DIA BEGITU MENGASIHI KITA SEHINGGA TAK AKAN PERNAH MEMBUANG KITA

DIA BEGITU MENGASIHI KITA SEHINGGA TAK AKAN PERNAH MEMBUANG KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PRAPASKAH I, 26-2-12)

Segera sesudah itu Roh memimpin Dia ke padang gurun. Di padang gurun itu selama empat puluh hari Ia dicobai oleh Iblis. Ia tinggal bersama dengan binatang-binatang liar dan malaikat-malaikat melayani Dia.

Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya, “Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Mrk 1:12-15)

Bacaan Pertama: Kej 9:8-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-9; Bacaan Kedua: 1Ptr 3:18-22 

Sebelum dunia dijadikan, Allah mengenal kita, mengasihi kita dan Dia memanggil kita untuk mengenal dan mengasihi-Nya. Perjanjian Lama menggambarkan sejumlah perjanjian yang dibuat Allah dengan umat-Nya untuk menyiapkan mereka agar dapat menerima kehidupan-Nya secara lebih penuh. Akan tetapi, lagi-lagi umat Allah gagal memelihara perjanjian Allah dengan mereka. Sebagai konsekuensinya, mereka memisahkan diri dari kasih Allah dan perlindungan-Nya.

Namun demikian Allah sedemikian mengasihi dunia sehingga ketika saat-Nya tiba Dia mengutus Anak-Nya yang tunggal, untuk mengajar, untuk menyembuhkan mereka yang sakit dan akhirnya untuk mati; dengan demikian mengadakan perjanjian yang baru dan kekal dalam darah-Nya. Ini adalah perjanjian baru yang dijanjikan oleh Allah melalui nabi Yehezkiel: “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya”  (Yeh 36:26-27).

Kita masuk ke dalam perjanjian yang baru ini pada waktu dibaptis; dan lewat hidup iman kita memperkenankan Roh Kudus untuk mempersatukan kita dengan Yesus lebih penuh lagi setiap hari. Kita menjadi ciptaan baru dalam Kristus. Dengan mati bersama Dia, bukan kita lagi yang hidup, tetapi Kristus yang hidup dalam diri kita (lihat Gal 2:20).

Mukjizat baptisan ke dalam suatu perjanjian yang baru ini telah digambarkan jauh hari sebelumnya oleh Perjanjian  Lama dengan banyak cara. Akan tetapi tidak ada yang lebih berwarna-warni daripada kisah Nuh (Kej 6-9). Sejak hari-hari awalnya, Gereja telah melihat dalam banjir yang dikisahkan itu suatu jenis air baptis, yang menyingkirkan dosa-dosa daging dan memberikan umat manusia suatu awal yang baru.

Yang dimaksudkan dengan awal baru kita dalam baptisan adalah keikutsertaan dalam hidup Yesus sendiri. Seperti ketika Yesus dicobai di padang gurun selama 40 hari, kita juga akan mengalami saat pencobaan dan pertumbuhan. Allah memberikan kepada kita saat-saat seperti itu untuk mengajarkan kita melakukan tindakan penyerahan diri kita kepada-Nya secara lebih penuh, dan menunjukkan betapa setia Dia pada janji-janji-Nya. Dia begitu mengasihi kita sehingga tak akan pernah membuang kita. Yang diminta oleh-Nya hanyalah bahwa kita menaruh kepercayaan kepada-Nya – seperti telah ditunjukkan oleh Nuh dan keluarganya – untuk menjaga kita di tengah-tengah hujan badai.

DOA: Bapa surgawi, ucapkanlah kata-kata perjanjian cinta kasih-Mu kepada kami di saat-saat teduh dalam masa Prapaskah ini. Oleh Roh Kudus-Mu, tolonglah kami untuk mau dan mampu menaruh kepercayaan secara lebih penuh kepada-Mu, sehingga – seperti dicontohkan oleh Putera-Mu Yesus, kami dapat menjadi bentara-bentara kerajaan-Mu di muka bumi ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:12-15), bacalah tulisan dengan judul “DITEMPA SELAMA 40 HARI” (bacaan untuk tanggal 26-2-12), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2012. 

Cilandak,  26 Januari 2012 [Peringatan S. Timotius dan Titus, Uskup] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SETIAP ORANG DAPAT DIPIMPIN KEPADA KEBENARAN HANYA MELALUI KASIH DAN KESETIAAN ALLAH

SETIAP ORANG DAPAT DIPIMPIN KEPADA KEBENARAN HANYA MELALUI KASIH DAN KESETIAAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Sabtu sesudah Rabu Abu, 25-2-12) 

Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemimpin cukai, yang  bernama Lewi, sedang duduk di tempat pemungutan cukai. Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!” Lewi pun bangkit dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia.

Kemudian Lewi mengadakan perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya, “Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Lalu jawab Yesus kepada mereka, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.” (Luk 5:27-32)

Bacaan Pertama: Yes 58:9b-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 86:1-6

Tak peduli dengan latar belakang kita masing-masing, kita semua memiliki kemampuan untuk memberikan diri kita sendiri secara total-lengkap kepada Allah. Bahkan seorang pendosa kelas berat pun dapat ditransformasikan oleh kasih dan kebaikan hati. Ini adalah pelajaran di belakang perjumpaan Yesus dengan Lewi dan semua teman-teman Lewi yang dicap sebagai orang-orang berdosa oleh orang-orang Farisi dan para ahli Taurat. Setiap hari dalam kehidupan-Nya di dunia, Yesus sungguh mempraktekkan petuah nabi, yaitu menjauhkan diri dari “menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah” (Yes 58:9). Ia menolak untuk menuduh atau menyalahkan siapa pun. Sebaliknya, Yesus menerima orang-orang berdosa dan berusaha untuk membawa rahmat pengampunan dan sentuhan penyembuhan dari Bapa surgawi ke dalam kehidupan para pendosa itu.

Kedosaan Lewi sebagai pemungut cukai tidak membuat Yesus menjauhinya. Keprihatinan utama Yesus adalah apakah si Lewi ini akan bertobat, meninggalkan dosa-dosanya dan menerima sebuah hati yang baru. Yesus memang tidak pernah menghindarkan diri dari orang-orang yang “tidak bersih” alias “para pendosa”. Yesus tidak pernah takut bahwa kemurnian diri-Nya akan terancam. Yesus juga tidak pernah berusaha untuk membuat diri-Nya kelihatan lebih baik dengan menuding-nuding orang lain atau menunjuk-nunjuk kesalahan orang lain. Sebaliknya, Yesus malah meruntuhkan tembok-tembok pemisah yang ada, agar dapat membawa kemurnian Injil kepada setiap orang yang dijumpainya.

Bagaimana dengan kita sendiri? Seringkali, apabila kita berhadapan dengan perilaku dosa dari orang lain, tanggapan kita malah berwujud menjauhkan diri daripadanya. Tidak jarang pula kita menjadi terlibat dalam gosip-gosipan tentang orang itu. Berapa banyak dari kita tidak mau mengundang ke rumah kita para kerabat atau teman yang perilaku tak bermoralnya sungguh mengganggu kita. Banyak dari kita juga tetap merasa marah dan menolak orang-orang yang telah berdosa terhadap diri kita. Sekarang saatnya kita bertanya kepada diri sendiri, apakah sikap dan perilaku kita itu efektif dalam usaha membantu “para pendosa” itu menyesali dosa-dosa mereka dan melakukan pertobatan …… kembali ke jalan Allah?

Yesus menunjukkan kepada kita bagaimana mendekati orang-orang lain. Walaupun Yesus tidak pernah berkompromi dengan kebenaran atau menyarankan agar orang mengabaikan hukum Allah, Ia memperlakukan setiap orang dengan rasa hormat dan belas kasihan, apa pun dosa mereka.

Oleh karena itu, marilah kita belajar untuk pergi menemui dan mengasihi orang-orang seperti yang dilakukan Yesus. Janganlah kita menghakimi orang-orang yang berlabel “pendosa”. Yang penting adalah kita mengasihi mereka dengan kasih Kristus, dan kita boleh merasa yakin betapa besar dampak dari tindakan kita itu. Setiap orang dapat dipimpin kepada kebenaran hanya melalui kasih dan kesetiaan Allah.

DOA: Roh Kudus Allah, buatlah hatiku menjadi seperti hati Yesus, teristimewa pada masa Prapaskah ini. Biarlah kasih-Mu yang kuat dan penuh bela rasa membimbingku selagi aku mendekati orang-orang lain, teristimewa mereka yang telah meninggalkan Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 58:9b-14), bacalah tulisan dengan judul “MENJADI TUKANG REPARASI” (bacaan untuk tanggal 25-2-12), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2012. Bacalah juga tulisan yang berjudul  “MENJADI TUKANG REPARASI TEMBOK DAN JALAN” (bacaan untuk tanggal 22-2-10) dalam situs/blog SANG SABDA; kategori: 10-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2010. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-3-11) 

Cilandak,  25 Januari 2012 [Pesta Bertobatnya S. Paulus, Rasul; Penutupan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MARILAH KITA BERPUASA DENGAN PENUH SUKACITA

MARILAH KITA BERPUASA DENGAN PENUH SUKACITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Jumat sesudah Rabu Abu, 24-2-12) 

Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata, “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.” (Mat 9:14-15)

Bacaan Pertama: Yes 58:1-9a; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-6,18-19

Apa kesan anda tentang puasa? Apakah itu sebuah cara meratapi dosa-dosa kita? Apakah anda memandang puasa sebagai suatu kewajiban keagamaan – sekadar sesuatu yang harus dijalani oleh orang-orang Kristiani? Yesus menginginkan agar puasa bagi para murid-Nya itu berbeda dengan kesan-kesan seperti tadi. Pada kenyataannya, puasa Kristiani dapat menjadi suatu peristiwa yang mengandung sukacita besar dan penuh pengharapan, bukannya peristiwa penuh kemurungan.

Yesus mengatakan, apabila Dia – sang mempelai laki-laki – diambil, maka para tamu pesta nikah – para murid – akan berpuasa. Akan tetapi, Yesus sang mempelai laki-laki juga telah berjanji untuk senantiasa bersama kita (lihat Mat 28:20)! Ia bersama kita dalam banyak cara: dalam Roh Kudus-Nya, dalam Kitab Suci, dalam Ekaristi, dalam Gereja-Nya, dalam diri para imam tertahbis-Nya, dan di tengah-tengah umat yang berkumpul bersama di dalam nama-Nya. Dalam begitu banyak cara yang riil dan berwujud, sang mempelai laki-laki ada bersama kita. Dengan demikian orang-orang Kristiani tidak  boleh berpuasa sebagai suatu tanda dukacita.

Bagi anak-anak Allah – semua orang yang mengenal dan mengalami kehadiran Yesus Kristus dalam hati mereka, artinya yang percaya kepada-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat – maka puasa dimaksudkan untuk dihubungkan dengan doa. Apabila kita menyangkal diri kita sendiri dalam salah satu bentuk pengungkapannya, maka kita akan menemukan suatu vitalitas baru dalam doa-doa syafaat kita untuk kebutuhan-kebutuhan orang-orang lain. Hati kita tidak mendua lagi dan lebih terbebaskan dari cengkeraman hal-hal duniawi, dan lebih dekat rasa haus dan lapar akan Yesus yang terdapat dalam setiap hati manusia. Apabila kita mengkombinasikannya dengan doa, maka puasa dapat menolong kita mengatasi kejahatan dan menjaga agar kita tetap fokus pada hal-hal yang sungguh berarti. Segala pelanturan dapat dibuang sehingga kita dapat mendengar suara Tuhan dengan lebih jelas. Hal ini dapat membantu kita menghargai hal-hal yang telah kita miliki, sehingga kita dapat berdoa untuk mereka yang tidak memiliki seperti kita. Akhirnya, puasa dan doa dapat memimpin kita kepada pekerjaan untuk tercapainya keadilan, perdamaian, dan belas kasihan di dalam dunia ini.

Mungkinkah berpuasa dengan penuh sukacita? Ya, mungkin! Pada kenyataannya, berpuasa yang tidak bermuram-durja ini kelihatannya yang ada dalam pikiran Yesus ketika Dia memberikan “Khotbah di Bukit”: “Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Mat 6:16-18). Pada masa Prapaskah ini, mengapa tidak mencoba untuk bereksperimen dengan “puasa yang penuh sukacita”? Pilihlah jenis puasa yang masuk akal dan mohonlah kepada Roh Kudus untuk membimbing anda dalam menentukan ujud-ujud doamu. Namun ingatlah selalu bahwa Yesus, sang mempelai laki-laki, selalu beserta anda!

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar dapat berpuasa dengan penuh sukacita dalam masa Prapaskah ini. Gunakanlah doaku dan puasaku untuk membawa kebaikan dalam dunia pada masa kini. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 58:1-9a), bacalah tulisan dengan judul “PADA WAKTU ITULAH TERANGMU AKAN MEREKAH SEPERTI FAJAR” (bacaan untuk tanggal 24-2-12), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2012. Bacalah juga tulisan yang berjudul  “BERPUASA YANG KUKEHENDAKI, IALAH ……” (bacaan untuk tanggal 19-2-10) dalam situs/blog SANG SABDA; kategori: 10-02 BACAAN HARIAN MARET 2011. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-3-11) 

Cilandak,  25 Januari 2012 [Pesta Bertobatnya S. Paulus, Rasul; Penutupan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

CORPUS CHRISTI: TUBUH KRISTUS

CORPUS CHRISTI: TUBUH KRISTUS


Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata, “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata, “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan dengan darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!” Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang. (1Kor 11:23-26)
 

Ekaristi, sebagai kehadiran Kristus yang menyelamatkan dalam persekutuan umat beriman dan menjadi santapan rohaninya, adalah milik Gereja yang paling berharga, dalam peziarahannya sepanjang sejarah. Ini juga merupakan ungkapan komitmennya yang hidup terhadap misteri Ekaristi, komitmen yang mendapat ungkapan paling berwibawa dalam karya Konsili dan para Paus (Surat Ensiklik Paus Yohanes Paulus II Ecclesia de Eucharistia tentang Ekaristi dan Hubungannya dengan Gereja [EE], 9)

Dalam perjalanan menuju Tanah Terjanji yang sulit itu – setelah keluar dari perbudakan di Mesir – YHWH menopang umat Yahudi dengan ‘manna’ dan mengajar mereka untuk hidup “dari segala yang diucapkan YHWH” (Ul 8:3). Gereja (anda dan saya) adalah Israel yang baru, dan kita sekarang diberi makan oleh Yesus Kristus, “Roti kehidupan yang telah turun dari surga” (Yoh 6:51). Kita merayakan kebenaran ini setiap kali kita menghadiri Misa Kudus.

Roti Kehidupan.  Yesus mempresentasikan diri-Nya sebagai “Roti Kehidupan” melalui suatu karunia kasih yang unik: “Akulah roti kehidupan yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang akan Kuberikan itu ialah daging-Ku yang akan Kuberikan untuk hidup dunia. ……Sebab daging-Ku benar-benar makanan dan darah-Ku benar-benar minuman” (Yoh 6:51.55). Banyak orang yang mendengar-Nya pada akhirnya menolak pengajaran-Nya, kemudian meninggalkan Dia (Yoh 6:60,66). Namun, apa pun yang terjadi dengan kita pada zaman ini, Yesus telah memberikan janji-Nya: “Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman” (Yoh 6:54).

Yesus juga menjanjikan: “Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, Ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia” (Yoh 6:56). Umat Kristiani mengalami hal ini secara khusus melalui kehadiran-Nya dalam Ekaristi Kudus. Santo Paulus menggambarkannya sebagai suatu ‘koinonia’ (bahasa Yunani untuk persekutuan) atau suatu ‘communio’ (bahasa Latin), atau ikut ambil bagian dalam hidup kebangkitan Kristus. “Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus?” (1Kor 10:16). Dengan turut ambil bagian dalam kurban Paskah, kita pun sekarang berpartisipasi dalam kehidupan Tuhan yang telah dimuliakan dan dibangkitkan. Dengan demikian kita digabungkan dengan inti kehidupan yang disyering bersama oleh Bapa dan Putera.

Oleh karena itu, tidak mengherankanlah apabila para Bapak Konsili Vatikan II, dalam ‘Dekrit Presbyterorum Ordinis tentang Pelayanan dan Kehidupan Para Imam’ [PO] menegaskan, bahwa Ekaristi adalah “sumber dan puncak seluruh pewartaan Injil” (PO, 5). Di samping itu, dalam ‘Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini’ [GS] mereka menyatakan: “Jaminan untuk harapan itu dan bekal untuk perjalanan oleh Tuhan ditinggalkan kepada para murid-Nya dalam Sakramen iman, saatnya untuk unsur-unsur alamiah, yang dikelola oleh manusia, diubah menjadi Tubuh dan Darah mulia, yakni perjamuan persekutuan persaudaraan, antisipasi perjamuan surgawi” (GS, 38).

Para Bapak Konsili Vatikan II juga mengatakan: “…… jangan sampai umat beriman menghadiri misteri iman itu sebagai orang luar atau penonton yang bisu, melainkan supaya melalui upacara dan doa-doa memahami misteri itu dengan baik, dan ikut-serta penuh khidmat dan secara aktif. Hendaknya mereka rela diajar oleh sabda Allah, disegarkan oleh santapan Tubuh Tuhan, bersyukur kepada Allah. Hendaknya sambil mempersembahkan Hosti yang tak bernoda bukan saja melalui tangan imam melainkan juga bersama dengannya, mereka belajar mempersembahkan diri, dan dari hari ke hari – berkat perantaraan Kristus – makin penuh dipersatukan dengan Allah dan antar mereka sendiri, sehingga akhirnya Allah menjadi segalanya dalam semua” (SC, 48).

Bacaan Injil (misalnya Luk 9:11b-17) menunjukkan kemurahan-hati Yesus kepada orang banyak yang mau dekat dengan-Nya sepanjang hari, yang begitu berhasrat mendengarkan pengajaran-Nya dan mengharapkan kesembuhan (lihat Luk 9:11). Ketika mereka merasa lelah dan lapar serta dahaga, Yesus melihat kebutuhan mereka. Melalui sebuah mukjizat pergandaan, Yesus menyediakan makanan bagi orang banyak itu, malah melebihi daripada yang dibutuhkan. Namun ada lagi yang lebih menakjubkan daripada mukjizat pergandaan roti-ikan itu, yaitu kenyataan bahwa sampai hari ini Yesus masih terus memberi makanan dan memuaskan para pengikut-Nya yang lapar. Yesus sangat berhasrat menunjukkan cintakasih-Nya serta perhatian-Nya kepada kita semua, dan dia melakukan semua itu dengan memberikan tubuh dan darah-Nya sendiri.

Pada setiap saat selama dunia masih berputar terus, Misa Kudus dirayakan di dunia, entah di mana. Pada setiap kali Misa Kudus dirayakan, Yesus memberikan diri-Nya bagi umat-Nya yang sedang bersekutu, dan Ia melakukan ‘pengantaraan’ bagi kita sebagai imam besar agung kita. Tidak ada siapa dan/atau apa pun yang dapat menghalangi-Nya untuk mencurahkan cintakasih-Nya dan bela-rasa-Nya atas diri kita. Seperti yang telah dijanjikan-Nya sekitar 2.000 tahun lalu: “Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, Ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia” (Yoh 6:56).

Santo Ignatius dari Antiokhia (+ 107), Uskup dan Martir, salah seorang Bapak Gereja, dalam suratnya kepada jemaat di Efesus menjelaskan makna Ekaristi sebagai “satu roti yang menyediakan obat bagi imoralitas, obat penawar bagi kematian, dan makanan yang membuat kita hidup selamanya dalam Yesus Kristus”. Akan tetapi Ekaristi bukanlah sebuah pemberian Yesus yang bersifat sekali saja, once for all, sampai tiba akhir zaman. Yesus terus-menerus memperdalam pemberian atau anugerah ini dalam diri kita masing-masing. Dengan cara yang semakin lama semakin meningkat, Yesus ingin menjadi Roti Kehidupan kita.

Yesus ingin agar kita mencerminkan kemurahan hati-Nya.  Seperti apa yang telah dilakukan-Nya, Ia menginginkan agar kita juga dapat memberi makanan kepada orang-orang lain. Sebelum hari Pentakosta para murid-Nya memberikan roti dan ikan. Setelah Pentakosta, mereka mewartakan Injil, menyembuhkan orang sakit dan melepaskan orang-orang dari ikatan roh-roh jahat. Apakah panggilan-Nya kepada kita pada zaman modern ini berlainan?  Rasanya sih tidak !!! Oleh karena itu, kita harus mengatakan kepada Yesus, bahwa kita ingin menerima kehidupan-Nya. Kita harus mengatakan kepada-Nya bahwa kita ingin membawa hidup-Nya ke dalam dunia. Selagi kita sungguh keluar untuk mewartakan Kabar Baik-Nya, biarlah Roh-Nya yang mengatur segalanya sepanjang menyangkut diri kita, apa yang harus kita wartakan, kepada siapa, di mana, kapan, bagaimana caranya.

DOA: Tuhan Yesus, dalam Sakramen Ekaristi yang luhur ini Kauwariskan kepada kami peringatan akan wafat dan kebangkitan-Mu. Semoga kami menghormati misteri kudus tubuh dan darah-Mu sepantasnya, sehingga kami selalu dapat menikmati hasil penebusan-Mu. Sebab Engkau Tuhan dan Juruselamat kami, yang hidup dan berkuasa bersama Bapa, dalam persekutuan Roh Kudus, sepanjangan segala masa. Amin.

(Tulisan ini adalah revisi dari sebuah tulisan yang berjudul “CORPUS CHRISTI:  RENUNGAN SIANG PADA “HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS” berkaitan dengan HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS, tanggal 6 Juni 2010.

Cilandak, 15 Februari 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SIAPA YANG KEHILANGAN NYAWANYA KARENA AKU

SIAPA YANG KEHILANGAN NYAWANYA KARENA AKU

(Bacaan Injil, Hari Kamis sesudah Rabu Abu, Kamis 23-2-12) 

Kemudian Yesus berkata, “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” Kata-Nya kepada mereka semua, “Setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena siapa saja yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri? (Luk 9:22-25).

