SYARAT-SYARAT BAGI PARA PEMIMPIN JEMAAT DAN DIAKON

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Selasa, 17 September 2013)

Keluarga Fransiskan: Pesta Stigmata Bapa kita Fransiskus 

506px-Holy_Orders_Picture

Benarlah perkataan ini, “Orang yang menghendaki jabatan pengawas jemaat menginginkan pekerjaan yang mulia.” Karena itu, pengawas jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu istri, dapast menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, pandai mengajar orang, bukan peminum, bukan pemarah melainkan peramah, pendamai, bukan hamba uang, seorang kepada keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. Jikalau seseorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimana ia dapat mengurus jemaat Allah? Janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar jangan  ia menjadi sombong dan kena hukuman seperti yang terjadi pada Iblis. Hendaklah ia juga mempunyai nama baik di luar jemaat, agar jangan ia digugat orang dan jatuh ke dalam jerat Iblis. 

Demikian juga diaken-diaken haruslah orang terhormat, jangan bercabang lidah, jangan penggemar anggur, jangan serakah, melainkan orang yang memelihara rahasia iman dalam hati nurani yang suci. Mereka juga harus diuji dahulu, baru ditetapkan dalam pelayanan itu setelah ternyata mereka tak bercacat. Demikian pula istri-istri hendaklah orang terhormat, jangan pemfitnah, hendaklah dapast menahan diri dan dapat dipercayai dalam segala hal. Diaken haruslah suami dari satu istri dan mengurus ank-anaknya dan keluarganya dengan baik. Karena mereka yang melayani dengan baik beroleh keudukan yang baik sehingga dalam iman kepada Kristus Yesus mereka dapat bersaksi dengan leluasa. (1Tim 3:1-13)

Mazmur Tanggapan: Mzm 101:1-3.5-6; Bacaan Injil: Luk 7:11-17

Bacaan hari ini terdengar seperti iklan mencari orang-orang untuk menjadi para pemuka gereja, ……… para pemimpin gereja. Di bagian pertama Paulus berbicara mengenai para penatua/pengawas gereja, yaitu para presbiter atau pastor. Di bagian kedua sang rasul berbicara mengenai para diakon …… para pelayan seperti Filipus, Stefanus dll. (lihat Kis 6:1-6), atau S. Laurensius [+ 258] pada abad ke-3 di Roma, atau S. Fransiskus dari Assisi [1181-1226] (Catatan: tidak seperti sahabatnya, S. Dominikus, S. Fransiskus bukanlah seorang imam!). Dalam menyebutkan berbagai kualitas yang dibutuhkan oleh para pemuka gereja itu, Paulus tidak menyebut “kekayaan”, “kekuasaan” atau “prestise/status sosial”. Seorang calon pemimpin Gereja haruslah “above reproach” ……, seorang pribadi yang nyaris sempurna …… (lihat 1Tim 3:2,4,7,12). Jadi, penekanannya adalah pada keutamaan/kebajikan, bukannya curriculum vitae (CV) atau resume yang impresif penuh dihiasi dengan berbagai gelar akademis dan capaian di berbagai bidang bisnis dan/atau akademis. Berbagai kualitas ini tentunya juga berlaku bagi para pemuka gereja pada umumnya, misalnya para anggota dewan paroki, prodiakon dlsb.

ST. PAUL THE APOSTLE -ORTHODOX CHURCHPada waktu Surat pertama kepada Timotius ini ditulis – menjelang akhir abad pertama – terdapatlah kebutuhan yang crucial akan pemimpin-pemimpin gerejawi yang kuat-berwibawa. Pada waktu itu Gereja sedang berada dalam periode konsolidasi. Para pengganti rasul-rasul Kristus yang pertama baru saja mulai melakukan pengorganisasian atas tugas-tugas pelayanan mereka dan mengembangkan tata-ibadat gerejawi, kredo (fasal-fasal iman-kepercayaan atau syahadat), dan ajaran-ajaran Gereja. Mereka membutuhkan orang-orang yang memiliki kepribadian yang kuat guna menjamin kelangsungan apa yang telah dimulai oleh Roh Kudus di tengah mereka. Kebutuhan tersebut menjadi sangat mendesak karena kehadiran berbagai pengajar/nabi palsu di tengah-tengah umat Kristiani. Ada sejumlah warga Gereja justru mempromosikan kekeliruan-kekeliruan yang serius – misalnya menyangkal keilahian Kristus, atau mengklaim bahwa pengorbanan-Nya di atas kayu salib tidak memberi efek apa-apa. Nah, kekeliruan-kekeliruan itu membutuhkan koreksi. Lagipula waktu itu bukanlah saat untuk berselisih dalam hal doktrin kepercayaan.

Para pemimpin yang baik juga sangatlah hakiki untuk membantu Gereja dalam berhubungan dengan dunia luar. Karena umat Kristiani seringkali menghadapi kekerasan dan penganiayaan, maka conduct para pemimpin mereka haruslah tanpa cela. Hal ini perlu bukan sekadar agar jemaat-jemaat (gereja-gereja) dapat diorganisasikan dengan baik dan terus bertumbuh. Penting jugalah jemaat-jemaat itu untuk berfungsi sebagai saksi bagi orang-orang lain dalam masyarakat mereka masing-masing, yang sebagian telah merasa khawatir atas pengaruh Gereja yang semakin bertumbuh menjadi besar.

Selagi kita memikirkan para pemimpin Gereja awal dan tantangan-tantangan besar yang mereka hadapi, marilah kita mengingat para pemimpin Gereja pada zaman modern kita ini. Para pemimpin itu membutuhkan dukungan kita-umat, tidak kurang dari uskup-uskup, presbiter-presbiter dan diakon-diakon pertama pada masa-masa Gereja awal. Kita harus mendoakan para imam dan uskup kita, paling sedikit sama seringnya dengan doa-doa kita untuk para sahabat dan keluarga kita – tidak hanya karena mereka bekerja dan berdoa sebagai para pemimpin Gereja, melainkan juga karena kita adalah satu tubuh dengan mereka dalam Kristus. Misa senakel adalah contoh yang baik untuk dipraktekkan oleh umat dengan tekun dan berkesinambungan.

DOA: Tuhan Yesus, utuslah Roh Kudus-Mu kepada semua pemimpin Gereja. Bimbinglah mereka dengan hikmat-Mu agar mereka dapat melayani umat dengan efektif. Berikanlah kepada mereka damai-sejahtera-Mu agar mereka tidak pernah akan putus harapan dalam masa yang penuh kesulitan ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:11-17), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMBANGKITKAN ANAK MUDA DI NAIN” (bacaan tanggal 17-9-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2013. 

Bacalah tulisan-tulisan yang berjudul “REALITAS KASIH ALLAH DI DEKAT PINTU GERBANG KOTA NAIN” (bacaan tanggal 18-9-12) dan “MUKJIZAT ITU MEMANG ADA !!!” (bacaan tanggal 13-9-11) dalam situs/blog SANG SABDA. 

Cilandak,  14 September 2013 [Pesta Salib Suci] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS