MENGAPA KAMU BEGITU TAKUT? MENGAPA KAMU TIDAK PERCAYA?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Thomas Aquino, Sabtu 28-1-12) 

Pada hari itu, menjelang malam, Yesus berkata kepada mereka, “Marilah kita bertolak ke seberang.” Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak  dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. Lalu mengamuklah topan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan memakai bantal. Lalu murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya, “Guru, tidak pedulikah Engkau kalau kita binasa? Ia pun bangun, membentak angin itu dan berkata kepada danau itu, “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengapa  kamu begitu  takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain, “Siapa sebenarnya orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” (Mrk 4:35-41)

Bacaan Pertama: 2Sam 12:1-7a,11-17l Mazmur Tanggapan: Mzm 51:12-17 

Dalam bacaan kemarin, kita melihat bagaimana kerajaan Allah bertumbuh dari awal yang sederhana dan tak kelihatan. Dalam bacaan hari ini kita melihat bagaimana kerajaan Allah itu memanifestasikan dirinya kepada para murid dengan suatu cara yang dramatis, yaitu dalam kuat-kuasa Yesus atas badai yang sedang mengamuk. Bagaimana Dia bisa-bisanya tidur dengan tenang dalam cuaca tak bersahabat seperti itu? Karena Yesus menaruh kepercayaan penuh kepada kasih dan pemeliharaan Bapa-Nya. Apa yang ditulis perihal ‘iman’ dalam Ibr 11:1 sungguh menjadi kenyataan dalam diri Yesus.

Para murid memandang situasi yang dihadapi secara berbeda. Sang Guru yang tertidur  di buritan perahu karena kelelahan samasekali tak nampak sebagai seseorang yang memiliki kuat-kuasa untuk membuat tenang gelombang-gelombang ombak yang menerpa sebuah perahu nelayan sederhana. Iman mereka kepada Yesus ternyata berada pada tingkat yang berbeda dengan iman-Nya kepada Bapa surgawi. Namun demikian, para murid memang – tidak bisa tidak –  hanya dapat mohon pertolongan dari sang Guru. Dengan benih iman mereka yang begitu kecil mereka membangunkan Dia dari tidur-Nya sambil mengeluh: “Guru, tidak pedulikah Engkau kalau kita binasa?” (Mrk 4:38). Menanggapi keluhan para murid yang terasa ‘kurang ajar’ dan ‘egois’ itu, Yesus tidak marah dan ngomel-ngomel. Tanpa ucapan kata-kata sedikit pun Ia menanamkan rasa damai-sejahtera ke dalam hati mereka masing-masing. Setelah itu Dia menghardik angin topan dan memerintahkan danau supaya tenang (lihat Mrk 4:39). Damai-sejahtera yang dinikmati-Nya di buritan perahu sekarang diturunkan-Nya kepada para murid yang masih terkagum-kagum, dan juga kepada air danau.

Pesan perikop Injil ini berlaku di segala zaman. Betapa seringnya kita mengucapkan Credo di pagi hari, mengulang-ulang “Aku percaya” dengan begitu sering,  tetapi begitu diterpa sakit-penyakit, kehilangan seseorang yang kita cintai, dibebani masalah keuangan yang menekan, atau masalah-masalah keluarga dll., maka kita menjadi seperti para murid yang memandang Dia sebagai tidak mempedulikan diri kita yang seakan mau mati ini. Bukankah begitu?

Iman bukanlah sesuatu yang kita dapat bangun hanya dengan mengulang-ulang doa-doa atau berupaya lebih keras lagi berdasarkan kekuatan kita sendiri. Iman adalah karunia (anugerah) dari Allah. Apabila iman kita (yang merupakan karunia atau pemberian dari Allah) kelihatan sudah melemah, maka kita senantiasa harus berpaling kepada Dia – sang Pemberi karunia, dengan keyakinan penuh akan kebenaran definisi ‘iman’ seperti tertulis dalam ‘Surat kepada Orang Ibrani’: “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang diharapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak dilihat” (Ibr 11:1). Kita mohon juga kuat-kuasa-Nya untuk merestorasi damai-sejahtera dalam hati kita dan situasi yang kita hadapi.

Tindakan iman bukanlah melakukan sesuatu yang akan membebaskan kita dari rasa takut dan dosa sekaligus dan untuk seterusnya. Iman adalah sebutir benih yang bertumbuh oleh kuat-kuasa Allah, sampai pada suatu hari kita mencapai titik di mana kita dapat menjadi sama tenangnya dalam krisis seperti Yesus, ketika Dia tidur di buritan perahu meski di tengah badai yang mengamuk di tengah danau.

DOA: Bapa surgawi, jagalah agar kami selalu sadar akan keberadaan karunia-Mu dan tolonglah kami agar dapat bertumbuh dalam iman sehingga dapat menghadapi berbagai pencobaan dengan tenang serta penuh rasa damai-sejahtera. Bukalah mata-hati kami terhadap kehadiran-Mu dan berbicaralah tentang damai-sejahtera ke dalam jiwa kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 4:35-41), bacalah tulisan dengan judul “GURU, TIDAK PEDULIKAH ENGKAU?” (bacaan untuk tanggal 28-1-12), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 12-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2012. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-1-10)Cilandak, 13 Januari 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS   

About these ads