SIAPA SAJA YANG MAU MENYELAMATKAN NYAWANYA, ……
(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VI, Jumat 17-2-12)
Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka, “Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa saja yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya? Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab siapa saja yang malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah orang-orang yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusia pun akan malu karena orang itu apabila ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, bersama dengan malaikat-malaikat kudus.
Kata-Nya lagi kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat bahwa Kerajaan Allah telah datang dengan kuasa.” (Mrk 8:34-9:1)
Bacaan Pertama: Yak 2:14-24,26; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-6
Siapa saja yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya (Mrk 8:35). Kata-kata Yesus mengenai ‘menyelamatkan dan kehilangan nyawa’ kita hanya akan menginspirasikan rasa takut dalam diri kita, jikalau apa yang kita lihat adalah aspek ‘sakit dan kerugian’-nya saja. Jadi, terpujilah Allah, bahwa Dia ingin agar kita membuka mata kita untuk dapat melihat gambar yang yang lebih penuh daripada rencana perencanaan-Nya. Yesus tidak mati di kayu salib sekadar agar kita lepas dari kehidupan lama kita. Dia mati agar kita pun dapat menerima hidup kebangkitan-Nya. Dengan demikian kita dapat memandang salib Kristus dengan penuh rasa kagum, takjub, dan antisipasi akan hal-hal baik yang dijanjikan Allah. Karena Yesus wafat di kayu salib, maka hati kita dapat dibersihkan dan pikiran kita dibuat baru.
Yesus mengundang kita semua kepada kehidupan baru, tidak hanya di dalam surga kelak, melainkan juga di sini dan sekarang. Kita dapat saja sampai berlelah-lelah sedemikian rupa dengan menyerahkan diri kita kepada berbagai hasrat buruk dan mengejar-ngejar hal-hal duniawi secara habis-habisan karena kecanduan. Akan tetapi, apabila kita melakukannya seperti itu, maka kita menghadapi risiko kehilangan harta-kekayaan kehidupan yang dimaksudkan Allah bagi kita. Selagi kita datang untuk menyangkal diri kita dan menyerahkan hidup kita kepada Yesus, maka kepada kita diberikanlah suatu keberadaan yang baru dan lebih baik.
Yesus tidak minta kepada kita untuk menolak setiap kenikmatan. Yang Ia inginkan adalah agar kita menolak dorongan-dorongan kedosaan dalam diri kita yang berupaya mengendalikan diri kita. Yesus ingin agar kita mengarahkan hati kita kepada Allah sehingga Roh Kudus-Nya dapat memberdayakan kita untuk hidup sesuai dengan hidup baru yang kita terima pada waktu pembaptisan. Kebebasan tanpa arah, ketiadaan kemauan untuk mengampuni, legalisme, keinginan agar sikap dan perilaku kita selalu dapat diterima oleh dunia, pemuliaan diri-sendiri, perfeksionisme; semua ini hanyalah membawa kita kepada ketidakbahagiaan. Seandainya ada yang menyatakan hal-hal seperti itu menjanjikan kebahagiaan, maka paling-paling itu adalah suatu “kebahagiaan semu”. Yesus ingin agar diri kita sungguh mati terhadap hal-hal tersebut.
Memang ada “sesuatu yang hilang” melalui salib. Kehilangan apa? Perbudakan dosa! Apa keuntungan salib, kalau begitu? Hati nurani yang dibersihkan, kebebasan dari pola-pola dosa, keakraban dengan Allah, dan penemuan-kembali siapa diri kita sebenarnya di mata Allah! Yesus sungguh rindu melihat kita untuk berhenti berpikir bahwa kita harus memperoleh kemenangan atas hal-hal buruk yang mendorong sikap dan perilaku kita, tetapi kita melakukannya dengan kekuatan sendiri. Dia rindu untuk melihat kita meletakkan kemandirian kita pada kaki salib-Nya, agar dengan demikian kita dapat menerima kuasa Roh Kudus-Nya guna menghayati suatu kehidupan baru. Marilah kita memandang-Nya dengan penuh iman untuk penyembuhan dan pelepasan/pembebasan kita sendiri.
DOA: Bapa surgawi, tunjukkanlah kepadaku apa saja yang harus kuletakkan pada kaki salib Kristus, sehingga dengan demikian aku dapat menjadi seorang pribadi yang sesuai dengan rencana-Mu semula. Aku ingin mempercayai sepenuhnya janji Yesus yang mengatakan, “Siapa saja yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya”. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yak 2:14-24,26), bacalah tulisan dengan judul “IMAN TANPA PERBUATAN PADA HAKEKATNYA ADALAH MATI” (bacaan untuk tanggal 17-2-12), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2012.
(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-2-11)
Cilandak, 23 Januari 2012 [Hari Keenam Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani]
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS