MERAYAKAN HARI NATAL BERSAMA SANTO FRANSISKUS *) 

Ia (Fransiskus) biasa menjalankan ibadat Kelahiran Kanak-kanak Yesus dengan hasrat yang besar sekali, di atas segala hari raya Gereja lainnya, menegaskannya sebagai Pesta dari segala Pesta, ketika Allah menjadi seorang bayi kecil yang berpegang teguh pada dada manusia.  Dia akan mencium anggota badan anak kecil itu yang ada dalam gambar (patung) seraya memikirkan kelaparan, dan belarasa terhadap anak itu yang meluap di hatinya, membuatnya mengucapkan kata-kata dengan menggagap, bahkan seperti seorang anak. Nama Bayi Yesus baginya serasa madu dan sarang madu (lebah) dalam mulutnya       (2Cel 199). [1] 

Kalau kita berniat untuk berbicara mengenai apa dan bagaimana Santo Fransiskus dari Assisi menghayati kelahiran Tuhan Yesus Kristus, maka yang pertama ada dalam pikiran kita biasanya adalah peristiwa Natal di Greccio pada tahun 1223. Perayaan Natal yang begitu indah, istimewa dan unik, apalagi pada zamannya. Namun tidak demikianlah halnya dengan penyajian materi dalam tulisan ini. Di sini kita bersama-sama akan mulai dengan suatu pengamatan atas salah satu tulisan Fransiskus yang sering luput dari perhatian kita, yaitu Mazmur XV dalam “Ibadat Sengsara Tuhan” untuk Masa Natal sampai Oktaf Epifani.[2] Setelah itu barulah kita membicarakan perayaan Natal di Greccio di mana kita akan melihat kaitan yang erat antara isi Mazmur XV dengan apa yang dirayakan di Greccio, yaitu kenyataan bahwa bayangan salib sudah ada sejak di Betlehem. Palungan Betlehem tidak dapat dipisahkan dari salib Golgota! Fransiskus memahami dan percaya sekali, bahwa pengosongan-diri Yesus tidak dimulai di Kalvari, tetapi di Betlehem. 

Bagi Fransiskus, “Natal adalah Pesta dari segala Pesta”  pada saat mana Allah menjadi seorang bayi kecil-mungil yang berpegang teguh pada dada manusia (2Cel 199). Sesungguhnya Ekaristi adalah juga “Pesta dari segala pesta” di mana Allah memberikan kepada kita hidup-Nya sendiri dalam bentuk roti dan anggur. Dari perayaan Natal di Greccio itu kita pun akan melihat, bahwa Natal bukanlah sekedar suatu kenangan masa lampau, tetapi Natal adalah juga Ekaristi hari ini. Mengapa? Karena Inkarnasi Allah tidak berhenti di Betlehem, tetapi berlangsung terus, bahkan hari ini dan sepanjang masa dalam bentuk roti dan anggur Ekaristi …… sampai saat kedatangan-Nya untuk kedua kali kelak. Jadi bagi orang kudus ini “Natal adalah Ekaristi” dan “Ekaristi adalah Natal”. Dengan demikian tidak mengherankanlah kalau ada orang yang mengatakan, bahwa bagi Fransiskus setiap hari adalah Natal. 

“Mazmur Natal” sebagai bagian dari “Ibadat Sengsara Tuhan” 

“Mazmur Natal” atau Mazmur XV ini merupakan bagian dari “Ibadat Sengsara Tuhan” yang disusun oleh Fransiskus untuk menghormati, untuk mengenangkan dan untuk memuliakan Tuhan Yesus Kristus dalam sengsara-Nya. “Ibadat Sengsara Tuhan” ini merupakan doa privat. Mengapa Natal sampai dikaitkan dengan Sengsara Tuhan? Hal ini akan menjadi jelas dalam uraian-uraian di bagian lain tulisan ini. 

Penggunaan ke limabelas mazmur yang ada dalam “Ibadat Sengsara Tuhan” ini sepanjang tahun liturgi adalah sebagai berikut: 

  1. tujuh mazmur untuk Triduum Suci pada Pekan Suci dan untuk hari-hari biasa sepanjang tahun, yaitu Mazmur I sampai dengan VII;
  2. dua mazmur untuk masa Paskah, yaitu Mazmur VIII dan IX;
  3. tiga mazmur untuk  hari Minggu dan pesta-pesta besar, yaitu Mazmur X, XI dan XII;
  4. dua mazmur untuk masa Adven, yaitu Mazmur XIII dan XIV;
  5. satu mazmur untuk masa Natal sampai oktaf Epifani (Penampakan Tuhan), yaitu Mazmur XV. 

Seperti kita lihat, masa Natal berbeda dengan masa-masa lain dalam tahun liturgi Gereja, artinya dalam hal ini Fransiskus hanya menyusun sebuah mazmur saja untuk digunakan sepanjang masa Natal tersebut dan didoakan pada setiap waktu ibadat. Pada masa Fransiskus, hal ini berarti 7 (tujuh) kali didoakan setiap harinya. Dari kenyataan ini kita dapat memahami betapa penting arti Mazmur XV bagi orang kudus ini. Jelas Fransiskus percaya, bahwa pelbagai gambaran yang muncul dalam mazmur ini begitu dalam, padat dengan isi dan tentunya kaya-makna, sehingga teks yang sama didoakan untuk selama kurang lebih tiga minggu lamanya.

Teks “Mazmur Natal” 

Dalam tulisan ini saya menggunakan teks yang terdapat dalam buku Mgr. Leo Laba Ladjar OFM. Seperti juga mazmur-mazmur lainnya dalam “Ibadat Sengsara Tuhan”, maka Mazmur Natal susunan Fransiskus ini juga berisikan berbagai petikan dari Mazmur dalam Alkitab, Injil Lukas (khususnya dalam hal narasi kelahiran Yesus) dan juga petikan-petikan dari teks-teks liturgis. 

  1. Bersorak-sorailah bagi Allah penolong kita (Mzm 81:2a), *   bersorak-sorailah dengan suara gembira (bdk Mzm 47.2b)    bagi Tuhan Allah yang hidup dan benar.
  2. Sebab Tuhan Mahatinggi *  raja agung dan dahsyat atas seluruh bumi (Mzm 47:3). 
  3. Sebab Bapa Yang Mahakudus di surga, raja kita dari zaman purbakala (Mzm 74:12a) telah mengutus Putera-Nya yang terkasih dari tempat yang tinggi *    dan lahir dari Santa Perawan Maria yang berbahagia. 
  4. Dia pun berseru kepada-Ku: Bapa-Ku Engkau (Mzm 89:27a) *    dan Aku pun akan mengangkat Dia menjadi anak sulung,    menjadi yang tertinggi di antara raja-raja bumi (Mzm 89:28). 
  5. Pada hari itu Tuhan mengerahkan kasih setia-Nya * dan malam hari aku menyanyikan nyanyian bagi-Nya (bdk Mzm 42:9a-b).  
  6. Inilah hari yang dijadikan Tuhan, *    marilah kita bersorak-sorai dan bersukacita karenanya (Mzm 118:24). 
  7. Sebab Putera terkasih yang mahakudus telah diberikan kepada kita dan telah lahir bagi kita yang dalam perjalanan dan dibaringkan dalam palungan * karena tidak ada tempat bagi-Nya di rumah penginapan (bdk Yes 9:5; Luk 2:7).  
  8. Kemuliaan bagi Tuhan Allah di tempat yang tinggi *    dan damai sejahtera di bumi bagi orang yang berkehendak baik (bdk Luk 2:14).  
  9. Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorai, biarlah laut serta isinya bergemuruh *    biarlah  beria-ria, padang dan segala yang ada di atasnya (Mzm 96:11-12a)  
  10. Nyanyikanlah bagi Dia lagu baru; *  bernyanyilah bagi Tuhan, hai seluruh bumi (Mzm 96:1). 
  11. sebab Tuhan mahabesar dan sangat terpuji *  Ia lebih dahsyat daripada segala allah (Mzm 96:4).  
  12. Sampaikanlah kepada Tuhan, hai suku-suku bangsa, sampaikanlah kepada Tuhan kemuliaan dan hormat *   sampaikanlah kepada Tuhan kemuliaan nama-Nya (Mzm 96:7-8a).  
  13. Persembahkanlah tubuhmu dan pikullah salib-Nya yang suci (bdk Luk 14:27) * dan penuhilah perintah-perintah-Nya yang tersuci hingga akhir (bdk 1Ptr 2:21). 

“Mazmur Natal” dan Penyusunnya 

Seperti halnya dengan mazmur-mazmur lainnya dalam “Ibadat Sengsara Tuhan”, maka “Mazmur Natal” juga merupakan hasil sebuah mosaik petikan-petikan yang diambil dari Mazmur yang terdapat dalam Alkitab, sejumlah teks liturgis dan tambahan-tambahan lain dari Fransiskus sendiri. Dalam kasus “Mazmur Natal” ini tambahan-tambahan pribadi dari Fransiskus ternyata berjumlah lebih banyak daripada halnya mazmur-mazmur lain yang telah disusunnya dalam rangka mengkontemplasikan hidup dan penderitaan-penderitaan Yesus. Hal ini disebabkan oleh misteri Inkarnasi yang  berkesan mendalam dalam hatinya. Boleh jadi juga karena dalam membicarakan misteri ini dia tidak menemukan banyak contoh dalam mazmur-mazmur Perjanjian Lama. 

Tambahan-tambahan pribadi yang dibuat oleh Fransiskus sangat diinspirasikan oleh Injil yang berkenaan dengan Natal. Namun gaya yang dipakainya pada waktu dia mengungkapkan pengumuman Natal bersifat hakiki. Kelahiran Yesus di Betlehem tidak dinarasikan kata demi kata dan juga tidak secara lengkap. Para malaikat, gembala dan Yusuf tidak dikemukakan secara jelas; demikian pula halnya dengan pembunuhan anak-anak di Betlehem (Mat 2:16-18) dan pengungsian ke Mesir (Mat 2:13-15). Namun terasa sekali, bahwa “Mazmur Natal” ini mengedepankan misteri malam yang teramat suci ini: Bapa surgawi memberikan kepada manusia Putera-Nya yang tunggal melalui Perawan Maria. Ini adalah motif sukacita untuk seluruh ciptaan. Sekarang marilah kita mendalami “Mazmur Natal” ini lebih lanjut secara lebih terinci: 

Tafsir atas teks “Mazmur Natal” [3] 

Kalau kita memperhatikan satu-persatu ayat-ayat mazmur ini, maka kita dapat melihat pemikiran-pemikiran yang memimpin/membimbing Fransiskus dalam menyusun mazmur ini. Kita lihat, bahwa undangan/ajakan untuk memuji-muji Tuhan diulang  tiga kali (ayat-ayat 1, 6 dan 10), disusul dengan motivasinya yang diungkapkan dengan kata “sebab” (ayat-ayat 2, 7 dan 11).Tindakan Bapa surgawi untuk mengutus Putera-Nya yang terkasih ke dalam dunia merupakan pusat dari pengakuan iman-kepercayaan yang dibuat oleh Fransiskus dalam mazmur ini. 

Ayat 1 sudah mengungkapkan sukacita yang berasal-usul dari Natal. Mengapa Natal? Karena pada malam Natal Allah memanifestasikan diri-Nya sebagai “pertolongan kita” dan “Tuhan Allah yang hidup dan benar”. Tambahan ini mengingatkan kita pada 1Tes 1:9 dan juga menggarisbawahi kenyataan, bahwa bagi Fransiskus Allah bukanlah suatu ide abstrak, melainkan suatu kehadiran yang hidup. Hal ini merupakan realita yang tak terubahkan. 

Ayat-ayat 2 dan 3 memperlihatkan motif sukacita: Tuhan itu Mahatinggi, namun pada saat yang sama Dia tidak merasa begitu tinggi dan hina untuk mengutus Putera-Nya yang tunggal. Yang dimaksudkan oleh Fransiskus dengan ungkapan “Tuhan” dan “Allah” adalah Bapa surgawi. Melalui konsep-konsep yang dikontraskan Fransiskus tahu bagaimana mengagumi keagungan misteri ini: Allah Bapa yang mahatinggi, mahakudus dan raja kekal mengutus Putera-Nya ke dalam dunia yang kecil dan dibatasi dengan ruang dan waktu. Kata-kata “Bapa Yang Mahakudus” dan “Putera-Nya yang terkasih” mengekspresikan relasi intim yang terjalin antara Bapa dan Putera seperti digambarkan dalam Perjanjian Baru (lihat Yoh 17) dan seperti dipersepsikan oleh Fransiskus  sendiri. Dalam mazmur-mazmur susunan Fransiskus yang lain sapaan “Bapa Yang Mahakudus” menjadi kata kunci yang khas. Fransiskus tidak menyebut “Bapa kami”, melainkan dia selalu menambah kata “yang kudus” atau “mahakudus”. Demikian pula dengan ungkapan “Putera terkasih” yang juga khas Fransiskus. “Mahakudus” memanifestasikan terlebih-lebih transendensi Bapa, sementara “yang terkasih” terutama mengekspresikan kedekatan Putera dalam hubungan-Nya dengan manusia. Melalui kelahiran Yesus (Putera Allah), Maria turut ambil bagian dalam kekudusan Bapa dan untuk ini Dia meninggikannya sebagai “yang berbahagia” dan “suci”.[4]

Ayat 3 mulai memunculkan unsur-unsur personal. Dalam memproklamasikan keagungan dan kekekalan Allah, hanya beberapa patah kata saja yang diambil dari Mazmur 74, selebihnya adalah susunan Fransiskus sendiri yang isi dan kata-katanya diambil langsung dari liturgi pada masa itu. Ayat 3 ini (dan juga ayat 7) merupakan pusat dan inti misteri Natal. Ini adalah kredo Fransiskus, kredo Gereja. 

Ayat 4 hanya dapat dipahami apabila ditempatkan sehubungan dengan Mazmur, meski ada keragu-raguan apakah Fransiskus sadar akan adanya hubungan sedemikian. Dalam Mazmur 89 Daud mengingat, karena dia adalah anak Isai yang lebih muda, bagaimana dia diangkat oleh Allah yang sama menjadi raja Israel. Ada kemungkinan Fransiskus menafsirkan kata-kata ini sebagai sebuah dialog antara Bapa dan Putera: Yesus, yang ketika hidup di dunia mengakui bahwa Allah adalah Bapa-Nya dan bahwa Dia datang dari Bapa yang membangkitkan-Nya sebagai putera/anak sulung di atas segala raja di bumi. Kalau tafsir ini benar, maka dalam kenangan akan kelahiran Yesus ini ada gema dari tema “Tuhan sebagai raja”. Penggunaan kata “putera/anak sulung” (first born – yang dilahirkan pertama) mungkin menjadi penyebab penggunaan Mazmur 89:28 dalam “Mazmur Natal” ini. Kata “putera/anak sulung” juga digunakan dalam narasi kelahiran Yesus (lihat Luk 2:7). Jadi mungkin saja Fransiskus telah memikirkan dalam konteks yang mana ayat Mzm 89:28 ini dapat diterapkan. 

Ayat 5 diambil dari Mzm 42:9. Ayat ini berisikan pengumuman bahwa Allah menawarkan kerahiman-Nya setiap hari, siang maupun malam. Namun untuk menyelaraskan isi ayat mazmur ini dengan Pesta Natal, maka Fransiskus menambah sedikit, yaitu kata-kata “Pada hari itu”; artinya “pada malam Natal”. Ungkapan “dan malam hari aku menyanyikan nyanyian bagi-Nya” mengingatkan kita kepada para malaikat yang memuji-muji Tuhan pada malam Natal pertama itu. Malam Natal adalah pemberian kerahiman Allah. 

Ayat 6 merayakan malam Natal sebagai “Hari Tuhan” dengan mengambil ayat Mzm 118:24. Kita lihat, bahwa ayat 5 dan 6 “Mazmur Natal” juga terdapat dalam Mazmur IX  (ayat 5 dan 6) yang digunakan untuk Ibadat Matutinum pada hari Minggu Kebangkitan Tuhan. Bagi Fransiskus, baik Natal maupun Paskah adalah hari-hari yang “dibuat oleh Tuhan” (made by the Lord). Yang berbeda adalah motivasinya. Dalam Mazmur IX, kedua ayat tidak disusul dengan unsur “mengapa”-nya yang merupakan partisipasi subyektif Fransiskus seperti diungkapkannya dalam ayat 7 “Mazmur Natal”. Motivasi ini menjadi lebih jelas kalau kita lihat komentar berikut tentang ayat 7. 

Ayat 7 mengungkapkan inti pemikiran Fransiskus yang banyak dibantu oleh bacaan-bacaan hari raya/pesta liturgis pada masa itu. Melalui beberapa perubahan dan penyesuaian kecil, Fransiskus menggabungkan pokok-pokok yang terdapat dalam Yes 9:5 dan Luk 2:7, kemudian mengungkapkannya dalam satu kalimat. Dengan demikian Fransiskus secara halus-hampir-tak-terlihat menghubungkan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru: nubuat dalam Perjanjian Lama yang disampaikan melalui nabi Yesaya diwujudkan dalam Perjanjian Baru. Hal ini juga merupakan peneguhan, bahwa sabda Allah terdapat dalam Kitab Suci yang terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Pada masa itu memang ada gerakan (bidaah) Kathari yang menolak Perjanjian Lama sebagai bagian dari Kitab Suci. Dengan jelas kita melihat di sini, bahwa posisi Fransiskus dan para pengikutnya adalah berdiri tegak bersama Gereja: “Santo Fransiskus dan para Fransiskan adalah anggota Gereja dan milik Gereja!” 

Ayat 7 ini adalah ayat penting dalam “Mazmur Natal” dan dalam ayat ini kelihatan bagaimana Fransiskus menekankan peristiwa sejarah yang terjadi pada malam Natal pertama itu: seorang bayi sungguh-sungguh dilahirkan dan dibaringkan dalam palungan. Fransiskus juga mengubah teks yang sudah terdapat dalam Injil Lukas ketika dia menambahkan kata-kata “dalam perjalanan”. Hal ini menjelaskan konsep Fransiskus tentang kemiskinan dan keadaan seorang pribadi sebagai peziarah. Bagi Fransiskus, Yesus adalah model dan contoh. Dalam ungkapan “dalam perjalanan” diteguhkan kembali apa yang secara singkat dilaporkan dalam Injil, yaitu bahwa perjalanan ke Betlehem itu tidak mudah dan mencari serta mendapatkan tempat penginapan pun penuh dengan ketidakpastian. Yesus lahir di tengah perjalanan; Ia akhirnya “masuk” ke dunia bukan di tengah/dalam kota, tetapi di pinggiran kota …… “dalam perjalanan”. Sudah sejak kelahiran-Nya Yesus menjadi orang yang berada dalam perjalanan tanpa sebuah tempat tinggal yang layak. Dari sini juga dapat dipahami dengan lebih baik mengapa Fransiskus telah memilih bagi dirinya dan para pengikutnya sebuah opsi untuk mengikuti Yesus dalam kemiskinan-Nya, kerendahan hati-Nya dan sebagai peziarah. Fransiskus menulis dalam Peraturan Hidup para Saudara Dina sebagai berikut: 

“Sebagai musafir dan perantau di dunia ini, yang mengabdi kepada Tuhan dalam kemiskinan dan kerendahan, hendaklah mereka pergi minta sedekah dengan penuh kepercayaan, dan mereka tidak perlu merasa malu, sebab Tuhan sendiri telah membuat diri-Nya menjadi miskin di dunia ini bagi kita” (AngBul VI:2-3). 

Ayat 7 yang merupakan titik pusat “Mazmur Natal” ini juga mempunyai suatu aspek lain yang perlu untuk disebutkan di sini. Dalam ayat 3, dia menamakan Yesus sebagai “Putera-Nya yang terkasih”, namun dalam ayat 7 dia menyebut Yesus sebagai “ Putera terkasih yang mahakudus”. Fransiskus tidak terjebak dalam sentimentalisme. Kanak-kanak yang baru dilahirkan itu bagi dia tetaplah “Putera terkasih yang mahakudus”, yang didekatinya dengan penuh rasa hormat dan kelemah-lembutan. Keakraban (keintiman) Fransiskus dalam pendekatannya terhadap Dia tidak membuatnya lupa, bahwa Yesus lahir “bagi kita”. Kata “kita” muncul dua kali dalam ayat ini, termasuk di dalamnya kita, para pembaca “Mazmur Natal” ini. Afeksi-penuh-kasih dari Fransiskus terhadap Kanak-kanak yang dibaringkan di dalam palungan itu tidak mengambil bentuk komunikasi “Engkau dan Aku”, melainkan “kita” dalam dalam arti seluas-luasnya. Dalam diri Kanak-kanak yang dilahirkan itu segenap umat manusia telah menerima suatu karunia. Untuk ini, seperti ditunjukkan oleh ayat-ayat berikutnya, semua orang dan bahkan seluruh ciptaan harus melambungkan puji-pujian dan hormat kepada Allah. 

Ayat 8 memuat semacam jawaban atas “Kredo Natal”, yaitu madah pujian para malaikat di padang Efrata pada malam Natal pertama itu: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk 2:14; Vulgata: Gloria in altissimis Deo et in terra pax in hominibus bonae voluntatis). Akan tetapi, dalam “Mazmur Natal” tidak disebut Deo, melainkan Domino Deo. Bukan sekedar Allah, tetapi Tuhan Allah. Jadi ada sepatah “kata baru”, yaitu Dominus atau Tuhan. Hal ini semakin menguatkan keyakinan, bahwa Fransiskuslah penyusun “Mazmur Natal” ini, karena seringkali dalam doa-doanya kita melihat tambahan kata “Tuhan”, yang dalam wasiatnya merupakan kata yang biasa digunakan olehnya (lihat Was 1-40). 

Ayat-ayat 9-12 dapat digabungkan karena semuanya diambil dari Mazmur 96 dalam Alkitab. Setelah dalam ayat 8 dia mengambil nyanyian  bala tentara surga yang didengar dan disaksikan oleh para gembala (lihat Luk 2:9,13), Fransiskus melanjutkan: “langit bersukacita dan bumi bersorak-sorai …” Di sini Fransiskus menyusun beberapa ayat yang berisikan undangan yang ditujukan kepada seluruh kosmos untuk memuji-muji Allah: langit dan bumi, laut, suku-suku bangsa dan lain-lain harus melambungkan pujian kepada Allah. Undangan berlapis-tiga dalam ayat 12 yang berbunyi “sampaikanlah kepada Tuhan” mengingatkan orang kepada persembahan dan ketiga orang majus yang mempersembahkan barang-barang berharga kepada kanak-kanak Yesus (lihat Mat 2:1-11). 

Ayat 13 juga lebih bersifat personal. Kata awal “persembahkanlah” terkait dengan ayat sebelumnya. Dalam ayat ini Fransiskus menekankan, bahwa persembahan yang benar adalah pemberian diri kita sendiri secara total kepada Allah; jiwa kita dan tubuh kita dan memikul salib Kristus. Memikul salib dan mengikut Yesus berhubungan di sini – seperti dalam Injil (bdk Luk 14:27), dengan cara yang tak terpisahkan. Seperti Yesus yang meminta kita memikul salib kita hari demi hari, demikian juga Fransiskus: “… mengikuti perintah-perintah-Nya yang terkudus bahkan sampai kepada akhirnya!” Dengan cara ini radikalitas Injili terpelihara dengan baik. Seringkali dalam tulisan-tulisannya, Fransiskus menuntut ketekunan ini dalam seluruh hidup para saudara-saudarinya. Misalnya dalam pada akhir pasal XXI Anggaran Tanpa Bulla, dia memberi peringatan: “Waspadalah dan jauhkanlah dirimu dari segala yang jahat dan bertekunlah dalam yang baik hingga akhir” (AngTBul XXI:9). 

Dengan demikian “Mazmur Natal” tidak sekedar merupakan sebuah undangan untuk memuji-muji Allah, melainkan juga sebuah ajakan untuk bertindak – suatu tindakan atau action yang menyangkut keseluruhan pribadi seorang manusia. Puji-pujian sejati kepada Allah mengandung juga pengertian akan dilakukannya tindakan yang pada gilirannya membuktikan apa yang telah dirayakan lewat puji-pujian itu. Hanya kesetiaan tanpa-henti dalam mempersembahkan diri kita kepada Tuhan dan memenuhi kehendak-Nya, yang akan menunjukkan sampai berapa dalam kita memahami misteri Natal. 

Dalam “Mazmur Natal” hasil komposisi Fransiskus, palungan dan salib tidak terpisahkan. Orang kudus ini tidak hanya mau bergembira penuh sukacita secara terlepas dari realitas kehidupan, melainkan dia mau membuktikan keseriusan peristiwa yang merupakan pemenuhan janji Allah itu, suatu peristiwa yang menuntut tanggapan dalam hidup kita. Memang mengagumkan, bahkan menakjubkanlah bagi kita ketika melihat bagaimana Fransiskus, dalam mazmur yang relatif singkat-kecil ini, mempersatukan kemuliaan dan kehina-dinaan Allah sekaligus, yaitu dalam palungan dan salib, rangkaian puji-pujian, manusia dan kosmos. 

Perayaan Natal di Greccio 

Setelah pembahasan “Mazmur Natal” tadi, barulah sekarang kita pergi ke Greccio, yaitu sebuah tempat di negeri Italia sekarang yang secara naluriah kita kaitkan dengan Natal Fransiskan. 

Penulis pertama tentang riwayat hidup Fransiskus, Beato Thomas dari Celano dalam bukunya, VITA BEATI FRANCISCI  – Riwayat Hidup yang Pertama, dengan penuh entusiasme menarasikan perayaan Natal yang mengambil tempat di Greccio pada tahun 1223 itu.[5] Santo Bonaventura juga menuturkan secara lebih teratur peristiwa Natal di Greccio ini dalam bukunya, LEGENDA MAIOR – Kisah Besar (1262).[6] Dari kedua bacaan ini kita menjadi tahu bagaimana Fransiskus merayakan pesta kelahiran Tuhan: dia mau menciptakan Betlehem kedua, dengan cara yang sesetia mungkin, dengan keledai dan anak lembu, dengan palungan sebagai tempat tidur bayi Yesus, di lapangan terbuka pada malam hari. 

Greccio adalah sebuah kota kecil yang terletak sekitar 64 km sebelah selatan kota Assisi. Biara para saudara dina di Greccio ini merupakan salah satu dari tempat-tempat yang disukai oleh Santo Fransiskus. Tiga tahun sebelum pertemuannya dengan Saudari Maut (badani), orang kudus ini memutuskan untuk merayakan Natal secara baru dan dramatis di kota kecil ini. Begitu baru dan unik acara perayaan ini sehingga – agar jangan sampai dicap memasukkan suatu unsur yang baru – maka Fransiskus memohon dan memperoleh izin khusus dari Sri Paus (LegMaj X:7). Fransiskus merasa sedih melihat orang-orang telah kehilangan rasa takjub mereka terhadap misteri Natal. Oleh karena itu dia ingin agar mereka dapat melihat dengan jelas, seperti halnya para gembala di padang Efrata-Betlehem – kemiskinan dan kedinaan Bayi Yesus dan Ibunda-Nya yang suci. Lima belas hari sebelum hari Natal Fransiskus telah meminta seorang kawan dekatnya, seorang ksatria yang telah bertobat, yang bernama Yohanes dari Greccio, untuk menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk membangkitkan kenangan akan kanak-kanak kecil yang dilahirkan di Betlehem dalam keadaan pahit dan papa, dibaringkan dalam palungan, diletakkan di atas jerami, dengan didampingi seekor anak lembu dan seekor keledai (lihat 1Cel 84). 

Untuk perayaan ini Fransiskus mengundang para saudara yang berdiam di tempat itu dan tempat-tempat sekitarnya, juga para penduduk Greccio dan mereka yang tinggal di pinggiran kota. Dengan mereka semua, orang kudus ini datang dengan membawa lilin dan obor. Menurut Thomas dari Celano, malam itu menjadi terang benderang bagaikan siang hari dan menyenangkan, baik bagi manusia maupun hewan yang ada di situ. Dalam suatu prosesi yang penuh khidmat, mereka bersama-sama berjalan menuju tempat yang telah disediakan sebelumnya. Di tempat itulah diperingati secara sakral peristiwa Inkarnasi Allah. 

Pesta Natal itu dirayakan dalam satu kesatuan dengan perayaan Misa Kudus, di mana Fransiskus bertindak sebagai diakon. Ia menyanyikan Injil kelahiran Tuhan Yesus dengan suara merdu yang sangat menyentuh hati, kemudian dia pun berkhotbah. Khotbahnya tidak berisikan segala macam komentar yang bersifat teologis tinggi-tinggi, melainkan sederhana disertai dengan pelbagai gerak tubuh. Ia berkhotbah dengan hatinya dan tangan-tangannya, dengan ekspresi wajah dan gerak-gerakan isyarat, dengan kata-kata dan tentunya dengan kehadirannya sebagai seorang pribadi yang memancarkan kekudusan. Seluruh tubuhnya mengekspresikan kepenuhan yang penuh entusiasme dari pengalaman-pengalaman batinnya. Thomas dari Celano juga menulis betapa Fransiskus dalam khotbahnya, bilamana mengucapkan kata “Betlehem” maka terdengar seperti seekor domba yang sedang mengembik. Khotbah Fransiskus pada malam perayaan Natal itu tak terbandingkan dan tidak dapat ditiru oleh siapa pun juga. Setelah khotbah berakhir, seorang saudara dina-imam yang bertindak sebagai selebran melanjutkan perayaan Ekaristi. Misteri Inkarnasi mengalir kepada penebusan dan kehadiran yang selalu baru dari Yesus yang dimuliakan dalam Ekaristi. 

Setelah kita melihat bagaimana Fransiskus memahami dan mengumumkan kelahiran Kristus, mengekspresikannya kembali hal itu dengan cara yang hampir berwujud melalui gerakan-gerakan tubuhnya, sekarang kita dapat membayangkan:

  1. dengan semangat penyerahan-diri macam apa dia menyapa atau memberi hormat kepada sang Juru Selamat yang turun ke atas altar dalam perayaan Ekaristi;
  2. dengan devosi sedalam apa dia menyembah sang Juru Selamat dan menerima-Nya dalam komuni kudus. 

Apa yang dirayakan di Greccio lebih daripada sekedar peringatan sakral. Dengan menghubungkan peringatan kelahiran bayi Yesus di Betlehem itu dengan perayaan Ekaristi, maka keseluruhan perayaan tersebut menjadi suatu perayaan liturgis yang dramatis sifatnya, di mana unsur utamanya bukanlah penyajian suatu peristiwa, akan tetapi aktualisasi dan revitalisasi suatu misteri iman. Thomas dari Celano menulis, bahwa pada waktu itu Yesus dalam hati banyak orang telah hilang dari ingatan. Tetapi berkat kuat-kuasa-Nya, Dia dibangunkan kembali oleh hamba-Nya, Santo Fransiskus, di dalam hati orang-orang dan ditanamkan lagi ingatan yang hangat kepada-Nya”   (1Cel 86). 

Liturgi Natal di Greccio tidak berpaut secara tetap pada apa yang telah terjadi di Betlehem, tetapi mengikuti Yesus sampai ke Golgota dan mengakui Dia sebagai Yang bangkit dan dimuliakan, dan sebagai seorang Pribadi yang merendahkan dan memberikan Diri-nya sendiri setiap hari dalam Komuni Kudus. Dengan cara ini palungan, salib dan altar disatukan dalam sebuah pesta yang  sama. Di sini tidak sulitlah untuk menemukan hubungan antara semua ini dengan “Mazmur Natal” yang ciri-ciri utamanya adalah suatu visi penggabungan bersama antara palungan dan salib. Dalam perayaan di Greccio garis hubungan itu bahkan ditarik lebih jauh sampai kepada Ekaristi, di mana Allah terus-menerus memberikan Diri-Nya kepada kita, dalam bentuk roti dan anggur. 

Menurut tradisi, Santo Fransiskus adalah orang yang memberikan kepada kita kandang Natal yang pertama. Memang tidak meragukan, bahwa devosi orang kudus ini terhadap misteri Natal mempengaruhi adat modern kita untuk membuat kandang Natal di gereja maupun rumah kita masing-masing dalam rangka perayaan hari raya yang agung ini. Namun satu hal yang patut kita catat di sini adalah kenyataan, bahwa apa yang dilakukan oleh Fransiskus di Greccio berbeda dengan apa yang biasanya kita bayangkan. Charles Finnegan OFM menulis, bahwa sumber-sumber Fransiskan awal tidak menyebutkan adanya patung-patung atau gambar-gambar di sana, baik Maria, Yusuf atau Bayi Yesus. Hanya palungan, jerami, anak lembu dan keledai-lah yang disebut-sebut. 

Orijinalitas yang diperkenalkan oleh Fransiskus di Greccio adalah ikatan erat antara palungan dan altar. Invensi (penemuan)-nya di Greccio adalah “Palungan Ekaristis” (Eucharistic manger). Di Greccio, yang di taruh di palungan bukanlah patung bayi Yesus, tetapi spesies Ekaristis. Dengan demikian palungan menjadi altar. Dua misteri agung, yaitu Inkarnasi dan Ekaristi ditunjukkan secara jelas-nyata sebagai dua hal yang saling berhubungan secara intim. Fransiskus mencatat hubungan erat antara dua misteri itu dalam tulisan-tulisannya juga. Inilah yang ditulisnya dalam Petuah-Petuah: “Lihatlah, setiap hari Ia merendahkan diri, seperti tatkala Ia turun dari takhta kerajaan ke dalam rahim Perawan; setiap hari Ia turun dari pangkuan Bapa ke atas altar di dalam tangan imam” (Pth I:16-17).  

Di Betlehem para gembala datang mengunjungi Bayi Yesus dengan apa saja yang mereka dapat berikan; di Greccio umat beriman membawa persembahan mereka ke altar: persembahan terbaik mereka. Begitulah perayaan Natal di Greccio pada tahun 1223. Di samping disebut sebagai “Betlehem yang baru”, Greccio juga pantas untuk disebut sebagai “Betlehem Fransiskan” (Charles Finnegan OFM:Greccio, the Franciscan Bethlehem). Perayaan Natal di Greccio merupakan sebuah perayaan yang unik. Tidak mungkin kita mengulanginya dengan intensitas dan suasana hidup yang sama. 

Setiap kali kita merayakan Natal, di samping keagungan perayaan seperti Greccio, pantaslah kita selalu mengingat serta menghayati “Mazmur Natal” hasil komposisi Fransiskus juga. Sebuah Mazmur yang sederhana-apa-adanya dan serius, yang mengundang kita semua untuk mengikuti jejak Kristus. Ini adalah sebuah mazmur yang didaraskan oleh Fransiskus dan para saudaranya berulang kali (7 kali sehari) selama masa Natal, maka sepatutnyalah kita juga mendaraskannya pada setiap waktu ibadat di masa Natal (5 kali sehari).[7] Dengan demikian “Mazmur Natal” tidak dapat dilepaskan dari perayaan Natal yang terkenal di Greccio itu.  

Sedikit catatan mengenai peristiwa Natal dan Fransiskus

Ada yang pernah menulis, bahwa bagi Fransiskus setiap hari adalah hari Natal. Kalau kita perhatikan dengan penuh empati peri kehidupan orang kudus ini, bukankah apa yang dikatakan penulis itu merupakan sesuatu yang berlebihan? Atau memang benar demikian? 

Yang jelas-nyata, Fransiskus tidak merayakan Natal dengan cara seperti banyak “orang Kristiani” abad ke-21 ini; di mana seringkali Christmas Shopping ke sana ke mari dan pesta-pora di hotel-hotel berbintang serta makan-minumnya lebih dominan mewarnai Natal daripada unsur ibadatnya. Di atas telah dikisahkan tentang bagaimana Fransiskus merayakan malam Natal di Greccio. Bagi Fransiskus peristiwa Natal adalah misteri Inkarnasi Tuhan yang penuh keajaiban, namun tidak terlepas dari salib-Nya, sehingga dia merasakan layak dan pantas bagi dirinya dan para saudaranya  untuk menghaturkan rasa syukur kepada Allah secara komunal seperti berikut ini: “Kami bersyukur kepada-Mu karena sebagaimana dengan perantaraan Putera-Mu, Engkau telah menciptakan kami, demikian pula karena kasih-Mu yang kudus, yang telah Engkau berikan kepada kami, Engkau telah membuat Dia, yang sungguh Allah dan sungguh manusia, lahir dari Santa Maria yang tetap perawan, yang mulia dan amat berbahagia; dan oleh salib, darah dan wafat-Nya, Engkau mau menebus kami, orang tawanan” (AngTBul XXIII:3). 

Ini merupakan ungkapan rasa syukur atas misteri Inkarnasi. Sang Firman menjadi manusia (lihat Yoh 1:14), sehingga Dia dapat memberitakan kepada kita sampai berapa jauh cinta kasih Allah kepada kita semua sebagai pribadi-pribadi yang diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya. Cinta kasih inilah yang memimpin Yesus untuk dalam kerendahan-Nya menerima kematian-Nya di kayu salib demi keselamatan kita. Santo Paulus menulis: “… Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp 2:5-8). 

Dalam tulisan-tulisan Fransiskus barangkali tidak ada tema yang lebih dekat ke hatinya daripada kedinaan dan kemurahan hati dari kasih-pengosongan-diri (self-emptying love atau kenotic love) Allah, yang dinyatakan kepada kita dalam diri Kristus, seperti diungkapkan dalam petikan Surat Santo Paulus kepada jemaat di Filipi di atas. Bagi Fransiskus, hal ini merupakan suatu keajaiban yang mengagumkan dan menyentuh hati serta menguatkan iman-kepercayaannya. Fransiskus menulis: 

“Firman Bapa itu, yang begitu luhur, begitu kudus dan mulia, telah disampaikan dari surga oleh Bapa Yang Mahatinggi, dengan perantaraan Gabriel malaikat-Nya yang kudus, ke dalam kandungan Perawan Maria yang kudus dan mulia. Dari kandungannya, firman itu telah menerima daging sejati kemanusiaan dan kerapuhan kita. Dia sekalipun kaya melampaui segala-galanya, mau memilih kemiskinan di dunia ini, bersama bunda-Nya perawan yang amat berbahagia” (2SurBerim 4-5).

Unsur pengosongan diri dari Inkarnasi inilah yang “menangkap” Fransiskus dan memimpinnya untuk mengagumi kedinaan dan kemurahan hati Allah. Status ilahi Putera Allah dan perendahan diri-Nya memenuhi diri Fransiskus dengan rasa penuh kekaguman yang luarbiasa. Thomas dari Celano menulis: “Dalam renungan terus-menerus dia mengingat-ingat sabda-sabda-Nya dan dalam permenungan yang tajam dia memikirkan lagi karya-karya-Nya. Terutama kedinaan penjelmaan-Nya (Inkarnasi-Nya) dan cinta kasih dalam sengsara-Nya memenuhi ingatannya begitu rupa, sehingga dia tidak mau memikirkan sesuatu lainnya” (1Cel 84). 

Catatan Penutup 

Dari uraian tentang perayaan Natal di Greccio kita telah melihat bahwa ada hubungan erat yang terjalin antara Peristiwa Kelahiran Yesus dan Ekaristi. 

Kata Natal dalam bahasa Inggris CHRISTMAS berasal dari dua patah kata Anglo-Saxon: CHRISTES MAESSE, artinya Misa Kristus – Misa untuk merayakan kelahiran Kristus. Dengan demikian kata CHRISTMAS mengingatkan kita, bahwa perayaan Natal yang agung adalah liturgi Ekaristi untuk merayakan kelahiran Tuhan. Kata Betlehem berarti “Rumah Roti” dan bagi Fransiskus Natal  – di atas segalanya – adalah kedatangan Dia yang adalah “Roti Kehidupan” yang turun dari surga” (lihat Yoh 6:25  dsj). 

Orang kudus ini (juga Santa Klara) menghubungkan misteri Inkarnasi dengan Ekaristi karena dalam kedua-duanya dia mengalami kedinaan dan kemurahan hati yang dimanifestasikan dalam Kristus. Maka bagi Fransiskus Natal adalah Ekaristi; Ekaristi adalah Natal! Tadi dikatakan, bahwa “setiap hari adalah hari Natal” bagi Fransiskus. Mengapa? Karena Fransiskus (juga Santa Klara) melihat, bahwa misteri Inkarnasi berlangsung terus setiap hari, yaitu ketika Tuhan datang ke tengah-tengah kita dalam bentuk roti dan anggur. Dalam Inkarnasi-Nya, Allah mengambil daging manusia dan melanjutkan menjadi daging (dalam bentuk roti) untuk dunia dalam Ekaristi.

Dengan demikian setiap kali kita merayakan misteri Inkarnasi Tuhan, maka kita harus memeriksa kedinaan dan kemurahan hati kita sendiri seperti dicerminkan dalam cara hidup kita sehari-hari. Seperti Fransiskus, sebagai Fransiskan kita juga harus membuat pilihan, yaitu memilih “jalan perendahan Yesus” dalam menjalani hidup kita sehari-hari, agar dapat lebih bebas dalam mengikuti inspirasi-inspirasi Roh Kudus dan lebih bebas dalam menanggapi kebutuhan-kebutuhan sesama. 

Khususnya dalam rangka perayaan Natal kali ini, marilah kita memanjatkan permohonan kepada Allah agar Roh Kudus-Nya memperkenankan ajaran-ajaran dan teladan hidup Santo Fransiskus sungguh menyentuh hati kita dan membentuk hidup kita agar dapat menjadi saksi Kristus yang sejati. Selamat Natal kepada Saudari dan Saudaraku sekalian! 

DEUS MEUS ET OMNIA !!! 

UNTUK DIRENUNGKAN SECARA PRIBADI 

Uskup Agung Oscar Arnulfo Romero (1917-1980) dari El Salvador dikenang untuk khotbah-khotbahnya yang berani dan kepemimpinannya yang tegas sewaktu memimpin Keuskupan Agung San Salvador. Romero ditahbiskan sebagai imam di Roma pada tahun 1942, pada waktu dia belum genap berumur 25 tahun. Karya pastoralnya bermacam-ragam: Ia pernah berkarya sebagai pastor paroki, pengkhotbah di radio, editor surat kabar Katolik dan promotor gerakan awam dalam Gereja. Ia ditembak mati selagi merayakan Ekaristi pada tanggal 24 Maret 1980. Dia adalah martir abad ke-20. Dalam homilinya di Misa Malam Natal tahun 1978 berkata: “Tidak seorang pun dapat merayakan Natal tanpa menjadi sungguh miskin. Orang yang serba berkecukupan, yang sombong, mereka yang karena memiliki segalanya memandang rendah orang-orang lain, mereka yang tidak membutuhkan (bahkan) Allah – bagi mereka tidak akan ada Natal. Hanya orang-orang miskin, yang lapar, mereka yang membutuhkan seseorang bagi diri mereka, akan mempunyai seseorang itu. Seseorang itu adalah Allah, Imanuel, Allah-menyertai-kita. Tanpa kemiskinan dalam roh tidak akan ada kelimpahan dari Allah.”  

Kata-kata dalam homili diambil dari tulisan Pater Charles Finnegan OFM; data riwayat hidup diambil dari THE MODERN CATHOLIC ENCYCLOPEDIA. 

KEPUSTAKAAN 

  1. Regis Amstrong OFMCap., J.A. Wayne Hellmann OFMConv. & William Short OFM (Editors), FRANCIS OF ASSISI – EARLY DOCUMENTS – THE SAINT Volume I), New York, NY: NewCity Press, 1999.
  2. Santo Bonaventura, “RIWAYAT HIDUP ST. FRANSISKUS”, (Terjemahan P. Y. Wahyosudibyo OFM), Jakarta: SEKAFI, 1990.
  3. Thomas dari Celano, ST. FRANSISKUS DARI ASISI (Riwayat Hidup yang Pertama & Riwayat Hidup yang Kedua (sebagian) – terjemahan P.J. Wahjasudibja OFM), Jakarta: Sekafi, 1981.
  4. Charles Finnegan OFM, THE ADVENT-CHRISTMAS MYSTERY: A FRANCISCAN REFLECTION, dalam TAU – A Journal of Research into the Vision of Francis, Vol. XXV No. 4, December 2000.
  5. Michael Glazier & Monita K. Hellwig (Editors), THE MODERN  CATHOLIC ENCYCLOPEDIA, Collegeville, Minnesota: The Liturgical Press, 1994.
  6. Marion Habig OFM (Editor), ST. FRANCIS OF ASSISI – OMNIBUS OF SOURCES, Fourth Revised Edition, Quincy, Illinois: Franciscan Press –Quincy College, 1991.
  7. Madge Karecki SSJ-TOSF, THE GENEROSITY OF GOD, dalam TAU – A Journal of Research into the Vision of Francis, Vol. XXVI No. 4, December 2001.
  8. Madge Karecki SSJ-TOSF, INCARNATIONAL MYSTICISM, dalam TAU – A Journal of Research into the Vision of Francis, Vol. XXVII No. 4, December 2002.
  9. Mgr. Leo Laba Ladjar OFM (Penerjemah, pemberi pengantar dan catatan), “KARYA-KARYA FRANSISKUS DARI ASISI”, Jakarta: SEKAFI, 2001.
  10. Leonhard Lehmann OFMCap., The Psalm of St. Francis for the time of Christmas (From his Office of the Passion, psalm XV), dalam Franciscan Documentary – Journal in the Spirit of Assisi, Vol. 16, No. 63 2007 No. 4, hal. 05-14.
  11. Gerald Lobo OFM, THE BIRTH OF GOD IN THE FLESH: EUCHARIST AS CHRISTMAS,  dalam TAU – A Journal of Research into the Vision of Francis, Vol. XXV No. 4, December 2000.

*) Asli tulisan disusun oleh Sdr. F.X. Indrapradja OFS untuk digunakan dalam pertemuan OFS Persaudaraan Santo Thomas More, Jakarta Selatan,  pada  HARI MINGGU ADVEN IV, 21 Desember 2008. Jakarta, hari Pesta Semua Orang Kudus Tarekat Fransiskan, Sabtu tanggal 29 November 2008.

[1] Perpaduan terjemahan dari dua buah teks dalam bahasa Inggris: Thomas of Celano, THE REMEMBRANCE OF THE DESIRE OF A SOUL (The Second Life of Saint Francis), dalam  Regis J. Amstrong OFMCap. et al. (Editors), FRANCIS OF ASSISI – EARLY DOCUMENTS – THE SAINT Volume I), hal. 374; Thomas of Celano, THE SECOND LIFE OF ST. FRANCIS, dalam Marion Habig OFM (Editor), ST. FRANCIS OF ASSISI – OMNIBUS OF SOURCES, Fourth Revised Edition, hal. 521.

[2] Leo Laba Ladjar OFM, Karya-karya Fransiskus dari Asisi, hal. 316-318.

[3] Komentar-komentar dalam bagian ini banyak (tidak semua) mengandalkan tulisan Leonhard Lehmann OFMCap., The Psalm of St. Francis for the time of Christmas (From his Office of the Passion, psalm XV). Pater Lehmann adalah seorang pakar dalam hal tulisan-tulisan Santo Fransiskus dari Assisi.

[4] Dalam terjemahan bahasa Indonesia, bagian akhir ayat 3 berbunyi: “… dan lahir dari Santa Perawan Maria yang berbahagia.”  Kata “Santa” berarti “orang kudus/suci”. Terjemahan dalam bahasa Inggris yang terdapat dalam Marion Habig OFM (Editor), ST. FRANCIS OF ASSISI – OMNIBUS OF SOURCES berbunyi: “and he was born of the blessed and holy Virgin Mary (Perawan Maria yang terberkati/berbahagia dan suci),  sedangkan terjemahan dalam bahasa Inggris yang terdapat dalam  Regis Amstrong OFMCap., J.A. Wayne Hellmann OFMConv. & William Short OFM (Editors), FRANCIS OF ASSISI – EARLY DOCUMENTS – THE SAINT (Volume I) berbunyi: “and He was born of the Blessed Virgin Holy Mary”.

[5] Bacalah 1Cel 84-86 (terdapat pada hal. 53-54 dalam terjemahan bahasa Indonesia oleh Pater J. Wahjasudibja OFM).

[6] Bacalah LegMaj X:7 (terdapat pada hal. 67-68 dalam terjemahan bahasa Indonesia oleh Pater Y. Wahyosudibyo OFM).

[7] Pada masa Fransiskus, untuk waktu siang hari sebetulnya ada tiga ibadat, yaitu TERTIA, SEXTA  dan NONA. Sekarang ketiga ibadat itu dijadikan satu menjadi Ibadat Siang (HORIA MEDIA).

About these ads