SIAPA YANG HARUS DIUNDANG?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI, Senin 31-10-11) 

Lalu Yesus berkata juga orang yang mengundang Dia, “Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau lagi dan dengan demikian engkau mendapat balasannya. Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apaq untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasannya pada hari kebangkitan orang-orang benar.” (Luk 14:12-14)

Bacaan Pertama: Rm 11:29-36; Mazmur Tanggapan: Mzm 69:30-31,33-34,36-37 

Yesus melanjutkan pengajaran-Nya yang berhubungan dengan kehadiran dalam sebuah pesta perjamuan.  Sebelumnya Dia mengajar tentang “tempat yang paling utama dan yang paling rendah”, yang pada intinya adalah mengenai “kerendahan hati” (lihat Luk 14:1,7-11). Sekarang Ia berbicara langsung kepada orang Farisi yang mengundang-Nya. Dalam kesempatan ini Yesus memberikan sejumlah petunjuk dan sebuah peringatan.Yesus berbicara secara umum namun sekali lagi Dia tampil sebagai seorang guru hikmat-kebijaksanaan yang tak tertandingi.

Menurut tradisi Yahudi, makan bersama adalah sebuah tanda kasih persaudaraan. Dalam kerangka itulah Yesus memberikan petunjuk-Nya agar Tuan rumah yang mengundang janganlah hanya mengundang orang-orang yang telah menjalin relasi baik dengannya (misalnya keluarga, para sehabat dan mitra bisnis) yang kaya-kaya. Orang-orang itu kiranya pasti akan mampu membalas dengan undangan serupa. Kita ketahui bahwa memberi demi diberi (Latin: do ut des) bukanlah pernyataan kasih, melainkan bukti adanya pamrih. Pada kesempatan lain Yesus mengajar: “Kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan tanpa mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu murah hati” (Luk 6:35-36). Sejatinya kasih yang mengharapkan balasan bukanlah kasih murni.

Setelah kalimat bernada negatif (Luk 14:12b), Yesus mengucapkan kalimat bernada positif. Menurut Yesus, yang harus diundang adalah orang-orang yang tidak mampu untuk menyampaikan undangan balasan, karena mereka termasuk golongan orang-orang miskin, orang-orang kecil, …… “wong cilik”. Orang-orang Yahudi memandang hina sesama mereka yang buta, pincang/lumpuh atau menderita cacat fisik. Orang-orang ini tidak boleh mengikuti upacara liturgi dalam Bait Suci (lihat Im 21:17-24). Yesus – yang memang adalah “tanda lawan” pada zaman-Nya – justru menaruh perhatian khusus terhadap orang-orang seperti itu. Yesus memiliki keyakinan bahwa semua orang yang menganggap diri tidak layak dan yang dianggap tidak layak oleh masyarakat, justru akan diterima di dalam Kerajaan Allah. Nasib sebaliknya akan menimpa diri orang-orang Farisi yang sombong dan amat yakin akan diri mereka. Itulah sebabnya mengapa Yesus melakukan banyak mukjizat demi kesembuhan orang-orang yang menderita cacat. Dengan begitu kerajaan Allah menjadi sebuah realitas di atas muka bumi ini. Karena orang miskin tidak mampu membalas, maka Allah sendirilah yang akan menggantikan tugas mereka.

Orang-orang yang disebutkan oleh Yesus adalah mereka yang membutuhkan makanan dan minuman karena mereka lapar dan haus; orang-orang yang memerlukan pertemanan karena mereka adalah orang-orang yang tersisihkan dalam masyarakat; orang-orang yang membutuhkan kegembiraan karena telah begitu banyak ditimpa kesedihan; orang-orang yang membutuhkan syering karena selama ini mereka terisolasi dalam penderitaan sakit mereka. Berbagai kebutuhan nyata dari orang-orang miskin-kecil ini biasanya tidak dipenuhi. Nah, Yesus justru minta sang tuan rumah yang mengundang makan itu untuk mengundang orang-orang seperti titu, bebas tanpa biaya.

Mereka yang menawarkan hospitalitas yang tidak dapat dibalas oleh pihak yang dilayani di dunia ini akan memperoleh ganjarannya pada hari kebangkitan orang-orang benar. Apabila seseorang berbaik hati terhadap orang-orang cacat dan ‘wong cilik’ lainnya dengan syering meja makan bersama dengan mereka, maka Tuhan akan mengingat kebaikan hati mereka. Dan, seperti yang akan dikembangkan Yesus dalam perumpamaan berikutnya (Luk 14:15-24), maka justru orang-orang miskin, para pengemis, orang-orang buta dan cacat lainnya yang diberikan kehormatan dalam kerajaan surga. Soalnya bukanlah orang yang bersih mengundang orang yang tidak bersih, orang yang sehat mengundang orang yang cacat, melainkan terlebih-lebih orang-orang cacat syering pada meja perjamuan bersama orang-orang cacat, pengemis dengan pengemis dst. Mengapa? Karena apabila kita sampai pada kerajaan Allah, siapa yang dapat duduk di tempat terhormat pada meja perjamuan: Siapa yang dapat mengandaikan bahwa diri mereka tidak termasuk sekumpulan besar orang buta, lumpuh dan lain sebagainya?

DOA: Tuhan Yesus,  oleh kuasa Roh Kudus-Mu, bentulah aku menjadi seorang murid-Mu yang rendah hati dan tanpa mengenal pamrih dalam melakukan kebaikan bagi orang-orang miskin, orang-orang cacat dan orang-orang kecil pada umumnya. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Rm 11:29-36), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH TIDAK MENYESALI KARUNIA-KARUNIA DAN PANGGILAN-NYA” (bacaan untuk tanggal 31-10-11) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 11-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2011. 

Cilandak, 17 Oktober 2011 [Peringatan S. Ignatius dari Antiokhia, Uskup & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

About these ads