YESUS MEMANG SESUNGGUHNYA ADALAH ANAK ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XIX, 7-8-11) 

Sesudah itu Yesus segera mendesak murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Menjelang malam, Ia sendirian di situ. Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru, “Itu hantu!”, lalu berteriak-teriak karena takut. Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka, “Tenanglah! Inilah Aku, jangan takut!” Lalu Petrus berkata kepada-Nya, “Tuhan, apabila engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” Kata Yesus datanglah!” Lalu Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak, “Tuhan, tolonglah aku!” Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata, “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Lalu mereka naik ke perahu dan angin pun reda. Orang-orang yang ada  di perahu menyembah Dia, katanya, “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.” (Mat 14:22-33)

Bacaan Pertama: 1Raj 19:9a,11-13a; Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9-10,13-14; Bacaan Kedua: Rm 9:1-5 

Ada pepatah tua yang mengatakan, bahwa seorang suci bukanlah seseorang yang tidak pernah melakukan kesalahan dan tidak pernah gagal, melainkan seseorang yang bangkit dari setiap kegagalan dan maju lagi. Pepatah tua ini menggambarkan bagaimana pribadi Petrus itu. Karena Petrus cenderung untuk tidak sabar dan bergerak dengan kekuatan dan kecepatan yang besar, maka dia dikenal tidak jarang membuat dirinya terlibat dalam situasi-situasi di mana dia dapat menjadi gagal. Namun demikian, setiap kegagalan membuat dirinya semakin percaya kepada cintakasih Yesus. Setiap saat Petrus membuat sebuah langkah kecil dalam iman, maka diapun bertumbuh dalam iman. 

Pada malam Yesus mendatangi para murid-Nya dengan berjalan di atas air, cintakasih Petrus kepada Yesus telah menggerakkannya untuk turun dari perahu dan berjalan di atas air  mendapatkan-Nya. Dengan penuh keajaiban Petrus mampu membuat beberapa langkah dalam jalannya di atas air, namun ketika rasa takut menguasai dirinya, dia mulai tenggelam. Dia berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!” (Mat 14:30). Dalam peristiwa ini ada Yesus  di sana guna menolongnya. Hal ini juga seharusnya menjadi pelajaran sangat berharga bagi kita semua: Yesus selalu siap menolong kita! Dalam setiap badai kehidupan yang dialami setiap orang, cintakasih-Nya dan kuasa-Nya akan mengalir ke dalam diri kita dari salib-Nya, membawa kepada kita keselamatan dan damai-sejahtera. 

Seperti juga para murid Yesus yang pertama, kita juga sedang berada dalam suatu perjalanan iman. Terlalu sering kita bertindak sesuai perasaan-perasaan kita sendiri dan pandangan masyarakat yang berlaku, bukannya oleh iman. Namun Allah tidak pernah berhenti mengundang kita untuk ‘untuk turun dari perahu’ cara-cara kebiasaan kita berpikir. Ia selalu memanggil kita untuk bertindak dengan cara melawan gelombang pandangan-pandangan dunia. Para kudus pada umumnya adalah “tanda lawan” seperti itu. Dalam keluarga besar Fransiskan kita ada Bapak Serafik kita: Santo Fransiskus dari Assisi, ada Santa Klara dari Assisi dan para kudus Fransiskan lainnya, termasuk nama-nama para kudus Fransiskan sekular: S. Elisabet dari Hungaria [Ratu; +1231], B. Luchesio dari Poggibonzi [Pedagang/OFS pertama; +1260], S. Ludovikus IX [Raja; +1270], B. Raymundus Lullus [Misionaris/martir; +1314], St. Elisabet dari Portugal [Ratu; +1336], St. Thomas More [Perdana Menteri/martir; +1535], Para martir Nagasaki [+1597], Para martir perang Boxer di Tiongkok [+1900], B. Yohanes XXIII [Paus; +1963], dan begitu banyak lagi. 

Apakah dalam cara kita mendidik dan membesarkan anak-anak kita atau dalam cara kita memperlakukan pasangan hidup kita atau anggota-anggota keluarga kita yang lain, atau pun juga sesama kita, Allah seringkali memanggil kita untuk mengambil langkah keluar dari ‘zona kenyamanan’ kita, untuk keluar dari perahu kita yang aman, kemudian menolong mereka yang sedang berada dalam kesulitan, baik materiil maupun spiritual. Dunia kita dibuat menjadi gelap oleh janji-janji palsu yang tidak pernah dipenuhi dan rumah tangga yang retak sampai berantakan; juga oleh ketamakan dan kebencian, oleh distribusi kekayaan yang tidak adil dan gambar-gambar Allah yang telah terdistorsikan. Kita dapat membuat suatu perbedaan, akan tetapi hanya jika kita melangkah keluar ke dalam dunia yang gelap ini dengan iman-kepercayaan teguh bahwa Yesus ada di sana bersama setiap orang yang memanggil nama-Nya. Terkadang kita akan gagal, namun Yesus akan selalu berada di sana, siap untuk mengajar kita dan mengulurkan tangan-Nya guna menolong kita. 

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa Engkau ada bersamaku. Tingkatkanlah iman-kepercayaanku kepada-Mu. Berikanlah keberanian kepadaku untuk mengambil langkah dalam iman, karena mengetahui bahwa Engkau akan ada di sana untuk mengulurkan tangan-Mu guna menolong aku pada waktu aku mulai tenggelam ke dalam air yang berbahaya. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Yesus, Tuhan dan Juruselamatku. Amin. 

Catatan: Bacalah juga tulisan tentang bacaan pertama hari ini (1Raj19a,11-13) yang berjudul “BUNYI ANGIN SEPOI-SEPOI BASA” dalam situs blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com.com; kategori: 11-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2011. 

Cilandak, 5 Agustus 2011 [Peringatan Pemberkatan Gereja Basilik SP Maria] – Revisi bacaan tanggal 3-8-10 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

About these ads