Bacaan Pertama: Ul 30:15-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6 

Ajaran-ajaran Yesus memang tidak mudah untuk dipahami, apalagi untuk diterima dan dipraktekkan. Ia mengajarkan kita untuk menyangkal diri kita sendiri,memikul salib kita setiap hari  dan mengikuti Dia. Dan, hanya orang yang kehilangan nyawanya karena Dia-lah yang akan menyelamatkan nyawanya. Apa yang dikatakan Yesus ini serasa seperti sebuah paradoks. Pada masa Prapaskah ini baiklah kita merenungkan apakah kita sungguh-sungguh telah mengikuti ‘jalan salib’ Yesus setiap hari? Kita dapat bertanya kepada diri sendiri: Apakah kita memilih untuk santai-santai di tempat kerja kita? Apakah kita selalu menjadi yang pertama dan bukan yang terakhir?  Apakah kita cepat dalam berbicara, namun lambat untuk mendengarkan? Apakah kita selalu memaksakan kehendak kita dalam proses pengambilan keputusan kelompok? Apakah kita hanya merasa senang kalau cara kitalah yang digunakan? Apakah kita mencari kenyamanan dalam doa, bukannya mempersembahkan diri kita bersama Kristus tersalib dalam kurban Misa? Apakah kita mencari suatu kebangkitan tanpa salib?

Bacaan Injil di atas menunjukkan bahwa Yesus tidak memerintahkan kita agar kita mengikuti Dia, tetapi mengundang kita. Kita bebas memilih! Kalau kita mengambil keputusan untuk mengikuti Yesus, hal ini berarti kita menerima segala konsekuensi dari keputusan itu. Keputusan seperti ini berarti  menjaga agar pandangan mata kita tetap tertuju pada Yesus, yang rindu untuk melimpah-limpahkan kasih-Nya ke  dalam hati kita setiap hari. Keputusan ini berarti pilihan untuk percaya bahwa bersama Dia kita dapat mengatasi halangan apa saja, tantangan apa saja, atau kesulitan apa saja yang muncul,  internal atau eksternal.

Pada awal masa Prapaskah ini kita masing-masing dapat merenungkan pertanyaan-pertanyaan berikut ini secara pribadi. Siapa Yesus menurut aku? Apakah Dia hanya seorang yang baik, barangkali seorang nabi, yang teladan hidup-Nya harus aku tiru? Atau, apakah Dia adalah seorang Putera Allah yang menjadi manusia agar kita menjadi anak-anak Allah? Apakah Dia seorang hakim yang kejam yang akan menghukum setiap dosa  dan pendosa? Atau, apakah Dia adalah Anak Domba Allah yang menyerahkan nyawa-Nya agar kita dibebaskan dari dosa dan ditransformir menjadi gambaran-Nya sendiri?

Berabad-abad sebelum Yesus, Musa berkata kepada orang Israel, bahwa taat kepada YHWH, Allah mereka, adalah suatu isu hidup-atau-mati (lihat Ul 30:15), dan dalam artian tertentu hal ini memang benar. Musa mengetahui perbedaan antara berjalan sehari-hari bersama YHWH dan berjalan sendiri  tanpa bimbingan YHWH. Yesus ingin membuka mata kita agar mampu melihat perbedaan ini. Dia mau mengatakan kepada kita, bahwa bila kita memilih Dia hari demi hari, kemungkinan-kemungkinan yang terbuka bagi kehidupan kita menjadi tanpa batas. Kita tidak akan lagi hidup hanya sebagai makhluk fana. Kita akan memiliki akses terhadap segala rahmat dan kuat-kuasa dari Allah yang Mahakuasa! Kita akan mampu untuk mengasihi mereka yang ‘tak pantas dikasihi’, untuk mengampuni mereka ‘tak dapat diampuni’, dan untuk mengatasi hal-hal yang tak dapat diatasi. Mungkin saja ‘harga’ atau ‘biaya’ semua ini mahal. Mungkin saja ada penderitaan dan kesulitan bermunculan di tengah perjalanan, namun kita dapat yakin bahwa bila kita dekat dengan Yesus, maka Dia pun akan sangat dekat dengan kita. Dia adalah Imanuel, Allah yang menyertai kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku memilih untuk mengikuti-Mu hari ini dan sepanjang hidupku. Aku menerima janji-Mu akan kehidupan. Tuhan, terima kasih Engkau telah mengundang diriku untuk bersama-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:22-25), bacalah tulisan dengan judul “SETIAP ORANG YANG MAU MENGIKUT AKU …” (bacaan untuk tanggal 23-2-12), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2012. Untuk mendalami Bacaan Pertama (Ul 30:15-20), bacalah tulisan yang berjudul “AKU MENGHADAPKAN KEPADAMU PADA HARI INI KEHIDUPAN DAN KEBERUNTUNGAN, KEMATIAN DAN KECELAKAAN” (bacaan untuk tanggal 10-3-11) dalam situs/blog SANG SABDA; kategori: 11-03 BACAAN HARIAN MARET 2011. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-2-10) 

Cilandak,  24 Januari 2012 [Hari Ketujuh Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SELAMAT MENJALANI MASA PRAPASKAH TAHUN 2012

Cilandak, Hari Rabu Abu, 22 Februari 2012 

Saudari dan Saudari yang dikasihi Kristus, 

Perihal: Selamat menjalani Masa Prapaskah Tahun 2012 

(Bacaan Pertama: Yl 2:12-18; Bacaan Kedua: 2Kor 5:20-6:2) 

“Tiuplah sangkakala di Sion, adakanlah puasa yang kudus, maklumkanlah perkumpulan raya; kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah …” (Yl 2:15-16). “Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu” (2Kor 6:2). Dengan ini mulailah kita dengan masa Prapaskah tahun ini. Hari ini, Hari Rabu Abu, adalah awal dari masa Prapaskah. Sekali lagi kita mendengar Allah berseru, “Berbaliklah kepada-Ku …… dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh” (Yl 2:12). Kita tahu bahwa Masa Prapaskah adalah suatu masa puasa dan pertobatan, namun apakah yang pertama-tama dihasrati oleh Allah? “Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu …… Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu …” (Yl 2:12,13).

Allah memanggil kita untuk mengoyakkan hati kita – untuk membelahnya sehingga terbuka, bukannya dengan mencoba mengubah hati kita dengan cara kita sendiri. Memang kita melakukan pertobatan secara istimewa dalam masa Prapaskah ini, dan pertobatan juga menyangkut perubahan. Namun demikian tujuannya bukanlah untuk membuat diri kita tanpa-salah. Siapa yang sanggup melakukan hal seperti itu? Dalam kenyataannya, Yesus mengatakan kepada kita untuk tidak mempertunjukkan tindakan pertobatan kita (lihat Mat 6:1). Allah ingin melihat kita membuat hati kita menjadi lahan subur bagi Roh Kudus, sehingga Dia sungguh dapat mentransformasikan kita secara supernatural, “yang tersembunyi”.

Bagaimana hal ini terjadi? Pada waktu kita memberi sedekah, berdoa dan berpuasa, kita dapat mengundang Roh Kudus untuk berdiam dalam hati kita. Praktek-praktek tradisional ini yang menggunakan hati untuk fokus pada kasih Bapa surgawi dan bukan pengorbanan-pengorbanan kita sendiri akan memperkenankan Roh Kudus untuk bekerja dalam diri kita. Roh Kudus inilah yang akan membuat kita menjadi semakin akrab dengan Yesus dan lebih berbelarasa terhadap orang-orang lain. Sebagai akibatnya, kita pun mulai berpikir dan bertindak seperti Yesus. Ingatlah himbauan Santo Paulus kepada jemaat di Filipi (Flp 2:5 dsj.). Roh Kudus berkeinginan untuk membuat kita memiliki keyakinan akan kasih Allah. Ia ingin membuat kita berbelas kasih terhadap orang-orang yang membutuhkan belas kasih; dengan gigih melawan dosa, baik dalam diri kita sendiri maupun di dunia sekeliling kita; terbuka bagi mukjizat. Dan semua ini dimulai ketika kita sungguh-sungguh mengoyakkan hati kita, membuka lahan agar Roh Kudus dapat menaburkan benih-benih-Nya.

Sekarang, marilah kita memandang masa Prapaskah ini sebagai sebuah masa rahmat yang berlimpah-limpah. Dalam keheningan hati kita, marilah kita memegang janji Yesus yang diberikan-Nya kepada kita sebanyak tiga kali: “Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Mat 6:4,6,18).

Roh Kudus Allah, kami menyambut kedatangan-Mu pada masa Prapaskah ini. Kami ingin mengoyakkan hati kami masing-masing, agar Engkau mempunyai ruang untuk bekerja dalam diri kami. Amin.

Saudari dan Saudaraku, Selamat menjalani Masa Prapaskah Tahun 2012 !!! Berkat Allah Tritunggal Mahakudus senantiasa menyertai anda sekalian!

Salam persaudaraan,

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KOYAKKANLAH HATIMU

KOYAKKANLAH HATIMU

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI RABU ABU, 22-2-12)

Pesta Takhta Santo Petrus, Rasul

“Tetapi sekarang juga,” demikianlah firman TUHAN (YHWH), “berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.” Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada YHWH, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya. Siapa tahu, mungkin Ia mau berbalik dan menyesal, dan ditinggalkan-Nya berkat, menjadi korban sajian dan korban curahan bagi YHWH, Allahmu.

Tiuplah sangkakala di Sion, adakanlah puasa yang kudus, maklumkanlah perkumpulan raya; kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah, himpunkanlah orang-orang yang tua, kumpulkanlah anak-anak, bahkan anak-anak yang menyusu; baiklah pengantin laki-laki keluar dari kamarnya, dan pengantin perempuan dari kamar tidurnya; baiklah para imam, pelayan-pelayan YHWH, menangis di antara balai depan dan mezbah, dan berkata: “Sayangilah, ya YHWH, umat-Mu, dan janganlah biarkan milik-Mu sendiri menjadi cela, sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka. Mengapa orang berkata di antara bangsa: di mana Allah mereka?”

YHWH menjadi cemburu karena tanah-Nya, dan Ia belas kasihan kepada umat-Nya. (Yl 2:12-18)

Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-6,12-14,17; Bacaan Kedua: 2Kor 5:20-6:2; Bacaan Injil: Mat 6:1-6,16-18

Dengan hari Rabu Abu ini Gereja mengawali masa Prapaskah. Pada masa yang istimewa serta kaya dengan rahmat ini kita dapat berupaya membuat diri kita semakin dekat dengan Allah, mengenal Dia semakin mendalam dan menjadi semakin menyerupai Dia. Tuhan sangat menginginkan agar kita semakin dekat dengan diri-Nya. Seperti difirmankan-Nya kepada umat Israel di zaman dahulu, Dia pun berfirman kepada kita pada hari ini: “Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu” (Yl 2:12).

Nabi Yoel mengumumkan kepada orang-orang Israel,  bahwa pertobatan, puasa dan doa adalah jalan atau cara-cara yang diperlukan untuk kembali kepada Allah.  Namun kita melakukan praktek-praktek pertobatan, puasa dan doa selama masa Prapaskah ini bukan sekadar untuk pendisiplinan diri, atau untuk perbaikan diri kita. Kalau begitu halnya, maka kita sekadar “mengoyakkan pakaian kita” saja dan bukan hati kita (lihat Yl 2:13). Allah menyerukan kita untuk melakukan hal-hal ini karena dapat menolong kita membuka hati kita bagi kasih-Nya.

Allah sungguh rindu agar kita masuk ke dalam suatu relasi cintakasih dengan-Nya sehingga Dia dapat memberkati kita. Orang-orang Israel telah melupakan kasih mereka kepada Allah dan  justru mencintai berkat-berkat dari tanah yang telah diberikan kepada mereka. Nabi Yoel menggambarkan “tulah belalang” yang dikirim YHWH guna mengoreksi sikap mereka ini (lihat Yl 1:1-13). Belalang-belalang merupakan sebuah peringatan dini  mengenai Hari Tuhan yang malah jauh lebih dahsyat (digambarkan dengan lebih jelas dalam Yl 2:28-32), pada saat mana orang-orang tidak lagi mempunyai kesempatan untuk bertobat. Pada saat itu orang-orang yang hatinya menyenangkan Allah akan menerima Roh Kudus yang sebelumnya hanya diperuntukkan bagi para nabi dan penglihat. Hati yang tetap belum bertobat akan mengalami pengadilan akhir. Tuhan ingin “menyelamatkan” mereka dari kehancuran akhir dan ingin agar mereka memperoleh warisan mulia yang telah disediakan bagi mereka.

Pada masa Prapaskah ini, marilah kita melaksanakan apa yang diserukan oleh nabi Yoel, yaitu untuk “mengoyakkan hati kita” (Yl 2:13) di hadapan Tuhan. Dalam doa, puasa, dan pemberian-diri kita, marilah kita meninggalkan hal-hal yang dapat dengan mudah membuat kita melenceng dari fokus yang seharusnya. Marilah kita menyediakan ruangan bagi Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari. Sementara kita membuka hati kita kepada Tuhan, maka kita akan mengalami berkat Roh-Nya yang akan datang ke dalam hati kita dengan lebih penuh kuat-kuasa, memenuhi diri kita dengan cintakasih bagi-Nya dan membentuk karakter/watak Yesus dalam diri kita.

DOA: Datanglah Roh Kudus, dan gerakkanlah kami untuk membuka hati kami bagi Yesus dalam masa Prapaskah ini. Melalui setiap tindakan yang Kauinspirasikan kepada kami untuk mengambilnya, semoga kami menjadi semakin dekat kepada Bapa surgawi, mengenal dan mengalami kasih-Nya, sehingga pada gilirannya kami pun mengasihi-Nya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (2Kor 5:20-6:2)), bacalah tulisan dengan judul “PADA WAKTU AKU BERKENAN, AKU MENDENGARKAN ENGKAU, DAN PADA HARI AKU MENYELAMATKAN, AKU MENOLONG ENGKAU” (bacaan untuk tanggal 22-2-12), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2012. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-3-11) 

Cilandak,  24 Januari 2012 [Hari Ketujuh Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TERAKHIR DARI SEMUANYA DAN PELAYAN DARI SEMUANYA

TERAKHIR DARI SEMUANYA DAN PELAYAN DARI SEMUANYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII, Selasa 21-2-12) 

Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang; sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka, “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit.” Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya.

Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?” Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka, “Jika seseorang ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.”  Lalu Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka, “Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Siapa yang menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.” (Mrk 9:30-37)

Bacaan Pertama: Yak 4:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 55:7-11,23 

Yesus bersabda: “Jika seseorang ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya” (Mrk 9:35). Yesus mengungkapkan disposisi hatinya yang fundamental dengan menggambarkan diri-Nya dan hidup-Nya sendiri sebagai seorang pelayan dari semuanya (lihat Luk 22:27; bdk. Yoh 13:4-15). Sebagai Putera Allah yang setia dan taat, Ia mau melayani Bapa-Nya dengan memenuhi semua tujuan dan rencana Bapa. Oleh karena itu, dengan penuh kemauan Ia menanggalkan kemuliaan-Nya dan merendahkan diri-Nya untuk menjadi seorang manusia (Flp 2:6-7). Dalam kondisi seperti itulah Yesus dengan sangat senang hati melayani Bapa-Nya – dengan ketaatan seorang hamba – bahkan sampai satu titik di mana Dia menyerahkan hidup-Nya demi keselamatan umat Allah (Flp 2:8). Sabda Yesus: “… Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mrk 10:45).

Dengan mengesampingkan kehendak-Nya sendiri dan memilih hidup sebagai seorang abdi yang taat kepada Bapa-Nya, Yesus tahu benar bahwa semuanya akan membawa-Nya kepada sengsara dan kematian-Nya (lihat Mrk 9:35). Namun demikian, Yesus dengan penuh kemauan memilih “jalan susah” ini demi sukacita yang disediakan bagi Dia (lihat Ibr 12:2), yaitu ketika Bapa akan membangkitkan-Nya dari alam maut dan membawa-Nya masuk ke dalam kemuliaan di surga. Sebagai seorang abdi paling sempurna (par excellence), Yesus menaruh hidup-Nya secara lengkap dan total ke dalam tangan Bapa-Nya.

Dalam khotbahnya di hari Pentakosta Kristiani yang pertama, Petrus mengatakan: “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh melalui tangan bangsa-bangsa durhaka” (Kis 2:23). Jadi, Yesus dengan bebas setuju agar diri-Nya diserahkan Bapa-Nya ke dalam tangan orang-orang jahat, karena Dia menaruh kepercayaan penuh bahwa Bapa-Nya akan menyelamatkan Dia dari kematian (baca: Keb 2:18-20).

Seseorang yang dipilih Yesus dan bersedia mengikuti-Nya juga membuat hatinya menjadi serupa dengan hati-seorang-abdi yang dimiliki Guru dan Tuhan-nya, meneladani kedinaan serta ketaatan-Nya, mengesampingkan kehendaknya sendiri dan membuang segala kecenderungan untuk membuat dirinya menjadi pusat segalanya (self-centeredness). Seorang murid Yesus yang sejati haruslah seseorang yang hidupnya berpusat pada Allah (God-centered). Dalam menanggapi pertengkaran di antara para murid-Nya tentang siapa yang terbesar di antara mereka, Yesus mengajarkan kepada mereka bagaimana menerapkan prinsip ini dalam kehidupan mereka (lihat Mrk 9:33-34). Yesus mengajarkan bahwa  pikiran para murid, sikap dan perilaku mereka tidak menunjukkan hati seorang abdi/pelayan. Hati mereka penuh dengan ambisi dan rasa-iri serta kedengkian, hal mana menimbulkan perpecahan dan ketidak-teraturan (bdk. Yak 3:16). Ia mengajarkan para murid-Nya begini: “Jika seseorang ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya”  (lihat Mrk 9:35). Menjadi besar berarti memperhatikan kepentingan orang lain terlebih dahulu, tanpa merasa khawatir akan keadaan diri sendiri.

Untuk menjadi abdi atau pelayan Allah yang rencah hati, para murid harus berbalik dari hidup lama mereka yang mementingkan diri sendiri (dalam bahasa Inggris ada ungkapan begini: self-glorification dan self-serving ambitions). Menjadi abdi Allah juga berarti bahwa mereka harus menjadi abdi setiap orang – menerima semua orang, apa pun status dan posisi orang-orang itu dalam masyarakat – seperti orang menyambut dan menerima seorang anak yang tidak dapat berbuat apa-apa kepada mereka sebagai balasan (lihat Mrk 9:37).

Sebagai seorang Abdi yang sempurna, Yesus sangat senang-hati kalau ada kesempatan menolong orang-orang yang ada di sekelilingnya. Dipenuhi cintakasih Bapa, Dia hanya menginginkan untuk menyalurkan kasih Bapa itu kepada siapa saja yang ditemui-Nya. Dengan setiap penyembuhan yang dilakukan-Nya dan setiap kata yang disabdakan-Nya, Yesus berupaya untuk menarik orang-orang agar lebih dekat lagi dengan Bapa-Nya. Meskipun sudah mendekati jam kematian-Nya sendiri, hasrat utama Yesus adalah untuk berada bersama dengan para murid-Nya (lihat Luk 22:14-15), mengasihi mereka dan menolong mereka agar mampu menaruh kepercayaan kepada Bapa surgawi. Yesus juga mengajar bahwa manakala kita melayani orang lain, kita sesungguhnya melayani Dia (lihat Mat 25:40).

Pada malam sebelum sengsara dan wafat-Nya, setelah acara pembasuhan kaki, Yesus bersabda kepada para murid: “Aku telah memberikan memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh 13:15). Yesus meminta kita – para murid-Nya – untuk memiliki hati seorang abdi/pelayan. Artinya kita tidak boleh berupaya menguasai atau mengendalikan orang-orang lain, atau menginginkan agar orang lain melayani kita. Kita juga tidak boleh mengejar-ngejar status, posisi, kehormatan dan lain sebagainya. Sebaliknya kita harus rendah hati dan mengambil jalan perendahan Yesus, memperhatikan kepentingan orang lain terlebih dahulu (Flp 2:4) serta melayani kebutuhan mereka sebelum kebutuhan kita sendiri. Karunia yang dianugerahkan Yesus kepada para murid-Nya adalah hati seorang abdi/pelayan. Maukah saudara-saudari mohon kepada-Nya untuk menjadikan hati anda seperti hati-Nya?

Sampai hari ini Yesus dengan rendah hati masih mengetuk-ngetuk pintu hati kita. Dia begitu ingin melayani kita dengan masuk ke dalam kehidupan kita yang penuh luka ini, agar dapat menyembuhkan luka-luka kita serta membersihkan kita, dan akhirnya memperbaharui kita. Betapa rindu hati Yesus untuk melihat kita menyambut-Nya masuk.

DOA: Tuhan Yesus, Terima kasih untuk cintakasih-Mu yang tak bersyarat sehingga aku pun dapat dicurahi dengan kebaikan dan belaskasih-Mu. Aku sungguh ingin menyambut-Mu ke dalam hatiku. Bentuklah hatiku agar aku dapat melayani sesamaku dengan penuh sukacita, seperti Dikau juga memeliharaku dengan penuh sukacita ilahi. Ya Tuhan Yesus, buatlah agar hatiku menjadi seperti hati-Mu. Buatlah daku menjadi saluran berkat-Mu bagi sesamaku di mana saja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yak 4:1-10), bacalah tulisan dengan judul “HAWA NAFSU DAN PERSAHABATAN DENGAN DUNIA” (bacaan untuk tanggal 21-2-12), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2012. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-9-09) 

Cilandak,  24 Januari 2012 [Hari Ketujuh Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2012

SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2012

(dibacakan sebagai pengganti kotbah, dalam setiap Misa, Sabtu/Minggu, 18/19 Februari 2012) 

“DIPERSATUKAN DALAM EKARISTI, DIUTUS UNTUK BERBAGI” 

Para Ibu dan Bapa, Para Suster, Bruder, Frater, Kaum muda, remaja dan anak-anak yang terkasih dalam Kristus,

1.  Bersama-sama dengan seluruh Gereja, pada hari Rabu yang akan datang kita memasuki masa Prapaskah. Rasanya pada tahun ini masa Prapaskah tiba amat cepat. Masa Natal yang lalu juga terasa amat singkat, lebih singkat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Mungkinkah ini merupakan isyarat bagi kita semua, untuk membaharui semangat dan gaya hidup kita: dari semangat dan gaya hidup yang ditandai pesta-pesta (=masa Natal yang pendek) menuju semangat dan gaya hidup yang semakin terlibat, berbelarasa dan rela bermati raga (=masa Prapaskah yang cepat tiba) demi sekian banyak saudari-saudara kita sebangsa setanah air yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir? Saudari-saudara kita ini karena berbagai macam alasan terpaksa hidup tidak sesuai dengan martabatnya sebagai pribadi manusia, citra Allah. Suatu pertanyaan yang menantang kita semua sebagai murid-murid Yesus Kristus untuk kita jawab secara pribadi, dalam keluarga, komunitas dan bersama-sama sebagai warga Keuskupan Jakarta.

2.  Melalui nabi Yesaya Tuhan bersabda, “Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh … Umat yang telah Kubentuk bagi-Ku akan memberitakan kemasyhuran-Ku” (Yes 43:19,20). Sabda ini ditujukan kepada umat Allah Perjanjian Lama yang berada dalam pembuangan. Mereka berada jauh dari tanah air mereka, sangat menderita lahir batin. Dalam keadaan terbuang, sebagian dari mereka berpikir tidak ada gunanya percaya kepada Tuhan karena ternyata Dia tidak bisa membela umat-Nya terhadap musuh yang telah mengalahkan mereka. Selain itu tidak sedikit dari antara mereka yang merasa dosa mereka terhadap Tuhan sudah terlalu besar, sehingga Tuhan tidak akan memberikan kesempatan baru lagi. Namun dalam perjalanan waktu ternyata banyak dari antara mereka yang berhasil merebut kedudukan dalam kehidupan politik, sosial maupun ekonomi. Keberhasilan ini membuat mereka lupa atau tidak mau mengingat lagi bahwa mereka adalah umat terpilih yang seharusnya hidup berdasarkan janji Allah. Secara sederhana bisa dikatakan, ketika mereka mempunyai segala-galanya, mereka kehilangan jati diri dan cita-cita sebagai umat terpilih.

3.  Namun tidak semua warga Umat Allah Perjanjian Lama seperti itu. Dari antara mereka ada sekelompok kecil yang bertahan, dan kendati menderita, iman mereka tidak goyah. Dengan sengaja mereka tidak mengejar keberhasilan lahiriah di tanah pembuangan. Mereka terus membangun hidup di atas dasar janji-janji Allah. Mereka inilah yang disebut “sisa Israel”. Kelompok ini mempunyai sejarah yang panjang. Ketika umat Allah Perjanjian Lama berpaling dari Tuhan dan menyembah berhala, mereka tetap setia (1Raj 19:10,14,18). Ketika mereka dijinkan kembali dari pembuangan – sementara sebagian besar tidak mau menggunakan kesempatan ini karena sudah nyaman tinggal di negeri asing – mereka kembali ke tanah terjanji untuk membangun kembali masa depan mereka di atas puing-puing kehancuran. Kelompok mereka kecil – maka disebut “sisa Israel” – namun mereka yakin bahwa jati diri mereka sebagai umat yang dipanggil secara istimewa oleh Allah, tidak terletak pada penampilan lahiriah, melainkan pada cita-cita dan harapan yang mereka sandarkan pada janji Allah. Mereka ini bagaikan tunggul dan sebagaimana dikatakan oleh Nabi Yesaya, “Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah” (11:1; 53:2). Mereka inilah yang akan menghidupkan kembali harapan baru yang oleh nabi Yesaya disebut dengan kiasan sebagai “jalan di padang gurun … sungai-sungai di padang belantara” (43:19). Mereka ini pulalah yang disebut umat yang “Kubentuk bagi-Ku yang akan memberitakan kemasyhuran-Ku” (43:21). Dalanm suratnya kepada jemaat di Roma Rasul Paulus menegaskan keberadaan kelompok ini: “Demikian juga pada waktu ini ada tinggal satu sisa, menurut pilihan kasih karunia” (11:5). Dalam bahasa sehari-hari kita sekarang, mereka disebut “komunitas kontras” atau “komunitas alternatif”.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

4.  Sebagai murid-murid Kristus, sebagai warga Gereja Katolik, kita pun mempunyai jati diri yang sangat istimewa dan khusus. Jati diri kita adalah Ekaristi, yang kita imani sebagai sumber dan puncak hidup Kristiani (bdk. Lumen Gentium 11). Maksudnya, sebagaimana roti Ekaristi diambil, diberkati, dipecah-pecah dan dibagi-bagi, kita pun adalah pribadi-pribadi yang dipilih oleh Allah, diberkati agar dapat dipecah-pecah yang dibagi-dibagi bagi dunia. Inilah jati diri kita. Atas dasar keyakinan inilah dirumuskan tema Aksi Puasa Pembangunan Keuskupan Agung Jakarta 2012: “Dipersatukan Dalam Ekaristi – Diutus Untuk Berbagi”. Dengan pedoman tema Aksi Puasa Pembangunan ini, kita bersama-sama ingin mewujudkan atau mengaktualisasikan jati diri kita.

5.  Perayaan Ekaristi terdiri dari empat bagian. Bagian pembuka mengajak kita menyadari bahwa kita adalah bagian dari umat manusia yang terpecah-pecah karena dosa. Maka kita mengawali Perayaan Ekaristi dengan mengakui dosa-dosa kita – bukan hanya dosa pribadi kita, melainkan juga dosa umat manusia. Ibadat Sabda memberi kesempatan penuh rahmat kepada kita yang berhimpun untuk membaca dan mengartikan keadaan hidup kita itu dalam terang Sabda Allah. Sabda Allah yang kita dengarkan bukanlah sekedar informasi yang diteruskan (=informatif), melainkan kekuatan yang membangun dan mempersatukan (=formatif dan transformatif). Dengan memasuki Liturgi Ekaristi, kita diikutsertakan dalam karya penyelamatan Allah yang memulihkan segala sesuatu dalam sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus. Bagian ini bermuara pada komuni – dari kata communio yang secara harafiah berarti persatuan. Itulah buah utama karya penyelamatan Allah, yaitu bahwa kita dipersatukan kembali: yang bermusuhan didamaikan; yang tercerai berai dikumpulkan; yang terpisah dihimpun kembali. Setelah dipulihkan dan dipersatukan, menyusul perutusan, yang merupakan bagian terakhir dari Perayaan Ekaristi. Kita diutus untuk berbagi kehidupan.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

6. Bersama-sama dengan para imam, saya pribadi sangat bersyukur karena boleh melayani umat Keuskupan Agung Jakarta ini. Amat sangat banyak kisah mengenai kerelaan berbagi dan kemurahan hati umat Keuskupan Agung Jakarta dalam berbagai wujudnya: baik yang ditulis maupun tidak ditulis, baik yang diceritakan ataupun tidak diceritakan, baik yang ditujukan kepada umat sendiri ataupun masyarakat yang lebih luas, baik untuk keperluan-keperluan di Keuskupan Agung Jakarta sendiri maupun bagi wilayah-wilayah gerejawi yang lain yang tersebar di seluruh nusantara, baik yang dijalankan bersama-sama maupun sendiri-sendiri. Peranan para Ibu/Bapak/Suster/ Bruder/Frater/adik-adik kaum muda, anak-anak dan remaja dalam hal ini ikut menentukan wajah Gereja Keuskupan Agung Jakarta: Gereja yang memancarkan kasih, kebaikan dan kemurahan hati Allah. Terima kasih tak terhingga atas kebaikan, kemurahan hati dan kerelaan Anda sekalian untuk berbagi kehidupan.

7.   Sementara itu kita semua tahu bahwa peran seperti ini tidak akan pernah selesai kita jalankan dan menantang kita semua untuk semakin kreatif mencari bersama-sama bentuk-bentuknya yang baru. Semoga semangat Ekaristi  yang kita gali dan dalami selama Tahun Ekaristi ini memberikan inspirasi dan kekuatan kepada kita semua untuk membangun jati diri kita sebagai “komunitas Ekaristis”, “komunitas alternatif” atau “komunitas kontras” yang terus berkembang karena dipersatukan dalam Ekaristi dan diutus untuk berbagi. Semoga dengan demikian kita sungguh menjadi umat yang selalu memberitakan kebaikan dan kasih Allah (bdk. Yes 43:21). Semoga berkat kekuatan Allah kita berkembang dalam kemurahan hati dan kerelaan berbagi yang – siapa tahu – membuat orang lain akan berkata, “Yang begini belum pernah kita lihat” (Mrk 2:12). Salam dan semoga Anda semua, keluarga-keluarga dan komunitas Anda selalu dilimpahi berkat, perlindungan dan damai sejahtera.

Jakarta, Februari 2012

Ttd.

+ I. Suharyo

Uskup Keuskupan Agung Jakarta

Catatan: Disalin oleh Sdr. F.X. Indrapradja OFS dari edaran tercetak yang dibagikan di gereja-gereja dalam wilayah KAJ pada tanggal 18/19 Februari 2012.

IMAN DAN DOA

IMAN DAN DOA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII, Senin 20-2-12) 

Ketika Yesus, Petrus, Yakobus dan Yohanes kembali pada murid-murid lain, mereka melihat orang banyak mengerumuni murid-murid itu, dan beberapa ahli Taurat sedang bersoal jawab dengan mereka. Pada saat orang banyak itu melihat Yesus, tercenganglah mereka semua dan bergegas menyambut Dia. Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Apa yang kamu persoalkan dengan mereka?” Jawab seorang dari orang banyak itu, “Guru, anakku ini kubawa kepada-Mu, karena ia kerasukan roh yang membisukan dia. Setiap kali roh itu menyerang dia, roh itu membantingkannya ke tanah; lalu mulutnya berbusa, giginya berkertak dan tubuhnya menjadi kejang. Aku sudah meminta kepada murid-murid-Mu, supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Hai kamu orang-orang yang tidak percaya, sampai kapan Aku harus tinggal di antara kamu? Sampai kapan aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!”

Lalu mereka membawanya kepada-Nya. Waktu roh itu melihat Yesus, ia segera mengguncang-guncangkan anak itu, dan anak itu terpelanting ke tanah dan terguling-guling, sedang muloutnya berbusa. Lalu Yesus bertanya kepada kepada ayah anak itu, “Sudah berapa lama ia mengalami ini?” Jawabnya, “Sejak masa kecilnya. Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api untuk membinasakannya. Tetapi jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.” Jawab Yesus, “Katamu: Jika Engkau dapat? Segala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya!” Segera ayah anak itu berteriak, “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” Ketika Yesus melihat orang banyak makin datang berkerumun, Ia menegur roh jahat itu dengan keras, “Hai kau roh yang menyebabkan orang menjadi bisu dan tuli, Aku memerintahkan engkau, keluarlah daripada anak ini dan jangan merasukinya lagi!” Lalu keluarlah roh itu sambil berteriak dan mengguncang-guncang anak itu dengan hebat. Anak itu kelihatannya seperti orang mati, sehingga banyak orang yang berkata, “Ia sudah mati.” Tetapi Yesus memegang tangan anak itu dan membangunkannya, lalu ia berdiri.

Ketika Yesus masuk ke rumah, dan murid-murid-Nya sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka kepada-Nya, “Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?” Jawab-Nya kepada mereka, “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan doa.” (Mrk 9:14-29)

Bacaan Pertama: Yak 3:13-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-10,15 

Begitu turun dari gunung bersama Petrus, Yakobus dan Yohanes, Yesus menghadapi kegagalan murid-murid-Nya yang lain dalam melakukan pelepasan (deliverance) atas diri seorang anak yang sudah lama dirasuki roh jahat. Setelah meratapi ketiadaan iman mereka, Yesus mengusir roh jahat itu, lalu mengatakan kepada para murid-Nya ketika sendirian dengan Dia, “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan doa” (Mrk 9:29). Jelas di sini, bahwa iman dan doa merupakan dua hal vital agar dapat melihat Allah bekerja dengan penuh kuat-kuasa.

Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengajarkan sebagai berikut: “Ini merupakan kekuatan doa, karena ‘tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya’ (Mrk 9:23) dan ‘tidak bimbang’ (Mat 21:21) dalam iman ini. Yesus bersedih hati karena ‘ketidakpercayaan’ (Mrk 6:6) sanak keluarga dan ‘orang yang kurang percaya’ di antara murid-murid-Nya (Mat 8:26), dan Ia amat kagum akan ‘iman besar’ dari perwira Roma (Mat 8:10) dan wanita Kanaan (bdk. Mat 15:28)” (KGK, 2610).

Apa yang dimaksudkan dengan iman? Sebagaimana seekor burung yang merasakan kedatangan cahaya matahari dan kemudian bernyanyi untuk menyapa terbitnya matahari sementara keadaan masih gelap, maka iman adalah suatu kepercayaan akan Allah yang mengetahui bahwa kita akan melihat hasil-hasilnya, walaupun dalam keadaan yang kelihatannya tidak memberikan harapan. Sekarang, apa yang dimaksudkan dengan doa? Doa dapat dikatakan sebagai suatu keterbukaan dan tanggapan penuh kepercayaan terhadap kehadiran dan kehendak Allah, dalam kerendahan hati.

Apabila kita ingin mengalami kemerdekaan sejati dalam kehidupan kita, atau ingin melihat seorang sahabat atau anggota keluarga kita disembuhkan dan dibuat menjadi utuh, maka kita harus percaya dengan sepenuh hati kita dan berdoa sekuat tenaga kita. Yesus telah datang untuk membebas-merdekakan segenap umat-Nya. Yesus tidak suka melihat penderitaan kita. Kita harus percaya bahwa Dia ingin menyembuhkan dan membebaskan kita. Dia mau membebaskan kita dari segala keterikatan pada dosa. Kita juga tidak pernah boleh mengabaikan doa, bahkan sampai akhir hayat kita. Kita harus tetap konsisten dan mencoba terus. Kita harus percaya, bahwa sementara kita menyerahkan situasi-situasi yang kita hadapi kepada Yesus, maka Dia akan bertindak seturut hikmat dan kuasa-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah menyelamatkan dan membebaskan aku dari dosa. Ajarlah aku untuk percaya lebih mendalam lagi dan berdoa dengan lebih penuh keyakinan lagi. Tuhan, Engkau tahu situasi yang sedang kuhadapi. Perkenankanlah aku melihat karya-Mu yang penuh kuasa pada hari ini. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:14-29), bacalah tulisan dengan judul “KITA DIPANGGIL UNTUK MENGEMBANGKAN IMAN YANG MATANG” (bacaan untuk tanggal 20-2-12), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2012. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 21-2-11) 

Cilandak,  24 Januari 2012 [Hari Ketujuh Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.