BELAJAR MENJADI RENDAH HATI DARI YESUS KRISTUS DAN FRANSISKUS  *) 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Kerendahan hati adalah keutamaan (kebajikan) hakiki dalam kehidupan kita sebagai umat Kristiani. Dalam surat Petrus yang pertama, kita dapat membaca nasihatnya yang berikut ini: “Rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: ‘Allah menentang orang yang congkak, tetapi memberi anugerah kepada orang yang rendah hati. Karena itu, rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya” (1Ptr 5:5-6). Dalam Kitab Amsal ada tertulis: “Orang yang rendah hati dikasihani-Nya” (Ams 3:34). Surat Yudas juga mengatakan: “Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu” (Yak 4:10). Dalam Ibadat Bacaan hari Selasa  (II) ini, mazmur pertama menyinggung juga soal kerendahan hati: “Sebentar lagi orang jahat lenyap, biarpun dicari, ia tiada lagi. Tetapi orang yang rendah hati akan mewarisi tanah pusaka dan menikmati kesejahteraan yang berlimpah-limpah (Mzm 37:10-11; teks diambil dari Ofisi Ilahi). 

Tulisan singkat ini pertama-tama dimaksudkan bagi para Fransiskan sekular, untuk menekankan lagi betapa pentingnya kerendahan hati bagi seorang Kristiani, pertama-tama lewat ajaran-ajaran dan perikehidupan Tuhan Yesus Kristus sendiri yang dapat kita baca dan dalami lagi dari Kitab Suci; kemudian juga untuk mengingatkan kembali akan beberapa pengajaran Bapak Serafik kita tentang kerendahan-hati dan melihat perikehidupannya. Dialah yang menjadi ‘model’ dalam upaya kita untuk menjadi insan-insan yang pada akhirnya – berkat rahmat Allah – sungguh memiliki kerendahan hati. 

Tuhan Yesus Kristus itu rendah hati 

Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, Paulus menulis: “Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap, kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp 2:5-8). Dalam diri Yesus Kristus sang Mahapencipta menjadi seorang makhluk ciptaan. Sang Khalik langit dan bumi lahir sebagai seorang bayi manusia yang lemah (lihat Yoh 1:14). Ia menanggung segala dosa dan kejahatan manusia. Karena kesombongan/keangkuhan merupakan penyebab dari begitu banyak dosa dan kejahatan, maka Yesus Kristus ingin menunjukkan kepada kita contoh paling baik dari kerendahan-hati. 

Pada waktu ditanyakan oleh para pemuka Yahudi dengan siapa Dia menyamakan diri-Nya, Yesus menjawab: “Jikalau Aku memuliakan diri-Ku sendiri, maka kemuliaan-Ku itu sedikit pun tidak ada artinya” (Yoh 8:54). Yesus memang menghindar dari puji-pujian dan penghormatan orang banyak. Ia juga menanggung dengan sabar segala cemoohan, ejekan, siksa dan penganiayaan atas diri-Nya. Malah pada malam sebelum kematian-Nya di kayu salib, Ia membasuh kaki para murid-Nya (lihat Yoh 13:1-15). Setelah upacara pembasuhan kaki itu, Yesus bersabda: “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh 13:14-15). 

Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya (segala zaman) tentang pentingnya kerendahan hati!  Setelah permintaan ibu Yakobus dan Yohanes agar kedua anaknya ini mendapat ‘posisi’ penting dalam pemerintahan Yesus, Ia mengajar para murid-Nya: “Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan siapa saja yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat 20:26-28). Yesus bahkan mati di kayu salib, suatu kematian yang memalukan di mata manusia.     

Satu lagi sabda Yesus yang patut dicatat di sini: “Siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Mat 23:12). 

Santo Fransiskus adalah seorang yang rendah hati 

Contoh-contoh dari kehidupannya. Fransiskus tidak hanya mengajar para pengikutnya tentang pentingnya kerendahan-hati, tetapi dia juga mewujudkan kerendahan hati dalam kehidupannya sendiri dari hari ke hari. Santo Bonaventura, dalam “Riwayat Hidup Santo Fransiskus – Kisah Besar  (Legenda Maior), khususnya dalam Pasal VI, banyak memberikan contoh-contoh betapa rendah-hatinya orang kudus ini. Dalam tulisan ini saya akan mengambil beberapa contoh saja. Meskipun Fransiskus adalah cermin dan cahaya bermacam-macam kesucian, dia memandang dirinya bukan apa-apa. Ia berusaha dengan segala tenaga untuk membangun hidupnya atas keutamaan kerendahan-hati. Fransiskus mengatakan, bahwa Putera Allah  telah turun dari atas ketinggian pangkuan Bapa ke alam kita yang papa ini, untuk selaku Tuhan dan Guru mengajarkan kerendahan hati baik dengan perkataan maupun dengan teladan. Karena itupun ia selaku murid Kristus berusaha menjadi tak berharga di matanya sendiri dan di mata orang-orang lain, dengan mengingat apa yang telah dikatakan Yesus sendiri: “Apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah” (Luk 16:15). Fransiskus biasa mengatakan: “Seperti apa nilai seseorang di hadapan Allah, begitulah nilai orang itu dan tidak lebih” (lihat Pth XIX:2; lihat LegMaj VI:1). 

Fransiskus tidak malu-malu memberitahukan kesalahan-kesalahannya sendiri di dalam khotbah di depan umum (LegMaj VI:2). Orang kudus ini juga pernah mengatakan: “Tidak ada seorang pun dapat dipuji, bila kesudahannya masih belum pasti.” “Atas apa saja yang dapat dilakukan pendosa, janganlah seorang pun memegahkan diri dengan tepuk tangan yang tidak tepat. Pendosa kan dapat berpuasa, berdoa, menepuk-nepuk dada dan mematiragakan dirinya. Hanya inilah ia tidak dapat, yakni tetap setia kepada Tuhan. Karena itu hendaklah kita bangga, jika kita memberi Tuhan kemuliaan yang menjadi hak-Nya, jika kita mengabdi kepada-Nya dengan setia dan jika kita menganggap apa yang diberikan-Nya kepada kita berasal daripada-Nya” (LegMaj VI:3). 

“Seorang bawahan”, kata Fransiskus, “jangan memandang manusianya dalam dari pemimpin, tetapi Tuhan, demi cintakasih siapa dia tunduk. Makin hina pemimpin itu, makin berkenan pada Tuhanlah kerendahan hati orang yang tokh taat”  (lihat LegMaj VI:4). Dia juga berkata: “Jika orang menjadi pemimpin, maka mungkin ia akan jatuh; jika orang mendapat pujian, ia berada di tepi jurang, tetapi jika orang menjadi bawahan yang rendah-hati, maka dia memperoleh keuntungan untuk jiwa. Jadi, mengapa kita lebih mengarah bahaya daripada keuntungan, sementara kita mendapat waktu hidup untuk mencari keuntungan (untuk jiwa)?” Oleh karena itulah Fransiskus, teladan kerendahan itu sendiri, menghendaki, supaya saudara-saudaranya dinamakan “saudara dina” dan pemimpin-pemimpin ordonya disebut ‘minister’ (pelayan), seturut ajaran sang Guru sendiri (lihat Mat 20:26-27). Ketika Kardinal Ostia, pelindung dan dan penggerak utama Ordo Saudara Dina, yang seturut ramalan Fransiskus kemudian diangkat menjadi Paus dengan nama Gregorius IX, dia bertanya kepada Fransiskus, apakah setuju kalau saudara-saudaranya diangkat ke dalam berbagai jabatan gerejani. Fransiskus menjawab: Tuan, saudara-saudara saya dengan sengaja dinamakan saudara-saudara dina, agar mereka jangan memberanikan diri untuk menjadi lebih besar. Jika tuan menghendaki supaya mereka bekerja dengan berhasil dalam Gereja Allah, pertahankanlah dan peliharalah mereka dalam tingkatan panggilan mereka, dan sekali-kali jangan mereka dibiarkan naik ke jabatan-jabatan tinggi gerejani” (LegMaj VI:5). 

Ada sebuah cerita yang menarik. Karena Fransiskus mengutamakan kerendahan hati, baik dalam dirinya sendiri maupun dalam sekalian bawahannya, maka Allah pencinta orang-orang yang rendah hati menganggap ia patut untuk kehormatan yang lebih tinggi, sebagaimana ditunjukkan dalam sebuah penglihatan surgawi kepada seorang saudara yang amat bajik dan saleh (Sdr. Pacifikus). Ketika saudara itu menemani Fransiskus dan bersama dengannya berdoa dengan perasaan hangat di sebuah gereja yang sunyi-sepi, maka dia terbenam dalam ekstase dan melihat di antara banyak kursi di surga satu kursi yang lebih bagus daripada yang lain-lain, bertatakan mutu manikam dan bersinarkan cahaya yang berkilau-kilauan. Saudara itu keheranan-heranan atas seri cahaya kursi yang amat tinggi itu dan mulai bertanya-tanya dengan cemas hati, siapa gerangan akan menduduki kursi itu. Lalu didengarnya suara berkata kepadanya: “Kursi itu dahulu kepunyaan salah satu malaikat yang jatuh (Lucifer), dan sekarang  tersedia untuk Fransiskus yang rendah hati” (LegMaj VI:6). Karena kerendahan hatinya pula, Uskup kota Imola yang mula-mula melarang Fransiskus berkhotbah, akhirnya meluluskan permintaannya yang penuh ketekunan. Uskup tidak berdaya dan dengan wajah tersenyum dia memeluk Fransiskus dan berkata: “Engkau dan semua saudaramu mendapat izin umum daripadaku untuk selanjutnya berkhotbah di keuskupanku, sebab kerena kerendahan hati yang suci patut dihargai” (LegMaj VI:8). 

Dari tulisan-tulisannya. Dalam Anggaran Dasar tanpa Bulla, Fransiskus menulis: “Saudara semuanya harus berusaha mengikuti kerendahan dan kemiskinan Tuhan kita Yesus Kristus ……… Mereka harus bersukacita apabila mereka hidup di tengah orang-orang jelata dan yang dipandang hina, orang miskin dan lemah, orang sakit dan orang kusta serta pengemis di pinggir jalan” (AngTBul IX: 1-2).  

Bagi Fransiskus, perendahan Allah tidak berhenti pada waktu penyaliban di bukit Golgota. Baginya perendahan diri Allah terjadi setiap hari, dalam Kurban Misa. Berikut ini adalah sebagian dari suratnya kepada Seluruh Ordo yang dapat menjadi bahan permenungan kita bagaimana orang kudus ini berketetapan mengikuti jalan perendahan Sang Guru dan Tuhannya termasuk dalam Ekaristi dan dengan demikian sangat menghormati Ekaristi Kudus: “Hendaklah seluruh diri manusia gemetar, seluruh dunia bergetar dan langit bersorak-sorai, apabila Kristus, Putera Allah yang hidup hadir di atas altar dalam tangan imam! O keagungan yang mengagumkan dan kesudian yang menakjubkan! O perendahan diri yang luhur! O keluhuran yang merendah! Tuhan semesta alam, Allah dan Putera Allah, begitu merendahkan diri-Nya, sampai Ia menyembunyikan diri di dalam rupa roti yang kecil, untuk keselamatan kita! Saudara-saudara, pandanglah perendahan diri Allah itu dan curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya. Rendahkanlah dirimu, agar kamu ditinggikan oleh-Nya. Karena itu janganlah menahan sesuatu pun yang ada padamu bagi dirimu sendiri, agar kamu seutuh-utuhnya diterima oleh Dia, yang memberikan diri-Nya seutuhnya bagi kamu” (SurOr  26-29). 

Satu saja lagi petikan dari Petuah-petuah Fransiskus: “Berbahagialah hamba, yang di antara bawahannya, ternyata tetap rendah hati, seperti kalau ia berada di antara tuan-tuannya” (Pth XXIII:1). 

Bagaimana dengan diri kita sendiri, sudah rendah-hatikah? 

Apakah kita masing-masing mau dengan rendah hati mengakui di hadapan Allah segala ketiadaan-arti kita, kelemahan kita, kedosaan kita? Kerendahan-hati adalah salah satu pelajaran yang pertama dan mendasar yang harus kita pelajari dalam Sekolah Yesus Kristus. Yesus sendiri bersabda: “Belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Mat 11:29). 

Tanpa rahmat Allah kita tidak dapat baik, tidak dapat menghasilkan sesuatu yang baik dan melakukan perbuatan-perbuatan baik. Pada awal tulisan ini ada petikan dari 1Ptr 5:5-6. Allah telah meninggikan Yesus Kristus dan memberikan kepada-Nya nama di atas segala nama, karena Kristus merendahkan diri-Nya (lihat Flp2:5-11). Pada gilirannya Kristus meninggikan Fransiskus, karena dia sungguh-sungguh rendah hati. 

Bagaimana jadinya kita sebagai anak-anak rohani Santo Fransiskus, kalau kita tidak mencintai dan mempraktekkan kerendahan-hati (kedinaan)? Bagaimana kita bereaksi ketika menerima penghinaan dari orang-orang lain? Dengan balas menghina? Mari kita belajar dari Santa Perawan Maria pada waktu dikunjungi malaikat Gabriel; meski penuh dengan hal yang tidak dimengertinya, dengan rendah hati dia berkata: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38).  Ganjaran Allah terhadap kerendahan-hati Maria yang disebutkan tadi terdengar gaungnya dalam Magnificat (Kidung Maria): “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya” (Luk 1:46-48 dsj.). 

Kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus menyampaikan ‘perumpamaan tentang orang Farisi dengan pemungut cukai’ (Luk 18:9-14). Orang Farisi dalam perumpamaan ini berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezina dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku” (Luk 18:11-12). Dilain pihak, pemungut cukai  itu berdoa seperti ini: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini” (Luk 18:13). Yesus berkomentar, “Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah sedangkan orang lain itu (Farisi) tidak. Sebab siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Luk 18:14). 

Betapa pun beratnya dosa-dosa kita, kalau kita bertobat dan mohon ampun kepada-Nya dengan segala kerendahan-hati, maka Allah pun akan mengampuni kita. Cukup banyak contoh pengampunan yang diberikan Yesus, yang dapat kita lihat dalam Injil. Masa Prapaskah ini merupakan masa yang tepat untuk melakukannya. Cukup rendah hatikah kita untuk berdoa seperti si pemungut cukai itu? 

Cilandak, 2 Maret 2010 [Peringatan Santa Agnes dari Praha OSC (Ordo Santa Klara- Ordo II)]


*) Tulisan  ini memanfaatkan ‘outline’ yang ada tulisan dalam buku kecil dari almarhum Pater Hugolinus Storff OFM, Novena in honor of St. Francis with short meditations, Chicago, Illinois: Franciscan Herald Press, 1974 (Second Revised Edition).

About these ads