SANTO FRANSISKUS DARI SALESSANTO FRANSISKUS DARI SALES (1567-1622) 

Setiap tanggal 24 Januari Gereja memperingati Santo Fransiskus de Sales, Uskup dan Pujangga Gereja. Siapa dia sebenarnya? Marilah kita melihat riwayat hidup singkat orang kudus ini. 

Fransiskus adalah Uskup Jenewa, penulis rohani, Pujangga Gereja dan pelindung pers Katolik. Orang kudus ini dilahirkan di Savoy, dalam sebuah istana kaum bangsawan, Château de Sales. Satu hari kemudian dia dibaptis dengan nama baptis Fransiskus Bonaventura (Fransiskusnya diambil dari Fransiskus dari Assisi). Karena kelahiran prematur, pada masa kecilnya Fransiskus lemah dan rentan penyakit, namun karena pemeliharaan dalam keluarga yang baik dia pun dapat bertumbuh dewasa sebagai seorang yang sehat. Ketika  berumur delapan tahun Fransiskus dikirim ke Kolese Anacy, di mana dia menerima komuni pertama dan sakramen penguatan. Kemudian dia menuntut ilmu di Kolese Universitas Paris (1581-1588) yang pada waktu itu merupakan pusat pembelajaran terkemuka dengan 54 kolesenya. Niat awal Fransiskus adalah untuk masuk Collège de Navarre karena banyak anak bangsawan Savoy kuliah di situ. Dia membatalkan niatnya karena takut suasana di kolese itu akan merusak panggilan yang sudah mulai dirasakannya. Oleh karena itu Fransiskus atas izin ayahnya masuk Collège de Clermont yang dijalankan oleh para Yesuit, yang dikenal bagus sebagai tempat studi maupun pembinaan menuju kehidupan saleh. Fransiskus memperoleh nilai bagus untuk mata kuliah Filsafat dan Retorika. Sementara itu hatinya semakin mendorongnya untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Setelah itu Fransiskus melanjutkan studi di Universitas Padua (1588-1592). Di sana dia berhasil meraih gelar Doktor Hukum, kemudian setelah itu kembali ke keluarganya di Château de Thuille di danau Annecy. 

Fransiskus memilih kehidupan sebagai rohaniwan ketimbang tawaran jabatan duniawi yang lebih menggiurkan. Meskipun menghadapi tentangan keras dari ayahnya, Fransiskus ditahbiskan imam pada akhir tahun 1593 dan langsung ditugaskan ke Jenewa. Pada bulan September tahun 1594, dengan ditemani oleh saudara sepupunya, Kanon Louis de Sales – tetapi tanpa restu dari ayahnya – Fransiskus mulai melaksanakan misi utamanya yang pertama, yaitu pergi ke Chablais untuk berkhotbah di tengah-tengah kaum Protestan Kalvinis. Setelah bekerja selama empat tahun, di bawah ancaman bahaya fisik dan tantangan-tantangan lain, secara umum dia berhasil ‘mempertobatkan’ (catatan: artinya kembali ke pangkuan Gereja Katolik) hampir seluruh penduduk di sana. Dalam waktu-waktu luangnya, Fransiskus mulai menulis bacaan-bacaan yang bersifat devosional. 

Pada tahun 1599 Fransiskus diangkat menjadi Uskup Koadjutor Jenewa. Tidak lama kemudian dia menjadi anggota Konfraternitas Agung Tali Santo Fransiskus dari Assisi. Dengan demikian dia menjadi seorang cord bearer Santo Fransiskus (pembawa tali berwarna putih [pengikat pinggang] yang biasa dikenakan para Fransiskan).[1] Pada tahun 1602 Fransiskus diangkat sebagai Uskup Jenewa. Sebagai seorang uskup, dengan penuh semangat dia mempelopori reformasi dalam keuskupannya. Tanpa mengenal lelah dia berkhotbah dari paroki yang satu ke paroki yang lain, layaknya sebagai seorang pengaku iman sejati dan mempromosikan penyebaran katekismus. Empatinya pada umat dikenal sangat tinggi, termasuk mereka yang meninggalkan Gereja. Dia selalu bersikap ramah dan sabar terhadap siapa saja yang mohon pertolongan dari dirinya, meskipun pada saat-saat yang penuh kesibukan. Fransiskus memang seorang imam teladan, namun dia juga seorang uskup yang patut dicontoh. Membicarakan sepak terjang Fransiskus de Sales dalam TAHUN IMAM ini memang tidak kalah relevannya dengan membicarakan Santo Jean Marie Vianney. 

Pada tahun 1604, ketika berkhotbah Masa Prapaskah di Dijon,  Fransiskus bertemu dengan Jeanne-Francoise de Chantal, seorang janda kaya dengan empat orang anak, dan kemudian menjadi pembimbing rohani perempuan itu untuk beberapa tahun lamanya. Perempuan kudus ini (1572-1641) selama hidupnya berhasil mendirikan 86 biara Suster-suster Salesian, dan dia seorang mistikus juga. Dikanonisasikan pada tahun 1767 oleh Paus Clement XIII. Santo Vincentius a Paulo berkata tentang Santa Jeanne-Francoise de Chantal, bahwa dia adalah “salah seorang paling suci yang pernah kutemui di atas bumi”[2] 

Pada tahun 1608/1609 terbitlah buku karangannya yang berjudul Introduksi kepada Hidup Devosional yang begitu bagus sehingga masih dibaca pada zaman moderen kita ini. Sebenarnya buku ini adalah penyempurnaan dari sebuah buku pedoman kecil untuk digunakan oleh Madame de Charmoisy, istri dari saudara sepupunya dan dimaksudkan untuk mendorong hidup doa dan devosi. Buku itu dihormati oleh banyak kalangan dalam budaya Eropa, termasuk Raja James I dari Inggris. 

Pada tahun 1610, bersama dengan Jeanne-Francoise de Chantal, Fransiskus mendirikan Ordo Visitasi  (Suster-suster Salesian). Kepada para suster Salesian itu Fransiskus de Sales menekankan pentingnya devosi kepada Hati Kudus Yesus.[3] Suster Annice Callahan, R.S.C.J. menulis, bahwa Fransiskus dan Jeanne-Francoise de Chantal seringkali menulis tentang Hati Yesus.[4] Tulisan terkenal lainnya dari Fransiskus berjudul Risalah tentang Kasih Allah yang diterbitkan pada tahun 1616. Pada tahun 1617 Fransiskus berafiliasi dengan Ordo I Fransiskan (Kapusin).[5] 

Fransiskus dikanonisasikan sebagai orang kudus oleh Paus Alexander VII pada tahun 1665 dan ditetapkan sebagai Pujangga Gereja oleh Paus Leo XIII pada tahun 1887, kemudian pada tahun 1923 diangkat oleh Paus Pius XI menjadi ‘Orang Kudus pelindung Pers Katolik dan para penulis Katolik’. 

Di bawah ini adalah satu kutipan dari tulisan Santo Fransiskus dari Sales yang menunjukkan betapa besar cintanya kepada Hati Kudus Yesus: 

“O, Juruselamat kita akan mengambil hati kita dan menggantikannya dengan Hati-Nya sendiri. Namun, bukankah dengan demikian membuat hati kita sepenuhnya menjadi Hati-Nya – milik Hati-Nya secara murni dan tak dapat diubah? O semoga Yesus kita yang manis melakukan ini! Aku menyebabkan timbulnya pikiran Yesus untuk melakukan ini oleh Hati-Nya dan oleh kasih yang ada dalam Hati-Nya itu, yaitu kasih di atas segala kasih. Seandainya Dia tidak melakukannya (tetapi tanpa ragu Dia akan melakukannya karena kita minta kepada-Nya), maka sedikitnya Dia tidak akan dapat mencegah kita untuk mengambil Hati-Nya, karena Dia masih mempunyai dada-Nya yang terbuka untuk ini; dan apabila kita harus merobek dada kita sendiri untuk menaruh Hati-Nya di dalamnya dan bukan hati kita, tidakkah kita akan melakukannya? Semoga Nama-Nya yang Kudus selamanya dipuji”[6] 

Cilandak, 23 Januari 2010 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 


[1] Marion A. Habig OFM, The Franciscan Book of Saints, hal. 61

[2] Matthew Bunson, Encyclopedia of Catholic History, hal. 448.

[3] Matthew Bunson, hal. 741.

[4] Michael Downey (Editor), The New Dictionary of Catholic Sprituality, hal. 470.

[5] Marion A. Habig OFM, ibid.

[6] Brian Moore SJ, The Saviour’s Heart,  no. 80, hal. 84.

About these ads