IMAM SEBAGAI PELAYAN SABDA ALLAH (1) 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS *) 

Dalam TAHUN IMAM 2009-2010 ini, sebagai umat marilah kita berupaya untuk lebih memahami lagi fungsi para imam kita. Semoga dengan semakin benar pemahaman kita tentang hal ini, semakin sadar pulalah kita betapa penting peranan para imam dalam kehidupan Gereja kita. 

Salah satu dokumen Konsili Vatikan II, ‘Dekrit Presbyterorum Ordinis [PO] tentang Pelayanan dan Kehidupan para Imam (7 Desember 1965)’ menyebutkan dan menguraikan secara singkat tiga aspek pelaksanaan pelayanan seorang imam [PO # 4-6.13]. Ketiga aspek itu adalah: (1) Imam sebagai pelayan Sabda Allah; (2) Imam sebagai pelayan Ekaristi dan Sakramen-sakramen lainnya; dan (3) Imam sebagai pemimpin Umat Allah. 

Dalam tulisan ini akan disoroti fungsi imam sebagai seorang pelayan Sabda Allah, sepanjang yang perlu diketahui oleh umat kebanyakan. Dua fungsi para imam yang lain akan dibahas dalam tulisan-tulisan tersendiri. Tulisan ini menggunakan Kitab Suci dan beberapa dokumen Gereja sebagai sumber-sumber inspirasi yang utama. 

PERINTAH TUHAN UNTUK MEMBERITAKAN KABAR BAIK  

Perintah Yesus sendiri. Berikut ini adalah perintah Yesus kepada para rasul/murid-Nya (yang tinggal sebelas orang itu) sebelum Ia diangkat ke surga: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” [Mrk 16:15; bdk Mat 28:19; Kis 1:8]. Perintah ini ditujukan bagi kita semua, namun secara istimewa tugas pelayanan sabda ini harus diemban oleh para uskup yang bekerja sama dengan para imam. ‘Imbauan Apostolik Bapa Suci Paulus VI Evangelii Nuntiandi [EN] tentang Karya Pewartaan Injil dalam Jaman Modern (8 Desember 1975)’, dengan jelas menyatakan: 

Dalam kesatuan dengan Pengganti Petrus, para Uskup, yang merupakan pengganti para Rasul, melalui kuasa tahbisan mereka menerima kewibawaan untuk mengajarkan kebenaran yang diwahyukan dalam Gereja. Mereka adalah guru-guru iman.

Bersatu dengan para Uskup dalam pelayanan penginjilan dan bertanggung-jawab karena suatu gelar khusus, ialah mereka yang karena tahbisan imamatnya “bertindak dalam pribadi Kristus”. Mereka adalah pendidik-pendidik Umat Allah dalam iman dan pengkhotbah-pengkhotbah, pada saat yang sama sekaligus juga menjadi pelayan-pelayan Ekaristi dan Sakramen-sakramen lainnya.

Kita para Gembala oleh karenanya diajak untuk memperhatikan kewajiban ini, lebih daripada anggota-anggota lain dalam Gereja. Yang memberikan identitas pada pengabdian kita selaku imam, yang memberikan kesatuan mendalam terhadap seribu satu macam tugas yang menuntut perhatian kita hari demi hari dan sepanjang hidup kita, dan memberikan suatu ciri khas pada kegiatan-kegiatan kita, ialah tujuan ini, yang selalu ada dalam segala perbuatan kita: Untuk mewartakan Injil Allah.

Salah satu tanda identitas kita yang tak boleh terhambat karena keragu-raguan dan tak boleh dikaburkan karena ada pertentangan, ialah ini: sebagai pastor-pastor, kita telah dipilih oleh belas-kasih Gembala Tertinggi, kendati kita tidak layak, untuk mewartakan Sabda Allah dengan kewibawaan. Juga kita telah dipilih untuk mengumpulkan Umat Allah yang tercerai berai untuk memberi makan Umat dengan tanda-tanda karya Kristus yang adalah Sakramen-sakramen, untuk memberitahu Umat jalan menuju keselamatan.

Kita juga telah dipilih untuk menjaga Umat dalam kesatuannya, di mana kita termasuk di dalamnya, pada berbagai tingkatan, sebagai alat-alat yang aktip dan hidup, dan tak henti-hentinya menjaga jemaat tadi, yang berkumpul di seputar Kristus agar supaya setia pada panggilannya yang terdalam…. [EN # 68]. 

Dari petikan bacaan ini kita dapat melihat, bahwa para imam adalah rekan-rekan kerja para uskup dan kewajiban mereka adalah pertama-tama mewartakan Injil Allah. “Gereja ada untuk mewartakan Injil, yakni untuk berkhotbah dan mengajar …” [EN # 14]. Dengan melaksanakan perintah Tuhan Yesus di atas [lihat Mrk 16:15], para imam membentuk dan mengembangkan umat Allah. Sebab oleh Sabda penyelamat iman dibangkitkan dalam hati mereka yang tidak percaya, dan dipupuk dalam hati mereka yang percaya [PO # 4]. Maka seorang imam ditahbiskan serta diutus untuk mewartakan Kabar Baik tentang Kerajaan Allah kepada semua orang, untuk memanggil setiap pribadi kepada ketaatan iman, dan untuk membimbing umat beriman kepada pengertian kian mendalam akan misteri Allah yang diwahyukan dan disampaikan kepada kita dalam Kristus, dan kepada persekutuan yang semakin erat di dalam misteri itu [lihat ‘Anjuran Apostolik Paus Yohanes Paulus II Pastores Dabo Vobis [PDV] tentang Pembinaan Imam dalam Situasi Zaman Sekarang (25 Maret 1992)’ # 26]. Santo Paulus mengingatkan kita semua: “Iman timbul dari pendengaran dan pendengaran oleh firman Kristus [Rm 10:17]. Jadi harus ada pribadi-pribadi yang melakukan pewartaan Kabar Baik Yesus Kristus; harus ada pelayan-pelayan Sabda. Karena keikut-sertaan mereka dalam imamat Kristus sendiri, maka Uskup dan para imamnya berada digaris terdepan dalam tugas pelayanan yang mulia ini. 

Aneka cara pewartaan sabda. Kewajiban para imam adalah menyampaikan kebenaran Injil [Gal 2:5] kepada semua orang, sehingga mereka bergembira dalam Tuhan. Dalam menanggapi pelbagai kebutuhan para pendengar dan menurut kharisma para pewarta sendiri, maka pewartaan Sabda dilaksanakan dengan aneka cara: (1) Lewat cara hidup mereka yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa, para imam mengajak orang-orang untuk memuliakan Allah [1Ptr 2:12]; (2) dengan pewartaan yang terbuka menyiarkan misteri Kristus kepada kaum tak beriman;  (3) dengan memberikan katekese Kristiani; (4) dengan menguraikan ajaran Gereja; (5) dengan berusaha mengkaji masalah-persoalan aktual dalam terang Kristus. Tugas pelayanan Sabda apapun yang mereka lakukan, para imam harus mengajarkan bukan kebijaksanaan mereka sendiri, melainkan Sabda Allah. Mereka juga harus dengan tidak jemu-jemunya mengundang semua orang untuk bertobat dan menuju kepada kesucian [PO # 4]. Singkatnya, seperti yang dilakukan Yesus sendiri, seperti yang kita renungkan dalam doa rosario peristiwa terang yang ketiga. 

Terutama bagi umat yang agak kurang memahami atau kurang mengimani apa yang sering mereka terima, diperlukan pewartaan sabda untuk pelayanan Sakramen-sakramen, sebab itu merupakan Sakramen-sakramen iman, yang timbul dari dari sabda dan dipupuk dengannya [PO # 4]. “Konstitusi Sacrosanctum Concilium [SC] tentang Liturgi Suci (4 Desember 1963)“ menyatakan: “…pelayanan pewartaan hendaknya dilaksanakan dengan amat tekun dan saksama. Bahannya terutama hendaklah bersumber pada Kitab Suci dan Liturgi, sebab khotbah merupakan pewartaan keajaiban-keajaiban Allah dalam sejarah keselamatan atau misteri Kristus, yang selalu hadir dan berkarya di tengah kita, teristimewa dalam perayaan-perayaan Liturgi” [SC # 35.2]. Ini berlaku terutama bagi Liturgi Sabda dalam perayaan Ekaristi, sebab di situ berpadulah secara tak-terpisah pewartaan wafat dan kebangkitan Tuhan, jawaban umat yang mendengarkannya, dan persembahan sendiri, saat Kristus mengukuhkan Perjanjian Baru dalam Darah-Nya, serta keikut-sertaan umat beriman dalam persembahan itu, melalui kerinduan mereka dan penerimaan Sakramen [PO # 4; lihat SC# 33, 35, 48 dan 52]. 

Beberapa persyaratan mendasar. Ada beberapa persyaratan mendasar yang harus dipenuhi agar fungsi pelayanan sabda seorang imam dapat efektif:

  1. Agar pewartaan imam lebih mengena menggerakkan hati para pendengarnya, hendaknya dia tidak menguraikan sabda Allah secara umum dan abstrak saja, melainkan dengan menerapkan kebenaran Injil yang kekal pada situasi hidup yang konkrit [PO # 4].
  2. Karena seorang imam diutus untuk mewartakan Kabar Baik tentang Kerajaan Allah kepada semua orang, untuk memanggil setiap pribadi kepada ketaatan iman, dan untuk membimbing umat beriman kepada pengertian kian mendalam akan misteri Allah yang diwahyukan dan disampaikan kepada kita dalam Kristus, dan kepada persekutuan yang semakin erat di dalam misteri itu, maka dia sendiri terutama wajib mengembangkan keakraban yang sangat pribadi dengan Sabda Allah. Dalam hal itu tentu saja dibutuhkan pengetahuan tentang segi-segi bahasa atau tafsirnya. Imam juga hendaklah mendekati sabda Allah dengan hati yang sungguh terbuka dan dalam sikap doa, sehingga Sabda itu secara mendalam meresapi pikiran maupun perasaannya, dan menciptakan wawasan baru padanya – “pikiran Kristus” [1Kor 2:15]. Dengan demikian kata-kata, pilihan-pilihan dan sikap-sikapnya akan makin menjadi refleksi, pewartaan dan kesaksian tentang Injil. Hanya kalau imam “tinggal” dalam Sabda, ia akan menjadi murid Tuhan yang sempurna. Hanya begitulah ia akan mengenal kebenaran dan sungguh dimerdekakan, mengatasi setiap persyaratan yang bertentangan dengan Injil atau asing terhadapnya [bdk Yoh 8:31-32; PDV # 26].
  3. Dalam khotbahnya seorang imam seharusnya mewartakan Yesus Kristus, bukan dirinya sendiri! “Tidak ada penginjilan yang sejati, apabila Nama, ajaran, hidup dan janji-janji, Kerajaan Allah dan misteri Yesus dari Nazaret, Putera Allah tidak diwartakan” [EN # 22]. Imam itu juga tidak pernah boleh “mencuri” kemuliaan Tuhan! Seperti dicatat di atas, dalam tugas pelayanan Sabda apapun yang mereka lakukan, para imam harus mengajarkan bukan kebijaksanaan mereka sendiri, melainkan Sabda Allah [PO # 4]. Gereja mengutus para pewarta Injil untuk mewartakan bukan diri mereka sendiri atau gagasan-gagasan pribadi mereka (EN # 15]. Santo Paulus menulis: “… bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus” [2Kor 4:5].
  4. Seseorang tidak dapat memberikan kepada orang lain apa yang tidak dimilikinya sendiri. Bagaimana dia dapat memberikan Yesus kepada orang lain, apabila dia sendiri tidak/belum memiliki-Nya? Demikian pula dengan imam: Imam harus menjadi “insan pertama yang percaya” akan Sabda Allah, sementara menyadari sepenuhnya, bahwa kata-kata dalam pelayanannya bukanlah “miliknya sendiri”, melainkan  Sabda dari Dia yang mengutusnya. Bukan dialah yang menguasai Sabda; dia sekadar pelayan Sabda. Bukan dialah “pemilik” tunggal Sabda Allah; dalam hal ini dia  berhutang kepada Umat Allah [PDV # 26].
  5. Justru karena imam dapat dan memang mewartakan Injil, maka dia – seperti setiap anggota Gereja lainnya – harus kian menyadari, bahwa dirinya sendiri terus-menerus perlu mengalami evangelisasi [EN 15; PDV # 26].
  6. Seorang imam mewartakan Sabda sebagai “pelayan”, yang ikut mengemban kewibawaan kenabian Kristus dan Gereja. Oleh karena itu, supaya dia sendiri memiliki dan memberi jaminan kepada kaum beriman, bahwa dia menyampaikan Injil sepenuhnya, imam dipanggil untuk mengembangkan kepekaan, cintakasih dan sikap terbuka yang khusus terhadap Tradisi yang hidup dalam Gereja dan terhadap Magisterium (kewenangan mengajar)-nya. Itu semua bukannya asing bagi sabda, melainkan mendukung penafsiran yang semestinya, dan tetap melestarikan maknanya yang otentik [PDV # 26; bdk ‘Konstitusi Dogmatis Dei Verbum tentang Wahyu Ilahi (18 November 1965)’ # 8, 10].
  7. Seorang imam harus menyulut lagi dalam dirinya semangat pendorong sejak awalnya, dan membiarkan dirinya dipenuhi dengan semangat bernyala dari pewartaan rasuli sebagai tindak-lanjut Pentakosta. Hendaklah dalam dirinya seorang imam senantiasa membangkitkan-ulang keyakinan yang bernyala seperti Paulus, yang berseru: “Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil!” [1Kor 9:16; ‘Surat Apostolik Novo Millennio Ineunte (Pada Awal Milenium Baru), 6 Januari 2001’ # 40]. 

CATATAN PENUTUP 

Beberapa bulan menjelang penutupan milenium kedua, Congregation for the Clergy (Kongregasi Klerus) di Roma menerbitkan sebuah dokumen yang berjudul ‘THE PRIEST and the Third Christian Millennium – Teacher of the Word, Minister of the Sacraments and Leader of the Community  (19 Maret 1999)’. Sampai hari ini dokumen ini belum (selesai) diterjemahkan oleh KWI. Beberapa pokok penting dari ‘surat edaran’ Kongregasi Klerus ini akan kita bahas bersama dalam kelanjutan tulisan ini yang berjudul: “Imam sebagai Pelayan Sabda Allah -2”. 

Dalam percakapan-percakapan saya dengan saudara-saudari Katolik beberapa tahun terakhir ini, tidak jarang saya mendengar keluhan-keluhan yang berkaitan dengan khotbah/homili para pastor kita yang dirasakan kurang hidup, kurang menarik, sering ngalor-ngidul dan sering membuat orang mengantuk. Lalu mereka membanding-bandingkannya dengan khotbah-khotbah yang ‘penuh-kuasa’ dari para penginjil dan/atau pendeta dari gereja-gereja non-Katolik. Saya mencoba untuk menanggapi komentar-komentar seperti itu dengan mencoba menjelaskan perbedaan antara homili dan khotbah, dan lain sebagainya, biasanya berujung pada pembicaraan yang tidak tuntas. Dari berbagai catatan dan uraian di atas ternyata fungsi seorang imam sebagai seorang pelayan Sabda Allah tidaklah sesederhana seperti sangkaan banyak orang. Belum lagi fungsi-fungsi imam lainnya yang harus ditekuni oleh sang imam. Menjadi seorang imam bukanlah sekedar harus pandai berkhotbah. Pendidikan untuk menjadi imam juga tidak sekadar menekankan pada keterampilan atau kemahiran berkhotbah. Seorang imam seharusnya menjadi ‘ikon’ Kristus secara total (artinya tidak hanya terbatas pada ‘Yesus yang berkhotbah’). Konformasi dengan Yesus Kristus secara penuh! Itulah sebabnya, antara lain, mengapa seorang imam mengucapkan janji/kaul kemurnian yang diungkapkan lewat penghayatan hidup selibat, hal mana tidak ada dalam ‘karir’ seorang penginjil dan/atau pendeta dari gereja-gereja non-Katolik. 

Tulisan ini membatasi diri pada fungsi imam sebagai pelayan Sabda saja, dan dalam hal ini saja sudah ditunjukkan betapa kompleksnya fungsi ini dan tidak mudahlah untuk melaksanakannya. 

Satu hal yang perlu sekali untuk selalu ditekankan adalah, bahwa tugas pelayanan seorang imam hanya dapat efektif kalau dilandasi oleh spiritualitas dari imam itu yang solid, yang tercermin antara lain oleh hidup doanya. Tetapi imam itu tidak dapat berjuang sendiri, dia membutuhkan dukungan dari para con-fraternya. Dukungan doa dari kita semua (umat) juga senantiasa dibutuhkan agar dibawa-Nya selalu para pastor/gembala kita “menempuh jalan yang lurus” [Mzm 107:7; bdk Yes 26:7]. 

Cilandak, 14 Juli 2009 (Peringatan Santo Fransiskus Solanus OFM, Imam) 

DOA 

Allah Bapa maha pengasih dan penyayang, 

demi  cintakasih-Mu kepada Putera-Mu 

kami memohon limpahkanlah belaskasih-Mu kepada para imam,

karena imam kami adalah manusia biasa

dengan segala kekuatan dan kelemahannya.

Kobarkanlah selalu dalam diri para imam-Mu rahmat panggilan

yang telah Kau limpahkan dan Kau resmikan dengan urapan Roh Kudus.

Jauhkanlah mereka dari segala sesuatu

yang mengasingkan mereka dari-Mu dan dari persekutuan umat-Mu.

Utuslah Roh Kudus-Mu yang memampukan para imam-Mu,

membagikan  karunia rohani yang Kau hadirkan

dalam rahmat sakramen-sakramen Gereja-Mu.

Utuslah Roh Kudus-Mu, yang melindungi dan menghibur para imam-Mu

di kala mengalami sakit dan kesepian,

di kala mengalami tantangan dan godaan,

semoga para imam-Mu menjadi cahaya kasih

yang senantiasa menumbuhkan harapan hidup

yang membawa kami, umat-Mu, kepada kesatuan dengan-Mu.

Ini semua kami mohon dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami.

Ya hati Kudus Yesus, Imam Agung Abadi, kasihanilah mereka.

Ya hati Tersuci Maria ratu para imam, doakanlah mereka.

Ya Santo Yohanes Maria Vianney, dokanlah mereka.

Amin. 

Sumber: DOA UNTUK PARA IMAM, Tahun Imam Paroki Santo Matias, Cinere.


*) Seorang Fransiskan sekular, tinggal di Cilandak, Jakarta Selatan.

About these ads