DIA BEGITU MENGASIHI KITA SEHINGGA TAK AKAN PERNAH MEMBUANG KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PRAPASKAH I, 26-2-12)

Segera sesudah itu Roh memimpin Dia ke padang gurun. Di padang gurun itu selama empat puluh hari Ia dicobai oleh Iblis. Ia tinggal bersama dengan binatang-binatang liar dan malaikat-malaikat melayani Dia.

Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya, “Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Mrk 1:12-15)

Bacaan Pertama: Kej 9:8-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-9; Bacaan Kedua: 1Ptr 3:18-22 

Sebelum dunia dijadikan, Allah mengenal kita, mengasihi kita dan Dia memanggil kita untuk mengenal dan mengasihi-Nya. Perjanjian Lama menggambarkan sejumlah perjanjian yang dibuat Allah dengan umat-Nya untuk menyiapkan mereka agar dapat menerima kehidupan-Nya secara lebih penuh. Akan tetapi, lagi-lagi umat Allah gagal memelihara perjanjian Allah dengan mereka. Sebagai konsekuensinya, mereka memisahkan diri dari kasih Allah dan perlindungan-Nya.

Namun demikian Allah sedemikian mengasihi dunia sehingga ketika saat-Nya tiba Dia mengutus Anak-Nya yang tunggal, untuk mengajar, untuk menyembuhkan mereka yang sakit dan akhirnya untuk mati; dengan demikian mengadakan perjanjian yang baru dan kekal dalam darah-Nya. Ini adalah perjanjian baru yang dijanjikan oleh Allah melalui nabi Yehezkiel: “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya”  (Yeh 36:26-27).

Kita masuk ke dalam perjanjian yang baru ini pada waktu dibaptis; dan lewat hidup iman kita memperkenankan Roh Kudus untuk mempersatukan kita dengan Yesus lebih penuh lagi setiap hari. Kita menjadi ciptaan baru dalam Kristus. Dengan mati bersama Dia, bukan kita lagi yang hidup, tetapi Kristus yang hidup dalam diri kita (lihat Gal 2:20).

Mukjizat baptisan ke dalam suatu perjanjian yang baru ini telah digambarkan jauh hari sebelumnya oleh Perjanjian  Lama dengan banyak cara. Akan tetapi tidak ada yang lebih berwarna-warni daripada kisah Nuh (Kej 6-9). Sejak hari-hari awalnya, Gereja telah melihat dalam banjir yang dikisahkan itu suatu jenis air baptis, yang menyingkirkan dosa-dosa daging dan memberikan umat manusia suatu awal yang baru.

Yang dimaksudkan dengan awal baru kita dalam baptisan adalah keikutsertaan dalam hidup Yesus sendiri. Seperti ketika Yesus dicobai di padang gurun selama 40 hari, kita juga akan mengalami saat pencobaan dan pertumbuhan. Allah memberikan kepada kita saat-saat seperti itu untuk mengajarkan kita melakukan tindakan penyerahan diri kita kepada-Nya secara lebih penuh, dan menunjukkan betapa setia Dia pada janji-janji-Nya. Dia begitu mengasihi kita sehingga tak akan pernah membuang kita. Yang diminta oleh-Nya hanyalah bahwa kita menaruh kepercayaan kepada-Nya – seperti telah ditunjukkan oleh Nuh dan keluarganya – untuk menjaga kita di tengah-tengah hujan badai.

DOA: Bapa surgawi, ucapkanlah kata-kata perjanjian cinta kasih-Mu kepada kami di saat-saat teduh dalam masa Prapaskah ini. Oleh Roh Kudus-Mu, tolonglah kami untuk mau dan mampu menaruh kepercayaan secara lebih penuh kepada-Mu, sehingga – seperti dicontohkan oleh Putera-Mu Yesus, kami dapat menjadi bentara-bentara kerajaan-Mu di muka bumi ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:12-15), bacalah tulisan dengan judul “DITEMPA SELAMA 40 HARI” (bacaan untuk tanggal 26-2-12), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2012. 

Cilandak,  26 Januari 2012 [Peringatan S. Timotius dan Titus, Uskup] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS