SANTA AGNES DARI PRAHASANTA AGNES DARI PRAHA (1205-1282) 

Pada hari ini, tanggal 2 Maret,  kita (teristimewa para suster Klaris) memperingati Santa Agnes dari Praha. Agnes adalah puteri dari raja Bohemia, Primislaus Ottokar I. Dia dilahirkan di tahun 1205 pada malam hari sebelum pesta perawan suci dan martir Santa Agnes (+ 304). Nama baptisnya pun Agnes. Ibundanya adalah bibi dari Santa Elizabet dari Hungaria. Sang ibu sangat bergembira melihat betapa serius bayinya itu. Dia mengamati terus bayinya. Dia melihat kadang-kadang anak ini menyilangkan kedua tangan mungilnya sehingga menyerupai sebuah salib dan berdiam diri seakan-akan terserap dalam doa yang mendalam. 

Seturut adat istiadat setempat pada waktu itu, Agnes dipertunangkan pada usia 3 (tiga) tahun dengan putera Adipati Silesia. Oleh karena itu Agnes dikirim ke sebuah biara di Silesia, yaitu biara di Trebnitz di mana Santa Hedwig adalah superiornya pada waktu itu. Agnes dikirim ke sana untuk belajar. Tunangannya meninggal 3 tahun setelah itu. Dengan demikian Agnes diboyong ke biara di Doxan, Bohemia. Dalam biara inilah benih yang sudah ditabur oleh Santa Hedwig bertumbuh dengan subur. Memang kelihatannya Agnes ‘ditakdirkan’ untuk berjodoh dengan ‘Mempelai surgawi’, bukan mempelai dari dunia. Namun jalan ceritanya tidaklah semulus begitu. 

Kaisar Frederick II ingin sekali agar Agnes menjadi pasangan hidup puteranya yang juga adalah pewaris takhtanya yang bernama Henry. Pada waktu itu Agnes adalah seorang perempuan muda yang sudah dewasa. Agnes dipanggil menghadap ke istana kaisar Jerman itu. Sementara itu Agnes berdoa terus dengan giatnya agar ‘tidak jadi’ dinikahkan dengan Henry. Memang akhirnya upaya untuk menikahkan Agnes dan Henry tidak sampai menjadi kenyataan karena hubungan kedua orang itu tidak pas. Mengetahui hal itu, Raja Henry III dari Inggris mengambil langkah-langkah untuk melamarnya. Bahkan Kaisar Frederick II sendiri (semula calon mertuanya) yang baru kehilangan istrinya mencoba mempersunting Agnes. Agnes  tetap menolak semua pendekatan-pendekatan orang-orang berkuasa itu, karena dia sudah berketetapan hati untuk sepenuhnya menjadi milik ‘Mempelai surgawi’. Namun situasinya tetap sulit baginya. Oleh karena itu Agnes mohon Paus Gregorius IX untuk melakukan intervensi sehingga akhirnya dia pun memperoleh kebebasan. Kaisar mendeklarasikan bahwa dirinya puas karena Agnes tidak memilih seorang manusia, melainkan Allah di surga sebagai pribadi yang diminati lebih daripada dirinya sendiri. 

Persatuannya dengan ‘Mempelai laki-laki Ilahi’ diupayakan oleh Agnes dengan hidup membiara. Sementara itu ketenaran biara-biara para suster Santa Klara telah mencapai Bohemia juga. Dengan bantuan saudaranya laki-laki yang sudah menjadi raja, Agnes berketetapan hati untuk mendirikan sebuah biara suster-suster Klaris di ibukota, Praha. Paus Gregorius dengan gembira memberikan izin dan atas perintah Paus ini Santa Klara mengutus lima orang susternya dari biara San Damiano di Assisi ke Praha. Agnes beserta tujuh perempuan muda lain dari kalangan atas bergabung dengan lima orang orang suster Klaris tadi dalam biara. Dalam waktu singkat Agnes sudah menonjol sebagai seorang model keutamaan di antara para penghuni biara, dalam kehidupan doa, dalam ketaatan, dalam disiplin keagamaan, dalam penyangkalan diri, dan dalam kerendahan hati/kedinaan. Perintah Sri Paus untuk menerima posisi ‘abes’ merupakan suatu pencobaan besar atas kedinaannya. Namun Agnes mendapat izin untuk tidak menggunakan gelar ‘abes’, tetapi hanya gelar ‘suster senior’. Agnes menghayati kehidupan yang suci serupa dengan yang dilakukan oleh ibunya yang suci, Santa Klara, yang tekun dalam menepati kemiskinan suci. Agnes menolak pemberian-pemberian dari raja (saudaranya laki-laki) dan dia tidak akan mentolerir ada susternya yang memiliki apa saja yang bersifat pribadi. Allah memberkati dia dengan karunia membuat mukjizat, dia bahkan menghidupkan kembali puteri dari saudaranya laki-laki. Kita dapat mendalami bagaimana relasi antara Santa Klara dari Assisi dan  Santa Agnes dari Praha ini dari empat pucuk surat dari Santa Klara kepadanya. 

Agnes meninggal dunia pada tanggal 6 Maret 1282, penuh dengan kekayaan surgawi, suci, untuk masuk ke dalam persatuan abadi dengan sang ‘Mempelai laki-laki Ilahi’, setelah melayani-Nya selama 40 tahun sebagai seorang religius Klaris. 

Untuk direnungkan secara pribadi:

  1. Pikirkanlah bagaimana Santa Agnes begitu memandang sebagai kehormatan besar kalau dipilih Kristus sebagai mempelai-Nya. Dia menolak mahkota kaisar dan raja, bahkan hal ini pun diakui dan diterima oleh Kaisar Frederick II sendiri, ketika yang dipilih oleh Agnes adalah Raja Surgawi dan bukan dirinya. Memang sesungguhnya tidak ada persatuan yang lebih terhormat daripada yang dipilih Agnes, dan setiap keluarga Kristiani seharusnya melihatnya sebagai suatu kehormatan besar apabila ada anggotanya yang dipanggil untuk hidup religius.
  2. Pikirkanlah betapa mudahnya kemegahan, kemuliaan dan kekayaan dunia dapat menggoyang kesetiaan kita kepada Kristus.  Tidak semua kita dapat tahan terhadap godaan dunia ini karena tidak semua kita dapat sekuat Santa Agnes. Jadi kita harus selalu waspada terhadap daya pikat yang menjebak dari segala kemuliaan dunia ini. Kita harus berdoa bersama sang pemazmur: “Lalukanlah mataku dari pada melihat hal yang hampa, hidupkanlah aku dengan jalan-jalan yang Kautunjukkan!” (Mzm 119:37), dan apabila Iblis ‘ngotot’ untuk membujuk kita dan kalau dia menawarkan segala kekayaan dunia sebagai balasan dalam hal kita menyerahkan diri kepadanya, maka kita harus berkata bersama Kristus: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Mat 4:10).

Sumber utama: Marion A. Habig OFM, THE FRANCISCAN BOOK OF SAINTS.

Cilandak, 2 Maret 2010

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

About these ads