ARTI KEMATIAN SANTO FRANSISKUS DARI ASSISI *) 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS **) 

Setiap tahun, pada sore hari tanggal 3 Oktober, para anggota keluarga besar Fransiskan di mana-mana biasanya menghadiri ‘Acara Transitus Santo Fransiskus’. Pada sore hari itu kita berkumpul bersama-sama sebagai sebuah komunitas untuk mengenang dan menghormati seorang anak manusia yang paling kita kagumi dan kita ikuti jejak langkahnya karena keunggulannya dalam menyerupakan diri dengan Kristus. Dalam keadaan terpaksa, tentunya seorang Fransiskan juga dapat memperingati Transistus ini secara pribadi. 

Sebagian  isi tulisan  ini memanfaatkan tulisan dalam buku kecil dari almarhum Pater Hugolinus Storff OFM, Novena in honor of St. Francis with short meditations, Chicago, Illinois: Franciscan Herald Press, 1974 (Second Revised Edition). Saudara-saudari dipersilahkan untuk menggunakan tulisan ini dalam rangka permenungan pribadi menjelang Transitus. 

KRISTUS WAFAT UNTUK KITA 

Bagi kita para pendosa, Yesus Kristus yang wafat di kayu salib selalu harus ada dalam pikiran dan hati kita. Beberapa sabda terakhir dari sang Juruselamat yang sedang sekarat dalam menghadapi maut harus tertanam-dalam di lubuk hati kita. Salib lengkap dengan corpus Kristus harus merupakan salah satu ‘kekayaan’ kita yang paling berarti: salib yang menunjukkan Yesus yang menderita, dengan bilur-bilur berdarah dan sedang menghadapi ajal-Nya. 

Sekarang baiklah kita bertanya kepada diri kita sendiri. Apakah aku seringkali memandang salib Kristus dengan penuh cintakasih, memegangnya dengan penuh hormat dan secara hikmat menciumnya dengan penuh bibirku? Salib Kristus itu bercerita apa saja kepadaku, apabila aku melihatnya dengan mata iman? Yesus, Kekasihku, Allahku, Juruselamatku, Segalanyaku menghadapi kematian di kayu salib. Kepala-Nya dimahkotai duri. Tangan-tangan-Nya dan kaki-kaki-Nya ditembusi paku-paku. Seluruh Tubuh-Nya menjadi suatu kengerian yang luarbiasa. Darah-Nya mengucur dan menetes dari semua luka-Nya, luka dari Tubuh-Nya yang suci guna menebus kita, sebagai silih atas dosa-dosa umat manusia. Sungguh suatu pengorbanan yang luarbiasa. Mari kita renungkan kata-kata terakhir sang Juruselamat yang disabdakan-Nya dari kayu salib: 

  1. “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”       (Luk 23:34);
  2. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada besama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk 23:43);
  3. “Perempuan, inilah anakmu!” …… “Inilah ibumu!” (Yoh 19:26.27);
  4. “Eli, Eli, lema sabaktani?”, yang berarti “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat 27:46; bdk. Mrk 15:34);
  5. “Aku haus” (Yoh 19:28);
  6. “Sudah selesai” (Yoh 19:30);
  7. “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku (Luk 23:46).

Dan sesudah berkata demikian Yesus menyerahkan nyawa-Nya. Lambung-Nya ditikam dengan tombak oleh seorang prajurit[1] dan mengalir keluarlah darah dan air, tetes-tetes terakhir dari Hati-Nya yang kudus (lihat Yoh 19:34). 

SANTO FRANSISKUS MATI DEMI CINTANYA KEPADA YESUS 

Sesungguhnya kematian Santo Fransiskus adalah model dari suatu kematian suci. Lihatlah bagaimana Fransiskus yang sedang didekati Saudari Maut (badani). Hanya satu saja keinginannya, yaitu mati seperti Sang Panutan Agung, Sang Guru, Yesus Kristus. Di bukit La Verna, dua tahun sebelumnya Fransiskus telah dikaruniai dengan lima luka suci yang membuatnya menjadi citra hidup dari Kristus yang tersalib. Luka-luka ini mengakibatkan rasa sakit yang luarbiasa pada tubuh Fransiskus, tetapi dia menanggung sakit itu dengan sabar demi cintanya kepada Yesus. 

Pada awal September 1224 Fransiskus menyepi ke sana untuk menyiapkan diri menghadapi Pesta Santo Mikael Malaikat Agung. Doa Fransiskus yang dipanjatkannya di La Verna adalah bukti otentik ‘siapa’ sebenarnya dia dan ‘mengapa’ dia membawa dampak begitu besar atas sejarah umat manusia. Berikut ini isi doanya: 

Tuhanku Yesus Kristus, saya mohon kepada-Mu karuniakanlah dua anugerah sebelum saya meninggal. Yang pertama ialah agar Kauizinkan merasakan – dalam jiwa ragaku – sebanyak mungkin penderitaan hebat yang Engkau, Yesus Yang Manis, telah rasakan pada saat sengsara-Mu yang amat pahit itu. Yang kedua ialah agar saya boleh merasakan dalam hatiku sebanyak mungkin cinta yang tak terbatas, dengan mana Engkau, Putera Allah, tergerak dan mau menanggung sengsara sedemikian itu bagi kami para pendosa.[2] 

Pater Murray Bodo OFM[3] menulis: Hanya seorang pencinta yang dapat memahami kata-kata seperti ini, dan hanya seorang yang memiliki hati ksatria yang dapat mengucapkannya. Di bukit La Verna, Fransiskus sang ksatria dan Fransiskus sang pencinta bergabung dalam ‘permintaan bodoh’ terakhir ini. Hanya kerendahan hati dan keaslian atau orijinalitas Fransiskus sajalah yang menyelamatkan doa ini dari semacam bravado gaya Don Quixote. Seluruh hidup Fransiskus membuktikan bahwa doa ini dihaturkannya tanpa pamrih dari hatinya yang terdalam dengan mata yang terarah kepada Tuhan Yesus, tanpa larak-lirik ke sana kemari untuk mengetahui apakah ada orang yang sedang memperhatikan. Seperti doa yang didengar oleh Bernardus dari Quintavalle sepanjang malam dulu di rumahnya, “Allahku dan segala[nya]ku,” maka doa permohonan Fransiskus di La Verna adalah permohonan seorang pecinta agar dapat bersatu secara total dengan yang dicintainya. Dan ‘ya’ dari Dia yang dicintainya adalah sebuah rangkulan yang begitu lengkap, sehingga anggota-anggota tubuh Fransiskus dimeteraikan dengan luka-luka cintakasih, tanda-tanda Sengsara Kristus dalam dagingnya. Dalam arti yang riil Fransiskus menjadi pendagingan lebih lanjut dari Allah yang hidup. Hampir seakan-akan Bapa angkatnya, tidak puas sekedar dengan adopsi, telah membuat Fransiskus menjadi anak-Nya secara fisik, dengan cara memeteraikan dia dengan tanda-tanda dari Putera Tunggal-Nya sendiri, Yesus Kristus. 

Fransiskus masih hidup dua tahun lagi sejak menerima stigmata di La Verna. Ketika dia meninggalkan bukit itu, penyakit trakhoma yang telah dideritanya semakin menjadi-jadi. Dia pun minta untuk dibawa ke San Damiano, kemudian diam di sebuah gubuk dekat biara yang ditempati Santa Klara. Di sana Fransiskus selama lima puluh hari mengalami kegelapan fisik dan rohani. Dia mengalami apa yang dirasakan Yesus ketika Dia berseru dari kayu salib: “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku (Mat 27:46; bdk. Mark 15:34). Fransiskus merasakan bahwa dia dibuang oleh ‘Kekasih Ilahi-nya’, yang rangkulan mesra-Nya dia rasakan begitu total di bukit La Verna dua tahun sebelumnya. 

Fransiskus yang merasakan bahwa Saudari Maut (badani) sudah berada begitu dekat, kemudian ingin lepas dari jubah yang dikenakannya. Dia mau mati seperti Yesus yang juga tidak mengenakan apa-apa. Lalu dia minta untuk diletakkan di atas lantai tanpa alas, agar dapat menyerupai Kristus di kayu salib yang sedang menghadapi maut. Fransiskus kemudian minta kepada para saudara dina yang sedang menangis sedih dan meratapinya itu untuk membacakan baginya kisah sengsara Tuhan Yesus Kristus dari Injil Yohanes. Maksudnya adalah agar penderitaan Juruselamat kita ada dalam pikiran dan hatinya sampai nafasnya yang terakhir. Lalu, dengan tangan-tangannya yang menyilang di dada, dia memberkati semua anak-anak rohaninya. Dia mulai mendaras Mazmur Daud bersama anak-anak rohaninya itu: “Dengan nyaring aku berseru-seru kepada TUHAN, dengan nyaring aku memohon kepada TUHAN”, dan menyelesaikan mazmur itu sampai akhir: “Orang-orang benar akan mengelilingi aku, apabila Engkau berbuat baik kepadaku” (Mzm 142:2-8; lihat 1Cel 109; LegMaj XIV:5). 

Perhatikanlah stanza dari ‘Nyanyian Saudara Matahari’ atau ‘Puja-pujian Makhluk-makhluk’ berikut ini: “Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudari Maut badani, daripadanya tidak akan terluput insan hidup satu pun” (Nyamat 12). Menurut Sdr. Murray Bodo, Fransiskus menambahkan stanza ini pada saat-saat menjelang kematiannya. Stanza ini mengungkapkan betapa Fransiskus menerima kenyataan kematian badani secara mendalam, yang tidak dapat terjadi secara mendadak pada saat kematian. Fransiskus telah merangkul Saudari Maut (badani) jauh-jauh hari sebelum mengungkapkan penerimaannya dalam bentuk kata-kata. Seorang Fransiskus dari Assisi dapat berucap “Selamat datang, Saudari Maut badani’ dengan begitu lugu dan lugas. Sungguh suatu hal yang patut kita renungkan terus-menerus, khususnya sebagai anggota keluarga besar Fransiskan yang pada suatu hari kelak juga secara pribadi akan berhadap-hadapan dengan Saudari Maut (badani) itu. 

Satu lagi pesan Fransiskus pada saat-saat kematiannya yang tidak pernah kita (sebagai anak-anak rohaninya) boleh lupakan: “Aku telah melakukan apa yang harus kulakukan; semoga Kristus mengajarmu apa yang harus kamu lakukan selanjutnya” (LegMaj XIV:3). 

Santo Bonaventura merangkum dengan singkat kematian Fransiskus sebagai berikut: “O sungguh pengikut Kristus yang paling sempurna, yang selama hidupnya mau menyerupai Kristus dan waktu mendekati ajalnya mau menyerupai Kristus menjelang ajal-Nya dan setelah meninggal mau menyerupai Kristus yang telah wafat dan yang keinginan satu-satunya ialah mengikuti jejak Kristus  dalam segala-galanya secara sempurna dan yang oleh karenanya patut menerima anugerah istimewa, yaitu bahwasanya persamaannya dengan Kristus diterakan secara lahiriah dalam tubuhnya!” (LegMaj XIV:4). 

KEMATIAN KITA 

Bagaimana dengan diri kita masing-masing? Apakah kita siap untuk menghadapi Saudari Maut (badani)? 

Sesungguhnya setiap hari dalam kehidupan kita membawa anda dan saya semakin dekat kepada kematian dan liang kubur. Namun dalam semua pekerjaan kita di dunia ini, ingatlah selalu akan tujuan akhir dari ziarah kita. Semoga dengan demikian – berkat rahmat Allah – kita pun dapat luput dari dosa. Sekarang, pada saat-saat kita masih dalam keadaan sehat walafiat, janganlah pernah lupa bahwa pada suatu hari kelak kita akan meninggal dunia, dan meninggalnya itu harus dengan baik. Janganlah sampai berhadapan dengan Saudari Maut (badani) dalam keadaan tidak siap. 

Gereja, seperti seorang ibu yang baik, mengajak kita berdoa dalam Litani Orang Kudus: “Dari kematian kekal, bebaskanlah umat-Mu.” Biarlah kita ingat selalu para kudus yang sudah memberi kesaksian bahwa untuk mati dengan baik, seseorang harus mati terhadap dunia yang jahat ini, mati terhadap segala nafsu jahat, mati terhadap kodrat manusia yang buruk, mati terhadap kedosaan.  Marilah kita,  anda dan saya, berupaya terus untuk hidup sekarang seperti kita mau hidup pada saat berhadapan dengan Saudari Maut (badani), yaitu dalam keadaan baik di mata Allah. 

Seperti Fransiskus, perkenankanlah Kristus tersalib dan sedang menghadapi maut selalu ada dalam pikiran, karsa dan karya kita. Dengan Salib di tangan kita, kita berharap dapat berhadapan dengan Saudari Maut (badani) dalam cintakasih Yesus dan Maria. Devosi khusus kepada Santo Yosef dapat dihargai karena Santo Yosef ini adalah orang kudus pelindung bagi ‘kematian yang berbahagia’. Kita juga dapat berdoa setiap hari untuk keselamatan orang-orang berdosa yang sedang menghadapi maut. Ingatlah bahwa ada banyak orang baik yang akan mendoakan kita juga pada saat-saat kita menghadapi Saudari Maut (badani) dan berkat-berkat doa-doa mereka yang didengar Allah, kita dapat memperoleh kematian yang suci dan berbahagia. 

BACAAN INJIL DAN DOA  

Bacaan Injil: Mat 11:25-30 

DOA: Yesus, Fransiskus mempunyai hasrat untuk mempelajari satu buku saja, yaitu Engkau sendiri, Tuhan-nya, Yesus Kristus yang tersalib. Hatinya adalah hati seorang anak kecil, karena satu pengetahuan ini sudah memuaskannya secara lengkap. Ia mempelajari Engkau begitu banyak; ia mengasihi-Mu begitu banyak sehingga dengan cepat Engkau menguasai dirinya, tubuh dan jiwanya. Begitu bebas dia melepaskan segalanya dalam hidup ini! Yesus ajarlah kami pada pesta hari ini untuk tidak mencari apa-apa, kecuali Engkau, Tuhan kami. Kami tidak dapat melakukannya tanpa rahmat dan dukungan-Mu. Tolonglah kami sekarang, melalui hamba-Mu, Fransiskus, karena kami belum mulai melakukannya. Amin. 

Father Killian Speckner, OFMConv., The PRAYERS of Father Killian, Paraclete Press, 1986. 


*)Tulisan ini merupakan perbaikan dari memorandum saya sebagai Minister Persaudaraan OFS Santo Ludovikus IX No. Min/03/96 tanggal 20 September 1996 perihal ‘Arti Kematian Fransiskus’. Cilandak, 23 September 2009, Peringatan Santo Padre Pio dari Pietrelcina.

**) Seorang Fransiskan sekular, tinggal di Cilandak, Jakarta Selatan.

[1] Menurut tradisi, prajurit itu adalah seorang perwira yang bernama Longinus.

[2] Lihat Fioretti, Lima Renungan tentang Stigmata Suci, Permenungan Ketiga: Fransiskus Mendapat Stigmata, Jakarta: Sekafi, 1997, hal. 223.

[3] Murray Bodo, OFM, The Way of St. Francis – The Challenge of Franciscan Spirituality for Everyone, Cincinnati, Ohio:  St. Anthony Messenger Press, hal.xiv.

About these ads