SEORANG IMAM ADALAH SEORANG GEMBALA 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS *)

‘Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium  [LG] tentang Gereja’ menyatakan: “Para imam tidak menerima puncak imamat, dan dalam melaksanakan kuasa mereka tergantung dari para Uskup. Namun mereka sama-sama imam seperti para Uskup, dan berdasarkan sakramen Tahbisan mereka ditahbiskan menurut citra Kristus, Imam Agung yang abadi [lihat Ibr 5:1-10; 7:24; 9:11-28], untuk mewartakan Injil serta menggembalakan Umat beriman, dan untuk merayakan ibadat ilahi, sebagai imam sejati Perjanjian Baru. Mereka ikut-serta dalam tugas Kristus Pengantara tunggal [lihat 1Tim 2:5] pada tingkat pelayanan mereka, dan mewartakan sabda ilahi kepada semua orang. Tetapi tugas suci mereka terutama mereka laksanakan dalam ibadat Ekaristi atau synaxis. Di situ mereka bertindak atas nama Kristus, dan dengan memaklumkan misteri-Nya mereka menggabungkan doa-doa Umat beriman dengan kurban Kepala mereka. Dalam kurban Misa mereka menghadirkan serta menerapkan satu-satunya kurban Perjanjian Baru, yakni kurban Kristus, yang satu kali mempersembahkan diri kepada Bapa sebagai kurban tak bernoda [lihat Ibr 9:11-28], hingga kedatangan Tuhan [lihat 1Kor 11:26]. Bagi kaum beriman yang bertobat atau sedang sakit mereka menjalankan pelayanan amat penting, yakni pelayanan pendamaian dan peringanan, serta mereka mengantarkan kebutuhan-kebutuhan dan doa kaum beriman kepada Allah Bapa (lihat Ibr 5:1-3).  Dengan menunaikan  tugas Kristus selaku Gembala dan Kepala menurut tingkat kewibawaan mereka, mereka menghimpun keluarga Allah sebagai rukun persaudaraan yang berjiwa kesatuan, dan dalam Roh menghantarnya kepada Allah Bapa melalui Kristus. Di tengah kawanan mereka bersujud kepada-Nya dalam Roh dan kebenaran [lihat Yoh 4:24]. Akhirnya, mereka berjerih-payah dalam pewartaan sabda dan pengajaran [lihat 1Tim 5:17], sambil mengimani apa yang dalam renungan mereka baca dalam hukum Tuhan; sambil mengajarkan apa yang mereka imani, dan menghayati apa yang mereka ajarkan [LG 28].

Petikan di atas bukanlah keseluruhan  teks LG 28, namun cukup menggambarkan secara singkat “apa imamat” itu dan “siapa imam” itu. Dalam tulisan ini kita akan bersama-sama menyoroti aspek penggembalaan/pastoral dari tugas pelayanan para imam tertahbis. Uraian dalam tulisan ini menggunakan Kitab Suci sebagai rujukan utama. 

PERJANJIAN LAMA 

Bangsa pengembara. Dalam Perjanjian Lama, peranan gembala memang penting. Karena sifatnya yang khas gembala sering digunakan untuk menggambarkan Tuhan. Istilah Ibrani untuk ‘gembala’ jelas menggambarkan cara hidup dengan gerak dinamika orang Yahudi nomade (pengembara)… selalu bergerak. Kehidupan sebagai bangsa pengembara selalu berhadapan dengan bahaya, antara lain cuaca buruk, perampok, serangan binatang buas, sehingga selalu menuntut kewaspadaan, siap berjaga-jaga. Sifat selalu bersiap siaga dalam hidup sehari-hari meninggalkan goresan membekas pada watak bangsa orang Yahudi,  bahkan sampai hari ini. Setelah menjadi bangsa yang menetap dan bermata pencarian utama dalam bidang agraria, buah pertama dari panenan harus mereka persembahkan dalam suatu upacara yang dimulai dengan kata-kata seperti ini: “Bapaku dahulu seorang Aram, seorang pengembara …” [Ul 26:5].

Asal-usul bangsa Yahudi sebagai bangsa gembala (pengembara) dapat dilihat kalau kita menyoroti beberapa tokoh besar dalam sejarah mereka. Ada Abraham yang memiliki kawanan hewan peliharaan yang begitu banyak jumlahnya, sehingga tidak ada cukup tanah untuk menampung kawanan hewan peliharaannya dengan kawanan hewan peliharaan Lot, keponakannya. Oleh karena itu Abram (namanya yang lama sebelum berganti menjadi Abraham) berpisah dengan Lot [Kej 13]. Ada Musa, yang dipanggil Tuhan pada saat sedang menggembalakan kawanan kambing domba milik Yitro, mertuanya [Kel 3: 1 dsj.]. Ada pula Daud, yang dari keturunannya kemudian lahirlah Mesias. Daud sedang menggembalakan kawanan domba ayahnya, ketika Samuel datang di Betlehem untuk mengurapi salah seorang anak Isai menjadi raja pengganti Saul. Setelah Isai dengan bangga menunjukkan tujuh orang puteranya yang mungkin dapat dipilih, Samuel belum merasa puas juga. Ketika ditanya Isai menjawab, “Masih tinggal yang bungsu, tetapi sedang menggembalakan kambing domba” [1 Sam 16:11]. Lalu Daud pun dipanggil dari padang penggembalaan dan Samuel segera mengurapi gembala muda itu di hadapan ayah dan semua kakaknya. Tentang Daud yang menggembalakan bangsa Israel, bacalah Mzm 78:70-71.

Arti kata gembala. Dalam bahasa Ibrani terdapat tiga kata yang berarti ‘gembala’. Setiap kata dari tiga kata sinonim untuk gembala itu pada dasarnya mempunyai arti yang sama, namun setiap kata menegaskan segi yang berlainan, (1) ‘mengamati dengan cermat’, ‘menjaga dengan dengan penuh perhatian’; (2) selalu siap dan berjaga-jaga, siaga dan sedia menghadapi bahaya yang datang; (3) menyelidiki, melihat ke depan dan merencanakan. Pendekatan arti kata-kata ini menjelaskan kepada kita, bahwa seorang gembala adalah seseorang, yang membawakan tiga arti kata tadi bersama-sama. Ia selalu berjaga-jaga, siaga, waspada, siap-sedia, cermat tajam, lagi penuh perhatian, dan tentunya dia bukan seorang penakut.

Gembala sebagai gambaran Yahwe. Pada waktu itu harta-kekayaan seseorang dihitung dengan kawanan domba yang dimilikinya, dan kawanan ini dipercayakan kepada gembala. Kalau ada domba yang hilang, maka gembala itu harus bertanggung-jawab dan menggantinya. Ada banyak catatan dalam Perjanjian Lama yang mengutuk gembala yang melalaikan tugasnya. Lihat misalnya  Yer 23:1-2; 34:7-10 dan Za 10:3. Sabda Tuhan yang keras mencela para gembala jahat secara tidak langsung menyatakan penghargaan terhadap gembala-gembala yang baik. Dalam suatu bangsa dengan sejarah kehidupan menggembala seperti itu dapat diandaikan, bahwa gambaran seorang gembala dapat digunakan sebagai gambaran Allah. YHWH (Yahwe) seringkali digambarkan sebagai seorang gembala [misalnya Mzm 23:1; 74:1; 77:21; 78:70 dsj.; 79:13; 80:2; 95:7; 100:3; Yes 40:1-11; Mi 7:14]. Dengan demikian pemikiran tentang Allah dan penghayatannya pada umat Yahudi juga berbeda apabila dibandingkan dengan bangsa-bangsa di sekitarnya. Yang terpenting adalah kehadiran Tuhan yang mengikuti umat-Nya ke mana-mana. Gagasan ini kemudian berkembang menjadi gagasan Tuhan yang selalu hadir di mana-mana. Pada agama-agama lain di dunia Timur kuno ilah-dewa hanya bersemayam di dalam kuilnya atau ‘bait suci’-nya, dan dari situlah ilah-dewa itu mengembangkan kuasa dan pengaruhnya. Di kuil itulah orang menyembahnya dan menerima kurban persembahan. Ilah-dewa bersangkutan akan tetap tinggal dalam kuilnya, meskipun orang yang menyembahnya sudah meninggalkan kuil tersebut. Tidak demikianlah halnya dengan YHWH [lihat Im 26:11-12].

Orang Israel mengenal YHWH sebagai seorang gembala, bukan sebagai buah pemikiran, namun karena pengalaman iman. Mereka dengan penuh percaya diri menghadapi masa depan karena di masa-masa lampau mereka sudah mengalami betapa YHWH sungguh dapat diandalkan secara nyata. Kasih-setia YHWH memberikan rasa aman dalam diri mereka. Pengalaman iman orang Israel ini dicerminkan dalam banyak mazmur mereka, meskipun mazmur itu tidak menyebutkan kata ‘gembala’ samasekali. Bacalah Mzm 121 dan Mzm 139:7-12. Bagi orang Yahudi agama adalah pengalaman hidup manusia tentang realitas Allah, begitu dalam dan begitu nyata, kokoh kuat, sehingga terbukti memang menjadi batu penjuru bagi kehidupan bangsa mereka. Gagasan tentang manusia-gembala diangkat sampai pada tingkatan Allah sendiri. Allah memanggil orang-orang untuk menjadi gembala atas nama-Nya. Pertama-tama Mesias, putera Daud, menggembalakan kawanan dombanya. Kemudian orang lain meneruskan tugasnya sebagai gembala pula. “Aku akan mengangkat bagimu gembala-gembala yang sesuai dengan hati-Ku; mereka akan menggembalakan kamu dengan pengetahuan dan pengertian” [Yer 3:15]. Yeh 34 memuat semua sifat gembala yang dikumpulkan secara terpadu. Perhatikan ayat 23 dan tujuh buat ayat berikutnya. Ayat terakhir dari bab ini berbunyi seperti ini: “Kamu adalah domba-domba-Ku, domba gembalaan-Ku, dan Aku adalah Allahmu, demikian firman Tuhan ALLAH” [34:31]. Sabda Allah yang sangat jelas dan gamblang, yang tidak memerlukan debat/tafsir dalam bentuk apa pun.

PERJANJIAN BARU 

Pada zaman Yesus para gembala dinilai negatif. Di mata Hukum – yang memang hampir tidak mungkin dipenuhi oleh mereka dalam praktek – para gembala disejajarkan dengan para pencuri dan pembunuh. Namun demikian orang Yahudi tetap tidak lupa akan nubuatan tentang gembala yang akan datang. Yesus menggenapi nubuat tersebut. Pada kenyataannya, di samping orang-orang majus, para gembala di padang Efrata merupakan orang-orang pertama yang memperoleh pemberitaan oleh malaikat tentang kelahiran Yesus [Luk 2:8-20]. 

Gembala yang Baik. Keterlibatan dan rasa tanggung jawab seorang gembala terhadap keselamatan kawanan dombanya seperti digambarkan oleh Perjanjian Lama tercermin dalam diri Yesus, “Sang Gembala Baik”. Gambaran Yesus sebagai Gembala Baik merupakan gambaran kesayangan umat Kristiani Perdana. Banyaknya lukisan dan ukiran di katakomba, yang menggambarkan gembala baik yang menggendong seekor domba, membuktikan kenyataan itu. Untuk informasi pembaca, gambaran salib yang paling tua baru berasal dari abad kelima.

Yesus bersabda, “Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang” [Yoh 6:39; bdk Yeh 34:16]. Menjelang sengsara-Nya di taman Getsemani, Yesus berdoa untuk persatuan para murid-Nya (dikenal sebagai ‘Doa Imam Besar/Agung’). Doa-Nya tersebut, antara lain, berbunyi sebagai berikut: “Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorang pun dari mereka yang binasa selain dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci” [Yoh 17:12]. Bahkan sebelum terangkat ke surga pun Yesus masih memberi pesan kepada para murid-Nya: “Ketahuilah, aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” [Mat 28:20 atau kalimat terakhir dalam Injil Matius].

“Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya …” [Yoh 10:11]; “Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku” [Yoh 10:14-15]. Dalam perumpamaan ini [Yoh 10:1-18], Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai gembala yang baik. Dengan demikian Ia mewahyukan banyak kekayaan tentang pribadi-Nya sendiri dan tentang Allah Bapa. Lihat misalnya ayat 4: Ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. Ini jelas berbeda dengan penggembala bebek di Brebes, misalnya, yang berjalan di belakang kawanan bebek yang digembalakannya. Perumpamaan ini didasarkan pada kebiasaan di zaman Yesus. Beberapa kawanan pada malam hari dikumpulkan dalam sebuah kandang. Pada waktu pagi setiap gembala memanggil domba-domba yang digembalakannya. Domba-domba itu mengenal suara gembalanya dan mengikutinya ke padang rumput. Nah, saling mengenal antara domba dan gembala itu begitu mengesankan, sehingga Yesus menyamakannya dengan hubungan mesra antara Dia dan Bapa di surga [Yoh 10:15]. Sejauh suara gembala baik mengumandang, di situ pula ada shalom, rasa aman, perlindungan dan makanan. 

Sebuah permenungan. Yesus Kristus, Sang Gembala Baik, mengidentifikasikan diri-Nya dengan kita, umat-Nya. Dia tidak meninggalkan kita pada saat-saat kita mengalami kesulitan. Sebagai Gembala yang baik, Hati-Nya penuh dengan belarasa bagi kita, domba-domba-Nya. Dia mengenal kita satu persatu secara pribadi, dan Dia pun ingin kita mengenal-Nya secara mendalam pula. Karena cinta kasih-Nya kepada kita, Dia mengundang kita untuk datang kepada-Nya, agar dapat mengenali suara-Nya – bahkan di tengah-tengah kesulitan yang sedang kita alami. Dalam diri Yesus kita mengenal Hati seorang Gembala yang baik, yang mengenal masing-masing domba dan bahkan menyerahkan nyawa-Nya bagi kita. Yang hilang akan dicari sedangkan yang tersesat akan dibawa pulang. Yesus menunjukkan kepada kita keprihatinan Allah Bapa, terlebih bagi mereka yang dipandang sebagai orang-orang yang tidak berarti dan tidak dipedulikan hak-haknya.

Karena kita terbilang sebagai ‘domba-domba’ milik-Nya, maka tidak salahlah kalau dikatakan, bahwa Yesus mempunyai kepentingan atas kesejahteraan jiwa-raga kita. Manakala Iblis – ‘srigala’  dalam perumpamaan Yesus [10:12] – mencoba untuk mencerai-beraikan kita, Yesus adalah perlindungan kita yang kokoh-pasti. Bagi mereka yang mengenal-Nya, maka suara-Nya memberikan kenyamanan dan rasa aman.

Kita biasa mengatakan bahwa sebagai Sang Gembala Baik, Yesus begitu memperhatikan kita masing-masing, begitu baik Hati-Nya, begitu mengasihi kita, karena di mata-Nya setiap kita ini sangatlah berharga. Pernyataan ini samasekali tidak salah. Akan tetapi, seseorang belumlah menghargai sepenuhnya betapa dalam dan intens cinta kasih Yesus kepadanya, hanya dengan mendengarkan dan/atau membaca tulisan tentang hal itu. Orang itu harus merenungkannya ketika dia melakukan pertobatan hari demi hari, sampai pada suatu hari … hatinya merasa begitu tersentuh … betapa besar cinta kasih Yesus kepadanya, sehingga disposisi hati, sikap dan perilakunya sehari-hari pun akan diinspirasikan oleh suatu rasa syukur yang aktif bekerja dalam dirinya, karena dia mempunyai seorang Gembala Baik yang sejati dan agung. Dengan demikian, dia pun akan menghasilkan ‘buah-buah yang sesuai dengan pertobatan’ [Luk 3:8].

CATATAN PENUTUP

Setiap orang Kristiani sebenarnya dipanggil oleh Allah untuk mengikuti jejak Yesus Kristus sebagai seorang gembala yang baik, termasuk seorang tua awam terhadap anak-anak dalam keluarganya. Akan tetapi yang ingin ditekankan di sini adalah, bahwa seorang Uskup, pastor paroki, anggota Dewan Paroki, Ketua Wilayah, Ketua Lingkungan, ‘tua-tua lingkungan’ atau siapa saja yang memegang peran kepemimpinan dalam Gereja, seharusnya menjadi seorang gembala yang baik bagi mereka yang dipimpinnya (=dilayaninya). Untuk itu dia seharusnya melakukan pertobatan secara terus-menerus, agar dengan demikian hatinya akan semakin menyerupai Hati Yesus. Dari hatilah keluar sikap dan perilaku seseorang, yang baik maupun yang buruk. Yesus pernah bersabda, “Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, darihati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinaan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, perbuatan tidak senonoh, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang” [Mrk 7:20-23].

Tulisan ini – dalam rangka TAHUN IMAM 2009-2010 – sebenarnya mau menyoroti peran imam (termasuk uskup) sebagai seorang gembala. Oleh karena itu Yoh 21:15-19; Ibr 13:20-21; 1Ptr 5:2-4 dan Kis 20:28 merupakan bacaan-bacaan Kitab Suci yang selalu baik untuk menjadi bahan permenungan seorang uskup maupun para imamnya  – teristimewa para pastor (=gembala) paroki yang bertanggung-jawab sebagai gembala umat secara langsung. Merekalah yang ditahbiskan secara khusus untuk menggembalakan umat-Nya.

Cilandak, 9 Juli 2009 (Peringatan Santo Nicholas Pieck OFM dkk. dari Biara Gorcum, martir-martir di negeri Belanda)


*) Seorang Fransiskan sekular, tinggal di Cilandak, Jakarta Selatan.

About these ads