah Tritunggal Mahakudus sudah diketahui oleh kita semua. Beberapa contoh saja untuk sekadar refreshing:

(1)     Anggaran Dasar Tanpa Bulla dibuka dengan kata-kata: “Demi nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin” (AngTBul Mukadimah:1);

(2)     “Seganilah dan hormatilah, pujilah dan muliakanlah, ucap syukurlah dan sembahlah Tuhan Allah Yang Mahakuasa, Tritunggal dan Esa, Bapa dan Putera dan Roh Kudus, Pencipta segala sesuatu” (AngTBul XXI:2).

(3)     Dalam Penutup Anggaran Dasar Tanpa Bulla dia menulis: “Aku memohon kepada Allah, agar Ia, Yang Mahakuasa, Tiga dan Esa, memberkati semua orang yang mengajarkan semuanya ini, mempelajarinya, menyimpannya, mengingatkannya dan melaksanakannya, setiap mereka mengulangi dan melakukan apa yang ditulis di sini demi keselamatan jiwa kita” (AngTBul XXIV:2). AngTBul bab XXIV ini ditutup dengan doksologi yang sudah kita kenal baik karena diucapkan beberapa kali setiap hari: “Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu dan sepanjang segala masa. Amin” (AngTBul XXIV:5).

(4)     Surat kepada seluruh Ordo dibuka sebagai berikut: “Demi nama Trinitas Yang Mahaluhur dan keesaan yang kudus, Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin” (SurOr 1).

(5)     ‘Dalam Surat Kedua kepada Kaum Beriman’, Fransiskus menulis: “Semua orang, laki-laki dan perempuan, apabila melakukan hal-hal itu dan bertekun hingga akhir, maka Roh Tuhan akan tinggal pada mereka dan akan memasang tempat tinggal dan kediaman di dalam mereka. Maka mereka akan menjadi anak-anak Bapa surgawi, yang karya-Nya mereka laksanakan. Mereka menjadi mempelai, saudara dan ibu Tuhan kita Yesus Kristus. Kita menjadi mempelai bila jiwa yang setia disatukan dengan Yesus Kristus oleh Roh Kudus. Kita menjadi saudara bila kita melaksanakan kehendak Bapa-Nya yang ada di surga. Kita menjadi ibu bila kita mengandung Dia di dalam hati dan tubuh kita karena kasih dan karena suara hati yang murni dan jernih. Kita melahirkan Dia melalui karya yang suci, yang harus bercahaya bagi orang lain sebagai contoh. O betapa mulia, kudus dan agungnya mempunyai Bapa di surga! O betapa kudus, menghibur, indah dan mengagumkan mempunyai seorang mempelai! O betapa kudus dan mesranya, betapa menyenangkan, menyejukkan, menenteramkan, manis, sedap, patut dicintai dan diinginkan melampaui segalanya, mempunyai saudara dan anak yang demikian, yang telah mempertaruhkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya dan mendoakan kita pada Bapa …… Hendaklah segala makhluk yang ada di langit, di bumi, di laut dan di bawah bumi menyampaikan pujian, kemuliaan, hormat dan keluhuran bagi Allah, yang telah menanggung begitu banyak bagi kita, telah menganugerahkan begitu banyak kebaikan dan akan terus menganugerahkannya; sebab Dialah kemampuan dan kekuatan kita. Hanya Dialah Yang Baik, hanya Dialah yang mahatinggi, hanya Dialah yang mahakuasa, menakjubkan, mulia. Dialah satu-satunya yang kudus, patut dipuji dan diluhurkan sepanjang masa yang tidak berkesudahan. Amin” (2SurBerim 48-62). 

Dalam doa dan teristimewa pada Misa Kudus hari ini, pandanglah dengan penuh kasih Tritunggal Mahakudus, agar kita dapat melihat misteri dan kasih kekal Bapa dan Putera. Marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk menarik kita lebih dalam lagi ke dalam kehidupan ilahi, yaitu kehidupan Allah sendiri, sebagai komunitas kasih yang mahasempurna. Marilah kita mencontoh Juruselamat kita, mengasihi Allah sebagai Bapa kita dan meletakkan hidup kita untuk melakukan kehendak-Nya.

Akhirnya marilah sekarang kita berdoa seperti yang dilakukan oleh Bapak Serafik kita; “Allah Yang Mahakuasa, kekal, adil dan berbelaskasihan, perkenankanlah kami yang malang ini, demi Engkau sendiri, melakukan apa yang setahu kami Engkau kehendaki, dan selalu menghendaki apa yang berkenan kepada-Mu, agar setelah batin kami dimurnikan dan diterangi serta dikobarkan oleh api Roh Kudus, kami mampu mengikuti jejak Putera-Mu yang terkasih, Tuhan kami Yesus Kristus, dan berkat rahmat-Mu semata-mata sampai kepada-Mu, Yang Mahatinggi, Engkau yang tritunggal yang sempurna dan dalam keesaan yang sederhana, hidup dan memerintah serta dimuliakan, Allah yang Mahakuasa sepanjang segala masa. Amin” (SurOr 50-52).

Salam persaudaraan, 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

p.s. Bacalah tulisan yang berjudul “FRANSISKUS DAN ALLAH TRITUNGGAL MAHAKUDUS” tanggal 20 Mei 2010, dalam situs/blog PAX ET BONUM ini; kategori: ALLAH TRITUNGGAL.

ALLAH: BAPA, PUTERA DAN ROH KUDUS

ALLAH: BAPA, PUTERA DAN ROH KUDUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS, Minggu 19-6-11 

Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan supaya dunia diselamatkan melalui Dia. Siapa saja yang percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; siapa saja yang tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab Ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. (Yoh 3:16-18)

Bacaan Pertama: Kel 34:4b-6,8-9; Mazmur Tanggapan: Dan 3:52-56; Bacaan Kedua: 2Kor 13:11-13 

Pada hari ini Gereja mengundang kita untuk memeditasikan misteri Tritunggal Mahakudus dan rencana agung Allah Tritunggal Mahakudus bagi kita sejak semula. Hakekat dari rencana ini adalah bahwa dari sejak kekal Allah telah menginginkan sebuah umat yang akan ikut ambil bagian dalam kehidupan dan kasih-Nya. Walaupun dosa masuk ke dalam dunia sejak awal-awal kemanusiaan, yaitu ketika Adam dan Hawa menyalahgunakan kebebasan mereka dan karenanya kehilangan keintiman kasih Allah, rencana abadi Allah tetap berlaku. Hari Raya Tritunggal Mahakudus ini adalah satu dari sedikit hari-raya/pesta yang didedikasikan kepada sebuah doktrin dan bukannya suatu peristiwa keselamatan. Perayaan ini diawali pada abad pertengahan, di mana ditekankan bahwa hanya ada satu Allah, karena Dia hanya memiliki satu kodrat ilahi; namun ada tiga pribadi.  

Orang-orang Yahudi mempunyai sebuah pernyataan iman-kepercayaan fundamental, yaitu “Shema”: “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN (YHWH) itu Allah kita, YHWH itu esa! Kasihilah YHWH, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu” (Ul 6:4-5). Untuk mendapatkan ide bagaimana orang Israel harus melakukannya, maka lanjutkanlah bacaan anda sampai dengan ayat ke-7. Bagi mereka yang mendoakan Ibadat Harian, kita tahu bahwa Ul 6:4-7 ini adalah bacaan singkat dari Ibadat Penutup sesudah Ibadat Sore I hari Minggu (Sabtu malam). Apabila kita melanjutkan lagi membacanya sampai dengan Ul 6:9, maka lebih jelas lagi apa yang dilakukan oleh orang Yahudi sampai hari ini berkaitan dengan kepercayaan monotheis mereka.  

Salah satu tugas paling penting dari para nabi adalah membela monotheisme dan penyembahan yang murni. Kalau tidak demikian halnya, maka orang-orang Yahudi akan menyembah banyak dewa sebagaimana dipraktekkan oleh bangsa-bangsa di sekeliling mereka. Dengan demikian jelaslah mengapa Perjanjian Lama tidak berbicara secara eksplisit tentang Putera (Anak) atau Roh Kudus. Namun demikian, secara implisit ada petunjuk tentang Firman (Sabda) Ilahi dalam Perjanjian Lama, teristimewa dalam kitab-kitab kebijaksanaan, yang dikatakan ada di sisi Allah ketika Dia menciptakan langit dan bumi, yang turun ke bumi dan mencari tempat kediaman di tengah-tengah umat-Nya, mengundang mereka ke perjamuan pesta dan untuk mendengarkan sabda-Nya. Roh Kudus diinsinuasikan oleh deskripsi tentang nafas kehidupan penuh kuasa yang diciptakan-Nya, memberikan kepada manusia nafas kehidupan (Kej 2:7) dan menginspirasikan para nabi sehingga mereka penuh dengan Roh-Nya. YHWH dalam Perjanjian Lama bukanlah “Pribadi Pertama” dalam Tritunggal Mahakudus seperti yang kita kenal, melainkan Allah yang mempunyai keberadaan-Nya sendiri, keluar sendiri dengan komunikasi-diri-Nya sendiri dst. Singkatnya, tidak ada embel-embel lain lagi. 

Allah, teristimewa Allah Bapa, itu penuh belas kasihan. Ia dinamis, tidak statis dan Ia tidak kekurangan sesuatu pun pada diri-Nya. Sebagai Allah Ia sempurna tanpa batas. Namun Ia memilih orang-orang Yahudi sebagai umat-Nya, dan Ia ingin menjadi Allah mereka. Akan tetapi kemudian orang-orang Israel mengingkari perjanjian mereka dengan Allah di Sinai dahulu, walaupun mereka mengetahui bahwa Allah mereka itu adalah ‘seorang’ Allah yang pencemburu, yang tidak dapat mentolerir dewa atau ilah lain di samping diri-Nya (Kel 20:5 dsj.). Namun Musa mengetahui benar bahwa “YHWH adalah Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya” (lihat Kel 34:6). Allah tidaklah seperti kita: pemarah, pendendam dst. Kesetiaan-Nya itu kekal-abadi, walaupun kita sendiri tidak setia. Gambaran yang sama tentang Bapa yang penuh belas kasihan itu kita temukan juga dalam bacaan Injil hari ini: “Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan supaya dunia diselamatkan melalui Dia” (Yoh 3:16-17). 

Allah Bapa menerima kita sebagaimana apa adanya kita. Dia selalu memandang apa yang baik dalam diri kita dan Ia tidak pernah berputus asa, bahkan ketika kita sendiri berada dalam keadaan berputus asa. Dia tetap menghargai kita dan mengasihi kita, bahkan ketika kita berada dalam keadaan yang paling rendah dan hina-dina sekalipun. Allah Bapa ingin agar kita memiliki hidup ilahi-Nya sendiri dan mengenali hidup ilahi itu dalam diri kita. Dalam perumpamaan “Anak yang hilang” (Luk 15:11-32) sang bapa bahkan tidak memberi kesempatan anaknya yang bungsu itu mengucapkan permohonan maafnya: “Aku tidak layak lagi disebut anak bapa” (Luk 15:19). Anak bungsu itu adalah anaknya dan tetap anaknya, apapun yang telah dilakukannya. 

Bapa surgawi adalah Allah yang senantiasa berkomunikasi, yang selalu mencari kontak. Selama kita tetap berkomunikasi dengan-Nya, maka semua akan baik-baik saja. Putera senantiasa mendengarkan Bapa dan melakukan kehendak-Nya: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh 4:34). Adalah kehendak Bapa untuk mengutus Putera-Nya yang tunggal ke dunia sehingga setiap orang yang percaya kepada Putera akan beroleh hidup yang kekal (Yoh 3:16).

Sementara Ia mendengarkan Bapa-Nya, melakukan kehendak-Nya, Putera berbicara kepada kita apa yang difirmankan Bapa kepada-Nya. Tergantung kepada kita, apakah kita menerima pesan-Nya dan dengan demikian memperoleh kehidupan kekal sekarang juga atau kalau kita mengeraskan hati kita, menolak pesan Allah, jadi telah berada di bawah hukuman. Putera tidak menghukum seorang pun. Yang diinginkan-Nya hanyalah memberikan anugerah/rahmat-Nya, kehidupan kekal, yang hanya dimungkinkan oleh ketaatan-Nya yang total-lengkap kepada Bapa. Memang dalam bacaan Injil ini Roh Kudus tidak disebutkan secara eksplisit, namun jelas bahwa Roh Kuduslah yang memberikan keterbukaan seseorang akan sabda Putera. 

Kasih timbal-balik antara Bapa dan Putera adalah Roh Kudus. Jadi, Allah Tritunggal Mahakudus dapat digambarkan sebagai sebuah komunitas yang terdiri dari tiga pribadi, dalam komunitas mana ada kasih yang sempurna. Jadi dalam Allah ada kasih yang sempurna, atau kebersamaan yang sempurna, suatu persekutuan (Yunani: koinonia) yang sempurna. 

Semua kebersamaan manusiawi (human togetherness) hanya dapat bersumber dan mengambil contoh dari koinonia Tritunggal Mahakudus, dan Roh Kudus secara khusus yang membuat hidup semua kebersamaan. Berkat yang ditulis Santo Paulus pada akhir bacaan kedua hari ini berbunyi sebagai berikut: “Anugerah Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian”  (2Kor 13:13). Kita lihat di sini bahwa “kasih” itu teristimewa dipertalikan dengan Bapa, “anugerah” (karunia; rahmat) dipertalikan dengan Yesus Kristus (Putera, Anak) dan “persekutuan” dipertalikan dengan Roh Kudus. Kasih atau belas kasihan (mercy; kerahiman) Bapa ini digambarkan dalam bacaan pertama hari ini, anugerah Yesus Kristus teristimewa dalam Injil dan persekutuan Roh Kudus dalam bacaan kedua. 

Selama umat di Korintus mau membuka diri bagi dorongan Roh Kudus, maka akan ada pengharapan akan damai sejahtera dan keharmonisan (sehati sepikir) yang dapat diekspresikan secara eksternal oleh mereka dalam wujud ciuman kudus satu sama lain (lihat 2Kor 13:11-12). 

DOA: Kami memuji-Mu dan berterima kasih penuh syukur kepada-Mu, ya Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Berikanlah kepada kami rahmat untuk mentaati perintah-perintahmu dan mendasarkan kehidupan kami di atas janji-janji-Mu. Kami mohon, perkenankanlah ikut ambil bagian dalam kehidupan-Mu sehingga dengan demikian kami dapat menjadi terang pengharapan dan saksi-saksi dai kasih-Mu kepada setiap orang di sekeliling kami. Amin. 

Catatan: Bacalah tulisan yang berjudul “FRANSISKUS DAN ALLAH TRITUNGGAL MAHAKUDUS” tanggal 20 Mei 2010, dalam blog PAX ET BONUM ini; kategori: ALLAH TRITUNGGAL.

Cilandak, 12 Juni 2011 [HARI RAYA PENTAKOSTA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

FRANSISKUS DAN ALLAH TRITUNGGAL MAHAKUDUS

FRANSISKUS DAN ALLAH TRITUNGGAL MAHAKUDUS

“Seganilah dan hormatilah, pujilah dan muliakanlah, ucap syukurlah dan sembahlah Tuhan Allah Yang Mahakuasa, Tritunggal dan Esa, Bapa dan Putera dan Roh Kudus, Pencipta segala sesuatu.” [AngTBul XXI:2]

Pada Hari Raya Tritunggal Mahakudus tahun 1998, tepat dua belas tahun lalu, sebagai Minister Persaudaraan OFS Santo Ludovikus IX, Jakarta, saya mengirimkan sepucuk memorandum kepada para anggota persaudaraan yang berjudul ‘Fransiskus dan Tritunggal Mahakudus’. Memorandum tersebut dimaksudkan terutama bagi para anggota yang sudah berprofesi, sebagai bagian dari proses bina lanjut (ongoing formation) para saudara-saudari Fransiskan sekular yang merupakan anggota persaudaraan termaksud.

Untuk menjaga-jaga jangan sampai para anggota persaudaraan ‘menyerah sebelum bertempur’, pada bagian awal memorandum saya menulis:  “Kalau Saudara-saudari merasakan tulisan ini agak susah dicerna, saya cuma minta agar Saudara-saudari jangan cepat menyerah. Dengan semangat ‘ora et labora’ tentunya kita akan – cepat atau lambat – sampai (juga) kepada pemahaman dasar yang diperlukan mengenai Tritunggal Mahakudus ini, seturut contoh yang diberikan oleh Bapak Serafik kita. Perlu dicatat bahwa tulisan ini tidaklah bersifat komprehensif. Tulisan ini sekedar mau mengulas beberapa pokok penghayatan iman yang menyangkut Tritunggal Mahakudus seperti dicontohkan oleh Fransiskus Assisi. Sangat mustahillah, bahkan bagi seorang teolog yang sangat ulung sekalipun untuk mampu menulis secara lengkap tentang misteri Tritunggal Mahakudus, apalagi hanya dalam beberapa halaman” [FXI, hal. 1]

Misteri Trinitas yang mahaagung ini memang tidak dapat ditangkap sepenuhnya oleh akal budi manusia; diperlukan iman-kepercayaan! Siapa yang tidak kenal cerita tentang Santo Augustinus? Pada suatu hari, ketika dia berjalan di pantai sambil merenungkan misteri Tritunggal Mahakudus, Augustinus bertemu dengan seorang anak (malaikat) yang sedang menuangkan air laut ke dalam lubang yang dibuatnya di pantai. Ketika ditanya oleh Augustinus apa yang sedang dilakukannya, anak itu menjawab bahwa dia bermaksud memindahkan seluruh air laut yang ada ke dalam lubang yang dibuatnya. Orang kudus itu menjelaskan kepada anak itu bahwa yang dilakukannya adalah sesuatu yang mustahil. Anak itu kemudian menanggapi komentar Augustinus, dengan mengatakan bahwa apa yang sedang dipikirkan dan direnungkan Augustinus untuk memperoleh jawaban yang tuntas tentang Trinitas sama saja mustahilnya. Sebuah pelajaran penuh pencerahan bagi orang kudus yang terkenal pandai itu.

Dalam tulisan ini kita akan mengamati bagaimana Fransiskus memandang Allah Bapa sebagai Pusat dan Sumber dari segala sesuatu, dan bagaimana dia memahami hubungan interior dalam Trinitas serta juga campur tangan Allah dalam dunia.

Tulisan ini sendiri pada dasarnya dimaksudkan sebagai bahan pertemuan persaudaraan Fransiskan sekular dalam rangka bina lanjut para anggotanya, namun dapat dimanfaatkan oleh siapa saja yang berminat untuk lebih mengenal secara lebih dekat lagi dengan Santo Fransiskus dari Assisi dan keluarga besarnya yang masih melakukan perjalanan ziarah di bumi ini.

Sebuah misteri hubungan Antar-Pribadi

Ajaran bahwa ada tiga Pribadi dalam satu Allah tidak dapat dirumuskan sebagai akibat dari suatu deduksi logis, tetapi mestinya merupakan suatu perwahyuan dari Allah sendiri. Fransiskus selalu terbuka bagi inspirasi-inspirasi Roh Kudus yang memimpin dia untuk mengetahui dan menyambut Sang Putera, yang kemudian menyatakan Bapa kepadanya. Fransiskus sampai pada pengetahuan yang begitu baik tentang misteri Trinitas, oleh karena pengalaman batinnya sendiri akan misteri ini. Seperti layaknya seorang anak, Fransiskus tidak dapat memberikan sebuah definisi tentang cintakasih, akan tetapi berhasil menemukan apa cintakasih itu, lewat hidupnya sebagai anggota sebuah keluarga yang mencintai/mengasihi.

Menyambut Roh Kudus agar dapat mendengarkan dan mengikuti sang Putera – itulah cara kita untuk sampai kepada Allah Tritunggal Mahakudus, yang tentang-Nya kita suka menggagap mengucapkan-Nya dalam ‘Pengakuan Iman’ kita. Kekristenan atau Kristianitas bukanlah  serangkaian risalat teologis individual, yang bersifat saling independen satu sama lain, melainkan suatu perwahyuan yang bertalian secara logis, yang di dalamnya segala sesuatu cocok satu sama lain. Lagipula, sementara para mistikus Kristiani asli dapat mempunyai pengalaman-pengalaman awal yang berbeda-beda, perjalanan-perjalanan spiritual mereka selalu berakhir pada Trinitas, yang memberikan pencerahan kepada mereka tentang keseluruhan misteri penyelamatan. Fransiskus adalah seorang mistikus sedemikian, dan akan kelirulah apabila kita berpikir bahwa spiritualitasnya terbatas pada dimensi Kristologis saja [MH, hal. 55].

Sejarah pemikiran religius menunjukkan kepada kita, bahwa suatu Kristologi yang tidak berhubungan dengan misteri Trinitas akan sering merosot menjadi pengkultusan seorang ‘Kristus’ yang sepenuhnya adalah seorang pembebas mesianis sekular [bdk. konsep Ratu Adil]. Akan tetapi, Fransiskus bukanlah seorang penganut kultus sedemikian. Seperti kita telah lihat, dia tidak pernah memikirkan Kristus terpisah dari hubungan seorang Anak dengan Bapa-Nya dan keterbukaan-Nya yang total bagi Roh Kudus. Bagi Fransiskus, satu-satunya jalan kepada Bapa adalah melalui Putera dan Roh Kudus. Dia bukan seorang teoritisi, tetapi seorang yang praktis: Ia memulai perjalanannya menuju Allah dari realitas dunia di sekelilingnya. Ia membaca kitab-kitab Injil dan tenggelam/terserap dalam arus yang mengalir dari liturgi dan sebagai konsekuensinya, dia sampai pada satu titik di mana dirinya semakin dalam lagi menghargai kekayaan Trinitas.

Michael Hubaut OFM benar sekali ketika dia mengatakan, bahwa bagi Fransiskus, Trinitas adalah bagaikan sebuah lagu cinta yang berkumandang mengelilingi seluruh dunia: Trinitas adalah awal dan akhir dari segala sejarah penyelamatan; Ia mempersatukan dan meninggikan jalannya zaman-zaman. Alam ciptaan, penebusan dan segala sakramen Kristiani merupakan karya komunal dari Tiga Pribadi Ilahi. Dengan demikian Fransiskus mengkontemplasikan Ekaristi sebagai suatu tindakan Trinitas [MH, hal. 56]. Mengenai Kristus dalam Ekaristi, Fransiskus menulis: “Meskipun Dia tampak berada di berbagai tempat, namun Ia tetap tidak terbagi dan tak mengalami rugi; tetapi di mana pun juga, Ia yang satu dan sama berkarya, sejauh berkenan pada-Nya, bersama Tuhan Allah Bapa dan Roh Kudus Penghibur, sepanjang segala masa [SurOr 33]. Pelukis Rusia yang bernama Andrei Rublev, dalam salah satu ikonnya yang terkenal, menunjukkan Ketiga Pribadi Ilahi duduk di sekeliling meja dan mengundang kita untuk mengambil tempat ke empat yang tersedia pada meja itu.

Bagi Fransiskus, Allah Tritunggal tidak pernah merupakan sekadar suatu ide, meski ide teologis sekalipun, melainkan suatu realitas yang hidup dan aktif, suatu pencurahan kehidupan. Ia melihat dan menerima sakramen-sakramen penyelamatan sebagai suatu dialog berkesinambungan antara Trinitas dan kita, manusia. Karena keseluruhan Trinitas itu terlibat dalam penebusan, maka Fransiskus tidak ragu-ragu untuk mengakukan dosa-dosanya kepada ketiga Pribadi ilahi: Selanjutnya aku mengakukan semua dosaku kepada Tuhan Allah, Bapa dan Putera dan Roh Kudus, …” [SurOr 38]. Ia berkhotbah  tentang Trinitas Kudus dengan bergairah, bahkan kepada Sultan Mesir. Santo Bonaventura menulis: “Dengan keteguhan hati, dengan keberanian jiwa dan dengan kehangatan roh yang amat besar ia mewartakan perihal Allah Tritunggal yang Esa dan Yesus Kristus, Juruselamat semua orang”  [LegMaj IX:8]. Namun Fransiskus tidak pernah berkhotbah tentang Roh Kudus tanpa menyebutkan Inkarnasi, atau berkhotbah tentang Kristus (Sabda yang menjadi daging) tanpa berbicara mengenai Roh Kudus [lihat MH, hal. 56].

Fransiskus adalah satu-satunya pendiri keluarga rohani dalam Gereja yang dalam peraturan hidup untuk komunitasnya menulis sesuatu tentang pergi (mewartakan Kabar Baik) ke tengah kaum muslim dan orang tak beriman. Dari dua cara yang dikemukakannya, satu berbunyi seperti berikut: “Cara yang lain ialah: mewartakan firman Allah bila hal itu mereka anggap berkenan kepada Allah, supaya orang percaya akan Allah Yang Mahakuasa, Bapa dan Putera dan Roh Kudus, Pencipta segala sesuatu, dan akan Putera, Penebus dan Juruselamat, dan supaya dibaptis dan menjadi Kristiani; sebab siapa yang tidak dilahirkan kembali dari dan Roh Kudus, tidak dapat masuk ke dalam kerajaan Allah” [AngTBul XVI:7; lihat juga XXI:2]. Misi utama mereka adalah menjadi saksi-saksi dari Allah Tritunggal, Allah Mahakuasa, dan memacu para penyembah untuk melambungkan puji syukur kepada ‘Allah benar yang mahaluhur, kekal dan hidup, bersama dengan Putera-Nya terkasih, Tuhan kita Yesus Kristus, dan Roh Kudus Penghibur’ [lihat AngTBul XXIII:6].

Trinitas dalam tulisan-tulisan Santo Fransiskus

Bagi Fransiskus Allah selalu mengambil tempat pertama. Hampir pada setiap halaman tulisan Fransiskus kita dapat bertemu dengan Allah yang hadir di mana-mana (omnipresence). Apakah dia menggunakan kata ‘Allah’ (219 kali) atau ‘Tuhan (364 kali), bagi Fransiskus Allah merupakan ‘Realitas sentral’, sumber segala sesuatu dan pusat segala sesuatu. Namun baginya Allah bukanlah seorang dewa yang abstrak, karena Fransiskus selalu melihat dan memproklamasikan Dia sebagai ‘Allah Tritunggal’ atau ‘Trinitas’ . Trinitas bukanlah sekedar rumusan teoritis yang kosong, tetapi sebuah istilah yang menunjukkan kehidupan ilahi bagian dalam (interior divine life) sementara memberi tekanan ‘monarki’ dari Bapa, yang selalu mengambil tempat pertama [TM, hal. 53].

Manakala Fransiskus berbicara atau menulis mengenai Allah, maka dia jarang menggunakan kata ‘Allah’ thok, akan tetapi biasanya menempatkan nama ‘Allah’ ke dalam konteks Trinitas. Lihatlah misalnya doa Fransiskus seperti tercatat sebagai penutup ‘Surat kepada seluruh Ordo’ (SurOr 50-52), juga lihat ‘Pujian bagi Allah Yang Mahaluhur’ (PujAllah 3), dan ‘Ajakan untuk Memuji Allah’ (AjMuj 16], ketiganya akan dikutip di bagian belakang tulisan ini.

Keakraban Fransiskus dengan Allah Tritunggal dalam kemuliaan-Nya dapat kita rasakan juga dalam  salah satu ayat ‘Uraian Doa Bapa Kami’, sebagai berikut: Datanglah kerajaan-Mu: agar Engkau meraja di dalam diri kami karena rahmat-Mu, dan membawa kami masuk ke dalam kerajaan-Mu; di sana kami akan memandang Engkau dengan jelas, akan mengasihi Engkau dengan sempurna, akan berbahagia dalam persekutuan dengan-Mu dan merasakan betapa nikmatnya Engkau untuk selama-lamanya [UrBap 4].

Tritunggal yang sempurna dan Keesaan yang sederhana. Petikan tulisan Fransiskus di awal tulisan ini [AngTBul XXI:2] adalah bagian awal dari ‘pujian dan ajakan’ yang disarankan olehnya untuk digunakan oleh para Saudara Dina, kapan saja mereka inginkan, di depan siapa pun, dengan berkat Allah. Di sini kita merasakan adanya urut-urutan adorasi dan puji-pujian yang meningkat dan memuncak pada penyebutan misteri Trinitas secara eksplisit. Ungkapan ‘Tritunggal yang sempurna dan Keesaan yang sederhana’ yang digunakan Fransiskus sebagai sejenis refren liturgis, menunjukkan wawasannya yang mendalam mengenai ‘sesuatu yang lain’. Yang mencirikan hubungan-hubungan yang ada antara para Pribadi Ilahi, tetapi yang tidak bertabrakan dengan ‘Keesaan yang sederhana’. Dalam Trinitas, terdapat ‘Perbedaan yang sempurna di dalam Keesaan yang total’ (perfect Diversity within the total Unity) [lihat TM, hal. 56].

Pada salah satu sisi dari ‘Lembaran Kecil untuk Saudara Leo’ tertulis ‘Pujian bagi Allah yang Mahaluhur’ kita membaca: “Engkaulah Tuhan Yang Kudus, Allah satu-satunya,yang melakukan keajaiban-keajaiban. Engkau kuat, Engkau besar, Engkau mahaluhur, Engkaulah Raja Yang Mahakuasa, Engkaulah Bapa Yang Kudus, Raja langit dan bumi. Engkau Tuhan Yang Tiga dan Esa   Allah segala allah, Engkau baik, seluruhnya baik, paling baik, Tuhan Allah yang hidup dan benar. Engkaulah cinta kasih, Engkaulah kebijaksanaan, Engkaulah kerendahan, Engkaulah kesabaran, Engkaulah keindahan, Engkaulah kelembutan hati; Engkaulah keamanan, Engkaulah ketenteraman, Engkaulah kegembiraan, Engkau pengharapan dan sukacita kami, Engkaulah keadilan, Engkaulah keugaharian, Engkaulah segala kekayaan kami yang melimpah, Engkaulah keindahan, Engkaulah kelembutan hati, Engkaulah pelindung, Engkau penjaga dan pembela kami; Engkaulah kekuatan, Engkaulah penyegaran. Engkaulah pengharapan kami, Engkaulah kepercayaan kami, Engkaulah cinta kasih kami, Engkaulah  seluruh kemanisan kami, Engkaulah hidup kekal kami: Tuhan yang agung dan mengagumkan, Allah Yang Mahakuasa, Penyelamat yang penuh belaskasihan”  [PujAllah 1-6].

Marilah sekarang kita amati bagian paling akhir dari ‘Doa dan Ucapan Syukur’  yang ditulis Fransiskus [AngTBul XXIII]: ” Pencipta dan Penebus serta Penyelamat kita, satu-satunya Allah yang benar; Dialah kebaikan yang sempurna, segenap kebaikan, seluruhnya baik, kebaikan yang benar dan tertinggi;Dialah satu-satunya yang baik, penyayang, pemurah, manis dan lembut; Dialah satu-satunya yang kudus, adil, benar, suci dan tulus, satu-satunya yang pemurah, tak bersalah dan murni; ari Dia, oleh Dia dan dalam Dialah segala pengampunan, segala rahmat dan kemuliaan untuk semua orang yang bertobat dan yang benar, untuk semua orang kudus yang bersukacita bersama-sama di surga. Maka apa pun tidak boleh mencegah, merintangi dan menghalangi; di mana pun, di segala tempat, pada setiap saat dan setiap waktu, setiap hari dan senantiasa, hendaklah kita semua mengimani dengan sungguh-sungguh dan dengan rendah hati, menyimpan dalam hati dan mengasihi, menghormati, menyembah, mengabdi, memuji dan memuliakan, meluhurkan dan menjunjung tinggi, mengagungkan dan mensyukuri Allah yang kekal, mahatinggi dan mahaluhur, Tritunggal dan keesaan, Bapa, Putera dan Roh Kudus, pencipta segala sesuatu, penyelamat semua orang yang menaruh kepercayaan, harapan dan kasih kepada-Nya; Dia yang tanpa awal dan tanpa akhir, tidak berubah, tidak kelihatan, tidak terkatakan, tidak terperikan, tidak terhingga, tak terduga, yang  patut dihormati dan dipuji, mulia, agung, tinggi dan luhur, manis, memikat hati dan menyenangkan, seluruhnya patut dirindukan melampaui segala-galanya, sepanjang masa, Amin [AngTBul XXIII:9-11].

Banyak gelar Allah. Dalam tulisan-tulisannya, Fransiskus menggunakan banyak sekali sebutan/sapaan/gelar, baik bagi Allah Bapa, maupun Putera, seperti ‘Raja Yang Mahakuasa’, ‘Raja langit dan bumi’, ‘Pencipta dan  Penebus serta Penyelamat kita’ dan lain-lain. Dengan gelar-gelar Allah ini Fransiskus ingin menyampaikan fakta bahwa Allah adalah penyebab total dari setiap hal yang positif dalam keseluruhan realitas, seperti diungkapkannya dalam ‘Uraian Doa Bapa Kami’ : “… karena Engkaulah yang paling baik, ya Tuhan. Engkau baik untuk selamanya, Engkaulah asal segala yang baik, tanpa Engkau tidak ada yang baik satu pun” [UrBap 2]. Namun demikian, Fransiskus hanya memberikan tiga nama klasik saja untuk Roh Kudus. Paling sering dia menggunakan istilah ‘Roh Kudus’ saja tanpa embel-embel; kemudian dia menggunakan istilah ‘Roh Kudus Penghibur’ [AngTBul XXIII:5 dst.; SurOr 33; Salmar 2; Was 40], dan yang ketiga adalah ‘Roh Tuhan’ [Pth I:12; Pth XII:1; AngTBul XVII:14; AngBul X:8; 1SurBerim I:6; 2SurBerim 48].

Beberapa penjelasan. Dalam ‘Surat Kedua kepada kaum Beriman’, Fransiskus menulis: “… aku memutuskan untuk menulis surat ini dan melalui utusan memberitakan kepada kamu firman Tuhan kita Yesus Kristus, yang adalah Firman Bapa, serta firman Roh Kudus; firman itu adalah roh dan hidup” [2SurBerim 3]. Yang dimaksudkan di sini adalah bahwa Sabda Injil yang hendak diwartakan oleh Fransiskus adalah ‘Sabda Roh Kudus’, sabda-Nya adalah roh dan kehidupan. Menurut Fransiskus, Roh Kudus menolong kita untuk memahami inti makna Sabda atau Firman Allah itu, untuk mengetahui dan mengakui keilahian Kristus. Dia menulis dalam ‘Petuah-petuah’-nya: “Rasul mengatakan: Tidak ada seorang pun yang dapat mengaku: ‘Yesus adalah Tuhan’ selain oleh Roh Kudus’ [Pth VIII:1; bdk 1Kor 12:3]. Dengan demikian, menurut Fransiskus Roh Kudus adalah Juru-tafsir Kitab Suci yang sejati. Dan, apabila Roh Kudus menanamkan pada diri orang-orang pengetahuan tentang Kitab Suci, maka Dia akan memimpin orang-orang itu untuk menghaturkan terima kasih kepada Tuhan Allah Yang Mahatinggi [lihat Pth VII:4].  Roh Kudus juga aktif dengan Bapa dan Putera dalam konsekrasi Ekaristi [SurOr 33] dan Roh Tuhanlah “… yang bersemayam di dalam orang beriman-Nya, Dialah yang menyambut Tubuh dan darah Tuhan Yang Mahakudus. Semua lainnya yang tidak memiliki bagian Roh itu dan berani-berani menyambut Dia, makan dan minum hukuman atas diri-Nya sendiri” [Pth I:12-13].

Roh Kudus tidak sering disinggung, akan tetapi …… Baik ‘Anggaran Dasar tanpa Bulla’ maupun ‘Anggaran Dasar dengan Bulla’ berisikan kalimat yang meringkaskan pemahaman Fransiskus tentang tindakan Roh Kudus dalam kehidupan para Saudara Dina. Dalam hal ini Fransiskus menggunakan istilah ‘Roh Tuhan’ :

“… Roh Tuhan menghendaki agar daging tetap dimatikan dan diaibkan, tetap hina dan nista. Ia mengusahakan kerendahan dan kesabaran serta ketenteraman hati yang sejati, murni dan sederhana. Dan di atas segala-galanya Ia senantiasa menginginkan takwa ilahi dan kebijaksanaan ilahi serta cintakasih ilahi Bapa dan Putera dan Roh Kudus” [AngTBul XVII:14-16].

“… yang hendaknya mereka perhatikan ialah keinginan untuk memiliki Roh Tuhan melampaui segala-galanya dan membiarkan Dia berkarya di dalam diri mereka; ingin selalu berdoa kepada-Nya dengan hati yang murni; ingin rendah hati, sabar dalam penganiayaan dan sakit; dan ingin mencintai mereka yang menganiaya, mencela dan berperkara dengan kita, sebab Tuhan bersabda: Cintailah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya dan memfitnah kamu” [AngBul X:8-10].

Secara selayang pandang kelihatannya Roh Kudus memainkan peranan yang tidak besar dalam tulisan-tulisan Fransiskus karena dia jarang menyebut-nyebut Roh Kudus, dan gelar yang diberikan kepada Roh Kudus juga relatif sedikit. Namun kalau kita cermati secara lebih mendalam, kita akan melihat, bahwa meskipun kehadiran Roh Kudus dalam tulisan-tulisan orang kudus ini tidak menonjol, tetaplah Roh Kudus ‘merembes’ ke mana-mana dalam tulisan-tulisannya itu. Seperti diproklamasikan oleh liturgi Byzantin, Dia adalah sungguh ‘Roh Tuhan yang hadir di mana-mana!’  Fransiskus memang juga mengatakan bahwa Roh Kudus selalu berkarya bersama Bapa dan Putera [bdk. SurOr 33].

Istilah-istilah deskriptif yang digabungkan dengan istilah-istilah yang mengungkapkan pengalaman rohani secara pribadi. Menurut Bonaventure Hindwood OFM, Fransiskus bukanlah seorang teolog produk sekolah tinggi. Oleh karena itu dia tidak menganalisis istilah-istilah agar dapat menyampaikan keajaiban Sang Pencipta yang memang tidak kelihatan. Fransiskus mengatakan: “Ia hanya dapat dilihat dalam Roh, karena Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna” [Pth I:6]. Sebaliknya, Fransiskus menggunakan teknik yang sering dijumpai dalam Alkitab, yaitu mengumpulkan istilah-istilah agar menghasilkan dampak yang dahsyat. Semuanya ini adalah istilah-istilah yang bersifat deskriptif. Efeknya ditingkatkan lagi dengan menambahkan istilah-istilah tadi dengan istilah-istilah yang mengungkapkan  pengalaman subjektif seseorang yang mengalami Dia sebagai Pencipta dalam kedalaman dirinya dan juga dalam peristiwa-peristiwa kehidupannya [BH, hal. 5]. Demikianlah halnya dengan beberapa contoh doa Fransiskus yang dikutip di atas.

Pemikiran Fransiskus tentang Allah yang jelas-jelas bersifat trinitaris dalam beberapa contoh di atas patut dicatat. Bonaventure Hindwood OFM mempertanyakan apakah hal ini disebabkan oleh pengalaman spiritual Fransiskus sendiri, atau karena sedikit banyak dipengaruhi oleh ajaran Konsili Lateran IV? Mungkin sebuah pertanyaan yang tidak dapat dijawab [BH, hal. 7].

Diawali dan diakhiri dengan doa kepada Tritunggal Mahakudus. Pada kenyataannya Fransiskus seringkali memulai (malah di awal sebuah alinea) dan mengakhiri tulisannya dengan doa kepada Tritunggal Mahakudus; kadang-kadang dalam bentuk sederhana, kadang dalam bentuk yang lebih terinci:

‘Anggaran Dasar Tanpa Bulla diawalinya dengan “Demi nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin” [AngTBul Mukadimah: 1] dan diakhirinya dengan “Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu dan sepanjang segala masa. Amin” [AngTBul XXIV:5].

  • ‘Surat Kedua kepada Orang Beriman’ diawalinya dengan “Demi nama Tuhan: Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin” [awal 2SurBerim]; di bagian akhir surat: “Demi nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin” [2SurBerim 86], dan sebagai berkat: “……… kalau mereka bertekun di dalamnya hingga akhir, semoga diberkati oleh Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin” [2SurBerim 87];
  • Pembukaan ‘Surat kepada seluruh Ordo’ berbunyi: “Demi nama Trinitas Yang Mahaluhur dan keesaan yang kudus, Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin” [SurOr 1].

Allah Tritunggal juga dipuji-puji dalam pengembangan teologis yang berbeda-beda derajatnya, berkisar dari yang sederhana seperti terdapat dalam ‘Pujian yang diucapkan pada semua Waktu Ibadat’ [PujIb 4, 9], melalui ‘Anggaran Dasar Tanpa Bulla’ bab XXI, sampai kepada bentuk yang lebih terinci dalam bab XXIII, di mana peranan Trinitas dalam penciptaan dan penebusan diungkapkan:

(1) Allah Yang Mahakuasa, Mahakudus, Mahatinggi dan Mahaluhur, Bapa yang kudus dan adil, Tuhan raja langit dan bumi, kami bersyukur kepada-Mu karena Engkau sendiri, sebab dengan kehendak-Mu yang kudus, dan oleh Putera-Mu yang tunggal bersama Roh Kudus, Engkau telah menciptakan segala sesuatu yang rohaniah dan badaniah; dan kami yang Kauciptakan menurut citra dan persamaan-Mu, Kautempatkan di firdaus, (2) namun kami telah jatuh karena kesalahan kami. (3) Kami bersyukur kepada-Mu karena sebagaimana dengan perantaraan Putera-Mu, Engkau telah menciptakan kami, demikian pula karena kasih-Mu yang kudus, yang telah  Engkau berikan kepada kami, Engkau telah membuat Dia, yang sungguh Allah dan sungguh manusia, lahir dari Santa Maria yang tetap perawan, yang mulia dan amat berbahagia; dan oleh salib, darah dan wafat-Nya, Engkau mau menebus kami, orang tawanan.

……………………

(5) Kami semua yang malang dan pendosa ini tidak layak menyebut nama-Mu; maka kami mohon sambil bersujud, agar Tuhan kami Yesus Kristus, Putera-Mu yang terkasih yang kepada-Nya Engkau berkenan, bersyukur kepada-Mu atas segala sesuatu, bersama dengan Roh Kudus Penghibur, sebagaimana berkenan pada-Mu dan pada-Nya; bagi-Mu dialah yang selalu memadai dalam segalanya, dan dengan perantaraan Dialah Engkau telah mengerjakan begitu bagi kami. Haleluya. [AngTBul XXIII:1-3, 5].

Allah Bapa tetap menduduki tempat sentral. Kebiasaan Fransiskus mengacu pada Trinitas pada hampir setiap kesempatan dia berbicara mengenai Allah, tidaklah memindahkan tempat Bapa. Bapa tetap berada di pusat. Pergerakan Bapa yang keluar menuju dunia selalu melalui Putera-Nya yang tunggal bersama Roh Kudus dapat kita lihat dalam AngTBul XXIII:1. Hal ini dapat dimengerti karena kasih-Nya yang kudus, yang telah Allah berikan kepada manusia [lihat AngTBul XXIII:3].Di lain pihak, kalau pun Fransiskus dengan panjang lebar berbicara mengenai Kristus (misalnya tentang keilahian-Nya), maka dia selalu melakukannya dalam konteks Bapa-Nya atau Trinitas (lihat Pth I; AngTBul XXII:41-55; AngTBul XXIII:1-6 dan 2SurBerim 3-15). Bagi Fransiskus, Putera tidak terpisahkan dari Bapa, dan dia tidak pernah memandang kemanusiaan Kristus sebagai sesuatu hal yang terpisahkan dari praeksistensi-Nya di surga, atau dari kemuliaan kebangkitan-Nya. Kristologi (teologia tentang Kristus) dari Fransiskus seperti termuat dalam AngTBul XXIII:1-6 dan 2SurBerim 3-15 yang disebutkan di atas, jelas berakar pada Trinitas.

Puji-pujian secara khusus ini seperti keseluruhan kutipan di atas memberi penekanan pada kenyataan bahwa pemikiran-pemikiran Fransiskus tentang Allah Tritunggal tidak membentuk suatu kelanjutan yang bersifat paralel dengan Allah sebagai Pencipta, melainkan hanya merinci dengan lebih tepat sifat Allah sebagai Pencipta dan Penebus, yang adalah Pewahyu Tritunggal, seperti dijelaskan oleh Fransiskus ketika dia menulis: “……… firman Tuhan kita Yesus Kristus, yang adalah firman Bapa, serta firman Roh Kudus, Firman itu adalah roh dan hidup. Firman Bapa itu, yang begitu luhur, begitu kudus dan mulia, telah disampaikan dari surga oleh Bapa Yang Mahatinggi, dengan perantaraan Gabriel malaikat-Nya yang kudus, ke dalam kandungan Perawan Maria yang kudus dan mulia. Dari kandungannya, firman itu telah menerima daging sejati kemanusiaan dan kerapuhan kita” [2SurBerim 3-4].

Pandangan Konsili Lateran IV dan kebanyakan teologi rahmat pada waktu itu tentang karya-karya eksternal Allah adalah sebagai karya gabungan dari Trinitas. Oleh karena itu pantas untuk dicatat bahwa Fransiskus seringkali mengacu kepada hubungan-hubungan khusus antara satu atau lainnya dari ketiga Pribadi ilahi dengan subjek manusia yang dirahmati. Yang paling mencolok adalah bagaimana Fransiskus mengedepankan ketiga Pribadi ilahi sekaligus dan secara singkat. Contohnya dapat kita lihat pada ‘Pedoman Hidup untuk Santa Klara’ yang singkat-padat: “(1)Oleh karena, atas dorongan ilahi, engkau telah bersedia menjadi puteri dan abdi Raja Yang Mahatinggi dan Mahaluhur, Bapa Surgawi, dan kamu telah menyerahkan dirimu sebagai mempelai kepada Roh Kudus dengan memilih hidup menurut kesempurnaan Injil Suci, (2) maka aku menghendaki dan berjanji secara pribadi dan melalui saudara-saudaraku, untuk selalu memberikan pemeliharaan yang baik dan keprihatinan khusus, sama seperti bagi mereka” [PedHid 1-2].

Menurut Bonaventure Hindwood OFM, ‘memilih hidup menurut kesempurnaan Injil Suci’, berarti ‘memilih hidup menurut pola Putera, Firman yang menjadi manusia’ (Son incarnate) [BH, hal. 9]. Leo Laba Ladjar OFM memberi penjelasan sehubungan dengan petikan di atas: “Pedoman hidup (Forma Vivendi)  berarti citra, model, ungkapan sempurna dari suatu kenyataan yang mau ditiru. Maka Fransiskus tidak memberikan sejumlah aturan atau petunjuk, tetapi menunjuk pola dasarnya, yaitu menepati Injil Suci, dan dengan demikian masuk dalam hidup ilahi yang bersifat triniter: menjadi puteri dan abdi Bapa Surgawi dan mempelai Roh Kudus” [lihat catatan kaki no. 99 dalam LLL, hal. 189; bdk. catatan kaki no.2 dalam RAIB, hal.45].

Kesadaran trinitaris yang ada dalam diri Fransiskus dapat dilihat dalam banyak lagi tulisannya, hal mana membantu kita merasakan betapa dalamnya dia menyatukan hidupnya dengan Yesus, Putera Bapa surgawi. Misalnya, dalam ‘Surat Pertama kepada Kaum Beriman’, setelah dalam beberapa ayat berbicara mengenai betapa berbahagianya mereka yang melakukan pertobatan, maka dia ‘menyuguhkan’ puji-pujian indah yang sangat bernada trinitaris: “O, betapa mulia, kudus dan agungnya mempunyai Bapa di surga. O, betapa kudus, menghibur, indah dan mengagumkan, mempunyai mempelai yang demikian. O, betapa kudus dan mesranya, betapa menyenangkan, menyejukkan, menenteramkan, manis, sedap, patut dicintai dan diinginkan melampaui segalanya, mempunyai saudara dan anak yang demikian: Tuhan kita Yesus Kristus, yang telah mempertaruhkan nyawa bagi domba-domba-Nya dan berdoa kepada Bapa … [1SurBerim I:11-13].

Catatan: Bagi para Fransiskan sekular tentunya yang terbaik adalah membaca dan menghayati keseluruhan surat Fransiskus ini [1SurBerim], sehingga dapat memberikan suatu gambaran yang utuh, teristimewa karena surat ini dijadikan sebagai Mukadimah AD OFS.

Dalam Gambaran Trinitas

Hubungan penuh cintakasih. Fransiskus tidak pernah berpikir Allah Tritunggal sebagai terpisah dari masalah-masalah manusia, seolah-olah Ia memerintah dari jauh. Sebaliknya dia tahu bahwa Trinitas adalah suatu hubungan yang penuh cintakasih antara Bapa, Putera dan Roh Kudus, suatu hubungan dari cintakasih yang diberikan, diterima dan dipertukarkan. Dari meditasinya atas misteri ini, Fransiskus mampu mempersepsikan dasar dan tuntutan-tuntutan dari setiap hubungan kemanusiaan dari persaudaraan universal. Dalam ‘Surat Kedua kepada Kaum Beriman’, dia menulis:

(48) Semua orang, laki-laki dan perempuan, apabila melakukan hal-hal itu dan bertekun hingga akhir, maka Roh Tuhan akan tinggal pada mereka dan akan memasang tempat tinggal dan kediaman di dalam mereka. (49) Maka mereka akan menjadi anak-anak Bapa Surgawi, yang karya-Nya mereka laksanakan. (50) Mereka menjadi mempelai, saudara dan ibu Tuhan kita Yesus Kristus. (51) Kita menjadi saudara bila kita melaksanakan kehendak Bapa-Nya yang ada di surga. (53) Kita menjadi ibu bila kita mengandung Dia di dalam hati dan tubuh kita karena kasih dan karena suara hati yang murni dan jernih. Kita melahirkan Dia melalui karya yang suci, yang harus bercahaya bagi orang lain sebagai contoh [2SurBerim 48-53].

Dalam mengkontemplasikan Allah Tritunggal, Fransiskus menemukan semuanya yang bersifat ‘kebapaan’, ‘keibuan’ dan ‘hubungan antara anak dengan orangtua’ dalam diri kita masing-masing. Kita menjadi bapak-bapak dan ibu-ibu dalam gambaran Allah apabila kita mengalirkan sedikit lebih cinta kasih dan harapan kepada orang-orang di sekeliling kita, apabila kita menjadi pembawa-pembawa kehidupan. Kita masing-masing mempunyai kebutuhan untuk menjadi (dalam gambaran Allah) seorang anak yang menerima cintakasih orang-orang lain dan kelembutan hati Bapa surgawi. Dari dua sikap dasar ini (memberi dan memberi) timbullah proses ‘tukar-menukar’, saling mengasihi, tidak kelihatan tetapi vital dan kreatif, seperti Roh.

Memberi kasih, menerima kasih dan saling mengasihi. Fransiskus melihat dengan jelas bahwa rahasia dari kemanusiaan dan setiap hubungan kemanusiaan terletak dalam struktur trinitaris memberi, menerima dan saling mengasihi (mempertukarkan cintakasih). Dalam terang Roh Kudus, Fransiskus menemukan bahwa kita, yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, adalah pribadi-pribadi yang lahir untuk hubungan-hubungan; bahwa kita memiliki kebutuhan untuk mengasihi, dikasihi dan menukarkan cintakasih, kalau kita ingin menjadi manusia yang utuh. Konsep Fransiskus tentang persaudaraan berasal dari upayanya mengkontemplasikan Allah, yang dinyatakan dalam Kristus dan oleh karena itu didasarkan atas cintakasih dan pertukaran cintakasih:

Di mana pun saudara-saudara berada dan bertemu, hendaklah mereka menunjukkan bahwa mereka satu sama lain merupakan saudara sekeluarga. Maka yang satu hendaknya dengan leluasa menyatakan kebutuhannya kepada yang lain; karena jika seorang ibu mengasuh dan mengasihi anaknya yang badani, betapa lebih saksama lagi seorang saudara harus mengasihi dan mengasuh saudaranya yang rohani [AngBul VI:7-8].

Dalam terang Trinitas Kudus, Fransiskus juga memahami betul fakta bahwa setiap hubungan kemanusiaan kreatif yang berhasil mensyaratkan terjadinya pertukaran yang meyakinkan ini, reprositas vital ini, saling ketergantungan ini, persekutuan dari yang berbeda-beda ini.

Dalam suatu perkawinan, dalam sebuah keluarga, atau sebuah komunitas lokal, nasional atau internasional; apabila yang ‘memberi’ adalah orang-orang yang sama-sama saja dan yang ‘menerima’ adalah orang-orang yang itu-itu juga, maka tidak lagi ada hubungan kemanusiaan yang sungguh-sungguh.

Perlu berada di tengah-tengah wong cilik. Dalam mengkontemplasikan Trinitas Kudus, Fransiskus juga merasakan keperluan untuk berada di tengah-tengah kaum miskin, mereka yang tidak dicintai, kaum marginal, mereka yang karena kesepian dan ditolak sampai menjadi terluka serta terlumpuhkan, sehingga dengan demikian tidak dapat menjadi manusia yang utuh.

Para mistikus sejati melihat bahwa sasaran sesungguhnya dari setiap perjuangan keadilan haruslah memerangi setiap bentuk dominasi atau paternalisme yang memperlakukan orang-orang seperti anak kecil dan tidak sebagai orang dewasa, apakah ini terjadi di tengah-tengah keluarga, dalam masyarakat atau bahkan di dalam Gereja, atau dalam hubungan-hubungan antar-pribadi dan antar-budaya. Hanya cintakasih pada segala tingkat hubungan kemanusiaan akan memperkenankan kita untuk memberi tanpa bersikap merendahkan diri dan untuk menerima tanpa merasa dihina.

Fransiskus memahami bahwa setiap waktu kita memberi, menerima atau saling menukarkan cintakasih Kristiani, kita mempraktekkan cintakasih yang terletak di pusat Trinitas. Tentu saja, kontemplasi Kristiani tidak menghilangkan kebutuhan kita untuk memerangi cinta-diri, tetapi sebaliknya menekankan kebutuhan itu dan memberikannya suatu arti yang tak terbatas.

Anima dan Animus. Lagipula para mistikus asli menemukan kembali segala sesuatu yang bersifat feminin dan maskulin dalam diri mereka sendiri, yang disebut oleh para pendahulu kita sebagai ‘anima’ dan ‘animus’. Karakter yang lengkap mempersyaratkan persatuan dan rekonsiliasi dua segi ini dari kepribadian kita. Fransiskus dan Klara merupakan dua contoh baik konvergensi (tindakan pemusatan) dari segi maskulin dan feminin dalam kehidupan batin mereka. Dalam ‘Nyanyian Saudara Matahari’ [NyaMat], Fransiskus secara bergantian menggunakan unsur-unsur maskulin dan feminin dalam memuji Allah.

Tentunya Fransiskus mempunyai suatu sisi feminin pada karakternya, karena dia sering menyinggung peranan ibu yang ‘mencintai dan memelihara anak-anaknya’ dan juga ‘Tuan Puteri Kemiskinan’. Ia membandingkan dirinya dengan seorang perempuan miskin yang ‘tinggal di padang gurun tertentu’ dan yang ‘mempunyai putera-putera yang cakap’ dari seorang raja [lihat 2Cel 16]; dan dalam doa dia berbicara tentang memperanakkan putera-putera untuk Tuhan [lihat 2Cel 174]. Hal yang serupa dapat kita lihat pada Klara yang menunjukkan sisi maskulinnya dengan ketegasan imannya dan kebulatan tekad (ketetapan hati) yang ditunjukkannya dalam melakukan apa yang menurutnya benar. Lagipula, kita tidak boleh cepat-cepat melihat Klara sebagai sebatang ‘tanaman kecil’ yang berlindung di bawah bayang-bayang Fransiskus, tetapi Klara juga mempunyai orijinalitasnya sendiri dan banyak menyumbang kepada Fransiskus. Tanpa Klara, kharisma Fransiskan tidaklah akan lengkap. Baik Fransiskus maupun Klara mengingatkan kita bahwa kita semua, baik laki-laki maupun perempuan, harus merekonsiliasikan segi maskulin dan feminin dalam diri kita masing-masing.

Trinitas dalam Hidup Batin Fransiskus dan Doa-doanya

Seluruh kehidupan doa Fransiskus berkisar di sekitar Trinitas. Para Fransiskan seharusnya mengikuti contoh Fransiskus. Oleh karena itu, dari contoh-contoh doa di atas dan yang akan kita muat di bawah ini, kita dapat mengiyakan apa yang ditulis oleh Pater Peter Schneible OFM, ketika dia mengatakan: “Spiritualitas dan doa Fransiskan bersifat Triniter. Kita dipimpin kepada kesatuan dengan Bapa melalui upaya kita mengikuti ‘jejak’ Kristus dalam kuasa Roh Kudus” [PS, hal. 256].  Di lain pihak Pater Hilarin Felder OFMCap. menyatakan, bahwa kita harus menyingkirkan pemikiran bahwa kesalehan Fransiskus dipraktekkan olehnya lewat devosi yang banyak rupa dan rumit. Devosinya satu, yaitu seperti layaknya anak kecil yang dengan rendah hati dan penuh sukacita, menyembah dan memuliakan Allah Tritunggal [HF, hal. 388]. Selanjutanya Pater Hilarin Felder OFMCap. memberi berbagai contoh tulisan Fransiskus seperti telah diuraikan di muka dan yang akan diuraikan di bawah.

Dipengaruhi oleh liturgi Gereja. Doa-doa Fransiskus sangat dipengaruhi oleh liturgi Gereja. Di samping petikan-petikan doa yang sudah disajikan di atas, masih ada beberapa contoh lagi yang menunjukkan ungkapan-ungkapan trinitaris dalam doa-doa Fransiskus, misalnya:

1. Terpujilah Tritunggal yang kudus dan keesaan yang tak terbagi [AjMuj 16].

2. Engkau Tuhan Yang Tiga dan Esa. Allah segala allah, Engkau baik, seluruhnya baik, paling baik, Tuhan Allah yang hidup dan benar [PujAllah 3].

Fransiskus tidak lain adalah seorang pribadi yang berdoa bersama dengan Putera, melalui Roh, kepada Bapa. Dia melihat bahwa ketiga Pribadi ilahi cukup dalam diri mereka sendiri dan ciptaan sebenarnya merupakan kepenuhan yang berkelimpahan dari ketiga Pribadi ilahi [lihat AngTBul XXIII:5 yang sudah dipetik di depan.

Doksologi ‘Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus’ yang begitu sering kita ucapkan dalam Ibadat Harian (Ofisi Ilahi) dan doa-doa kita lainnya, bagi Fransiskus tidak pernah menjadi sekadar penutup doa yang bersifat rutin, tetapi suatu tindakan adorasi, sembah sujud jiwa dan raganya di hadapan Allah Tritunggal Mahakudus. Frekuensi munculnya doksologi dalam tulisan-tulisannya bukanlah sekedar sebagai soal kebiasaan, tetapi sebagai pernyataan iman. Kita baca dari ‘Anggaran Dasar Tanpa Bulla’:

Aku memohon kepada Allah, agar Ia, Yang Mahakuasa, Tiga dan Esa, memberkati semua orang yang mengajarkan semuanya ini, mempelajarinya, menyimpannya, mengingatkannya dan melaksanakannya, setiap mereka mengulangi dan melakukan apa yang ditulis di sini demi keselamatan jiwa kita [AngTBul XXIV:2].

Kehendak dan kemuliaan Bapa surgawi, api serta penerangan Roh Kudus dan jalan Putera menuju Kalvari berada dan dikombinasikan dalam hati dan doa-doa Fransiskus seperti dikutip di atas. Ia tidak pernah berhenti mengundang orang-orang lain untuk menemukan kembali harta kehidupan Kristiani:

Hendaklah kita selalu menyediakan di dalam hati kita yang suci dan budi yang murni kediaman dan tempat tinggal bagi Dia, Tuhan Allah Yang Mahakuasa, Bapa dan Putera dan Roh Kudus, … [AngTBul XXII:27].

Kebaikan Allah. Mengenai kebaikan Allah, Fransiskus antara lain menulis dalam ‘Uraian Doa Bapa Kami’ : “… karena Engkaulah yang paling baik, ya Tuhan. Engkau baik untuk selamanya, Engkaulah asal segala yang baik, tanpa Engkau tidak ada yang baik satu pun” [UrBap 2]. Kebaikan Allah yang dilimpah-limpahkan ini memuncak pada diri manusia, untuk hal mana Fransiskus mengatakan: “Ingatlah, hai manusia, betapa unggulnya kedudukan yang diberikan Tuhan Allah kepadamu: Ia telah menciptakan dan membentuk engkau sesuai dengan gambar Putera-Nya yang terkasih menurut badan, dan sesuai dengan keserupaan-Nya menurut roh” [Pth V:1]. Namun sayangnya, keagungan kita seringkali tak sampai terlihat oleh kita sendiri. Tempat yang diberikan privilese sebagai tempat kehadiran Trinitas dengan demikian bukanlah sebuah kenisah yang terbuat dari batu marmer dan emas (orang-orang kafirpun mempunyai kuil-kuil seperti itu), melainkan ‘hati’ kita sendiri, hati para pendosa. Ingatlah Yesus yang bersabda kepada Zakheus: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu” [Luk 19:5]. Tragedi pada zaman kita adalah bahwa kita kehilangan rasa kemuliaan dan martabat kita.

Fransiskus (juga Santa Klara) melihat bahwa Allah Tritunggal sungguh-sungguh merupakan kebahagiaan puncak dan tidak ada lagi kebahagiaan lainnya. Kenyataan bahwa Fransiskus mengawali dan mengakhiri Peraturan Hidupnya masing-masing dengan sebuah doa kepada Allah Tritunggal bukanlah disebabkan kecerdasannya di bidang sastra [lihat AngTBul Mukadimah:1 dan AngTBul XXIV:5 yang sudah dikutip di muka].

Sebuah Doa Santo Fransiskus

Berikut ini adalah sebuah doa Fransiskus yang menurut Michael Hubaut OFM merupakan doa yang paling indah dari doa-doanya yang sempat diwariskan secara tertulis. Ia juga menambahkan, bahwa mungkin doa ini merupakan salah satu karya agung (masterpiece)  abad ke-13 di bidang tulisan kerohanian. Doa ini memang merupakan ringkasan hidup spiritual Bapak Serafik kita yang patut dikagumi [MH, hal. 14]:

“Allah yang Mahakuasa, kekal, adil dan berbelaskasihan, perkenankanlah kami yang malang ini, demi Engkau sendiri, melakukan apa yang setahu kami Engkau kehendaki, dan selalu menghendaki apa yang berkenan kepada-Mu, agar setelah batin kami dimurnikan dan diterangi serta dikobarkan oleh api Roh Kudus, kami mampu mengikuti jejak Putera-Mu yang terkasih, Tuhan kami Yesus Kristus, dan berkat rahmat-Mu semata-mata sampai kepada-Mu, Yang Mahatinggi, Engkau yang dalam tritunggal yang sempurna dan dalam keesaan yang sederhana, hidup dan memerintah serta dimuliakan, Allah Yang Mahakuasa sepanjang segala masa. Amin” [SurOr 50-52].

Dalam doa ini Fransiskus berdoa kepada Bapa, yang berada di pusat Trinitas, Awal dari segala kegiatan, kepada Siapa segala sesuatu kembali. Fransiskus bersembah sujud di hadapan kemahakuasaan yang kekal dari Allah. Dia sungguh menyadari bahwa manusia memiliki keterbatasan-keterbatasan. Meskipun manusia adalah mahkota ciptaan karena diciptakan Allah menurut gambar dan rupa-Nya, manusia tetaplah terbatas. Dengan mengandalkan kekuatannya sendiri, manusia tidak akan pernah mampu masuk ke dalam suatu hubungan dengan Yang Mahakekal, yaitu Allah.

Hanya Allahlah – dalam belas kasihan-Nya – yang dapat menjembatani ‘jurang’ yang menganga antara Sang Pencipta dan makhluk ciptaan. Hanya Dia yang dapat mengambil inisiatif terjadinya pertemuan itu. Hanya Dialah yang dapat memulai dialog ini. Segala sesuatu yang diberikan Allah kepada kita adalah rahmat. Fransiskus hanya menginginkan satu hal saja, yaitu selalu menerima kehendak Allah yang penuh cintakasih dan diberikan kekuatan untuk melaksanakannya. Doanya di atas sekadar merupakan pernyataan sebuah hasrat untuk dilimpahi rahmat agar dapat melaksanakan apa yang dikehendaki Allah.

Bahkan, mengabulkan sebuah doa yang tidak mementingkan diri sendiri seperti itu pun adalah karya Allah melalui ketiga Pribadi Ilahi dalam Tritunggal Mahakudus. Kita harus mencatat di sini kedalaman gambaran yang diberikan oleh Fransiskus mengenai struktur trinitaris kehidupan Kristiani. Roh Kudus adalah kekuatan yang mendorong kehidupan Kristiani tersebut. Roh Kudus adalah api di dalam diri yang membersihkan, menerangi dan membakar hati manusia. Dengan caranya sendiri yang tidak rumit dan tidak perlu mengacu kepada kepelikan pemikiran dan/atau tulisan-tulisan para teolog, Fransiskus berhasil menemukan sendiri ciri utama kehidupan batin yang telah dikembangkan oleh begitu banyak teolog Kristiani yang besar sebelum dia.

Pembersihan, penerangan dan kesatuan dalam cintakasih adalah buah-buah yang hakiki dari Roh Kudus yang tahap demi tahap memimpin kita kepada hati Allah, yang adalah terang dan cintakasih. Dengan cara ini, cintakasih menjadi sebuah jalan menuju pengetahuan, dan pengetahuan memimpin kepada cintakasih. Disamping itu, menurut Fransiskus proses spiritual ini tidak berpusat pada kita, melainkan berpusat pada Kristus yang jejak langkah-Nya kita coba untuk ikuti. Kehidupan spiritual berarti mengikuti jejak langkah Yesus Kristus, Saudara kita dan Tuhan kita, yang mempunyai misi tunggal memimpin kita kepada kemegahan Allah Bapa.

Sekali lagi, pantaslah kita mengagumi wawasan mistis yang luarbiasa dari Fransiskus ini. Dalam pandangan iman yang sekilas, Fransiskus mengkontemplasikan semua tahapan kehidupan Yesus Kristus. Doanya tadi tidak berhenti pada Yesus sejarah, tetapi mencakup juga kebangkitan dan kenaikan-Nya menuju kemegahan Bapa surgawi. Mengikuti jejak Kristus tidak berhenti di Kalvari, tetapi harus terus menuju dan akhirnya sampai kepada takhta Allah Bapa. Cita-cita kehidupan Kristiani adalah mencapai – melalui rahmat yang diberikan dengan bebas – inti kehidupan Allah dalam Tritunggal yang sempurna dan Keesaan yang sederhana.

Doa ini tidak panjang tetapi membuat sebuah ikhtisar dari keseluruhan spiritualitas Fransiskan, yaitu membuka diri kepada Roh Kudus agar mampu mengikuti jejak Kristus, sehingga dengan demikian dapat mencapai Kerajaan Bapa. Roh Kudus adalah nafas yang memberi kehidupan, Dialah yang menerangi iman-kepercayaan, Dialah api cintakasih yang kita perlukan untuk usaha ini. Kristus adalah jalan yang harus kita ikuti dan Bapa adalah tujuan akhir. Bukankah ini yang dimaksud dengan kesucian Kristiani? Biarlah kita selalu mengingat betapa Santo Fransiskus menggarisbawahi pentingnya rahmat yang diterima dalam doa karena tanpa rahmat itu ‘perjalanan balik’ kepada Allah tidak akan dimungkinkan.

Cilandak, 26 Mei 2010  [Peringatan Santo Filipus Neri]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

 DAFTAR KEPUSTAKAAN

1.  Regis J. Amstrong, OFMCap. & Ignatius C. Brady, OFM (Preface by John Vaughn, OFM), FRANCIS AND CLARE – THE COMPLETE WORKS, Bangalore, India: Franciscan Institute of Spirituality India (FISI), Peace Publications No. 4, 1992. [RAIB]

2.  Santo Bonaventura, RIWAYAT HIDUP ST. FRANSISKUS – KISAH BESAR (Terjemahan Pater Y. Wahyosudibyo, OFM), Jakarta: Sekafi, 1990. [LegMaj]

3.  St. Bonaventure, THE LIFE OF ST. FRANCIS OF ASSISI (From The Legenda Sancti Francisci – Edited, with a Preface, by Cardinal Manning), Rockford, Illinois: Tan Books and Publishers, Inc., 1867/1925/1988. [LegMaj]

4.  Thomas dari Celano, ST. FRANSISKUS DARI ASISI (Riwayat Hidup yang Pertama & Riwayat Hidup yang Kedua (sebagian) –terjemahan P.J. Wahjasudibja OFM), Jakarta: Sekafi, 1981. [1Cel; 2Cel]

5.  Thomas of Celano, SAINT FRANCIS OF ASSISI (First and Second Life of St. Francis with selections from The Treatise on the Miracles of Blessed Francis – Translated from the Latin with introduction and footnotes by Placid Hermann, OFM), Chicago, Illinois: Franciscan Herald Press, 1988. [1Cel; 2Cel]

6.  Hilarin Felder OFMCap., THE IDEALS OF ST. FRANCIS OF ASSISI  (translated from the German original by Berchmans Bittle OFMCap.), Chicago, Illinois: Franciscan Herald Press, 1925 (800th anniversary edition, 1982). [HF]

7.  Bonaventure Hinwood OFM, SAINT FRANCIS AND GOD, The Cord Volume 37, No.1, January 1987, St. Bonaventure, NY: Franciscan Institute, St. Bonaventure University, hal.3-21. [BH]

8.  Michael Hubaut OFM, CHRIST, OUR JOY: Learning to Pray with St. Francis and St. Clare (translated from the French original by Paul Barrett OFMCap.), Greyfriars Review Volume 9 1995 Supplement, Bonaventure, New York: Franciscan Institute, St. Bonaventure University, 1995. [MH]

9.  Frans Indrapradja OFS, FRANSISKUS DAN TRITUNGGAL MAHAKUDUS, Memorandum Minister OFS Persaudaraan St. Ludovikus IX, Jakarta No. Min/08/1998 tanggal 7 Juni 1998 (Hari Raya Tritunggal Mahakudus). [FXI]

10. Leo Laba Ladjar OFM (Penerjemah, Pemberi Pengantar dan Catatan), KARYA-KARYA FRANSISKUS DARI ASISI, Jakarta: Sekafi, 2001 (cetakan pertama setelah pembaruan tahun 2001). [LLL]

11. Thaddée Matura OFM, FRANCIS OF ASSISI: THE MESSAGE IN HIS WRITINGS (translated from the French by Paul Barrett OFMCap.), St. Bonaventure, New York: Franciscan Institute Publications, St. Bonaventure University, 1997. [TM]

12. Peter Schneible OFM, VIRGIN MADE CHURCH: HOLY SPIRIT, MARY, AND THE PORTIUNCULA IN FRANCISCAN PRAYER, The Cord, Vol. 44, No. 9, September 1994, St. Bonaventure, NY: Franciscan Institute, St. Bonaventure University, hal. 250-256. [PS]

FRANSISKUS MENGIKUTI JEJAK KRISTUS

FRANSISKUS MENGIKUTI JEJAK KRISTUS   *)

Tulisan ini adalah upaya awal untuk mempelajari peranan sentral Kristus dalam spiritualitas Santo Fransiskus. Dengan demikian dapat digunakan pula dalam membimbing para postulan dan/atau novis di persaudaraan-persaudaraan OFS.

Fransiskus bukanlah seorang teolog, akan tetapi melalui cintakasih dia dapat memahami keagungan dogma inkarnasi. Praktis semua lembaran dalam Anggaran Dasar/ Peraturan Hidup, surat-suratnya dan petuah-petuahnya merupakan bukti paten betapa mendalamnya Fransiskus di-‘rasuki’ oleh dogma inkarnasi tersebut. Dengan demikian “Sabda yang menjadi daging” (lihat Yoh 1:14) menjadi pusat kehidupannya. Kristus, Putera Allah, bagi Fransiskus sungguh-sungguh adalah “Sang Pengantara antara Allah dan manusia”, “Pengarang dari Keselamatan kita”, “Fondasi dari harapan kita”, “Jalan, Kebenaran dan Hidup”, “Terang Dunia” dan “Model” (panutan) kita. 

ALLAH, KRISTUS DAN FRANSISKUS 

Agar ada kesinambungan antara apa yang saya tulis tentang “Allah adalah kasih (1)” dan “Allah adalah kasih (2)” dengan tulisan ini, maka secara singkat saya akan mengulas kembali peranan Allah dalam spiritualitas Santo Fransiskus: Bagaimana Fransiskus memandang dan menghadap Allah, sebagai suatu unsur hakiki dalam agama Kristiani dan setiap spiritualitas tentunya. 

Petikan dari ‘Anggaran Dasar Tanpa Bulla’ di bawah ini memberi petunjuk betapa Fransiskus sungguh insyaf dan sadar akan kebesaran, keluhuran dan kemuliaan Allah, transendensi ilahi. Fransiskus merasa dirinya kecil di hadapan Allah yang Mahakuasa, Mahatinggi dan dia mendekati-Nya dengan segala sikap takluk dan takut. Tulisnya: “Allah yang Mahakuasa, Mahakudus, Mahatinggi dan Mahaluhur, Bapa yang kudus dan adil, Tuhan raja langit dan bumi, kami bersyukur kepada-Mu karena Engkau sendiri ……” (AngTBul XXIII:1). 

Namun demikian, Fransiskus terlebih-lebih ingat akan kebaikan Allah kepada manusia: “Maka janganlah kita menginginkan dan menghendaki hal lainnya, janganlah sesuatu yang lain menyenangkan dan menggembirakan kita, kecuali Pencipta dan Penebus serta Penyelamat kita, satu-satunya Allah yang benar; Dialah kebaikan yang sempurna, segenap kebaikan, seluruhnya baik, kebaikan yang benar dan tertinggi; Dialah satu-satunya yang baik, penyayang, pemurah, manis dan lembut; Dialah satu-satunya yang kudus, adil, benar, suci dan tulus, satu-satunya yang pemurah, tak bersalah dan murni ……” (AngTBul XXIII:9). 

Dengan demikian, paham Fransiskus tentang Allah merupakan suatu campuran kebesaran dan kebaikan-Nya (C. Groenen, hal. 47). Allah adalah Bapanya dan sekaligus Rajanya: Bapa-Raja, tetapi dengan sedikit penekanan atas ‘Bapa’ (bdk. AngTBul XXIII). 

Nah, kebaikan Allah ini menampakkan diri secara khusus dalam diri Putera-Nya yang menjadi manusia dan hidup di tengah-tengah umat manusia

Hal ini perlu dijelaskan sedikit. Dari berbagai sebutan yang diberikan Fransiskus kepada Kristus, maka boleh dikatakan bahwa dia melihat Kristus sebagai ‘Allah yang menjadi manusia’ dengan penekanan atas kebenaran, bahwa Allah-lah yang menjadi manusia. Hal tersebut terlebih-lebih menakjubkan Fransiskus serta menarik perhatiannya sebagai puncak kebaikan dan cintakasih Allah kepada umat manusia. Cintakasih membuat Allah merendahkan diri-Nya sampai serendah-rendahnya (bdk Yoh 3:16 dan Flp 2:5-11). Boleh dikatakan Fransiskus melihat Allah lewat Yesus Kristus dan hampir tidak pernah sendirian, lepas dari manusia Yesus. Demikian spiritualitas Fransiskus boleh disebut ‘Teosentris’, akan tetapi selalu lewat Kristus. Maka dari itu spiritualitas Fransiskus lebih ‘Kristosentris’. Dalam ungkapan-ungkapan Fransiskus tentang Allah seringkali juga sulit dipastikan apakah dia berbicara tentang Allah atau tentang Yesus Kristus. Yang jelas Fransiskus tidak memusingkan dirinya dengan masalah teologis pelik tentang ‘Teosentris’ atau ‘Kristosentris’. Bagi Fransiskus masalahnya sederhana saja: Dia melihat dan mendekati Allah melalui Yesus Kristus. Bertemu dengan Yesus Kristus adalah bertemu dengan Allah dan menemukan-Nya (A. Lanur, hal. 11, bdk. Yoh 14:9). Dalam Kristus, Allah menyertai Fransiskus dalam hidupnya (C.Groenen, hal. 48). 

Dengan demikian yang paling penting bagi Fransiskus adalah Yesus Kristus. Dan Yesus Kristus ini adalah Allah yang mewahyukan diri-Nya

Fransiskus tidak membedakan unsur keallahan (keilahian) dan kemanusiaan pribadi Kristus. Kedua unsur pribadi Kristus tersebut, baik keallahan maupun kemanusiaan-Nya tetap hadir dalam kesadaran Fransiskus. Fransiskus tidak secara khusus menghormati kemanusiaan Kristus saja. Ia menghormati, mengagumi dan khususnya mencintai diri Kristus yang adalah Alllah maupun manusia. 

Oleh karena Fransiskus suka akan sesuatu yang konkret, maka dengan mengingat Kristus dia selalu mengingat Kristus dari Injil Kristus, Putera Allah, sebagaimana Dia menyatakan diri-Nya dalam Injil, bukan sebagaimana diajarkan oleh para teolog. Pandangan Fransiskus adalah pandangan Injil sendiri, bahkan seluruh Perjanjian Baru, yaitu bahwa Kristus adalah Putera Allah yang menjadi manusia, sungguh Allah dan sungguh manusia. Karena Kristus itu bagi Fransiskus adalah penampakan Allah, kebaikan-Nya, maka secara khusus dia suka akan bagian hidup Kristus di mana kebaikan Allah itu lebih nyata, yaitu sengsara-Nya

Penderitaan Kristus di kayu salib serta Kristus yang menderita di kayu salib sangat menyentuh hati Fransiskus. Karena itulah dia bercita-cita untuk mengikuti (jejak)-Nya. Cita-cita itu bahkan didukung oleh slogan lain yang laku pada zaman itu. Slogan atau semboyan itu berbunyi, “telanjang mengikuti Kristus yang telanjang”. Fransiskus secara konsisten berusaha mewujudkan cita-cita tersebut. 

Dalam usaha mewujudkan cita-cita itu bukannya salib yang paling menentukan, melainkan Yesus Kristus yang tersalib (A. Lanur, hal.12). Kristus yang tersalib ini lalu menjadi faktor yang paling menentukan dalam seluruh hidupnya. 

Seperti dapat digambarkan dalam beberapa kutipan dari riwayat hidup Santo Fransiskus, selama hidupnya nampak adanya hubungan pribadi yang sangat erat dan sangat mendalam antara dia dengan Kristus yang tersalib itu. Hubungan yang sangat mendalam inilah yang membuat Fransiskus semakin serupa, serta semakin menyerupakan dirinya dengan Kristus yang tersalib  itu.

Seorang pun tidak menyangkal bahwa Fransiskus sedapat-dapatnya dan dapat dikatakan secara harfiah (hurufiah) mau mengikuti jejak-jejak Yesus. Itulah cita-citanya. Peristiwa di gunung La Verna itu tidak lain dan tidak bukan ialah penampakan kesamaan batin sampai di dalam tubuh Fransiskus; suatu puncak dalam perjuangannya mengikuti Yesus Kristus

CITA-CITA SANTO FRANSISKUS 

Seperti telah ditulis di atas, “cita-cita Fransiskus adalah untuk mengikuti jejak Kristus.” Thomas dari Celano menulis sebagai berikut: “Ujudnya yang tertinggi, keinginan yang terutama dan niatnya yang terbesar ialah menepati Injil Suci dalam segala-galanya dan selama-lamanya. Dengan segala kewaspadaan, segala kerajinan dan segenap keinginan batin dan kehangatan hati ia menurut ajaran dan mengikuti jejak Tuhan kita Yesus Kristus secara sempurna. Dalam renungan terus-menerus ia mengingat-ingat sabda-sabda-Nya dan dalam perenungan yang tajam ia memikirkan lagi karya-karya-Nya. Terutama kedinaan penjelmaan-Nya dan cintakasih dalam sengsara-Nya memenuhi ingatannya begitu rupa, sehingga ia tidak mau memikirkan sesuatu lainnya” (1Cel 84). 

Santo Bonaventura juga menulis: “Oh sungguh pengikut Kristus yang paling sempurna, yang selama hidupnya mau menyerupai Kristus dan waktu mendekati ajalnya mau menyerupai Kristus menjelang ajal-Nya dan setelah meninggal mau menyerupai Kristus yang telah wafat dan yang keinginannya satu-satunya ialah mengikuti jejak Kristus dalam segala-galanya secara sempurna dan yang oleh karenanya patut menerima anugerah istimewa, yaitu bahwa persamaannya dengan Kristus diterakan secara lahiriah dalam tubuhnya!” (LegMaj XIV:4). 

Fransiskus tidak puas hanya dengan mengikuti jejak Kristus secara separuh-separuh atau sekadar pada aspek yang kelihatan (lahiriah) saja. Keprihatinannya yang tetap adalah perjuangannya untuk mencapai kesucian batiniah dari rohnya dan untuk menghindari semua kemunafikan seperti orang Farisi. Berikut ini adalah apa yang ditulis oleh Fransiskus: “…… saudara sekalian, hendaklah kita waspada terhadap segala kesombongan dan kemuliaan sia-sia. Hendaklah kita melindungi diri terhadap kebijaksanaan dunia ini dan terhadap kecerdikan daging; sebab roh daging[1] [lihat Rm 8:6] menghendaki dan banyak berusaha untuk berbicara tetapi sedikit berbuat; dan yang dikejarnya bukanlah hidup keagamaan dan kekudusan rohaniah-batiniah, tetapi yang dikehendaki dan diinginkannya ialah hidup keagamaan dan kekudusan yang lahiriah tampak di mata orang. Tentang mereka itu Tuhan berfirman: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya” [lihat Mat 6:2] (AngTBul XVII:9-13). 

Dalam 2Cel 157 juga ada tercatat ucapan Fransiskus mengenai para Saudara Dina yang tidak patut menjadi contoh, karena mereka malas tetapi membanggakan diri mereka sendiri hanya disebabkan oleh penampilan diri sebagai orang yang menjalani kehidupan rohani. “Celakalah mereka!”, demikianlah kata Fransiskus. 

Bagi Fransiskus ‘mengikuti jejak Kristus’ berarti membuat ide-ide Kristus menjadi ide-idenya sendiri, merasakan, berpikir dan bertindak seperti Kristus. Fransiskus sungguh-sungguh menghayati apa yang ditulis oleh Santo Paulus kepada jemaat di Filipi: “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Flp 2:5). Dalam surat yang sama juga tertulis: “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati” (Flp 3:10-11). 

Oleh karena itu, ambisi Fransiskus adalah bersatu dan menyatu secara lengkap dan sesempurna mungkin diidentifikasikan dengan Kristus. Dalam ‘Fioretti’  kita dapat membaca sebuah ‘doa orang bodoh’ yang diucapkan oleh Fransiskus sebelum dia memperoleh stigmata: “Tuhanku Yesus Kristus, saya mohon kepada-Mu karuniakanlah kepada saya dua anugerah sebelum saya meninggal. Yang pertama ialah agar semasa hidupku, saya boleh merasakan dalam tubuhku sendiri, sebanyak mungkin, penderitaan hebat yang Engkau, Yesus yang manis, telah merasakan pada jam sengsara-Mu yang amat pahit itu. Yang kedua ialah agar saya boleh merasakan dalam hatiku sebanyak mungkin, cinta yang tak terbatas, dengan mana Engkau, Putera Allah, tergerak dan mau menanggung sengsara sedemikian itu bagi kami para pendosa” (Fioretti, Perenungan Ketiga). Menurut Gratien Badin OFMCap., doa di atas tidaklah otentik[2], namun mengungkapkan cita-cita atau ideal Fransiskus dalam segala kepenuhannya. 

Semua aspek spiritualitas Santo Fransiskus termuat dalam kata-kata Santo Paulus tadi. Konformitas kehidupan pribadinya dengan kehidupan Kristus begitu dekat dan usahanya  meniru Kristus begitu lengkap, sehingga Fransiskus kelihatan telah jatuh pada suatu ‘literalisme’ yang pada pandangan pertama sungguh mengagetkan kita semua. Thomas dari Celano mengatakan bahwa Fransiskus “bukan pendengar Injil yang tuli, melainkan segala apa yang didengarnya, disimpan dalam ingatannya yang mulia dan ia pun berusaha menepatinya dengan cermat secara harfiah” (1Cel 22).[3] 

Kristus telah bersabda: “janganlah pula kamu disebut pemimpin” (Mat 23:10). Atas dasar alasan ini Fransiskus melarang para superior Ordonya disapa dengan gelar ini, tetapi harus dinamakan MINISTER (=pelayan). Kristus juga bersabda: “ …… siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Luk 14:11). Itulah sebabnya mengapa Fransiskus menamakan para pengikutnya ‘Saudara-saudari Dina”. 

Contoh-contoh di atas tentang bagaimana Fransiskus mentaati Injil secara hurufiah (dan ada banyak contoh lain lagi) dapat dengan mudah menyebabkan seseorang untuk mencap Fansiskus sebagai orang yang berpandangan sempit, seandainya dia tidak memiliki bukti-bukti kuat mengenai betapa luas sebenarnya pandangan Fransiskus itu. Penjelasan lain sangat jelas dapat ditemukan pada kegairahan cintakasih Fransiskus yang mempengaruhi dia untuk begitu menghargai setiap kata yang pernah diucapkan Kristus. “Kalau Injil adalah meterai Kristus, maka semangat Fransiskan adalah stempelnya yang setia”, demikianlah ditulis Pater Gratien Badin. 

CINTAKASIH FRANSISKUS KEPADA KRISTUS 

Cintakasih Fransiskus kepada Kristus merupakan satu sumber cita-cita Fransiskus, seperti diuraikan di atas. Thomas dari Celano menulis: “…… saudara-saudara yang hidup bersama dengannya, tahu bagaimana setiap hari pembicaraan terus-menerus tentang Yesus ada di dalam mulutnya, betapa manis dan sedapnya percakapannya dan betapa baik dan penuh kasih sayang pengajarannya. Dari dalam kepenuhan hatinya, mulutnya berbicara; dan sumber cintakasih yang bersinar dan memenuhi segenap hati sanubarinya itu memancar keluar. Ia selalu asyik dengan Yesus: Yesus di dalam hatinya, Yesus di dalam mulutnya. Yesus di dalam telinganya, Yesus di dalam matanya, Yesus di dalam tangannya. Yesus di dalam anggota-anggotanya yang lain. Berapa kali saja, kalau ia duduk pada meja makan dan mendengar atau menyebut atau memikirkan Yesus, ia lalu lupa makanan jasmaniah seperti yang terbaca tentang orang kudus: ‘Ia melihat namun tidak melihat; ia mendengar namun tidak mendengar.’ Bahkan lebih dari itu! Seringkali kalau ia di tengah perjalanan berpikir atau bernyanyi tentang Yesus, ia lupa bahwa ia sedang dalam perjalanan. Lalu ia berhenti dan mengajak segala umur untuk memuji Yesus. Dan karena dalam cintakasihnya yang menakjubkan ia selalu mendukung dan meyimpan Yesus yang tersalib di dalam hatinya, maka di atas semua orang, ia ditandai secara amat mulia dengan tanda-Nya”[4] (1Cel 115). 

Santo Bonaventura menulis: “Begitu hangat perasaan cintanya yang dikandungnya terhadap Kristus; sedangkan sang Kekasih membalasnya dengan cintakasih yang begitu mesra, sehingga kelihatannya bagi hamba Allah (=Fransiskus), seakan-akan kehadiran Penyelamatnya terasa terus-menerus di depan matanya, sebagaimana pernah diceritakannya dengan ramah kepada sahabat-sahabatnya” (LegMaj IX:2). 

Semua hal mengingatkan Fransiskus akan Guru ilahinya: seekor domba kecil (1Cel 77), cacing yang sedang merayap di jalan yang dilaluinya (1Cel 80), batu-batu yang diinjaknya (2Cel 165) dan terutama orang miskin yang dijumpainya di jalan (1Cel 76 dan 2Cel 83, 85). 

Santo Bonaventura melanjutkan: “Kristus Yesus yang tersalib bagi jiwanya bagaikan sebungkus mur senantiasa tersisip di antara buah dadanya (Kid 1:12). Ia ingin sekali diubah sepenuhnya dalam Dia oleh nyala api cintakasih yang tak terhingga” (LegMaj IX:2). 

Cintakasih kepada Allah dan kebaikan Allah yang menampakkan diri khusus dalam diri Putera-Nya, menjadi alasan pokok untuk segala tindakan Fransiskus. Hal ini menjelaskan tentang tekad bulatnya untuk mempersembahkan dirinya bagi kehidupan aktif (apostolik). Ini adalah alasan utama untuk khotbah-khotbahnya, retret-retret pribadinya ke tempat-tempat yang penuh keheningan. Tidak ada penjelasan lain dapat diberikan tentang praktek kemiskinannya yang keras, kerendahan hatinya yang tulus di tengah-tengah berbagai kontradiksi yang penuh tantangan, cintakasihnya yang penuh kemurahan-hati dan kelemah-lembutan, perjalanan-penjalanannya untuk menginjili kaum ‘kafir’ dan penundukan dirinya terhadap Gereja. Cintakasih ini begitu meresapi dirinya sehingga memberi cap pada kesalehannya dengan suatu ciri khusus keakraban familiar dengan Kristus, yaitu stigmata. 

Bagi Fransiskus, semuanya yang ada dalam kehidupan Sang Allah-Manusia layak dicintai; akan tetapi ciri-ciri di mana Putera Allah kelihatan menunjukkan cintakasih yang lebih besar dan kerendahan yang serendah-rendahnya pula. Ini ditemukan oleh Fransiskus di dalam kedinaan Kristus, baik dalam Inkarnasi maupun Penebusan. Thomas dari Celano menulis: “…… kedinaan penjelmaan-Nya dan cintakasih dalam sengsara-Nya memenuhi ingatannya begitu rupa, sehingga ia tidak mau memikirkan sesuatu lainnya” (1Cel 84). Alasannya adalah, bahwa Salib yang mengikuti Sang Juruselamat dari kandang Betlehem sampai ke bukit Kalvari, bagi Fransiskus meringkaskan keseluruhan misteri Kristus. Hal ini merupakan objek terus-menerus dari kontemplasinya (lihat 2Cel 85), pemikiran yang mendominir kesalehannya, percikan yang terus mengobarkan api cintakasihnya. 

Cilandak, 30 April 2010

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DAFTAR PUSTAKA 

  1. Regis J. Amstrong OFMCap., J.A. Wayne Hellmann OFMConv. & William Short OFM, FRANCIS OF ASSISI: EARLY DOCUMENTS VOLUME II – THE FOUNDER, New York, NY: New City Press, 2000.
  2. Gratien Badin OFMCap., I KNOW CHRIST – THE PERSONALITY AND SPIRITUALITY OF ST. FRANCIS OF ASSISI  (terjemahan dari bahasa Perancis oleh Paul J. Oligny OFM), Saint Bonaventure, NY: The Franciscan Institute – Saint Bonaventure University, 1988.
  3. Santo Bonaventura, RIWAYAT HIDUP ST. FRANSISKUS (LEGENDA MAIOR, terjemahan P. Y. Wahyosudibyo OFM), Jakata: SEKAFI, 1990.
  4. Thomas dari Celano, ST. FRANSISKUS DARI ASISI  (terjemahan P. J. Wahjasudibja OFM), Jakarta: SEKAFI, 1884 (Cetakan II).
  5. FIORETTI DAN LIMA RENUNGAN TENTANG STIGMATA SUCI  (terjemahan dari teks bahasa Inggris oleh Leo Sherley-Price, THE LITTLE FLOWERS OF SAINT FRANCIS WITH FIVE CONSIDERATIONS ON THE SACRED STIGMATA). Jakarta: SEKAFI, 1997.
  6. Dr. Cletus Groenen OFM, SPIRITUALITAS SANTO FRANSISKUS (stensilan yang diterbitkan sendiri), Yogyakarta, 25 Agustus 1970.
  7. Marion A. Habig OFM (Editor), ST. FRANCIS OF ASSISI – WRITINGS AND EARLY BIOGRAPHIES – ENGLISH OMNIBUS OF SOURCES FOR THE LIFE OF ST. FRANCIS, Quincy, Illinois: Franciscan Press – Quincy College, 1991 (4th Revised Edition).
  8. Leo Laba Ladjar OFM [sebagai penerjemah, pemberi pengantar dan catatan], KARYA-KARYA FRANSISKUS DARI ASISI, Jakarta: SEKAFI, 2001 (Cetakan Pertama).
  9. Dr. Alex Lanur OFM, PENGALAMAN AKAN ALLAH DAN AKAN KRISTUS YANG TERSALIB (unpublished paper), Jakarta.

 


*) Disalin dengan sedikit perbaikan kecil dari sebagian besar isi Memorandum Minister Persaudaraan OFS Santo Ludovikus IX (pada waktu itu Sdr. Frans Indrapradja, OFS) No. Min/09/97 tanggal 1 Mei 1997 perihal: “Fransiskus Mengikuti Jejak Kristus” (4 halaman folio).

[1] Roh daging ialah kecenderungan menjadikan diri sendiri sebagai pusat segalanya. Kalau orang dikuasai dan diperbudak olehnya, maka hasilnya ialah orang itu lebih mementingkan hal lahiriah, juga dalam hal-hal yang baik, agar mendapat pujian, penghormatan dan menyombongkan diri. Roh daging berlawanan dengan Roh Tuhan yang justru menghasilkan kerendahan hati, kemiskinan, takwa dan syukur pada Allah. Allah menjadi pusat. Ungkapan-ungkapan ini amat khas dalam seluruh spiritualitas Fransiskus (catatan kaki no. 51 dalam Leo Laba Ladjar, hal. 134).

[2] Artinya  ditaruh oleh pengarang  pada bibir Fransiskus.

[3] Ada gema dari Yak 1:22-25 di sini!

[4] Catatan: Maksudnya stigmata Kristus sendiri.

ALLAH ADALAH KASIH (2)

ALLAH ADALAH KASIH (2) *) 

FA MEMANG KERENDalam tulisan yang berjudul “Allah adalah kasih (1)”, kita bersama-sama telah mempelajari dan merenungkan arti pernyataan ‘Allah adalah kasih’ sebagai sesuatu yang sangat hakiki dalam spiritualitas Fransiskan. Dalam tulisan ini saya mencoba melanjutkan tema ‘cintakasih dan kebaikan Allah’ dengan pengharapan agar kita semua dapat lebih mendalaminya lagi sebagai anak-anak Bapak Fransiskus.

ALLAH ADALAH KEBAIKAN, KASIH DAN YANG PALING BAIK

Dari perspektif ini Allah dikontemplasikan dalam terang kebaikan-Nya yang hakiki. Alexander dari Hales[1], Santo Bonaventura[2], Beato Yohanes Duns Scotus[3]; mereka semua membangun dan mengembangkan teori-teori mereka berdasarkan ide ini. Sebelumnya, Santo Fransiskus  dalam tulisan-tulisannya sendiri dan dalam sikap-sikapnya pada waktu berdoa seperti digambarkan oleh para penulis riwayat hidupnya, telah mengungkapkan konsep yang sama perihal Allah dalam ‘Pujian bagi Allah Yang Mahaluhur’, dengan kata-kata seperti berikut:

“Engkaulah Tuhan Yang Kudus, Allah satu-satunya, yang melakukan keajaiban-keajaiban. Engkau kuat, Engkau besar, Engkau mahaluhur, Engkaulah Raja Yang Mahakuasa, Engkaulah Bapa Yang Kudus, Raja langit dan bumi, Engkau Tuhan Yang Tiga dan Esa Allah segala allah, Engkau baik,seluruhnya baik, paling baik, Tuhan Allah yang hidup dan benar. Engkaulah cintakasih ………” (PujAllah 1-4).

Kebaikan ilahi yang pada hekekatnya bersifat menyebarkan diri itu memberikan kepada kita alasan akan proses Triniter (Tritunggal) di dalam kehidupan intim Allah dan menjelaskan tentang karya kreatif-Nya di luar diri-Nya sendiri. Visi tentang Allah seperti ini, Allah yang dikontemplasikan sebagai Yang Teramat Baik, Yang Mahaluhur itu dalam keluarga Fransiskan diwujudkan dalam relasi konkret yang mengungkapkan diri di atas segalanya dalam penghargaan akan Allah sebagai Bapa (martabat kebapaan Allah). Allah sebagai Bapa kita yang baik.

Masih ingatkah Saudara/saudari akan adegan berikut ini? Fransiskus menanggalkan pakaiannya di hadapan Uskup Guido dari Assisi, lalu melemparkan semuanya ke tanah dan mengembalikannya kepada ayah kandungnya sendifri. Dia bertelanjang bulat, lalu berkata kepada ayahnya itu: “Hingga sekarang di dunia ini ayah kusebut bapak, tetapi mulai sekarang aku dapat berkata dengan leluasa: Bapa kami yang ada di surga; dan pada-Nya kuletakkan segala hartaku dan segala kepercayaan serta harapanku” (LegMaj II:4; bdk 1Cel 15). Dalam riwayat hidupnya yang lain dicatat Fransiskus berucap seperti ini: “Semenjak saat ini aku akan berkata dengan leluasa: ‘Bapa kami yang ada di surga’, dan bukan lagi Bapak Pietro Bernardone, yang tidak hanya kuberi uangnya kembali – lihat saja! – tetapi juga kukirim kembali segala pakaianku. Demikianlah aku hendak dengan telanjang pergi kepada Tuhan” (2Cel 12).

Belakangan Fransiskus juga menulis ‘Uraian Doa Bapa Kami (Pater Noster); sebuah uraian yang paling orijinal dan mengharukan. Saya petik sedikit saja, yaitu bagian awalnya:

Ya Bapa kami Yang Mahakudus:

     Pencipta, Penebus, Penghibur dan Penyelamat kami.

Yang ada di surga,

     di dalam para malaikat dan para kudus;

Engkau menerangi mereka untuk mengenal-Mu

     karena Engkau adalah terng, ya Tuhan;

Engkau mengobarkan mereka untuk mengasihi,

     karena Engkau adalah kasih, ya Tuhan.

Engkau tinggal di dalam mereka

     dan  memenuhi mereka untuk berbahagia,

     karena Engkaulah yang paling baik, ya Tuhan,

     Engkau baik untuk selamanya,

     Engkaulah asal segala yang baik,

     tanpa Engkau tidak ada yang baik satu pun (UrBap 1-2).

KESAKSIAN PATER JACK WINTZ OFM MENGENAI RAHASIA SANTO FRANSISKUS

Fr_Jack_Wintz_OFM_on_St_FrancisPater Jack Wintz menuliskan pengalamannya sebagai seorang novis, yaitu ketika seorang Saudara Dina berasal dari Jerman yang sudah tua dan berambut putih berbagi (sharing) dengan para novis dalam bahasa Inggris yang terpatah-patah, bahwa ‘kebaikan Allah yang melimpah-limpah’ (the overflowing goodness of God) adalah rahasia sesungguhnya di belakang spiritualitas Santo Fransiskus.

Kata-kata ‘kebaikan Allah yang melimpah-limpah’ yang sering diulang-ulang oleh Saudara Fransiskan dari Jerman itu ternyata menjadi sumber pencerahan istimewa bagi Pater Wintz. Sejak saat itu, dengan penuh kepastian intuisi Pater Wintz terus-menerus mengatakan kepada dirinya: “Ya, benarlah ini, untukku inilah rahasia dari Santo Fransiskus.”  Setelah bertahun-tahun menguji intuisi ini dengan pengalaman-pengalaman Fransiskanisme di berbagai negara dan budaya, Pater Wintz tetap kembali kepada keyakinan yang sama.

Bagi Pater Wintz, perasaan yang berkobar-kobar dari Fransiskus akan kebaikan Allah yang berlimpah merupakan sumber dari spiritualitasnya dan petunjuk pada hampir segalanya dari sang Santo: kegembiraannya dalam kemiskinan, rasa hormatnya kepada alam, cintakasihnya kepada orang-orang miskin, kemurahan-hatinya, optimismenya, puisi dan kegembiraannya yang meluap-luap, gaya doanya yang penuh kasih-sayang, cintakasihnya yang berkobar-kobar pada Yesus yang tersalib.

Selanjutnya, menurut Pater Wintz ide ‘kebaikan Allah yang melimpah-limpah’ bukanlah sesuatu yang baru secara khusus karena ide itu sesungguhnya berada pada jantung perwahyuan Kristiani. Apa yang orijinal dengan Santo Fransiskus barangkali adalah intensitas dan emosi dengan mana dia mengalami perwahyuan itu.

PENCURAHAN KEBAIKAN ALLAH DARI SALIB

DIA ADALAH YESUS KRISTUSTidak lama setelah pertobatannya, artinya sesudah dia meninggalkan kehidupan duniawinya dan mengabdikan dirinya secara total kepada Allah dan kepada pelayanan para penderita kusta yang miskin, Fransiskus berdoa dengan penuh emosi di sebuah tempat berpohon-pohon yang sunyi terpencil. Fransiskus kemudian mendapat penglihatan (visi), di dalam penglihatan mana Kristus mulai memandang dirinya dari atas kayu salib dengan penuh cintakasih sehingga Fransiskus pun ‘luluh jiwanya’.

Sejak saat itu, Fransiskus seringkali menangis seakan-akan pengalaman akan cintakasih dan kebaikan Allah yang luarbiasa itu tertera pada jiwanya untuk selamanya. Allah yang dialami Fransiskus adalah Allah yang memilih untuk menjadi miskin – Allah yang mencurahkan semuanya – keluar dari cintakasih-Nya kepada umat manusia secara total. Secara mutlak Allah tidak menahan sesuatu apa pun. Inilah yang membuat Fransiskus berjalan ke mana-mana sambil menangis tersedu-sedu dan menyerukan berulang-ulang, “Kasih tidak dikasihi” – bahwa Allah begitu mengasihi manusia tetapi tidak ditanggapi. Cintakasih Allah yang begitu ‘boros’ dan tanpa syarat ini merupakan perwahyuan besar yang dilihat Fransiskus memancar keluar dari ‘Sang Sabda yang menjadi daging’ dan sesungguhnya melalui segenap ciptaan.

‘Ketergila-gilaan (Inggris: infatuation) Fransiskus kepada kebaikan Allah tercermin dalam doa-doanya yang penuh dengan kegembiraan sejati. Dalam satu doanya, Fransiskus tiba-tiba mulai mengulang-ulang kata ‘baik’ seakan-akan ‘teracuni’ oleh kata itu. Dalam ‘Pujian yang diucapkan pada semua waktu Ibadat’, Fransiskus berdoa:

Allah Yang Mahakuasa, Mahakudus, Mahatinggi dan Mahaluhur, Engkaulah segala kebaikan, paling baik, seluruhnya baik, hanya Engkau sendiri yang baik; kepada-Mu kami kembalikan segala pujian, segala kemuliaan, segala rahmat, segala kehormatan, segala berkat serta segalanya yang baik. Semoga, semoga, ya amin (PujIb 11).

Orang atheis memandang bagian belakang dari wajah realitas dan di sana dilihatnya suatu kehampaan yang gelap. Orang agnostik memandang yang sama dan melihat tanda tanya yang besar. Kebanyakan dari kita yang menilai diri kita sebagai orang yang percaya Allah, mencoba melihat sesuatu yang  baik dan berpengharapan di belakang kedok realitas itu, akan tetapi visi kita seringkali dibuat suram oleh keragu-raguan. Santo Fransiskus dari Assisi melihat juga apa yang berada di belakang topeng itu, tetapi yang dilihatnya adalah rahmat yang menakjubkan menakjubkan, rahmat orang kudus yang juga adalah panyair luarbiasa ini melihat, mengalami, ‘berkomunikasi’ dan ‘berinteraksi’ dengan ciptaan dengan penuh kegembiraan seperti seorang pemusik abad pertengahan yang menyanyikan madah-madah pujian bagi Allah.

BAGAIMANA SAYA DAPAT MENGETAHUI BAHWA ALLAH MENGASIHIKU?

FR. MAXIMILIAN KOLBE - 003Setelah membaca uraian di atas dapat saja kita berkata: “Itu kan Fransiskus, saya kan orang biasa-biasa saja?”  Memang untuk sungguh menyadari dan menghayati bahwa “Allah itu mengasihi diri saya dan selalu memancarkan kebaikan-Nya yang berlimpah ruah kepada saya”, tidaklah akan sama antara orang yang satu dan yang lain. Ada yang cepat, ada pula yang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk sadr dan percaya akan cintakasih Allah bagi dirinya, meskipun orang itu sudah Kristen-Katolik sejak waktu kecil. Bagi Saudara/saudari di antara kita semua yang tidak dapat memahami cintakasih Allah, belas kasih dan kebaikan-Nya dalam jatuh-bangun kehidupan kita masing-masing, mengapa kita tidak mulai melihatnya di dalam Kitab Suci? Kitab Suci tau Alkitab mewahyukan kodrat dan keberadaan Allah di dalam pengalaman-pengalaman orang Yahudi dan umat Kristiani perdana. Isi Kitab Suci sebenaranya adalah love story. Dalam Kitab Suci Allah mau berkata kepada kita, “Aku cinta padamu!”  Saya pernah menulis sebelum ini, bahwa “Fransiskus menemukan kembali Kristus dan Bapa-Nya di dalam Injil.” 

Kita juga dapat mengetahui tentang kasih Allah kepada kita dari kesaksian iman anak-anak-Nya di dunia, mereka yang dipenuhi dengan Roh-Nya. Ada sebuah contoh dari Perang Dunia II yang terjadi dalam kamp konsentrasi di Auschwitz, Austria pada tahun 1941. Seorang tawanan melarikan diri dari kamp dan sebagai hukuman atas para tawanan lain, komandan kamp memerintahkan mereka untuk berdiri berbaris rapih dalam beberapa kolom. Sang komandan memilih 10 sepuluh untuk mati kelaparan dalam sel di bawah tanah. Salah seorang tawanan yang menggantikan orang yang  terpilih  berteriak,  Oh istriku, anak-anakku yang malang!”  Lalu seseorang tampil dengan sukarela menggantikan orang yang sudah kena vonis mati itu. Nama orang yang tampil itu adalah Maria Maximillian Kolbe, seorang imam Fransiskan Conventual – putera Bapak Serafik kita Santo Fransiskus. Hari lepas hari, satu per satu dari sepuluh orang terhukum itupun mati. Beberapa hari kemudian para penjaga membuka bunker di bawah tanah itu dan menemukan bahwa sembilan orang telah mati. Pater Maximillian Kolbe didapati masih menyanyikan Mazmur kepada Allah dengan tangan terentang. Dia pun diinjeksi, lalu mati. Kesaksian iman yang luarbiasa, seperti yang disabdakan Yesus: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13). Cintakasih yang ditunjukkan oleh Pater Maximillian Kolbe adalah maksimum bagi seorang manusia, namun cintakasih ilahi, yaitu kasih Allah jauh melebihi itu, jauh melampaui.

Ada pula sebuah peristiwa nyata yang diceritakan oleh ibuku pada waktu saya masih sekolah di Sekolah Rakyat (SD) Bruderan ‘Budi Mulia’ dulu. Ibu bercerita mengenai pengalaman seorang paman saya yang menjadi interniran di kota Cimahi pada masa pendudukan Jepang. Pada suatu hari salah seorang interniran menderita sakit dan memerlukan obat tertentu. Pihak penguasa Jepang di kamp interniran tidak memberikan obat itu, namun ada seorang pendeta yang juga interniran di situ ternyata mempunyai ‘koleksi’ obat-obatan, termasuk obat yang dibutuhkan si sakit. Namun ketika diminta, walaupun dengan sangat dan berkali-kali oleh para interniran, dia tetap tidak mau memberikan obatnya, dia tidak mau menolong. Ternyata ‘cintakasih’ bagi sang pendeta itu hanyalah sekadar sebagai topik khotbah yang menarik bagi jemaatnya, belum sampai menjadi penghayatan hidup sehari-harinya sebagai seorang ‘hamba Allah’. Walau pun ada beberapa kesamaan latar belakang cerita ini dengan cerita tentang Pater Maximillian Kolbe, akhir cerita menjadi sama sekali  berlainan antara yang satu dengan yang lain.

Sebelum ini saya pernah menulis: “Secara sederhana kehidupan Injil adalah mengasihi seperti Yesus (sebagai manusia) mengasihi, mengetahui bahwa cintakasih Allah-lah yang berdenyut/berdebar dalam diri kita masing-masing. Hidup Injili adalah mengasihi orang-orang, teristimewa orang-orang yang kita temui, orang-orang yang hidup dengan kita.” 

G.K.-Chesterton-9246399-1-402G.K. Chesterton, seorang penulis Inggris kondang yang juga pernah menulis buku tentang Santo Fransiskus dari Assisi, pada suatu kesempatan berkata: “Mudahlah bagiku untuk mengasihi orang-orang Eskimo karena aku tidak pernah melihat seorang Eskimo pun (secara langsung muka ketemu muka). Akan tetapi sulitlah bagiku untuk mengasihi tetanggaku yang bermain piano di atas kepalaku  (catatan: dia tinggal di rumah bertingkat) di larut malam.”  Juga mudahlah bagi sang pendeta tadi untuk berkhotbah dengan berkobar-kobar mengenai ‘mengasihi sesama’, tetapi dia gagal pada waktu menghadapi suatu moment of truth, yaitu pada saat dia diberikan kesempatan untuk mempraktekkan sendiri apa yang dikhotbahkannya itu; berbuat kasih bukan kepada orang yang tidak dilihatnya, melainkan kepada orang menderita yang dikenalnya sebagai sesama interniran.

Saya juga melanjutkan apa yang saya tulis dulu dengan kalimat berikut ini: “Nah, OFS memberikan kepada kita semua suatu komunitas khusus, yaitu sebuah persaudaraan di mana kita masing-masing dapat dibantu mengalami dan memberi kesaksian tentang cintakasih seperti-Fransiskus-Kristus ini.” 

Apa maksudnya? Kita tidak dilarang (malah harus paling sedikit membawakan dalam doa-doa kita) untuk berbelaskasihan kepada mereka yang menderita di Bosnia, Rwanda, Burundi, Sudan, Tasikmalaya dan banyak tempat lagi, tetapi kepada kita telah disediakan wadah setempat, wadah lokal untuk mempraktekkan cintakasih kita, misalnya dalam hidup keluarga, Persaudaraan OFS kita, dll. Terus terang, misalnya lebih mudahlah bagi seseorang untuk tergerak hatinya pada penderitaaan seorang anak yang diasuh oleh para suster dari Kongregasi Suster Santo Yosef (KSSY) di tempat jauh terpencil seperti Tapanuli Utara (lalu membantu dengan mengirimkan uang bantuan secara tetap) daripada melayani dengan penuh perhatian ocehan ngalor-ngidul seorang anggota persaudaraan kita sendiri yang kehadirannya terlihat begitu nyata. Ini adalah pengalaman saya sendiri. Pasti Saudara/saudari mempunyai pengalaman yang sama atau mirip.

Nah, kita semua harus berjuang terus untuk menjadi seperti Pater Maximilian Kolbe OFMConv., bukan seperti sang pendeta di kamp interniran Cimahi itu. Teringat saya sekarang pada sabda Yesus sendiri: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling  mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yoh 13:34-35).

Santo Fransiskus dari Assisi, Santa Klara dari Assisi, Santo Maria Maximillian Kolbe dan banyak para kudus lainnya telah berhasil memberi kesaksian sehingga orang-orang dapat mengetahui dan kemudian mengalami bahwa Allah sungguh mengasihi diri mereka masing-masing; bahwa Dia selalu memancarkan/memancarkan ‘kebaikan-Nya yang melimpah-limpah’.

Inilah tantangan halus bagi kita, tantangan yang harus kita tanggapi. Kita dapat mulai menjadi saksi Kristus di tempat-tempat dan kesempatan-kesempatan yang tidak perlu spektakuler sehingga pantas dimasukkan ke dalam majalah ‘HIDUP’ atau majalah-majalah terkemuka/terkenal lainnya. Mulailah menjadi saksi Kristus (yang baik) dalam lingkup hidup keluarga, lingkungan kerja, dalam hidup paroki dan kegiatan gerejani lainnya dan tidak kalah pentingnya di dalam ‘Persaudaraan OFS Lokal’ kita khususnya dan persaudaraan Fransiskan pada umumnya. Mulailah dengan hal-hal kecil yang tidak perlu dilihat orang. Bukankah ini semangat Fransiskan?

SEBUAH DOA: Allah yang segalanya baik dan sangar ramah, berikanlah kepada kami visi Santo Fransiskus dari Assisi agar supaya kami dengan lebih baik dapat melihat kebaikan-Mu dan perbuatan baik-Mu pada pusat realitas. Dengan percaya akan cintakasih-Mu yang berlimpah ruah tanpa reserve bagi kami, perkenankanlah kami jatuh cinta kepada-Mu secara lebih mendalam lagi dan melayani Engkau dengan kegembiraan dan puja-pujian yang lebih besar lagi. Amin.

Cilandak, 9 April 2010 

BAHAN BACAAN: 

  1. Mgr. Leo Laba Ladjar OFM (Penerjemah, Pemberi Pengantar dan Catatan), KARYA-KARYA FRANSISKUS DARI ASISI, Jakarta: Sekafi, 2001.
  2. P. Lombardi OFM, INTRODUCTION TO THE STUDY OF FRANCISCANISM (terjemahan P. Joseph Nacua OFMCap.), Manila, Philipines: 1993.
  3. P, Michael Sitaram, HOW DO I KNOW GOD LOVES ME?, Singapore: The Catholic News edisi 9 Februari 1997.
  4. P. Jack Wintz OFM, LIGHTS: REVELATIONS OF GOD’S GOODNESS, Cincinnati, Ohio: St. Anthony Messenger Press, 1995.

*) Tulisan ini mengambil alih isi utama dari Memorandum Minister Persaudaraan OFS Santo Ludovikus IX (Sdr. Frans Indrapradja, OFS) No. Min/04/97 tanggal 22 Februari 1997 dengan judul yang sama. Bahan ini adalah bacaan umum untuk semua anggota OFS, namun dapat digunakan untuk para aspiran juga, apabila kepada mereka telah diperkenalkan riwayat hidup Santo Fransiskus dari Assisi.

[1] Orang Inggris (+1245), gurubesar Fransiskan pertama di Universitas Paris.

[2] Orang Italia (+1274), guru besar Fransiskan yang pada tahun 1257 dipilih menjadi Minister Jenderal, dikenal sebagai pendiri kedua dari Ordo Saudara Dina dan kemudian diangkat menjadi Kardinal Uskup Albano (1273), dikanonisasikan oleh Paus Sixtus IV pada tahun 1482 dan diangkat menjadi Doktor Gereja (Pujangga Gereja) dan diberi gelar Doctor Seraphicus oleh Paus Sixtus V pada tahun 1588.

[3] Orang Skotlandia (+1308), guru besar Fransiskan di Universitas Paris dan Oxford yang dijuluki Doctor Subtilis (Doktor yang pemikirannya sangat halus). Dibeatifikasikan oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1993.

ALLAH YANG MERENDAHKAN DIRI

 

ALLAH YANG MERENDAHKAN DIRI  *) 

Ketika berjalan bersama para murid-Nya menuju ke kampung-kampung di sekitar Kaisarea Filipi, Yesus bertanya kepada mereka : “….., siapakah Aku ini?” (Mrk 8:29). Pertanyaan ini juga masih berlaku bagi kita masing-masing dewasa ini: “Siapakah Yesus yang kuimani ini?” Pada kesempatan ini baiklah saya sedikit syering dengan Saudara-saudari. Yesus Kristus yang saya imani adalah Allah yang merendahkan diri-Nya, semua itu karena cinta kasih-Nya yang sehabis-habisnya bagi dunia dan segenap isinya. Dengan demikian posisi saya vis a vis Yesus adalah seperti seorang debitur (semoga belum macet) menghadapi kreditur: “Saya berhutang kepada-Nya.” Oleh karena itu dengan segala upaya yang “halal”, saya akan terus berusaha untuk melayani dan mengikuti jejak-Nya. 

Sebagai seorang Fransiskan sekular, saya menghayati apa yang dinamakan “4-C Fransiskan”, empat hal yang menunjukkan perendahan diri Allah, yaitu Crib (kelahiran Yesus di palungan / di kandang hina), Cross (kematian Yesus di kayu salib), Chalice (= piala = kehadiran Yesus Kristus dalam Ekaristi) dan Creation (kehadiran Yesus dalam alam ciptaan).[1]  Dalam kesempatan ini kita akan mencoba untuk merenungkan Yesus sebagai Allah yang merendahkan diri itu dengan menggunakan bacaan Flp 2:1-11. Dari bacaan yang sama itu kita diharapkan akan menyadari  bahwa kita pun harus mengikuti contoh yang diberikan Kristus. 

Dalam Flp 2:1-5 Santo Paulus mengingatkan jemaat di Filipi bahwa mereka adalah milik Kristus. Oleh karena itu mereka diminta untuk memperkenankan sikap Kristus yang mengosongkan diri itu agar ‘merasuki’ kehidupan mereka. Dengan demikian mereka akan menerima satu sama lain dalam komunitas mereka dan kasih-lah yang akan mendominir -malah mengatur- relasi-relasi mereka. Pengosongan diri Yesus akan membawa kepada peninggian-Nya di atas segala ciptaan, bagi kemuliaan Allah Bapa. Implikasinya adalah bahwa mereka yang masuk ke dalam misteri ketaatan yang merendah dari Yesus, juga akan ikut ambil bagian dalam kemuliaan-Nya.

 PERENDAHAN DIRI ALLAH (Flp 2:6-8) 

Ayat-ayat 6-11 dari bab 2 Surat Santo Paulus kepada  jemaat di Filipi memuat sebuah madah agung untuk memuji-muji Kristus. Madah ini memproklamasikan bahwa Kristus mengosongkan dan merendahkan diri-Nya, dan karenanya Dia ditinggikan oleh Allah sebagai Tuhan atas segala sesuatu. Para pakar Kitab Suci mengira bahwa Paulus di sini mengutip sebuah madah Kristiani awal. Teks ini merupakan teks yang luar biasa, dengan demikian pantas menjadi bahan meditasi kita secara serius. 

Pentinglah bagi kita untuk mencatat mengapa Paulus memasukkan kata-kata tentang Kristus ini ke dalam suratnya kepada jemaat di Filipi. Paulus hendak memproklamasikan Kristus sebagai Dia yang mengosongkan diri-Nya dan ditinggikan, akan  tetapi Paulus juga mau menunjukkan Kristus sebagai contoh untuk kita tiru: “Hendaklah kamu ….. menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus Yesus” (ay. 5). Dapat juga kita terjemahkan sebagai berikut: “Sikapmu seharusnya seperti sikap Kristus”, atau “Hendaklah niatmu sama dengan niat Kristus.” Kristus yang mengosongkan dan merendahkan diri-Nya membentuk sebuah pola yang harus ditiru oleh setiap insan Kristiani. 

Allah Bapa tidak mengutus Anak-Nya ke dunia dalam kekuasaan dan kemuliaan, malah sebaliknya à lahir di kandang hewan (bukan di dalam istana raja), dari seorang perempuan kelas rendahan dalam masyarakat dan anak seorang tukang kayu saja. Kenyataan ini bertentangan sekali dengan pemahaman tentang Mesias yang ada di kalangan orang-orang Yahudi. Ini adalah ‘perendahan diri Allah yang pertama’ (karena cinta kasih Allah Bapa, lih. Yoh 3:16; Firman menjadi manusia {Sabda menjadi daging} Yoh 1 = inkarnasi —> perbedaan sangat hakiki dengan agama-agama monotheis yang lain). 

Madah kepada Kristus ini secara implisit memperlawankan Kristus dengan Adam. Adam tidak puas dengan status yang diberikan kepadanya oleh Allah à dia kemudian makan buah dari pohon terlarang agar dapat menjadi seperti Allah (Kej 3:5). Adam mau mendapatkan lebih dari ‘jatah’ yang diberikan kepadanya, tetapi akhirnya malah memperoleh kurang, jauh kurang dari ‘jatah’ semula. Sebaliknya Kristus, sang ‘Adam baru’ (lih. Rm 5:12-21; 1Kor 15:45-49), tidak bersikeras berpegang teguh pada hak-hak istimewa-Nya (yang memang sungguh adalah hak-hak-Nya). Dia mengosongkan diri-Nya dan menjadi seorang hamba, bahkan Dia menerima kematian seorang hamba di kayu salib.[2] Oleh karena itu Allah membangkitkan-Nya dan meninggikan-Nya. 

Kita adalah anak-anak Adam, dan tentunya bagi kita lebih mudah untuk meniru contoh Adam daripada contoh Kristus. Naluri alamiah kita adalah menginginkan ‘lebih’ bagi diri kita sendiri dan bukan kurang, ingin dilayani dan bukan melayani, memiliki hidup yang penuh kenikmatan dan bukan memeluk atau merangkul salib. Kita lebih-lebih seperti Adam, bukan seperti Kristus: kita sibuk berusaha untuk memuaskan diri kita sendiri, bukan sebaliknya. 

Itulah mengapa Paulus harus mendesak agar kita berniat untuk mengosongkan dan merendahkan diri kita karena dia tahu bahwa hal ini bukanlah kecenderungan alamiah kita. Paulus tidak dapat memberikan contoh yang lebih meyakinkan tentang ‘pengosongan diri’ (Yunani: kenosis)  ini daripada contoh Kristus sendiri. Siapa yang dapat menyerahkan lebih daripada ‘mengambil rupa seorang hamba’ daripada Anak Allah sendiri? Bagi siapa  penyaliban merupakan sebuah kematian yang lebih hina daripada Dia yang setara dengan Allah? Dengan demikian apabila pengosongan diri kita terasa terlalu sulit, terlalu menyakitkan, terlalu banyak yang diharapkan dari diri kita, maka kita dapat berpaling kepada Yesus yang tersalib. Baiklah kita meditasikan, Siapa sebenarnya Dia yang menerima kematian sedemikian itu? 

PENINGGIAN SETELAH PERENDAHAN (Flp 2:9-11) 

Kalau pengosongan dan perendahan diri Kristus yang radikal ini membentuk pola yang harus kita teladani, maka peninggian diri-Nya oleh Allah membentuk harapan dengan mana kita harus bertahan. Kita mengambil bagian dalam kematian Kristus melalui baptis dan meneladani-Nya setiap hari, sehingga dengan demikian kita juga dapat berpartisipasi dalam kebangkitan-Nya (Rm 6:5). Harapan kita bahwa kita kelak akan bergabung dengan Kristus dalam kebangkitan harus memberikan kepada kita kekuatan selagi kita tak henti-hentinya bertempur melawan dosa dan keserakahan (mau menang sendiri dll.). Kalau kita merasa sulit untuk mengosongkan diri kita, hari lepas hari, sedikit demi sedikit, maka kita dapat memandang Dia yang kita mau tiru ….. dan kita pun dapat memperoleh daya tahan dari kemuliaan yang kita harap dapat kita syering dengan Dia apabila “kita akan menjadi sama seperti Dia”  (1Yoh 3:2). 

‘Nama di atas segala nama’ adalah nama atau gelar ‘Tuhan’ yang diberikan kepada Yesus oleh Allah Bapa. Dalam bahasa Yunani surat Paulus ini, kata ‘Tuhan’ adalah kyrios à ingat kyrie eleison atau ‘Tuhan kasihanilah’?  ‘Yesus Kristus adalah Tuhan (kyrios)’ merupakan salah satu pengakuan iman yang paling mendalam.

Akan tetapi kata kyrios dapat juga digunakan sekedar sebagai suatu bentuk sapaan yang sedikit sopan. Misalnya ketika beberapa orang minta bantuan Filipus untuk bertemu dengan Yesus, mereka berkata kepada Filipus: “Tuan (kyrie), kami ingin bertemu dengan Yesus”  (Yoh 12:21). Jelas di sini mereka tidak menyapa Filipus dalam arti yang sama kalau kita menyapa Yesus sebagai Tuhan, meskipun kata yang dipakai adalah sama à kyrios

Arti yang berbeda-beda dari gelar kyrios ini sepantasnya menjadi undangan bagi kita semua untuk ‘menguji’ apa yang sesungguhnya kita maksudkan pada waktu kita menyatakan ‘Yesus adalah Tuhan’ atau pada waktu kita berseru ‘Tuhan, kasihanilah kami’. 

Arti asli dari kata kyrios adalah seseorang yang mempunyai kewenangan atas daerah tertentu, atau seseorang yang menjalankan fungsi pengendalian atas orang-orang tertentu. Dalam ‘Perumpamaan Yesus tentang Pengampunan’ kita temukan juga kata kyrios (lih. Mat 18:31.34). Ada perbedaan dalam tingkat  dalam hal penggunaan kata kyrios ini. Seorang pemilik kebun anggur adalah kyrios dari kebun anggurnya, sedangkan seorang raja adalah kyrios dari kerajaannya. Meskipun kata ini dapat digunakan sebagai suatu cara sopan dalam menyapa seseorang lain, meskipun orang lain itu tidak mempunyai wewenang apa-apa, arti dasar dari kata kyrios ini berkaitan dengan kontrol/pengendalian dan wewenang. 

Kyrios yang paling akhir/tinggi adalah Tuhan Allah, yang memerintah alam semesta serta segala isinya yang diciptakan oleh-Nya. Ketika Allah meninggikan Yesus dan memberikan gelar kyrios sebagai ‘nama di atas segala nama’, maka nama kyrios  itu dimaksudkan seperti berlaku untuk Allah sendiri. Segenap ciptaan adalah subyek terhadap Yesus, seperti juga terhadap Allah; supaya bertekuk lututlah segala yang ada di alam semesta serta isinya, guna menyembah Yesus sebagai kyrios

Sekarang bagaimana dengan kita masing-masing? Apa yang kita maksudkan pada waktu kita menyapa Yesus sebagai Tuhan (kyrios)? Apakah penyebutan itu sekedar ‘lip service’ saja tanpa banyak arti? Apakah kita menyapa Yesus sebagai Tuhan (kyrios) hanya sekedar sebagai sebuah cara yang sopan dalam mengajukan permohonan-permohonan kepada-Nya, seperti orang-orang pada waktu berbicara dengan Filipus? 

Barangkali kita memaksudkan sesuatu yang lebih ketika kita menyapa Yesus sebagai Tuhan (kyrios); tampaknya paling sedikit kita mengakui bahwa Dia adalah Tuhan (kyrios) dari Gereja-Nya. Akan tetapi apakah kita mengerti sedikit misteri bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan (kyrios) dari segala ciptaan? Sebagai konsekuensinya, apakah kita meng-approach Dia sebagai yang mempunyai kuasa dan wewenang atas segala alam ciptaan? Apakah  kita ‘bertekuk lutut’ (paling sedikit secara mental) ketika kita menyebut ‘nama yang di atas segala nama’ ini dan mengakui bahwa bahwa Yesus sungguh adalah “Raja segala raja dan Tuan di atas segala tuan” (Why 19:16)? Apakah kita –seperti Rasul Tomas- mengakui keilahian Yesus dan mengatakan: “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yoh 20:28)? 

Memang menyapa Yesus sebagai Tuhan (kyrios) dapat bervariasi dalam arti yang dimaksudkan. Menyapa Yesus sebagai Tuhan (kyrios) segenap alam ciptaan serta isinya adalah satu hal. Akan tetapi halnya akan sedikit berbeda kalau kita mengakui-Nya sebagai Tuhan-ku (kyrios-ku). Kita dapat menerima bahwa secara obyektif semua kuasa dan wewenang berada pada Yesus, namun kita tetap saja mencoba untuk menjalani hidup kita seakan-akan kitalah yang secara lengkap berkuasa atas hidup kita itu. Seakan-akan kita berkata: “Yesus boleh saja menjadi Tuhan (kyrios) dari/atas siapa dan apa saja, tetapi bukan atas saya.” 

Menerima Yesus sebagai Tuhan-ku (kyrios-ku) berarti mengakui tidak saja kewenangan-Nya dalam arti abstrak, tetapi kewenangan-Nya atas diriku. ‘Nama yang di atas segala nama’  pada akhirnya harus menjadi nama yang kugunakan untuk mengakui kesetiaanku yang lengkap kepada Yesus sebagai Tuhan (kyrios)

Catatan penutup: 

Beberapa ide dari bacaan di atas yang sangat mengesankan adalah, bahwa: 

1.       Yesus adalah sungguh Allah, sungguh manusia.

Lihat juga Kol 2:9 — dalam Yesus Kristus berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan keAllahan. Dia mengambil rupa manusia (sungguhan) secara sukarela. Dia berhasrat untuk hidup seperti manusia. Dia mau mengunjungi ciptaan-Nya. Dia menjadi manusia agar manusia dapat mengenal Allah pada tingkat pemahaman manusia. Dengan demikian manusia dapat berelasi dengan Dia ….. karena Dia adalah manusia (sungguhan). 

2.       Yesus mengesampingkan posisi-Nya sebagai Allah.

Meskipun Yesus Kristus adalah sepenuhnya Allah, Dia tidak mengambil manfaat untuk diri-Nya sendiri segala kesetaraan dengan Allah itu (2:6). Dia tidak menggunakan kuasa-Nya untuk membalas dendam dll., tetapi untuk menolong orang yang telah menyakiti-Nya. Dia berkorban. Dia membatasi diri-Nya untuk hidup sebagai seorang manusia, dicobai ….. hanya tidak berbuat dosa (lih. Ibr 4:15). 

3.       Yesus memiliki kerelaan untuk menerima kematian.

Lihat 2:8. Dia adalah Sang Pencipta yang bertindak sebagai hamba bagi para pendosa. Luarbiasa memang. Tetapi siapa lagi -kecuali Allah sendiri- yang sungguh dapat menjadi hamba bagi kebutuhan manusia yang paling besar, yaitu Keselamatan? Memang tidak dapat digantikan. 

4.       Yesus dibangkitkan setelah kematian-Nya dan Allah Bapa sangat meninggikan Yesus karena kerelaan-Nya untuk mati bagi kita.

Lihat 2:9-10. 

5.       Yesus Kristus adalah Tuhan (kyrios).

Lihat 2:11. 

POKOK-POKOK UNTUK REFLEKSI PRIBADI DAN SYERING DALAM KELOMPOK 

  1. Flp 2:6-11 sebenarnya adalah sebuah madah atau kidung Gereja Perdana yang dipetik oleh Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi. Madah ini menunjukkan Yesus yang mengosongkan diri-Nya dari segala hal yang ilahi, sehingga Dia dapat menjadi seorang manusia, bahkan sebagai seorang budak/hamba yang kemudian dihukum mati di kayu salib. Selagi kita masing-masing memeditasikan madah ini, baiklah kita juga mengosongkan diri. Cobalah untuk mengingat-ingat, barangkali selama dua minggu terakhir ini, kapan Saudara-saudari dipanggil untuk ‘mengosongkan diri’? Apakah Saudara-saudari mampu untuk melakukannya, atau tetap ‘nyantol’ pada posisimu, keangkuhanmu atau pada apa saja yang menurut Saudara-saudari memang adalah hakmu. Bagaimana perasaan Saudara-saudari tentang hal ini? Seandainya Saudara-saudari mampu membuat dirimu kosong, bagaimana perasaanmu? Apakah ada rasa takut yang menyertainya? 
  2. ‘Jalan Yesus’ adalah ‘jalan perendahan diri’. Para rasul/murid-Nya yang pertama (kecuali Yudas Iskariot) telah memilih ‘Jalan Yesus’ ini, demikian pula dengan para kudus (martir atau bukan) dan begitu banyak orang. Apa yang paling menarik adalah bahwa untuk menempuh ‘Jalan Yesus’ itu seseorang harus mengambil sikap tertentu terhadap dirinya, terhadap dunia dan terhadap Allah. Seperti telah dicontohkan oleh Yesus sendiri, ‘gerbang kemerdekaan Kristiani’ itu nampaknya hanya terbuka bagi orang yang mau dan berusaha untuk tidak melekat kepada harta, kuasa dan nama, sebagai hal-hal yang umumnya dicari dan didambakan manusia. Orang itu harus berusaha untuk tidak gelisah akan ‘apa yang harus dimakan atau apa yang akan dipakai’, melainkan sepenuhnya percaya kepada penyelenggaraan ilahi (bdk. Mat 6:25-34). Dia juga dituntut untuk berusaha tunduk dan merendahkan diri di hadapan sesamanya, bukan karena rasa rendah diri (minder atau rasa inferior) melainkan karena kasih persaudaraan, seperti yang telah dicontohkan oleh Yesus sendiri. Dan di hadapan Allah, dia selalu akan bersyukur serta memuja-muji dan memuliakan Allah, yang adalah Kebaikan itu sendiri. Dalam hal ini, apa yang telah ditunjukkan oleh kehidupan para kudus yang telah mendahului kita, khususnya Bapak Fransiskus, Santa Klara dari Assisi dan semua orang kudus Ordo Serafik? Bagaimana dengan kehidupan Saudara-saudari sebagai umat kristen (= murid Kristus) umumnya dan sebagai anggota keluarga besar Fransiskan khususnya? Sudahkah kita mempraktekkan ‘Jalan Yesus’ ini, di dalam persaudaraan/komunitas kita dan juga dalam hal berhubungan dengan orang-orang lain di sekeliling kita, termasuk saudara-saudari kita yang beriman-kepercayaan lain?  
  3. Ada yang pernah mengatakan, “Nothing proves humility better than a humiliation.” Artinya: Tidak ada sesuatu pun membuktikan secara lebih baik tentang kerendahan hati selain mengalami penghinaan. Yesus adalah contoh kita, demikian pula Santo Fransiskus dan segenap para kudus yang telah mendahului kita. Setujukah Saudara-saudari dengan pernyataan itu? Pernahkan Saudara-saudari mengalaminya? Syeringkan pengalamanmu! 
  4. Apakah Saudara-saudaari pernah mengalami dibangkitkan atau ditinggikan? Dapatkah kita percaya apa yang diwahyukan Yesus kepada kita, yaitu bahwa pengosongan diri tidak membawa kepada kehancuran, melainkan melalui kematian kita dibangkitkan kepada hidup yang baru? 
  5. Apakah Yesus Kristus sungguh-sungguh Tuhan (Kyrios) bagi pribadi kita masing-masing? Pada waktu mengalami kesusahan, ke manakah kita pergi? Kepada Yesus atau dukun (orang pintar), paranormal dlsb.? 

BEBERAPA CATATAN TAMBAHAN 

  • Allah berjalan bersama orang rendah; Ia mengungkapkan diri-Nya kepada orang-orang rendah; Ia memberikan pemahaman bagi orang-orang kecil; Ia membuka arti / memberi pengertian bagi pikiran-pikiran yang murni, tetapi menyembunyikan rahmat-Nya terhadap orang-orang yang sok mau tahu dan sombong.  Thomas a Kempis
  • Kerendahan hati adalah akar, ibu, perawat, fondasi dan tali pengikat segala keutamaan (kebajikan).  Santo Yohanes Kristosomos
  • Seandainya anda bertanya kepada saya: Apa sih yang paling pertama dalam hidup keagamaan? Saya akan menjawab: Yang pertama, yang kedua, yang ketiga ….. tidak, malah semuanya adalah kerendahan hatiSanto Augustinus dari Hippo
  • Hendaklah seluruh diri manusia gemetar, seluruh dunia bergetar dan langit bersorak-sorai, apabila Kristus, Putera Allah yang hidup hadir di atas altar dalam tangan imam! O keagungan yang mengagumkan dan kesudian yang menakjubkan! O perendahan diri yang luhur! O keluhuran yang merendah! Tuhan semesta alam, Allah dan Putera Allah, begitu merendahkan diri-Nya, sampai Ia menyembunyikan diri di dalam rupa roti yang kecil itu, untuk keselamatan kita! Saudara-saudara, pandanglah perendahan diri Allah itu dan curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; rendahkanlah dirimu juga, agar kamu ditinggikan oleh-Nya.”  (SurOr 26-28) 

PAX ET BONUM

 


*)Disusun oleh Sdr. F.X. Indrapradja, OFS dari beberapa sumber, untuk dibawakan dalam pertemuan KANESTA pada hari Minggu tanggal 25 Februari 2001.

[1]  Perihal C yang keempat misalnya ada catatan (yang sangat penting, misalnya bagi orang-orang yang suka ‘merusak’ hutan) berikut ini; “In crucifying the earth we are also crucifying the Christ.” Artinya: dengan menyalibkan/merusak bumi (alam ciptaan) kita juga menyalibkan Kristus (lagi).

[2] Penyaliban merupakan bentuk penghukuman yang cukup lazim pada zaman Yesus (kekaisaran Romawi). Mati di kayu salib merupakan suatu bentuk kematian yang mengerikan, yang hanya diperuntukkan bagi para budak/hamba dan pemberontak. Para warga lain yang melakukan kejahatan besar dihukum dengan cara yang lebih manusiawi. Hanya orang-orang yang paling jelek dalam masyarakat, yang dihukum lewat penyaliban. Mati di kayu salib dengan telanjang merupakan puncak kegagalan dan sangat memalukan. Bagi kita para Fransiskan, hal ini adalah ‘perendahan diri Allah yang kedua’.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 78 other followers